STATUS PASIEN BEDAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH

Nama Mahasiswa NIM

: Maydina Putri Anggita : 030.06.160

Tanda tangan :

Dokter Pembimbing : Dr.Ibnu Benhadi, Sp.BS

IDENTITAS PASIEN Nama lengkap Umur Status perkawinan Pekerjaan Alamat Tanggal masuk RS No. Rekam Medis ANAMNESIS Diambil dari: Alloanamnesa Keluhan utama : Demam sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit Keluhan Tambahan : Nyeri kepala hebat Tanggal: 09-07- 2011 Jam: 13.00 WIB : Tn.Z : 26 tahun : Belum menikah : Karyawan Jenis kelamin : Laki- laki Suku bangsa : Betawi Agama Pendidikan : Islam : SMA

: jl.Cip muara III no. 24 RT 14 RW 08 : 08 juli 2011 : 770455

1

Riwayat Penyakit Sekarang : Os datang ke IGD RSUD Budhi Asih diantar keluarganya dengan keluhan demam sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Menurut keluarganya,demam dirasakan tiba-tiba , sepanjang hari dan tidak menurun walaupun sudah diberi obat penurun panas, keluarganya juga mengatakan os mengalami nyeri kepala yang hebat. Os juga mengalami penurunan nafsu makan dan minum. Mual (-), muntah (-) dan kejang (-). Selama dirawat di RSUD Budhi asih , os dipasang selang kencing, urin berwarna kuning keruh, darah (-). BAB dengan frekuensi 1x/hari, berwarna kuning kecoklatan, darah (-) dan lendir (-). Keluarganya mengatakan 12 hari sebelum masuk rumah sakit RSUD Budhi asih,os sempat dirawat di rumah sakit pondok kopi akibat kecelakaan lalu lintas saat mengendarai sepeda motor tanpa helm dan menabrak trotoar sehingga kepalanya terbentur jalanan, os dibawa ke rumah sakit pondok kopi dalam keadaan tidak sadar namun tidak tahu berapa lama kemudian sadar kembali akan tetapi tidak ingat kejadian yang baru saja dialaminya, menurut keluarga pasien sempat muntah sebanyak 4 kali, muntahan berisi makanan, darah (-) dan selama 12 hari dirawat di rumah sakit pondok kopi, os sempat masuk ICU selama 3 hari namun keluarga meminta pulang secara paksa karena faktor biaya. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien tidak pernah mengalami kecelakaan lalu lintas sebelumnya. Pasien tidak mempunyai riwayat darah tinggi, kencing manis, maupun jantung. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada riwayat darah tinggi, kencing manis dan jantung pada keluarga.

PEMERIKSAAN JASMANI Pemeriksaan Umum Tinggi Badan Berat Badan Tekanan Darah Nadi Suhu : : : : : 162 cm 45 kg 120 / 80 mmHg 80 x / menit 36,4 º C
2

1 ) somnolen. RCL (+/-). E3V3M5 asthenikus wajar aktif sesuai umur Effloresensi Pigmentasi : (-) : (-) Pertumbuhan rambut: merata Lembab/Kering: lembab Pembuluh darah: normal Turgor : baik Ikterus Oedem : (-) : (-) Kelenjar Getah Bening Submandibula Supraklavikula Lipat paha Kepala Normocephali .Pernafasaan Keadaan gizi Kesadaran Sianosis Udema umum Habitus Cara berjalan Mobilitas ( aktif / pasif ) Umur menurut taksiran pemeriksa Kulit Warna Jaringan Parut Suhu Raba Keringat Lapisan Lemak Lain-lain : sawo matang : (-) : normal : Umum (-) Setempat (-) : merata :- : : : : : : : : : 20 x / menit kurang ( IMT = 17. RCTL (+/-). terdapat luka bekas jahitan di pelipis kanan dan kiri Wajah Kerutan pada dahi hilang pada sisi kanan. conjungtiva ikterik (-).Tampak 3 : tidak membesar : tidak membesar : tidak membesar Leher : tidak membesar Ketiak : tidak membesar . sclera ikterik (-). pada saat berbicara mulut mencong (tertarik ) ke sisi kanan Mata Pupil anisokor.

