10 Dampak Negatif Kawasan Ekonomi Khusus (KEK

)
Oleh: Edy Burmansyah Peneliti Institute for Global Justice (IGJ) Bersandar pada pasal 31 Undang-Undang Penanaman Modal (UUPM) No. 25 tahun 2007, awal November tahun lalu, pemerintah mengajukan draf Rancangan Undang-Undang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) kepada DPR-RI. Dan seperti gayung bersambut pertengahan Januari lalu sejumlah gubernur yang mengajukan daerahnya ditetapkan sebagai KEK, juga mendatangi DPR. Agendanya; mendesak legislatif segera mengesahkan RUU tersebut. Para gubernur meyakini bahwa KEK akan menjanjikan kemajuan ekonomi pada daerah. Tapi benarkah KEK akan membawa kesejahteraan, atau justru sebaliknya menawarkan sesuatu yang tidak berarti bagi kemajuan perekonomian dan daya saing nasional, serta berimplikasi luas terhadap kehidupan masyarakat? Jika RUU tersebut dipaksakan menjadi undang-undang, maka akan menimbulkan dampak negative yang luas terhadap kehidupan masyarakat, di antaranya; (1) Menguntungkan pemodal besar, (2) Eksploitasi sumberdaya dan penghisapan surplus ekonomi, (3) Menghancurkan industri nasional, (4) Membebani anggaran negara dan utang luar negeri, (5) Tidak signifikan dalam mengurangi penggangguran, serta mengancam hakhak buruh, (6) Fasilitas fiskal yang terlampau luas, (7) Mengurangi pendapatan daerah, (8) Sumber konflik agraria, (9) Mengancam lingkungan hidup, dan (10) Mengabaikan kepentingan nasional. 1. Menguntungkan asing dan pemodal besar Sebagaimana diatur pada pasal 5, ayat 1 draf RUU KEK; “ Pembentukan KEK dapat diusulkan oleh badan usaha, pemerintah kabupaten/kota atau pemerintah propinsi kepada Dewan Nasional” Keberadaan badan usaha (swasta) yang diperolehkan mendirikan KEK, hanya akan menguntungkan pemodal besar baik dari dalam maupun luar negeri. Terlebih kawasan semacam ini dibangun dengan tujuan untuk menarik investasi asing dengan berbagai fasilitas infrastruktur yang lengkap dan modern, serta insentif fiskal yang menarik. Batamindo Industrial Park (BIP) dan Bintan Industrial Estate (BIE) merupakan dua kawasan yang dibangun oleh Salim Group bekerja sama dengan Singapore Technologies Industries (sekarang Semb Corp Industries)—anak perusahaan investasi pemerintah Singapura Temasek Holdings—dan Jurong Town Corporation(JTC)—sebuah perusahaan pembangunan infrastruktur industri terkemuka Singapura. BIP adalah kawasan industri yang memiliki luas 280 hektar, sedangkan Bintan Industrial Estate (BIE) yang diproyeksikan dibangun di lahan seluas 4000 hektar, namun sejak pertama kali dioperasikan tahun 1994 kawasan ini tak kunjung mengalami penambahan perluasan dari 170 hektar. Pembangunan BIP dan BIE sengaja dimaksudkan sebagai tempat relokasi bagi kegiatan perakitan produk-produk yang bernilai rendah dari Singapura. Pada awal dekade 1980industri Singapura tumbuh dengan pesat, akibatnya Negara itu membutuhkan tempat untuk merelokasi kegiatan industrinya yang bernilai rendah. Hasil penelitian MAS (Monetary Authority of Singapore) dan EDB (Economic Development Board) merekomendasikan dipilihnya Batam, dan pulau-pulau lain di propinsi Kepulauan Riau (Kepri) sebagai tempat relokasi alternatif yang paling logis untuk mengatasi masalah booming industri Singapura yang terjadi kala itu.

Total ekspor non-migas selama periode Jan-Nov 2007 senilai US$ 7. alat-alat listrik selama ini.3 milyar sementara nilai impor non-migas ke wilayah Batam selama periode yang sama sebesar US$ 8. dan komponen lainnya. bukanlah merupakan proses manufaktur dalam arti sebenarnya. Dalam kaitannya dengan rencana pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus di sejumlah daerah. Kondisi ini tidak lepas dari investasi asing (PMA) di industri-industri berteknologi tinggi. melalui Singapore Economic Development Board (SEDB)—semacam Badan Koordinasi Penanaman Modal di Indonesia—Negara tersebut juga ikut berperan dalam mempromosikan dan memasarkan kawasan Batam dan Bintan kepada investor asing. Dampaknya lalu lintas investasi asing ke kawasan ini dikendalikan penuh SEDB. dan mengakibatkan keperluan utang yang besar karena selisih di antara impor dengan ekspor menjadi besar. CPI baru memproduksi 10 miliar barrel. Pemerintah berencana akan mengkerjasamakannya kembali dengan Singapura dengan mencontoh pembangunan pulau Batam. Caltex Pasific Indonesia (CPI) saja diperkirakan masih tersisa sekitar 28 miliar barrel. tetapi proses penggabungan. Ketergantungan ini disebabkan tidak adanya penyediaan domestik dan industri-industri pendukung serta lemahnya keterkaitan produksi antar industri di dalam negeri. kimia. fasilitas pembebasan pajak dan bea masuk yang pada mulanya untuk menarik minat investasi asing justru menjadi faktor hancurnya industri nasional. Bahkan di tahun 1973 produksi CPI bisa mencapai satu juta barrelper hari. input perantara. Industri yang berkembang adalah industri-industri yang bersifat footlose sehingga rendah dalam penggunaan bahan mentah dan faktor produksi dalam negeri secara masif. Neraca perdagangan Batam misalnya. Sejak beroperasi di Riau tahun 1952 hingga kini.9 miliar. consumer goods. Menghancurkan Industri Nasional Pada bagian lain. kendati demikian Dumai mempunyai sumber daya unggulan: Minyak. Kawasan Ekonomi Khusus seperti Batam pada akhirnya hanya menjadi tempat yang empuk bagi penghisapan surplus ekonomi oleh pihak asing. dan tidak berada di jalur perdagangan international. Singapura tidak hanya membangun kawasan industri. 2. sementara produksi saat ini CPI berkisar antara 600 ribu hingga 700 ribu barrel per hari. Sehingga menimbulkan ketergantungan yang begitu tinggi terhadap impor bahan baku. Namun juga semakin tidak terkontrolnya pihak asing dalam melakukan berbagai aktivitas penanaman modalnya. Dalam kasus usulan pembangunan KEK Dumai. Pengalaman Batam menunjukkan bahwa daerah tersebut justru dimanfaatkan oleh perusahaan eksportir . jika Rancangan Undang-Undang (RUU) Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) disahkan DPR-RI. Data perdagangan tersebut mengindikasikan bahwa Batam memiliki ketergantungan pada impor yang sangat tinggi. seperti farmasi. Dumai adalah satu kota di wilayah Propinsi Riau. dan assembling. 3. kawasan itu dikhawatirkan justru menjadi jalan lapang bagi investasi asing untuk mengeruk sumber daya alam Indonesia. Seperti tercantum dalam pasal 4 RUU KEK. Cadangan minyak bumi yang berada di lahan konsesi PT. Lokasi Eksploitasi Sumberdaya Alam dan Penghisapan Surplus Ekonomi Dengan berbagai fasilitas fiskal dan investasi yang diberikan. elektronik. Bintan dan Karimun sebagai pilot project. pengepakan. KEK dikhawatirkan bukan hanya menjadi jalan lapang bagi masuknya modal asing untuk mengeruk sumber daya alam Indonesia.[1] Di sisi lain tidak ada jaminan bahwa kinerja sebuah kawasan KEK dalam menarik investasi asing dapat berkorelasi positif dengan neraca perdagangannya. Kawasan Ekonomi Khusus harus terletak pada posisi yang dekat dengan jalur perdagangan internasional atau berdekatan dengan jalur pelayaran internasional di Indonesia atau pada wilayah potensi sumber daya unggulan.Dalam perkembangannya. sampai akhir tahun 2007 terus mengalami kerugian.

dibandingkan dengan digunakan seperti saat ini yang hanya ditujukan bagi masuk industri bernilai rendah hasil relokasi dari Negara lain yang rendah dalam penyerapan tenaga kerja dan tidak signifikan dalam berkontribusi terhadap perekonomian nasional. Celakanya lagi sebagian dari produk tekstil yang diimpor dari China tersebut merebes ke pasar di Pulau Jawa. tahun 2007 sebesar Rp 215 miliar. Namun realita selalu berkata sebaliknya.dan importer baik dalam maupun luar negeri sebagai tempat transit bagi produk-produk mereka untuk selanjutnya di re-ekspor ke negara lain. Dalam kasus Batam meski investasi swasta (asing dan domestik) menunjukan trend kenaikan.166 juta.113 juta. elektronika. Tahun 2008 terjadi penurunan alokasi anggaran yakni sebesar Rp 248 miliar. Contohnya. Pulau Batam dianggap sebagai tempat paling rawan masuknya produk-produk selundupan yang kemudian lari ke pasar Pulau Jawa sehingga berkontribusi pada hancurnya industri garmen di pulau Jawa. Di tengah kondisi keuangan Negara yang morat-marit. makanan dan minuman. kemudian di Batam. Terlebih bila dicermati dengan baik. produk tersebut diganti labelnya (made in Indonesia). KEK bisa menjadi alasan bagi pemerintah untuk kembali mengajukan pinjaman ke luar negeri. tahun 2008 Rp 248 miliar. Rp 75 miliar di antaranya bersumber dari pinjaman luar negeri. produk tekstil asal China yang dieskpor ke Batam. Tidak Signifikan dalam Menyerap Pengangguran dan Mengancam Hak-Hak Buruh Argumen utama yang selalu dibangun pemerintah dalam pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus adalah menarik investasi asing. Dari Rp 282. naik menjadi Rp 441 miliar tahun 2008 dan tahun 2009 sebesar Rp 421 miliar. anggaran yang dialokasikan kepada Batam Otorita Batam (BOB) tahun 2007 sebesar Rp 282. begitu juga rencana untuk anggaran tahun 2009 nanti. Sementara alokasi untuk Sabang.4 miliar yang dialokasikan bagi kegiatan BOB tahun 2007. naik menjadi US$ 5. Pemerintah akan mengambil kebijakan menutup seluruh perdagangan internasional lewat Pulau Batam untuk beberapa produk tertentu seperti garmen. Ekspor tekstil “Produk China made in Batam” tersebut telah merenggut kuota produsen tektil di pulau Jawa dan daerah lain. sementara sumber pembiayaan bukan hanya berasal dari APBD. .4 miliar. untuk selanjutnya dikirim ke Amerika Serikat melalui Batam dengan preferensi Bea Masuk 0%. di mana Rp 180 miliar adalah phln. 4. Rp 115 miliar bersumber dari pinjaman/hibah luar negeri (phln). Contohnya. dan tahun 2009 Rp 215 miliar. sumber pembiayaan pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Batam selama ini. dari Rp 215 miliar yang telah disetujui. namun juga APBN.351 juta tahun 1999. ternyata berasal dari pinjaman luar negeri. Data Departemen Keuangan melaporkan. biaya yang akan dikeluarkan pemerintah untuk pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus tidak sebandingan dengan revenues yang akan diterimanya. dan menyerap pengangguran sehingga menurunkan angka kemiskinan. 5. mainan anak-anak dan sepatu. namun rendah dalam penyerapan tenaga kerja. Seperti dikutif oleh harian Kontan Edisi 30 Oktober 2008 Direktur Pengawasan Barang Beredar dan Jasa Departemen Perdagangan (Depdag) Sahrul Sampurna mengatakan. Tahun 1998 total investasi swasta mencapai US$ 5. Membebani Anggaran Negara dan Utang Luar Negeri Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus membutuhkan anggaran yang tidak kecil. Anggaran yang begitu besar tersebut justru akan lebih bermanfaat jika digunakan bagi pembangunan infrastruktur industri perminyakan nasional. dan pada tahun 2000 meningkat menjadi US$ 6.

Data BPS Kepri tahun 2007 menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin mencapai 33. dan kembali turun menjadi 34. terlebih lagi jika dibandingkan biaya yang akan dikeluarkan pemerintah untuk pembangunan kawasan ini. Pasal 44 (1) Pada perusahaan yang telah terbentuk Serikat Pekerja/Serikat Buruh dibuat Perjanjian Kerja Bersama (PKB) antara Serikat Pekerja/Serikat Buruh dengan pengusaha. Yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah terpasungnya hak-hak buruh di dalam Kawasan Ekonomi Khusus.219. menyalurkan aspirasi pekerja/buruh di KEK dibentuk 1 (satu) Serikat Pekerja/Serikat Buruh (2) Pekerja/Buruh dapat menjadi anggota atau tidak menjadi anggota Serikat Pekerja/Serikat Buruh. Di sisi lain. Pasal 43 ayat (1) RUU KEK mengatur bahwa dalam kawasan khusus dibentuklah satu serikat buruh.873 Raw Materials and Value added tax 605. Hak dan kewajiban para pihak lainnya.namun trend kenaikan tersebut tidak diikuti kemampuan dalam menyerap tenaga kerja.395. kemudian turun menjadi 41. 6. Pembangunan KEK jelas bertentangan dengan kebijakan pemerintah yang setiap tahun mematok kenaikan penerimaan dari pajak.355. upah yang diterima buruh tidak sebanding dengan Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Tahun 2008 upah yang diterima pekerja di Batam sebesar Rp 960 ribu sementara KHL mencapai Rp 1. Ini sejalan dengan tuntutan pengusaha yang meminta terjaminnya iklim investasi. (2) PKB memuat antara lain ketentuan atau persyaratan: a. tahun 1998 potential loseyang diderita mencapai Rp 4. hasil survey BPS Batam menyatakan KHL di kota itu sebesar Rp 1. b.6 miliar meningkat US$ 100 juta dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar US$ 1. Menurut catatan LPEM UI.538. Rasionalitas ini jelas bertentangan dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan (UU 13/2003).4 juta.5 milyar. Pada tahun 1998 penerimaan angkatan kerja mencapai 53. begitu juga tahun 2009.01 persen pada tahun 2000. Pasal 43 (1) Untuk memperjuangkan kepentingan. sementara UMK Kota Batam tahun 2009 hanya sebesar Rp 1.150 .04 juta. Perhitungan Potensi Kehilangan PPN Batam Type of Good Subject of Duty Amount Consumption Goods Value added tax 363.7 triliun sementara penerimaan negara dari Batam pada tahun 1999 hanya sebesar Rp 874 miliar. dimaksudkan untuk meredam gejolak buruh dan memudahkan perusahaan mengendalikan aktivitas buruh.02 persen. terutama menyangkut hak berorganisasi.408 kepala keluarga (KK) dari total penduduk yang berjumlah 700 ribu jiwa. Pada bagian lain total investasi yang ditanamkan pemerintah hingga akhir 1999 sebesar US$ 1. Undang-Undang Serikat Buruh/Serikat Pekerja (UU 21/2000 atau UU SB/SP). Pekerjaan yang dilakukan melalui lembaga penyedia jasa tenaga kerja atau pekerjaan yang diserahkan kepada perusahaan lain.592. Kondisi ini yang mendorong jumlah penduduk miskin di propinsi Kepri tersebut semakin meluas.122 Capital Goods Export Violation 182. Fasilitas Fiskal yang Terlalu Banyak Fasilitas yang begitu luas diberikan kepada KEK tidak sebanding dengan penerimaan yang diperoleh pemerintah.7 juta. Pengalaman kasus Batam menunjukkan penerimaan yang diperoleh Negara yang berasal dari pajak tidak sebanding dengan potensi kerugian (Potential Lose) yang diderita akibat pemberian fasilitas fiskal. Rasionalisasi jumlah organisasi buruh di dalam KEK.522. serta Undang-Undang Pengadilan Hubungan Industrial (UU 2/2004 atau UU PHI).76 persen tahun 1999.

