You are on page 1of 6

Nama : Fauziah NIM : 093654033

Nematoda Steinernema carpocapsae sebagai pengendali rayap Coptotermes curvignathus I. Pendahuluan Pestisida alami adalah suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari alam seperti tumbuhan. Pestisida alami merupakan pemecahan jangka pendek untuk mengatasi masalah hama dengan cepat Pestisida nabati bersifat ramah lingkungan karena bahan ini mudah terdegradasi di alam, sehingga aman bagi manusia maupun lingkungan. Selain itu pestisida nabati juga tidak akan

mengakibatkan resurjensi maupun dampak samping lainnya, justru dapat menyelamatkan musuhmusuh alami. Insektisida alami berasal dari mikroba yang digunakan sebagai insektisida. Mikroorganisme yang menyebabkan penyakit pada serangga tidak dapat menimbulkan gangguan terhadap hewan-hewan lainnya maupun tumbuhan. Jenis mikroba yang akan

Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah pengendalian hayati dengan menggunakan agen hayati nematoda entomopatogen. II.digunakan sebagai insektisida harus mempunyai sifat yang spesifik artinya harus menyerang serangga yang menjadi sasaran dan tidak pada jenis-jenis lainnya. Steinernema carpocapsae yang juga hidupnya berhubungan dengan tanah diharapkan dapat memarasit dan menjadi musuh alami rayap C. curvignathus. Klasifikasi Kedudukan Steinernema spp di dalam sistematika binatang adalah sebagai berikut: Kingdom : Animalia . Nematoda Steinernema carpocapsae banyak berdiam dan berada di dalam tanah pada kedalaman 0-20 cm. Rayap Coptotermes curvignathus merupakan salah satu hama penting pada tanaman kelapa sawit di areal bukaan baru khususnya yang ditanam di atas lahan gambut. Upaya pengendalian yang dilakukan oleh kebanyakan pekebun adalah dengan insektisida.

Ulat-ulat tersebut diletakkan di atas tutup botol plastik yang telah dialasi dengan kain kassa yang diletakkan dalam petridish tempat biakan nematoda. Ulat ini mudah diperoleh dan banyak diperjualbelikan di pasar sebagai pakan burung. III. S.Phylum Class Order Family Genus Spesies : Nematoda : Secernentea : Rhabditida : Steinernematidae : Steinernema : Steinernema spp. Metode dan Bahan Nematoda diperbanyak terlebih dahulu dengan menggunakan ulat bambu T. sedangkan . dibiarkan 10 sampai 20 menit. rufivena. Ujung kain kassa tersebut menyentuh permukaan air aquadest yang terdapat dalam petridish. Ulat diletakkan sebanyak 3 5 ekor ke dalam petridish kemudian ditetesi 1 ml cairan yang berisi nematoda muda fase infektif. Petridish tersebut ditutup dengan penutup petridish yang telah dilapisi dengan kertas filter yang dibasahi dengan aquadest untuk menjaga kestabilan kelembaban dalam petridish tersebut.carpocapsae fase 3 akan keluar dari hostnya untuk mencari host yang baru. Petridish ini ditempatkan pada tempat penyimpanan selama 2 3 hari.

Rayap diambil dari pertanaman kelapa sawit Kebun Manduamas. Massa dauer dalam air diambil dengan pipet dengan menghitung jumlah nematoda yang diinginkan sesuai dengan perlakuan. 3.fase sebelumnya berada di dalam tubuh host yang lama. Mortalitas dihitung dengan menggunakan rumus Mortalitas = (jumlah rayap sesuai dengan perlakuan jumlah rayap yang masih hidup) x 100%. Kertas filter ini terlebih dahulu dibasahi dengan aquadest sampai lembab. 4 hari setelah infestasi (HSI) sesuai dengan metode Hatsukade (1994). Cara ini digunakan untuk memudahkan nematoda keluar dari ulat dan masuk ke dalam air. Untuk infestasi nematoda digunakan toples ukuran diameter 15 cm. Tapanuli Tengah. Untuk mendorong agar nematoda lebih cepat keluar dari hostnya. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam dan perlakuan yang berbeda nyata dilanjutkan dengan uji jarak Duncan dengan tingkat kepercayaan 95%. Pengamatan mortalitas dilakukan setelah 1. Dalam tubuh nematoda terdapat bakteri yang hidup bersimbiosis dengan S. tinggi 20 cm yang telah dilapisi dengan kertas filter. maka ditambahkan air aquadest sehingga air dalam petridish benar-benar menyentuh ujung kain kassa. Ke dalam toples ini dimasukkan nematoda muda fase infektif sesuai dengan perlakuan. Setelah 10 menit kemudian. Carpocapsae (Kaya 1996). Penyebab kematian rayap bukan saja disebabkan sifat nematoda yang patogenik tetapi juga karena sifat parasitik. . 2. dimasukkan pula rayap sesuai dengan jumlah yang telah ditentukan.

D samping sifat parasitik S. . maka S. Hidup rayap yang berkelompok dan membentuk koloni memungkinkan bagi individu yang terinfeksi nematoda dapat tertular pada individu yang sehat sehingga kepadatan populasi rayap tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah nematoda S.carpocapsae dengan menumpangkan hidupnya dan mengambil makanan dar tubuh rayap juga sifat patogenik dari bakteri Xenorhabdus nematophilus yang hidup bersimbiosis dan berada di dalam usus nematoda. Saf-T-Shield. maka terjadi kematian pada rayap tersebut. yang diperdagangkan dengan nama Spear. Bila toksin ini dilepas ke dalam tubuh rayap. Bakteri ini melepaskan toksin yang sangat beracun. karena nematoda ini juga banyak terdapat di daerah tropik dan juga dapat hidup di dalam tanah. Bila keadaan lingkungan cukup baik.carpocapsae yang diinfestasikan. carpocapsae sebagai agen hayati rayap memiliki prospek yang cerah di masa depan. Insektisida ini digunakan untuk membunuh semua bentuk rayap (Sastroutomo. 1992). carpocapsae dapat hidup dan berkembang dengan baik dan bisa diandalkan sebagai agen pengendali hayati rayap. terutama bila suhu tidak terlalu panas dan didukung pula oleh sifat fisik tanah yang sesuai. IV. Daftar pustaka Cacing yang pertama kali didaftarkan sebagai insektisida ialah Neoplectana carpocapsae. Penggunaan S.

http://edukasi.go.deptan.com/2010/04/11/biopestisida/ http://biologyeastborneo.com/wpcontent/uploads/2011/08/controlling-termite-usingnematoda.php?optio n=com_content&view=article&id=120:steinernema-sppagen-hayati-pengendali-hama-uret-tebu-lepidiotastigma&catid=15:home .kompasiana.pdf http://ditjenbun.id/perlindungan/index.