PETUNJUK PELAKSANAAN PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS
BIDANG INFRASTRUKTUR SUB BIDANG SANITASI

KATA PENGANTAR

Memperhatikan kondisi yang ada saat ini serta tantangan yang dihadapi di masa depan, disadari bahwa pengembangan sanitasi lingkungan yang meliputi pengelolaan air limbah, pengelolaan persampahan dan penanganan drainase tidak dapat dilakukan hanya oleh satu institusi. Diperlukan suatu kerjasama multi pihak yang bersifat sinergis dari segenap stakeholder baik yang ada di pusat maupun di daerah meliputi pemerintah, perguruan tinggi/akademisi, lembaga profesi, LSM, masyarakat dan swasta. Mengingat keterbatasan kemampuan yang dimiliki pemerintah baik pusat maupun daerah, diperlukan upayaupaya terobosan yang bersifat merubah paradigma dalam pengembangan sanitasi lingkungan. Beberapa upaya bisa dilakukan misalnya pengelolaan air limbah skala komunitas berbasis masyarakat melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk menjamin keberlanjutan pengelolaan; pengurangan sampah di sumbernya melalui gerakan mengurangi, memanfaatkan kembali dan mendaur ulang atau reduce, reuse dan recycle (3R) yang bertujuan untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA); serta upaya membuat keseimbangan tata air melalui pembangunan kolam retensi yang bertujuan untuk memperlama laju aliran permukaan supaya tidak langsung terbuang ke badan air penerima. Sejalan dengan amanat UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Pemerintah lebih berperan sebagai regulator dan fasilitator terkait dengan tugas-tugasnya dalam pengaturan, pembinaan dan pengawasan pengembangan sanitasi lingkungan. Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan, Pemerintah melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) menyediakan program sanitasi lingkungan bagi masyarakat berpenghasilan rendah di lingkungan padat penduduk, kumuh dan rawan sanitasi, yang disebut dengan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat. Kegiatan Dana Alokasi Khusus Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat ini mencakup: prioritas pertama yaitu pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal. Apabila prioritas pertama sudah dipenuhi (tidak ada Buang Air Besar sembarangan) maka dapat melaksanakan prioritas kedua yaitu pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce, reuse dan recycle) dan pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan. Dalam rangka menjamin keberlanjutan program, disusun Petunjuk Pelaksanaan Dana Alokasi Khusus Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat yang dimaksudkan untuk menjadi acuan bagi Pemerintah Kabupaten/Kota dalam melaksanakan penyediaan prasarana dan sarana air limbah permukiman, persampahan dan drainase mandiri berwawasan lingkungan berbasis masyarakat.

Jakarta, April 2010 Direktur Jenderal Cipta Karya

Budi Yuwono

ii .

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang………………………………………………………..……………………………………… 1.2 Maksud …………………………………………..…………………………………………………………... 1.3 Tujuan ………………………………………………………………………………………………………… 1.4 Acuan Normatif ………………………………………….………………………………………………….. 1.5 Sasaran ………………………………………………….…………………………………………………... 1.6 Ruang Lingkup Petunjuk Pelaksanaan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat …………. PENDEKATAN, PRINSIP DAN POLA PENYELENGGARAAN DAK SANITASI LINGKUNGAN BERBASIS MASYARAKAT 2.1 Pendekatan …………………………………………………………………………………………..……… 2.2 Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan …………………………………………………………………..….…. 2.3 Pola Penyelenggaraan …………………………………………………………………………….….…… 2.4 Prasarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat …………………………………………………. 1 1 1 2 2 2

BAB II

3 3 3 4

BAB III

PENGELOLAAN SANITASI LINGKUNGAN BERBASIS MASYARAKAT 3.1 Air Limbah Komunal Berbasis Masyarakat …………………………………………………….………… 5 3.2 Sampah Pola 3R Berbasis Masyarakat ……………………………………………………… ……..…... 7 3.3 Drainase Mandiri Berwawasan Lingkungan Berbasis Masyarakat …………………………….……… 9 TAHAPAN PELAKSANAAN 4.1 Umum …………………………………………………………………………………………………….… 4.2 Tahap Persiapan ………………………………………………………………………………… ……….… 4.2.1 Sosialisasi ……………………………………………………………………………………..….… 4.2.2 Rapat Konsultasi Teknis Regional ……………………………………………………………….. 4.2.3 Rencana Kegiatan Definitif ……………………………………….…………………………..…… 4.3 Tahap Seleksi Lokasi 4.3.1 Persiapan Tenaga Fasilitator Lapangan ………………………………………………………… 4.3.2 Syarat Lokasi…………………………………………………………………………………..……. 4.3.3 Daftar Panjang Lokasi …………………………………………………………………..…………. 4.3.4 Daftar Pendek Lokasi …………………………………………………….…………..……………. 4.3.5 Sosialisasi Kampung ……………………………………………………..…………………..……. 4.3.6 Seleksi Kampung ……………………………………………………….……………………..…… 4.3.7 Monitoring dan Evaluasi ……………………………………………………….……………..…… 4.4 Tahap Penyusunan RKM 4.4.1 Rencana Kegiatan Masyarakat ……………………………………………………………...…… 4.4.2 Pembentukan KSM …………………………………………………………………………...…… 4.4.3 Pilihan Teknologi Sanitasi ………………………………………………………………………… 4.4.4 Dokumen Rencana Pembangunan …………………………………………………………….… 4.4.5 Monitoring dan Evaluasi …………………………………………………………………..…….… 4.5 Tahap Konstruksi 4.5.1 Persiapan Pelaksanaan ……………………………………………………………………….….. 4.5.2 Proses Pelaksanaan …………………………………………………………………………....... 4.5.3 Etika Pelaksanaan …………………………………………………………………….………....... 4.5.4 Pelaksanaan Kegiatan Pemberdayaan …………………………………………………….…… 4.5.5 Pelaksanaan Konstruksi ………………………………………………………….………….…... 12 12 12 12 12 12 16 16 17 18 18 28 28 36 37 49 49 49 50 51 52 53 iii

BAB IV

4.5.6 BAB V

Monitoring dan Evaluasi …………………………………………………………………….……. 55 60 62 62 69 70 71 73 73 73 75 75 75

OPERASI DAN PEMELIHARAAN 5.1 Aspek Operasi dan Pemeliharaan ………………………………………………………………………... 5.2 Dukungan Pemerintah Kabupaten/Kota ……………………………………………………………..…... 5.3 Air Limbah Komunal Berbasis Masyarakat ………………………………………………………….…… 5.4 Sampah Pola 3R Berbasis Masyarakat …………………………………………………………….…… 5.5 Drainase Mandiri Berwawasan Lingkungan Berbasis Masyarakat …………………………………… 5.6 Monitoring dan Evaluasi …………………………………………………………………………………… PEMBIAYAAN 6.1 Sumber Pembiayaan ….……………………………………………………………………………………. 6.2 Rencana Pembiayaan ……………………………………………………………………………………… 6.3 Pembiayaan Komponen Kegiatan …………………………………………………………………...…… 6.4 Penyaluran Dana …………………………………………………………………………………………... 6.5 Pengelolaan Dana dan Pengawasan ……………………………………………………………………. 6.6 Pelaporan …………………………………………………………………………………………………… PENUTUP

BAB VI

BAB VII

LAMPIRAN ……………………………………………………………………………………………………………………… … 79

iv

DAFTAR GAMBAR Gambar 3.1. Gambar 3.2. Gambar 4.1. Gambar 4.2. Gambar 4.3. Gambar 4.4. Gambar 4.5 Gambar 4.6 Gambar 4.7. Gambar 4.8. Gambar 4.9 Gambar 4.10. Gambar 4.11. Gambar 4.12. Gambar 4.13. Gambar 4.14. Gambar 4.15. Gambar 4.16. Gambar 4.17. Gambar 4.18. Gambar 5.1. Gambar 6.1 Contoh Alat Pengumpul Sampah Contoh Alat Pembuat Kompos Bagan Alir Pelaksanaan DAK Sanitasi Lingkungan Masyarakat Berbasis Masyarakat Skema dan Prosedur Implementasi Contoh Venn Diagram Overview Pelaksanaan RPA dalam Tahap Implementasi Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) Tahapan Rencana Kegiatan Masyarakat (RKM) Kegiatan dalam Tahap Penyusunan Rencana Kegiatan Masyarakat (RKM) Contoh Peta Sanitasi Masyarakat Contoh Bagan Organisasi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Contoh MCK Umum Contoh Saluran Pembuangan Limbah Bersama/Komunal Tangki Septik Bersama Bio-Digester Baffled Reaktor/Tangki Septik Bersusun Contoh Pewadahan Contoh Komposter Contoh Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Sistem Drainase Mandiri dengan Kolam Tampungan di Samping Saluran yang Bermuara di Badan Air/Sungai Sistem Drainase Mandiri dengan Kolam Tampungan Segaris dengan Saluran atau Berada dalam Saluran, Outlet Kolam Tampungan Langsung Bermuara ke Badan Air/Sungai Bagan Struktur Organisasi Badan Pengelola Pasca Konstruksi Bagan Sumber Pendanaan

v

Tabel 4.1.2 Toilet/Jamban CS3. Tabel 6.1 Ketersediaan Lembaga-Lembaga Setempat* CS5.9.3 Ketersediaan Air CS3. Tabel 4.1.2.3.5.12 Tabel 4. Tabel 5.6. Tabel 4.2.1 Jenis Informasi dan Alat RPA yang digunakan Contoh Timeline CS1.1 Kesediaan Masyarakat Untuk Mengeluarkan Biaya CS3. Tabel 4. Tabel 4.14.13 Tabel 4.4. Tabel 4.1 Pengalaman Membangun Prasarana* secara Gotong-Royong Contoh Ladder – 1* CS2. Tabel 4.7. Tabel 4. Tabel 4.11.1 Kondisi Drainase CS3. Tabel 4.DAFTAR TABEL Tabel 4.8. Tabel 4.4 Ketersediaan Lahan Contoh Venn Diagram CS4. Tabel 5.10.1 Rencana Perbaikan Sanitasi* Topik dan Metode yang digunakan dalam Penyusunan RKM Contoh Alokasi Waktu RKM Biaya Pengoperasian dan Pemeliharaan Sistem MCK untuk 250 Jiwa Biaya Pengoperasian dan Pemeliharaan Sistem Komunal untuk 750 Jiwa Pembiayaan per Komponen Kegiatan vi .

ikut aktif menyusun rencana aksi. masyarakat memilih sendiri prasarana dan sarana air limbah permukiman. bahkan bila perlu mengembangkannya. (2) pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. Menumbuhkan inisiatif masyarakat/pokmas dalam pengembangan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) 1. sosial budaya serta kemiskinan. Pemerintah menyediakan program sanitasi lingkungan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) dalam penyediaan prasarana dan sarana air limbah permukiman.2 Maksud Petunjuk pelaksanaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) ini dimaksudkan sebagai acuan bagi para pemangku kepentingan (stakeholder) khususnya di kabupaten/kota dalam melaksanakan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat. Hasil berbagai pengamatan dan penelitian telah membuktikan bahwa semakin besar akses penduduk kepada fasilitas prasarana dan sarana air limbah permukiman. lingkungan hidup. yang bersifat melengkapi berbagai pedoman dan petunjuk lain yang berlaku.BAB I PENDAHULUAN 1. Akses penduduk kepada prasarana dan sarana air limbah permukiman. persampahan dan drainase yang berbasis masyarakat dengan pendekatan tanggap kebutuhan. Tujuan Petunjuk pelaksanaan penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur Sub Bidang Sanitasi ini bertujuan agar para pemangku kepentingan dapat mengerti dan memahami penyelenggaraan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) sehingga dapat: 1. 3. persampahan dan drainase 6. 1. reuse dan recycle) dan (3) pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan. pendidikan. yang diimplementasikan melalui kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). dalam rangka meningkatkan kondisi sanitasi lingkungan permukiman kumuh perkotaan. persampahan dan drainase (serta pemahaman tentang hygiene) semakin kecil kemungkinan terjadinya kasus penyebaran penyakit yang ditularkan melalui media air (waterborne diseases). Memfasilitasi masyarakat dalam penyediaan prasarana dan sarana air limbah. Membina masyarakat dalam pengelolaan prasarana dan sarana air limbah. 4. yaitu sebuah inisiatif untuk mempromosikan penyediaan prasarana dan sarana air limbah permukiman. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melaksanakan pola hidup sehat. Meningkatkan peran serta dan pelibatan masyarakat. Membina organisasi/kelompok masyarakat. persampahan dan drainase 5.3 1 . persampahan dan drainase pada dasarnya erat kaitannya dengan aspek kesehatan. persampahan dan drainase yang sesuai.1 Latar Belakang Pembangunan prasarana dan sarana air limbah permukiman. membentuk kelompok dan melakukan pembangunan fisik termasuk mengelola kegiatan operasi dan pemeliharaannya. Melalui pelaksanaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat ini. kumuh dan rawan sanitasi di perkotaan. Kegiatan Dana Alokasi Khusus Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat ini mencakup: (1) pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal. kumuh dan rawan sanitasi. persampahan dan drainase di Indonesia saat ini belum mencapai kondisi yang diinginkan terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah di lingkungan permukiman padat penduduk. 2. persampahan dan drainase bagi masyarakat berpenghasilan rendah di lingkungan padat penduduk.

Persiapan.01-Mn/678. 6. SEB Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 4. daftar calon penerima manfaat. daftar pendek (shortlist) sampai dengan penetapan lokasi terpilih. Calon Operator dan Calon Pengguna. pembentukan forum pengguna. 1. berupa tata cara pengoperasian dan pemeliharaan.07/2009 tentang Alokasi dan Pedoman Umum Dana Alokasi Khusus Tahun Anggaran 2010 11. Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum Nomor KU.1. rencana pembiayaan. jadwal konstruksi. Tukang. yaitu: 1. Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota 7. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 21/PRT/M/2006 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan (KSNP-SPP) 8. penyusunan RKM. Penguatan Kelembagaan. rencana pelatihan serta rencana pengoperasian dan pemeliharaan sarana yang dibangun. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan 6. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air 3. mulai dari daftar panjang (longlist). Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah 4. Pemerintah Pusat. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16/PRT/M/2008 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman (KSNP-SPALP) 9. berupa tata cara pemilihan lokasi sesuai kriteria. Pengoperasian dan Perawatan. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. Seleksi Lokasi. tanggal 15 Desember 2009. SE 1722/MK/07/2008 dan 900/3556/SJ Tanggal 21 November 2008 perihal Petunjuk Pelaksanaan. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2009 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Dana Alokasi Khusus di Daerah 12.6 2 . 7. 4. tentang Ruang Lingkup Penggunaan DAK Bidang Infrastruktur Tahun 2010 Sasaran Sasaran dari tersedianya Petunjuk pelaksanaan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat. Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Teknis Pelaksanaan dan Evaluasi Pemanfaatan Dana Alokasi Khusus 13. pembentukan KSM. 5. Ruang Lingkup Petunjuk Pelaksanaan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat Ruang lingkup Petunjuk pelaksanaan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) ini meliputi tahaptahap: 1. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum 5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 42/PRT/M/2007 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur 10. konstruksi.5 1. berupa dokumen yang memuat sarana terpilih. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 175/PMK. Pemantauan. 2. Pemerintah Provinsi. pengoperasian dan pemeliharaan. dan 5. 3. berupa pelatihan-pelatihan Tenaga Fasilitator Lapangan. Penyiapan Tenaga Fasilitator. DED & RAB. Pembiayaan. Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri. 2. Nomor 0239/M. Mandor.PPN/11/2008. Kelompok Masyarakat. 3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara 2. berupa kegiatan sosialisasi kepada seluruh stakeholder tentang penyelenggaraan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM).01. Penyusunan Rencana Kegiatan Masyarakat (RKM). berupa seleksi dan pelatihan 2 (dua) orang Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL). yaitu TFL Teknis dan TFL Pemberdayaan di setiap lokasi yang akan bertugas mendampingi masyarakat dalam tahap seleksi kampung. Pemerintah Kabupaten/Kota. Swasta.4 Acuan Normatif 1.

pengawasan. Pengambilan keputusan berada sepenuhnya di tangan masyarakat. yaitu ditandai dengan adanya manfaat bagi pengguna serta pemeliharaan dan pengelolaan sarana dilakukan secara mandiri oleh masyarakat pengguna. pengelolaan kegiatan dilakukan secara terbuka dan diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat dan aparatur sehingga dapat diawasi dan dievaluasi oleh semua pihak. pelaksanaan.1 Pendekatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) merupakan salah satu kegiatan pembangunan prasarana air limbah. pengelolaan kegiatan harus dapat dipertanggung jawabkan kepada seluruh lapisan masyarakat. persampahan. Program ini bersifat tanggap kebutuhan. hanya memfasilitasi inisiatif kelompok masyarakat. 3. dimana masyarakat menyampaikan permasalahan dan merumuskan kebutuhannya secara demokratis dan transparan. baik proses perencanaan. persampahan dan drainase yang menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat melalui : 1. Dapat diterima. Otonomi dan desentralisasi. 4. monitoring dan evaluasi. maka dapat ditunjuk pihak ketiga dengan melalui Kerja Sama Operasional (KSO) sehingga terjadi kerja sama kelompok masyarakat setempat. maupun pemanfaatan hasil kegiatan. membangun dan mengelola sistem yang mereka pilih sendiri. 2. pengawasan. Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan Prinsip Dasar DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) adalah : 1.2 . sedangkan peran pemerintah atau Swasta.3 Pola Penyelenggaraan Pola penyelenggaraan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dilakukan oleh masyarakat dengan difasilitasi Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) atau Konsultan Pendamping yang memiliki kemampuan teknis dan sosial kemasyarakatan. pelaksanaan. pelaksanaan. Namun jika dalam tahap pelaksanaan konstruksi terdapat kegiatan yang secara teknis tidak mampu dilaksanakan oleh masyarakat sendiri. Pemerintah daerah tidak sebagai pengelola sarana. pengelolaan kegiatan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat secara berkelanjutan. Keberpihakan pada warga yang berpenghasilan rendah. 3. pengawasan. pengorganisasian. dimana orientasi kegiatan baik dalam proses maupun pemanfaatan hasil ditujukan kepada penduduk miskin yang bermukim di permukiman padat perkotaan berdasarkan kebutuhan. PRINSIP DAN POLA PENYELENGGARAAN DAK SANITASI LINGKUNGAN BERBASIS MASYARAKAT 2. pilihan kegiatan berdasarkan musyawarah sehingga memperoleh dukungan dan diterima masyarakat. Transparan. Mendorong prakarsa lokal dengan iklim keterbukaan. masyarakat yang layak mengikuti DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) akan bersaing mendapatkan kegiatan ini dengan cara menunjukkan komitmen serta kesiapan untuk melaksanakan sistem sesuai pilihan mereka. 4. hanya sebatas sebagai fasilitator. 2. dimana masyarakat terlibat secara aktif dalam proses perencanaan. 3 2. pelaksanaan. 2. 3. Berkelanjutan. mulai dari perencanaan. 2. merencanakan.BAB II PENDEKATAN. 4. 5. pemanfaatan dan pengelolaan. dimana kemampuan masyarakat menjadi faktor pendorong utama dalam keberhasilan kegiatan. dimana masyarakat memperoleh kepercayaan dan kesempatan yang luas dalam proses perencanaan. Partisipatif. Keswadayaan. pemanfaatan dan pengelolaan hasilnya. Prinsip Penyelenggaraan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) adalah : 1. Dapat dipertanggungjawabkan. dengan difasilitasi oleh TFL atau konsultan pendamping yang bergerak secara profesional dalam bidang teknologi pengolahan limbah. Masyarakat menentukan. drainase maupun bidang sosial.

4 Prasarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). reuse dan recycle) berbasis masyarakat adalah penyelengaraan prasarana persampahan yang meliputi kegiatan mengurangi (reduce). reuse dan recycle) berbasis masyarakat membutuhkan dana pembangunan dan pelatihan sekitar Rp. Pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan berbasis masyarakat adalah penyelengaraan prasarana drainase yang menunjang kegiatan konservasi dan keseimbangan lingkungan. 1 modul pengelolaan sampah pada 3R (reduce. sepanjang kondisi lapangan memenuhi persyaratan. 2. pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan Prasarana sanitasi yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1. 2. adalah penyelenggaraan prasaran air limbah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian masyarakat itu sendiri.300 juta/Ha.2. Modul B berupa 1 unit MCK Plus++ yang dapat dimanfaatkan oleh 100-200 KK terdiri dari kamar mandi. Modul ini dibangun untuk rumah yang berkelompok dan hanya tersedia lahan yang terbatas. sarana cuci.300 juta b. pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal. terdiri dari: 1. Modul C berupa sistem jaringan perpipaan air limbah skala lingkungan (100-200 KK). 4 . Modul ini merupakan modul yang disarankan. mengguna ulang (reuse) dan mendaur ulang (recycle) sampah.300 juta dan mempunyai 3 alternatif utama: Modul A berupa unit tangki septik komunal yang masing. pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. reuse dan recycle) dan 3. Pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk menyediakan prasarana penyehatan lingkungan permukiman berbasis masyarakat. Prioritas ke-2 Apabila prioritas pertama sudah dipenuhi (tidak ada BAB sembarangan) maka dapat dikembangkan: a. Salah satu modul pengelolaan air limbah komunal berbasis masyarakat membutuhkan dana pembangunan fisik sekitar Rp. Untuk prasarana drainase ini membutuhkan dana pembangunan fisik sekitar Rp. Prioritas pertama: Pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal berbasis masyarakat. dan unit pengolahan air limbahnya.-masing unit tangki septik dimanfaatkan oleh 4 atau 5 rumah.

serta kerusakan perikanan di muara. dan daya beli masyarakat. Sistem Pengolahan Air Limbah Terpusat (Off Site System). Apabila meresap ke dalam tanah atau masuk ke dalam sungai. yang dapat menurunkan derajat kesehatan masyarakat dan meningkatkan angka kematian akibat penyakit infeksi air. yaitu: kerusakan keseimbangan ekologi di aliran sungai. masalah kesehatan penduduk yang memanfaatkan air sungai secara langsung. Sistem pengolahan air limbah domestik secara garis besar dikelompokkan menjadi dua jenis.1 Air Limbah Komunal Berbasis Masyarakat Air limbah domestik merupakan air limbah yang berasal dari usaha dan atau kegiatan permukiman. maka diperlukan adanya sistem pengelolaan lingkungan secara baik dan terpadu. Masuknya air limbah domestik ke lingkungan tanpa diolah akan mengakibatkan menurunnya kualitas air di badan air penerima seperti sungai. Air limbah domestik mengandung bahan organik tinggi dan bakteri yang berbahaya bagi kehidupan. apartemen dan asrama.BAB III PENGELOLAAN SANITASI LINGKUNGAN BERBASIS MASYARAKAT 3. Dalam rangka meningkatkan taraf kesehatan untuk mencapai kualitas hidup yang optimal. 5 . serta rencana pengembangan kota. sebelum air limbah dialirkan ke sungai atau meresap ke dalam tanah perlu diolah terlebih dahulu. Salah satu upaya untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan pengelolaan air limbah domestik yang dilakukan secara baik dan teratur. Kelebihan system pengolahan air limbah terpusat : • Menyediakan pelayanan yang terbaik. sedangkan sistem pengolahan air limbah setempat merupakan sistem dimana fasilitas pengolahan air limbah berada di dalam persil atau batas tanah yang dimiliki. Kondisi dan permasalahan dalam pengelolaan air limbah domestik/sanitasi saat ini adalah: • Pesatnya pembangunan di perkotaan yang tidak diimbangi oleh penyediaan sarana dan prasarana air limbah sehingga mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan. yang berdasarkan penelitian Kantor Kementerian Lingkungan Hidup mencapai 60%. rumah makan (restauran). 1. Air limbah domestik adalah pencemar badan air di daerah perkotaan. • Sesuai untuk daerah dengan kepadatan tinggi. Sistem pengolahan air limbah terpusat adalah suatu system pengelolaan air limbah dengan menggunakan suatu sistem jaringan perpipaan untuk menampung dan mengalirkan air limbah ke suatu tempat untuk selanjutnya diolah. Sistem pengolahan air limbah terpusat merupakan sistem pengolahan dimana fasilitas instalasi pengolahan air limbah berada di luar persil atau dipisahkan dengan batas tanah atau jarak. yang pada akhirnya menyebabkan beberapa masalah. prasarana dan sarana pembuangan air limbah secara individu maupun komunal perlu diupayakan keberadaannya sehingga setiap penduduk dapat memanfaatkannya. Oleh karena itu. mandi. yaitu Sistem Pengolahan Air Limbah Terpusat (Off Site System) dan Sistem Pengolahan Air Limbah Setempat (On Site System). Air limbah ini berasal dari air bekas memasak. Pada dasarnya semua penduduk harus mempunyai akses kepada fasilitas pembuangan air limbah yang benar dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan. bertambahnya biaya pengolahan air minum (PAM). cuci. • Pembangunan sarana dan prasarana air limbah masih banyak yang belum sesuai dengan kondisi setempat. perkantoran. maka unsur tersebut akan mencemari air tanah dan lingkungan. dan kakus. kebutuhan. perniagaan.

dan pemeliharaan yang tinggi. . • Masyarakat dan tiap-tiap keluarga dapat menyediakan sendiri. Pemilihan modul diserahkan kepada kelompok masyarakat yang bersangkutan. . Modul ini dibangun untuk rumah yang berkelompok dan hanya tersedia lahan yang sedikit karena dibangun di bawah tanah. Sistem Pengolahan Air Limbah Setempat (On Site System) Sistem pengolahan air limbah setempat sebagai sistem dimana fasilitas pengolahan air limbah berada di dalam persil atau batas tanah yang dimiliki. dan pemeliharaan yang baik 2. yaitu : 6 . • Memiliki masa guna lebih lama.Modul C : berupa sistem jaringan perpipaan air limbah skala lingkungan (100-200 KK). terdiri dari kamar mandi. Modul ini merupakan modul yang disarankan. kumuh. dan rawan sanitasi di perkotaan. • Fungsi terbatas hanya dari buangan kotoran manusia.Modul A : berupa beberapa unit tangki septik komunal yang masing-masing unit tangki septik dimanfaatkan oleh 4 atau 5 rumah. Satu modul pengelolaan air limbah komunal berbasis masyarakat membutuhkan dana pembangunan fisik sekitar Rp. Kelebihan sistem pengolahan air limbah setempat : • Menggunakan teknologi sederhana. tingkat kepadatan. sarana cuci. • Manfaat dapat dirasakan secara langsung. • Memerlukan biaya yang rendah. sepanjang kondisi lapangan memenuhi persyaratan teknis. operasi. operasi. misalkan tergantung pada sifat permeabilitas tanah. Modul ini sesuai diterapkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah di kawasan permukiman padat. • Dapat menampung semua air limbah. • Memerlukan pengelolaan.Modul B : berupa satu unit MCK Plus++ yang dapat dimanfaatkan oleh 100-200 KK. yaitu Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS). dan lain-lain.• Pencemaran terhadap air tanah dan badan air dapat dihindari. Kekurangan sistem pengolahan air limbah terpusat : • Memerlukan biaya investasi. • Pengoperasian dan pemeliharaan oleh masyarakat. yaitu penyelenggaraan prasarana air limbah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian masyarakat itu sendiri. karena memiliki gabungan kelebihan dari sistem pengolahan air limbah terpusat (off site system) dan sistem pengolahan air limbah setempat (on site system). dan unit pengolahan air limbahnya. • Manfaat secara penuh diperoleh setelah selesai jangka panjang. • Tidak dapat dilakukan oleh perseorangan. • Operasi dan pemeliharaan sulit dilaksanakan. seperti modul yang selama ini dikembangkan di Indonesia. • Menggunakan teknologi tinggi. tidak melayani air limbah kamar mandi dan air bekas mencuci. 300 Juta dan mempunyai 3 alternatif utama yaitu : . Kekurangan sistem pengolahan air limbah setempat : • Tidak dapat diterapkan pada setiap daerah. • Waktu yang lama dalam perencanaan dan pelaksanaan. Untuk menjembatani atau meminimalisir kekurangan dan memaksimalkan kelebihan dari kedua sistem pengolahan air limbah diatas adalah dengan mengembangkan prasarana dan sarana air limbah komunal berbasis masyarakat.

sampah non organik dapat dipilah atas komponen lainnya sesuai kebutuhan.2 . sisa sayur dan daun. Pencemaran terhadap air tanah dan badan air dapat dihindari. 2. Memerlukan biaya yang rendah. logam. Wadah sampah organik 2. Sampah organik dikumpulkan dalam wadah yang yang terpisah dengan sampah non organik.2 3. motor sampah atau alat angkut lain yang sesuai dengan kondisi setempat 7 3.2. 2.• • • • • • • • Menyediakan pelayanan yang terbaik. Pemerintah Daerah. becak sampah. kaca. . misalnya untuk jamban sendiri bila pilihan teknologinya adalah tangki septik bersama atau perpipaan komunal. sisa buah. Sampah kertas dan kayu sebenarnya merupakan jenis sampah organik.2.1 3. Menggunakan teknologi sederhana. kertas.2. Pemilahan hendaknya dilakukan secara bertahap sesuai dengan kesiapan masyarakat dan proses selanjutnya. dan LSM). • Manfaat dapat dirasakan secara langsung. Pemerintah Pusat. Dapat menampung semua air limbah. • Melibatkan semua pihak untuk bekerja sama (Masyarakat. . misal plastik. dan bahan lain yang tidak membusuk. kaca. Fasilitas Untuk pemilahan sampah akan diperlukan beberapa fasilitas/peralatan yang dapat meliputi : 1. 3.2. 3. Memiliki masa guna lebih lama. Peralatan pengumpulan sampah di kawasan perumahan dapat dilakukan dengan menggunakan alat angkut. karena sampah yang terlalu basah akan menyebabkan kadar air bahan kompos menjadi tinggi sehingga proses pengomposan akan terganggu.Bila kondisi memungkinkan. tetapi mengingat kandungannya (pada kertas mengandung tinta dll) yang berpotensi mengganggu kualitas kompos. dan lain-lain.Sampah bahan organik kompos meliputi : sisa makanan. Wadah sampah non organik 3.1. karet. maka keduanya tidak disertakan dalam kategori sampah organik bahan kompos. .2 3.1. Sesuai untuk daerah dengan kepadatan tinggi.1 Metode 1. logam. Sampah Pola 3R Berbasis Masyarakat Pemilahan Sampah Pemilahan sampah dilakukan untuk memilah sampah menurut jenisnya sehingga mendukung kegiatan / proses penanganan selanjutnya. dan sifatnya yang memerlukan waktu lama untuk proses pengomposan (misal kayu). Masyarakat dan tiap-tiap keluarga dapat menyediakan sendiri. • Pengoperasian dan pemeliharaan oleh masyarakat. Untuk sampah berupa sisa sayur sebaiknya ditiriskan terlebih dahulu dengan menggunakan saringan plastik. Metode pengumpulan sampah dapat dilakukan oleh petugas dari rumah ke rumah atau masyarakat membawa sendiri sampahnya ke Wadah/Bin Komunal/Kontainer yang sudah ditentukan. seperti gerobak sampah.Sampah non organik meliputi : plastik. Sebagai contoh bila akan dilakukan proses pengomposan maka sampah organik hendaknya dipilah terlebih dahulu. Saringan plastik untuk meniriskan air dari sisa sayur Pengumpulan Sampah 1. Awal pemilahan dianjurkan untuk memisahkan sampah menjadi 2 bagian yaitu sampah organik bahan kompos dan sampah non organik.

logam/kaca dapat dilakukan seminggu sekali.1. TPST dengan luas < 500 m² hanya dapat menampung sampah dalam keadaan terpilah (50%) dan sampah campur 50%. Sampah yang didaur ulang minimal adalah kertas. Daur ulang kemasan plastik (air mineral. pemilahan sebaiknya dilakukan sejak di sumber. plastik dan logam yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan untuk mendapatkan kualitas bahan daur ulang yang baik. Daur ulang sampah B3 Rumah tangga (terutama batu baterei dan lampu neon) dikumpulkan untuk diproses lebih lanjut sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku (PP 18 tahun 1999 tentang pengelolaan sampah B3). 3. barrier (pagar tanaman hidup) dan gudang penyimpan bahan daur ulang maupun produk kompos serta biodigester (opsional) c. Fasilitas TPST meliputi wadah komunal. diperlukan TPST dengan luas 200 – 500 m² 2. b. 4. Untuk kawasan perumahan baru (cakupan pelayanan 2000 rumah) diperlukan TPST dengan luas 1000 m². 4. 8 .2. Lokasi 1. Daur Ulang 1. TPST dengan luas < 200 m² sebaiknya hanya menampung sampah tercampur 20%. 3. Motor/Gerobak sampah yang mengumpulkan sampah terpilah dapat dimodifikasi dengan sekat atau dilengkapi karung-karung besar (3 unit atau sesuai dengan jenis sampah). minuman dalam kemasan. Gambar 3. Contoh Alat Pengumpul Sampah 3. Luas TPST bervariasi. Sedangkan untuk cakupan pelayanan skala RW (200 rumah). tergantung kapasitas pelayanan dan tipe kawasan. listrik. TPST dengan luas 1000 m² dapat menampung sampah dengan atau tanpa proses pemilahan sampah di sumber. mie instan dll) sebaiknya dimanfaatkan untuk barang-barang kerajinan atau bahan baku lain. air bersih. Fasilitas TPST 1. 4. areal pemilahan dan areal composting dan juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang lain seperti saluran drainase.3. sedangkan sampah yang sudah terpilah 80%. Pemasaran produk daur ulang dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pihak lapak atau langsung dengan industri pemakai. plastik.3 Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Skala Kawasan a. sedangkan untuk sampah yang masih tercampur harus dilakukan minimal seminggu 2 kali. Jadual pengumpulan sampah non organik terpilah seperti kertas. 2.

saluran.2. Pemasaran produk kompos dapat bekerja sama dengan pihak Koperasi dan Dinas (Kebersihan. Sampah yang digunakan sebagai bahan baku kompos adalah sampah dapur (terseleksi) dan daun-daun potongan tanaman. Contoh Alat Pembuat Kompos 3.3 Drainase Mandiri Berwawasan Lingkungan Berbasis Masyarakat Pelestarian prasarana dan sarana drainase mandiri berbasis masyarakat sangat bergantung pada kemauan dan kemampuan masyarakat dalam mengoperasikan. penyuluhan dan pedoman pemeliharaan. Pengelola prasarana dan sarana perlu memperhatikan beberapa hal: Kinerja prasarana yang dikelola (kolam tampungan. 4.1 . Pertanian dll) Gambar 3. C/N rasio. 3. 2. pintu-pintu air atau pompa (kalau ada)) Jumlah prasarana dan sarana yang tersedia Jumlah prasarana dan sarana yang digunakan Target/sasaran perencanaan Standar prosedur operasional dan pemeliharaan Standar kriteria teknis prasarana dan sarana Rencana pengembangan sarana di masa datang Untuk mencapai keberhasilan pengelolaan. Secara umum aspek yang perlu diperhatikan dalam pelestarian adalah pengelolaan prasarana dan sarana.3. kadar N. dan memelihara prasarana dan sarana yang ada. Badan/Kelompok/Organisasi Pengelola harus melakukan langkahlangkah berikut: Melakukan pemantauan rutin untuk mengetahui kondisi prasarana dan sarana Mengetahui kerusakan sedini mungkin agar dapat disusun rencana perawatan dan pemeliharaan yang baik 9 3.K dan logam berat. Perlu dilakukan analisa kualitas terhadap produk kompos secara acak dengan parameter antara lain warna.P. Pengelolaan Pengelolaan pada dasarnya merupakan aspek dan sendi utama keberlangsungan hasil fisik konstruksi. Pembuatan Kompos 1. Pertamanan. memanfaatkan.d. Metode pembuatan kompos dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan open windrow.

Melakukan rehabilitasi tepat waktu Melakukan evaluasi kinerja pelayanan secara berkala Melakukan pengelolaan sesuai standar operasional prosedur Untuk mencapai keberhasilan pengelolaan. Badan/Kelompok/Organisasi Pengelola harus melakukan langkahlangkah berikut: 1. Melakukan evaluasi kinerja sistem drainase mandiri berwawasan lingkungan dan pelayanannya secara berkala 5. kolam tampungan harus dalam keadaan kosong (tidak ada air) • Pintu-pintu air dalam keadaan siap digunakan • Pompa dan daya listrik siap digunakan • Saringan sampah dalam keadaan bersih 2. Mengetahui kerusakan sedini mungkin agar dapat disusun rencana perawatan dan pemeliharaan yang baik terhadap pompa dan pintu-pintu air 3. Melakukan pengelolaan sesuai dengan petunjuk operasi pemeliharaan ataupun standar operasi prosedur yang ada 10 . Melakukan pemantauan rutin untuk mengetahui kondisi prasarana dan sarana • Dalam keadaan tidak hujan. Melakukan rehabilitasi tepat waktu terhadap saluran-saluran air dan sistem drainase 4.

Penyusunan RKM.1. Pelatihan) SELEKSI LOKASI Longlist. Pilihan Teknologi dan Sarana. Bagan Alir Pelaksanaan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat 11 . Penguatan Kelembagaan.BAB IV TAHAPAN PELAKSANAAN 4. Pemeliharaan • Air Limbah Komunal Berbasis Masyarakat Pendampingan • Sampah Pola 3R O&M Berbasis Masyarakat • Drainase Mandiri Berwawasan Lingkungan Berbasis Masyarakat Gambar 4. Operasi dan Pemeliharaan sarana terbangun. Konstruksi. Shortlist Lokasi terpilih Penyiapan Masyarakat oleh TFL • • • • PEMBENTUKAN KSM PELATIHAN KSM PELATIHAN MANDOR PELATIHAN TUKANG PENYUSUNAN RKM Organisasi. Seleksi lokasi. DED. RAB dan Jadwal Kegiatan Dokumen RKM Pelelangan Material • • PELATIHAN OPERATOR SOSIALISASI PENGGUNA KONSTRUKSI Pelaksanaan dan pengawasan/ pengendalian oleh masyarakat Sarana Siap Digunakan Pelaksanaan Fisik O&M Operasi. Penyusunan Petunjuk Pelaksanaan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat Sosialisasi Kepada Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota Persiapan PENYIAPAN TFL (Seleksi.1 Umum Tahapan pelaksanaan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) meliputi: Persiapan.

2 12 ..2.. program Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) diikuti dengan persiapan Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) baik yang berasal dari pemerintah kabupaten/kota maupun masyarakat.....3.. 4.3.... sehingga fasilitator dapat membantu masyarakat dalam mengidentifikasi masalah...1.. Penyusunaan Daftar Panjang (Longlist).. persampahan dan drainase 7.2. Kegiatan penyusunan daftar panjang dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan persiapan fasilitator lapangan. serta meningkatkan kemampuan (capacity) fasilitator. melaksanakan.3 4... Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) mencakup 70% kegiatan pemberdayaan dan 30% kegiatan teknis. misalnya observasi.. Untuk itu pelaksanaan pelatihan TFL perlu memasukkan pengetahuan dasar teknologi dan teknis disamping segi pemberdayaan masyarakat. Memiliki pengetahuan/pengalaman dasar tentang air limbah.2 4. TFL tersebut diseleksi sesuai dengan kriteria sebagai berikut: 1.1 4. review dokumen-dokumen yang berkaitan dengan tugas pekerjaan dari kelompok sasaran dan tujuan kegiatan pada tahap seleksi masyarakat dan penyusunan rencana kerja masyarakat (tahap perencanaan)... (syarat tambahan oleh Masyarakat) Pelatihan Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) Tujuan diselenggarakan pelatihan adalah memberi bekal pengetahuan tentang program dan tahapan sanitasi berbasis masyarakat kepada fasilitator... tahap konstruksi dan capacity building (tahap pelaksanaan konstruksi) serta tahap evaluasi dan support OM (fase pascakonstruksi). memutuskan dan mengelola Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM).... Program pelatihan dirancang berdasarkan kebutuhan yang diidentifikasi dan dianalisis dengan metode yang sistematis dan partisipatif.. Pendidikan minimal D3/sederajat 2. Rapat Konsultasi Teknis Regional Rapat Konsultasi Teknis regional yang dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum.2 4.. dan Seleksi Kampung/Masyarakat. Penyiapan Tenaga Fasilitator Lapangan Seleksi TFL Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) terdiri dari TFL Pemda yang ditugaskan oleh Dinas penanggung jawab dan TFL masyarakat.3. Sehat jasmani dan rohani 4... wawancara.1.1 Tahap Persiapan Sosialisasi Sosialisasi kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) kepada seluruh pemerintah Kabupaten/Kota pada akhir tahun anggaran sebelumnya yang diselenggarakan bersamaan dengan Sosialisasi DAK oleh Kementerian Pekerjaan Umum.2. Penetapan Daftar Pendek (Shortlist). Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota....4.. Mengenal kondisi lingkungan calon lokasi...1 4. Memiliki cukup waktu untuk melaksanakan tugas TFL 6.. Tahap Seleksi Lokasi Tahap kegiatan setelah penandatanganan nota kesepahaman oleh stakeholder. yaitu dengan RPA dan dikombinasikan dengan metode/teknik lain yang dianggap efektif. Bersedia tinggal dan bekerjasama dengan masyarakat di lokasi terpilih 8...3 4... Penduduk asli/setempat atau mampu berkomunikasi dan menguasai bahasa serta adat setempat 3. . Presentasi/Sosialisasi Kampung.. Rencana Kegiatan Definitif Penandatanganan Rencana Kegiatan definitif antara Pemerintah Pusat.... merencanakan. 5.

Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengikuti pelatihan.3 Tugas dan Tanggung Jawab TFL Setiap TFL (Dinas & Masyarakat) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: 1. 2. Tahap-tahap pelaksanaan Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) secara umum. Prinsip dan metode seleksi masyarakat • Longlist dan shortlist kampung • Rapid Participatory Assessment (RPA) • Community self selection stakeholders meeting 4. Penyusunan rencana kerja masyarakat (RKM) • Penentuan calon penerima manfaat/pengguna sarana • Pemetaan rumah dan infrastruktur sanitasi kampung • Pemilihan sarana teknologi sanitasi • Kontribusi masyarakat • Lembaga Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) di tingkat masyarakat • Penyusunan buku RKM dan Legalisasi RKM 5. Pelatihan tenaga fasilitator lapangan diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya. 3. Materi pelatihan TFL disesuaikan dengan tugas dan tanggung jawab yang ada. • Menyiapkan daftar longlist kampung padat/kumuh/miskin sesuai form dan membuat laporan kepada Kepala Dinas. yang terdiri dari 1 (satu) orang fasilitator teknis dan 1 (satu) orang fasilitator pemberdayaan masyarakat untuk masing-masing rencana lokasi kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Penyusunan Rencana Teknis Rinci (Detail Engineering Design/DED) sarana teknologi Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dan penyusunan Rencana Anggaran Biaya untuk persiapan fase pelaksanaan konstruksi berdasarkan sarana dan teknologi yang dipilih oleh masyarakat. 2. Kementerian Pekerjaan Umum ke masing-masing Pemerintah Kabupaten/Kota untuk mengusulkan nama calon fasilitator dalam rangka pemilihan tenaga fasilitator lapangan sesuai kriteria. Kementerian Pekerjaan Umum.Hal-hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut: 1. Penyampaian nama calon fasilitator oleh Bupati/Walikota ke Direktorat Jenderal Cipta Karya.1.3. Prinsip-prinsip dasar Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Capacity Building (pelatihan-pelatihan dalam Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM)) • Pelatihan KSM • Pelatihan Mandor/Tukang • Pelatihan Operator dan Pengguna 7. 6. TFL Pemda • Mengadakan rapat koordinasi dengan instansi terkait untuk mendapatkan daftar kampung dari dinasdinas bersangkutan. Evaluasi dan Support untuk operasi dan pemeliharaan • Support OP pascakonstruksi • Kampanye kesehatan bagi para pengguna Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) • Pengukuran dampak program (pengukuran dampak kesehatan dan pengukuran kualitas air di sekitar sarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM)). • Melakukan pengecekan lapangan sesuai persyaratan teknis minimal bersama TFL-masyarakat dan pendamping/Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Provinsi. Penyampaian surat oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya. 3. Tahap Seleksi Masyarakat a. • Mengisi form shortlist kampung berdasarkan hasil pengecekan lapangan dan minta pengesahan dari Kepala Dinas. 4. antara lain: 1. 13 .

• Mengisi form shortlist kampung berdasarkan hasil pengecekan lapangan bersama TFL Pemda. • Menindaklanjuti penjelasan kepada masyarakat (jika ada permintaan) bersama TFL Pemda. • Membuat Berita Acara seleksi kampung. • Memfasilitasi pertemuan masyarakat (bersama dengan TFL Pemda) untuk penentuan calon penerima manfaat program. • Membuat Berita Acara kegiatan sesuai kebutuhan dan menyusun laporan secara berkala ke dinas penanggung jawab di Kabupaten/Kota dan Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Provinsi. • Melakukan RPA (Rapid Participatory Appraisal atau penilaian cepat secara partisipatif) di kampung yang mengirim undangan dan memfasilitasi community self-selection stakeholders meeting atau pertemuan masyarakat untuk seleksi sendiri bersama dengan tim TFL pendamping. • Membuat dokumen RKM dan meminta pengesahan/legalisasi RKM kepada semua stakeholder (bersama TFL Pemda). • Membuat dokumen RKM dan meminta pengesahan/legalisasi RKM kepada semua stakeholder (bersama TFL-masyarakat). • Membantu TFL Pemda untuk mengadakan pertemuan koordinasi dengan dinas-dinas terkait untuk melaporkan perkembangan Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). dan kegiatan lain sampai tersusunnya RKM. • Membantu masyarakat melakukan survey harga-harga material yang dibutuhkan.• Mengundang stakeholder masyarakat (dalam shortlist) untuk menyelenggarakan pertemuan/ sosialisasi Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). dan kegiatan lain sampai tersusunnya RKM. pembentukan dan pengesahan KSM/Kelompok Swadaya Masyarakat. 2. pemilihan sarana teknologi sanitasi. • Memfasilitasi pertemuan masyarakat (bersama dengan TFL-masyarakat)untuk penentuan calon penerima manfaat program. TFL Pemda • Melakukan pertemuan awal dengan masyarakat (bersama TFL-masyarakat). • Membantu TFL Pemda untuk mengundang stakeholder masyarakat (dalam shortlist) untuk sosialisasi Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). • Melakukan RPA di kampung yang mengirim undangan dan memfasilitasi community self-selection stakeholders meeting bersama dengan tim pendamping. • Mengkomunikasikan kepada Pendamping dan Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Provinsi. TFL Masyarakat • Membantu TFL Pemda menyiapkan daftar longlist kampung. • Mengadakan pertemuan koordinasi dengan dinas-dinas terkait untuk melaporkan perkembangan kegiatan Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). • Membantu masyarakat melakukan survey harga-harga material yang dibutuhkan. penyusunan rencana kontribusi. pemilihan sarana teknologi sanitasi. b. penyusunan rencana kontribusi. • Mengkomunikasikan kepada pendamping/Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan PLP Provinsi tentang jadwal dan agenda pertemuan untuk penyusunan RKM. pembentukan dan pengesahan KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat). TFL Masyarakat • Melakukan pertemuan awal dengan masyarakat (bersama TFL Pemda). • Membuat Berita Acara seleksi kampung serta menyusun laporan berkala ke dinas penanggung jawab kabupaten/kota serta Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Provinsi. Tahap Penyusunan Rencana Kerja Masyarakat (RKM) a. • Membuat Berita Acara kegiatan sesuai kebutuhan. • Melakukan pengecekan lapangan sesuai persyaratan teknis minimal bersama TFL Pemda. • Mengkomunikasikan kepada Pimpinan Kegiatan/Kepala Dinas tentang jadwal dan agenda pertemuan untuk penyusunan RKM. 14 . b.

• Meyakinkan bahwa semua rencana berjalan sesuai RKM.Masyarakat). • Menyelenggarakan pelatihan KSM. b. • Ikut memberikan persetujuan keluar-masuknya material sesuai kualitas yang dipersyaratkan. • Memberikan persetujuan terhadap semua pengeluaran dana KSM dan administrasi keuangannya untuk pelaporan. TFL Pemda • Melakukan persiapan (survey dan pengukuran) dengan masyakarat untuk pembangunan sarana (bersama dengan TFL-Masyarakat). • Membuat Berita Acara kegiatan sesuai kebutuhan.Masyarakat). 15 . • Meyakinkan bahwa semua rencana berjalan sesuai RKM. • Membuat Berita Acara pengecekan final teknis. Tahap Evaluasi dan Support Operasional dan Pemeliharaan a. material dan gudang. tukang. termasuk kontribusi dari berbagai pihak. • Melakukan pengawasan pekerjaan fisik dan tenaga kerja (bersama TFL Pemda). dsb. alat-alat pengawasan material. • Melakukan pengawasan pekerjaan fisik dan tenaga kerja. tenaga kerja. alat-alat pengawasan material. • Memfasilitasi pertemuan rutin masyarakat (bersama dengan TFL. • Membantu TFL Pemda dalam menyusun laporan keuangan dan ajuan pencairan dana sesuai perkembangan fisik. material dan gudang. Mandor/pengawas dan Tukang sesuai perencanaan (bersama dengan TFL. • Melakukan pengawasan pekerjaan fisik dan tenaga kerja (bersama TFL. termasuk kontribusi dari berbagai pihak. • Meyakinkan bahwa semua rencana berjalan sesuai RKM. • Membantu masyarakat melakukan persiapan peresmian sarana. tukang. • Memberikan persetujuan terhadap semua pengeluaran dana KSM dan administrasi keuangannya untuk pelaporan. • Menyelenggarakan pelatihan KSM. • Ikut memberikan persetujuan keluar-masuknya material sesuai kualitas yang dipersyaratkan. • Menyusun laporan keuangan dan ajuan pencairan dana sesuai perkembangan fisik. dan keuangan • Melaporkan seluruh perkembangan kegiatan dan kemajuan pekerjaan kepada Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Provinsi . Tahap Konstruksi dan Capacity Building a. • Menyusun laporan keuangan dan ajuan pencairan dana sesuai perkembangan fisik. dan keuangan • Melaporkan seluruh perkembangan kegiatan dan kemajuan pekerjaan kepada Pimpinan Kegiatan/Kepala Dinas.Masyarakat). termasuk kontribusi dari berbagai pihak. Mandor/pengawas dan Tukang sesuai perencanaan (bersama dengan TFL Pemda). • Menyelenggarakan evaluasi kegiatan bersama dengan dinas-dinas terkait. • Memfasilitasi pertemuan rutin masyarakat (bersama dengan TFL Pemda).Masyarakat). tenaga kerja. • Menyelenggarakan kegiatan evaluasi partisipatif bersama masyarakat (TFL. tukang. • Membuat Berita Acara pengecekan final teknis. TFL-Masyarakat • Menyelenggarakan pelatihan bagi operator dan pengguna (bersama dengan TFL Pemda). kelembagaan.Masyarakat). TFL-Masyarakat • Melakukan persiapan (survey dan pengukuran) dengan masyakarat untuk pembangunan sarana (bersama dengan TFL Pemda). dsb.3. dsb. 4. kelembagaan. material dan gudang. tenaga kerja. b. alat-alat pengawasan material. TFL Pemda • Menyelenggarakan pelatihan bagi operator dan pengguna (bersama dengan TFL. • Memberikan pedoman monitoring kualitas air dan hasil survei Indeks Status Perilaku Kesehatan kepada dinas terkait. • Membantu persiapan peresmian sarana.

Batasan administrasi lahan TPST dalam batas administrasi yang sama dengan area pelayanan 4. Pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan berbasis masyarakat. Oleh karena itu perlu disusun pemetaan prasarana dan sarana sanitasi lingkungan sehingga penanganan sanitasi lingkungan akan lebih tepat sasaran dan skala prioritas. 4. • Memberikan persetujuan terhadap semua pengeluaran dana KSM dan administrasi keuangannya untuk pelaporan. Selalu masuk di semua program penataan kampung kumuh/penataan kawasan di semua dinas. atau kawasan pasar dan permukiman sekitarnya (permukiman atau pasar legal sesuai peruntukannya dalam RTRW Kabupaten/Kota) 2. • Menyusun laporan keuangan dan ajuan pencairan dana sesuai perkembangan fisik.3 4. Adanya saluran/sungai/badan air untuk menampung efluen pengolahan air limbah dan drainase mandiri. Daftar Panjang Lokasi Daftar panjang merupakan data sekunder calon lokasi yang diusulkan oleh pemerintah daerah kota/ kabupaten pada saat MoU. Masyarakat yang bersangkutan menyatakan tertarik dan bersedia untuk berpartisipasi melalui kontribusi. 3. dan recycle) berbasis masyarakat.• Memfasilitasi pertemuan rutin masyarakat (bersama TFL Pemda). c. 3. 5. Penetapan daftar-panjang (minimal 5 lokasi) didasarkan pada wilayah yang merupakan urutan prioritas Pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal berbasis masyarakat. Kriteria lokasi kegiatan pengelolaan persampahan skala kawasan: 1. Kriteria Umum: 1. Penentuan lokasi terpilih dilakukan dengan metode seleksi-sendiri atau oleh perwakilan masyarakat dengan sistem kompetisi terbuka. Memiliki permasalahan sanitasi yang mendesak untuk segera ditangani seperti pencemaran limbah. barang maupun tenaga. 4. Tersedia lahan yang cukup. Lingkungan masyarakat berpendapatan rendah (kumuh miskin. Syarat Lokasi 1.3. Lokasi yang rawan sanitasi b. 3. 6. Lokasi yang berada di kawasan permukiman perkotaan 2. 4. • Melakukan pengawasan pekerjaan fisik dan tenaga kerja (bersama dengan TFL Pemda). banyaknya sampah tidak terangkut atau terjadinya genangan. 5. 6. Kumuh secara fisik. dengan ketentuan memiliki kriteria kelayakan sebagai berikut: a. Kriteria lokasi kegiatan pengelolaan air limbah skala kawasan: 1. reuse. 2. Pemerintah Kabupaten/Kota bersama dengan fasilitator pendamping akan menyusun daftar-pendek sesuai persyaratan teknis minimal yang ditetapkan dan melalui pengecekan lapangan. atau 200 m2 untuk pengolahan sampah pola 3R dan kolam yang sebaiknya cukup menampung 150 m3/ha kawasan permukiman untuk drainase mandiri 4. 2.3. 150 m2 untuk 1 (satu) MCK Plus++. 100 m2 untuk 1 (satu) unit bangunan Instalasi Pengolah Air Limbah/IPAL. Pengembangan pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. Kepadatan > 700 jiwa/Km2 (Wilayah Jawa & Bali). • Menyelenggarakan kegiatan evaluasi partisipatif bersama masyarakat (TFL Pemda). Tersedia sumber air (PDAM/sumur/mata air/air tanah). baik dalam bentuk uang.3. • Membuat Berita Acara kegiatan sesuai kebutuhan. Seleksi Lokasi dimulai dengan Pemerintah Kota/Kabupaten menetapkan calon lokasi penerima Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dalam bentuk daftar-panjang permukiman/kampung/kelurahan.4 16 . kumuh dan rawan sanitasi yang terdaftar dalam administrasi pemerintahan Kabupaten/Kota. Kawasan permukiman padat. Memiliki masalah kesehatan/kasus diare kejadian luar biasa. bukan kumuh kaya). Terdapat masalah fisik sanitasi.2 Seleksi Lokasi 1.

2. sumur gali. Kriteria lokasi kegiatan pengelolaan air limbah skala kawasan: 1. b. Syarat kriteria kelayakan lokasi sasaran kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM): a. Memiliki masalah fisik sanitasi yang sama (tidak terpengaruh batas RT/RW). 4. Tujuan penyusunan daftar pendek adalah mempermudah dan mengefektifkan sosialisasi stakeholder kampung dan seleksi kampung sasaran program. Masalah sampah sudah mulai mengganggu masyarakat d. 7. Mempunyai program lingkungan berbasis masyarakat. Jarak lokasi ke permukiman lebih dari 200 m dari permukiman. Pembuatan Kolam Retensi dan Sistem Polder disusun dengan memperhatikan faktor sosial ekonomi antara lain perkembangan kota dan rencana prasarana dan sarana kota serta dilaksanakan berdasarkan prioritas zona yang telah ditentukan dalam Rencana Induk Sistem Drainase. Status kepemilikan lahan milik pemerintah atau lainnya dengan surat pernyataan bersedia digunakan untuk prasarana dan sarana pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat. Lahan yang diusulkan memang telah di manfaatkan/ difungsikan sebagai lokasi TPS Sampah. Jalan keluar/masuk menuju dan dari TPST datar dengan kondisi baik dan lebar jalan yang cukup untuk mobilisasi keluar/masuk motor/gerobak sampah. Bebas banjir. survey. Ukuran lahan minimal 200 m2 4. 2. 8. Tertarik untuk mengimplementasikan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Kriteria lokasi kegiatan pengelolaan drainase mandiri berwawasan lingkungan berbasis masyarakat: 1. sehingga efektifitas dan target sasaran dapat tercapai.3. Tersedia sumber air (PDAM.5 Daftar Pendek Lokasi Daftar Pendek merupakan data primer yang ditentukan berdasarkan hasil survai dan identifikasi daftar panjang (longlist) yang dilakukan oleh TFL dan dinas penanggung jawab kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) berdasarkan kriteria kelayakan maksimal. biaya operasi dan biaya pemeliharaan. Terletak 500 m dari jalan raya 17 . 3. dan saluran untuk pembuangan air limbah (saluran drainase/riol kota/sungai). Tersedia lahan: 4. 5. 100 m2 (Simplified Sewerage System (SSS) atau komunal) dan min. Ketersediaan dan tata guna lahan Daftar panjang tersebut bertujuan untuk mempermudah TFL dalam menentukan lingkup lokasi. mata air). 150 m2 (untuk Community Sanitation Center (CSC) atau MCK Plus++) 5.pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat. Berada didalam area yang memang direncanakan diperuntukkan sebagai lokasi TPS Sampah atau Rencana pemanfaatan rendah untuk fasilitas umum/taman. Lokasi merupakan kawasan rawan genangan 3. Berada di lahan datar. Kelayakan pelaksanaan Kolam Retensi dan Sistem Polder harus berdasarkan tiga faktor antara lain: biaya konstruksi. 3. Terdaftar dalam administrasi pemerintahan Kabupaten/Kota (Legal/proses legal) & cakupan 50-100 KK – RT/RW/Lingkungan/Kampung. Permukaan air tanah di TPST >10 m 2. 8. Luas min. Kriteria lokasi kegiatan pengelolaan persampahan skala kawasan: 1) Kriteria Fisik lingkungan: 1. Lokasi berada di kawasan permukiman perkotaan 2. Sebaiknya data sekunder calon lokasi sejumlah minimal 5 (lima) kampung lokasi kumuh/miskin/padat penduduk perkotaan. Jarak dengan jalan besar ± 100 m. 4. Bersedia untuk berkontribusi (in cash + in kind). 5. 6. 7. 4. identifikasi lokasi dan sosialisasi awal. 5. 6. 3.

2. Materi presentasi/sosialisasi berupa penjelasan tentang kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) oleh Dinas penanggung jawab dan TFL. Masyarakat bersedia membayar retribusi pengolahan sampah. Adanya badan air/sungai berada dekat lokasi kegiatan 8. 5. Lokasi Kolam Retensi yang akan dijadikan tempat penampungan kelebihan air permukaan dan perkirakan batas luas Kolam Retensi tersebut. 4. Ada tokoh masyarakat yang disegani dan mempunyai wawasan lingkungan yang kuat. Sudah memiliki kelompok aktif di masyarakat seperti PKK. 4. 3. dll c.7. Muka air di kolam retensi/kolam polder direncanakan dari dasar muka tanah terendah di daerah perencanaan dan ditarik dengan lamanya tertentu sesuai dengan kemiringan lahan. pengelola kebersihan/sampah. Sosialisasi kampung merupakan syarat mengikuti seleksi kampung. atau bersama-sama masyarakat.1 18 . klub jantung sehat. 3. • Adanya surat undangan dari masyarakat untuk melakukan survai cepat partisipatif (Rapid Paticipatory Assessment/ RPA). serta kebutuhan untuk memecahkan masalah sanitasi secara cepat dan dilakukan secara partisipatif. Terdapat zona penyangga dan kegiatan operasionalnya tidak terlihat dari luar. Daerah genangan dan parameter genangan yang meliputi luas genangan. Adanya sistem.6 Sosialisasi Kampung Presentasi atau sosialisasi kampung dilaksanakan oleh dinas penanggung jawab kegiatan kota/ kabupaten bersama dengan TFL dan bertempat di dinas penanggung jawab kegiatan. Kriteria lokasi kegiatan pengelolaan drainase berwawasan lingkungan berbasis masyarakat: 1. Daerah pengaliran saluran primer (DPSAL) yang mengalir ke Kolam Retensi melalui peta topografi.3. 2. dengan hasil yang diharapkan antara lain: • Adanya surat undangan dari stakeholder kampung kepada TFL dan dinas penanggung jawab kegiatan untuk melakukan presentasi kepada stakeholder kampung yang berminat di balai pertemuan Kampung/ Lingkungan/RT/RW. masalah yang mereka hadapi. lamanya genangan dan frekuensi genangan. 4. Forum-forum kepedulian terhadap lingkungan.3. Penerimaan masyarakat untuk melaksanakan program 3R merupakan kesadaran masyarakat secara spontan. karang taruna. arah aliran dan outlet 6. Elevasi muka air di muara saluran lebih tinggi dari elevasi muka tanah di daerah genangan. 2) Kriteria Sosial Ekonomi 1.9. Seleksi Kampung Kegiatan seleksi kampung dilakukan dengan metode Rapid Participatory Assessment (RPA) dan Community Self Selection Stakeholders Meeting. 10. club manula.3. 7. 4. Masyarakat bersedia mengoperasikan dan memelihara sistem sendiri serta bersedia membentuk kelompok pengurus O/P Pemilihan maksimal 3 (tiga) kampung yang masuk dalam Daftar Pendek (shortlist) yang dilakukan oleh TFL (Pemda dan Masyarakat) dan disahkan oleh Kepala Dinas penanggung jawab. Cakupan pelayanan mendekati 600 KK. 5. Berdampak minimal terhadap tata guna lahan. Rapid Participatory Assessment (RPA) Rapid Participatory Assessment (RPA) merupakan metode yang digunakan untuk melakukan pemetaan kondisi sanitasi masyarakat. tinggi genangan. Undangan terdiri dari 3-5 orang wakil dari masing-masing stakeholder kampung yang masuk dalam shortlist (telah memenuhi syarat kelayakan).7 4. remaja mesjid.

Tujuan akhirnya adalah terseleksinya masyarakat yang paling siap untuk implementasi kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Memberikan ”ruang” kepada masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan keinginannya. 3. dan cepat. Sesi ini dinamakan Self-Selection Stakeholders Meeting. Kesiapan masyarakat untuk berkontribusi. RPA dilakukan setelah kegiatan Presentasi Konsep Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) kepada stakeholder masyarakat. Jenis Informasi dan Alat RPA yang digunakan No Jenis Informasi 1 2 3 4 5 Pengalaman membangun infrastruktur kampung Kesiapan masyarakat untuk berkontribusi Kelayakan teknis untuk infrastruktur sanitasi Kesiapan lembaga setempat untuk mengelola Prioritas perbaikan sanitasi RPA Tools Timeline Ladder—1 Transect Walk Venn Diagram Problem Tree 19 .Alasan penggunaan metode ini adalah : 1. 2. tujuan RPA adalah teridentifikasinya masalah sanitasi dan keinginan masyarakat untuk memecahkannya atas dasar kemampuan sendiri yang dilakukan secara partisipatif. 4. 2. Sebagai salah satu media pemberdayaan masyarakat pada tingkat bawah (grass root level). Kesiapan lembaga setempat untuk mengelola sarana. Tujuan RPA Secara umum. Tabel 4. dimana undangan/permintaan menjadi salah satu indikator kebutuhan untuk memecahkan masalah sanitasi yang mereka hadapi. Hasil RPA ini akan dipresentasikan pada sesi Seleksi Lokasi Sendiri oleh masyarakat bersama-sama dengan hasil RPA dari kampung lain dalam 1 (satu) kabupaten/kota. Prioritas perbaikan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). 5. Untuk menilai kesiapan masyarakat akan diukur dengan 5 (lima) variabel. yang bertujuan untuk menentukan lokasi masyarakat yang paling siap untuk implementasi Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). 3. yaitu : 1. RPA akan dilakukan hanya jika ada undangan atau permintaan dari masyarakat setelah mereka memahami konsep kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) melalui presentasi.1. Kelayakan teknis untuk infrastruktur Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Memposisikan masyarakat sebagai subyek. Hal ini sesuai dengan pendekatan Demand Responsive Approach (DRA). Dalam tahap implementasi kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). sistematis. Pengalaman membangun infrastruktur kampung.

Skor berkisar antara 0. 75.Pemetaan Sanitasi Kampung Diagram Venn Timeline Transect Walk Ladder-1 Problem Tree Community Self-selection Stakeholder Meeting Gambar 4. Kemudian skor tersebut akan dikonversikan ke dalam nilai. Maka. Waktu yang dibutuhkan untuk implementasi RPA adalah 390 menit (6. 50. setiap indikator dalam variabel akan diberi skor. sedangkan Nilai berkisar antara 0. Tempat yang dibutuhkan untuk pelaksanaan RPA adalah tempat pertemuan besar (untuk pertemuan awal/introduksi dan pertemuan akhir/presentasi hasil) dan tempat pertemuan kecil (untuk penerapan teknik20 . Penetapan skor dan pembobotan (nilai) ini penting dalam rangka penyederhanaan dalam memberikan penilaian tentang kondisi masyarakat secara obyektif. dimana penentuan kampung yang lolos seleksi didasarkan pada total skor yang dimiliki oleh masing-masing kampung. Skema dan Prosedur Implementasi Partisipan RPA Partisipan RPA terdiri dari maksimum 20 orang berasal dari berbagai komponen masyarakat yang ada di kampung yang bersangkutan. ice breaking. Jika ditambah untuk introduksi. Penentuan Waktu dan Tempat Waktu pelaksanaan RPA perlu disepakati bersama antara tim fasilitator dengan masyarakat (misalnya ketua RT/RW dan tokoh masyarakat) agar proses pelaksanaan dapat berjalan lancar. dan 4. Prinsipnya semakin banyak komponen masyarakat yang terlibat dalam proses pelaksanaan RPA ini adalah semakin baik. laki-laki. 1. dan begitu pula sebaliknya. kampung yang mengumpulkan skor nilai tertinggi yang dianggap paling siap untuk implementasi Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). dan penutupan maksimal 90 menit (1. 3. dan tokoh formal maupun informal. Sebelum RPA dimulai. Fasilitator (TFL) sangat berperan penting dalam RPA karena bertanggung jawab atas proses dan hasil RPA sesuai dengan rencana.5 jam). Logikanya : semakin miskin kondisi kampung dan semakin besar tingkat keswadayaan masyarakat. TFL bertugas memberikan ”tongkat komando” kepada masyarakat ketika mereka sudah siap dan memahami tujuan dan cara kerjanya.2. 2. Nilai tersebut merupakan kuantifikasi dari setiap pernyataan yang bersifat kualitatif. komponen masyarakat yang perlu terlibat dalam RPA harus dibicarakan secara jelas dengan ketua RT/RW setempat. dan 100. 25. Maka. dan minimal 1 minggu sebelumnya. total waktu yang dibutuhkan adalah 480 menit (8 jam) atau 1 hari efektif. kaya-miskin. Skor ini sangat penting gunanya dalam Self-selection Stakeholder Meeting.5 jam). Penetapan Skor dan Pembobotan (Nilai) Dalam RPA. yaitu perempuan. maka semakin tinggi skornya. pembagian kelompok.

batu-batuan. pengelolaan persampahan skala kawasan dan pengelolaan drainase lingkungan) 21 . Spidol kecil aneka warna. Bahan-bahan lokal seperti bijibijian atau kacang-kacangan. Lampu (jika ada kegiatan di malam hari).teknik RPA). Jika digambar di tanah. CS1. daun-daunan dan biji-bijian. muntaber. berbentuk hibah/ bantuan dari luar Pernah dilakukan. masyarakat berkontribusi uang dan in-kind (tenaga+material).3. Hasil yang diharapkan adalah peta atau sketsa keadaan sumber daya umum kampung atau peta dengan topik tertentu (peta sanitasi). Sejarah terbentuknya pembangunan bersangkutan. Untuk menggambar di atas media tanah. Sejarah organisasi kelurahan dan sistem pengorganisasian pada saat melaksanakan pembangunan. hasilnya harus digambar kembali di atas kertas agar hasilnya tidak hilang. Media pemetaan dapat dilakukan di atas tanah. asal-usul perintis pembangunan. Gunting. Contoh Timeline No Proyek Pembangunan Tahun Pendanaan Informasi yang diharapkan dari kegiatan timeline adalah: 1. papan tulis atau di atas kertas. Lem/perekat. perkembangan yang terjadi dan siapa yang terlayani. 2.2. Tabel 4. 4. Spidol besar aneka warna.2 Peta Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) Pemetaan kampung adalah salah satu teknik PRA (participatory rural appraisal) untuk memfasilitasi masyarakat dalam mengungkapkan keadaan wilayah di kampung mereka beserta lingkungannya. Kain lebar.1 Pengalaman Membangun Prasarana* secara Gotong-Royong Pilihan Tidak ada pengalaman/belum pernah dilakukan Pernah dilakukan. DB. Terjadinya wabah penyakit (malaria. Untuk itu lebih efektif dan efisien penggambaran peta sanitasi langsung di atas kertas besar/ plano.3. masyarakat berkontribusi in-kind (tenaga+material) Pernah dilakukan. Metode penyusunan peta kampung umumnya menggunakan simbol-simbol dan peralatan yang sederhana seperti tongkat. yang perlu diperhatikan adalah proporsi luas lahan yang akan digunakan sehingga banyak orang/masyarakat yang dapat terlibat. Tempat pertemuan ini diusahakan di tempat yang luas dan mudah dijangkau/diakses oleh masyarakat. Alat tulis. Selotip. dsb) 3.7. Indikator dan Variabel penilaian TIMELINE Tabel 4. panitia pembangunan dan pengelola yang dibentuk masih ada sampai sekarang Skor 0 1 2 3 4 Konversi ke 0 25 50 75 100 Keterangan * = untuk masing-masing kegiatan prioritas (pengelolaan air limbah skala kawasan. Alat dan Bahan yang perlu disiapkan Alat dan bahan yang diperlukan untuk kegiatan RPA terdiri dari : Kertas lebar (plano). masyarakat berkontribusi uang dan in-kind (tenaga+material) Pernah dilakukan. Akan sangat baik jika ada rekaman video/kamera yang dapat dipergunakan untuk melengkapi laporan.

Skor untuk nilai manfaat dan nilai iuran dijumlahkan dan diisikan ke kolom total.3 Ladder-1 (Kesediaan Berkontribusi) Ladder-1 bertujuan untuk mengenali dan mengkaji manfaat dan nilai guna iuran yang dirasakan oleh masyarakat dalam kegiatan pembangunan sarana sanitasi kampung.4. kemudian ditulis pada kertas flip chart (satu kartu satu manfaat) dengan tulisan. CS2. 2. TFL memfasilitasi dan mengarahkan peserta untuk memberikan penilaian atas manfaat yang dapat dirasakan dibandingkan dengan besarnya iuran yang telah mereka berikan terhadap pembangunan sarana sanitasi.1 Kesediaan Masyarakat Untuk Mengeluarkan Biaya Pilihan Tidak bersedia memberikan kontribusi Bersedia memberikan kontribusi hanya untuk biaya pembanguan toilet Bersedia memberikan kontribusi untuk pembangunan prasarana & sarana serta biaya pengoperasian & perawatan komponen terpilih lainnya Skor 0 1 2 Konversi ke 0 25 50 Manfaat (1-10) Biaya dibayarkan (1-10) 22 . Proses Ladder-1 adalah : 1. 4. harta benda. Mulai berdiskusi mengenai manfaat yang dirasakan oleh masyarakat terhadap sarana sanitasi yang ada saat ini.4. Tabel 4. 3.3. dan cara penerapan teknik ini.7. 6. Pandangan kelompok mengenai keberadaan setiap jenis manfaat yang dialami oleh mereka. 7. serta digunakan untuk menilai kesiapan masyarakat berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur sanitasi. TFL menjelaskan tujuan. Contoh Ladder – 1* No Proyek Pembangunan Sarana Sanitasi 1 dst Total Skor = Rata-rata = Keterangan * = untuk masing-masing kegiatan prioritas (pengelolaan air limbah skala kawasan. atau gambar. Berdasarkan hasil analisis ini. tenaga. Urutan manfaat-manfaat dengan memperhatikan kesesuaian kontribusi (dalam bentuk uang. Indikator dan Variabel penilaian Ladder – 1* Tabel 4. Kegiatan dilakukan secara terpisah antara masyarakat laki-laki dan perempuan. dan antar masyarakat kaya dan miskin (jika memungkinkan). lalu dibuat rata-ratanya. simbol. Kartu yang dipilih adalah nilai yang dimiliki oleh masyarakat yang nanti akan dijumlahkan dengan skor yang lain pada sesi Community Self-selection Stakeholders Meeting. 8. maksud. 2. 3. 5. waktu. TFL mengajak peserta untuk menilai kesanggupan mereka untuk berkontribusi terhadap pembangunan/perbaikan sarana sanitasi yang akan dilakukan dengan cara memilih kartu-kartu yang didalamnya sudah ada nilai yang disediakan oleh TFL. Gunakan biji-bijian untuk menghitung skor. atau bentuk lainnya). pengelolaan persampahan skala kawasan dan pengelolaan drainase lingkungan) Informasi yang diharapkan dari kegiatan ladder-1 adalah : 1. Manfaat-manfaat yang memperhatikan isu gender dan pelaksanaan pembagiannya.5.

Mencatat semua sanitasi yang dibangun oleh proyek sebelumnya atau oleh pribadi. (2) menilai tingkat kepuasan masyarakat terhadap fasilitas sanitasi yang ada. penggunaan untuk anak-anak. laporan mengenai layanan kepada pengguna dengan catatan terpisah untuk pria dan wanita. selama. Menilai kepuasan penggunaan sarana meliputi tingkat akses layanan. pengelolaan persampahan skala kawasan dan pengelolaan drainase lingkungan) 4. • Sarana sanitasi yang digunakan masyarakat saat ini : jamban. Untuk lokasi yang pernah mendapat proyek jamban/sarana sanitasi. kualitas konstruksi. • Material lokal. 3. dan (3) menilai tingkat kelayakan teknis sebagai prasyarat pembangunan infrastruktur sanitasi yang direncanakan dengan cara melakukan observasi langsung oleh TFL bersama-sama dengan masyarakat. • Pola penggunaan sarana sanitasi. dan setelah intervensi proyek dengan cara menjumlahkan semua jamban/sarana sanitasi pada ketiga kategori tersebut dan digambarkan persentase perbandingan masing-masing kategori. serta konflik kepentingannya. kolam.7. • Muka air tanah. dan seluruh dari biaya pembangunan komponen lainnya Keterangan * = untuk masing-masing kegiatan prioritas (pengelolaan air limbah skala kawasan. Melakukan observasi dan pencatatan kualitas konstruksi dengan menggunakan format observasi jamban/sanitasi. Menilai kepuasan layanan yang diterima (demand responsiveness). nilai manfaat yang dirasakan dari kontribusi untuk memperoleh layanan tersebut. mengobservasi serta melakukan diskusi dengan masyarakat. dan pemeliharaan serta menggunakan jamban keluarga. & sebagian dari biaya pembangunan komponen lainnya Bersedia memberikan kontribusi untuk biaya pembangunan prasarana 4 100 & sarana. kemudahan penggunaan dan pemeliharaan.3. Kemudian catat hasil temuannya. antara lain : • Lokasi yang dicalonkan masyarakat untuk bangunan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). • (contoh cek list teknis dapat dilihat pada lampiran) 2. Tugas TFL dan masyarakat di kegiatan transect walk adalah : 1. Menentukan. Masyarakat dapat membantu memilih aspek penilaian kepuasan layanan. Penilaian menggunakan checklist terhadap kualitas konstruksi. dsb. • Saluran drainase.4 Transect Walk (Kesiapan Teknis) Transect walk bertujuan untuk (1) mengenali dan mengkaji kondisi sarana sanitasi kampung yang sudah ada. • Ketersediaan lahan. operasi.Pilihan Skor Konversi ke Bersedia memberikan kontribusi untuk biaya pembangunan toilet. 4. lingkup dan pemakaian. 23 . biaya 3 75 pengoperasian & perawatan komponen terpilih lainnya. Secara acak pilihlah titik dengan proporsional (10% dari total) dari masing-masing kategori. kemudian mendiskusikan dengan masyarakat yang ada di sekitar lokasi sarana sanitasi/jamban tentang pemeliharaan (keberadaan dan keteraturannya). desain. dengan menggunakan skala penilaian dari setiap rumah tangga yang dikunjungi selama transect. 5. biaya pengoperasian & perawatan komponen terpilih lainnya. perlu dipilih secara acak jamban/sarana sanitasi yang dibangun sebelum. sungai.

Tabel 4. Sebagian kecil Jamban disalurkan langsung ke sungai.6.4 Ketersediaan Lahan Kondisi Tidak tersedia lahan milik perorangan/negara di dalam atau dekat kampung Ada lahan milik perorangan (100-200 m2) di dekat kampung Ada lahan milik negara (100-200 m2) di dekat kampung Tersedia lahan milik perorangan (100-200 m2) di dalam kampung Tersedia lahan milik negara (100-200 m2) di dalam kampung Skor 0 1 2 3 4 Konversi ke 0 25 50 75 100 Skor 0 1 2 3 4 Konversi ke 0 25 50 75 100 Skor 0 1 2 3 4 Konversi ke 0 25 50 75 100 Skor 0 1 2 3 4 Konversi ke 0 25 50 75 100 24 .9.2 Toilet/Jamban Pilihan Ada jamban lengkap dengan Tangki Septik di masing-masing rumah Ada MCK yang berfungsi. CS3. ATAU. digunakan sebagian besar penduduk. Sebagian besar penduduk buang air besar di tempat terbuka/sungai. ATAU. masak. ATAU.7. Setengah dari keseluruhan rumah telah mempunyai jamban + tangki septik sendiri Ada MCK yang berfungsi.1 Kondisi Drainase Pilihan Tidak ada saluran drainase Ada saluran drainase tetapi sudah rusak Ada saluran drainase tetapi mampet Ada saluran drainase tetapi air mengalir lambat Ada saluran drainase yang mengalir lancar Tabel 4. CS3. Sebagian besar Jamban disalurkan langsung ke sungai. & mencuci Air hanya mencukupi untuk minum. Hanya sebagian kecil Rumah yang mempunyai jamban + tangki septik sendiri Sebagian kecil penduduk buang air besar di tempat terbuka/sungai. CS3.Indikator dan Variabel penilaian Transect Walk Tabel 4.8.3 Ketersediaan Air Pilihan Air tidak mencukupi meskipun untuk minum Air hanya mencukupi untuk minum Air hanya mencukupi untuk minum. ATAU. mencuci & mandi Air mencukupi untuk semua kebutuhan Tabel 4. CS3. digunakan sebagian kecil penduduk. masak.

2.3. Secara khusus dapat digunakan pula untuk menilai tingkat kesiapan masyarakat untuk mengelola sanitasi secara kelembagaan lokal. Contoh Venn Diagram Indikator dan Variabel penilaian Venn Diagram Tabel 4.5 Venn Diagram Venn diagram bertujuan untuk mengenali dan mengkaji keberadaan lembaga lokal yang ada dalam masyarakat. ukuran kertas makin besar). Langkah-langkah kegiatan venn diagram sebagai berikut : 1. Diskusikan dan urutkan organisasi atau lembaga yang ada berdasarkan nilai ”pentingnya” dalam metaplan berbeda ukuran (makin penting. 3.4. Contoh Venn Diagram Organisasi/ Lembaga A B C D Tingkat kedekatan dengan masyarakat 3 1 4 2 4 C 1 3 2 MASYARAKAT D A B Gambar 4. Venn diagram dilaksanakan masyarakat dengan difasilitasi TFL. Buat Lingkaran atau orbit sesuai banyaknya organisasi atau lembaga.7. namun tidak memperoleh pengakuan resmi dari pemerintah Skor 0 1 2 Konversi ke 0 25 50 25 .3. tapi tidak dekat dengan masyarakat (jarang berinteraksi dengan masyarakat) Ada lembaga lokal yang penting dan bermanfaat untuk sebagian besar warga. Meminta warga menuliskan organisasi-organisasi atau lembaga-lembaga kemasyarakatan yang ada di kampung mereka. Tempatkan organisasi terdekat di lingkaran pertama dan seterusnya. rutin berinteraksi dengan masyarakat. CS4. Diskusikan dan urutkan organisasi atau lembaga yang ada menurut kedekatannya dengan warga. 5.10. 4. manfaat dan tingkat kedekatan hubungannya dengan masyarakat.1 Ketersediaan Lembaga-Lembaga Setempat* Pilihan Tidak ada lembaga lokal yang sangat penting atau bermanfaat bagi sebagian besar warga Ada lembaga lokal yang penting dan bermanfaat untuk sebagian besar warga. Tabel 4.11.

Langkah-langkah problem tree sebagai berikut : 1. Tanyakan kepada mereka tentang ide/gagasan/rencana/action plan perbaikan sanitasi. padat dan jelas sesuai pandangan/perasaan masyarakat pada kartu-kartu dan tempelkan pada papan.Pilihan Skor Konversi ke Ada lembaga lokal yang penting dan bermanfaat untuk sebagian besar 3 75 warga. 4. dan memiliki akses keuangan (memiliki rekening bank. Tulis masalah secara singkat.3. Jelaskan maksud. 3. Teliti kartu-kartu lainnya yang menyebabkan terjadinya masalah inti tersebut dan letakkan kartu-kartu tersebut di bawah masalah inti. memperoleh pengakuan resmi dari pemerintah.6 Problem Tree (Rencana Perbaikan Sanitasi) Kegiatan problem tree bertujuan untuk mengkaji dan mengenali masalah-masalah sanitasi yang ada di masyarakat dan hubungan sebab-akibat yang timbul dalam masalah sanitasi yang mereka hadapi. Periksalah diagram secara keseluruhan. rutin berinteraksi dengan masyarakat. Contoh Rencana Perbaikan Sanitasi 26 . dan apabila diperlukan. AKIBAT MASALAH SANITASI 1 AKIBAT MASALAH SANITASI 2 AKIBAT MASALAH SANITASI 3 PENYEBAB MASALAH SANITASI 1 PENYEBAB MASALAH SANITASI 2 dst dst Gambar 4. dan proses kajian masalah sanitasi. lalu letakkan kartukartu tersebut di atas masalah inti. rutin berinteraksi dengan masyarakat. menentukan masalah-masalah inti sanitasi (sanitation core problems). 7. perbaikilah untuk menjamin keabsahan dan kelengkapan analisis permasalahan sanitasi. Minta warga menulis di kartu lain hal-hal yang menjadi akibat dari masalah inti tersebut. dan memperoleh pengakuan resmi dari pemerintah Ada lembaga lokal yang penting dan bermanfaat untuk sebagian besar 4 100 warga. Problem tree dilaksanakan oleh masyarakat dengan difasilitasi oleh TFL. pengelolaan persampahan skala kawasan dan pengelolaan drainase lingkungan) 4. lalu tulislah di kertas lain. tujuan. 8.4. 6.7. 5. 2. serta mengkaji ide/gagasan/rencana masyarakat untuk memecahkan masalah sanitasi yang mereka hadapi. Mintalah kepada masyarakat untuk menentukan masalah inti. Lakukan analisis hubungan sebab-akibat dengan cara memberi tanda panah antara kartu satu dengan kartu lain dan tetap mengacu pada core problemnya. memanfaatkan layanan pembukuan) Keterangan * = untuk masing-masing kegiatan prioritas (pengelolaan air limbah skala kawasan.

4.7. Memberi tenggat waktu tertentu untuk konfirmasi lahan dan sebagainya kepada pemenang ke-1. 2. Overview Pelaksanaan RPA dalam Tahap Implementasi Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) 4.8 .7. pengelolaan persampahan skala kawasan dan pengelolaan drainase lingkungan) Kabupaten/Kot a terseleksi. 27 4.7 Community Self Selection Stakeholders Meeting Community self selection stakeholder meeting atau pertemuan perwakilan kampung dalam proses seleksi pemilihan kampung merupakan alat untuk menentukan 1 (atau lebih sesuai kesiapan dana Pemerintah Kabupaten/Kota) lokasi yang paling siap dengan sistem skoring. dan rencana kerja khusus telah disusun oleh masyarakat Skor 0 1 2 3 4 Konversi ke 0 25 50 75 100 Keterangan * = untuk masing-masing kegiatan prioritas (pengelolaan air limbah skala kawasan.3 per Kab/ Pertemuan stakeholder seleksi sendiri masyarakat kota/kab.Indikator dan Variabel penilaian problem tree Tabel 4. tetapi tidak ada rencana kerja khusus.3. 7 MoU ditandatangani Presentasi kepada stakeholder masyarakat terselenggara RPA oleh TFL dan Konsultan terlaksana di maks.3. kemudian wakil masyarakat tiap kampung mempresentasikan hasil RPA langkah terakhir dengan difasilitasi oleh TFL dan dilakukan perhitungan hasil skoring tiap kampung secara terbuka seperti Tabel Konsolidasi Skor RPA (terlampir) Berita Acara Seleksi Kampung Penandatanganan berita acara seleksi kampung dilakukan: 1.1 Rencana Perbaikan Sanitasi* Pilihan Sanitasi tidak muncul dalam analisis masyarakat Sanitasi muncul tapi tidak dibahas lebih lanjut dalam analisis Sanitasi dan beberapa pilihan pemecahannya dibahas dalam analisis Sanitasi dan pilihan pemecahannya dibahas. beri kesempatan kepada pemenang berikutnya.12 CS5. terlaksana & MoU TFL terseleksi Briefing TFL oleh konsultan terlaksana Gambar 4. Bila pemenang ke-1 bermasalah. Kegiatan tersebut diawali dengan mengundang masyarakat tiap lokasi/ kampung yang telah melaksanakan RPA. Sanitasi dan pilihan pemecahannya dibahas. 7 MoU ditandatangani 1-2 masyarakat terseleksi per Kabupaten/Kota Kabupaten/ Kota terseleksi. Kegiatan tersebut diikuti oleh kampung shortlist yang telah melaksanakan RPA dengan difasilitasi oleh TFL.

• Teridentifikasinya informasi tentang kesetaraan akses pada pelayanan yang ada.4. Penguatan Kelembagaan (Capacity Building). Konstruksi dan Supervisi. TAHAPAN PENYUSUNAN RKM Rencana Kegiatan Masyarakat Rencana kegiatan masyarakat (RKM) merupakan bukti dokumen resmi perencanaan perbaikan sanitasi oleh masyarakat. Mekanisme dan Jadwal Pencairan Kontribusi. kebutuhan dan kepuasan pengguna. Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Pengoperasian dan Perawatan (O & P). yang kemudian disetujui oleh semua stakeholder yang terlibat. namun tetap melibatkan masyarakat. baik laki-laki dan perempuan.8 Monitoring Monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan penyusunan daftar panjang/long list. • Teridentifikasinya kebutuhan pelatihan untuk mengembangkan kemampuan dengan tujuan agar pelayanan dapat berkesinambungan. Tujuan RKM secara umum adalah: Teridentifikasinya kebutuhan masyarakat. • Teridentifikasinya mekanisme untuk mengenal sejumlah indikator untuk kesinambungan dengan memperhatikan perlengkapan pelayanan sanitasi serta proses untuk melakukan penilaian terhadap partisipasi masyarakat.3. Pekerjaan yang membutuhkan keahlian teknis diserahkan kepada tenaga ahli. • Teridentifikasinya kebutuhan dan rencana masyarakat untuk memecahkan masalah sanitasi. Persiapan Pelaksanaan • Persiapan Tim Fasilitator 4. Rencana Teknis Rinci (Detail Engineering Design/DED) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB).1 28 . Rencana Kerja Masyarakat (RKM). Tujuan RKM secara khusus adalah : • Mengumpulkan informasi sanitasi secara kwantitatif-sistematis dengan menggunakan alat-alat participatory. 4.4. integritas dan sosiometri yang sesuai dengan kriteria. maupun kelompok kaya-miskin untuk memecahkan masalah sanitasi yang ada berdasarkan kemampuan masyarakat itu sendiri. Memastikan lokasi terpilih sesuai dengan syarat teknis. Memastikan proses dan keluaran tahap-tahapan survey cepat (RPA) telah sesuai. Penyusunan RKM dilakukan dengan pendekatan partisipatif.4 4. untuk menilai kesinambungan dan ketanggapan terhadap kebutuhan. Memastikan fasilitator pendamping masyarakat memiliki kapasitas. RKM ini dibuat dan diajukan oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). artinya semaksimal mungkin melibatkan masyarakat dalam semua kegiatan yang dilakukan. partisipasi dalam pengambilan keputusan. sekaligus sebagai dasar untuk pencairan dana/material dari berbagai stakeholder yang telah memberikan komitmen. 2. Dokumen RKM ini berisi mengenai Prasarana dan Sarana Sanitasi Lingkungan Terseleksi. RKM Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) hanya akan dilakukan oleh masyarakat yang kampungnya terseleksi sebagai lokasi. Memastikan syarat dan ketentuan calon lokasi terseleksi pada tahap awal (tahap daftar panjang dan daftar pendek serta lama waktu proses seleksi) telah sesuai. 3. Daftar Pendek/short list dan seleksi kampung dilakukan untuk : 1. serta Penjaminan Sistem. baik manajemen maupun teknis. lahan/lokasi tidak dalam kondisi konflik serta mendapat persetujuan masyarakat. terdokumentasikan secara terbuka (transparancy) serta dapat terukur (accountability). kualitas pelayanan dan pengelolaan oleh masyarakat.

materi dan alat-alat untuk RKM . Venn Diagram Participatory Training Assessment Tahapan RKM sebagai berikut : • Klasifikasi Kesejahteraan. 29 . • Siapa Melakukan Apa. • Partisipasi dan Kontribusi. menengah. yaitu mengklasifikasi jumlah penduduk kampung ke dalam kategori tingkat kesejahteraan (kaya. jenis pekerjaan. dan pemeliharaan sarana.13 Topik dan Metode yang digunakan dalam Penyusunan RKM No 1 2 3 4 5 Topik Penentuan calon penerima manfaat program/pengguna sarana Pilihan Prasarana dan Sarana Sanitasi Lingkungan Rencana Teknis Rinci (Detail Engineering Design/DED) & RAB Rencana kontribusi masyarakat KSM Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) Rencana Pelatihan Penguatan Kelembagaan (Capacity Building) Metode Partisipatif Wealth Classification & Community Mapping Presentasi Pilihan Teknologi Sanitasi (ICC). yaitu mempelajari keadaan masyarakat menyangkut sarana air bersih dan sanitasi.Kontak person di masyarakat • Menentukan waktu dan tempat • Melaksanakan pertemuan sesuai jadwal dan kesepakatan • Komunikasi dan koordinasi dengan semua stakeholders Tabel 4. • Pembagian Kerja berdasarkan Peran Gender. Ladder-2 Presentasi opsi KSM. • Pemetaan Sanitasi Kampung oleh Masyarakat. dan pekerjaan yang dibayar atau tidak. yaitu menilai dan menganalisa kesetaraan dan transparansi pengguna saat dan pasca pembangunan sarana. miskin) menurut kriteria khusus dan istilah setempat. Transect Walk untuk data teknis Presentasi opsi-opsi kontribusi. yaitu mempelajari akses masyarakat terhadap sarana sanitasi yang ada.Penyiapan logistik.Siapa berperan sebagai apa dan kapan .. • Transect Walk II. pembangunan. yaitu mengetahui peranan laki-laki dan perempuan pada tahap perencanaan. yaitu menilai dan menganalisa pembagian kerja.

kontribusi. pelatihan. maupun tokoh formal dan informal. Prinsipnya. panitia Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat.5 Tahapan Rencana Kegiatan Masyarakat (RKM) Presentasi teknis ICC & Pilihan teknologi terseleksi Penyusunan DED & RAB berdasarkan klasifikasi kesejahteraan KSM Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat terbentuk Skema dan mekanisme kontribusi disepakati Rencana konstruksi. terlaksana di tiap masyarakat Gambar 4. baik perempuan.Gambar 4. O&P tersusun Pembukaan rekening S Minimal 1 kampung terseleksi per kota/kabupaten Rencana Kerja Masyarakat (RKM) difinalisasikan (DED. kaya-miskin. rencana pendanaan dan pelatihan. O & P. rencana monitoring dan OP) Metode-metode partisipatif (CPA) yang terkait dengan kegiatan : seleksi teknologi. komponen masyarakat yang perlu terlibat harus dibicarakan secara jelas pada saat pertemuan awal. 30 . RAB. semakin banyak komponen masyarakat yang terlibat dalam proses penyusunan RKM ini adalah semakin baik.6 Kegiatan dalam Tahap Penyusunan Rencana Kegiatan Masyarakat (RKM) Peserta/Partisipan Partisipan terdiri dari berbagai komponen masyarakat yang ada di kampung yang bersangkutan. laki-laki. Sebelum proses penyusunan RKM dimulai. kontribusi.

Waktu dan Tempat Pertemuan Waktu pelaksanaan RKM (hari, tanggal, dan durasi per-pertemuan) disesuaikan dengan kesepakatan warga. Keseluruhan waktu yang dibutuhkan untuk implementasi RKM yang terdiri dari 6 tools adalah 20 jam efektif. Dengan demikian, apabila dalam satu hari masyarakat bisa meluangkan waktu 2-4 jam (biasanya malam jam 19.00 s/d jam 23.00), 2-3 kali seminggu, maka penerapan RKM ini bisa selesai dalam 3 bulan. Untuk tempat pertemuan, yang perlu diperhatikan adalah cukup luas, bersifat netral, dan mudah diakses oleh masyarakat. Tabel 4.14. Contoh Alokasi Waktu RKM Minggu ke 1 Kegiatan Perkenalan: tim, apa itu Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM), bagaimana proses Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM), siapa partisipan, Kontrak belajar: Kapan, siapa dan berapa partisipan, bagaimana mengikuti proses, hasil apa saja yang hendak dicapai: - Klasifikasi Kesejahteraan - Pemetaan sosial - Diskusi hasil mapping - Presentasi Katalog Pilihan Informasi Sanitasi (ICC) - Mengidentifikasi Pilihan Teknologi yg dipilih - Transect walk - Pembentukan KSM & Panitia Pembangunan - Siapa melakukan apa - Identifikasi took dan harga material - Review pertemuan minggu lalu - Memilih teknologi yang diinginkan - Rencana Teknis Rinci (Detail Engineering Design/DED) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) - Kontribusi - Partisipasi saat pembangunan pelayanan - Pembagian kerja berdasarkan peran gender dan waktu kerja (Ladder-2) - Review pertemuan minggu lalu - Rencana Teknis Rinci (Detail Engineering Design/DED) dan revisi Rencana Anggaran Biaya (RAB) lanjutan - Kontribusi lanjutan - Rekening Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dibuka - Review pertemuan minggu lalu - Rencana Pelatihan - Finalisasi buku RKM Kebutuhan Waktu 4 – 5 Jam

2-3

4 – 5 Jam

4-6

4 – 5 Jam

7-9

4 – 5 Jam

10 - 12

4 – 5 Jam

4.4.1.1

Klasifikasi Kesejahteraan (Wealth Classification). Tujuan: • Mengklasifikasikan jumlah penduduk RT/RW/Kelurahan kedalam kategori tingkat kesejahteraan (kaya, miskin, sedang), menurut kriteria khusus setempat dan sesuai dengan istilah setempat, serta proporsi populasi masing-masing klasifikasi status sosial untuk tiap kategori; • Klasifikasi kesejahteraan digunakan untuk mengidentifikasi kelompok yang terlibat pelaksanaan forum discussion group (FGD), untuk memetakan akses orang miskin dan kaya terhadap sarana, fungsi dan pekerjaan, serta mengidentifikasi perbedaan tingkat partisipasi masyarakat dan sebagainya.

31

Proses: 1. Dimulai diskusi kelompok dengan menyertakan wanita dalam masyarakat, tentang bagaimana membedakan rumah tangga dalam komunitas mereka; 2. Mencatat tingkatan status sosial yang ada di masyarakat serta menetapkan kriteria tiap tingkat status sosial, dengan media kertas dan spidol/pena fasilitator mengarahkan masyarkat untuk menggambar orang kayapada umumnya dalam masyarakat; 3. Setelah satu kelompok sibuk, fasilitator mengarahkan 2 (dua) kelompok untuk menggambar orang miskin dan menengah, hasil dari ketiga gambar tersebut diletakkan secara berderet dan terpisah; 4. Fasilitator mengarahkan masyarakat untuk mendeskripsikan serta menulis di bawah masing-masing gambar tentang kriteria kaya, menengah dan miskin (minimal 6-7 kriteria pada masing-masing strata); 5. Fasilitator menggali keterangan rasional atau alasan khusus di balik kriteria yang keluar. Setelah itu diklarifikasikan ke masyarakat tentang kebiasaan mereka, apakah mereka mengutamakan sumber tunggal? sosio-ekonomi mereka? serta seberapa jauh generalisasi dapat dilakukan; 6. Dengan mendistribusikan 100 benih/batu (menunjukkan populasi total masyarakat) menurut ketiga status sosial, dimana jumlah benih pada setiap tingkat status sosial menunjukkan prosentase populasi pada tiap kategori; strata 7. Kelompok kemudian menulis karakteristik dan prosentase hasil diskusi dalam lembaran kertas yang besar sebagai acuan pekerjaan berikutnya maupun pekerjaan yang membutuhkan pengelompokkan. Informasi minimum yang diharapkan adalah : a. Kesepakatan kriteria klasifikasi keluarga kaya, menengah, dan miskin; b. Perkiraan distribusi keluarga/rumah tangga untuk setiap kategori yang muncul; c. Memberikan informasi diatas untuk proses pemetaan sosial dan identifikasi peserta untuk berpartisipasi dalam kelompok terfokus. 4.4.1.2 Pemetaan Sanitasi Kampung oleh Masyarakat Pemetaan sanitasi kampung oleh masyarakat ini dilaksanakan pada lokasi/lingkungan yang telah terpilih melalului proses seleksi kampung. Tujuan: • Mempelajari kondisi sarana air bersih dan sanitasi masyarakat (tradisional maupun yang berasal dari bantuan); • Mempelajari akses keluarga kaya, menengah dan miskin terhadap sarana tersebut; • Mempelajari dari keluarga kelas sosial apa (kaya, menengah dan miskin) anggota badan pengelola, baik laki–laki atau perempuan yang bekerja dalam bidang pelayanan sarana air bersih, sanitasi dan promosi hidup sehat/bersih, serta siapa yang pernah atau akan mendapat pelatihan. Proses: 1) Minimal sehari sebelum proses pemetaan, fasilitator berdiskusi dengan wakil masyarakat (laki atau perempuan) mengenai kelurahan yang akan dipetakan (dalam beberapa kasus, gambarkan peta secara umum), sistem penyediaan air bersih baik yang tradisonal maupun yang baru (proyek), serta rumah keluarga kaya, menengah, maupun miskin berdasarkan kriteria yang telah dibuat pada saat klasifikasi kesejahteraan., Kemudian pilih satu atau dua RT/RW/Lingkungan yang dipilih mewakili kelurahan, baik dari keluarga mampu maupun tidak mampu. Pastikan warga yang akan ikut proses pemetaan berasal dari lokasi yang akan dipetakan, baik laki-laki atau perempuan, serta si kaya maupun miskin; 2) Idealnya acara diadakan di lokasi yang mudah diakses orang banyak, cukup penerangan dan jauh dari gangguan cuaca; 3) Fasilitator menjelaskan tujuan dari kegiatan ini, serta mengembangkan legenda yang akan digunakan dalam pemetaan ini, seperti : • Jalan, gang/lorong, jalan setapak; • Rumah (tandai sesuai kategori kesejahteraan yang telah dibuat masyarakat); 32

4) 5) 6) 7) 8) 9)

• Tanda-tanda utama seperti sekolah, dll; • Tempat ibadah : Masjid, Gereja, Pura, dll; • Sumber air : alami atau buatan; • Sarana sanitasi umum dan rumah-rumah yang memiliki jamban (bantuan atau lainnya); • Rumah badan pengelola (laki-laki atau perempuan) pelayanan sarana air bersih dan program sanitasi; • Rumah masyarakat yang telah menerima bantuan pelatihan dalam bentuk apapun. Tandai dalam peta mengenai akses masyarakat terhadap sarana air bersih maupun Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM), baik maupun buruk. Perlu juga diketahui penyebabnya, kurang air atau jauh dsb; Kelompok laki-laki dan perempuan, secara gabungan atau terpisah, tergantung hubungan gender, menggambar peta permukiman setempat di atas kertas besar, dan dapat dilakukan di atas lantai atau ditempel di papan, serta dilakukan di ruang terbuka; Lakukan reproduksi (menyalin) hasil gambar peta ke dalam kertas, setelah kegiatan selesai; Kelompok diskusi memberi skor/nilai mengenai keadaan akses terhadap sarana air bersih dan sanitasi; Fasilitator mengisi lembar isian, jumlah titik air dan fasilitas sanitasi dalam peta; Peta tersebut digunakan oleh tim untuk acuan kegiatan lanjutan, terutama untuk merencanakan jalur dan partisipan yang terlibat dalam transect walk.

Gambar 4.7. Contoh Peta Sanitasi Masyarakat Hal-hal yang perlu diperhatikan pada proses pemetaan sanitasi : a. Ada perwakilan dari masing-masing lokasi (RT, RW, Banjar, Lingkungan) baik laki-laki maupun perempuan; b. Media yang digunakan dapat memberikan keleluasaan bagi masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan pemetaan, yakni : • Media cukup luas, sehingga gambar/simbol tidak berhimpitan; • Pelaksanaan kegiatan dilakukan di ruang umum sehingga tiap orang mudah untuk hadir (miskin/kaya); • Ruang kegiatan terlindung dari gangguan cuaca (angin, hujan, dll). 33

• Menilai dan menganalisa komposisi serta pengaruh badan pengelola masyarakat selama pembangunan sarana layanan.5 Siapa Melakukan Apa Kegiatan ini bertujuan: a. Buat terlebih dulu simbol/legenda yang disepakati oleh masyarakat. serta menilai tingkat kelayakan teknis sebagai prasyarat pembangunan infrastruktur sanitasi yang direncanakan dengan cara melakukan observasi langsung oleh TFL bersama-sama dengan masyarakat. Dilakukan di lokasi yang telah disepakati oleh masyarakat penerima bantuan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Mengetahui peran laki-laki dan perempuan pada tahap perencanaan.3 Perjalanan Transect (Transect Walk II) Transect walk II memiliki tujuan yang sama dengan transect walk I (RPA). b. baik oleh perempuan maupun laki-laki. termasuk keterwakilan gender. membahas tentang siapa berkontribusi apa pada saat pembangunan.c. Proses/Tahap Kegiatan: 34 . 5) Perlu diketahui sumber pendapatan dari kaum laki-laki maupun perempuan. Jika penentuan variasi kontribusi yang disesuaikan dengan kemampuan membayar hanya dilakukan oleh elit.4. 2) Fasilitator menanyakan kepada peserta arti kontribusi oleh laki-laki dan perempuan. c. disamping juga dalam bentuk bahan makanan untuk para pekerja dan tukang. kemiskinan maupun kontrol mereka saat pelaksanaan. maupun pola kontribusi untuk pelayanan sarana sanitasi pada suatu lingkungan masyarakat. Apakah laki-laki dan perempuan punya pengertian yang beda tentang kontribusi. tokoh elit setempat. Partisipasi Saat dan Pasca Pembangunan Sarana dapat dilihat pada Lampiran. atau laki-laki dan perempuan anggota masyarakat.4 Partisipasi dan Kontribusi Tujuan kegiatan partisipasi dan kontribusi adalah: • Menilai dan menganalisa kesetaraan dan transparansi kontribusi pengguna saat pembangunan dan paska pembangunan sarana.1. 4. Mengidentifikasi perubahan tugas yang sangat diperlukan dan layak yang telah dialokasikan. laki-laki dan perempuan yang terlibat dalam badan pengelola setempat atau masyarakat yang terlibat dalam pembangunan. 2. pengelolaan pengeluaran rumah tangga. yaitu: untuk mengenali dan mengkaji kondisi sarana sanitasi kampung. sumbangan berupa bahan-bahan setempat maupun uang. menilai tingkat kepuasan masyarakat terhadap fasilitas sanitasi yang ada. seperti menggali lubang. 3) Melakukan diskusi kelompok. 4) Apabila kelompok miskin memberi kontribusi lebih sedikit. maka ada kemungkinan mereka yang berkontribusi lebih besar akan menggunakan hal tersebut sebagai alasan untuk melakukan kontrol terhadap pelayanan. 4. 4. Membangun kesadaran dan pengertian tugas-tugas rumah tangga dan kemasyarakatan yang dilakukan. Kegiatan transect walk II dilakukan lebih detail dari kegiatan transect walk awal (RPA). serta mendapat kesepakatan dan persetujuan dari masyarakat.1. Proses: 1. Proses/Tahapan kegiatan: 1) Pemberian nilai sejarah pembangunan pelayanan yang dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan yang tinggal dalam masyarakat serta mengetahui sejarah dari pengalamannya.1. pembangunan dan pemeliharaan sarana sanitasi. Sebagai contoh. Contoh lembar kerja.4.4. maka perlu mencari tahu bagaimana keputusan tersebut dibuat : oleh satu orang. Bentuk kontribusi dapat berupa tenaga kerja.

kaya dan miskin. Dilihat dari sisi status pekerjaan. serta pekerjaan yang dibayar maupun tidak dibayar. Proses/tahapan kegiatan: 1) Fasilitator melakukan diskusi kelompok terfokus laki-laki dan perempuan. Peserta dengan kemampuan baca tulis rendah dapat membuat gambar dari pekerjaan atau tugas yang terkait dengan konstruksi. pembagian kerja berdasarkan gender : Siapa Melakukan Apa dapat dilihat pada Lampiran. Jika kelompok diskusi tidak setuju dengan arti sebuah gambar. 4) Fasilitator membuat gambar-gambar yang terkait dengan pembangunan dan pemeliharaan sarana. jika ada ide kelompok yang belum ditunjukkan oleh gambar. tempatkan gambar tersebut di bawah gambar laki-laki. Untuk gambar pasangan laki-laki dan perempuan artinya keduanya melakukan pekerjaan tersebut.6 Pembagian Kerja Berdasarkan Gender dan Waktu Kerja (Ladder II) Pembagian kerja berdasarkan gender dan waktu kerja (ladder II) bertujuan: • Untuk menilai dan menganalisa pembagian kerja. • Beban kerja antara laki-laki dan perempuan. kemudian menentukan mana pekerjaan yang membutuhkan keahlian/pelatihan seperti pengelolaan administrasi keuangan dan sistem iuran. 4) Memfasilitasi kelompok untuk bekerja dengan gambar yang mereka miliki dan mendiskusikan temuantemuan mereka. serta apa yang masyarakat suka dan tidak suka dari kegiatan ini. dengan masing-masing kelompok beranggotakan sebanyak 5 . serta kaya dan miskin. 2) Membagi kelompok. Kelompok bisa melepas dan menempelkan kertas yang menggambarkan tugas laki-laki dan perempuan di atas kertas kosong. • Keuntungan dan kerugian pergantian tugas yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. terkait dengan pelayanan sarana antara perempuan dan laki-laki. • Bagaimana perbedaan beban kerja yang ada bisa mempengaruhi alokasi pekerjaan untuk menanggulangi penularan penyakit diare. Setelah itu. 4. serta satu set gambar yang memperlihatkan tugas yang berbeda.8 peserta. memimpin rapat memiliki status yang paling tinggi.1. • Hal-hal potensial untuk perubahan tugas yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan 6) Menugaskan tiap kelompok untuk mengidentifikasi peran mana yang akan merubah atau memodifikasi halhal yang layak untuk mengembangkan sanitasi dan kesehatan pribadi. 3) Setiap kelompok diberi gambar seorang laki-laki. • Sebagai alat kaji ulang bagi data dari tools lain. 35 . dengan cara peserta menuliskan tiap jenis pekerjaan pada sebuah kartu. 5) Dengan menggunakan potongan kertas berwarna.4. maka sisihkan gambar tersebut. merekam kesimpulan-kesimpulan hasil identifikasi tersebut untuk dimanfaatkan pada kegiatan monitoring selanjutnya.1) Fasilitator memfasilitasi diskusi kelompok untuk mengulang pelajaran apa yang telah diperoleh pada pertemuan sebelumnya. 2) Kelompok menentukan tugas/pekerjaan yang berhubungan dengan sarana sanitasi yang ada. dengan menjelaskan pilihan mereka dan menjawab beberapa pertanyaan. pemeliharaan dan manajemen sarana yang telah dibangun. Sebaliknya. perempuan atau pasangan laki-laki dan perempuan yang menjadi pilhan kelompok. sedangkan pekerjaan yang membutuhkan kemampuan fisik seperti membersihkan sarana dan memperbaiki kerusakan merupakan pekerjaan dengan status rendah. 3) Dengan diskusi kelompok. Contoh lembar kerja. biji-bijian atau bahan lokal lainnya peserta menandakan pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan dan laki-laki. jenis pekerjaan serta menentukan pekerjaan yang perlu dibayar atau tidak. 5) Masing-masing kelompok mempresentasikan pilihan mereka. diantaranya meliputi : • Siapa melakukan apa. pasangan laki-laki dan perempuan secara bersama-sama. kelompok berdiskusi tentang siapa biasanya yang melakukan pekerjaan tersebut. maka fasilitator membuat gambar tersebut atau menulis di kertas baru. 7) Memfasilitasi diskusi kelompok tentang apa yang menjadi pembelajaran dari kegiatan ini. batu. perempuan. Apabila kelompok setuju.

supervisi. • Bendahara: . .Melakukan penarikan kontribusi dari masyarakat berupa uang dan menyetorkan pada bendahara • Seksi Tenaga Kerja: .Pengawasan kepada pekerja dan bekerjasama dengan mandor. . .Membuat laporan tentang keadaan material. menyimpan dan mengeluarkan/membayar sesuai dengan RAB yang telah ditetapkan. .Membantu dalam penyuluhan kesehatan masyarakat.Melakukan rekrutmen tenaga kerja. Seksi Operasi dan Pemeliharaan. • Seksi Logistik: . .Melaksanakan surat-menyurat.Melakukan inventarisasi tenaga kerja. Bendahara. Seksi Kontribusi. • Sekretaris: . Seksi Tenaga Kerja.Bertanggung jawab terhadap hal-hal teknis. • Seksi Operasi & Pemeliharaan: .Melakukan pengelolaan administrasi keuangan dan pembukuan realisasi serta laporan pertanggungjawaban keuangan yang dikelola mingguan dan bulanan.Mengatur tenaga kerja di lapangan. • Seksi Kampanye Kesehatan: . Contoh Bentuk Kelompok: • Kelompok Pembangunan terdiri dari Ketua. .Mengoperasikan dan memelihara sarana sanitasi yang telah dibangun. • Kelompok Pengelola terdiri dari Ketua. Sekretaris. . apabila dibutuhkan. . Bendahara. . . pembagian kerja berdasarkan gender dan waktu kerja/Ladder-2 dapat dilihat pada Lampiran. sehingga dalam membentuk maupun menyusun organisasinya disesuaikan dengan kepentingan kegiatan-kegiatan tersebut.Mengatur dan mengkoordinir material yang diperlukan. Contoh lembar kerja. pembentukan/kepengurusan KSM dan AD/ART KSM dapat dilegalkan melalui notaris setempat.6) Fasilitator memfasilitasi diskusi hasil temuan dan hasil dari pertemuan.Melaksanakan pelaporan kegiatan pembangunan secara bertahap. . Sekretaris.4. • Seksi Kontribusi: . dan Seksi Logistik.Mengorganisir kegiatan kampanye kesehatan di masyarakat. dan mengelola kegiatan pembangunan. 4.Menerima. Seksi Kampanye Kesehatan.Menyusun rencana kebutuhan dan melaksanakan kegiatan tata usaha serta dokumentasi. 36 .Bertanggung jawab terhadap keamanan material selama pembangunan.2 Pembentukan KSM Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) adalah organisasi pengelola berdasarkan pendekatan budaya dan kebutuhan masyarakat dan ditetapkan/disahkan dalam berita acara yang ditandatangani minimal 2/3 peserta atau ditetapkan melalui surat keputusan pejabat yang berwenang.Mengkoordinasikan perencanaan kegiatan pembangunan. Secara umum tugas KSM adalah memonitor. serta mengelola sarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Namun. Dengan tugas sebagai berikut: • Ketua: .Memimpin pelaksanaan tugas panitia dan kegiatan rapat-rapat. Seksi Kontribusi. .Mengalokasikan material sesuai dengan kebutuhan pekerjaan konstruksi.

adalah penyelenggaraan prasaran air limbah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian masyarakat itu sendiri. Untuk daerah tertentu.3 Pilihan Teknologi Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM).4.- Melakukan monitoring terhadap upaya penyehatan lingkungan.8. terdiri dari: 4. reuse dan recycle) dan 6.Mekanisme kerja KSM tercantum dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang disepakati oleh pengurus KSM dan seluruh calon pengguna/penerima manfaat. Salah satu modul pengelolaan air limbah 37 . pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. . Contoh Bagan Organisasi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) 4. 5. Catatan: . pembentukan KSM ini perlu legalitas notaris untuk kepentingan pembukaan rekening masyarakat. adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk menyediakan prasarana penyehatan lingkungan permukiman berbasis masyarakat. pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan Prasarana sanitasi yang dimaksud adalah sebagai berikut: 3. RAPAT ANGGOTA PENGURUS Ketua Sekretaris Bendahara BADAN PENASEHAT PEMBANGUNAN PENGELOLAAN Seksi Kontribusi Seksi Tenaga Kerja Seksi Logistik Seksi Kontribusi Seksi OP Seksi Kampanye ANGGOTA-ANGGOTA (PENGGUNA/PEMANFAAT SARANA) Keterangan : = Garis wewenang = Garis pengawasan = Garis Pelayanan Gambar 4. Prioritas pertama: Pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal berbasis masyarakat.Status pembentukan KSM disahkan dengan Surat Keputusan (SK) Lurah yang diketahui oleh Camat setempat. pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal.

4. Modul ini merupakan modul yang disarankan. Pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. Menggunakan sistem leher angsa untuk menghindari bau dan serangga. mengguna ulang (reuse) dan mendaur ulang (recycle) sampah. Sarana sanitasi terpilih menjadi dasar untuk menyusun Rencana Teknis Rinci (Detail Engineering Design/DED) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB).1 Komponen-komponen sistem Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM): Air Limbah Komunal Berbasis Masyarakat Komponen Tolilet: 1. bisa dilengkapi kamar mandi. Presentasi. reuse dan recycle) berbasis masyarakat adalah penyelengaraan prasarana persampahan yang meliputi kegiatan mengurangi (reduce). reuse dan recycle) berbasis masyarakat membutuhkan dana pembangunan dan pelatihan sekitar Rp.300 juta/Ha. penjelasan dan diskusi pilihan-pilihan teknologi berdasarkan buku Pemilihan Teknologi Sanitasi (Informed Choice Catalogue/ICC) dilaksanakan dalam pertemuan masyarakat. Modul ini dibangun untuk rumah yang berkelompok dan hanya tersedia lahan yang terbatas. dan unit pengolahan air limbahnya.3. Pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan berbasis masyarakat adalah penyelengaraan prasarana drainase yang menunjang kegiatan konservasi dan keseimbangan lingkungan.300 juta d. bersih. sarana cuci dan pengolahan air limbah. Sistem prasarana kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dipilih oleh masyarakat sesuai keinginan mereka dan kondisi lingkungan setempat berdasarkan asas keberlanjutan (sustainability). Modul B berupa 1 unit MCK Plus++ yang dapat dimanfaatkan oleh 100-200 jiwa (25-100 KK) terdiri dari kamar mandi. Sesuai untuk pemukiman yang kebanyakan tidak memiliki jamban 38 . Tinja disiram air dengan gayung.300 juta dan mempunyai 3 alternatif utama: Modul A berupa unit tangki septik komunal yang masing. MCK Umum Terdiri dari sejumlah pintu jamban. KELEBIHAN: • Kloset paling umum di Indonesia • Biaya pembangunan. Prioritas ke-2 Apabila prioritas pertama sudah dipenuhi (tidak ada BAB sembarangan) maka dapat dikembangkan: c.komunal berbasis masyarakat membutuhkan dana pembangunan fisik sekitar Rp. pengoperasian dan perawatan murah • Tidak memerlukan tenaga ahli • Lokasi bangunan bisa di mana saja • Nyaman. WC Individual Biasanya ditempatkan di dalam rumah atau luar rumah. sarana cuci.-masing unit tangki septik dimanfaatkan oleh 4 atau 5 rumah. 1 modul pengelolaan sampah pada 3R (reduce. Modul C berupa sistem jaringan perpipaan air limbah skala lingkungan 100-200 jiwa (25-100 KK). sepanjang kondisi lapangan memenuhi persyaratan. dan sehat jika air tersedia secara teratur KEKURANGAN: • Dibutuhkan air yang tersedia secara teratur • Diperlukan sistem pemipaan dan pengolahan untuk air buangan 2.4. 4. Untuk prasarana drainase ini membutuhkan dana pembangunan fisik sekitar Rp. Setiap jamban melayani 6 KK (25 orang).

Contoh Saluran Pembuangan Limbah Bersama/Komunal KELEBIHAN: • Lebih hemat daripada sistem pembuangan air limbah konvensional • Masyarakat dapat berperan dalam proses perencanaan dan konstruksi • Nyaman untuk pengguna. atau halaman belakang. gang. air limbah dijauhkan dari area pemukiman KEKURANGAN: • Memperlukan proses perencanaan matang • Perawatan yang tidak rutin. Saluran Pembuangan Limbah Bersama/Komunal Menggunakan sistem pemipaan PVC. Gambar 4.10. Pipa biasanya diletakkan di halaman depan.9 Contoh MCK Umum KELEBIHAN: • Sistem sarana dasar sanitasi terpusat • Nyaman untuk pemukiman padat • Memungkinkan untuk meningkatkan sistem KEKURANGAN: • Memerlukan pengawasan konstruksi • Pengoperasian dan perawatan oleh kelompok masyarakat dan penyedia jasa swasta yang mampu 3. menyebabkan kegagalan sistem secara total 39 . Membutuhkan bak kontrol pada tiap 20 m dan di titik-titik pertemuan saluran.Gambar 4.

Dalam tangki septik terdapat dua proses pengolahan: pengendapan dan pengapungan. RPH dan ternak. Tangki Septik Bersama Air limbah dialirkan melalui pipa ke tangki septik. Air hasil pengolahan belum efisien tetapi sudah berbau dan tidak terlalu berbahaya.12. sebagai energi alternatif untuk memasak dan penerangan.11. mengawasi dan membangun 40 . Bio-Digester Menghasilkan biogas. Gambar 4. yang dibangun di bawah tanah.Komponen Pengolahan: 1. Gambar 4. Air limbah yang berada di tengah (bagian bersih) mengalir keluar. Sesuai untuk limbah WC dan industri tahu/tempe. Bio-Digester KELEBIHAN: • Efektif sebagai pengolahan awal • Biaya konstruksi dan perawatan rendah • Kebutuhan lahan sedikit • Air hasil olahan tidak berbau • Menghasilkan gas KEKURANGAN: • Masih diperlukan pengolahan lanjutan • Diperlukan tenaga ahli untuk desain. Tangki Septik Bersama KELEBIHAN: • Sesuai untuk rumah yang berkelompok • Butuh lahan sedikit karena dibangun dibawah tanah • Biaya konstruksi kecil • Pengoperasian dan perawatan mudah dan murah KEKURANGAN: • Efisiensi pengolahan rendah • Perlu pengolahan tambahan • Memerlukan pengurasan yang sering 2.

Hal ini tergantung pada cara pengolahan dan derasnya aliran sungai 41 . KELEBIHAN: • Pilihan pembuangan paling murah • Dapat diterapkan oleh masyarakat • Tidak memerlukan pengoperasian dan perawatan KEKURANGAN: • Konsumsi dan penggunaan air sungai mentah di bagian muara tidak dianjurkan • Kemungkinan kelebihan beban pada sungai sangat memungkinkan.3. Baffled Reaktor/Tangki Septik Bersusun Terdiri beberapa bak. Pengolahan air limbah harus efisien supaya air limbah yang dibuang tidak mencemari badan air (sungai). Komponen Pembuangan/Pemanfaatan Ulang (Dibuang ke Sungai) Air limbah dapat dibuang ke sungai jika air tersebut telah memenuhi beberapa syarat yang ditetapkan. bak pertama menguraikan zat yang mudah terurai. Baffled Reaktor/Tangki Septik Bersusun KELEBIHAN: • Lahan yang dibutuhkan sedikit karena dibangun dibawah tanah • Biaya pembangunan kecil • Biaya pengoperasian dan perawatan murah dan mudah • Efisiensi pengolahan tinggi KEKURANGAN: • Diperlukan tenaga ahli untuk desain dan pengawasan • Tukang ahli diperlukan untuk pekerjaan plester kualitas tinggi 4.13. Anaerobik Filter atau Tangki Septik Bersusun dengan Filter Pengolahan biologis oleh organisme anaerobik di filter (batu apung atau bio-ball) KEKURANGAN: • Biaya konstruksi tinggi jika bahan filter tidak tersedia di tempat itu • Diperlukan tenaga ahli untuk desain dan pengawasan KELEBIHAN: • Butuh lahan sedikit karena dibangun di bawah tanah • Biaya investasi kecil • Pengoperasian dan perawatan murah dan mudah • Efisiensi pengolahan tinggi 5. Gambar 4. bak berikutnya menguraikan yang lebih sulit terurai.

maka harus dikeluarkan dan dibuang dengan bantuan jasa penguras. dan subsistem pengolahan sampah terpusat untuk kawasan. Untuk itu pada perencanaan perlu dirujuk hasil penelitian lapangan komposisi sampah setempat. Harus diperhatikan bahwa pengurasan hanya mengambil lumpur "hitam" saja. Dalam pemilihan teknologi untuk pewadahan. • Pada metoda pewadahan terpilah 3R. Teknologi Pewadahan Subsistem pewadahan merupakan subsistem awal dalam sistem pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat yang merupakan subsistem yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.3. Contoh Pewadahan 42 . subsistem pengumpulan. • Mudah dalam perawatan. Truk penguras dihubungkan ke bak pengolah dengan pipa dan pompa sedot. Pengurasan dengan Truk Tinja Jika lumpur tidak diolah setempat. • Mudah dalam operasi pemasukan sampah maupun pengosongan sampah. Gambar 4. • Terbuat dari bahan yang cukup kuat. 1. maka ada beberapa kriteria yang sebaiknya diikuti secara benar yaitu : • Volume pewadahan minimal dapat menampung sampah dari penghuni untuk jangka waktu minimal 3 hari untuk sampah non organik dan 1 hari untuk sampah organik. tahan basah untuk sampah organik. sehingga umur teknis dari pewadahan minimal dapat mencapai 6 bulan. Pengurasan lumpur dengan truk tinja dilakukan setiap 2 tahun untuk kemudian lumpur diolah di Instalasi Pengolah Lumpur Tinja (IPLT).14. • Pada metoda pewadahan terpilah sesuai prinsip 3R maka setiap wadah dapat menyimpan sesuai jenis sampah yang akan disimpan.6. • Bahan wadah paling baik dapat diperoleh secara lokal. maka warna wadah sebaiknya spesifik untuk setiap jenis sampah. • Untuk menambah estetika yang lebih baik maka wadah dilengkapi dengan tutup. KELEBIHAN: • Pilihan pembuangan berbiaya murah • Masyarakat tidak perlu melakukan pengoperasian dan perawatan • Pembuangan lumpur yang aman KEKURANGAN: • Perlu jasa penguras • Truk penguras mungkin belum tersedia • Perlu dibangun IPLT 4. subsistem komposter rumah tangga.2 Sampah Pola 3R Berbasis Masyarakat Teknologi atau metoda yang berkaitan dengan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat sangat terkait erat dengan sistem pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat yang pada umumnya terdiri dari subsistem pewadahan. Truk penguras sebaiknya terletak tidak lebih dari 50 meter (untuk menyesuaikan panjang selang penguras = 50 m).4.

Perencanaan penentuan wadah sampah di sumbernya dilakukan melalui tahapan sebagai berikut : • Dari penelitian komposisi dan timbulan sampah. maka diperoleh perkiraan timbulan sampah per orang per hari pada lokasi terpilih.Jumlah hunian rata-rata pada rumah tangga . volume wadah dihitung berdasarkan : (jumlah hunian rata-rata) x 3 liter/orang/hari x 3 hari. • Terdapat lubang pengudaraan yang cukup • Bahan pembuatan komposter paling baik dapat diperoleh secara lokal.Kebiasaan masyarakat membuang sampah. • Mudah dalam operasi pemasukan maupun pengosongan sampah. diperoleh : . . Contoh Komposter Kriteria dalam pemilihan komposter rumah tangga adalah : • Volume komposter minimal dapat menampung sampah organik dari dapur untuk jangka waktu minimal 40 hari. volume wadah disesuaikan dengan jenis sampah yang akan dipilah sebagai berikut : . • Terbuat dari bahan yang cukup kuat.15. maka dilakukan beberapa tahapan antara lain: • Dari penelitian komposisi dan timbulan sampah. Penggunaan komposter dalam proses pengkomposan sampah organik di rumah tangga. maka diperoleh perkiraan timbulan sampah per orang per hari pada lokasi terpilih. asumsi rata–rata 3 liter/orang/hari • Dari penelitian sosial.Wadah sampah organik: (jumlah hunian rata-rata) x timbulan sampah organik/orang/hari x 1 hari. • Untuk sampah campuran.Warna terang untuk sampah kering non organik (dapat lebih dari satu tergantung jenis sampah yang dipilah) . sehingga umur teknis dari komposter minimal dapat mencapai 1 tahun. Pada perencanaan pengkomposan sampah organik skala rumah tangga. • Mudah dalam perawatan. • Dari penelitian sosial. 2. • Untuk program 3R. Teknologi Pengkomposan dengan Komposter Dalam sistem pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat maka pengolahan sampah di rumah tangga merupakan salah satu kegiatan penting dalam daur ulang sampah. • Harus dilengkapi dengan tutup.Warna gelap untuk sampah yang mudah membusuk .Warna merah untuk bahan berbahaya dan beracun. diperoleh : 43 . tahan basah untuk sampah organik. • Satu rumah minimal menyediakan 2 (dua) unit komposter. Beberapa teknologi komposter rumah tangga yang sekarang ini banyak digunakan antara lain: Gambar 4. • Pemilihan warna dilakukan dengan menggunakan kriteria sebagai berikut : .Wadah sampah non organik: (jumlah hunian rata-rata) x timbulan sampan non organik/orang/hari x 3 hari.

daur ulang sampah non organik kertas dan plastik biasanya untuk membuat barang seni seperti kertas seni.• • .Gerobak atau motor 3R yang tersekat sesuai jenis sampah yang terpilah digunakan sesuai hasil pemilahan 44 . Teknologi Daur Ulang Sampah Non Organik Skala Rumah Tangga Daur ulang sampah non organik untuk kertas dan plastik dapat dilakukan di rumah tangga.Tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan . karet/kulit dan logam. Dari best practice yang dilakukan oleh masyarakat di beberapa daerah di Indonesia. maka dapat digunakan kelipatannya. hiasan plastik. sebaiknya bahan ini hanya dikumpulkan dalam wadah khusus yang tidak mudah bocor dan diberi label. dll.Jumlah hunian rata-rata pada rumah tangga .Tidak berbahaya bagi kesehatan . merupakan bahan daur ulang kualitas baik. Teknologi Pengumpulan Sampah Pengumpulan sampah merupakan subsistem setelah pewadahan. dapat dilaksanakan dengan cara menjalin kerjasama dengan pihak lapak besar atau langsung dengan industri/organisasi pengguna bahan tersebut (misal industri kertas daur ulang. • Kondisi topografi yang berbukit hanya dapat dilayani dengan motor sampah • Kondisi topografi yang datar dapat menggunakan gerobak atau motor sampah. dll) Untuk limbah yang dikategorikan sebagai bahan B3. perencanaan kegiatan daur ulang sampah non-organik dapat dilaksanakan berdasarkan beberapa hal dibawah ini.Tidak menggunakan bahan kimia beracun . Pada kasus sistem pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat maka pengumpulan dilakukan melalui penggunaan gerobak atau motor sampah.Kebiasaan masyarakat membuang sampah. Daur ulang bahan B3 ini sebaiknya di koordinasikan dengan pihak pengumpul resmi yang memiliki ijin atau dinas kebersihan kabupaten/kota. • Pengumpulan sampah terpilah dapat dilakukan : . industri pengolah logam. plastik. Pengumpulan sampah dapat dilakukan langsung oleh kendaraan pengangkut sampah atau tidak langsung melalui penggunaan gerobak atau motor sampah. Untuk timbulan yang berbeda (sesuai hasil penelitian lapangan) maka cakupan pelayanan satu unit pengumpul dapat diperkirakan sebagai berikut : 1000 liter/(timbulan sampah dalam liter/orang/hari). dengan tata cara penggunaan. namun dalam pelaksanaannya memerlukan penanganan khusus (pemilahan sesuai jenis dan bahan penyusunnya). Rata-rata volume komposter 50 liter. 4.2. dan dipilah sejak dari sumbernya Pemasaran produk daur ulang. Kriteria daur ulang sampah non organik : . antara lain: Sampah yang akan didaur ulang sebaiknya berupa bahan yang terdiri dari kertas. komposter yang sudah penuh perlu didiamkan selama sebulan lagi dan dipanen jika komposter satunya sudah penuh. tas plastik. Bahan ini memiliki nilai ekonomi tinggi. Volume komposter sampah organik dari dapur dapat ditentukan melalui perkiraan sebagai berikut : (jumlah hunian rata-rata) x timbulan sampah organik/orang/hari x 40 hari x 0. Dalam perencanaan teknologi pengumpulan maka digunakan beberapa kriteria sebagai berikut : • Volume gerobak atau motor sampah 1 m3 sehingga satu unit pengumpul dapat melayani 300 jiwa atau sekitar 60 KK untuk timbulan sampah 3 liter/orang/hari. 3. Diperlukan minimal dua komposter untuk setiap rumah tangga. pengolah karet bekas. jika tingkat hunian lebih dari 5 orang.Mudah dilaksanakan Secara umum.

Bangunan pelindung untuk : . Teknologi Pengolahan Sampah Skala Kawasan Teknologi pengolahan sampah terpadu skala kawasan yang disebut juga dengan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). b. e. • Tersedianya data komposisi sampah. Luas lahan yang paling baik mendekati 1. • Volume tumpukan sampah untuk pengkomposan dengan metode open bin : lebar 1 meter. Dari TPST ini akan keluar produk berupa kompos dan bahan lapak.5 meter dan panjang minimal 2 meter (dapat lebih dari ini sesuai lahan yang ada). Peralatan mesin pendukung: • Pencacah organik • Pengayak kompos • Pencacah plastik • Buffer Zone d. • Pemilihan jenis pengumpul dilihat dari topografi lokasi • Penyusunan anggaran investasi sesuai harga satuan setempat • Penyusunan anggaran operasi pengumpulan yang terdiri dari : . panjang 2 meter. Perencanaan pengumpulan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat menggunakan beberapa tahapan sebagai berikut : • Pendataan jumlah warga pada lokasi terpilih • Penentuan jumlah gerobak atau motor 3R yang dibutuhkan dengan cara : ((jumlah warga x jumlah timbulan sampah/orang/hari)/1000 liter/rit per hari.• • .Biaya variabel : · Bahan bakar • Penyusunan jadwal pengumpulan 5.Gudang penyimpanan c.Kantor pengendali . • Volume tumpukan sampah untuk pengkomposan dengan metode caspary lebar 1 meter. dan tinggi 1 meter.Biaya tetap : · Pegawai · Asuransi · Pemeliharaan .000 m2 untuk keperluan lahan pengomposan. 45 . Data yang dibutuhkan : • Jumlah warga yang terlayani • Jumlah sampah yang akan diolah di TPST. panjang 1 meter. dan gudang penyimpanan. kantor pengendalian.Gerobak tanpa sekat digunakan dengan jadwal tertentu Mempunyai umur teknis minimal 1 tahun Menggunakan ban angin. Tempat pengolahan sampah terpadu berdasarkan best practice yang ada biasanya terdiri dari proses pemilahan.Areal pengkomposan .Areal pemilahan . tinggi 1. pengkomposan dan proses pengemasan bahan non organik untuk daur ulang. Karakteristik proses pengomposan : • Volume tumpukan sampah untuk pengkomposan dengan open windrows mempunyai ukuran lebar 2 meter. dan tinggi 1 meter. Pada perencanaan teknologi pada TPST maka ada beberapa kriteria antara lain: Fasilitas TPST terdiri dari: a.

3.Biaya variabel : · Bahan bakar · Listrik 4. Pengembangan permukiman baru dan pengembangan kembali di bagian hulu dapat menyebabkan banjir di bagian hilir di bawahnya sehingga untuk mencegah aliran air masuk ke badan air secara bersamaan. untuk perhitungan detail teknis saluran dan kolam tampungannya dapat mengacu pada Tata Cara Pembuatan Kolam Retensi dan Polder dengan saluran-salurannya. Kemudian air dari kolam tampungan dibuang secara bertahap dengan debit moderat. Pilihan teknologi drainase mandiri berwawasan lingkungan berbasis masyarakat mempertimbangkan keadaan topografi dan lingkungan di lokasi. Contoh Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Perencanaan teknologi pengolahan sampah skala kawasan dilakukan pada beberapa tahapan : • Penentuan wilayah/jumlah warga yang akan dilayani • Dari penelitian komposisi dan timbulan sampah. Tujuannya agar daerah permukiman yang sering tergenang akibat hujan dapat terbebas dari genangan serta untuk menjamin pengembangan baru tidak akan menambah puncak banjir di daerah bagian hilir dan sekitarnya pada saat hujan besar sampai periode ulang 2-5 tahun melalui pengelolaan partisipatif berbasis masyarakat. yang dapat menyebabkan debit naik secara ekstrim maka perlu dibuat kolam tampungan di daerah hulunya. 46 .Gambar 4. Di bawah ini contoh pilihan sistem drainase mandiri berwawasan lingkungan.3 Drainase Mandiri Berwawasan Lingkungan Berbasis Masyarakat Drainase mandiri berwawasan lingkungan adalah drainase suatu kawasan atau lingkungan yang mempunyai sistem independen dan mempunyai tampungan/kolam sendiri yang mampu mengatasi curah hujan/limpasan air di kawasannya sendiri. • Menentukan organisasi pengelola • Penyusunan anggaran investasi sesuai harga satuan setempat • Penyusunan anggaran operasi pengumpulan yang terdiri dari: . • Menentukan layout dari TPST dengan memperhatikan jumlah sampah organik yang akan dikomposkan.Biaya tetap : · Pegawai · Asuransi · Pemeliharaan . teknologi caspary dan open bin sesuai dengan tenaga dan biaya yang ada. juga akan ikut mencegah air hujan mengalir secara berlebihan di bagian hilir yang menyebabkan banjir di bagian hilir. dapat diperkirakan jumlah sampah yang harus diolah yang terdiri dari jumlah sampah organik dan sampah non organik.4. dan bentuk lahan yang ada.16. Drainase mandiri ini selain akan mengelola air hujan di kawasannya sendiri. metode yang akan digunakan. untuk pengkomposan sampah ada beberapa pilihan: teknologi open windrows. • Bersama-sama warga menentukan metoda atau teknologi yang akan diterapkan.

maka perlu memakai pintu air untuk saluran pembuangannya. Kolam penangkap sedimen/grit chamber • Kesesuaian tipe: a. Pintu inlet ke kolam tampungan f. Sistem Drainase Mandiri dengan Kolam Tampungan di Samping Saluran yang Bermuara di Badan Air/Sungai • Kelengkapan Dasar: a.Apabila elevasi muka air kolam tampungan tidak berbeda jauh dengan elevasi muka air badan air/sungai. Dipakai apabila tersedia lahan kolam retensi b. Tidak mengganggu sistem aliran yang ada 47 . Sistem drainase internal kawasan c. diperlukan pompa untuk membuang air ke badan air/sungai. Pengatur debit: . . pengatur debit cukup memakai saluran outlet dengan dimensi dan kapasitas terbatas sesuai perhitungan teknis. Sistem drainase mandiri dengan kolam tampungan di samping saluran yang bermuara di badan air/sungai Gambar 4.17. Kolam tampungan/kolam retensi/kolam tandon b.1.Apabila elevasi muka air kolam tampungan relatif lebih tinggi dari elevasi muka air badan air/sungai. Kapasitas bisa optimal apabila lahan tersedia c. Kelengkapan tambahan (apabila diperlukan) d.Apabila elevasi muka air kolam tampungan lebih rendah dari elevasi muka air badan air maka selain membutuhkan pintu air outlet. Diperlukan juga pembuatan tanggul apabila air dari badan air sering melimpas ke area kawasan e. Saringan sampah g. .

Apabila elevasi muka air kolam tampungan lebih rendah dari badan air maka selain membutuhkan pintu air. Pintu air di ujung saluran outlet.18. . Diperlukan juga pembuatan tanggul apabila air dari badan air sering melimpas ke area kawasan e. Tidak mengganggu sistem aliran yang ada 3. Kolam tampungan/kolam retensi/kolam tandon b. Saringan sampah g. Dipakai apabila tersedia lahan kolam retensi b. Outlet Kolam Tampungan Langsung Bermuara ke Badan Air/Sungai • Kelengkapan Dasar: a. Pengatur debit berada di kolam tandon yang berhadapan langsung dengan badan air/sungai . Sistem drainase internal kawasan dengan kapasitas memadai. Pompa air di ujung saluran outlet. Pintu inlet ke kolam tampungan f. Sistem Drainase Mandiri dengan Kolam Tampungan Segaris dengan Saluran atau Berada dalam Saluran. menggunakan saluran drainase internal kawasan sebagai penampung air sementara • Kelengkapan Dasar: a. yang akan difungsikan juga sebagai tampungan sementara (long storage) b. kapasitas pompa dihitung sesuai dengan kondisi sistem 48 . dapat berupa lahan tanah terbuka atau peresapan buatan seperti sumur-sumur resapan Kelengkapan yang diperlukan apabila elevasi muka air badan air/sungai lebih tinggi dari muka air saluran outlet c. Kapasitas bisa optimal apabila lahan tersedia c. Kolam penangkap sedimen/grit chamber • Kesesuaian tipe: a. Sistem drainase mandiri dengan kolam tampungan segaris dengan saluran atau berada dalam saluran. outlet kolam tampungan langsung bermuara ke badan air/sungai Gambar 4. Sistem drainase mandiri tanpa kolam tampung. maka perlu memakai pintu air untuk saluran pembuangannya. terutama bila fluktuasi muka air pada badan air/sungai cukup besar d.2.Apabila elevasi muka air kolam tampungan relatif lebih tinggi atau tidak berbeda jauh dengan elevasi muka air badan air/sungai. Resapan air untuk mengurangi limpasan air permukaan. Sistem drainase internal kawasan c. diperlukan pompa untuk membuang air ke badan air/sungai Kelengkapan tambahan (apabila diperlukan) d.

Penentuan Calon Pengguna 4. Saringan sampah di depan pompa air • Kesesuaian tipe: a. 3. Pembentukan KSM. Pengelolaan Keuangan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) (Rekening Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Pemilihan Teknologi Sanitasi sampai dengan Penyusunan Buku/dokumen Rencana Pembangunan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Monitoring dan pengendalian ini digunakan untuk : 1. Mekanisme pembelanjaan dan Laporan keuangan) 9. 4. kapasitas yang akan dilayani. Rencana Kerja Masyarakat • Rencana Konstruksi • Rencana Kontribusi Masyarakat • Rencana Pelatihan • Rencana Operasi dan Pemeliharaan. Memastikan keterlibatan semua status sosial yang ada di masyarakat serta gender dalam proses penerimaan masyarakat akan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) untuk memperbaiki kondisi sanitasi lingkungan maupun penerimaan masyarakat untuk berkontribusi sesuai dengan kemampuan masyarakat. Dokumen Perencanaan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) diusulkan dan disahkan dalam forum musyawarah di lokasi pelaksanaan.5 4.5 Monitoring dan Evaluasi Monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan pada waktu proses pelaksanaan rencana kegiatan masyarakat. pemilihan lokasi dan pemilihan teknologi pengolahan limbah domestik telah sesuai dengan lokasi. Ketersediaan Lahan 3. Perencanaan Teknis Rinci (Detail Engineering Design/DED) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) 6.e. 2. Tanggul keliling apabila air dari badan air/sungai sering melimpas ke area kawasan Kelengkapan tambahan (apabila diperlukan) f. Memastikan proses pembentukan kelompok swadaya masyarakat dilakukan secara musyawarah dan transparan.4 Dokumen Rencana Pembangunan Merupakan dokumen resmi perencanaan perbaikan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Dipakai apabila lahan sulit didapat b. Profil lokasi 2. 4. Pemeliharaan dan pengoperasian dilakukan secara rutin 4. Bak penangkap sedimen/grit chamber pada saluran sebelum masuk ke pompa g.4. kemampuan masyarakat untuk mengoperasikan dan merawat sarana sanitasi. Kelembagaan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) 7. Pendanaan. Berisi tentang: 1.4. Memonitor proses pengalokasian dana terutama APBD II serta pencairan/penyerapan dana sesuai dengan progres dan kebijakan dalam Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Administrasi pembukuan dana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Mekanisme Pendanaan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) (Mekanisme Pencairan Dana) 8. Pemilihan Teknologi Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) 5.5.1 TAHAPAN KONSTRUKSI Persiapan Pelaksanaan Tahapan kegiatan konstruksi dilaksanakan setelah Rencana Kerja Masyarakat (RKM) mendapatkan persetujuan 49 . Kesepakatan kontribusi. serta adanya transfer pengetahuan kepada masyarakat.

Mandor sebaiknya adalah anggota Unit Kerja Teknis atau orang lain yang terampil/menguasai jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan. Dalam melaksanakan kegiatan KSM difasilitasi oleh Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL). ada bagian pekerjaan yang bila ditinjau dari jenis dan sifat pekerjaannya tidak memungkinkan untuk dilaksanakan sendiri oleh masyarakat. 50 . Mengecek kembali rekening KSM untuk memastikan bahwa kontribusi masyarakat berupa uang (in-cash) sudah masuk ke dalam Rekening Bersama. masyarakat mempunyai tugas dan kewajiban melaksanakan kegiatan sesuai dengan RKM dan kesepakatan yang tertuang di dalam kontrak. Pernyataan kesiapan diajukan kepada Pimbagpro kabupaten/kota terkait sebagai kelengkapan “kontrak” dan sebagai dasar disetujuinya Surat Perintah Pembayaran (SPP) yang diajukan kepada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN).5. 5. disesuaikan dengan kondisi terkini (bila diperlukan). seperti pembelian material. baik dari segi teknik maupun administrasi kegiatan. Menyusun organisasi pelaksanaan pembangunan Struktur Organisasi Pelaksanaan untuk pekerjaan yang dikerjakan sendiri adalah: • Sekurang-kurangnya terdapat Satu Kepala Pelaksana Kepala Pelaksana mewakili Ketua KSM dalam memberikan arahan serta mengawasi jalannya pelaksanaan di lapangan.dan telah ditandatangani. Hasil dari rembug kampung yang memenuhi kegiatan di atas adalah pernyataan kesiapan masyarakat untuk melaksanakan kegiatan pembangunan. • Bendahara/Administrasi Kegiatan adalah orang yang menguasai sistem pembukuan kegiatan. Persiapan pelaksanaan dilakukan oleh KSM dibantu TFL pada forum rembug kampung. Mengecek dan merubah Jadwal Pelaksanaan yang telah disusun di dalam RKM. 1. 3. Memeriksa dan menyiapkan kontribusi masyarakat berupa tenaga (in-kind) dan material (in-kind). dan berfungsi membantu Kepala Pelaksana dalam menangani satu maçam pekerjaan atau lebih. Kepala Pelaksana adalah Ketua Unit Teknis KSM atau anggota KSM lain yang mampu untuk mengemban tugas tersebut. pengeluaran untuk pekerja. 4.2 Proses Pelaksanaan Proses pelaksanaan kegiatan yang didanai KSM ini semaksimal mungkin dapat dilaksanakan secara swakelola (Pelaksanaan Kegiatan dengan Partisipasi Masyarakat) oleh masyarakat kampung. • Satu orang Mandor atau lebih Mandor adalah orang yang menguasai pekerjaan lapangan sesuai dengan jenis pekerjaannya. Kemudian. Pendaftaran tenaga kerja dapat diteruskan selama pelaksanaan bila terdapat calon tenaga kerja baru. Pelaksanaan Kegiatan Dengan Partisipasi Masyarakat (Swakelola) Setelah Surat Kontrak ditandatangani oleh kedua belah pihak. KPPN akan menerbitkan SPM (Surat Perintah Membayar) kepada KSM. maka pihak kedua (KSM) berhak untuk melaksanakan pekerjaan tersebut dalam RKM. Dalam pelaksanaannya. dan berfungsi sebagai pembantu Kepala Pelaksana dalam masalah administrasi keuangan lapangan. meliputi: 1. 2. 4. dan sebagai penghubung dengan pihak luar sehubungan dengan pelaksanaan pekerjaan. Bendahara/Administrasi Kegiatan adalah Ketua Unit Pengelola Keuangan/Bendaharawan KSM. sehingga perlu dilakukan klarifikasi untuk mendapatkan pertimbangan suatu pekerjaan dapat dikerjakan oleh pihak ketiga sebagai sub pemasok/subkontraktor terhadap KSM. Identifikasi tenaga terampil dan pendaftaran calon pekerja untuk pekerjaan yang akan dilaksanakan sendiri. apabila SPP disetujui. Calon pekerja harus digolongkan menurut jenis kelamin. Dalam hal ini KSM akan berfungsi sebagai Kontraktor/Pemasok. dan sebagainya. Orang yang tergolong kurang mampu harus mendapatkan prioritas.

mandiri atas dasar kejujuran dan mencegah terjadinya penyimpangan dalam 51 .3 Etika Pelaksanaan Baik penyedia barang/jasa (KSM dan Subkontraktor/Pemasok) maupun pengguna barang (KSM dan Dinas PU Kabupaten/Kota) harus memenuhi etika pelaksanaan pengadaan barang/pekerjaan konstruksi sebagai berikut: 1. disertai rasa tanggung jawab untuk mencapai sasaran kelancaran dan ketetapan tercapainya tujuan dalam pelaksanaan pengadaan barang 2. Dalam melakukan pengawasan. kemudian akan dievaluasi oleh Tim penerima barang/jasa yang dibentuk oleh Dinas PU Kabupaten/Kota. 4.Tata cara/metode pelaksanaan pengadaan barang maupun jasa konstruksi dengan Partisipasi Masyarakat (community participation) ini dimaksudkan sebagai suatu sistem peran serta masyarakat dengan mengandalkan masyarakat itu sendiri dalam mengelola pengadaan barang maupun pekerjaan konstruksi. Dengan kemampuan panitia yang terbatas untuk melakukan evaluasi terhadap pekerjaan tersebut. Dalam pertemuan-pertemuan tersebut sekali waktu perlu dihadiri oleh pihak Dinas PU Kabupaten/Kota dan Konsultan Kabupaten/Kota. KSM juga akan melakukan pertemuanpertemuan secara berkala dalam rangka memantau kemajuan pekerjaan yang telah dicapai oleh subkontraktor/pemasok serta permasalahan-permasalahan yang timbul di lapangan. Panitia Penerima bertugas melakukan evaluasi atau pengecekan pekerjaan (Cek List Pekerjaan) yang dikerjakan oleh pihak kedua atau pihak ketiga (Subkontraktor/Pemasok) sesuai dengan spesifikasi teknis atau Kerangka Acuan Kerja dalam kontrak. terutama yang berkaitan dengan kemungkinan adanya perubahan atau revisi pekerjaan yang menyangkut teknis maupun keuangan. 2. Setiap kontrak yang selesai dilakukan oleh KSM akan dievaluasi oleh Tim penerima barang/jasa yang dibentuk oleh Dinas PU Kabupaten/Kota. Dalam pelaksanaannya KSM akan melakukan pengawasan terhadap kinerja subkontraktor dengan dibantu oleh Tim Fasilitator Masyarakat. KSM juga dapat secara langsung melakukan teguran-teguran di lapangan baik lisan maupun tertulis kepada subkontraktor terhadap kualitas pekerjaan maupun kemampuan tukang yang tidak memadai. Panitia Penerima bertugas melakukan evaluasi atau pengecekan pekerjaan yang dikerjakan oleh KSM maupun pihak ketiga sesuai dengan spesifikasi teknis atau Kerangka Acuan Kerja dalam kontrak. Pelaksanaan Kegiatan Dengan Subkontraktor/ Pemasok Pelaksanaan pekerjaan yang dianggap oleh masyarakat tidak mampu dikerjakan oleh masyarakat sendiri karena memerlukan keahlian khusus atau pekerjaan yang memerlukan modal yang besar. setelah dievaluasi secara bersama-sama dengan pihak TFL masyarakat. maka Kegiatan dapat mengundang tenaga ahli Konsultan Kabupaten/Kota untuk melaksanakan evaluasi atau pengecekan tersebut. Setiap kontrak yang selesai dilaksanakan oleh subkontraktor akan diperiksa oleh KSM terlebih dahulu dan dibantu oleh konsultan. Ketentuan upah tukang dan pekerja akan didasarkan pada harga pasar di kampung tersebut dengan membandingkan harga dari daerah sekitarnya (minimal 3 kampung). Disamping pelaksanaan pekerjaan sendiri oleh masyarakat. Bekerja secara operasional. Melaksanakan tugas secara tertib. maka pihak kedua (KSM) diperbolehkan untuk melaksanakan pekerjaan dengan disubkontrakkan melalui pihak ketiga.5. Dalam pelaksanaan ini KSM akan dibantu oleh TFL yang secara periodik ditentukan jadwal pertemuan pelaksanaan yang akan membahas kemajuan-kemajuan pekerjaan dan penyelesaian permasalahan yang timbul di lapangan. Hal itu didasarkan pada pengamatan dan pengalaman sendiri secara gotong-royong dengan memanfaatkan tukang dan pekerja khusus yang ada di kampung atau dari kampung sekitarnya.

Perempuan dapat berperan sesuai kapasitasnya sebagai tenaga terampil dalam pelaksanaan konstruksi (sesuai jabatan di KSM. baik laki-laki maupun perempuan dapat terlibat aktif selama pembangunan sarana sanitasi (pelaksanaan konstruksi) 2. Sistem pelatihan dapat dilakukan di kelas atau langsung di lapangan agar lebih mudah dimengerti oleh masyarakat (on the job training). Pengetahuan tentang spesifikasi teknis dan batasan-batasannya 3. Cara membaca gambar teknis 2. Menghindari dan mencegah pertentangan dengan pihak terkait. bendahara dsb.4 Pelaksanaan Kegiatan Pemberdayaan Untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam melaksanakan kegiatan kegiatan dapat dilakukan dengan cara melakukan pelatihan yang dilakukan oleh TFL masyarakat.5. Menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dalam pelaksanaan pekerjaan ini 5. sehingga mampu dan terampil melakukan kegiatan sesuai dengan kebutuhan yang tertuang dalam RKM. Menerima dan bertanggung jawab atas segala keputusan dalam rapat lapangan sesuai kesepakatan dengan pihak terkait 4. Pelatihan Pelatihan pada tahap pelaksanaan diperlukan sesuai dengan kebutuhan KSM dan masyarakat. atau pihak lain yang secara langsung atau tidak langsung merugikan Negara 6. Laki-laki dan perempuan memperoleh hak yang sama untuk mendapatkan pelatihan ini.) 4. 1. Tata cara pengawasan pekerjaan (quality control) dan cara menghitung kemajuan kegiatan (progress fisik) 4. tidak menawarkan dan atau tidak menjanjikan untuk memberi atau menerima hadiah/imbalan berupa apapun kepada siapa saja yang diketahui patut diduga berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan ini 4.pelaksanaan 3. misalnya: sebagai Ketua. Menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dalam pelaksanaan pekerjaan ini 8. Gender 1. Materi Pelatihan yang diberikan antara lain: 1. Administrasi dan keuangan Salah satu cara pelatihan di lapangan adalah bersama-sama dengan tukang yang terampil membangun jamban lengkap dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) atau memasang pipa (riol) dari rumah ke IPAL. golongan.5.5 Pelaksanaan Konstruksi Pelaksanaan konstruksi dilaksanakan setelah pencairan dana Tahap I dan pelatihan-pelatihan bagi KSM dan Masyarakat yang ada hubungannya dengan konstruksi selesai dilaksanakan. baik langsung maupun tidak langsung 7. Dalam pelaksanaan kegiatan kegiatan. Perempuan dapat melakukan monitoring pada saat pekerjaan konstruksi 4. Menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang dan atau melakukan kegiatan bersama dengan tujuan keuntungan pribadi. Pelatih untuk KSM dapat berasal dari Dinas PU. Usaha lain untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dapat dilakukan dengan cara pendampingan secara terus-menerus oleh TFL selama proses pelaksanaan kegiatan. Tidak menerima. 2. Konsultan atau pihak lain yang ditentukan kemudian. Konsultan Kabupaten/Kota ataupun Pihak ketiga. Perempuan dapat terlibat dalam pelaksanaan konstruksi sebagai tenaga terampil ataupun kurang terampil 3. Perempuan dapat menyediakan konsumsi sehingga pelaksanaan pekerjaan konstruksi dapat berjalan lancar 5. 52 .

rancangannya harus dibuat menarik. Tujuan utama digunakan papan informasi adalah untuk: 1. Papan informasi tersebut dipasang di tempat strategis agar mudah terlihat dan dibaca oleh seluruh lapisan masyarakat baik di kecamatan.5. Penjelasan teknis konstruksi dilakukan kepada KSM. 53 . dimana penggunaannya dibukukan sesuai dengan peraturan yang ada.5.Pelaksanaan konstruksi dapat dilakukan oleh masyarakat sendiri atau pihak ketiga (kontraktor/subkontraktor) bila masyarakat mengalami kesulitan secara teknik dan resiko. Pada umumnya ukuran yang digunakan sekitar 1 x 1. Masyarakat ikut melakukan gotong-royong sesuai jadwal Pelaksanaan Konstruksi oleh masyarakat mempergunakan organisasi dan sumber daya yang telah disusun dalam rembug kampung.menerus melakukan monitoring kemajuan pembangunan selama pelaksanaan pekerjaan. Pembuatan papan informasi harus dimusyawarahkan dengan masyarakat/warga kampung agar secara bersama-sama menetapkan pembiayaan. Wakil dari KSM dan Mandor melakukan pengawasan setiap hari di lokasi 5. KSM dan Masyarakat dengan dukungan TFL masyarakat secara terus.5. dan langsung dapat melaksanakan pekerjaan dengan sumber pendanaan dari Rekening KSM. sedang dan akan dilakukan. memberikan bimbingan teknis dan persetujuan terhadap kegiatan yang telah. tidak mudah rusak dan berukuran ideal agar dapat terlihat dari jarak tertentu. perencanaan. Mempermudah masyarakat memperoleh informasi mengenai kegiatan secara terbuka 2. TFL masyarakat mendampingi. tukang.5. dsb. periode pembayaran.5 meter dan biaya yang dibutuhkan untuk pembuatan papan informasi pada prinsipnya ditanggung oleh masyarakat sendiri. Mempermudah masyarakat untuk berpartisipasi dalam seluruh tahapan pelaksanaan kegiatan dimulai dari persiapan. Pekerjaan konstruksi dilakukan oleh tukang yang dipekerjakan oleh KSM. sedangkan supervisi dilakukan oleh KSM bersama-sama dengan TFL dan Dinas PU kabupaten/Kota 3. Hal ini untuk mempercepat langkah-langkah yang dapat segera diambil bila terdapat penyimpangan dari Rancangan Rinci yang ada dalam Rencana Kerja Masyarakat (RKM). TFL akan memfasilitasi kepada KSM atau anggota masyarakat yang berminat mengenai cara pelaksanaan dari kegiatan percontohan untuk sarana sanitasi. mandor dan masyarakat pengguna sarana yang berminat 2. pembuat dan penanggung jawab dalam perawatan dan perbaikannya. Pelaksanaan Konstruksi secara garis besar adalah: 1. Mempermudah masyarakat untuk turut mengawasi secara langsung pelaksanaan kegiatan fisik dan penggunaan dana kegiatan 4. pelaksanaan sampai dengan pengoperasian dan pemeliharaan 3. seperti pembelian material. kualitas pekerjaan. Pekerjaan Perencanaan sarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dan Rencana Konstruksi diperlihatkan kepada calon masyarakat pengguna 4. kampung maupun lokasi kegiatan. 4. baik untuk jamban komunal maupun untuk jamban pribadi yang telah dipilih masyarakat.2 Lokasi Papan Informasi Papan informasi dipasang di tempat yang strategis dan mudah diakses oleh masyarakat. kelurahan. lokasi pemasangan. administrasi keuangan. Agar masyarakat mudah membaca pengumuman yang tercantum di papan informasi tersebut.1 Papan Informasi Papan informasi merupakan papan pemberitahuan atau pengumuman dengan ukuran tertentu yang memuat informasi mengenai kebijakan dan pelaksanaan kegiatan di lokasi tertentu.

Pelaksanaan kegiatan tersebut termasuk: • Membentuk unit pelaksana untuk kegiatan fisik pembangunan (sarana sanitasi). Melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan bersama rnasyarakat dan telah dituangkan dalam RKM. dan hal tersebut merupakan bagian dari kontribusi 4. tukang pasang pipa) dipilih dari masyarakat setempat. beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah: 1.5. Tenaga inti pelaksana yang diperlukan dalam pelaksanaan (misalnya tukang batu. seperti administrasi keuangan.5. 3. • Melakukan Pembelanjaan dana guna pengadaan bahan & material yang diperlukan. maka KSM bersama Fasilitator Lapangan dapat mencari tenaga yang dibutuhkan dari tempat lain (artinya kampung lain. Nama Kecamatan/Desa/kampung dan alamat KSM Agar informasi dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas. Fasilitator Lapangan bertugas untuk membantu KSM dalam identifikasi tenaga yang dibutuhkan dan melakukan perundingan mengenai harga yang wajar. Papan informasi dilindungi kaca atau plastik untuk mengurangi kemungkinan informasi dirusak orang 5.5. asalkan jelas dan terbaca dengan baik 6.3 Tugas Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Tugas-tugas Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) adalah : 1. Kabupaten. 6.Jenis informasi minimal yang harus tercantum dalam papan informasi antara lain: 1. sesuai dengan Petunjuk Pelaksanaan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dan spesifikasi teknis. Informasi harus selalu diperbaharui sesuai perkembangan pelaksanaan kegiatan 4. 3. pengumpulan dokumen pendukung dan pelaporan. 4. Jumlah kontribusi masyarakat 3. menetapkan personel dan/atau tukang yang ditugaskan untuk melaksanakan setiap kegiatan tersebut di atas. Besarnya upah yang wajar tersebut ditetapkan bersama oleh KSM dan Fasilitator Lapangan. bahan lokal dan tenaga gotong-royong sesuai yang telah disepakati sebagai kontribusi masyarakat. Informasi yang ditempel di papan informasi dapat berupa fotokopi atau tulisan tangan. dengan bantuan Fasilitator Lapangan. 5. Sedangkan kebutuhan tenaga lain yang sifatnya pembantu umum (seperti tenaga angkut. • Melakukan pekerjaan administrasi kegiatan di tingkat desa. Laporan pertanggungjawaban pencairan dan penggunaan dana 6. • Melakukan pengoperasian dan pemeliharaan guna melerestarikan hasil yang dicapai oleh masyarakat Tenaga Pelaksana 1. dsb) akan ditangani oleh masyarakat sendiri secara gotong-royong. kalimat sederhana dan singkat disertai gambar berwarna agar menarik perhatian dan minat pembacanya 4. 2. Pada prinsipnya pelaksanaan kegiatan di tingkat kampung dilakukan oleh masyarakat sendiri (partisipasi masyarakat) melalui suatu wahana organisasi yang dibentuk masyarakat sendiri dan disebut KSM.4 54 . dsb). Bila ada bagian pekerjaan tertentu yang tidak terdapat tenaga di kampung bersangkutan. Proses partisipasi masyarakat tersebut diharapkan menjadi wujud pemberdayaan dan memberi kesempatan agar masyarakat menjadi pelaku dalam menangani kegiatan yang mereka inginkan. Tulisan agak besar.5. Laporan perkembangan pelaksanaan kegiatan 5. Tenaga inti diberi upah (kompensasi) sesuai dengan norma yang wajar di kampung tersebut. Sistem pencairan dana 4. Jumlah dana kegiatan yang harus diterima masyarakat melalui rekening KSM 2. galian. pengelolaan dana. Penggunaan tenaga luar tersebut berbasis upah harian/mingguan/bulanan atau bisa berbasis pada borongan. tetapi aman dari gangguan 2. papan informasi harus dipasang di tempat yang banyak dikunjungi orang. Kecamatan. Papan informasi harus dipasang agak tinggi agar tidak mudah dirusak 3. Mengatur pengadaan dan pengelolaan dana tunai. kegiatan Kesehatan Masyarakat dan sekolah. Tenaga Fasilitator Lapangan Masyarakat bertugas untuk memberikan bimbingan kepada mereka. 2. sesuai harga setempat.

Kegiatan ini juga mencakup evaluasi kinerja pelaksana dan stakeholder dalam bidang keuangan. Keberlanjutan dari kegiatan. 2. 55 4. Faktur. Nota Pembayaran. Fasilitator Masyarakat bertugas untuk memberikan dukungan dan bimbingan kepada KSM dalarn urusan administrasi dan pelaporan tersebut 5. ketepatan waktu operasi dan realisasi. Pihak Kedua berkewajiban untuk melaporkan kemajuan kegiatan masyarakat setiap bulan sesuai dengan Petunjuk Pelaksanaan Operasional Tingkat Kampung berupa laporan fisik dan biaya serta ditempel pada papan informasi. masalah yang dihadapi dan alternatif pemecahan oleh masyarakat langsung dengan mengunakan metode MP. Dokumen pendukung tersebut diantaranya: kwitansi. Selain pemantauan dilakukan melalui pencatatan dan pelaporan secara berjenjang dan sistematis. Catatan atau dokumen pendukung harus bersifat transparan 4. 2.5 Administrasi dan Pelaporan 1.6 4.5. Laporan berkala mencakup data informasi yang dibutuhkan dan dimonitor secara teratur baik secara bulanan maupun triwulan. Kemajuan pelaksanaan suatu program/kegiatan. Data tersebut dikumpulkan dan diklasifikasikan dalam formulir-formulir isian yang diolah dan dianalisis. Bon. terhadap pengadaan dan pelaksanaan konstruksi fisik prasarana.6. atau provinsi. 4. monitoring kegiatan dapat juga dilakukan dengan cara supervisi untuk melakukan pengawasan langsung. baik terhadap administrasi kegiatan maupun kegiatan di lapangan. Dengan informasi dan data yang sudah terkumpul. KSM harus rnenyebarluaskan lkatan Kontrak (jika ada) dengan subpemasok/ subkontraktor melalui papan informasi.masyarakat. Selain itu. Pelaksanaan SIM dengan baik dapat menyediakan data dan informasi bagi kepentingan manajemen kegiatan. teknis. Sistem pemantauan perkembangan pelaksanaan kegiatan memerlukan rencana kegiatan yang terstruktur dengan baik.5.5.5. Sistem Monitoring dan Evaluasi (M&E) dalam kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) juga dilakukan secara patisipatif oleh masyarakat untuk mengetahui keberlangsungan yang dicapai. Seluruh catatan dan dokumen pendukung penggunaan dana tersebut harus tersedia pada waktu diadakan pemeriksaan oleh pihak kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) Kabupaten/Kora. penyusunan dan penyimpanan dokumen pendukung untuk pengeluaran dana. memungkinkan manajer kegiatan dan pelaksana kegiatan bersangkutan serta lembaga penyandang dana mengetahui kinerja kegiatan dan mengenali hambatan serta kesenjangan yang ada sebagai dasar untuk pengendalian kegiatan dan melakukan tindakan korektif bila diperlukan. Evaluasi pelaksanaan kegiatan dan laporan berkala digunakan untuk mengetahui kinerja dalam hubungannya dengan tujuan dan target yang ingin dicapai dengan menggunakan indikator pencapaian hasil serta menyarankan tindakan korektif yang sesuai apabila diperlukan. Sistem pengumpulan dan pengolahan data ini merupakan dasar utama Sistem Informasi Manajemen (SIM). 3. 3. data dan informasi terkait lainnya dapat diperoleh melalui survei data dasar dan survei pemantuan serta evaluasi dampak dan studistudi lainnya. dsb. Monitoring dan Evaluasi Ruang Lingkup Monitoring Monitoring merupakan kegiatan pemantauan yang dilaksanakan secara berkelanjutan dan teratur untuk mengetahui: 1. reqruitment staf.1 . serta kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh kegiatan. 6. penyelenggaraan pelatihan dan lainnya. Proses yang dijalankan dan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh kegiatan. Selain itu. Unit Keuangan harus melakukan pencatatan.

kinerja kegiatan dan pengambilan keputusan. Dalam rangka mempermudah pelaksana kegiatan mengikuti dan mengetahui perkembangan pelaksanaan kegiatan kegiatan secara keseluruhan. Pemda Kabupaten/Kota. 4. Evaluasi Evaluasi merupakan kegiatan membandingkan tahap pelaksanaan suatu kegiatan atau hasil yang dicapai pada tiap tahap pelaksanaan kegiatan dengan suatu pembanding tertentu seperti rencana kegiatan atau sasaran pencapaian yang telah ditetapkan. 4. Memantau kinerja pelaksana dan institusi pelaksana kegiatan dalam menjamin keberhasilan kegiatan.6. agar: a) masyarakat dapat mengetahui keberhasilan yang dicapai dan permasalahan yang dihadapi. pengolahan data (proses). Selain itu evaluasi dilakukan oleh masyarakat secara partisipatif (Community Self Evaluation) dengan menggunakan metode MPA. SNVT Provinsi.2 Mekanisme Monitoring dan Evaluasi Monitoring. dan pelaporan (output) di masing-masing tingkat administrasi. evaluasi dilakukan oleh Dinas PU Kabupaten/ Kota. TKK. efektivitas dan manfaat serta kesinambungan kegiatan kegiatan.5. tentang seluruh kinerja dan dampak akhir dari kegiatan serta merumuskan pelajaran-pelajaran yang dapat ditarik dari pengalaman kegiatan.6. Pengelola kegiatan (Pusat. pengendalian. selain data dan informasi yang dikumpulkan dan dilaporkan melalui sistem monitoring. pelaksanaan dan kemajuan kegiatan. Tujuan umum pemantauan dan evaluasi kegiatan kegiatan adalah untuk pengawasan. Konsultan) 3. 2. serta Tim Koordinator Propinsi/Kabupaten/Kota. TKKc. masyarakat yang menerima manfaat kegiatan. sedangkan evaluasi dampak dilakukan oleh institusi independen pada tengah dan akhir tahun pelaksanaan kegiatan.4 .Laporan tengah dan akhir kegiatan biasanya disiapkan oleh pelaksana kegiatan setelah mid-term dan final evaluation menjelang tengah dan akhir pelaksanaan kegiatan. Laporan ini merupakan dasar bagi Penilaian Akhir Kegiatan.3 Pelaksanaan Monitoring Monitoring dan evaluasi dilaksanakan oleh pelaksana di semua tingkat administrasi dimulai dari masyarakat penerima manfaat kegiatan. Pelaksana di setiap tahap adalah: 1. 3. 4. Dalam pelaksanaan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). kegiatan monitoring dilakukan juga melalui supervisi yang pada umumnya menghasilkan tambahan data dan informasi yang tidak terlaporkan melalui sistem pelaporan. Memantau proses pelaksanaan. Pihak Ketiga yang ditunjuk khusus untuk melakukan monitoring dan evaluasi. yaitu pengumpulan data (input). Selain itu monitoring & evaluasi bertujuan untuk mengukur efisiensi. Evaluasi pelaksanaan kegiatan secara berkala dapat dilakukan oleh pelaksana kegiatan atau Executing Agency. evaluasi dan sistem informasi manajemen.5. TPP. dan menyediakan informasi bagi Pemerintah maupun Bank Penyandang Dana. evaluasi dan Sistem informasi Manajemen (SIM) Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dilaksanakan melalui 3 (tiga) tahap. dampak kegiatan. Tujuan dilaksanakannya evaluasi oleh masyarakat. TKP. Tujuannya adalah menilai pencapaian hasil kegiatan dan keseluruhan keberhasilan. 2.5. 56 4. Mengevaluasi dampak untuk menentukan apakah kegiatan atau intervensi yang dilakukan telah mencapai tujuan yang telah ditetapkan bagi penerima manfaat dan stakeholder lainnya. Tujuan khusus dari Monitoring dan evaluasi kegiatan antara lain untuk: 1.6. Memantau kemajuan pelaksanaan kegiatan.

dan fasilitas lain yang disediakan kegiatan. dan dengan pihak lain yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam pelaksanaan kegiatan. khususnya kelompok tertentu seperti keluarga miskin (berpenghasilan rendah). 3) begitu konstruksi selesai 4) 1 tahun setelah konstruksi selesai. secara berkala sedangkan evaluasi dampak dilakukan pada tengah dan tahap akhir kegiatan oleh institusi independen untuk mengetahui hasil dan dampak pelaksanaan kegiatan yang dicapai secara keseluruhan terhadap masyarakat penerima manfaat. Materi yang digunakan sebagai alat evaluasi adalah field book yang akan dilaksanakan oleh KSM didampingi TFL masyarakat di bawah supervisi. pelayanan. perempuan atau pemuda untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap sarana yang dibangun. 2) setelah penyusunan RKM (namun belum disetujui).b) sebagai alat komunikasi baik secara vertikal maupun horizontal diantara staf kegiatan pada semua tingkatan dan lokasi. tindakan. c) sebagai alat untuk masyarakat penerima manfaat berpatisipasi aktif dalam mengawasi jalannya pelaksanaan kegiatan dan d) membudayakan masyarakat Kampung. Evaluasi kegiatan dapat dilakukan oleh Dinas PU Kabupaten/Kota. 57 . SNVT Provinsi. pada tahap: 1) baseline data (analisa awal).

58 .

yang mengatur siapa penerima manfaat. Pada tahap ini berfungsinya Badan Pengelola untuk operasional dan pemeliharaan berperan penting untuk keberlanjutan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Tugas-tugas pokok pascakonstruksi adalah : 1. Jika terjadi pelanggaran dapat ditindak. membukukan dan melaporkan secara rutin. biaya listrik. membuat perencanaan belanja. Peningkatan kapasitas Badan Pengelola tetap dibutuhkan untuk keberlanjutan proyek sanitasi berbasis masyarakat. dll. waktu pembayaran iuran. Iuran Pengguna : • Membicarakan tentang besarnya iuran pemanfaatan sarana • Mengumpulkan iuran. Penyuluhan Kesehatan • Melakukan kampanye tentang kesehatan rumah tangga dan lingkungan. Badan pengelola juga harus memiliki aturan-aturan organisasi dan operasional prasarana dan sarana. 59 . Badan pengelola harus mempunyai aturan sesuai dengan kondisi setempat. yang disusun dan diputuskan bersama-sama secara musyawarah antar anggota badan pengelola dengan masyarakat agar semua pihak dapat mengetahui dan mematuhinya. Setiap pengguna wajib untuk memelihara sarana dan prasarana yang ada. serta siapa petugas yang melakukan pemeriksaan dan perbaikan kalau terjadi kerusakan dan menentukan besarnya biaya operasi rutin seperti honor petugas. Pengoperasian & Pemeliharaan • Mengoperasikan dan memelihara sarana fisik Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) • Mengontrol semua saluran pemipaan secara rutin • Mengembangkan mutu pelayanan & jumlah sarana pengguna 3. sehingga masih diperlukan pelatihan lanjutan untuk memperkuat kapasitas dan meningkatkan jaringan kerja bagi Badan Pengelola.BAB V OPERASI DAN PEMELIHARAAN Agar pelaksanaan operasional dan pemeliharaan dapat berjalan lancar. 2. maka diperlukan organisasi untuk mengelola sarana sanitasi setelah masa pelaksanaan konstruksi. Badan pengelola ini berfungsi setelah adanya keputusan dari pemerintah kampung dan kelurahan (yang ditanda tangani oleh Kepala Kampung/Lurah). Badan Pengelola sebaiknya berasal dari Kelompok Pemanfaat. besarnya iuran yang harus dibayar.

dan pedoman pemeliharaan. Bagan Struktur Organisasi Badan Pengelola Pasca Konstruksi 5.1 Aspek Operasi dan Pemeliharaan Pelestarian prasarana dan sarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) sangat bergantung pada kemauan dan kemampuan masyarakat dalam mengoperasikan. Secara umum aspek yang perlu diperhatikan dalam pelestarian adalah pengelolaan prasarana dan sarana.2 Penyuluhan Dari hal-hal di atas. memanfaatkan.Ketua Pelindung Sekretaris & Bendahara Seksi Iuran Pengguna Seksi O&P Seksi Kesehatan Gambar 5.1. 5. diharapkan pemerintah kabupaten/kota dapat berperan aktif memberikan dukungan teknis kepada masyarakat (penyuluhan) agar mereka mampu mengoperasikan dan memanfaatkan prasarana dan sarana yang ada. penyuluhan.1. Badan Pengelola harus melakukan langkah-langkah berikut: • Melakukan pemantauan rutin untuk mengetahui kondisi prasarana dan sarana • Mengetahui kerusakan sedini mungkin agar dapat disusun rencana perawatan dan pemeliharaan yang baik • Melakukan rehabilitasi tepat waktu • Melakukan evaluasi kinerja pelayanan secara berkala • Melakukan pengelolaan sesuai standar operasional prosedur 5. Pengelola prasarana dan sarana perlu memperhatikan beberapa hal: • Kinerja prasarana yang dikelola • Jumlah prasarana dan sarana yang tersedia • Jumlah prasarana dan sarana yang digunakan • Target/sasaran perencanaan • Standar prosedur operasional dan pemeliharaan • Standar kriteria teknis prasarana dan sarana • Rencana pengembangan sarana di masa datang Untuk mencapai keberhasilan pengelolaan. Dalam pelaksanaan pelestarian prasarana & sarana. Melalui kegiatan O&P diharapkan dapat mencapai umur teknis prasarana dan sarana sesuai dengan target dan standar perencanaan. kelompok pengguna diharapkan mampu menindaklanjuti pengoperasian dan pemeliharaan (O&P) secara tepat.1 60 .1. dan memelihara prasarana dan sarana yang ada. Pengelolaan Pengelolaan pada dasarnya merupakan aspek dan sendi utama pelestarian hasil fisik terbangun.

5. dan melakukan inventarisasi kerusakan serta usulan perbaikannya. Dalam upaya mencapai keberhasilan pengelolaan perlu didukung organisasi yang handal. dimana organisasi tersebut harus: 1. Komponen yang perlu dipertimbangkan dalam menghitung biaya pengoperasian dan pemeliharaan meliputi: 1. Badan Pengelola perlu mengenal tipe dan jenis prasarana. Pedoman ini disusun oleh pengurus bersama Kelompok pemanfaat. musyawarah berkala untuk pertanggung-jawaban pengurus.3 Pedoman Badan pengelola perlu menyusun pedoman. dsb. MCK di kawasan kelompok beberapa kepala keluarga (KK). Prasarana dan Sarana Kelompok Adalah prasarana terbangun yang dimanfaatkan oleh kelompok anggota masyarakat tertentu. yang akan menjadi acuan dalam melakukan kegiatannya. sesuai dengan kondisi. Dapat menjamin kepentingan pemanfaat dan mencarikan alternatif pemecahan permasalahan yang dihadapi. juga diperlukan aturan untuk organisasi Badan pengelola itu sendiri. Setiap Kampung dapat mengembangkan pedoman kerjanya sendiri. Berdasarkan pengguna/pemanfaatnya. Selain itu dalam upaya melestarikan prasarana terbangun perlu adanya dukungan kemampuan teknis. 2.1. Kemampuan untuk menyusun rencana kegiatan operasi dan pemeliharaan (O&P) serta pelaksanaannya. terminal. Mampu melakukan hubungan kerja dengan lembaga lain di luar Badan Pengelola. Sesuai dengan tipe dan jenis prasarana dan sarana. 2. seperti: 1. Honorarium pengelola. Mampu menerapkan sanksi organisasi bagi anggota yang melanggar peraturan. 2. 3. toilet/kakus umum. Biaya Operasional (solar. Prasarana Umum Adalah prasarana terbangun yang dimanfaatkan oleh banyak orang (publik) tanpa pembatasan. dapat disusun mekanisme pendanaan pengelolaannya.1. misalnya toilet/kakus di sekolah. Sedangkan pendanaan untuk prasarana umum. Depresiasi alat/sarana Terkait dengan pendanaan prasarana dan sarana terbangun. 3. berupa iuran yang dihitung berdasarkan kesepakatan bersama akan kebutuhan operasional dan pemeliharaan serta rencana pengembangan sarana di masa datang. dan sebagainya. lama periode kepengurusan dan mekanisme pemilihannya. 5. Pendanaan untuk prasarana dan sarana kelompok dapat dilakukan dengan mekanisme penarikan pembayaran atas penggunaan/pemanfaatan prasarana dan sarana atau iuran bersama masyarakat. Selain pedoman untuk operasional kegiatan. Pendanaan diperuntukkan bagi operasional dan pemeliharaan ditambah honorarium pengelola untuk melakukan operasional dan pemeliharaan serta orang yang bertugas untuk melakukan perbaikan jika terjadi kerusakan. Biaya perbaikan sarana. 2. dimusyawarahkan bersama dalam forum musyawarah desa. stasiun kereta api. misalnya Mandi Cuci Kakus (MCK) di pasar. yang di dalamnya mengatur hak dan kewajiban anggota serta pengurusnya. yang dimanfaatkan oleh orang banyak dapat dilakukan melalui pengenaan tarif kepada 61 . SPBU (Pom Bensin). 3. listrik. dll. 5. prasarana dan sarana dapat dikategorikan sebagai berikut: 1. 4. Kemampuan untuk mempelajari prinsip dasar cara kerja prasarana terbangun. dll) 4. Mampu mengorganisasikan anggotanya untuk mendukung program kerja yang telah dibuat. Kemampuan menyusun rencana operasional dan pemeliharaan.4 Pendanaan Sumber dana berasal dari masyarakat. kemampuan dan budaya yang ada di daerahnya masing-masing. dan setelah dicapai mufakat disahkan oleh Kepala Lurah. Biaya penggantian komponen yang rusak sesuai dengan sistem sarana yang dibangun.

SISTEM MCK Tabel 5.-/ 2 tahun 4... Perbaikan Pompa Rp.000.100. Pengurus Badan Pengelola dapat mencari sumber dana dari Ormas.s/d 2. Operator & Penjaga Pekerjaan yang tidak tetap 2.400 150 . Mencuci & ambil air * 1 KK = 5 ORANG 62 . / Pakai Rata2 per KK/hari Rp.000.. lampu.000. 250.000.1. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan pengurus Badan Pengelola untuk mencari sumber dana di luar iuran warga pemanfaat. Peralatan Pembersih Sabun dan pembersih lantai.Rp /Bulan 200. diantaranya adalah: 1.1. dll 5. Pemerintah Daerah sebagai pembina atau fasilitator kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) diharapkan dapat meneruskan bantuannya pada tahap pelestarian. Bantuan Pemerintah Pemerintah Daerah dapat memberikan bantuan kepada Badan Pengelola yang bersumber dari APBD yang sudah dituangkan dalam peraturan kampung. Kamar Mandi WC/Jamban 150 – 600 150 . Secara rinci mengenai Operasi dan Pemeliharaan mengacu pada Petunjuk Pelaksanaan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) di tingkat masyarakat. Pengurasan IPAL Rp. LSM. Bentuk pembinaan dan bantuan yang diberikan dapat berupa bantuan teknis dan/atau bantuan pendanaan. 2. kran.20.20.000.350. Lain-lain Serok. perbaikan. 2000. 5.000. cat dinding.- 3. dan pengembangan prasarana adalah tugas bersama. Perusahaan Swasta atau Yayasan selama bantuan ini tidak bersifat mengikat 3.9. Bantuan dari pihak lain yang tidak mengikat./ Tahun 6.Rp..000.500. 5. Listrik 250 Watt (Pompa air dan lampu) 3.s/d Rp.pengguna. Pada dasarnya yang membiayai Badan Pengelola adalah warga pemanfaat prasarana berlandaskan gotongroyong dan kesadaran bahwa pemeliharaan.s/d Rp.3 Air Limbah Komunal Berbasis Masyarakat a. 100. 2. 750.000. dll Total biaya pengoperasian dan pemeliharaan II. 3000.500 Rp.000.2 Dukungan Pemerintah Kabupaten/Kota Sesuai dengan definisi pelestarian sebelumnya.Rp. 750. BIAYA PEMAKAIAN Fasilitas 1. Orsospol. dimana hal ini disesuaikan dengan kemampuan Daerah masing-masing. Usaha lain yang sesuai dengan peraturan yang ada. Biaya Pengoperasian dan Pemeliharaan Sistem MCK untuk 250 Jiwa Kebutuhan Keterangan 1. 750.

WC maupun tempat cuci Petunjuk Pelaksanaan Bagi Pengelola MCK/Operator 2 kali per hari gunakan pel untuk membersihkan teras luar (gunakan bahan pembersih jika sangat kotor saja) Setiap hari bersihkan gayung dengan sikat atau sabut Setiap hari bersihkan saringan di lantai KM/WC dari kotoran padat/sampah Setiap hari buang sampah dalam KM/WC dan bersihkan tempat sampah 63 .Petunjuk Pelaksanaaan Bagi Pengguna Mck Jangan memasukkan benda padat karena akan menyumbat saluran Buang sampah di tempat sampah yang disediakan Hindari air sabun dari air mandi maupun cuci masuk ke dalam kloset Jangan membuang bahan kimia karena akan mematikan bakteri Gunakan sabun cuci sehemat mungkin Jangan corat-coret di dinding kamar mandi.

dilanjutkan ke bak-bak berikutnya Ambil kotoran tepat di bawah manhole Gunakan alat T untuk mengumpulkan kotoran tepat di bawah manhole Keluarkan semua kotoran yang terkumpul sampai tidak ada yang tersisa 64 . keluarkan kemudian buang ke tempat sampah 1 kali per 6 bulan buang kotoran padat dan kotoran yang mengapung tepat di bawah manhole Mulai dari bak inlet. jika terdapat kotoran padat/sampah.Setiap hari kuras bak dengan sikat (gunakan bahan pembersih jika sangat kotor saja) Setiap hari bersihkan/sapu taman 1 kali per minggu rapikan taman (tanaman dan rumput) 1 kali per minggu kuras dan bersihkan tangki/tandon air dari lumut dan kotoran lain 1 kali per bulan bersihkan langit-langit KM/WC dari sarang laba-laba 1 kali per minggu periksa bak kontrol.

Minta pemeriksaan untuk: pH. masing-masing 2 liter dalam botol terpisah Bawa 2 botol sample ke laboratorium yang dirujuk. COD. pengurasan dengan truk tinja Telpon perusahaan jasa pengurasan tinja Buka semua tutup manhole pada IPAL Angkat kotoran mengapung dan buang ke tempat sampah Masukkan pipa sedot dari truk tinja sampai ke dasar bak. Test Kualitas Air Limbah Telpon dinas terkait Ambil 2 sample air limbah dari bak inlet dan bak outlet. lemak Petunjuk Pelaksanaan Pengurasan IPAL MCK 1 kali per 2 tahun. TSS. sedot mulai dari bak pertama Lumpur yang disedot adalah lumpur yang berwarna hitam Hentikan pengurasan jika lumpur sudah berwarna coklat 65 . BOD5.Mintalah tukang untuk memperbaiki semua kebocoran secepat mungkin dan lihat sebabnya 1 kali per 6 bulan.

45.000. 25.500.952.000.94 Dibulatkan 2. Pipa Utama. Lain-lain: Perbaikan pipa..00 Petunjuk Pelaksanaan Bagi Pengguna Sistem Komunal IPAL akan berfungsi dengan baik jika Anda memasukkan limbah yang benar.2.000. Pengurasan setiap 2 tahun Rp. Biaya Pengoperasian dan Pemeliharaan Sistem Komunal untuk 750 Jiwa Biaya Pengoperasian dan Pemeliharaan Rp.b. Sambungan dari Rumah III. baik untuk sistem pengolahan dan menghemat 66 Buanglah hanya limbah cair dari kamar mandi dan dapur dan beri saringan untuk memisahkan limbah padat .00 Asumsi: perbaikan pipa 40 m' setiap 2 tahun Total Biaya Pengoperasian dan Pemeliharaan 155. Pipa Utama dan IPAL 1. SISTEM KOMUNAL Tabel 5.000. Operator Inspeksi 4x/bulan di IPAL. Pipa 100. IPAL bukan tempat pembuangan semua jenis sampah! Jangan memasukkan limbah padat ke jamban karena akan menyumbat saluran.00 Sekunder @ Rp. lemaknya dapat menyumbat pipa Jangan membuang bahan kimia ke saluran karena akan mematikan bakteri di IPAL Jangan menanam pohon di dekat saluran perpipaan dan IPAL karena bisa merusak pipa Gunakan secukupnya sabun cuci dan pembersih.00 Biaya Pengoperasian dan Pemeliharaan /KK/Bulan 1.00 3. Jangan membuang minyak bekas ke saluran pembuangan dapur karena ketika mengering./Bulan I. 250. bak kontrol.500.000./ Inspeksi 2. IPAL.10. Jamban Biaya pengoperasian dan perawatan menjadi tanggung jawab setiap pengguna (KK) II.

dengan sekop/serok. pasir/lumpur. segera perbaiki jika ada kerusakan pipa Sogok dari bak kontrol ke bak kontrol lain 67 . minta tukang untuk memperbaiki kerusakan Jika ada luapan air dari bak kontrol.Ambil kotoran mengapung dari bak penangkap lemak setiap 3 hari sekali Periksa bak kontrol di rumah setiap 3 hari sekali Buang limbah padat. mungkin pipa tersumbat. mungkin pipa tersumbat atau rusak Hentikan kegiatan di rumah Buka pemipaan. kumpulkan dalam tas plastik Bawa ke tempat pembuangan sampah Bawa ke tempat pembuangan sampah Petunjuk Pelaksanaaan Bagi Operator Sistem Komunal Lakukan 1 Kali per minggu Periksa setiap bak kontrol pada sistem perpipaan Buang limbah padat dan kotoran mengapung Jika tidak ada aliran air dalam bak kontrol. Hentikan kegiatan di rumah.

masukkan dalam tas plastik.Minta tukang untuk memperbaiki kerusakan secepatnya Buang limbah padat dan kotoran mengapung dari bak inlet dengan sekop Kumpulkan semua kotoran. Semua tutup bak kontrol dan manhole IPAL harus bisa Buang ke tempat sampah dibuka untuk mempermudah pengoperasian dan pemeliharaan. 1 kali per 2 minggu: buang kotoran padat dan kotoran yang mengapung tepat di bawah manhole Mulai dari bak inlet. dilanjutkan ke bak-bak berikutnya Ambil kotoran tepat di bawah manhole Gunakan alat T untuk mengumpulkan kotoran tepat di bawah manhole Keluarkan semua kotoran yang terkumpul sampai tidak ada yang tersisa 68 .

Pemeliharaan alat pencacah sampah 1. gerobak/becak sampah harus dibersihkan secara berkala.Petunjuk Pelaksanaan Pengurasan IPAL Komunal 1 kali per 2 tahun. Pengelola mengetahui lokasi penjualan suku cadang terdekat 4. Pengelola harus mengetahui lokasi penjualan suku cadang terdekat d. Usahakan tidak ada sampah yang menyangkut di roda gerobak/becak sampah 3. Pemeliharaan Wadah/Bin 1. Motor sampah dilengkapi dengan manual pengoperasian dan pemeliharaan 2. Setelah digunakan. wadah/bin sampah dibersihkan secara teratur setiap hari b. Pisau pencacah dijaga ketajamannya dengan cara diasah secara berkala 69 . seminggu sekali 2. pengurasan dengan truk tinja Telpon perusahaan jasa pengurasan tinja Buka semua tutup manhole pada IPAL Angkat kotoran mengapung dan buang ke tempat sampah Masukkan pipa sedot dari truk tinja sampai ke dasar bak. Perbaikan segera dilakukan jika ada kerusakan 4. Alat pencacah dilengkapi dengan manual 2. sedot mulai dari bak pertama Lumpur yang disedot adalah lumpur yang berwarna hitam 5. Pemeliharaan Motor Sampah 1. Penggantian oli dilakukan secara berkala sesuai dengan spesifikasi teknis/manualnya 3. Gerobak/becak dijaga agar tidak berlubang sehingga tidak ada sampah yang tercecer c. Pemeliharaan motor sampah sesuai dengan manual dari fabrikan 3.4 Sampah Pola 3R Berbasis Masyarakat Hentikan pengurasan jika lumpur sudah berwarna coklat a. Pemeliharaan gerobak/becak sampah 1. Setelah digunakan.

Uji Coba dan Pengoperasian Pompa 1. Hidupkan pompa apabila elevasi muka air di dalam kolam retensi melebihi elevasi normal sesuai dengan ketentuan di dalam SOP. supaya air limbah dari saluran tidak masuk ke dalam kolam retensi. Penyiraman debu dilakukan secara berkala 4. 6. Lakukan pembersihan terutama dari sampah-sampah plastik yang dapat merusak poros dan propeller pompa. sehingga air dari saluran drainase akan masuk dan mengisi kolam retensi. Pemeliharaan Stasiun Pompa 1. 7. Proses pemilahan kompos daur ulang sesuai dengan SOP 3. Alat pengayak dilengkapi dengan manual b. Untuk itu secara rutin petugas harus menjaga kebersihan lingkungan instalasi. 3. Matikan pompa apabila elevasi muka air di dalam kolam retensi sudah mencapai elevasi normal sesuai dengan ketentuan di dalam SOP. Pemeliharaan Hanggar 3R 1. 5. Kebersihan hanggar harus selalu dijaga 2. Hal ini dilakukan bersamaan dengan pengoperasian pompa. Hidupkan mesin diesel sesuai SOP atau petunjuk kerja yang berlaku atau kontakkan handle sakelar utama apabila menggunakan PLN. agar air tidak masuk ke kolam retensi.5 Drainase Mandiri Berwawasan Lingkungan Berbasis Masyarakat a. frekuensi. 2. Selain itu pintu air inlet harus ditutup. Sebaliknya pintu inlet dibuka. maka pintu pembagi dibuka agar air di saluran drainase bisa mengalir ke sungai secara gravitasi. Pada saat banjir datang pintu pembagi ditutup. 4. Periksa secara rutin panel operasi jangan sampai ada kabel yang putus karena termakan usia atau oleh binatang pengerat seperti tikus dll. Perhatikan engsel-engsel pintu instalasi agar jangan sampai kering. Geser sakelar utama pada posisi “ON”. Kebersihan alat pengayak selalu dijaga f. Saluran drainase dijaga kebersihannya. 3. 70 . Pemeliharaan Alat pengayak a. Stasiun pompa sekalipun dibangun dengan konstruksi beton bertulang tetap harus dipelihara agar jangan terkesan angker dan kumuh. Lakukan kegiatan seperti butir 3. 2. Untuk sistem drainase mandiri dengan kolam tampungan di samping saluran yang bermuara di badan air/sungai i. b. agar tidak ada sampah yang mengganggu aliran air 5. arus listrik sesuaikan dengan ketentuan atau SOP. Pada saat banjir di sungai telah surut. ii.. c. Atur aliran air dari saluran yang masuk ke dalam kolam retensi dengan pintu air terutama pada musim kering. Apabila pengaturan air masuk ke dalam kolam retensi dengan pintu air. Outlet dan Pembagi 1. Secara berkala stasiun pompa harus dicat agar dari segi estetika indah dan nyaman untuk dijadikan sarana rekreasi bila perlu. Sebab semua petugas operasional pompa harus tetap siaga menjaga kemungkinan terjadi banjir dadakan. sesuai dengan kecepatan naiknya elevasi muka air di dalam kolam retensi dengan kapasitas pompa menurut ketentuan di dalam SOP.e. 4. 5. Pastikan tegangan. Pengoperasian Pintu Air Inlet. Sewaktu pompa tidak dioperasikan periksa kelengkapan saringan sampah di bagian depan pompa.

Pengelolaan tersebut dapat menggunakan kelembagaan masyarakat yang sudah ada ataupun dengan membentuk kelembagaan baru sesuai dengan kebutuhan. Di musim kemarau pintu air inlet ditutup. 3. air dari saluran drainase akan masuk dan mengisi kolam retensi. Operasi dan pemeliharaan dilakukan oleh operator yang ditunjuk oleh KSM sesuai dengan petunjuk operasional (SOP). Proses pengelolaan dilakukan berdasarkan hasil musyawarah masyarakat pengguna.iii. e.6 Monitoring dan Evaluasi Setelah konstruksi selesai dilaksanakan diperlukan pengoperasian dan pemeliharaan yang tepat agar sarana yang dibangun dapat berfungsi dengan baik dan berkelanjutan. Melumasi pintu-pintu air. 71 . Pembersihan sampah-sampah yang menyangkut di saringan sampah secara rutin. maka pintu outlet dibuka agar air di kolam retensi bisa mengalir ke sungai secara gravitasi. 1. 6. Lakukan perbaikan secara berkala untuk pintu-pintu air yang mengalami kerusakan. Outlet dan Pembagi 1. untuk ini harus secara rutin dilakukan inspeksi terutama pada stalling basin pintu inlet. 4. Bersihkan saluran inlet/outlet secara rutin. Pada saat banjir datang pintu outlet ditutup. Di musim kemarau pintu outlet dibuka secukupnya. Membersihkan sampah atau endapan di pintu-pintu air. d. Sarana yang sudah dibangun dikelola oleh KSM. Angkat saringan sampah secara berkala bersihkan dan cat kembali. sesekali dibuka hanya untuk memasukkan air ke kolam retensi. sehingga di kolam retensi tetap ada air. 7. Pada saat banjir di sungai telah surut. 4. Pemeliharaan Kolam Tampungan/Kolam Retensi/Kolam Tandon 1. Tembok pasangan batu yang rusak segera diperbaiki. 3. transparansi. iii. Atau kolam retensi dilengkapi dengan saluran gendong biasanya saluran tersebut tepi kanan dan kirinya dilapisi dengan pasangan batu kali. 5. Hal ini dilakukan bersamaan dengan pengoperasian pompa. Secara berkala keruk sedimen yang terlanjur masuk ke kolam retensi agar fungsi daya tampung kolam retensi tidak menyusut. 2. Mekanisme pengelolaan pada tahap pemanfaatan dilakukan sebagaimana proses pelaksanaan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dimana proses musyawarah. Bersihkan kolam retensi yang ditumbuhi gulma seperti eceng gondok. 2. serta mungkin dapat diolah menjadi gas bio. 2. Pada tahap ini masyarakat memperoleh fasilitasi baik dari aparat. akuntabilitas publik maupun kontrol sosial tetap berjalan. 5. 2. tenaga pendamping maupun pihak-pihak lain yang berkompeten. Lakukan perbaikan secara berkala untuk bangunan air yang mengalami kerusakan. Pemeliharaan Pintu Air Inlet. agar muka air di kolam retensi dalam keadaan normal. ii. Pengecatan pintu-pintu air. 8. Bila perlu ajak pihak swasta untuk memanfaatkan eceng gondok menjadi komoditi yang berguna seperti pembuatan tas. Untuk sistem drainase mandiri dengan kolam tampungan segaris dengan saluran atau berada dalam saluran. outlet kolam tampungan langsung bermuara ke badan air/sungai i. Cegah sedini mungkin penyerobotan terhadap lahan dan bantaran kolam retensi dari bangunanbangunan pemukiman liar.

72 .

3 73 . Pemerintah Daerah (DAK dan APBD) untuk biaya material dan upah. tenaga kerja. Seleksi. Biaya pemberdayaan masyarakat termasuk gaji TFL. b.BAB VI PEMBIAYAAN 6. Penyusunan RKM. Swadaya Masyarakat berupa dana tunai (on cash) serta kontribusi dalam bentuk barang (in kind) berupa lahan. Monitoring dan Evaluasi dapat dilihat pada tabel 6. 2. rencana pembiayaan diperlukan kontribusi dari masing-masing sumber. tukang dan operator dari dana APBD. 4.1 Bagan Sumber Pembiayaan 6.1 Sumber Pembiayaan Pembiayaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) ini berasal dari berbagai sumber. pelatihan TFL dan pelatihan Ketua KSM serta mandor dibiayai dari dana APBN. 3. yaitu: Pemerintah Pusat (APBN). Konstruksi. Dana pihak swasta yang dapat dikumpulkan melalui berbagai upaya lain yang saling menguntungkan. Gambar 6. Pengoperasian dan Pemeliharaan. Pemberdayaan. Pembiayaan per Komponen Kegiatan Pembiayaan per komponen kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Biaya sosialisasi DAK. Pemerintah Kabupaten/Kota (DAK dan APBD). biaya pelatihan bendahara.1. Biaya Konstruksi dibiayai oleh: a. Pendampingan.2 Rencana Pembiayaan Untuk setiap lokasi kegiatan. 6. c. yang terdiri dari: Persiapan. dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. swadaya masyarakat dan swasta/donor. Biaya operasi dan pemeliharaan yang ditanggung oleh masyarakat. material dan lain-lain.

1 Pembiayaan per Komponen Kegiatan No.Tabel 6. I Komponen Kegiatan Persiapan Sosialisasi Kab/Kota Workshop Regional Pelatihan TFL Seleksi Kampung Daftar Panjang (Long List) Daftar Pendek (Short List) Sosialisasi Kajian Cepat Partisipatif (Rapid Participatory Assessment) Penyusunan RKM Penentuan pengguna Pilihan Teknologi DED + RAB Kelompok Swadaya Masyarakat Rencana Kerja Masyarakat Dokumentasi dan legalisasi RKM Pemberdayaan Masyarakat Pelatihan Ketua KSM Pelatihan Bendahara KSM Pelatihan Mandor Pelatihan Pengelola Kampanye kesehatan Konstruksi Material Upah pekerja Lahan Pendampingan: TFL Masyarakat (Sosial) TFL Pemda (Teknis) Pengoperasian & Pemeliharaan Monitoring & Evaluasi APBN √ √ √ DAK APBD Masyarakat II √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ III IV √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ V VI VII VIII √ √ √ 74 .

Dana swasta/donor adalah dalam bentuk hibah sebagai bentuk kontribusi swasta dalam kegiatan perbaikan sanitasi masyarakat 2. DAK dan APBD 1. Pengumpulan dana masyarakat dilakukan oleh panitia/KSM yang dibentuk dimulai dari sejak terpilihnya sarana teknologi sanitasi. Pengelolaan Dana dan Pengawasan Pengelolaan Dana Pengelolaan dana sepenuhnya dilakukan oleh KSM sesuai dengan perencanaan yang disusun. Pengawasan Pengawasan dilakukan secara berjenjang dan bersama-sama antara masyarakat. Dana dari masyarakat dalam bentuk tunai dimasukkan ke rekening bersama atas nama 3 (tiga) orang yaitu: ketua KSM. 3. disampaikan setiap minggu kepada masyarakat. 6.5 6. KSM membuat laporan kegiatan harian yang berisi kemajuan pelaksanaan pembangunan dan keuangan.1 6. 2.5. 2. Penyaluran Dana APBN 1. 3.3 6. 3. KSM dan mandor.4. Pelaporan 1.5. tiga bulanan dan tahunan. Dana dari Swasta/Donor diwujudkan dalam bentuk tunai yang ditransfer langsung ke rekening bersama KSM. Swasta/Donor 1. serta hasil pemeriksaan laboratorium terhadap efluen pengolahan air limbah setiap enam (6) bulan kepada instansi penanggung jawab di daerah.1.6 75 . 6. Pencairan dana dilakukan sesuai peraturan yang berlaku di masing-masing perusahaan/lembaga atau institusi yang bersangkutan setelah ada rencana kerja masyarakat/RKM.6. Penyaluran dana APBN dilakukan melalui Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Kementerian Pekerjaan Umum di Provinsi yang digunakan untuk melakukan pelatihan TFL.4. Jika ada dana pemberdayaan maka disalurkan langsung ke rekening bersama KSM. Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat. 3.4 6.4 6. Laporan yang bersifat administrasi proyek dilakukan oleh masing-masing Instansi (Penanggung jawab kegiatan) yang mengikuti aturan pelaporan berjenjang berupa laporan bulanan. 2. Dana masyarakat dikumpulkan berdasarkan kesepakatan hasil musyawarah masyarakat calon pengguna/penerima manfaat program dalam bentuk iuran pembangunan setiap minggu atau setiap bulan. Sedangkan pengawasan berkala dilakukan setahun 1-3 kali oleh Pemerintah Pusat bersama dengan Pemerintah Daerah.4. KSM melaporkan kondisi fisik prasarana. 6.4. wakil Dinas Penanggung Jawab Pemerintah Kabupaten/Kota dan fasilitator.2.2. Pada tahap pembangunan pengawasan dilakukan oleh masyarakat dibantu oleh Pemerintah Daerah. Dana DAK dan APBD berupa bantuan (langsung) ke masyarakat diwujudkan dalam bentuk tunai yang ditransfer langsung ke rekening KSM. Masyarakat 1. Penyaluran dana DAK dan APBD dilakukan melalui Satker Perangkat Daerah sesuai dengan tata cara penyaluran dan pencairan dana yang berlaku setelah ada rencana kerja masyarakat/RKM.

76 .

sehingga dengan adanya Petunjuk Pelaksanaan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) ini. 77 . pelaksanaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) di lapangan dapat mencapai kinerja seperti yang diharapkan.BAB VII PENUTUP Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) ini diharapkan dapat menjadi pegangan bagi seluruh pelaku yang terkait dalam pelaksanaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) pada berbagai tingkatan.

78 .

LAMPIRAN 79 .

80 .

........ tanggal ... …………........ Wakil Masyarakat .... 4.. Seleksi kampung tersebut telah diikuti oleh 3 (tiga) kampung. skor ............... bulan ...Contoh Berita Acara Proses Seleksi Kampung BERITA ACARA PELAKSANAAN PROSES SELEKSI KAMPUNG KABUPATEN ……………………………… _________________________________________________________________ Pada hari ini................... Wakil Masyarakat . ........ Sekretaris .... yang beralamat di jalan …………………........... skor .......... yaitu: 1............ Berita acara ini ditandatangani oleh: 1......... Sesuai dengan hasil skor yang dikumpulkan oleh masing-masing kampung. Kabupaten …………....... Kampung ..... 3... 81 ........ Ketua Panitia ... 6......... …….. Seluruh proses seleksi telah dilaksanakan secara fair...... 2.. telah dilaksanakan Seleksi Kampung dalam rangka implementasi program DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat... 5..... Kampung .. tahun . ………………. Wakil Masyarakat .... maka telah disepakati bersama bahwa kampung yang paling siap untuk implementasi DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat adalah Kampung ……………………… Demikian berita acara ini dibuat agar dapat digunakan sebagaimana mestinya.... transparan dan demokratis oleh masyarakat sendiri.......... Kampung ………… skor ……..... bertempat di Ruang Rapat Kantor ………………................ 3.......... 2. Wakil Ketua ............. Seleksi tersebut telah dilaksanakan dengan menggunakan metode Rapid Participatory Assesment/RPA............

jarak 82 m m m2 m buah m m m cm cm cm Check Deskripsi .Contoh Lembar Kerja Pemetaan Sanitasi Kampung Data Teknis Saluran air hujan/drainase Air biasa mengalir/menggenang Terjadi penyumbatan/tidak Ada bau tidak sedap/tidak Ukuran dalam lantai dasar saluran Ukuran lebar saluran Tinggi air dari lantai dasar saluran Bahan material saluran Keterangan Sumber Air Jumlah rumah yang memakai PAM Kondisi PAM : Jumlah sumur Kedalaman sumur Kedalaman air di musim hujan Kedalaman air di musim kemarau Sumber air lainnya → (sebutkan) Kondisi : Keterangan : Kondisi Tanah Jenis tanah : Lempung/liat/cadas/pasir/batu/kapur/biasa Lokasi Permukiman : Bantaran sungai/bantaran rel KA/area industri/ permukiman nelayan/perumnas/kampung kota/kampung desa. Dan lain-lain → (Sebutkan) Tinggi air tanah Ketersediaan Lahan : Ada lahan/tidak ada lahan Ukuran luas Kepemilikan tanah Ada/tidak ada sungai di dekatnya. jarak Ada/tidak adanya saluran/got di dekatnya.

jarak Ada/tidak adanya MCK di dekatnya. Ada/tidak ada pekerja tukang Ada tidak ada bahan bangunan di tempat Air : Batu bata : Check m m m m m Deskripsi Ketersediaan tenaga bangunan Ketersediaan bahan bangunan 83 . Jauh/dekat jarak angkut material dari penjual bahan bangunan ke lokasi pengolahan limbah.Data Teknis Ada/tidak adanya sumur di dekatnya. jarak Ada/tidak adanya rumah di dekatnya. jarak Ada/tidak adanya kebun/sawah di dekatnya. jarak Ada/tidak adanya industri/pabrik di dekatnya. jarak Ada/tidak ada jalan yang cukup untuk keluar masuk mobil angkut bahan bangunan ke lokasi pengolahan limbah. jarak Keterangan : KM/WC Ada/tidak ada di tiap rumah Ada/tidak ada MCK umum Kebiasaan buang air selain di KM/WC/MCK umum. sebutkan Keterangan kondisi KM/WC/MCK umum Septicktank/pengolahan limbah Air limbah dari KM/WC langsung disalurkan ke sungai/danau/saluran kota/septictank Air limbah dari MCK umum langsung disalurkan ke sungai/danau/saluran/kota/septik Ada/tidak peresapan dari tangki septik Air dari peresapan disalurkan ke sungai/danau/saluran kota/diresapkan ke tanah & kebun Ada/tidak ada bau dari septicktank/pengolahan limbah yang ada Keterangan : Topografi/bentuk muka tanah Ada/tidak ada kemiringan tanah Ada aliran air menggenang Ada kemiringan jalan Ada/tidak ada instalasi yang tertanam (pipa air/listrik/ telepon/gas/air limbah) Keterangan : Struktur permukiman Ada/tidak ada jarak antara rumah.

Data Teknis Pasir : Tradisi sosial pelaksanaan pembangunan pada bulan ……………………………………. Ada/tidak ada pengganti pekerja/tukang Check Deskripsi Pengaruh kultur social terhadap pelaksanaan pembangunan 84 ..

Laki RT/RW/Lingkungan 85 .Contoh Lembar Kerja Klasifikasi Kesejahteraan (Wealth Classification) Klasifikasi Kesejahteraan 1 Nama Kelurahan 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kecamatan/Kab/Kota/Provinsi Kegiatan Tanggal Nama Ketua Fasilitator Anggota Fasilitator Jumlah Peserta yang Hadir Perempuan Laki .Laki Waktu Dimulai Anak Perempuan Anak Laki .

Kelas Sosial 86 .Kategori Tingkat Kesejahteraan Indikator Pola Makan Aset/Kepemilikan Komposisi Rumah Tangga* Pekerjaan Akases Terhadap Pelayanan Pendidikan Formal dan NonFormal Rasa Aman Sosial dan Psikologis Masyarakat Lain – Lain** Mampu Menengah Tidak Mampu * ** Termasuk Bila Kepala Rumah Tangga Adalah Perempuan. Suku. Periksa Kesehatan. Kelompok Agama.

P.3 Jumlah Rumah Tangga Mampu Jumlah Rumah Tangga Menengah Jumlah Rumah Tangga Tidak Mampu Catatan untuk Pembuat Rencana Kegiatan Masyarakat Waktu Selesai 87 .Komposisi Masyarakat Berdasarkan Klasifikasi Kesejahteraan Kode Pertanyaan Jumlah P 1.2 P.

Contoh Lembar Kerja Partisipasi dan Kontribusi Partisipasi Saat dan Paska Pembangunan Sarana Lembar Catatan 1 2 3 4 5 6 7 8 Nama Kelurahan Kecamatan/Kab/Kota/Provinsi Kegiatan Tanggal Jumlah Peserta Perempuan Posisi dalam Organisasi Jumlah Peserta Laki-laki Posisi dalam Organisasi RT/RW/Lingkungan/Banjar Waktu Dimulai 88 .

atau tenaga) Dua jenis kontribusi Tiga jenis kontribusi Lebih dari tiga jenis kontribusi 89 . Bahan-bahan.H2 Jenis dan Pembagian Kontribusi dari Sudut Pandang Gender dan Kemiskinan Tipe Kontribusi Perempuan Miskin Laki-Laki Miskin Perempuan Kaya Laki-Laki Kaya Tidak berkontribusi Satu jenis kontribusi (Uang.

instansi lain) : Peranan perempuan dalam monitoring : Apa relevansinya untuk pembuatan RKM : Waktu Selesai 90 .Analisa Temuan dan Diskusi Kesetaraan dalam kontribusi. termasuk oleh perempuan dan kelompok miskin : Monitoring dan control terhadap kontribusi dari dalam (dari sumbangan rumah tangga) : Monitoring dan control terhadap pengerjaan oleh pihak luar (kontraktor.

Kementerian Pekerjaan Umum EDITOR Meytri Wilda Ayuantari Suhaeniti .PENGARAH Budi Yuwono Susmono PENYELIA Rudy A. Ditjen Cipta Karya. Arifin Handy Bambang Legowo Kati Andraini Darto Endang Setyaningrum Djoko Mursito PENYUSUN Tim Satgas DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat KONTRIBUTOR Bali Fokus BEST BORDA LPTP Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful