Nabi Muhammad SAW, Al Qur’an Dan Sistem Pengetahuan Manusia

Kodefikasi Al Qur’an dan Sistem Ilmu Pengetahuan

Selama berabad-abad, para peneliti sejarah al-Qur’an selalu menemui ketakjuban dengan komposisi dan kodefikasinya. Meskipun al-Qur’an

diwahyukan dan dikitabkan sejak berabad-abad yang lalu, jauh sebelum sains modern diperbarui setelah tidur panjangnya, siapapun yang mengkaji al-Qur’an dengan teliti dan jujur akan menemui suatu fakta yang menarik bahwa komposisi dan kodefikasinya adalah suatu komposisi dan kodefikasi yang meliputi berbagai ilmu pengetahuan baik yang pasti maupun yang abstrak.

Yang pasti, bersandar pada komposisi dan kodefikasi numerik yang melibatkan penomoran surat, ayat , jumlah huruf atau nilai numerik susunan kata dan hurufnya (al-Jumal bahasa Arab). Pengetahuan yang pasti mengandung suatu kaidah bagaimana logika manusia harus disusun dengan suatu konsep yang generik dengan algoritma yang kalau ditinjau kembali dari sejarah sains telah dikonsepkan secara aritmatis oleh Phyttagoras (600-500 SM) dan akan merujuk pada algoritma Euclids seorang filsuf dan ilmuwan era Yunani Kuno (sekitar 350 SM).

Yang tidak pasti menjadi suatu syair yang sangat indah dengan corak yang khas dimana faktor pengajaran bagi manusia sangat dominan baik melalui kisah, ungkapan ruhaniah yang berkaitan langsung dengan kondisi kejiwaan manusia, sejarah umat, maupun konsep recursive atau syair yang berulang dengan corak dan konteks yang berbeda yang mampu menembus struktur psikis dan mengsuik kondisi jiwa manusia yang terdalam untuk sejenak merenung dan pada tingkat pengaruh yang tinggi akan mengubah akhlak dan perilaku menuju kemuliaan manusia sebagai makhluk berakal pikiran dan mempunyai instrumen ruhaniah

atau hati yang dapat menjadi halus dan lembut sebagai radar Pesan-pesan Ilahi.

Sintesa rasional dan ruhaniah ini menunjukkan intelektualitas dan kualitas ruhaniah dari sang penerima wahyu itu sendiri yang mampu memaknai semua cerapan fonemenologis Pesan-pesan Ilahi menjadi Wahyu Yang Diwahyukan dari Tuhannya. Wahyu yang Diwahyukan adalah pengetahuan teringgi sebagai firman Tuhan yang muncul dari kemandirian yang tampil dari kondisi psikogisruhaniah Nabi Muhammad SAW sendiri yang berserah diri di hadapan Tuhannya bahwa apa yang diterimanya semata-mata atas idzin dan kehendak Tuhannya, dan bukan pengetahuanh miliknya. Pesan itu akhirnya aktual dan menjadi Wahyu sebagai penjelasan bahwa apa yang diungkapkan oleh akal pikiran dan hati Nabi Muhammad SAW sebagai penerima wahyu adalah suatu pengetahuan azali dari sumber yang sama dengan Kitab-kitab Agama lainnya yang benar dan ilmu rasional yang benar yang telah mulai direnungkan bangsa Ionia sejak era Thales (700-600 SM) yang sebelumnya telah berserakan di dunia dengan ungkapan buah Tiin dan Buah Zaitun yang diberkahi, yang menjadi masak di suatu tempat yang nyaris terkucil yaitu Mekkah, dan pada akhirnya menjadi pedoman serta wacana fundamental umat manusia ketika semua ilmu pengetahuan itu dimurnikan kembali menjadi Pengetahuan Tauhid dan kemudian terdiferensasikan lebih terperinci menjadi berbagai ilmu pengetahuan dengan landasan aksioma mutlak benar yaitu Bilangan 1 sebagai simbolisme Allah, alHaqq, Tuhan Yang Esa; atau landasan masa kini sebagai sains dan teknologi dijital.

Yang Satu Adalah Aksioma Mutlak Benar

Bagaimana sebenarnya sistem ilmu pengetahuan manusia saat ini dan kaitannya dengan komposisi atau kodefikasi al-Qur’an? Sistem pengetahuan yang dipahami oleh manusia sebagai makhluk berakal pikiran adalah sistem yang menjelaskan sistem kehidupan yang berubah dan tertutup yang sebenarnya menyatakan dimensi dan konfigurasi aktual dari semua makhluk yang ada

didalamnya. Selain itu, sistem pengetahuan manusia dalam basis geometri, abjad/alfabet, desimal sebenarnya adalah wahyu-wahyu elementer sebagai fondasi wahyu yang diaktualkan atau Wahyu Yang Diwahyukan melalui suatu mediator antara dengan maupun tanpa suatu proses. Ciri khas yang muncul kemudian dinyatakan sebagai suatu prinsip dasar penciptaan makhluk, baik yang langsung melalui tangan-tangan Ilahi maupun kita sebutkan sebagai makhluk buatan manusia, sehingga dalam konsep dasar ilmu pengetahuan di bidang geometri maupun bilangan muncul batasan-batasan (kendala), sistem

berpasangan, misalnya pasangan bilangan prima dan genap dengan Prima Utama atau Angka Satu sebagai Sebab Tunggal dan Unik.

Bilangan Satu adalah aksioma mutlak benar yang

menjadi dasar geometri,

bilangan dan susunan huruf. Aksioma ini memang wajib mejadi mutlak benar sebab kalau tidak sistem ilmu pengetahuan manusia bisa dikatakan runtuh sama sekali dan tidak mewakili realitas yang sebenarnya (artinya sains atau semua ungkapan simboliknya menjadi sekedar permainan atau anagram bilangan dan huruf mirip permainan scramble saja).

Kalau kita berbicara dengan pemahaman matematis, maka bilangan Satu secara numerik menjadi asumsi yang wajib dianut semua manusia yang akal pikirannya menyepakati sistem bilangan dan logikanya, abjad, alfabet, atau jenis huruf lainnya. Bilangan satu dikatakan sebagai representasi sumber asal dari semua pengetahuan yang tercerap dan mendeskripsikan semua makhluk yang ada didalamnya. Jadi, semua makhluk asalnya dari penguraian yang satu yang kemudian didiferensiasikan menjadi potongan-potogan kecil atau diskrit sebagai entitas yang mungkin baru sama sekali setelah disusun ulang dan akhirnya menjadi makhluk yang disebut dengan “penamaan” baru. Jadi, apa yang kita sebut sebagai benda-benda aslinya memang suatu entitas makhluk yang kemudian disepakati oleh manusia dengan “bilangan , abjad, maupun alfabet” untuk diidentifikasikan. Bentuk aslinya mungkin akan sama sekali lain jika ada misalnya makhluk asing yang bukan berasal dari sistem alam semesta kita.

Dalam arti yang spesifik makhluk itu berada di luar spektrum akal pikiran kita karena kita pun tak mengenali wujud dan bentuknya. Sebagai contoh yang gamblang, apa yang akan Anda lihat kalau retina mata kita mampu menerima frekuensi di luar spektrum cahaya tampak? Saya yakin, Anda tak akan melihat bentuk kebendaan namun bentuk-bentuk yang energetis karena retiona mata kita tidak melihat batas-batas yang jelas. Jadi, ekspresi lahir dan batin manusia di alam fisikal dalam spektrum cahaya nampak menjadi sangat terbatas dan sama sekali tidak bebas. Kebebasan adalah ilusi dan delusi mental kita yang mirip dengan ilusi dan delusi tokoh antagonis yang dikenal sebagai Iblis yang mengira dapat menjadi kekal.

Orang-orang di Timur Tengah dan sekitarnya kemudian menyepakati simbolisme angka satu itu sebagai Sebab Utama dan kemudian dikonversikan menjadi lafaz yang diungkapkan dengan kata-kata, namanya menjadi “Allah”, “YHVH”, ataupun sebutan lainnya yang menunjukkan suatu ungkapan dengan kualitas ruhani dan intelektual tertinggi untuk menyatakan suatu ungkapan simbolis bahwa angka satu adalah simbolisme dari “Allah”, sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Ketika saya gunakan susuan kalimat “Tuhan Yang Maha Esa” sebenarnya kalimat tersebut adalah penegasan dimana bahasa Sanksekerta telah diserap dan digunakan oleh lidah orang melayu Indonesia untuk menegaskan ungkapan simbolis “Allah” sebagai Tuhan Yang Satu, Tunggal, dan Unik yang penampilannya nama-nama, sifat-sifat dan perbuatannya telah terurai dengan berbagai penyebutan.

Selain ungapan bilangan 1 sebagai Prima Kausa atau sebagai simbolisme tentang Tuhan Yang Esa, bilangan-bilangan juga mengungkapkan aspek-aspek penting manusia ketika menjelaskan cerapan fenomenologis yang diterima inderawi fisikal dan ruhaninya karena adanya cahaya matahari sebagai pusat dari sistem kehidupannya yang terbatas di tatasurya. Sebagai contoh bilangan prima 2,3,5, dan 7 adalah 4 bilangan yang menyatakan banyaknya dimensi yang dikenali di alam tersebut yaitu 3 dimensi menyatakan ruang dan 1 dimensi waktu.

Angka Satu adalah dimensi ke-5 yang sejatinya muncul ketika makhluk yang tinggal didalamnya menggunakan instrumen kesadaran yang lebih bersifat psikologis-ruhaniah untuk memahami eksistensi-Nya yaitu citarasa

berkesadarannya sebagai makhluk yang serba terbatas dan tidak bisa mandiri. 4 bilangan prima tersebut menjadi sebab munculnya pasangan yang menutup keunikan bilangan prima tersebut sehingga bilangan prima merupakan pasangan bilangan lainnya yang muncul dari penambahan satu persatu atau dengan bantuan Angka Satu. Jadi, bilangan genap 4,6,8,9 sejatinya adalah pasangan yang melengkapi bilangan prima. Bilangan 2 dan 3 dalam keadaan unifikasi adalah 23, bilangan tersebut menjadi esensi makhluk yang diciptakan dan hidup didalam sistem berpasangan dengan kesempurnaan yang dimaujudkan oleh peniadaan eksistensi dirinya dengan bantuan Prima Kausa yaitu “1 dan 0” sebagai 10 dan 10 sebagai biner yaitu angka 2.

Akar 2 Menjadi 2 Sebagai Pasangan kromosom

Sehingga sejatinya semua realitas yang dicerap inderawi manusia di tatasurya (saja) dibangkitkan oleh ungkitan angka 2 yang berasal dari akar 2 dengan penguraian atau konsep saling berpasangan yang sebenarnya menunjukkan keadaan yang real dari semua eksistensi yang ada di alam tersebut. Peniadaan dirinya menyebabkan 10 menjadi “01” sebagai keyakinan yang tumbuh mandiri setelah angka 10 dijelajahi menjadi suatu bayangan kesempurnaan yang wujud dari Angka 1 dengan “peniadaan”. Dalam arti khusus maka 01 menjadi totalitas kepasrahan dan pengakuan bahwa esensi bilangan selain 1 sebenarnya tidak ada jika akar 2 tidak menyingkapkan dirinya sebagai 2, sebagai suatu sistem berpasangan. Selain itu makna 10 juga dimaksudkan sebagai 23 dalam keadaan berpasangan yaitu 2x23=46 dengan pemisahan dimana 4+6 akhirnya menjadi 10.

Angka 23 dalam keadaan berpasangan menjadi 46 adalah kode kromosom manusia dalam keadaan berpasangan yaitu 23 kromosom Bapak dan 23

kromosom Ibu. Dalam keadaan berpasangan maka eksistensi lainnya muncul dan berkembang biak. Dalam banyak segi bilangan prima dan genap yaitu 23 dan 46 membangun suatu sistem penciptaan sebagai 69 dan akhirnya sistem pengetahuan yaitu dari bilangan dasar 1,2,3, 7 dan 10 yang dapat diringkas hanya menjadi 2 yaitu 1 dan 0 atau 0 dan 1 sebagai suatu realitas bahwa dunia fisikal yang tercerap oleh 23 adalah maya dan sekedar mimpi 1001 malam bagi semua makhluk yang ada di dalamnya.

Bilangan yang muncul sejatinya hanya mencakup 2,3,5,dan 7 sebagai bilangan prima utama dimana angka 1 menjadi sebab absolut yang mesti ada. Jika tidak semua eksistensi di dalam alam yang diciptakan dengan kekuatan 69 oleh Angka 1 sebagai Prima Kausa dikatakan sama sekali tidak ada atau maya adanya. Dari jumlahan 2,3,5,7 menjadi 2+3+5+7=17, maka 17 adalah sebuah ketentuan untuk memunculkan eksistensi yang berpasangan. Dengan demikian makhluk yang wujud diantara bilangan prima utama yaitu 4 dan 6 sebenarnya adalah 46 sebagai hasil dari 23 dalam keadaan berpasangan, atau dengan suatu ketentuan yang pasti terjadi. Jika tidak, atau jika ketentuan dilanggar maka semuanya akan runtuh dan ambruk.

Dari wujudnya 46 sebagai makhluk yang berbentuk 3 dimensi, 1 dimensi yang muncul adalah bagian dari kesadaran dari sistem kealaman yang diciptakan dengan 7 tatanan dalam konfigurasi 1 dan 6 atau 16. Konfigurasi itu dapat dimaknai sebagai 6 alam yang ditopang oleh Yang Satu, atau 1 alam yang nyata mampu mencerap dengan kesadaran ditopang oleh 6 lainnya dimana 1 diantaranya adalah Prima Kausa. Yang tampil dan dapat dicitrakan oleh kodefikasi 23 adalah 4 alam dimensi sebagai realitas yang tercitarasakan dengan pengetahuan desimal 1,2,3,4,5,6,7,8,9 dan 10. Maka 234 adalah limpahan maghfirah dari angka 1 dan jumlah akumulatif dari bilangan desimal adalah 55 sebagai aktualnya pasangan yang melimpahkan rahmat dan kasih sayang dari kekuasaan yang wujud dari sistem berpasangan sebagai sistem Ba yaitu kekuasaan Ar-Rahmaan. Oleh karena itu angka 4 dikatakan sebagai angka

kesempurnaan yang menampilkan sifat-sifat dari angka 1; sedangkan angka 6 adalah nama-nama dan sifat-sifat yang sejatinya muncul dari angka 1 dikali 2 dikali 3 (1x2x3) atau 3 atribut dalam keadaan berpasangan yang muncul untuk mengenali angka 1 sebagai sebab utama yaitu Ar-Rahmaaan, ar-Rahiim, alHayyu-al-Qayyum, al-Iradah-al-Qudrah dan angka 1 adalah Allah sebagai Realitas Absolut Yang Maha Esa sebagai Prima Kausa atau Sebab Utama.

Kesadaran Atas Waktu

Realitas dimensi ke-4 sebagai waktu akan mempunyai makna yang nyata jika 23 sebagai 46 (kromosom menjadi manusia) menyadari bahwa eksistensinya nyata karena ia berkesadaran dan berakal pikiran yang mampu menyerap sistem pengetahuan yang diperkenalkan oleh Penciptanya yang sejatinya muncul di alam inderawi sebagai bentuk jasad dan ruhaniah dirinya (lahir dan batin). Karena itu manusia yang tidak menyadari eksistensinya tidak akan mampu menyingkap dimensi waktu yang sebenarnya, yang sejatinya hanya sekedar

denyutan dari Kehendak Penciptanya.

Artinya, dirinya sebagai makhluk yang berjasad dan berjiwa sejatinya akan menyingkap eksistensi dirinya yang maya jika ia menggunakan dimensi waktu dengan benar yaitu waktu sebagai al-Ashr bukan sekedar dimensi waktu yang materialistik semata. Ketika kesadaran atas al-Ashr muncul, maka ia akan memahami esensi ruhaniahnya selalu berkaitan dengan munculnya kesadaran atas waktu. Ketika ia bangun dari tidurnya, dan ia mencerap dimensi ruang waktunya, maka ia merasakan kehidupannya. Oleh karena itu, kesadarannya sejatinya dimensi ke-5 yang menghubungkan dirinya dengan Tuhannya. Tanpa pemahaman demikian maka ia akan terpenjara dalam lingkaran setan materialistik dirinya sebagai makhlukd engan kodefikasi 2x23=46 dalam alam 4 dimensi yang materialiastik. Padahal alam 4 dimensi tidak bersifat kekal namun maujud karena adanya ukuran yang tertentu yaitu al-Ashr sebagai kesadarannya yang memiliki kepastian bahwa suatu saat ia tak lagi dapat mencerap alam 4

dimensinya. Dalam hal ini 3 dimensi ruang dan 1 dimesi waktu adalah ukuranukuran yang membatasi eksistensinya di alam 4 dimensi. Jadi ia akan mati, musnah dan binasa.

Oleh karena itu kebebasan dan kekekalan bagi makhluk berkode 46 adalah ilusi semata, karena kekekalan adalah milik angka 1 sebagai Prima kausa. Makhluk dengan kodefikasi 23 (al-Mukminun) yang menjadi 46 (kode kromosom manusia dalam keadaan berpasangan), dan akhirnya menjadi 76 (al-Insaan) ketika dimensi fisikalnya terasakan, dan menjadi 114 (an-Naas) ketika sistem desimalnya dibantu dengan 28 sistem alfabet yang menyebabkan dirinya memahami makna-makna, akan terjebak dalam lingkaran kedunguan Ablasa jika tidak menyadari kefanaan dirinya. Ia akan terjebak dalam penjara, akan tersiksa, termusnahkan, dan dalam keadaan kebingungan jika ia sebagai 114 (an-naas) tidak menyingkap realitas dirinya dan alam 4 dimensi dimana ia tinggal didalamnya, maka ia akan menjdi sehina-hinanya makhluk yang gagal untuk menyatakan kesempurnaan dirinya.

Komposisi dan Kodefikasi Al Qur’an

Ketika ia berhasil menerobos pengertian 4 dimensinya, sejatinya ia akan membuka tabir dirinya sebagai kesempurnaan angka 4 dengan huruf Ba (dari Basmalah) yang menyingkapkannya yaitu menjadi 2x4 sebagai 8 dan sebagai unifikasi 2 dan 4 atau 24 yaitu bagaimana alam 4 dimensinya berputar secara periodik dan bagaimana eksistensinya tak lebih dari medium penampilan yaitu sebagai cermin dari atribut yang ditampilkan oleh angka 1 yaitu Asma dan SifatNya. Ketika cermin itu tampil, yang tampil sejatinya adalah 8 sebagai cermin dan 24 sebagai satu siklus yang mendefinisikan dirinya sebagai makhluk yang eksistensinya ditentukan oleh probabilitas kehendak Angka satu sebagai suatu kondisi "hidup dan mati".

Angka 24 bagi 114 sejatinya adalah ukuran sebagai satuan dimana ia mencerap

citarasa dirinya sebagai makhluk yang dihidupkan dan dimatikan. 24 kemudian menjadi ketentuan dari tempat dimana 114 tinggal didalamnya yaitu periode sehari semalam selama 24 jam. Jadi 1 siklus selama 24 jam itu kemudian menjadi 1 dan 8 sebagai 18 yaitu konstruksi yang mulai eksis dan tegak berdiri sebagai makhluk hidup dan 1+8 sebagai 9 atau sebagai batas akhir dimana dirinya harus tertunduk berserah diri di hadapan Penciptanya dengan ampunan dan taubat. Pengertian 9 kemudian menjadi nomor pertobatan sebagai aktualisasi dari 234 maghfirah sebelum dirinya menyingkap bahwa setelah sembilan sejatinya ia kembali ke angka 1.

Secara lahiriah, proses kembali kepada Yang Esa atau Yang Satu dipahami sebagai 9+1=10 atau 9 dan 1 sebagai 91 yaitu wujudnya cahaya hakiki dimana semua eksistensi kemakhlukan hanya tegak karena adanya Celupan Ilahiyah (Shibghtalaahi) dari Prima Kausa sebagai Allah. Itulah yang wujud ketika dirinya berserah diri sebagai makhluk yang lemah yang sejatinya sekedar cermin, sekedar media untuk menyatakan Kebesaran, Keagunngan, dan

Kamahaindahan Sang Pencipta, Dialah Allah sebagai Prima Kausa.

Dari uraian demikian, maka realitas yang tampil dengan dukungan sistem desimal dan alfabet/abjad, yaitu bilangan 23 sebagai al-Mukminun maupun

jumlah kromosom manusia (2x23=46) dalam keadaan awalnya adalah realitas yang muncul dengan kesempurnaan angka 10 dan dengan kesadarannya yang muncul sebagai makhluk yang tidak mampu tegak berdiri atau lemah, yaitu mandirinya pengakuan dan keyakinan yang menjadi keimanan dengan tauhid “Tiada tuhan selain Allah”, Dan Dia Maha Esa, sebagai penyaksian awal dan akhir eksistensi yang melingkar, menutup ke dirinya sendiri sebagai suatu “tanda” untuk melihat kepada realitas dari “keajaiban” dirinya sebagai manusia yang beriman, yaitu sebagik-baiknya makhluk karena berakal pikiran dan berjiwa yang murni dan lembut. Formulasinya pun menjadi gambaran yang nyata bahwa selain angka 1 sejatinya adalah maya, dan cerapan dari semua pengetahuan yang tampil bagi al-Mukminun, baik sebagai ladang amal, pembelajaran, maupun

ladang peribadahan adalah.

1x(1001x2x3+10x23)=6236

Yang Esa = 6236/(1001x2x3+10x23)

Yaitu sebagai al-Qur’an yang disusun dan dikodefikasikan dengan basis Pengetahuan Tuhan yang tampil dan dipahami oleh al-Mukminun yaitu sistem desimal, biner dan 28 huruf abjad. Oleh karena itu susunan nomor surat, nomor ayat, nama surat, dan setiap huruf maupun kata yang mengawali setiap komposisi surat dan ayat tidak akan dapat berubah. Karena sifat ketertutupan dan keterbatasan pengetahuan manusia itu sendiri yang sejatinya merujuk kepada “keajaiban” wujudnya yang fisikal maupun yang non fisikal, yang lahiriah maupun yang batiniah. Merubah satu huruf dalam suatu komposisi nomor surat dan ayat tertentu, akan menyebabkan keruntuhan sistem pengetahuan manusia yang disepakati saat ini berupa bilangan desimal yang sejatinya merujuk kepada sepasang 5 jari tangan manusia dan meruntuhkan sistem abjad/alfabet dari Alif sampai Ya, dari A sampai Z, dari Alfa sampai Omega.

Dengan komposisi yang kaku namun liat, tertutup namun terbuka, maka alQur’an adalah Kitab Tentang Segala Sesuatu yang berbicara dalam banyak hal tentang pengetahuan yang terpahami manusia sejak zaman dahulu, masa kini, maupun masa depan. Ia menjadi kitab rujukan semua manusia dengan berbagai potensi kecerdasan, kekayaan, kemiskinan, kesempurnaaan, kecacatan, atau apapun kondisi manusia saat itu. Keajaiban kodefikasi al-Qur’an adalah

keajaiban “manusia” yang pengetahuannya saat ini bersandar pada sistem pengetahuan tertutup yang merujuk kepada dirinya sendiri sebagai cermin yaitu sistem pengetahuan berbasis bilangan desimal, biner, dan 28 huruf alfabet yang sejatinya semua itu berasal dari Allah, sebagai Ar-Rahmaan, sebagai Rabbul Aalamin, dan Nama-nama Agung lainnya. Menjadi mustahil untuk mengubah koefikasi al-Qur’an baik nomor maupun hurufnya, karena kemustahilan itu

muncul dari bukti yang nyata bahwa selama ini kita beraktivitas dengan sistem pengetahuan desimal, biner, dan alfabet. Mengubah kodefikasi al-Qur’an sama saja dengan menyatakan bahwa sistem desimal, biner, abjad/alfabet, kata-kata kita, mimpi-mimpi kita, angan-angan kita, dan apa yang tercerap oleh inderawi lahiriah maupun batiniah manusia “harus diubah”.

Al Qur’an dengan kodefikasi dan komposisinya saat ini adalah kitab suci yang menghimpun Wahyu Ilahi yang pernah sampai kepada manusia sebagai Bani Adam. Oleh karena itu al-Qur’an sejatinya merupakan suatu bukti bahwa semuanya akan kembali kepada Prima Kausa. 6236 ayat sebagai jumlah ayat alQur’an adalah bilangan optimum yang aktual bagi 23 untuk mencerap dirinya sebagai makhluk yang diciptakan dari keinginan dan kehendak Yang Esa, maka semua yang tercitra di alam 4 dimensi plus kesadaran atau dalam kontinuum Kesadaran-Ruang-Waktu sebagai sistem pengetahuan 23 sebagai manusia sejatinya hanya sekedar tampilnya Pengetahuan Yang Esa, dan sifat pengetahuan itu menjadi semu atau maya.

Muhammad Dan Pengungkapan Pengetahuan Tuhan Bagi Manusia

Al Qur'an bukanlah produk budaya lokal Arab meskipun ia diturunkan di tanah Arab. Ketika manusia yang meyakini Tuhan Yang Esa mengira al-Qur'an adalah produk budaya, maka ia menjadi syirik karena secara langsung menyatakan keterbatasan Tuhan, dengan kata lain ia tidak memahami sifat-sifat Tuhannya yang Maha Berpengetahuan sebagai Sumber Semua Pengetahuan. Tulisan diatas memang akhirnya harus disadari karena saya secara pribadi meyakini dan mengimani agama Islam sebagai agama Tauhid dimana sumber asal pengetahuan adalah Tuhan sebagai Prima Kausa sebagai suatu aksioma mutlak benar yang harus diyakini kebenarannya karena saya masih hidup di tatasurya dengan cerapan inderawi pada spektrum cahaya tampak dengan panjang gelombang 0,55 mikron. Penulis atau pembaca lain boleh saja tidak sepakat dan hal itu dan mencerminkan logika dan apa yang diyakininya.

Budaya adalah produk aktivitas manusia, namun budaya adalah implementasi praktis manusia yang terbatas atas anugerah yang sampai padanya karna pemahamannya tentang Pengetahuan Tuhan yang diberikan kepadanya untuk mengolah dan mencitarasakan dunianya, lengkap dengan konsekuensi dan akibat yang ditimbulkannya dengan aturan main yang tetap. Turunnya al-Qur'an di Mekkah adalah skenario yang sudah direncanakan sebelum manusia eksis. Kondisi demikian sebenarnya merujuk kepada pengertian yang tidak dipengaruhi ruang-waktu. Ketika Nabi Ibrahim a.s menemukan Tuhan, ia akhirnya membangun Kabah sebagai rumah ibadah, masjid, kuil, atau apapun penyebutan saat itu sebagai tempat untuk beribadah kepada Tuhan, sebagai simbolisme untuk memuja dan memuji Tuhan, tempat munajat dan doa dilantunkan. Bagi Umat islam, Ka’bah adalah kiblat sebagai simbolisme ketundukkan diri dalam kesatuan wujud yang mutlak karena keterbatasan inderawi fisikal maupun ruhaniahnya. Sehingga, arah shalat sebagai manifestasi ubudiyyahnya harus diarahkan kepada titik temu yang sama yaitu menghadap kiblat bukan mencla mencel tidak karuan. Kiblat yang sejati ada dalam diri semua manusia yang beriman dengan benar yaitu Qalb al-Mukminun sebagai tempat rendezvous antara “hamba dan Tuhannya”(‘Abd Allah). Ketika sejarah berkembang seperti apa yang telah menjadi ketentuan Tuhan, maka Mekkah kemudian menjadi tempat sakral manusia saat itu yang telah melupakan ajaran Ibrahim dan Ismail a.s dengan menjadi pemuja berhala. Persis seperti kondisi awal Nabi Ibrahim a.s ketika melihat realitas masyarakatnya yang pagan.

Model masyarakat Arab dengan kekhususan kaum Quraisy dimana Nabi Muhammad SAW lahir adalah model masyarakat sebagai individu dan kelompok yang menjadi ciri manusia umumnya. Artinya masyarakat saat itu, baik yang berada di Mekkah maupun di seluruh dunia mempunyai penampilan lahiriah maupun ruhaniah yang nyaris serupa, menjadi pagan total, tidak menauhidkan Tuhan, dan sebagian kecil lainnya tetap berada di jalan lurus mengikuti ajaran para Nabi dan Rasul. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa saat itu sebagai

ambang batas dimana Pengetahuan Tuhan telah berubah menjadi berbagai bentuk.

Masyarakat Quraisy bisa dikatakan sebagai Global Village baik secara historis, maupun kenyataan yang ada saat itu. Maka saat itu juga lahirlah Muhammad SAW sebagai pembeda yang akan memurnikan kembali Tauhid sebagai ajaran yang meng-Esakan Tuhan. Tauhid dimulai di Mekkah dan dimurnikan kembali ditempat asalnya dimana ajaran itu muncul yaitu Ibrahim a.s. Jadi konteks budaya ketika kita menyimpulkan al-Qur'an sebagai produk budaya Arab sama sekali kurang tepat.

Meskipun dalam al-Qur'an tersirat lokalitas, namun globalitas pengetahuan masyarakat Arab dengan sistem bilangan dan abjadnyanya, yang akhirnya diterima Muhammad SAW sebagai wahyu lebih dominan. Karena itu al-Qur'an menjadi cermin Pengetahuan Tuhan yang tampak nyata dimana Nabi Muhammad SAW sebagai penerimanya karena sunnatullah yang pasti. Nabi Muhammad SAW pun menjadi cermin kesempurnaan Asma dan Sifat Tuhan (QS 9:128-129) yang menampilkan akhlak dan perilaku manusia yang mulia. Ia pun menjadi gambaran tentang sejarah hidup seorang manusia yang menerima Pengetahuan Tertinggi Tentang Segala Sesuatu. Nabi Muhammad SAW adalah maujud nyata dari “Knowledge Of Everything” dan ia sebagai Nabi dan Rasul adalah Utusan Allah sebagai Adimanusia atau Manusia Sempurna yang sesungguhnya menjadi gagasan awal dan akhir penciptaan makhluk. Oleh karena itu, kendati ia seorang Nabi dan Rasul , ia juga seorang manusia umumnya yang lahir, hidup, makan dan minum, beranak pinak, dan akhirnya mati, ia pun menjadi rujukan dan model bagi semua manusia khususnya rujukan akhlak dan perilakunya di semua zaman. Dengan demikian, setting budaya lokal sejatinya cuma sekedar cermin yang buram yang kemudian dibersihkan, akhlak yang tercela yang kemudian dimuliakan kembali, dengan kata lain perubahan dalam diri manusia di semua zaman sebenarnya terwakili oleh kondisi masyarakat Arab saat itu.

Al Qur’an sebagai Kitab Wahyu adalah al-Qur’an yang menjadi Dzikrul Lil Aalamin dan menjadi The Book Of Everything yang akan menjadi sumber pengetahuan yang optimum dimana pengetahuan masa lalu, masa kini, dan masa depan manusia tercermin didalamnya sebagai Wahyu Ilahi yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, al-Qur'an pun akhirnya bersinggungan dengan “square root of two” Phyagoras, golden ratio, bilangan, huruf, geometri, simbol, sejarah manusia, silsilah kenabian, baik dan buruk, perang dan damai, cinta dan benci, keakuan dan kepasrahan, Dzulkarnain dan Yakjuj-Makjuj, akal pikiran dan penyucian jiwa, surga dan neraka, teori kuantum, teori relativitas, dan akhirnya teori kuantum qolbu yang menuju kepada pengertian tentang Knowledge of Everything dalam perspektif fundamental dan luas, bukan dalam perpsektif yang sempit atau terinci meskipun isyarat perinciannya sesekali tampil dan diulas dengan ungkapan yang terselubung (simak makna surat al-Falaq dan teori nuklir atau pembelahan inti sel). Dan semua itu, sebenarnya mencakup kapasitas akal pikiran manusia yang mempunyai kemampuan tri-lateral, filosofis, logis, dan kreatif, yang sejatinya merupakan model penalaran otimum manusia ketika manusia menyatakan ketundukkan dirinya dihadapan Allah sebagai Tuhan Yang Esa. Artinya, wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi al-Qur’an memang sesuai dengan kapasitas yang dapat dilaksanakan oleh manusia lainnya, dengan berbagai potensinya, dan akhirnya perbedaan akan muncul karena berbagai sebab yang menunjukkan kemajemukan sifat dan asma Tuhan Yang Maha Berpengetahuan.

Manusia secara umum didalam al-Qur'an dinyatakan sebagai bayangan kesempurnaan Pengetahuan Tuhan. Dan manusia yang menjadi abidin dan muslimun menjadi lokus penciptaan yang menjadi Nabi, Rasul, Wali , orang beriman dan akhirnya menjadi muslimin yang mengikuti sunnatulrasul untuk menunjukkan peran sentral peribadahan dan aktivitas muslimun sebagai cermin Tuhan. Dan satu mukmin adalah cermin dari mukmin lainnya. Ketika Muhammad

menjadi cermin penampilan Pengetahuan Tuhan yang sempurna, maka ia adalah manusia paripurna yang menjadi cermin dimana Tuhan yang memegang cermin diri-Nya memantulkan cahaya ke cermin-cermin-Nya yang lain (yang sudah menjadi buram, setengah bersih, atau sudah jernih) menimbulkan cermin dalam cermin, maka dikatakannya mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya dalam berbagai bentuk dan ukuran yang tertentu (potensi tertentu dan nyaris tidak sama seperti keunikan sidik jari manusia), namun dengan kesempurnaan yang serupa karena kepatuhannya untuk menjernihkan cermin yang ada padanya yaitu qolbu yang jernih yang menjadi qolbu mukminin, yang mampu menampung Arasy Allah. Kesamaan itu menjadi tampil ketika Umat Islam shalat, baik sendiri-sendrii maupun berjamaah, untuk kemudian kesempurnaan yang sama itu tampil secara lahiriah dengan ibadah Haji bagi yang memang mampu sebagai suatu keringannan universal karena potensi manusia yang berbedabeda dalam aspek fisik dan lahiriah semata.

Karena itu tidak ada relevansinya menyatakan al-Qur'an produk budaya Arab walaupun pentas dimana al-Qur'an diturunkan berada di tanah Arab karena segi historis dan pemodelan manusia yang ada saat itu memenuhi kriteria manusia maupun masyarakat yang berlaku sepanjang masa, yaitu manusia yang memiliki kesombongan seperti gunung batu al-Hijr, yang hatinya bolak balik tidak menentu, namun juga manusia yang dapat memiliki kesempurnaan sebagai “insaana fii ahsaani takwiim”.

al-Qur'an adalah produk Pengetahuan Tuhan yang disampaikan kepada manusia melalui esensi makhluk pertama yang diciptakan-Nya yang lahiriahnya menjadi Nabi Muhammad SAW. Sehingga pengetahuan yang tersirat didalamnya mencakup segala pengetahuan yang dipahami manusia sepanjang masa, khususnya pengetahuan yang berlandaskan kepada kontinuum kesadaranruang-waktu yang tak lain merupaan model hubungan Pencipta-Makhluk, Tuhanmanusia karena sejak awal dan akhir penampilan Pengetahuan Tuhan adalah pengenalan dari rahasia-Nya yang menjadi harta terpendam semua manusia

yaitu dirinya sendiri yang menjadi cermin dimana Pengetahuan Tuhan dapat menetap dan manusia mampu kembali kepada-Nya dengan selamat. Karena itu manusia mengenal-Nya karena-Nya, bukan karena kemampuannya yang sejatinya sangat lemah.

Apapun pengetahuan Tuhan yang telah disampaikan sebagai al-Qur’an pada akhirnya akan berguna bila ia menetap dalam qolbu manusia yang

menjadikannya sebagai pedoman dalam semua aktivitasnya. Sehingga al-Qur’an yang suci dan bukan makhluk sejatinya al-Qur’an yang nilai-nilainya

teraktivasikan dari akal pikiran dan jiwa yang paling jernih, menetap dalam hati dan menjadi bagian dari aktivitas manusia di ladang maghfirah-nya yang

terbentang sebagai dunia dan alam semesta. Tanpa penetapan al-Qur’an dengan al-Yaqin, maka al-Qur’an sekedar makhluk yang menjadi pajangan di masjid-masjid, rumah-rumah, perpustakaan, atau sekedar menjadi hiasan lahiriah saja yang mengundang datangnya syirik dan kedengkian.

Huwa.

Qul huwallahu Ahad, Allaahu Shamad, Lam yalid walam yulad wa laam yaqulla hu quffuwan ahad.

Allahu Laailaha illa huwal hayyul qayyum

Bismillahirrahmanirrahiim, Alhamdulillahi rabbil aalamin Ar Rahmanir rahiim Maliki yaumid diin Iyyaaka naqbudu wa iyya kanastaain ihdinash shirathaal mustaqiim,

shiratala ladzina anamta alaihim ghairil maghdubi alaihim walad dzolin

Laa Haula wala quwwata illaa billah

Laa ilaaha illaa Allah,Muhammadurrasululah.

Huwal Awwaalu wal aakhiruu wazh zhaahiru wal baathinu wa huwa bi kulli syaiin 'aliim

Amiin

Jakarta (623), Q, Lebak Bulus(132), 9-2-2006 Atmonadi, Pengamat sosial dan budaya, agama, sains dan teknologi dan praktisi teknologi informasi. Founder myquran.com.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful