BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Krisis multidimensional yang tengah melanda bangsa Indonesia telah menyadarkan kepada kita semua akan pentingnya menggagas kembali konsep otonomi daerah dalam arti yang sebenarnya. Gagasan penataan kembali sistem otonomi daerah bertolak dari pemikiran untuk menjamin terjadinya efisiensi, efektivitas, transparansi, akuntabilitas dan demokratisasi nilai-nilai kerakyatan dalam praktik penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Era reformasi saat ini memberikan peluang bagi perubahan paradigma pembangunan nasional dari paradigma pertumbuhan menuju paradigma pemerataan pembangunan secara lebih adil dan berimbang. Perubahan paradigma ini antara lain diwujudkan melalui kebijakan otonomi daerah dan perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diatur dalam satu paket undang-undang yaitu: Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Hal-hal yang mendasar dalam undang-undang ini adalah kuatnya upaya untuk mendorong pemberdayaan masyarakat, pengembangan prakarsa dan kreativitas, peningkatan peran serta masyarakat dan pengembangan peran dan fungsi DPRD. UU ini memberikan otonomi secara penuh kepada daerah kabupaten dan kota untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut

1

prakarsa dan aspirasi masyarakatnya. Artinya, saat sekarang daerah sudah diberi kewenangan penuh untuk merencanakan, melaksanakan, mengawasi, mengendalikan dan mengevaluasi kebijakan-kebijakan daerah. Dengan semakin besarnya partisipasi masyarakat ini, desentralisasi kemudian akan mempengaruhi komponen kualitas pemerintahan lainnya. Salah satunya berkaitan dengan pergeseran orientasi pemerintah, dari command and control menjadi berorientasi pada tuntutan dan kebutuhan publik. Orientasi yang seperti ini kemudian akan menjadi dasar bagi pelaksanaan peran pemerintah sebagai stimulator, fasilitator, koordinator dan entrepreneur (wirausaha) dalam proses pembangunan. Kebijakan desentralisasi yang diwujudkan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah tersebut yang telah diimplementasikan dalam sistem administrasi publik baik di tingkat Pusat, Propinsi maupun Kabupaten/Kota. Implementasi kebijakan publik tersebut dalam kurun waktu 2001-2004 telah dievaluasi kembali dan kedua Undang-Undang tersebut kemudian direvisi dengan Undang-Undang Otonomi Daerah yang baru yaitu Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Melihat substansi undangundang yang baru, nampak terjadinya perubahan dan improvisasi sehingga otomatis akan membawa perubahan pada tahapan implementasi kebijakan publik dalam penyelenggaraan otonomi daerah.

2

Kedua. Pertama. Saat ini. hampir tiap negara bersiap-siap untuk menyambut dan menghadapi era perdagangan bebas. dan bertanggung jawab kepada daerah merupakan langkah strategis dalam dua hal. otonomi daerah dan desentralisasi fiskal merupakan langkah strategis bangsa Indonesia untuk menyongsong era globalisasi ekonomi dengan memperkuat basis perokonomian daerah. baik dalam kerangka AFTA.Kebijakan pemberian otonomi daerah dan desentralisasi yang luas. rendahnya kualitas hidup masyarakat dan masalah pembangunan sumber daya manusia (SDM). Hal tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan investasi dalam negeri serta mampu mendorong masyarakat untuk bermain di pasar global. kemiskinan. Pemberian otonomi daerah diharapkan dapat meningkatkan efisiensi. APEC maupun WTO. otonomi daerah dan desentralisasi merupakan jawaban atas permasalahan lokal bangsa Indonesia berupa ancaman disintegrasi bangsa. Salah satu implikasi dari kondisi di atas adalah adanya tuntutan masyarakat yang semakin tinggi terhadap efisiensi dan efektivitas sektor publik (pemerintahan). Hal tersebut disebabkan pasar tidak akan kondusif jika sektor publiknya tidak efisien. Daerah dituntut untuk mencari alternatif sumber pembiayaan pembangunan tanpa mengurangi harapan masih adanya bantuan dan bagian (sharing) dari 3 . Dengan otonomi. efektivitas dan akuntabilitas sektor publik di Indonesia. Setiap negara berupaya secara maksimal untuk menciptakan kerangka kebijakan yang mampu menciptakan iklim perekonomian yang kondusif. ketidakmerataan pembangunan. nyata.

pemerintah pusat dan menggunakan dana publik sesuai dengan prioritas dan aspirasi masyarakat. Dengan kondisi seperti ini. efektif. Salah satu cara menghadapi dan memanfaatkan perdagangan internasional adalah meningkatkan daya saing melalui peningkatan efisiensi dan produktivitas kerja. Daerah juga diharapkan mampu menarik investor untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta menimbulkan efek multiplier yang besar. Arahan yang diberikan oleh Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tersebut pada dasarnya sudah sangat baik. peranan investasi swasta dan perusahaan milik daerah sangat diharapkan sebagai pemacu utama pertumbuhan dan pembangunan ekonomi daerah (enginee of growth). transparan dan akuntabel secara berkesinambungan? Dan benarkah dengan arahan tersebut mampu bersaing dalam era perdagangan global? Jawabannya tergantung pada formula atau rumusan yang diberikan oleh peraturan-peraturan pemerintah dan peraturan pelaksanaan lainnya. perlu dilakukan perubahan struktural untuk memperkuat kedudukan dan peran ekonomi rakyat dalam perekonomian nasional. Tetapi benarkah undang-undang tersebut dapat mewujudkan pemerintah daerah otonom yang efisien. Sebagai langkah awal untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Globalisasi ekonomi telah meningkatkan persaingan antar negara-negara dalam suatu sistem ekonomi internasional. Apabila semua peraturan pelaksanaan tersebut sudah 4 .

Banyak hal yang dapat memberikan kontribusi besar terhadap penguatan otonomi daerah dalam menghadapi perdagangan global yang diatur dalam perundang-undangan yang telah dijelaskan sebelumnya baik dari bidang kelembagaan maupun bidang ekonomi yang kesemuanya tersebut akan kami bahas dalam pembahasan makalah ini.2 Maksud dan Tujuan Adapun maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk membahas tentang bagaimana penguatan otonomi daerah dalam menghadapi perdagangan global. yaitu sebagai berikut : 1. dana alokasi khusus. dana perimbangan. Penguatan otonomi daerah melalui bidang kelembagaan meliputi struktur organisasi. Sedangkan tujuannya adalah untung mengetahui bagaimana langkah-langkah dalam menghadapi perdagangan global dengan penguatan otonomi daerah. pinjaman daerah. dana alokasi umum. sumber daya manusia dan kinerja DPRD.searah dengan undang-undang tersebut maka kemungkinan untuk mencapai tujuan tersebut akan semakin besar. 2. Penguatan otonomi daerah melalui bidang ekonomi meliputi pendapatan asli daerah. 5 . struktur APBD dan penguatan ekonomi kerakyatan. 1.

BAB II LANDASAN UMUM 2.1 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah 2.2 Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah 6 .

BAB III PENGUATAN OTONOMI DAERAH DALAM MENGHADAPI PERDAGANGAN GLOBAL 3. pembangunan.1. (4) terlaksananya program pemberdayaan masyarakat yang diprioritaskan pemerintah pusat oleh pemerintah daerah.1 Bidang Kelembagaan 3. Sasarannya adalah tersusunnya struktur organisasi yang tepat. terbangunnya hubungan kerja antar organisasi di lingkungan pemerintahan daerah. (5) mengembangkan hubungan kerja antara lembaga di lingkungan pemerintahan baik secara horizontal maupun 7 . kinerja kelembagaan yang tinggi. struktur organisasi dan peraturan perundang-undangan yang memadai guna menjamin pelaksanaan otonomi daerah. (2) berperannya lembaga pemerintah daerah yang mengemban fungsi khusus pemberdayaan masyarakat untuk mengelola urusan pemberdayaan masyarakat di daerah. Arah kebijakannya adalah (1) meningkatkan peran Gubernur sebagai Wakil Pemerintah dalam pengawasan penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten/Kota. dan pelayanan publik.1 Struktur Organisasi Tujuannya adalah meningkatkan kapasitas kelembagaan pemerintahan daerah yang menyangkut mekanisme kerja. (3) tersedianya kelembagaan pemerintah daerah yang menunjang bagi upaya memberdayakan masyarakat. antara organisasi pemerintah dan masyarakat dan terciptanya pemerintahan yang bersih.

(2) membentuk budaya organisasi pemerintahan daerah yang menerapkan prinsip kepemerintahan yang baik dan pelayanan prima. (5) belum optimalnya pelaksanaan sistem pelaporan dari daerah ke pusat. Permasalahannya adalah (1) belum tersusunnya kelembagaan pemerintahan daerah yang efektif dan efisien. (2) memfasilitasi pelaksanaan prinsip kepemerintahan yang baik. provinsi dan kabupaten/kota. kewenangan. (7) fasilitasi pembentukan daerah otonom baru. (5) memfasilitasi pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal. (3) membentuk model hubungan kerjasama antar daerah yang mampu mempercepat pengembangan wilayah dan mengurangi kesenjangan antar daerah. (3) belum tertatanya pembagian kewenangan pemerintah pusat. dan bentuk koordinasi antar satuan kerja.vertikal dan antar Pemerintah Daerah dengan masyarakat. (2) banyaknya usulan pembentukan daerah otonom baru. Tindak lanjut yang diperlukan adalah (1) memfasilitasi pelaksanaan Pedoman Organisasi Perangkat Daerah. (6) menata dan mengembangkan kerangka kerja peningkatan kapasitas kelembagaan Pemerintahan Daerah. Sedangkan tantangannya adalah (1) antisipasi terhadap pelaksanaan yang terkait dengan kelembagaan. (4) memfasilitasi kerjasama antar daerah. (4) belum terlaksananya Standar Pelayanan Minimal secara menyeluruh. (8) mengembangkan tersusunnya Standar Pelayanan Minimal. (6) meningkatkan fasilitasi penyusunan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah 8 . (3) mengetatkan proses pembentukan daerah otonom baru.

2 Sumber Daya Manusia Tujuannya adalah meningkatkan profesionalisme dan kemampuan manajemen aparat pemerintah daerah sesuai dengan kebutuhan guna mendukung penyelenggaraan otonomi daerah dan penciptaan pemerintahan daerah yang bersih.3. Sasarannya adalah tersedianya jumlah dan kualitas tenaga aparat pemerinntah daerah yang profesional dengan kualifikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan tugas serta wewenang. (2) memantapkan peran Gubernur sebagai wakil Pemerintah dalam hal fasilitasi penyelenggaraan pemerintahan di Daerah Kabupaten/Kota. (2) belum memadainya kemampuan teknis dan fungsional 9 . baik antar satuan kerja maupun antar daerah. kota dan desa yang didukung oleh kinerja yang tinggi. Arah kebijakannya adalah (1) meningkatkan kemampuan aparat dalam penataan dan pengembangan kelembagaan Pemerintah Daerah. Permasalahan yang dihadapi pada Program Peningkatan Kapasitas Aparat Pemerintah Daerah adalah (1) belum meratanya kemampuan sumber daya manusia aparat pemda. manajemen personil. pelayanan publik. baik pada tingkat provinsi maupun pada tingkat kabupaten. (3) meningkatkan kemampuan aparat dalam komunikasi terutama komunikasi antara para Legislatif dan Eksekutif dalam penyelenggaraan pemerintah daerah.1. pelaksanaan monitoring dan evaluasi serta pengawasan terhadap jalannya penyelenggaraan Pemerintah Daerah.

(4) belum memadainya pelaksanaan prinsip kepemerintahan yang baik. Sedangkan tantangan yang dihadapi dalam meningkatkan kapasitas aparatur pemda adalah (1) meningkatkan kemampuan teknis dan fungsional yang berbasis kinerja dan pelayanan prima bagi sumber daya manusia aparat pemda di seluruh daerah. (2) meningkatkan berbagai pelatihan teknis dan fungsional yang berbasis kinerja dan pelayanan prima bagi sumber daya manusia aparat pemda. (2) meningkatkan pemahaman dan pelaksanaan etika kepemimpinan daerah.3 Kinerja DPRD Pemberian otonomi daerah seluas-luasnya berarti pemberian kewenangan dan keleluasaan (diskresi) kepada daerah untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya daerah secara optimal. Agar tidak terjadi penyimpangan dan penyelewengan. pemberian wewenang dan keleluasaan yang luas tersebut harus diikuti dengan pengawasan yang 10 . Tindak lanjut yang diperlukan adalah (1) meningkatkan penyempurnaan rekruitmen sumber daya manusia aparat pemda. dan (3) meningkatkan pelaksanaan prinsip kepemerintahan yang baik. 3.sumber daya manusia aparat pemda dibandingkan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha. (3) meningkatkan pembinaan etika kepemimpinan daerah. (3) belum memadainya pemahaman dan pelaksanaan etika kepemimpinan daerah.1. (4) meningkatkan pembinaan bagi terlaksananya prinsip kepemerintahan yang baik (good governance).

atau akuntan publik yang independen. misalnya BPK. Untuk memperkuat fungsi pengawasan. tidak hanya pada tahap pelaksanaan dan pelaporan saja sebagaimana yang terjadi selama ini. maka dikhawatirkan pada tahap pelaksanaan akan mengalami banyak penyimpangan. Pengawasan oleh DPRD tersebut harus sudah dilakukan sejak tahap perencanaan.kuat. DPRD bisa membentuk badan ombudsmen yang berfungsi sebagai pengawas independen untuk mengawasi jalannya suatu lembaga publik. Penguatan fungsi pengawasan dapat dilakukan melalui optimalisasi peran DPRD sebagai kekuatan penyeimbang (balance of power) bagi eksekutif daerah dan partisipasi masyarakat secara langsung maupun tidak langsung melalui LSM dan organisasi sosial kemasyarakatan di daerah (social control). Namun untuk fungsi 11 . Akan tetapi harus dipahami oleh anggota DPRD bahwa pengawasan terhadap eksekutif daerah hanyalah pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan (policy) yang digariskan bukan pemeriksaan. Apabila DPRD lemah dalam tahap perencanaan (penentuan Arah dan Kebijakan Umum APBD). Dewan dapat meminta BPK atau auditor independen lainnya untuk melakukan pemeriksaan terhadap kinerja keuangan eksekutif. BPKP. Fungsi pemeriksaan hendaknya diserahkan kepada lembaga pemeriksa yang memiliki otoritas dan keahlian profesional. Hal ini penting karena dalam era otonomi. DPRD memiliki kewenangan untuk menentukan Arah dan Kebijakan Umum APBD.

sehingga Dewan dapat lebih berkonsentrasi pada permasalahan-permasalahan yang bersifat kebijakan. dari ³structural efficiency model³ yang menekankan efisiensi dan keseragaman pemerintahan lokal dirubah menjadi ³local democracy model³ dengan penekanan pada nilai-nilai demokrasi dan keberagaman di dalam penyelenggaraan pemerintahan lokal. karena sejak tahun 2001 tersebut telah terjadi perubahan yang sangat fundamental di dalam pola pengaturan hubungan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. jargon tentang kemandirian Daerah 12 . Hal tersebut agar DPRD tidak disibukkan dengan urusan-urusan teknis semata.2. 3. Besaran perubahan yang dikehendaki dalam reformasi tersebut dapat disimak dari pergeseran sejumlah model dan paradigma pemerintahan daerah. Pola pengaturan hubungan antara Pusat dan Daerah yang semula bersifat sentralistik di masa Orde Baru yang diterjemahkan melalui Undang-Undang Nomor 5 tahun 1974.pemeriksaan tetap harus dilakukan oleh badan yang memiliki otoritas dan keahlian profesional. dimanifestasikan melalui dasar hukum Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 serta Undang-Undang No 25 tahun 1999.2 Bidang Ekonomi 3. Sebagai salah satu tujuan yang hendak dicapai di dalam pelaksanaan desentralisasi dan otonomi Daerah. telah dirubah dalam suatu pola hubungan yang lebih bersifat desentralisasi.1 Pendapatan Asli Daerah Tahun 2001 merupakan tahun yang sangat berarti bagi bangsa Indonesia.

pinjaman daerah dan lain-lain penerimaan yang sah. hasil retribusi daerah. (c) kemampuan administrasi pemungutan di daerah masih rendah. Khusus sumber-sumber pembiayaan pelaksanaan desentralisasi adalah terdiri dari pendapatan asli daerah (PAD). hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. disebabkan antara lain karena: (a) relatif masih rendahnya basis pajak dan retribusi daerah. dengan masih berlakunya Undang-Undang Nomor 18/1997 yang antara lain membatasi 13 . Dalam makalahnya. dekonsentrasi dan tugas perbantuan. (b) perannya masih tergolong kecil dalam total penerimaan daerah. dan (d) kemampuan perencanaan dan pengawasan keuangan daerah masih lemah sehingga banyak terjadi kebocoran dan penyelewengan. Raksaka Mahi (2000:5) berpendapat bahwa tampaknya PAD masih belum dapat diandalkan oleh daerah sebagai sumber pembiayaan desentralisasi dalam rangka otonomi daerah. Sehubungan dengan itu. dana perimbangan. Sesuai dengan Undang Undang Nomor 22 tahun 1999 disebutkan bahwasanya Pendapatan Asli Daerah (PAD). Secara teoritis pengukuran kemandirian Daerah diukur dari Pendapatan Asli Daerah (PAD). PAD merupakan sumber keuangan dari dalam wilayah daerah yang bersangkutan yang terdiri dari hasil pajak daerah. Sumber-sumber pembiayaan pemerintah daerah dalam rangka perimbangan keuangan tersebut dilaksanakan atas dasar desentralisasi.bukan hal yang baru.

Sedangkan fungsi alokasi pada umumnya lebih efektif dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Namun dalam pelaksanaannya perlu diperhatikan kondisi dan situasi yang berbeda-beda pada masing-masing wilayah. Fungsi distribusi dan fungsi stabilisasi pada umumnya lebih efektif dilaksanakan oleh pemerintah pusat. 14 . pendapatan dan kekayan masyarakat. distribusi dan stabilisasi.2. antara lain.pemungutan pajak/retribusi tertentu saja merupakan hambatan yang cukup berarti bagi daerah untuk meningkatkan PAD-nya. maka pemerintah suatu negara pada hakekatnya mengemban tiga fungsi utama yaitu fungsi alokasi. Untuk dapat meningkatkan kemampuan sumber keuangan daerah dari PAD ini selain perlu memperluas basis dan jenis pungutannya. ekonomi dan moneter. Fungsi distribusi meliputi antara lain. pemerataan pembangunan. pelayanan masyarakat dan pembangunan.2 Dana Perimbangan Sebagaimana dikemukakan dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah bahwa dalam rangka menyelenggarakan pemerintahan. pertahanan-keamanan. Fungsi alokasi antara lain meliputi sumber ekonomi dalam bentuk barang dan jasa pelayanan masyarakat. karena Pemda pada umumnya lebih mengetahui kebutuhan serta standar pelayanan masyarakat. maka perlu peningkatan dan pengembangan di berbagai bidang dan aspek yang mengandung kelemahan sebagaimana yang dikemukakan di atas. 3. Dan fungsi stabilisasi yang meliputi.

Dan formula umum untuk pengalokasiannya adalah: DAU daerah i = (bobot daerah i/total bobot daerah seluruh Indonesia) x total DAU.Dengan demikian.3 Dana Alokasi Umum Dana alokasi umum (DAU) dialokasikan dengan tujuan pemerataan dengan memperhatikan potensi daerah. pembagian ketiga fungsi tersebut adalah sangat penting sebagai landasan dalam penentuan dasar-dasar perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah secara jelas dan tegas. Selanjutnya dalam hal dana alokasi umum (DAU) sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang perimbangan keuangan dapat dikemukakaan bahwa menurut hasil studi sementara Bappenas (Kompas. 2 Maret 2000) penerimaan propinsi secara total akan 15 . dana alokasi umum dan dana alokasi khusus itu mencerminkan upaya dan asas keadilan perimbangan antara pusat dan daerah. keadaan geografi.5% dari penerimaan dalam negeri untuk semua kabupaten/kota dan 2. 3. jumlah penduduk dan tingkat pendapatan masyarakat di daerah. luas daerah.2. dengan catatan total dana DAU yang akan dialokasikan sudah ditetapkan. disamping upaya dan asas pemerataan alokasi dana untuk berbagai kegiatan dan pembangunan di Daerah-daerah. yaitu minimal 22. sehingga perbedaan antara daerah yang maju dengan daerah yang belum berkembang dapat diperkecil.5% dari penerimaan dalam negeri untuk semua propinsi. Dengan demikian adanya dana perimbangan yang meliputi bagi hasil pusatdaerah.

Jawa Barat. Sumatra Selatan. Propinsi-propinsi di Jawa dan propinsi Sulawesi Selatan diuntungkan oleh kriteria yang berkaitan dengan penduduk. Jawa Timur. alokasi dengan dalam yang cukup diberlakukannya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tersebut (dibandingkan dengan yang sebelumnya. yaitu : Sumatra Utara. yaitu total penerimaan dana yang bersumber dari bagian hasil daerah dan dana alokasi umum. Berdasarkan penerimaan yang bersumber dari bagian hasil daerah. terdapat sembilan propinsi yang penerimaan dananya relatif menurun. maka diperkirakan anggarannya terdapat naik enam propinsi jumlah yang penerimaan besar. bahkan mungkin tetap saja atau sedikit menurun.meningkat sebesar 17 persen. dan Kalimantan Timur. yaitu Sumatera Barat. Sulawesi Selatan dan Papua. terdapat tujuh propinsi yang mengalami kenaikan alokasi dananya dalam jumlah yang cukup besar. Jawa Tengah. Jawa Timur. DKI Jakarta. Riau. Jawa Barat. yaitu Aceh. sedangkan propinsi Papua diuntungkan oleh kriteria luas daerah dan kawasan lindung. Sedangkan dengan menggunakan formula yang sama. yaitu: Aceh. maka empat propinsi mendapatkan kenaikan total penerimaan yang cukup tinggi. Riau. 16 . Jambi. Sedangkan mengenai penerimaan dana alokasi umum (DAU) menurut hasil studi tersebut. Kalimantan Timur dan Jawa Barat. Sedangkan propinsi Papua tidaklah akan meningkat begitu berarti seperti yang diduga semula. Jika digabungkan keduanya.

4 Dana Alokasi Khusus Sedangkan dana alokasi khusus (DAK) bertujuan untuk membantu membiayai kebutuhan-kebutuhan khusus daerah. kebutuhan beberapa jenis investasi/prasarana baru. dan saluran drainase primer. Sesuai dengan UU Nomor 33 Tahun 2004.2. Disamping itu bertujuan untuk menanggulangi keadaan mendesak di daerah. pembangunan jalan di kawasan terpencil.Bengkulu. dalam pengertian kebutuhan yang tidak sama dengan kebutuhan Daerah lain. sebagai konsekensi dari pelaksanaan otonomi daerah. yang dialokasikan kepada daerah untuk membantu membiayai kebutuhan khusus. kepada daerah dapat dialokasikan dana darurat. Perimbangan keuangan Pusat dan Pemerintahan Daerah ini merupakan instrumen utama dalam pelaksanaan desentralisasi fiskal. Lampung. saluran irigasi primer. Kalimantan Tengah. Kalimantan Selatan. Sulawesi Utara. 3. Secara utuh desentralisasi fiskal mengandung pengertian bahwa untuk mendukung 17 . Pengalokasian DAK ditentukan dengan memperhatikan tersedianya dana dalam APBN. Sulawesi Tengah dan Maluku. yang dimaksud dengan kebutuhan khusus adalah (i) kebutuhan yang tidak dapat diperkirakan dengan menggunakan rumus alokasi umum. Pada hakikatnya pengertian Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang berasal dari APBN. misalnya: kebutuhan di kawasan transmigrasi. dan (ii) kebutuhan yang merupakan komitmen atau prioritas nasional. seperti bencana alam.

namun yang lebih penting adalah bagaimana kemampuan daerah untuk memanfaatkan dan mendayagunakan serta mengelola potensi-potensi yang ada di daerah dengan tujuan untuk melakukan peningkatan pelayanan masyarakat dan pembangunan daerah.5% (propinsi) dan 1. kepada daerah diberikan kewenangan untuk mendayagunakan sumber keuangan sendiri dan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. 3. menciptakan peluang investasi dan bisnis. Dapat ditegaskan kembali bahwa pelaksanaan desentralisasi fiskal tidak hanya terfokus kepada dana bantuan dari pusat dalam bentuk dana perimbangan saja. dan secara selektif para investor dan pebisnis memilih selera yang paling mendekati preferensi masyarakat setempat. desentralisasi fiskal dapat memberikan ruang bagi daerah untuk menciptakan kreatifitas dan inovasi baru dalam meningkatkan efisiensi atas penyediaan pelayanan publik.5 Pinjaman Daerah Tentang pinjaman daerah dapat dikemukan bahwa selama ini. Di samping itu.2. yaitu secara totalitas hanya 0. Bahkan jika dipaksakan dan 18 .1% (kabupaten/kota) sebagaimana yang dikemukakan dalam makalah Jaka Sriyana (Jurnal Pembangunan Vol 4.penyelenggaraan otonomi daerah yang luas. 1999 : 102-13). jumlah dana (penerimaan) keuangan daerah yang berasal dari sumber ini relatif kecil sekali. nyata dan bertanggung jawab. Ini berarti bahwa pinjaman daerah itu baik dari dalam maupun dari luar negeri dalam waktu dekat mendatang masih belum begitu dapat diharapkan dalam membiayai pembangunan daerah. Nomor 1.

3. sebagaimana yang dialami pemerintah pusat sejak beberapa tahun belakangan ini.2. Anggaran Daerah atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan instrumen kebijakan yang utama bagi Pemerintah Daerah. otorisasi pengeluaran di masa-masa yang akan datang. APBD digunakan sebagai alat untuk menentukan besarnya pendapatan dan pengeluaran. alat untuk memotivasi para pegawai dan alat koordinasi bagi semua aktivitas dari berbagai unit kerja. dalam waktu dekat akan timbul penumpukan pinjaman daerah yang besar. Salah satu aspek bagian dari pemerintahan daerah yang harus diatur secara hati-hati adalah masalah pengelolaan keuangan daerah dan anggaran daerah. sumber pengembangan ukuran-ukuran standar untuk evaluasi kinerja. Dalam kaitan ini. APBD menduduki posisi sentral dalam upaya pengembangan kapabilitas dan efektivitas pemerintah daerah. proses penyusunan dan pelaksanaan APBD hendaknya difokuskan pada upaya untuk 19 . Pemerintah Daerah dituntut supaya mampu menciptakan suatu sistem manajemen yang mampu untuk mendukung operasionalisasi pembangunan daerah.6 Struktur APBD Dari aspek pelaksanaan. untuk mengisi kekurangan dana dalam membiayai pembangunan daerah sesegera mungkin.ingin mengambil jalan pintas. Sebagai instrumen kebijakan. membantu pengambilan keputusan dan perencanaan pembangunan. yang kemungkinan setelah sampainya saat jatuh tempo akan menimbulkan beban pembayaran utang yang berat dan semakin besar.

memang belum secara signifikan mengangkat derajat ekonomi desa.2. pemerintah daerah dapat membentuk pusat-pusat pertanggungjawaban (responsibility centers) sebagai unit pelaksana.7 Penguatan Ekonomi Kerakyatan Perubahan politik nasional yang merembes ke daerah-daerah. 3. Untuk memperlancar pelaksanaan program dan aktivitas yang telah direncanakan dan mempermudah pengendalian. Karena toh. perlu dilakukan evaluasi terhadap hasil kerja pemerintah daerah. Pengawasan dari semua lapisan masyarakat dan khususnya dari DPRD mutlak diperlukan agar otonomi yang diberikan kepada daerah tidak ³kebablasan´ dan dapat mencapai tujuannya.mendukung pelaksanaan program dan aktivitas yang menjadi preferensi daerah yang bersangkutan. Evaluasi dapat dilakukan oleh pihak internal yang dapat dilakukan oleh internal auditor maupun oleh eksternal auditor. Terobosan kebijakan melalui setup desentralisasi dan otonomi daerah tidak sepenuhnya mengatrol desa dari keterpurukan. Untuk memastikan bahwa pengelolaan dana publik (public money) telah dilakukan sebagaimana mestinya (sesuai konsep value for money). misalnya auditor independen. Untuk menciptakan transparansi dan akuntabilitas publik. Beban kemiskinan. masih saja menghantui. pemerintah daerah perlu membuat laporan keuangan yang disampaikan kepada publik. desa masih terhegemoni secara sistematik oleh rezim 20 . pengangguran. dan marginalisasi ekonomi.

model pencarian sumberdaya ekonmi melalui industrialisasi desa. Regulasi UU No. Model industrialisasi ini. sejauh ini upaya penguatan transformasi politik dalam bentuk 21 . 22/99 lalu berubah menjadi 32/2004.kabupaten. ketergantungan. Sarbini Sumawinata (2005). Konsep ini dimunculkan untuk menjawab kebutuhan pengembangan ekonomi desa. juga ditandai oleh kepekaan pada pengelolaan lingkungan. kebutuhan membuat alternatif penguatan ekonomi desa menjadi tidak bisa ditawartawar lagi. penggunaan teknologi madya. apa yang dikenal dengan ekonomi kerakyatan melalui industrialisasi desa. menurutnya ditandai adanya model transformasi teknologi dan ilmu pengetahuan dalam pemanfaat sumberdaya lokal dengan basis pengelolaan oleh masyarakat dan pemerintah desa. dan marginalisasi. yang nyata membawa dampak kesenjangan.tentu sangat berbeda dengan model-model eksploitasi sumberdaya alam yang selama ini diterapkan melalui jargon modernisasi desa. pertama. Seiring upaya daerah menciptakan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru. Beberapa alasan di antaranya. serta berorientasi pada kebutuhan jangka panjang (sustainable). tentu sangat relevan. menawarkan pemikiran alternatif. Dihadapkan pada sekian problem ekonomi politik itulah. menjadi menumen yang kurang berarti membangkitkan desa. khususnya sejak terjadi kegagalan transformasi ekonomi di jaman revolusi hijau. Industrialisasi desa. lebih menyerap tenaga kerja (padat karya) dan bukan padat modal.

memperkuat basis ekonomi bagi otonomi desa. Seandainya demokrasi dan otonomi desa tidak mampu menjawab tuntutan kesejahteraan sosial-ekonomi maupun pengurangan kemiskinan. Dikemudian hari (jangka panjang) juga akan semakin mempersulit kedua agenda transformasi politik itu. Industrialisasi desa merupakan alternatif untuk memperkuat program APBDes yang baik dengan memenuhi prinsip-prinsip transparansi. akuntabilitas. Dalam pengalaman sejauh ini menunjukkan bahwa. responsif. dengan maksud memperlancar demokrasi dan otonomi desa. industrialisasi desa dalam konteks ini merupakan alternatif menjawab ketegangan antara desentralisasidemokratisasi dengan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat desa. maka program demokratisasi dan desentralisasi secara lambat-laun akan mengalami delegitimasi dan distrust di hadapan rakyat desa.demokrasi dan otonomi desa terbuti mengalami keterbatasan dan kesulitan. jikalau hal itu tidak ditopang oleh penguatan basis ekonomi desa. sejak reformasi tata pemerintahan desa juga kabupaten (desain desentralisasi dan demokratisasi desa sekalipun). mengurangi kemiskinan. masih kurang mendaratkan dan mengkaitkan pada isu-isu hubungan 22 . dan partisipatif. menekan laju urbanisasi serta meningkatkan kesejahteraan sosialekonomi masyarakat desa. Karenanya. Kedua. eksistensi desa dalam proses ekonom politik selama ini sangat dipengaruhi kebijakan pemerintah terlebih juga hubungan antara pembangunan desa dan perkotaan. maupun Alokasi Dana Desa (ADD).

keputusan untuk membuka hadirnya investasi dalam rangka menjalankan kegiatan industrialisasi ke desa merupakan kewenangan pemerintah supradesa (kecamatan dan kabupaten). sebagian besar ternyata tanpa sentuhan governance reform. distribusi. Desa secara kelembagaan tidak memiliki kewenangan untukmengambil keputusan dalam proses awal masuknya 23 . Kendapitun kegiatan eksploitasi atau kapitalisasi memasuki area desa. industrialisasi desa tentu bukan fenomena baru. ditinjau dari kebijakan pembangunan. termasuk modernisasi desa. namun kesemuanya itu hanyalah menegaskan keyakinan bahwa desa tidak lebih sebagai bjek pemanfaatan sumberdaya alam dan ekonomi yang dalam prosesnya segala hasilnya (keuntungan) mengalir ke kota. Ketiga. selalu ditandai oleh bias sentralisasi pada kota. Tentu jauh dari keberpihakan pada desa. dan konsumsi. tidak bisa dipungkiri bahwa tata kelola industrialisasi yang ada di desa selama ini (telah berjalan dalam waktu yang cukup lama) baik merupakan bagian konstruksi revolusi hijau maupun modernisasi desa. Dengan kata lain. yang hingga saat ini terus berlangsung.ekonomi politik desa-kota. desa menjadi tempat produksi. Dalam contoh konkrit. sementara desa hanyalah menjadi wilayah (lokasi) proyek industrialisasi. melalui demokratisasi (partisipasi masyarakat) dan desentralisasi (kewenangan desa). Dalam bentang sejarah ekonomi lokal misalnya. Namun. sementara kota menjadi tempat perdagangan. Itulah yang dimaksud dengan eksploitasi pembangunan kota pada desa.

Terobosan baru dengan industrialisasi desa itu. Industrialisasi desa. Peran negara (dalam hal ini pemerintah desa bekerja sama dengan kabupaten) melindungi sumberdaya lokal dengan menjalankan mandat rakyat. maka yang terjadi adalah. maka otonomi daerah dan desentralisasi akhirnya terperosok menjadi arena perayaan penindasan pada rakyat (desa). dan masyarakat tidak memperoleh ruang partisipasi untuk mengontrol proses ekonmi-politik yang sangat elitis itu. Inilah tantangan penting yang perlu dijawab. bahwa indstrialisasi tidak menguntungkan desa. Karena tidak adanya governance reform dalam tata kelola industrialisasi desa itulah. dan tidak jarang memunculkan konflik antara masyarakat setempat dengan perusahaan. Jauh berbeda dengan yang terjadi saat ini.investasi ke desa. secara ideologis dimaksudkan sebagai bentuk desentralisasi alat-alat produksi pada rakyat (desa). justru malah menimbulkan kerugian besar bagi desa. Kita memang membutuhkan terobosan baru paradigma pembangunan alternatif untuk menemukan kembali pilar-pilar pokok di level lokal dalam rangka menegakkan ekonmi kerakyatan. saat bernegosiasi dengan pengusaha dalam menginvestasikan modalnya untuk kegiatan industri. meminggirkan dan memiskinkan masyarakat desa. dimana pemerintah daerah justru dengan dipandu ideologi neoliberal melakukan eksploitasi sumberdaya lokal. 24 . barangkali menjadi bagian pilar itu.

4. Dengan semakin berkurangnya tingkat ketergantungan Pemerintah Daerah terhadap Pemerintah Pusat. melaksanakan perencanaan strategik secara benar. melaksanakan reformasi akuntansi keuangan daerah dan manajemen keuangan daerah. sehingga keberadaan otonomi daerah akan lebih bermakna dan pada akhirnya akan meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat. diharapkan mekanisme perumusan kebijakan yang akomodatif terhadap aspirasi masyarakat daerah dapat dibangun. Daerah dituntut mampu meningkatkan profesionalisme aparatur Pemerintah Daerah.BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4. dan bertanggung jawab. yang dapat memperkokoh basis perekonomian daerah. dinamis. serasi. 25 . Dengan demikian.2 Saran Sejalan dengan otonomi daerah. serta memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dalam menyongsong era perekonomian global.1 Kesimpulan Salah satu kunci keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan dalam menghadapi era global adalah dengan mengembangkan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. sehingga akan memacu terwujudnya otonomi daerah yang nyata. Pemerintah Daerah harus dapat mendayagunakan potensi sumber daya daerah secara optimal.

Washington D. 26 . New York. Prisma No. Oktober. David and Ted Gaebler (1993) Reinventing Government: How the Entrepreneurial Spirit Is Transforming the Public Sector. Prisma. Yogyakarta. _________________. Gramedia Pustaka Utama. Undang-Undang No. Wihana (1999) ³Pengelolaan Keuangan Daerah yang Berorientasi pada Kepentingan Publik´. (l989) Public Financial Management. Harper Collins. Prentice Hall. Pengusaha Nasional dan Deregulasi Ekonomi´. Sudarsono. Kuncoro. Mudrajat (1997) ³Otonomi Daerah dalam Transisi´. Republik Indonesia. World Bank. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Coe. KOMPAK STIE YO. Yogyakarta. London. Ohmae.C. Penguins Books. Kuncoro. Englewood Cliffs. Accountability and Responsiveness. Gunawan (l999) Pemberdayaan Rakyat. Juwono (l990) ³Globalisasi Ekonomi dan Demokrasi Indonesia´. No. Lesson about Decentralization. 22 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Anggito (1995) ³Struktur dan Kinerja Industri Indonesia dalam Era Deregulasi dan Globalisasi´. Kenichi (1991) The borderless World. Power and Strategy in the Interlinked Economic. Sumodiningrat. Anwar (l997) Balance. 12 April. Mardiasmo dan Kirana Jaya. Anwar (l990) ³Globalisasi Produksi. 8 tahun XIX. Mudrajat dan Abimanyu. Prisma No. Charles K. Osborne. Umar (1990) ³Persaingan Global dan Ekonomi Indonesia dekade 1990-an´. Shah. Nasution. 8 tahun XIX. Penerbit Andi Yogyakarta. 8 tahun XIX. KELOLA. 10/IV. pada Seminar Nasional Manajemen Keuangan Daerah dalam Era Global. No. Undang-Undang No. New Jersey. Mardiasmo (2002) ³Akuntansi Sektor Publik´. Juoro.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful