Sanusi ngawi Hidup Sederhana Tanpa Kekurangan SKRIPSI DIARE

7 Votes HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan pimpinan (advokasi), bina suasana ( social support) dan pemberdayaan masyarakat ( empowerment) sehingga dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dalam rangka menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat PHBS merupakan wujud keberadaan masyarakat yang sadar, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat (Dinkes, 2006). Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1193/Menkes/SK/X/2004 adalah “Perilaku Hidup Bersih & Sehat 2010” atau “PHBS 2010” adalah keadaan dimana individu-individu dalam rumah tangga (keluarga) masyarakat Indonesia telah melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat dalam rangka : a.Mencegah timbulnya penyakit dan masalah-masalah kesehatan lainnya b. Menanggulangi penyakit dan masalah-masalah kesehatan lain, dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan c.Memanfaatkan pelayanan kesehatan d. Mengembangkan dan menyelenggarakan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat Anonim. 2010. http://dinkes-sulsel.go.id/pdf/Perilaku_hidup_bersih_&_sehat.pdf (Akses : 9 Mei 2011) Amalia, Imanda. 2009.

Hubungan Antara Pendidikan, Pendapatan dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Pada Pedagang Hidangan Istimewa Kampung (HIK) di Pasar Klowon dan Jebres Kota Surakarta . http://etd.eprints.ums.ac.id/5963/1/J410050016.PDF http://digilib.uns.ac.id/upload/dokumen/176501402201101511.pdf (Akses : 9 Mei 2011) Balita merupakan kelompok umur yang rawan gizi dan rawan penyakit, utamanya penyakit infeksi (Notoatmodjo S, 2004). Salah satu penyakit infeksi pada balita adalah diare dan ISPA. Diare lebih dominan menyerang balita karena daya tahan tubuh balita yang masih lemah sehingga balita sangat rentan terhadap penyebaran virus penyebab diare. Diare merupakan salah satu penyebab angka kematian dan kesakitan tertinggi pada anak, terutama pada balita. Menurut Parashar tahun 2007, di dunia terdapat 6 juta balita yang meninggal tiap tahunnya karena penyakit diare. Dimana sebagian kematian tersebut terjadi di negara berkembang termasukIndonesia(DepkesRI, 2007). Hal yang bisa menyebabkan balita mudah terserang penyakit diare adalah perilaku hidup masyarakat yang kurang baik dan keadaan lingkungan yang buruk. Diare dapat berakibat fatal apabila tidak ditangani secara serius karena tubuh balita sebagian besar terdiri dari air, sehingga bila terjadi diare sangat mudah terkena dehidrasi (Depkes, 2010). Penyakit diare adalah penyakit yang sangat berbahaya dan terjadi hampir di seluruh daerah geografis di dunia dan bisa menyerang seluruh kelompok usia baik laki – laki maupuun perempuan, tetapi penyakit diare dengan tingkat dehidrasi berat dengan angka kematian paling tinggi banyak terjadi pada bayi dan balita. Di negara berkembang termasukIndonesiaanak-anak menderita diare lebih dari 12 kali per tahun dan hal ini yang menjadi penyebab kematian sebesar 15-34% dari semua penyebab kematian (Depkes, 2010). 1 Penyakit diare diIndonesia merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama, hal ini disebabkan karena masih tingginya angka kesakitan diare yang menimbulkan banyak kematian terutama pada balita. Angka kesakitan diare di Indonesia dari tahun ke tahun cenderung meningkat, pada tahun 2006 jumlah kasus diare sebanyak 10.980 penderita dengan jumlah kematian 277 (CFR 2,52%). Secara keseluruhan diperkirakan angka kejadian diare pada balita berkisar antara 40 juta setahun dengan kematian sebanyak 200.000 sampai dengan 400.000 balita. Pada survei tahun 2000 yang dilakukan oleh Depkes RI melalui Ditjen P2MPL di 10 provinsi didapatkan hasil bahwa dari 18.000 rumah tangga yang disurvei diambil sample sebanyak 13.440 balita, dan kejadian diare pada balita yaitu 1,3 episode kejadian diare pertahun (Soebagyo, 2008). Jumlah kasus diare di Maju Jaya tahun 2010 yaitu sebanyak 825.022 penderita, sedangkan jumlah kasus diare pada balita yaitu sebanyak 269.483 penderita. Jumlah kasus diare pada balita setiap tahunnya rata-rata di atas 32,66%, hal ini menunjukkan bahwa kasus diare pada balita masih tetap tinggi dibandingkan golongan umur lainnya (Dinkes Maju Jaya, 2011). Kabupaten Sukolegowo merupakan salah satu dari 38 Kabupaten/Kota di Provinsi Maju Jaya dengan angka kejadian diare pada balita tahun 2008 cukup tinggi yaitu sebanyak 2.035 kasus, (Dinkes Sukolegowo, 2009). Pada tahun 2009 sebanyak 1.979 kasus dan pada tahun 2010 sebanyak 5.116 kasus, (Dinkes Sukolegowo, 2011) Kabupaten Sukolegowo terbagi menjadi 19 kecamatan dan salah satunya adalah Kecamatan Sumber Jadi. Berdasarkan data dari Puskesmas Sumber Jadi penderita diare pada tahun 2008 sebanyak 524 penderita dan diare pada balita sebanyak 301 penderita. Pada tahun 2009

sebanyak 642 penderita dengan jumlah diare pada balita sebanyak 344 penderita. Pada tahun 2010 sebanyak 783 penderita, jumlah penderita diare balita tahun 2010 sebanyak 387 penderita. Desa Sukomakmur, Kecamatan Sumber Jadi, Kabupaten Sukolegowo adalah Desa dengan jumlah Balita terbanyak di Kecamatan Sumber Jadi yaitu sebanyak 231 Balita dengan angka kejadian diare pada tahun 2010 sebanyak 54 kasus (Puskesmas Sumber Jadi, 2011). Berdasarkan hasil survey PHBS yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan kabupaten Sukolegowo bersama dengan Puskesmas Sumber Jadi di Desa Sukomakmur, Kecamatan Sumber Jadi, Kabupaten Sukolegowo pada bulan Oktober 2010 didapatkan hasil sebagai berikut 63% termasuk kriteria sehat dan sisanya sebanyak 37% masuk kriteria tidak sehat. Berdasar pada angka hasil survey PHBS tersebut ternyata masih ada sebagian dari penduduk yang masuk kriteria tidak sehat sehingga dimungkinkan bisa menjadi penyebab tingginya angka kejadian diare di desa tersebut. Faktor-faktor yang meningkatkan resiko terjadinya diare adalah lingkungan, praktik penyapihan yang buruk dan malnutrisi. Diare dapat menyebar melalui praktik-praktik yang tidak higienis seperti menyiapkan makanan dengan tangan yang belum dicuci, setelah buang air besar atau membersihkan tinja seorang anak serta membiarkan seorang anak bermain di daerah dimana ada tinja yang terkontaminasi bakteri penyebab diare (Depkes, 2010). Perilaku ibu dalam menjaga kebersihan dan mengolah makanan sangat dipengaruhi oleh pengetahuan tentang cara pengolahan dan penyiapan makanan yang sehat dan bersih. Pengetahuan dan kesadaran orang tua terhadap masalah kesehatan balitanya tentu sangat penting agar anak selalu dalam keadaan sehat dan terhindar dari berbagai penyakit, sedangkan yang mengalami diare tidak jatuh pada kondisi yang lebih buruk. Sebagian besar angka kematian diare ini diduga karena kurangnya pengetahauan masyarakat terutama ibu, mengenai upaya pencegahan dan penanggulangan diare (Wijaya, 2002). Kurangnya pengetahuan bisa mempengaruhi perilaku seseorang termasuk perilaku di bidang kesehatan sehingga bisa menjadi penyebab tingginya angka penyebaran suatu penyakit termasuk penyakit diare yang mempunyai resiko penularan dan penyebaran cukup tinggi. Penyakit diare yang merupakan penyakit berbasis lingkungan juga dipengaruhi oleh keadaan kebersihan baik perorangan (personal hygiene) maupun kebersihan lingkungan perumahan, sanitasi yang baik dan memenuhi syarat kesehatan serta didukung oleh personal hygiene yang baik akan bisa mengurangi resiko munculnya suatu penyakit termasuk diantaranya penyakit diare. Personal hygiene dan sanitasi lingkungan perumahan yang baik bisa terwujud apabila didukung oleh perilaku masyarakat yang baik atau perilaku yang mendukung terhadap program-program pembangunan kesehatan termasuk program pemberantasan dan program penanggulangan penyakit diare. Ada beberapa faktor yang berkaitan dengan kejadian diare yaitu tidak memadainya penyediaan air bersih, air tercemar oleh tinja, kekurangan sarana kebersihan, pembuangan tinja yang tidak higienis, kebersihan perorangan dan lingkungan yang jelek, serta pengolahan dan penyimpanan makanan yang tidak semestinya. Banyak faktor yang secara langsung maupun tidak langsung dapat menjadi faktor pendorong terjadinya diare, terdiri dari faktor agent penjamu, lingkungan dan perilaku. Faktor penjamu yang menyebabkan meningkatnya kerentanan terhadap diare, diantaranya tidak memberikan ASI selama 2 tahun, kurang gizi, penyakit campak, dan imunodefisiensi. Faktor lingkungan yang paling dominan yaitu sarana penyediaan air bersih dan pembuangan tinja, kedua faktor ini akan berinteraksi bersama dengan perilaku manusia. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku manusia yang tidak sehat pula, maka penularan diare dengan mudah dapat terjadi (Depkes, 2005). Untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat diare, pemerintah melalui Dinas Kesehatan melakukan beberapa upaya : 1) Meningkatkan kwalitas dan kwantitas tatalaksana

pertemuan Kader. 2000). Mengidentifikasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).3.4. menggunakan air bersih yang cukup. 1. 4) Meningkatkan sanitasi lingkungan. Puskesmas Sumber Jadi melalui Program Pemberantasan Penyakit Menular. kelompok arisan dan kegiatan-kegiatan masyarakat yang lain baik yang bersifat formal maupun non formal. 3) Meningkatkan upaya pencegahan melalui kegiatan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE).diare melalui pendekatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dan pelaksanaan Pojok Oralit.2. 2010). Mengidentifikasi kejadian diare pada balita. Berdasarkan uraian di atas maka penulis merasa perlu untuk mengadakan penelitian mengenai hubungan pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo. Mengidentifikasi pengetahuan ibu tentang penyakit diare. di samping itu kegiatan kuratif juga dilaksanakan dengan fasilitas Puskesmas rawat inap dan UGD Puskesmas yang buka 24 Jam semua ini dengan tujuan untuk memberikan pelayanan yang terbaik pada masyarakat. Tujuan umum Tujuan umum dalam penelitian ini adalah: mengetahui hubungan pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo. Rumusan Masalah Apakah ada hubungan pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo ? 1. Tujuan 1. membuang tinja bayi dengan benar dan memberikan imunisasi campak karena pemberian imunisasi campak dapat mencegah terjadinya diare yang lebih berat (Depkes. Kegiatan yang telah dan selalu dilaksanakan adalah penyuluhan tentang penyakit diare di berbagai kelompok masyarakat. 2) Mengupayakan tatalaksana penderita diare di rumah tangga secara tepat dan benar. secara intensif terus berupaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat termasuk di dalamnya program penanggulangan penyakit diare baik secara promotif. Upaya pencegahan diare meliputi : memberikan ASI. Menganalisis perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita. termasuk sebagai bentuk kesiapan apabila terjadi kasus luar biasa (KLB) termasuk mengantisipasi apabila terjadi KLB penyakit diare. Menganalisis hubungan pengetahuan dengan kejadian diare pada balita. 1) 2) 3) 4) 5) 1.3.1.2. baik melalui kegiatan Posyandu. 1. 5) Meningkatkan kewaspadaan dini dan penanggulangan kejadian luar biasa diare (DepKes RI. memperbaiki makanan pendamping ASI. menggunakan jamban.3. Tujuan khusus. Manfaat Penelitian . preventif maupun kuratif. mencuci tangan.

Pelaksanaan kegiatan dalam pencegahan penyakit diare melalui program pemberantasan penyakit menular secara rutin harus selalu dilaksanakan khususnya secara preventif atau pencegahan melalui penyuluhan di berbagai kelompok masyarakat baik kelompok formal maupun non formal.Penelitian ini diharapkan bisa bermanfaat khususnya bagi peneliti dan fihak-fihak terkait baik secara teoritis maupun praktis. 2) Bagi masyarakat / keluarga Menimbulkan kesadaran pada keluarga atau masyarakat akan pentingnya upaya pencegahan penyakit diare. Manfaat secara teoritis 1) Sebagai salah satu sumber informasi tentang hubungan antara pengetahuan dan Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian dan upaya pencegahan penyakit diare pada balita.5. serta kecepatan dan ketepatan dalam memberikan pertolongan baik secara mandiri maupun dengan memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia. Balita yang merupakan kelompok umur yang rawan gizi dan rawan penyakit memerlukan perhatian yang lebih supaya kasus-kasus diare pada balita bisa dikurangi atau diatasi sehingga angka kesakitan dan angka kematian akibat penyakit diare pada balita bisa diatasi. Sehingga sangat diperlukan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita sehingga dalam pelaksanaan program pencegahan penyakit diare dapat terwujud. BAB II TINJAUAN PUSTAKA . Sebagai masukan dalam merencanakan program untuk upaya pencegahan penyakit diare di masyarakat. semakin baik pengetahuan seseorang maka akan semakin positif sikap seseorang sehingga perilaku yang unsur-unsurnya sangat dipengaruhi oleh sikap akan semakin positif pula . Relevansi Pengetahuan masyarakat tentang penyakit diare merupakan salah satu komponen yang sangat penting untuk mengatasi masalah diare di masyarakat.4. 1. Program pencegahan penyakit diare untuk bisa tercapai hasilnya diperlukan kerja sama yang baik antara masyarakat dan petugas kesehatan.4.2. 1. 2) Sebagai pengembangan dari ilmu keperawatan khususnya keperawatan komunitas tentang hubungan pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita. Manfaat secara praktis 1) Bagi Instansi terkait (Puskesmas dan Dinas Kesehatan) Memberikan masukan dalam membuat kebijakan untuk neningkatkan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat khususnya dalam mengatasi masalah diare. 1.1. pengetahuan akan sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap dan perilaku. upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit diare. sehingga upaya yang selama ini yang terus digalakkan oleh Pemerintah bisa mendapatkan hasil sesuai dengan harapan semua fihak.

dan serangan bakteri lain yang jumlahnya berlebihan dan patogenik seperti pseudomonas. b) 8 Infeksi virus rotavirus.1.1. terjadi bila dalam makanan terdapat lemak yang disebut triglyserida.1. dengan bantuan kelenjar lipase. makanan dan faktor psikologis. Sedangkan malabsorpsi lemak. konsistensi faeces encer. dan Keracunan makanan Faktor malabsorpsi Faktor malabsorpsi dibagi menjadi dua yaitu malabsorpsi karbohidrat dan lemak. pada bayi kepekaan terhadap lactoglobulis dalam susu formula dapat menyebabkan diare. Menurut Depkes (2010) diare adalah suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya. Konsep Penyakit Diare 2. 1) Faktor infeksi Infeksi pada saluran pencernaan merupakan penyebab utama diare pada anak. baik balita. Vibrio cholerae (kolera). c) d) e) f) 2) Infeksi parasit oleh cacing (Ascaris lumbricoides). diare diartikan sebagai buang air encer lebih dari empat kali sehari. diare disebabkan oleh faktor infeksi. 2. Infeksi jamur (Candida albicans). Jika tidak ada lipase dan terjadi kerusakan mukosa usus. Menurut Mansjoer A (2003). malabsorpsi (gangguan penyerapan zat gizi). bronchitis dan radang tenggorokan. Malabsorpsi karbohidrat. Jenis-jenis infeksi yang umumnya menyerang antara lain: a) Infeksi oleh bakteri: Escherichia colin. Etiologi Menurut Widjaja (2002).1. Sedangkan menurut Widjaja (2002). diare adalah buang air besar dengan konsistensi encer atau cair dan lebih dari 3 kali sehari. diare dapat muncul karena lemak tidak terserap dengan baik. Salmonella thyposa. serta frekwensi lebih dari 3 kali sehari pada anak dan pada bayi lebih dari 4 kali sehari dengan atau tanpa lendir darah. seperti radang tonsil. Diare menurut Ngastiyah (2005) adalah keadaan frekwensi buang air besar lebih dari 4 kali sehari pada bayi dan lebih dari 3 kali sehari pada anak. Infeksi akibat organ lain. mengubah lemak menjadi micelles yang siap diabsorpsi usus. dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah atau lendir saja. tinja berbau sangat asam. dan sakit di daerah perut. 2000). Hingga kini diare masih menjadi child killer (pembunuh anak-anak) peringkat pertama diIndonesia. Infeksi basil (disentri). anak-anak dan orang dewasa. Triglyserida. .2. Gejalanya berupa diare berat. baik disertai lendir dan darah maupun tidak. Semua kelompok usia diserang oleh diare. ditandai dengan peningkatan volume keenceran.2. Definisi penyakit diare Diare adalah buang air besar lembek atau cair dapat berupa air saja yang frekwensinya lebih sering dari biasanya (biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari) (DepkesRI.

4. diare yang berlangsung kurang dari 14 hari (umumnya kurang dari 7 hari). 2) Faktor malabsorbsi Merupakan kegagalan dalam melakukan absorbsi yang mengakibatkan tekanan osmotik meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke rongga usus yang dapat meningkatkan isi rongga usus sehingga terjadi diare. 3) Faktor makanan Dapat terjadi peningkatan peristaltik usus yang mengakibatkan penurunan kesempatan untuk menyerap makanan yang kemudian menyebabkan diare. basi. Patofisiologi Menurut Depkes (2010) proses terjadinya diare dapat disebabkan oleh berbagai kemungkinan.3. 4) Faktor psikologis Rasa takut. 2. berdasarkan jenisnya dibagi menjadi empat yaitu : 1) Diare Akut Diare akut yaitu. diantaranya: 1) Faktor infeksi Proses ini dapat diawali adanya mikroba atau kuman yang masuk dalam saluran pencernaan yang kemudian berkembang dalam usus dan merusak sel mukosa usus yang dapat menurunkan daerah permukaan usus selanjutnya terjadi perubahan kapasitas usus yang akhirnya mengakibatkan gangguan fungsi usus dalam absorbsi cairan dan elektrolit atau juga dikatakan bakteri akan menyebabkan sistem transporaktif dalam usus sehingga sel mukosa mengalami iritasi yang kemudian sekresi cairan dan elektrolit meningkat.1. umumnya terjadi pada anak yang lebih besar. Makanan yang terkontaminasi jauh lebih mudah mengakibatkan diare pada anak dan balita. sedangkan dehidrasi merupakan penyebab utama kematian bagi penderita diare. Jenis diare Penyakit diare menurutDepkesRI(2000). 4) Faktor psikologis Keadaan psikologis seseorang dapat mempengaruhi kecepatan gerakan peristaltik usus yang akhirnya mempengaruhi proses penyerapan makanan yang dapat menyebabkan diare. 2) Disentri . terlalu banyak lemak. cemas. Akibatnya adalah dehidrasi. mentah (sayuran) dan kurang matang.1. Tetapi jarang terjadi pada balita. dan tegang. beracun.3) Faktor makanan Makanan yang mengakibatkan diare adalah makanan yang tercemar. jika terjadi pada anak dapat menyebabkan diare kronis. 2.

diare yang disertai darah dalam tinjanya. kuah sayur. Akibat disentri adalah anoreksia. sari buah. air the.6. penurunan berat badan dengan cepat. Muntah sebelum dan sesudah diare. gelisah. 3) Diare persisten Diare persisten. Kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui fecal oral antara lain melalui makanan atau minuman yang tercemar tinja dan atau kontak langsung dengan tinja penderita. Tanda-tanda diare Mula-mula pasien cengeng. dan kemungkinan terjadinnya komplikasi pada mukosa. seperti demam. Sebelum anak dibawa ke tempat fasilitas kesehatan untuk mengurangi resiko dehidrasi sebaiknya diberi oralit terlebih dahulu. nafsu makan berkurang atau tidak ada. bila tidak tersedia berikan cairan rumah tangga misalnya air tajin. berat badan menurun. tinja cair. air matang dan lain-lain. berlendir atau berdarah Warna tinja kehijauan akibat bercampur dengan cairan empedu. suhu tubuh biasanya meningkat. dehidrasi berat.5. Hipoglikemia (penurunan kadar gula darah). menyimpan . 2. Beberapa perilaku dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan risiko terjadinya diare.Disentri yaitu. Suhu badan meningkat. anus dan daerah sekitar lecet. Gangguan gizi akibat intake (asupan) makanan yang kurang. gangguan gizi atau penyakit lainnya. epidemiologi penyakit diare adalah sebagai berikut: Penyebaran kuman yang menyebabkan diare. 2. Dehidrasi (kekurangan cairan).1. Tinja bayi encer. dehidrasi sedang. muntah. selaput lendir mulut dan kulit kering (Ngastiyah. 2. Akibat diare persisten adalah penurunan berat badan dan gangguan metabolisme.7.1. dehidrasi ringan. Lecet pada anus.1. menggunakan botol susu yang kotor. yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secara terus menerus. 4) Diare dengan masalah lain Anak yang menderita diare (diare akut dan diare persisten) mungkin juga disertai dengan penyakit lain. Gejala diare Menurut Widjaja (2000). 2005). Epidemiologi penyakit diare Menurut Depkes RI (2005). warna tinja makin lama kehijau-hijauan karena bercampur dengan empedu. gejala-gejala diare adalah sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Bayi atau anak menjadi cengeng dan gelisah. ubun-ubun cekung. antara lain tidak memberikan ASI secara penuh 4-6 bulan pada pertama kehidupan.

Saat anak berumur 11 tahun berikan semua makanan yang dimasak dengan baik. tidak mencuci tangan sesudah buang air besar atau sesudah membuang tinja anak atau sebelum makan atau menyuapi anak. setelah anak berumur 9 bulan atau lebih.8. tambahkan macam makanan lain dan frekwensi pemberikan makan lebih sering (4 kali sehari). frekwensi pemberiannya 4-6 kali sehari. 1) Faktor pejamu yang meningkatkan kerentanan terhadap diare Faktor pada pejamu yang dapat meningkatkan insiden. menggunakan air minum yang tercemar. hal-hal tersebut adalah: 1) Memberikan ASI ASI turut memberikan perlindungan terhadap terjadinya diare pada balita karena antibodi dan zat-zat lain yang terkandung di dalamnya memberikan perlindungan secara imunologi. kurang gizi. 5) Menggunakan jamban Upaya penggunaan jamban mempunyai dampak yang besar dalam penurunan resiko penularan diare karena penularan kuman penyebab diare melalui tinja dapat dihindari. 4) Mencuci tangan Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan. 2) Memperbaiki makanan pendamping ASI Perilaku yang salah dalam pemberian makanan pendamping ASI dapat menyebabkan resiko terjadinya diare sehingga dalam pemberiannya harus memperhatikan waktu dan jenis makanan yang diberikan. maka dapat menimbulkan kejadian diare. 2) Faktor lingkungan dan perilaku Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan. campak. . dan tidak membuang tinja dengan benar. 2. yaitu sarana air bersih dan pembuangan tinja. beberapa penyakit dan lamanya diare.1.makanan masak pada suhu kamar. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku yang tidak sehat pula. Pemberian makanan pendamping ASI sebaiknya dimulai dengan memberikan makanan lunak ketika anak berumur 6 bulan dan dapat diteruskan pemberian ASI. Pencegahan diare Di bawah ini adalah beberapa hal yang harus dilakukan untuk mencegah agar anak-anak tidak terjangkit penyakit diare. imunodefisiensi atau imunosupresi dan secara proposional diare lebih banyak terjadi pada golongan balita. yaitu melalui makanan dan minuman. 3) Menggunakan air bersih yang cukup Resiko untuk menderita diare dapat dikurangi dengan menggunakan air yang bersih dan melindungi air tersebut dari kontaminasi mulai dari sumbernya sampai penyimpanannya di rumah. Kedua faktor ini akan berinteraksi dengan perilaku manusia. Dua faktor yang dominan. Faktor-faktor tersebut adalah tidak memberikan ASI sampai umur 2 tahun.

memisahkan dan sebagainya. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan.2. Tingkat Pengetahuan Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan (Notoatmodjo S. menguraikan. 2.1. yaitu : 1) Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. yakni indera penglihatan. prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior) (Notoatmodjo. 4) Analisis (Analysis). 2) Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. menyebutkan contoh. Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen. 3) Aplikasi (Application). menyatakan dan sebagainya. kemampuan analisis dapat dilihat penggunaan kata kerja dapat menggambarkan (membuat bagan). penciuman. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. rasa dan raba. 2003). Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia. 2010). Pengertian Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.6) Membuang tinja bayi dengan benar Membuang tinja bayi ke dalam jamban sesegera mungkin sehingga penularan kuman penyebab diare melalui tinja bayi dapat dicegah. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. 2003). membedakan. metode. 7) Memberikan imunisasi campak Anak yang sakit campak sering disertai diare sehingga imunisasi campak dapat mencegah terjadinya diare yang lebih parah lagi (Depkes. tetapi masih di dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Konsep Pengetahuan 2. pendengaran.2. . 2.2. menyimpulkan. rumus.2. Oleh sebab itu “tahu” merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan. mendefinisikan. Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum.

atau lebih populer disebut metodologi penelitian (research methodology). Baik berdasarkan fakta empiris ataupun berdasarkan penalaran sendiri. Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau objek. Cara memperoleh pengetahuan Dari berbagai macam cara yang telah digunakan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan . Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil.2.4.2. logis dan ilmiah. 4) Berdasarkan pengalaman pribadi Pengalaman adalah guru terbaik. bahkan mungkin sebelum adanya peradaban. 6) Evaluasi (Evaluation). Cara ini disebut “metode penelitian ilmiah”. Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan suatu bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. dapat dikelompokkan menjadi dua (Notoatmodjo S. Kemudian disimpulkan kedalam suatu konsep yang memungkinkan seseorang untuk memahami suatu gejala. 2. 3) Cara kekuasaan atau otoritas Prinsip ini adalah orang lain menerima pendapat yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas tanpa terlebih dahulu menguji atau membuktikan kebenarannya.3. yakni : 1) 2) Cara tradisional atau non ilmiah Cara coba salah (trial and error) Cara ini telah dipakai orang sebelum adanya kebudayaan. Sedangkan berfikir deduksi adalah proses berpikir berdasarkan pada pengetahuan yang umum mencapai pengetahuan yang khusus. 5) Melalui jalan pikiran Berfikir induksi adalah pembuatan kesimpulan-kesimpulan berdasarkan pengalamanpengalaman yang ditangkap oleh indera. maksudnya bahwa pengalaman itu sumber pengetahuan dan pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. 2. 6) Cara modern Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih sistematis. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari subjek penelitian atau responden.5) Sintesis (Synthesis). 2005). Metode ini masih dipergunakan sampai sekarang terutama oleh mereka yang belum atau tidak mengetahui suatu cara tertentu dalam memecahkan masalah yang dihadapi. dicoba kemungkinan yang lain.

Pendidikan menengah adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) atau bentuk lain yang sederajat.3. sarjana. makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. adapun bentuk pendidikan dasar adalah Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau bentuk lain yang sederajat. 2) Pendidikan Tingkat pendidikan yang terlalu rendah akan sulit memahami pesan atau informasi yang disampaikan. Pengertian Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas dasar kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri dalam hal kesehtan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat. makin tinggi tingkat pendidikan seseorang. Menurut Kuncoroningrat (1997) yang dikutip oleh Nursalam dan Siti Pariani (2001). 2005). Konsep Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) 2. Dari segi kepercayaan masyarakat. 3) Pengalaman Pengalaman merupakan sumber pengetahuan atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan oleh karena pengalaman yang diperoleh dapat memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu. bekerja sehingga pengetahuanpun akan bertambah. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di Rumah Tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar memahami dan mampu melaksanakan Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta berperan aktif dalam Gerakan Kesehatan di masyrakat. Pendidikan tinggi merupakan lanjutan pendidikan menengah adapun bentuk pendidikan tinggi mencakup program pendidikan diploma. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin mudah menerima informasi sehingga banyak pula pengetahuan yang dimiliki (Effendy N.2. (Notoatmodjo S. (Nursalam & Siti Pariani. 2. Tingkat pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar.Adabeberapa faktor yang bisa mempengaruhi pengetahuan seseorang baik langsung maupun tidak langsung diantaranya adalah: 1) Umur Semakin cukup umur tingkat pematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir. Pendidikan dasar merupakan tingkat pendidikan yang melandasi tingkat pendidikan menengah. 2005). Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan kesehatan. pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.3.1. spesialis dan dokter yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi (Standar Pendidikan Nasional. 2. 2001). Komponen PHBS Rumah tangga sehat adalah rumah tangga yang melakukan komponen-komponen PHBS yang meliputi: 1) Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan . 2001). (Nursalam & Siti Pariani.3. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan. 1998). seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya. magister. belajar.

2. Sintesis 6. 2010). Manfaat PHBS 1) Bagi keluarga Menjadikan anggota keluarga lebih sehat dan tidak mudah sakit Anggota keluarga lebih giat dalam bekerja Pengeluaran biaya rumah tangga dapat ditujukan untuk memenuhi gizi keluarga. Mampu mengembangkan Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM) seperti Posyandu. 2. Kerangka Konsep Pengetahuan 1. arisan jamban. Mampu mencegah dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan. ambulan desa. 2) Bagi masyarakat. tabungan ibu bersalin (Tabulin). Analisis 5.2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Memberi bayi ASI eksklusif Menimbang bayi dan balita Menggunakan air bersih Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun Menggunakan jamban sehat Memberantas jentik nyamuk Makan buah dan sayur setiap hari Melakukan aktivitas fisik setiap hari 10) Tidak merokok di dalam rumah 2. Tahu 2. Evaluasi .4. Memahami 3. Memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada. pendidikan dan modal usaha untuk menambah pendapatan keluarga. Mampu mengupayakan lingkungan sehat.3. Kriteria penilaian PHBS Rumah tangga termasuk kriteria sehat apabila memenuhi nilai 10 (sepuluh) atau mempunyai perilaku positif pada setiap komponen PHBS dan dikatakan tidak sehat apabila salah satu dari sepuluh komponen PHBS ada yang nilai 0 (nol) atau perilaku negatif (DepkesRI.3. Aplikasi 4.3.4.

2005).1 : Kerangka konseptual Keterangan Bagan: 20 Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan diantaranya pendidikan.Infeksi Saluran Pencernaan Malabsorpsi Makanan Terkontaminasi Psikologis Kerangka konseptual adalah hubungan antara konsep–konsep Yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo. dan sumber informasi sedangkan faktor yang mempengaruhi PHBS . Pengetahuan masyarakat tentang diare bertambah PHBS menjadi lebih positif Kejadian diare berkurang Derajat kesehatan masyarakat meningkat Kwalitas hidup masyarakat meningkat Umur Pendidikan Pengalaman Sumber informasi Sosial ekonomi Keadaan lingkungan Fasilitan kesehatan Media informasi PHBS Sikap Intervening Pemberian ASI eksklusif Penggunaan botol susu Kebiasaan cuci tangan Menggunakan air yang bersih Kebiasaan membuang tinja Menggunakan jamban yang sehat Jarak Sumber air dengan jamban Diare Diteliti Keterangan Tidak Diteliti Gambar 2.1 1. pengalaman. umur. Kerangaka konseptual dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 2.

Keadaan lingkungan. Kecamatan Sumber Jadi. Waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan yang dimulai dari perencanaan (penyusunan proposal) sampai dengan penyusunan laporan akhir yang dilaksanakan sejak bulan Mei sampai dengan bulan Juli 2011. Pengolahan dan Analisa Data.2. Sampel dan sampling. Pengumpulan Data. desa Sukomakmur pada tahun 2010 juga menjadi tempat dilaksanakan survey PHBS dengan hasil 63% termasuk kriteria sehat dan 37% termasuk kriteria tidak sehat. Kabupaten Sukolegowo. Waktu dan Tempat Penelitian 3. Media informasi. Etika penelitian. 2009 dan 2010 desa tersebut terdapat kasus diare khususnya pada balita dengan jumlah relatif lebih banyak dibanding desa yang lain di wilayah kerja Puskesmas Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo. alasan mengambil tempat ini adalah selama 3 (tiga) tahun terakhir yaitu tahun 2008. Populasi. Kabupaten Sukolegowo. (Nursalam. Adahubungan antara pengetahuan dengan kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur. Hipotesis H1 : 1. 3. 3. 3. Instrumen Penelitian.1. Adahubungan antara Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur.5. Kecamatan Sumber Jadi. Pada dasarnya menggunakan metode ilmiah (Notoatmodjo. Desain Penelitian Desain penelitian adalah hasil akhir dari suatu tahap keputusan yang dibuat oleh peneliti berhubungan dengan bagaimana suatu penelitian bisa diterapkan. 2005).1. Selajutnya pengetahuan dan PHBS akan bisa mempengaruhi terhadap proses terjadinya penyakit diare. Fasilitas kesehatan. BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran ilmu pengetahuan atau pemecahan masalah.adalah sosial ekonomi.1.1. Kabupaten Sukolegowo. Desain Penelitian. Kerangka Kerja. Identifikasi dan Definisi Operasional Variabel. Kecamatan Sumber Jadi.2. Adapun pengumpulan data primer dilakukan pada bulan Juni 2011. Pada bab ini akan diuraikan tentang : Waktu dan tempat penelitian. Tempat Penelitian Lokasi penelitian ini dilakukan di Desa Sukomakmur. 22 . Desain sangat erat dengan bagaimana kerangka konsep penelitian sebagai petunjuk perencanaan penelitian secara rinci dalam hal pengumpulan dan analisa data. apabila beberapa faktor tersebut bisa diatasi maka diharapkan outputnya adalah : Pengetahuan masyarakat tentang diare bertambah PHBS menjadi lebih positif (masuk kriteria sehat) Kejadian diare berkurang Derajat kesehatan masyarakat meningkat Kwalitas hidup masyarakat meningkat 2. 2005).

1 Penyusunan Proposal Populasi Semua ibu-ibu yang memiliki balita tercatat sebagai penduduk Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo sebanyak 231 orang Sampel Sebagian ibu-ibu yang memiliki balita tercatat sebagai penduduk Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo. Artinya setiap subjek penelitian hanya diobservasi satu kali saja (Notoatmodjo. Kerangka Kerja (Frame Work). observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat. 2005). Penelitian korelasional bertujuan mengungkapkan hubungan korelatif antar variabel (Nursalam.Dalam hal ini metode penelitian yang digunakan adalah metode analitik korelasional yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan untuk mencari. dengan cara pendekatan.3. Kerangkan kerja adalah: pentahapan atau langkah-langkah dalam aktifitas ilmiah yang dilakukan dalam melakukan penelitian (kegiatan awal sampai akhir) (Nursalam. memperkirakan serta menguji berdasarkan teori yang sudah ada. 3. Jenis penelitian ini menggunakan rancangan “ Cross Sectional “ yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dengan efek. 2005). menjelaskan suatu hubungan. sebanyak 76 orang Sampling Simple random Sampling Desain Penelitian cross sectional Pengolahan dan Analisa Data Pengumpulan Data Kuisioner . Kerangka kerja penelitian tentang hubungan pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare tertera pada gambar 3. 2005).

Dapat berkomunikasi dengan baik. 3. Rumus yang digunakan untuk menentukan besar sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus sample maksimal menurut Sastroasmoro Sudigdo (2002) dengan rumus sebagai berikut: n = Keterangan : n N Z p = = = = Besar sampel Besarnya populasi Nilai standart normal untuk α = 0.4.1 Kerangka kerja penelitian tentang hubungan pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita. Populasi Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti. Tabulating.1. Sampel Sampel adalah sebagian kecil yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. (Notoatmodjo. Sampel dan Sampling 3. Adapun yang menjadi kriteria inklusi dalam sampel penelitian ini adalah sebagai berikut: Ibu-ibu yang memiliki balita bertempat tinggal dan tercatat sebagai penduduk Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo dan datang ke Posyandu. uji korelasi spearman’s rho dengan program SPSS 15 Penyusunan Laporan Akhir Gambar 3. pada penelitian ini sampel yang diteliti adalah yang sesuai dengan kriteria inklusi sejumlah 76 responden.2. 1) Kriteria inklusi Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau yang akan diteliti (Nursalam. 2008). Populasi. Dalam penelitian ini sampel yang diteliti yaitu sebagian dari ibu-ibu yang memiliki balita yang bertempat tinggal di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo. Coding. 2005). sejumlah 231 responden.96 Perkiraan proporsi.4.Editing. jika tidak diketahui dianggap 50 % . 3. Populasi dalam penelitian ini adalah Seluruh ibu-ibu yang memiliki balita (berumur 1-5 tahun) yang bertempat tinggal di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo. Bersedia menjadi responden. Scoring.4.05 adalah 1. 2003). 2) Besar sampel Besar sampel adalah anggota yang akan dijadikan sampel (Nursalam. Dapat membaca dan menulis. (Notoatmodjo. 2005).

q d = = 1 – p atau sama dengan 100% – p Tingkat kesalahan yang dipilih 0.1.1 Definisi Operasional variabel tentang hubungan pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita. IndependenPengetahuan Kemampuan ibu yang mempunyai balita untuk menjawab dengan benar terhadap 20 pertanyaan tentang penyakit diare Pengertian diare . 2) Variabel dependen (Variabel Tergantung) Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian diare pada balita. dimasukkan ke dalam kotak. setiap elemen diseleksi secara acak (random).05 Ibu-ibu balita di desa Sukomakmur.5.H. 2005). Kecamatan Sumber Jadi. agar memperoleh sampel yang benarbenar sesuai dengan keseluruhan setiap penelitian (Nursalam. Kabupaten Sukolegowo sebagai populasi dalam penelitian ini berjumlah 231 orang Sehingga sampel pada penelitian ini ditetapkan sebesar 76 responden. Definisi Operasional Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati. Adapun definisi operasional variabel penelitian ini tertera pada tabel 4. No Variabel Definisi Operasional Parameter Alat ukur Skala ukur Kategori 1 a. Identifikasi dan Definisi Operasional Variabel 3. diaduk dan diambil secara acak sesuai besarnya sampel (Notoatmodjo S. 2007). 3. Untuk mencapai sampel ini.4. Variabel 1) Variabel Independen (Variabel bebas) Variabel independen dalam penelitian ini adalah pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).5. Sampling Sampling adalah proses menyeleksi dari populasi yang ada. 3. memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi dan pengukuran secara cermat terhadap objek atau fenomena. (A. Teknik sampling merupakan cara-cara yang ditempuh dalam pengambilan sampel.1.3. Nomor responden ditulis pada secarik kertas. 2005).5. Pada penelitian ini teknik pengambilan sampel dilakukan secara acak yaitu dengan menggunakan teknik simple random sampling yaitu bahwa setiap anggota atau unit dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk diseleksi sebagai sampel. 3.Aziz A. Tabel 4.2.

1. Menggunakan air bersih untuk keperluan rumah tangga sehari-hari Memiliki atau menggunakan jamban Air yang diminum selalu dimasak terlebih dahulu Jarak Sumber air dengan jamban 10 meter atau lebih Kuisioner Ordinal Ya = 1 Tidak = 0 Dengan Kriteria: Sehat jika jawaban ya = 100% Tidak sehat jika ada salah satu jawaban tidak (Depkes RI. dll. Nominal Tidak Diare = 1 Instrumen Penelitian dan Pengumpulan Data 3. . 2010) 2 DependenKejadian diare pada balita Buang air besar cair yang dialami oleh balita yang terpilih sebagai sampel dalam kurun waktu bulan Juli 2010 – Sekarang Buang air besar lebih dari 3-4 kali perhari Tinja berbentuk cair Dengan atau tanpa disertai lendir Kuisioner Diare = 0 3. atau hal-hal yang ia ketahui (Arikunto.Penyebab diare Tanda-tanda dan gejala diare Cara penyebaran atau penularan diare Cara pencegahan diare Cara penanganan atau penatalaksanaan diare Kuisioner Ordinal Benar = 1 Salah = 0 Dengan Kriteria: Baik Jika benar 76 – 100% Cukup jika benar 56 – 76% Kurang jika benar kurang dari 56 % (Nursalam.6.6. 2003) b Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) responden sesuai dengan kriteria program PHBS yang telah dimodifikasi dan disesuaikan dengan masalah diare Pemberian ASI esklusif Balita ditimbang dalam tiga bulan terakhir Cuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum makan dan atau setelah buang air besar. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yaitu suatu alat yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya.

menurut Nursalam (2005) kemudian hasilnya dikelompokkan pada kriteria: Pengetahuan baik bila persentasenya 76-100%. 1) Coding. .7. Kecamatan Sumber Jadi. Pada penelitian ini instrumen yang digunakan untuk variabel pengetahuan dan kejadian diare adalah kuisioner untuk variabel Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) kuisioner yang digunakan disesuaikan dengan format PHBS dan diambil yang sesuai dengan masalah diare. 2006) Setelah persentase diketahui.2. Pengumpulan Data Setelah mendapatkan ijin dari Direktur AKADEMI MELATI Bunga Jaya dan Kepala Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo. Kabupaten Sukolegowo untuk mendapatkan persetujuan sebagai responden penelitian. 3. Pada penelitian ini pengkodean sebagai berikut: Variabel pengetahuan Jawaban benar diberi nilai 1 Jawaban salah diberi nilai 0 Variabel Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) Jika jawaban ya diberi nilai 1 Jika jawaban tidak diberi nilai 0 Variabel kejadian diare Jika tidak diare diberi nilai 1 Jika diare diberi nilai 0. Variabel pengetahuan Keterangan : n SP SM : Nilai yang didapat : skore yang didapat : skore yang maksimal (Arikunto.2006). 2003). peneliti mengadakan pendekatan pada ibu balita di desa Sukomakmur. Coding adalah mengklasifikasikan jawaban dari responden menurut kriteria tertentu.7.Nasir. Klasifikasi ukumnya ditandai dengan kode tertentu yang biasanya berupa angka (Moh. 3. dimana tujuan pokok penelitian adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam mengungkap fenomena (Nursalam. 2) Skoring Scoring adalah penentuan jumlah skor bila ada jawaban ya diberi skor 1 dan bila tidak diberi skor 0 (Moh.6.1 Pengolahan dan Analisa Data Pengolahan Data Analisa data merupakan bagian yang sangat penting untuk mencapai tujuan.Nasir. 3. 2005). 2005).

2005). Dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Analisa data pengetahuan responden tentang penyakit diare menggunakan rumus : Keterangan : n SP : Nilai yang didapat : skore yang didapat . menggunakan kartu. dan ditata untuk disajikan dan dianalisa.7. kemudian hasilnya dikelompokkan pada kriteria: Kriteria sehat jika persentase 100% Kriteria tidak sehat jika persentase < 100% (Depkes. Dalam penelitian ini penyajian data dalam bentuk tabel yang menggambarkan distribusi frekwensi responden berdasarkan karakteristiknya dan tujuan penelitian. Tabulasi adalah pengorganisasian data sedemikian rupa agar dengan mudah dapat dijumlah. Setelah persentase diketahui. 2010) 3) Tabulating Tabulating adalah penyusunan data dalam bentuk tabel (Moh. 2002).2 1) Analisa Data Univariat Analisa data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul (Sugiono.Nasir. disusun.Pengetahuan cukup bila persentasenya 56-76% Pengetahuan kurang bila persentasenya < 56%. dan menggunakan komputer (Budiarto. 3. Besarnya angka hasil perhitungan atau pengukuran diperoleh dengan cara dijumlahkan kemudian dibandingkan dengan jumlah yang diharapkan sehingga diperoleh persentase. Proses tabulasi dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan metode tally. 2006). f : Nilai yang diperoleh. 2001 : 37). n : Frekwensi total atau keseluruhan (Budiarto E. Variabel Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) Keterangan : P : Persentase.

2) Bivariat Untuk mengetahui hubungan antara 2 variabel yaitu pengetahuan dengan kejadian diare pada balita digunakan uji korelasi spearman’s rho. peneliti membagi pengetahuan menjadi 3.05 maka H0 ditolak dan H1 diterima yang artinya ada hubungan pengetahuan responden dengan kejadian diare dan jika p > 0.8 Etika Penelitian Dalam penelitian ini peneliti menekankan pada masalah etika yang meliputi: 3. Jika nilai p < 0.05 maka H0 diterima dan H1 ditolak yang artinya tidak ada hubungan antara pengetahuan responden dengan kejadian diare pada balita.05. 2010) Sedangkan variabel dependen kejadian diare dibagi dalam dua kategori yaitu jika tidak diare diberi skor 1 dan jika diare diberi skor 0.05 maka H0 ditolak dan H1 diterima yang artinya ada hubungan antara Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) responden dengan kejadian diare pada balita dan jika p > 0. Lembar persetujuan menjadi responden diedarkan sebelum riset dilakukan. Tujuannya agar subyek mengetahui maksud dan tujuan riset. Jika subyek bersedia diteliti maka peneliti harus menghormati hak-hak reponden. dengan signifikansi p = 0.05 maka H1 diterima dan H0 ditolak. Serta mengetahui dampak yang akan terjadi selama dalam pengumpulan data. kriteria tidak sehat jika nilai yang didapat kurang dari 100% (Depkes. 3.SM : skore yang maksimal (Arikunto.8. .05 artinya signifikan (ρ) dibawah atau sama dengan 0.05. 2003) Untuk Variabel Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kriteria sebagai berikut: Kriteria sehat jika jawaban nilai yang didapat 100%.05 maka H0 diterima dan H1 ditolak yang artinya tidak ada hubungan antara Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) responden dengan kejadian diare pada balita. Sedangkan untuk mengetahui hubungan 2 variabel yaitu Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita digunakan uji korelasi spearman’s rho. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang nyata antara dua variabel yang diteliti. Uji statistik yang digunakan untuk menganalisa data adalah uji statistik spearman’s rho karena salah satu variabelnya ordinal. pengetahuan cukup jika responden mampu menjawab benar sebanyak 56 – 75 % dan pengetahuan kurang jika responden mampu menjawab benar sebanyak < 56 % (Nursalam. Pada informed concent juga perlu dicantumkan untuk mengembangkan ilmu. mempunyai hak untuk bersedia atau menolak menjadi responden. yaitu pengetahuan yang baik jika responden mampu menjawab benar sebanyak 76% – 100%. Uji statistik spearman’s rho digunakan untuk menghitung atau menentukan tingkatan hubungan atau korelasi antar dua variabel. dengan signifikansi p = 0. penelitian ini menggunakan teknik komputerisasi SPSS 15 dengan kemaknaan ρ: 0.1. Jika nilai p < 0. 2006) Untuk variabel pengetahuan responden tentang penyakit diare. Informed consent Subjek harus mendapatkan informasi secara lengkap tentang tujuan penelitian.

peneliti tidak akan mencantumkan identitas subyek pada lembar pengumpulan data (kuesioner) yang diisi oleh subyek. Sampel dan jumlah sampel Banyaknya jumlah Ibu-ibu yang memiliki anak balita yang tinggal di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo sehingga peneliti hanya mengambil sebagian responden yang terpilih sebagai sampel penelitian yang sesuai dengan kriteria inklusi penelitian ini. Lembar tersebut hanya diberi nomer kode tertentu 3.3. 2) pendidikan 3) pekerjaan. Pada bagian berikut akan disampaikan hasil pembahasan terhadap penelitian guna menjawab pertanyaan dalam masalah penelitian. maka H1 diterima dan H0 ditolak. 3.9.1. Penyajian data dimulai dari gambaran umum tempat penelitian dan data umum tentang karakteristik responden meliputi 1) umur.1. kelemahan tersebut ditulis dalam keterbatasan.9.8.05. 4. apabila ρ > 0.2. ketentuan terhadap penerimaan dan penolakan hipotesis apabila signifikansi ρ ≤ 0. Confidentiality (Kerahasiaan) Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti.9 Keterbatasan Aziz Alimul (2002) menyebutkan bahwa keterbatasan merupakan bagian riset keperawatan yang menjelaskan keterbatasan dalam penulisan riset. 3. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN Pada bagian ini berisi hasil dari pengumpulan data yang telah dilaksanakan selama enam hari mulai tanggal 13 Juni sampai dengan 18 Juni 2011. Anonimity (tanpa nama) Untuk menjaga kerahasiaan identitas subyek. 2006). Adapun keterbatasan yang ada dalam penelitian meliputi : 3. Hanya kelompok data tertentu yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai hasil penelitian. Waktu Waktu penelitian terbatas.2. (Sugioyono dan Eri.3. sedangkan data khusus meliputi 1) pengetahuan responden tentang penyakit diare 2) perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) 3) kejadian diare pada balita.05 maka H1 ditolak dan H0 diterima.05. Untuk mengetahui signifikansi atau hubungan antara variabel dilakukan uji statistik spearman’s rho dengan fasilitas komputer SPSS versi 15 dengan tingkat kemaknaan ρ ≤ 0. Hasil Penelitian .8. yang dilaksanakan di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo yang termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo. sehingga hasil penelitian masih kurang sempurna dan kurang memuaskan. dalam setiap penelitian pasti mempunyai kelemahan-kelemahan yang ada.

Distribusi frekwensi responden menurut umur yang dikelompokkan menjadi 4 (empat) kelompok dapat dilihat pada Tabel 4.259 jiwa dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 2. Desa Sukomakmur memiliki 1 Polindes dengan 1 tenaga Bidan Desa terdiri dari 5 (lima) Dusun dengan jumlah Posyandu sebanyak 5 buah Posyandu.658 jiwa (59.00 Jumlah 76 100 Sumber : Data primer Juni 2011.292 KK dengan jumlah penduduk sebanyak 4. Data umum 1) 34 Gambaran umum lokasi penelitian Desa Sukomakmur merupakan salah satu dari 12 desa di wilayah Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo dan termasuk Wilayah kerja Puskesmas Sumber Jadi Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo. sebelah timur Desa Marga Tani.00 31 – 40 Tahun 14 18.1 Distribusi Frekwensi Responden Menurut Umur di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo Pada Bulan Juni 2011 Umur Frekwensi Persentase < 20 Tahun 5 6.07%) bekerja sebagai petani dan buruh tani. Tabel 4.1. sebelah selatan Desa Maju Jaya dan sebelah barat Desa Randu Pitu dan Desa Sumber Jadi.0%) berumur 20-30 tahun.4.240 jiwa.1 memberikan gambaran bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 57 orang (75.58 20 – 30 Tahun 57 75.1 Tabel 4. Desa Sukomakmur terdiri dari 1. dengan perincian jumlah penduduk lakilaki sebanyak 2.499 jiwa.42 > 40 Tahun 0 0. Adapun batas wilayah administrasi Desa Sukomakmur adalah sebagai berikut : Sebelah utara Desa Marga Jaya.1. 2) Karakteristik responden menurut umur. Bila dilihat dari umur responden. Penduduk Desa Sukomakmur sebagian besar yaitu sebanyak 2. .

2 memberikan gambaran bahwa tingkat pendidikan responden hampir setengahnya yaitu sebanyak 34 orang (44.3 Distribusi Frekwensi Responden Menurut Pekerjaan di Desa Sukomakmur kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo Pada Bulan Juni 2011 Pekerjaan Frekwensi Persentase Swasta 21 27.63 Wr swasta 2 .3 Tabel 4.3) Karakteristik responden menurut tingkat pendidikan.47 SMA / SLTA 34 44. Tabel 4. Distribusi frekwensi responden menurut tingkat pendidikan yang dikelompokkan menjadi 4 (empat) kelompok dapat dilihat pada Tabel 4. Bila dilihat dari tingkat pendidikan.2 Distribusi Frekwensi Responden Menurut Tingkat Pendidikan di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo Pada Bulan Juni 2011 Tingkat Pendidikan Frekwensi Persentase SD 11 14.74 AKADEMI / PT 1 1.47 SMP / SLTP 30 39. Distribusi frekwensi responden menurut jenis pekerjaan yang dikelompokkan menjadi 5 (lima) kelompok dapat dilihat pada Tabel 4.74%) adalah SMA/SLTA.32 Jumlah 76 100 Sumber : Data primer Juni 2011.2 Tabel 4. 4) Karakteristik responden menurut jenis pekerjaan.

4 Distribusi Frekwensi Responden Menurut pengetahuan tentang diare di Desa Sukomakmur kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo Pada Bulan Juni 2011 Pengetahuan Frekwensi Persentase Baik 51 67.53 Tdk bekerja 26 34.6 Kurang 1 1.53%) bekerja sebagai buruh 4.2.1.3 Jumlah 76 100 . Tabel 4. Data Khusus 1) Karakteristik responden menurut pengetahuan tentang diare Distribusi frekwensi responden menurut pengetahuan tentang diare dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kelompok dapat dilihat pada Tabel 4.1 Cukup 24 31. Bila dilihat dari jenis pekerjaan responden.63 Pns/tni/polri 0 0.2.3 memberikan gambaran bahwa pekerjaan responden hampir setengahnya yaitu sebanyak 27 orang (35.4 Tabel 4.00 Buruh 27 35.21 Jumlah 76 100 Sumber : Data primer Juni 2011.

5 Tabel 4.4 memberikan gambaran bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 51 orang (67. Bila dilihat dari pengetahuan responden tentang diare.89 Tidak sehat 32 42. 2) Karakteristik responden menurut kriteria perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) Distribusi frekwensi responden menurut kriteria PHBS dikelompokkan menjadi 2 (dua) kelompok dapat dilihat pada Tabel 4.1%) berpengetahuan baik. Tabel 4.89 .89%) termasuk kriteria sehat. Bila dilihat dari kriteria perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) responden.Sumber : Data primer Juni 2011.5 Distribusi Frekwensi Responden Menurut kriteria perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di Desa Sukomakmur kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo Pada Bulan Juni 2011 Kriteria PHBS Frekwensi Persentase Sehat 44 57.5 memberikan gambaran bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 44 responden (57. 3) Karakteristik responden menurut kejadian diare pada balita Distribusi frekwensi responden menurut kejadian diare pada balita dikelompokkan menjadi 2 (dua) kelompok dapat dilihat pada Tabel 4.11 Jumlah 76 100 Sumber : Data primer Juni 2011.6 Distribusi Frekwensi Responden Menurut kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo Pada Bulan Juni 2011 Kejadian Diare Frekwensi Persentase Tidak diare 51 67. Tabel 4.6 Tabel 4.11 Diare 25 32.

63% 51 67. Bila dilihat dari kejadian diare pada balita. Tabel 4.00% 1 1.7 Hubungan pengetahuan dengan kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo Pada Bulan Juni 2011 Pengetahuan Responden Kejadian Diare Pada Balita Total Tidak % Ya % Jumlah % Baik 49 64.32% 1 1.32 Jumlah 51 67.58 Kurang 0 0. 4) Hubungan pengetahuan dengan Kejadian Diare Pada Balita.11%) tidak mengalami kejadian diare pada balita.63% 22 28.47% 2 2.6 memberikan gambaran bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 51 responden (67.10 Cukup 2 2.95% 24 31.Jumlah 76 100 Sumber: Data primer Juni 2011. Tabel 4.10 .

5) Hubungan Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan Kejadian Diare Pada Balita Tabel 4.7 dari 76 responden sebagian besar responden yaitu sebanyak 49 responden (64.05 artinya terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kejadian diare pada balita.90 76 100 uji spearman’s rho : p = 0.11 44 57.8 Hubungan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo Pada Bulan Juni 2011 Kejadian Diare Kriteria Phbs Total Tidak Sehat % Sehat % Jumlah % Diare 25 32.47%) berpengetahuan baik dan balitanya tidak mengalami kejadian diare.25 32.89 0 0 25 32.11 Total 32 42.89 Tidak diare 7 9. Hasil uji spearman’s rho menunjukkan bahwa nilai ρ = 0.89 51 67.89 76 100 .000 Sumber : Data primer Juni 2011. Dibuktikan pada Tabel 4.000 < 0.21 44 57.

Dari data analisis tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) responden dapat diketehui bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 44 responden (57. Dibuktikan bahwa pada Tabel 4. hampir setengahnya yaitu 24 responden (31. Mantra (1994) menyebutkan bahwa makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah juga orang itu menerima informasi. Usia responden antara 20-30 tahun yang merupakan usia dewasa dimana pada usia ini dimungkinkan lebih banyak berkumpul dan menyerap pengetahuan dari lingkungan dimana responden berinteraksi dengan lingkungan.000 Sumber : Data primer Juni 2011.05. Hal ini sesuai degan apa yang disampaikan oleh Notoatmodjo (2007) bahwa perilaku yang didasari oleh suatu . 4.uji spearman’s rho : p = 0.11%) termasuk kriteria tidak sehat.2. 1998 & dikutip Nursalam. Belum maksimalnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo hal ini dapat dipengaruhi oleh masih beragamnya tingkat pendidikan responden. tingkat pendidikan yang rendah akan lebih sulit untuk menerima suatu informasi dibanding dengan yang berpendidikan lebih tinggi.8 dari 76 responden sebagian besar responden yaitu sebanyak 44 responden (57.1. baik dari media massa maupun dari orang lain. Dari analisis data tentang pengetahuan responden terhadap penyakit diare dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 51 responden (67. Pengetahuan yang baik dapat dipengaruhi dari tingkat pendidikan responden yang sebagian besar adalah SMA/SLTA. Hasil uji spearman’s rho menunjukkan bahwa nilai ρ = 0. Ini sesuai dengan pendapat Y. tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir (Huckluc. Pendidikan responden merupakan salah satu faktor yang penting dalam meningkatkan pengetahuan karena dengan pendidikan yang baik maka responden dapat menerima segala informasi dari luar terutama tentang cara pencegahan penyakit diare yang baik.2. Semakin dewasa umur.1%) berpengetahuan baik. 4. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo.2. Mantra (2006) makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah juga orang itu menerima informasi. Pembahasan 4. baik dari media massa maupun dari orang lain. Y. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan modal utama untuk pencegahan penyakit diare oleh karena itu sangat penting artinya bagi masyarakat untuk mengenal cara-cara mencegah penyakit diare sehingga tidak terjadi keparahan karena penyakit ini.2.B. 2005). Pengetahuan responden tentang penyakit diare di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo.6%) berpengetahuan cukup dan sebagian kecil yaitu sebanyak 1 responden (1.000 < 0.3%) berpengetahuan kurang.89%) termasuk kriteria sehat dan hampir setengahnya yaitu sebanyak 32 responden (42.89%) termasuk kriteria sehat dan balitanya tidak mengalami kejadian diare. artinya terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita.B.

Selain itu informasi yang diterima individu akan dapat menyebabkan perubahan sikap pada diri individu tersebut. Berdasarkan hasil kuisioner tentang kepemilikan jamban dari 76 responden hampir setengahnya yaitu sebanyak 21 responden (27. 4.pengetahuan yang baik akan berlangsung lebih langgeng dan menghasilkan hal yang lebih baik daripada perilaku yang tidak didasari oleh suatu pengetahuan Jenis pekerjaan responden yang hampir setengahnya adalah buruh dan tidak bekerja.63%) berpengetahuan cukup dan balitanya tidak mengalami kejadian diare dan sebagian kecil responden yaitu sebanyak 1 responden (1. sehingga kurang bisa saling berinteraksi satu sama lain untuk saling bertukar informasi tentang masalah-masalah kesehatan sehingga program PHBS belum sepenuhnya bisa diterima oleh seluruh lapisan Masyarakat. afektif dan konatif. kuman dapat ditularkan dengan masuk ke dalam mulut melalui perantara cairan atau benda yang tercemar dengan tinja. Sebagian kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur fekal oral. Orang lain dan budaya juga merupakan faktor pembentukkan sikap seseorang.05 sehingga H1 diterima yang artinya terdapat hubungan yang bermakna . Azwar (2003) menyebutkan bahwa sikap terdiri dari tiga komponen yaitu kognitif.3%) jarak kurang dari 10 meter. Dari data analisis tentang kejadian diare pada balita dapat diketehui bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 51 responden (67. Menurut Sunaryo (2004) disebutkan bahwa pengalaman langsung yang dialami individu terhadap obyek sikap berpengaruh terhadap sikap individu terhadap obyek sikap tersebut. Menurut Depkes RI (2006) sumber air minum yang tercemar mempunyai peranan dalam penyebaran beberapa penyakit menular termasuk penyakit diare karena sumber air minum merupakan salah satu sarana sanitasi yang berkaitan dengan kejadian diare.2. sebagian kecil responden yaitu sebanyak 2 responden (2. Penyakit diare adalah penyakit yang bisa menyerang siapa saja dan merupakan penyakit menular sehingga siapapun beresiko untuk terkena penyakit diare apalagi bila tidak ditunjang dengan perilaku dan lingkungan sanitasi yang sehat.95%) berpengetahuan cukup dan balitanya mengalami kejadian diare. Dari analisis data tentang hubungan pengetahuan dengan kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 49 responden (64.63%) berpengetahuan baik dan balitanya mengalami kejadian diare.2. Kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo.11%) balitanya tidak mengalami kejadian diare dan hampir setengahnya yaitu sebanyak 25 responden (32.32%) berpengetahuan kurang dan balitanya mengalami kejadian diare.3. 4.000 < 0. nilai uji spearman’s rho : p = 0.6%) tidak memiliki atau tidak menggunakan jamban dan dari kuisioner tentang jarak sumber air dengan jamban hampir setengahnya yaitu sebanyak 23 responden (29.89%) balitanya mengalami kejadian diare. hampir setengahnya responden yaitu sebanyak 22 responden (28.47%) berpengetahuan baik dan balitanya tidak mengalami kejadian diare. sebagian kecil responden yaitu sebanyak 2 responden (2. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Hubungan pengetahuan dengan kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo.4.000 hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0. jarak antara sumber air dan jamban yang terlalu dekat bisa menyebabkan pencemaran pada sumber air oleh bakteri escherichia coli yang merupakan bakteri penyebab diare.

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga bisa mencerminkan peran serta masyarakat dalam menjaga kondisi lingkungan suatu tempat agar tetap bersih dan sehat. demikian sebaliknya perilaku yang buruk akan semakin memperbesar seseorang untuk terkena penyakit. Semakin baik perilaku seseorang maka akan semakin kecil resiko seseorang untuk terkena penyakit. Dari analisis data tentang hubungan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 44 responden (57. 4. hampir setengahnya responden yaitu sebanyak 25 responden (32. Perilaku seseorang di bidang kesehatan akan berdampak pada kesehatannya. Masyarakat yang termasuk kriteria tidak sehat dapat dimungkinkan menjadi salah satu penyebab masih adanya kasus penyakit diare pada balita di desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo.89%) termasuk kriteria sehat dan balitanya tidak mengalami kejadian diare. perilaku yang positif akan mengurangi tingkat resiko terkena penyakit diare dan sebaliknya perilaku yang negatif akan semakin memperbesar resiko seseorang terkena penyakit. Hal ini sesuai degan apa yang disampaikan oleh Notoatmodjo (2007) bahwa perilaku yang didasari oleh suatu pengetahuan yang baik akan berlangsung lebih langgeng dan menghasilkan hal yang lebih baik daripada perilaku yang tidak didasari oleh suatu pengetahuan.89%) termasuk kreteria tidak sehat dan balitanya mengalami kejadian diare dan sebagian kecil responden yaitu sebanyak 7 responden (9.5.antara pengetahuan dengan kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo. menurut Depkes RI (2010) disebutkan bahwa Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas dasar kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri dalam hal kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat disebutkan juga bahwa diare adalah salah satu penyakit yang berbasis lingkungan yang juga dipengaruhi oleh faktor perilaku masyarakat di bidang kesehatan. Upaya pencegahan penyakit diare karena pengaruh lingkungan dapat dilaksanakan dengan program kesehatan dan membuat kondisi lingkungan yang sedemikian . Hubungan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo.21%) termasuk kriteria tidak sehat dan balitanya tidak mengalami kejadian diare serta tidak satupun responden yang termasuk kreteria sehat dan balitanya mengalami kejadian diare. Terciptanya lingkungan yang cukup dan dinamis dapat menunjang kehidupan dan kesehatannya yang pada saat ini telah banyak dilaksanakan manusia dengan program pencegahan. Keberhasilan dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit diare di masyarakat merupakan hasil yang dicapai dengan adanya pengetahuan yang baik yang diwujudkan dengan kegiatan/program upaya pencegahan dari penyakit tersebut.2. Pengetahuan akan sangat menunjang terhadap pemahaman seseorang tentang suatu penyakit termasuk pengetahuan ibu tentang penyakit diare akan sangat membantu dalam mencegah terjadinya penyakit diare pada balita. pengetahuan yang baik akan menunjang perilaku yang baik demikian sebaliknya pengetahuan yang kurang akan menyebabkan perilaku yang negatif atau perilaku yang tidak mendukung terhadap upaya kesehatan. menurut Perkin (1938) yang dikutip oleh Azwar (2003) menyatakan bahwa sehat atau tidaknya seseorang tergantung dari adanya keseimbangan yang relatif dari suatu bentuk dan fungsi tubuh yang terjadi sebagai hasil dari kemampuan penyesuaian diri yang dinamis terhadap berbagai tenaga atau kekuatan yang umumnya bersumber dari lingkungannya sehingga timbul adanya penyakit yang menyebabkan sakit atau tidaknya seseorang tergantung ada tidaknya suatu proses yang dinamis dan merupakan hubungan yang timbal balik.

2 Saran 1) Bagi profesi keperawatan Terwujudnya suatu asuhan keperawatan komunitas yang paripurna dibutuhkan keterampilan dan pengetahuan yang baik dari perawat itu sendiri. Roy dalam teori adaptasinya dinyatakan bahwa semua kondisi lingkungan yang mempengaruhi dan berakibat terhadap perkembangan perilaku seseorang. .1 Kesimpulan 1) Pengetahuan responden tentang diare di desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo sebagian besar adalah baik. 3) Kejadian diare pada balita di desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo sebagian besar adalah tidak terjadi. Hubungan antara pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita harus menjadi perhatian dari profesi keperawatan komunitas dalam melaksanakan asuhan keperawatan di masyarakat. sehingga asuhan keperawatan komunitas dapat mencapai tujuan yang diharapkan oleh semua pihak. 2) Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) responden di desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo sebagian besar adalah sehat. 2) 44 Bagi Instansi terkait Puskesmas melalui Petugas kesehatan lebih aktif dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dengan cara memberikan penyuluhan pada masyarakat tentang masalah kesehatan khususnya tentang tata cara pemberian ASI pada balita yang diare dan cara penanganan awal pada balita yang menderita diare khusunya dalam mencegah agar tidak terjadi kekurangan cairan (dehidrasi) sehingga pemahaman masyarakat tentang cara penanganan terhadap penyakit diare akan lebih baik dan resiko kekurangan cairan bisa dicegah. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini akan disajikan kesimpulan dan saran dari hasil penelitian “hubungan pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita” 5. 5. dengan lingkungan yang baik akan membantu masyarakat dalam mengurangi resiko akibat dari lingkungan.rupa sehingga terjamin pemeliharaan kesehatan dimasyarakat tersebut. Sebagaimana dikemukakan oleh C. 4) Ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian diare pada balita di desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo. 5) Ada hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita di desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo.

. Budiarto. Depkes. Biostatistika untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. A.. 2009. dkk. Sukolegowo: Dinkes Sukolegowo. (2003). Pedoman Penyusunan Karya Ilmiah. 2010. Jakarta: Ditjen PPM dan PL. Sikap Manusia. DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan. Bagi responden yang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) termasuk kriteria tidak sehat diharapkan supaya berperilaku lebih positif dengan melakukan kebersihan lingkungan. R I.. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. R I. Jakarta: EGC Depkes.Program Perawatan Kesehatan Masyarakat harus lebih digiatkan lagi dengan melibatkan seluruh unsur tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas serta melibatkan Kader Kesehatan Desa sehingga Program Kesehatan yang dilaksanakan di Masyarakat bisa lebih mengenai sasaran dan sesuai dengan tujuan yaitu meningkatkan derajat kesehatan Masyarakat. R I. mengusahakan jarak WC/Jamban dengan sumber air/sumur 10 meter atau lebih. Teori dan Pengukurannya. Buku Pedoman Pelaksanaan Program P2 Diare. Jakarta: Salemba Medika Azwar. S. Bunga Jaya: AKADEMI MELATI. tidak buang air besar di kali/saluran air tetapi buang air besar pada jamban/WC. R I. 3) Bagi Masyarakat Pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) responden yang termasuk kriteria baik perlu untuk dipertahankan dan berperan aktif dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit diare sedangkan yang pengetahuan termasuk kategori cukup dan kurang perlu untuk menambah pengetahuan dan dapat mengetahui permasalahan yang ditimbulkan oleh penyakit diare. Buku Bagan Managemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). 2008. Edisi ke lima. 2010. 2011. Suharsini. Panduan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Di Rumah Tangga. Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. R I. 2006. Jakarta: Ditjen PPM dan PL. Depkes.. Buku Saku Petugas Kesehatan Lintas Diare. (2005). 2010. Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Sukolegowo 2010. 2011. sehingga bisa menghindari resiko terhadap suatu penyakit khususnya penyakit yang berdampak lingkungan termasuk penyakit diare. 2002.. Luluk Sulistiyono. Jakarta: Depkes RI. Depkes. Dinkes Sukolegowo. Jakarta: Ditjen PPM dan PL. E. 4) Bagi Peneliti Perlu untuk menambah dan meningkatkan kemampuan dan pengetahuan terutama tentang penyakit diare serta perlu memperbaiki dan melakukan penelitian lebih lanjut agar lebih sempurna.. Prosedur Penelitian Kesehatan. . Depkes. Jakarta : Rineka Cipta Aziz. Program Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) perlu untuk lebih dikenalkan di masyarakat terutama tentang kreteria jamban keluarga yang sehat sehingga pemahaman dan kesadaran masyarakat akan kesehatan akan semakin baik.

2007. 2006. Epidemiologi Suatu Pengantar. Sugiono. S. M. 2001. Widyastuti. Diare Akut pada Anak. Metodologi Riset Keperawatan. Ketiga Jilid kedua. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Bandung: Alfabeta... Jakarta: Rineka Cipta. Notoatmodjo S. S. Nursalam. Metode Penelitian Administrasi. A. Muhidin. Sugiono. 2002. 2003. Jakarta: EGC. 2011. Regresi. Sagung Seto. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Sagung Seto. 2005. Nursalam & Pariani. Desain dan Ukuran Sampel untuk Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif di Bidang Kesehatan. Sudigdo 2002. Surakarta : Universitas Sebelas Maret Press. dan Jalur dalam Penelitian. Kapita Selekta Kedokteran.. Jakarta: Salemba Medika. Lampiran 1 KUESIONER UNTUK RESPONDEN PENELITIAN HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA Petunjuk Pengisian Beri tanda silang (X) pada jawaban kotak di sebelah kiri pilihan jawaban anda. Ed. Sukarni. PENDIDIKAN IBU 1. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. 2007. 2008. dan Abdurahman. Yogyakarta : Andi Offset Notoatmodjo S. Sukolegowo: Puskesmas Sumber Jadi. 2005. Puskesmas Sumber Jadi. Jakarta: Kawan Pustaka. Bandung: Kanisius Widjaja. Mengatasi Diare dan Keracunan pada Balita. Edisi 2. A. Bandung: Alfabeta. M. SD . M. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Pendekatan Praktis Metodologi Keperawatan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Statistika untuk penelitian. Jakarta : CV. No Resp : (diisi petugas/peneliti) Data Demografi 1. 2002. Satroasmoro... Soebagyo. P. Jakarta : Aesculapius Muhidin. Metodologi penelitian kesehatan. 2005.. Bandung: Pustaka Setia.Mansjoer Arief. Jakarta: PT Rineka Cipta. 2005. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. Jakarta: Sagung Seto. 2007. Olah Data Simpustronik. Notoatmodjo S.. Nursalam. Analisis Korelasi. 2006. 2001. dan Abdurahman.

Penyakit Telinga Menurut anda bagaimana tanda-tanda diare pada balita?a. Ya b. 5. AKADEMI/PT 2. Beri tanda silang (Χ) pada pilihan jawaban anda. 4. Anak kelihatan gembira b. 4. SMA/SLTA 4. 1. 1.40 Tahun > 40 tahun Kejadian Diare Petunjuk Pengisian Kuesioner Bacalah dengan teliti setiap soal dan pilihan jawabannya. Orang Dewasa d.2. Tinja cair atau encer . SMP/ SLTP 3. Buang air besar encer 3 – 4 kali atau lebih dalam sehari d. Apakah anak ibu mulai bulan Juli 2010 sampai sekarang pernah mengalami diare?a. Penyakit saluran pencernaan b. 2. Penyakit Tenggorokan d. Anak balita b. UMUR IBU < 20 Tahun 20 – 30 Tahun 31. Baca kembali semua pertanyaan pastikan tidak ada yang terlewatkan. Anak Remaja Bapak – bapak c. 3. Menurut anda apa yang bisa menyebabkan diare pada anak balita?a. PEKERJAAN IBU Swasta Wiraswasta PNS / TNI / POLRI Buruh Tidak bekerja 3. Buang air besar lembek kurang dari 3 kali sehari c. 2. Buang air besar sekali sehari b. 3. Tidak Pengetahuan responden tentang penyakit diare Apa yang dimaksud dengan diare ?a. Penyakit Kulit c. Buang air besar 2 kali sehari Menurut anda siapakah yang paling berisiko terkena penyakit diarea.

Bahan makanan segar. Cuci tangan sebelum menyuapi anak b. Menggunakan air yang tercemar d. Tubuh anak kekurangan cairan c. Memberikan imunisasi campak d. Memberikan ASI b. Lingkungan yang kotor c. Pemberian ASI secara penuh 4-6 bulan c. c. Botol susu selalu dibersihkan atau direbus sebelum digunakan d. Selalu diganti dengan botol yang baru d. c. Melalui pandangan mata b. Bahan makanan yang digunakan untuk membuat makanan balita adalah ?a. Dicuci kemudian direbus sampai air mendidih b. Tubuh anak akan kelebihan berat badan d. hal ini disebabkan?a. Panas badan tinggi b. Semua benar Menurut anda bagaimana cara penularan penyakit diare?a. Semua benar Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi resiko diare pada anak adalah?a. Tidak cuci tangan dengan sabun sesudah buang air besar. Tubuh anak kelebihan berat badan d. Semua benar b. Semua benar Air yang digunakan untuk mengolah makanan balita harus ?a. Jajan sembarangan d. Perhiasan d. Melalui pakaian d. Tubuh anak akan kelebihan cairan b. Bahan makanan yang kadaluwarsa. Semua benar Hal-hal yang bisa menimbulkan penyakit diare adalah?a. Menggunakan air bersih c. Tubuh anak kelebihan makanan Penyebab utama penyakit diare adalah dari?a. Tidak muntah Bagaimana keadaan anak apabila mengalamai diare?a. Semua benar Anak yang mengalami diare maka akan lemas. Muntah sebelum dan sesudah diare c. Makanan dan minuman Menurut anda apa yang bisa dilakukan untuk mencegah agar anak tidak terkena diare?a. Sumber air minum yang tercemar b. Air mentah. b.c. Buang air besar encer 3 – 4 kali atau lebih dalam sehari d. Dicuci saja tanpa direbus. Lingkungan yang bersihb. c. Semua benar Lingkungan yang bisa menimbulkan penyakit diare adalah?a. Tubuh anak kelebihan cairan b. Pakaian c. d. Air matang. Air bersih. Buang tinja sembarangan b. Oralit b. Bahan makanan yang sudah layu. Sari buah c. d. Semua benar Anak yang menderita diare bila tidak segera ditangani maka ?a. Tubuh anak akan kekurangan cairan c. Semua benar b. c. Nafsu makan tidak berubah d. Semua benar . Tubuh anak akan kelebihan makanan Apa yang bisa diberikan pada anak apabila menngalami diare sebelum anak dibawa ke fasilitas kesehatan?a. Air tajin dan kuah sayur d. Menurut anda hal-hal yang bisa menyebabkan diare adalah?a. Makanan yang kotor c. Lingkungan yang sehat d. Semua benar Botol yang dipergunakan untuk memberikan susu formula pada balita dibersihkan dengan cara?a. Melalui pernafasan Melalui makanan atau minuman c.

anggota rumah tangga mencuci tangan dengan air bersih dan sabun ? 5 6 7 Apakah tersedia ( memiliki atau menggunakan ) jamban di rumah tangga ? Apakah jarak sumber air dengan jamban 10 meter atau lebih? Apakah air yang diminum selalu dimasak terlebih dahulu? Lampiran 2 KISI-KISI DAN KUNCI JAWABAN KUISIONER PENELITIAN HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA Pengetahuan responden tentang diare. c. No. Tetap diberikan. Dipanaskan tanpa menunggu sampai mendidih. b.Cara yang baik untuk memanaskan makanan cair balita yang sudah menjadi dingin adalah ? a. Dipanaskan sampai mendidih. Terserah ibunya Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) Petunjuk Pengisian Kuesioner Bacalah dengan teliti setiap soal dan pilihan jawabannya. Dihangatkan saja. b. c. Tidak diberikan. Semua benar Apabila anak yang masih minum ASI mengalami diare dan disertai muntah apakah ASI tetap perlu diberikan?a. Beri tanda centang ( V ) pada pilihan jawaban anda. Pertanyaan Ya Tidak 1 2 3 Apakah anak ibu pada saat lahir sampai umur 2 hari hanya diberi ASI saja? Apakah anak balita dalam tiga bulan terakhir ditimbang setiap bulan ? Apakah untuk keperluan rumah tangga sehari-hari. d. Diberikan kalau minta saja d. Pengertian diare Penyebab diare Tanda-tanda dan gejala diare Cara penyebaran atau penularan diare Cara pencegahan diare Cara penanganan atau penatalaksanaan diare . dll. menggunakan air bersih ? 4 Apakah sebelum makan dan atau setelah buang air besar.

Menggunakan air bersih untuk keperluan rumah tangga sehari-hari Memiliki atau menggunakan jamban di rumah tangga Air yang diminum selalu dimasak terlebih dahulu Jarak Sumber air dengan jamban 10 meter atau lebih Kunci jawaban No Jawaban No Jawaban 1 C 11 B 2 D 12 D 3 A 13 B 4 B 14 D 5 D 15 D 6 B 16 A 7 D 17 C 8 B 18 . dll.Komponen PHBS Pemberian ASI esklusif Balita ditimbang dalam tiga bulan terakhir Cuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum makan dan atau setelah buang air besar.

A 9 D 19 C 10 B 20 A Lampiran 3 TABULASI HASIL PENELITIAN VARIABEL PENGETAHUAN NO RESP NO SOAL KUISIONER JML % 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 1 1 1 1 1 1 1 1 .

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 .

1 1 1 1 1 1 20 100% 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 5 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 .

100% 6 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 7 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 8 1 1 1 1 .

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 9 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 11 55% 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 .

1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 11 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 15 75% 12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 .

1 1 20 100% 13 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 0 15 75% 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 15 1 .

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 16 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 0 14 70% 17 1 1 1 1 1 1 1 1 .

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 18 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 19 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 .

1 1 1 1 1 20 100% 20 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 21 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% .

22 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 23 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 24 1 1 1 1 1 .

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 25 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 15 75% 26 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 .

1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 27 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 28 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 .

1 20 100% 29 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 30 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 31 1 0 .

1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 15 75% 32 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 33 1 1 1 1 1 1 1 1 1 .

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 34 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 35 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 .

1 1 1 1 20 100% 36 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 15 75% 37 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% .

38 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 15 75% 39 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 40 0 1 1 0 1 1 .

1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 15 75% 41 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 42 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 .

1 1 1 1 1 1 1 20 100% 43 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 44 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 0 .

15 75% 45 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 46 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 47 1 0 1 .

1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 15 75% 48 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 15 75% 49 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 .

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 50 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 15 75% 51 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 .

1 0 0 15 75% 52 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 15 75% 53 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 54 .

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 55 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 56 1 1 1 1 1 1 1 .

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 57 1 0 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 15 75% 58 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 .

1 1 1 1 1 1 20 100% 59 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 15 75% 60 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 .

100% 61 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 62 1 0 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 15 75% 63 1 0 1 1 .

1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 15 75% 64 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 65 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 .

1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 66 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 67 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 .

1 1 20 100% 68 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 69 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 15 75% 70 0 .

1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 1 15 75% 71 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 72 1 1 1 1 1 1 1 1 .

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 73 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 74 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 .

1 1 1 0 0 15 75% 75 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% 76 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 100% .

JML 68 64 76 68 72 76 73 76 62 76 76 66 76 66 65 74 76 68 70 57 1405 92% % 89% 84% 100% 89% 95% 100% 96% 100% 82% 100% 100% 87% 100% 87% 86% 97% 100% 89% 92% 75% 92% PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) NO RESP NO SUB VARIABEL PHBS JML .

KRITERIA 1 2 3 4 5 6 7 1 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 2 1 1 1 1 1 0 1 6 TIDAK SEHAT 3 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 4 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 5 .

1 1 1 1 1 0 1 6 TIDAK SEHAT 6 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 7 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 8 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 9 1 0 1 1 0 0 1 4 TIDAK SEHAT 10 .

1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 11 1 1 1 0 0 0 1 4 TIDAK SEHAT 12 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 13 1 1 1 1 0 0 1 5 TIDAK SEHAT 14 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 15 .

1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 16 1 1 1 0 0 0 1 4 TIDAK SEHAT 17 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 18 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 19 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 20

1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 21 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 22 0 1 1 1 0 0 1 4 TIDAK SEHAT 23 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 24 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 25

1 1 1 0 0 0 1 4 TIDAK SEHAT NO RESP NO SUB VARIABEL PHBS JML KRITERIA 1 2 3 4 5 6 7 26 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 27 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 28 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT

29 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 30 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 31 1 1 1 1 0 0 1 5 TIDAK SEHAT 32 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 33 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT .

34 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 35 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 36 0 1 1 1 0 0 1 4 TIDAK SEHAT 37 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 38 1 1 1 0 0 0 1 4 TIDAK SEHAT .

39 1 1 1 1 0 1 1 6 TIDAK SEHAT 40 1 1 1 0 1 0 1 5 TIDAK SEHAT 41 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 42 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 43 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT .

44 1 1 1 1 0 0 1 5 TIDAK SEHAT 45 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 46 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 47 1 1 1 1 0 0 1 5 TIDAK SEHAT 48 1 1 1 1 1 0 1 6 TIDAK SEHAT .

49 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 50 1 1 1 0 1 0 1 5 TIDAK SEHAT 51 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT NO RESP NO SUB VARIABEL PHBS JML KRITERIA 1 2 3 4 5 6 7 52 1 1 1 0 0 0 1 .

4 TIDAK SEHAT 53 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 54 1 1 1 1 1 0 1 6 TIDAK SEHAT 55 1 1 1 0 0 1 1 5 TIDAK SEHAT 56 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 57 1 1 1 1 1 0 1 .

6 TIDAK SEHAT 58 1 1 1 1 0 1 1 6 TIDAK SEHAT 59 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 60 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 61 1 1 1 1 0 1 1 6 TIDAK SEHAT 62 1 1 1 0 0 0 1 .

4 TIDAK SEHAT 63 1 1 1 1 0 1 1 6 TIDAK SEHAT 64 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 65 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 66 1 1 1 1 0 1 1 6 TIDAK SEHAT 67 1 1 1 1 1 1 1 .

7 SEHAT 68 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 69 1 1 1 0 0 1 1 5 TIDAK SEHAT 70 1 1 1 1 1 0 1 6 TIDAK SEHAT 71 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 72 1 1 1 1 1 0 1 .

6 TIDAK SEHAT 73 1 1 1 1 0 1 1 6 TIDAK SEHAT 74 1 1 1 0 1 1 1 6 TIDAK SEHAT 75 1 1 1 1 1 1 1 7 SEHAT 76 1 1 1 1 1 0 1 6 TIDAK SEHAT Jumlah 74 75 76 65 55 53 76 .

474 % 97.5% 72.10% TABULASI KUISIONER PENELITIAN NO RESP PENDIDIKAN PEKERJAAN UMUR KEJADIAN DIARE PHBS PENGETAHUAN 1 3 1 2 1 1 3 2 2 1 2 1 0 3 3 2 5 2 1 1 3 4 3 5 3 1 1 3 .4% 98.7% 100.7% 100.4% 69.0% 85.0% 89.

5 2 1 2 1 0 3 6 3 1 3 1 1 3 7 2 4 2 1 1 3 8 3 1 3 1 1 3 9 1 1 2 0 0 1 10 2 4 3 1 1 3 11 3 1 2 0 0 .

2 12 2 4 3 1 1 3 13 3 5 2 0 0 2 14 1 2 2 1 1 3 15 3 4 3 1 1 3 16 2 4 2 0 0 2 17 1 5 3 1 1 3 18 2 4 2 1 .

1 3 19 3 4 3 1 1 3 20 3 1 2 1 1 3 21 2 5 2 1 1 3 22 1 4 2 0 0 3 23 3 4 2 1 1 3 24 3 4 3 1 1 3 25 2 1 3 .

0 0 2 26 3 4 3 1 1 3 27 3 4 2 1 1 3 28 1 4 1 1 1 3 29 2 5 3 1 1 3 30 3 5 2 1 1 3 31 3 4 2 0 0 2 32 3 4 .

3 1 1 3 33 3 1 3 1 1 3 34 2 5 1 1 1 3 35 1 4 1 1 1 3 36 2 5 1 0 0 2 37 1 1 3 1 1 3 38 2 5 3 0 0 2 39 2 .

5 3 1 0 3 40 1 4 2 0 0 2 41 3 1 2 1 1 3 42 2 5 2 1 1 3 43 1 1 2 1 1 3 44 3 5 2 0 0 2 45 3 1 2 1 1 3 46 .

3 5 2 1 1 3 47 3 1 3 0 0 2 48 2 5 2 0 0 2 49 1 1 2 1 1 3 50 2 5 3 0 0 2 51 2 4 2 1 1 2 52 3 4 2 0 0 2 .

53 3 2 2 1 1 3 54 2 1 3 0 0 2 55 3 4 2 0 0 2 56 3 5 3 1 1 3 57 2 1 3 0 0 2 58 2 5 3 1 0 3 59 3 5 2 1 1 2 .

60 3 4 2 1 1 3 61 3 1 2 1 0 3 62 2 5 2 0 0 2 63 2 4 3 0 0 2 64 2 4 3 1 1 3 65 2 5 2 1 1 3 66 3 5 2 1 0 .

3 67 3 5 2 1 1 3 68 3 1 3 1 1 3 69 2 4 3 0 0 2 70 1 1 3 0 0 2 71 3 5 2 1 1 3 72 3 5 3 0 0 2 73 4 5 2 1 .

0 3 74 2 4 3 0 0 2 75 2 4 2 1 1 3 76 2 4 2 0 0 3 Keterangan NO Uraian Skor Keterangan 1 PENDIDIKAN 1 SD 2 3 4 SLTP SLTA PT 2 PEKERJAAN 1 SWASTA .

40 Tahun > 40 tahun 4 KEJADIAN DIARE 0 DIARE 1 TIDAK DIARE 5 PHBS 1 SEHAT 0 TIDK SEHAT 6 PENGETAHUAN 3 BAIK 2 1 CUKUP KURANG Lampiran 4 HASIL UJI SPSS 15 .2 3 4 5 WR SWASTA PNS/TNI/POLRI BURUH TDK BEKERJA 3 UMUR 1 < 20 Tahun 2 3 4 20 – 30 Tahun 31.

6 31 – 40 TH 14 18.0 .Frequencies Statistics UMUR PENDIDIKAN PEKERJAAN DIARE N Valid 76 76 76 76 Missing 0 0 0 0 Frequency Table UMUR Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid < 20 TH 5 6.6 6.4 100.0 75.4 18.6 6.6 20 – 30 TH 57 75.0 81.

0 .5 SLTP 30 39.Total 76 100.5 14.0 PENDIDIKAN Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid SD 11 14.0 100.7 44.0 Total 76 100.5 39.7 PT 1 1.7 98.5 53.5 14.9 SLTA 34 44.0 100.3 1.3 100.

PEKERJAAN Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid SWASTA 21 27,6 27,6 27,6 WIRASWASTA 2 2,6 2,6 30,3 BURUH 27 35,5 35,5 65,8 TIDAK BEKERJA 26 34,2 34,2 100,0 Total 76 100,0 100,0

PENGETAHUAN Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid KURANG 1 1,3 1,3 1,3

CUKUP 24 31,6 31,6 32,9 BAIK 51 67,1 67,1 100,0 Total 76 100,0 100,0

KRITERIA PHBS

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid TIDAK SEHAT 32 42,1 42,1 42,1 SEHAT 44 57,9 57,9 100,0 Total 76

100,0 100,0

KEJADIAN DIARE Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid DIARE 25 32,9 32,9 32,9 TIDAK DIARE 51 67,1 67,1 100,0 Total 76 100,0 100,0

Crosstabs Case Processing Summary Cases Valid Missing Total N Percent N Percent N Percent PENGETAHUAN * DIARE 76

0% 76 100.0% PENGETAHUAN * DIARE Crosstabulation Count DIARE Total DIARE TIDAK DIARE PENGETAHUAN KURANG 1 0 1 CUKUP 22 2 24 BAIK 2 49 51 Total 25 51 76 Crosstabs Case Processing Summary Cases Valid Missing Total .100.0% 0 .

0% 0 .0% DIARE * KRITERIA PHBS Crosstabulation Count KRITERIA PHBS Total TIDAK SEHAT SEHAT DIARE DIARE 25 0 25 TIDAK DIARE 7 44 51 Total 32 44 76 .N Percent N Percent N Percent DIARE * KRITERIA PHBS 76 100.0% 76 100.

000 .000 N 76 76 KRITERIA PHBS Correlation Coefficient .880(**) Sig. (2-tailed) . N 76 76 Correlation Coefficient ** Correlation is significant at the 0. .821(**) Sig. .000 N 76 76 DIARE Correlation Coefficient .821(**) .880(**) 1. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .01 level (2-tailed).000 .000 . Nonparametric Correlations Correlations DIARE KRITERIA PHBS Spearman’s rho DIARE Correlation Coefficient 1.Nonparametric Correlations Correlations PENGETAHUAN DIARE Spearman’s rho PENGETAHUAN 1.

5 10. N 76 76 ** Correlation is significant at the 0.5 BENAR 68 89.000 .5 100.0 SOAL NOMER 2 Frequency Percent Valid Percent .1.01 level (2-tailed).0 Total 76 100. (2-tailed) .0 100.5 89.5 10.000 Sig. DISTRIBUSI FREKWENSI JAWABAN RESPONDEN SOAL NOMER 1 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid SALAH 8 10.

2 84.0 SOAL NOMER 4 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid SALAH 8 10.2 100.8 BENAR 64 84.0 100.0 100.8 15.0 Total 76 100.5 .0 SOAL NOMER 3 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid BENAR 76 100.8 15.0 100.Cumulative Percent Valid SALAH 12 15.

0 100.0 Total 76 100.3 BENAR 72 94.10.0 SOAL NOMER 5 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid SALAH 4 5.3 5.0 100.0 SOAL NOMER 6 Frequency Percent .5 10.3 5.5 100.7 94.0 Total 76 100.7 100.5 BENAR 68 89.5 89.

Valid Percent Cumulative Percent Valid BENAR 76 100,0 100,0 100,0

SOAL NOMER 7 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid SALAH 3 3,9 3,9 3,9 BENAR 73 96,1 96,1 100,0 Total 76 100,0 100,0

SOAL NOMER 8 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid BENAR 76 100,0 100,0 100,0

SOAL NOMER 9 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid SALAH 14 18,4 18,4 18,4 BENAR 62 81,6 81,6 100,0 Total 76 100,0 100,0

SOAL NOMER 10 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid BENAR 76 100,0 100,0

100,0

SOAL NOMER 11 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid BENAR 76 100,0 100,0 100,0

SOAL NOMER 12 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid SALAH 10 13,2 13,2 13,2 BENAR 66 86,8 86,8 100,0 Total 76 100,0 100,0

SOAL NOMER 13 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid BENAR 76 100.0 SOAL NOMER 14 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid SALAH 10 13.2 13.0 100.2 13.8 86.2 BENAR 66 86.0 100.0 Total 76 100.8 100.0 100.0 SOAL NOMER 15 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent .

4 97.6 BENAR 74 97.Valid SALAH 11 14.5 BENAR 65 85.5 100.5 14.0 100.0 .0 Total 76 100.0 Total 76 100.5 85.6 2.6 2.5 14.0 SOAL NOMER 16 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid SALAH 2 2.4 100.0 100.

0 100.5 10.5 BENAR 68 89.SOAL NOMER 17 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid BENAR 76 100.0 Total 76 100.0 SOAL NOMER 19 Frequency .0 100.0 100.5 100.0 SOAL NOMER 18 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid SALAH 8 10.5 89.5 10.

0 100.0 100.1 92.0 SOAL NOMER 20 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid SALAH 19 25.0 BENAR 57 75.0 .0 Total 76 100.9 7.0 100.0 25.0 Total 76 100.1 100.0 75.Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid SALAH 6 7.9 7.9 BENAR 70 92.0 25.

tanpa ada unsur pemaksaan dari siapapun. Bahwa saya diminta untuk berperan serta dalam Penelitian Ilmiah ini sebagai responden dengan mengisi angket yang disediakan oleh penulis. Sebelumnya saya telah diberi penjelasan tentang tujuan Penelitian Ilmiah ini dan saya telah mengerti bahwa peneliti akan merahasiakan identitas. Demikian persetujuan ini saya buat secara sadar dan suka rela. Tanggal 13 Juni 2011 Peneliti Responden …………………………………… . Sukolegowo. Peneliti NIM : :. peneliti akan menghentikan pada saat ini dan saya berhak mengundurkan diri.Lampiran 5 PERNYATAAN BERSEDIA MENJADI RESPONDEN Judul : Hubungan Pengetahuan Dan Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) Dengan Kejadian Diare Pada Balita. saya menyatakan : Bersedia menjadi responden dalam penelitian Ilmiah. data maupun informasi yang akan saya berikan. Apabila ada pertanyaan yang diajukan menimbulkan ketidaknyamanan bagi saya.

Lampiran 6 JADWAL KEGIATAN PENELITIAN NO KEGIATAN BULAN MEI 2011 JUNI 2011 JULI 2011 1 X Pembuatan Judul 2 X Konsultasi Judul 3 X Studi Kepustakaan .

4 X X Penyusunan Proposal 5 Ujian Proposal X 6 Revisi Proposal X 7 Perijinan Skripsi X .

8 Pengumpulan Data X X 9 Pengolahan Data dan Analisa Data X X X X 10 Ujian/Sidang Skripsi X 11 Revisi Skripsi .

com. | Theme: NotesIL — Dirancang oleh Jordan Lewinsky. Powered by WordPress.com . Ikuti Follow “Sanusi ngawi” Get every new post delivered to your Inbox. under Uncategorized.X Keterangan : X = Pelaksanaan kegiatan Like this: Suka Be the first to like this post.org Blog pada WordPress.com WordPress. « Ukuran Meja Pingpong CARA MENGHILANGKAN GENUINE ATAU BLACKLIST WIN XP » Tulisan Terkini CARA MENGHITUNG HASIL PENELITIAN DENGAN SPSS Kontak kami CARA MENGHILANGKAN GENUINE ATAU BLACKLIST WIN XP SKRIPSI DIARE Ukuran Meja Pingpong CD KEY WSP2 Arsip September 2011 Juni 2011 Mei 2011 April 2011 Maret 2011 Komentar Terakhir Tag Blogroll WordPress. By sanusi. Tidak ada Komentar Komentar dan lacak balik saat ini ditutup. on 15 April 2011 at 07:50.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful