You are on page 1of 31

1

M. Supriyadi

KH. ASHARI MU’THI Sang Penggembleng Raga

2

Pengantar Penulis

Buku “KH. Ashari Mu’thi Sang Penggembleng Raga ” merupakan catatan rekaman pengalaman penulis. Buku tipis ini belum lanyak disebut buku. Akan tetapi sejelekjelek tulisan merupakan ilmu yang sangat berharga. Buku ini merekam perjalan Kiai Ashari mulai muda sampai masa sekarang dengan gaya bahasa yang sangat terbatas. Dengan sumber dan informan yang sangat terbatas pula.

3

Mungkin di dalam buku ini, penulis masih banyak kesalahan dan bingung arah arusnya penulisannya. Akan tetapi buku ini sedikit perangsang bagi para penulis dan santri KH. Ashari Mu’thi untuk mencurahkan pengalaman dan rekaman hidupnya di dalam sebuah karya tulis. Penulis sangat berharap buku yang sangat tipis ini mendapat masukan apalagi tambahan tulisan sisi kehidupan Kiai Ashari Mu’thi. Mengapa penulis menulis…? Sosok perjalan kehidupan KH. Ashari Mu’thi sangat menarik untuk ditulis sebagai cermin bijakan kehidupan. Karena langkah dan pandangan serta perjuangan Kiai Ashari yang tidak kunjung menyerah dengan modernisasi. Kiai Ashari dengan yakinnya bahwa apa
4

yang beliau tularkan kepada para santrinya pasti akan sangat berguna untuk bekal kehidupan kelak nanti. Sudut pandang lain, Kiai Ashari terkenal keras dan tidak bisa ditawar apa yang menjadi program pendidikannya. Akan tetapi kekerasannya bukan semata-mata untuk menyakiti akan tetapi lebih pada lit targhib (untuk pendidikan). Semoga buku tipis ini dapat bermanfaat bagi penulis dan kalangan masyarakat luas. Jakarta, 07 Februari 2012

5

BAGIAN 1 SIAPAKAH KH. ASHARI MU’THI

KH. Ashari Mu’thi lahir pada tahun 1947 di Desa Kedung Kebo Kecamatan Senori Kabupaten Tuban. Desa yang jauh dari perkotaan dengan posisi letak pada himpitan belantara hutan Nglirip. Desa Kedung Kebo termasuk salah satu desa yang dilintasi garis PKI. Karena posisinya berdekatan
6

dengan desa Banyu Urip yang merupakan markas besar PKI. Mengapa desa ini dinamakan Kedung Kebo..? karena dulu banyak Kedung (telaga) yang difungsikan sebagai pemandaian kerbau seusai digunakan membajak sawah. Kiai Ashari Mu’thi tumbuh sebagai anak shaleh. Tidak ada waktu luang kecuali mengaji dan membantu orang tua. Lahir dari keluarga kurang mampu, Kiai Ashari harus rajin membantu ibunya yang berprofesi sebagai penjual garam grosok di pasar desa. Pada suatu hari Kiai Ashari disuruh orang tuanya mengangkut garam grosok1

Garam grosok adalah garam yang masih berbentuk butiran-butiran besar. Garam yang belum mendapatkan fermintasi pengolahan. Biasanya garam grosok digunakan untuk kebutuhan rumah tangga
1

7

dengan sepeda kebo ke pasar. Dipertengahan jalan terjatuh saat melalui jalan naik di jembatan Damseng2 diduga keberatan muatan. Garam dan sepeda kebonya tidak terselamatkan. Disamping anak yang rajin belajar dan mengaji, Kiai Ashari juga anak yang suka olahraga. Softball menjadi olahraga favoritnya. Pernah saat asik bermain menangkap bola kasti dalam permainan softball tanganya sobek dan mendapat jahitan karena terlewati hantaman bola dari
atau sebagai campuran minuman hewan ternak. Jembatan Damseng merupakan saksi bisu pembataian PKI di Desa Senori. Desa Senori merupakan markas PKI pada waktu itu. Saat menjelang malam jembatan Damseng menjadi tempat pembataian anggota PKI oleh GP. Ansor setempat.
2

8

lawannya. Kelihatan bekas jahitan ditangannya. Semua itu Kiai Ashari menjalani dengan penuh keseriusan. Waktu usia anak-anak Kiai Ashari banyak belajar agama dari orang tuanya. Setelah menginjak masa dewasa Kiai Ashari belajar agama bersama KH. Abu Fadhal yang terkenal dengan sebutan Mbah Fadhal As-Senori. Mbah Fadhal sosok ulama salaf yang ahli dalam ilmu nahwu dan sharaf. Banyak karangan kitabnya yang masih eksis dan sebagai kitab kajian wajib di pesantren. Salah satunya Tashilul Masalik Fi Sarhi Alfiyah Ibnu Malik yang menjadi kitab wajib santri Pondok Pesantren Langitan–Tuban.

---)=(--9

BAGIAN 2 MONDOK DI SARANG

Pada usia remaja Kiai Ashari menyempatkan diri ngaji bersama KH. Zubair Sarang-Rembang-Jawa Tengah. Tergolong dari keluarga yang kurang mampu Kiai Ashari mengabdikan diri sebagai abdi dalem keluarga KH. Zubair untuk menghidupi raganya dan mencari barokah sang guru.
10

Walaupun banyak pekerjaan yang diamanatkan keluarga KH. Zubair kepada Kiai Ashari tidak menjadi penghalang dan alasan untuk malas belajar dan menghafal. Nadhom AlFiyah Ibnu Malik menjadi tembang lambe setiap hari mengisi waktu luang. Dalam kurun waktu yang tidak lama Nadhom Al-Fiyah Ibnu Malik yang terdiri dari 1003 nadhom terhafalkan. Tidak sekedar hafal Nadhom Al Fiyah, Kiai Ashari juga terkenal sebagai santri yang pandai pembaca kitab kuning dikalangan santri KH. Zubair. Kiai Ashari banyak menghafal ayatayat Al-Qur’an di luar kepala. Walaupun Kiai Ashari tidak penghafal Al-Qur’an tapi beliau setengah hafal beberapa ayat yang mustabihat. Disamping ayat-ayat Al Qur’an, Kiai Ashari juga menghafal tafsir-tafsir Al-Qur’an.
11

Bakat lain yang ditekuni Kiai Ashari waktu nyantri di Sarang adalah Qiro’ah. Kiai Ashari yang sudah mempunyai modal suara yang sangat bagus, dan Qiroah sudah menjadi hobi di masa-masa kecil. Dengan modal keterampilan Qiroa’ah, Kiai Ashari pernah menyandang juara satu tingkat nasional dan menjadi Qori’ kepresidenan pada waktu itu. Setiap perbincangannya, selalu tersisip dalil Al-Qur’an. Kiai Ashari sosok kiai yang selalu peduli dengan permasalahan umat. Kiai Ashari selalu menjadi pijaan masyarakat Kecamatan Kerek sebagai takon pitakon.

12

KEHIDUPAN DI PESANTREN Kehidupan di pesantren Kiai Ashari sangat sederhana. Terlahir dari keluarga kurang mampu, Kiai Ashari selalu kekurangan dalam kesehariannya. Bahkan pada suatu hari Kiai Ashari hanya mengkonsumsi intip untuk asupan kesehariannya. Kekurangan bukan menjadikan Kiai Ashari putus asa dalam menimba ilmu. Akan tetapi kekurangan menjadi spirit untuk lebih belajar dan menghafal. Karena kepandaiannya dalam membaca kitab kuning, KH. Zubair mempercayakan beberapa pengajian kepada Kiai Ashari.

---)=(---

13

BAGIAN 3 FENOMENAL

Dari titik nol Kiai Ashari berjuang menanamkan ilmu agama di Kecamaatan Kerek. Dengan mushola tua, Kiai Ashari mendirikan pengajian Al-Qur’an. Banyak tantangan saat pertama mendakwahkan islam di Kecamatan Kerek. Karena pada jaman dulu Kecamatan Kerek terkenal dengan islam abangan.

14

Budaya-budaya kuno masih eksis berkembang pada waktu itu. Adu ayam, judi, minum toak menjadi suatu budaya kedaerahan. Dengan kesabaran Kiai Ashari mampu mendakwahkan Islam ke semua golongan. Kejelian dan keseriusan Kiai Ashari dalam membina santri kampung untuk bisa membaca AlQur’an dengan fashih sangat terlihat sekali. Warattinil qur’ana tartila. Selang beberapa tahun musholla tua warisan ayah mertua, digeser kebelakang rumah dan tempat mushola dibangun sebuah pondok pesantren yang diberi nama Hidayatul Mubtadi’in. Banyak anakanak desa yang nyantri pada Kiai Ashari karena dinilai ahli dan fashih dalam ilmu Al-Qur’an dan tafsir. Di sisi lain, Kiai Ashari dinilai sosok kiai yang keras dalam mendidik. Tapi kekerasannya bukan untuk
15

menyakiti melainkan untuk mendidik supaya santrinya menjadi pandai dan fashih dalam melafalkan Al-Qur’an. Diludai, dipukul pakai penjalin, dilempar buku menjadi hiasan saat pengajian. Tapi apa yang terjadi, jumlah santrinya tidak semakin sedikit tapi dari hari ke hari tambah banyak. Berkat kesabaran serta keseriusan Kiai Ashari dapat mendidik santrisantrinya dengan hafalan. Hafalan yang ditekankan Kiai Ashari kepada santri-santrinya surat-surat pendek dalam Al-Qur’an. Seperti; Surat Yaasin, Surat Al Waqi’ah, Surat Ar Rahman, Surat Al Mulk, Juz Amma, dan masih banyak lainya. Hafalan-hafalan ini menjadi tradisi pesantren Hidayatul Mubtadi’in. Setiap habis jama’ah Shubuh para santri bersimpuh di Aula pesantren sambil membawa Al-Qur’an untuk
16

melaksanakan setoran hafalan. Perjuangan Kiai Ashari untuk mendidik santri tidak pernah menenemui jalan buntu. Hal ini dibanguan dengan keseriusan dan kesabaran dengan cita-cita menanamkan jiwa Qur’ani kepada para santri. ---)=(---

17

BAGIAN 3 KIAI ASHARI & NU

Saat muda Kiai Ashari aktif dalam gerakan GP. Ansor berantas PKI. Daerah Senori dan sekitarnya merupakan basis Partai Komunis Indonesia (PKI). Sudah menjadi tradisi setiap pemuda pesantren yang mengatasnamakan GP. Ansor menjelang magrib melaksanakan pemburuan PKI secara massal.

18

Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah partai politik di Indonesia yang berideologi komunis. Dalam sejarahnya, PKI pernah berusaha melakukan pemberontakan melawan pemerintah kolonial Belanda pada 1926, mendalangi pemberontakan PKI Madiun pada tahun 1948, serta dituduh membunuh 6 jenderal TNI AD di Jakarta pada tanggal 30 September 1965 yang di kenal dengan peristiwa G30S/PKI. Dalam dunia politik kiai, nama Kiai Ashari tidak pernah muncul di atas kehidupan berpolitik. Ketidak munculannya bukan karena apatis terhadap politik, akan tetapi lebih menjaga diri agar tidak tergiur dengan tawaran politik praktis. Kiai Ashari hanya aktif sebagai pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Kerek. Sebagai kiai yang dituakan,
19

Kiai Ashari diposisikan menduduki Dewan Tanfidz NU Kecamatan Kerek. Sesekali Kiai Ashari pernah mendukung Calon Bupati Tuban. Bukan ada tujuan yang lain Kiai Ashari mendukung Calon Bupati Tuban. Hanya saja karena calonnya dari NU dan Kia Ashari orang nahdliyin jadi semesti dukungan itu menjadi pilihannya sebagai sesame nahdliyin. Tapi apa yang terjadi, banyak masyarakat yang memandang bahwa Kiai Ashari sudah tergiur dengan politik praktis. Yang lebih kejam lagi tuduhan yang tidak berdasar, Kiai Ashari sering menerima uang suap dari Calon Bupati untuk menyuaran kepada santri-santrinya.

20

Seketika Kiai Ashari tidak lagi mendukung secara transparan pada politik. Kiai Ashari sering berkata “calon sing apik menurut pengeran yo iku sing diijabahi karepe” maksudnya calon Bupati yang baik menurut Allah SWT maka akan diijabahi maksutnya.

---)=(---

21

BAGIAN 4 SOSOK YANG SEDERHANA

Kiai Ashari tertanam pribadi yang sederhana. Banyak kiai pada jaman sekarang yang gila akan kemewahan dunia. Langkah-langkah pragmatis menjadi terobosan. Politik praktis, dukung mendukung dengan dalil agama. Tapi Kiai Ashari tidak tergiur dengan adegan dan drama kehidupan politik.
22

Kiai Ashari memanfaatkan sepeda tua sebagai transportasi jihadnya. Mengajar, ceramah dan kegiatan dakwah lainnya dinikmati dengan sepeda tuanya. Kiai Ashari sering bercerita kepada santrinya “sepeda iki warisan lan sejarah mulai aku enom” sepeda ini warisan dan sejarah sejak saya muda. Untuk menghindari efek negatif dari tanyangan televisi, Kiai Ashari mengurungkan diri untuk tidak membeli televisi. Untuk mengikuti perkembangan berita Kiai Ashari menjadi langganan pagi koran Jawa Pos. Banyak orang menawari untuk memanjakan Kiai Ashari dengan kemewahan. Tawaran itu datang bertubi-tubi dari pengusahan sampai politisi. Tapi apa yang terjadi, Kiai Ashari menolak dengan

23

santun “saya sudah cukup dengan apa yang ada”.

---)=(---

24

BAGIAN 5 SANG PENGGEMBLENG RAGA

Disamping pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in, Kiai Ashari juga Kepala Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Kecamtan Kerek. Keseriusan dan kesabarannya dalam menjalankan amanah pendidikan agama, Kiai Ashari merekrut santri-santrinya untuk ikut berjuang di sekolah tersebut.
25

Sesekali dalam seminggu Kiai Ashari menyempatkan waktu untuk memberi ceramah agama tentang keteguhan hati dalam berjuang fi sabi lillah. Para santrinya yang dianggap mampu sebagai tenaga pengajar dibantukan untuk ikut mengajar di MI. Salafiyah yang beliau pegang. Dengan gaji seikhlasnya. Kalau kita bandingkan gaji guru PNS dengan guru MI. Salafiyah sangat jauh nilainya bainas sama’ wak jero sumur (antara lagit dan dangkal sumur). Pada tahun 2003 gaji guru MI. Salafiyah hanya 30.000 per bulan. Berangkat dari keikhlasan dan misi berjuangan akhirnya Allah mencukupi semua itu. Keseriusaan Kiai Ashari dalam mendidik generasi muda tidak sebatas mengajar materi sekolah akan tetapi lebih pada pendidikan penerapan. Apa yang diajarkan Kiai
26

Ashari di ruang kelas, itulah yang dilakukan dalam tindakan dan prilaku keseharinnya. Kedisiplinan dan kebersihan selalu ditanamkan pada siswa-siswi Madrasah Ibtida’iyah. Tidak hanya perintah, Kiai Ashari juga mempraktekan cinta kebersihan dengan menyapu setiap pagi di halaman sekolahan. Seorang kiai sekaligus kepala sekolah rela menyapu di halaman sekolah agar apa yang diajarkan juga dilakukan. Tidak cukup semua itu perjuangan pendidikan Kiai Ashari. Setiap pagi jam masuk sekolah, Kiai Ashari selalu keliling ruang kelas untuk memandu hafalan sharaf. Hafalan Sharaf menjadi kicauan siswa siswi MI. Salafiyah setiap pagi. Setelah jam masuk kelas Kiai Ashari sering mengabsen siswa siswi.
27

Apabila ada salah satu siswa yang tidak masuk sekolah, Kiai Ashari selalu menanyakan ke orang tuanya dengan mengirim salah satu siswa untuk menemui wali murid. Hal ini dilakukan agar siswa-siswi serius dalam belajar dan orang tua juga mempunyai tanggung jawab terhadap proses pembelajaran. Dengan keseriusan dan keikhlasan Kiai Ashari dan para guru di MI. Salafiyah akhirnya berbuah manis. MI. Salafiyah pernah dinobatkan sebagai sekolah terbaik tingkat dasar Se-Kabupaten Tuban. Dan tidak sedikit para alumni santri Kiai Ashari yang sukses menjadi pengusaha, dosen dan kiai di luar kota.

---)=(---

28

TENTANG PENULIS

M. SUPRIYADI anak dari pasangan Saeran dan Siti (lahir, 21 Januari 1988) adalah seorang santri kampung yang pernah nyantri pada Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in di bawah asuhan KH. Ashari Mu’thi. Setelah menamatkan Madrasah Tsanawiyah, dia nyantri di Pondok Pesantren Mansyaul Huda di bawah asuhan KH. Abdul Ghoful Munawwar (alm).

29

Organisasi kemasyarakatan maupun pergerakan pernah dihinggapi; Himpunan Mahasiswa Alumni PP. Mansyaul Huda Koordinator IAIN Sunan Ampel Surabaya; Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia; Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia; Republik Damai; Nasional Demokrat; Untuk memenuhi kebutuhan seharihari dia bekerja sebagai staff Direksi di PT. Concern Group Indonesia dan PT. Wilis Agro Mandiri Jakarta. Menulis dan membaca merupakan hobi terbarunya, karena tuntutan jaman yang semakain ruet pada perkembangan politik lokal.

---)=(---

30

31