telah menimbulkan 18 jiwa melayang.027. 9. dan Bea Masuk. Sedangkan dalam bentrokan 15 Maret 2007 itu 39 orang terluka.374. Pada Januari 2000. serta 11 petani meninggal dunia. 8. Kebijakan pemerintah ini.394 Total Sumber: Merajut Batam Masa Depan. satu bulan kemudian yakni Februari 2000.592 4. pejabat pemerintah setempat. Dalam pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus di sejumlah daerah kelak. Kebijakan pembentukan KEK ini ditolak Bhumi Ucched Pratirodh (Komite Perlawanan Pengambil-alihan Tanah) yang dibentuk petani Benggala. pemerintah tidak akan memberlakukan Peraturan Presiden (Perpres) No. “ Setiap Wajib Pajak yang melakukan usaha di KEK diberikan insentif berupa pembebasan atau keringanan pajak daerah dan retribusi daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan” Padahal pembangunan kawasan ini mensyaratkan infrastruktur yang memadai dan lengkap sebagaimana tercantum dalam pasal 4 huruf d draf RUU KEK. sementara sumber pendanaan pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur seperti tertulis dalam draft RUU pasal 12 tidak hanya berasal dari APBN namun juga APBD.403. tewas setelah bentrokan dengan aparat keamanan. Heri Muliono. Mengancam Lingkungan Hidup Seperti dilansir Investor Daily (7 Januari 2008). sejalan dengan pasal 37 draf RUU KEK yang berbunyi: “Dalam KEK tidak berlaku ketentuan yang mengatur bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan di bidang penanaman modal kecuali yang dicadangkan untuk UKMK.All Import Duty Sales Tax on Luxury Gods 3. Mengurangi Pendapatan Daerah Pembangunan KEK bukan hanya akan mengurangi pendapatan Negara akibat pemberian insentif fiskal. Pembangunan infrastruktur tersebut tentu membutuhkan pembiayaan yang tidak kecil. sekitar 1000 warga desa menyerbu BIE (Bintan Industrial Estate) dan mematikan generator listriknya. Penggusuran para petani tersebut terkait dengan rencana pemerintah daerah setempat mendirikan Kawasan Ekonomi Khusus. tetapi juga berpotensi besar mengurangi pendapatan Pemerintah Daerah. 2000 7.724. jika RUU KEK disahkan tidak menutup kemungkinan konflik perebutan lahan yang memakan korban hingga tewas seperti yang terjadi di India. Salim Group (salah satu pemegang saham BEI) dituntut atas pencaplokan lahan secara illegal oleh petani Bintan. Sumber Konflik Agraria Pembentukan KEK yang membutuhkan lahan yang luas dapat menjadi sumber konflik agraria.194. Di India seperti dilaporkan Voice of Human Right. 80 mil selatan Kolkata – dulu Calcutta di wilayah Benggala Barat. 111 tahun 2007 tentang Daftar Bidang Usaha Tertutup dan Bidang Usaha Terbuka dengan Persyaratan atau dikenal Daftar Negatif Investasi (DNI) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) jika UU KEK diberlakukan. Menurut Amit Kiran Deb. pada 15 Maret 2007 11 petani Nandigram.500. termasuk 14 polisi.962. Potensi pendapatan yang berkurang akibat pembebasan pajak daerah dan retribusi daerah. seperti dikutip dari Voice of Human Rights.690. akan mempersulit posisi keuangan daerah untuk membiayai pembangunan maupun pemeliharaan infrastruktur di dalam KEK sendiri.” . Seperti draft RUU KEK pasal 34 ayat (1).612 545. sejak kekerasan meletus di Nandigram awal Januari 2007.

Halon. Levisite.. dll) dapat didirikan di dalam KEK. Dengan menjadikan Batam sebagai basis logistik perminyakan. maka Indonesia dapat mengantisipasinya melalui pengembangan pelabuhan bebas Sabang. Dalam pengembangan BBK. Bintan dan Karimun. Pemberian konsesi kepada Singapura dalam pengembangan di tiga pulau itu justru menempatkan daerah itu sebagai sub-ordinat dari Singapura. seperti: Penta Chlorophenol. Tapi dalam perkembangannya kinerja Sabang tidak seperti yang diharapkan. Chloro Fluoro Carbon. pemerintah kemudian mengeluarkan UU No 10/1985 yang mencabut status FTZ Sabang. Batam dan pulau-pulau sekitar direncanakan sebagai basis logistik dan operasional Pertamina bagi usaha yang berhubungan dengan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi. pada tahun 1998 Kota Sabang dan Kecamatan Pulo Aceh dijadikan sebagai Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) dengan Keppes No. Methyl. Seperti diketahui ketika Ibnu Sutowo mejabat sebagai direktur Pertamina. tidak menutup kemungkinan Sabang dapat memotong jalur perdagangan Selat Malaka. (CFC). Soman. mengingat lokasinya yang tepat untuk menjamin efisiensi dan efektivitas suplai minyak dan gas. Saxitoxin. maka Industri Bahan Kimia yang dapat merusak lingkungan.Ltd dari Jepang dan Pacific Bechtel. Industri semacam ini jelas dapat merusak Lingkungan Hidup. menurut Ibnu Sutowo karena hingga dasawarsa 1960-an Pertamina masih berpangkalan di Singapura. Dan karena Sabang dituding menjadi pintu penyelundupan. Konvensi Senjata Kimia (Sarin. Dieldrin. letak Sabang jauh lebih strategis dibandingkan Batam. Mengabaikan Kepentingan Nasional Disamping Batam. VX. BBK akan dapat tumbuh dengan lebih baik dan cepat jika kawasan itu dikembangkan sebagai basis logistik industri perminyakan. praktek Kawasan Ekonomi Khusus juga terjadi di Sabang. 171 tanggal 28 September 1998. Inc dari Amerika Serikat pad atahun 1972 merekomendasikan . diharapkan Pertamina dapat menghemat biaya secara signifikan. Melalui terbitnya UU No 3/1970 tentang Perdagangan Bebas Sabang dan UU No 4/1970 tentang ditetapkannya Sabang sebagai Daerah Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. Di samping itu jika kelak pembangunan jalur Terusan Kra-Mengkong yang berada di wilayah Thailand dan Vietnam yang bertujuan memotong jalur perdagangan selat Malaka selesai. Ricine. Padahal secara geo-ekonomi dan geo-politik. Pertamina pada saat itu tidak hanya menerima hasil yang 85 % akan tetapi juga harus menanggung biaya 85 % kontraktor. di samping menghemat devisa dan menghidupkan perekonomian negara karena biaya Pangkalan Batam akan dapat diserap oleh pasar dalam negeri. 2 tahun 2000 tanggal 1 September 2000 selanjutnya disahkan menjadi UndangUndang Nomor 37 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang. Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah pengganti UndangUndang No. maka pemerintah dan DPR harus mempertimbangkan kembali RUU KEK. Selanjutnya pada tahun 2000 di era Presiden KH. Tabun Mustard.Dengan tidak diberlakukan DNI dalam KEK. Chloride. Diphenyl Trichloro Elhane (DDT). 10. Bahkan hasil kajian Rencana Induk Batam yang dilakukan oleh Nissho Iwai Co. Melihat realita tersebut. Aceh. Dichloro. Methyl Bromide. Carbon Tetra. Chloroform. Bintan dan Karimun. Dalam perkembangan selanjutnya. Alasan mendasar menjadikan Batam sebagai sentral logistik. Sejak itu Sabang kembali menjadi daerah pabean biasa. Pemerintah juga perlu mengkaji ulang pemberlakuan Kawasan Ekonomi Khusus di Pulau Batam. ini karena pemerintah kurang serius menggarap Sabang. Jika Sabang dikembangkan dengan serius oleh pemerintah. Chlordane. pemerintah juga harus melihat ulang aspek strategis posisi BBK dalam kaitan dengan dinamika regional. Abdurrahman Wahid. dan Industri Bahan KimiaSkedul-I.

00 98.646. [4] Disebelah barat BBK terdapat Dumai.138.059.255.037. serta kegiatan pemrosesan produk ikutannya (pusat industri petroleum dan petrokimia).166.520.480.00 277.088.00 247. 1931 No. pemerintah kemudian menjadikan Batu Ampar (satu wilayah di pulau Batam) sebagai wilayah enterport partikulir berdasarkan Keppres No.373.00 162.00 66.636.637.00 2005 22.00 362.790.00 2001 21.3 triliun square cubic feet (TSCF).strategi pembangunan Batam menitikberatkan pada industri eksploitasi minyak dan gas.957.00 15.823.00 21.00 2.918.00 245.367.00 2004 13.655.00 2002 17.00 10.060.606.00 14.489.404.582.00 125.286.265. Kepulauan Natuna—sebelah utara BBK memiliki cadangan minyak bumi mencapai 298.00 146.00 530.00 287. 74 tahun 1971 atas dasar Reglement A Ordonansi Bea (S. Produksi Minyak Bumi.00 164.00 175.960.717.837.052.922.551.510.446.558. Namun dalam perkembangannya terjadi penyimpangan seperti yang terjadi seperti saat ini.779.538.079.424.00 Sumber : Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Padahal guna mendorong proses percepatan industrialisasi yang dibutuhkan bukankah pembentukan KEK sebanyak mungkin.063.368.111.971.[5] Tabel 32. Kondensat dan Gas Propinsi Kepri [6] Tahun Minyak Bumi Kondensat Total (barel) Produksi Gas (Barel ) (Barel) (MSCF) 2000 22.222.040.481.311.155.00 17.00 42.616. dan cadangan gas alam sebesar 55.489.00 2003 15. Pembangunan BBK sebagai basis logistik dan industri perminyakan didukung dengan sumber daya migas yang besar diwilayah disekitarnya. Menanggapi rencana tersebut.640.00 22.371.00 2006 21. sehingga akan memperkokoh daya-beli dan pasar dalam-negeri.00 22. 471).192.00 2007 15.513. dan meningkatkan secara maksimal penggunaan komponen dalam negeri menuju selfreliance agar perekonomian berakar di dalam negeri.00 16.849. Dalam posisi geografis Batam yang terletak tepat di persimpangan jalur lalulintas Asia Barat-Asia Timur sangat strategis untuk dapat menarik manfaat dari jalur distribusi minyak yang ada.81 juta meter barrel oil (MMBO).00 25. *** . Riau yang memiliki cadangan minyak bumi yang diperkirakan masih tersisa sekitar 28 miliar barrel. tetapi bagaimana merestrukturisasi pola industri nasional ke arah resource-based industri dengan ketergantungan minimal dari komponen luar negeri.279.579.116.