Tinjauan Umum Kesehatan Reproduksi Remaja

Oleh redaksi pada Rab, 01/02/2008 - 11:08.

Artikel

Seksualitas dan kesehatan reproduksi remaja didefinisikan sebagai keadaan sejahtera fisik dan psikis seorang remaja, termasuk keadaan terbebas dari kehamilan yang tak dikehendaki, aborsi yang tidak aman, penyakit menular seksual (PMS) ter-masuk HIV/AIDS, serta semua bentuk kekerasan dan pemaksaan seksual (FCI, 2000). Mengapa Kesehatan Reproduksi Remaja Sangat Penting? Masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dengan dewasa dan relatif belum mencapai tahap kematangan mental dan sosial sehingga mereka harus menghadapi tekanan-tekanan emosi dan sosial yang saling bertentangan. Banyak sekali life events yang akan terjadi yang tidak saja akan menentukan kehidupan masa dewasa tetapi juga kualitas hidup generasi berikutnya sehingga menempatkan masa ini sebagai masa kritis. Di negera-negara berkembang masa transisi ini berlangsung sangat cepat. Bahkan usia saat berhubungan seks pertama ternyata selalu lebih muda daripada usia ideal menikah (Kiragu, 1995:10, dikutip dari Iskandar, 1997). Pengaruh informasi global (paparan media audio-visual) yang semakin mudah diakses justru memancing anak dan remaja untuk mengadaptasi kebiasaan-kebiaasaan tidak sehat seperti merokok, minum minuman berakohol, penyalahgunaan obat dan suntikan terlarang, perkelahian antar-remaja atau tawuran (Iskandar, 1997). Pada akhirnya, secara kumulatif kebiasaan-kebiasaan tersebut akan mempercepat usia awal seksual aktif serta mengantarkan mereka pada kebiasaan berperilaku seksual yang berisiko tinggi, karena kebanyakan remaja tidak memiliki pengetahuan yang akurat mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas serta tidak memiliki akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi, termasuk kontrasepsi. Kebutuhan dan jenis risiko kesehatan reproduksi yang dihadapi remaja mempunyai ciri yang berbeda dari anak-anak ataupun orang dewasa. Jenis risiko kesehatan reproduksi yang harus dihadapi remaja antara lain adalah kehamilan, aborsi, penyakit menular seksual (PMS), ke-kerasan seksual, serta masalah keterbatasan akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan. Risiko ini dipe-ngaruhi oleh berbagai faktor yang saling berhubungan, yaitu tuntutan untuk kawin muda dan hubungan seksual, akses terhadap pendidikan dan pekerjaan, ketidaksetaraan jender, kekerasan seksual dan pengaruh media massa maupun gaya hidup. Khusus bagi remaja putri, mereka kekurangan informasi dasar mengenai keterampilan menegosiasikan hubungan seksual dengan pasangannya. Mereka juga memiliki kesempatan yang lebih kecil untuk mendapatkan pendidikan formal dan pekerjaan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kemampuan pengambilan keputusan dan pemberdayaan mereka untuk menunda perkawinan dan kehamilan serta mencegah kehamilan yang tidak dikehendaki (FCI, 2000). Bahkan pada remaja putri di pedesaan, haid pertama biasanya akan segera diikuti dengan perkawinan yang menempatkan mereka pada risiko kehamilan dan persalinan dini (Hanum, 1997:2-3). Kadangkala pencetus perilaku atau kebiasaan tidak sehat pada remaja justru adalah akibat ketidak-harmonisan hubungan ayah-ibu, sikap orangtua yang menabukan pertanyaan anak/remaja tentang fungsi/proses reproduksi dan penyebab rangsangan seksualitas (libido), serta frekuensi tindak kekerasan anak (child physical abuse). Mereka cenderung merasa risih dan tidak mampu untuk memberikan informasi yang memadai mengenai alat reproduksi dan proses reproduksi tersebut. Karenanya, mudah timbul rasa takut di kalangan orangtua dan guru, bahwa pendidikan yang menyentuh isu perkembangan organ reproduksi dan fungsinya justru malah mendorong remaja untuk melakukan hubungan seks pranikah (Iskandar, 1997). Kondisi lingkungan sekolah, pengaruh teman, ketidaksiapan guru untuk memberikan pendidikan kesehatan reproduksi, dan kondisi tindak kekerasan sekitar rumah tempat tinggal juga berpengaruh (O’Keefe, 1997: 368-376). Remaja yang tidak mempu-nyai tempat tinggal tetap dan tidak mendapatkan perlin-dungan dan kasih sayang orang tua, memiliki lebih banyak lagi faktor-faktor yang berkontribusi, seperti: rasa kekuatiran dan ketakutan yang terus menerus, paparan ancaman sesama remaja jalanan, pemerasan, penganiayaan serta tindak kekerasan lainnya, pelecehan seksual dan perkosaan (Kipke et al., 1997:360-367). Para remaja ini berisiko terpapar pengaruh

lingkungan yang tidak sehat, termasuk penyalahgunaan obat, minuman beralkohol, tindakan kriminalitas, serta prostitusi (Iskandar, 1997). Pelayanan Kesehatan Reproduksi bagi Remaja Pilihan dan keputusan yang diambil seorang remaja sangat tergantung kepada kualitas dan kuantitas informasi yang mereka miliki, serta ketersediaan pelayanan dan kebijakan yang spesifik untuk mereka, baik formal maupun informal (Pachauri, 1997). Sebagai langkah awal pencegahan, peningkatan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi harus ditunjang dengan materi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) yang tegas tentang penyebab dan konsekuensi perilaku seksual, apa yang harus dilakukan dan dilengkapi dengan informasi mengenai saranan pelayanan yang bersedia menolong seandainya telah terjadi kehamilan yang tidak diinginkan atau tertular ISR/PMS. Hingga saat ini, informasi tentang kesehatan reproduksi disebarluaskan dengan pesan-pesan yang samar dan tidak fokus, terutama bila mengarah pada perilaku seksual (Iskandar, 1997). Di segi pelayanan kesehatan, pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana di Indonesia hanya dirancang untuk perempuan yang telah menikah, tidak untuk remaja. Petugas kesehatan pun belum dibekali dengan kete-rampilan untuk melayani kebutuhan kesehatan reproduksi para remaja (Iskandar, 1997). Jumlah fasilitas kesehatan reproduksi yang menyeluruh untuk remaja sangat terbatas. Kalaupun ada, pemanfaatannya relatif terbatas pada remaja dengan masalah kehamilan atau persalinan tidak direncanakan. Keprihatinan akan jaminan kerahasiaan (privacy) atau kemampuan membayar, dan kenyataan atau persepsi remaja terhadap sikap tidak senang yang ditunjukkan oleh pihak petugas kesehatan, semakin membatasi akses pelayanan lebih jauh, meski pelayanan itu ada. Di samping itu, terdapat pula hambatan legal yang berkaitan dengan pemberian pelayanan dan informasi kepada kelompok remaja (Outlook, 2000). Karena kondisinya, remaja merupakan kelompok sasaran pelayanan yang mengutamakan privacy dan confidentiality (Senderowitz, 1997a:10). Hal ini menjadi penyulit, mengingat sistem pelayanan kesehatan dasar di Indonesia masih belum menempatkan kedua hal ini sebagai prioritas dalam upaya perbaikan kualitas pelayanan yang berorientasi pada klien

Kesehatan Reproduksi Remaja
Oleh : dr. Sri Rejeki PUSKESMAS KEMBIRITAN KECAMATAN GENTENG PENGERTIAN Kesehatan reproduksi menurut WHO adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Atau Suatu keadaan dimana manusia dapat menikmati kehidupan seksualnya serta mampu menjalankan fungsi dan proses reproduksinya secara sehat dan aman. TUMBUH KEMBANG REMAJA.

Masa remaja dibedakan dalam : 1. Masa remaja awal, 10 – 13 tahun. 2. Masa remaja tengah, 14 – 16 tahun. 3. Masa remaja akhir, 17 – 19 tahun. Pertumbuhan fisik pada remaja perempuan : 1. Mulai menstruasi. 2. Payudara dan pantat membesar. 3. Indung telur membesar. 4. Kulit dan rambut berminyak dan tumbuh jerawat. 5. Vagina mengeluarkan cairan. 6. Mulai tumbuh bulu di ketiak dan sekitar vagina. 7. Tubuh bertambah tinggi. Perubahan fisik yang terjadi pada remaja laki-laki : 1. Terjadi perubahan suara mejadi besar dan mantap. 2. Tumbuh bulu disekitar ketiak dan alat kelamin. 3. Tumbuh kumis. 4. Mengalami mimpi basah. 5. Tumbuh jakun. 6. Pundak dan dada bertambah besar dan bidang. 7. Penis dan buah zakar membesar. Perubahan psikis juga terjadi baik pada remaja perempuan maupun remaja laki-laki, mengalami perubahan emosi, pikiran, perasaan, lingkungan pergaulan dan tanggung jawab, yaitu : 1. Remaja lebih senang berkumpul diluar rumah dengan kelompoknya. 2. Remaja lebih sering membantah atau melanggar aturan orang tua. 3. Remaja ingin menonjolkan diri atau bahkan menutup diri. 4. Remaja kurang mempertimbangkan maupun menjadi sangat tergantung pada kelompoknya. Hal tersebut diatas menyebabkan remaja menjadi lebih mudah terpengaruh oleh hal-hal yang negatif dari lingkungan barunya. MENSTRUASI ATAU HAID. Bila menstruasi baru mulai periodenya mungkin tidak teratur dan dapat terjadi sebulan dua kali menstruasi kemudian beberapa bulan tidak menstruasi lagi. Hal ini memakan

. Sel telur yang keluar dari indung telur pada saat ovulasi akan masuk kedalam sel telur. Siklus menstruasi meliputi : 1. Bila seorang wanita berhenti menstruasi disebut menopause. 30 hari. 2. MIMPI BASAH. 3. yang perlu diperhatikan adalah kebersihan daerah kewanitaan dengan mengganti pembalut sesering mungkin. KEHAMILAN. 2. selaput lendir rahim menebal dan siap menerima hasil pembuahan. Ada yang 26 hari. 28 hari. atau disebut juga onani. Indung telur mengeluarkan telur (ovulasi) kurang lebih 14 hari sebelum menstruasi yang akan datang. Bila tidak ada pembuahan.waktu kira-kira 3 tahun sampai menstruasi mempunyai pola yang teratur dan akan berjalan terus secara teratur sampai usia 50 tahun. Lama menstruasi pada umumnya 5 hari. Panjang siklus menstruasi berbeda-beda setiap perempuan. Selama masa haid. atau bahkan ada yang 40 hari. Merupakan akibat utama dari hubungan seksual. 4. Telur berada dalam saluran telur. Telur berada dalam rahim. Telur akan keluar dari rahim bersama darah. terjadi pematangan sperma didalam testis. Proses kehamilan dapat diilustrasikan sebagai berikut : 1. Jumlah seluruh darah yang dikeluarkan biasanya antara 30 – 80 ml. Sperma yang tumpah didalam saluran vagina waktu senggama akan bergerak masuk kedalam rahim dan selanjutnya ke saluran telur. Masturbasi adalah memberikan rangsangan pada penis dengan gerakan tangan sendiri sehingga timbul ereksi yang disusul dengan ejakulasi. selaput rahim akan lepas dari dinding rahim dan terjadi perdarahan. BAGAIMANA BISA TERJADI ? Ketika seseorang laki-laki memasuki masa pubertas. Kehamilan dapat terjadi bila dalam berhubungan seksual terjadi pertemuan antara sel telur (ovum) dengan sel sperma. Ejakulasi yang tanpa rangsangan yang nyata disebut mimpi basah. selaput lendir rahim menebal. namun kadang-kadang ada yang lebih cepat 2 hari atau bahkan sampai 5 hari. Sperma yang telah diproduksi ini akan dikeluarkan melalui Vas Deferens kemudian berada dalam cairang mani yang diproduksi oleh kelenjar prostat. Air mani yang telah mengandung sperma ini akan keluar yang disebut ejakulasi.

3. 5. 3. Dibuktikan melalui tes laboratorium yaitu HCG Test dan USG. lemas. 4. Tanda-tanda kehamilan : 1. letih dan lesu. muntah dan pusing pada saat bangun tidur (morning sickness) atau sepanjang hari. Bila tidak diinginkan akan Dilakukan abortus : suatu kejadian keluarnya hasil kehamilan sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Sayangnya. Mengantuk. Nafsu makan menurun. Adalah infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual. 50% dari . daerah sekitar Aerola Mammae (sekitar puting) membesar. Perubahan fisik seperti payudara membesar dan sering mengeras. Belum siap mental sebagai ibu. Kehamilan dibawah usia 20 tahun Organ reproduksi belum sempurna sehingga pada saat persalinan akan mengalami kesulitan. 2. Amenorhea (tidak mengalami haid). namun pada saat tertentu menghendaki makanan tertentu (nyidam). Akan beresiko tinggi apabila dilakukan dengan berganti-ganti pasangan. Perempuan beresiko lebih besar tertular karena bentuk alat reproduksinya lebih rentan terhadap PMS. Di saluran telur ini. 6. Sering mual-mual. sperma akan bertemu dengan sel telur dan langsung membuahi. Baik laki-laki maupun perempuan bisa beresiko tertular penyakit kelamin. Abortus Spontan (tidak disengaja) Provokatus (disengaja) PENYAKIT MENULAR SEKSUAL (PENYAKIT KELAMIN).

Sifilis. GONORREA (GO) Kuman penyebabnya : Neisseria gonnorrhoeae. 2. Trikonomiasis. PMS yang umum terdapat di Indonesia adalah : 1. Membersihkan alat kelamin setelah berhubungan seksual. SIFILIS (RAJA SINGA) Kuman penyebab : Trepanema palidum. Clamidia.perempuan yang tertular PMS tidak tahu bahwa ia sudah tertular. Komplikasi yang timbul : infeksi radang panggunl. menimbulkan kebutaan pada bayi yang dilahirkan. 7. 6. 8. PMS tidak dapat dicegah hanya dengan : 1. 5. 4. . merah. 3. Pemeriksaan : pewarnaan gram dan biakan agar. mandul. Ulkul mole (chancroid). Minum jamu tradisional. Minum obat antibiotik sebelum dan sesudah berhubungan seksual. Tanda-tanda : nyeri pada saat kencing. 3. Kutil kelamin. bengkak dan bernanah pada alat kelamin. Masa inkubasi atau penyebaran kuman : 2 – 10 hari setelah hubungan seks. 2. HIV-AIDS. Herpes genital. Gonorrea.

kemerahan. Komplikasi pada wanita hamil : dapat melahirkan dengan kecacatan fisik seperti kerusakan kulit. pinggirnya tidak teratur. cekung. limpa.Masa inkubasi : tanpa gejala berlangsung 3 – 13 minggu. ULKUS MOLE (Chancroid) Disebabkan oleh bakteri Hemophilus ducreyi. keluar nanah dan rasa nyeri. Pemeriksaan : tes laboratorium untuk mendeteksi RPR (Rapid Plasma Reagent) dan TPHA (Trepanema Palidum Hemagglutination Assay). 6 – 12 minggu setelah hubungan seks muncul bercak merah pada tubuh yang dapat hilang sendiri tanpa disadari. memudahkan penularan infeksi HIV. berbusa dan berbau busuk. Sekitar kemaluan bengkak. 5 – 10 tahun penyakit ini akan menyerang susunan syaraf otak. akan hilang sementara. Gejala-gejala yang mungkin ditimbulkan antara lain : Luka lebih dari diameter 2 cm. gatal dan terasa tidak nyaman. hati dan keterbelakangan mental. Gejala-gejala yang mungkin ditimbulkan antara lain : Keluar cairan vagina encer berwarna kuning kehijauan. disertai pusing. TRIKONOMIASIS Disebabkan oleh protozoa Trichomonas vaginalis. Biasanya hanya pada salah satu sisi alat kelamin. Tes laboratorium untuk mendeteksi sediaan basah KOH. nyeri tulang. bayi lahir prematur. Komplikasi yang bisa terjadi : lecet sekitar kemaluan. pembuluh darah dan jantung. lalu timbul benjolan sekitar alat kelamin. Sering (50%) disertai pembengkakan .

Nyeri di rongga panggul. Infeksi mata pada bayi baru lahir. Infeksi ini biasanya kronis.kelenjar getah bening di lipat paha berwarna kemerahan (bubo) yang bila pecah akan bernanah dan nyeri. Kemandulan akibat perlekatan pada saluran falopian. Tes laboratorium yang dilakukan untuk mendeteksi adalah Elisa. KUTIL KELAMIN Disebabkan oleh Human Papiloma Virus. memudahkan penularan infeksi HIV. Komplikasi yang mungkin terjadi : kematian janin pada ibu hamil yang tertular. Rapid Test dan Giemsa. Gejala yang ditimbulkan : Cairan vagina encer berwarna putih kekuningan. Tes laboratorium untuk mendeteksinya dengan pewarnaag Gram dan Biakan agar selama seminggu. KLAMIDIA Disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Memudahkan penularan infeksi HIV. Komplikasi yang mungkin terjadi : Biasanya menyertai gonore. Gejala yang ditimbulkan : tonjolan kulit seperti kutil besar disekitar alat kelamin (seperti jengger ayam). karena sebanyak 70% perempuan pada awalnya tidak merasakan gejala apapun sehingga tidak memeriksakan diri. . Penyakit radang panggul. Perdarahan setelah hubungan seksual.

misalnya jarum suntik pada pengguna dan pecandu narkoba. kaya atau miskin. HIV-AIDS HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah sejenis virus yang menyebabkan AIDS. belum mampu untuk menjanjikan suatu kesembuhan yang pasti. Virus ini menyerang sel darah putih manusia yang merupakan bagian paling penting dalam system kekebalan tubuh. Tes HIV (ELISA dua kali) perlu disertai konseling sebelum dan sesudah tes dilakukan. Setiap orang beresiko tertular HIV-AIDS. AIDS atau Acquired Immuno Deficiency Syndrome adalah kumpulan gejala-gejala akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh. HIV tidak dapat ditularkan kepada orang lain melalui : . Hubungan seksual tanpa pelindung dengan Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA). Dari ibu ODHA kepada bayi yang dikandung dan disusuinya. bisa berubah menjadi kanker mulut rahim. Tidak perlu mendeteksi laboratorium karena langsung dapat terlihat oleh mata biasa. 2. Hampir tidak ada gejala yang muncul pada awal terinfeksi HIV. tetapi apa yang kita lakukan. Obat-obatan yang ada pada saat ini. terkenal maupun tidak terkenal. Tetapi ketika berkembang menjadi AIDS. alat pembuat tatto dan alat tindik. meningkatkan resiko tertular HIV-AIDS. Seseorang yang terinfeksi HIV secara fisik tidak ada bedanya dengan orang yang tidak terinfeksi. heteroseksual maupun homoseksual. HIV dapat ditularkan dengan cara : 1. Resiko tertular HIV tidak berkaitan dengan siapa kita. 3. baik tua maupun muda. 4. Mendapatkan transfusi darah yang mengandung virus HIV.Komplikasi yang mungkin terjadi : kutil dapat membesar seperti tumor. maka orang tersebut perlahan-lahan akan kehilangan kekebalan tubuhnya sehingga mudah terserang penyakit dan tubuh akan melemah. Menggunakan benda tajam yang terkontaminasi oleh virus HIV.

6. ASPEK KESEHATAN YANG PERLU DIPERHATIKAN OLEH REMAJA PUTRI. 4. 2. 5.wordpress. ANEMIA. Batuk atau bersin ODHA. Penderita anemia berpotensi melahirkan bayi dengan berat badan yang rendah serta kematian pada proses persalinan. Demikian pula pada saat hamil.1. Gigitan nyamuk. Mengkonsumsi tablet penambah darah. jadi perlu zat besi untuk mengembalikan kondisi tubuhnya. Bersalaman atau berpelukan. Tanda-tanda anemia : 1. muka pucat. Makanan dari piring yang pernah digunakan ODHA. Mudah lelah. Mengapa perempuan lebih rentan anemia dibandingkan laki-laki? Kebutuhan zat besi perempuan 3 kali lipat lebih banyak dibandingkan laki-laki. Berenang ditempat berenang yang sama dengan ODHA. Anemia terjadi karena kurangnya zat besi dan asam folat dalam tubuh. Mengunjungi ODHA dirumah atau dirumah sakit. mengantuk. Tidak bersemangat. Apa yang perlu dilakukan agar terhindar dari anemia? 1. 3. http://drhandri. 2.com/2008/05/14/kesehatan-reproduksi-remaja/ . 2. 3. Mengkonsumsi makanan bergizi. Pusing. butuh zat besi untuk kebutuhan perkembangan janin. Perempuan setiap bulan mengalami haid.

efektif. 3) Hak dari laki-laki dan perempuan untuk memperoleh informasi serta memperoleh aksebilitas yang aman. Kesehatan Reproduksi Remaja Secara garis besar dapat dikelompokkan empat golongan faktor yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan repoduksi yaitu : 1. bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi. terjangkau baik secara ekonomi maupun kultural. dan ketidaktahuan tentang perkembangan seksual dan proses reproduksi. serta lokasi tempat tinggal yang terpencil). dalam segala hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi dan fungsi dan proses. Pengertian kesehatan reproduksi ini mencakup tentang hal-hal sebagai berikut: 1) Hak seseorang untuk dapat memperoleh kehidupan seksual yang aman dan memuaskan serta mempunyai kapasitas untuk bereproduksi. informasi tentang fungsi reproduksi yang membingungkan anak dan remaja karena saling berlawanan satu dengan yang lain. kepercayaan banyak anak banyak rejeki. filed in: Psikologi Remaja 5 Kesehatan Reproduksi Remaja Pengertian kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan kesehatan yang sempurna baik secara fisik. mental. fungsi serta prosesnya. Faktor budaya dan lingkungan (misalnya. 4) Hak untuk mendapatkan tingkat pelayanan kesehatan yang memadai sehingga perempuan mempunyai kesempatan untuk menjalani proses kehamilan secara aman. Sedangkan kesehatan reproduksi menurut WHO adalah suatu keadaan fisik. Faktor sosial-ekonomi dan demografi (terutama kemiskinan. mental dan sosial yang utuh. tingkat pendidikan yang rendah. 2010. 2. Definisi kesehatan reproduksi menurut hasil ICPD 1994 di Kairo adalah keadaan sempurna fisik. . dan sosial dan bukan semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi.Kesehatan Reproduksi Remaja Posted by Admin on November 19. mental dan kesejahteraan sosial dan tidak semata-mata ketiadaan penyakit atau kelemahan. 2) Kebebasan untuk memutuskan bilamana atau seberapa banyak melakukannya. praktek tradisional yang berdampak buruk pada kesehatan reproduksi. fungsi serta prosesnya. dsb).

com/kesehatan-reproduksi-remaja/ Remaja dan Kesehatan Reproduksi Tuesday. mudah-mudahan menambah pengetahuan kita Kata kunci artikel: Kesehatan Reproduksi Remaja http://belajarpsikologi. Dan yang terjadi akhirnya banyak remaja yang memuaskan rasa keingintahuannya melalui berbagai macam sumber informasi mengenai seksualitas media massa dan internet. dsb). budaya telah menyebabkan remaja tabu untuk membicarakan masalah seksualitas dan kesehatan reproduksinya. serta masih terbatasnya institusi di pemerintah yang menangani remaja secara khusus dan belum ada undang-undang yang mengakomodir hak-hak remaja Regulasi perundangan dan budaya juga menyebabkan remaja semakin kesulitan secara terbuka mendapatkan pengetahuan mengenai seksualitas dan reproduksi. Faktor biologis (cacat sejak lahir. Keingintahuan remaja mengenai seksualitas serta dorongan seksual telah menyebabkan remaja untuk melakukan aktivitas seksual remaja. rasa tidak berharga wanita pada pria yang membeli kebebasannya secara materi. yang akhirnya menimbulkan persoalan pada remaja yang berkaitan dengan aktivitas . depresi karena ketidakseimbangan hormonal. Ketika itu terjadi.3. akhirnya jalan lain yang berdampak negatif terhadap perkembangan remaja di pilih. dsb). tidak adanya akses pelayanan yang ramah terhadap remaja. UndangUndang masih membatasi dan menyebutkan melarang pemberian informasi seksual dan pelayanan bagi orang yang belum menikah. Demikian sekilas tentang kesehatan reproduksi remaja. Faktor psikologis (dampak pada keretakan orang tua pada remaja. yaitu minimnya pengetahuan tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi yang disebabkan oleh terbatasnya akses informasi dan advokasi remaja. Selain itu. 06 September 2011 04:32 Admin Istrator Remaja pada umumnya menghadapi permasalahan yang sama untuk memahami tentang seksualitas. belum adanya kurikulum kesehatan reproduksi remaja di sekolah. Hal itu telah membatasi ruang pendidikan dan sosial untuk memberikan pengetahuan pada remaja mengenai seksualitas. 4. cacat pada saluran reproduksi pasca penyakit menular seksual.

