BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Kemajuan teknologi membawa dampak yang sangat siginifikan dalam penyebarluasan informasi dari pihak yang satu kepada pihak yang lain. Penyampai pesan mempunyai banyak pilihan untuk dapat

menyampaikan pesannya kepada pihak lain dengan cepat dan jelas, sedangkan masyarakat akan dapat lebih mudah mendapatkan informasi yang dibutuhkannnya. Era baru perlindungan konsumen di Indonesia ditandai dengan disahkannya Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Undang-Undang ini menempatkan perlindungan konsumen ke dalam suatu koridor sistem hukum perlindungan konsumen yang merupakan bagian dari sistem hukum nasional. Sementera tentang kemetrologian disahkan jauh sebelumnya yaitu Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1981 Tentang Metrologi Legal. Karena Pengaturan tentang metrologi menjadi semakin penting karena tertib ukur, di segala bidang menyangkut juga segi keamanan bagi manusia sendiri. Agenda Nasional Pembangunan Perlindungan Konsumen Sejalan dengan agenda prioritas pembangunan nasional antara lain mengarahkan perlunya upaya pengamanan perdagangan dalam negeri dan perlindungan konsumen. Upaya tersebut secara sinergi dan simultan dilakukan melalui

1

program pemberdayaan konsumen, penguatan kapasitas kelembagaan, optimalisasi pengawasan barang beredar dan jasa serta kemetrologian. Dalam konteks pemberdayaan konsumen, penguatan kapasitas kelembagaan perlindungan konsumen, yang terkait juga dengan peningkatan kesadaran dan tanggung jawab pelaku usaha, terdapat 10 sasaran kebijaksanaan yang ingin dicapai yang terbentuk dari 1 (satu) tujuan pokok dan 9 (sembilan) sasaran yaitu : Tujuan Pokok: Terpenuhinya harapan konsumen Konsumen pada hakekatnya melakukan transaksi dengan beberapa harapan, terutama dalam memperoleh produk atau layanan yang sebaik-baiknya dalam hal kualitas, jumlah serta harga yang kompetitif, dan dengan kondisi-kondisi yang sebaik-baiknya. Konsumen juga memiliki harapan yang mendasar mengenai produk atau jasa yang dikonsumsinya memenuhi persyaratan kesehatan,

keselamatan dan keamanan. 9 Sasaran : Konsumen Mempunyai Akses yang Efektif Terhadap Informasi Konsumen yang cerdas dan mandiri karena memiliki informasi yang benar, cenderung lebih kritis dan efektif bertransaksi. Pemerintah berupaya untuk meningkatkan aksestabilitas masyarakat terhadap informasi-informasi yang berkaitan dengan transaksi. Kepastian hukum bagi konsumen dan pelaku usaha Kepercayaan konsumen terhadap pasar bersifat saling memperkuat, dimana pasar yang ”bersahabat” dengan konsumen akan membangun kepercayaan konsumen dan sebaliknya. Kepercayaan tersebut pada gilirannya menimbulkan efek bola salju yang positif, baik bagi kalangan pelaku usaha maupun konsumen. Untuk itu diperlukan keberadaan regulasi, hukum dan lembaga perlindungan 2

konsumen yang berkredibilitas dan dipercaya oleh konsumen dan mereka yang beraktifitas di pasar. Akses Pemulihan yang Efektif Konsumen mempunyai akses pemulihan ( redress ) yang responsif dan penanganannya efektif dalam menghadapi pengaduan mereka. Keberadaan jalur, mekanisme-prosedur, dan instrumen hukum perlindungan konsumen yang memadai akan membawa pada perilaku konsumen yang kritis, berani dan mandiri. Akses ini meliputi antara lain: jalur komunikasi antara konsumen dan pelaku usaha, akses layanan pengaduan atau penyelesaian sengketa serta pemenuhan ganti rugi melalui mediasi atau arbitrasi secara non litigasi, termasuk akses melalui lembaga peradilan. Masyarakat, Pranata Masyarakat dan Dunia Usaha proaktif dalam upaya Perlindungan Konsumen Pemerintah memerlukan dukungan dan keterlibatan masyarakat, pranata masyarakat dan dunia usaha agar dapat membangun perlindungan konsumen secara berkelanjutan. Data dan Informasi yang cukup untuk perencanaan dan perumusan kebijakan Keberadaan data dan informasi yang memadai, akurat serta berkredibilitas adalah keharusan bagi pengembangan kebijakan dan pengambilan keputusan yang tepat. DPK bersama stakeholder perlindungan konsumen lainnya perlu melakukan inventarisasi, kalibrasi dan analisa data dan informasi dalam upaya bersama memberdayakan konsumen. Perumusan dan pelaksanaan kebijakan didasarkan atas prinsip perlindungan konsumen yang disepakati Upaya perlindungan konsumen mensyaratkan keterlibatan yang didasari 3

prinsip-prinsip perlindungan konsumen yang disepakati oleh segenap stakeholder perlindungan konsumen (masyarakat, dunia usaha, akademisi, lembaga konsumen, media massa dan pemerintah). Kebijakan, proses produksi, dan distribusi barang serta jasa tidak menjadi sumber/jalur stressor terhadap integritas perlindungan konsumen Integritas perlindungan

konsumen pada hakekatnya berhulu pada kebijakan dan prinsip-prinsip pengelolaan sumber daya ekonomi yang terkait dengan suatu barang dan jasa, pola dan metode produksi serta distribusinya. Lembaga perlindungan konsumen yang berdaya guna Kelembagaan perlindungan konsumen yang kuat akan menjadi mitra Pemerintah sekaligus masyarakat dalam upaya pemberdayaan, penegakan hukum sekaligus penasehat atau pertimbangan kebijakan pelaksanaan perlindungan

konsumen di Indonesia. Lembaga-lembaga konsumen perlu meningkatkan peran dan fungsinya, baik secara mandiri maupun bermitra dengan pemerintah. Lalu lintas barang dan/atau jasa di/ke/dari Indonesia terpantau dan terkendali Asas keselamatan, kesehatan dan keamanan manusia menjadi asas tertinggi dalam kebijakan perlindungan konsumen. Epidemi lintas batas negara bangsa seperti kasus mad cow (sapi gila) atau avian influenza (flu burung) merupakan contoh terkini vitalnya kemampuan pantau dan kendali barang/jasa ini bagi kemashalatan bangsa. Sehubungan dengan hal tersebut Perlu adanya Penguatan Kapasitas Kelembagaan Pemberdayaan Konsumen, Optimalisasi Pengawasan Barang Beredar dan Jasa Serta Kemetrologian.

4

1.2

RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, dapat dirumuskan suatu permaslahan : 1. Bagaimana Penguatan Kapasitas Kelembagaan Pemberdayaan

Konsumen pada Seksi Metrologi dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Mojokerto 2. Bagaimana Optimalisasi Pengawasan Barang Beredar dan Jasa Serta Kemetrologian pada Seksi Metrologi dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Mojokerto

1.3

MANFAAT Adapun manfaat dari karya tulis ini adalah : 1. Dapat mengetahui bagaimana Kapasitas Kelembagaan Pemberdayaan Konsumen pada Seksi Metrologi dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Mojokerto serta upaya-upaya penguatannya. 2. dapat mengoptimalisasi Pengawasan Barang Beredar dan Jasa Serta Kemetrologian pada Seksi Metrologi dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Mojokerto

1.4

Batasan Pembahasan karya tulis ini terbatas pada adalah : 1. Kapasitas Kelembagaan Pemberdayaan Konsumen pada Seksi Metrologi dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan 5

6 . LSM mitra kerja. dan uraian lain tentang perlindungan konsumen dan kemetrologian. Optimalisasi Pengawasan Barang Beredar dan Jasa Serta Kemetrologian diawali dengan pengertian. berikut rincian tugas pokok dan fungsi (tupoksi). 2.Perdagangan Kabupaten Mojokerto.

seperti televisi. produsen selaku pemilik barang dan/atau jasa menyampaikan permintaan atau pesan yang baik menyangkut bentuk maupun isi iklan. radio. 7 . kegiatan promosi melibatkan 4 (empat) pihak. agar biro iklan mendisain atau memoles bentuk atau isi iklan sesuai dengan keinginan/selera produsen. Menurut Undang-Undang No. yaitu: 1. Dalam dunia usaha. promosi adalah kegiatan pengenalan atau penyebarluasan informasi suatu barang dan/atau jasa. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK). Dalam pelaksanaannya. Produsen. Penyampai pesan mempunyai banyak pilihan untuk dapat menyampaikan pesannya kepada pihak lain dengan cepat dan jelas. media ruang.1 Konsumen dan Perlindungan Konsumen Kemajuan teknologi membawa dampak yang sangat siginifikan dalam penyebarluasan informasi dari pihak yang satu kepada pihak yang lain. Dalam hal ini penyebarluasan informasi atas suatu barang dan/atau jasa dapat dilakukan dalam bentuk iklan seperti yang ditayangkan melalui media elektronik.BAB II LANDASAN TEORI 2. sedangkan masyarakat akan dapat lebih mudah mendapatkan informasi yang dibutuhkannnya. brosur dan lain-lain. untuk menarik minat beli konsumen terhadap barang dan/atau jasa yang akan dan sedang diperdagangkan. penyampaian pesan dari produsen kepada konsumen disebut dengan promosi.

3. yang telah dipoles oleh biro iklan. Era baru perlindungan konsumen di Indonesia ditandai dengan disahkannya Undang-Undang No. Undang-Undang ini menempatkan perlindungan konsumen ke dalam suatu koridor sistem hukum perlindungan konsumen yang merupakan bagian dari sistem hukum nasional. biro ini bertugas untuk mendisain iklan baik mengenai bentuk dan isinya. 2. Kreatifitas biro iklan ini. dan 4. Media Iklan. Konsument. Pengertian konsumen terdapat dalamUndang-undang tentang Perlindungan Konsumen yaitu Undang-undang Nomor 8 Tahun1999 yang selanjutnya disebut Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Konsumen. maka Badan Pembinaan Hukum Nasional bermaksud mengadakan kegiatan kompilasi terhadap perlindungan konsumen terutama dalam kaitannya dengan kegiatan promosi dan periklanan suatu barang. media ini hanya bertugas untuk menayangkan barang dan/atau jasa. selaku pihak yang menjadi target dari penyampaian iklan.2. Sedangkan para ahli hukum mengartikan konsumen sebagai pemakai terakhir dari benda dan jasa yang diserahkan kepada mereka oleh penguasa. akan sangat berpengaruh untuk menarik minat konsumen membeli produk yang ditawarkan. Biro Iklan.1. Sehubungan dengan hal tersebut. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.1 Pengertian Perlindungan Konsumen Istilah konsumen berasal dari bahasa Belanda. berlaku pada bulan 8 .

. dapat dihabiskan maupun tidak dihabiskan. dipakai. handled. undang-undang tersebut memberikankonsumen eceran dengan perlindungan tambahan dan solusi umumnya tidak 9 . or described. atau yang dijelaskan. Dalam Black s Law Dictionary edisi 6 dikatakan bahwa : "Consumer protection refers to laws designed to aid retail consumers of goods and services that have been improperly manufactured. Yang dimaksud dengan perlindungan konsumen adalah "segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen . baik bergerak maupun tidak bererak. Sedangkan jasa adalah setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau prestasi yang disediakan bagi masyarakat untuk dimanfaatkan oleh konsumen. bahwa yang dimaksud konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/jasa yang tersedia dalam masyarakat. performed. Such laws provide the retail consumer with additional protections and remedies not generally provided to merchant and others who engaged in business transactions. Yang dimaksud barang adalah setiap benda baik berwujud maupun tidak berwujud. dipergunakan atau dimanfaatkan oleh konsumen. Dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen tersebut pengertian konsumen diatur dalam Pasal 1 angka 2. disampaikan. on the premise that consumers do not enjoy an arms-length" bargaining position with respect to the businessmen with whom they deal and therefore should not be strictly limited by the legal rules that govern recovery for damages among businessmen." "Perlindungan konsumen mengacu pada undang-undang yang dirancang untuk membantu konsumen ritel barang dan jasa yang telah benar diproduksi.dilakukan. ditangani.April 2000. Jadi pengertian konsumen yang dimaksud di sini adalah konsumen akhir. delivered. yang dapat diperdagangkan.

hingga akibat yang terjadi setelah barang dan jasa tersebut dipergunakan oleh konsumen. importer.Ada dua jenis perlindungan yang diberikan kepada konsumen. yaitu perlindungan priventlf dan perlindungan kuratif Perlindungan preventif adalah perlindungan yang diberikan kepada konsumen pada saat konsumen tersebut akan membeli atau menggunakan atau memanfaatkan suatu barang dan atau jasa 1 Black's Law Dictionary 6th ed. sedangkan upaya selanjutnya disebut dengan upaya kuratif. yaitu upaya perlindungan pada saat konsumen tersebut mulai melakukan proses pemilihan serangkaian atau sejumlah barang dan atau jasa disebut upaya preventif. distributor penjual dan setiap pihak yang berada dalam jalur perdagangan barang dan jasa ini.diberikankepada pedagang dan lain-lain yang terlibat dalam transaksi bisnis. yang pada umumnya disebut dengan nama pelaku usaha. Yang disebut terdahulu. Konsumen dilindungi dari setiap tindakan atau perbuatan dari produsen barang dan atau jasa."1 Jadi perlindungan konsumen ini adalah suatu upaya (dalam lapangan hukum) yang diberikan kepada konsumen pada saat konsumen tersebut mulai melakukan proses pemilihan serangkaian atau sejumlah barang dan atau jasa tersebut dan selanjutnya memutuskan untuk menggunakan barang dan jasa dengan spesifikasi tertentu dan merek tertentu. (West Publishing. pada premisbahwa konsumen tidak menikmati panjang-senjata "posisi tawar terhadap pengusahadengan siapa mereka berhubungan dan karena itu tidak harus benar-benar dibatasioleh aturan-aturan hukum yang mengatur pemulihan atas kerusakan di kalanganpengusaha. 1990) 10 .

tertentu. cukup jika orang tersebut adalah pengguna atau pemanfaat atau penikmat dari suatu barang atau jasa. Aziz Nasution memberikan batasan tentang konsumen. Menurutnya yang dimaksud dengan konsumen antara adalah setiap orang yang mendapatkan barang dan/ atau jasa untuk digunakan dengan tujuan komersial. meskipun pada umumnya konsumen adalah mereka yang membeli suatu barang atau jasa. Perlindungan kuratif adalah perlindungan yang diberikan kepada konsumen sebagai akibat dari penggunaan atau pemanfaatan barang atau jasa tertentu oleh konsumen. mulai melakukan proses pemilihan serangkaian atau sejumlah barang dan atau jasa tersebut dan atau selanjutnya atau memutuskan untuk membeli. Menurutnya konsumen pada umumnya adalah setiap orang yang mendapatkan barang atau jasa digunakan untuk tujuan tertentu.Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa konsumen belum tentu dan tidak perlu serta tidak boleh dipersamakan dengan pembeli barang dan atau jasa. tidak peduli ia mendapatkannya melalui pembelian atau pemberian. Konsumen masih dibedakan lagi yaitu konsumen antara dan konsumen akhir. sedangkan konsumen akhir adalah setiap orang yang mendapatkan dan menggunakan barang dan/ atau jasa untuk tujuan memenuhi kebutuhan hidupnya 11 . Dalam hal ini seseorang dikatakan konsumen. menggunakan memanfaatkan barang dan jasa dengan spesifikasi tertentu dan merek tertentu tersebut.

wikipidie.Wikipedia bahasa Indonesia. keluarga.51) 5 Ibid. mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari ekses negatif pemakaian barang dan jasa. Direktorat Perlindungan Konsumen Republik Indonesia 4 . (diunduh tanggal 11 Februari 2011 pk. 1995. baik bagi kepentingan diri sendiri. Sebagai contoh. Ensiklopedia Bebas. dari itu. Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen. Konsumen dan Hukum : Tinjauan Sosial. www.pribadi.3 Jika tujuan pembelian produk tersebut untuk dijual kembali (Jawa: kulakan).Konsumen.com. orang lain.4 Perlindungan konsumen adalah perangkat hukum yang diciptakan untuk melindungi dan terpenuhinya hak konsumen. 11. oleh karena itu produsen yang memiliki prinsip holistic marketing sudah seharusnya memperhatikan semua yang menjadi hak-hak konsumen. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan. keluarga dan/atau rumah tangga dan tidak untuk diperdagangkan kembali. menentukan dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen. maka dia disebut pengecer atau distributor. meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih.5 Berdasarkan UU Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Nah. 3 UU Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Azis.2 Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat. para penjual diwajibkan menunjukkan tanda harga sebagai tanda pemberitahuan kepada konsumen. kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri. perlindungan konsumen fokusnya bertujuan pada usaha meningkatkan kesadaran. 2 Nasution. dan Hukum Pada Perlindungan Konsumen Indonesia. 12 . Ekonomi. Pada masa sekarang ini bukan suatu rahasia lagi bahwa sebenarnya konsumen adalah raja sebenarnya.

telah diatur secara jelas. hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan jasa yang digunakan. hak untuk mendapatkan advokasi. dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan jasa. keamanan.Sebenarnya. Kemudian di dalam UU Perlindungan Konsumenpun. konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggungjawab dalam berusaha. dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan jasa. kenyamanan. Konsumen mempunyai hakatas kenyamanan. Kemudian konsumen berhak pula atas informasi yang benar. kewajiban mereka untuk meningkatkan kualitas barang dan jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang dan jasa. hak untuk memilih barang dan jasa serta mendapatkan barang dan jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan. diatur tentang pelarangan bagi pelaku usaha yang tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal. Hak-hak konsumen dalam UU Nomor 8 Tahun 1999. sebagaimana pernyataan “halal” yang dicantumkan dalam label. jelas. adanya UU ini cukup representatif apabila telah dipahami oleh semua pihak. 13 . karena di dalamnya juga memuat tentang upaya menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi. menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan. keamanan dan keselamatan konsumen. kesehatan.

dan sebagainya. ganti rugi atau penggantian apabila barang dan jasa yang diterima tidak sesuai kualitasnya atau tidak sebagaimana mestinya. ganti rugi dan atau penggantian. hak untuk mendapatkan kompensasi. Untuk itu mesti di bangun gerakan secara massif antar elemen masyarakat yang care terhadap advokasi kepentingan konsumen. hak untuk mendapatkan kompensasi. hak untuk memilih barang dan atau jasa serta mendapatkan barang dan atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan.perlindungan. Namun. dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut. apabila barang dan atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. keamanan. dasar hukum 14 .1.2 Perangkat Hukum Perlindungan Konsumen Undang-undang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen menjelaskan bahwa hak konsumen diantaranya adalah hak atas kenyamanan. 2. memang pada realitanya. Ini karena mereka belum memahami hak-hak mereka dan terkadang sudah menganggap itu persoalan biasa saja. terkadang konsumen seringkali berada pada posisi yang kurang menguntungkan dan daya tawarnya lemah. hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif. dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan atau jasa.

1. 2. 42 Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia No. Pasal 27 . 30 Tahun 1999 Tentang Arbritase dan Alternatif Penyelesian Sengketa 5. pasal 21 ayat (1). 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1999 No. 795 /DJPDN/SE/12/2005 tentang Pedoman Pelayanan Pengaduan Konsumen.3 Asas dan Tujuan Hukum Perlindungan Konsumen 15 . Pasal 21 ayat (1). 5 tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Usaha Tidak Sehat.yang menjadikan seorang konsumen dapat mengajukan perlindungan adalah: 1. Undang Undang No. Surat Edaran Dirjen Perdagangan Dalam Negeri No. 58 Tahun 2001 tentang Pembinaan Pengawasan dan Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen 6. dan Pasal 33. Undang Undang No. 235/DJPDN/VII/2001 Tentang Penangan pengaduan konsumen yang ditujukan kepada Seluruh dinas Indag Prop/Kab/Kota 7. 2. Surat Edaran Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri No. Undang Undang No. Undang Undang Dasar 1945 Pasal 5 ayat (1). 3821 3. Peraturan Pemerintah No. 4.

kesehatan. menentukan dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen. 3) Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih. kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri. mengamanatkan bahwa segala upaya penyelenggaraan manfaat 16 perlindungan konsumen bagi harus memberikan sebesar-besarnya kepentingan . keamanan dan keselamatan konsumen. 2) Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari ekses negatif pemakaian barang dan/atau jasa. Sedangkan asas-asas yang dianut dalam hukum perlindungan konsumen sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 UU PK adalah : 1) dalam Asas Manfaat. 5) Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggungjawab dalam berusaha. 4) Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi. tujuan dari Perlindungan Konsumen adalah : 1) Meningkatkan kesadaran. 6) Meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang dan/atau jasa. kenyamanan.Sesuai dengan pasal 3 Undang-undang Perlindungan Konsumen.

pelaku usaha serta pemerintah dapat terwujud secara seimbang. memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen. konsumen dan pelaku usaha. Asas ini mengandung makna bahwa penerapan UU PK harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada kedua pihak. partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan secara maksimal dan memberikan kesempatan ke dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya secara adil. tidak ada pihak yang lebih dilindungi. pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau digunakan. Kedua belah pihak harus memperoleh hak-haknya. Sehingga tidak ada satu pihak yang kedudukannya lebih tinggi dibanding pihak lainnya. dan pemerintah dalam arti materiil ataupun spiritual.konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan. Penerapan asas ini dapat dilihat di Pasal 4 – 7 UU PK yang mengatur mengenai hak dan kewajiban konsumen serta pelaku usaha. 3) Asas Keseimbangan. 4) Asas Keamanan dan Keselamatan Konsumen. Diharapkan melalui asas ini konsumen dan pelaku usaha dapat memperoleh haknya dan menunaikan kewajibannya secara seimbang. pelaku usaha. 2) Asas Keadilan. memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan ke dalarn penggunaan. Diharapkan penerapan 17 . melalui penerapan asas ini. diharapkan kepentingan konsumen.

4) Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan. jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa. keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa. 18 . baik pelaku usaha maupun konsumen mentaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen. dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau digunakan.UUPK akan memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan konsumen dalam penggunaan. 2) Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan. 3) Hak atas informasi yang benar. Dimaksudkan agar baik konsumen dan pelaku usaha mentaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen.1. Hak-hak Konsumen adalah : 1) Hak atas kenyamanan. serta negara menjamin kepastian hokum 2.4 Hak dan kewajiban konsumen Sesuai dengan Pasal 5 Undang-undang Perlindungan Konsumen. pemakaian. Asas Kepastian Hukum. serta negara menjamin kepastian hukum.

apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.go. 9) Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundangundangan lainnya. perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut. ganti rugi/penggantian. 8) Hak untuk mendapatkan kompensasi.5) Hak untuk mendapatkan advokasi. 6) Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen.bpkn. 3) Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati.2 Tinjauan Tentang Kemetrologian Permasalahan mengenai segala sesuatu dalam ukur-mengukur. 7) Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif.6 2. Kewajiban Konsumen adalah : 1) Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa. (diunduh tanggal 11 Februari 2011 pk. 2) Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa. takar-menakar dan timbang-menimbang secara luas yang lazim disebut 6 Badan Perlindungan Konsumen Nasional.id.51) 19 . Kewajiban Konsumen Sesuai dengan Pasal 5 Undangundang Perlindungan Konsumen. demi keamanan dan keselamatan. 11. 4) Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut.. Hak-hak dan Kewajiban Konsumen: www.

panyinaran. suara polusi. caracara atau metoda pengukuran dan alat-alat ukur. kesaksamaan dan kebenarannya.dosis obat-obatan. suntikan. Metrologi yang berhubungan dengan satuan-satuan ukuran.pengukuran dalam navigasi dan lain sebagainya. . sifatnya. Dengan masa peralihan selama 10 (sepuluh) tahun. di segala bidang menyangkut juga segi keamanan bagi manusia sendiri. yang dalam pelaksanaannya adalah 15(lima belas) tahun. . timbangan dan perlengkapannya dengan menggunakan satuan Sistem Internasional (SI) yang juga disebut Sistem Metrik Modern. antara lain : . maka di Indonesia sejak 1 Januari 1938 secara resmi berlaku Satuan Sistem Metrik dalam 20 . suhu manusia. Pengaturan tentang metrologi menjadi semakin penting karena tertib ukur. timbang dan perlengkapannya dan syarat-syarat teknik serta peraturan-peraturan pelengkap yang ditetapkan dalam atau berdasarkan Undang-undang yang bertujuan untuk dan kebenaran pengukuran disebut "metrologi legal" (legal metrology atau metrologie legale).pengukuran tekanan darah. Usaha penyeragaman itu di Indonesia sudah dilakukan sejak tahun 1923 secara bertahap. takaran.permasalahan "metrologi" mencakup semua teori maupun praktek yang berhubungan dengan pengukuran yaitu macamnya. takar. Selain itu tertib ukur juga meliputi usaha penyeragaman Sistem Satuan dalam ukuran.

sehingga sampai tahun 1980 pengikut Konvensi Meter telah bertambah menjadi 46 (empat puluh enam) negara. Di dalam mencapai tujuannya. Forum tertinggi dari OIPM adalah Konperensi Umum untuk Ukuran dan Timbangan (la Conference Generale des Poids et Mesures disingkat CGPM) yang membawahi langsung suatu Komite Internasional untuk Ukuran dan Timbangan (le Comite International des Poids et Mesures disingkat CIPM). kati dan lain sebagainya. CIPM 21 bertugas melaksanakan dan . Negara.negara lain kemudian menggabungkan diri dalam konvensi itu. Tujuan utama dari konvensi Meter adalah mencari dan menyeragamkan satuansatuan ukuran dan timbangan. Dalam memasyarakatkan materi Undang-undang ini agar tercapai tertib ukur di segala bidang akan dilakukan dengan pendekatan yang persuasif dan edukatif. termasuk Indonesia yang menggabungkan diri pada Konvensi Meter itu dalam tahun 1960.ukuran. maka organisasi dari negara pengikut Konvensi Meter merupakan suatu Organisasi lnternasional untuk Ukuran dan Timbangan (la Organisation Internasionale des Poids et Mesures disingkat OIPM). takaran. Pada tanggal 20 Mei 1875 oleh utusan 17 (tujuh belas) Negara telah ditandatangani "Konvensi Meter" (la Convention du Metre) di Paris. Disadari bahwa ukuran traditional beserta alat-alatnya adalah terbatas penggunaannya dan secara bertahap masyarakat akan membiasakan diri dengan satuan ukuran seperti tercantum dalam Undang-undang ini. timbangan dan perlengkapannyang menggantikan Satuan Sistem tradisional seperti elo.

mempersiapkan keputusan-keputusan dari CGPM. Selain itu CIPM juga memimpin suatu aparat yang disebut Biro lnternasional untuk Ukuran dan Timbangan (le Bureau International des Poids et Mesures disingkat BIPM). BAB III PEMBAHASAN 22 .

Mengawasi penggunaan ukuran. 23 .3. Melaksanakan pengawasan terhadap Stasiun Pompa Bensin Umum (SPBU). timbangan dan perlengkapannya. takaran. 8. Melaksanakan penyuluhan tentang kemetrologian kepada masyarakat. takar. Melaksanakan analisa dan alat-alat ukur. timbangan dan perlengkapannya yang berkaitan dengan kemetrologian.1 Tugas Pokok dan Fungsi Seksi Metrologi dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Mojokerto Sebagaimana peraturan Bupati Mojokerto Nomor 55 Tahun 2008 tentang Penjabaran Tugas Pokok dan Fungsi Organisasi dan Tata Kerja Dinas Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Mojokerto. 3. 7. Melaksanakan pembinaan kepada pengusaha dan reparatur alat-alat ukur. timbangan dan perlengkapannya. takar. Melaksanakan pengawasan terhasap barang beredar di pasaran. 4. Melaksanakan pengawasan terhadap Barang Dalam Keadaan Terbungkus (BDKT). 6. pada pasal 13 huruf 3 disebutkan bahwa Tugas Pokok dan Fungsi Seksi Metrologi dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Mojokerto adalah : 1. Melaksanakan pos ukur ulang terhadap timbangan yang baru ditera-tera ulang. 5. 2.

9. Melaksanakan evaluasi dan menyusun laporan. 2. 10. Pembinaan penyelenggaraan perlindungan konsumen. Melaksanakan perlindungan konsumen terhadap penyalahgunaan alat-alat ukur. 12. takar. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK) telah memberikan legitimasi terhadap keberadaan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat. Tugas lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat meliputi kegiatan: a. 3. menyebarkan informasi dalam rangka meningkatkan kesadaran atas hak dan kewajiban dan kehati-hatian konsumen dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa. timbangan dan perlengkapannya. 24 . 11. Melaksanakan tugas-tugas kedinasan lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Bina Usaha Perdagangan 3. Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat memiliki kesempatan untuk berperan aktif dalam mewujudkan perlindungan konsumen. b. memberikan nasihat kepada konsumen yang memerlukannya. Dalam Pasal 44 disebutkan bahwa: 1. Pemerintah mengakui lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat.2 Perwakilan Konsumen (Consumers Representative) dan Resistensinya Undang-Undang No.

42-43.c. melakukan pengawasan bersama pemerintah dan masyarakat terhadap pelaksanaan perlindungan konsumen. Ketentuan lebih lanjut mengenai tugas lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dalam Peraturan Pemerintah. .7 Di bidang perlindungan konsumen (the field of consumer protection). termasuk d. The Consumers’Association17.Textbook on Consumer Law. hal. membantu konsumen dalam memperjuangkan haknya. meskipun masih dirasakan sangat terbatas serta melakukan pemantauan (monitoring) isu-isu konsumerisme. London: Blackstone Press Ltd. LSM ini sudah terbiasa melakukan tugas-tugas pelayanan dan pendampingan para korban. Di Indonesia peran sebagaimana dimaksud Undang-Undang Perlindungan Konsumen tersebut. sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau organisasi perlindungan konsumen yang sudah mengalami pasang-surutnya perlindungan konsumen di Indonesia. 2000. seperti: The Citizens’ Advice Bureaux (CABx)8. 1997. Perlindungan Konsumen dan Instrumen-instrumen Hukumnya Bandung: Citra Aditya Bakti. dan The National Federation of Consumer Groups (NFCG). peran yang serupa sudah sangat lama dilakukan National Association of Victim Support Schemes (NAVSS). 25 .ke-1. Cet. juga dilakukan oleh badan-badan suka rela (voluntary bodies). bekerja sama dengan instansi terkait dalam upaya mewujudkan perlindungan konsumen.244. dan The British Standard 7 Yusuf Shofie. 8 David Oughton dan John Lowry. 4. hal. antara lain telah dilakukan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

yang oleh Erna Witoelar diartikan sebagai keikhlasan untuk menolong dan memberi sebagian harta. 2000. seperti: pemberian kompensasi dan ketentuan-ketentuan bagi korban di pengadilan. melainkan juga ada suatu keperdulian kepada siapa. 26 . sampai tahun 1991 dengan 370 skim/pola/rencana yang tergabung. informasi atau dengan berbagai cara pemberian pelayanan bantuan kepada konsumen (provide services of assistance to consumers).9 Undang-Undang Perlindungan Konsumen merupakan salah satu kemajuan yang diperoleh melalui advokasi seperti itu selama lebih dari 25 tahun. Advokasi-advokasi yang telah dilakukan itu dapat disebut sebagai “filantropi” (philanthropy). Dukungan yang diberikan Victim Support kepada para korban semula merupakan suatu kedermawanan (charity) yang diwujudkan dalam bentuk pemberian dukungan individual kepada para korban dengan tujuan perbaikan ketentuan-ketentuan pelayanan bagi korban dan melakukan kampanye tentang hal-hal yang berkaitan korban. Merubah Kebijakan Publik: Panduan Pelatihan Advokasi untuk Organisasi Non Pemerintah. Pelaksanaannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. dan INSIST. dimana 7.iii-vi. yang memberikan advis. untuk 9 Mansour Fakih dan Toto Rahardjo (ed). REaD. filantropi tidaklah sekedar memuaskan keinginan untuk memberi. hal. tenaga maupun pikiran secara suka rela untuk kepentingan orang lain.Institution (BSI).000 volunter lembaga ini. telah menghubungi 600. NAVSS yang menerima dukungan finansial dari pemerintah.000 ribu korban tindak pidana.

Secangkir Kopi Max Havelaar: LSM dan Kebangkitan Masyarakat. 27 . mendorong. dan sebagainya. dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen mengingatkan kita pada keinginan Pemerintah Orde Baru untuk mengatur LSM dengan sebuah Keputusan Presiden (Keppres) yang mengacu pada sejumlah peraturan perundang-undangan terkait. Keinginan mengatur Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM).apa. dan dampak apa dari pemberian tersebut benar-benar membawa manfaat bagi yang menerima..). serta memberi insentif bagi upaya filantropi. 1995. Pengaturan dilakukan guna mempermudah.5-6. yang pokok-pokok persoalannya telah disosialisasikan dalam Forum Komunikasi antara Pemerintah dan LSM pada awal Februari 1994. 134-137. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 11 Zaim Saidi. komersial. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. serta mencegah penyalahgunaan filantropi untuk kepentingan pribadi. Filantropi dan Hukum di Asia: Tantangan untuk Indonesia. hal. pengaturan kegiatan-kegiatan filantropi sudah diatur dengan undang-undang di banyak negara. sebutan Undang-Undang Perlindungan Konsumen terhadap Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).11 Dalam perkembangannya lebih lanjut. resistensi terhadap kegiatankegiatan filantropi yang dilindungi Undang-Undang Perlindungan Konsumen ini semakin mengemuka setelah berlakunya Undang-Undang No. 1999. politik..18 Tahun 2003 tentang Advokat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 No. Jakarta: Asia Pasific Philantrophy Consortium. hal.10 Menurut Witoelar. 4282). Terutama Pasal 31 UU Advokat berikut ini: “Setiap orang yang dengan sengaja menjalankan pekerjaan profesi Advokat dan bertindak seolah-olah 10 Thomas Silk (ed.49.

However. hal. tetapi bukan Advokat sebagaimana diatur dalam Undangundang ini.” 3.000. Konsep tersebut telah diperluas untuk kebutuhan penegakan hukum. yaitu: seseorang yang mengajukan gugatan harus mempunyai hak dan kualitas sebagai penggugat. 1997).3 Legal Standing (Hak Gugat Organisasi non Pemerintah) Sebagai Bagian dari Penyelesaian Sengketa Konsumen Istilah “Legal Standing” terkait dengan konsep locus standi/prinsip persona standi in judicio (the concept of locus standi). legal entities.69. Doktrin ini sudah sering dan dirujuk dan diikuti dalam berbagai putusan pengadilan di 12 Reaching Justice (Consumer Law for Activists) (Calcutta. that is. Badan hukum (rechtpersoon.000 (lima puluh juta) rupiah.sebagai Advokat. Dalam doktrin hukum perdata sudah lazim dikenal asas tiada gugatan tanpa kepentingan (point d’interet. India: Consumer Unity & Trust Society/CUTS. point d’action). when his personal right has somehow been infringed.12 Hal baru yang sebenarnya menyangkut penegakan hukum. 28 . yaitu: ada tidaknya kepentingan langsung penggugat dengan objek sengketa. jika hak-hak perseorangannya (personal rights) dilanggar. “…he has sufficient interest or locus standi (right to interfere) in respect to the subject matter. Pengadilan telah menunjukkan fleksibilitas (flexibility) yang begitu besar terhadap konsep tersebut. dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 50. Kata seseorang di sini diperluas pada badan hukum. corporation) sebagai subjek penggugat ataupun tergugat bukanlah hal yang sama sekali baru.” Seseorang dianggap mempunyai kepentingan yang memadai (sufficient interest) atau locus standi berkaitan dengan suatu pokok masalah/perkara (subject matter). the concept of having a Legal Standing has been liberalized and the courts have shown a great deal of flexibility.

yaitu: Pelaku Usaha. yaitu: Organisasi non Pemerintah (Ornop) (non gonvernmental organizations. LPKSM itu harus memenuhi persyaratan. Menurut Pasal 46 ayat (1) butir c dan ayat (2) Undang-Undang Perlindungan Konsumen. disingkat NGO) atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang perlindungan konsumen.Indonesia. Namun tanpa kepentingan (langsung) pada objek gugatan. Tak berlebihan bila dikatakan doktrin ini sudah menjadi yurisprudensi tetap. gugatan atas pelanggaran pelaku usaha dapat diajukan Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) di peradilan umum. yaitu: a) berbentuk badan hukum atau yayasan. Istilah “Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)” diusulkan oleh Sarino Mangunpranoto pada pertemuan Ornop yang bergerak di bidang pembangunan pedesaan di Ungaran pada tahun 1978. Subjek penggugat. Pada awalnya diusulkannya nama Lembaga Pembinaan Swadaya Masyarakat. namun 29 . badan hukum (seperti: Yayasan) diperkenankan bertindak sebagai penggugat jika telah memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Sedangkan Subjek tergugat. Konsumen bukanlah subjek penggugat dalam prosedur gugatan Legal Standing ini. b) di dalam Anggaran Dasarnya disebutkan secara tegas tujuan didirikannya organisasi tersebut untuk kepentingan perlindungan konsumen. c) telah melaksanakan kegiatan sesuai anggaran dasar.

dan akhirnya diubah menjadi Lembaga Swadaya Masyarakat. meskipun di lingkungan pergaulan internasional sebutan Ornop (NGO) masih dipakai dan lebih dipahami. Yayasan Kanker Indonesia. Akhirnya disepakati untuk mengganti sebutan Ornop (NGO) dengan sebutan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). misalnya: kelompok-kelompok pencinta alam atau kelompok-kelompok konsumen. disingkat Undang-Undang Perlindungan Konsumen. yaitu:Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).16 tahun 2001 tanggal 6 Agustus 2001 tentang Yayasan sebagaimana diubah terakhir dengan Undang-undang No. Jakarta: Puspa Swara. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.kemudian diubah menjadi Lembaga Pengembangan Masyarakat.13 Ornop dapat berbadan hukum berbentuk yayasan31 sebagaimana dimaksud Undang-undang No.16 Tahun 2001 selanjutnya disebut Undang undang Yayasan. Sejumlah Ornop dengan bentuk “yayasan” sudah lama menjalankan aktivitasnya jauh sebelum Undangundang Yayasan diundangkan. Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI). Diantaranya. 13 Sebastian Saragih. 30 . Undang-undang No.7-8. dan Yayasan Wanita Indonesia Tanpa Tembakau. tidak menggunakan istilah Ornop.28 Tahun 2004 tentang Perubahan UU No. hal. Ada pula Ornop yang tidak berbadan hukum. 1995. Membedah Perut LSM. Yayasan Jantung Indonesia. Yayasan Menanggulangi Masalah Merokok. melainkan menggunakan istilah “Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat” (LPKSM).

secara legalistik formal menurut Undang-Undang Perlindungan Konsumen Pemerintah mengakui lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat (Pasal 44 ayat (1) UndangUndang Perlindungan Konsumen). Yang dimaksudkan “memenuhi syarat”. 2002. 31 . terdaftar dan diakui serta bergerak di bidang 14 Yusuf Shofie. Jadi. Bila semula ada pemahaman bahwa istilah/sebutan Ornop selalu diasosiasikan anti pemerintah. artikel Koran Tempo. di bidang perlindungan konsumen. kini kedua istilah/sebutan melebur jadi satu khusus untuk perlindungan konsumen. “Menyoal Status Lembaga Perlindungan Konsumen”. Diperkirakan perdebatan akan beralih pada istilah “terdaftar” dan “diakui”14 Sebagaimana telah disebutkan terdahulu. tinggal menambahkan “PK” (Perlindungan Konsumen) antara huruf “L” (Lembaga) dan “SM” (Swadaya Masyarakat). 11 Februari 2002.Pasal 1 butir 10 Undang-Undang Perlindungan Konsumen ditentukan bahwa Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) adalah lembaga non-pemerintah yang terdaftar dan diakui oleh Pemerintah konsumen. sedangkan LSM dipahami sebagai istilah/sebutan yang netral. semestinya tak akan ada lagi perdebatan yuridis formal tentang pengggunaan sebutan Ornop dengan LSM. Pembentuk Undang-undang mengintroduksi “lembaga nonpemerintah” dalam batasan LPKSM. yang Istilah mempunyai yang kegiatan menangani perlindungan Perlindungan digunakan Undang-Undang Konsumen tersebut analog dengan istilah LSM. Yang menarik pada batasan LPKSM tersebut. yaitu: antara lain.

Maksud pendaftaran. maka LPKSM tersebut dapat melakukan kegiatan perlindungan konsumen di seluruh wilayah Indonesia. yaitu: sebagai pencatatan dan bukan perizinan (Penjelasan Pasal 2 ayat (1) PP LPKSM). yaitu: (1) terdaftar pada Pemerintah Kabupaten/Kota. 59 tahun 2001 tanggal 21 Juli 1999 tentang Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (disingkat PP LPKSM). Adapun tata cara pendaftaran LPKSM (Pasal 2 ayat 3 PP 32 . Pasal 44 Undang-Undang Perlindungan Konsumen tidak mengatur syarat-syarat tersebut. LPKSM yang sudah terdaftar itu diperkenankan membuka kantor perwakilan atau cabang di daerah lain dan tidak perlu lagi melakukan pendaftaran pada Pemerintah Kabupaten/ Kota dimana kantor perwakilan atau cabang berada.perlindungan konsumen.) Kata “antara lain” di situ berarti masih diperlukan persyaratanpersyaratan lain bagi Ornop yang bergerak di bidang perlindungan konsumen. melainkan melaporkan keberadaan kantor perwakilan atau cabang LPKSM itu. pada ayat (4) nya ditegaskan tugas LPKSM akan diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP). Menurut Pasal 2 ayat (1) PP No. terdapat dua syarat untuk diakui sebagai LPKSM.( Penjelasan Pasal 44 ayat (1) Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Bila kedua persyaratan tersebut telah dipenuhi. Ada tidaknya pengakuan Pemerintah terhadap Ornop perlindungan konsumen didasarkan pada kriteria dipenuhi tidaknya syaratsyarat yang ditentukan. (2) bergerak di bidang perlindungan konsumen sebagaimana tercantum dalam anggaran dasar LPKSM.

(6) tata cara pengangkatan. Penggunaan kata “anggaran dasar” pada Pasal 2 ayat (1) butir b PP LPKSM ini mengingatkan penulis pada kata “anggaran dasar yayasan” sebagaimana dimaksud Pasal 14 Undang-undang Yayasan (UUY). (10) penggabungan dan pembubaran yayasan. (7) hak dan kewajiban anggota Pembina. Keputusan Menteri dimaksud yang telah diterbitkan ternyata direvisi kembali dengan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI No.480/MPP/Kep/6/2002 tanggal 30 Juni 2002 tentang Perubahan atas Keputusan atas Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. dan (11) penggunaan kekayaan sisa likuidasi atau penyaluran kekayaan yayasan setelah pembubaran. 33 .LPKSM) pembatalan pendaftaran LPKSM (Pasal 10 ayat (2) PP LPKSM) akan diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri. 302/MPP/Kep/10/2001 tentang Pendaftaran Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat. (9) ketentuan mengenai perubahan Anggaran Dasar. Melalui ketentuan Pasal 14 UUY ini. (5) cara memperoleh dan penggunaan kekayaan. (3) jangka waktu pendirian. anggaran dasar LPKSM harus sesuai dengan UUY. dan Pengawas. Pengurus dan Pengawas. (2) maksud dan tujuan serta kegiatan untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut. (8) tata cara penyelenggaraan rapat organ yayasan. Pengurus. anggaran dasar yayasan sekurangkurangnya memuat: (1) nama dan tempat kedudukan. dan penggantian anggota Pembina. pemberhentian. Menurut Pasal 14 ayat (2) UUY. (4) jumlah kekayaan awal yang dipisahkan dari kekayaan pribadi pendiri dalam bentuk uang atau benda.

ke-1. Kedua. Alasan pembatalan butir (2) itu terlalu berlebihan. kegiatan penawaran. Pertama. jika LPKSM tersebut: (1) tidak lagi menjalankan kegiatan perlindungan konsumen. promosi dan periklanan barang dan/atau 15 Yusuf Shofie. perbaikan kebijakan yang ditempuh pelaku usaha di dalam berbagai kegiatannya di bidang ekonomi. Penyelesaian Sengketa Konsumen Menurut Undang-undang Perlindungan Konsumen (UUPK): Teori dan Praktek Penegakan Hukum. 2003. tidak jarang keterlibatan/keaktifan Ornop/NGO dengan bekerja sama dengan berbagai instansi pemerintah menunjukkan secara faktual kredibilitas Ornop/NGO di mata Pemerintah dan publik (masyarakat luas). seperti: kegiatan produksi dan/atau perdagangan barang dan/atau jasa. melainkan pelaku usaha.98-101. 34 . Pada kenyataannya. saya menyebut gugatan Legal Standing sebagai Forum hukum Ornop/NGO. Bandung: Citra Aditya Bakti. atau. (2) terbukti melakukan kegiatan pelanggaran ketentuan Undang-Undang Perlindungan Konsumen dan peraturan pelaksanaan Undang-Undang Perlindungan Konsumen. meskipun tanpa lewat gugatan Legal Standing bisa jadi kredibilitas dan konsistensinya mendapatkan apresiasi yang luar biasa di mata publik. kredibilitas dan konsistensi kegiatan- kegiatan/upayaupaya Ornop/NGO diuji secara hukum. Oleh karena itu. hal. Pemerintah membatalkan pendaftaran LPKSM. karena subjek norma-norma Undang-Undang Perlindungan Konsumen bukanlah LPKSM. Tidak berlebihan bila keterlibatan/keaktifan tersebut sebagai pengakuan Pemerintah terhadap Ornop/NGO tersebut. Cet. Terdapat 3 (tiga) hal penting yang ingin dicapai melalui gugatan Legal Standing15.Menurut Pasal 10 ayat (1) PP LPKSM.

gugatan Legal Standing37 dapat ditempuh Ornop/NGO di bidang perlindungan konsumen. seorang ahli hukum terkemuka di Indonesia.jasa. Ia sependapat dengan pertimbangan Majelis Hakim yang mengadili perkara tersebut bahwa gugatan Legal Standing tersebut merupakan upaya penegakan peraturan perundang undangan (baca: lingkungan hidup) agar Tergugat menghormati hak-hak subjektif pihak lainnya. Hak Gugat Organisasi Lingkungan (Environmental Legal Standing) Jakarta: Indonesian Center for Environmental Law/ICEL. menarik untuk dikemukakan di sini pendapat Mas Achmad Santosa. hal. hal. serta kegiatan pasca transaksi penjualan barang dan/atau jasa. Dalam hubungan ini. Kepatuhan pelaku usaha terhadap ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku dalam menjalankan kegiatan di bidang ekonomi merupakan kriteria untuk menilai ada tidaknya perbaikan dan/atau peningkatan kebijakan yang ditempuh pelaku usaha menyangkut kegiatan-kegiatannya tersebut. transaksi dan pasca transasksi barang dan/atau jasa. kegiatan transaksi penjualan barang dan/atau jasa. Sembiring. Pelanggaran 16 Mas Achmad Santosa dan Sulaiman N. baik pada saat pra transaksi. 1997. 35 . Gugatan Legal Standing memberikan status hukum yang sah bagi Ornop/NGO mewakili kepentingan konsumen melakukan gugatan terhadap pelaku usaha yang diduga melakukan pelanggaran satu atau lebih norma Undang-Undang Perlindungan Konsumen. ada tidaknya sikap pro aktif pemerintah terhadap pelanggaran-pelanggaran norma-norma periklanan dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen.28-29. ketika mengkritisi perkara gugatan Legal Standing (hak gugat organisasi) di bidang lingkungan dalam perkara antara Yayasan WALHI vs PT Inti Indorayon Utama (PT IIU).16 Di bidang perlindungan konsumen..

kecuali ganti kerugian sepanjang atau terbatas pada kerugian atau ongkos-ongkos yang diderita atau dikeluarkan oleh Para Penggugat. pendirian hakim di Indonesia belumlah konstan mengenai pengecualian pengajuan petitum ganti kerugian dalam gugatan Legal Standing. tahap transaksi dan/atau pasca transaksi. Meskipun doktrin Legal Standing tidak sama sekali baru bagi kalangan akademisi dan Ornop/NGO.4 Optimalisasi Pengawasan Barang Beredar dan Jasa Serta Kemetrologian pada Seksi Metrologi dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Mojokerto Perlindungan terhadap konsumen hingga saat ini masih menjadi suatu hal yang ideal untuk diterapkan. Hingga kini sebagai praktisi hukum. 23 36 . 3. bukan ganti kerugian yang mengatasnamakan orang banyak.17 Saya sependapat dengan pandangan ini bahwa kalaupun tuntutan ganti kerugian moneter diajukan. maka tuntutan tersebut bukan untuk Ornop/NGO an sich. diperuntukkan untuk apa saja biaya perkara. Ketiga. Hampir tak ada akuntabilitas terhadap publik. tuntutan ganti kerugian moneter tidak diperkenankan diajukan dalam gugatan Legal Standing. tanpa pandang bulu.dapat saja terjadi. diketahui dan/atau dirasakan akibat-akibatnya pada tahap pra transaksi. Sebagaimana secara tegas diatur dalam Pasal 3 UU No. saya masih melihat hampir semua perkara yang diajukan dalam proses perkara perdata dikenakan biaya perkara. dalam doktrin Legal Standing yang diketengahkan Mas Achmad Santosa. 8/ 1999. bahwa perlindungan konsumen bertujuan 17 Ibid. hlm.

konsumen dan pelaku usaha. kenyamanan. kemampuan dan kemamndirian konsumen untuk melindungi diri. karena dengan luasnya aspek perlindungan konsumen maka akan sulit bila dipikul oleh suatu lembaga saja. (c). Pembentukan Badan Perlindungan Konsumen Nasional didasarkan pada Undang-Undang No. menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha. (b). meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih. (d). (f). Kemitraan yang kuat menjadi salah satu factor penentu keberlanjutan upaya perlindungan konsumen. Badan Perlindungan Konsumen Nasional menekankan pentingnya memperkuat kemitraan kepada para pemangku kepentingan (stakeholders). meningkatkan kesadaran. (e). Untuk itu. keamanan. antara lain dengan beberapa kementerian dan lembaga terkait lainnya. kesehatan. menentukan. Dalam menangani berbagai isu perlindungan konsumen.untuk : (a). Badan Perlindungan Konsumen Nasional membangun komunikasi dengan berbagai pihak. dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen. meningkatkan kelangsungan barang dan jasa yang menjamin kelangsungan usaha barang dan jasa. 57 Tahun 2001 37 . dan keselamatan konsumen. menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK) yang ditindaklanjuti dengan PP No. mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari akses negatif pemakaian barang dan jasa. baik antar pemerintah.

tentang Tugas. umumnya didasarkan pada perlindungan aktualitas dan urgensinya. akademisi. Periode I Keanggotaan Badan Perlindungan Konsumen Nasional telah selesai bertugas pada 2004 – 2007. pertumbuhan industri dan teknologi. Kendala yang dihadapi dalam upaya perlindungan konsumen tidak terbatas pada rendahnya kesadaran konsumen akan hak-haknya. perlindungan konsumen perlu ditegakkan pada sebuah pemerintahan berdasarkan rumusan situasi yang sedang dan akan berkembang terhadap nasib masyarakat konsumen. tingkat pembangunan masingmasing pemerintahan. Dalam pertimbangan aktualitasnya. tenaga ahli dan Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 80/P Tahun 2009 tanggal 11 Oktober 2009. Untuk Periode II masa jabatan 2009-2012. Pertimbangan ini biasanya ditempuh dengan memperhatikan. Pentingnya suatu pemerintahan mengatur perlindungan terhadap konsumen. Pada kalangan pelaku usaha juga muncul persepsi yang keliru bahwa perlindungan terhadap konsumen akan menimbulkan kerugian terhadap 38 . terbentuk 20 Anggota Badan Perlindungan Konsumen Nasional yang mewakili pemerintah. Upaya perlindungan konsumen merupakan matrik multidimensi yang satu sama lainnya mempunyai keterkaitan dan lebih jauh lagi saling ketergantungan (interdependency). Fungsi serta Keanggotaan BPKN. serta filosofi dan kebijakan pembangunan. Selanjutnya Anggota Badan Perlindungan Konsumen Nasional dilantik oleh Menteri Perdagangan pada tanggal 16 Nopember 2009.

Jika hal ini dianalogikan bagi produsen obat.pelaku usaha. hendaknya kalangan pelaku usaha mempunyai pengertian-pengertian sebagai berikut : 1) Bahwa konsumen dan pelaku usaha adalah pasangan yang saling membutuhkan. Gara-gara nila setitik sebelangga. maka produsen obat itu tidak akan berkembang dengan baik bila konsumen berada pada kondisi yang tidak sehat akibat banyaknya produk yang cacat. 3) Peluang untuk mengembangkan dan meningkatkan usaha bagi pelaku usaha yang bertanggung-jawab dapat juga dicapai melalui penindakan terhadap pelaku usaha yang melakukan kecurangan dalam 39 . Pelaku usaha hendaknya perlu mengkaji lebih dalam mengenai pengertian atas penyelenggaraan perlindungan konsumen. serta pemerintah pada umumnya. 2) Bahwa pada praktek bisnis sehari-hari. Kecurangan ini tidak hanya merugikan konsumen semata. sehingga persepsi yang keliru di kalangan pengusaha ini secara perlan-lahan dapat diluruskan. ada saja pelaku usaha yang melakukan kecurangan dalam melakukan kegiatan usahanya. Hal inilah yang menjadi tantangan semua pihak untuk menanamkan suatu landasan pengertian secara komperhensif terhadap pentingnya upaya perlindungan konsumen yang bukan saja akan “menguntungkan” bagi pihak konsumen semata. melainkan juga bagi pihak pelaku usaha. Terhadap penyelenggaraan perlindungan konsumen tersebut. tetapi juga akan mengimbas serta merugikan pelaku usaha yang jujur dan bertanggung-jawab.

Bureaucratic Behavior Theory (kepentingan birokrasi/ pemerintah). 3. sehingga beban tersebut tidak ditanggung oleh produsen. dan disisi lain memberikan tanggung jawab kepada dunia usaha. 2.melakukan kegiatan usahanya. 4) bahwa beban kompensasi atas kerugian konsumen akibat pemakaian produk cacat telah diperhitungkan sebagai komponen produksi. 40 . adalah mustahil bila produsen oli yang jujur dan bertanggung jawab bersikap masa bodoh terhadap perilaku penjual yang mencampur produknya dengan oli bekas sebelum dijual kepada konsumen. tetapi ditanggung oleh seluruh konsumen yang memakai produk yang tidak cacat. Mitnick dalam bukunya ”The Political Economiy Of Regulation“ mengemukakan empat teori kepentingan dalam regulasi hukum di bidang ekonomi. swasta dan masyarakat tersebut perlu diatur melalui perangkat hukum yang menciptakan norma hukum perlindungan kepada konsumen. yaitu : 1. Suatu peraturan dibuat dengan tujuan untuk melindungi konsumen dari suatu produk atau kegiatan konsumen. Dalam hal ini industri dan perwakilan atau asosiasianya merupakan pihak yang berusaha membentuk peraturan perundang-undangan. Usaha perlindungan konsumen antara pemerintah. Sebagai contoh. Consumer Protection Theory (kepentingan konsumen). Suatu peraturan dibentuk dengan tujuan untuk melindungi kepentingan produsen dari suatu produk atau kegiatan. Industry Protection Theory (kepentingan industri/ pelaku usaha). Barry M.

seperti hal kaum wanita amat peka akan segala sesuatu yang mempengaruhi kecantikan. b. Maintanance theory. Konsumen perlu diberdayakan potensinya. Barang-barang konsumsi disajikan dengan 18 Amstrong Sembiring. Termasuk dalam tujuan pembentukan peraturan adalah tujuan nasional untuk pembangunan wilayah atau bidang tertentu untuk kepentingan masyarakat tertentu. dalam bidang dimana manusia mempunyai kelemahan-kelemahan tertentu. Expansion theory. sehingga mudah tergiur oleh upaya pemasaran yang menarik tanpa atau kurang memahami mutu produk yang ditawarkan. Menyoal Perlindungan Konsumen. kaum pria akan segala sesuatu yang sehubungan dengan kejantanannya. Public Interest Theory (kepentingan publik).18 4. Banyak contoh konsumen menjadi korban penjual kalau ia tidak berhati-hati. Suatu peraturan perundang-undangan dibuat untuk memperhatikan atau menjaga keseimbangan dan kepentingan masyarakat secara keseluruhan. yang mempertahankan status quo pelayanan birokrasi. dan kemudian kelemahan-kelamahan ini oleh produsen maupun penyalur barang-barang konsumsi yang tidak jujur kerap kali dipergunakan untuk mengeruk keuntungan bagi diri sendiri. http://m. c.Teori ini dikelompokkan menjadi dua. yaitu : a. yang merupakan bentuk pelayanan yang terbaik dari birokrasi yaitu dengan memperluas wewenang dan mandat dalam pelayanan.com/baca/2010/02/28/ diunduh tanggal 09/06/11 22:25:38 41 . mengingat selama ini pada umumnya kurang mengerti dan kurang waspada.politikana.

kosmetik yang tidak jelas mengandung apa. lebih murah seperti : Daging dalam kaleng yang lebih banyak mengandung gajih daripada dagingnya. (d). Contoh menarik. pemakaian zat warna untuk kain dalam makanan. tahu dan ikan asin. bahwa tidak ada sanksi apapun yang bisa dijatuhkan pemerintah secara langsung kepada perusahaan yang terbukti menggunakan formalin untuk makanan. Selain itu juga ada keluhan konsumen dapat diungkapkan. (f). barang-barang yang dipalsukan. udara. lalu diberik zat pewarna merah. seperti: buku atau kamus bahasa yang halamannya dikurangi biji mete garing yang isinya sudah berbubuk. beras merah dicampur dengan beras biasa. pabrik-pabrik yang tidak mengindahkan tentang pencemaran lingkungan.bermacam-macam cara menyesatkan seperti hal: (a). ditemukan pada mie basah. Hal yang sangat memprihatinkan. (c). adalah kian maraknya penggunaan formalin pada makanan yang berdasarkan pemberitaan Kompas . Apabila produsen telah diberi peringatan tiga kali namun tidak 42 . iklan yang berlebihan bahkan menjurus kearah penipuan. recleaning seat mobil dengan mutu buruk. Jika suatu jenis makanan diketahui mengandung formalin. penggantian bahan makanan pokok yang dijual dalam makanan. label yang tidak memberikan informasi yang jelas seperti hal. (g). maka produsennya lebih dulu diberi peringatan. makanan kaleng yang kadaluarsa tetap dijual. lem perekat buatan luar negeri tidak dapat digunakan karena petunjuk tidak jelas dan tidak menggunakan bahasa Indonesia. tanah dan sebagainya. (e). terkait dengan perlindungan konsumen adalah pernyataan dari Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BB-POM) Surabaya. air. (b).

8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Pasal 8 ayat (1). tidak sesuai dengan kondisi.. tetapi lebih jauh harus dilihat bahwa ada pesan yang mau disampaikan kepada konsumen untuk memperhatikan hak-haknya secara baik dan benar terkait dengan upaya untuk memperoleh informasi tentang suatu produk secara benar dan jelas. Dasar hukum yang melarang penggunaan formalin diantaranya Undang-undang No. takaran. tidak sesuai dengan usuran. 7 Tahun 1996 tentang Pangan dan Undang-Undang No. tidak sesuai dengan berat bersih. timbangan.mengindahkan barulah diproses secara hukum. 43 . atau netto dan jumlah dalam hitungan sebagaimana yang dinyatakan dalam label atau etiket barang tersebut. keistimewaan. Sebab masyarakat sendiri yang suka mengkonsumsi makanan yang mengandung formalin. tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan yang dipersyaratkan dan ketentuan peraturan perundang-undangan. dan jumlah dalam hitungan menurut usuran yang sebenarnya. Pelaku usaha dilarang memproduksi dan memperdagangkan barang dan/ jasa yang: (a). Tulisan tersebut seolah-olah hendak mengalihkan kesalahan kepada konsumen. (d). Salah satu kendala proses hukum produsen pengguna formalin adalah dampaknya yang tidak langsung. (b). jangan salahkan produsen jika mereka menggunakan formalin. jaminan. isi bersih. Tulisan tersebut juga menggambarkan bahwa pelaku usaha tidak berusaha untuk melaksanakan kewajibannya sebagaimana mestinya. (c). Lemahnya konsumen terkait dengan kesadaran untuk memperoleh informasi yang benar dan jelas adalah sebagaimana dipaparkan di dalam tulisan Dahlia Irawati yang berjudul Masyarakat sendiri yang suka formalin….

atau penggunaan sebagaimana dinyatakan dalam label atau keterangan barang dan jasa tersebut. tidak mencantumkan tanggal kadaluarsa atau jangka waktu penggunaan/ pemanfaatan yang paling baik atas barang tertentu.atau kemanjuran sebagaimana dinyatakan dalam label. akibat sampingan. tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label. etiket. dan tercemar tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar atas barang dimaksud. etiket. Pelaku usaha dilarang memperdagangkan sediaan farmasi dan pangan yang rusajk. gaya. Ayat (4). tidak memasang label atau membuat penjelasan barang yang memuat nama barang. cacat atau bekas dan tercemar. Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran pada ayat (1) dan ayat (2) dilarang memperdagangkan barang dan jasa tersebut serta wajib menariknya dari peredaran. tidak sesuai dengan mutu. keterangan. (h). Ayat (3). proses pengelolaan. mode. Ayat (2). dengan atau tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar. (f). serta keterangan lain untuk penggunaan yang menurutketentuan harus dipasang/ dibuat. komposisi. iklan. nama dan alamat pelaku usaha. usuran. (e). cacat atau berkas. Melihat kenyataan bahwa kedudukan konsumen pada prakteknya jauh di bawah pelaku usaha. (g). tanggal pembuatan. aturan pakai. tidak mencantumkan informasi dan petunujuk penggunaan barang dalam bahasa Indonesia sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. berat/ isi atau netto. Pelaku usaha dilarang memperdagangkan barang yang rusak. tingkatan. atau promosi penjualan barang dan jasa tersebut. atau keterangan barang dan jasa tersebut. (i). maka UUPK merasakan perlu pengaturan 44 . komposisi.

45 . 4) Menyatakan pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha baik secara langsung maupun tidak langsung untuk melakukan segala tindakan sepihak yang berkaitan dengan barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran.mengenai ketentuan perjanjian baku dan/atau pencantuman klausula baku dalam setiap dokumen atau perjanjian yang dibuat oleh pelaku usaha. UUPK merumuskan klausula baku sebagai berikut :“setiap aturan atau ketentuan dan syarat-syarat yang telah dipersiapkan dan ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh pelaku usaha yang dituangkan dalam suatu dokumen dan/atau perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen. 3) Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali uang yang dibayarkan atas barang dan/atau jasa yang dibeli oleh konsumen. 2) Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali barang yang dibeli konsumen.” Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk diperdagangkan sesuai pasal 10 UUPK dilarang membuat atau mencantumkan klausula baku pada setiap dokumen dan/atau perjanjian apabila : 1) Menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha. 5) Mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang atau pemanfaatan jasa yang dibeli oleh konsumen.

7) Menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan baru. atau yang pengungkapannya sulit dimengerti. atau hak jaminan terhadap barang yang dibeli konsumen secara angsuran. pasal 18 ayat (4) UUPK selanjutnya mewajibkan para pelaku usaha untuk menyesuaikan klausula baku yang bertentangan dengan UUPK ini. lanjutan dan/atau pengubahan lanjutan yang dibuat sepihak oleh pelaku usaha dalam masa konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya. Jadi apabila kasus mengenai klausula 46 . 8) Menyatakan bahwa konsumen memberi kuasa kepada pelaku usaha untuk pembebanan hak tanggungan.6) Memberi hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi manfaat jasa atau mengurangi harta kekayaan konsumen yang menjadi obyek jual beli jasa. tambahan. Sebagai konsekuensi atas pelanggaran menyatakan batal demi hukum setiap klausula baku yang telah ditetapkan oleh pelaku usaha pada dokumen atau perjanjian yang memuat ketentuan yang dilarang dalam pasal 18 ayat (1) maupun perjanjian baku atau klausula baku yang memiliki format sebagaimana dimaksud pada pasal 18 ayat (2). Atas kebatalan demi hukum dari klausula baku sebagaimana disebutkan dalam pasal 18 ayat (3). hak gadai. Selanjutnya pelaku usaha dilarang mencantumkan klausula baku yang letak atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas.

pada sidang pertama hakim harus menyatakan bahwa perjanjian atau klausula itu batal demi hukum. atau perawatan kesehatan dan/atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku21.3. cit. op.” (Makalah disampaikan pada Program Pembekalan PPDN. 21 Ibid. konsumen dapat meminta ganti rugi atas kerugian yang dideritanya tersebut.. hal. pencemaran. diadakan Yayasan Patra Cendekia. pasal 18 angka 2. pasal 19 angka 1.baku dimajukan ke sidang pengadilan. 20 Indonesia. Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal transaksi dan pemberian ganti rugi tersebut tidak menghapuskan kemungkinan adanya tuntutan pidana berdasarkan pembuktian lebih lanjut mengenai adanya unsur kesalahan. barang dan/atau dan/atau kerugian jasa yang konsumen dihasilkan akibat atau mengkonsumsi diperdagangkan20. jakarta. 4 Nopember 2000). Jika konsumen pemanfaat jasa multimedia dirugikan akibat mengkonsumsi jasa yang diperdagangkan oleh penyelenggaraan jasa multimedia. “Ketentuan Hukum (Baru) yang Diatur dalam UU Perlindungan Konsumen dan Mekanisme Penyelesaian Sengketa. Ganti rugi dapat berupa pengembalian uang atau penggantian barang dan/atau jasa yang sejenis atau setara nilainya.19 Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan. 47 . Jika pelaku usaha menolak dan/atau tidak memberikan tanggapan dan/atau tidak memenuhi ganti rugi atas tuntutan konsumen.. maka pelaku usaha tersebut dapat digugat melalui badan penyelesaian sengketa konsumen atau diajukan ke badan pengadilan di tempat kedudukan 19 Dony Lanazura.

Munir Fuady. misalnya tidak berbuat sesuatu. pasal 28. Ada perbuatan 2. 24 Ibid. Bandung: Citra Aditya Bakti. Ada kesalahan 4.. mengganti kerugian tersebut” dengan membuktikan unsur-unsur yang terdapat pada pasal 1365 KUHPerdata tersebut. Pembuktian terhadap ada tidaknya unsur kesalahan dalam gugatan ganti rugi merupakan beban dan tanggung jawab pelaku usaha22. 48 .11. 2002. hal. padahal mempunyai kewajiban hukum untuk membuatnya. 22 23 Ibid.1. Ada kerugian 5. Yang dimaksudkan dengan melawan hukum diartikan seluas luanya meliputi hal hal sebagai berikut24: 1) Perbuatan yang melanggar undang undang yang berlaku. Perbuatan tersebut melawan hukum 3.konsumen. kewajiban mana timbul dari hukum yang berlaku23. Ada hubungan kausal antara kesalahan dengan kerugian Yang dimaksudkan sebagai perbuatan dalam hal ini adalah baik berbuat sesuatu (dalam arti aktif) maupun tidak berbuat sesuatu (dalam arti pasif). Perbuatan Melawan Hukum. mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu. cet. Konsumen pemanfaat jasa multimedia yang merasa dirugikan dapat menggugat berdasarkan perbuatan melawan hukum diatur dalam pasal 1365 KUHPerdata yang isinya : “Tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian kepada seorang lain. yaitu: 1.

yang mengemukakan suatu hal adalah sebab dari suatu akibat dan akibat tidak akan terjadi jika sebab itu tidak ada. hal 12. dan. 49 . tidak hanya mengenai kekayaan harta benda seseorang.atau. Dengan demikian kerugian harus diambil dalam arti yang luas. 4) Perbuatan yang bertentangan dengan kesusilaan. Ada dua macam teori mengenai hubungan kausal antara kesalahan dengan kerugian. Kesalahan merupakan unsur yang penting dalam perbuatan melawan hukum karena dengan terbuktinya kesalahan membuktikan terjadinya perbuatan melawan hukum. 25 Ibid. 3) Tidak ada alasan pembenar atau alasan pemaaf Kerugian dapat bersifat materiil (harta kekayaan) dan dapat pula bersifat idiil.. 3) Perbuatan yang bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku. melainkan juga mengenai kepentingan-kepentingan lain dari seorang manusia. 5) Perbuatan yang bertentangan dengan sikap yang baik dalam bermasyarakat untuk memperhatikan kepentingan orang lain. Dalam terjadinya perbuatan melawan hukum harus terdapat hubungan kausal antara perbuatan dengan kerugian. Oleh Von Buri.2) Yang melanggar hak orang lain yang dijamin oleh hukum. Suatu kesalahan apabila memenuhi unsur unsur sebagai berikut25 1) Ada unsur kesengajaan. jiwa dan kehormatan seseorang. 2) Ada unsur kelalaian. yaitu tubuh. Teori Conditio Sine Qua Non. yaitu : a.

hal 15.doc 27 Ibid. jika seseorang melakukan suatu perbuatan dapat merupakan perbuatan mealwan hukum bagi korban x.oocities. 26 Tanggung Jawab Penyelenggaraan Jasa Multimedia Terhadap Konsumen www. Akan tetapi. Teori schutnorm ini mengajarkan bahwa agar seseorang dapat dimintakan tanggung jawabnya karena melakukan perbuatan melawan hukum.26 Selain itu terdapat ajaran relativitas (schutnorm theorie) yang berasal dari Jerman.org/ilmuhukum/babiii.b. maka tidak cukup hanya menunjukkan adanya hubungan kausal antara perbuatan yang dilakukan dengan kerugian yang timbul. Penerapan teori ini membeda bedakan perlakuan terhadap korban dari perbuatan melawan hukum. yang menyatakan bahwa suatu hal baru dapat dikatakan sebab dari suatu akibat jika menurut pengalaman manusia dapat diperkirakan terlebih dahulu bahwa sebab itu akan diikuti oleh akibat. dalam hal ini. tetapi mungkin bukan merupakan perbuatan melawan hukum bagi korban y27. 50 . Teori Adequate Veroorzaking. Oleh Von Kries.. perlu ditunjukkan bahwa norma atau peraturan yang dilanggar tersebut dibuat memang untuk melindungi terhadap kepentingan korban yang dilanggar.

disingkat NGO) atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang perlindungan konsumen.BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan 1. Peraturan Daerah dalam hubungannya dengan keamanan dan pelayanan publik. UU Perlindungan Konsumen belum dijadikan konsideran dalam penetapan Undang-undang. 51 . Seksi Metrologi dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Mojokerto telah melakukan tupoksinya sesuai dengan peraturan Bupati Mojokerto Nomor 55 Tahun 2008 tentang Penjabaran Tugas Pokok dan Fungsi Organisasi dan Tata Kerja Dinas Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Mojokerto. Peraturan Pemerintah. b. Dalam rangka Penguatan Kapasitas Kelembagaan Pemberdayaan Konsumen pada Seksi Metrologi dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Mojokerto. 2. Permasalahan Penegakan Hukum : a. 3. dalam bidang perlindungan konsumen telah menjalin adanya kerjasama dengan Organisasi non Pemerintah (Ornop) (non gonvernmental organizations. Dalam rangka pengawasan Barang Beredar dan Jasa Serta Kemetrologian. Belum ada lembaga yang representatif dalam mengadakan pengawasan di lapangan dan melakukanjudicial review terhadap produk peraturan yang berhubungan dengan publik.

3. Tumpang tindah antara BPFK (Badan Pengamanan Fasilitas Kesehatan) dengan institusi Rumah Sakit yang memiliki lembaga kalibrasi sendiri. Kalibrasi internal perusahaan/lembaga 2. 4. Metrologi atau pun Jawatan Tera yang sudah ada. perlu melibatkan Seksi Metrologi dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan. d. Belum optimalnya lembaga Metrologi yang sudah ada karena keterbatasan personil.c. 52 . Lemahnya kesadaran masyarakat untuk menuntut hak-hak normatifnya seperti yang diatur di dalam UU Perlindungan Konsumen. Dinas Perhubungan. Sudah waktunya segera dibentuk Badan Regulasi Metrologi di tingkat nasional maupun provinsi yang berfungsi menertibkan. Pelaksanaan Kalibrasi / Metrologi / Jawatan Tera. Dalam praktik di lapangan masih ada Badan Metrologi & Koperasi Metrologi. b. dampaknya terjadi ukuran ganda. Dinas Perdagangan. hal ini perlu juga adanya kersama dalam standardisai ukuran. c Dinas Kesehatan. d. perlu adanya kerjasama dalam standardisasi antara instansi terkait yaitu a. 4.2 Saran-Saran 1. peralatan uji di lapangan dan tumpang tindih antar instansi dan lembaga terkait. mengatur dan mengawasi pelaksanaan Badan Kalibrasi.

1997.” (Makalah disampaikan pada Program Pembekalan PPDN. hal. 1997. . Mansour Fakih dan Toto Rahardjo (ed). Inosentius 2006. Mas Achmad Santosa dan Sulaiman N.Textbook on Consumer Law.id. 1990) David Oughton dan John Lowry. Peraturan Bupati Mojokerto Nomor 55 Tahun 2008 tentang Penjabaran Tugas Pokok dan Fungsi Organisasi dan Tata Kerja Dinas Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Mojokerto Reaching Justice (Consumer Law for Activists) (Calcutta. REaD.3. Ekonomi.1. Dony Lanazura.28-29. hal.com/baca/2010/02/28/ diunduh tanggal 09/06/11 22:25:38 Badan Perlindungan Konsumen Nasional.7-8. 53 . Jakarta : Pustaka Sinar Harapan. 11.51) Black's Law Dictionary 6th ed. Hak-hak dan Kewajiban Konsumen: www.. Laporan Akhir Tim Kompilasi Perlindungan Konsumen. hal. Menyoal Perlindungan Konsumen. London: Blackstone Press Ltd. http://m. Badan Pembinaan Hukum Nasional. Jakarta: Puspa Swara. Departemen Hukum Dan Ham RI.go.42-43. dan Hukum Pada Perlindungan Konsumen Indonesia. (diunduh tanggal 11 Februari 2011 pk. cet.bpkn. 1997). Bandung: Citra Aditya Bakti. hal. Membedah Perut LSM.. Nasution. Munir Fuady. dan INSIST. Perbuatan Melawan Hukum.11.politikana. hal. Konsumen dan Hukum : Tinjauan Sosial. hal.iii-vi. 1995. (West Publishing. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azis.DAFTAR PUSTAKA Amstrong Sembiring. Sembiring.69. 4 Nopember 2000). jakarta. 2000. hal. Merubah Kebijakan Publik: Panduan Pelatihan Advokasi untuk Organisasi Non Pemerintah. Samsul. diadakan Yayasan Patra Cendekia. Tahun Sebastian Saragih. hal. 1995. India: Consumer Unity & Trust Society/CUTS. Hak Gugat Organisasi Lingkungan (Environmental Legal Standing) Jakarta: Indonesian Center for Environmental Law/ICEL. “Ketentuan Hukum (Baru) yang Diatur dalam UU Perlindungan Konsumen dan Mekanisme Penyelesaian Sengketa. 2002.

Cet.ke-1.). Zaim Saidi. hal. 54 . 2003. Ensiklopedia Bebas. 2002. Secangkir Kopi Max Havelaar: LSM dan Kebangkitan Masyarakat. 134-137. Yusuf Shofie.98-101. Jakarta: Asia Pasific Philantrophy Consortium. Bandung: Citra Aditya Bakti. 1999. Filantropi dan Hukum di Asia: Tantangan untuk Indonesia. Yusuf Shofie. “Menyoal Status Lembaga Perlindungan Konsumen”.oocities.doc Thomas Silk (ed. 2000. Direktorat Perlindungan Konsumen Republik Indonesia Wikipedia bahasa Indonesia. hal. Cet.5-6. Perlindungan Konsumen dan Instrumen-instrumen Hukumnya Bandung: Citra Aditya Bakti.org/ilmuhukum/babiii. 1995. hal. www. 11..com. Penyelesaian Sengketa Konsumen Menurut Undang-undang Perlindungan Konsumen (UUPK): Teori dan Praktek Penegakan Hukum. artikel Koran Tempo.Konsumen.51) Yusuf Shofie.Tanggung Jawab Penyelenggaraan Jasa Multimedia Terhadap Konsumen www.wikipidie. 11 Februari 2002.ke-1. UU Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. (diunduh tanggal 11 Februari 2011 pk. hal.244.