PETUNJUK PELAKSANAAN PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS
BIDANG INFRASTRUKTUR SUB BIDANG SANITASI

KATA PENGANTAR

Memperhatikan kondisi yang ada saat ini serta tantangan yang dihadapi di masa depan, disadari bahwa pengembangan sanitasi lingkungan yang meliputi pengelolaan air limbah, pengelolaan persampahan dan penanganan drainase tidak dapat dilakukan hanya oleh satu institusi. Diperlukan suatu kerjasama multi pihak yang bersifat sinergis dari segenap stakeholder baik yang ada di pusat maupun di daerah meliputi pemerintah, perguruan tinggi/akademisi, lembaga profesi, LSM, masyarakat dan swasta. Mengingat keterbatasan kemampuan yang dimiliki pemerintah baik pusat maupun daerah, diperlukan upayaupaya terobosan yang bersifat merubah paradigma dalam pengembangan sanitasi lingkungan. Beberapa upaya bisa dilakukan misalnya pengelolaan air limbah skala komunitas berbasis masyarakat melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk menjamin keberlanjutan pengelolaan; pengurangan sampah di sumbernya melalui gerakan mengurangi, memanfaatkan kembali dan mendaur ulang atau reduce, reuse dan recycle (3R) yang bertujuan untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA); serta upaya membuat keseimbangan tata air melalui pembangunan kolam retensi yang bertujuan untuk memperlama laju aliran permukaan supaya tidak langsung terbuang ke badan air penerima. Sejalan dengan amanat UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Pemerintah lebih berperan sebagai regulator dan fasilitator terkait dengan tugas-tugasnya dalam pengaturan, pembinaan dan pengawasan pengembangan sanitasi lingkungan. Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan, Pemerintah melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) menyediakan program sanitasi lingkungan bagi masyarakat berpenghasilan rendah di lingkungan padat penduduk, kumuh dan rawan sanitasi, yang disebut dengan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat. Kegiatan Dana Alokasi Khusus Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat ini mencakup: prioritas pertama yaitu pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal. Apabila prioritas pertama sudah dipenuhi (tidak ada Buang Air Besar sembarangan) maka dapat melaksanakan prioritas kedua yaitu pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce, reuse dan recycle) dan pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan. Dalam rangka menjamin keberlanjutan program, disusun Petunjuk Pelaksanaan Dana Alokasi Khusus Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat yang dimaksudkan untuk menjadi acuan bagi Pemerintah Kabupaten/Kota dalam melaksanakan penyediaan prasarana dan sarana air limbah permukiman, persampahan dan drainase mandiri berwawasan lingkungan berbasis masyarakat.

Jakarta, April 2010 Direktur Jenderal Cipta Karya

Budi Yuwono

ii .

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang………………………………………………………..……………………………………… 1.2 Maksud …………………………………………..…………………………………………………………... 1.3 Tujuan ………………………………………………………………………………………………………… 1.4 Acuan Normatif ………………………………………….………………………………………………….. 1.5 Sasaran ………………………………………………….…………………………………………………... 1.6 Ruang Lingkup Petunjuk Pelaksanaan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat …………. PENDEKATAN, PRINSIP DAN POLA PENYELENGGARAAN DAK SANITASI LINGKUNGAN BERBASIS MASYARAKAT 2.1 Pendekatan …………………………………………………………………………………………..……… 2.2 Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan …………………………………………………………………..….…. 2.3 Pola Penyelenggaraan …………………………………………………………………………….….…… 2.4 Prasarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat …………………………………………………. 1 1 1 2 2 2

BAB II

3 3 3 4

BAB III

PENGELOLAAN SANITASI LINGKUNGAN BERBASIS MASYARAKAT 3.1 Air Limbah Komunal Berbasis Masyarakat …………………………………………………….………… 5 3.2 Sampah Pola 3R Berbasis Masyarakat ……………………………………………………… ……..…... 7 3.3 Drainase Mandiri Berwawasan Lingkungan Berbasis Masyarakat …………………………….……… 9 TAHAPAN PELAKSANAAN 4.1 Umum …………………………………………………………………………………………………….… 4.2 Tahap Persiapan ………………………………………………………………………………… ……….… 4.2.1 Sosialisasi ……………………………………………………………………………………..….… 4.2.2 Rapat Konsultasi Teknis Regional ……………………………………………………………….. 4.2.3 Rencana Kegiatan Definitif ……………………………………….…………………………..…… 4.3 Tahap Seleksi Lokasi 4.3.1 Persiapan Tenaga Fasilitator Lapangan ………………………………………………………… 4.3.2 Syarat Lokasi…………………………………………………………………………………..……. 4.3.3 Daftar Panjang Lokasi …………………………………………………………………..…………. 4.3.4 Daftar Pendek Lokasi …………………………………………………….…………..……………. 4.3.5 Sosialisasi Kampung ……………………………………………………..…………………..……. 4.3.6 Seleksi Kampung ……………………………………………………….……………………..…… 4.3.7 Monitoring dan Evaluasi ……………………………………………………….……………..…… 4.4 Tahap Penyusunan RKM 4.4.1 Rencana Kegiatan Masyarakat ……………………………………………………………...…… 4.4.2 Pembentukan KSM …………………………………………………………………………...…… 4.4.3 Pilihan Teknologi Sanitasi ………………………………………………………………………… 4.4.4 Dokumen Rencana Pembangunan …………………………………………………………….… 4.4.5 Monitoring dan Evaluasi …………………………………………………………………..…….… 4.5 Tahap Konstruksi 4.5.1 Persiapan Pelaksanaan ……………………………………………………………………….….. 4.5.2 Proses Pelaksanaan …………………………………………………………………………....... 4.5.3 Etika Pelaksanaan …………………………………………………………………….………....... 4.5.4 Pelaksanaan Kegiatan Pemberdayaan …………………………………………………….…… 4.5.5 Pelaksanaan Konstruksi ………………………………………………………….………….…... 12 12 12 12 12 12 16 16 17 18 18 28 28 36 37 49 49 49 50 51 52 53 iii

BAB IV

4.5.6 BAB V

Monitoring dan Evaluasi …………………………………………………………………….……. 55 60 62 62 69 70 71 73 73 73 75 75 75

OPERASI DAN PEMELIHARAAN 5.1 Aspek Operasi dan Pemeliharaan ………………………………………………………………………... 5.2 Dukungan Pemerintah Kabupaten/Kota ……………………………………………………………..…... 5.3 Air Limbah Komunal Berbasis Masyarakat ………………………………………………………….…… 5.4 Sampah Pola 3R Berbasis Masyarakat …………………………………………………………….…… 5.5 Drainase Mandiri Berwawasan Lingkungan Berbasis Masyarakat …………………………………… 5.6 Monitoring dan Evaluasi …………………………………………………………………………………… PEMBIAYAAN 6.1 Sumber Pembiayaan ….……………………………………………………………………………………. 6.2 Rencana Pembiayaan ……………………………………………………………………………………… 6.3 Pembiayaan Komponen Kegiatan …………………………………………………………………...…… 6.4 Penyaluran Dana …………………………………………………………………………………………... 6.5 Pengelolaan Dana dan Pengawasan ……………………………………………………………………. 6.6 Pelaporan …………………………………………………………………………………………………… PENUTUP

BAB VI

BAB VII

LAMPIRAN ……………………………………………………………………………………………………………………… … 79

iv

DAFTAR GAMBAR Gambar 3.1. Gambar 3.2. Gambar 4.1. Gambar 4.2. Gambar 4.3. Gambar 4.4. Gambar 4.5 Gambar 4.6 Gambar 4.7. Gambar 4.8. Gambar 4.9 Gambar 4.10. Gambar 4.11. Gambar 4.12. Gambar 4.13. Gambar 4.14. Gambar 4.15. Gambar 4.16. Gambar 4.17. Gambar 4.18. Gambar 5.1. Gambar 6.1 Contoh Alat Pengumpul Sampah Contoh Alat Pembuat Kompos Bagan Alir Pelaksanaan DAK Sanitasi Lingkungan Masyarakat Berbasis Masyarakat Skema dan Prosedur Implementasi Contoh Venn Diagram Overview Pelaksanaan RPA dalam Tahap Implementasi Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) Tahapan Rencana Kegiatan Masyarakat (RKM) Kegiatan dalam Tahap Penyusunan Rencana Kegiatan Masyarakat (RKM) Contoh Peta Sanitasi Masyarakat Contoh Bagan Organisasi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Contoh MCK Umum Contoh Saluran Pembuangan Limbah Bersama/Komunal Tangki Septik Bersama Bio-Digester Baffled Reaktor/Tangki Septik Bersusun Contoh Pewadahan Contoh Komposter Contoh Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Sistem Drainase Mandiri dengan Kolam Tampungan di Samping Saluran yang Bermuara di Badan Air/Sungai Sistem Drainase Mandiri dengan Kolam Tampungan Segaris dengan Saluran atau Berada dalam Saluran, Outlet Kolam Tampungan Langsung Bermuara ke Badan Air/Sungai Bagan Struktur Organisasi Badan Pengelola Pasca Konstruksi Bagan Sumber Pendanaan

v

12 Tabel 4.10.4 Ketersediaan Lahan Contoh Venn Diagram CS4. Tabel 4.3 Ketersediaan Air CS3. Tabel 4.2. Tabel 4. Tabel 4.1.6.1 Ketersediaan Lembaga-Lembaga Setempat* CS5. Tabel 4.DAFTAR TABEL Tabel 4. Tabel 4. Tabel 6.1 Rencana Perbaikan Sanitasi* Topik dan Metode yang digunakan dalam Penyusunan RKM Contoh Alokasi Waktu RKM Biaya Pengoperasian dan Pemeliharaan Sistem MCK untuk 250 Jiwa Biaya Pengoperasian dan Pemeliharaan Sistem Komunal untuk 750 Jiwa Pembiayaan per Komponen Kegiatan vi .1 Pengalaman Membangun Prasarana* secara Gotong-Royong Contoh Ladder – 1* CS2.4. Tabel 5.8.11.7.9. Tabel 4.2. Tabel 5.1 Kondisi Drainase CS3. Tabel 4. Tabel 4.1. Tabel 4.1 Jenis Informasi dan Alat RPA yang digunakan Contoh Timeline CS1.5.3.14.2 Toilet/Jamban CS3.13 Tabel 4. Tabel 4.1 Kesediaan Masyarakat Untuk Mengeluarkan Biaya CS3.

persampahan dan drainase yang sesuai. 4. persampahan dan drainase yang berbasis masyarakat dengan pendekatan tanggap kebutuhan. persampahan dan drainase pada dasarnya erat kaitannya dengan aspek kesehatan. Membina organisasi/kelompok masyarakat. persampahan dan drainase (serta pemahaman tentang hygiene) semakin kecil kemungkinan terjadinya kasus penyebaran penyakit yang ditularkan melalui media air (waterborne diseases). kumuh dan rawan sanitasi di perkotaan. dalam rangka meningkatkan kondisi sanitasi lingkungan permukiman kumuh perkotaan. Membina masyarakat dalam pengelolaan prasarana dan sarana air limbah. Melalui pelaksanaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat ini.3 1 . persampahan dan drainase bagi masyarakat berpenghasilan rendah di lingkungan padat penduduk. pendidikan. yang bersifat melengkapi berbagai pedoman dan petunjuk lain yang berlaku. Menumbuhkan inisiatif masyarakat/pokmas dalam pengembangan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) 1. 3.1 Latar Belakang Pembangunan prasarana dan sarana air limbah permukiman. persampahan dan drainase di Indonesia saat ini belum mencapai kondisi yang diinginkan terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah di lingkungan permukiman padat penduduk. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melaksanakan pola hidup sehat.BAB I PENDAHULUAN 1. Kegiatan Dana Alokasi Khusus Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat ini mencakup: (1) pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal. masyarakat memilih sendiri prasarana dan sarana air limbah permukiman. Pemerintah menyediakan program sanitasi lingkungan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) dalam penyediaan prasarana dan sarana air limbah permukiman. kumuh dan rawan sanitasi. ikut aktif menyusun rencana aksi. 1. 2. persampahan dan drainase 5.2 Maksud Petunjuk pelaksanaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) ini dimaksudkan sebagai acuan bagi para pemangku kepentingan (stakeholder) khususnya di kabupaten/kota dalam melaksanakan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat. reuse dan recycle) dan (3) pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan. (2) pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. persampahan dan drainase 6. yaitu sebuah inisiatif untuk mempromosikan penyediaan prasarana dan sarana air limbah permukiman. Memfasilitasi masyarakat dalam penyediaan prasarana dan sarana air limbah. Hasil berbagai pengamatan dan penelitian telah membuktikan bahwa semakin besar akses penduduk kepada fasilitas prasarana dan sarana air limbah permukiman. Tujuan Petunjuk pelaksanaan penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur Sub Bidang Sanitasi ini bertujuan agar para pemangku kepentingan dapat mengerti dan memahami penyelenggaraan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) sehingga dapat: 1. Meningkatkan peran serta dan pelibatan masyarakat. lingkungan hidup. sosial budaya serta kemiskinan. Akses penduduk kepada prasarana dan sarana air limbah permukiman. yang diimplementasikan melalui kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). membentuk kelompok dan melakukan pembangunan fisik termasuk mengelola kegiatan operasi dan pemeliharaannya. bahkan bila perlu mengembangkannya.

7. pembentukan KSM. Tukang. DED & RAB. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum 5. Penguatan Kelembagaan. jadwal konstruksi. Pemerintah Pusat. berupa tata cara pengoperasian dan pemeliharaan.01-Mn/678. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. Pemantauan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 175/PMK. yaitu: 1. Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri. 3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara 2. Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum Nomor KU. tanggal 15 Desember 2009.4 Acuan Normatif 1. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16/PRT/M/2008 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman (KSNP-SPALP) 9. Pemerintah Kabupaten/Kota. Calon Operator dan Calon Pengguna. 2. berupa kegiatan sosialisasi kepada seluruh stakeholder tentang penyelenggaraan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). 3. Pemerintah Provinsi. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air 3. Swasta. 1.6 2 . 4. Persiapan. yaitu TFL Teknis dan TFL Pemberdayaan di setiap lokasi yang akan bertugas mendampingi masyarakat dalam tahap seleksi kampung. pengoperasian dan pemeliharaan. berupa seleksi dan pelatihan 2 (dua) orang Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL).07/2009 tentang Alokasi dan Pedoman Umum Dana Alokasi Khusus Tahun Anggaran 2010 11. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah 4. Pembiayaan.1.5 1. daftar calon penerima manfaat. 4. konstruksi. Penyiapan Tenaga Fasilitator. pembentukan forum pengguna. 5. Seleksi Lokasi. Penyusunan Rencana Kegiatan Masyarakat (RKM). mulai dari daftar panjang (longlist). berupa pelatihan-pelatihan Tenaga Fasilitator Lapangan. daftar pendek (shortlist) sampai dengan penetapan lokasi terpilih.PPN/11/2008. SE 1722/MK/07/2008 dan 900/3556/SJ Tanggal 21 November 2008 perihal Petunjuk Pelaksanaan. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2009 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Dana Alokasi Khusus di Daerah 12. penyusunan RKM. Ruang Lingkup Petunjuk Pelaksanaan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat Ruang lingkup Petunjuk pelaksanaan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) ini meliputi tahaptahap: 1. Teknis Pelaksanaan dan Evaluasi Pemanfaatan Dana Alokasi Khusus 13. berupa tata cara pemilihan lokasi sesuai kriteria. dan 5. 2. Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). tentang Ruang Lingkup Penggunaan DAK Bidang Infrastruktur Tahun 2010 Sasaran Sasaran dari tersedianya Petunjuk pelaksanaan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat. Mandor. Nomor 0239/M. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 42/PRT/M/2007 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur 10.01. berupa dokumen yang memuat sarana terpilih. rencana pembiayaan. 6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 21/PRT/M/2006 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan (KSNP-SPP) 8. Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota 7. rencana pelatihan serta rencana pengoperasian dan pemeliharaan sarana yang dibangun. SEB Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Pengoperasian dan Perawatan. Kelompok Masyarakat. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan 6.

Otonomi dan desentralisasi. dengan difasilitasi oleh TFL atau konsultan pendamping yang bergerak secara profesional dalam bidang teknologi pengolahan limbah. pengorganisasian. Masyarakat menentukan.2 . PRINSIP DAN POLA PENYELENGGARAAN DAK SANITASI LINGKUNGAN BERBASIS MASYARAKAT 2. Keswadayaan. pemanfaatan dan pengelolaan hasilnya. dimana masyarakat memperoleh kepercayaan dan kesempatan yang luas dalam proses perencanaan. pengelolaan kegiatan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat secara berkelanjutan. dimana kemampuan masyarakat menjadi faktor pendorong utama dalam keberhasilan kegiatan. mulai dari perencanaan. 4. hanya memfasilitasi inisiatif kelompok masyarakat. pengelolaan kegiatan dilakukan secara terbuka dan diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat dan aparatur sehingga dapat diawasi dan dievaluasi oleh semua pihak. Dapat dipertanggungjawabkan. 4. Mendorong prakarsa lokal dengan iklim keterbukaan. baik proses perencanaan. Pengambilan keputusan berada sepenuhnya di tangan masyarakat. 2. pelaksanaan. 2. pelaksanaan. 2.1 Pendekatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) merupakan salah satu kegiatan pembangunan prasarana air limbah. sedangkan peran pemerintah atau Swasta. merencanakan. pemanfaatan dan pengelolaan. pelaksanaan. Transparan. masyarakat yang layak mengikuti DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) akan bersaing mendapatkan kegiatan ini dengan cara menunjukkan komitmen serta kesiapan untuk melaksanakan sistem sesuai pilihan mereka. pengawasan. Prinsip Penyelenggaraan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) adalah : 1. Namun jika dalam tahap pelaksanaan konstruksi terdapat kegiatan yang secara teknis tidak mampu dilaksanakan oleh masyarakat sendiri. dimana orientasi kegiatan baik dalam proses maupun pemanfaatan hasil ditujukan kepada penduduk miskin yang bermukim di permukiman padat perkotaan berdasarkan kebutuhan. 3. hanya sebatas sebagai fasilitator. Dapat diterima. monitoring dan evaluasi. persampahan. Program ini bersifat tanggap kebutuhan. 3 2. 4. pengawasan. Partisipatif.3 Pola Penyelenggaraan Pola penyelenggaraan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dilakukan oleh masyarakat dengan difasilitasi Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) atau Konsultan Pendamping yang memiliki kemampuan teknis dan sosial kemasyarakatan. 3. maka dapat ditunjuk pihak ketiga dengan melalui Kerja Sama Operasional (KSO) sehingga terjadi kerja sama kelompok masyarakat setempat. 2. drainase maupun bidang sosial. membangun dan mengelola sistem yang mereka pilih sendiri. yaitu ditandai dengan adanya manfaat bagi pengguna serta pemeliharaan dan pengelolaan sarana dilakukan secara mandiri oleh masyarakat pengguna. 3. Pemerintah daerah tidak sebagai pengelola sarana. pilihan kegiatan berdasarkan musyawarah sehingga memperoleh dukungan dan diterima masyarakat. dimana masyarakat terlibat secara aktif dalam proses perencanaan. Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan Prinsip Dasar DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) adalah : 1. 5. dimana masyarakat menyampaikan permasalahan dan merumuskan kebutuhannya secara demokratis dan transparan. Berkelanjutan. maupun pemanfaatan hasil kegiatan. pengawasan. persampahan dan drainase yang menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat melalui : 1. Keberpihakan pada warga yang berpenghasilan rendah.BAB II PENDEKATAN. pelaksanaan. pengelolaan kegiatan harus dapat dipertanggung jawabkan kepada seluruh lapisan masyarakat.

1 modul pengelolaan sampah pada 3R (reduce. 4 . 2. reuse dan recycle) dan 3. reuse dan recycle) berbasis masyarakat adalah penyelengaraan prasarana persampahan yang meliputi kegiatan mengurangi (reduce).2. pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal.300 juta b. Modul ini dibangun untuk rumah yang berkelompok dan hanya tersedia lahan yang terbatas. pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. Prioritas pertama: Pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal berbasis masyarakat. sepanjang kondisi lapangan memenuhi persyaratan. Pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan berbasis masyarakat adalah penyelengaraan prasarana drainase yang menunjang kegiatan konservasi dan keseimbangan lingkungan. 2. Modul C berupa sistem jaringan perpipaan air limbah skala lingkungan (100-200 KK). Modul B berupa 1 unit MCK Plus++ yang dapat dimanfaatkan oleh 100-200 KK terdiri dari kamar mandi. sarana cuci. adalah penyelenggaraan prasaran air limbah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian masyarakat itu sendiri.300 juta/Ha.-masing unit tangki septik dimanfaatkan oleh 4 atau 5 rumah. pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan Prasarana sanitasi yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1. reuse dan recycle) berbasis masyarakat membutuhkan dana pembangunan dan pelatihan sekitar Rp. mengguna ulang (reuse) dan mendaur ulang (recycle) sampah. dan unit pengolahan air limbahnya. Prioritas ke-2 Apabila prioritas pertama sudah dipenuhi (tidak ada BAB sembarangan) maka dapat dikembangkan: a. Pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. terdiri dari: 1. Untuk prasarana drainase ini membutuhkan dana pembangunan fisik sekitar Rp. Modul ini merupakan modul yang disarankan. Salah satu modul pengelolaan air limbah komunal berbasis masyarakat membutuhkan dana pembangunan fisik sekitar Rp.4 Prasarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk menyediakan prasarana penyehatan lingkungan permukiman berbasis masyarakat.300 juta dan mempunyai 3 alternatif utama: Modul A berupa unit tangki septik komunal yang masing.

maka diperlukan adanya sistem pengelolaan lingkungan secara baik dan terpadu. • Sesuai untuk daerah dengan kepadatan tinggi. Sistem pengolahan air limbah terpusat merupakan sistem pengolahan dimana fasilitas instalasi pengolahan air limbah berada di luar persil atau dipisahkan dengan batas tanah atau jarak. 1. dan daya beli masyarakat. rumah makan (restauran). yaitu: kerusakan keseimbangan ekologi di aliran sungai. Sistem Pengolahan Air Limbah Terpusat (Off Site System). Air limbah domestik adalah pencemar badan air di daerah perkotaan. Dalam rangka meningkatkan taraf kesehatan untuk mencapai kualitas hidup yang optimal. Kondisi dan permasalahan dalam pengelolaan air limbah domestik/sanitasi saat ini adalah: • Pesatnya pembangunan di perkotaan yang tidak diimbangi oleh penyediaan sarana dan prasarana air limbah sehingga mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan. Pada dasarnya semua penduduk harus mempunyai akses kepada fasilitas pembuangan air limbah yang benar dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan. Air limbah domestik mengandung bahan organik tinggi dan bakteri yang berbahaya bagi kehidupan. serta rencana pengembangan kota. serta kerusakan perikanan di muara. bertambahnya biaya pengolahan air minum (PAM). Sistem pengolahan air limbah domestik secara garis besar dikelompokkan menjadi dua jenis. yaitu Sistem Pengolahan Air Limbah Terpusat (Off Site System) dan Sistem Pengolahan Air Limbah Setempat (On Site System). yang pada akhirnya menyebabkan beberapa masalah. Masuknya air limbah domestik ke lingkungan tanpa diolah akan mengakibatkan menurunnya kualitas air di badan air penerima seperti sungai. yang berdasarkan penelitian Kantor Kementerian Lingkungan Hidup mencapai 60%. cuci. prasarana dan sarana pembuangan air limbah secara individu maupun komunal perlu diupayakan keberadaannya sehingga setiap penduduk dapat memanfaatkannya. • Pembangunan sarana dan prasarana air limbah masih banyak yang belum sesuai dengan kondisi setempat. kebutuhan. perniagaan. Salah satu upaya untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan pengelolaan air limbah domestik yang dilakukan secara baik dan teratur. Oleh karena itu. sebelum air limbah dialirkan ke sungai atau meresap ke dalam tanah perlu diolah terlebih dahulu. 5 . Air limbah ini berasal dari air bekas memasak. sedangkan sistem pengolahan air limbah setempat merupakan sistem dimana fasilitas pengolahan air limbah berada di dalam persil atau batas tanah yang dimiliki. apartemen dan asrama. mandi. Kelebihan system pengolahan air limbah terpusat : • Menyediakan pelayanan yang terbaik.BAB III PENGELOLAAN SANITASI LINGKUNGAN BERBASIS MASYARAKAT 3. Sistem pengolahan air limbah terpusat adalah suatu system pengelolaan air limbah dengan menggunakan suatu sistem jaringan perpipaan untuk menampung dan mengalirkan air limbah ke suatu tempat untuk selanjutnya diolah. dan kakus. maka unsur tersebut akan mencemari air tanah dan lingkungan. perkantoran.1 Air Limbah Komunal Berbasis Masyarakat Air limbah domestik merupakan air limbah yang berasal dari usaha dan atau kegiatan permukiman. Apabila meresap ke dalam tanah atau masuk ke dalam sungai. yang dapat menurunkan derajat kesehatan masyarakat dan meningkatkan angka kematian akibat penyakit infeksi air. masalah kesehatan penduduk yang memanfaatkan air sungai secara langsung.

dan pemeliharaan yang baik 2. Modul ini sesuai diterapkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah di kawasan permukiman padat. terdiri dari kamar mandi. dan pemeliharaan yang tinggi.Modul C : berupa sistem jaringan perpipaan air limbah skala lingkungan (100-200 KK). • Manfaat secara penuh diperoleh setelah selesai jangka panjang. Modul ini merupakan modul yang disarankan. • Operasi dan pemeliharaan sulit dilaksanakan. Sistem Pengolahan Air Limbah Setempat (On Site System) Sistem pengolahan air limbah setempat sebagai sistem dimana fasilitas pengolahan air limbah berada di dalam persil atau batas tanah yang dimiliki. operasi. • Memerlukan biaya yang rendah. misalkan tergantung pada sifat permeabilitas tanah. operasi. sepanjang kondisi lapangan memenuhi persyaratan teknis. yaitu : 6 .• Pencemaran terhadap air tanah dan badan air dapat dihindari. karena memiliki gabungan kelebihan dari sistem pengolahan air limbah terpusat (off site system) dan sistem pengolahan air limbah setempat (on site system). Pemilihan modul diserahkan kepada kelompok masyarakat yang bersangkutan. Kekurangan sistem pengolahan air limbah terpusat : • Memerlukan biaya investasi. dan unit pengolahan air limbahnya. Satu modul pengelolaan air limbah komunal berbasis masyarakat membutuhkan dana pembangunan fisik sekitar Rp. Modul ini dibangun untuk rumah yang berkelompok dan hanya tersedia lahan yang sedikit karena dibangun di bawah tanah. Untuk menjembatani atau meminimalisir kekurangan dan memaksimalkan kelebihan dari kedua sistem pengolahan air limbah diatas adalah dengan mengembangkan prasarana dan sarana air limbah komunal berbasis masyarakat. • Memerlukan pengelolaan. • Menggunakan teknologi tinggi. • Fungsi terbatas hanya dari buangan kotoran manusia. tidak melayani air limbah kamar mandi dan air bekas mencuci. dan lain-lain. kumuh.Modul B : berupa satu unit MCK Plus++ yang dapat dimanfaatkan oleh 100-200 KK. yaitu penyelenggaraan prasarana air limbah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian masyarakat itu sendiri. • Pengoperasian dan pemeliharaan oleh masyarakat. • Waktu yang lama dalam perencanaan dan pelaksanaan. . . dan rawan sanitasi di perkotaan. tingkat kepadatan. seperti modul yang selama ini dikembangkan di Indonesia. • Manfaat dapat dirasakan secara langsung. 300 Juta dan mempunyai 3 alternatif utama yaitu : . • Dapat menampung semua air limbah. • Masyarakat dan tiap-tiap keluarga dapat menyediakan sendiri. yaitu Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS). • Tidak dapat dilakukan oleh perseorangan. Kelebihan sistem pengolahan air limbah setempat : • Menggunakan teknologi sederhana.Modul A : berupa beberapa unit tangki septik komunal yang masing-masing unit tangki septik dimanfaatkan oleh 4 atau 5 rumah. • Memiliki masa guna lebih lama. sarana cuci. Kekurangan sistem pengolahan air limbah setempat : • Tidak dapat diterapkan pada setiap daerah.

Sesuai untuk daerah dengan kepadatan tinggi.2. sampah non organik dapat dipilah atas komponen lainnya sesuai kebutuhan. misal plastik.Sampah bahan organik kompos meliputi : sisa makanan. .2. 2. Pencemaran terhadap air tanah dan badan air dapat dihindari.2 . Sampah Pola 3R Berbasis Masyarakat Pemilahan Sampah Pemilahan sampah dilakukan untuk memilah sampah menurut jenisnya sehingga mendukung kegiatan / proses penanganan selanjutnya.2 3.1 Metode 1. Masyarakat dan tiap-tiap keluarga dapat menyediakan sendiri.• • • • • • • • Menyediakan pelayanan yang terbaik. Peralatan pengumpulan sampah di kawasan perumahan dapat dilakukan dengan menggunakan alat angkut. 2. Menggunakan teknologi sederhana. Pemerintah Pusat. maka keduanya tidak disertakan dalam kategori sampah organik bahan kompos. dan bahan lain yang tidak membusuk. motor sampah atau alat angkut lain yang sesuai dengan kondisi setempat 7 3. Memerlukan biaya yang rendah. • Manfaat dapat dirasakan secara langsung.2 3. Saringan plastik untuk meniriskan air dari sisa sayur Pengumpulan Sampah 1. kaca. karena sampah yang terlalu basah akan menyebabkan kadar air bahan kompos menjadi tinggi sehingga proses pengomposan akan terganggu. seperti gerobak sampah. Sampah kertas dan kayu sebenarnya merupakan jenis sampah organik. Sebagai contoh bila akan dilakukan proses pengomposan maka sampah organik hendaknya dipilah terlebih dahulu. Awal pemilahan dianjurkan untuk memisahkan sampah menjadi 2 bagian yaitu sampah organik bahan kompos dan sampah non organik. tetapi mengingat kandungannya (pada kertas mengandung tinta dll) yang berpotensi mengganggu kualitas kompos. sisa buah. • Pengoperasian dan pemeliharaan oleh masyarakat. . Pemerintah Daerah.2. dan lain-lain. karet. dan LSM). kaca.Bila kondisi memungkinkan. Fasilitas Untuk pemilahan sampah akan diperlukan beberapa fasilitas/peralatan yang dapat meliputi : 1.2. • Melibatkan semua pihak untuk bekerja sama (Masyarakat. Untuk sampah berupa sisa sayur sebaiknya ditiriskan terlebih dahulu dengan menggunakan saringan plastik. misalnya untuk jamban sendiri bila pilihan teknologinya adalah tangki septik bersama atau perpipaan komunal. Metode pengumpulan sampah dapat dilakukan oleh petugas dari rumah ke rumah atau masyarakat membawa sendiri sampahnya ke Wadah/Bin Komunal/Kontainer yang sudah ditentukan. sisa sayur dan daun. Dapat menampung semua air limbah. Pemilahan hendaknya dilakukan secara bertahap sesuai dengan kesiapan masyarakat dan proses selanjutnya. 3. becak sampah. Wadah sampah non organik 3. Sampah organik dikumpulkan dalam wadah yang yang terpisah dengan sampah non organik. logam. logam.1. Wadah sampah organik 2. . kertas.1.Sampah non organik meliputi : plastik. Memiliki masa guna lebih lama.1 3. 3. dan sifatnya yang memerlukan waktu lama untuk proses pengomposan (misal kayu).

Jadual pengumpulan sampah non organik terpilah seperti kertas. diperlukan TPST dengan luas 200 – 500 m² 2.3. 4. 4. TPST dengan luas 1000 m² dapat menampung sampah dengan atau tanpa proses pemilahan sampah di sumber. Sampah yang didaur ulang minimal adalah kertas. Daur ulang kemasan plastik (air mineral. sedangkan sampah yang sudah terpilah 80%. 3. Motor/Gerobak sampah yang mengumpulkan sampah terpilah dapat dimodifikasi dengan sekat atau dilengkapi karung-karung besar (3 unit atau sesuai dengan jenis sampah). Untuk kawasan perumahan baru (cakupan pelayanan 2000 rumah) diperlukan TPST dengan luas 1000 m². Contoh Alat Pengumpul Sampah 3.1. Daur ulang sampah B3 Rumah tangga (terutama batu baterei dan lampu neon) dikumpulkan untuk diproses lebih lanjut sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku (PP 18 tahun 1999 tentang pengelolaan sampah B3). plastik dan logam yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan untuk mendapatkan kualitas bahan daur ulang yang baik. 8 . listrik.2. minuman dalam kemasan. tergantung kapasitas pelayanan dan tipe kawasan. Gambar 3. TPST dengan luas < 500 m² hanya dapat menampung sampah dalam keadaan terpilah (50%) dan sampah campur 50%. 2. 4. TPST dengan luas < 200 m² sebaiknya hanya menampung sampah tercampur 20%. air bersih. areal pemilahan dan areal composting dan juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang lain seperti saluran drainase.3 Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Skala Kawasan a. 3. Daur Ulang 1. Sedangkan untuk cakupan pelayanan skala RW (200 rumah). Fasilitas TPST 1. pemilahan sebaiknya dilakukan sejak di sumber. barrier (pagar tanaman hidup) dan gudang penyimpan bahan daur ulang maupun produk kompos serta biodigester (opsional) c. Luas TPST bervariasi. plastik. Pemasaran produk daur ulang dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pihak lapak atau langsung dengan industri pemakai. Fasilitas TPST meliputi wadah komunal. Lokasi 1. logam/kaca dapat dilakukan seminggu sekali. mie instan dll) sebaiknya dimanfaatkan untuk barang-barang kerajinan atau bahan baku lain. b. sedangkan untuk sampah yang masih tercampur harus dilakukan minimal seminggu 2 kali.

saluran. Pemasaran produk kompos dapat bekerja sama dengan pihak Koperasi dan Dinas (Kebersihan. dan memelihara prasarana dan sarana yang ada. pintu-pintu air atau pompa (kalau ada)) Jumlah prasarana dan sarana yang tersedia Jumlah prasarana dan sarana yang digunakan Target/sasaran perencanaan Standar prosedur operasional dan pemeliharaan Standar kriteria teknis prasarana dan sarana Rencana pengembangan sarana di masa datang Untuk mencapai keberhasilan pengelolaan. Pengelolaan Pengelolaan pada dasarnya merupakan aspek dan sendi utama keberlangsungan hasil fisik konstruksi. Badan/Kelompok/Organisasi Pengelola harus melakukan langkahlangkah berikut: Melakukan pemantauan rutin untuk mengetahui kondisi prasarana dan sarana Mengetahui kerusakan sedini mungkin agar dapat disusun rencana perawatan dan pemeliharaan yang baik 9 3. Sampah yang digunakan sebagai bahan baku kompos adalah sampah dapur (terseleksi) dan daun-daun potongan tanaman. C/N rasio. 3. 4. penyuluhan dan pedoman pemeliharaan.3 Drainase Mandiri Berwawasan Lingkungan Berbasis Masyarakat Pelestarian prasarana dan sarana drainase mandiri berbasis masyarakat sangat bergantung pada kemauan dan kemampuan masyarakat dalam mengoperasikan. Pertamanan.P.2.3. Pengelola prasarana dan sarana perlu memperhatikan beberapa hal: Kinerja prasarana yang dikelola (kolam tampungan. Perlu dilakukan analisa kualitas terhadap produk kompos secara acak dengan parameter antara lain warna. 2. Pembuatan Kompos 1.1 . Contoh Alat Pembuat Kompos 3. Secara umum aspek yang perlu diperhatikan dalam pelestarian adalah pengelolaan prasarana dan sarana. memanfaatkan. Metode pembuatan kompos dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan open windrow.K dan logam berat.d. Pertanian dll) Gambar 3. kadar N.

Melakukan pengelolaan sesuai dengan petunjuk operasi pemeliharaan ataupun standar operasi prosedur yang ada 10 . Badan/Kelompok/Organisasi Pengelola harus melakukan langkahlangkah berikut: 1. kolam tampungan harus dalam keadaan kosong (tidak ada air) • Pintu-pintu air dalam keadaan siap digunakan • Pompa dan daya listrik siap digunakan • Saringan sampah dalam keadaan bersih 2. Mengetahui kerusakan sedini mungkin agar dapat disusun rencana perawatan dan pemeliharaan yang baik terhadap pompa dan pintu-pintu air 3. Melakukan evaluasi kinerja sistem drainase mandiri berwawasan lingkungan dan pelayanannya secara berkala 5.Melakukan rehabilitasi tepat waktu Melakukan evaluasi kinerja pelayanan secara berkala Melakukan pengelolaan sesuai standar operasional prosedur Untuk mencapai keberhasilan pengelolaan. Melakukan pemantauan rutin untuk mengetahui kondisi prasarana dan sarana • Dalam keadaan tidak hujan. Melakukan rehabilitasi tepat waktu terhadap saluran-saluran air dan sistem drainase 4.

Seleksi lokasi. Shortlist Lokasi terpilih Penyiapan Masyarakat oleh TFL • • • • PEMBENTUKAN KSM PELATIHAN KSM PELATIHAN MANDOR PELATIHAN TUKANG PENYUSUNAN RKM Organisasi. Penyusunan Petunjuk Pelaksanaan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat Sosialisasi Kepada Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota Persiapan PENYIAPAN TFL (Seleksi. Pelatihan) SELEKSI LOKASI Longlist. Operasi dan Pemeliharaan sarana terbangun. Pilihan Teknologi dan Sarana.1 Umum Tahapan pelaksanaan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) meliputi: Persiapan.BAB IV TAHAPAN PELAKSANAAN 4. RAB dan Jadwal Kegiatan Dokumen RKM Pelelangan Material • • PELATIHAN OPERATOR SOSIALISASI PENGGUNA KONSTRUKSI Pelaksanaan dan pengawasan/ pengendalian oleh masyarakat Sarana Siap Digunakan Pelaksanaan Fisik O&M Operasi. DED. Penyusunan RKM. Penguatan Kelembagaan. Pemeliharaan • Air Limbah Komunal Berbasis Masyarakat Pendampingan • Sampah Pola 3R O&M Berbasis Masyarakat • Drainase Mandiri Berwawasan Lingkungan Berbasis Masyarakat Gambar 4. Bagan Alir Pelaksanaan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat 11 . Konstruksi.1.

2.1 4..... memutuskan dan mengelola Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Memiliki pengetahuan/pengalaman dasar tentang air limbah. sehingga fasilitator dapat membantu masyarakat dalam mengidentifikasi masalah.2... Presentasi/Sosialisasi Kampung.1... program Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) diikuti dengan persiapan Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) baik yang berasal dari pemerintah kabupaten/kota maupun masyarakat.. Pendidikan minimal D3/sederajat 2....3 4. serta meningkatkan kemampuan (capacity) fasilitator. Penyiapan Tenaga Fasilitator Lapangan Seleksi TFL Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) terdiri dari TFL Pemda yang ditugaskan oleh Dinas penanggung jawab dan TFL masyarakat. Tahap Seleksi Lokasi Tahap kegiatan setelah penandatanganan nota kesepahaman oleh stakeholder.. tahap konstruksi dan capacity building (tahap pelaksanaan konstruksi) serta tahap evaluasi dan support OM (fase pascakonstruksi).. Program pelatihan dirancang berdasarkan kebutuhan yang diidentifikasi dan dianalisis dengan metode yang sistematis dan partisipatif.. Untuk itu pelaksanaan pelatihan TFL perlu memasukkan pengetahuan dasar teknologi dan teknis disamping segi pemberdayaan masyarakat..3. dan Seleksi Kampung/Masyarakat. Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota...1 Tahap Persiapan Sosialisasi Sosialisasi kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) kepada seluruh pemerintah Kabupaten/Kota pada akhir tahun anggaran sebelumnya yang diselenggarakan bersamaan dengan Sosialisasi DAK oleh Kementerian Pekerjaan Umum.4. TFL tersebut diseleksi sesuai dengan kriteria sebagai berikut: 1.. Kegiatan penyusunan daftar panjang dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan persiapan fasilitator lapangan.. review dokumen-dokumen yang berkaitan dengan tugas pekerjaan dari kelompok sasaran dan tujuan kegiatan pada tahap seleksi masyarakat dan penyusunan rencana kerja masyarakat (tahap perencanaan).1. Bersedia tinggal dan bekerjasama dengan masyarakat di lokasi terpilih 8.3 4.. 5. yaitu dengan RPA dan dikombinasikan dengan metode/teknik lain yang dianggap efektif.. wawancara... misalnya observasi. Mengenal kondisi lingkungan calon lokasi..2 4.2..1 4.. Penyusunaan Daftar Panjang (Longlist). Sehat jasmani dan rohani 4.. persampahan dan drainase 7. 4. Penetapan Daftar Pendek (Shortlist).2 12 . (syarat tambahan oleh Masyarakat) Pelatihan Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) Tujuan diselenggarakan pelatihan adalah memberi bekal pengetahuan tentang program dan tahapan sanitasi berbasis masyarakat kepada fasilitator. Rencana Kegiatan Definitif Penandatanganan Rencana Kegiatan definitif antara Pemerintah Pusat.. merencanakan... Memiliki cukup waktu untuk melaksanakan tugas TFL 6...3.. Rapat Konsultasi Teknis Regional Rapat Konsultasi Teknis regional yang dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum.2 4.. . Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) mencakup 70% kegiatan pemberdayaan dan 30% kegiatan teknis.. Penduduk asli/setempat atau mampu berkomunikasi dan menguasai bahasa serta adat setempat 3...... melaksanakan..3..

3. Penyampaian nama calon fasilitator oleh Bupati/Walikota ke Direktorat Jenderal Cipta Karya. Prinsip-prinsip dasar Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Pelatihan tenaga fasilitator lapangan diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya. Capacity Building (pelatihan-pelatihan dalam Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM)) • Pelatihan KSM • Pelatihan Mandor/Tukang • Pelatihan Operator dan Pengguna 7. Penyusunan rencana kerja masyarakat (RKM) • Penentuan calon penerima manfaat/pengguna sarana • Pemetaan rumah dan infrastruktur sanitasi kampung • Pemilihan sarana teknologi sanitasi • Kontribusi masyarakat • Lembaga Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) di tingkat masyarakat • Penyusunan buku RKM dan Legalisasi RKM 5. Tahap Seleksi Masyarakat a. Kementerian Pekerjaan Umum ke masing-masing Pemerintah Kabupaten/Kota untuk mengusulkan nama calon fasilitator dalam rangka pemilihan tenaga fasilitator lapangan sesuai kriteria. Penyusunan Rencana Teknis Rinci (Detail Engineering Design/DED) sarana teknologi Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dan penyusunan Rencana Anggaran Biaya untuk persiapan fase pelaksanaan konstruksi berdasarkan sarana dan teknologi yang dipilih oleh masyarakat.Hal-hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut: 1. TFL Pemda • Mengadakan rapat koordinasi dengan instansi terkait untuk mendapatkan daftar kampung dari dinasdinas bersangkutan. Penyampaian surat oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya. 2. Prinsip dan metode seleksi masyarakat • Longlist dan shortlist kampung • Rapid Participatory Assessment (RPA) • Community self selection stakeholders meeting 4. antara lain: 1. Evaluasi dan Support untuk operasi dan pemeliharaan • Support OP pascakonstruksi • Kampanye kesehatan bagi para pengguna Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) • Pengukuran dampak program (pengukuran dampak kesehatan dan pengukuran kualitas air di sekitar sarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM)).3 Tugas dan Tanggung Jawab TFL Setiap TFL (Dinas & Masyarakat) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: 1. • Melakukan pengecekan lapangan sesuai persyaratan teknis minimal bersama TFL-masyarakat dan pendamping/Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Provinsi. Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengikuti pelatihan. Tahap-tahap pelaksanaan Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) secara umum. • Mengisi form shortlist kampung berdasarkan hasil pengecekan lapangan dan minta pengesahan dari Kepala Dinas.1.3. yang terdiri dari 1 (satu) orang fasilitator teknis dan 1 (satu) orang fasilitator pemberdayaan masyarakat untuk masing-masing rencana lokasi kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). 3. Kementerian Pekerjaan Umum. 13 . 4. 2. Materi pelatihan TFL disesuaikan dengan tugas dan tanggung jawab yang ada. • Menyiapkan daftar longlist kampung padat/kumuh/miskin sesuai form dan membuat laporan kepada Kepala Dinas. 6.

14 . • Membuat Berita Acara seleksi kampung. • Membantu masyarakat melakukan survey harga-harga material yang dibutuhkan. • Membuat dokumen RKM dan meminta pengesahan/legalisasi RKM kepada semua stakeholder (bersama TFL Pemda). • Melakukan RPA (Rapid Participatory Appraisal atau penilaian cepat secara partisipatif) di kampung yang mengirim undangan dan memfasilitasi community self-selection stakeholders meeting atau pertemuan masyarakat untuk seleksi sendiri bersama dengan tim TFL pendamping. pembentukan dan pengesahan KSM/Kelompok Swadaya Masyarakat. TFL Pemda • Melakukan pertemuan awal dengan masyarakat (bersama TFL-masyarakat). • Memfasilitasi pertemuan masyarakat (bersama dengan TFL-masyarakat)untuk penentuan calon penerima manfaat program. • Mengisi form shortlist kampung berdasarkan hasil pengecekan lapangan bersama TFL Pemda. • Membuat Berita Acara kegiatan sesuai kebutuhan dan menyusun laporan secara berkala ke dinas penanggung jawab di Kabupaten/Kota dan Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Provinsi. • Mengkomunikasikan kepada pendamping/Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan PLP Provinsi tentang jadwal dan agenda pertemuan untuk penyusunan RKM. pemilihan sarana teknologi sanitasi. 2. • Membantu TFL Pemda untuk mengadakan pertemuan koordinasi dengan dinas-dinas terkait untuk melaporkan perkembangan Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). • Membantu masyarakat melakukan survey harga-harga material yang dibutuhkan. • Menindaklanjuti penjelasan kepada masyarakat (jika ada permintaan) bersama TFL Pemda. TFL Masyarakat • Membantu TFL Pemda menyiapkan daftar longlist kampung. Tahap Penyusunan Rencana Kerja Masyarakat (RKM) a. • Mengkomunikasikan kepada Pendamping dan Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Provinsi. pembentukan dan pengesahan KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat). penyusunan rencana kontribusi. TFL Masyarakat • Melakukan pertemuan awal dengan masyarakat (bersama TFL Pemda). • Mengkomunikasikan kepada Pimpinan Kegiatan/Kepala Dinas tentang jadwal dan agenda pertemuan untuk penyusunan RKM. pemilihan sarana teknologi sanitasi. • Melakukan RPA di kampung yang mengirim undangan dan memfasilitasi community self-selection stakeholders meeting bersama dengan tim pendamping. • Memfasilitasi pertemuan masyarakat (bersama dengan TFL Pemda) untuk penentuan calon penerima manfaat program.• Mengundang stakeholder masyarakat (dalam shortlist) untuk menyelenggarakan pertemuan/ sosialisasi Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). b. • Melakukan pengecekan lapangan sesuai persyaratan teknis minimal bersama TFL Pemda. b. dan kegiatan lain sampai tersusunnya RKM. • Membuat dokumen RKM dan meminta pengesahan/legalisasi RKM kepada semua stakeholder (bersama TFL-masyarakat). penyusunan rencana kontribusi. • Membuat Berita Acara kegiatan sesuai kebutuhan. • Mengadakan pertemuan koordinasi dengan dinas-dinas terkait untuk melaporkan perkembangan kegiatan Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). • Membuat Berita Acara seleksi kampung serta menyusun laporan berkala ke dinas penanggung jawab kabupaten/kota serta Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Provinsi. • Membantu TFL Pemda untuk mengundang stakeholder masyarakat (dalam shortlist) untuk sosialisasi Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). dan kegiatan lain sampai tersusunnya RKM.

• Membuat Berita Acara kegiatan sesuai kebutuhan.Masyarakat). • Meyakinkan bahwa semua rencana berjalan sesuai RKM. material dan gudang. alat-alat pengawasan material. Tahap Konstruksi dan Capacity Building a. • Memfasilitasi pertemuan rutin masyarakat (bersama dengan TFL.Masyarakat). tukang. • Memberikan persetujuan terhadap semua pengeluaran dana KSM dan administrasi keuangannya untuk pelaporan.Masyarakat). • Melakukan pengawasan pekerjaan fisik dan tenaga kerja. • Membantu masyarakat melakukan persiapan peresmian sarana. kelembagaan. dsb. TFL-Masyarakat • Melakukan persiapan (survey dan pengukuran) dengan masyakarat untuk pembangunan sarana (bersama dengan TFL Pemda). dan keuangan • Melaporkan seluruh perkembangan kegiatan dan kemajuan pekerjaan kepada Pimpinan Kegiatan/Kepala Dinas. tenaga kerja. termasuk kontribusi dari berbagai pihak. • Menyelenggarakan evaluasi kegiatan bersama dengan dinas-dinas terkait. tenaga kerja. • Membuat Berita Acara pengecekan final teknis. Mandor/pengawas dan Tukang sesuai perencanaan (bersama dengan TFL Pemda). dsb. • Membuat Berita Acara pengecekan final teknis. TFL Pemda • Menyelenggarakan pelatihan bagi operator dan pengguna (bersama dengan TFL. • Melakukan pengawasan pekerjaan fisik dan tenaga kerja (bersama TFL Pemda).3. • Menyusun laporan keuangan dan ajuan pencairan dana sesuai perkembangan fisik. termasuk kontribusi dari berbagai pihak. alat-alat pengawasan material. Mandor/pengawas dan Tukang sesuai perencanaan (bersama dengan TFL. • Ikut memberikan persetujuan keluar-masuknya material sesuai kualitas yang dipersyaratkan. • Membantu persiapan peresmian sarana. • Ikut memberikan persetujuan keluar-masuknya material sesuai kualitas yang dipersyaratkan. tukang. Tahap Evaluasi dan Support Operasional dan Pemeliharaan a. 15 . • Meyakinkan bahwa semua rencana berjalan sesuai RKM. b. • Meyakinkan bahwa semua rencana berjalan sesuai RKM. termasuk kontribusi dari berbagai pihak. • Menyelenggarakan kegiatan evaluasi partisipatif bersama masyarakat (TFL. • Menyelenggarakan pelatihan KSM. • Melakukan pengawasan pekerjaan fisik dan tenaga kerja (bersama TFL. TFL Pemda • Melakukan persiapan (survey dan pengukuran) dengan masyakarat untuk pembangunan sarana (bersama dengan TFL-Masyarakat). tukang. dan keuangan • Melaporkan seluruh perkembangan kegiatan dan kemajuan pekerjaan kepada Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Provinsi . 4.Masyarakat). • Membantu TFL Pemda dalam menyusun laporan keuangan dan ajuan pencairan dana sesuai perkembangan fisik. • Memberikan pedoman monitoring kualitas air dan hasil survei Indeks Status Perilaku Kesehatan kepada dinas terkait. • Menyelenggarakan pelatihan KSM. alat-alat pengawasan material. dsb.Masyarakat). material dan gudang. • Menyusun laporan keuangan dan ajuan pencairan dana sesuai perkembangan fisik. TFL-Masyarakat • Menyelenggarakan pelatihan bagi operator dan pengguna (bersama dengan TFL Pemda). kelembagaan. material dan gudang. • Memfasilitasi pertemuan rutin masyarakat (bersama dengan TFL Pemda). b. • Memberikan persetujuan terhadap semua pengeluaran dana KSM dan administrasi keuangannya untuk pelaporan. tenaga kerja.

Syarat Lokasi 1. • Melakukan pengawasan pekerjaan fisik dan tenaga kerja (bersama dengan TFL Pemda). Lingkungan masyarakat berpendapatan rendah (kumuh miskin.3 4. Masyarakat yang bersangkutan menyatakan tertarik dan bersedia untuk berpartisipasi melalui kontribusi. 150 m2 untuk 1 (satu) MCK Plus++. Memiliki masalah kesehatan/kasus diare kejadian luar biasa. Adanya saluran/sungai/badan air untuk menampung efluen pengolahan air limbah dan drainase mandiri. bukan kumuh kaya). 5. • Menyusun laporan keuangan dan ajuan pencairan dana sesuai perkembangan fisik. Daftar Panjang Lokasi Daftar panjang merupakan data sekunder calon lokasi yang diusulkan oleh pemerintah daerah kota/ kabupaten pada saat MoU. 3. 6. 2. barang maupun tenaga. Selalu masuk di semua program penataan kampung kumuh/penataan kawasan di semua dinas.3. 4. 100 m2 untuk 1 (satu) unit bangunan Instalasi Pengolah Air Limbah/IPAL. Kawasan permukiman padat. Kriteria Umum: 1. banyaknya sampah tidak terangkut atau terjadinya genangan. Kumuh secara fisik. Seleksi Lokasi dimulai dengan Pemerintah Kota/Kabupaten menetapkan calon lokasi penerima Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dalam bentuk daftar-panjang permukiman/kampung/kelurahan. 4. Pengembangan pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. • Menyelenggarakan kegiatan evaluasi partisipatif bersama masyarakat (TFL Pemda). 3. reuse. Terdapat masalah fisik sanitasi. c.• Memfasilitasi pertemuan rutin masyarakat (bersama TFL Pemda). 5. Kriteria lokasi kegiatan pengelolaan persampahan skala kawasan: 1. • Membuat Berita Acara kegiatan sesuai kebutuhan. Kriteria lokasi kegiatan pengelolaan air limbah skala kawasan: 1. atau kawasan pasar dan permukiman sekitarnya (permukiman atau pasar legal sesuai peruntukannya dalam RTRW Kabupaten/Kota) 2. Lokasi yang berada di kawasan permukiman perkotaan 2. Tersedia lahan yang cukup. Lokasi yang rawan sanitasi b. dan recycle) berbasis masyarakat. Oleh karena itu perlu disusun pemetaan prasarana dan sarana sanitasi lingkungan sehingga penanganan sanitasi lingkungan akan lebih tepat sasaran dan skala prioritas. Tersedia sumber air (PDAM/sumur/mata air/air tanah).4 16 . Kepadatan > 700 jiwa/Km2 (Wilayah Jawa & Bali). atau 200 m2 untuk pengolahan sampah pola 3R dan kolam yang sebaiknya cukup menampung 150 m3/ha kawasan permukiman untuk drainase mandiri 4. 3. Memiliki permasalahan sanitasi yang mendesak untuk segera ditangani seperti pencemaran limbah. 2. 4.3. Pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan berbasis masyarakat. Pemerintah Kabupaten/Kota bersama dengan fasilitator pendamping akan menyusun daftar-pendek sesuai persyaratan teknis minimal yang ditetapkan dan melalui pengecekan lapangan. dengan ketentuan memiliki kriteria kelayakan sebagai berikut: a. Batasan administrasi lahan TPST dalam batas administrasi yang sama dengan area pelayanan 4. kumuh dan rawan sanitasi yang terdaftar dalam administrasi pemerintahan Kabupaten/Kota. baik dalam bentuk uang.3. Penetapan daftar-panjang (minimal 5 lokasi) didasarkan pada wilayah yang merupakan urutan prioritas Pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal berbasis masyarakat. • Memberikan persetujuan terhadap semua pengeluaran dana KSM dan administrasi keuangannya untuk pelaporan.2 Seleksi Lokasi 1. Penentuan lokasi terpilih dilakukan dengan metode seleksi-sendiri atau oleh perwakilan masyarakat dengan sistem kompetisi terbuka. 6.

Pembuatan Kolam Retensi dan Sistem Polder disusun dengan memperhatikan faktor sosial ekonomi antara lain perkembangan kota dan rencana prasarana dan sarana kota serta dilaksanakan berdasarkan prioritas zona yang telah ditentukan dalam Rencana Induk Sistem Drainase. Mempunyai program lingkungan berbasis masyarakat. 2. 5. 4.3. 5. Tujuan penyusunan daftar pendek adalah mempermudah dan mengefektifkan sosialisasi stakeholder kampung dan seleksi kampung sasaran program. Sebaiknya data sekunder calon lokasi sejumlah minimal 5 (lima) kampung lokasi kumuh/miskin/padat penduduk perkotaan. Tersedia lahan: 4. Ukuran lahan minimal 200 m2 4. 6. Kriteria lokasi kegiatan pengelolaan air limbah skala kawasan: 1. 5. Luas min. Lahan yang diusulkan memang telah di manfaatkan/ difungsikan sebagai lokasi TPS Sampah. 3. b. 3. sehingga efektifitas dan target sasaran dapat tercapai. Terletak 500 m dari jalan raya 17 . Kriteria lokasi kegiatan pengelolaan persampahan skala kawasan: 1) Kriteria Fisik lingkungan: 1.5 Daftar Pendek Lokasi Daftar Pendek merupakan data primer yang ditentukan berdasarkan hasil survai dan identifikasi daftar panjang (longlist) yang dilakukan oleh TFL dan dinas penanggung jawab kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) berdasarkan kriteria kelayakan maksimal. Permukaan air tanah di TPST >10 m 2. 100 m2 (Simplified Sewerage System (SSS) atau komunal) dan min. Jalan keluar/masuk menuju dan dari TPST datar dengan kondisi baik dan lebar jalan yang cukup untuk mobilisasi keluar/masuk motor/gerobak sampah. Bersedia untuk berkontribusi (in cash + in kind). Berada di lahan datar. 8. 6. biaya operasi dan biaya pemeliharaan. 3. 2. Jarak dengan jalan besar ± 100 m. Lokasi merupakan kawasan rawan genangan 3. Tertarik untuk mengimplementasikan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). 7.pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat. Syarat kriteria kelayakan lokasi sasaran kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM): a. Kriteria lokasi kegiatan pengelolaan drainase mandiri berwawasan lingkungan berbasis masyarakat: 1. 4. mata air). identifikasi lokasi dan sosialisasi awal. Kelayakan pelaksanaan Kolam Retensi dan Sistem Polder harus berdasarkan tiga faktor antara lain: biaya konstruksi. 4. Memiliki masalah fisik sanitasi yang sama (tidak terpengaruh batas RT/RW). dan saluran untuk pembuangan air limbah (saluran drainase/riol kota/sungai). Masalah sampah sudah mulai mengganggu masyarakat d. Lokasi berada di kawasan permukiman perkotaan 2. Bebas banjir. Ketersediaan dan tata guna lahan Daftar panjang tersebut bertujuan untuk mempermudah TFL dalam menentukan lingkup lokasi. sumur gali. 150 m2 (untuk Community Sanitation Center (CSC) atau MCK Plus++) 5. Terdaftar dalam administrasi pemerintahan Kabupaten/Kota (Legal/proses legal) & cakupan 50-100 KK – RT/RW/Lingkungan/Kampung. Jarak lokasi ke permukiman lebih dari 200 m dari permukiman. Status kepemilikan lahan milik pemerintah atau lainnya dengan surat pernyataan bersedia digunakan untuk prasarana dan sarana pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat. 8. survey. Berada didalam area yang memang direncanakan diperuntukkan sebagai lokasi TPS Sampah atau Rencana pemanfaatan rendah untuk fasilitas umum/taman. Tersedia sumber air (PDAM. 7.

2) Kriteria Sosial Ekonomi 1. 3. Forum-forum kepedulian terhadap lingkungan. remaja mesjid. club manula. Cakupan pelayanan mendekati 600 KK. 3. dengan hasil yang diharapkan antara lain: • Adanya surat undangan dari stakeholder kampung kepada TFL dan dinas penanggung jawab kegiatan untuk melakukan presentasi kepada stakeholder kampung yang berminat di balai pertemuan Kampung/ Lingkungan/RT/RW. Undangan terdiri dari 3-5 orang wakil dari masing-masing stakeholder kampung yang masuk dalam shortlist (telah memenuhi syarat kelayakan). Daerah pengaliran saluran primer (DPSAL) yang mengalir ke Kolam Retensi melalui peta topografi. lamanya genangan dan frekuensi genangan. Kriteria lokasi kegiatan pengelolaan drainase berwawasan lingkungan berbasis masyarakat: 1. 4. 5. Adanya badan air/sungai berada dekat lokasi kegiatan 8.7. Masyarakat bersedia membayar retribusi pengolahan sampah. atau bersama-sama masyarakat. Berdampak minimal terhadap tata guna lahan. pengelola kebersihan/sampah. tinggi genangan. 7.3. arah aliran dan outlet 6.6 Sosialisasi Kampung Presentasi atau sosialisasi kampung dilaksanakan oleh dinas penanggung jawab kegiatan kota/ kabupaten bersama dengan TFL dan bertempat di dinas penanggung jawab kegiatan. Daerah genangan dan parameter genangan yang meliputi luas genangan. Seleksi Kampung Kegiatan seleksi kampung dilakukan dengan metode Rapid Participatory Assessment (RPA) dan Community Self Selection Stakeholders Meeting. dll c.7 4. Lokasi Kolam Retensi yang akan dijadikan tempat penampungan kelebihan air permukaan dan perkirakan batas luas Kolam Retensi tersebut. Masyarakat bersedia mengoperasikan dan memelihara sistem sendiri serta bersedia membentuk kelompok pengurus O/P Pemilihan maksimal 3 (tiga) kampung yang masuk dalam Daftar Pendek (shortlist) yang dilakukan oleh TFL (Pemda dan Masyarakat) dan disahkan oleh Kepala Dinas penanggung jawab. 4. Ada tokoh masyarakat yang disegani dan mempunyai wawasan lingkungan yang kuat. Elevasi muka air di muara saluran lebih tinggi dari elevasi muka tanah di daerah genangan. 2. Sudah memiliki kelompok aktif di masyarakat seperti PKK. serta kebutuhan untuk memecahkan masalah sanitasi secara cepat dan dilakukan secara partisipatif. Terdapat zona penyangga dan kegiatan operasionalnya tidak terlihat dari luar. 2. Penerimaan masyarakat untuk melaksanakan program 3R merupakan kesadaran masyarakat secara spontan. masalah yang mereka hadapi. Rapid Participatory Assessment (RPA) Rapid Participatory Assessment (RPA) merupakan metode yang digunakan untuk melakukan pemetaan kondisi sanitasi masyarakat. Adanya sistem. 4.9.3. Materi presentasi/sosialisasi berupa penjelasan tentang kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) oleh Dinas penanggung jawab dan TFL. karang taruna. Sosialisasi kampung merupakan syarat mengikuti seleksi kampung. 4. 10. Muka air di kolam retensi/kolam polder direncanakan dari dasar muka tanah terendah di daerah perencanaan dan ditarik dengan lamanya tertentu sesuai dengan kemiringan lahan.1 18 . 5.3. klub jantung sehat. • Adanya surat undangan dari masyarakat untuk melakukan survai cepat partisipatif (Rapid Paticipatory Assessment/ RPA).

dimana undangan/permintaan menjadi salah satu indikator kebutuhan untuk memecahkan masalah sanitasi yang mereka hadapi. 3. Tujuan RPA Secara umum. Memposisikan masyarakat sebagai subyek. Kesiapan masyarakat untuk berkontribusi. Prioritas perbaikan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Tujuan akhirnya adalah terseleksinya masyarakat yang paling siap untuk implementasi kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Kesiapan lembaga setempat untuk mengelola sarana. Hasil RPA ini akan dipresentasikan pada sesi Seleksi Lokasi Sendiri oleh masyarakat bersama-sama dengan hasil RPA dari kampung lain dalam 1 (satu) kabupaten/kota. Tabel 4.Alasan penggunaan metode ini adalah : 1. Jenis Informasi dan Alat RPA yang digunakan No Jenis Informasi 1 2 3 4 5 Pengalaman membangun infrastruktur kampung Kesiapan masyarakat untuk berkontribusi Kelayakan teknis untuk infrastruktur sanitasi Kesiapan lembaga setempat untuk mengelola Prioritas perbaikan sanitasi RPA Tools Timeline Ladder—1 Transect Walk Venn Diagram Problem Tree 19 . RPA dilakukan setelah kegiatan Presentasi Konsep Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) kepada stakeholder masyarakat. 5. sistematis. Kelayakan teknis untuk infrastruktur Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). 3. yaitu : 1. yang bertujuan untuk menentukan lokasi masyarakat yang paling siap untuk implementasi Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Dalam tahap implementasi kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM).1. Untuk menilai kesiapan masyarakat akan diukur dengan 5 (lima) variabel. tujuan RPA adalah teridentifikasinya masalah sanitasi dan keinginan masyarakat untuk memecahkannya atas dasar kemampuan sendiri yang dilakukan secara partisipatif. Sesi ini dinamakan Self-Selection Stakeholders Meeting. Memberikan ”ruang” kepada masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan keinginannya. Sebagai salah satu media pemberdayaan masyarakat pada tingkat bawah (grass root level). dan cepat. 4. Hal ini sesuai dengan pendekatan Demand Responsive Approach (DRA). RPA akan dilakukan hanya jika ada undangan atau permintaan dari masyarakat setelah mereka memahami konsep kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) melalui presentasi. Pengalaman membangun infrastruktur kampung. 2. 2.

Penentuan Waktu dan Tempat Waktu pelaksanaan RPA perlu disepakati bersama antara tim fasilitator dengan masyarakat (misalnya ketua RT/RW dan tokoh masyarakat) agar proses pelaksanaan dapat berjalan lancar. Kemudian skor tersebut akan dikonversikan ke dalam nilai. ice breaking. 2. Nilai tersebut merupakan kuantifikasi dari setiap pernyataan yang bersifat kualitatif. komponen masyarakat yang perlu terlibat dalam RPA harus dibicarakan secara jelas dengan ketua RT/RW setempat. 3. maka semakin tinggi skornya. dan 100. dimana penentuan kampung yang lolos seleksi didasarkan pada total skor yang dimiliki oleh masing-masing kampung. Sebelum RPA dimulai. yaitu perempuan. total waktu yang dibutuhkan adalah 480 menit (8 jam) atau 1 hari efektif. Skor berkisar antara 0. setiap indikator dalam variabel akan diberi skor. 75. Maka. dan penutupan maksimal 90 menit (1. 50. Maka. kampung yang mengumpulkan skor nilai tertinggi yang dianggap paling siap untuk implementasi Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). TFL bertugas memberikan ”tongkat komando” kepada masyarakat ketika mereka sudah siap dan memahami tujuan dan cara kerjanya. pembagian kelompok. dan 4. Jika ditambah untuk introduksi. Tempat yang dibutuhkan untuk pelaksanaan RPA adalah tempat pertemuan besar (untuk pertemuan awal/introduksi dan pertemuan akhir/presentasi hasil) dan tempat pertemuan kecil (untuk penerapan teknik20 .5 jam). Waktu yang dibutuhkan untuk implementasi RPA adalah 390 menit (6.Pemetaan Sanitasi Kampung Diagram Venn Timeline Transect Walk Ladder-1 Problem Tree Community Self-selection Stakeholder Meeting Gambar 4. dan tokoh formal maupun informal. dan begitu pula sebaliknya.2. kaya-miskin. Prinsipnya semakin banyak komponen masyarakat yang terlibat dalam proses pelaksanaan RPA ini adalah semakin baik. laki-laki. Logikanya : semakin miskin kondisi kampung dan semakin besar tingkat keswadayaan masyarakat. Fasilitator (TFL) sangat berperan penting dalam RPA karena bertanggung jawab atas proses dan hasil RPA sesuai dengan rencana. sedangkan Nilai berkisar antara 0. dan minimal 1 minggu sebelumnya. Penetapan skor dan pembobotan (nilai) ini penting dalam rangka penyederhanaan dalam memberikan penilaian tentang kondisi masyarakat secara obyektif. 1. Skema dan Prosedur Implementasi Partisipan RPA Partisipan RPA terdiri dari maksimum 20 orang berasal dari berbagai komponen masyarakat yang ada di kampung yang bersangkutan. Skor ini sangat penting gunanya dalam Self-selection Stakeholder Meeting. 25. Penetapan Skor dan Pembobotan (Nilai) Dalam RPA.5 jam).

7. asal-usul perintis pembangunan.3. CS1. DB. Spidol besar aneka warna. daun-daunan dan biji-bijian. Selotip. papan tulis atau di atas kertas. masyarakat berkontribusi uang dan in-kind (tenaga+material). Spidol kecil aneka warna. Media pemetaan dapat dilakukan di atas tanah. Sejarah terbentuknya pembangunan bersangkutan. hasilnya harus digambar kembali di atas kertas agar hasilnya tidak hilang. masyarakat berkontribusi uang dan in-kind (tenaga+material) Pernah dilakukan. Sejarah organisasi kelurahan dan sistem pengorganisasian pada saat melaksanakan pembangunan. muntaber. Indikator dan Variabel penilaian TIMELINE Tabel 4. Alat dan Bahan yang perlu disiapkan Alat dan bahan yang diperlukan untuk kegiatan RPA terdiri dari : Kertas lebar (plano). Metode penyusunan peta kampung umumnya menggunakan simbol-simbol dan peralatan yang sederhana seperti tongkat. batu-batuan. 4. Lem/perekat. Jika digambar di tanah.2 Peta Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) Pemetaan kampung adalah salah satu teknik PRA (participatory rural appraisal) untuk memfasilitasi masyarakat dalam mengungkapkan keadaan wilayah di kampung mereka beserta lingkungannya.teknik RPA). perkembangan yang terjadi dan siapa yang terlayani. Hasil yang diharapkan adalah peta atau sketsa keadaan sumber daya umum kampung atau peta dengan topik tertentu (peta sanitasi). Tempat pertemuan ini diusahakan di tempat yang luas dan mudah dijangkau/diakses oleh masyarakat. masyarakat berkontribusi in-kind (tenaga+material) Pernah dilakukan. Terjadinya wabah penyakit (malaria. Tabel 4. Bahan-bahan lokal seperti bijibijian atau kacang-kacangan. Untuk menggambar di atas media tanah. Alat tulis. dsb) 3. Gunting. Kain lebar. berbentuk hibah/ bantuan dari luar Pernah dilakukan. Lampu (jika ada kegiatan di malam hari).1 Pengalaman Membangun Prasarana* secara Gotong-Royong Pilihan Tidak ada pengalaman/belum pernah dilakukan Pernah dilakukan. Akan sangat baik jika ada rekaman video/kamera yang dapat dipergunakan untuk melengkapi laporan. panitia pembangunan dan pengelola yang dibentuk masih ada sampai sekarang Skor 0 1 2 3 4 Konversi ke 0 25 50 75 100 Keterangan * = untuk masing-masing kegiatan prioritas (pengelolaan air limbah skala kawasan. Contoh Timeline No Proyek Pembangunan Tahun Pendanaan Informasi yang diharapkan dari kegiatan timeline adalah: 1. Untuk itu lebih efektif dan efisien penggambaran peta sanitasi langsung di atas kertas besar/ plano. pengelolaan persampahan skala kawasan dan pengelolaan drainase lingkungan) 21 .3.2. 2. yang perlu diperhatikan adalah proporsi luas lahan yang akan digunakan sehingga banyak orang/masyarakat yang dapat terlibat.

Contoh Ladder – 1* No Proyek Pembangunan Sarana Sanitasi 1 dst Total Skor = Rata-rata = Keterangan * = untuk masing-masing kegiatan prioritas (pengelolaan air limbah skala kawasan.3 Ladder-1 (Kesediaan Berkontribusi) Ladder-1 bertujuan untuk mengenali dan mengkaji manfaat dan nilai guna iuran yang dirasakan oleh masyarakat dalam kegiatan pembangunan sarana sanitasi kampung. CS2. Kartu yang dipilih adalah nilai yang dimiliki oleh masyarakat yang nanti akan dijumlahkan dengan skor yang lain pada sesi Community Self-selection Stakeholders Meeting. Skor untuk nilai manfaat dan nilai iuran dijumlahkan dan diisikan ke kolom total. Gunakan biji-bijian untuk menghitung skor. 2. maksud. pengelolaan persampahan skala kawasan dan pengelolaan drainase lingkungan) Informasi yang diharapkan dari kegiatan ladder-1 adalah : 1.7. atau gambar. 6. Manfaat-manfaat yang memperhatikan isu gender dan pelaksanaan pembagiannya. 3. 8. waktu.3. dan antar masyarakat kaya dan miskin (jika memungkinkan). kemudian ditulis pada kertas flip chart (satu kartu satu manfaat) dengan tulisan. Kegiatan dilakukan secara terpisah antara masyarakat laki-laki dan perempuan. 3. Berdasarkan hasil analisis ini. Proses Ladder-1 adalah : 1. TFL memfasilitasi dan mengarahkan peserta untuk memberikan penilaian atas manfaat yang dapat dirasakan dibandingkan dengan besarnya iuran yang telah mereka berikan terhadap pembangunan sarana sanitasi. harta benda. simbol. 5. Indikator dan Variabel penilaian Ladder – 1* Tabel 4. TFL mengajak peserta untuk menilai kesanggupan mereka untuk berkontribusi terhadap pembangunan/perbaikan sarana sanitasi yang akan dilakukan dengan cara memilih kartu-kartu yang didalamnya sudah ada nilai yang disediakan oleh TFL. 7. dan cara penerapan teknik ini. TFL menjelaskan tujuan. lalu dibuat rata-ratanya. Tabel 4. Urutan manfaat-manfaat dengan memperhatikan kesesuaian kontribusi (dalam bentuk uang. atau bentuk lainnya). 4. Pandangan kelompok mengenai keberadaan setiap jenis manfaat yang dialami oleh mereka.5.4.1 Kesediaan Masyarakat Untuk Mengeluarkan Biaya Pilihan Tidak bersedia memberikan kontribusi Bersedia memberikan kontribusi hanya untuk biaya pembanguan toilet Bersedia memberikan kontribusi untuk pembangunan prasarana & sarana serta biaya pengoperasian & perawatan komponen terpilih lainnya Skor 0 1 2 Konversi ke 0 25 50 Manfaat (1-10) Biaya dibayarkan (1-10) 22 . 2. tenaga.4. Mulai berdiskusi mengenai manfaat yang dirasakan oleh masyarakat terhadap sarana sanitasi yang ada saat ini. serta digunakan untuk menilai kesiapan masyarakat berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur sanitasi.

antara lain : • Lokasi yang dicalonkan masyarakat untuk bangunan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). • (contoh cek list teknis dapat dilihat pada lampiran) 2. • Muka air tanah. Menilai kepuasan layanan yang diterima (demand responsiveness). dan setelah intervensi proyek dengan cara menjumlahkan semua jamban/sarana sanitasi pada ketiga kategori tersebut dan digambarkan persentase perbandingan masing-masing kategori. kemudian mendiskusikan dengan masyarakat yang ada di sekitar lokasi sarana sanitasi/jamban tentang pemeliharaan (keberadaan dan keteraturannya). Kemudian catat hasil temuannya.Pilihan Skor Konversi ke Bersedia memberikan kontribusi untuk biaya pembangunan toilet. sungai. pengelolaan persampahan skala kawasan dan pengelolaan drainase lingkungan) 4. nilai manfaat yang dirasakan dari kontribusi untuk memperoleh layanan tersebut. 3. Melakukan observasi dan pencatatan kualitas konstruksi dengan menggunakan format observasi jamban/sanitasi. dan pemeliharaan serta menggunakan jamban keluarga. Masyarakat dapat membantu memilih aspek penilaian kepuasan layanan.4 Transect Walk (Kesiapan Teknis) Transect walk bertujuan untuk (1) mengenali dan mengkaji kondisi sarana sanitasi kampung yang sudah ada. lingkup dan pemakaian. Menentukan. Mencatat semua sanitasi yang dibangun oleh proyek sebelumnya atau oleh pribadi. • Sarana sanitasi yang digunakan masyarakat saat ini : jamban. & sebagian dari biaya pembangunan komponen lainnya Bersedia memberikan kontribusi untuk biaya pembangunan prasarana 4 100 & sarana. • Ketersediaan lahan. 4. desain. • Material lokal. • Saluran drainase. Secara acak pilihlah titik dengan proporsional (10% dari total) dari masing-masing kategori. mengobservasi serta melakukan diskusi dengan masyarakat. kolam. 23 . serta konflik kepentingannya. perlu dipilih secara acak jamban/sarana sanitasi yang dibangun sebelum. dengan menggunakan skala penilaian dari setiap rumah tangga yang dikunjungi selama transect. selama. • Pola penggunaan sarana sanitasi. Menilai kepuasan penggunaan sarana meliputi tingkat akses layanan. dan seluruh dari biaya pembangunan komponen lainnya Keterangan * = untuk masing-masing kegiatan prioritas (pengelolaan air limbah skala kawasan. dsb. kualitas konstruksi.7. Penilaian menggunakan checklist terhadap kualitas konstruksi. Tugas TFL dan masyarakat di kegiatan transect walk adalah : 1. biaya 3 75 pengoperasian & perawatan komponen terpilih lainnya. operasi. Untuk lokasi yang pernah mendapat proyek jamban/sarana sanitasi.3. kemudahan penggunaan dan pemeliharaan. 5. laporan mengenai layanan kepada pengguna dengan catatan terpisah untuk pria dan wanita. dan (3) menilai tingkat kelayakan teknis sebagai prasyarat pembangunan infrastruktur sanitasi yang direncanakan dengan cara melakukan observasi langsung oleh TFL bersama-sama dengan masyarakat. biaya pengoperasian & perawatan komponen terpilih lainnya. penggunaan untuk anak-anak. (2) menilai tingkat kepuasan masyarakat terhadap fasilitas sanitasi yang ada.

mencuci & mandi Air mencukupi untuk semua kebutuhan Tabel 4. masak. CS3.3 Ketersediaan Air Pilihan Air tidak mencukupi meskipun untuk minum Air hanya mencukupi untuk minum Air hanya mencukupi untuk minum. & mencuci Air hanya mencukupi untuk minum.Indikator dan Variabel penilaian Transect Walk Tabel 4. ATAU. CS3.1 Kondisi Drainase Pilihan Tidak ada saluran drainase Ada saluran drainase tetapi sudah rusak Ada saluran drainase tetapi mampet Ada saluran drainase tetapi air mengalir lambat Ada saluran drainase yang mengalir lancar Tabel 4.8. masak.2 Toilet/Jamban Pilihan Ada jamban lengkap dengan Tangki Septik di masing-masing rumah Ada MCK yang berfungsi. Tabel 4. Sebagian besar penduduk buang air besar di tempat terbuka/sungai. ATAU. Sebagian besar Jamban disalurkan langsung ke sungai. Setengah dari keseluruhan rumah telah mempunyai jamban + tangki septik sendiri Ada MCK yang berfungsi. CS3. ATAU. digunakan sebagian besar penduduk. CS3. digunakan sebagian kecil penduduk. Hanya sebagian kecil Rumah yang mempunyai jamban + tangki septik sendiri Sebagian kecil penduduk buang air besar di tempat terbuka/sungai.9.4 Ketersediaan Lahan Kondisi Tidak tersedia lahan milik perorangan/negara di dalam atau dekat kampung Ada lahan milik perorangan (100-200 m2) di dekat kampung Ada lahan milik negara (100-200 m2) di dekat kampung Tersedia lahan milik perorangan (100-200 m2) di dalam kampung Tersedia lahan milik negara (100-200 m2) di dalam kampung Skor 0 1 2 3 4 Konversi ke 0 25 50 75 100 Skor 0 1 2 3 4 Konversi ke 0 25 50 75 100 Skor 0 1 2 3 4 Konversi ke 0 25 50 75 100 Skor 0 1 2 3 4 Konversi ke 0 25 50 75 100 24 . ATAU.6. Sebagian kecil Jamban disalurkan langsung ke sungai.7.

CS4.5 Venn Diagram Venn diagram bertujuan untuk mengenali dan mengkaji keberadaan lembaga lokal yang ada dalam masyarakat.11. ukuran kertas makin besar). 3. tapi tidak dekat dengan masyarakat (jarang berinteraksi dengan masyarakat) Ada lembaga lokal yang penting dan bermanfaat untuk sebagian besar warga.7. Tempatkan organisasi terdekat di lingkaran pertama dan seterusnya. 2. Diskusikan dan urutkan organisasi atau lembaga yang ada berdasarkan nilai ”pentingnya” dalam metaplan berbeda ukuran (makin penting.4. namun tidak memperoleh pengakuan resmi dari pemerintah Skor 0 1 2 Konversi ke 0 25 50 25 . manfaat dan tingkat kedekatan hubungannya dengan masyarakat. Venn diagram dilaksanakan masyarakat dengan difasilitasi TFL. 4.3. Contoh Venn Diagram Organisasi/ Lembaga A B C D Tingkat kedekatan dengan masyarakat 3 1 4 2 4 C 1 3 2 MASYARAKAT D A B Gambar 4.3. Langkah-langkah kegiatan venn diagram sebagai berikut : 1. 5.1 Ketersediaan Lembaga-Lembaga Setempat* Pilihan Tidak ada lembaga lokal yang sangat penting atau bermanfaat bagi sebagian besar warga Ada lembaga lokal yang penting dan bermanfaat untuk sebagian besar warga. Contoh Venn Diagram Indikator dan Variabel penilaian Venn Diagram Tabel 4. Buat Lingkaran atau orbit sesuai banyaknya organisasi atau lembaga. Diskusikan dan urutkan organisasi atau lembaga yang ada menurut kedekatannya dengan warga. rutin berinteraksi dengan masyarakat. Secara khusus dapat digunakan pula untuk menilai tingkat kesiapan masyarakat untuk mengelola sanitasi secara kelembagaan lokal.10. Tabel 4. Meminta warga menuliskan organisasi-organisasi atau lembaga-lembaga kemasyarakatan yang ada di kampung mereka.

Contoh Rencana Perbaikan Sanitasi 26 . Problem tree dilaksanakan oleh masyarakat dengan difasilitasi oleh TFL. lalu letakkan kartukartu tersebut di atas masalah inti.Pilihan Skor Konversi ke Ada lembaga lokal yang penting dan bermanfaat untuk sebagian besar 3 75 warga.6 Problem Tree (Rencana Perbaikan Sanitasi) Kegiatan problem tree bertujuan untuk mengkaji dan mengenali masalah-masalah sanitasi yang ada di masyarakat dan hubungan sebab-akibat yang timbul dalam masalah sanitasi yang mereka hadapi. dan memiliki akses keuangan (memiliki rekening bank.7. dan apabila diperlukan. Tulis masalah secara singkat. 8.3. Mintalah kepada masyarakat untuk menentukan masalah inti. padat dan jelas sesuai pandangan/perasaan masyarakat pada kartu-kartu dan tempelkan pada papan. menentukan masalah-masalah inti sanitasi (sanitation core problems). dan proses kajian masalah sanitasi. pengelolaan persampahan skala kawasan dan pengelolaan drainase lingkungan) 4. memperoleh pengakuan resmi dari pemerintah. perbaikilah untuk menjamin keabsahan dan kelengkapan analisis permasalahan sanitasi. Lakukan analisis hubungan sebab-akibat dengan cara memberi tanda panah antara kartu satu dengan kartu lain dan tetap mengacu pada core problemnya. memanfaatkan layanan pembukuan) Keterangan * = untuk masing-masing kegiatan prioritas (pengelolaan air limbah skala kawasan. tujuan. 6. lalu tulislah di kertas lain. Jelaskan maksud. 4. Teliti kartu-kartu lainnya yang menyebabkan terjadinya masalah inti tersebut dan letakkan kartu-kartu tersebut di bawah masalah inti. 7.4. 3. rutin berinteraksi dengan masyarakat. 2. Periksalah diagram secara keseluruhan. 5. AKIBAT MASALAH SANITASI 1 AKIBAT MASALAH SANITASI 2 AKIBAT MASALAH SANITASI 3 PENYEBAB MASALAH SANITASI 1 PENYEBAB MASALAH SANITASI 2 dst dst Gambar 4. Minta warga menulis di kartu lain hal-hal yang menjadi akibat dari masalah inti tersebut. serta mengkaji ide/gagasan/rencana masyarakat untuk memecahkan masalah sanitasi yang mereka hadapi. rutin berinteraksi dengan masyarakat. dan memperoleh pengakuan resmi dari pemerintah Ada lembaga lokal yang penting dan bermanfaat untuk sebagian besar 4 100 warga. Langkah-langkah problem tree sebagai berikut : 1. Tanyakan kepada mereka tentang ide/gagasan/rencana/action plan perbaikan sanitasi.

Sanitasi dan pilihan pemecahannya dibahas. kemudian wakil masyarakat tiap kampung mempresentasikan hasil RPA langkah terakhir dengan difasilitasi oleh TFL dan dilakukan perhitungan hasil skoring tiap kampung secara terbuka seperti Tabel Konsolidasi Skor RPA (terlampir) Berita Acara Seleksi Kampung Penandatanganan berita acara seleksi kampung dilakukan: 1.Indikator dan Variabel penilaian problem tree Tabel 4.3 per Kab/ Pertemuan stakeholder seleksi sendiri masyarakat kota/kab. tetapi tidak ada rencana kerja khusus.7.4. 27 4. terlaksana & MoU TFL terseleksi Briefing TFL oleh konsultan terlaksana Gambar 4.3. pengelolaan persampahan skala kawasan dan pengelolaan drainase lingkungan) Kabupaten/Kot a terseleksi.3. Overview Pelaksanaan RPA dalam Tahap Implementasi Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) 4. 2.12 CS5. dan rencana kerja khusus telah disusun oleh masyarakat Skor 0 1 2 3 4 Konversi ke 0 25 50 75 100 Keterangan * = untuk masing-masing kegiatan prioritas (pengelolaan air limbah skala kawasan. Bila pemenang ke-1 bermasalah.1 Rencana Perbaikan Sanitasi* Pilihan Sanitasi tidak muncul dalam analisis masyarakat Sanitasi muncul tapi tidak dibahas lebih lanjut dalam analisis Sanitasi dan beberapa pilihan pemecahannya dibahas dalam analisis Sanitasi dan pilihan pemecahannya dibahas.7 Community Self Selection Stakeholders Meeting Community self selection stakeholder meeting atau pertemuan perwakilan kampung dalam proses seleksi pemilihan kampung merupakan alat untuk menentukan 1 (atau lebih sesuai kesiapan dana Pemerintah Kabupaten/Kota) lokasi yang paling siap dengan sistem skoring. 7 MoU ditandatangani Presentasi kepada stakeholder masyarakat terselenggara RPA oleh TFL dan Konsultan terlaksana di maks.7.8 . 7 MoU ditandatangani 1-2 masyarakat terseleksi per Kabupaten/Kota Kabupaten/ Kota terseleksi. Kegiatan tersebut diikuti oleh kampung shortlist yang telah melaksanakan RPA dengan difasilitasi oleh TFL. Kegiatan tersebut diawali dengan mengundang masyarakat tiap lokasi/ kampung yang telah melaksanakan RPA. beri kesempatan kepada pemenang berikutnya. Memberi tenggat waktu tertentu untuk konfirmasi lahan dan sebagainya kepada pemenang ke-1.

Tujuan RKM secara khusus adalah : • Mengumpulkan informasi sanitasi secara kwantitatif-sistematis dengan menggunakan alat-alat participatory. 3.4. integritas dan sosiometri yang sesuai dengan kriteria. • Teridentifikasinya kebutuhan pelatihan untuk mengembangkan kemampuan dengan tujuan agar pelayanan dapat berkesinambungan. partisipasi dalam pengambilan keputusan. Persiapan Pelaksanaan • Persiapan Tim Fasilitator 4. Dokumen RKM ini berisi mengenai Prasarana dan Sarana Sanitasi Lingkungan Terseleksi. Memastikan lokasi terpilih sesuai dengan syarat teknis. yang kemudian disetujui oleh semua stakeholder yang terlibat. Memastikan proses dan keluaran tahap-tahapan survey cepat (RPA) telah sesuai. Tujuan RKM secara umum adalah: Teridentifikasinya kebutuhan masyarakat. 2.4 4. serta Penjaminan Sistem. untuk menilai kesinambungan dan ketanggapan terhadap kebutuhan. Pekerjaan yang membutuhkan keahlian teknis diserahkan kepada tenaga ahli. maupun kelompok kaya-miskin untuk memecahkan masalah sanitasi yang ada berdasarkan kemampuan masyarakat itu sendiri. Memastikan syarat dan ketentuan calon lokasi terseleksi pada tahap awal (tahap daftar panjang dan daftar pendek serta lama waktu proses seleksi) telah sesuai.1 28 . kebutuhan dan kepuasan pengguna. Memastikan fasilitator pendamping masyarakat memiliki kapasitas. baik laki-laki dan perempuan. sekaligus sebagai dasar untuk pencairan dana/material dari berbagai stakeholder yang telah memberikan komitmen. Penyusunan RKM dilakukan dengan pendekatan partisipatif.3.8 Monitoring Monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan penyusunan daftar panjang/long list. • Teridentifikasinya kebutuhan dan rencana masyarakat untuk memecahkan masalah sanitasi. baik manajemen maupun teknis. artinya semaksimal mungkin melibatkan masyarakat dalam semua kegiatan yang dilakukan. RKM Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) hanya akan dilakukan oleh masyarakat yang kampungnya terseleksi sebagai lokasi. namun tetap melibatkan masyarakat. RKM ini dibuat dan diajukan oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Pengoperasian dan Perawatan (O & P). 4. lahan/lokasi tidak dalam kondisi konflik serta mendapat persetujuan masyarakat.4. Konstruksi dan Supervisi. Penguatan Kelembagaan (Capacity Building). Rencana Kerja Masyarakat (RKM). Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Rencana Teknis Rinci (Detail Engineering Design/DED) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB). • Teridentifikasinya mekanisme untuk mengenal sejumlah indikator untuk kesinambungan dengan memperhatikan perlengkapan pelayanan sanitasi serta proses untuk melakukan penilaian terhadap partisipasi masyarakat. kualitas pelayanan dan pengelolaan oleh masyarakat. TAHAPAN PENYUSUNAN RKM Rencana Kegiatan Masyarakat Rencana kegiatan masyarakat (RKM) merupakan bukti dokumen resmi perencanaan perbaikan sanitasi oleh masyarakat. terdokumentasikan secara terbuka (transparancy) serta dapat terukur (accountability). Daftar Pendek/short list dan seleksi kampung dilakukan untuk : 1. • Teridentifikasinya informasi tentang kesetaraan akses pada pelayanan yang ada. Mekanisme dan Jadwal Pencairan Kontribusi.

yaitu mengetahui peranan laki-laki dan perempuan pada tahap perencanaan. • Siapa Melakukan Apa. • Transect Walk II. jenis pekerjaan.13 Topik dan Metode yang digunakan dalam Penyusunan RKM No 1 2 3 4 5 Topik Penentuan calon penerima manfaat program/pengguna sarana Pilihan Prasarana dan Sarana Sanitasi Lingkungan Rencana Teknis Rinci (Detail Engineering Design/DED) & RAB Rencana kontribusi masyarakat KSM Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) Rencana Pelatihan Penguatan Kelembagaan (Capacity Building) Metode Partisipatif Wealth Classification & Community Mapping Presentasi Pilihan Teknologi Sanitasi (ICC).Siapa berperan sebagai apa dan kapan . • Pemetaan Sanitasi Kampung oleh Masyarakat. menengah. • Partisipasi dan Kontribusi. yaitu mengklasifikasi jumlah penduduk kampung ke dalam kategori tingkat kesejahteraan (kaya. yaitu menilai dan menganalisa pembagian kerja. dan pemeliharaan sarana. Venn Diagram Participatory Training Assessment Tahapan RKM sebagai berikut : • Klasifikasi Kesejahteraan. yaitu menilai dan menganalisa kesetaraan dan transparansi pengguna saat dan pasca pembangunan sarana. yaitu mempelajari akses masyarakat terhadap sarana sanitasi yang ada. • Pembagian Kerja berdasarkan Peran Gender. pembangunan. dan pekerjaan yang dibayar atau tidak. Ladder-2 Presentasi opsi KSM.Penyiapan logistik. yaitu mempelajari keadaan masyarakat menyangkut sarana air bersih dan sanitasi.Kontak person di masyarakat • Menentukan waktu dan tempat • Melaksanakan pertemuan sesuai jadwal dan kesepakatan • Komunikasi dan koordinasi dengan semua stakeholders Tabel 4. miskin) menurut kriteria khusus dan istilah setempat.. Transect Walk untuk data teknis Presentasi opsi-opsi kontribusi. materi dan alat-alat untuk RKM . 29 .

kontribusi.Gambar 4. panitia Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat. komponen masyarakat yang perlu terlibat harus dibicarakan secara jelas pada saat pertemuan awal. Prinsipnya. kontribusi. RAB.5 Tahapan Rencana Kegiatan Masyarakat (RKM) Presentasi teknis ICC & Pilihan teknologi terseleksi Penyusunan DED & RAB berdasarkan klasifikasi kesejahteraan KSM Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat terbentuk Skema dan mekanisme kontribusi disepakati Rencana konstruksi. rencana monitoring dan OP) Metode-metode partisipatif (CPA) yang terkait dengan kegiatan : seleksi teknologi. kaya-miskin. baik perempuan. laki-laki. maupun tokoh formal dan informal. rencana pendanaan dan pelatihan. semakin banyak komponen masyarakat yang terlibat dalam proses penyusunan RKM ini adalah semakin baik.6 Kegiatan dalam Tahap Penyusunan Rencana Kegiatan Masyarakat (RKM) Peserta/Partisipan Partisipan terdiri dari berbagai komponen masyarakat yang ada di kampung yang bersangkutan. O & P. 30 . Sebelum proses penyusunan RKM dimulai. pelatihan. terlaksana di tiap masyarakat Gambar 4. O&P tersusun Pembukaan rekening S Minimal 1 kampung terseleksi per kota/kabupaten Rencana Kerja Masyarakat (RKM) difinalisasikan (DED.

Waktu dan Tempat Pertemuan Waktu pelaksanaan RKM (hari, tanggal, dan durasi per-pertemuan) disesuaikan dengan kesepakatan warga. Keseluruhan waktu yang dibutuhkan untuk implementasi RKM yang terdiri dari 6 tools adalah 20 jam efektif. Dengan demikian, apabila dalam satu hari masyarakat bisa meluangkan waktu 2-4 jam (biasanya malam jam 19.00 s/d jam 23.00), 2-3 kali seminggu, maka penerapan RKM ini bisa selesai dalam 3 bulan. Untuk tempat pertemuan, yang perlu diperhatikan adalah cukup luas, bersifat netral, dan mudah diakses oleh masyarakat. Tabel 4.14. Contoh Alokasi Waktu RKM Minggu ke 1 Kegiatan Perkenalan: tim, apa itu Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM), bagaimana proses Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM), siapa partisipan, Kontrak belajar: Kapan, siapa dan berapa partisipan, bagaimana mengikuti proses, hasil apa saja yang hendak dicapai: - Klasifikasi Kesejahteraan - Pemetaan sosial - Diskusi hasil mapping - Presentasi Katalog Pilihan Informasi Sanitasi (ICC) - Mengidentifikasi Pilihan Teknologi yg dipilih - Transect walk - Pembentukan KSM & Panitia Pembangunan - Siapa melakukan apa - Identifikasi took dan harga material - Review pertemuan minggu lalu - Memilih teknologi yang diinginkan - Rencana Teknis Rinci (Detail Engineering Design/DED) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) - Kontribusi - Partisipasi saat pembangunan pelayanan - Pembagian kerja berdasarkan peran gender dan waktu kerja (Ladder-2) - Review pertemuan minggu lalu - Rencana Teknis Rinci (Detail Engineering Design/DED) dan revisi Rencana Anggaran Biaya (RAB) lanjutan - Kontribusi lanjutan - Rekening Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dibuka - Review pertemuan minggu lalu - Rencana Pelatihan - Finalisasi buku RKM Kebutuhan Waktu 4 – 5 Jam

2-3

4 – 5 Jam

4-6

4 – 5 Jam

7-9

4 – 5 Jam

10 - 12

4 – 5 Jam

4.4.1.1

Klasifikasi Kesejahteraan (Wealth Classification). Tujuan: • Mengklasifikasikan jumlah penduduk RT/RW/Kelurahan kedalam kategori tingkat kesejahteraan (kaya, miskin, sedang), menurut kriteria khusus setempat dan sesuai dengan istilah setempat, serta proporsi populasi masing-masing klasifikasi status sosial untuk tiap kategori; • Klasifikasi kesejahteraan digunakan untuk mengidentifikasi kelompok yang terlibat pelaksanaan forum discussion group (FGD), untuk memetakan akses orang miskin dan kaya terhadap sarana, fungsi dan pekerjaan, serta mengidentifikasi perbedaan tingkat partisipasi masyarakat dan sebagainya.

31

Proses: 1. Dimulai diskusi kelompok dengan menyertakan wanita dalam masyarakat, tentang bagaimana membedakan rumah tangga dalam komunitas mereka; 2. Mencatat tingkatan status sosial yang ada di masyarakat serta menetapkan kriteria tiap tingkat status sosial, dengan media kertas dan spidol/pena fasilitator mengarahkan masyarkat untuk menggambar orang kayapada umumnya dalam masyarakat; 3. Setelah satu kelompok sibuk, fasilitator mengarahkan 2 (dua) kelompok untuk menggambar orang miskin dan menengah, hasil dari ketiga gambar tersebut diletakkan secara berderet dan terpisah; 4. Fasilitator mengarahkan masyarakat untuk mendeskripsikan serta menulis di bawah masing-masing gambar tentang kriteria kaya, menengah dan miskin (minimal 6-7 kriteria pada masing-masing strata); 5. Fasilitator menggali keterangan rasional atau alasan khusus di balik kriteria yang keluar. Setelah itu diklarifikasikan ke masyarakat tentang kebiasaan mereka, apakah mereka mengutamakan sumber tunggal? sosio-ekonomi mereka? serta seberapa jauh generalisasi dapat dilakukan; 6. Dengan mendistribusikan 100 benih/batu (menunjukkan populasi total masyarakat) menurut ketiga status sosial, dimana jumlah benih pada setiap tingkat status sosial menunjukkan prosentase populasi pada tiap kategori; strata 7. Kelompok kemudian menulis karakteristik dan prosentase hasil diskusi dalam lembaran kertas yang besar sebagai acuan pekerjaan berikutnya maupun pekerjaan yang membutuhkan pengelompokkan. Informasi minimum yang diharapkan adalah : a. Kesepakatan kriteria klasifikasi keluarga kaya, menengah, dan miskin; b. Perkiraan distribusi keluarga/rumah tangga untuk setiap kategori yang muncul; c. Memberikan informasi diatas untuk proses pemetaan sosial dan identifikasi peserta untuk berpartisipasi dalam kelompok terfokus. 4.4.1.2 Pemetaan Sanitasi Kampung oleh Masyarakat Pemetaan sanitasi kampung oleh masyarakat ini dilaksanakan pada lokasi/lingkungan yang telah terpilih melalului proses seleksi kampung. Tujuan: • Mempelajari kondisi sarana air bersih dan sanitasi masyarakat (tradisional maupun yang berasal dari bantuan); • Mempelajari akses keluarga kaya, menengah dan miskin terhadap sarana tersebut; • Mempelajari dari keluarga kelas sosial apa (kaya, menengah dan miskin) anggota badan pengelola, baik laki–laki atau perempuan yang bekerja dalam bidang pelayanan sarana air bersih, sanitasi dan promosi hidup sehat/bersih, serta siapa yang pernah atau akan mendapat pelatihan. Proses: 1) Minimal sehari sebelum proses pemetaan, fasilitator berdiskusi dengan wakil masyarakat (laki atau perempuan) mengenai kelurahan yang akan dipetakan (dalam beberapa kasus, gambarkan peta secara umum), sistem penyediaan air bersih baik yang tradisonal maupun yang baru (proyek), serta rumah keluarga kaya, menengah, maupun miskin berdasarkan kriteria yang telah dibuat pada saat klasifikasi kesejahteraan., Kemudian pilih satu atau dua RT/RW/Lingkungan yang dipilih mewakili kelurahan, baik dari keluarga mampu maupun tidak mampu. Pastikan warga yang akan ikut proses pemetaan berasal dari lokasi yang akan dipetakan, baik laki-laki atau perempuan, serta si kaya maupun miskin; 2) Idealnya acara diadakan di lokasi yang mudah diakses orang banyak, cukup penerangan dan jauh dari gangguan cuaca; 3) Fasilitator menjelaskan tujuan dari kegiatan ini, serta mengembangkan legenda yang akan digunakan dalam pemetaan ini, seperti : • Jalan, gang/lorong, jalan setapak; • Rumah (tandai sesuai kategori kesejahteraan yang telah dibuat masyarakat); 32

4) 5) 6) 7) 8) 9)

• Tanda-tanda utama seperti sekolah, dll; • Tempat ibadah : Masjid, Gereja, Pura, dll; • Sumber air : alami atau buatan; • Sarana sanitasi umum dan rumah-rumah yang memiliki jamban (bantuan atau lainnya); • Rumah badan pengelola (laki-laki atau perempuan) pelayanan sarana air bersih dan program sanitasi; • Rumah masyarakat yang telah menerima bantuan pelatihan dalam bentuk apapun. Tandai dalam peta mengenai akses masyarakat terhadap sarana air bersih maupun Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM), baik maupun buruk. Perlu juga diketahui penyebabnya, kurang air atau jauh dsb; Kelompok laki-laki dan perempuan, secara gabungan atau terpisah, tergantung hubungan gender, menggambar peta permukiman setempat di atas kertas besar, dan dapat dilakukan di atas lantai atau ditempel di papan, serta dilakukan di ruang terbuka; Lakukan reproduksi (menyalin) hasil gambar peta ke dalam kertas, setelah kegiatan selesai; Kelompok diskusi memberi skor/nilai mengenai keadaan akses terhadap sarana air bersih dan sanitasi; Fasilitator mengisi lembar isian, jumlah titik air dan fasilitas sanitasi dalam peta; Peta tersebut digunakan oleh tim untuk acuan kegiatan lanjutan, terutama untuk merencanakan jalur dan partisipan yang terlibat dalam transect walk.

Gambar 4.7. Contoh Peta Sanitasi Masyarakat Hal-hal yang perlu diperhatikan pada proses pemetaan sanitasi : a. Ada perwakilan dari masing-masing lokasi (RT, RW, Banjar, Lingkungan) baik laki-laki maupun perempuan; b. Media yang digunakan dapat memberikan keleluasaan bagi masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan pemetaan, yakni : • Media cukup luas, sehingga gambar/simbol tidak berhimpitan; • Pelaksanaan kegiatan dilakukan di ruang umum sehingga tiap orang mudah untuk hadir (miskin/kaya); • Ruang kegiatan terlindung dari gangguan cuaca (angin, hujan, dll). 33

Proses: 1.1. sumbangan berupa bahan-bahan setempat maupun uang.3 Perjalanan Transect (Transect Walk II) Transect walk II memiliki tujuan yang sama dengan transect walk I (RPA).c. atau laki-laki dan perempuan anggota masyarakat. Apakah laki-laki dan perempuan punya pengertian yang beda tentang kontribusi. yaitu: untuk mengenali dan mengkaji kondisi sarana sanitasi kampung. b. Dilakukan di lokasi yang telah disepakati oleh masyarakat penerima bantuan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). maupun pola kontribusi untuk pelayanan sarana sanitasi pada suatu lingkungan masyarakat. 4. Sebagai contoh. laki-laki dan perempuan yang terlibat dalam badan pengelola setempat atau masyarakat yang terlibat dalam pembangunan. menilai tingkat kepuasan masyarakat terhadap fasilitas sanitasi yang ada. Mengidentifikasi perubahan tugas yang sangat diperlukan dan layak yang telah dialokasikan. membahas tentang siapa berkontribusi apa pada saat pembangunan.4 Partisipasi dan Kontribusi Tujuan kegiatan partisipasi dan kontribusi adalah: • Menilai dan menganalisa kesetaraan dan transparansi kontribusi pengguna saat pembangunan dan paska pembangunan sarana. kemiskinan maupun kontrol mereka saat pelaksanaan. baik oleh perempuan maupun laki-laki. Jika penentuan variasi kontribusi yang disesuaikan dengan kemampuan membayar hanya dilakukan oleh elit. maka perlu mencari tahu bagaimana keputusan tersebut dibuat : oleh satu orang. 3) Melakukan diskusi kelompok.4. 4) Apabila kelompok miskin memberi kontribusi lebih sedikit. 2. Bentuk kontribusi dapat berupa tenaga kerja. • Menilai dan menganalisa komposisi serta pengaruh badan pengelola masyarakat selama pembangunan sarana layanan. disamping juga dalam bentuk bahan makanan untuk para pekerja dan tukang. pengelolaan pengeluaran rumah tangga. 4. Membangun kesadaran dan pengertian tugas-tugas rumah tangga dan kemasyarakatan yang dilakukan. tokoh elit setempat.1. pembangunan dan pemeliharaan sarana sanitasi. Proses/Tahapan kegiatan: 1) Pemberian nilai sejarah pembangunan pelayanan yang dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan yang tinggal dalam masyarakat serta mengetahui sejarah dari pengalamannya. serta menilai tingkat kelayakan teknis sebagai prasyarat pembangunan infrastruktur sanitasi yang direncanakan dengan cara melakukan observasi langsung oleh TFL bersama-sama dengan masyarakat.5 Siapa Melakukan Apa Kegiatan ini bertujuan: a. Proses/Tahap Kegiatan: 34 . Mengetahui peran laki-laki dan perempuan pada tahap perencanaan. Contoh lembar kerja. Kegiatan transect walk II dilakukan lebih detail dari kegiatan transect walk awal (RPA). serta mendapat kesepakatan dan persetujuan dari masyarakat.4. 2) Fasilitator menanyakan kepada peserta arti kontribusi oleh laki-laki dan perempuan.4. maka ada kemungkinan mereka yang berkontribusi lebih besar akan menggunakan hal tersebut sebagai alasan untuk melakukan kontrol terhadap pelayanan. termasuk keterwakilan gender. 5) Perlu diketahui sumber pendapatan dari kaum laki-laki maupun perempuan. seperti menggali lubang. Buat terlebih dulu simbol/legenda yang disepakati oleh masyarakat. Partisipasi Saat dan Pasca Pembangunan Sarana dapat dilihat pada Lampiran.1. c. 4.

7) Memfasilitasi diskusi kelompok tentang apa yang menjadi pembelajaran dari kegiatan ini. pembagian kerja berdasarkan gender : Siapa Melakukan Apa dapat dilihat pada Lampiran. Jika kelompok diskusi tidak setuju dengan arti sebuah gambar. 3) Dengan diskusi kelompok. pasangan laki-laki dan perempuan secara bersama-sama. kaya dan miskin. 5) Dengan menggunakan potongan kertas berwarna. perempuan. Setelah itu. 2) Membagi kelompok.6 Pembagian Kerja Berdasarkan Gender dan Waktu Kerja (Ladder II) Pembagian kerja berdasarkan gender dan waktu kerja (ladder II) bertujuan: • Untuk menilai dan menganalisa pembagian kerja. batu. Untuk gambar pasangan laki-laki dan perempuan artinya keduanya melakukan pekerjaan tersebut.8 peserta. 4. Sebaliknya. 5) Masing-masing kelompok mempresentasikan pilihan mereka.4. • Bagaimana perbedaan beban kerja yang ada bisa mempengaruhi alokasi pekerjaan untuk menanggulangi penularan penyakit diare. 4) Memfasilitasi kelompok untuk bekerja dengan gambar yang mereka miliki dan mendiskusikan temuantemuan mereka. • Beban kerja antara laki-laki dan perempuan. serta satu set gambar yang memperlihatkan tugas yang berbeda. maka sisihkan gambar tersebut. • Sebagai alat kaji ulang bagi data dari tools lain. sedangkan pekerjaan yang membutuhkan kemampuan fisik seperti membersihkan sarana dan memperbaiki kerusakan merupakan pekerjaan dengan status rendah. Proses/tahapan kegiatan: 1) Fasilitator melakukan diskusi kelompok terfokus laki-laki dan perempuan. 3) Setiap kelompok diberi gambar seorang laki-laki. memimpin rapat memiliki status yang paling tinggi. Contoh lembar kerja. tempatkan gambar tersebut di bawah gambar laki-laki.1. • Hal-hal potensial untuk perubahan tugas yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan 6) Menugaskan tiap kelompok untuk mengidentifikasi peran mana yang akan merubah atau memodifikasi halhal yang layak untuk mengembangkan sanitasi dan kesehatan pribadi. dengan masing-masing kelompok beranggotakan sebanyak 5 . diantaranya meliputi : • Siapa melakukan apa. dengan cara peserta menuliskan tiap jenis pekerjaan pada sebuah kartu. Dilihat dari sisi status pekerjaan. biji-bijian atau bahan lokal lainnya peserta menandakan pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan dan laki-laki. Apabila kelompok setuju. 4) Fasilitator membuat gambar-gambar yang terkait dengan pembangunan dan pemeliharaan sarana. jenis pekerjaan serta menentukan pekerjaan yang perlu dibayar atau tidak.1) Fasilitator memfasilitasi diskusi kelompok untuk mengulang pelajaran apa yang telah diperoleh pada pertemuan sebelumnya. perempuan atau pasangan laki-laki dan perempuan yang menjadi pilhan kelompok. pemeliharaan dan manajemen sarana yang telah dibangun. maka fasilitator membuat gambar tersebut atau menulis di kertas baru. Peserta dengan kemampuan baca tulis rendah dapat membuat gambar dari pekerjaan atau tugas yang terkait dengan konstruksi. 35 . Kelompok bisa melepas dan menempelkan kertas yang menggambarkan tugas laki-laki dan perempuan di atas kertas kosong. merekam kesimpulan-kesimpulan hasil identifikasi tersebut untuk dimanfaatkan pada kegiatan monitoring selanjutnya. terkait dengan pelayanan sarana antara perempuan dan laki-laki. kemudian menentukan mana pekerjaan yang membutuhkan keahlian/pelatihan seperti pengelolaan administrasi keuangan dan sistem iuran. 2) Kelompok menentukan tugas/pekerjaan yang berhubungan dengan sarana sanitasi yang ada. kelompok berdiskusi tentang siapa biasanya yang melakukan pekerjaan tersebut. jika ada ide kelompok yang belum ditunjukkan oleh gambar. • Keuntungan dan kerugian pergantian tugas yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. dengan menjelaskan pilihan mereka dan menjawab beberapa pertanyaan. serta kaya dan miskin. serta pekerjaan yang dibayar maupun tidak dibayar. serta apa yang masyarakat suka dan tidak suka dari kegiatan ini.

• Seksi Logistik: . Sekretaris. supervisi.Mengoperasikan dan memelihara sarana sanitasi yang telah dibangun.6) Fasilitator memfasilitasi diskusi hasil temuan dan hasil dari pertemuan. .Mengatur tenaga kerja di lapangan.Mengalokasikan material sesuai dengan kebutuhan pekerjaan konstruksi. 36 . • Bendahara: . Secara umum tugas KSM adalah memonitor.Menyusun rencana kebutuhan dan melaksanakan kegiatan tata usaha serta dokumentasi. Namun.Melakukan penarikan kontribusi dari masyarakat berupa uang dan menyetorkan pada bendahara • Seksi Tenaga Kerja: .Mengorganisir kegiatan kampanye kesehatan di masyarakat. Dengan tugas sebagai berikut: • Ketua: . . Seksi Kontribusi. . . • Seksi Kontribusi: .4. • Seksi Operasi & Pemeliharaan: . Seksi Kampanye Kesehatan. Seksi Operasi dan Pemeliharaan. pembentukan/kepengurusan KSM dan AD/ART KSM dapat dilegalkan melalui notaris setempat. . . 4. Seksi Kontribusi. • Seksi Kampanye Kesehatan: . . sehingga dalam membentuk maupun menyusun organisasinya disesuaikan dengan kepentingan kegiatan-kegiatan tersebut. .Bertanggung jawab terhadap keamanan material selama pembangunan. serta mengelola sarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM).Melaksanakan pelaporan kegiatan pembangunan secara bertahap.2 Pembentukan KSM Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) adalah organisasi pengelola berdasarkan pendekatan budaya dan kebutuhan masyarakat dan ditetapkan/disahkan dalam berita acara yang ditandatangani minimal 2/3 peserta atau ditetapkan melalui surat keputusan pejabat yang berwenang.Memimpin pelaksanaan tugas panitia dan kegiatan rapat-rapat. Bendahara. • Kelompok Pengelola terdiri dari Ketua. • Sekretaris: .Menerima. dan Seksi Logistik. . . pembagian kerja berdasarkan gender dan waktu kerja/Ladder-2 dapat dilihat pada Lampiran. Contoh lembar kerja. Seksi Tenaga Kerja.Membantu dalam penyuluhan kesehatan masyarakat. menyimpan dan mengeluarkan/membayar sesuai dengan RAB yang telah ditetapkan. .Melakukan pengelolaan administrasi keuangan dan pembukuan realisasi serta laporan pertanggungjawaban keuangan yang dikelola mingguan dan bulanan. Contoh Bentuk Kelompok: • Kelompok Pembangunan terdiri dari Ketua. Sekretaris. . dan mengelola kegiatan pembangunan.Melakukan rekrutmen tenaga kerja. apabila dibutuhkan.Mengatur dan mengkoordinir material yang diperlukan.Membuat laporan tentang keadaan material.Melaksanakan surat-menyurat.Mengkoordinasikan perencanaan kegiatan pembangunan.Melakukan inventarisasi tenaga kerja. Bendahara.Pengawasan kepada pekerja dan bekerjasama dengan mandor.Bertanggung jawab terhadap hal-hal teknis.

.3 Pilihan Teknologi Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. Untuk daerah tertentu. Contoh Bagan Organisasi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) 4. 5. terdiri dari: 4.Mekanisme kerja KSM tercantum dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang disepakati oleh pengurus KSM dan seluruh calon pengguna/penerima manfaat. Catatan: .8. RAPAT ANGGOTA PENGURUS Ketua Sekretaris Bendahara BADAN PENASEHAT PEMBANGUNAN PENGELOLAAN Seksi Kontribusi Seksi Tenaga Kerja Seksi Logistik Seksi Kontribusi Seksi OP Seksi Kampanye ANGGOTA-ANGGOTA (PENGGUNA/PEMANFAAT SARANA) Keterangan : = Garis wewenang = Garis pengawasan = Garis Pelayanan Gambar 4.4. pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan Prasarana sanitasi yang dimaksud adalah sebagai berikut: 3. Salah satu modul pengelolaan air limbah 37 . reuse dan recycle) dan 6.Status pembentukan KSM disahkan dengan Surat Keputusan (SK) Lurah yang diketahui oleh Camat setempat.- Melakukan monitoring terhadap upaya penyehatan lingkungan. Prioritas pertama: Pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal berbasis masyarakat. adalah penyelenggaraan prasaran air limbah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian masyarakat itu sendiri. adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk menyediakan prasarana penyehatan lingkungan permukiman berbasis masyarakat. pembentukan KSM ini perlu legalitas notaris untuk kepentingan pembukaan rekening masyarakat. pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal.

Pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan berbasis masyarakat adalah penyelengaraan prasarana drainase yang menunjang kegiatan konservasi dan keseimbangan lingkungan.1 Komponen-komponen sistem Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM): Air Limbah Komunal Berbasis Masyarakat Komponen Tolilet: 1. bersih. dan sehat jika air tersedia secara teratur KEKURANGAN: • Dibutuhkan air yang tersedia secara teratur • Diperlukan sistem pemipaan dan pengolahan untuk air buangan 2. Sarana sanitasi terpilih menjadi dasar untuk menyusun Rencana Teknis Rinci (Detail Engineering Design/DED) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Modul C berupa sistem jaringan perpipaan air limbah skala lingkungan 100-200 jiwa (25-100 KK). 4.komunal berbasis masyarakat membutuhkan dana pembangunan fisik sekitar Rp. sarana cuci dan pengolahan air limbah. pengoperasian dan perawatan murah • Tidak memerlukan tenaga ahli • Lokasi bangunan bisa di mana saja • Nyaman. reuse dan recycle) berbasis masyarakat membutuhkan dana pembangunan dan pelatihan sekitar Rp.300 juta d.3. sarana cuci. Presentasi. penjelasan dan diskusi pilihan-pilihan teknologi berdasarkan buku Pemilihan Teknologi Sanitasi (Informed Choice Catalogue/ICC) dilaksanakan dalam pertemuan masyarakat. Pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. Tinja disiram air dengan gayung. Modul ini merupakan modul yang disarankan. Modul B berupa 1 unit MCK Plus++ yang dapat dimanfaatkan oleh 100-200 jiwa (25-100 KK) terdiri dari kamar mandi.300 juta/Ha. Setiap jamban melayani 6 KK (25 orang).-masing unit tangki septik dimanfaatkan oleh 4 atau 5 rumah. Modul ini dibangun untuk rumah yang berkelompok dan hanya tersedia lahan yang terbatas. mengguna ulang (reuse) dan mendaur ulang (recycle) sampah. reuse dan recycle) berbasis masyarakat adalah penyelengaraan prasarana persampahan yang meliputi kegiatan mengurangi (reduce). sepanjang kondisi lapangan memenuhi persyaratan. bisa dilengkapi kamar mandi. Sesuai untuk pemukiman yang kebanyakan tidak memiliki jamban 38 . Prioritas ke-2 Apabila prioritas pertama sudah dipenuhi (tidak ada BAB sembarangan) maka dapat dikembangkan: c. dan unit pengolahan air limbahnya.4. Sistem prasarana kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dipilih oleh masyarakat sesuai keinginan mereka dan kondisi lingkungan setempat berdasarkan asas keberlanjutan (sustainability). MCK Umum Terdiri dari sejumlah pintu jamban.300 juta dan mempunyai 3 alternatif utama: Modul A berupa unit tangki septik komunal yang masing. Untuk prasarana drainase ini membutuhkan dana pembangunan fisik sekitar Rp. Menggunakan sistem leher angsa untuk menghindari bau dan serangga. 4. KELEBIHAN: • Kloset paling umum di Indonesia • Biaya pembangunan. WC Individual Biasanya ditempatkan di dalam rumah atau luar rumah. 1 modul pengelolaan sampah pada 3R (reduce.

menyebabkan kegagalan sistem secara total 39 .Gambar 4. Gambar 4. Contoh Saluran Pembuangan Limbah Bersama/Komunal KELEBIHAN: • Lebih hemat daripada sistem pembuangan air limbah konvensional • Masyarakat dapat berperan dalam proses perencanaan dan konstruksi • Nyaman untuk pengguna. Saluran Pembuangan Limbah Bersama/Komunal Menggunakan sistem pemipaan PVC. Pipa biasanya diletakkan di halaman depan. Membutuhkan bak kontrol pada tiap 20 m dan di titik-titik pertemuan saluran. air limbah dijauhkan dari area pemukiman KEKURANGAN: • Memperlukan proses perencanaan matang • Perawatan yang tidak rutin.9 Contoh MCK Umum KELEBIHAN: • Sistem sarana dasar sanitasi terpusat • Nyaman untuk pemukiman padat • Memungkinkan untuk meningkatkan sistem KEKURANGAN: • Memerlukan pengawasan konstruksi • Pengoperasian dan perawatan oleh kelompok masyarakat dan penyedia jasa swasta yang mampu 3. atau halaman belakang. gang.10.

Tangki Septik Bersama Air limbah dialirkan melalui pipa ke tangki septik.12. Sesuai untuk limbah WC dan industri tahu/tempe. Air hasil pengolahan belum efisien tetapi sudah berbau dan tidak terlalu berbahaya. sebagai energi alternatif untuk memasak dan penerangan. Air limbah yang berada di tengah (bagian bersih) mengalir keluar. mengawasi dan membangun 40 . Dalam tangki septik terdapat dua proses pengolahan: pengendapan dan pengapungan. yang dibangun di bawah tanah. Bio-Digester KELEBIHAN: • Efektif sebagai pengolahan awal • Biaya konstruksi dan perawatan rendah • Kebutuhan lahan sedikit • Air hasil olahan tidak berbau • Menghasilkan gas KEKURANGAN: • Masih diperlukan pengolahan lanjutan • Diperlukan tenaga ahli untuk desain. Gambar 4. Bio-Digester Menghasilkan biogas. Gambar 4. RPH dan ternak.11. Tangki Septik Bersama KELEBIHAN: • Sesuai untuk rumah yang berkelompok • Butuh lahan sedikit karena dibangun dibawah tanah • Biaya konstruksi kecil • Pengoperasian dan perawatan mudah dan murah KEKURANGAN: • Efisiensi pengolahan rendah • Perlu pengolahan tambahan • Memerlukan pengurasan yang sering 2.Komponen Pengolahan: 1.

Baffled Reaktor/Tangki Septik Bersusun Terdiri beberapa bak. Anaerobik Filter atau Tangki Septik Bersusun dengan Filter Pengolahan biologis oleh organisme anaerobik di filter (batu apung atau bio-ball) KEKURANGAN: • Biaya konstruksi tinggi jika bahan filter tidak tersedia di tempat itu • Diperlukan tenaga ahli untuk desain dan pengawasan KELEBIHAN: • Butuh lahan sedikit karena dibangun di bawah tanah • Biaya investasi kecil • Pengoperasian dan perawatan murah dan mudah • Efisiensi pengolahan tinggi 5. Baffled Reaktor/Tangki Septik Bersusun KELEBIHAN: • Lahan yang dibutuhkan sedikit karena dibangun dibawah tanah • Biaya pembangunan kecil • Biaya pengoperasian dan perawatan murah dan mudah • Efisiensi pengolahan tinggi KEKURANGAN: • Diperlukan tenaga ahli untuk desain dan pengawasan • Tukang ahli diperlukan untuk pekerjaan plester kualitas tinggi 4. bak berikutnya menguraikan yang lebih sulit terurai.3.13. KELEBIHAN: • Pilihan pembuangan paling murah • Dapat diterapkan oleh masyarakat • Tidak memerlukan pengoperasian dan perawatan KEKURANGAN: • Konsumsi dan penggunaan air sungai mentah di bagian muara tidak dianjurkan • Kemungkinan kelebihan beban pada sungai sangat memungkinkan. bak pertama menguraikan zat yang mudah terurai. Hal ini tergantung pada cara pengolahan dan derasnya aliran sungai 41 . Pengolahan air limbah harus efisien supaya air limbah yang dibuang tidak mencemari badan air (sungai). Komponen Pembuangan/Pemanfaatan Ulang (Dibuang ke Sungai) Air limbah dapat dibuang ke sungai jika air tersebut telah memenuhi beberapa syarat yang ditetapkan. Gambar 4.

maka warna wadah sebaiknya spesifik untuk setiap jenis sampah.6.14. • Terbuat dari bahan yang cukup kuat. tahan basah untuk sampah organik. subsistem komposter rumah tangga. dan subsistem pengolahan sampah terpusat untuk kawasan. Truk penguras sebaiknya terletak tidak lebih dari 50 meter (untuk menyesuaikan panjang selang penguras = 50 m).2 Sampah Pola 3R Berbasis Masyarakat Teknologi atau metoda yang berkaitan dengan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat sangat terkait erat dengan sistem pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat yang pada umumnya terdiri dari subsistem pewadahan. KELEBIHAN: • Pilihan pembuangan berbiaya murah • Masyarakat tidak perlu melakukan pengoperasian dan perawatan • Pembuangan lumpur yang aman KEKURANGAN: • Perlu jasa penguras • Truk penguras mungkin belum tersedia • Perlu dibangun IPLT 4. maka ada beberapa kriteria yang sebaiknya diikuti secara benar yaitu : • Volume pewadahan minimal dapat menampung sampah dari penghuni untuk jangka waktu minimal 3 hari untuk sampah non organik dan 1 hari untuk sampah organik. • Mudah dalam perawatan. • Mudah dalam operasi pemasukan sampah maupun pengosongan sampah.3. 1. Harus diperhatikan bahwa pengurasan hanya mengambil lumpur "hitam" saja. Contoh Pewadahan 42 . • Untuk menambah estetika yang lebih baik maka wadah dilengkapi dengan tutup. Pengurasan dengan Truk Tinja Jika lumpur tidak diolah setempat. Teknologi Pewadahan Subsistem pewadahan merupakan subsistem awal dalam sistem pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat yang merupakan subsistem yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Pengurasan lumpur dengan truk tinja dilakukan setiap 2 tahun untuk kemudian lumpur diolah di Instalasi Pengolah Lumpur Tinja (IPLT). Dalam pemilihan teknologi untuk pewadahan. • Bahan wadah paling baik dapat diperoleh secara lokal. Untuk itu pada perencanaan perlu dirujuk hasil penelitian lapangan komposisi sampah setempat. sehingga umur teknis dari pewadahan minimal dapat mencapai 6 bulan. Truk penguras dihubungkan ke bak pengolah dengan pipa dan pompa sedot. • Pada metoda pewadahan terpilah sesuai prinsip 3R maka setiap wadah dapat menyimpan sesuai jenis sampah yang akan disimpan. Gambar 4. maka harus dikeluarkan dan dibuang dengan bantuan jasa penguras. subsistem pengumpulan.4. • Pada metoda pewadahan terpilah 3R.

Beberapa teknologi komposter rumah tangga yang sekarang ini banyak digunakan antara lain: Gambar 4. 2.Wadah sampah organik: (jumlah hunian rata-rata) x timbulan sampah organik/orang/hari x 1 hari. diperoleh : 43 . sehingga umur teknis dari komposter minimal dapat mencapai 1 tahun.Jumlah hunian rata-rata pada rumah tangga . Penggunaan komposter dalam proses pengkomposan sampah organik di rumah tangga. • Terdapat lubang pengudaraan yang cukup • Bahan pembuatan komposter paling baik dapat diperoleh secara lokal. • Untuk sampah campuran.Perencanaan penentuan wadah sampah di sumbernya dilakukan melalui tahapan sebagai berikut : • Dari penelitian komposisi dan timbulan sampah. Contoh Komposter Kriteria dalam pemilihan komposter rumah tangga adalah : • Volume komposter minimal dapat menampung sampah organik dari dapur untuk jangka waktu minimal 40 hari.Warna terang untuk sampah kering non organik (dapat lebih dari satu tergantung jenis sampah yang dipilah) . asumsi rata–rata 3 liter/orang/hari • Dari penelitian sosial. Pada perencanaan pengkomposan sampah organik skala rumah tangga. volume wadah dihitung berdasarkan : (jumlah hunian rata-rata) x 3 liter/orang/hari x 3 hari. maka diperoleh perkiraan timbulan sampah per orang per hari pada lokasi terpilih.Warna merah untuk bahan berbahaya dan beracun.Wadah sampah non organik: (jumlah hunian rata-rata) x timbulan sampan non organik/orang/hari x 3 hari.15. tahan basah untuk sampah organik. • Dari penelitian sosial. • Pemilihan warna dilakukan dengan menggunakan kriteria sebagai berikut : . • Terbuat dari bahan yang cukup kuat. volume wadah disesuaikan dengan jenis sampah yang akan dipilah sebagai berikut : . maka dilakukan beberapa tahapan antara lain: • Dari penelitian komposisi dan timbulan sampah. • Harus dilengkapi dengan tutup. • Satu rumah minimal menyediakan 2 (dua) unit komposter. Teknologi Pengkomposan dengan Komposter Dalam sistem pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat maka pengolahan sampah di rumah tangga merupakan salah satu kegiatan penting dalam daur ulang sampah.Warna gelap untuk sampah yang mudah membusuk . maka diperoleh perkiraan timbulan sampah per orang per hari pada lokasi terpilih.Kebiasaan masyarakat membuang sampah. . • Mudah dalam perawatan. • Mudah dalam operasi pemasukan maupun pengosongan sampah. diperoleh : . • Untuk program 3R.

Gerobak atau motor 3R yang tersekat sesuai jenis sampah yang terpilah digunakan sesuai hasil pemilahan 44 . perencanaan kegiatan daur ulang sampah non-organik dapat dilaksanakan berdasarkan beberapa hal dibawah ini. Pada kasus sistem pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat maka pengumpulan dilakukan melalui penggunaan gerobak atau motor sampah. dapat dilaksanakan dengan cara menjalin kerjasama dengan pihak lapak besar atau langsung dengan industri/organisasi pengguna bahan tersebut (misal industri kertas daur ulang. sebaiknya bahan ini hanya dikumpulkan dalam wadah khusus yang tidak mudah bocor dan diberi label.Tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan . karet/kulit dan logam. dll) Untuk limbah yang dikategorikan sebagai bahan B3. 4. jika tingkat hunian lebih dari 5 orang. Pengumpulan sampah dapat dilakukan langsung oleh kendaraan pengangkut sampah atau tidak langsung melalui penggunaan gerobak atau motor sampah.• • . pengolah karet bekas. dll. tas plastik.Tidak menggunakan bahan kimia beracun . Diperlukan minimal dua komposter untuk setiap rumah tangga. industri pengolah logam. merupakan bahan daur ulang kualitas baik. • Pengumpulan sampah terpilah dapat dilakukan : . antara lain: Sampah yang akan didaur ulang sebaiknya berupa bahan yang terdiri dari kertas. Untuk timbulan yang berbeda (sesuai hasil penelitian lapangan) maka cakupan pelayanan satu unit pengumpul dapat diperkirakan sebagai berikut : 1000 liter/(timbulan sampah dalam liter/orang/hari). Dari best practice yang dilakukan oleh masyarakat di beberapa daerah di Indonesia. Daur ulang bahan B3 ini sebaiknya di koordinasikan dengan pihak pengumpul resmi yang memiliki ijin atau dinas kebersihan kabupaten/kota.Kebiasaan masyarakat membuang sampah. daur ulang sampah non organik kertas dan plastik biasanya untuk membuat barang seni seperti kertas seni.Tidak berbahaya bagi kesehatan . Rata-rata volume komposter 50 liter. Bahan ini memiliki nilai ekonomi tinggi. hiasan plastik.Mudah dilaksanakan Secara umum. plastik. 3. komposter yang sudah penuh perlu didiamkan selama sebulan lagi dan dipanen jika komposter satunya sudah penuh.2. Dalam perencanaan teknologi pengumpulan maka digunakan beberapa kriteria sebagai berikut : • Volume gerobak atau motor sampah 1 m3 sehingga satu unit pengumpul dapat melayani 300 jiwa atau sekitar 60 KK untuk timbulan sampah 3 liter/orang/hari. Teknologi Daur Ulang Sampah Non Organik Skala Rumah Tangga Daur ulang sampah non organik untuk kertas dan plastik dapat dilakukan di rumah tangga. dengan tata cara penggunaan. Kriteria daur ulang sampah non organik : . namun dalam pelaksanaannya memerlukan penanganan khusus (pemilahan sesuai jenis dan bahan penyusunnya). dan dipilah sejak dari sumbernya Pemasaran produk daur ulang. • Kondisi topografi yang berbukit hanya dapat dilayani dengan motor sampah • Kondisi topografi yang datar dapat menggunakan gerobak atau motor sampah.Jumlah hunian rata-rata pada rumah tangga . maka dapat digunakan kelipatannya. Teknologi Pengumpulan Sampah Pengumpulan sampah merupakan subsistem setelah pewadahan. Volume komposter sampah organik dari dapur dapat ditentukan melalui perkiraan sebagai berikut : (jumlah hunian rata-rata) x timbulan sampah organik/orang/hari x 40 hari x 0.

Biaya variabel : · Bahan bakar • Penyusunan jadwal pengumpulan 5.Areal pengkomposan . pengkomposan dan proses pengemasan bahan non organik untuk daur ulang.5 meter dan panjang minimal 2 meter (dapat lebih dari ini sesuai lahan yang ada). • Tersedianya data komposisi sampah. Bangunan pelindung untuk : .Kantor pengendali . b. panjang 2 meter.Gudang penyimpanan c. Perencanaan pengumpulan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat menggunakan beberapa tahapan sebagai berikut : • Pendataan jumlah warga pada lokasi terpilih • Penentuan jumlah gerobak atau motor 3R yang dibutuhkan dengan cara : ((jumlah warga x jumlah timbulan sampah/orang/hari)/1000 liter/rit per hari. 45 . tinggi 1.Gerobak tanpa sekat digunakan dengan jadwal tertentu Mempunyai umur teknis minimal 1 tahun Menggunakan ban angin. Teknologi Pengolahan Sampah Skala Kawasan Teknologi pengolahan sampah terpadu skala kawasan yang disebut juga dengan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Luas lahan yang paling baik mendekati 1. Karakteristik proses pengomposan : • Volume tumpukan sampah untuk pengkomposan dengan open windrows mempunyai ukuran lebar 2 meter. Data yang dibutuhkan : • Jumlah warga yang terlayani • Jumlah sampah yang akan diolah di TPST.000 m2 untuk keperluan lahan pengomposan. e. kantor pengendalian. Peralatan mesin pendukung: • Pencacah organik • Pengayak kompos • Pencacah plastik • Buffer Zone d. Tempat pengolahan sampah terpadu berdasarkan best practice yang ada biasanya terdiri dari proses pemilahan.Biaya tetap : · Pegawai · Asuransi · Pemeliharaan . Dari TPST ini akan keluar produk berupa kompos dan bahan lapak. • Volume tumpukan sampah untuk pengkomposan dengan metode open bin : lebar 1 meter. dan gudang penyimpanan. panjang 1 meter. • Pemilihan jenis pengumpul dilihat dari topografi lokasi • Penyusunan anggaran investasi sesuai harga satuan setempat • Penyusunan anggaran operasi pengumpulan yang terdiri dari : . Pada perencanaan teknologi pada TPST maka ada beberapa kriteria antara lain: Fasilitas TPST terdiri dari: a.Areal pemilahan .• • . dan tinggi 1 meter. • Volume tumpukan sampah untuk pengkomposan dengan metode caspary lebar 1 meter. dan tinggi 1 meter.

3 Drainase Mandiri Berwawasan Lingkungan Berbasis Masyarakat Drainase mandiri berwawasan lingkungan adalah drainase suatu kawasan atau lingkungan yang mempunyai sistem independen dan mempunyai tampungan/kolam sendiri yang mampu mengatasi curah hujan/limpasan air di kawasannya sendiri. 46 . teknologi caspary dan open bin sesuai dengan tenaga dan biaya yang ada. yang dapat menyebabkan debit naik secara ekstrim maka perlu dibuat kolam tampungan di daerah hulunya. juga akan ikut mencegah air hujan mengalir secara berlebihan di bagian hilir yang menyebabkan banjir di bagian hilir. dan bentuk lahan yang ada. untuk pengkomposan sampah ada beberapa pilihan: teknologi open windrows.16. Pilihan teknologi drainase mandiri berwawasan lingkungan berbasis masyarakat mempertimbangkan keadaan topografi dan lingkungan di lokasi. Contoh Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Perencanaan teknologi pengolahan sampah skala kawasan dilakukan pada beberapa tahapan : • Penentuan wilayah/jumlah warga yang akan dilayani • Dari penelitian komposisi dan timbulan sampah. Pengembangan permukiman baru dan pengembangan kembali di bagian hulu dapat menyebabkan banjir di bagian hilir di bawahnya sehingga untuk mencegah aliran air masuk ke badan air secara bersamaan. untuk perhitungan detail teknis saluran dan kolam tampungannya dapat mengacu pada Tata Cara Pembuatan Kolam Retensi dan Polder dengan saluran-salurannya. dapat diperkirakan jumlah sampah yang harus diolah yang terdiri dari jumlah sampah organik dan sampah non organik. Di bawah ini contoh pilihan sistem drainase mandiri berwawasan lingkungan. Tujuannya agar daerah permukiman yang sering tergenang akibat hujan dapat terbebas dari genangan serta untuk menjamin pengembangan baru tidak akan menambah puncak banjir di daerah bagian hilir dan sekitarnya pada saat hujan besar sampai periode ulang 2-5 tahun melalui pengelolaan partisipatif berbasis masyarakat. metode yang akan digunakan.4. • Bersama-sama warga menentukan metoda atau teknologi yang akan diterapkan.Biaya variabel : · Bahan bakar · Listrik 4. Drainase mandiri ini selain akan mengelola air hujan di kawasannya sendiri.Gambar 4.3. • Menentukan organisasi pengelola • Penyusunan anggaran investasi sesuai harga satuan setempat • Penyusunan anggaran operasi pengumpulan yang terdiri dari: .Biaya tetap : · Pegawai · Asuransi · Pemeliharaan . Kemudian air dari kolam tampungan dibuang secara bertahap dengan debit moderat. • Menentukan layout dari TPST dengan memperhatikan jumlah sampah organik yang akan dikomposkan.

Sistem drainase internal kawasan c. Tidak mengganggu sistem aliran yang ada 47 . Pintu inlet ke kolam tampungan f. Pengatur debit: .Apabila elevasi muka air kolam tampungan lebih rendah dari elevasi muka air badan air maka selain membutuhkan pintu air outlet. Sistem Drainase Mandiri dengan Kolam Tampungan di Samping Saluran yang Bermuara di Badan Air/Sungai • Kelengkapan Dasar: a. maka perlu memakai pintu air untuk saluran pembuangannya. Saringan sampah g. Sistem drainase mandiri dengan kolam tampungan di samping saluran yang bermuara di badan air/sungai Gambar 4.Apabila elevasi muka air kolam tampungan tidak berbeda jauh dengan elevasi muka air badan air/sungai. pengatur debit cukup memakai saluran outlet dengan dimensi dan kapasitas terbatas sesuai perhitungan teknis. Kapasitas bisa optimal apabila lahan tersedia c. Diperlukan juga pembuatan tanggul apabila air dari badan air sering melimpas ke area kawasan e. Kolam tampungan/kolam retensi/kolam tandon b. . diperlukan pompa untuk membuang air ke badan air/sungai.Apabila elevasi muka air kolam tampungan relatif lebih tinggi dari elevasi muka air badan air/sungai. .17. Kelengkapan tambahan (apabila diperlukan) d. Dipakai apabila tersedia lahan kolam retensi b. Kolam penangkap sedimen/grit chamber • Kesesuaian tipe: a.1.

Sistem drainase mandiri dengan kolam tampungan segaris dengan saluran atau berada dalam saluran. . Pintu air di ujung saluran outlet. diperlukan pompa untuk membuang air ke badan air/sungai Kelengkapan tambahan (apabila diperlukan) d. Tidak mengganggu sistem aliran yang ada 3.18. Pompa air di ujung saluran outlet. kapasitas pompa dihitung sesuai dengan kondisi sistem 48 . Dipakai apabila tersedia lahan kolam retensi b. Pengatur debit berada di kolam tandon yang berhadapan langsung dengan badan air/sungai . Sistem drainase mandiri tanpa kolam tampung. Kapasitas bisa optimal apabila lahan tersedia c.Apabila elevasi muka air kolam tampungan lebih rendah dari badan air maka selain membutuhkan pintu air. Sistem drainase internal kawasan c. Sistem drainase internal kawasan dengan kapasitas memadai. terutama bila fluktuasi muka air pada badan air/sungai cukup besar d. Kolam tampungan/kolam retensi/kolam tandon b. outlet kolam tampungan langsung bermuara ke badan air/sungai Gambar 4. maka perlu memakai pintu air untuk saluran pembuangannya. yang akan difungsikan juga sebagai tampungan sementara (long storage) b. Pintu inlet ke kolam tampungan f.2. Diperlukan juga pembuatan tanggul apabila air dari badan air sering melimpas ke area kawasan e. dapat berupa lahan tanah terbuka atau peresapan buatan seperti sumur-sumur resapan Kelengkapan yang diperlukan apabila elevasi muka air badan air/sungai lebih tinggi dari muka air saluran outlet c. menggunakan saluran drainase internal kawasan sebagai penampung air sementara • Kelengkapan Dasar: a. Sistem Drainase Mandiri dengan Kolam Tampungan Segaris dengan Saluran atau Berada dalam Saluran.Apabila elevasi muka air kolam tampungan relatif lebih tinggi atau tidak berbeda jauh dengan elevasi muka air badan air/sungai. Outlet Kolam Tampungan Langsung Bermuara ke Badan Air/Sungai • Kelengkapan Dasar: a. Resapan air untuk mengurangi limpasan air permukaan. Kolam penangkap sedimen/grit chamber • Kesesuaian tipe: a. Saringan sampah g.

pemilihan lokasi dan pemilihan teknologi pengolahan limbah domestik telah sesuai dengan lokasi. Administrasi pembukuan dana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Mekanisme Pendanaan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) (Mekanisme Pencairan Dana) 8. Pemilihan Teknologi Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) 5.4. kemampuan masyarakat untuk mengoperasikan dan merawat sarana sanitasi.e. Memastikan proses pembentukan kelompok swadaya masyarakat dilakukan secara musyawarah dan transparan. Profil lokasi 2. Memastikan keterlibatan semua status sosial yang ada di masyarakat serta gender dalam proses penerimaan masyarakat akan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) untuk memperbaiki kondisi sanitasi lingkungan maupun penerimaan masyarakat untuk berkontribusi sesuai dengan kemampuan masyarakat. Memonitor proses pengalokasian dana terutama APBD II serta pencairan/penyerapan dana sesuai dengan progres dan kebijakan dalam Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM).1 TAHAPAN KONSTRUKSI Persiapan Pelaksanaan Tahapan kegiatan konstruksi dilaksanakan setelah Rencana Kerja Masyarakat (RKM) mendapatkan persetujuan 49 . Kelembagaan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) 7. Pembentukan KSM. Pemilihan Teknologi Sanitasi sampai dengan Penyusunan Buku/dokumen Rencana Pembangunan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). 4. Rencana Kerja Masyarakat • Rencana Konstruksi • Rencana Kontribusi Masyarakat • Rencana Pelatihan • Rencana Operasi dan Pemeliharaan.5 Monitoring dan Evaluasi Monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan pada waktu proses pelaksanaan rencana kegiatan masyarakat. Penentuan Calon Pengguna 4. Perencanaan Teknis Rinci (Detail Engineering Design/DED) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) 6. Saringan sampah di depan pompa air • Kesesuaian tipe: a. Pendanaan. Dipakai apabila lahan sulit didapat b.4 Dokumen Rencana Pembangunan Merupakan dokumen resmi perencanaan perbaikan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Berisi tentang: 1. Monitoring dan pengendalian ini digunakan untuk : 1. 3. Kesepakatan kontribusi.5. Pemeliharaan dan pengoperasian dilakukan secara rutin 4. Mekanisme pembelanjaan dan Laporan keuangan) 9. Dokumen Perencanaan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) diusulkan dan disahkan dalam forum musyawarah di lokasi pelaksanaan.4. Bak penangkap sedimen/grit chamber pada saluran sebelum masuk ke pompa g.5 4. Tanggul keliling apabila air dari badan air/sungai sering melimpas ke area kawasan Kelengkapan tambahan (apabila diperlukan) f. serta adanya transfer pengetahuan kepada masyarakat. kapasitas yang akan dilayani. Pengelolaan Keuangan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) (Rekening Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). 4. Ketersediaan Lahan 3. 2.

Memeriksa dan menyiapkan kontribusi masyarakat berupa tenaga (in-kind) dan material (in-kind). 1. ada bagian pekerjaan yang bila ditinjau dari jenis dan sifat pekerjaannya tidak memungkinkan untuk dilaksanakan sendiri oleh masyarakat. Mengecek dan merubah Jadwal Pelaksanaan yang telah disusun di dalam RKM. Orang yang tergolong kurang mampu harus mendapatkan prioritas. meliputi: 1. dan berfungsi membantu Kepala Pelaksana dalam menangani satu maçam pekerjaan atau lebih.5. Hasil dari rembug kampung yang memenuhi kegiatan di atas adalah pernyataan kesiapan masyarakat untuk melaksanakan kegiatan pembangunan.2 Proses Pelaksanaan Proses pelaksanaan kegiatan yang didanai KSM ini semaksimal mungkin dapat dilaksanakan secara swakelola (Pelaksanaan Kegiatan dengan Partisipasi Masyarakat) oleh masyarakat kampung. 5. Kemudian. 2. dan sebagainya. seperti pembelian material. Mandor sebaiknya adalah anggota Unit Kerja Teknis atau orang lain yang terampil/menguasai jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan. sehingga perlu dilakukan klarifikasi untuk mendapatkan pertimbangan suatu pekerjaan dapat dikerjakan oleh pihak ketiga sebagai sub pemasok/subkontraktor terhadap KSM. Calon pekerja harus digolongkan menurut jenis kelamin. Menyusun organisasi pelaksanaan pembangunan Struktur Organisasi Pelaksanaan untuk pekerjaan yang dikerjakan sendiri adalah: • Sekurang-kurangnya terdapat Satu Kepala Pelaksana Kepala Pelaksana mewakili Ketua KSM dalam memberikan arahan serta mengawasi jalannya pelaksanaan di lapangan. Mengecek kembali rekening KSM untuk memastikan bahwa kontribusi masyarakat berupa uang (in-cash) sudah masuk ke dalam Rekening Bersama. 50 . KPPN akan menerbitkan SPM (Surat Perintah Membayar) kepada KSM. Bendahara/Administrasi Kegiatan adalah Ketua Unit Pengelola Keuangan/Bendaharawan KSM. Dalam pelaksanaannya. baik dari segi teknik maupun administrasi kegiatan. Persiapan pelaksanaan dilakukan oleh KSM dibantu TFL pada forum rembug kampung. Kepala Pelaksana adalah Ketua Unit Teknis KSM atau anggota KSM lain yang mampu untuk mengemban tugas tersebut. pengeluaran untuk pekerja. 3. Dalam melaksanakan kegiatan KSM difasilitasi oleh Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL). Pendaftaran tenaga kerja dapat diteruskan selama pelaksanaan bila terdapat calon tenaga kerja baru. Identifikasi tenaga terampil dan pendaftaran calon pekerja untuk pekerjaan yang akan dilaksanakan sendiri. maka pihak kedua (KSM) berhak untuk melaksanakan pekerjaan tersebut dalam RKM. Dalam hal ini KSM akan berfungsi sebagai Kontraktor/Pemasok. • Satu orang Mandor atau lebih Mandor adalah orang yang menguasai pekerjaan lapangan sesuai dengan jenis pekerjaannya. 4. masyarakat mempunyai tugas dan kewajiban melaksanakan kegiatan sesuai dengan RKM dan kesepakatan yang tertuang di dalam kontrak. Pernyataan kesiapan diajukan kepada Pimbagpro kabupaten/kota terkait sebagai kelengkapan “kontrak” dan sebagai dasar disetujuinya Surat Perintah Pembayaran (SPP) yang diajukan kepada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN). Pelaksanaan Kegiatan Dengan Partisipasi Masyarakat (Swakelola) Setelah Surat Kontrak ditandatangani oleh kedua belah pihak. dan berfungsi sebagai pembantu Kepala Pelaksana dalam masalah administrasi keuangan lapangan. • Bendahara/Administrasi Kegiatan adalah orang yang menguasai sistem pembukuan kegiatan.dan telah ditandatangani. disesuaikan dengan kondisi terkini (bila diperlukan). dan sebagai penghubung dengan pihak luar sehubungan dengan pelaksanaan pekerjaan. apabila SPP disetujui. 4.

5. Setiap kontrak yang selesai dilakukan oleh KSM akan dievaluasi oleh Tim penerima barang/jasa yang dibentuk oleh Dinas PU Kabupaten/Kota. Dalam melakukan pengawasan. Disamping pelaksanaan pekerjaan sendiri oleh masyarakat. Panitia Penerima bertugas melakukan evaluasi atau pengecekan pekerjaan (Cek List Pekerjaan) yang dikerjakan oleh pihak kedua atau pihak ketiga (Subkontraktor/Pemasok) sesuai dengan spesifikasi teknis atau Kerangka Acuan Kerja dalam kontrak. 2. disertai rasa tanggung jawab untuk mencapai sasaran kelancaran dan ketetapan tercapainya tujuan dalam pelaksanaan pengadaan barang 2. 4. Pelaksanaan Kegiatan Dengan Subkontraktor/ Pemasok Pelaksanaan pekerjaan yang dianggap oleh masyarakat tidak mampu dikerjakan oleh masyarakat sendiri karena memerlukan keahlian khusus atau pekerjaan yang memerlukan modal yang besar. terutama yang berkaitan dengan kemungkinan adanya perubahan atau revisi pekerjaan yang menyangkut teknis maupun keuangan. Dalam pelaksanaannya KSM akan melakukan pengawasan terhadap kinerja subkontraktor dengan dibantu oleh Tim Fasilitator Masyarakat.Tata cara/metode pelaksanaan pengadaan barang maupun jasa konstruksi dengan Partisipasi Masyarakat (community participation) ini dimaksudkan sebagai suatu sistem peran serta masyarakat dengan mengandalkan masyarakat itu sendiri dalam mengelola pengadaan barang maupun pekerjaan konstruksi. Hal itu didasarkan pada pengamatan dan pengalaman sendiri secara gotong-royong dengan memanfaatkan tukang dan pekerja khusus yang ada di kampung atau dari kampung sekitarnya. Dalam pertemuan-pertemuan tersebut sekali waktu perlu dihadiri oleh pihak Dinas PU Kabupaten/Kota dan Konsultan Kabupaten/Kota. KSM juga akan melakukan pertemuanpertemuan secara berkala dalam rangka memantau kemajuan pekerjaan yang telah dicapai oleh subkontraktor/pemasok serta permasalahan-permasalahan yang timbul di lapangan. setelah dievaluasi secara bersama-sama dengan pihak TFL masyarakat. Setiap kontrak yang selesai dilaksanakan oleh subkontraktor akan diperiksa oleh KSM terlebih dahulu dan dibantu oleh konsultan. Panitia Penerima bertugas melakukan evaluasi atau pengecekan pekerjaan yang dikerjakan oleh KSM maupun pihak ketiga sesuai dengan spesifikasi teknis atau Kerangka Acuan Kerja dalam kontrak. Bekerja secara operasional. kemudian akan dievaluasi oleh Tim penerima barang/jasa yang dibentuk oleh Dinas PU Kabupaten/Kota. maka Kegiatan dapat mengundang tenaga ahli Konsultan Kabupaten/Kota untuk melaksanakan evaluasi atau pengecekan tersebut. Dengan kemampuan panitia yang terbatas untuk melakukan evaluasi terhadap pekerjaan tersebut. Melaksanakan tugas secara tertib. maka pihak kedua (KSM) diperbolehkan untuk melaksanakan pekerjaan dengan disubkontrakkan melalui pihak ketiga. Dalam pelaksanaan ini KSM akan dibantu oleh TFL yang secara periodik ditentukan jadwal pertemuan pelaksanaan yang akan membahas kemajuan-kemajuan pekerjaan dan penyelesaian permasalahan yang timbul di lapangan. Ketentuan upah tukang dan pekerja akan didasarkan pada harga pasar di kampung tersebut dengan membandingkan harga dari daerah sekitarnya (minimal 3 kampung). mandiri atas dasar kejujuran dan mencegah terjadinya penyimpangan dalam 51 . KSM juga dapat secara langsung melakukan teguran-teguran di lapangan baik lisan maupun tertulis kepada subkontraktor terhadap kualitas pekerjaan maupun kemampuan tukang yang tidak memadai.3 Etika Pelaksanaan Baik penyedia barang/jasa (KSM dan Subkontraktor/Pemasok) maupun pengguna barang (KSM dan Dinas PU Kabupaten/Kota) harus memenuhi etika pelaksanaan pengadaan barang/pekerjaan konstruksi sebagai berikut: 1.

Konsultan Kabupaten/Kota ataupun Pihak ketiga. tidak menawarkan dan atau tidak menjanjikan untuk memberi atau menerima hadiah/imbalan berupa apapun kepada siapa saja yang diketahui patut diduga berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan ini 4. bendahara dsb. atau pihak lain yang secara langsung atau tidak langsung merugikan Negara 6. Laki-laki dan perempuan memperoleh hak yang sama untuk mendapatkan pelatihan ini. Perempuan dapat melakukan monitoring pada saat pekerjaan konstruksi 4. Menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang dan atau melakukan kegiatan bersama dengan tujuan keuntungan pribadi.) 4. Tata cara pengawasan pekerjaan (quality control) dan cara menghitung kemajuan kegiatan (progress fisik) 4. golongan. Konsultan atau pihak lain yang ditentukan kemudian. baik langsung maupun tidak langsung 7. Menerima dan bertanggung jawab atas segala keputusan dalam rapat lapangan sesuai kesepakatan dengan pihak terkait 4. Menghindari dan mencegah pertentangan dengan pihak terkait. Usaha lain untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dapat dilakukan dengan cara pendampingan secara terus-menerus oleh TFL selama proses pelaksanaan kegiatan. Pelatih untuk KSM dapat berasal dari Dinas PU. Perempuan dapat terlibat dalam pelaksanaan konstruksi sebagai tenaga terampil ataupun kurang terampil 3. 1. 2. Cara membaca gambar teknis 2. Pengetahuan tentang spesifikasi teknis dan batasan-batasannya 3. 52 .5 Pelaksanaan Konstruksi Pelaksanaan konstruksi dilaksanakan setelah pencairan dana Tahap I dan pelatihan-pelatihan bagi KSM dan Masyarakat yang ada hubungannya dengan konstruksi selesai dilaksanakan. Menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dalam pelaksanaan pekerjaan ini 5. Gender 1.pelaksanaan 3. Pelatihan Pelatihan pada tahap pelaksanaan diperlukan sesuai dengan kebutuhan KSM dan masyarakat. Sistem pelatihan dapat dilakukan di kelas atau langsung di lapangan agar lebih mudah dimengerti oleh masyarakat (on the job training). Perempuan dapat berperan sesuai kapasitasnya sebagai tenaga terampil dalam pelaksanaan konstruksi (sesuai jabatan di KSM. Menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dalam pelaksanaan pekerjaan ini 8. Materi Pelatihan yang diberikan antara lain: 1. baik laki-laki maupun perempuan dapat terlibat aktif selama pembangunan sarana sanitasi (pelaksanaan konstruksi) 2. Administrasi dan keuangan Salah satu cara pelatihan di lapangan adalah bersama-sama dengan tukang yang terampil membangun jamban lengkap dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) atau memasang pipa (riol) dari rumah ke IPAL. Tidak menerima. sehingga mampu dan terampil melakukan kegiatan sesuai dengan kebutuhan yang tertuang dalam RKM.5. Perempuan dapat menyediakan konsumsi sehingga pelaksanaan pekerjaan konstruksi dapat berjalan lancar 5.4 Pelaksanaan Kegiatan Pemberdayaan Untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam melaksanakan kegiatan kegiatan dapat dilakukan dengan cara melakukan pelatihan yang dilakukan oleh TFL masyarakat.5. Dalam pelaksanaan kegiatan kegiatan. misalnya: sebagai Ketua.

Pekerjaan konstruksi dilakukan oleh tukang yang dipekerjakan oleh KSM. seperti pembelian material. periode pembayaran.menerus melakukan monitoring kemajuan pembangunan selama pelaksanaan pekerjaan. kualitas pekerjaan. KSM dan Masyarakat dengan dukungan TFL masyarakat secara terus. Pembuatan papan informasi harus dimusyawarahkan dengan masyarakat/warga kampung agar secara bersama-sama menetapkan pembiayaan. Mempermudah masyarakat memperoleh informasi mengenai kegiatan secara terbuka 2. kampung maupun lokasi kegiatan. mandor dan masyarakat pengguna sarana yang berminat 2.2 Lokasi Papan Informasi Papan informasi dipasang di tempat yang strategis dan mudah diakses oleh masyarakat. sedang dan akan dilakukan. Pada umumnya ukuran yang digunakan sekitar 1 x 1. Tujuan utama digunakan papan informasi adalah untuk: 1. tukang.5 meter dan biaya yang dibutuhkan untuk pembuatan papan informasi pada prinsipnya ditanggung oleh masyarakat sendiri. kelurahan.5. administrasi keuangan.Pelaksanaan konstruksi dapat dilakukan oleh masyarakat sendiri atau pihak ketiga (kontraktor/subkontraktor) bila masyarakat mengalami kesulitan secara teknik dan resiko. tidak mudah rusak dan berukuran ideal agar dapat terlihat dari jarak tertentu. Agar masyarakat mudah membaca pengumuman yang tercantum di papan informasi tersebut. rancangannya harus dibuat menarik. 4. pembuat dan penanggung jawab dalam perawatan dan perbaikannya. dan langsung dapat melaksanakan pekerjaan dengan sumber pendanaan dari Rekening KSM.1 Papan Informasi Papan informasi merupakan papan pemberitahuan atau pengumuman dengan ukuran tertentu yang memuat informasi mengenai kebijakan dan pelaksanaan kegiatan di lokasi tertentu. memberikan bimbingan teknis dan persetujuan terhadap kegiatan yang telah. 53 . Pekerjaan Perencanaan sarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dan Rencana Konstruksi diperlihatkan kepada calon masyarakat pengguna 4. dimana penggunaannya dibukukan sesuai dengan peraturan yang ada. Masyarakat ikut melakukan gotong-royong sesuai jadwal Pelaksanaan Konstruksi oleh masyarakat mempergunakan organisasi dan sumber daya yang telah disusun dalam rembug kampung. Papan informasi tersebut dipasang di tempat strategis agar mudah terlihat dan dibaca oleh seluruh lapisan masyarakat baik di kecamatan. Pelaksanaan Konstruksi secara garis besar adalah: 1. Hal ini untuk mempercepat langkah-langkah yang dapat segera diambil bila terdapat penyimpangan dari Rancangan Rinci yang ada dalam Rencana Kerja Masyarakat (RKM). Penjelasan teknis konstruksi dilakukan kepada KSM. Mempermudah masyarakat untuk berpartisipasi dalam seluruh tahapan pelaksanaan kegiatan dimulai dari persiapan. TFL masyarakat mendampingi. pelaksanaan sampai dengan pengoperasian dan pemeliharaan 3. Mempermudah masyarakat untuk turut mengawasi secara langsung pelaksanaan kegiatan fisik dan penggunaan dana kegiatan 4. lokasi pemasangan. TFL akan memfasilitasi kepada KSM atau anggota masyarakat yang berminat mengenai cara pelaksanaan dari kegiatan percontohan untuk sarana sanitasi. Wakil dari KSM dan Mandor melakukan pengawasan setiap hari di lokasi 5. dsb.5. sedangkan supervisi dilakukan oleh KSM bersama-sama dengan TFL dan Dinas PU kabupaten/Kota 3. perencanaan.5. baik untuk jamban komunal maupun untuk jamban pribadi yang telah dipilih masyarakat.5.

• Melakukan pengoperasian dan pemeliharaan guna melerestarikan hasil yang dicapai oleh masyarakat Tenaga Pelaksana 1. papan informasi harus dipasang di tempat yang banyak dikunjungi orang. Fasilitator Lapangan bertugas untuk membantu KSM dalam identifikasi tenaga yang dibutuhkan dan melakukan perundingan mengenai harga yang wajar. Tulisan agak besar. Sistem pencairan dana 4. Nama Kecamatan/Desa/kampung dan alamat KSM Agar informasi dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas. Kecamatan. 2. Jumlah kontribusi masyarakat 3. dsb) akan ditangani oleh masyarakat sendiri secara gotong-royong. 3. Papan informasi harus dipasang agak tinggi agar tidak mudah dirusak 3. • Melakukan pekerjaan administrasi kegiatan di tingkat desa.5. pengumpulan dokumen pendukung dan pelaporan. seperti administrasi keuangan. Besarnya upah yang wajar tersebut ditetapkan bersama oleh KSM dan Fasilitator Lapangan. Mengatur pengadaan dan pengelolaan dana tunai. sesuai harga setempat. Proses partisipasi masyarakat tersebut diharapkan menjadi wujud pemberdayaan dan memberi kesempatan agar masyarakat menjadi pelaku dalam menangani kegiatan yang mereka inginkan. 2. Laporan pertanggungjawaban pencairan dan penggunaan dana 6. Melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan bersama rnasyarakat dan telah dituangkan dalam RKM. Pada prinsipnya pelaksanaan kegiatan di tingkat kampung dilakukan oleh masyarakat sendiri (partisipasi masyarakat) melalui suatu wahana organisasi yang dibentuk masyarakat sendiri dan disebut KSM. 6. maka KSM bersama Fasilitator Lapangan dapat mencari tenaga yang dibutuhkan dari tempat lain (artinya kampung lain. dan hal tersebut merupakan bagian dari kontribusi 4.3 Tugas Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Tugas-tugas Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) adalah : 1. Kabupaten. Penggunaan tenaga luar tersebut berbasis upah harian/mingguan/bulanan atau bisa berbasis pada borongan.5. 4. Tenaga Fasilitator Lapangan Masyarakat bertugas untuk memberikan bimbingan kepada mereka. Tenaga inti diberi upah (kompensasi) sesuai dengan norma yang wajar di kampung tersebut. Bila ada bagian pekerjaan tertentu yang tidak terdapat tenaga di kampung bersangkutan. 3. Informasi harus selalu diperbaharui sesuai perkembangan pelaksanaan kegiatan 4. galian. Tenaga inti pelaksana yang diperlukan dalam pelaksanaan (misalnya tukang batu.5. Informasi yang ditempel di papan informasi dapat berupa fotokopi atau tulisan tangan. pengelolaan dana. • Melakukan Pembelanjaan dana guna pengadaan bahan & material yang diperlukan.5.Jenis informasi minimal yang harus tercantum dalam papan informasi antara lain: 1. dengan bantuan Fasilitator Lapangan. Sedangkan kebutuhan tenaga lain yang sifatnya pembantu umum (seperti tenaga angkut. sesuai dengan Petunjuk Pelaksanaan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dan spesifikasi teknis. dsb). Jumlah dana kegiatan yang harus diterima masyarakat melalui rekening KSM 2. menetapkan personel dan/atau tukang yang ditugaskan untuk melaksanakan setiap kegiatan tersebut di atas.4 54 . 5. tetapi aman dari gangguan 2. Pelaksanaan kegiatan tersebut termasuk: • Membentuk unit pelaksana untuk kegiatan fisik pembangunan (sarana sanitasi). asalkan jelas dan terbaca dengan baik 6. tukang pasang pipa) dipilih dari masyarakat setempat. beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah: 1. Papan informasi dilindungi kaca atau plastik untuk mengurangi kemungkinan informasi dirusak orang 5. bahan lokal dan tenaga gotong-royong sesuai yang telah disepakati sebagai kontribusi masyarakat. Laporan perkembangan pelaksanaan kegiatan 5. kalimat sederhana dan singkat disertai gambar berwarna agar menarik perhatian dan minat pembacanya 4. kegiatan Kesehatan Masyarakat dan sekolah.

1 . atau provinsi. 6. Proses yang dijalankan dan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh kegiatan. reqruitment staf. 55 4. monitoring kegiatan dapat juga dilakukan dengan cara supervisi untuk melakukan pengawasan langsung. Seluruh catatan dan dokumen pendukung penggunaan dana tersebut harus tersedia pada waktu diadakan pemeriksaan oleh pihak kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) Kabupaten/Kora.5. Selain pemantauan dilakukan melalui pencatatan dan pelaporan secara berjenjang dan sistematis. serta kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh kegiatan. Kegiatan ini juga mencakup evaluasi kinerja pelaksana dan stakeholder dalam bidang keuangan.5.6. Sistem pengumpulan dan pengolahan data ini merupakan dasar utama Sistem Informasi Manajemen (SIM). Catatan atau dokumen pendukung harus bersifat transparan 4. terhadap pengadaan dan pelaksanaan konstruksi fisik prasarana. Bon.5 Administrasi dan Pelaporan 1. penyusunan dan penyimpanan dokumen pendukung untuk pengeluaran dana. Selain itu. Laporan berkala mencakup data informasi yang dibutuhkan dan dimonitor secara teratur baik secara bulanan maupun triwulan. data dan informasi terkait lainnya dapat diperoleh melalui survei data dasar dan survei pemantuan serta evaluasi dampak dan studistudi lainnya. memungkinkan manajer kegiatan dan pelaksana kegiatan bersangkutan serta lembaga penyandang dana mengetahui kinerja kegiatan dan mengenali hambatan serta kesenjangan yang ada sebagai dasar untuk pengendalian kegiatan dan melakukan tindakan korektif bila diperlukan. KSM harus rnenyebarluaskan lkatan Kontrak (jika ada) dengan subpemasok/ subkontraktor melalui papan informasi. Keberlanjutan dari kegiatan.6 4. Pihak Kedua berkewajiban untuk melaporkan kemajuan kegiatan masyarakat setiap bulan sesuai dengan Petunjuk Pelaksanaan Operasional Tingkat Kampung berupa laporan fisik dan biaya serta ditempel pada papan informasi. Monitoring dan Evaluasi Ruang Lingkup Monitoring Monitoring merupakan kegiatan pemantauan yang dilaksanakan secara berkelanjutan dan teratur untuk mengetahui: 1. 2. Faktur.5. Evaluasi pelaksanaan kegiatan dan laporan berkala digunakan untuk mengetahui kinerja dalam hubungannya dengan tujuan dan target yang ingin dicapai dengan menggunakan indikator pencapaian hasil serta menyarankan tindakan korektif yang sesuai apabila diperlukan. masalah yang dihadapi dan alternatif pemecahan oleh masyarakat langsung dengan mengunakan metode MP. Pelaksanaan SIM dengan baik dapat menyediakan data dan informasi bagi kepentingan manajemen kegiatan.5. teknis. 3. Kemajuan pelaksanaan suatu program/kegiatan. Sistem pemantauan perkembangan pelaksanaan kegiatan memerlukan rencana kegiatan yang terstruktur dengan baik. Fasilitator Masyarakat bertugas untuk memberikan dukungan dan bimbingan kepada KSM dalarn urusan administrasi dan pelaporan tersebut 5. ketepatan waktu operasi dan realisasi. Dengan informasi dan data yang sudah terkumpul. Dokumen pendukung tersebut diantaranya: kwitansi. 3. 4. baik terhadap administrasi kegiatan maupun kegiatan di lapangan. dsb. Unit Keuangan harus melakukan pencatatan.masyarakat. 2. Data tersebut dikumpulkan dan diklasifikasikan dalam formulir-formulir isian yang diolah dan dianalisis. Selain itu. Nota Pembayaran. Sistem Monitoring dan Evaluasi (M&E) dalam kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) juga dilakukan secara patisipatif oleh masyarakat untuk mengetahui keberlangsungan yang dicapai. penyelenggaraan pelatihan dan lainnya.

dan pelaporan (output) di masing-masing tingkat administrasi. TPP.4 .5. Memantau kemajuan pelaksanaan kegiatan. pengendalian. Memantau kinerja pelaksana dan institusi pelaksana kegiatan dalam menjamin keberhasilan kegiatan. dan menyediakan informasi bagi Pemerintah maupun Bank Penyandang Dana. Tujuan dilaksanakannya evaluasi oleh masyarakat. Laporan ini merupakan dasar bagi Penilaian Akhir Kegiatan. pengolahan data (proses). TKK. kinerja kegiatan dan pengambilan keputusan. kegiatan monitoring dilakukan juga melalui supervisi yang pada umumnya menghasilkan tambahan data dan informasi yang tidak terlaporkan melalui sistem pelaporan. Konsultan) 3.2 Mekanisme Monitoring dan Evaluasi Monitoring. selain data dan informasi yang dikumpulkan dan dilaporkan melalui sistem monitoring. pelaksanaan dan kemajuan kegiatan. Tujuannya adalah menilai pencapaian hasil kegiatan dan keseluruhan keberhasilan. Pengelola kegiatan (Pusat.6. Dalam rangka mempermudah pelaksana kegiatan mengikuti dan mengetahui perkembangan pelaksanaan kegiatan kegiatan secara keseluruhan. Dalam pelaksanaan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Evaluasi pelaksanaan kegiatan secara berkala dapat dilakukan oleh pelaksana kegiatan atau Executing Agency.5. 4. Pelaksana di setiap tahap adalah: 1. 56 4. 4.5. Tujuan khusus dari Monitoring dan evaluasi kegiatan antara lain untuk: 1.6. yaitu pengumpulan data (input). 4. TKP. Pihak Ketiga yang ditunjuk khusus untuk melakukan monitoring dan evaluasi. Pemda Kabupaten/Kota. dampak kegiatan. TKKc. sedangkan evaluasi dampak dilakukan oleh institusi independen pada tengah dan akhir tahun pelaksanaan kegiatan. serta Tim Koordinator Propinsi/Kabupaten/Kota. tentang seluruh kinerja dan dampak akhir dari kegiatan serta merumuskan pelajaran-pelajaran yang dapat ditarik dari pengalaman kegiatan. evaluasi dilakukan oleh Dinas PU Kabupaten/ Kota.3 Pelaksanaan Monitoring Monitoring dan evaluasi dilaksanakan oleh pelaksana di semua tingkat administrasi dimulai dari masyarakat penerima manfaat kegiatan. 3. efektivitas dan manfaat serta kesinambungan kegiatan kegiatan. Mengevaluasi dampak untuk menentukan apakah kegiatan atau intervensi yang dilakukan telah mencapai tujuan yang telah ditetapkan bagi penerima manfaat dan stakeholder lainnya. masyarakat yang menerima manfaat kegiatan. Tujuan umum pemantauan dan evaluasi kegiatan kegiatan adalah untuk pengawasan. SNVT Provinsi. Evaluasi Evaluasi merupakan kegiatan membandingkan tahap pelaksanaan suatu kegiatan atau hasil yang dicapai pada tiap tahap pelaksanaan kegiatan dengan suatu pembanding tertentu seperti rencana kegiatan atau sasaran pencapaian yang telah ditetapkan. evaluasi dan Sistem informasi Manajemen (SIM) Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dilaksanakan melalui 3 (tiga) tahap. Memantau proses pelaksanaan. agar: a) masyarakat dapat mengetahui keberhasilan yang dicapai dan permasalahan yang dihadapi. Selain itu monitoring & evaluasi bertujuan untuk mengukur efisiensi. Selain itu evaluasi dilakukan oleh masyarakat secara partisipatif (Community Self Evaluation) dengan menggunakan metode MPA. 2.Laporan tengah dan akhir kegiatan biasanya disiapkan oleh pelaksana kegiatan setelah mid-term dan final evaluation menjelang tengah dan akhir pelaksanaan kegiatan. evaluasi dan sistem informasi manajemen.6. 2.

Evaluasi kegiatan dapat dilakukan oleh Dinas PU Kabupaten/Kota. tindakan. 57 . dan fasilitas lain yang disediakan kegiatan. 3) begitu konstruksi selesai 4) 1 tahun setelah konstruksi selesai. perempuan atau pemuda untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap sarana yang dibangun. SNVT Provinsi. 2) setelah penyusunan RKM (namun belum disetujui). dan dengan pihak lain yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam pelaksanaan kegiatan. Materi yang digunakan sebagai alat evaluasi adalah field book yang akan dilaksanakan oleh KSM didampingi TFL masyarakat di bawah supervisi.b) sebagai alat komunikasi baik secara vertikal maupun horizontal diantara staf kegiatan pada semua tingkatan dan lokasi. pelayanan. c) sebagai alat untuk masyarakat penerima manfaat berpatisipasi aktif dalam mengawasi jalannya pelaksanaan kegiatan dan d) membudayakan masyarakat Kampung. secara berkala sedangkan evaluasi dampak dilakukan pada tengah dan tahap akhir kegiatan oleh institusi independen untuk mengetahui hasil dan dampak pelaksanaan kegiatan yang dicapai secara keseluruhan terhadap masyarakat penerima manfaat. khususnya kelompok tertentu seperti keluarga miskin (berpenghasilan rendah). pada tahap: 1) baseline data (analisa awal).

58 .

membukukan dan melaporkan secara rutin. 2. Badan pengelola juga harus memiliki aturan-aturan organisasi dan operasional prasarana dan sarana. serta siapa petugas yang melakukan pemeriksaan dan perbaikan kalau terjadi kerusakan dan menentukan besarnya biaya operasi rutin seperti honor petugas. Badan pengelola ini berfungsi setelah adanya keputusan dari pemerintah kampung dan kelurahan (yang ditanda tangani oleh Kepala Kampung/Lurah). Iuran Pengguna : • Membicarakan tentang besarnya iuran pemanfaatan sarana • Mengumpulkan iuran. Badan Pengelola sebaiknya berasal dari Kelompok Pemanfaat. yang mengatur siapa penerima manfaat. dll. Pengoperasian & Pemeliharaan • Mengoperasikan dan memelihara sarana fisik Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) • Mengontrol semua saluran pemipaan secara rutin • Mengembangkan mutu pelayanan & jumlah sarana pengguna 3. 59 . Peningkatan kapasitas Badan Pengelola tetap dibutuhkan untuk keberlanjutan proyek sanitasi berbasis masyarakat. membuat perencanaan belanja. Penyuluhan Kesehatan • Melakukan kampanye tentang kesehatan rumah tangga dan lingkungan. yang disusun dan diputuskan bersama-sama secara musyawarah antar anggota badan pengelola dengan masyarakat agar semua pihak dapat mengetahui dan mematuhinya. Setiap pengguna wajib untuk memelihara sarana dan prasarana yang ada. sehingga masih diperlukan pelatihan lanjutan untuk memperkuat kapasitas dan meningkatkan jaringan kerja bagi Badan Pengelola. besarnya iuran yang harus dibayar. Pada tahap ini berfungsinya Badan Pengelola untuk operasional dan pemeliharaan berperan penting untuk keberlanjutan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Badan pengelola harus mempunyai aturan sesuai dengan kondisi setempat. biaya listrik. Tugas-tugas pokok pascakonstruksi adalah : 1. maka diperlukan organisasi untuk mengelola sarana sanitasi setelah masa pelaksanaan konstruksi. waktu pembayaran iuran.BAB V OPERASI DAN PEMELIHARAAN Agar pelaksanaan operasional dan pemeliharaan dapat berjalan lancar. Jika terjadi pelanggaran dapat ditindak.

Pengelola prasarana dan sarana perlu memperhatikan beberapa hal: • Kinerja prasarana yang dikelola • Jumlah prasarana dan sarana yang tersedia • Jumlah prasarana dan sarana yang digunakan • Target/sasaran perencanaan • Standar prosedur operasional dan pemeliharaan • Standar kriteria teknis prasarana dan sarana • Rencana pengembangan sarana di masa datang Untuk mencapai keberhasilan pengelolaan.1. Secara umum aspek yang perlu diperhatikan dalam pelestarian adalah pengelolaan prasarana dan sarana.1 Aspek Operasi dan Pemeliharaan Pelestarian prasarana dan sarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) sangat bergantung pada kemauan dan kemampuan masyarakat dalam mengoperasikan. 5. Bagan Struktur Organisasi Badan Pengelola Pasca Konstruksi 5. dan memelihara prasarana dan sarana yang ada. memanfaatkan. kelompok pengguna diharapkan mampu menindaklanjuti pengoperasian dan pemeliharaan (O&P) secara tepat. Melalui kegiatan O&P diharapkan dapat mencapai umur teknis prasarana dan sarana sesuai dengan target dan standar perencanaan.Ketua Pelindung Sekretaris & Bendahara Seksi Iuran Pengguna Seksi O&P Seksi Kesehatan Gambar 5.1. diharapkan pemerintah kabupaten/kota dapat berperan aktif memberikan dukungan teknis kepada masyarakat (penyuluhan) agar mereka mampu mengoperasikan dan memanfaatkan prasarana dan sarana yang ada.2 Penyuluhan Dari hal-hal di atas.1. Dalam pelaksanaan pelestarian prasarana & sarana. Pengelolaan Pengelolaan pada dasarnya merupakan aspek dan sendi utama pelestarian hasil fisik terbangun.1 60 . penyuluhan. Badan Pengelola harus melakukan langkah-langkah berikut: • Melakukan pemantauan rutin untuk mengetahui kondisi prasarana dan sarana • Mengetahui kerusakan sedini mungkin agar dapat disusun rencana perawatan dan pemeliharaan yang baik • Melakukan rehabilitasi tepat waktu • Melakukan evaluasi kinerja pelayanan secara berkala • Melakukan pengelolaan sesuai standar operasional prosedur 5. dan pedoman pemeliharaan.

Prasarana dan Sarana Kelompok Adalah prasarana terbangun yang dimanfaatkan oleh kelompok anggota masyarakat tertentu. Badan Pengelola perlu mengenal tipe dan jenis prasarana. musyawarah berkala untuk pertanggung-jawaban pengurus. stasiun kereta api. Kemampuan untuk menyusun rencana kegiatan operasi dan pemeliharaan (O&P) serta pelaksanaannya. 2. Mampu menerapkan sanksi organisasi bagi anggota yang melanggar peraturan. lama periode kepengurusan dan mekanisme pemilihannya. Biaya perbaikan sarana. Pendanaan diperuntukkan bagi operasional dan pemeliharaan ditambah honorarium pengelola untuk melakukan operasional dan pemeliharaan serta orang yang bertugas untuk melakukan perbaikan jika terjadi kerusakan. dll) 4. 5. Honorarium pengelola. Dalam upaya mencapai keberhasilan pengelolaan perlu didukung organisasi yang handal. Sesuai dengan tipe dan jenis prasarana dan sarana. yang di dalamnya mengatur hak dan kewajiban anggota serta pengurusnya.4 Pendanaan Sumber dana berasal dari masyarakat. 4. misalnya Mandi Cuci Kakus (MCK) di pasar. dan setelah dicapai mufakat disahkan oleh Kepala Lurah. sesuai dengan kondisi. yang dimanfaatkan oleh orang banyak dapat dilakukan melalui pengenaan tarif kepada 61 .1. berupa iuran yang dihitung berdasarkan kesepakatan bersama akan kebutuhan operasional dan pemeliharaan serta rencana pengembangan sarana di masa datang. juga diperlukan aturan untuk organisasi Badan pengelola itu sendiri. listrik. Pedoman ini disusun oleh pengurus bersama Kelompok pemanfaat. Biaya Operasional (solar. dimusyawarahkan bersama dalam forum musyawarah desa. Pendanaan untuk prasarana dan sarana kelompok dapat dilakukan dengan mekanisme penarikan pembayaran atas penggunaan/pemanfaatan prasarana dan sarana atau iuran bersama masyarakat.3 Pedoman Badan pengelola perlu menyusun pedoman. 2. 3. 3. Dapat menjamin kepentingan pemanfaat dan mencarikan alternatif pemecahan permasalahan yang dihadapi. 2. Berdasarkan pengguna/pemanfaatnya. Komponen yang perlu dipertimbangkan dalam menghitung biaya pengoperasian dan pemeliharaan meliputi: 1. dan melakukan inventarisasi kerusakan serta usulan perbaikannya. 5. Selain itu dalam upaya melestarikan prasarana terbangun perlu adanya dukungan kemampuan teknis. prasarana dan sarana dapat dikategorikan sebagai berikut: 1. yang akan menjadi acuan dalam melakukan kegiatannya. dan sebagainya. Prasarana Umum Adalah prasarana terbangun yang dimanfaatkan oleh banyak orang (publik) tanpa pembatasan. dapat disusun mekanisme pendanaan pengelolaannya. Selain pedoman untuk operasional kegiatan. Kemampuan menyusun rencana operasional dan pemeliharaan. Kemampuan untuk mempelajari prinsip dasar cara kerja prasarana terbangun. dsb. Depresiasi alat/sarana Terkait dengan pendanaan prasarana dan sarana terbangun. MCK di kawasan kelompok beberapa kepala keluarga (KK).5. Mampu mengorganisasikan anggotanya untuk mendukung program kerja yang telah dibuat. Setiap Kampung dapat mengembangkan pedoman kerjanya sendiri. terminal. seperti: 1. toilet/kakus umum. Biaya penggantian komponen yang rusak sesuai dengan sistem sarana yang dibangun. SPBU (Pom Bensin). dimana organisasi tersebut harus: 1. dll. misalnya toilet/kakus di sekolah. Sedangkan pendanaan untuk prasarana umum. Mampu melakukan hubungan kerja dengan lembaga lain di luar Badan Pengelola. kemampuan dan budaya yang ada di daerahnya masing-masing.1. 2. 3.

3 Air Limbah Komunal Berbasis Masyarakat a. 750. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan pengurus Badan Pengelola untuk mencari sumber dana di luar iuran warga pemanfaat.. Biaya Pengoperasian dan Pemeliharaan Sistem MCK untuk 250 Jiwa Kebutuhan Keterangan 1.1. Operator & Penjaga Pekerjaan yang tidak tetap 2. 5.s/d Rp.350. Mencuci & ambil air * 1 KK = 5 ORANG 62 . 5. 250.000.s/d Rp.000./ Tahun 6.2 Dukungan Pemerintah Kabupaten/Kota Sesuai dengan definisi pelestarian sebelumnya. dimana hal ini disesuaikan dengan kemampuan Daerah masing-masing.20.000.000. BIAYA PEMAKAIAN Fasilitas 1.400 150 .000.Rp /Bulan 200.pengguna.s/d 2. Pengurasan IPAL Rp. 100.100.20. Bantuan dari pihak lain yang tidak mengikat. 2.000.500 Rp. Kamar Mandi WC/Jamban 150 – 600 150 . LSM. dll Total biaya pengoperasian dan pemeliharaan II.9. Bantuan Pemerintah Pemerintah Daerah dapat memberikan bantuan kepada Badan Pengelola yang bersumber dari APBD yang sudah dituangkan dalam peraturan kampung.000. Perbaikan Pompa Rp. SISTEM MCK Tabel 5. Listrik 250 Watt (Pompa air dan lampu) 3. Orsospol.500. dll 5. diantaranya adalah: 1. Lain-lain Serok. cat dinding. Pada dasarnya yang membiayai Badan Pengelola adalah warga pemanfaat prasarana berlandaskan gotongroyong dan kesadaran bahwa pemeliharaan. / Pakai Rata2 per KK/hari Rp.1.Rp. Bentuk pembinaan dan bantuan yang diberikan dapat berupa bantuan teknis dan/atau bantuan pendanaan. Pengurus Badan Pengelola dapat mencari sumber dana dari Ormas..Rp. 750. lampu.. perbaikan. kran.. 3000.- 3. Peralatan Pembersih Sabun dan pembersih lantai.-/ 2 tahun 4. dan pengembangan prasarana adalah tugas bersama. 2000.000. 2. Secara rinci mengenai Operasi dan Pemeliharaan mengacu pada Petunjuk Pelaksanaan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) di tingkat masyarakat.000. Perusahaan Swasta atau Yayasan selama bantuan ini tidak bersifat mengikat 3. 750. Usaha lain yang sesuai dengan peraturan yang ada. Pemerintah Daerah sebagai pembina atau fasilitator kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) diharapkan dapat meneruskan bantuannya pada tahap pelestarian.

Petunjuk Pelaksanaaan Bagi Pengguna Mck Jangan memasukkan benda padat karena akan menyumbat saluran Buang sampah di tempat sampah yang disediakan Hindari air sabun dari air mandi maupun cuci masuk ke dalam kloset Jangan membuang bahan kimia karena akan mematikan bakteri Gunakan sabun cuci sehemat mungkin Jangan corat-coret di dinding kamar mandi. WC maupun tempat cuci Petunjuk Pelaksanaan Bagi Pengelola MCK/Operator 2 kali per hari gunakan pel untuk membersihkan teras luar (gunakan bahan pembersih jika sangat kotor saja) Setiap hari bersihkan gayung dengan sikat atau sabut Setiap hari bersihkan saringan di lantai KM/WC dari kotoran padat/sampah Setiap hari buang sampah dalam KM/WC dan bersihkan tempat sampah 63 .

Setiap hari kuras bak dengan sikat (gunakan bahan pembersih jika sangat kotor saja) Setiap hari bersihkan/sapu taman 1 kali per minggu rapikan taman (tanaman dan rumput) 1 kali per minggu kuras dan bersihkan tangki/tandon air dari lumut dan kotoran lain 1 kali per bulan bersihkan langit-langit KM/WC dari sarang laba-laba 1 kali per minggu periksa bak kontrol. dilanjutkan ke bak-bak berikutnya Ambil kotoran tepat di bawah manhole Gunakan alat T untuk mengumpulkan kotoran tepat di bawah manhole Keluarkan semua kotoran yang terkumpul sampai tidak ada yang tersisa 64 . jika terdapat kotoran padat/sampah. keluarkan kemudian buang ke tempat sampah 1 kali per 6 bulan buang kotoran padat dan kotoran yang mengapung tepat di bawah manhole Mulai dari bak inlet.

BOD5. lemak Petunjuk Pelaksanaan Pengurasan IPAL MCK 1 kali per 2 tahun. Minta pemeriksaan untuk: pH. pengurasan dengan truk tinja Telpon perusahaan jasa pengurasan tinja Buka semua tutup manhole pada IPAL Angkat kotoran mengapung dan buang ke tempat sampah Masukkan pipa sedot dari truk tinja sampai ke dasar bak. Test Kualitas Air Limbah Telpon dinas terkait Ambil 2 sample air limbah dari bak inlet dan bak outlet. TSS.Mintalah tukang untuk memperbaiki semua kebocoran secepat mungkin dan lihat sebabnya 1 kali per 6 bulan. COD. masing-masing 2 liter dalam botol terpisah Bawa 2 botol sample ke laboratorium yang dirujuk. sedot mulai dari bak pertama Lumpur yang disedot adalah lumpur yang berwarna hitam Hentikan pengurasan jika lumpur sudah berwarna coklat 65 .

Biaya Pengoperasian dan Pemeliharaan Sistem Komunal untuk 750 Jiwa Biaya Pengoperasian dan Pemeliharaan Rp.952.000. lemaknya dapat menyumbat pipa Jangan membuang bahan kimia ke saluran karena akan mematikan bakteri di IPAL Jangan menanam pohon di dekat saluran perpipaan dan IPAL karena bisa merusak pipa Gunakan secukupnya sabun cuci dan pembersih. 250.000.500. Pengurasan setiap 2 tahun Rp.00 3. IPAL bukan tempat pembuangan semua jenis sampah! Jangan memasukkan limbah padat ke jamban karena akan menyumbat saluran.000.000. Pipa Utama. 45.00 Biaya Pengoperasian dan Pemeliharaan /KK/Bulan 1. bak kontrol. Sambungan dari Rumah III. 25. Pipa 100.. Jamban Biaya pengoperasian dan perawatan menjadi tanggung jawab setiap pengguna (KK) II.00 Asumsi: perbaikan pipa 40 m' setiap 2 tahun Total Biaya Pengoperasian dan Pemeliharaan 155. baik untuk sistem pengolahan dan menghemat 66 Buanglah hanya limbah cair dari kamar mandi dan dapur dan beri saringan untuk memisahkan limbah padat .00 Petunjuk Pelaksanaan Bagi Pengguna Sistem Komunal IPAL akan berfungsi dengan baik jika Anda memasukkan limbah yang benar.b.00 Sekunder @ Rp./Bulan I. IPAL. SISTEM KOMUNAL Tabel 5.10.500.2.94 Dibulatkan 2./ Inspeksi 2. Pipa Utama dan IPAL 1. Jangan membuang minyak bekas ke saluran pembuangan dapur karena ketika mengering. Operator Inspeksi 4x/bulan di IPAL.000. Lain-lain: Perbaikan pipa.

Ambil kotoran mengapung dari bak penangkap lemak setiap 3 hari sekali Periksa bak kontrol di rumah setiap 3 hari sekali Buang limbah padat. dengan sekop/serok. segera perbaiki jika ada kerusakan pipa Sogok dari bak kontrol ke bak kontrol lain 67 . mungkin pipa tersumbat. Hentikan kegiatan di rumah. minta tukang untuk memperbaiki kerusakan Jika ada luapan air dari bak kontrol. pasir/lumpur. mungkin pipa tersumbat atau rusak Hentikan kegiatan di rumah Buka pemipaan. kumpulkan dalam tas plastik Bawa ke tempat pembuangan sampah Bawa ke tempat pembuangan sampah Petunjuk Pelaksanaaan Bagi Operator Sistem Komunal Lakukan 1 Kali per minggu Periksa setiap bak kontrol pada sistem perpipaan Buang limbah padat dan kotoran mengapung Jika tidak ada aliran air dalam bak kontrol.

1 kali per 2 minggu: buang kotoran padat dan kotoran yang mengapung tepat di bawah manhole Mulai dari bak inlet. Semua tutup bak kontrol dan manhole IPAL harus bisa Buang ke tempat sampah dibuka untuk mempermudah pengoperasian dan pemeliharaan.Minta tukang untuk memperbaiki kerusakan secepatnya Buang limbah padat dan kotoran mengapung dari bak inlet dengan sekop Kumpulkan semua kotoran. dilanjutkan ke bak-bak berikutnya Ambil kotoran tepat di bawah manhole Gunakan alat T untuk mengumpulkan kotoran tepat di bawah manhole Keluarkan semua kotoran yang terkumpul sampai tidak ada yang tersisa 68 . masukkan dalam tas plastik.

Pemeliharaan motor sampah sesuai dengan manual dari fabrikan 3. Pemeliharaan Motor Sampah 1. Pisau pencacah dijaga ketajamannya dengan cara diasah secara berkala 69 . seminggu sekali 2. Pengelola mengetahui lokasi penjualan suku cadang terdekat 4. Pemeliharaan alat pencacah sampah 1. sedot mulai dari bak pertama Lumpur yang disedot adalah lumpur yang berwarna hitam 5. Setelah digunakan. wadah/bin sampah dibersihkan secara teratur setiap hari b. Motor sampah dilengkapi dengan manual pengoperasian dan pemeliharaan 2. pengurasan dengan truk tinja Telpon perusahaan jasa pengurasan tinja Buka semua tutup manhole pada IPAL Angkat kotoran mengapung dan buang ke tempat sampah Masukkan pipa sedot dari truk tinja sampai ke dasar bak. Penggantian oli dilakukan secara berkala sesuai dengan spesifikasi teknis/manualnya 3. Usahakan tidak ada sampah yang menyangkut di roda gerobak/becak sampah 3. Pengelola harus mengetahui lokasi penjualan suku cadang terdekat d. gerobak/becak sampah harus dibersihkan secara berkala. Pemeliharaan gerobak/becak sampah 1. Alat pencacah dilengkapi dengan manual 2.Petunjuk Pelaksanaan Pengurasan IPAL Komunal 1 kali per 2 tahun. Setelah digunakan.4 Sampah Pola 3R Berbasis Masyarakat Hentikan pengurasan jika lumpur sudah berwarna coklat a. Pemeliharaan Wadah/Bin 1. Perbaikan segera dilakukan jika ada kerusakan 4. Gerobak/becak dijaga agar tidak berlubang sehingga tidak ada sampah yang tercecer c.

3. Hidupkan mesin diesel sesuai SOP atau petunjuk kerja yang berlaku atau kontakkan handle sakelar utama apabila menggunakan PLN. Selain itu pintu air inlet harus ditutup. arus listrik sesuaikan dengan ketentuan atau SOP. Proses pemilahan kompos daur ulang sesuai dengan SOP 3. Sewaktu pompa tidak dioperasikan periksa kelengkapan saringan sampah di bagian depan pompa. Lakukan pembersihan terutama dari sampah-sampah plastik yang dapat merusak poros dan propeller pompa. agar air tidak masuk ke kolam retensi. 2. Geser sakelar utama pada posisi “ON”. 3. Untuk sistem drainase mandiri dengan kolam tampungan di samping saluran yang bermuara di badan air/sungai i. frekuensi. 4. Secara berkala stasiun pompa harus dicat agar dari segi estetika indah dan nyaman untuk dijadikan sarana rekreasi bila perlu. sesuai dengan kecepatan naiknya elevasi muka air di dalam kolam retensi dengan kapasitas pompa menurut ketentuan di dalam SOP. Kebersihan hanggar harus selalu dijaga 2. Pemeliharaan Hanggar 3R 1. Hal ini dilakukan bersamaan dengan pengoperasian pompa. 4. 6. Kebersihan alat pengayak selalu dijaga f. 5. Sebab semua petugas operasional pompa harus tetap siaga menjaga kemungkinan terjadi banjir dadakan. Pastikan tegangan. ii. Pemeliharaan Stasiun Pompa 1. Uji Coba dan Pengoperasian Pompa 1. 7. b.e. 5. Atur aliran air dari saluran yang masuk ke dalam kolam retensi dengan pintu air terutama pada musim kering. Periksa secara rutin panel operasi jangan sampai ada kabel yang putus karena termakan usia atau oleh binatang pengerat seperti tikus dll.5 Drainase Mandiri Berwawasan Lingkungan Berbasis Masyarakat a. sehingga air dari saluran drainase akan masuk dan mengisi kolam retensi. Sebaliknya pintu inlet dibuka. 2. Hidupkan pompa apabila elevasi muka air di dalam kolam retensi melebihi elevasi normal sesuai dengan ketentuan di dalam SOP. Pengoperasian Pintu Air Inlet. Lakukan kegiatan seperti butir 3. Pada saat banjir di sungai telah surut. Pemeliharaan Alat pengayak a. Matikan pompa apabila elevasi muka air di dalam kolam retensi sudah mencapai elevasi normal sesuai dengan ketentuan di dalam SOP. Untuk itu secara rutin petugas harus menjaga kebersihan lingkungan instalasi. agar tidak ada sampah yang mengganggu aliran air 5. Outlet dan Pembagi 1. Pada saat banjir datang pintu pembagi ditutup. Stasiun pompa sekalipun dibangun dengan konstruksi beton bertulang tetap harus dipelihara agar jangan terkesan angker dan kumuh.. Penyiraman debu dilakukan secara berkala 4. c. Alat pengayak dilengkapi dengan manual b. Perhatikan engsel-engsel pintu instalasi agar jangan sampai kering. 70 . supaya air limbah dari saluran tidak masuk ke dalam kolam retensi. maka pintu pembagi dibuka agar air di saluran drainase bisa mengalir ke sungai secara gravitasi. Saluran drainase dijaga kebersihannya. Apabila pengaturan air masuk ke dalam kolam retensi dengan pintu air.

Hal ini dilakukan bersamaan dengan pengoperasian pompa. d. Cegah sedini mungkin penyerobotan terhadap lahan dan bantaran kolam retensi dari bangunanbangunan pemukiman liar. Pengelolaan tersebut dapat menggunakan kelembagaan masyarakat yang sudah ada ataupun dengan membentuk kelembagaan baru sesuai dengan kebutuhan. 2. outlet kolam tampungan langsung bermuara ke badan air/sungai i. Melumasi pintu-pintu air. 6. Sarana yang sudah dibangun dikelola oleh KSM. 1. serta mungkin dapat diolah menjadi gas bio. 7.iii. sehingga di kolam retensi tetap ada air. agar muka air di kolam retensi dalam keadaan normal. Tembok pasangan batu yang rusak segera diperbaiki. 4. Pembersihan sampah-sampah yang menyangkut di saringan sampah secara rutin. Atau kolam retensi dilengkapi dengan saluran gendong biasanya saluran tersebut tepi kanan dan kirinya dilapisi dengan pasangan batu kali. transparansi. air dari saluran drainase akan masuk dan mengisi kolam retensi. Bersihkan kolam retensi yang ditumbuhi gulma seperti eceng gondok. Bila perlu ajak pihak swasta untuk memanfaatkan eceng gondok menjadi komoditi yang berguna seperti pembuatan tas. 5. maka pintu outlet dibuka agar air di kolam retensi bisa mengalir ke sungai secara gravitasi. Pengecatan pintu-pintu air. Mekanisme pengelolaan pada tahap pemanfaatan dilakukan sebagaimana proses pelaksanaan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dimana proses musyawarah. Untuk sistem drainase mandiri dengan kolam tampungan segaris dengan saluran atau berada dalam saluran. Pemeliharaan Pintu Air Inlet. Di musim kemarau pintu air inlet ditutup. Proses pengelolaan dilakukan berdasarkan hasil musyawarah masyarakat pengguna. 4. 71 . 8. untuk ini harus secara rutin dilakukan inspeksi terutama pada stalling basin pintu inlet. Pemeliharaan Kolam Tampungan/Kolam Retensi/Kolam Tandon 1. tenaga pendamping maupun pihak-pihak lain yang berkompeten. Secara berkala keruk sedimen yang terlanjur masuk ke kolam retensi agar fungsi daya tampung kolam retensi tidak menyusut. Lakukan perbaikan secara berkala untuk bangunan air yang mengalami kerusakan. 2. Angkat saringan sampah secara berkala bersihkan dan cat kembali. Pada saat banjir datang pintu outlet ditutup. 2. Pada tahap ini masyarakat memperoleh fasilitasi baik dari aparat. ii. akuntabilitas publik maupun kontrol sosial tetap berjalan.6 Monitoring dan Evaluasi Setelah konstruksi selesai dilaksanakan diperlukan pengoperasian dan pemeliharaan yang tepat agar sarana yang dibangun dapat berfungsi dengan baik dan berkelanjutan. e. Operasi dan pemeliharaan dilakukan oleh operator yang ditunjuk oleh KSM sesuai dengan petunjuk operasional (SOP). Lakukan perbaikan secara berkala untuk pintu-pintu air yang mengalami kerusakan. Outlet dan Pembagi 1. Di musim kemarau pintu outlet dibuka secukupnya. 2. iii. 3. sesekali dibuka hanya untuk memasukkan air ke kolam retensi. 3. Pada saat banjir di sungai telah surut. Bersihkan saluran inlet/outlet secara rutin. Membersihkan sampah atau endapan di pintu-pintu air. 5.

72 .

4. Monitoring dan Evaluasi dapat dilihat pada tabel 6. b. Swadaya Masyarakat berupa dana tunai (on cash) serta kontribusi dalam bentuk barang (in kind) berupa lahan. Pemerintah Daerah (DAK dan APBD) untuk biaya material dan upah. Biaya sosialisasi DAK. Biaya operasi dan pemeliharaan yang ditanggung oleh masyarakat.3 73 . pelatihan TFL dan pelatihan Ketua KSM serta mandor dibiayai dari dana APBN. tenaga kerja. tukang dan operator dari dana APBD. yang terdiri dari: Persiapan. Dana pihak swasta yang dapat dikumpulkan melalui berbagai upaya lain yang saling menguntungkan. Pemerintah Kabupaten/Kota (DAK dan APBD). Penyusunan RKM. Pembiayaan per Komponen Kegiatan Pembiayaan per komponen kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). 3. swadaya masyarakat dan swasta/donor. Pengoperasian dan Pemeliharaan. dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. 6. yaitu: Pemerintah Pusat (APBN). Biaya Konstruksi dibiayai oleh: a. rencana pembiayaan diperlukan kontribusi dari masing-masing sumber.2 Rencana Pembiayaan Untuk setiap lokasi kegiatan.BAB VI PEMBIAYAAN 6. Gambar 6. Biaya pemberdayaan masyarakat termasuk gaji TFL.1 Bagan Sumber Pembiayaan 6. c.1 Sumber Pembiayaan Pembiayaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) ini berasal dari berbagai sumber.1. Seleksi. Konstruksi. material dan lain-lain. Pendampingan. Pemberdayaan. biaya pelatihan bendahara. 2.

1 Pembiayaan per Komponen Kegiatan No. I Komponen Kegiatan Persiapan Sosialisasi Kab/Kota Workshop Regional Pelatihan TFL Seleksi Kampung Daftar Panjang (Long List) Daftar Pendek (Short List) Sosialisasi Kajian Cepat Partisipatif (Rapid Participatory Assessment) Penyusunan RKM Penentuan pengguna Pilihan Teknologi DED + RAB Kelompok Swadaya Masyarakat Rencana Kerja Masyarakat Dokumentasi dan legalisasi RKM Pemberdayaan Masyarakat Pelatihan Ketua KSM Pelatihan Bendahara KSM Pelatihan Mandor Pelatihan Pengelola Kampanye kesehatan Konstruksi Material Upah pekerja Lahan Pendampingan: TFL Masyarakat (Sosial) TFL Pemda (Teknis) Pengoperasian & Pemeliharaan Monitoring & Evaluasi APBN √ √ √ DAK APBD Masyarakat II √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ III IV √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ V VI VII VIII √ √ √ 74 .Tabel 6.

Pelaporan 1. Swasta/Donor 1. Dana DAK dan APBD berupa bantuan (langsung) ke masyarakat diwujudkan dalam bentuk tunai yang ditransfer langsung ke rekening KSM. serta hasil pemeriksaan laboratorium terhadap efluen pengolahan air limbah setiap enam (6) bulan kepada instansi penanggung jawab di daerah. Laporan yang bersifat administrasi proyek dilakukan oleh masing-masing Instansi (Penanggung jawab kegiatan) yang mengikuti aturan pelaporan berjenjang berupa laporan bulanan.4.1. Dana dari masyarakat dalam bentuk tunai dimasukkan ke rekening bersama atas nama 3 (tiga) orang yaitu: ketua KSM. Pada tahap pembangunan pengawasan dilakukan oleh masyarakat dibantu oleh Pemerintah Daerah. Pengumpulan dana masyarakat dilakukan oleh panitia/KSM yang dibentuk dimulai dari sejak terpilihnya sarana teknologi sanitasi. Pencairan dana dilakukan sesuai peraturan yang berlaku di masing-masing perusahaan/lembaga atau institusi yang bersangkutan setelah ada rencana kerja masyarakat/RKM. Dana masyarakat dikumpulkan berdasarkan kesepakatan hasil musyawarah masyarakat calon pengguna/penerima manfaat program dalam bentuk iuran pembangunan setiap minggu atau setiap bulan.2.6 75 . Dana dari Swasta/Donor diwujudkan dalam bentuk tunai yang ditransfer langsung ke rekening bersama KSM. 3. Jika ada dana pemberdayaan maka disalurkan langsung ke rekening bersama KSM.2. DAK dan APBD 1.1 6. 6. Masyarakat 1. KSM dan mandor.4 6. Pengawasan Pengawasan dilakukan secara berjenjang dan bersama-sama antara masyarakat. Penyaluran dana DAK dan APBD dilakukan melalui Satker Perangkat Daerah sesuai dengan tata cara penyaluran dan pencairan dana yang berlaku setelah ada rencana kerja masyarakat/RKM. 6. Dana swasta/donor adalah dalam bentuk hibah sebagai bentuk kontribusi swasta dalam kegiatan perbaikan sanitasi masyarakat 2.4. Penyaluran Dana APBN 1. Penyaluran dana APBN dilakukan melalui Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Kementerian Pekerjaan Umum di Provinsi yang digunakan untuk melakukan pelatihan TFL. tiga bulanan dan tahunan.4 6.5. KSM melaporkan kondisi fisik prasarana.4. Pengelolaan Dana dan Pengawasan Pengelolaan Dana Pengelolaan dana sepenuhnya dilakukan oleh KSM sesuai dengan perencanaan yang disusun. 2. KSM membuat laporan kegiatan harian yang berisi kemajuan pelaksanaan pembangunan dan keuangan. 3. 6. disampaikan setiap minggu kepada masyarakat. 3.5.6.4. 2. wakil Dinas Penanggung Jawab Pemerintah Kabupaten/Kota dan fasilitator.5 6. 2. Sedangkan pengawasan berkala dilakukan setahun 1-3 kali oleh Pemerintah Pusat bersama dengan Pemerintah Daerah. Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat. 3.3 6.

76 .

BAB VII PENUTUP Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) ini diharapkan dapat menjadi pegangan bagi seluruh pelaku yang terkait dalam pelaksanaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) pada berbagai tingkatan. sehingga dengan adanya Petunjuk Pelaksanaan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) ini. pelaksanaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) di lapangan dapat mencapai kinerja seperti yang diharapkan. 77 .

78 .

LAMPIRAN 79 .

80 .

.........Contoh Berita Acara Proses Seleksi Kampung BERITA ACARA PELAKSANAAN PROSES SELEKSI KAMPUNG KABUPATEN ……………………………… _________________________________________________________________ Pada hari ini..... Berita acara ini ditandatangani oleh: 1. 4... ……. transparan dan demokratis oleh masyarakat sendiri...... 3..... skor .... 3.... Ketua Panitia ....... Seleksi tersebut telah dilaksanakan dengan menggunakan metode Rapid Participatory Assesment/RPA... Sesuai dengan hasil skor yang dikumpulkan oleh masing-masing kampung................................. yang beralamat di jalan …………………........... ... 2................ 6...... 2...... telah dilaksanakan Seleksi Kampung dalam rangka implementasi program DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat.. yaitu: 1....... tahun . Sekretaris . bulan ....................................... ………………. Wakil Masyarakat ... Wakil Masyarakat .......... ………….... Kampung .. bertempat di Ruang Rapat Kantor ………………... Kampung ... Seluruh proses seleksi telah dilaksanakan secara fair.... maka telah disepakati bersama bahwa kampung yang paling siap untuk implementasi DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat adalah Kampung ……………………… Demikian berita acara ini dibuat agar dapat digunakan sebagaimana mestinya.. 81 .... tanggal . 5. Kampung ………… skor ……..... Wakil Ketua ........ Seleksi kampung tersebut telah diikuti oleh 3 (tiga) kampung.... Kabupaten ………….. Wakil Masyarakat ................... skor ..

jarak 82 m m m2 m buah m m m cm cm cm Check Deskripsi . Dan lain-lain → (Sebutkan) Tinggi air tanah Ketersediaan Lahan : Ada lahan/tidak ada lahan Ukuran luas Kepemilikan tanah Ada/tidak ada sungai di dekatnya. jarak Ada/tidak adanya saluran/got di dekatnya.Contoh Lembar Kerja Pemetaan Sanitasi Kampung Data Teknis Saluran air hujan/drainase Air biasa mengalir/menggenang Terjadi penyumbatan/tidak Ada bau tidak sedap/tidak Ukuran dalam lantai dasar saluran Ukuran lebar saluran Tinggi air dari lantai dasar saluran Bahan material saluran Keterangan Sumber Air Jumlah rumah yang memakai PAM Kondisi PAM : Jumlah sumur Kedalaman sumur Kedalaman air di musim hujan Kedalaman air di musim kemarau Sumber air lainnya → (sebutkan) Kondisi : Keterangan : Kondisi Tanah Jenis tanah : Lempung/liat/cadas/pasir/batu/kapur/biasa Lokasi Permukiman : Bantaran sungai/bantaran rel KA/area industri/ permukiman nelayan/perumnas/kampung kota/kampung desa.

jarak Ada/tidak adanya rumah di dekatnya. jarak Ada/tidak ada jalan yang cukup untuk keluar masuk mobil angkut bahan bangunan ke lokasi pengolahan limbah. jarak Ada/tidak adanya kebun/sawah di dekatnya. sebutkan Keterangan kondisi KM/WC/MCK umum Septicktank/pengolahan limbah Air limbah dari KM/WC langsung disalurkan ke sungai/danau/saluran kota/septictank Air limbah dari MCK umum langsung disalurkan ke sungai/danau/saluran/kota/septik Ada/tidak peresapan dari tangki septik Air dari peresapan disalurkan ke sungai/danau/saluran kota/diresapkan ke tanah & kebun Ada/tidak ada bau dari septicktank/pengolahan limbah yang ada Keterangan : Topografi/bentuk muka tanah Ada/tidak ada kemiringan tanah Ada aliran air menggenang Ada kemiringan jalan Ada/tidak ada instalasi yang tertanam (pipa air/listrik/ telepon/gas/air limbah) Keterangan : Struktur permukiman Ada/tidak ada jarak antara rumah. jarak Ada/tidak adanya industri/pabrik di dekatnya.Data Teknis Ada/tidak adanya sumur di dekatnya. Jauh/dekat jarak angkut material dari penjual bahan bangunan ke lokasi pengolahan limbah. Ada/tidak ada pekerja tukang Ada tidak ada bahan bangunan di tempat Air : Batu bata : Check m m m m m Deskripsi Ketersediaan tenaga bangunan Ketersediaan bahan bangunan 83 . jarak Ada/tidak adanya MCK di dekatnya. jarak Keterangan : KM/WC Ada/tidak ada di tiap rumah Ada/tidak ada MCK umum Kebiasaan buang air selain di KM/WC/MCK umum.

.Data Teknis Pasir : Tradisi sosial pelaksanaan pembangunan pada bulan ……………………………………. Ada/tidak ada pengganti pekerja/tukang Check Deskripsi Pengaruh kultur social terhadap pelaksanaan pembangunan 84 .

Laki Waktu Dimulai Anak Perempuan Anak Laki .Laki RT/RW/Lingkungan 85 .Contoh Lembar Kerja Klasifikasi Kesejahteraan (Wealth Classification) Klasifikasi Kesejahteraan 1 Nama Kelurahan 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kecamatan/Kab/Kota/Provinsi Kegiatan Tanggal Nama Ketua Fasilitator Anggota Fasilitator Jumlah Peserta yang Hadir Perempuan Laki .

Kategori Tingkat Kesejahteraan Indikator Pola Makan Aset/Kepemilikan Komposisi Rumah Tangga* Pekerjaan Akases Terhadap Pelayanan Pendidikan Formal dan NonFormal Rasa Aman Sosial dan Psikologis Masyarakat Lain – Lain** Mampu Menengah Tidak Mampu * ** Termasuk Bila Kepala Rumah Tangga Adalah Perempuan. Kelas Sosial 86 . Kelompok Agama. Suku. Periksa Kesehatan.

2 P.3 Jumlah Rumah Tangga Mampu Jumlah Rumah Tangga Menengah Jumlah Rumah Tangga Tidak Mampu Catatan untuk Pembuat Rencana Kegiatan Masyarakat Waktu Selesai 87 . P.Komposisi Masyarakat Berdasarkan Klasifikasi Kesejahteraan Kode Pertanyaan Jumlah P 1.

Contoh Lembar Kerja Partisipasi dan Kontribusi Partisipasi Saat dan Paska Pembangunan Sarana Lembar Catatan 1 2 3 4 5 6 7 8 Nama Kelurahan Kecamatan/Kab/Kota/Provinsi Kegiatan Tanggal Jumlah Peserta Perempuan Posisi dalam Organisasi Jumlah Peserta Laki-laki Posisi dalam Organisasi RT/RW/Lingkungan/Banjar Waktu Dimulai 88 .

H2 Jenis dan Pembagian Kontribusi dari Sudut Pandang Gender dan Kemiskinan Tipe Kontribusi Perempuan Miskin Laki-Laki Miskin Perempuan Kaya Laki-Laki Kaya Tidak berkontribusi Satu jenis kontribusi (Uang. Bahan-bahan. atau tenaga) Dua jenis kontribusi Tiga jenis kontribusi Lebih dari tiga jenis kontribusi 89 .

termasuk oleh perempuan dan kelompok miskin : Monitoring dan control terhadap kontribusi dari dalam (dari sumbangan rumah tangga) : Monitoring dan control terhadap pengerjaan oleh pihak luar (kontraktor. instansi lain) : Peranan perempuan dalam monitoring : Apa relevansinya untuk pembuatan RKM : Waktu Selesai 90 .Analisa Temuan dan Diskusi Kesetaraan dalam kontribusi.

Ditjen Cipta Karya. Kementerian Pekerjaan Umum EDITOR Meytri Wilda Ayuantari Suhaeniti . Arifin Handy Bambang Legowo Kati Andraini Darto Endang Setyaningrum Djoko Mursito PENYUSUN Tim Satgas DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat KONTRIBUTOR Bali Fokus BEST BORDA LPTP Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman.PENGARAH Budi Yuwono Susmono PENYELIA Rudy A.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful