PEMBIAYAAN PERUMAHAN

Kemenpera Minta Bunga FLPP Turun
Rabu, 8 Februari 2012

JAKARTA (Suara Karya): Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz meminta perbankan untuk menurunkan suku bunga fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP). Suku bunga FLPP yang final nantinya tergantung hasil negosiasi antara Kemenpera dan perbankan penyalur subsidi untuk pembiayaan perumahan ini. "Saya tetap berharap bank bisa menurunkan suku bunga FLPP. Angkanya bisa 5-6 persen per tahun," kata Djan Faridz kepada wartawan usai melantik sejumlah pejabat eselon III Kemenpera di Jakarta, Selasa (7/2). Menurut dia, Kemenpera menugaskan Deputi Bidang Pembiayaan untuk melakukan negosisasi dengan sejumlah bank berstatus badan usaha milik negara (BUMN) terkait kemungkinan penurunan suku bunga FLPP tersebut. Diharapkan pada Februari 2012 ini sudah ada kesepatakan dan penandatanganan perjanjian kerja sama operasional terkait pelaksanaan program untuk rakyat ini. Lebih lanjut Djan Faridz menjelaskan, dalam FLPP ini, Kemenpera juga tetap menawarkan perbandingan dana untuk pembiayaan sekitar 50:50 dengan perbankan. Dengan demikian, jumlah masyarakat yang dapat memanfaatkan FLPP bisa lebih banyak lagi. "Bank-bank BUMN nantinya akan tetap ikut menyalurkan FLPP, namun perbandingan dananya tetap 50:50," ujarnya. Terkait banyaknya pendapat para pengamat dan keberatan sejumlah perbankan terkait suku bunga FLPP, Djan Faridz merasa hal ini bukan sesuatu yang tidak bisa diselesaikan. Dalam hal ini, masyarakat memang mengawasi kinerja Kemenpera untuk memperjuangkan nasib nmereka, khususnya untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang ingin membeli rumah. Di sisi lain, Kemenpera juga akan tetap memperhitungkan keuntungan yang dapat diperoleh bank-bank penyalur FLPP agar lebih tertarik menyalurkan bantuan subsidi perumahan rakyat dari pemerintah ini. "Bank senang, rakyat pun senang. Bank tetap bisa memperoleh keuntungan dalam penyaluran dana FLPP ini, tetapi tentunya keuntungan yang wajar-wajar saja. Sebab, program ini untuk membantu masyarakat miskin yang ingin mempunyai rumah," tuturnya. (Novi)

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=296796

Menpera Harap Bank Turunkan Suku Bunga FLPP
Tribunnews.com - Rabu, 8 Februari 2012 07:34 WIB Laporan Andri Malau TRIBUNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz tetap meminta bank-bank yang nantinya menyalurkan dana subsidi pembiayaan Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) menurunkan suku bunga Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). ³Saya tetap berharap bank menurunkan suku bunga FLPP. Angkanya bisa 5 - 6 persen, tapi hasilnya akhirnya nantinya tetap bergantung pada hasil negosisasi antara Kemenpera dan pihak perbankan,´ ujar Menpera Djan Faridz kepada sejumlah wartawan usai melantik sejumlah pejabat Eselon III di Kantor Kemenpera, Jakarta, Selasa (7/2/2012). Menurut Djan Faridz, saat ini dirinya telah menunjuk Deputi Bidang Pembiayaan untuk melakukan negosisasi dengan sejumlah bank BUMN terkait suku bunga FLPP tersebut. Dirinya berharap pada bulan Februari ini bisa dihasilkan kesepatakan dan penandatangan perjanjian kerjasama operasional (PKO) terkait pelaksanaan program pro rakyat ini. Lebih lanjut, Djan Faridz menerangkan, dalam FLPP ini Kemenpera juga tetap menawarkan perbandingan dana sekitar 50 : 50 dengan perbankan. Dengan demikian, jumlah masyarakat yang dapat memanfaatkan FLPP ini akan lebih banyak. ³Bank-bank BUMN nantinya akan tetap ikut menyalurkan FLPP. Namun perbandingan dananya tetap 50 : 50,´ terangnya. ³Bank senang rakyat pun senang. Bank tetap bisa memperoleh keuntungan dalam penyaluran dana FLPP ini. Tapi tentunya keuntungannya yang wajar-wajar saja sebab program ini kan untuk membantu masyarakat miskin yang ingin mempunyai rumah,´ tandasnya http://www.tribunnews.com/2012/02/08/menpera-harap-bank-turunkan-suku-bunga-flpp

Rp 9 Triliun untuk Bangun Rusunawa Ciliwung
Tribunnews.com - Rabu, 8 Februari 2012 07:59 WIB Laporan Andri Malau TRIBUNEWS.COM, JAKARTA -Pemerintah mempersiapkan anggaran sekitar Rp 9 Triliun untuk pembangunan rumah susun sewa (Rusunawa) di sekitar bantaran Kali Ciliwung, Jakarta. Anggaran tersebut rencananya membangun sekitar 29 twin blok (TB) Rusunawa untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz menyampaikan kepada sejumlah wartawan usai melantik sejumlah pejabat Eselon III Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) di Kantor Kemenpera, Jakarta, Selasa (7/2/2012). ³Anggaran yang disiapkan pemerintah untuk membangun Rusunawa di Bantaran Kali Ciliwung sekitar Rp 9 Triliun,´ ungkap Menpera. Mensukseskan pelaksanaan pembangunan Rusunawa di Kali Ciliwung, demikian disampaikannya, diperlukan koordinasi antar kementerian terkait serta melibatkan pemerintah daerah (Pemda) DKI Jakarta. ³Dalam minggu ini akan dilaksanakan rapat koordinasi untuk membahas program pembangunan Rusunawa Kali Ciliwung. Dalam rapat ini nantinya akan dihadiri Menko Kesra, Menteri PU, Menpera dan Gubernur DKI Jakarta,´ ia mengemukakan. Lebih jauh ia katakan, terkait dengan lokasi pembangunan Rusunawa, pihaknya akan berkonsentrasi di tanah milik TNI di daerah Berlan yang berada tidak jauh dari Stasiun Manggarai. Di sana terdapat Kompleks Zeni yang dihuni sekitar 15 anggota TNI aktif dan 20 KK purnawirawan. Ke depan, warga akan menempati rumah tersebut dengan sistem sewa. Sedangkan pengelolaan Rusunawa Kali Ciliwung akan dilaksanakan oleh Perumnas. ³Kompleks Zeni nantinya akan dipindah. Sedangkan para purnawirawan dan warga yang tinggal di sana akan dipioritaskan untuk tinggal di Rusunawa tersebut. Sedangkan pengelolaannya hampir dapat dipastikan dilaksanakan oleh Perumnas,´ terangnya. ANDRI MALAU http://www.tribunnews.com/2012/02/08/rp-9-triliun-untuk-bangun-rusunawa-ciliwung

Infrastruktur Hari ini Pkl. 07:32 WIB

Suharso: Ide FLPP Tak Ditangkap oleh Menpera Baru
MedanBisnis ± Jakarta. Mantan Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Suharso Monoarfa menilai kisruh KPR subsidi skema FLPP muncul karena belum banyak pihak yang mengerti soal ide dasar dari fasilitas subsidi perumahan tersebut. Menurutnya, yang terpenting FLPP bisa bergulir dengan masa kredit yang lebih lama dari 15 tahun dengan bunga KPR tetap dan lebih rendah dari bunga KPR umum. Suharso menepis anggapan kalau kisruh FLPP ini karena adanya keinginan dari Menpera yang baru Djan Faridz untuk menghentikan program yang ia gagas beberapa tahun lalu ini. Ia menilai masalah ini lebih karena pemahaman soal FLPP yang sudah sejak 2010. "Saya kira idenya (FLPP) tidak ditangkap," katanya kepada wartawan, Senin malam (6/2) lalu. Dia menilai kisruh suku bunga kredit FLPP saat ini seharusnya tak terjadi, meskipun ia mendukung keinginan menpera yang baru untuk menurunkan suku bunga FLPP lebih rendah. Namun ia mengingatkan program FLPP jangan sampai dihentikan apalagi diganti dengan program lain. "Tidak boleh dihentikan FLPP harus diteruskan, tak boleh dihentikan, kalau pemerintah mau menurunkan suku bunga silakan, tinggal (negosiasi) PKO (perjanjian kerja sama operasi) saja," serunya. Keinginan menurunkan suku bunga FLPP juga dinilai Suharso boleh-boleh saja karena pastinya akan disambut positif oleh masyarakat. Namun jika masalah itu malah menimbulkan terhentinya program ini, justru yang dirugikan adalah masyarakat yang sudah mengantri untuk kredit rumah. "Kalau saya masih disitu (jadi menpera) saya akan bilang oke, bunga 8%, tapi saya akan bilang kepada BTN agar ditambah 5 tahun jadi 25 tahun masa kreditnya, dengan cicilan lebih rendah," katanya. Menurut Suharso bunga FLPP saat ini sebesar 8% sudah cukup rendah, namun jika bisa ditekan ke angka 7,5% itu lebih baik. Saat ini yang terpenting, lanjut Suharso, perlu ada perbankan yang bisa bertanggung jawab melayani kredit rumah bagi golongan menengah ke bawah seperti BTN. "Saya pikir pemerintah harus hati-hati menurunkan suku bunga, karena memang rakyat berharap suku bunga turun, sangat berharap, dan bisa panjang lagi, sampai 25 tahun masa kreditnya, itu lebih baik lagi," katanya. Dia khawatir jika BTN yang selama ini berpengalaman menggarap KPR kalangan menengah bawah harus mundur dari program FLPP maka belum tentu bisa ditutupi oleh perbankan lainnya. Suharso masih ragu bank lain di luar BTN, bisa bertanggung jawab menyalurkan KPR bagi segmen menengah ke bawah. "Selama ini volume terbesar KPR untuk MBR (masyarakat berpenghasilan rendah) adalah BTN, bisa sampai 100.000 rumah (per tahun), bank lain belum melihat ini sebagai peluang, kalau mereka masuk yang bilang bisa murah bunganya, tapi berapa volume dia yang bisa disalurkan,"

tanya Suharso. Angkat Suara Sebagai penggagas lahirnya program KPR subsidi melalui skema FLPP, Suharso Monoarfa melihat, masyarakat dirugikan. Suharso pun angkat suara dan berharap FLPP tak dihentikan. Alasannya, skema subsidi perumahan ini paling pas dilakukan oleh pemerintah daripada memakai skema subsidi konvensional karena dengan FLPP uang negara bisa bergulir lagi berbeda dengan skema subsidi konvensional akan habis jika sudah dicairkan. "Inti dari FLPP, banyak yang masih tidak paham. FLPP itu menyediakan pembiayaan dengan bunga tetap dalam jangka waktu yang panjang yaitu 15 tahun, malah kalau bisa sampai 20, 25, 30 tahun," katanya lagi. Terkait suku bunga FLPP, ia mengilustrasikan perlu ada benchmark atau acuan yang bisa menjadi pegangan, Misalnya suku bunga surat utang negara saat ini sekitar 6,7% dengan tenor hingga 25 tahun. Pemerintah boleh saja menginginkan suku bunga FLPP rendah namun harus bisa diterima oleh hitung-hitungan bank penyalur FLPP. "Pasar bisa menyediakan pembiayaan jangka panjang dengan suku bunga yang mendekati surat utang negara, itu bisa menjadi benchmark katakankah selisih 1-2% misalnya bunga (FLPP) 8,258,75% itu masih wajar oleh sumber pembiayaan kita," katanya. Suharso menuturkan, saat awal program FLPP bergulir pihak BTN sebagai penyalur fasilitas KPR subsidi menggunakan dana obligasi dengan tenor hanya 10 tahun dengan bunga sampai 9%. Jika dihitung berdasarkan pola penyaluran kredit secara konvensional tanpa campur tangan penempatan dana murah pemerintah di perbankan maka sukubunga kredit BTN bisa mencapai 11%. "Waktu itu, saya pikir kita harus memperhitungkan APBN, saya masukan ke pembiayaan, agar bisa bergulir, sehingga yang merasakan banyak orang, itu lah awal FLPP dibentuk," katanya. Seperti diketahui FLPP merupakan pola kerja sama pemerintah dan perbankan. Pemerintah menempatkan dana murah 60% di bank penyalur,. sementara perbankan 40%. Dari hasil kolaborasi itu menghasilkan suku bunga KPR yang lebih miring dari pasar, dengan tenor yang bisa 15 tahun, kelebihannya nasabah mencicil per bulannya dengan nilai cicilan yang tetap. Semenjak bergulir akhir tahun 2010, bank penyalur seperti BTN mendominasi penyaluran program ini dengan tawaran bunga 8,15%. Namun pada periode 2012, pemerintah melalui Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz menghendaki bunga KPR lebih rendah hingga 5-6%. Pihak BTN merasa tak sanggup menuruti permintaan pemerintah bahkan mengancam mundur dari program ini. (dtf) http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2012/02/08/80302/suharso_ide_flpp_tak_d itangkap_oleh_menpera_baru/#.TzHeqXpAVyU

Kabar Baik, Pemerintah Bakal Siapkan Rusun untuk Rakyat Tak Mampu
Wednesday, February 8, 2012 Sumber : http://www.rumah.com/berita-properti RumahCom - Pemerintah berencana akan membangun 29 twin blok Rusunawa untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di bantaran Kali Ciliwung, Jakarta. Untuk itu, pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp9 Triliun, ungkap Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz kepada sejumlah wartawan usai melantik sejumlah pejabat Eselon III Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) di Kantor Kemenpera, Jakarta, Selasa (7/2).

Menurut Menpera, guna melancarkan pembangunan Rusunawa tersebut, diperlukan koordinasi antar-kementerian terkait serta melibatkan pemerintah daerah DKI Jakarta. "Untuk itu, dalam minggu ini akan dilaksanakan rapat koordinasi untuk membahas program pembangunan Rusunawa Kali Ciliwung. Dalam rapat ini nantinya akan dihadiri Menko Kesra, Menteri PU, Menpera, dan Gubernur DKI Jakarta," imbuh Djan. Terkait lokasi pembangunan Rusunawa, Djan Faridz menyatakan Kemenpera akan berkonsentrasi di tanah milik TNI di daerah Berlan yang berada tidak jauh dari Stasiun Manggarai. Di sana terdapat Kompleks Zeni yang dihuni sekitar 15 anggota TNI aktif dan 20 kepala keluarga purnawirawan. Rusunawa ini, imbuh Djan Faridz, akan diprioritaskan untuk warga setempat yang kini menghuni kawasan tersebut. "Kompleks Zeni nantinya akan dipindah, sedangkan para purnawirawan dan warga yang tinggal di sana akan dipioritaskan untuk tinggal di Rusunawa ini. Sementara itu, pengelolaan Rusunawa hampir bisa dipastikan akan dilakukan oleh Perumnas," tuturnya. Anto Erawan (antoerawan@rumah.com)

http://situs-berita-terbaru.blogspot.com/2012/02/kabar-baik-pemerintah-bakalsiapkan.html

Kemenpera Sediakan Rumah Murah bagi PNS KKP
Riani Dwi Lestari - Okezone Rabu, 8 Februari 2012 11:31 wib 0 1Email0

Foto: Rumah murah untuk rakyat/ propertykita.blogspot.com JAKARTA - Penyediaan rumah murah, tidak hanya berlaku bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di pedalaman yang rata-rata berprofesi sebagai buruh tani saja. Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) juga menyediakan perumahan untuk pegawai negeri sipil (PNS). Untuk mendapatkan rumah murah bagi PNS, kementerian sebelumnya menjalin kerja sama terlebih dahulu dengan Kemenpera guna pengadaan rumah tersebut. Salah satu kementerian yang menyediakan rumah murah bagi pegawainya adalah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang kemarin baru saja menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk pengadaan perumahan di lingkungan KKP. Adapun tujuan diadakannya nota kesepahaman ini, merupakan upaya untuk mempercepat penyediaan rumah baik bagi PNS, pensiunan pegawai negeri sipil, mahasiswa di lingkungan KKP dan masyarakat di bidang kelautan dan perikanan yang merupakan MBR. Selain itu, maksud dari MoU ini juga salah satu usaha untuk pemenuhan kebutuhan rumah yang layak huni dengan harga terjangkau bagi PNS dan orang-orang yang berada di lingkungan KKP. Demikian dikutip dari laman Kemenpera, Rabu (8/2/2012). Wakil Presiden Republik Indonesia Boediono, yang turut hadir dalam penandatanganan tersebut berharap, kesepakatan kerja yang dibuat dapat memberikan hasil yang lebih baik dan mengharapkan adanya sinergi dan keterpaduan dalam merumuskan kebijakan antar setiap instansi. "Saya berharap setiap kesepakatan kerja yang dibuat dapat memberikan hasil yang baik dari tahun sebelumnya dan juga ada sinergi dan keterpaduan dalam setiap perumusan kebijakan antar

setiap instansi pemerintahan sebagai perumusan strategi pencapaian tujuan pembangunan nasional," ujar Boediono. Turut hadir menteri dari kedua instansi yang menyetujui nota kesepahaman tersebut yakni Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz dan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C Sutardjo. (rhs) http://property.okezone.com/read/2012/02/08/471/571653/redirect

Giliran Menpera Pasrah soal Suku Bunga Subsidi KPR
08 Feb 2012 MENTERI Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz akhirnya membuka kesempatan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) ber-sWm fasilitasi likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) sesuai kemampuan bank. Namun, Ke-menpera tetap menurunkan porsi pemerintah di FLPP menjadi hanya 50%. "Dengan suku bunga yang rendah dan porsi dana pokok FLPP Kemenpera dan perbankan menjadi 5050, artinya makin banyak rakyat yang akan menikmati memiliki rumah," ungkapnya. Djan mengungkapkan, setidaknya sudah ada BTN, BRI, BNI, dan Mandiri yang akan ikut menyalurkan FLPP. Dari hasil pembicaraan dengan keempat bank, suku bunga sementara yang dita-warkan ialah 8,55% (BTN), 7,5% (BRI), dan 7,25% (BNI). Bank Mandiri hingga kini belum memberikan pengajuan karena masih dalam proses. "Bila melibatkan asuransi KPR, suku bunga sementarayang ditawarkan Bank BTN turun menjadi 8,22%, BRI 7,12%, BNI 6,35%," ujarnya. Adapun perbandingan porsi dana antara Kemenpera dan bank ialah 5050. Kebijakan penurunan porsi dana FLPPini diharapkan akan menambah rumah subsidi hingga 23% dari sebelumnya 177.800 unit menjadi 219.000 unit. Saat menanggapi hal itu. Ketua Umum Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional Sigit Pramono yakin suku bunga yang ditawarkan perbankan sudah sesuai dengan perhitungan terbaik. Peme-, rintah diharapkan dapat melihat hitung-hitungan paling realistis untuk melanjutkan program tersebut. "Margin keuntungan bisa ditekan, tapi tidak bisa kalau rugi. Bank memang harus mendukung program pemerintah, tapi harus juga masuk hitung-hitungan komersial," ungkap Sigit. Sementara itu, ditemui terpisah. Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo mengakui banknya menawarkan bunga 7,25%. Harga tersebut sudah mentok tidak dapat diturunkan lagi. "Namanya badan usaha milik negara, itu judulnya usaha. Usaha itu harus untung," tegasnya. (Bug/GA/E-5)

http://bataviase.co.id/node/968425

PROYEK PROPERTI

Rp 9 triliun untuk bangun rusunawa di Ciliwung
Oleh Asnil Bambani Amri - Rabu, 08 Februari 2012 | 10:09 WIB

JAKARTA. Pemerintah mempersiapkan anggaran sekitar Rp 9 triliun untuk pembangunan rumah susun sewa (Rusunawa) di sekitar bantaran Kali Ciliwung, Jakarta. Anggaran tersebut rencananya membangun sekitar 29 twin blok (TB) Rusunawa untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz menyampaikan kepada sejumlah wartawan usai melantik sejumlah pejabat Eselon III Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) di Kantor Kemenpera, Jakarta, Selasa (7/2/2012). ³Anggaran yang disiapkan pemerintah untuk membangun Rusunawa di Bantaran Kali Ciliwung sekitar Rp 9 Triliun,´ ungkap Menpera. Mensukseskan pelaksanaan pembangunan Rusunawa di Kali Ciliwung, demikian disampaikannya, diperlukan koordinasi antar kementerian terkait serta melibatkan pemerintah daerah (Pemda) DKI Jakarta. ³Dalam minggu ini akan dilaksanakan rapat koordinasi untuk membahas program pembangunan Rusunawa Kali Ciliwung. Dalam rapat ini nantinya akan dihadiri Menko Kesra, Menteri PU, Menpera dan Gubernur DKI Jakarta,´ ia mengemukakan. Lebih jauh ia katakan, terkait dengan lokasi pembangunan Rusunawa, pihaknya akan berkonsentrasi di tanah milik TNI di daerah Berlan yang berada tidak jauh dari Stasiun

Manggarai. Di sana terdapat Kompleks Zeni yang dihuni sekitar 15 anggota TNI aktif dan 20 KK purnawirawan. Ke depan, warga akan menempati rumah tersebut dengan sistem sewa. Sedangkan pengelolaan Rusunawa Kali Ciliwung akan dilaksanakan oleh Perumnas. ³Kompleks Zeni nantinya akan dipindah. Sedangkan para purnawirawan dan warga yang tinggal di sana akan dipioritaskan untuk tinggal di Rusunawa tersebut. Sedangkan pengelolaannya hampir dapat dipastikan dilaksanakan oleh Perumnas,´ terangnya. (Andri Malay/Tribunnews)

http://industri.kontan.co.id/news/rp-9-triliun-untuk-bangun-rusunawa-di-ciliwung