: tidak tampak membesar : simetris : simetris. Hidung Tidak tampak adanya deformitas Tidak tampak adanya secret dan darah Telinga Tuli Lubang Serumen Cairan Mulut Bibir Langit-langit Gigi geligi Selaput lendir Lidah Leher Tekanan Vena Jugularis (JVP) Kelenjar Tiroid Kelenjar Limfe kanan Dada Bentuk Buah dada Paru – Paru Depan Inspeksi Kiri Simetris dinamis Kanan Simetris saat statis saat statis Belakang dan Simetris dinamis dan Simetris saat statis dan 4 saat statis dan : -/: +/+ : -/: -/: kering : tidak bercelah : caries (-) : normal : tidak kotor Selaput pendengaran : utuh Penyumbatan Pendarahan : tidak ada : tidak ada Tonsil Bau pernapasan Faring : T1-T1 tenang : tidak khas : tidak hiperemis : 5 – 2 cm H2O.hematom pada palpebra kiri dan ptosis. Pembuluh darah : tidak tampak vena kolateral . : tidak tampak membesar. normal. Penglihatan dan visus menurun.

Tidak ada benjolan . Murmur (-).Suara vesikuler . : sela iga II linea parasternal kiri.Tidak ada benjolan .Fremitus taktil simetris .Ronki (-).Ronki (-).Ronki (-). : Teraba iktus cordis pada sela iga V di linea midklavikula kiri : Batas kanan Batas kiri Batas atas : sela iga V linea parasternalis kanan.Suara vesikuler . Wheezing (-) .Tidak ada benjolan .Suara vesikuler . Gallop (-). : sela iga V. Wheezing (-) Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi : Tampak pulsasi iktus cordis.Fremitus taktil simetris Kanan . 1cm sebelah medial linea midklavikula kiri.Fremitus taktil simetris Sonor di seluruh lapang paru Sonor di seluruh lapang paru . Wheezing (-) dinamis .Ronki (-). Auskultasi : Bunyi jantung I-II murni reguler.Suara vesikuler . Pembuluh Darah Arteri Temporalis Arteri Karotis Arteri Brakhialis Arteri Radialis : teraba pulsasi : teraba pulsasi : teraba pulsasi : teraba pulsasi 5 .Fremitus taktil simetris Perkusi Kiri Kanan Auskultas i Kanan Kiri Sonor di seluruh lapang paru Sonor di seluruh lapang paru . Wheezing (-) .Tidak ada benjolan .dinamis Palpasi Kiri .

simetris. smiling umbilicus (-). dilatasi vena (-) Palpasi Dinding perut Hati Limpa Ginjal : supel. datar.Arteri Femoralis Arteri Poplitea Arteri Dorsalis Pedis Abdomen Inspeksi : teraba pulsasi : teraba pulsasi : teraba pulsasi Arteri Tibialis Posterior : teraba pulsasi : tidak ada lesi. nyeri ketok costovertebral negatif Nyeri tekan epigastrium negative Murphy sign negatif Nyeri lepas negatif Shifting dullness negatif Perkusi Auskultasi : timpani : bising usus (+) normal Refleks dinding perut: baik Anggota Gerak 6 . tidak ada bekas operasi. tidak ada nyeri tekan di hati : tidak teraba membesar : ballotement negatif. kembung : tidak teraba membesar.

Lengan Otot Tonus : Massa : Sendi : Gerakan: Kekuatan: Oedem : Lain-lain: Petechie Tungkai dan Kaki Luka Varises Otot Tonus Massa Sendi Gerakan Kekuatan Oedem Lain-lain Refleks Refleks Tendon Bisep Trisep Patela Achiles Kremaster Refleks Kulit Refleks Patologis Kanan normotonus normal nyeri (-) aktif +5 (-) (-) (-) Kanan : ada : : : : : : : : Kiri normotonus normal nyeri (-) aktif +5 (-) (-) (-) Kiri ada tidak ada tidak ada normotonus normal nyeri(-) aktif +5 (-) (-) Kiri Positif Positif Positif Positif Positif Tidak dilakukan Positif Negatif normotonus normal nyeri (-) aktif +5 (-) (-) Kanan Positif Positif Positif Positif Positif Tidak dilakukan Positif Negatif 7 .

LABORATORIUM RUTIN (08 Juli 2011) Jenis Pemeriksaan Hematologi Rutin Jumlah Leukosit Hemoglobin Hematokrit Trombosit Kimia Darah Glukosa Sewaktu Fungsi Hati SGOT SGPT Fungsi Ginjal Ureum Kreatinin Elektrolit Natrium Kalium Chlorida 145 4.5-1.5 20 13 U/l U/l <32 <24 75 mg/dl <180 *20.5-5.2 (↑) *10.3 98-109 39 1 mg/dl mg/dl 10-40 0.6 104 mEg/dl mEg/dl mEg/dl 135-153 3.9 (↓) *31 (↓) *709 ( ↑) ribu/µl g/dl % ribu/µl 5-10 12-14 37-43 150-400 Hasil Satuan Nilai Normal Pemeriksaan CT-Scan tanggal 26 Juni 2011 di RSIJ Pondok Kopi 8 .

Tak tampak pergeseran struktur garis tengah.Dilakukan ct scan kepala potongan aksial tanpa kontras dengan tebal irisan 5 dan 10 mm. III dan IV normal. Differensiasi white dan grey matter jelas. Tampak lesi hiperdens dengan tepi cembung di fronto-parietal kanan dan lesi hiperdens di parietal kiri dan oksipital kanan. sinus ethmoid dan sinus sphenoid baik. sistem ventrikel lateralis . Paracella dan supracella tak tampak formasi tumor. Fraktur os parietal kanan kiri dan dinding lateralis orbita dan sinus maksilaris kanan. Mastoid. sinus frontal. Sulci dan gyri tak jelas . Perselubungan sinus maksilaris kanan kiri Kesan : epidural hematoma di fronto parietal kanan Contusion cerebri di parietal kiri dan occipital kanan Oedema cerebri Fraktur os parietal kanan kiri dan dinding lateralis orbita dan sinus maksilaris kanan 9 . Supratentorial tak tampak lesi hipo/hiperdens intraparenkimal. serebellum dan sudut serebelopontin tak tampak lesi. Pons. Subgaleal hematoma di parietal kanan kiri.

Keluarganya mengatakan 12 hari sebelum masuk rumah sakit RSUD Budhi asih. menurut keluarga pasien sempat muntah sebanyak 4 kali. os dibawa ke rumah sakit pondok kopi dalam keadaan tidak sadar namun tidak tahu berapa lama kemudian sadar kembali akan tetapi tidak ingat kejadian yang baru saja dialaminya. berumur 26 tahun. sepanjang hari dan tidak menurun walaupun sudah diberi obat penurun panas. di kepala terdapat luka bekas jahitan di pelipis kanan dan kiri. darah (-) dan selama 12 hari dirawat di rumah sakit pondok kopi.os sempat dirawat di rumah sakit pondok kopi akibat kecelakaan lalu lintas saat mengendarai sepeda motor tanpa helm dan menabrak trotoar sehingga kepalanya terbentur jalanan.Z. Os juga mengalami penurunan nafsu makan dan minum. datang ke IGD RSUD Budhi Asih dengan keluhan demam sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. keluarganya juga mengatakan os mengalami nyeri kepala yang hebat. Keadaan gizi:kurang ( IMT = 17. os dipasang selang kencing. os sempat masuk ICU selama 3 hari namun keluarga meminta pulang secara paksa karena faktor biaya. GCS : E3V3M5. Menurut keluarganya.pada daerah wajah terlihat kerutan 10 . Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan kesadarannya somnolen. muntahan berisi makanan. Selama dirawat di RSUD Budhi asih .demam dirasakan tiba-tiba . urin berwarna kuning keruh.1 ).RINGKASAN Seorang laki-laki bernama Tn.

Ceftriaxon 2x 1gr 6.9 g/dl.RCL (+/-). paresis N VII kanan DIAGNOSIS BANDING Hematoma subdural PENATALAKSANAAN 1. pada saat berbicara mulut mencong (tertarik ) ke sisi kanan. Anjuran operatif : Kraniotomi-evakuasi hematom PROGNOSIS 11 .5 mg 8.pada dahi hilang pada sisi kanan. Penglihatan dan visus menurun. Hematokrit 31% dan Trombosit 709 rb/µl.pupil anisokor. Hemoglobin10. Dari pemeriksaan hasil laboratorium didapatkan Jumlah Leukosit 20. pemeriksaan ct-scan didapatkan kesan : epidural hematoma di fronto parietal kanan. Mersitopril 4x 3 gr 7. DIAGNOSIS KERJA epidural hematoma di fronto parietal kanan . RCTL (+/-).terdapat vulnus excoriation pada keempat ekstremitas.oedema cerebri dan fraktur os parietal kanan kiri dan dinding lateralis orbita dan sinus maksilaris kanan. contusion cerebri di parietal kiri dan occipital kanan. Pemakaian kateter 3. IVFD asering / 12 jam 4. Takelin 2x250 mg 5.Tampak hematom pada palpebra kiri dan ptosis. Tirah baring 2.2 rb/µl. Haloperidol 2x 0. Paresis N III kiri. contusion cerebri di parietal kiri dan occipital kanan dengan oedema serebri fraktur os parietal kanan kiri dan dinding lateralis orbita dan sinus maksilaris kanan.

4 º C P : 20 x/mnt Status neurologis Kesadaran :somnolen.07-2011 Subjektif Nyeri kepala Objektif TD : 120/ 80 mmHg N : 80 x/mnt S : 36.RCTL +/Refleks fisiologis Positif ++/++ Reflex patologis (-/-) Motorik Takelin 2 x 500 mg Ceftriaxon 2 x 1gr Penolakan pemasangan NGT Penatalaksanaan Terapi : IVFD Asering 20 tpm 555/555 ______ 555/555 Tanggal Subjektif Objektif Penatalaksanaan 12 . gelisah GCS : E3V3M5 Pupil bulat anisokor RCL +/.Ad vitam Ad fungsionam Ad sanationam : Dubia ad bonam : Dubia ad bonam : Dubia ad bonam Follow Up Tanggal 09.

