Catalytic Reforming, Sejarahnya

Catalytic Reforming adalah proses dimana komponen minyak ringan atau naphtha yang diperoleh dari proses distilasi dilewatkan pada katalis yang mengandung platina pada temperature tinggi dengan tekanan antara 50 ± 500 psig dengan tujuan untuk meningkatkan angka octane dari minyak umpan. Catalityc Reforming muncul karena kebutuhan akan minyak dengan angka oktan. Kebutuhan minyak dengan jenis itu telah dikenal sejak awal abad ke 20, namun pada saat itu proses yang digunakan untuk memperoleh minyak dengan nilai oktan yang tinggi adalah dengan proses thermal. Sedangkan proses dengan menggunakan katalis baru diperkenalkan pada awal tahun 1940, dimana menghasilkan jumlah minyak dengan oktan tinggi lebih banyak dengan oktan yang lebih tinggi dibandingkan dengan proses thermal. Pada awal perkembangannya, katalis yang digunakan untuk meningkatkan angka oktan berbasis molybdenum oxide. Pada tahun 1949, terjadi perubahan yang sangat revolusioner dalam industri pengolahan minyak dengan diperkenalkannya platinum sebagai katalis. UOP (United Oil Processing) merupakan perusahan pertama yang memperkenalkan teknologi tersebut. Dengan diperkenalkannya platina sebagai basis katalis, selanjutnya molybdenum oxide akhirnya ditinggalkan. UOP (United Oil Processing) memperkenalkan Platforming yang menggunakan teknologi semiregenerative atau fix bed katalis, dimana pada periode tertentu, kilang platforming harus berhenti beroperasi untuk melakukan regenerasi katalis guna meningkatkan kembali aktifitas katalis. Proses regenerasi katalis ini dilakukan dengan membakar coke yang terbentuk dan menyelimuti katalis. Saat ini platforming sudah menggunakan teknologi Continuous Catalyst Regeneration (CCR), dimana katalis diregenerasi terus menerus sepanjang kilang beroperasi. Dengan demikian kilang tidak perlu berhenti beroperasi selama proses regenerasi berlangsung. Walaupun kilang dengan teknologi CCR sudah banyak dibangun, namun kilang dengan teknologi semiregenerative atau fix bed katalis tetap dipertahankan operasi nya sampai saat ini.

Katalis dan Racunnya ‡ Katalis pada kendaraan diesel (CuO atau Al2O3) Katalis CuO atau Al2O3 akan mengalami keracunan jika terdapat senyawa sulfur dalam reaktan. Solar Indonesia mengandung sulfur sebesar 0,5% berat, sehingga CuO atau Al203 tidak dapat digunakan sebagai katalis untuk katalitik konverter kendaraan diesel.

V2O5 dengan penyangga zeolit atau natural diatomite brick Tujuan pemakaian penyangga: memperluas permukaan kontak katalis dengan reaktan Peracunan katalis Pada saat terjadi peracunan. lead. Dalam jumlah sangat sedikit saja akan menyebabkan deaktivasi katalis total. (Katalis V2O5 dan Platinized-silica-gel tahan terhadap racun arsenik). antimony. selenium.‡ Katalis pada Sintesis Asam Sulfat (Pt. Fe2O3. dsb. Deaktivasi artinya berkurangnya keaktifan katalis. Ni bereaksi dengan H2O membentuk NiO. V2O5) Katalis yang digunakan: a. . NiCl2) sehingga senyawa aktif tersebut tidak dapat mereaksikan gas bumi. Cl membentuk NiS. HCl pemanasan di dalam gas yang bebas Cl2 dan HCl. Proses peracunan terjadi sebagai akibat melekatnya bahan-bahan asing (yang disebut racun. seperti debu. tellurium. terdapat pada terak pemanggangan pirit. lead. Pt dengan penyangga asbes atau magnesium sulfat yang telah dikalsinasi atau silika gel. Nikel merupakan sulfur absorbent yang sangat baik.Oksidasi katalis: katalis mengalami oksidasi kembali ke NiO.Keracunan (poisoning): terjadi apabila senyawa aktif (Ni) bereaksi dengan senyawa racun (misal S. Fe2O3 Kurang reaktif dibandingkan Pt. senyawa selenium. katalis diaktifkan lagi dengan cara b.) pada permukaan aktif katalis sehingga tidak dapat dipakai sebagai tempat reaksi. Contoh: Cl2. c. ‡ Katalis pada Catalitic reforming (Ni) Pada umumnya katalis yang dipakai di Steam Reforming adalah Nikel. aktivitas katalis turun. antimony. Deaktivasi secara kimiawi: . Fisis dapat diaktifkan kembali. Contoh: senyawa arsenik. A. Proses melekatnya benda asing pada permukaan aktif katalis dapat terjadi secara: a. . tellurium. Kimia adsorpsi secara kuat pada permukaan aktif tidak dapat diaktifkan lagi. Dapat terjadi apabila H2 pada umpan kurang. Dapat terjadi secara kimiawi dan secara fisik. b. tetapi murah.

2 wt-ppm untuk menjamin stabilitas dan selektivitas katalis yang maksimum. Lebih lanjut lagi. Nitrogen Konsentrasi nitrogen maksimum yang diijinkan dalam umpan naphtha adalah 0. hydrotreater stripper upset. kondisi ini akan menyebabkan chloride ter-strip dari katalis. sehingga mengganggu kesetimbangan H2O/Cl dan menyebabkan reaksi menjadi terganggu. Biasanya diusahakan kandungan sulfur dalam umpan naphtha sebesar 0.Karbonisasi .5 wt-ppm. antara lain : .Sintering Beberapa racun katalis catalytic reforming adalah sebagai berikut : Sulfur Konsentrasi sulfur maksimum yang diijinkan dalam umpan naphtha adalah 0. memproses feed yang memiliki end point tinggi. Beberapa sumber yang membuat kandungan sulfur dalam umpan naphta tinggi adalah : proses hydrotreating yang tidak baik (temperature reactor kurang tinggi atau katalis sudah harus diganti). atau combined oxygen di unit catalytic reforming. dissolved oxygen. Tingkat moisture di atas level ini dapat menyebabkan reaksi hydrocracking yang excessive dan juga dapat menyebabkan coke laydown. Beberapa sumber yang membuat kandungan nitrogen dalam umpan naphtha tinggi adalah : proses hydrotreating yang tidak baik (temperature reactor kurang tinggi atau katalis sudah harus diganti). Deaktivasi secara fisik terjadi apabila katalis menjadi tidak aktif karena perubahan fisik atau adanya suatu benda/padatan yang menutupi senyawa aktif sehingga tidak dapat kontak dengan reaktan. penggunaan filming atau neutralizing amine sebagai corrosion inhibitor di seluruh area yang tidak tepat guna.1-0. Kandungan nitrogen dalam umpan naphtha akan menyebabkan terbentuknya deposit ammonium chloride pada permukaan katalis. Water Kandungan air dalam recycle gas sebesar 30 mol-ppm sudah menunjukkan excessive water.5 wt-ppm. recombination sulfur dari naphtha hydrotreater (dan terbentuknya sedikit olefin) akibat temperature hydrotreater yang tinggi dan tekanan hydrotreater yang rendah. .B.

produk korosi. system injeksi water catalytic reforming. kandungan silicon dalam cracked naphtha yang berasal dari silicon based antifoam agent yang diijeksikan ke dalam coke chamber untuk mencegah foaming. Keracunan logam dapat dicegah dengan membatasi kandungan logam dalam umpan. arsenic. maka kontaminasi metal ke dalam katalis catalytic reforming sama sekali tidak dibolehkan. kebocoran heat exchanger yang menggunakan pemanas pendingin steam/water di upstream unit. timbal. Jenis logam yang biasanya menjadi racun katalis hydrocracker adalah nikel.Beberapa sumber yang membuat kandungan air dalam system tinggi adalah : proses hydrotreating yang tidak sesuai. Metal Karena efek reaksi irreversible. dan kebocoran steam jacket di regeneration section. Best practice batasan maksimum kandungan logam yang terkandung dalam umpan hydrocracker adalah 1. silica. phosphorous. serta 0. kebocoran naphtha hydrotreater stripper feed effluent heat exchanger. Kandungan air dalam katalis Air dapat masuk ke dalam katalis jika pemisahan air dari feed hydrocracker di dalam tangki penyimpanan tidak sempurna ataupun terjadi kerusakan steam coil pemanas tangki penyimpanan. copper. sehingga umpan catalytic reformer tidak boleh mengandung metal sedikit pun. dan injeksi corrosion inhibitor yang berlebihan ke stripper naphtha hydrotreater. magnesium. proses drying yang tidak cukup di drying zone di dalam regeneration tower. natrium.5 ppmwt untuk natrium. lead mungkin timbul akibiat memproses ulang off-spec leaded gasoline atau kontaminasi umpan dari tangki yang sebelumnya digunakan untuk leaded gasoline. ‡ Katalis Pada Proses Hydrocracking (Pt) Keracunan Logam Pada proses penghilangan logam dari umpan. dan phospor. vanadium. senyawa logam organik terdekomposisi dan menempel pada permukaan katalis. ferro. Air dapat dicegah masuk ke dalam reactor dengan memasang filter 25 micron ‡ Katalis Pada Proses Reforming . kalsium. Beberapa sumber kandungan metal dalam umpan naphtha adalah : arsenic (ppb) dalam virgin naphtha.5 ppmwt untuk nikel dan vanadium. senyawa water treating yang mengandung zinc. 2 ppmwt untuk ferro dan logam lain. Keracunan katalis oleh logam bersifat permanent dan tidak dapat hilang dengan cara regenerasi.

. Katalis reformer bifungsional mempunyai inti aktif logam (mono dan bi-metal) dan inti aktif asam (Al2O3Cl). Umpan nafta mengandung kotoran-kotoran molekul non-hidrokarbon senyawa organic berupa sulfur. nitrogen.Proses reforming nafta dengan katalis bifungsional dapat menghasilkan komponen bensin bermutu tinggi dan hidrokarbon aromatik rendah (benzena. dan silena). Kotoran non-hidrokarbon umpan nafta dapat menurunkan aktivitas katalis reformer bi-fungsional. toulena. sehingga umpan nafta tersebut perlu dimurnikan lebih dulu pada proses hidromurnian. oksigen dan juga organik logam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful