BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.

Definisi Kelumpuhan nervus fasialis ( N VII ) merupakan kelumpuhan otot-otot wajah dimana pasien tidak atau kurang dapat menggerakkan otot wajah, sehingga wajah pasien tidak simetris. Hal ini tampak sekali ketika pasien diminta untuk menggembungkan pipi dan mengerutkan dahi.1 2.2. Anatomi dan Fisiologi Nervus Fasialis Saraf fasialis mempunyai 2 subdivisi , yaitu:5,6 1. Nervus fasialis yang sebenarnya: yaitu nervus fasialis yang murni untuk mempersarafi otot-otot ekspresi wajah, otot platisma, stilohioid, digastrikus bagian posterior dan stapedius di telinga tengah. 2. Saraf intermediet (pars intermedius wisberg), yaitu subdivisi saraf yang lebih tipis yang membawa saraf aferen otonom, eferen otonom, aferen somatis.
- Aferen otonom: mengantar impuls dari alat pengecap di dua pertiga depan

lidah. Sensasi pengecapan dari 2/3 bagian depan lidah dihantar melalui saraf lingual ke korda timpani dan kemudian ke ganglion genikulatum dan kemudian ke nukleus traktus solitarius.
- Eferen otonom (parasimpatik eferen):

datang dari nukleus salivatorius

superior. Terletak di kaudal nukleus. Satu kelompok akson dari nukleus ini, berpisah dari saraf fasilalis pada tingkat ganglion genikulatum dan diperjalanannya akan bercabang dua yaitu ke glandula lakrimalis dan glandula mukosa nasal. Kelompok akson lain akan berjalan terus ke kaudal dan menyertai korda timpani serta saraf lingualis ke ganglion submandibularis. Dari sana, impuls berjalan ke glandula sublingualis dan submandibularis, dimana impuls merangsang salivasi.

- Aferen somatik: rasa nyeri (dan mungkin juga rasa suhu dan rasa raba) dari

sebagian daerah kulit dan mukosa yang disarafi oleh nervus trigeminus. Daerah overlapping (disarafi oleh lebih dari satu saraf atau tumpang tindih) ini terdapat di lidah, palatum, meatus akustikus eksterna, dan bagian luar membran timpani. Inti motorik nervus VII terletak di pons. Serabutnya mengitari nervus VI, dan keluar di bagian lateral pons. Nervus intermedius keluar di permukaan lateral pons di antara nervus VII dan nervus VIII. Ketiga nervus ini bersama-sama memasuki meatus akustikus internus. (lihat gambar 2) Di dalam meatus ini, saraf fasialis dan intermediet berpisah dari saraf VIII dan terus ke lateral dalam kanalis fasialis, kemudian ke atas ke tingkat ganglion genikulatum. Pada ujung akhir kanalis , saraf fasialis meninggalkan kranium melalui foramen stilomastoideus. Dari titik ini, serat motorik menyebar di atas wajah. Dalam melakukan penyebaran itu, beberapa melubangi glandula parotis.5,6

Sewaktu meninggalkan pons, nervus fasialis beserta nervus intermedius dan nervus VIII masuk ke dalam tulang temporal melalui porus akustikus internus. Dalam perjalanan di dalam tulang temporal, nervus VII dibagi dalam 3 segmen, yaitu segmen labirin, segman timpani dan segmen mastoid.1 Segmen labirin terletak antara akhir kanal akustik internus dan ganglion genikulatum . panjang segmen ini 2-4 milimeter.1 Segmen timpani (segmen vertikal), terletak di antara bagian distal ganglion genikulatum dan berjalan ke arah posterior telinga tengah , kemudian naik ke arah tingkap lonjong (venestra ovalis) dan stapes, lalu turun kemudian terletak sejajar

tumor.1 Nukleus fasialis juga menerima impuls dari talamus yang mengarahkan yang mengarahkan gerakan ekspresi emosional pada otot-otot wajah.6 2.dengan kanal semisirkularis horizontal.1 Segmen mastoid ( segmen vertikal) mulai dari dinding medial dan superior kavum timpani .3. Bagian ini merupakan bagian paling posterior dari nervus VII.1. Infeksi Telinga tengah yang dapat menimbulkan parese nervus . Infeksi intracranial yang menyebabkan kelumpuhan ini seperti pada Sindrom Ramsay-Hunt. Juga ada hubungan dengan gangglion basalis. Panjang segmen ini kira-kira 12 milimeter. idiopatik. dan penyakit-penyakit tertentu. sehingga mudah terkena trauma pada saat operasi.Etiologi Penyebab kelumpuhan nervus fasialis bisa disebabkan oleh kelainan congenital. trauma. Jika bagian ini atau bagian lain dari sistem piramidal menderita penyakit penyakit.3 1. gangguan pembuluh darah. panjang segmen ini 15-20 milimeter. perubahan posisi dari segman timpani menjadi segmen mastoid.1 Pada parese nervus fasialis bilateral dapat terjadi karena adanya gangguan perkembangan nervus fasialis dan seringkali bersamaan dengan kelemahan okular (sindrom Moibeus). disebut segman piramidal atau genu eksterna. Herpes otikus. infeksi. Kongenital Kelumpuhan yang didapat sejak lahir ( congenital ) bersifat irreversible dan terdapat bersamaan dengan anomaly pada telinga dan tulang pendengaran.3 2. Infeksi Proses infeksi di intracranial atau infeksi telinga tengah dapat menyebabkan kelumpuhan nervus fasialis. Selanjutnya segmen ini berjalan ke arah kaudal menuju segmen stilomaoid . mungkin terdapat penurunan atau hilangnya ekspresi wajah (hipomimia atau amimi).

Biasanya berasal dari tumor payudara. khususnya bila terjadi fraktur longitudinal. luka tembak serta penekanan forsep saat lahir juga bisa menjadi penyebab. kista dan tumor ganas maupun jinak dari kelenjar parotis bisa menginvasi cabang akhir dari nervus fasialis yang berdampak sebagai bermacam-macam tingkat kelumpuhan. Juga dilaporkan bahwa penyebaran langsung dari tumor regional dan sel schwann. Tumor Tumor yang bermetastasis ke tulang temporal merupakan penyebab yang paling sering ditemukan.2 trigeminal dan operasi 5. Selain itu luka tusuk.fasialis adalah otitis media supuratif kronik ( OMSK ) yang telah merusak Kanal Fallopi. Idiopatik ( Bell’s Palsy ) Parese Bell merupakan lesi nervus fasialis yang tidak diketahui penyebabnya atau tidak menyertai penyakit lain. arteri maksilaris dan arteri serebri media. Nervus fasialis pun dapat cedera pada operasi mastoid.2 4. Trauma Parese nervus fasialis bisa terjadi karena trauma kepala.1 6. paru-paru. terutama jika terjadi fraktur basis cranii.1 3. karena pelebaran aneurisma arteri karotis dapat mengganggu fungsi motorik nervus fasialis secara ipsilateral.Pada parese Bell terjadi . dan prostat. operasi neuroma akustik/neuralgia kelenjar parotis. Gangguan Pembuluh Darah Gangguan pembuluh darah yang dapat menyebabkan parese nervus fasialis diantaranya thrombosis arteri karotis. Pada kasus yang sangat jarang.

3 2. Gejala dan Manifestasi Klinis Otot-otot bagian atas wajah mendapat persarafan dari 2 sisi. bila penderita tertawa secara spontan. tetapi pasien kurang dapat mengangkat sudut mulut (menyeringai. mengerutkan dahi dan menutup mata (persarafan bilateral) . semua gerakan otot wajah. sekitar mata dan dahi yang mendapat persarafan dari 2 sisi.5 Pada lesi motor neuron. Lesi supranuklir (upper motor neuron) nervus . baik yang volunter maupun yang involunter. Pada gangguan sentral. hepertensi berat.edema nervus fasialis. maka sudut mulut dapat terangkat. Karena itu. terdapat perbedaan antara gejala kelumpuhan saraf VII jenis sentral dan perifer. Fasialis. Karena terjepit di dalam foramen stilomastoideus dan menimbulkan kelumpuhan tipe LMN yang disebut sebagai Bell’s Palsy.3 7. anestesi local pada pencabutan gigi. tidak lumpuh . yang lumpuh ialah bagian bawah dari wajah.5 Bagian inti motorik yang mengurus wajah bagian bawah mendapat persarafan dari korteks motorik kontralateral. sedangkan bagian atasnya tidak. memperlihatkan gigi geligi) pada sisi yang lumpuh bila disuruh. Karenanya kerusakan sesisi pada upper motor neuron dari nervus VII (lesi pada traktus piramidalis atau korteks motorik) akan mengakibatkan kelumpuhan pada otot-otot wajah bagian bawah. Penderitanya masih dapat mengangkat alis. lumpuh. Penyakti-penyakit tertentu Parese fasialis perifer dapat terjadi pada penyakit-penyakit tertentu. sedangkan yang mengurus wajah bagian atas mendapat persarafan dari kedua sisi korteks motorik (bilateral) (gambar 3). Pada gangguan N VII jenis perifer (gangguan berada di inti atau di serabut saraf) maka semua otot sesisi wajah lumpuh dan mungkin juga termasuk cabang saraf yang mengurus pengecapan dan sekresi ludah yang berjalan bersama N. sindrom Guillian Barre. Kontraksi involunter masih dapat terjadi. misalnya DM. infeksi telinga tengah.4.

(Lihat gambar 4) 3. Hal ini dapat dijumpai pada strok dan lesi-butuh-ruang (space occupying lesion) yang mengenai korteks motorik. 5 Gejala dan tanda klinik yang berhubungan dengan lokasi lesi . 2. talamus.VII sering merupakan bagian dari hemiplegia. Lesi di kanalis fasialis (melibatkan korda timpani) .6 1. makan terkumpul di antara pipi dan gusi. Lesi di luar foramen stilomastoideus Mulut tertarik kearah sisi mulut yang sehat. Kelumpuhan nervus VII supranuklir pada kedua sisi dapat dijumpai pada paralisis pseudobulber. Lipatan kulit dahi menghilang. kapsula interna. mesensefalon dan pons di atas inti nervus VII. Apabila mata yang terkena tidak ditutup atau tidak dilindungi maka air mata akan keluar terus menerus. Dalam hal demikian pengecapan dan salivasi tidak terganggu.

dan kegagalan lakrimal.Gejala dan tanda klinik seperti pada (1). ditambah dengan hilangnya ketajaman pengecapan lidah (2/3 bagian depan) dan salivasi di sisi yang terkena berkurang. Sindrom Ramsay-Hunt adalah parese fasialis perifer yang berhubungan dengan herpes zoster di ganglion genikulatum. terjadi tinitus. sekaligus menunjukkan lesi di antara pons dan titik dimana korda timpani bergabung dengan nervus fasialis di kanalis fasialis. nervus akustikus dan kadang – kadang juga nervus abdusen. disertai gejala dan tanda terlibatnya nervus trigeminus. Lesi di kanalis fasialis lebih tinggi lagi (melibatkan muskulus stapedius) Gejala dan tanda klinik seperti (1) dan (2) di tambah dengan hiperakusis. 6. Lesi ditempat keluarnya nervus fasialis dari pons. Lesi ditempat yang lebih tinggi lagi (melibatkan ganglion genikulatum) Gejala dan tanda kilinik seperti pada (1). 4. Tanda-tandanya adalah herpes zoster otikus . kegagalan pendengaran. Gejala dan tanda klinik sama dengan diatas. Kasus seperti ini dapat terjadi pascaherpes di membrana timpani dan konka. dengan nyeri dan pembentukan vesikel dalam kanalis auditorius dan dibelakang aurikel (saraf aurikularis posterior). Hilangnya daya pengecapan pada lidah menunjukkan terlibatnya nervus intermedius. nervus aksesorius dan nervus hipoglossus. 5. gangguan pengecapan.(3) disertai dengan nyeri di belakang dan didalam liang telinga. 3. Lesi di meatus akustikus internus Gejala dan tanda klinik seperti diatas ditambah dengan tuli akibat terlibatnya nervus akustikus. .(2). pengeluaran air mata dan salivasi.

Pertengahan grade ini sistem berbeda penyesuaian dari fungsi ini pada istirahat dan dengan kegiatan. pada klasifikasi ini grade 1 merupakan fungsi yang normal dan grade 6 merupakan parese yang komplit.5. Beberapa sistem telah usulkan tetapi semenjak pertengahan 1980. Ini diringkas dalam tabel:7 Grade I II Penjelasan Normal Disfungsi ringan Karakteristik Fungsi fasial normal Kelemahan yang sedikit yang terlihat pada inspeksi dekat. bisa ada sedikit sinkinesis. Klasifikasi Parese Fasialis Gambaran dari disfungsi motorik fasial ini sangat luas dan karakteristik dari parese ini sangat sulit. Sistem house-Brackmann yang selalu atau sangat dianjurkan .2. Pada istirahat simetri dan selaras. Pergerakan dahi sedang sampai baik Menutup mata dengan usaha yang minimal Terdapat sedikit asimetris pada mulut jika .

Tujuan pemeriksaan fungsi nervus fasialis adalah untuk menentukan letak lesi dan menentukan derajat kelumpuhannya.1 1.melakukan pergerakan III Disfungsi sedang Terlihat tapi tidak tampak adanya perbedaan antara kedua sisi Adanya sinkinesis ringan Dapat ditemukam spasme atau kontraktur hemifasial Pada istirahat simetris dan selaras Pergerakan dahi ringan sampai sedang Menutup mata dengan usaha Mulut sedikit lemah dengan pergerakan yang IV Disfungsi sedang berat maksimum Tampak kelemahan bagian wajah yang jelas dan asimetri Kemampuan menggerakkan dahi tidak ada Tidak dapat menutup mata dengan sempurna V Disfungsi berat Mulut tampak asimetris dan sulit digerakkan.5. Pemeriksaan fungsi saraf motorik . Uji Diagnostik Diagnosis ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan fungsi nervus fasialis. Wajah tampak asimetris Pergerakan wajah tidak ada dan sulit dinilai Dahi tidak dapat digerakkan Tidak dapat menutup mata VI Total parese Mulut tidak simetris dan sulit digerakkan Tidak ada pergerakkan 2.

M. Frontalis b. (3) Untuk gerakan yang normal dan simetris dinilai dengan angka tiga dengan cara memoncongkan mulut yang tertutup . M. M. kita bandingkan antara kanan dan kiri : a. M. M. Sourcilier c. Zigomatikus : diperiksa dengan cara memejamkan kedua mata kuat-kuat diperiksa dengan cara tertawa lebar sambil memperlihatkan gigi f. Piramidalis : : : diperiksa dengan cara mengangkat alis ke atas. M. Adapun urutan ke-10 otot-otot tersebut dari sisi superior adalah sebagai berikut : a. Relever Komunis : diperiksa memoncongkan g. M. Triangularis j. Mentalis : : penderita bersiul diperiksa dengan cara menarik kedua sudut bibir ke bawah diperiksa rapat ke depan Pada tiap gerakan dari ke 10 otot tersebut. Businator : diperiksa diperiksa dengan mulut dengan dengan cara cara kedepan cara menyuruh sambil memperlihatkan gigi menggembungkan kedua pipi h. M. M. M. diperiksa dengan cara mengerutkan alis diperiksa dengan cara mengangkat dan mengerutkan hidung ke atas d. Orbikularis Oris : i. Orbikularis Okuli : e.Terdapat 10 otot-otot utama wajah yang bertanggung jawab untuk terciptanya mimic dan ekspresi wajah seseorang.

1 3.1 2. Gustometri .b. Apabila terdapat hipotonus maka nilai tersebut dikurangi satu (-1) sampai minus dua (-2) pada setiap tingkatan tergantung dari gradasinya. Penilaian tonus seluruhnya berjumlah lima belas (15) yaitu seluruhnya terdapat lima tingkatan dikalikan tiga untuk setiap tingkatan. bukan pada setiap otot. Freyss menganggap penting akan fungsi tonus sehingga mengadakan penilaian pada setiap tingkatan kelompok otot muka. Cawthorne mengemukakan bahwa tonus yang jelek memberikan gambaran prognosis yang jelek. Tonus Pada keadaan istirahat tanpa kontraksi maka tonus otot menentukan terhadap kesempurnaan mimic / ekspresi muka. Sedikit ada gerakan dinilai dengan angka satu ( 1 ) Diantaranya dinilai dengan angka dua ( 2 ) Tidak ada gerakan sama sekali dinilai dengan angka nol ( 0 ) Seluruh otot ekspresi tiap sisi muka dalam keadaan normal akan mempunyai nilai tiga puluh ( 30 ). d. c.

Salivasi Pemeriksaan uji salivasi dapat dilakukan dengan melakukan kanulasi kelenjar submandibularis. Caranya dengan menyelipkan tabung polietilen no 50 kedalam duktus Wharton. Bila bubuk ditaruh. salah satu cabang nervus fasialis.2 Pemeriksaan dilakukan dengan cara penderita disuruh menjulurkan lidah. Berkurangnya aliran ludah sebesar 25 % dianggap abnormal.1 4. Penderita disuruh untuk menyatakan pengecapan yang dirasakannya dengan isyarat. asam sitrat atau garam pada lidah penderita. Gangguan yang sama dapat terjadi pada jalur .Sistem pengecapan pada 2/3 anterior lidah dipersarafi oleh n.1 Kerusakan pada N VII sebelum percabangan korda timpani dapat menyebabkan ageusi (hilangnya pengecapan). Volume dapat dibandingkan dalam 1 menit. kina. Hali ini dilakukan secara bergiliran dan diselingi istirahat. Korda timpani. kemudian pemeriksa menaruh bubuk gula. Freyss menetapkan bahwa beda 50% antara kedua sisi adalah patologis.2 Pada pemeriksaan fungsi korda timpani adalah perbedaan ambang rangsang antara kanan dan kiri. Sepotong kapas yang telah dicelupkan kedalam jus lemon ditempatkan dalam mulut dan pemeriksa harus melihat aliran ludah pada kedua tabung. 2 untuk rasa pahit. sebab bubuk akan tersebar melalui ludah ke sisis lidah lainnya atau ke bagian belakang lidah yang persarafannya diurus oleh saraf lain. dan 4 untuk rasa asam. penderita tidak boleh menarik lidahnya ke dalam mulut. misalnya 1 untuk rasa manis. 3 untuk rasa asin.

1. panjang dari bagian strip yang menjadi basah dibandingkan dengan sisi satunya.5 cm panjang 5-10 cm pada dasar konjungtiva. stapedius cabang N.ini dan juga pengecapan.2 6. Kerusakan pada atau di atas nervus petrosus mayor dapat menyebabkan berkurangnya produksi air mata. Refleks Stapedius Untuk menilai reflex stapedius digunakan elektoakustik impedans meter.2 5.VII.2 Tes Schimer dilakukan untuk menilai fungsi lakrimasi dari mata. yaitu dengan cara memberikan ransangan pada muskulus stapedius yang bertujuan untuk mengetahui fungsi N. karena keduanya ditransmisi oleh saraf korda timpani. Schimer Test atau Naso-Lacrymal Reflex Dianggap sebagai pemeriksaan terbaik untuk pemeriksaan fungsi serabut-serabut pada simpatis dari nervus fasialis yang disalurkan melalui nervus petrosus superfisialis mayor setinggi ganglion genikulatum. 7. Setelah tiga menit.1. Uji audiologik . Cara pemeriksaan dengan meletakkan kertas hisap atau lakmus lebar 0. Freys menyatakan bahwa kalau ada beda kanan dan kiri lebih atau sama dengan 50% dianggap patologis.

Jika nada tersebut diperdengarkan pada belahan telinga yang normal. Kalau pergerakan pada sisi paresis lebih (hiper) dibandingkan . Penderita diminta untuk memenjamkan mata kuat-kuat kemudian kita melihat pergerakan otot-otot pada daerah sudut bibir atas. Uji ini bermanfaat dalam mendeteksi patologi kanalis akustikus internus. Suatu tuli konduktif dapat memberikan kesan suatu kelainan dalam telinga tengah. maka mungkin gangguan saraf pada telinga tengah. Jika terjadi parese saraf ketujuh pada waktu otitis media akut.Setiap pasien yang menderita paralisis nervus fasialis perlu menjalani pemeriksaan audiogram lengkap. Cara mengetahui ada tidaknya sinkinesis adalah sebagai berikut :1 a. perlu dipertimbangkan suatu sumber infeksi. Pengujian reflek dapat dilakukan pada telinga ipsilateral atau kontralateral dengan menggunakan suatu nada yang keras. timpanometri dan reflex stapes. Pengujian termasuk hantaran udara dan hantaran tulang. Gerakan ini mengubah tegangan membrane timpani dan menyebabkan perubahan impedansi rantai osikular. Sinkinesis Sinkinesis menetukan suatu komplikasi dari parese nervus fasialis yang sering kita jumpai. Fungsi saraf cranial kedelapan dapat dinilai dengan menggunakan uji respon auditorik yang dibangkitkan dari batang otak.2 8. yang akan membangkitkan respon suatu gerakan reflek dari otot stapedius. Kalau pergerakan normal pada kedua sisi dinilai dengan angka dua (2). dan dengan memandang syaraf fasialis yang terpapar pada daerah ini. dan reflek ini pada perangsangan kedua telinga mengesankan suatu kelainan pada bagian aferen saraf kranialis.

Hemispasme Hemispasme merupakan suatu komplikasi yang sering dijumpai pada penyembuhan parese fasialis yang berat.1 2. Pada penderita yang berat kadang-kadang otot-otot platisma di daerah leher juga ikut bergerak.dengan sisi normal nilainya dikurangi satu (-1) atau dua (-2). Gradasi paresis fasialis dibandingkan dengan nilai tersebut dikalikan dua untuk persentasenya. Penderita diminta untuk tertawa lebar sambil memperlihatkan gigi. Nilai nol (0) kalau pergerakan tidak simetris. Diperiksa dengan cara penderita diminta untuk melakukan gerakan-gerakan bersahaya seperti mengedip-ngedipkan mata berulang-ulang maka bibir akan jelas tampak gerakan otot-otot pada sudut bibir bawah atau sudut mata bawah. Nilai satu (1) kalau pergerakan normal. Pemeriksaan Penunjang . Untuk setiap gerakan hemispasme dinilai dengan angka (-1). Sinkinesis juga dapat dilihat pada waktu penderita berbicara (gerakan emosi) dengan memperhatikan pergerakan otot-otot sekitar mulut. tergantung dari gradasinya.1 Fungsi motorik otot-otot tiap sisi wajah orang normal seluruhnya berjumlah lima puluh (50) atau 100%. kemudian kita melihat pergerakan otot-otot pada sudut mata bawah.6. 9. Penilaian seperti pada (a). c. b.

maka kemungkinan sembuh juga berkurang secara bermakna. Potensial fibrilasi merupakan suatu tanda positif yang menunjukkan kepulihan sebagian serabut. Namun. Fisch Eselin melaporkan bahwa suatu penurunan sebesar 25 persen berakibat . EMG akan memperlihatkan potensial denervasi.2 2. Kecepatan hantaran saraf dapat diperhitungkan.Salah satu pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk mengetahui parese nervus fasialis adalah dengan uji fungsi saraf. Potensial ini terlihat sebelum 21 hari. Sebelum 21 hari. Elektroneuronografi (ENOG) ENOG memberi informasi lebih awal dibandingkan dengan EMG. Elektromiografi (EMG) EMG sering kali dilakukan oleh bagian neurologi. pola denervasi. dan uji stimulasi maksimal. Bila terdapat reduksi 90% pada ENOG bila dibandingkan dengan sisi lainnya dalam sepuluh hari.2 1. Pemeriksaan ini bermanfaat untuk menentukan perjalanan respons reinervasi pasien. ENOG melakukan stimulasi pada satu titik dan pengukuran EMG pada satu titik yang lebih distal dari saraf. jika wajah tidak bergerak. Pola EMG dapat diklasifikasikan sebagai respon normal. nilai suatu EMG sangat terbatas kurang dari 21 hari setelah paralisis akut. pola fibrilasi. Elektroneuronografi (ENOG). Terdapat beberapa uji fungsi saraf yang tersedia antara lain Elektromigrafi (EMG). atau suatu pola yang kacau yang mengesankan suatu miopati atau neuropati.

2 . ala nasi. Tiap gerakan di daerah-daerah ini menunjukkan suatu respons normal. alis. Dahi. Statistik menganjurkan bahwa bentuk pengujian yang paling dapat diandalkan adalah uji fungsi saraf secara langsung. dan bibir bawah diuji dengan menyapukan elektroda secara perlahan. maka 100 persen akan mengalami pemulihan fungsi yang tidak lengkap. Perbedaan respons yang kecil antara sisi yang normal dengan sisi yang lumpuh dianggap sebagai suatu tanda kesembuhan. Uji Stimulasi Maksimal Uji stimulasi merupakan suatu uji dengan meletakkan sonde ditekankan pada wajah di daerah saraf fasialis. 92 persen penderita Bell’s Palsy kembali dapat melakukan beberapa fungsi. Penurunan yang nyata adalah apabila terjadi kedutan pada sisi yang lumpuh dengan besar arus hanya 25 persen dari arus yang digunakan pada sisi yang normal. daerah periorbital. Bila respon elektris hilang.2 3.penyembuhan tidak lengkap pada 88 persen pasien mereka. sementara 77 persen pasien yang mampu mempertahankan respons di atas angka tersebut mengalami penyembuhan normal saraf fasialis. pipi. atau sampai pasien merasa tidak nyaman. Arus kemudian dinaikkan perlahan-lahan hingga 5 ma. Bila dibandingkan setelah 10 hari.

Facial Excercise Basahkan handuk dengan air panas. Kemudian pasien diminta untuk memasase otot-otot wajah yang lumpuh terutama daerah sekitar mata.8Kegiatan ini dilakukan selama 5 menit 2 kali sehari. Electrical Stimulation .7. Dikutip dari Eur Arch Otorhinolaryngol (2008) 265:743– 752 2. mengangkat dan mengerutkan hidung.Gambar 5. Face Massage. Fisioterapi 1.3 2. mulut dan daerah tengah wajah. Heat Theraphy. Setelah itu pasien diminta untuk berdiri didepan cermin dan melakukan beberapa latihan wajah seperti mengangkat alis mata.2. setelah itu handuk diperas dan diletakkan dimuka hingga handuk mendingin. memejamkan kedua mata kuat-kuat.Masase dilakukan dengan menggunakan krim wajah dan idealnya juga dengan menggunakan alat penggetar listrik. Pengobatan terhadap parese nervus fasialis A.8 1. Penatalaksanaan Pengobatan terhadap parese nervus VII dapat dikelompokkan dalam 3 bagian : 1.3. menggembungkan pipi dan menyeringai. bersiul.

pembengkakkan. Vasokonstriktor. Sodium Kromoglikat Diberikan pada parese nervus fasialis jika dipikirkan adanya reaksi alergi. 2. Antimikroba Obat ini diberikan pada kelumpuhan nervus fasialis yang disebabkan oleh kompresi nervus fasialis pada kanal falopi.8 B. Asam Nikotinik Pada parese nervus fasialis yang dikarenakan iskemiaAsam nikotinik dan obat-obatan yang bekerja menghambat ganglion simpatik servikal digunakan untuk memicu vasodilatasi sehingga dapat meningkatkan suplai darah ke nervus fasialis. Farmakologi Obat-obatan yang dapat diberikan dalam penatalaksanaan parese nervus fasialis antara lain8: 1. 5.Stimulasi energi listrik dengan aliran galvanic berenergi lemah. dan inflamasi pada keadaan diatas.2 Tindakan ini bertujuan untuk memicu kontraksi buatan pada otototot yang lumpuh dan juga berfungsi untuk mempertahankan aliran darah serta tonus otot. 4. Antivirus . Obat ini bekerja mengurangi bendungan . 3. Steroid Obat ini diberikan untuk mengurangi proses inflamasi yang menyebabkan Bell’s Palsy.

8 2. Pasien diminta . biofeedback. C. Pengobatan Psikofisikal Akupuntur. C. Perawatan mata ditujukan untuk menjaga kelembaban mata agar tidak terjadi keratitis dan kerusakan kornea. dan electromyographic feedback dilaporkan dapat membantu pentembuhan Bell’s Palsy. Pengobatan Sekuele ( Gejala Sisa ) Pengobatan terhadap gejala sisa yang dapat dilakukan antara lain 8: A.Baru-baru ini antivirus diberikan dengan atau tanpa penggunaan prednisone secara simultan. Nyeri Sebagian pasien dengan Bell’s Palsy dan hampir seluruh pasien dengan Herpes Zooster Cephalic merasakan nyeri. Depresi Pasien dengan parese nervus fasialis memiliki ketakutan bahwa mereka memiliki penyakit yang mengancam jiwa ataupun penyakit yang melibatkan pembuluh darah otak. Nyeri ini dapat diatasi dengan analgesic non-narkotik. Dapat diberikan steroid dengan dosis awal 1 mg/ kg BB/ hari dan tapering off setelah 10 hari penggunaan. Konseling dan terapi kelompok yang melibatkan penderita dengan usia yang sama terbukti efektif untuk mengatasi depresi tersebut. B. Perawatan Mata Secara umum.

Di perkirakan bahwa serat sekretoris untuk kelenjar air liur tumbuh ke dalam selubung Schwann dari serat yang cedera yang berdegenerasi dan pada asalnya serat tersebut bertanggung jawab untuk glandula lakrimalis6. 3. Sindrom air mata buaya (refleks gastrolakrimalis paradoksikal) tampaknya didasarkan oleh persarafan baru yang salah.1 2. dapat menjelaskan kontraktur atau sinkinesis (gerakan yang berhubungan) dalam otot-otot mimik wajah6. Persarafan baru yang abnormal ini. . Komplikasi Setelah kelumpuhan fasial perifer. Indikasi Untuk Operasi Pada kasus dengan gangguan hantaran berat atau sudah terjadi denervasi total. regenerasi saraf yang rusak. tindakan operatif segera harus dilakukan dengan teknik dekompresi nervus fasialis transmastoid.8. terutama serat otonom dapat sebagian atau pada arah yang salah.untuk meengedipkan mata 2 sampai 4 kali permenit disamping penggunaan obat tetes mata. Serat yang terlindung mungkin memberikan akson baru yang tumbuh ke dalam bagian yang rusak.

Peter Duus. 7. Jakarta : Balai Penerbit FK-UI. Jakarta : Balai Pustaka.htm. Gejala. Kelumpuhan Nervus Fasialis Perifer. Facial Nerve Paralysis. The Facial Nerve. 2000. Mark and Barry M.2006. Maisel R. Chapter 10 : Facial Nerve Paralysis. SM. Diagnosis Topik Neurologi Anatomi. dari 8. Sjarifuddin. Facial Nerve Anatomy : http/facialparalysisinstitute. Neurologi Klinik. Lumbotobing.Oktober 2008 Jakarta : Balai Penerbit FK-UI. Gangguan Saraf Fasialis. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher.Lee.2006. 3. K.com/plastic/topic522. Essential Otolaryngology and Head and Neck Surgery. Tanda.emedicine. IIIrd Edition. 6. Fisiologi. 6th ed.com.J.20 November 2008 Thieme. May. Pemeriksaan Fisik dan Mental.1996. Diakses dari 5. 1997. Diakses www. John YS Kim. Dalam Boies Buku Ajar Penyakit THT edisi 6. Iskandar N editors.DAFTAR PUSTAKA 1. In : Soepardi EA. Levine S. 2007. 2. Schaizkin. 4. Bashiruddin J. Bramantyo B. New York : . Jakarta : EGC.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful