You are on page 1of 21

Professional

Impetigo Krustosa
Leo Randa Sebaztian Simangunsong

Pemicu Seorang anak laki-laki J, usia 6 tahun, dengan ditemani oleh ibunya datang berobat ke puskesmas dengan keluhan adanya keropeng tebal berwarna kekuningan pada daerah wajah dan sudah dialami sekitar 5 hari. Awalnya berupa kemerahan dan bintil-bintil berisi air yang cepat memecah. Pasien tidak mengalami demam. More info I Pada pemeriksaan dermatologi dijumpai: Ruam : krusta tebal, warna kekuningan seperti madu, sewaktu krusta diangkat tampak erosi di bawahnya. Lokasi : sekitar lubang hidung dan mulut. Bagaimana pendapat saudara mengenai keadaan anak laki-laki tersebut sekarang dan pemeriksaan lanjutan apa yang diperlukan ? More info II Pada pemeriksaan darah rutin di jumpai leukositosis. Bagaimana kesimpulan saudara mengenai keadaan anak laki-laki tersebut? Analisa Masalah Keropeng; crusta : lapisan luar yang terbentuk, khususnya lapisan luar dari bahan padat yang terbentuk oleh pengeluaran eksudat tubuh atau secret tubuh Masalah 1. Adanya keropeng tebal berwarna kekuningan pada daerah wajah dan sudah dialami sekitar 5 hari. 2. Kemerahan dan bintil-bintil berisi air yang cepat memecah 3. Leukositosis Analisa Masalah
MO Iritasi Ag, Ab (hipersensitifitas) inflamasi kemerahan

Terbatas pada lapisan epidermis Keropeng (krusta)

Lapisan lusidum

pecah

Bintil-bintil

protein

protoplasma

Hipotesis Impetigo (krustosa) Learning Issue 1. 2. 3. 4. Anatomi dan histology kulit (epidermis) Fisiologi (faal kulit) Jenis-jenis ruam Impetigo a.klasifikasi b.gambaran klinis c.patofisiologi d.DD f.pemeriksaan penunjang g.penatalaksaan h.komplikasi dan prognosis

1.Anatomi dan Histologi Kulit

Kulit terdiri dari 2 lapisan yaitu lapisan epidermis dan dermis. a. Lapisan epidermis Lapisan ini terdiri dari stratum korneum, stratum lusidum, stratum granulosum, stratum spinosum dan stratum basale.  Stratum korneum Sratum korneum ( lapisan tanduk ) adalah lapisan kulit yang paling luar dan terdiri atas lapisan sel – sel gepeng yang mati, tidak berinti dan protoplasmanya telah berubah menjadi keratin ( zat tanduk).

 Stratum lusidum Lapisan ini terdapat langsung di bawah lapisan korneum, merupakan lapisansel –sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma yang berubah menjadi protein yang disebut eleidin. Lapisan ini tanpak lebih jelas di telapak tangan dan kaki.  Stratum Spinosum Stratum spinosum ( stratum malphigi ) atau disebut juga prickle cell layer ( lapisan akanta ) terdiri atas beberapa lapisan sel yang berbentuk poligonal yang besarnya berbeda – beda karen adanya proses mitosis. Protoplasmanya jernih karena banyak mengandung glikogendan intinya terletak di tengah – tengah. Sel – sel ini makin dekat ke permukaan makin gepeng bentuknya. Sel – sel stratum spinosum mengandung banyak glikogen.  Stratum Basale Stratum basale terdiri atas sel – sel berbentuk kubus ( kolumnar ) yang tersusun vertikal pada perbatasan dermo – epidermal berbaris seperti pagar ( palisade ) Lapisan ini merupakan lapisan epidermis yang paling bawah. Sel – sel basal ini mengadakan mitosis dan berfungsi reproduktif. Lapisan inni terdiri atas 2 jenis sel yaitu :  Sel yang berbentuk kulumnar dengan protoplasma basofilik inti lonjong dan besar, di hubungkan satu dengan yang lain dengan jembatan antar sel.  Sel pembentuk melanin ( melanosit ) merupakan sel –sel berwarna muda dengan sitoplasma basofilik dan inti gelap dan mengandung butir pigmen ( melanosomes )

Selain itu, lapisan epidermis jugamemilikibeberapasel – sel yang memilikifungsitertentuseperti : 1. Keratinosit  Selterbanyak (85% - 95%)  Berasaldari lapis embrionalektodermpermukaan  Mengalamikeratinisasimenghasilkanlapisanygkedap air  Proses keratinisasiberlangsungselama 2 – 3 minggu, mulaidariproliferasi, diferensiasi, kematiansel, dandeskuamasi

2. Melanosit  Meliputi 7 – 10% sel epidermis  Berasaldarilapisanneuroektoderm (kristaneuralis)  Selkecil, bercabangdenritikpanjangdan tipis  Jumlahterbanyakpdkulitmukadan genitalia eksterna  Jumlahmelanositrelatifsamapdtiapindividuygberbedapdrasygberbeda  Perbedaanwarnakulitterutamaditentukanolehaktifitaspembentukan melanin 3. Sel Langerhans  Merupakanseldendritik yang berbentukbintang (stelata)  Ditemukan di antarakeratinositpddaerahatas stratum spinosum  Permukaanselnyamempunyaireseptorpermukaanpenandaimunologis yang miripmakrofag.  Berfungsimengikat antigen danmerupakanselpembawa antigen sehinggalimfosit T bereaksiterhadap antigen yang dibawanya  Peranpentingdalamresponalergikontak (dermatitis kontak) danresponimunselularlsinnyapdkulit  Semuladidugaberasaldarikristaneuralis, tetapiternyataberasaldariselprekursordlmsumsumtulang, jadiberasaldari mesoderm 4. Sel Merkel  Jumlah paling sedikit  Berasaldarikristaneuralis  Terdapatpd stratum basal kulittebalterutamapdujungjari  Terdapatjugapdfolikelrambutdanmukosamulut  Selbesar, sitoplasmabercabangpendek  Seratsaraftakbermielintampakmenembusmembranbasalnya, melebarseperticakramdanmenempelpdbagian basal sel.  Kemungkinanberfungsimekanoreseptor

b. Lapisan dermis Lapisan dermis adalah lapisan di bawah epidermis yang jauh lebih tebal dari pada epidermis. Lapisan ini terdiri atas lapisan elastic dan fibrosa padat dengan elemen - elemen selular dan folikel rambut. Lapisan epidermis dibagi menjadi 2 lapisan :

 Pars papilare Yaitu bagian yang menonjol ke epidermis, berisi ujung serbut – serabut saraf dan pembuluh darah.  Pars retikulare Yaitu bagian di bawahnya yang menonjol ke arah subkutan, bagian ini terdiri atas serbut – serabut penunjang misalnya serbut kolagen, elastin dan retikulin. Dasar lapisan ini terdiri atas cairan kental asam hialuronatdan kadroitin suflat, di bagian ini terdapat fibroblas. Serabut kolagen di bentuk oleh fibroblast, membentuk ikatan yang mengandung hidroksiprolin dan hidriksisilin. Retikulun mirip kolagen muda. Serabut elastin biasanya bergelombang, berbentuk amorf dan mudah mengembang serta elastic. #Kulit tebal

#kulit tipis

2.Fisiologi (faal kulit)
Kulit dapat dengan mudah dilihat dan diraba, hidup, dan menjamin kelangsungan hidup. Kulit pun menyokong penampilan dan kepribadian seseorang. Dengan demikian kulit pada manusia mempunyai peranan yang sangat penting, selain fungsi utama yang menjamin kelangsungan hidup juga mempunyai arti lain yaitu estetik, ras, indikator sistemik, dan sarana komunikasi non verbal antara individu satu dengan yang lain. Fungsi utama kulit ialah proteksi, absorpsi, ekskresi, persepsi, pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), pembentukan pigmen, pembentukan vitamin D, dan keratinisasi. FAAL KULIT 1. Fungsi proteksi, kulit menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisis atau mekanis, misalnya: tekanan, gesekan, tarikan; gangguan kimiawi, misalnya: zatzat kimia terutama yang bersifat iritan, contohnya: lisol, karbol, asam, dan alkali kuat lainnya; gangguan yang bersifat panas misalnya: radiasi, sengatan ultraviolet; gangguan infeksi luar terutama kuman/bakteri maupun jamur. Hal di atas dimungkinkan karena adanya bantalan lemak, tebalnya lapisan kulit dan serabut-serabut jaringan penunjang yang berperanan sebagai pelindung terhadap gangguan fisis. Melanosit turut berperanan dalam melindungi kulit terhadap pajanan sinar matahari dengan mengadakan tanning. Proteksi rangsangan kimia dapat etrjadi karena sifat stratum korneum yang imepermeabel terhadap pelbagai zat kimia dan air, di samping itu terdapat lapisan keasaman kulit yang melindungi kontak zat-zat kimia dengan kulit. Lapisan keasaman kulit ini mungkin terbentuk dari hasil ekskresi keringat dan sebum, keasaman kulit menyebabkan pH kulit berkisar pada pH kulit berkisar pada pH 5-6,5 sehingga merupakan perlindungan kimiawi terhadap infeksi bakteri maupun jamur. Proses keratinisasi juga berperanan sebagai sawar (barrier)mekanis karena sel-sel mati melepaskan diri secara teratur. 2. Fungsi absorpsi, kulit yang sehat tidak mudah menyerap air, larutan dan benda padat, tetapi cairan yang mudah menguap lebih mudah diserap, begitupun yang larut lemak. Permeabilitas kulit terhadap O2, CO2, dan uap air memungkinkan kulit ikut mengambil bagian pada fungsi respirasi. Kemampuan absorpsi kulit dipengaruhi oleh tebal tipisnya kulit, hidrasi, kelembapan, metabolisme, dan jenis vehikulum. Penyerapan dapat berlangsunng melalui celah antar sel, menembus sel-sel epidermis daripada yang melalui muara kelanjar. 3. Fungsi ekskresi, kelenjar-kelenjar kulit mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna lagi atau sisa metabolisme dalm tubuh berupa NaCl, urea, asam urat, dan ammonia. Kelenjar lemak pada fetus atas pengaruh hormone androgen dari ibunya memproduksi sebum untuk melindungi kulitnya terhadap cairan amnion, pada waktu lahir dijumpai sebagai vernix caseosa. Sebum yang diproduksi melindungi kulit karena lapisan sebum ini selain meminyaki kulit juga menahan evaporasi air yang berlebihan sehingga kulit tidak menjadi kering. Produk kelenjar lemak dan keringat di kulit menyebabkan keasaman kulit pada pH 5-6,5.

4. Fungsi persepsi, kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis. Terhadap rangsangan panas diperankan oleh badan-badan Ruffini di dermis dan subkutis. Terhadap dingin diperankan oleh badan-badan Krause yang terletak di dermis. Badan taktil Meissner terletak di papilla dermis berperan terhadap rabaan, demikian pula badan Merkel Ranvier yang terletak di epidermis. Sedangkan terhadap tekanan diperankan oleh badan Paccini di epidermis. Sarafsaraf sensorik tersebut lebih banyak jumlahnya di daerah erotic. 5. Fungsi pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), kulit melakukan peranan ini dengan cara mengeluarkan keringat dan mengerutkan (otot berkontraksi)pembuluh darah kulit. Kulit kaya akan pembuluh darah sehingga memungkinkan kulit mendapat nutrisi yang cukup baik. Tonus vascular dipengaruhi oleh saraf simpatis (asetilkolin). Pada bayi biasanya dinding pembuluh darah belum terbentuk sempurna, sehingga terjadi ekstravasasi cairan, karena itu kulit bayi tampak lebih edematosa karena lebih banyak mengandung air dan Na. 6. Fungsi pembentuk pigmen, sel pembengtuk pigmen (melanosit), terletakdi lapisan basal dan sel ini berasl dari rigi saraf. Perbandingan jumlah sel basal:melanosit adalah 10:1. Jumlah melanosit dan jumlah serta besarnya butiran pigmen (melanosomes) menentukan warna kulit ran maupun individu. Pada pulasan H.E. sel ini jernih berbentuk bulat dan merupakan sel dendrite, disebut pula sebagai clear cell. Melanosom dibentuk oleh alat golgi dengan bantuan enzim tirosinase, ion Cu dan O2. Pajanan terhadap sinar matahari mempengaruhi produksi melanosom. Pigmen disebar ke epidermis melalui tangan-tangan dendrit sedangakn ke lapisan kulit di bawahnya dibawa oleh sel melanofag (melanofor). Warna kulit tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh pigmen kulit, melainkan juagoleh tebal tipisnya kulit, reduksi Hb, oksi Hb, dan karoten. 7. Fungsi keratinisasi, lapisan epidermis dewasa mempunyai 3 j3nis sel utama yaitu keratinosit, sel Langerhans, melanosit. Keratinosit dimulai dari sel basal mengadakan pembelahan, sel basal yang lain akan berpindah ke atas dan berubah bentuknya menjadi sel spinosum, makin ke atas sel menjadi semakin gepeng dan bergranula menjadi sel granulosum. Makin lama inti menghilang dan keratinosit ini menjadi sel tanduk yang amorf. Proses ini berlangsung terus-menerus seumur hidup, dan sampai sekarang belum sepenuhnya dimengerti. Matoltsy berpendapat mungkin keratinosit melalui proses sintesis dan degradasi menjadi lapisan tanduk. Proses ini berlangsung normal selama kira-kira 14-21 hari, dan memberi perlindungan kulit terhadap infeksi secara mekanis fisiologik. 8. Fungsi pembentukan Vitamin D, dimungkinkan dengan mengubah 7 dihidroksi kolesterol dengan pertolongan sinar matahari. Tetapi kebutuhan tubuh akan vitamin D tidaj cukup hanya dari hal tersebut, sehingga pemberian vitamin D sistemik masih tetap di perlukan. Pada manusia kulit dapat pula mengekspresikan emosi karena adanya pembuluh darah, kelenjar keringat, dan otot-otot di bawah kulit.

3.Jenis ruam pada kulit
Ruam kulit terbagi dua yaitu :  ruam primer adalah ruam kulit yang timbul pertama kali, tidak dipengaruhi oleh trauma dan manipulasi (garukan, gosokan) seperti: macula, papula, plak,urtika, nodus, nodulus, vesikel, bula, pustule, dan kista.  ruam sekunder adalah ruam yang timbul akibat garukan/gosokan ataupun lanjutan dari ruam primer, bisa berupa: skuama, krusta, erosi, ulkus, dan sikatriks.

† ruam primer
Φ makula : kelainan kulit berbatas tegas berupa perubahan warna semata-mata, bisa putih, coklat, merah, dan hitam Φ eritema : kemerahan pada kulit yang disebabkan pelebaran pembuluh darah kapiler yang reversible Φ urtika : edema setempat yang timbul mendadak dan hilang perlahan-lahan Φ vesikel : gelembung berisi cairan serum, beratap, berukuran kurang dari ½ cm garis tengah, dan mempunyai dasar, vesikel berisi darah disebut vesikel hemoragik Φ pustule : vesikel yang berisi nanah, bila nanah mengendap di bagian bawah vesikel disebut vesikel hipopion Φ bula : vesikel yang berukuran lebih besar.dikenal juga istilah bula hemoragik, dan bula hipopion Φ kista : ruangan berdinding dan berisi cairan sel, maupun sisa sel. Kista terbentuk bukan akibat peradangan, walaupun demikian dapat meradang. Dinding kista merupakan selaput yang terdiri atas jaringan ikat dan biasanya dilapisi sel epitel dan endotel. Kista terbentuk dari kelenjar yang melebar dan tertutup, saluran kelenjar,pembuluh darah, saluran getah bening, atau lapisan epidermis. Isi kista terdiri atas hasil dindingnya, yaitu serum, getah bening, keringat, sebum, sel-sel epitel, lapisan tanduk, dan rambut. Φ abses : merupakan kumpulan nanah dalam jaringan, bila mengenai kulit berarti di dalam kutis atau subkutis. Batas antara ruangan yang berisikan nanah dan jaringan di sekitarnya tidak jelas. Abses biasanya terbentuk dari infiltrate radang. Sel dan jaringan hancur membentuk nanah. Dinding abses terdiri atas jaringan sakit, yang belum menjadi nanah. Φ papul : penonjolan di atas permukaan kulit, sirkumsrip, berukuran diameter lebih kecil dari ½ cm, dan berisikan zat padat. Bentuk papul dapat bermacam-macam, misalnya setengah bola, contohnya pada eksem atau dermatitis.

Φ nodus : massa padat sirkumsrip, terletak di kutan atau subkutan, dapat menonjol, jika diameternya lebih kecil daripada 1 cm disebut nodulus. Φ tumor : istilah umum untuk benjolan yang berdasarkan pertumbuhan sel maupu jaringan. Φ infiltrate : adalah tumor terdiri atas kumpulan sel radang. Φ vegetasi : pertumbuhan berupa penonjolan bulat atau runcing yang menjadi satu. Vegetasi dapat di bawah permukaan kulit, misalnya pada tubuh. Dalam hal ini disebut granulasi,seperti pada tukak.

† ruam sekunder Φ erosi : kelainan kulit yang disebabkan kehilangan jaringan yang tidak melampaui sistem basal. Contoh: bila kulit digaruk sampai stratum spinosum akan keluar cairan sereus dari bekas garukan. Φ Ekskoriasi : bila garukan lebih dalam lagi sehingga tergores sampai ujung papil, maka akan terlihat darah yang keluar selain serum. Kelainan kulit yang disebabkanoleh hilangnya jaringan sampai dengan stratum papilare disebut ekskoriasi. Φ ulkus : adalah hilangnya jaringan yang lebih dalam dengan ekskoriasi. Ulkus dengan demikian mempunyai tepi, dinding, dasar, dan isi. Termasuk erosi dan ekskoriasi dengan bentuk linier ialah fisura atau rhagades, yakni belahan kulit yang terjadi oleh tarikan jaringan di sekitarnya, terutama terlihat padda sendi dan batas kulit dengan selaput lendir. Φ skuama : adalah lapisan strartum korneum yang terlepas dari kulit. Skuama dapat halus sebagai taburan tepung, maupun lapisan tebal luas sebagai lembaran kertas.dapat dibedakan, misalnya pitiriasiformis (halus), psoariasiformis (berlapis-lapis), iktiosiformis (seperti ikan), kutikular (tipis), lamellar (berlapis), membranosa atau eksfoliativa (lembaranlembaran), dan keratotik (terdiri atas zat tanduk) Φ krusta : adalah cairan badan yang menegering. Dapat berampur dengan jaringan nekrotik, maupun benda asing (kotoran, obat, dan sebaginya). Warnanya ada beberapa macam : kuning muda berasal dari serum, kuning kehijauan berasal dari pus, dankehitaman berasal dari darah. Φ sikatriks : terdiri atas jaringan tak utuh, relief kulit tidak normal, permukaan kulit licin dan tidak terdapat adneksa kulit. Siktriks dapat atrofik, kulit mencekung dan dapat hipertrofi, yang secara klinis terlihat menonjol karena kelebihan jaringan. Bila sikatrik hipertrofi menjadi patologik, pertumbuhan melampaui batas luka disebut keloid (sikatriks yang pertumbuhan sellnya mengikuti pertumbuhan tumor), dan ada kecenderungan untuk terus membesar

Φ Anetoderma : bila kutis kehilangan elastisitas tanpa perubahan berarti pada kulit yang lain, dapat dil;ihat bagian-bagian yang bila ditekan dengan jari seakan-akan berlubang. Bagian yang jaringan elastiknya atrofi disebut anetoderma. Contoh : striae gravidarum. Φ likenifikasi : penebalan kulit disertai relief kulit yang makin jelas. Φ guma : infiltrat sirkumsrip, menhaun, destruktif, biasanya melunak. Φ Eksantema : kelainan pada kulit yang timbul serentak dalam waktu singkat, dan tidak berlangsung lama, umumnya didahului oleh demam. Φ Fegedenikum: proses yang menjurus kedalam dan meluas (ulkustropikum, ulkus mole) Φ terebrans : proses yang menjurus kedalam Φ Monomorf : kelainan kulit yang pada suatu ketika terdiri atas hanya satu macam ruam kulit. Φ Polimorf : kelaianan kulit yang sedang berkembang, terdiri atas-atas bermacam-macam efloresensi. Φ telangiektasis : pelebaran pembuluh darah kapiler yang menetap pada kulit. Φ Roseola : eksantema yang lentikular berwarn merah tembaga pada sifilis dan frambusia Φ Eksantema skarlatiniformis : erupsi yang difus dapat generalisata atau lkoalisata, berbentuk eritema nummular. Φ eksantema morbiliformis : erupsi berbentuk eritema yang lentikular. Φ galopans : proses yang sangat cepat meluas (ulkus diabetikum galopans).

4.Impetigo
a. klasifikasi
I. Impetigo Krustosa  Lokalisasi Daerah yang terpajan, terutama wajah ( sekitar hidung dan mulut ), tangan, leher dan ektremitas.  Umur Terutama pada anak –anak.  Penyebab Staphylococcus aureus koagulase positif dan Streptococcus betahemolyticus. II. Impetigo Bulosa  Lokalisasi Didaerah ketiak, dada, punggung, ekstremitas atas dan bawah.  Umur Anak – anak dan dewasa  Penyebab Terutama di sebabkan oleh Staphylococcus aureus III. Impetigo Neonatorum  Lokalisasi Seluruh tubuh  Umur Pada neonates

 Penyebab Staphylococcus aureus, Streptococcus betahemoyiticus

b. Gambaran klinis
Φ impetigo krustosa Tidak disertai gejala umum, hanya terdapat pada anak. Tempat predileksi di muka, yankni di sekitar lubang hidung dan mulut karena dianggap sumber infeksi dari daerah tersebut. Kelainan kulit berupa eritema dan vesikel yang cepat memecah sehingga jika penderita dating berobat yang terlihat ialah krusta tebal berwarna kuning seperti madu. Jika dilepaskan tampak erosi di bawahnya. Sering krusta menyebar ke perifer dan sembuh di bagian tengah. Φ impetigo bulosa Keadaan umum tidak dipengaruhi. Tempat predileksi di ketiak, dada, punggung. Sering bersama-sama malaria. Terdapat pada anak dan orang dewasa. Kelainan kulit berupa eritema, bula, dan bula hipopion. Kadang-kadang waktu penderita dating berobat, vesikel/bula telah memecah sehingga yang tampak hanya koleret dan dasarnya masih eritematosa. Φ impetigo neonatorum Biasanya disertai demam.

c. patofisiologi

d. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Darah
biasanya akan menunjukkan leukositosis

 

Kultur bakteri
bertujuan untuk mengetahui jenis bakteri penyebab, sehingga akan membantu pada proses pengobatan (eradikasi bakteri)

Uji sensitivitas
untuk mengetahui jenis bakteri, dan pengobatan pilihan.

e.
I.

Diagnosa Banding
Impetigo Krustosa  Varisela  Ektima  Impetigenisasi

II.

Impetigo bulosa  Pemfigus  Impetigenisasi  Tinea sirsinata

f.
I.

Penatalaksanaan
Impetigo krustosa Menjaga kebersihankulit dengan mandi pakai sabun 2 kali ssehari. Jika krusta banyak, dilepas dengan mencuci dengan H2O2 dalam air, lalu diberikan salep antibiotic seperti kloramfenikol 2% dan teramisin 3%. Jika lesi banyak dan disertai gejala konstitusi ( demam, dll ), berikan antibiotic sistemik, misalnya kloksasilin atau sefalosporin.

Topikal Mandi dengan kalium permanganat 1/10000 Pilihan I

Oral

1. Golongan Penisilin Amoksisilin Dosis : 2x250-500 mg/hari ( 10 hari ) 2. Golongan Sefalosporingenerasi 1 Sefaleksin Dosis 4x250-500 mg/ hari ( 10 hari ) Kloksasilan Dosis 4x250-500 mg/hari ( 10 hari )

Gentian violet 3% atau perak nitrat ( buka dinding bula )

Pilihan II ( Golongan Makrolida ) Eritromisin Dosis 30-50 mg/kg/BB/hari

Krim yang mengandung antibiotika topikal ( neomicyn dan bacitracin ) dan antibiotika lainnya ( Mupirocin dan Retapamulin )

II.

Impetigo Bulosa Menjaga kebersihan dan menghilangkan factor predisposisi. Jika bula besar dan banyak, sebaiknya dipecahkan, selanjutnya dibersihkan dengan antiseptic ( betadine ) dan diberi salep antibiotic ( klorafenikol 2% atau eritomisin 3% ). Jika ada gejala konstitusi berupa demam, sebaiknya diberi antibiotic sistemik, misalnya penisilin 30 – 50 mg / kg berat badan atau antibiotic lain yang sensitive.

g. Prognosis
  Umumnya baik, Namun, dapat timbul komplikasi sistemik seperti glomerulonefritis. Pada beberapa individu, bila tidak ada penyakit lain sebelumnya impetigo krustosa dapat membaik spontan dalam 2-3 minggu Prognosis baik bila segera diobati, menghindari atau menghilangkan predisposisi dan belum terjadi komplikasi

Kesimpulan
Berdasarkan gejala klinis yang muncul pada anak laki laki tersebut, yaitu awalnya berupa kemerahan dan bintil-bintil berisi air yang cepat memecah, terdapatnya keropeng tebal berwarna kekuningan pada daerah wajah dan hidung, leukositosis, serta tidak disertai demam, diduga anak ini menderita penyakit impetigo krustosa.

Daftar Pustaka
   Junqura, Luis carlos & Josh Carnerio. 2007. Histologi Dasar Edisi 10. Jakarta : EGC Prof. Dr. dr. Adhi Djuanda, dkk. 2010. Ilmu Kesehatan Kulit Kelamin Edisi 6. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Melnick,Jawetz & Adelberg. 2003. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 7. Jakarta: EGC