BAB I PENDAHULUAN

A. DEFENISI Tumor usus halus jarang terjadi, sebalikanya tumor usus besar dan rektum relatif umu. Pada kenyataannya, kanker kolon dan rektum adalah tipe paling umum kedua dari kenker internal diamerika serikat. Ini adalah penyakit budaya barat. Diperkirakan bahwa 150.000 kasus baru kanker kolorektal didiagnosis dinegara ini seriap tahunnya. Kanker kolon menyerang individu dua kali lebih besar dibandingkan dengan kanker rektal. B. ETIOLOGI Penyebab nyata dari kanker kolon dan rektal tidak diketahui, tetaoi faktor resiko telah teridentifikasi, termasuk riwayat atau riwayat kanker kolon atau polip dalam keluarga, riwayat penyakit usus inflamasi kronis, dan diet tinggi lemak, protein, dan dagin serta rendah serat. C. PATOFISIOLOGI Kanker kolon dan rektum terutama (95 %) adenokarsinoma (muncul dari lapisan epitel usus). Dimulai sebagai polip jinak tetapi dapat menjadi ganas dan menysusp serta merusak jaringan normal serta meluas kedalam struktur sekitarnya. Sel kanker dapat terlepas dari tumr primer dan menyebar kebagian tubuh yang lain (paling sering ke hati). D. MANIFESTASI KLINIK Gejala sangat ditentukan oleh lokasi kanker, tahap penyakit, dan fungsi segmen usus tempat kanker berlokasi. Gejala paling menonjol adalah perubahan kebiasaan defekasi. Pasase darah dalam feses gejala paling umum kedua. Gejala dapat juga anemia yang tidak diketahui penyebabnya, anoreksi, atau penurunan berat badan dan keletihan. Gejala yang sering dihubungkan dengan lesi sebelah kanan adalah nyeri dangkal abdomen dan melena (feses hitam, seperti ter). Gejala yang

1

PEMERIKSAAN ANTIGEN KARSINOEMBRIONIK Pemeriksaan CEA dapat juga dilakukan meskipun antigen karsinoembrionik mungkin bukan indikator yang dapat dipercaya dalam mendiagnosa kanker kolon karena tidak semua lesi menyekresi CEA. dan kolonoskopi. serta feses berdarah. KOMPLIKASI Pertumbuhan tumor dapat menyebabkan terjadinya obstruksi usus parsial atau lengkap. PENATALAKSANAAN Pasien dengan gejala obstruksi usus diobati dengan cairan IV dan pengisapan nasogatrik. E. penipisan feses. Peningkatan CEA pada tanggal selanjutnya menunjukkan kekambuhan. perforasi dapat terjadi. terapi komponen darah dapat diberikan. Sebanyak 60 % dari kasus kanker kolorektal dapat diidentifikasi dengan sigmoideskopi dengan biopsi dan apusan sitologi. Peritonitis atau sepsis dapat menimbulkan syok. Endoskopi. enema barium. Apabila terdapat pendarahan yang cukup barwarna. F. H. Gejala yang dihubungakan dengan lesi rektal adalah evakuasi feses yang tidak lengkap setelah defekasi. progtosigmoidoskopi. EVALUASI DOAGNOSTIK Bersamaan dengan pemeriksaan abdomen dan rektal. konstipasi dan distensi) serta adanya darah merag segar dalam feses. dan mengakibatkan pembentukan abses. G. Pada eksisi tumor kemplet. kadar CEA yang meningkat harus kembali normal dalam waktu 48 jam.sering dihubungkan dengan lesi sebelah kiri adalah yang berhubungan dengan obstruksi (nyeri abdomen dan kram. Pengobatan tergantung pada tahap penyakit dan komplikasi yang berhubungan. ultrasonografidan laporoskopi telah terbukti berhasil 2 . konstipasi dan diare bergantian. Pertumbuhan dan ulserasi dapat juga menyerang pembuluh darah sekira kolon yang menyebabkan hemoragi . prosedur diagnostik paling penting untuk kanker kolon adalah pengujian darah samar. Pemeriksaan menunjukkan bahwa kadar CEA dapat dipercaya dalam diagnosis prediksi.

3 . terapi radiasi diberikan pada periode operati. durasi. dan terapi obat saat ini. mencakup adanya darah atau mukus.dalam pentahapan kanker kolorektal pada periode praoperatif. Riwayat penurunan berat badan adalah penting. Spesimen feses diinspeksi terhadap karakter dan adanya darah. berhubungan dengan makan atau defekasi). intraoperatif. Kebiasaan diet diidentifikasi mencakup masukan lemak dan serat serta jumlah komsumsi alkohol. Pembedahan adalah itndakan primer untuk kebanyakan kanker kolon pembedahan dapat bersifat kuratif dan paliatif. dan pascaoperatif untuk memperkecil tumor. pola eliminasi terdahulu dan saat ini. Informasi tambahan mencakup riwayat masa lalu tentang penyakit usus inflamasi kronis atau polip kolorektal.' Pengobatan medis untuk kanker kolorektal paling sering dlam bentuk pendukung atau terapi ajufan. Pengkajian Riwayat kesehatan diambil untuk mendapatkan informasi tentang perasaan lelah: adanya nyeri abdomen atau rektal dan karakternya (lokasi. I. dan untuk mengurangi resiko kekambuhan. PROSES KEPERAWATAN 1. Pengkajian objektif mencakup auskultasi abdomen terhadap bising usus dan palpasi abdomen untuk area nyeri tekan. deskripsi tentang warna. frekuensi. distensi. bau dan konsistensi feses. dan massa padat. mencapai hasil yang lebih baik dari pembedahan. Teori ajufan biasanya diberikan selain pengobatan bedah dan untuk pasien dengan kanker kolon kelas C dan B. Metode pentahapan yang dapat dilakukan adalah klasifikasi duke :  Kelas A ± tumor dibatasi pada mukosa dan sub mukosa'  Kelas B ± penetrasi melaui dinding usus'  Kelas C ± invasi kedalam sistem limfe yang mengalir regional'  Kelas D ± metastasis regional tahap lanjut dan penyebaran luas.

c. k. kurang dari kebutuhan tubuh. 4 . Konstipasi berhubungan dengan lesi obstruksi# Nyeri berhubungan dengan kompresi jaringan sekunder akibat obstruksi# Keletihan berhubungan dengan anemia dan anoreksia# Perubahan nutrisi. diagnosa keperawatan utama mencakup sebagai berikut : b. berhubungan dengan mual dan anoreksia# f. Berdasarkan semua data pengkajian. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan insisi bedah (abdomen dan perianal).2. Diagnosa keperawatan a. Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan dan diagnosis kanker# Kurang pengetahuan mengenai diagnosa. dan kontaminasi fekal terhadap kulit dan periostomal# Gangguan citra tubuh berhubungan denngan kolostomi# 3. Pasien yang menunjukkan tenda perkembangan kearah obstruksi total disiapkan untuk menjalani pembedahan. Laksatif dan enema diberikan sesuai resep. e. prosedur pembedahan dan perawatan diri setelah pulang# i. Frekuensi dan konsistensi defekasi dipantau. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah dan dehidrasi# g. Intervensi keperawatan Mempertahankan eliminasi. h. d. stoma. pembentukan j.

dan tehnik relaksasi. Haluaran kurang dari dari 30 ml/jam dilaporkan sehingga terapi cairan intavena dapat disesuaikan. Lingkungan dibuat kondusif untuk relaksasi dengan meredupkan lampu. diet tinggi kalori. Tindakan kenyamanan tambahan ditawarkan perubahan posisi.Menghilangkan nyeri. Penimbangan berat badan hariian dicatat dan dokter diberitahu bila pasien terus mengalami penurunan berat badan pada saat m. dan membatasi pengunjung dan telepon bila diinginkan oleh pasien. Nutrisi parenteral total diberikan pada beberapa pasien untuk menggantikan penipisan nutrien. Antiemetik diberikan sesuai resep. Masukan dan haluaran. Toleransi aktivitas pasien dikaji. Selang nasogatrik akan dipasang pada periode praoperatif untuk mengalirkan akumulasi cairan dan mencegah distensi abdomen. mencakup muntah. Apabila kondisi pasien memungkinkan. diukur dan dicatat untuk menyediakan data akuran tentang keseimbangan cairan. pedoman keamanan umum dan kebijakan institusi mengenai tindakan pengamanan harus diikuti. protein. vitamin dan mineral.enerima nutrisi parenteral. Analgesik diberikan sesuai resep. Diet cair penuh dapat diberikan 24 jam selama pembedahan untuk menurungkan bulk. Apabila transfusi darah diberikan. Meningkatkan toleransi aktivitas. Aktivitas pascaoperatif ditingkatkan dan toleransi dipantau. Aktivitas diubah dan dijdualkan untuk memungkinan periode tirah baring yang adekuat dalam upaya untuk menurunkan keletihan pasien. Masaukan makanan oral dan cairan pasien dibatasi untuk mencegah terjadinya muntah. gosokan punggung.terapi komponen darah diberikan sesuai resep bila pasine menderita anemia berat. Mempertahankan keseimabangan cairan dan elektrolit. Memberikan tindakan nutrisional. Kateter urinarius inwelling dapat dipasang untuk memungkinkan pemantauan haluaran setiap jam. atau pasien dipuaskan. mematikan televisi atau radio. 5 . Cairan penuh atau jernih dapat ditoleransi. dan karbohidrat serta rendah residu diberikan pada periode praoperatif selama beberapa hari untuk memberikan nutrisi adekuat dan meminimalkan kram dengan menurungkan peristaltik kelebihan.

kontrol nyeri. bagaimana hal ini ditujukkan. dengan dokter bila pasien menginginkannya. Selain itu usus dapat dibersihkan dengan laksatif. dan penatalaksanaan obatdimasukkan dalam materi rencana penyuluhan. Pengetahuan pasien saat ini tentang diagnosis. prosedur bedah dan tingkat fungsi yang diinginkan pada pascaoperatifharus dikaji. Pendidikan pasien praoperatif. Perawat akan mengatru pertemuan dengan rohaniawan bila klien menginginkannya. Kadar elektrolit serum dipantau untk mendeteksi hipokalemia dan hiponatremia. hipotensi dan penurunan jumlah denyut. yang terjadi akibat kehilangan cairan GI. enema. eritromisin. membran mukosa kering. kapan pasien paling dapat menerimannya. serta peningkatan jenis urine perlu dilaporkan. prognosis. Informasi yang diperlukan pasien tentang persiapan fisik untuk pembedahan. Preparat ini diberikan melalui mulut untuk mengurangi kandungan bakteri kolon dan melunakkan serta menurunkan bulk dari isi kolon. 6 . Luangkan waktu untuk mendengarkan ungkapan. Informasi yang diperlukan.upaya pendukung mencakup pemberian privasi bila diinginkan dan menginstruksikan pasien untuk latihan relaksasi. pembatasan diet. Antibiotik seperti kanamisin sulfat. dan siapa yang menemani selama intruksi. kesedihan. Status hidrasii dikaji. seperti mekanisme koping yang digunakan untuk menghadapi strees. Mencegah infeksi. urine pekak. atau pernyataan yang disampaikan oleh klien. Atibiotik dapat diberikan pada periode pasca operatif untuk membantu dalam mencegah infeksi. Tehnik perawatan ostomi. atau irigasi kolonis. dan penurunan turgor kulit.Pemberian cairan intravena dan elektrolit dipantau. penampilan dan perawatan yang diharapkan dari luka pascaoperatif. Tanda vital dikaji untuk mendeteksi tanda hivopolemia : takikardia. dan neomisin sukfat diberikan sesuai resep untuk mengurangi bakteri usus dalam rangka persiapan pembedahan usus. Menurunkan ansietas. Tingkat ansietas klien perlu dikaji.

Mengalami sedikit nyeri d. Mencapai tingkat nutrisi yang optimal f. Keseimbangan cairan tercapai g. c. prosedur bedah dan perawatan diri setelah pulang i. Memerlukan informasi diagnosis.4. Mengalami penurunan ansietas h. Memeprtahankan insisi Tidak mengalami komplikasi 7 . Hasil yang diharapkan b. j. Meningkatkan toleransi aktivitas e. Evaluasi a. Mempertahankan eliminasi usus adekuat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful