DINAMIKA PEMERINTAHAN ORDE BARU AA. Ciri-Ciri Pokok Kebijakan Orde Baru 1.

Latar Belakang Lahirnya Orde Baru. Surat Perintah Sebelas Maret (SP 11 Maret) merupakan dasar lahirnya suatu pemerintahan yang kemudian disebut dengan nama orde baru. Surat perintah yang beradasal dari Presiden Soekamo tanggal 11 Maret 1966 ditujukan kepada Letnan Jenderal Soeharto yang bertugas atas nama presiden untuk mengambil tindakan guna menjamin keamanan dan ketertiban negara. Langkah-langkah yang diambil setelah adanya supersemar adalah 1. Membubarkan PKI dan ormasnya pada 12 Maret 1966. 2. Mengamankan menteri-menteri dalam Kabinet Dwikora yang terlibat dalam G-30-S/PKI yaitu, (1) Soebandrio, (2) Dr. Chaerul Shaleh, (3) Ir. Setiadi Reksoprojo, (4) Sumarjo, (5) Oei Tju Tat,SH, (6) Ir.Surachman, (7) Yusuf Muda Dalam, (8) Armunanto, (9) Sutomo Marto Pradata, (10) A.Sastra Winata, SH., (11) Mayjen Achmadi, (12) Drs. Mochammad Achadi, (13) Letkol. Syafei, (14) J.K. Tumakaka, (15) Mayjen Dr. Soemarno. 3. Pengemban Supersemar, pada 18 Maret 1966 menunjuk beberapa menteri ad interim guna mengisi pos-pos menteri yang kosong. Langkah yang dilakukan Orde Baru adalah mengadakan pembersihan ditubuh Kabinet Dwikora yang disempurnakan, yaitu dengan mengadakan sidang DPR-GR yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa yang membacakan nota politiknya. Pada 17 Mei 1966 DPR-GR berhasil menyusun kepengurusan DPR-GR dan berhasil membersihkan anggotanya dengan memecat 65 anggota yang mewakili Partai Komunis Indonesia. Sejak tanggal 22 Oktober 1965 sebenamya status keanggotaan DPRGR yang mendukung G-30-S/PKI dibekukan. Kabinet Dwikora mengalami beberapa kali perombakan untuk menghilangkan pengaruh menteri yang diduga terlibat G-30-S/PKI. Namun tuntutan terhadap pemerintah untuk melakukan perubahan politik terus berlangsung, seperti aksi mahasiswa di gedung DPR-GR tanggal 2 Mei 1966. Sebagai reaksi tekanan berbagai pihak, Presiden Soekamo secara sukarela menyampaikan pidato pertanggungjawaban pada 22 Juni 1966, pada saat pelantikan pimpinan MPRS. Namun pidato pertanggungjawaban yang berjudul "Nawaksara" itu tidak diterima MPRS. Sejak pertengahan tahun 1966, perkembangan politik nasional semakin kompleks. Melalui Tap MPRS No. XIII/MPRS/1966, Letjen Soeharto

dan lain-lain. Letnan Jenderal Soeharto diangkat sebagai perdana menteri yang memiliki kekuasaan eksekutif dalam Kabinet Ampera yang disempumakan. XIII/MPRS/1966 tentang Kabinet Ampera dan membubarkan Kabinet Dwikora. Namun. pelajar. Kesatuan Aksi Wanita Indonesia (KAWI). Akibatnya dualisme kepemimpianan nasional mulai terjadi. Kabinet Ampera dibentuk melalui Keppres No.ditugasi untuk membentuk Kabinet Ampera. organisasi massa. (2) Menarik kembali mandat MPRS dari Presiden Soekarno dengan segala kekuasaannya sesuai UUD 1945. Kesatuan aksi ini kemudian terkenal dengan sebutan angkatan 66 antara lain Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). 2. Perkembangan Kekuasaan Orde Baru . 12 Maret 1967. Tugas pokok kabinet Ampera disebut "Dwi Dharma" yaitu : (1) mewujudkan stabilitas politik (2) menciptakan stabilitas ekonomi. pemuda.(3) Anggota kabinet terdiri dari 24 menteri. Kabinet Ampera dirombak pada tanggal 11 Oktober 1966. Pada 25 Juli 1966 Presiden Soekarno melaksanakan Ketetapan MPRS No. Melalui Sidang Istimewa pada 7-12 Maret 1967 . Jenderal Soeharto dilantik dan diambil sumpah oleh Ketua MPRS Jenderal TN1 Abdul Haris Nasution. Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI).(3) Mengangkat pengemban Tap Nomor IX/MPRS/1966 tentang supersemar itu sebagai pejabat presiden hingga terpilihnya presiden menurut hasil pemilihan umum. Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI). perorangan. mahasiswa. Selanjutnya MPRS mengadakan sidang. kaum wanita secara kompak membentuk kesatuan aksi dalam bentuk Front Pancasila untuk menghancurkan para pendukung G30S/PKI yang diduga melakukan pemberontakan terhadap negara dengan menuntut agar ada penyelesaian politik terhadap mereka yang terlibat dalam gerakan pemberontakan tersebut. Majlis Permusyawaratan Rakyat Sementara berhasil merumuskan ketetapan Nomor : XXXIII/MPRS/1967 yang berisi hal-hal sebagai berikut: (1) Mencabut kekuasaan pemerintahan dari tangan Presiden Soekarno. 163 tanggal 25 Juli 1966 yang ditandatangani Presiden Soekamo.(2) Lima orang Menteri Utama yang merupakan suatu presedium. Masyarakat luas yang terdiri dari berbagai unsur seperti kalangan partai politik. Pada akhir Sidang Istimewa MPRS. Kabinet Dwikora dibangan dalam tiga unsur yaitu (1) Pimpinan kabinet: Presiden Soekamo. jabatan presiden tetap Soekarno.

Marxisme. Kemudian dibuatlah suatu pengertian bahwa Orde Baru adalah tatanan seluruh kehidupan rakyat. (3) pelurusan kembali tertib . Leninsme di Indonesia. Adanya ketetapan ini maka situasi konflik yang merupakan sumber instabilitas politik nasional telah berakhir secara konstitusional.Dengan surat perintah 11 Maret 1966 Soeharto mengatasi keadaan yang serba tidak menentu dan sulit terkendali sebagai dampak peristiwa G30S/PKI negara dilanda instabilitas politik akibat tidak tegasnya kepemimpinan Presiden Soekarno dalam mengambil keputusan atas peristiwa tersebut. Sementara partai-partai politik terpecah belah dalam kelompok-kelompok yang saling bertentangan. Dengan demikian langkah awal diperlukan stabilitas nasional yang dinamis untuk mendukung kehidupan politik yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Kemudian direspon oleh MPRS dengan membuat keputusan sebagai berikut: (1) Pengukuhan tindakan pengemban surat perintah sebelas maret yang membubarkan PKI berserta ormas-ormasnya. bangsa. Kondisi politik negara sudah mulai kondusif namun demikian kristalisasi Orde Baru belum selesai maka diperlukan penataan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam kerangka Orde Baru. Perjuangan rakyat seperti yang dikemukan para pelajar dan mahasiswa dalam demonstrasi pada 8 Januari 1966 menuju gedung sekretariat negara dan dilajutkan pada 12 Januari 1966 berbagai kesatuan aksi yang tergabung dalam Front Pancasila berdemonstrasoi di depan gedung DPR-GR yang menuntut penyelesaian stabilitas negara pasca peristiwa G30S/PKI yang dikenal dengan Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura) yaitu: (1) pembubaran PKI beserta organisasi massanya (2) pembersihan Kabinet Dwi Kora (3) Penurunan harga-harga barang Pada hakekatnya tuntutan rakyat tersebut merupakan keinginan rakyat yang mendalam untuk melaksanakan kehidupan bernegara sesuai dengan aspirasi kehidupan dalam situasi yang kongret. dengan ketetapan nomor IV/MPRS/1966 dan nomor IX/MPRS/1966 (2) pelarangan faham dan ajaran Komunisme. dan negara yang diletakkan pada kemurnian pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 atau sebagai koreksi terhadap penyelewengan-penyelewengan yang terjadi dimasa lampau. dengan ketetapan nomor XXV/MPRS/1966. antara penentang dan pendukung kebijakan Presiden Soekarno. Pada 20 Pebruari 1967 Presiden Soekarno menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada Soeharto yang kemudian dikukuhkan di dalam Sidang Istimewa MPRS dalam ketetapan nomor XXXIII/MPRS/1967 mencabut kekuasaan pemerintahan negara dari Presiden Soekarno dan mengangkat Soeharto sebagai pejabat presiden Republik Indonesia.

dan Murba. (9) Partai Syarikat Islam Indonesia. Sejalan dengan tujuan tersebut maka ketika kondisi politik bangsa Indonesia mulai stabil untuk melaksanankan amanat masyarakat maka pemerintah mencanangkan pembangunan nasional yang diupakan melalui program pembangunan jangka pendek dan pembangunan . Partai Muslimin Indonesia. (3) Kelompok organisasi profesi seperti organisasi buruh. Usaha ini dimulai tahun 1970 dengan mengadakan serangkaian konsultasi dengan pimpinan partai-partai politik. (4) Partai Islam Persatuan Tarbiyah Islam. organisasi seniman. (8) Partai Nasional Indonesia. Parkindo. Usaha penataan kembali kehidupan politik pada awal 1968 dengan penyegaran anggota DPR-Gotong Royong yang bertujuan untuk menumbuhkan hak-hak demokrasi dan mencerminkan kekuatankekuatan yang ada dalam masyarakat. dan Perti. (6) Partai Kresten Indonesia. (7) Partai Muslimin Indonesia. 3. dan (10) organsiasi golongan karya yang dapat ikut serta dalam pemilihan umum adalah Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar). Hasil konsultasi itu maka muncullah tiga kelompok di DPR yaitu: (1) Kelompok Demokrasi Pembangunan yang terdiri dari partai politik PNI. (2) Murba. dan lain-lain yang tergabung dalam kelompok Golongan Karya. Partai-partai itu adalah (1) Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia. Komposisi anggota DPR terdiri dari wakil-wakil partai politik dan golongan karya. (3) Nahdlatul Ulama. Kemudian dilanjutkan pada tahap penyederhanaan kehidupan kepartaian. Pada 23 Mei 1970. Kebijakan Pemerintah Orde Baru Tujuan perjuangan Orde Baru adalah menegakkan tata kehidupan bernegara yang didasarkan atas kemurnian pelaksanaan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. IPKI. (5) Partai Katolik. Presiden Soeharto dengan surat keputusan nomor 43 telah menetapkan organisasi-organisasi yang dapat ikut serta dalam pemilihan umum dan anggota DPR/DPRD yang diangkat. dan kekaryaan dengan cara pengelompokan partai-partai politik dan golongan karya. keormasan. Organisasi politik yang dapat ikut pemilihan umum yaitu partai politik yang pada waktu pemilihan umum sudah ada dan diakui serta memiliki wakil di DPR/DPRD. (2) Kelompok Persatuan Pembangunan yang terdiri dari partai politik Partai NU.konstitusional berdasarkan Pancasila dan tertib hukum dengan ketetapan nomor XX/MPRS/1966. organisasi petani dan nelayan. Sebagai negara berkedaulatan rakyat maka Orde Baru mulai menyiapkan menghadapi pemilihan umum. organisasi pemuda. Partai Katolik. PSII.

dan negara.jangka panjang. yaitu : (1) pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. perdamaian abadi. (2) pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. GBHN merupakan pola umum pembangunan nasional dengan rangkaian program-programnya yang kemudian dijabarkan dalam rencana pembangunan lima tahun (Repelita). Oleh karena itu sejak Pembangunan Lima Tahun Tahap III (1 April 1979-31 Maret 1984) maka pemerintahan Orde Baru menetapkan Delapan Jalur Pemerataan. Pembangunan nasional dilakukan untuk melaksanakan tugas mewujudkan tujuan nasioanl yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. mencerdaskan kehidupan bangsa. yaitu : (1) pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya yang menuju pada terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat. dan keadilan sosial. Konsekuensi dari pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi sbagi akibat pelaksanaan pembangunan tidak akan bermakna apabila tidak diimbangi dengan pemerataan pembangunan. (3) pemerataan . meningkatkan kesejahteraan umum. bangsa. Pada masa ini pengertian pembangunan nasional adalah suatu rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan yang meliputi seluruh kehidupan masyarakat. dan (3) stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. dan perumahan. sandang. (2) pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan. Adapun Repelita yang berisi program-program kongkrit yang kakan dilaksanakan dalam kurun waktu lima tahun. Pembangunan jangka pendek dirancang melalui pembangunan lima tahun (Pelita) yang didalamnya memiliki misi pembangunan dalam rangka mencapai tingkat kesejahteraan bangsa Indonesia. Kemudian terkenal dengan konsep Pembangunan Jangka Panjang Tahap I (1969-1994) menurut indikator saat itu pembangunan dianggap telah berhasil memajukan segenap aspek kehidupan bangsan dan telah meletakkan landasan yang cukup kuat bagi bangsa Indonesia untuk memasuki Pembangunan Jangka Panjang Tahap II (1995-2020). dalam repelita ini dimulai sejak tahun 1969 sebagai awal pelaksaan pembangunan jangka pendek dan jangka panjang. serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. khususnya pangan. Pemerintahan Orde Baru senantiasa berpedoman pada tiga konsep pembangunan nasional yang terkenal dengan sebutan Trilogi Pembangunan. Dalam usaha mewujudkan tujuan nasional maka Majlis Permusyawaratan Rakyat sejak tahun 1973-1978-1983-1988-1993 menetapkan garis-garis besar haluan negara (GBHN).

Kabinet baru diberi nama Kabinet Ampera yang merupakan singkatan dari Kabinet Amanat Penderitaan Rakyat selanjutnya diberi tugas untuk menciptakan stabilitas politik dan ekonomi sebagai persyaratan dalam melaksanakan pembangunan nasional. (5) pemerataan kesempatan berusaha. sesuai dengan Tap No. yang dilaporkan pertama kali bahwa telah dilaksanakan usaha mendudukkan kembali posisi. XI/MPRS/1966. (2) melaksanakan pemilihan umum dalam batas waktu seperti yang tercantum dalam ketetapan MPRS No. sehingga langkah-langkah yang diambil adalah mencapai stabilitas ekonomi dan politik. B. Tugas ini yang dikelak terkenal dengan sebutan ”Dwi Darma Kabinet Ampera”. (6) pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan. Merujuk hasil Sidang Umum IV MPRS yang mengambil suatu keputusan untuk menugaskan Jenderal Soeharto selaku pengembang Surat Perintah Sebelas Maret yang sudah ditingkatkan menjadi ketetapan MPRS No. dan (8) pemerataan kesempatan memperoleh keadilan. Pemerintahan Orde Baru berusaha meningkatkan peran negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada 21 Maret 1968 Jenderal Soeharto selaku Pejabat Presiden menyampaikan laporan kepada Sidang Umum V MPRS Tahun 1968 tentang pelaksanaan Dwi Darma dan Catur Karya Kabinet Ampera. dan hubungan antar lembaga negara tertinggi sesuai dengan yang diatur dalam UUD 1945 C. IX/MPRS/1966 untuk membentuk kabinet baru. yaitu: (1) memperbaiki kehidupan rakyat terutama dibidang sandang dan pangan. fungsi. Stabilitas dan Rehabilitasi Ekonomi . (4) pemerataan kesempatan kerja. PROSES MENGUATNYA PERAN NEGARA PADA MASA ORDE BARU Berkuasanya Orde Baru ternyata menimbulkan banyak perubahan yang dicapai bangsa Indonesia melalui tahapan pembangunan di segala bidang. (4) melanjutkan perjuangan anti imperialisme dan kolonialisme dalam segala bentuk dan manifestasinya.pembagian pendapatan.(3) Melaksanakan politik luar negeri yang bebas aktif untuk kepentingan nasional. PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA MASA ORDE BARU 1. Sedangkan program kerja terkenal dengan sebutan Catur Karya Kabinet Ampera. (7) pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air. XI/MPRS/1966 yaitu pada 5 Juli 1968. khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita.

dan program pembangunan. 2. (4) peningkaan kegiatan ekspor. program stabilisasi. (3) berhasil pula mengembalikan perak seberat 100 kg.761.442. Adapun program stabilisasi dan rehabilitasi merupakan program jangka pendek dengan skala prioritas: (1) pengendalian inflasi. yaitu program penyelamatan. (2) pengekangan perluasan kredit untuk usaha-usaha produktif meliputi pangan.947. (3) penundaan pembayaran utang-utang luar negeri serta usaha untuk mendapatkan kredit baru. prasarana dan industri. Tindakan pemerintah untuk perbaikan ekonomi adalah sebagai berikut: (1) mengadakan operasi pajak diutamakan di kota-kota besar untuk meneliti sampai sejauhmana perusahaan besar milik negara dan swasta memenuhi kewajiban bayar pajak.586. Prioritas utama yang dilakukan dengan tindakan mengambil uang yang menjadi hak negara dan menertibkan prosedur-prosedur keuangan. (2) pencukupan kebutuhan pangan. yaitu: (1) anggaran belanja yang berimbang untuk menghilangkan salah satu sebab bagi inflasi yaitu difisit dalam anggaran belanja. dalam bentuk memberantas korupsi. Oleh karena itu pemerintah mengeluarkan beberapa peraturan penting pada bulan Oktober 1966 yang memuat pokok usaha. Pembangunan Sebelum Pelaksanaan Pembangunan Lima Tahun (Pelita) Kebijakan yang dimulai sejak oktober 1966 hingga pertengahan tahun 1968 yaitu kebijakan stabilisasi yang bersifat operasional penyelamatan dengan tujuan menertibkan penggunaan keuangan negara. dan Rp.381. 494.403 kg.33. ekspor. Dengan membumbung tinggi harga kebutuhan pokok pada awal 1966 dan tingkat inflasi 650 % setahun membuat pemerintah tidak dapat melaksanakan pembangunan dengan segera.005. (4) penanaman modal asing guna memberi kesempatan pada luar negeri untuk membuka alam Indonesia supaya membuka kesempatan kerja dan membantu usaha peningkatan pendapatan nasional. tetapi harus didahulukan dengan melaksanakan stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi.Pada masa awal Orde Baru program khusus pemerintah semata-mata ditujukan untuk menyelamatkan ekonomi nasional. (3) rahabilitasi prasarana ekonomi.37.571.Hasil-hasil positif yang telah dicapai oleh pemerintah sebagai berikut: (1) berhasil mengembalikan uang negara sebesar US $ 9. (2) penghematan . menyelamatkan keuangan negara dan mengamankan kebutuhan pokok pangan rakyat. Yen 145. Kemudian MPRS menggariskan tiga program yang harus dilaksanakan pemerintah secara bertahap. (2) dapat mengembalikan emas seberat 1.

Inggris. Kredit ekspor diberikan apabila bank yakin akan terlangsungnya ekspor. tetapi perlu untuk mengimpor bahan-bahan baku. Pada tanggal 19-30 September 1966 di kota Tokyo-Jepang diadakan perundingan Indonesia dengan para negara kreditor Perancis. Amerika Serikat yang disponsori oleh Japang. Akibatnya situasi ekonomi dan keuangan masih meprihatinkan. (3) kredit bank dibatasi dan kredit impor dihapuskan. (2) Utang yang seharusnya dibayar tahun 1969 dan 1970 dipertimbangkan untuk ditunda pembayarannya dengan syarat yang sama lunaknya dengan utang- . Jerman Barat. Para negara kreditor menanggapi dengan serius apa yang telah dikemukakan pemerintah Indonesia maka perlu ditindaklanjuti dengan pertemuan lagi dalam pertemuan di Paris-Perancis yang menghasilkan: (1) utang Indonesia yang seharusnya dibayar tahun 1968 ditunda pembayarannya hingga tahun 1972-1978. penggunaan bibit unggul seperti jenis padi PB-5 dan PB-8. Dampak dari bimas dan inmas tersebut pada tahun 1967 produksi padi menunjukkan kenaikan 3 % dan pada tahun 1968 naik menjadi 5 %. Italia. Belanda. dan sebagainya agar keadaan ekonomi Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi.7 milyar sehingga kesulitan menurunkan laju inflasi ke titik yang lebih aman dalam perekonomian Indonesia. khususnya untuk pengeluaran yang konsumtif dan rutin serta penghapusan terhadap subsidi perusahaan-perusahaan. penyediaan pupuk dan obat-obatan merupakan keharusan serta penyuluhan penanaman padi secara teknis. Peningkatan produksi pangan pada tahun 1968 disebabkann oleh adanya perubahan kebijakan dalam penggunaan bea masuk untuk berbagai macam tekstil dengan tujuan untuk memberikan proteksi pada produksi dalam negeri.pengeluaran dibidang pemerintahan. oleh karena itu pemerintah Orde Baru meminta kepada negara-negara kreditor untuk menunda pembayaran utang-utang tersebut. Usaha mencukupi kebutuhan pangan dilakukan pemerintah dengan memperhatikan peningkatan produksi pangan di dalam negeri khususnya beras. suku cadang.2 – 2. untuk meningkatkan produksi beras diselenggarakan bimbingan masal (bimas) dan intensifikasi masal (inmas) yang meliputi perbaikan prasarana irigasi. Pemerintah masih mengalami kesulitan mengelola keuangan negara dampak dari utangutang peninggalan Orde Lama yang mencapai US $ 2. pada kesempatan ini pemerintah Indonesia mengemukakan bahwa devisa ekspor sebagai pembayaran utang. Kemajuan ekonomi yang berhasil dicapai oleh pemerintah dari laju inflasi 650 % menjadi 120 % pada tahun 1967.

Pinjaman-pinjaman dari luar negeri digunakan untuk tiga macam hal yang disebut dengan Bukti Ekspor (BE). Bukti Ekspor yang diwujudkan dalam bentuk barang-barang konsumtif itu dijual oleh pemerintah dan hasilnya dimasukkan dalam Anggaran Belanja Pemerintah dan kemudian dipakai untuk anggaran pembangunan. sehingga langkah-langkah yang diambil adalah mencapai stabilitas ekonomi dan politik. khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita. PROSES MENGUATNYA PERAN NEGARA PADA MASA ORDE BARU Berkuasanya Orde Baru ternyata menimbulkan banyak perubahan yang dicapai bangsa Indonesia melalui tahapan pembangunan di segala bidang. pupuk. Perundingan antara Indonesia dengan para kreditor itu kemudian dikenal dengan istilah Tokyo Club dan Paris Club. Berdirinya IGGI (Inter Govermental Group fo Indonesia) bermula dari lanjutan pertemuan Paris Cub antara Indonesia dengan para kreditor yang dilaksanakan di Kota Amsterdam-Belanda pada 23-24 Pebruari 1967 pertemuan ini membicarkan kebutuhan Indonesia akan bantuan luar negeri serta kemungkinan-kemungkinan memberi bantuan dengan syarat lunak. dan (3) pangan. dan obat hama. pembagian pendapatan. Bukti Ekspor untuk impor pangan memungkinkan devisa pemerintah bisa digunakan untuk keperluan lain yang lebih produktif. Sehingga anggaran pembangunan dalam bentuk rupiah itu berasal dari penjualan barang-barang konsumtif. B. (2) proyekproyek pembangunan. Pemerintahan Orde Baru berusaha meningkatkan peran negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.utang yang seharusnya dibayar dalam tahun 1968. (4) pemerataan kesempatan kerja. yaitu : (1) impor. Dengan demikian bantuan luar negeri dismpaing untuk mengimpor barang-barang yang perlu dan hasil penjualannya dipakai pula untuk membiayai pembangunan pula. (7) pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air. Bukti Ekspor dapat digunakan untuk impor barang-barang ekonomi seperti suku cadang. (6) pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan. Merujuk hasil Sidang Umum IV MPRS yang mengambil suatu keputusan untuk menugaskan Jenderal Soeharto selaku pengembang . Hasilnya memperoleh bantuan untuk melangsungkan pembangunan dan penangguhan serta memberi keringanan syaratsyarat pembayaran kembali utang-utang peninggalan Orde Lama. dan (8) pemerataan kesempatan memperoleh keadilan. (5) pemerataan kesempatan berusaha.

PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA MASA ORDE BARU 1. dan hubungan antar lembaga negara tertinggi sesuai dengan yang diatur dalam UUD 1945 C. Stabilitas dan Rehabilitasi Ekonomi Pada masa awal Orde Baru program khusus pemerintah semata-mata ditujukan untuk menyelamatkan ekonomi nasional. dan program pembangunan. yaitu: (1) . (2) pencukupan kebutuhan pangan. (3) rahabilitasi prasarana ekonomi. program stabilisasi. Kabinet baru diberi nama Kabinet Ampera yang merupakan singkatan dari Kabinet Amanat Penderitaan Rakyat selanjutnya diberi tugas untuk menciptakan stabilitas politik dan ekonomi sebagai persyaratan dalam melaksanakan pembangunan nasional. (4) peningkaan kegiatan ekspor. menyelamatkan keuangan negara dan mengamankan kebutuhan pokok pangan rakyat. Dengan membumbung tinggi harga kebutuhan pokok pada awal 1966 dan tingkat inflasi 650 % setahun membuat pemerintah tidak dapat melaksanakan pembangunan dengan segera. Tugas ini yang dikelak terkenal dengan sebutan ”Dwi Darma Kabinet Ampera”. yang dilaporkan pertama kali bahwa telah dilaksanakan usaha mendudukkan kembali posisi. yaitu program penyelamatan. Oleh karena itu pemerintah mengeluarkan beberapa peraturan penting pada bulan Oktober 1966 yang memuat pokok usaha. XI/MPRS/1966 yaitu pada 5 Juli 1968. (2) melaksanakan pemilihan umum dalam batas waktu seperti yang tercantum dalam ketetapan MPRS No. fungsi. Sedangkan program kerja terkenal dengan sebutan Catur Karya Kabinet Ampera. (4) melanjutkan perjuangan anti imperialisme dan kolonialisme dalam segala bentuk dan manifestasinya. IX/MPRS/1966 untuk membentuk kabinet baru.Surat Perintah Sebelas Maret yang sudah ditingkatkan menjadi ketetapan MPRS No. Adapun program stabilisasi dan rehabilitasi merupakan program jangka pendek dengan skala prioritas: (1) pengendalian inflasi. Pada 21 Maret 1968 Jenderal Soeharto selaku Pejabat Presiden menyampaikan laporan kepada Sidang Umum V MPRS Tahun 1968 tentang pelaksanaan Dwi Darma dan Catur Karya Kabinet Ampera. sesuai dengan Tap No. dalam bentuk memberantas korupsi. yaitu: (1) memperbaiki kehidupan rakyat terutama dibidang sandang dan pangan. XI/MPRS/1966.(3) Melaksanakan politik luar negeri yang bebas aktif untuk kepentingan nasional. Kemudian MPRS menggariskan tiga program yang harus dilaksanakan pemerintah secara bertahap. tetapi harus didahulukan dengan melaksanakan stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi.

(2) pengekangan perluasan kredit untuk usaha-usaha produktif meliputi pangan.37. (3) penundaan pembayaran utang-utang luar negeri serta usaha untuk mendapatkan kredit baru.005. untuk meningkatkan produksi beras diselenggarakan bimbingan masal (bimas) dan intensifikasi masal (inmas) yang meliputi perbaikan prasarana irigasi. Prioritas utama yang dilakukan dengan tindakan mengambil uang yang menjadi hak negara dan menertibkan prosedur-prosedur keuangan. Pembangunan Sebelum Pelaksanaan Pembangunan Lima Tahun (Pelita) Kebijakan yang dimulai sejak oktober 1966 hingga pertengahan tahun 1968 yaitu kebijakan stabilisasi yang bersifat operasional penyelamatan dengan tujuan menertibkan penggunaan keuangan negara. dan Rp. (3) kredit bank dibatasi dan kredit impor dihapuskan. Kredit ekspor diberikan apabila bank yakin akan terlangsungnya ekspor.947. Dampak dari bimas dan inmas tersebut pada tahun 1967 produksi padi menunjukkan kenaikan 3 % dan pada tahun 1968 naik menjadi 5 %. Usaha mencukupi kebutuhan pangan dilakukan pemerintah dengan memperhatikan peningkatan produksi pangan di dalam negeri khususnya beras. (2) penghematan pengeluaran dibidang pemerintahan. (4) penanaman modal asing guna memberi kesempatan pada luar negeri untuk membuka alam Indonesia supaya membuka kesempatan kerja dan membantu usaha peningkatan pendapatan nasional. Tindakan pemerintah untuk perbaikan ekonomi adalah sebagai berikut: (1) mengadakan operasi pajak diutamakan di kota-kota besar untuk meneliti sampai sejauhmana perusahaan besar milik negara dan swasta memenuhi kewajiban bayar pajak.381. 2.442. (3) berhasil pula mengembalikan perak seberat 100 kg.761.anggaran belanja yang berimbang untuk menghilangkan salah satu sebab bagi inflasi yaitu difisit dalam anggaran belanja. 494.571.403 kg. ekspor. penyediaan pupuk dan obat-obatan merupakan keharusan serta penyuluhan penanaman padi secara teknis.33. prasarana dan industri. penggunaan bibit unggul seperti jenis padi PB-5 dan PB-8. Peningkatan produksi pangan pada tahun 1968 disebabkann oleh adanya perubahan kebijakan dalam penggunaan bea masuk untuk .586. Yen 145.Hasil-hasil positif yang telah dicapai oleh pemerintah sebagai berikut: (1) berhasil mengembalikan uang negara sebesar US $ 9. (2) dapat mengembalikan emas seberat 1. khususnya untuk pengeluaran yang konsumtif dan rutin serta penghapusan terhadap subsidi perusahaan-perusahaan.

berbagai macam tekstil dengan tujuan untuk memberikan proteksi pada produksi dalam negeri. Belanda. Pemerintah masih mengalami kesulitan mengelola keuangan negara dampak dari utangutang peninggalan Orde Lama yang mencapai US $ 2. Pinjaman-pinjaman dari luar negeri digunakan untuk tiga macam hal yang disebut dengan Bukti Ekspor (BE). Hasilnya memperoleh bantuan untuk melangsungkan pembangunan dan penangguhan serta memberi keringanan syaratsyarat pembayaran kembali utang-utang peninggalan Orde Lama. Inggris. (2) proyekproyek pembangunan. Berdirinya IGGI (Inter Govermental Group fo Indonesia) bermula dari lanjutan pertemuan Paris Cub antara Indonesia dengan para kreditor yang dilaksanakan di Kota Amsterdam-Belanda pada 23-24 Pebruari 1967 pertemuan ini membicarkan kebutuhan Indonesia akan bantuan luar negeri serta kemungkinan-kemungkinan memberi bantuan dengan syarat lunak. Perundingan antara Indonesia dengan para kreditor itu kemudian dikenal dengan istilah Tokyo Club dan Paris Club.2 – 2. Italia. Amerika Serikat yang disponsori oleh Japang. dan (3) pangan. dan sebagainya agar keadaan ekonomi Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi. Jerman Barat. pada kesempatan ini pemerintah Indonesia mengemukakan bahwa devisa ekspor sebagai pembayaran utang. Bukti Ekspor dapat digunakan untuk impor barang-barang ekonomi seperti suku cadang.7 milyar sehingga kesulitan menurunkan laju inflasi ke titik yang lebih aman dalam perekonomian Indonesia. tetapi perlu untuk mengimpor bahan-bahan baku. pupuk. Para negara kreditor menanggapi dengan serius apa yang telah dikemukakan pemerintah Indonesia maka perlu ditindaklanjuti dengan pertemuan lagi dalam pertemuan di Paris-Perancis yang menghasilkan: (1) utang Indonesia yang seharusnya dibayar tahun 1968 ditunda pembayarannya hingga tahun 1972-1978. (2) Utang yang seharusnya dibayar tahun 1969 dan 1970 dipertimbangkan untuk ditunda pembayarannya dengan syarat yang sama lunaknya dengan utangutang yang seharusnya dibayar dalam tahun 1968. dan obat hama. Akibatnya situasi ekonomi dan keuangan masih meprihatinkan. Kemajuan ekonomi yang berhasil dicapai oleh pemerintah dari laju inflasi 650 % menjadi 120 % pada tahun 1967. suku cadang. Pada tanggal 19-30 September 1966 di kota Tokyo-Jepang diadakan perundingan Indonesia dengan para negara kreditor Perancis. yaitu : (1) impor. oleh karena itu pemerintah Orde Baru meminta kepada negara-negara kreditor untuk menunda pembayaran utang-utang tersebut. Bukti Ekspor untuk impor pangan memungkinkan devisa .

pemerintah bisa digunakan untuk keperluan lain yang lebih produktif. Sehingga anggaran pembangunan dalam bentuk rupiah itu berasal dari penjualan barang-barang konsumtif. Bukti Ekspor yang diwujudkan dalam bentuk barang-barang konsumtif itu dijual oleh pemerintah dan hasilnya dimasukkan dalam Anggaran Belanja Pemerintah dan kemudian dipakai untuk anggaran pembangunan. . Dengan demikian bantuan luar negeri dismpaing untuk mengimpor barang-barang yang perlu dan hasil penjualannya dipakai pula untuk membiayai pembangunan pula.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful