TERAPI PADA ANAK DENGAN GANGGUAN MOTORIK

Dr. Aminuddin A. SpRM
Spesialis Rehabilitasi Medik

RSPAD GATOT SOEBROTO

Gangguan motorik pada anak dapat disebabkan oleh karena adanya kelainan atau penyakit pada : Otak Sumsum tulang belakang Genetik Saraf tepi Otot

pada pembahasan ini kami akan mengambil contoh gangguan motorik yang disebabkan adanya kelainan pada otak yaitu Cerebral Palsy, karena jumlahnya lebih banyak yang datang ke Rumah Sakit, disbanding lainnya. Cerebral Palsy adalah lesi otak non progresif, yang terjadi sebelum, selama, atau segera setelah lahir, yang menyebabkan kelainan fungsi neuromuskuler berupa abnormalitas tonus otot, gangguan koordinasi gerak otot disertai ketidakmampuan dalam menjadi postur dan keseimbangan tubuh.

Etiologi : Penyebab Cerebral Palsy bisa bersifat : Prenatal : Infeksi (TORCH), anoksia, perdarahan, faktor Rh, kelainan metabolik, sinar X, keracunan. Perinatal : Anoksia, kelainan plasenta, anoksia maternal, trauma, perdarahan otak, induksi persalinan, partus lama, prematur. Postnatal : Trauma kepala, perdarahan otak, meningitis, ensefalitis, tumor otak, hidrosefalus, dsb.

1

tidak ada masalah bicara dapat melaksanakan kebutuhannya sehari-hari. dan ambulasi tanpa bantuan alat. tetapi oleh karena keadaannya begitu berat maka prognosis untuk kemungkinan perawatan sendiri ambulasi dan bicara adalah jelek. juga tidak dapat ambulasi sendiri atau bicara.Tabel Etiologi Cerebral Palsy Kongenital Pre-natal Anoksia Syok anemia maternal Gangguan plasenta Inkompatibilitas Rh Infeksi Maternal Rubella Toksoplasmosis Sitomegalovirus Herpes Virus Trauma Disproporsi sefalopelvik Anoksia Komplikasi sesarea Trauma Prematuritas Faktor Metabolik Tumor Otak Malformasi otak Seksio Syok Keracunan Nyaris Tenggelam Gangguan serebrovaskular Perinatal Anoksia Obsruksi pernapasan Atelektasis Plansenta previa Plasenta prematur Sedasi berlebihan Kelahiran sungsang Infeksi Meningitis Ensefalitis Didapat Pasca-natal Trauma Fraktur tengkorak Kontusio serebri Menurut beratnya Cerebral Palsy Secara beratnya Cerebral Palsy dapat diobati (1) Ringan. tidak dapat merawat dirinya sendiri. (3) Berat. Pada pasien memerlukan “braces” atau alat bantu diri. pasien tidak memerlukan pengobatan. pasien memerlukan pengobatan atau perawatan. 2 . Di sini pasien memerlukan pengobatan dan perawatan. (2) Sedang.

Terdapat tiga tingkat perkembangan refleks. Tetapi disfungsi neurologik tertentu akibat dari lesi sistem saraf pusat. saat ini predominan reflek spinal dan batang otak dengan perkembangan motorik baru berupa berbaring telentang atau tengkurap. anak sudah dapat berguling. sedangkan dari perkembangan motorik. berupa : 3 . Pengetahuan tentang respons refleks yang normal dan abnormal adalah merupakan dasar evaluasi klinis dan menetukan metoda upaya habilitasi bagi pasien Cerebral Palsy. Respons dari refleks ini mempersiapkan si bayi untuk mengalami perkembangan yang progresif seperti berguling. 3. Tingkat Apedal. reflek spinal dan batang otak primitif ini secara berangsur berkurang sesuai dengan makin tingginya pola gerak dan terbentuknya reaksi keseimbangan. merangkak.Evaluasi Klinis Menemukan secara dini adanya reflek abnormal yang persisten sangat penting artinya untuk lebih efektif mencapai tujuan habilitasi pada anak dengan Cerebral Palsy. Tingkat Bipedal. Refleks primitif penting dalam perkembangan normal. dapat dilakukan evaluasi klinis pasien Cerebral Palsy. duduk dan merangkak. maka pola reflek primitif akan mendominasi aktivitas sensoris motorik. dengan timbulnya reaksi gerak. yaitu perkembangan tingkat kortex dengan timbulnya reaksi keseimbangan. ini dapat terlihat pada penderita Cerebral Palsy. Atas dasar prinsip umum diatas. saat ini yang predominan adalah perkembangan midbrain. 2. Dalam perkembangan normal. dan perkembangan motorik anak telah dapat berdiri dan berjalan. duduk. berdiri dan sebagainya. akan menghilangkan control inhibisi terhadap refleks primitif. Apabila kontrol inhibisi dari pusat yang lebih tinggi terputus atau rusak . yaitu : 1. Tingkat Quadrupedal.

duduk. Reaksi positif yang tetapi ada setelah melewati usia dua bulan menunjukkan gangguan pematangan sistem saraf pusat. Selanjutnya. 4 . Refleks spinal ini mengkoordinasikan otot ekstremitas dalam pola fleksi atau ekstensi total. Refleks batang otak adalah reflek postural statis dengan pengaruh perobahan distribusi tonus otot di seluruh tubuh. Reaksi ini merupakan reaksi yang pertama kali timbul yaitu segera setelah lahir dan mencapai maksimal pada usia 10 – 12 bulan. merangkak. Reaksi positif atau negatif refleks batang otak mungkin ditemukan pada anak usia 4 – 6 bulan pertama. Reaksi positif atau negatif dari refleks spinal masih mungkin ditemukan pada bayi normal dalam usia dua bulan pertama. Refleks Midbrain Reaksi penyesuaian (“righting reactions”) diintegrasikan di tingkat midbrain. Reaksi negatif adalah normal. sedangkan yang normal adalah reaksi yang negatif.Refleks Spinal Reflek spinal disalurkan oleh daerah di sistem saraf pusat sampai ke dasar ventrikal IV. di atas nukleus rubra. Kombinasi kerja reaksi ini memungkinkan si anak berguling. Reaksi penyesuaian ini berinteraksi dengan setiap bagian kerja tubuh sehingga membentuk hubungan yang normal antara kepala dan tubuh atau dengan setiap bagian tubuh lainnya. Refleks Batang Otak Refleks batang otak disalurkan oleh daerah Nukleus Nervus VIII ke bawah ke Nukleus Rubra. reaksi ini secara berangsur dirobah dan dihambat dan akhirnya menghilang pada akhir usia 5 tahun. apakah sebagai respons terhadap perobahan posisi kepala dan tubuh oleh karena perangsangan labyrinth atau perobahan posisi kepala terhadap tubuh oleh karena rangsangan proprioseptif otot leher. dengan meningkatnya kontrol dari korteks. Reaksi yang tetap positif setelah usia melewati 6 bulan mungkin menunjukkan perlambatan maturasi sistem saraf pusat.

Refleks Korteks Reaksi ini ditimbulkan oleh interaksi korteks. pola umum adalah berupa (1) latihan fungsi motorik yang tepat. Masalah klinis yang utama dari penderita Cerebral Palsy adalah defisiensi kontrol motorik. Pematangan reaksi keseimbangan akan mengantarkan individu memasuki tingkat perkembangan motorik manusia normal yaitu berdiri dan berjalan dengan dua kaki dan tubuh melakukan adaptasi terhadap perobahan pusat gaya berat tubuh. Dalam hal habilitasi motorik pada penderita Cerebral Palsy. sehingga tujuan utama dari habilitasi adalah membantu individu dengan Cerebral Palsy memperoleh. 5 . kejang dan sebagainya. (2) bantuan agar pasien Cerebral Palsy dapat berfungsi. (5) memberikan latihan lebih lanjut untuk dapat mengkompensasi cacatnya. Tetapi selain defisiensi motorik. Fisioterapi 1. gangguan bicara. kesanggupan motorik baru. ATNR dan total patrun serta spastisitas) dengan cara memposisikan ekstremitas / badan. mempelajari. Inhibisi adalah tehnik untuk mencegah tumbuhnya patrun patologis (reaksi asosiasi. apakah berupa bantuan manusia atau alat (3) kemudian membantu dengan alat khusus. dan serebelum. PRINSIP TERAPI I. Reaksi positif pada setiap tingkat menunjukkan kemungkinan adanya aktivitas motorik yang lebih tinggi. sehingga secara keseluruhan penderita Cerebral memerlukan penanganan bersama oleh beberapa disiplin ilmu. pada posisi tertentu terhadap bagian badan yang lain. dan mengembangkannya ke tingkat fungsional tertentu. (6) modifikasi anatomi dan fisiologi dengan prosedur pembedahan atau pengobatan. biasanya pada penderita Cerebral Palsy juga disertai oleh gangguan fungsi kognitif. (4) kemudian membatasi keperluan alat bantu dengan melakukan modifikasi lingkungan. ganglia basalis. Reaksi ini timbul mulai usia 6 bulan.

dengan pola “extensor thrust”. 6 . setengah berlutut. ketidak seimbangan otot-otot yang spastik. Pemakaian inhibitive cast untuk mengontrol equinus dapat diterima. tidak memungkinkannya untuk dapat mengontrol sikap sendiri. merangkak. 3. Antara inhibisi dan fasilitasi memang berkaitan langsung. dan berusaha berdiri tegak. seperti : Orthose untuk extremitas atas (misalnya : splint) Modifikasi alat bantu duduk (untuk mempertimbangkan alignment yang baik saat duduk). Mengontrol tonus refleks sikap. II. Fasilitasi. maksudnya dengan melakukan inhibisi otomatis memberikan fasilitasi pergerakan yang lebih normal. Okupasi Terapi Terapi okupasi memulai campur tangannya dengan mengembangkan aktivitas yang berfokus pada : Keterampilan menolong diri sendiri Aktivitas kehidupan sehari-hari Pemilihan permainan yang tepat untuk meningkatkan keterampilan halus tangan. adalah teknik untuk mempermudah tumbuhnya gerakan dalam pola normal dengan cara memposisikan ektremitas / badan di posisi tertentu. Seringkali okupasi terapi membutuhkan alat-alat bantu. sehingga memungkinkan untuk dapat mengontrol stabilitas duduk dan stabilitas diproksimal untuk berdiri. Sedangkan spastisitas dari m. Mungkin dengan postur “scissored of legs” akibat overaktifnya adduktor. Gastrocnemius – Soleus yang tidak memungkinkannya untuk “foot flat stance”. yaitu : bivalve cast silinder. Bila dengan streching overaktifnya adduktor sulit dikendalikan usaha medik lainnya dapat dilakukan. Dalam perkembangan yang maju perlahan-lahan.2.

7 . III. dapat berupa terapi wicara.Dengan demikian anak mampu untuk meningkatkan kemampuannya untuk duduk dan berdiri dan menjadi awal pergerakan tungkai untuk berjalan. Terapi Lain Terapi lain tergantung gangguan lain yang menyertai. terapi perilaku dsb.

intention tremor pada atau tracus ekstremitas superior. refleks tendon dalam hiperaktif motorik. involunter.’ korteks gerakan-gerakan volunter yang lambat dan membutuhkan banyak tenaga. area walaupun tonus otot berkurang (jika asalnya IV sentral) 8 . pada ekstremitas. sistem ekstrapiramid al Ciri-Ciri Meningkatnya tonus otot. tremor otot halus mirip Ganglia dengan tremor pada parkinsonisme. sistem piramidal Ganglia basalis.Tabel Gangguan Motorik yang menyertai Cerebral Palsy Gangguan Spastisitas Lokasi Lesi Korteks motorik. berbasis Cerebelum lebar. dan terus-menerus. meningkat di seluruh jangkauan gerak. Penurunan tonus otot yang nyata. area IV. leher. wajah. mudah munculnya refleks peregangan. refleks yang hiperaktif. Otot-otot berkontraksi dengan lambat dan Difus. dismetria. tahanan terhadap gerakan otot basalis. gaya berjalan trunkus cerebellaris yang terhuyung-huyung Seringkali herediter. meningkatnya tahanan pada jangkauan gerak sendi yang penuh Gerakan menggeliat yang perlahan. ganglia kaku. Atetoid Ataksia Tremor Rigiditas Hipotonia Gaya berjalan yang tidak mantap. tidak basalis menyebabkan ketidakmampuan yang serius. hiperelastis Korteks sendi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful