BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Dewasa ini semakin berkembang material yang digunakan dalam restorasi

gigi. Mulai dari tambalan berupa amalgam sampai akhir-akhir ini yang popular digunakan yaitu tambalan komposit. Amalgam telah digunakan sebagai bahan tambalan bagi lesi karies semenjak abad ke 15 dan sampai saat ini amalgam masih merupakan bahan yang banyak dipergunakkan sebagai bahan tambalan untuk gigi posterior. Namun, warna amalgam yang tidak serupa gigi jarang digunakan untuk gigi anterior yang memerlukan estetika yang baik.1 Resin komposit mempunyai nilai estetis yang sangat baik dan paling sering digunakan untuk merstorasi gigi anterior. Namun penggunaan resin komposit sebagai bahan resorasi gigi posterior telah berkembang pesat akhir akhir ini karena pasien tertarik pada restorasi yang sesuai dengan warna alami gigi. Resin kompois memenuhi keinginan ini dan telah menjadi restorasi esetis yang paling sering digunakan di bidang kedokteran gigi. 1 Perawatan esthetic dentistry lain yang berkembang adalah bleaching. Bleaching diindikasikan untuk perubahan warna karena usia lanjut, fluorisis yang agak kecoklatan, perubahan warna gigi nonvital, perubahan warna yang tidak spesifik dan perubahan warna akibat tetrasiklin (ringan sampai sedang).2

1

Diskolorisasi pada gigi merupakan faktor yang sangat merugikan bagi penderitanya apalagi jika terjadi pada gigi anterior yang menarik perhatian sebagai titik pandang pertama ketika seseorang membuka mulut atau bicara, sehingga bleaching menjadi pilihan yang dipandang baik untuk permasalahan diskolorisasi gigi.3 Beberapa penelitian melaporkan adanya pengaruh bahan bleaching terhadp struktur gigi seperti email dan pulpa gigi. Begitu juga trehadap jaringan sekitarnya seperti saliva dan jaringan lunak mulut, tumpatan (amalgam, komposit) serta efek sistemik. Pengaruh penggunaan bahan bleaching antara lain dapat meningkatkan sensitivits gigi terhadap perubahan temperature dan resorpsi akar ekternal akibat panas dan superoksol. Pada jaringan lunka mulut beberapa penelitian menemukan adanya sedikit ulserasi atau iritasi gingiva atau mukos. Pada email dapat mengakibatkan kekasaran atau pengikisan pada permukaannya.2

1.2.

Rumusan Masalah (1) (2) (3) (4) (5) (6) Apa yang dimaksud dengan amalgam? Apa yang dimaksud dengan komposit ? Apa yang dimaksud dengan bleaching? Bagaimana prosedur melakukan bleaching? Bagaimana pengaruh amalgam terhadap diskolorisasi gigi? Bagaimana pengaruh bleaching terhadap restorasi?

2

1.3.

Tujuan (1) (2) (3) (4) (5) (6) Mengetahui tentang tambalan amalgam Mengetahui tentang komposit Mengetahui tentang bleaching Mengetahui prosedur melakukan bleaching Mengetahui pengaruh amalgam terhadap diskolorisasi gigi Mengetahui efek bleaching terhadap restorasi

3

01% dari yang diperlukan disebut mengandung seng.6 4 .5 American Dental Association (ADA) Spesification No. timah.BAB II PEMBAHASAN 2. Logam campur yang mengandung seng lebih dari 0. seng. Oleh karena itu. Amalgam Amalgam merupakan campuran dari merkuri dengan satu atau beberapa logam lain seperti perak.1. Tidak ada spesifikasi untuk logam campur rendah atau tinggi tembaga. Campuran ini merupakan bahan plastis yang dimasukkan ke dalam kavitas dan akan mengeras karena kristalisasi. karena bubuk logam campur Ag-Sn membentuk sebagian besar bubuk berbagai logam campur tinggi tembaga. dan merkuri dalam jumlah yang tidak ditentukan. dan tembaga. dibolehkan ada dalam konsentrasi kurang daripada konsentrasi perak atau timah. Biar bagaimanapun. 1 mengharuskan agar logam campur amalgam mempunyai kandungan utama dari perak dan timah.01% atau kurang disebut non-seng.6 Logam campur perak-timah dari G. karakteristik logam campur rendah tembaga maupun tinggi tembaga perlu diketahui.V Black (Ag-Sn) (logam campur rendah tembaga) lebih jarang digunakan dalam membuat restorasi amalgam. emas. Pada suhu kamar merkuri merupakan cairan yang dapat dicampur dengan bubuk logam melalui proses yang disebut amalgamasi atau triturasi. logam campur Ag-Sn masih tetap logam campur yang penting untuk amalgam. Unsurunsur lain seperti tembaga. seng. Logam campur yang mengandung seng 0.

Logam campur juga dipasok sebagai campuran dari partikel lathe-cut dan sferis. Secara historis. merkuri dicampur dengan bubuk dari logam campur amalgam.6 Untuk mendapatkan amalgam. logam campur amalgam mengandung perak sekurangnya 65%wt . tergantung pada teknik atomisasi dan pemadatan yang digunakan. namun dapat berbentuk bujur. menghasilkan partikel yang pada dasarnya berbentuk sferis. logam campur dikenal sebagai logam campur amalgam gigi.Sebelum logam campur ini dikombinasikan dengan merkuri. Atau. timah 29%wt. suatu kombinasi yang mendekati anjuran G. Bubuk diproduksi dengan menggiling atau memotong batangan cor dari logam campur amalgam. Partikel-partikel dari bubuk lathe-cut ini mempunyai bentuk tidak teratur. dan tembaga kurang dari 6%wt. Partikel ini tidak sungguh-sungguh bulat.6 5 .V Black pada tahun 1896. banyak dikembangkan logam campur amalgam yang mengandung tembaga 6-30%wt. bubuk bisa dibuat melalui atomisasi logam campur cair. Beberapa dari logam campur tinggi tembaga ini menghasilkan amalgam (amalgam tinggi tembaga) yang lebih unggul dalam berbagai hal dibanding amalgam rendah tembaga yang tradisional. Selama 1970-an.

(Anusavice. 2000) Secara umum besarnya creep yang terjadi adalah sebagai berikut: creep alloy konvensional > creep blonded alloy > creep alloy komposisi tunggal. Amalgam yang rendah tembaga lebih rentan mengalami kerusakan dibagian tepi. antara lain sebagai berikut 1.2.1. Stabilitas Dimensional Perubahan dimensional dari amalgam tergantng pada seberapa banyak amalgam tertekan pada saat pengerasan dan kapan pengukuran dimulai. diukur pada 30oC. Spesifikasi ADA menyebutkan bahwa amalgam dapat berkontraksi atau berekspansi lebih dari 20µm/cm. Sifat Amalgam Amalgam memiliki beberapa sifat.(Craig. 2004) : 6 . ANSI-ADA specification No. a.1. 1992) b. 5 menit dan 24 jam sesudah dimulainya triturasi dengan alat yang keakuratannya tidak sampai 0. Untuk tumpatan amalgam.(Combe. Sifat fisik amalgam Creep Creep adalah sifat viskoelastik yang menjelaskan perubahan dimensi secara bertahap yang terjadi ketika material diberi tekanan atau beban. 1 menganjurkan agar creep kurang dari 3%. dibandingkan dengan amalgam yang tinggi kandungan tembaga. tekanan mengunyah yang berulang dapat menyebabkan creep.5µm.

(Koudi. Mastkasi melibatkan pemberian tekanan pada tumpatan. maka partikel alloy tidak akan terbasahi secara sempurna sehingga bagian restorasi alloy tidak akan bereaksi 7 . 1992) 2. Kekuatan tensile amalgam lebih rendah dibanding kekuatan kompresif.c. a. Difusi Termal Difusi termal amalgam adalah empat puluh kali lebih besar dari dentin sedangkan koefisien ekspansi termal amalgam 3 kali lebih besar dari dentin yang mengakibatkan mikroleakage dan karies sekunder. Abrasi Proses abrasi yang terjadi saat mastikasi makanan. yang mengakibatkan kerusakan dan terbentuknya pecahan amalgam. 2007) d. Kekuatan kompresif ini cukup baik untuk mempertahankan amalgam. Beberapa factor yang mempengaruhi kekuatan amalgam : y Rasio merkuri/alloy Jika merkuri yang digunakan sedikit. berefek pada hilangnya sebuah subtansi atau disebut wear. tetapi rendahnya kekuatan tensile yang memperbesar kemungkinan terjadinya fraktur. (Marke. Sifat mekanik amalgam Kekuatan Dental amalgam adalah material yang brittle/rapuh.

1992) 3. y Porositas Selain itu. Besarnya arus galvanis dipengaruhi oleh lama restorasi. Sifat kimia amalgam Reaksi Elektrokimia Galvanik Korosi galvanic terjadi ketika dua atau lebih logam atau alloy berkontak dalam elektrolit (ludah). 8 . y Komposisi alloy Amalgam yang tinggi copper dengan tipe dispersi lebih kuat dibanding alloy dengan komposisi konvensional. y Ukuran dan bentuk partikel Kekuatan amalgam diperoleh dengan ukuran partikel yang kecil. antara lain:      Triturasi yang tidak sempurna (under-trituration) Kandungan merkuri yang terlalu besar Terlalu kecil tekanan yang diberi sewaktu kondensasi Kecepatan pengisian kavitet yang lambat Korosi (Combe. mendukung kecenderungan fine atau microfine particles. a. perbedaan potensial korosi sebelum berkontak dan daerah permukaan.dengan merkuri sehingga meningkatkan porositas dan amalgam menjadi lebih rapuh. ada beberapa factor lain yang menyebabkan restorasi amalgam tidak kuat.

4. Sifat biologi amalgam Alergi Secara khas respon alergi mewakili antigen dengan reaksi antibody yang ditandai dengan rasa gatal. pembengkakan. 2004). ruam. 1992). 1992) c. artinya semakin lama usia restorasi amalgam dengan tumpatan lainnya. Banyak korosi amalgam terjadi pada bagian pits dan cervical. Korosi Korosi adalah reaksi elektrokimiawi yang akan menghasilkan degradasi struktur dan properties mekanis. Tarnish Reaksi elektrokimia yang tidak larut terlihat dapat menyebabkan tarnish. tetapi reaksi ini terjadi kurang 1% dari populasi yang dirawat (Anusavice.Hubungan lama restorasi dengan besar arus galvanic berbanding terbalik. Dermatitis kontak atau reakasi hipersensitif tipe 4 dari Commbs mewakili efek sampinh fisiologis yang paling mungkin terjadi pada amalgam gigi. Korosi dapat mengurangi kekuatan tumpatan sekitar 50%. bersin. 2004) b. kesulitan bernafas. serta memperpendek keawetan penggunaan. 9 . Penyebab diskolorisasi yang paling terkenal adalah acmpuran silver dan cooper sulfide karena reaski dengan sulfur dalam makanan (Marke. a. dll.(Marke. semakin kecil arus galvanic yang dihasilkan (Sutouw.

Raksa larut dalam lemak dan dapat terhiruo paru-paru yang akn teroksidadi menjadi Hg2+. a. 2002) 2. konseuensinya. Menurut kandungan tembaga Low copper alloys Kandungan tembaga kurang atau sama dengan 6% tembaga (alloy konvensional). metal merkuri dapat berakumulasi di otak dan berefek kepada bayi yang akan dilahirkan (Nicholson. tipe fine grain lebih disukai karena kemudahan pengukirannya. biak sebagai logam bebas maupun unsure dari senyawa kimia.1. b. Kemudian akan ditrasnportasikan dari paru-paru oleh sel darah merah ke jaringan lain termasuk saraf pusat. Ada dua tipe amalgam low copper. yaitu coarse dan fine grain. Diantara dua tipe amalgam tersebut.b. Merkuri adalah elemen yang beracun. Klasifikasi Amalgam Amalgam dapat diklasifikasikan sebagai berikut:7 1. Merkuri dengan mudahmenjadi senyawa metal merkuri.2. High copper alloy ini dapat diklasifikasikan lagi menjadi : 10 . Toksisitas Air raksa dapat merembes ke dalam struktur gigi dan menyebabkan diskolorisasi gigi. High copper alloys Kandungan tembaga lebih dari 6% tembaga. melewati barrier daerah-otak dan jiga plasenta kepada janin.

Zinc containing alloy b. Spheroidal alloys : bentuk tidak teratur : bentuk sferis 4. Menurut ukuran alloy a. Makro-cut 11 . Lathe cut-alloys b. Zinc free-alloy : mengandung > 0. Mikro-cut b. Menurut jumlah alloy a. Menurut kandungan seng a. 2. Quartenary alloys : dari logam silver dan tin : dari logam filter.y Dispersion atau blended alloys y Single composition (ternary silver/ tin/ copper) alloys atau unicomposition alloys. Menurut bentuk partikel alloy a.01 % seng : mengandung ” 0.01 % seng 3. Spherical aloys c. copper. Binary alloy b. dan indum 5. tin dan copper : dari logam silver. tin. Ternary alloy c.

sehingga cocok digunakan pada anakanak dan pada pasien dengan kebutuhan khusus. b. b. Dapat ditambalkan pada suasana lembab. Pemolesan baru dilakukan pada kunjungan berikutnya. d. a. Perbaikan tambalan amalgam juga membutuhkan perlakuan khusus untuk menghindari bahaya merkuri yang mungkin terlepas pada saat pembongkaran tambalan. c. Cenderung menimbulkan reaksi alergi pada beberapa pasien berupa inflamasi dan gatal-gatal. Kekurangan Menyebabkan perubahan warna pada gigi karena bersifat korosi Membutuhkan banyak pengambilan jaringan gigi yang sehat sehingga cenderung melemahkan struktur gigi yang tersisa c. Kelebihan dan Kekurangan Amalgam sebagai tumpatan gigi memiliki kekurangan dan kelebihan. a. tahan lama. 2. Rina Permatasari.2. antara lain: (drg. 12 . dan tahan terhadap tekanan kunyah Paling murah di antara tambalan lainnya Resiko terjadinya kebocoran yang menyebabkan masuknya bakteri dan makanan sangat kecil d. Sp KG) 1.1. Kelebihan Kuat.3.

6 Bahan komposit modern mengandung sejumlah komponen. selain itu juga banyak dipakai adalah tryethylene glycol dimethacrylate (TEGDMA). juga activator-inisiator diperlukan untuk polimerisasi resin. ketika Bowen 13 .1. beberapa komponen lain diperlukan untuk meningkatkan efektivitas dan ketahanan bahan. Sejumlah kecil bahan tambalan lain meningkatkan stabilitas warna (penyerap sinar ultra violet) dan mencegah polimerisasi dini (bahan penghambat seperti hidroquinon).2. Komposit harus pula mengandung pigmen untuk memperoleh warna yang cocok dengan struktur gigi.2. dan urethane dimethacrylate (UDMA) adalah dimethacrylate yang umum digunakan dalam komposit gigi. Suatu bahan coupling (silane) diperlukan untuk memberikan ikatan antara bahan pengisi anorganik dan matriks resin.2. Disamping kedua komponen bahan tersebut. Perkembangan bahan restorasi kedokteran gigi (komposit) dimulai dari akhir tahun 1950-an dan awal 1960. Komposit Bahan restorasi komposit adalah hasil kombinasi dua atau lebih bahan dengan sifat yang berbeda dimana akan didapat sifat kombinasi akhir yang lebih baik daripada sifat masing-masing bahan asalnya. Kandungan utama adalah matriks resin dan partikel pengisi anorganik. Komposisi Komposit a) Bahan utama/Matriks resin Kebanyakan resin komposit menggunakan campuran monomer aromatic dan atau aliphatic dimetacrylate seperti bisphenol A glycidyl methacrylate (BISGMA).6 2.

mendorong Bowen mengkombinasikan keunggulan epoksi (CHO-CH2) dan akrilat (CH2=CHCOO-). Beberapa jenis filler yang sering dijumpai adalah berbentuk manik-manik kaca dan batang.6 BIS-GMA memiliki viskositas yang tinggi sehingga membutuhkan tambahan cairan dari dimethacrylate lain yang memiliki viskositas rendah yaitu TEGDMA untuk menghasilkan cairan resin yang dapat diisi secara maksimal dengan partikel glass. 6 b) Filler Dikenali sebagai filler inorganik. Bentuk dari partikel juga terbukti penting karena manik14 . Molekul tersebut memenuhi persyaratan matrik resin suatu komposit gigi.4SiO2) dan kaca barium (BaO) yang ditambahkan untuk membuat komposit menjadi radiopak. Sifatnya yang lain yaitu sulit melakukan sintesa antara struktur molekul yang alami dan kurang melekat dengan baik terhadap struktur gigi. 6 Ukuran partikel yang sering dipakai berkisar antara 4 hingga 15m. Kelemahan sistem epoksi. Filler inorganik mengisi 70 persen dari berat material. Percobaan-percobaan ini menghasilkan pengembangan molekul BIS-GMA.Al2O3. seperti lamanya pengerasan dan kecenderungan perubahan warna. litium-aluminium silikat (Li2O.memulai percobaan untuk memperkuat resin epoksi dengan partikel bahan pengisi. partikel seramik seperti quartz (SiO2). Partikel yang dikategorikan berukuran besar sehingga mencapai 60m pernah digunakan tetapi permukaan tumpatan akan menjadi kasar sehingga mengganggu kenyamanan pasien.

Resin akrilik yang awal digunakan tidak berfungsi dengan baik karena ikatan antara matriks dan filler adalah tidak kuat. kekerasan dan resisten terhadap abrasi c) Coupling agent . Lebih sedikit jumlah resin. iii. Kegunaan coupling agent tidak hanya untuk memperbaiki sifat khemis dari komposit tetapi juga meminimalisasi kehilangan awal dari partikel filler diakibatkan dari penetrasi oleh cairan diantara resin dan filler. Coupling agent memperkuat ikatan antara filler dan matriks resin dengan cara bereaksi secara khemis dengan keduanya. 6 Penambahan partikel filler dapat memperbaiki sifat resin komposit: 6 i. Ini membolehkan lebih banyak matriks resin memindahkan tekanan kepada partikel filler yang lebih kaku. pengerutan sewaktu curing dapat dikurangi Mengurangkan penyerapan cairan dan koefisien ekspansi termal Memperbaiki sifat mekanis seperti kekuatan.6 15 .(phillips) Komponen penting yang terdapat pada komposit resin yang banyak dipergunakan pada saat ini adalah coupling agent. kekakuan. ii.manik bulat sering terlepas dari material mengakibatkan permukaan menjadi aus. Bentuk filler yang tidak beraturan mempunyai permukaan yang lebih baik dan tersedia untuk bonding dan dapat dipertahankan di dalam resin. Melapiskan partikel filler dengan coupling agent contohnya vinyl silane memperkuat ikatan antara filler dan matriks.

Monomer dimethacrylate dapat berpolimerisasi selama penyimpanan maka dibutuhkan bahan penghambat (inhibitor).Fungsi bagi coupling agent adalah: 6 i.6 f) Opacifiers Tujuan bagi penambahan opacifiers adalah untuk memastikan resin komposit terlihat di dalam sinar-X. Camphorquinone dan 9-fluorenone sering dipergunakan sebagai penyerap UV.6 16 . ii. Sebagai inhibitor. Bahan yang sering dipergunakan adalah titanium dioksida dan aluminium dioksida. sering digunakan hydroquinone. e) Penyerap ultraviolet (UV) Ini bertujuan meminimalkan perobahan warna karena proses oksidasi. Memperbaiki sifat fisik dan mekanis dari resin Mencegah cairan dari penetrasi kedalam filler-resin d) Bahan penghambat polimerisasi 6 Merupakan penghambat bagi terjadinya polimerisasi dini. tetapi bahan yang sering digunakan pada saat ini adalah monometyhl ether hydroquinone.

Cadmium black memberikan warna kehitaman dan mercuric sulfide memberikan warna merah.g) Pigmen warna Bertujuan agar warna resin komposit menyamai warna gigi geligi asli.2. Karena permuaannya halus. Klasifikasi Komposit Resin komposit dapat diklasifikasikan menurut ukuran filler. Zat warna yang biasa dipergunakan adalah ferric oxide.(Philips) 2. sebagian karena kecendrungandari permukaan bertekstur kasar untuk mengikat warna. yaitu sebagai berikut :6 1. Restorasi ini juga memiliki kecendrungan untuk berubah warna. dan lain-lain. Kekurangan utama dari komposit ini adalah permukaan kasar yang terjadi selama berlangsung keausan dari metrics resin lunak yang enyebabkan partikel pengisi yang lebih tahan aus terangkat. cadmium black. bahan ini menjadi resin 17 .2. Ferric oxide akan memberikan warna coklat-kemerahan. mercuric sulfide. Macrofilled Composite Resin komposit ini juga dikenal sebagai resin konvensional atau komposit berbahan pengisi makro ± disebut demikian karena ukuran partikel bahan relatif besar. mempunyai ketahanan terhadap keausan. digunakan pada karies kelas III dan V. tekstur permukaan lebih halus. Microfilled Composite Sifat fisik dan mekanik kurang dibandingkan macrofilled composite.6 2.

b. Hybrid Composite Lebih tahan terhadap abrasi. Rina Permatasari.KG. Bahan tersebut diindikasikan untuk aplikasi pada daerah dengan tekanan dan abrasi tinggi seperti klas I dan klas II. komposit tersebut banyak digunakan untuk restorasi anterior.) 1. Nanofilled Composite Partikel kecil. 4. termasik klas IV. digunakan utk restorasi anterior. aplikasi pada daerah dengan tekanan dan abrasi tinggi. Tidak korosi. dan tahan tekanan kunyah yang tidak terlalu besar pada ukuran tambalan kecil hingga sedang. 18 . c.pilihan untuk merestorasi estetika gigi anterior. Kelebihan a. khususnya untuk daerah yang tidak perlu menahan beban. tahan lama.(Phillips) 3. antara lain sebagai berikut : (Drg. tdk mudah aus. 2. tekstur halus. pengisi hibrid modern (silika koloidal dan partikel kaca yg dihaluskan). dan untuk menambal daerah sub-gingival. Sp. bahannya tidak sebaik microfilled composite. Warna sangat mirip dengan gigi. Karena kehalusan permukaan dan memiliki kekuatan yang cukup baik. Kelebihan dan Kekurangan Komposit memiliki kelebihan dan kekurangan. Cukup kuat.3.2. Kebanyakan bahan pengisi hybrid modern terdiri atas silica koloidal dan partike kaca yang dihaluskan.

b. 19 . Membutuhkan lebih sedikit pengambilan jaringan gigi yang sehat.d. Kekurangan a. Lebih mahal dibanding amalgam. c. Lebih mudah terjadi kebocoran dan dapat terjadi sensitivitas gigi akibat penambalan dengan prosedur yang tidak tepat. e. 2. d. Lebih mudah pecah dan dapat terjadi sedikit abrasi permukaan dibanding amalgam. g. Perbaikan tambalan amalgam juga membutuhkan perlakuan khusus untuk menghindari bahaya merkuri yang mungkin terlepas pada saat pembongkaran tambalan. Pemolesan dilakukan langsung di akhir kunjungan. e. depan maupun belakang. memerlukan teknik sensitive dan keterampilan yang cukup. Dapat menyebabkan reaksi alergi. Paling sulit dalam pengaplikasiannya dibanding tambalan lain. Bisa digunakan untuk semua gigi. lebih jarang dibanding amalgam. f. walau sangat jarang. Perbaikan dapat dilakukan dengan lebih mudah.

Semasa dalam kandungan pada usia kehamilan ibu lebih dari 4 bulan. Pemakaian antibiotic. 2. Dekomposisi jaringan pulpa atau sisa makanan. Masa bayi sesudah lahir sampai usia 5 tahun. Adanya gas yang dihasilkan oleh pulpa nekrosis dapat membentuk ion sulfide yang bewarna hitam.2. Tujuannya adalah untuk mengembalikan estetis penderita. Pemakaian obat golongan tetrasiklin selama proses pertumbuhan gigi dapat menyebabkan perubahan warna gigi yang permanen.3 2.3. pada periode ini terjadi pembentukan mahkota gigi seri permanen.1. misalnya tetrasiklin. molekul tetrasiklin dapat melewati barier plasenta mengenai gigi sulung yang sedang terbentuk b. penyebab perubahan warna gigi berasal dari gigi itu sendiri: 3 1. Periode waktu pemberian tetrasiklin yang menyebabkan perubahan warna pada gigi:3 a. Bleaching Bleaching merupakan suatu cara pemutihan kembali gigi yang berubah warna (diskolorisasi) sampai mendekati warna gigi asli dengan proses perbaikan secara kimiawi. Tetrasiklin merupakan penyebab paling sering dari diskolorisasi gigi yang bersifat intrinsik.3. Penyebab Perubahan Warna Gigi Penyebab perubahan warna gigi dibagi atas dua faktor. 20 . yaitu:3 y Faktor Intrinsik: Yaitu.

misalnya perak nitrat. Jaringan gigi yang sedang dalam proses mineralisasi itu tidak hanya memperoleh kalsium. 6. 3. Ini disebabkan oleh terjadinya trauma. tetrasikln akan terikat dengan kalsium dan membentuk senyawa kompleks berupa tetrasiklin kalsium ortofosfat. Medikamentasi saluran akar. Kebersihan mulut yang tidak baik. Di antara bahan pengisi saluran akar gigi yang dapat mewarnao dentin adalah iodoform dan semen saluran akar yang mengandung perak atau minyak esensial. kunyit. 2. Pengaruh makanan dan minuman. aplikasi bahan devitalisasi arsen ataupun eksterpasi pulpa yang masih vital 5. y Faktor Ekstrinsik Perubaan warna pada gigi yang berasal dari luar gigi:3 1. misalnya kopi. teh. Obat terapeutik yang digunakan dalam endodontic dapat menyebabkan perubahan warna pada gigi. Perubahan warna pada gigi karena kebersihan mulut yang tidak baik. Mekanismenya adalah. jingga. tetapi juga molekul tetrasiklin yang kemudian tertimbun di salam jaringan dentin dan email. Bahan pengisi saluran akar. kuning. dapat menyebabkan gigi bewwarna hijau. atau cokelat. Penyakit metabolik yang berat selama fase pertumbuhan gigi misalnya alkaptonuria yang menyebabkan bercak coklat pada gigi 4.c. dan lain-lain. 21 . Perdarahan dalam kamar pulpa.

tidak bewarna.2. Bleaching Ekstrakoronal Indikasi:3   Dilakukan ada gigi yang masih vital Pewarnaan yang terjadi disebabkan oleh tetrasiklin atau plak 2. dan tidak mudah terbakar. 22 . Meripakan cairan yang jernih. dan lamanya kebiasaan merokok. Superoxol Suatu cairan hydrogen peroksida encer (30-35%).3. Alat Bahan yang Digunakan untuk Bleaching:3 a. tidak berbau.3.3. jumlah. Pengaruh rokok dan tembakau menghasilkan warna coklat sampai hitam pada bagian leher gigi. 2. Baan ini dapat membaar kulit. Gigi dengan pengisian saluran akar yang tidak sempurna. Bahan tambalan logam (amalgam). Bahan ini paling sering digunakan di dalam perawatan bleaching. Indikasi dan Kontraindikasi y Bleaching Intrakoronal Indikasi: Gigi yang telah dilakukan perawatan endodontic3 Kontraindikasi:3   y Ada keries atau restorasi yang besar. tetapi akan hilang setelah beberapa jam jika dicuci dengan air. 4. Distribusi dan perubahan warna yang terjadi bergantung pada tipe.3.

baunya merangsang. Berfungsi sebagai peroksida yang baik dan juga sebagai antiseptic c. Semen Oksida seng eugenol 2. Mempunyai efek penetrasi yang besar pada dentin. yaitu: 1.4. Bubuk Natrium Perboat Merupakan bubuk yang bila pada keadaan mencair melepaskan oksigen. 23 . dan dapat menyebabkan rasa mual pada pasien. Piroson Suatu cairan hydrogen peroksida 25% dalam eter. tetapi bersifat mudah menguap. 3. e.b. perlu diketahui teknik bleaching Teknik Bleaching Sebelum melakukan teknik bleaching. ada tiga hal yang perlu diperhatikan. 2. 3 Menentukan faktor penyebab terjadinya perubahan warna/diskolorisasi gigi Menentukan apakah kasus tertentu memerlukan perawatan bleaching Memilih bahan yang tepat. Vaselin Suatu bahan untuk mencegah panas dan rasa terbakar pada gingival. Prosedur Bleaching Sebelum membahas tentang prosedur bleaching. d.

Prosedur bleaching intrakoronal:3 1. 2. 4. sisa jaringan pulpa. Sebanyak mungkin dentin yang berubah warna terutama pada daerah yang kadar pewarnaannya tinggi. Pemasangan isolator karet harus rapat dan menutupi hidung agar bahan bleaching tidak mengalir ke gingiva. 24 . pada gigi yang berubah warna dilakukan beberapa hal sebagai berikut:3 1. Bahan pengisi saluran akar dalam kamar pulpa dibunag sampai 2-3 mm di bawah tepi batas gingival. Tetesi butiran kapas dengan bahan bleaching dan letakkan dalam kamar pulpa. serta uap H2O2 30% tidak terhirup. 3. Membuang selurug atap pulpa.y Bleaching Intrakoronal Dilakukan pada gigi yang nonvital. 2. serta sisa jaringan yang mati pada tanduk pulpa. Tambalan yang bocor atau tambalan plastis lain harus dibuang. Sebelum melakukan prosedur preparasi kavitas. 3. Bersihkan kamar pulpa dengan alcohol dan mengeringkan dengan menggunakan butiran kapas. 4. Memasang isolator karet. dibuang. Olesi jaringan lunak gingival bagian labial dan lingual dengan vaselin untuk mencegah rasa terbakar pada gingival. Butiran kapas jangan berlebih agar bahan tidak menembus isolator karet.

mata pasien dilindungi dengan kaca mata gelap atau handuk. Pada saat pemanasan dengan lampu ini. 8. Prosedur ini diulang beberapa kali. Panaskan istrumen tambahan dan tekankan di atas kapas untuk menguapkan hydrogen peroksida. 6. Singkirkan kapas dari kamar pulpa dan letakkan kapas yang baru yang berisi hydrogen peroksida yang dicampur dengan Na-perborat di dalam kamar pulpa dan tutup dengan tambalan sementara. prosedur dapat diulangi lagi. Panaskan istrumen dan ditekan selama beberapa detik di atas butiran kapas untuk menekan hydrogen peroksida meresap ke dalam tubulus dentin. 9. Isi kamar pulpa dengan kapas dan tetesi dengan bahan bleaching. 10. Minta pasien datang beberapa hari kemudian. y Bleaching Ekstrakoronal Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum tindakan beaching:3 25 . 11. 7. Tambahkan lagi bahan bleaching dengan meneteskannya di atas butiran kapas yang lain untuk mengganti butiran kapas yang pertama. bila hasil bleaching belum sempurna.5. 12. Dilanjutkan dengan pemanasan pada kapas dengan superoxol yang ditempatkan di permukaan labial dan palatal gigi. Dapat juga digunakan lampu foto 500 watt dengan jarak 50-60 cm dari gigi pasien.

Bleaching dihentikan setelah kunjungan ketika jika didapatkan hasil yang baik. Setelah isolator karet dilepas. Jika pasien merasakan adanya rasa terbakar. 4. Prosedur bleaching ekstrakoronal:3 1. 2. Bersihkan permukaan gigi dengan pasta fluor dan air. 6. Pasang isolator karet dan isolasi hanya pada gigi yang di bleaching. Aplikasi vaselin pada gingival di bagian lingual dan labial.1. Prosedur bleaching terlebih dahulu dilakukan pada rahang atas baru kemudian diikuti rahang bawah. gingival pasien disemprot dengan air tanpa melepaskan isolator karet. 2. Gigi jangan dianastesi karena pasien harus dapat merasakan apabila ada rasa panas yng disebaban oleh rembesan H2O2 yang berlebih pada gingival. 3. Hasil yang lebih sempurna diperoleh jika menggunakan temperature yang rendah. 26 . 4. Diperlukan paling sedikit2-3 kali kunjungan. Isolasi dapat dibuat dengan pengolesan vaselin untuk mencegah rasa terbakarnya jaringan gingival. Bersihkan permukaan gigi dengan kapas yang sudah ditetesi alcohol dan kloroform dengan perbandingan 1:1. periksa perubahan warna yang terjadi. 3. Isolator karet harus melewati lubang hidunguntuk mencegah terhiruonya bahan superoxol saat pemanasan. 5.

Jika pasien sudah merasa nyaman. Jika telah menghasilkan warna yang sesuai dengan yang diinginkan prosedur bleaching dapat dihentikan. 11. Bersihkan gigi dengan air panas dan lepaskan isolator karet. 8. 6. Letakkan gulungan kapas yang sudah dipotong pada labial gigi yang dibleaching. digunakkan campuran superoxol dan natrium perboat (bubuk). Jika tempratur terlalu tinggi. temperature ditinggikan sampai pasien memberikan respons dan jika pasien telah memberikan respons. temperature di turunkan 10oC. Teknik ini biasanya dilakukan pada gigi nonvital. temperature harus diturunkan. Jika tidak ada sensasi panas. Bleaching pada setiap gigi dilakukan 30-60 detik. Letakkan instrumen yang sudah dipanaskan berlawanan dengan kapas yang ditetesi superoxol. 9.5. 10. 12. Kelebihan metode ini adalah waktu kunjungan pasien lebih singkat bila dibandingkan dengan teknik termokatalitik. 7. Prosedur diulangi tiga kali. Dengan menggunakan alat penetes (water dropper) tetesi kapas tersebut dengan meletakkan kapas yang kering di atas kapas yang pertama.3 27 . Pasien disuruh dating satu minggu kemudian. Teknik Walking Bleach Pada metode ini. proses bleaching dapat diteruskan. Ulangi proedur pada bagian lingual/palatal. Jaga agar kapas yang ditetesi superoxol tetap basah. Setiap gigi memerlukan temperature yang bervariasi. kemudian dicampur membentuk pasta.

5. Sama seperti pada teknik bleaching intrakoronal. Proses Terjadinya Pemutihan Gigi Perubahan yang terjadi pada lapisan gigi yang disebabkan oleh reaksi dari H2O2 30% dengan molekul apatit.4. 6. Pasang isolator kuat. Olesi jaringan lunak gingival bagian labial dan lingual dengan vaselin. Prosedur diulangi seminggu sekali sehingga didapatkan warna yang sesuai dengan apa yang dikehendaki. Kemudian ditutup sementara dengan cavit atau semen seng fosfat.Teknik Walking Bleach pada Gigi Nonvital. 2. 2.s ebelum prosedur dilakukan. 4. Prosedur Walking Bleaching:3 1. 3. dengan proses pemanasan akan terjadi reaksi sebagai berikut:3 H2O2 H2O + On 10CaO + 3 P2O5 + H2O putih 28 Ca10(PO4)6(OH)2 + On Hidroksi apatit . juga harus melakukan preparasi kavitas. Bersihkan rongga pulpa dengan alcohol dan dikeringan dengan menggunkan kapas kecil.1. Pasta yang merupakan campuran superoxol dan natrium perboat dimasukkan ke dalam rongga pulpa dan dikeringkan dengan kapas kecil.

Mekanisme Diskolorisasi: 8 Perak-Timah + Hg   Perak-Hg + Timah-Hg + Perak-Timah     Menguap Korosi dari -2  Timah + Hg Penetrasi ke Dentin Bereaksi dengan Amalgam perak yang telah mengeras (setting) terdiri atas 43-50% Hg yang bergabung baik dengan perak maupun dengan timah. Ag2Hg3) dan gamma-dua (timah-Hg.3 2. Pada amalgam yang telah bergabung dan mengeras. sejumlah fase gamma tetap tinggal tak bereaksi dengan Hg. CaO inilah yang menimbulkan warna putih pada gigi. Sn7-8Hg). Pada alloy yang belum bergabung. Fase-fase yang mengandung Hg disebut gamma-satu (perak-Hg. Tidak diragukan bahwa air raksa (Hg) merembes/penetrasi ke dalam struktur gigi. Suatu analisis pada dentin di bawah tambalan amalgam mengungapkan adanya Hg yang turut berperan dalam Diskolorisasi 29 . perak dan timah berada sebagai fase gamma (Ag3Sn).5.Hisroksi apatit ini bereaksi dengan superoxol dan menyebabkan pengendapan CaO. Pengaruh Amalgam terhadap Diskolorisasi Gigi Pemakaian amalgam dalam waktu tertentu tak jarang dapat menyebabkan terjadinya diskolorisasi atau perubahan warna pada sekitar gigi yang dilakukan restorasi amalgam.

4 Hyung-Joon dkk (2006) melaporkan bahwa jumlah ion amalgam yang terlarut akibat pemaparan dengan karbamid peroksida 10% tergantung dengan durasi kemaparannya dan jumlahnya berbeda pada masing-masing merk. Campos dkk (2003). dan diskolorisasi ini tergantung ada merk amalgam yang digunakan serta konsentrasi karbamid peroksida. Rotstein dkk (2000) menyatakan bahwa perawatan dengan karbamid peroksida menyebabkan lepasnya merkuri dari restorasi amalgam.8 2. Kadangkadang ditambah zinc dan pallidum.6. Lepasnya merkuri dari amalgam tergantung waktu dan berhubungan dengan meningkatnya oksidasi.6. Efek pada Restorasi Amalgam Amalgam umumnya mengandung merkuri.diskolorisasi gigi. Kemudian dapat juga diserap oleh mukosa mulut dan terhirup ke saluran pernafasan sehingga timbul pengaruh sistemik yang berbahaya. Efek Bleaching terhadap Restorasi 2. dan karbamid peroksida dengan 30 . Haywood (2002) melaporkan bahwa pemakaina karbamid peroksida dapat menyebabkan diskolorisasi berwarna hijau pada gigi dengan restorasi amalgam selama empat bulan. silver. tin dan copper. korosi dan penghancuran permukaan amalgam. Merkuri yang lepas tersebut dapat tertelan oleh pasien dan merupakan racun pada jaringan tubuh. mengemukkan bahwa karbamid peroksida dapat menurunkan tingkat kekerasan amalgam. Penggunaan Hg radioaktif di dalam amalgam perak juga telah menunjukkan bahwa Hg bisa mencapai pulpa.1. Jumlah merkuri yang lepas tersebut berbeda-beda pada berbagai macam merk dagang amalgam.6.

Kekerasan.konsentrasi 15% lebih mempengaruhi kekerasan amalgam dibandingkan karbamid peroksida dengan konsentrasi 10%. kecerahan komposit mengalami perubahan yang tidak signifikan secara klinis bila terekspos 10% karbamid peroksida namun pemakaian 10% karbamid peroksida sebelum suatu restorasi resin komposit dapat mengurangi perlekatan antara email dan resin komposit (Nathoo dkk. Oleh karena itu pasien harus diinformasikan terlebih dahulu tentang proses bleahing yang dapat mempercepat proses penuaan pada restorasi resin komposit. 2.8) bereaksi dengan air membebaskan hydrogen peroksida. 10% karbamid peroksida (pH 6. Hasil uji yang dilakukan Bailey menunjukkan bahwa resin komposit menjadi lunak. berkurang zat pewarna.. Rendahnya kekuatan perlekatan yang diperoleh setelah bleaching email 31 .6. 1994 dan Cooley dkk. Efek pada Restorasi Komposit Ulukapi (2003) menunjukkan bahwa karbamid peroksida dapat menyebabkan marginal leakage pada restorasi resin komposit.4 Pada proses bleaching.2. Peroksida terurai menjadi bebas sama sekali. Menurut Bailey dkk (1992) pemakaina 10% karbamid peroksida atau 6% hydrogen peroksida (dengan tiga tahap pekerjaan) menyebabkan cracking pada resin komposit mikrofil dan sedikit kekasan pada permukaan resin komposit hibrida. 1991). Sementara Damrco dkk (1996) menyatakn bahwa bahan bleaching dapat mempengaruhi kekuatan ikatan komposit resin sehingga perlu direstorasi ulang. dimana luas perputaran kemunduran zat pewarna menjadi lebih kecil. kekasaran permukaan.

diperoleh dengan adanya pertukaran kimia di dalam email.4 32 . Efek yang merugikan dari agen bleaching didalam kekuatan perlekatan dari resin komposit terhadap email akan hilang setelah 48 jam (Godwin dkk. 1991) atau setelah grinding permukan superficial bleaching email (Machinda dkk. 1992).

creep.1. yaitu: matriks resin. penghambat polimerisasi. 3. yaitu: 1. Komposisi komposit. 3. stabilitas dimensi. toksisitas. dengan sifat-sifat korosi.1. opacifiers. 2. Saran Diharapkan agar semua anggota kelompok menyumbangkan pikiran dan tenaganya untuk pembuatan makalah ini. 33 . Komposit merupakan kombinasi dua atau lebih bahan yang menghasilkan prosuk lebih unggul dari bahan asalnya. Bleaching merupakan suatu cara pemutihan kembali gigi yang berubah warna (diskolorisasi) sampai mendekati warna gigi asli dengan proses perbaikan secara kimiawi. Simpulan Simpulan yang diperoleh dari hasil kuliah pakar. pigmen warna.BAB III PENUTUP 3. filler. Amalgam merupakann restorasi yang kuat tapi tidak estetis. coupling agent. Amalgam merupakan logam campur cairan (Merkuri). penyerap UV.

Baum. 8. Lund MR. 1986: 116-90. Medan: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. KJ.DAFTAR PUSTAKA 1. Tambalan Amalgam. 2002. 2009 Lubis. Phillips: Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi Edisi 10. Jakarta: EGC. 3. 34 . 1998 2. SMA. Medan: Fakultas Kedokteran Gigi Universits Sumatera Utara.1985. Jakarta: EGC. Teknik Restorasi Resin Komposit Posterior Klas II MOD. Perawatan Pulpa Gigi (Endodonti) Ed. 6. Phillips RW. Farahanny . Horsted-Bindslev. London: Churchill Livingstone Co. 2nd ed. Textbook of Operative Dentistry. Lubis. Wandania. 4. Pengaruh Pemakaian Home Bleaching terhadap Jaringan dan Restorasi Gigi. WB Saunders Company. Rasinta. SMA. Combe EC. 2004. 7. 2003. Philadelphia. Medan: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. Notes on dental materials.et al. 2. 5th ed. Pengaruh Pemakaian Home Bleaching terhadap Jaringan Mulut dan Restorasi Gigi. Anusavice. Tarigan. Jakarta: EGC. 5. 2002.