Ketuban Pecah Dini

Insidensi. Terjadi 5 ± 10 % dari seluruh kehamilan. Penyebab sekitar 30 % dari persalinan prematur. Terjadi pada 60 % dari kehamilan aterm. Penanganan ketuban pecah dini pada persalinan aterm masih merupakan perdebatan. Karena cerviks masih belum sesuai untuk persalinan. Apabila induksi persalinan dimulai dengan oksitosin intravena, frekuensi kegagalan induksi antara 30 ± 40 %. Namun apabila menunggu hingga cerviks matang dan in partu, dapat terjadi infeksi atau prolaps tali pusat yang kemudian akhirnya tetap dilakukan seksio. Dari penelitian yang dipublikasikan alarming dari tahun 1960 ± 1970 menunjukkan peningkatan frekuensi infeksi ibu dan janin apabila waktu antara ketuban pecah dengan persalinan semakin lama. Sehingga dianjurkan segera menginduksi persalinan daripada rawat ekspektatif. Dari penelitian Kappy dkk menunjukkan kejadian penurunan seksio sesarea pada persalinan spontan in partu (tidak diinduksi) dibandingkan induksi. Dibedakan 2 grup. Wanita dengan perlakuan induksi oksitosin, didapatkan masa in partu lebih pendek, waktu antara ketuban pecah dengan in partu lebih pendek, juga dibandingkan dengan induksi prostaglandin. Hannah dkk melaporkan 4 kejadian perinatal pada rawat ekspektatif dibandingkan induksi. Didapatkan 2 kematian ibu, yang disebabkan asfiksia, sepsis infeksi streptococcus , seksio sesarea karena gawat janin. Dari penelitian-penelitian menunjukkan, pemberian oksitosin dan prostaglandin efektif untuk induksi persalinan pada kehamilan aterm. Sebaiknya diberikan oksitosin pada wanita in partu. Sedangkan pada wanita dengan cerviks yang tebal diberikan misoprostol. Sebaiknya pemeriksaan dalam dan instrumen invasif jarang dilakukan agar infeksi neonatal dan seksio sesarea tidak terjadi. Kesimpulannya, rawat ekspektatif sebaiknya dihindari karena berkorelasi dengan peningkatan infeksi ibu dan janin.