12.07-2011 - TD : 120/ 70 mmHg N : 78 x/mnt S : 36.2 º C P : 18 x/mnt Status neurologis Kesadaran :somnolen Penatalaksanaan Terapi : IVFD Asering 20 tpm Mersitopril 1 x 1200 mg Takelin 2 x 500 mg Haloperidol 2 x 0.2 º C P : 18 x/mnt Status neurologis Kesadaran :somnolen.5 mg 13 . gelisah GCS : E2V3M4 Pupil bulat anisokor RCL +/.RCTL +/Refleks fisiologis Positif ++/++ Reflex patologis (-/-) Motorik Terapi : IVFD Asering 20 tpm Mersitopril 1 x 1200 mg Takelin 2 x 500 mg Haloperidol 2 x 0.07-2011 Subjektif - Objektif TD : 120/ 70 mmHg N : 72 x/mnt S : 36.5 mg Ceftriaxon 2 x 1gr Konsul ke dokter mata 555/555 ______ 555/555 Tanggal 16.

cek DPL.07-2011 Subjektif Pusing berkurang Objektif sudah TD : 120/ 80 mmHg N : 76 x/mnt S : 36.RCTL +/Refleks fisiologis Positif ++/++ Reflex patologis (-/-) Motorik Ceftriaxon 2 x 1gr  stop Rujuk ke RSPAU untuk dilakukan operasi 555/555 ______ 555/555 Tanggal 25.5 mg Pre-operasi : izin operasi.5 º C P : 19 x/mnt Status neurologis Kesadaran :compos mentis GCS : E4V5M6 Pupil bulat anisokor RCL +/.RCTL +/Refleks fisiologis Positif ++/++ Reflex patologis (-/-) Motorik Penatalaksanaan Terapi : IVFD Asering 20 tpm Mersitopril 1 x 1200 mg Takelin 2 x 500 mg Haloperidol 2 x 0. BT dan CT 14 . cukur rambut.GCS : E4V3M6 Pupil bulat anisokor RCL +/.

555/555 ______ 555/555 TINJAUAN PUSTAKA EPIDURAL HEMATOM 15 .

INSIDEN DAN EPIDEMIOLOGI Di Amerika Serikat.60 % penderita hematoma epidural adalah berusia dibawah 20 tahun. ketika pembuluh darah mengalami robekan maka darah akan terakumulasi dalam ruang antara dura dan tulang tengkorak. sehingga menimbulkan perdarahan. Arterial hematom terjadi pada middle meningeal artery yang terletak di bawah tulang temporal. dan membentuk periosteum tabula interna. Fungsinya untuk melindungi otak. Perdarahan masuk ke dalam ruang epidural.Orang yang beresiko mengalami EDH adalah orang tua yang memiliki masalah berjalan dan sering jatuh. ETIOLOGI Hematoma Epidural dapat terjadi pada siapa saja dan umur berapa saja. dan jarang terjadi pada umur kurang dari 2 tahun dan di atas 60 tahun. Lebih banyak terjadi pada laki-laki dibanding perempuan dengan perbandingan 4:1. Secara Internasional frekuensi kejadian hematoma epidural hampir sama dengan angka kejadian di Amerika Serikat. keadaan inlah yang di kenal dengan sebutan epidural hematom. pergerakan dari otak mungkin akan menyebabkan pengikisan atau robekan dari pembuluh darah yang mengelilingi otak dan dura. beberapa keadaan yang bisa menyebabkan epidural hematom adalah misalnya benturan pada kepala pada kecelakaan 16 . Epidural hematom sebagai keadaan neurologist yang bersifat emergency dan biasanya berhubungan dengan linear fraktur yang memutuskan arteri yang lebih besar. bila terjadi perdarahan arteri maka hematom akan cepat terjadi. menutupi sinus-sinus vena. 2% dari kasus trauma kepala mengakibatkan hematoma epidural dan sekitar 10% mengakibatkan koma. Ketika seorang mendapat benturan yang hebat di kepala kemungkinan akan terbentuk suatu lubang.Epidural hematom adalah salah satu jenis perdarahan intracranial yang paling sering terjadi karena fraktur tulang tengkorak. Venous epidural hematom berhubungan dengan robekan pembuluh vena dan berlangsung perlahan-lahan. Otak juga di kelilingi oleh sesuatu yang berguna sebagai pembungkus yang disebut dura. Angka kematian meningkat pada pasien yang berusia kurang dari 5 tahun dan lebih dari 55 tahun.. Otak di tutupi oleh tulang tengkorak yang kaku dan keras.

Meninges terdiri dari tiga lapisan dari luar kedalam yaitu : duramater. sinus rectus. Hematoma epidural terjadi akibat trauma kepala. arachnoidea dan piamater a. cerebri magna. sedangkan duramater otak terdiri atas dua lembar yaitu lamina endostealis yang merupakan jaringan ikat fibrosa cranium. dan vv. Meninges Meninges adalah selubung jaringan ikat non sarafi yang membungkus otak dan medulla spinalis yang barisi liquor cerebrospinal dan berfungsi sebagai schock absorber. berbentuk segitiga yang merupakan lanjutan kekaudal dari falx cerebri disebut Falx cerebelli. dan sinus occipitalis.vv. Emissari. Diploicae. Cerebri. vv. dan lamina meningealis. Duramater Merupakan selaput padat. sinus sagitalis inferior. dibeberapa tempat membentuk ruangan disebut sinus ( venosus ) duramatris. keras dan tidak elastis. merupakan lanjutan dari v. Diploicae. Sinus duramatis menerima aliran dari vv. Ada dua macam sinus duramatis yang tunggal dan yang berpasangan. dan lembaran yang menutupi sella tursica merupakan pembungkus hipophysis disebut diafragma sellae Diantara dua lembar duramater.motor. berbentuk tenda yang merupakan atap dari fossa cranii posterior memisahkan cerebrum dengan cerebellum disebut tentorium cerebelli. Sinus rectus terletak diantara falx cerebri dan tentorium cerebelli. dengan sinus sagitalis superior 17 . Cerebri. dan vv. Sinus duramater yang tunggal adalah : sinus sagitalis superior. yang biasanya berhubungan dengan fraktur tulang tengkorak dan laserasi pembuluh darah ANATOMI Meninges dan Vasa Darah Otak 1. Membentuk lipatan /duplikatur dibeberapa tempat. Sinus sagitalis superior menerima darah dari vv. yaitu dilinea mediana diantara kedua hemisphere cerebri disebut falx cerebri . Emissari.Sinus sagitalis inferior menerima darah dari facies medialis otak. Duramater pembungkus medulla spinalis terdiri atas satu lembar.

Diantara aracnoidea dan piamater terdapat ruang spatium subaracnoidale. Dari aracnoidea juga muncul jonjot – jonjot yang mengadakan invaginasi ke duramater disebut granulasio aracnoidales terutama didaerah sinus sagitalis yang berfungsi klep satu arah memungkinkan lalunya bahan – bahan dari LCS ke sinus venosus. Vasa Darah Otak 18 . Sinus petrosus superior dan inferior menerima darah dari sinus cavernosus dan mengalirkan masing – masing ke sinus traaanversus dan v. kemudian mengalir ke v. c. jugularis interna b. celah sempit diluar duramater disebut spatium epidurale. Sinus sigmoideus merupakan lanjutan sinus tranversus berbentuk huruf S. bergabung dengan confluens sinuum. Sedangkan celah sempit diantara duramater dan aracnoidea disebut spatium subdurale. Aracnoidea Membran halus disebelah dalam duramater. sinus sigmoideus dan sinus petrosus superior dan inferior. tidak masuk kedalam sulcus / fissura kecuali fissura longitudinalis. Dari aracnoidea banyak muncul trabecula halus menuju kepiamater membentuk bangunan seperti sarang laba – laba. Sinus duramater yang berpasangan yaitu sinus tranversus. Piamater berperan sebagai barrier terhadap masuknya senyawa yang membahayakan.membentuk confluens sinuum. mengandung vasa kecil. Sinus tranversus menerima darah dari sinus sagitalis superior dan sinus rectus. Sinus occipitalis mulai dari foramen magnum. Ditempat tertentu bersama dengan ependyma membentuk tela choroidea. Piamater Piamater melekat erat pada otak dan medulla spinalis. yang dibeberapa tempat melebar membentuk cisterna. mengikuti setiap lekukan. jugularis interna. sinus cavernosus.

cerebellaris superior ( setinggi n. Arteri vertebralis merupakan cabang a. carotis interna merupakan cabang dari a. Vena Vena diotak dikalsifikasikan sebagai berikut : . a. VIII ). cerebralis posterior yang merupakan cabang terminal a. a. Dibentuk oleh a. . a. meliputi v. Emissariae. meliputi v. IV ) dan a. choroidea dan v. cerebralis media. III dan n. basilaris. yaitu vena yang menghubungkan sinus duralis dengan vena superfisialis cranium yang berfungsi sebagai klep tekanan jika terjadi kenaiakan tekanan intrakranial. choroidea anterior.cabangnya adalah a.cabang a. comunican posterior dan a. Juga berperan dalam penyebaran infeksi ke dalam cavum cranii. Sistem ini memungkinkan suplai darah ke otak yang adekuat terutama jika terjadi oklusi / sumbatan. cerebralis superior / lateralis / medialis / inferior dan vv. . communican posterior. cerebri magna. Cerebellaris . optalmica.Vv. cabang. communicans anterior. cerebralis anterior dan a. a. V dan n.cerebralis medialis. vertebralis membentuk circulus arteriosus Willis yang terdapat disekitar chiasma opticum.a. cerebralis anterior mempercabangkan a. opthalmica mempercabang a. carotis interna dan a. cerebralis medialis mempercabangkan a. vertebralis di kranial pons membentuk a.labirintina ( mengikuti n. a. Cabang -.communican anterior. cerebralis anterior.Vena cerebri interna.Vv. vertebralis. carotis interna dan a. cerebralis posterior. Arteri Otak divaskularisasi oleh cabang – cabang a. Pontis. subclavia naik ke leher melalui foramina tranversalis. A. a. Basallles. centralis retina. sedangkan a. A. Kedua a. a. carotis comunis yang masuk ke kavum cranii melalui canalis caroticus. basillaris yang mempercabangkan aa. a. 19 . b.Vena cerebri eksterna.

Tekanan pada lintasan kortikospinalis yang berjalan naik pada daerah ini. Anastomosis venosa sangat ektensif dan efektif antara vv. Tekanan pada saraf ini mengakibatkan dilatasi pupil dan ptosis kelopak mata. Sedangkan aliran balik darah venosa di cerebrum tidak tidak mengikuti pola di arterinya.Vena yang berasal dari truncus cerebri dan cerebellum pada umumnya mengikuti kembali aliran arterinya. menyebabkan kelemahan respons motorik kontralateral. Semua darah venosa meninggalkan otak melalui v. Ketika kepala terbanting atau terbentur mungkin penderita pingsan sebentar dan segera sadar kembali. refleks hiperaktif atau sangat cepat. Karena perdarahan ini berasal dari arteri. Robekan ini sering terjadi bila fraktur tulang tengkorak di daerah bersangkutan. Perdarahan ini lebih sering terjadi di daerah temporal bila salah satu cabang arteria meningea media robek. Profunda di dalam otak. Perdarahan yang terjadi menimbulkan hematom epidural. dan tanda babinski positif. PATOFISIOLOGI Pada hematom epidural. maka seluruh isi otak akan terdorong kearah yang berlawanan. Di tempat ini terdapat nuclei saraf cranial ketiga (okulomotorius). jugularis interna pada basis cranii. Keadaan ini menyebabkan timbulnya tanda-tanda neurologik yang dapat dikenal oleh tim medis. Hematoma yang membesar di daerah temporal menyebabkan tekanan pada lobus temporalis otak kearah bawah dan dalam. Tekanan dari herniasi unkus pda sirkulasi arteria yang mengurus formation retikularis di medulla oblongata menyebabkan hilangnya kesadaran. desakan oleh hematoma akan melepaskan durameter lebih lanjut dari tulang kepala sehingga hematom bertambah besar. Tekanan ini menyebabkan bagian medial lobus mengalami herniasi di bawah pinggiran tentorium. menyebabkan tekanan intracranial yang besar. penderita akan merasakan nyeri kepala yang progersif memberat. Dengan makin membesarnya hematoma. Dalam waktu beberapa jam . Hematom dapat pula terjadi di daerah frontal atau oksipital Arteri meningea media yang masuk di dalam tengkorak melalui foramen spinosum dan jalan antara durameter dan tulang di permukaan dan os temporale. Timbul tanda-tanda lanjut peningkatan tekanan intracranial antara lain kekakuan deserebrasi dan gangguan tanda-tanda vital dan fungsi pernafasan. perdarahan terjadi di antara tulang tengkorak dan dura meter. 20 . maka darah akan terpompa terus keluar hingga makin lama makin besar. Superfisialis dan vv.

diploica dan vena diploica Epidural hematoma merupakan kasus yang paling emergensi di bedah saraf karena progresifitasnya yang cepat karena durameter melekat erat pada sutura sehingga langsung mendesak ke parenkim otak menyebabkan mudah herniasi trans dan infratentorial. Setiap orang memiliki kumpulan gejala yang bermacam-macam akibat dari cedera kepala. Fenomena lucid interval terjadi karena cedera primer yang ringan pada Epidural hematom. Kalau pada subdural hematoma cedera primernya hamper selalu berat atau epidural hematoma dengan trauma primer berat tidak terjadi lucid interval karena pasien langsung tidak sadarkan diri dan tidak pernah mengalami fase sadar. Sering juga tampak cairan yang keluar pada saluran hidung atau telinga. bisa sampai koma Bingung Penglihatan kabur Susah bicara 21 .Gejala yang sering tampak : • • • • Penurunan kesadaran. apalagi progresif memberat. harus segera di rawat dan diperiksa dengan teliti.kemudian kesadaran berangsur menurun. Banyak gejala yang muncul bersaman pada saat terjadi cedera kepala.Karena itu setiap penderita dengan trauma kepala yang mengeluh nyeri kepala yang berlangsung lama. • Sumber perdarahan : • Artery meningea ( lucid interval : 2 – 3 jam ) • Sinus duramatis • Diploe (lubang yang mengisis kalvaria kranii) yang berisi a. GAMBARAN KLINIS Gejala yang sangat menonjol ialah kesadaran menurun secara progresif. Pasien dengan kondisi seperti ini seringkali tampak memar di sekitar mata dan di belakang telinga. Pasien seperti ini harus di observasi dengan teliti. Masa antara dua penurunan kesadaran ini selama penderita sadar setelah terjadi kecelakaan di sebut interval lucid.

frontal dan temporal 22 . pelebaran pupil akan mencapai maksimal dan reaksi cahaya pada permulaan masih positif menjadi negatif.Dengan proyeksi Antero-Posterior (A-P). Foto Polos Kepala Pada foto polos kepala. bisa dijumpai hemiparese atau serangan epilepsi fokal. Pada perjalannya. kesadaran menurun sampai koma dalam. Terjadi pula kenaikan tekanan darah dan bradikardi.• • • Nyeri kepala yang hebat Keluar cairan darah dari hidung atau telinga Nampak luka yang adalam atau goresan pada kulit kepala. Fraktur impresi dan linier pada tulang parietal. kita tidak dapat mendiagnosa pasti sebagai epidural hematoma. yaitu pupil ipsilateral menjadi melebar. Inilah tanda sudah terjadi herniasi tentorial. mencerminkan adanya disfungsi rostrocaudal batang otak. interval bebas tidak akan terlihat. lateral dengan sisi yang mengalami trauma pada film untuk mencari adanya fraktur tulang yang memotong sulcus arteria meningea media. Mual Pusing Berkeringat Pucat Pupil anisokor. • • • • • Pada tahap kesadaran sebelum stupor atau koma. GAMBARAN RADIOLOGI Dengan CT-scan dan MRI. Jika Epidural hematom di sertai dengan cedera otak seperti memar otak. sedangkan gejala dan tanda lainnya menjadi kabur. perdarahan intrakranial akibat trauma kepala lebih mudah dikenali. pupil kontralateral juga mengalami pelebaran sampai akhirnya kedua pupil tidak menunjukkan reaksi cahaya lagi yang merupakan tanda kematian. Gejala-gejala respirasi yang bisa timbul berikutnya. Pada tahap akhir.

Terdapat pula garis fraktur pada area epidural hematoma. efek. dan potensi cedara intracranial lainnya. Pada epidural biasanya pada satu bagian saja (single) tetapi dapat pula terjadi pada kedua sisi (bilateral). Secara klinis hematoma subdural akut sukar dibedakan dengan hematoma epidural yang berkembang lambat. ditandai dengan adanya peregangan dari Magnetic Resonance Imaging (MRI) pembuluh darah. Biasanya di sertai dengan perdarahan jaringan otak. Bisa di sebabkan oleh trauma hebat pada kepala yang menyebabkan bergesernya seluruh parenkim otak mengenai tulang sehingga merusak a. MRI juga dapat menggambarkan batas fraktur yang terjadi. volume. MRI merupakan salah satu jenis pemeriksaan yang dipilih untuk menegakkan diagnosis. Gambaran CT-Scan hematoma subdural. Densitas yang tinggi pada stage yang akut ( 60 – 90 HU). tampak penumpukan cairan ekstraaksial yang hiperdens berbentuk bulan sabit. MRI akan menggambarkan massa hiperintens bikonveks yang menggeser posisi duramater. midline terdorong ke sisi kontralateral. berbentuk bikonfeks. Densitas darah yang homogen (hiperdens). paling sering di daerah temporoparietal.Computed Tomography (CT-Scan) Pemeriksaan CT-Scan dapat menunjukkan lokasi. kortikalis. berada diantara tulang tengkorak dan duramater. DIAGNOSIS BANDING • Hematoma subdural Hematoma subdural terjadi akibat pengumpulan darah diantara dura mater dan arachnoid. 23 . berbatas tegas.

mannitol 20% (dosis 1-3 mg/kgBB/hari) yang bertujuan untuk mengatasi edema cerebri yang terjadi akan tetapi hal ini masih kontroversi dalam memilih mana yang terbaik. Barbiturat dapat dipakai unuk mengatasi tekanan inrakranial yang meninggi dan mempunyai efek protektif terhadap otak dari anoksia dan iskemik dosis yang biasa diterapkan adalah diawali dengan 10 mg/kgBB dalam 30 menit dan kemudian dilanjutkan dengan 5 mg/ kgBB setiap 3 jam serta drip 1 mg/kgBB/jam unuk mencapai kadar serum 3-4mg %.PENATALAKSANAAN Penanganan darurat : • • Dekompresi dengan trepanasi sederhana Kraniotomi untuk mengevakuasi hematom Terapi medikamentosa Elevasi kepala 30º dari tempat tidur setelah memastikan tidak ada cedera spinal atau gunakan posisi trendelenburg terbalik untuk mengurang tekanan intracranial dan meningkakan drainase vena Pengobatan yang lazim diberikan pada cedera kepala adalah golongan dexametason (dengan dosis awal 10 mg kemudian dilanjutkan 4 mg tiap 6 jam). dalam hal ini untuk mengurangi tekanan intracranial. Dianjurkan untuk memberikan terapi profilaksis dengan fenitoin sedini mungkin (24 jam pertama) untuk mencegah timbulnya focus epileptogenic dan untuk penggunaan jangka panjang dapat dilanjutkan dengan karbamazepin. Terapi Operatif Operasi di lakukan bila terdapat : • Volume hamatom > 30 ml ( kepustakaan lain > 44 ml) 24 . Tri-hidroksimetil-amino-metana (THAM) merupakan suatu buffer yang dapat masuk ke susunan saraf pusat dan secara teoritis lebih superior dari natrium bikarbonat.

Prognosis sangat buruk pada pasien yang mengalami koma sebelum operasi. prognosis hematoma epidural biasanya baik. Biasanya keadaan emergency ini di sebabkan oleh lesi desak ruang. 25 • • . Angka kematian berkisar antara 7-15% dan kecacatan pada 5-10% kasus. Indikasi untuk life saving adalah jika lesi desak ruang bervolume : • • • > 25 cc ◊ desak ruang supra tentorial > 10 cc ◊ desak ruang infratentorial > 5 cc ◊ desak ruang thalamus Sedangkan indikasi evakuasi life saving adalah efek masa yang signifikan : • • Penurunan klinis Efek massa dengan volume > 20 cc dengan midline shift > 5 mm dengan penurunan klinis yang progresif. karena kerusakan otak secara menyeluruh dapat dibatasi. Jika untuk keduanya tujuan tersebut maka operasinya menjadi operasi emergenci. Jika ditangani dengan cepat. Tebal epidural hematoma > 1 cm dengan midline shift > 5 mm dengan penurunan klinis yang progresif. • PROGNOSIS Prognosis tergantung pada : • Lokasinya ( infratentorial lebih jelek ) Besarnya Kesadaran saat masuk kamar operasi.• • Keadaan pasien memburuk Pendorongan garis tengah > 3 mm Indikasi operasi di bidang bedah saraf adalah untuk life saving dan untuk fungsional saving.

html 26 . Patofisiologi. Anderson S.braininjury. EGC..1995.com/epidural-subdural-hematoma.www. McCarty L. Anugrah P. Cedera Susunan Saraf Pusat.Epiduralhematoma.DAFTAR PUSTAKA 1. Anonym. Jakarta. 1014-10 2. edisi 4.

www.. Soertidewi L. edisi kedua.wordpress. Jong W.com/2007 10. Mc. Hafid A. Ekayuda I. Updates In Neuroemergencies. Buku Ajar Ilmu Bedah. Dian Rakyat. Jakarta. Trauma Kapitis. 818-819 5. 359-366 4. Mekanisme Trauma Susunan Saraf. 2004..emedicine. www. 80 27 . 2006. Markam S. Kapita Selekta Neurologi. Balai Penerbit FKUI.com 6. Harsono.Donald D. Epidural Hematoma. Tjokronegoro A. Edisi kedua.3. 2003. Radiologi Diagnostik. Price D. http://iwansain.. EGC. Sidharta P.emedicine. 314 7.D.. Jakarta. Jakarta. Epidural Hematoma. Mardjono M. Balai Penerbit FKUI. 254-259 8. Angiografi..com 9. Gajah Mada University Press. Sain I. Epidural Hematoma. Penatalaksanaan Kedaruratan Cedera Kranio Serebral. 2002. edisi kedua. Jakarta. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Trauma Kapitis. Neurologi Kilinis Dasar. 2005. Yogyakarta.