serta tertular infeksi menular seksual termasuk HIV/AIDS. televisi. Hal lain yang menjadi kendala adalah faktor budaya yang masih menabukan segala topik yang berkaitan dengan seks dan seksualitas bagi mereka orang yang belum menikah. pelukan (13%).6% dan di SMA ke atas sebanyak 50. Survey menunjukkan bahwa hambatan informasi tentang seks dan kesehatan reproduksi berasal dari orang tua akibat minimnya pengetahuan mereka tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas. kehamilan tidak diinginkan (KTD) pada remaja. lembaga-lembaga pendidikan dan masyarakat harus dikuatkan untuk menanggulangi permasalahan tersebut. dan perilaku seksual lainya hingga kekerasan seksual yang dapat mengakibatkan kehamilan tidak diinginkan. peredaran blue film yang longgar juga menyebabkan responden bisa dengan bebas mengaksesnya (13%). Hal ini mempengaruhi remaja untuk berperilaku berisiko antara lain menjalin hubungan seksual pranikah. media yag diakses justru hanya mengarah pada pornografi dan bukan pendidikan seks yang bertanggung jawab. upaya penyadaran remaja mengenai pendidikan seks dan kesehatan reproduksinya harus dilakukan. mengintegrasikan program remaja ke dalam program pencegahan HIV/AIDS dan IMS. memperkuat pelayanan dan informasi bagi remaja termasuk meningkatkan perlindungan bagi remaja untuk menghindari segala upaya eksploitasi dan kekerasan pada remaja. Harus dikembangkan seluas-luasnya pusat informasi mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi. Seperti kasus-kasus kekerasan seksual. resiko reproduksi lainnya. Sayangnya. dan internet telah menyebabkan mempercepat terjadinya perubahan. Sebagaimana tercermin dalam survey tersebut. Kondisi ini menunjukkan betapa sudah sangat mengkhawatirkannya perilaku remaja saat ini. Arus informasi melalui media masa dengan segala perangkatnya. internet juga menjadi media yang cukup banyak diakses oleh responden (20%). hubungan sinergis pemerintah. Untuk itu. memperkuat jaringan dan sistem rujukan ke pusat pelayanan kesehatan yang relevan. mengembangkan media informasi dan pendidikan. meraba organ seksual (4%). Perilaku seksual responden dalam berpacaran telah menjurus pada hubungan seks bebas.com/index.php? option=com_content&view=article&id=1388:remaja-dan-kesehatan-reproduksi&catid=222:kesehatan-keluarga&Itemid=97 . Handphone merupakan sarana favorit remaja untuk bertukar gambar porno (26%). pegang tangan (16%).kimiafarmaapotek. Perilaku seksual remaja Dari hasil survey yang dilakukan oleh LKTS (Lembaga Kajian untuk Trasformasi Sosial) Boyolali mengenai Kekerasan dan Perilaku seksual pada kalangan pelajar di Klaten menunjukkan hasil yang memprihatinkan. Padahal ibu memiliki peran penting dalam memberikan informasi tentang seks pada anak-anaknya. Aktifitas berpacaran responden dimulai dari ngobrol (24%). Sedangkan perilaku yang sudah menjurus pada hubungan seks awal (foreplay) adalah cium pipi (9%). http://www. surat kabar. cium pipi (12%). petting (2 %) dan hubungan seksual (1%). Kondisi ini tercermin dari tingkat pendidikan orang tua siswa. Tetapi berpacaran di tempat umum. terutama ibu yang berpendidikan rendah (SMP ke bawah) sebanyak 61%.seksual. necking (9%). Dalam aktifitas pacaran. Remaja merupakan salah satu kelompok yang mudah terpengaruh oleh arus informasi baik yang negatif maupun yang positif.5%. responden tidak segan melakukannya di sekolah (14%) meskipun rumah masih merupakan tempat yang sering digunakan oleh responden untuk berpacaran (26%). tabloid media elektronik. pernikahan usia muda dan lain sebagainya. Minimnya pengetahuan seks membuat remaja mencari sumber informasi di luar rumah. tempat rekreasi bahkan hotel pun sudah bukan barang baru bagi remaja (23%). Sedangkan ayah yang berpendidikan di bawah SMP sebanyak 49. aborsi remaja. tersedianya pelayanan remaja yang ramah pada remaja termasuk konsultasi remaja. perilaku seks bebas sudah mulai berkembang di kalangan remaja.

Psikolog Perancis Jean Piaget menentukan bahwa masa remaja adalah awal tahap pikiran formal operasional. • Silakan login atau daftar dulu untuk mengirim komentar http://www. Perkembangan intelektual Tidak ada perubahan dramatis dalam fungsi intelektual selama masa remaja. Hormon pertumbuhan memproduksi dorongan pertumbuhan yang cepat. yang identitasnya memungkinkan orang tersebut berhubungan dengan lainnya dalam gaya dewasa. beberapa studi menganjurkan bahwa individu yang menjadi dewasa di usia dini lebih baik dalam menyesuaikan diri daripada rekan-rekan mereka yang menjadi dewasa lebih lambat. Hormon-hormon utama yang mengatur perubahan ini adalah androgen pada pria dan estrogen pada wanita. yang timbul dari perubahan fisik yang cepat dan luas yang terjadi sewaktu pubertas. juga menandakan bahwa wanita lebih dahulu matang secara seksual daripada pria.kesrepro. pembesaran payudara. rambut tubuh dan kelamin. zat-zat yang juga dihubungkan dengan penampilan ciri-ciri seksual sekunder: rambut wajah. Piaget beranggapan bahwa tahap ini terjadi di antara semua orang tanpa memandang pendidikan dan pengalaman terkait mereka. Namun sejak tahun 1960-an. yang membawa tubuh mendekati tinggi dan berat dewasanya dalam sekitar dua tahun. Namun bukti riset tidak mendukung hipotesis ini. biasanya mulai dari usia 14 pada pria dan usia 12 pada wanita. dan pinggul lebih lebar pada wanita. beberapa remaja tidak tertarik pada.Masa Remaja Oleh admin pada Kam. 03/13/2008 . Perubahan fisik dapat berhubungan dengan penyesuaian psikologis. Stanley Hall mengatakan bahwa masa remaja adalah masa stres emosional. tubuh.info/?q=node/385 Definisi Kesehatan Reproduksi Remaja .16:07. metode Keluarga Berencana atau gejala-gejala Penyakit Menular Seksual (PMS). Kehadiran problem emosional bervariasi antara setiap remaja. Tugas psikososial remaja adalah untuk tumbuh dari orang yang tergantung menjadi orang yang tidak tergantung. Kemampuan untuk mengerti masalah-masalah kompleks berkembang secara bertahap. Psikolog Amerika kelahiran Jerman Erik Erikson memandang perkembangan sebagai proses psikososial yang terjadi seumur hidup. Perkembangan emosional Psikolog Amerika G. sekaligus juga kekurangan pengetahuan yang benar tentang seksualitas. Perkembangan seksual Perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas bertanggung-jawab atas munculnya dorongan seks. dengan efek fisiologis yang tersebar luas. Pencapaian kematangan seksual pada gadis remaja ditandai oleh kehadiran menstruasi dan pada pria ditandai oleh produksi semen. • Referensi Masa remaja adalah suatu tahap antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. angka kelahiran tidak sah dan timbulnya penyakit kelamin kian meningkat. dan kelamin dan suara yang mendalam pada pria. Perkembangan fisik Perubahan dramatis dalam bentuk dan ciri-ciri fisik berhubungan erat dengan mulainya pubertas. Dorongan pertumbuhan terjadi lebih awal pada pria daripada wanita. yang mungkin dapat dicirikan sebagai pemikiran yang melibatkan logika pengurangan/deduksi. namun secara umum didefinisikan sebagai waktu dimana individu mulai bertindak terlepas dari orang tua mereka. Istilah ini menunjuk masa dari awal pubertas sampai tercapainya kematangan. Transisi ke masa dewasa bervariasi dari satu budaya kebudayaan lain. studi akhir menunjukkan bahwa hampir 50 persen remaja di bawah usia 15 dan 75 persen di bawah usia 19 melaporkan telah melakukan hubungan seks. Aktivitas kelenjar pituitari pada saat ini berakibat dalam sekresi hormon yang meningkat. atau tahu tentang. aktivitas seksual telah meningkat di antara remaja. Akibatnya. Pemuasan dorongan seks masih dipersulit dengan banyaknya tabu sosial. Terlepas dari keterlibatan mereka dalam aktivitas seksual. bukti itu menunjukkan bahwa kemampuan remaja untuk menyelesaikan masalah kompleks adalah fungsi dari proses belajar dan pendidikan yang terkumpul.

Bagaimana cakupan pelayanannya? Cakupan pelayanan kesehatan reproduksi: • • • • • konseling dan informasi Keluarga Berencana (KB) pelayanan kehamilan dan persalinan (termasuk: pelayanan aborsi yang aman. Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial kultural. maka ia tergolong dalam dewasa atau bukan lagi remaja. proses dan fungsi alat reproduksi (aspek tumbuh kembang remaja) mengapa remaja perlu mendewasakan usia kawin serta bagaimana merencanakan kehamilan agar sesuai dengan keinginnannya dan pasanganya Penyakit menular seksual dan HIV/AIDS serta dampaknya terhadap kondisi kesehatan reproduksi Bahaya narkoba dan miras pada kesehatan reproduksi Pengaruh sosial dan media terhadap perilaku seksual Kekerasan seksual dan bagaimana menghindarinya Mengambangkan kemampuan berkomunikasi termasuk memperkuat kepercayaan diri agar mampu menangkal hal-hal yang bersifat negatif Hak-hak reproduksi . Namun jika pada usia remaja seseorang sudah menikah. diharapkan remaja memiliki sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai proses reproduksi. Sebaliknya. 1994). fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Pengetahuan dasar apa yang perlu diberikan kepada remaja agar mereka mempunyai kesehatan reproduksi yang baik? • • • • • • • • Pengenalan mengenai sistem. 03/13/2008 . maka dimasukkan ke dalam kelompok remaja. Apasih Kesehatan reproduksi itu? KESEHATAN REPRODUKSI (kespro) adalah Keadaan sejahtera fisik. informasi dan edukasi (KIE) mengenai kespro Apa itu Kesehatan Reproduksi Remaja? Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem. pelayanan bayi baru lahir/neonatal) pengobatan infeksi saluran reproduksi (ISR) dan penyakit menular seksual (PMS). termasuk pencegahan kemandulan Konseling dan pelayanan kesehatan reproduksi remaja (KRR) Konseling. jadi reproduksi mempunyai arti suatu proses kehidupan manusia dalam menghasilkan keturunan demi kelestarian hidup. Mengapa Remaja Perlu Mengetahui Kesehatan Reproduksi? Remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar memiliki informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada disekitarnya. • Referensi Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.Oleh admin pada Kam.15:39. Dengan informasi yang benar. peran & sistem reproduksi (Konferensi International Kependudukan dan Pembangunan. jika usia sudah bukan lagi remaja tetapi masih tergantung pada orang tua (tidak mandiri). Apa yang dimaksud dengan reproduksi? Secara sederhana reproduksi berasal dari kata re = kembali dan produksi = membuat atau menghasilkan. mental dan sosial yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan fungsi. Batasan usia remaja menurut WHO (badan PBB untuk kesehatan dunia) adalah 12 sampai 24 tahun.

Keengganan para orang tua untuk memberikan informasi kesehatan reproduksi dan seksualitas juga disebabkan oleh rasa rendah diri karena rendahnya pengetahuan mereka mengenai kesehatan reproduksi (pendidikan seks). Ada 2. 1972 dikutip dari Iskandar.6%. responden yang setuju kembali bertambah menjadi 12. Sumber Informasi Kesehatan Reproduksi Remaja seringkali merasa tidak nyaman atau tabu untuk membicarakan masalah seksualitas dan kesehatan reproduksinya. 51% mengira bahwa mereka akan berisiko tertular HIV hanya bila berhubungan seks dengan pekerja seks komersial (PSK) (LDFEUI & NFPCB. Jika mereka berencana untuk menikah. Jawa Timur dan Lampung) menemukan 46. 1997). Jika hubungan seks dilakukan oleh dua orang yang saling mencintai. anak yang mendapatkan pendidikan seks dari orang tua atau sekolah cenderung berperilaku seks yang lebih baik daripada anak yang mendapatkannya dari orang lain (Hurlock. Hasil pretest materi dasar Reproduksi Sehat Anak dan Remaja (RSAR) di Jakarta Timur (perkotaan) dan Lembang (pedesaan) menunjukkan bahwa apabila orang tua merasa meiliki pengetahuan yang cukup mendalam tentang kesehatan reproduksi. Kesalahan dimana persoalan reproduksi lebih banyak menjadi tanggung jawab perempuan tidak boleh terjadi lagi. Kebanyak orang tua memang tidak termotivasi untuk memberikan informasi mengenai seks dan kesehatan reproduksi kepada remaja sebab mereka takut hal itu justru akan meningkatkan terjadinya hubungan seks pra-nikah. maka responden yang setuju menjadi 8. Padahal.Siapa saja yang Perlu Diberitahu Perihal Informasi Kesehatan Reproduksi? Proses reproduksi merupakan proses melanjutkan keturunan yang menjadi tanggung jawab bersama laki-laki maupun perempuan. 01/02/2008 . mereka lebih yakin dan tidak merasa canggung untuk membicarakan topik yang berhubungan dengan masalah seks (Iskandar. • Artikel Oleh: Siti Rokhmawati Darwisyah Sebuah survei terbaru terhadap 8084 remaja laki-laki dan remaja putri usia 15-24 tahun di 20 kabupaten pada empat propinsi (Jawa Barat. 1999a:96-97). Seringkali remaja merasa bahwa orang tuanya menolak membicarakan masalah seks sehingga mereka kemudian mencari alternatif sumber informasi lain seperti teman atau media massa. Dari survei yang sama juga didapatkan bahwa hanya 19. . • Silakan login atau daftar dulu untuk mengirim komentar http://www.45 pm Seksualitas Remaja Indonesia Oleh redaksi pada Rab.3%) (LDFEUI & NFPCB. Jawa Tengah. Angka ini menurun menjadi 1% bila ditanya sikap mereka terhadap perempuan yang berhubungan seks sebelum menikah.2% responden setuju apabila laki-laki berhubungan seks sebelum menikah.11:06. Akan tetapi karena faktor keingintahuannya mereka akan berusaha untuk mendapatkan informasi ini. Karena itu baik laki-laki maupun perempuan harus tahu dan mengerti mengenai berbagai aspek kesehatan reproduksi. 1997:1). 1999b:14).5% (LDFEUI & NFPCB.kesrepro. Kesalahan persepsi ini sebagian besar diyakini oleh remaja laki-laki (49.2% remaja yang menyadari peningkatan risiko untuk tertular PMS bila memiliki pasangan seksual lebih dari satu.2% remaja masih menganggap bahwa perempuan tidak akan hamil hanya dengan sekali melakukan hubungan seks.7%) dibandingkan pada remaja putri (42. Sikap Remaja terhadap Kesehatan Reproduksi Responden survei remaja di empat propinsi yang dilakukan pada tahun 1998 memperlihatkan sikap yang sedikit berbeda dalam memandang hubungan seks di luar nikah.info/?q=node/380 20nfeb 2012 06. 1997:3). Hambatan utama adalah justru bagaimana mengatasi pandangan bahwa segala sesuatu yang berbau seks adalah tabu untuk dibicarakan oleh orang yang belum menikah (Iskandar. 1999a:92).

1996. Ch. the Ministry of Health RI. Dharmaputra.Sebuah studi yang dilakukan LDFEUI di 13 propinsi di Indonesia (Hatmadji dan Rochani.4% (Kristanti & Depkes. dkk. Utomo. dkk. "Hasil Uji Coba Modul Reproduksi Sehata Anak & Remaja untuk Orang Tua. Kollman (ed). M dan Depkes. dan J. A. http://www. dan HAPP/Family Health International. Persentase remaja yang telah mempraktikkan seks pra-nikah terdiri dari 3. Surabaya. Daftar Pustaka Iskandar." Makalah pada Lokakarya Penyusunan Rencana Pengembangan Media. F. Jakarta: Depkes-Binkesmas-Binkesga. 1997. mengingat masalah seksualitas termasuk masalah sensitif sehingga tidak setiap orang bersedia mengungkapkan keadaan yang sebenarnya. and Manado. Jakarta: LDFEUI dan NFPCB. Kristanti..kesrepro. Oleh karena itu. Sebuah studi di Bali menemukan bahwa 4. Juli 1999a. Executive Summary and Recommendation Program.3% remaja putri (LDFEUI & NFPCB. 20-21 Mei 1997.9% remaja yang telah seksual aktif. Perilaku Seksual Remaja Survei remaja di empat propinsi kembali melaporkan bahwa ada 2. Sebuah studi kualitatif di perkotaan Banjarmasin dan pedesaan Mandiair melaporkan bahwa interval 8-10 tahun adalah rata-rata jarak antara usia pertama kali berhubungan seks dan usia pada saat menikah pada remaja putra. Dalam N. Haryanto B. Pokok-Pokok Pikiran Pendidikan Seks untuk Remaja. Meiwita B. B. Depok: Laboratorium Antropologi. 1999:101).3% dan 1. Jakarta. LDFEUI dan NFPCB. 1998:9-20. 1996: Tabel 8b). Jakarta: Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. D. Tentu saja angka-angka tersebut belum tentu menggambarkan kejadian yang sebenarnya. FISIP-UI. LDFEUI dan NFPCB. Baseline STD/HIV/Risk Behavioral Surveillance 1996: Result from the Cities of North Jakarta. Jakarta: LDFEUI dan NFPCB. sedangkan pada remaja putri interval tersebut adalah 4-6 tahun (Saifuddin dkk. tidaklah mengejutkan apabila angka sebenarnya jauh lebih besar daripada yang dilaporkan. Sebuah survei terhadap pelajar SMU di Manado. 1998. 1993) menemukan bahwa sebagian besar responden setuju bahwa pengetahuan mengenai kontrasepsi sudah harus dimiliki sebelum menikah. Rosdiana. Hartono. Kesehatan Reproduksi Remaja. diselenggarakan oleh PKBI. Baseline Survey of Young Adult Reproductive Welfare in Indonesia 1998/1999. Status Kesehatan Remaja Propinsi Jawa Barat dan Bali: Laporan Penelitian 1995/1996. R. Perilaku Seksual Remaja di Kota dan di Desa: Kasus Kalimantan Selatan.. Studi di Jawa Barat menemukan perbedaan antara remaja putri di perkotaan dan pedesaan yang telah seksual aktif yaitu berturut-turut 1. Saifuddin. Juli 1999b. Jakarta: Center for Health Research University of Indonesia.4% remaja putra dan 2. melaporkan persentase yang lebih tinggi. Baseline Survey of Young Adult Reproductive Welfare in Indonesia 1998/1999 Book I. 1997:78). yaitu 20% pada remaja putra dan 6% pada remaja putri (Utomo. Makalew. D.. Moran Mills. 1998).info/?q=node/366 .4% remaja putri di perkotaan telah seksual aktif.

menjadi acuan utama mereka. satu dari lima orang Indonesia berada dalam rentang usia remaja. • Artikel Oleh: Adek Ratna Jameela Menjadi remaja berarti menjalani proses berat yang membutuhkan banyak penyesuaian dan menimbulkan kecemasan.4 . dan film pornografi yang memaparkan kenikmatan hubungan seks tanpa mengajarkan tanggung jawab yang harus disandang dan risiko yang harus dihadapi. Jateng.% dan pedesaan 0%. meninggalkan remaja dengan berjuta tanda tanya yang lalu lalang di kepala mereka. Perasaan seksual yang menguat tak bisa tidak dialami oleh setiap remaja meskipun kadarnya berbeda satu dengan yang lain.4.4%. masyarakat justru berupaya keras menyembunyikan segala hal tentang seks. Pandangan bahwa seks adalah tabu. Di Bali: perkotaan 4.Remaja Indonesia Masih Sangat Membutuhkan Informasi Kesehatan Reproduksi Oleh redaksi pada Jum. betapa besar pengaruh segala tindakan yang mereka lakukan saat ini kelak di kemudian hari tatkala menjadi dewasa dan lebih jauh lagi bagi bangsa di masa depan. Yogyakarta telah melakukan hubungan seks pra-nikah. Tetapi beberapa penelitian lain menemukan jumlah yang jauh lebih fantastis. dapat dibayangkan. Jakarta. 05/30/2008 . Mereka juga melalap "pelajaran" seks dari internet.3% Di Jawa Barat: perkotaan 1.09:51. Ketika mereka harus berjuang mengenali sisi-sisi diri yang mengalami perubahan fisik-psikissosial akibat pubertas.3 persen pelajar telah melakukan hubungan seks yang pertama . Hasilnya. Begitu juga kemampuan untuk mengendalikannya. Arus komunikasi dan informasi mengalir deras menawarkan petualangan yang menantang. Yang lebih memprihatinkan. Majalah. Lonjakan pertumbuhan badani dan pematangan organ-organ reproduksi adalah salah satu masalah besar yang mereka hadapi.3% dan pedesaan 1. membuat remaja enggan berdiskusi tentang kesehatan reproduksi dengan orang lain. Jabar dan Lampung: 0. meski saat ini aktivitas situs pornografi baru sekitar 2-3%. dan sudah muncul situs-situs pelindung dari pornografi . buku. remaja yang beberapa generasi lalu masih malu-malu kini sudah mulai melakukan hubungan seks di usia dini. 13-15 tahun! Memang hasil penelitian di beberapa daerah menunjukkan bahwa seks pra-nikah belum terlampau banyak dilakukan. Mereka adalah calon generasi penerus bangsa dan akan menjadi orangtua bagi generasi berikutnya. Di Indonesia saat ini 62 juta remaja sedang bertumbuh di Tanah Air. Artinya. Berdasarkan hasil penelitian Annisa Foundation pada tahun 2006 yang melibatkan siswa SMP dan SMA di Cianjur terungkap 42. Tentunya. Di Jatim. mereka justru merasa paling tak nyaman bila harus membahas seksualitas dengan anggota keluarganya sendiri! Tak tersedianya informasi yang akurat dan "benar" tentang kesehatan reproduksi memaksa remaja bergerilya mencari akses dan melakukan eksplorasi sendiri.5% Di Surabaya: 2. 21-30% remaja Indonesia di kota besar seperti Bandung. yang telah sekian lama tertanam.

10% mungkin akan membeli bila perlu.48%. Nasib Remaja Putri Nilai-nilai patriarkhis yang berurat akar di masyarakat kita telah meletakkan remaja putri jauh di luar jarak pandang kita dalam kesehatan reproduksi. 20/ 1992 mentabukan pula pemberian layanan KB untuk remaja putri yang belum menikah. angka statistik pernikahan dini --dengan pengantin berumur di bawah 16 tahun-. Mana yang lebih akurat? Beberapa pakar berpendapat bahwa angka yang diperoleh melalui penelitian itu hanyalah puncak dari sebuah gunung es. Padahal pernikahan dini berarti mendorong remaja untuk menerabas alur tugas perkembangannya. bahwa hubungan seks yang hanya dilakukan sekali takkan menyebabkan kehamilan. dia melakukan hubungan seks tersebut berdasarkan suka dan tanpa paksaan. dan 41% mengaku tidak tahu bagaimana mengenali ODHA. tepatnya di Jawa Timur 39. begitu banyak korban berjatuhan.saat duduk di bangku sekolah. Ketika pencegahan gagal dan berujung pada kehamilan. pernikahan seringkali dilakukan segera setelah anak perempuan mendapat haid pertama.secara nasional mencapai lebih dari seperempat.43%. Di sebuah daerah. Dari jumlah itu. menjalani peran sebagai dewasa tanpa memikirkan kesiapan fisik. Beberapa dari siswa mengungkapkan. Ini artinya. Berbagai metode kontrasepsi "fiktif" juga beredar luas di kalangan remaja: basuh vagina dengan minuman berkarbonasi. artinya kurang lebih 27% pula yang tahu bahwa kondom dapat mengurangi risiko tertular penyakit seksual. Undang-undang no.5% remaja di bawah 20 tahun . Bahkan di beberapa daerah sepertiga. 36% penderita penyakit menular seksual adalah pelajar. 1 dari 2 penderita HIV/AIDS adalah remaja berusia 15-29 tahun. Percaya atau tidak. lari-lari di tempat atau squatjump segera setelah berhubungan seks. Mengejutkan memang. dengan risiko kemungkinan kematian ibu pada saat melahirkan 28% lebih . tetapi dapat dipahami karena dalam sebuah survei ditemukan hanya 27% remaja Indonesia yang tahu kegunaan kondom. Memilih untuk menjalani kehamilan dini seperti dilakukan 9. Dari 14. masyarakat luas) akan informasi tentang kesehatan reproduksi dan seks yang bertanggung jawab ternyata berbuah pahit.4. 4% dari wajah yang pucat pasi. Biaya Sosial Kelalaian untuk menanggapi kebutuhan remaja (dan sejujurnya. begitu tinggi biaya sosial yang harus kita bayar. Kalimantan Selatan 35. Hanya 12% yang percaya pada hasil tes darah. mental dan sosial si pengantin. Begitu populernya perilaku berisiko. dari pernikahan yang terjadi.628 kasus HIV/AIDS. 1% pernah memakai. untuk membujuk-paksa mereka supaya bersedia berhubungan seks secara "suka-sama-suka". Jumlah ini masih dapat berlipatganda dan nyatanya banyak remaja memiliki informasi yang salah tentang HIV/AIDS.089 kasus karena penggunaan narkoba suntik ). Jawa Barat 36% .63%. lagi-lagi remaja putri yang harus bertanggung jawab. sedangkan 12% menyatakan tidak tahu . Bahkan mitos pun memojokkan remaja putri. yang kakinya masih terbenam dalam samudera. 7% mengenali ODHA dari bercak di kulitnya. Jambi 30.884 kasus terjadi pada remaja 20-29 tahun (3. Hasil survei UNICEF menunjukkan bahwa 20% dari responden remaja yakin bahwa Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) pasti terlihat sangat sakit. 242 kasus di antaranya adalah anak muda berusia 15-19 tahun (98 kasus karena penggunaan narkoba suntik). Di banyak daerah pedesaan.

disertai kegamangan karena tak siap menghadapi peran baru sebagai ibu.tinggi dibanding yang berusia 20 tahun ke atas . Dari penelitian yang dilaukan PKBI tahun 2005 di 9 kota mengenai aborsi dengan 37. . juga anak-anak yang ditinggal mati ibunya saat melahirkan. dan dengan demikian turut bertanggung jawab atas kepentingan mereka sendiri. Atau menjalani pilihan lain yang tersedia: aborsi! Ketakutan akan hukuman dari masyarakat dan terlebih lagi tidak diperbolehkannya remaja putri belum menikah menerima layanan keluarga berencana memaksa mereka untuk melakukan aborsi. Betapa melegakan. dilibatkan. tetapi sebaliknya pendidikan kesehatan reproduksi justru membuat remaja menunda keaktifan seksualnya. ibu tanpa suami. yang sebagian besar dilakukan secara sembunyi-sembunyi tanpa mempedulikan standar medis. Mengembangkan kebijakan dan program berdasar paradigma baru yang lebih peka gender dan "ramah" pada remaja dengan menempatkan remaja sebagai subjek aktif yang patut didengar. Padahal memberikan informasi tentang kesehatan reproduksi tidak serta-merta memberikan pula kesempatan untuk melakukan seks bebas. Meski perdebatan belum surut. di banyak negara yang telah memberlakukan pendidikan kesehatan reproduksi remaja. Begitu banyak hal terkait yang bisa dilakukan melalui kerja sama antara pemerintah dengan berbagai pihak antara lain: Mengkaji ulang dan membuka peluang perubahan aturan. yang terjadi kemudian bukanlah promiskuitas atau seks bebas di kalangan remaja seperti yang selalu dikuatirkan. Sementara 21. Pengetahuan Seks Menyedihkan. hukum dan perundangan. seperti Undang-Undang nomor 1 tahun 1974 yang memberikan celah bagi terjadinya pernikahan dini. dan Undang-undang nomor 20 tahun 1992 yang mengganjal layanan kesehatan reproduksi untuk remaja putri yang belum menikah. Data WHO menyebutkan bahwa 15-50 persen kematian ibu disebabkan karena pengguguran kandungan yang tiudak aman. serta seluruh aturan dan kebijakan yang dibuat berlandaskan undang-undang tersebut. kekukuhan kita untuk terus mengingkari kenyataan bahwa remaja butuh pengetahuan tentang seks dan kesehatan reproduksi yang benar. 27 persen dilakukan oleh klien yang belum menikah dan biasanya sudah mengupayakan aborsi terlebih dahulu secara sendiri dengan meminum jamu khusus. Tetapi untuk mengejar ketertinggalan dari masalah yang terus berlipatganda bagai deret ukur dibutuhkan lebih dari sekedar pencanangan pelaksanaan pendidikan kesehatan reproduksi remaja. telah menjerumuskan mereka membentuk keluarga tak berkualitas: bapak-ibu belia yang tak siap fisik-psikisnya untuk menjadi orangtua. Indonesia akhirnya menapak maju mengejar ketertinggalannya dibanding negara lain.685 responden. Pengalaman menunjukkan. Ini sudah tertuang dalam Propenas 2001.8 persen dilakukan oleh klien dengan kehamilan lanjut dan tidak dapat dilayani permintaan aborsinya. setidaknya dengan mengawali upaya untuk memberikan informasi yang benar dan akurat tentang kesehatan reproduksi remaja. akhirnya Pemerintah Republik Indonesia pun memaklumkan pentingnya kesehatan reproduksi remaja. Bahkan Departemen Kesehatan RI mencatat bahwa setiap tahunnya terjadi 700 ribu kasus aborsi pada remaja atau 30 persen dari total 2 juta kasus di mana sebgaian besar dilakukan oleh dukun.

Berbagai penyimpangan dan perilaku seksual yang keliru justru banyak terinspirasi dan diajarkan oleh sumber-sumber ini. diberikan tak hanya untuk remaja melalui sekolah dan media lain.go. membuat para remaja kita lebih banyak mendapatkan pengetahuan dan informasi berkaitan dengan seks ini dari media ataupun teman pergaulan. melibatkan kelompok masyarakat yang lebih luas.id/ceria/referensi/media/detail/89 ENGARUH PEMBERIAN LAYANAN INFORMASI KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA TERHADAP PENGETAHUAN KESEHATANREPRODUKSI PADA SISWA SMP N 3 KEBUMEN .bkkbn. malah menjadi sumber belajar yang sesat dan menyesatkan. Meneruskan upaya meretas hambatan sosial budaya dan agama dalam persoalan reproduksi dan seksualitas remaja. sumber: dunia-wanita. memuaskan rasa ingin tahunya. sembari mengajari mereka menjalani kehidupan dengan bertanggung jawab. tetapi juga untuk keluarga dan masyarakat. petinggi adat untuk menilai.kesrepro. dengan penyedia layanan yang 'ramah remaja': menjaga kerahasiaan. tidak menghakimi. seperti ulama-rohaniwan. merencanakan dan melaksanakan program yang paling tepat untuk kesehatan reproduksi remaja. http://ceria. berupaya memenuhi kebutuhan psikologisnya. peka pada persoalan remaja. yang alih-alih memberikan informasi yang benar. Apa pun yang dirancang dengan baik takkan berjalan sempurna tanpa kerja yang sungguhsungguh untuk mendengar remaja kita. Rumusan baru 'kejantanan' yang lebih menekankan tanggung jawab dan saling menghormati dalam relasi antargender perlu pula dipopulerkan di antara remaja putra. termasuk di dalamnya informasi tentang keluarga berencana dan hubungan antargender.Pendidikan kesehatan reproduksi remaja. termasuk juga mendorong keterbukaan dan komunikasi dalam keluarga.com • Silakan login atau daftar dulu untuk mengirim komentar http://www.info/?q=node/407 eingintahuan yang begitu besar yang tidak diiringi dengan kecukupan pengetahuan dan informasi tentang seks yang benar. ditambah dengan terputus atau tidak idealnya jalur komunikasi dan informasi yang ‘sehat’. Program pelayanan kesehatan reproduksi remaja harus mulai dipikirkan.

Rancangan penelitian ini adalah quasi experiment design. dengan model penelitian Non Equivalent Kontrol. sedangkan selisih nilai ratarata postes kelompok kontrol (36. Kata kunci : Layanan Informasi.71) hampir sama yaitu 0. yang ditunjukkan dengan nilai p = 0. sedangkan hasil postes kelompok perlakuan responden sebagian besar pengetahuannya baik yaitu 25 responden (55.45%). Selisih nilai rata-rata nilai pretes pada kelompok kontrol (36.55%) dan pada kelompok kontrol sebagian besar responden berpengetahuan sedang sebanyak 26 responden (57.05). Sampel yang digunakan sebanyak 90 siswa kelas VIII SMP N 3 Kebumen sebagai kelompok perlakuan dan kontrol. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner dan analisis data menggunakan uji statistik t-test. 2011 . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian layanan informasi kesehatan reproduksi remaja terhadap pengetahuan kesehatan reproduksi pada siswa SMP N 3 Kebumen. Ada pengaruh positif pemberian layanan informasi kesehatan reproduksi remaja terhadap pengetahuan kesehatan reproduksi pada siswa SMP N 3 Kebumen.000 (p < 0.27.Remaja.64) dan kelompok perlakuan (37.42.Remaja masih kekurangan informasi dasar mengenai kesehatan reproduksi dan akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi yang terjangkau dan terjamin kerahasiaannya. Pengetahuan.29) dan kelompok perlakuan (36.78%). Kesehatan Reproduksi Remaja. kembali Kesehatan Reproduksi Remaja Posted on January 19. Hasil pretes kelompok perlakuan dan kontrol sebagian besar responden berpengetahuan sedang sebanyak 29 responden (64.91) mempunyai perbedaan yang lebih besar jika dibandingkan dengan saat pretes yaitu 1.

yang pada dasarnya adalah sebagai ruang belajar dalam bersosialisasi. lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional yang berkantor pusat di Belanda. 103 responden sudah pernah hubungan seksual. Mengingat belakangan ini perilaku & pergaulan remaja dengan lawan jenisnya (pacaran) telah mengarah pada perilaku seks dan mengabaikan substansi dalam menjalin hubungan. dan mereka (94.Berangkat dari fakta diatas maka sangat dianggap penting untuk memberikan materi KESPRO kepada peserta didik. guru. Target .Kesehatan Reproduksi adalah termasuk salah satu dari sekian banyak problem remaja yang perlu mendapat perhatian bagi semua kalangan. disusul 138 responden sudah menggesekgesekkan alat kelamin tanpa berhubungan seks (petting). diperoleh informasi bahwa dari 766 responden terdapat 526 responden yang menyatakan mereka telah melakukan aktivitas seksual seperti pelukan. serta sistem reproduksi remaja. Hasil penelitian Persatuan Keluarga Berencana Indonesia pada tahun 2002 diperoleh informasi bahwa minimnya pengetahuan remaja mengenahi kesehatan reproduksi remaja dapat menjerumuskan remaja pada perilaku seks pra nikah dan sebaliknya. pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja dapat menunda prilaku seks pra nikah dikalangan remaja. dan 159 menyatakan aktivitas seksual lain selain yang disebutkan tadi. Sementara itu hasil penelitian Soetjiningsih terhadap 398 siswa SMA di Yogyakarta menunjukkan bahwa dari 84% siswa yang tidak setuju dengan perilaku seks pra nikah. 95% dari mereka menyatakan pernah mendapat pendidikan yang berkaitan dengan seksualitas. peran. 202 responden sudah pernah mencium leher (necking). Hasil penelitian yang dilakukan oleh SMA Negeri 2 Denpasar kerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.80%) juga setuju dengan pemberian pendidikan seks bagi kalangan remaja dan figure yang dianggap cocok memberikan pendidikan seks adalah dokter. World Population Foundation (WPF). Tujuan Siswa dapat memahami pentingnya menjaga kesehatan reproduksi serta memiliki wawasan mengenai fungsi. 458 responden sudah berciuman bibir. dan maupun konselor sekolah. dan berkomitmen. psikolog dan seksolog. baik orang tua. mengungkapkan emosi. komunikasi. dan Kita Sayang Remaja (Kisara) Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bali pada April 2007 yang lalu.

bkkbn. dalam http://www.com. dalam http://www.id. (Menyuguhkan informasi & video seputar peredaran narkoba di Indonesia dan bahaya penyalah gunaan narkoba). Materi Materi yang akan disampaikan terdiri dari beberapa sub pokok bahasan. Cara Pelaksanaan Kegiatan Materi diberikan dalam bentuk ceramah dan diskusi agar dapat terjalin komunikasi dan diperoleh informasi yang akurat mengenai masalah-masalah kesehatan reproduski remaja yang sedang dialami oleh siswa-siswi. Soetjiningsih. 3) Meminta siswa untuk melaporkan masalah KESPRO yang sedang dialami dalam bentuk tulisan.bnn. 2002.web. http://agammayzulfi. Siti Nurul.wordpress. sebagai berikut: Pengertian kesehatan reproduksi remaja.com. Remaja Usia 15 – 18 Tahun Banyak Lakukan Perilaku Seksual Pranikah. untuk mengetahui sejauh mana siswa dapat memahami materi yang telah diberikan. 4) Melakukan konseling kepada siswa yang mempunyai permasalahan KESPRO. pacaran sehat. http://www. (Menyuguhkan informasi seputar tips-tips untuk menjaga kesehatan reproduksi).Siswa memiliki kesadaran pentingnya menjaga kesehatan reproduksi serta memiliki keberanian dalam mengkomunikasikan masalah-masalah yang berkaitan dengan reproduksi kepada orang tua dan guru pembimbing di sekolah.gadjahmada.com/2011/01/19/kesehatan-reproduksiremajaselain-memberikan-materi-cara-belajar-efektif-saya-juga-memberikanmateri-kesehatan-reproduksi-remaja-pada-siswa-siswi-smp-ta%E2%80%99miriyahhal-ini-dilandasi-oleh-alasan/ . Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan program ini adalah sebagai berikut: 1) Penyampaian materi dan diskusi. DAFTAR PUSTAKA Qomariyah. tumbuh kembang remaja. 2008. penyakit menular seksual. diakses 22 Oktober 2008. http://www.edu.resep. Ringkasan Penelitian Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja Dikalangan Siswa SMP. 2) Melakukan evaluasi.

Kelurahan. aborsi.5% remaja pernah memanfaatkan fasilitas pelayanan khusus macam pelayanan yang diperoleh belum mencerminkan pelayanan KRR. Kegiatan awal yang dilakukan adalah Analisis Situasi terhadap siswa SMP. dll. 05 Mei 2011 | 0 komentar Masalah remaja (usia >10-1. Studi analisis mengenal kecenderungan kesehatan.ANALISIS SITUASI KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA DI INDONESIA Posted on Kamis. Masalah kesehatan remaja mencakup aspek fisik biologis dan mental. dan diduga mencapal 30. tulisan ini mengungkap secara ringkas yang bersumber dari beberapa studi yang dilakukan tentang hal tersebut. untuk mengidentifikasi masalah remaja. yaitu hubungan seksual sebelum nikah. Karang Taruna dan provider dari berbagai unit kerja seperti puskesmas. kehamilan remaja dengan segala konsekuensinya yaitu: hubungan seks pranikah. 'Studi analisis situasi di kecamatan Tebet Jakarta (tahun 1997) yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) di puskesmas Tebet. pemakaian alat kontrasepsi pada remaja. Perubahan fisik yang pesat dan perubahan endokrin/ hormonal yang sangat dramatik merupakan pemicu masalah kesehatan remaja serius karena timbuhnya dorongan motivasi seksual yang menjadikan remaja rawan terhadap penyakit dan masalah kesehatan reproduksi. Melalui interview terhadap 41 orang remaja (13-18 tahun) diketahui hanya 19.. Kader PKK dan NGO (Yayasan Kusuma Buana). sosial. . Hasil dari beberapa Studi: Sebagai gambaran tentang masalah remaj'a kaitannya dengan perkembangan kesehatan reproduksi. Banyak studi yang mengungkap bahwa perkawinan yang terlalu dini serta kehamilan dan persalinan pada usia remaja menyebabkan lbu maupun bayinya berisiko tinggi. karena mereka tidak dipersiapkan mengenai pengetahuan tentang aspek yang berhubungan dengan masalah peralihan dari masa anak ke dewasa. SMU.02% pada tahun 2000. Masalah remaja terjadi. seksi UKS. hamil diluar nikah. PMS & RIV-AIDS serta narkotika. masalah aborsi. dilakukan pengembangan model Pelayanan KRR pada tahun 1997/1998. Melalui Focus Group Diskusi (FGD) terungkap berbagai masalah remaja. dan putus sekolah karena menikah. KUA. kebutuhan remaja terhadap informasi dan pelayanan serta fasilitas pelayanan yang tersedia. mengestimasikan bahwa pada tahun 2005 Indonesia akan menjadi negara dengan proporsi populasi usia kurang 15 tahun terbesar.9 tahun) merupakan masalah yang perlu diperhatikan dalam pembangunan nasional di Indonesia.

merasa rendah diri dan menganggap anak-anak mereka sudah jauh lebih tahu dari mereka. suntik dan kondom. juga sakit mag. Timbuinya jerawat dialami oleh cukup banyak diantara mereka (36. Sebab-sebab teradinya kehamilan illegal adalah akibat kurangnya perhatian dan bimbingan orang tua. urut ke dukun. Tabel berikut ini memberikan gambaran tentang Tingkah Laku Seksual Remaja Perkotaan di Indonesia.00. pemenuhan gizi dalam makanan tidak tercukupi. infeksi dan partus macet. organ seksual. dan disampaikan oleh orang ahli atau media masa. Sebagian besar remaja menyatakan sering mengalami sakit kepala dan sulit belajar. Orang tua merasa anak telah mendapatkannya dari sekolah. Dalam waktu 4 bulan sebelum survei menurut provider. provider dan anak-anak remqja sendiri telah dilakukan di propinsi Jawa Tengah. Kelompok remaja mengetahui penyebab anemi karena kekurangan zat besi. untuk orang tua yang pendidikan lebih rendah . Disamping itu. dan propinsi jawa Timur. Perlu segera disusun model pelayanan yang menjawab kebutulian remaja. Sebagian besar provider menyatakan belum dapat menangani permasalahan KRR karena belum adanya petugas untuk pelayanan tersebut. Hubungan antara anemi dengan kesehatan reproduksi sudah diketahui oleh orang tua. orang tua. provider dan pendidik. Status gizi ibu yang buruk berkontribusi terhadap 4 dari 5 penyebab utama kematian ibu yaitu perdarahan. bacaan atau dari teman. Mereka menyatakan waktu pelayanan KRR sebaiknya jam 14. Dari semua kelompok ini ternyata membutuhkan informasi mengenai kesehatan reproduksi sehat remaja. Studi ini juga mengungkap tentang kejadian aborsi. dll. petugas kesehatan dan tokoh agama. Dari hasil FGD mereka menjelaskan tentang cara-cara. dilain pihak pelayanan KRR belum tcrsedia. baik di urban maupun rural dengan metoda indepth interview & FGD. namun ditolak.Sebagian besar remaja menyatakan belum cukup informasi dan membutuhkan informasi tentang PMS/AIDS. kehamilan/ aborsi. Jawa Timur. Tentang kontrasepsi studi darl PT Surindo temyata sudah mengetahui tentang jenis-jenis kontrasepsi. dikarenakan selama ini yang sering dipopulerkan secara gencar adalah HIV AIDS. . persiapan perkawinan. yaitu hanya sebatas pil. minum minuman keras atau carnpuran pil KB dengan sprite. hasilnya memperlihatkan bahwa remaja wanita memiliki status gizi buruk. akibat salah pergaulan dan ada pula yang ingin menguji alat kontrasepsi. ada 4 pasien remaja yang berniat untuk mcnggugurkan kandungan kepada bidan. orang tua. masalah haid/ mimpi basah. Hal ini disebabkan pada umumnya mereka nienganggap bahwa masalah seks adalah sesuuatu yang tabu atau saru. Dapat disimpulkan bahwa situasi remaja di kecamatan Tebet saat ini memerlukan penanganan segera.for adolescents Reproductive Health (1999) yang sasarannya kepada. perilaku seksual. meskipun bila dilihat dari pengetahuan remaja tentang gizi dan anemia cukup baik. Mereka hanya mengetahui bahwa penyakit anemia mengganggu proses kehamilan.00-16. hipertensi. dan obat terlarang. menggugurkan kandungan yaitu antara lain dengan minum jamu. Mengenai penyakit menular seksual (PMS) yang umum diketahui remaja adalah HIV/AIDS. serta gejalagejalanya. Sumber informasi sebaiknya dan guru sekolah. sementara kelompok remaja belum mengetahui sepenuhnya. abortus. Sementara itu studi Needs Assesssment. pendidik. Mereka setuju diadakan pelayanan KRR karena belum adanya petugas khusus untuk pelayanan tersebut. pemimpin organisasi. Dari studi yang pemah dilakukan terhadap remaja di Madura. Dari studi ini diperoleh informasi bahwa para orang tua di daerah penelitian belum mempersiapkan anak-anak mereka dalam menghadapi masa baligh. Mereka juga mengetahui bahwa fungsi alat kontrasepsi adalah untuk mencegah kehamilan serta mengatur jarak kehamilan.6%). KB.

1982 • 73 kehamilan remaja pranikah • 80% remaja yg hamil melakukan sanggama dirumah sendiri • 13% dari 846 pernikahan didahului kehamilan • 62% dari 29 mahasiswa kumpul kebo • 75% remaja wanita menjaga kegadisan Kesimpulan: • Remaja wanita merupakan satu kesempatan untuk memperbaiki keadaan dan kelangsungan matemal dan perineonatal bila mereka masuk dalam proses dengan status gizi yang baik. diperkirakan sekitar 700 sampai 800 ribu kasus per tahun. Jumlah remaja di Indonesia yaitu mereka yang berusia 10-19 tahun adalah sekitar 30 persen dari jumlah penduduk atau lebih kurang 65 juta jiwa. http://duniaremaja11.Affandi 3.UII 4. 2007 Kesehatan reproduksi remaja sudah menjadi isu global saat ini. Angka aborsi dikalangan remaja tergolong tinggi.com/ 6 sep 2007 Category Archives: Pengantar Kesehatan Reproduksi. • Pengetahuan remaja. pcndidik dan pimpinan oraganisasi terkait tentang kesehatan reproduksi remaja perlu ditingkatkan dan perlu informasi serta sosialisasinya. Tingkat kelahiran dimasa remaja (adolescence . Berbagai upaya telah dilakukan untuk membantu remaja agar memiliki pengetahuan.Istiati 2.blogspot.Sarlito Surakarta. kesadaran sikap dan perilaku seksual yang bertanggung jawab.Dasakung 5. orang tua. 1984 Yogyakarta.Penelitian Lokasi/ Tahun Temuan 1. 1984 Jakarta. Perilaku kesehatan reproduksi remaja saat ini cenderung kurang mendukung terciptanya remaja berkualitas. 1991 Jakarta. Pentingkah? Posted by akbidyo in Pengantar September 6. 1985 Yogyakarta.

pelayanan kesehatan yang kurang baik serta perundang-undangan yang belum mendukung. juga dapat mengurangi tindak aborsi yang setiap tahunnya selalu meningkat dikalangan remaja. Dengan adanya pendidikan seksual dikalangan remaja dianggap akan merangsang remaja melakukan hubungan seksual. (red) http://pikkr. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa sebagian besar remaja pernah melakukan hubungan seksual yang hanya didasari suka sama suka. Bentuk penyampaian infomasi kesehatan reproduksi remaja tidak harus dilakukan secara ”vulgar”.com/category/pengantar/ 3 des 2011 Remaja adalah masa peralihan atau transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Selain itu sebagian besar orang tua yang diharapkan dapat memberikan informasi tidak memiliki kemampuan menerangkan serta tidak memiliki informasi yang memadai. apabila kedua problem ini tidak diketahui atau dipahami maka remaja bisa tumbuh menjadi remaja yang tidak sehat secara fisik maupun emosional. tanpa memikirkan hal yang akan terjadi setelah melakukan hubungan tersebut. karena perkembangan emosi yang belum stabil dan masih rentan mengalami gejolak sosial. di dalam membahas masalah ini sangat penting. Permasalahan utama kesehatan reproduksi remaja (KRR) di Indonesia yaitu kurangnya informasi mengenai kesehatan repoduksi. Persentase remaja yang terjangkit penyakit menular seksual (PMS) serta HIV/AIDS cenderung meningkat. murid. Salah satunya dengan mengembangkan forum diskusi dalam bentuk web. maupun orang tua. Disamping itu tingkat anemia di kalangan remaja masih sekitar 40-45 persen.wordpress.pregnancy) juga masih relatif tinggi yaitu sekitar 11 persen dari seluruh kelahiran yang terjadi. masalah pergeseran perilaku seksual remaja. Sehingga diperlukan suatu pendidikan reproduksi remaja agar dapat menghindari seks bebas. yaitu problem internal dan problem eksteral. padahal anemia sangat berbahaya bagi kehamilan dan proses persalinan. banyak remaja yang mengambil jalan pintas dengan cara aborsi karena mereka merasa belum siap serta malu kepada masyarakat luas. Berbicara masalah kesehatan reproduksi dikalangan remaja seringkali dianggap sebagai suatu hal yang tabu. terutama pada keluarga. Pemberian informasi mengenai KRR masih menjadi pertentangan berbagai pihak. Remaja mempunyai dua problem besar dalam hidupnya. Penyampaian bisa dilakukan dengan pendekatan yang bermacam-macam dan disesuaikan dengan nilai dan norma yang berlaku di kalangan masyarakat Indonesia. Keterbukaan antar guru. Salah satu program Pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat yang terkait dengan kesehatan . Remaja merupakan fase kehidupan manusia yang penuh gejolak. Semua hal itu terjadi karena lemahnya akses informasi yang didapatkan para remaja. Ketika terjadi kehamilan.

serta memiliki rasa keingitahuan yang besar pada halhal baru yang mengakibatkan perilaku coba-coba tanpa didasari dengan informasi yang benar dan jelas. pemberian informasi yang secara terpisah-pisah ternyata kurang efektif karena membuat remaja semakin bingung dan mendorong untuk mencari informasi yang lebih lengkap di internet meskipun pemberian informasinya belum tentu benar. tetapi tidak pula termasuk golongan orang dewasa atau golongan tua sehingga masa remaja cenderung diartikan sebagai masa transisi atau peralihan. payudara. Perkembangan emosi yang labil dan bekal hidup yang masih perlu dipupuk menjadikan remaja lebih rentan mengalami gejolak sosial. tapi pendidikan reproduksi yang menjaga harga diri dan kehormatan diri sesuai kebudayaan bangsa. terjadi perubahan secara signifikan ( Adolescent growth spurt) pada diri remaja. khawatir. PENDAHULUAN Latar Belakang Masa remaja adalah suatu tahap antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. pendidikan reproduksi akan memberikan pengetahuan dasar tentang kebersihan dan perlindungan diri dengan cara ilmiah dan mudah dimengerti. terutama pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) karena masa pubertas terjadi pada masa tersebut.reproduksi remaja yang ada di Indonesia adalah progam Kesehatan Reproduksi Remaja. Tetapi. Dalam lembaga pendidikan. Oleh karena itu. bervariasi dari satu budaya kebudaya lain. marah. Pendidikan Reproduksi Remaja dianggap penting untuk dimasukkan kedalam kurikulum. Pada masa ini. 2008) Remaja merupakan fase kehidupan manusia dengan karakter khasnya yang penuh gejolak. mengatur dirinya sendiri sehingga terkesan egois. Kurang meratanya informasi tentang pendidikan reproduksi yang diperoleh para remeja membuat para ahli pendidikan menyisipkan pendidikan reproduksi dalam bab mata pelajaran tertentu. Peubahan ini. Menurut definisi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pendidikan reproduksi adalah suatu istilah yang digunakan untuk menjelaskan anatomi seksual. Anak mudah terpengaruh oleh lingkungan dan budaya baru yang sering bertentangan dengan norma masyarakat. ciri-ciri seks primer (organ-organ reproduksi). perhubungan seks. membuat seseorang mengalami . gelisah. Ia tidak termasuk golongan anak. Transisi ke masa dewasa. remaja (adolescence) adalah mereka yang berusia 10-18 tahun (Muchtaromah. ciri-ciri seks sekunder (rambut. dan sangat mengutamakan kepentingan kelompok atau genk sehingga mudah terpengaruh oleh teman sekelompoknya. dan mengakibatkan perubahan sikap dan perilaku anak. otot.suara ). dan aspek-aspek lain kelakuan seksual manusia (Wilkipedia Indonesia). Remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. namun secara umum didefinisikan sebagai periode dimana individu mulai bertindak terlepas dari orang tua mereka. Pendidikan Reproduksi Remaja (PRR) tidak akan mencapai tujuannya dengan baik apabila tidak mendapat dukungan dari pihak keluarga serta tripusat pendidikan lainnya. proporsi tubuh (perbandingan bagian-bagian tubuh). pembiakan seksual. Kultur pendidikan reproduksi yang sesuai di Indonesia tidak menekankan pada sisi aman dan sehat dalam berhubungan seks bebas. Karakteristik anak puber antara lain: merasa diri sudah dewasa sehingga anak sering membantah atau menentang. emosi tidak stabil sehingga anak puber cenderung merasa sedih. Remaja mengalami usia pubertas yang ditandai dengan pertumbuhan dan perubahan yang sangat pesat dan mencolok dalam proporsi tubuh sehingga menimbulkan keraguan dan perasaan tidak nyaman pada diri mereka. Perubahan fisik remaja di usia puber yang sangat pesat meliputi perubahan ukuran tubuh (tinggi dan berat badan).

prosentase penguna situs pornografi didomonasi usia remaja yang mencapai 90% ” (RRI. ”Menurut Direktur kelembagaan komunikasi Depkominfo Subagyo yang bertindak selaku pembicara pada diskusi publik tentang pemahaman dan implementasi Undang-Undang pornografi di Bandung. penulis dapat mengetahui perkembangan dunia remaja. Banyak kasus kriminal yang dilakukan oleh remaja salah satunya adalah seks bebas yang berakibat pada tindak aborsi. 3. Menurut WHO.arus globalisasi. dalam memilih dan membina kehidupan yang baik. Sehingga dapat mengantisipasi diri sendiri terhadap ajakan berbagai penyimpangan dalam pergaulan. Perlukah mata pelajaran Pendidikan Reproduksi Remaja ( PRR ) diberikan dalam kurikulum Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) ? b. studi akhir menunjukkan bahwa hampir 50% remaja di bawah usia 15 tahun dan 75% di bawah usia 19 tahun melaporkan telah melakukan hubungan seks dan hamil di luar nikah (Jilan. mengindikasikan kebutuhan informasi reproduksi remaja yang sangat tinggi tetapi belum terwadahi secara terstruktur dan terarah. 2. 4 juta melakukan aborsi.pencarian jati diri dan keingintahuan yang besar mengenai hal-hal baru.” Oleh karena itu karya tulis ini dibuat untuk pertimbangan dalam menentukan kebijakan yang terkait perkembangan generasi mendatang. moral. terutama seputar perubahan yang terjadi pada dirinya. sehingga memberikan manfaat berupa kewaspadaan dalam pergaulan. Untuk mengetahui implementasi Pendidikan Reproduksi Remaja yang diterapkan dalam kurikulum Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) Manfaat 1. Bagi Siswa Dapat terpenuhi haknya dalam memperoleh informasi mengenai pendidikan reproduksi. sehingga mendukung para remaja dalam mendapatkan informasi mengenai seksualitas yang belum tentu benar. yang sesuai dengan martabat manusia. Bagaimana PRR ( Pendidikan Reproduksi Remaja ) dilaksanakan ? Tujuan a. Sebagaimana pernah diungkapkan Daoed Joesoef tentang pentingnya pendidikan: “pendidikan merupakan alat yang menentukan sekali untuk mencapai kemajuan dalam segala bidang kehidupan. perkembangan teknologi . Di lain sisi. Pendidikan merupakan akses untuk memajukan kebudayaan. kualitas dan derajat bangsa di mata dunia internasional. Hal ini. Bagi Guru . Pencarian jati diri pada usia remaja tidak selalu terjadi secara positif sehingga mengantarkan pada perilaku tuna sosial di masyarakat. Rumusan masalah a. 2009). Untuk mengetahui kebutuhan mata pelajaran Pendidikan Reproduksi Remaja ( PRR ) dalam kurikulum Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) b. setiap tahun kira-kira 15 juta remaja berusia 15-19 tahun melahirkan.berupa internet dapat dengan mudah diakses. Bagi penulis Berdasarkan hasil studi pustaka dan analisis. Penyimpangan ini karena sebagian besar remaja belum mendapatkan pelayanan pendidikan reproduksi sesuai kebutuhan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa remaja putra maupun putri ( di Indonesia ) pernah berhubungan seksual. Serta mendapatkan akses yang terprogram tentang pendidikan reproduksi secara bertahap dan dapat dipertanggungjawabkan. 2009).

Kondisi remaja yang seperti itu sangat rentan dalam tahap perkembangannya. remaja yang lebih muda lebih kompeten daripada anak-anak.3 juta dan 70% di antaranya dilakukan oleh remaja. Jumlah kasus aborsi di Indonesia setiap tahun mencapai 2. Pusat Keluarga Berencana Indonesia. GAGASAN Kondisi Pendidikan Reproduksi untuk Remaja Pesatnya perkembangan globalisasi dan kebudayaan mempengaruhi perkembangan psikologi remaja pada fase awal ( masa pubertas). Fakta membuktikan. karena sudah masuk dalam kurikulum yang terpadu secara nasional. Bagi masyarakat Memberikan wawasan tentang perkembangan dunia remaja serta terbantu tugasnya untuk menyampaikan informasi yang berkaitan dengan pendidikan reproduksi pada anak melalui lembaga sekolah dengan kurikulum yang benar dan terstruktur berdasarkan tingkat kematangan emosional siswa. Pertumbuhan organ-organ genital yang ada. masa remaja merupakan masa semakin meningkatnya pengambilan keputusan. Hasrat yang berasal dari naluri seksualnya mulai mendorong untuk dipenuhi. Dalam perkembangan kognitifnya. Bagi Pemerintah Dapat dijadikan referensi untuk dilakukan penelitian lebih lanjut dan menjadi bahan pertimbangan keputusan untuk membuat kurikulum tambahan tentang fenomena aborsi yang berakar dari penurunan moral bangsa. problem pertama adalah problem intern yang secara alami akan terjadi pada diri remaja. sehingga berakibat fatal yaitu tumbuhnya benih didalam rahimnya. kesalahan pengambilan keputusan pada remaja yang terjadi dalam realitas yaitu tentang orientasi masyarakat terhadap remaja serta fasilitas-fasilitas yang kurang memadai terutama dalam pemberian informasi kepada remaja. Titik mula pubertas terletak pada fenomena pertumbuhan dan pemasakan fisik. Remaja menghadapi dua problem besar. karena belum adanya kesiapan mental. karena remaja perlu lebih banyak peluang mempraktekkan dan mendiskusikan keputusan yang realistis. baik didalam maupun di luar tubuh sangat menentukan bagi perkembangan tingkah laku seksual selanjutnya. mereka ingin mengetahui tentang perubahan yang terjadi pada dirinya. Remaja yang lebih tua lebih kompeten dalam mengambil keputusan dibanding remaja yang lebih muda. Menurut PKBI. 4. akhirnya jalan yang mereka lalui adalah dengan melalui aborsi. Pada masa ini. Pubertas ( puberty) ialah suatu periode kematangan kerangka dan seksual yang terjadi secara pesat terutama pada awal masa remaja. Dalam beberapa hal. Hal ini sangat fitrah karena fisiknya secara primer maupun sekunder sudah mulai berkembang. Pengalaman yang luas merupakan faktor terpenting. kehamilan tidak diinginkan di kalangan remaja hingga kini masih menjadi dilema yang belum dapat diselesaikan secara tuntas. Sehingga mempermudah guru untuk menjalankan tugas dan kewajiban dalam mengajar. terutama tentang seksualitas yang membuat mereka mulai mencari informasi seputar seksualitas dan reproduksi. Kondisi seperti itu terjadi karena informasi . remaja mulai mengalami krisis jati diri. 5. Problem berikutnya adalah problem eksteren.Dapat menerangkan tentang pendidikan reproduksi secara lebih lugas dan tuntutan untuk inovatif . Pemberian layanan informasi yang kurang mendukung dilingkungannya membuat para remaja semakin ingin tahu akan seksualitas. yaitu pada masa pemasakan seksual berupa kematangan fungsi jasmaniah yang biologis. free sex yang dilakukan remaja sebagian besar didasari dari rasa keingintahuan akan hal yang tidak mereka dapatkan dari lingkungan sekitarnya. ketika pencitraan diri remaja sangat dipengaruhi oleh kelompoknya.

masih dianggap tabu dan banyaknya hambatan kultural. dan IPA (Biologi). penyusunan kurikulum ini diprediksi mampu menghindarkan siswa dari tindak penyalahgunaan kegiatan reproduksi yang bermuara pada tindak aborsi. Adanya pemberian pendidikan reproduksi di bab tertentu dalam beberapa mata pelajaran yang terpisah. niat baik pemerintah ini belum dapat dirasakan oleh remaja secara menyeluruh.seks yang kebanyakan diterima para remaja bukan dari tangan pertama. Hal ini terkait cakupan peserta advokasi yang tidak merata. Namun sayangnya. sehingga menuntut siswa untuk mencari informasi sendiri yang belum tentu benar ( Kompas . berikutnya diikuti afektif dan psikomotor siswa. mata pelajaran yang terkait yaitu Pendidikan Agama. Dalam hal ini. atau teman dari berbagai paksaan yang menyangkut tubuh dan jiwanya. pacar. Tujuan dari pendidikan seks ini agar remaja menyadari bahwa pemegang kendali utama tubuh adalah diri sendiri. Hal tersebut juga disebabkan karena ketidaksiapan tenaga pendidik. membuat informasi tentang reproduksi menjadi jelas tetapi belum bisa dikatakan efektif karena informasi yang didapatkan terpisah-pisah bahkan tidak lengkap Pendidikan Reproduksi Remaja untuk Mengurangi Aborsi Akibat Free Sex Materi pendidikan reproduksi yang didapat siswa dari sekolah melalui bahan ajar yang terpisah kurang efektif bagi perkembangan afektif siswa. Materi pendidikan reproduksi remaja sebenarnya telah disisipkan dalam bab tertentu pada sejumlah mata pelajaran. Pengadaan Mata pelajaran Pendidikan Repoduksi Remaja ( PRR ) dalam kurikulum SMP memiliki tujuan untuk memberikan informasi secara benar dan jelas tentang reproduksi remaja. 2008 ). meliputi kondisi organ reproduksi remaja yang mulai matang. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan ( PenJasKes). Pendidikan Reproduksi Remaja ( PRR ) dalam kurikulum SMP menekankan pada pengantar perubahan organ reproduksi dan norma pergaulan remaja yang semestinya dilakukan. pemberian informasi/promosi dan konseling tentang kesehatan reproduksi remaja. Mata pelajaran Pendidikan Reproduksi Remaja ( PRR ) ini diutamakan untuk menumbuhkan kesadaran pribadi akan norma-norma untuk menghargai. Karena tidak semua remaja mendapatkan informasi ini. norma pergaulan antar jenis. ciri-ciri pubertas remaja. Kurikulum Pendidikan Reproduksi Remaja ( PRR ) disusun sesuai tingkat umur siswa. perlu dikembangkan mata pelajaran khusus yang mengakomodasi kebutuhan siswa tentang reproduksi. Aborsi yang terus meningkat dari tahun ke tahun dan sebagian besar pelakunya adalah remaja telah membuktikan betapa buruknya mental para remaja dikarenakan kurangnya pemerolehan informasi yang akurat. terbatasnya bahan ajar bagi guru. menjaga kehormatan diri sendiri sehingga tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak baik. sehingga menimbulkan korban dalam pergaulan remaja. Salah satu program Pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat yang terkait dengan kesehatan reproduksi remaja yang ada di Indonesia adalah program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) yang dikeluarkan oleh BKKBN Pusat khususnya oleh Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi yang kegiatannya adalah advokasi. Perubahan secara fisik dan psikis pada remaja. Penilaian terhadap pemberian evaluasi juga disarankan lebih berdasar pada perkembangan kognitif. Pemberian materi setiap tatap muka juga diatur agar tetap memenuhi kaidah kebudayaan bangsa. hingga efek samping penyalah gunaan kehidupan reproduksi termasuk berbagai penyakit yang menyertainya. sehingga dalam jangka panjang mampu mengurangi angka aborsi di . bukan orang tua. Dampak spesifiknya. Oleh karena itu.

22 Tahun 2003. Ratifikasi ini mengisyaratkan bahwa negara Indonesia terikat secara yuridis dan politis atas segala ketentuan yang ada di dalam konvensi tersebut. mencari dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusialaan dan kepatutan”. Kata "pendidikan" berarti "proses pengubahan sikap dan tata laku kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. Instrumen hukum tersebut dikenal dengan Undang-Undang No. remaja adalah kelompok usia 10-18 tahun) juga merupakan kelompok anak-anak yang pemenuhan hak-hak nya di jamin oleh UU Perlindungan Anak. Undang-undang inilah yang kemudian menjadi momentum penting bagi seluruh pihak untuk tetap menjalankan komitmen dalam meberikan perlindungan terhadap hak-hak anak di Indonesia ( Imoe. Pasal ini menunjukkan kejelasan secara eksplisit yang menyatakan bahwa setiap anak atau remaja berhak mendapatkan informasi untuk pengembangan dirinya. Selain itu. termasuk pendidikan reproduksi bagi remaja. menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional. secara nasional negara Indonesia telah memiliki instrumen hukum yang mengatur ketentuan mengenai pemenuhan dan perlindungan hak-hak anak. Pemerintah sebagai Pengakomodasi Kurikulum Pendidikan Reproduksi Tingginya angka aborsi di Indonesia mengindikasikan kurang terlindunginya hak anak. Artinya diperkenalkan pengetahuan fisiologi dan pemupukan etika . pembiakan seksual. Tanggung jawab dalam memberikan perlindungan menyeluruh terhadap pemenuhan hak-hak anak di dalam Undang-Undang ini di bebankan kepada negara dan pemerintah. berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusian serta mendapat perlindungan atas tindakan kekerasan dan diskriminasi. kepadanya wajib diberikan perlindungan menyeluruh terhadap segala tindakan dan situasi yang akan merugikan kehidupan seorang anak. Dalam UU Perlindungan Anak (UUPA) menyatakan bahwa ”anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun termasuk yang berada dalam kandungan”. Jika demikian. maka kelompok remaja usia SMP (menurut WHO.luasnya . 2009 ) Kata ‘perlindungan’ menjadi tekanan dalam setiap upaya pemenuhan hak anak.Indonesia yang diindikasi sebagai pelaku tindak aborsi terbesar di Asia Tenggara versi kesrepro. dan di dengar pendapatnya. yang diartikan sebagai segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-hak nya agar dapat hidup. dan aspek-aspek lain kelakuan seksual manusia (Wilkipedia Indonesia). menerima. Selain Konvensi Hak Anak. 36 tahun 1990. tumbuh. masyarakat serta orang tua. Pendidikan Reproduksi Remaja dalam Kurikulum SMP Pendidikan reproduksi adalah suatu istilah yang digunakan untuk menjelaskan anatomi seksual. menjelaskan bahwa setiap warga negara berhak atas kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengikuti pendidikan agar memperoleh pengetahuan. termasuk informasi mengenai kesehatan reproduksi remaja yang tertuang dalam pendidikan reproduksi remaja. Hal ini memperkuat alasan bahwa pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional berkewajiban mewadahi tiap anak bangsa dalam memperoleh wawasan seluas.info (2007). Pasal 10 UUPA menyebutkan bahwa ”setiap anak berhak menyatakan. Terutama hak anak mendapatkan informasi yang jelas dan benar. Secara umum pendidikan seksual adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang benar dan jelas. oleh karena itu. Indonesia adalah salah satu negara yang ikut meratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA) pada tahun 1990 melalui Keputusan Presiden No. perhubungan seks.

terjadi berbagai macam interaksi pendidikan. dan pergaulan kerja. tapi pendidikan reprodiksi yang menjaga harga diri dan kehormatan diri. masyarakat. agama. Pelaksanaan kegiatan pendidikan dalam satuan pendidikan didasarkan atas kurikulum yang berlaku secara nasional dan kurikulum yang disesuaikan dengan keadaan serta kebutuhan . sarasehan. Pendidikan reproduksi yang baik harus dilengkapi dengan pendidikan etika. dengan cara ilmiah dan mudah dimengerti : menjelaskan kepada para siswa fisiologi masa puber serta perubahan psikologi dan emosi. Menurut Kartono Mohamad dalam Bakti ( 2006). tetapi ingin menyiapkan agar remaja tahu tentang seksualitas dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum. halal-haram yang berkaitan dengan organ seks. kebutuhan pembangunan nasional. tanggungjawabnya. Pendidikan reproduksi bertujuan untuk mengetahui fungsi organ seks. dan adat istiadat serta kesiapan mental dan material seseorang Pendidikan berintikan interaksi antara pendidik dengan peserta didik dalam upaya membantu peserta didik menguasai tujuan pendidikan. 2006 ). Dari kursus. Kultur pendidikan reproduksi yang sesuai di Indonesia tidak menekankan pada sisi aman dan sehat dalam berhubungan seks bebas. Karena adanya variasi ini. pendidikan reproduksi yang baik mempunyai tujuan membina keluarga dan menjadi orang tua yang bertanggungjawab. dan tujuan yang jelas. pendidikan tentang hubungan antar sesama manusia baik dalam hubungan keluarga maupun di dalam masyarakat. dan seni sebagai guru.Usia ini merupakan usia yang rentan terhadap perubahan. Interaksi ini dapat berlangsung di lingkungan keluarga. Dalam lingkungan masyarakat. interaksi pendidikan terjadi antara orang tua sebagai pendidik dan anak sebagai peserta didik. Selain itu. menanamkan kesadaran keamanan reprodiksi para siswa serta rasa tanggung jawab mereka terhadap perilaku reproduksi (Bakti. Terutama yang terjadi berkaitan dengan masa pubertas pada remaja. Usia peserta didik tingkat Sekolah menengah Pertama ( SMP ) pada umumnya adalah 13-15 tahun. Dalam lembaga pendidikan. Interaksi ini berjalan tanpa rencana tertulis dan terjadi secara tidak disadari. Sekolah menengah Pertama ( SMP ) adalah jenjang pendidikan dasar pada pendidikan dasar di Indonesia setelah lulus sekolah dasar atau sederajat. Juga dikatakan bahwa tujuan dari pendidikan reproduksi adalah bukan untuk menimbulkan rasa ingin tahu dan ingin mencoba hubungan seksual antara remaja. ekspresi kelainan fisiologi organ reproduksi. keterampilan. tergantung kegiatan yang dilaksanakan dalam interaksi pendidikan. persiapan. pendidikan reproduksi akan memberikan pengetahuan dasar tentang kebersihan dan perlindungan diri. interaki pendidikan dalam lingkungan sekolah telah diatur dengan rencana. ceramah. Kurikulum yang berlaku juga bervariasi. serta cara pengaturan diri dan bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh perilaku reproduksi tanpa perlindungan. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian. para ahli pendidikan lebih menggunakan istilah pendidikan luar sekolah yang sifat interaksi pendidikannya kondisional Berbeda dengan interaksi pendidikan dalam lingkungan sekolah yang lebih bersifat formal. Guru sebagai pendidik telah disiapkan secara formal dan telah mempelajari ilmu. Kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaiannya dengan lingkungan. sesuai dengan jenis dan jenjang masing-masing satuan pendidikan ( Pasal 37 Undangundang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989). Pendidikan formal dalam lingkungan sekolah ditandai dengan rencana atau kurikulum formal dan tertulis. ataupun sekolah.seksual. Di lingkungan keluarga. dan panduan menghindari penyimpangan perilaku seksual sejak dini.

Persoalan kesehatan reproduksi remaja menjadi penting mengingat kesehatan reproduksi remaja akhir-akhir ini telah mencapai titik kulminasinya. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan. Sosialisasi mengenainya pun masih terkesan pilih-pilih dan belum menyeluruh. Perlu diselenggarakan mata pelajaran Pendidikan Reproduksi Remaja ( PRR ) dalam kurikulum Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) untuk memenuhi hak remaja tentang informasi reproduksi sehingga menghindarkan remaja dari tindak aborsi akibat penyalahgunaan kegiatan reproduksi. Semakin meningkatnya permasalahan tersebut menjadi PR tersendiri untuk segera diatasi. Badan kesehatan dunia (WHO) menyebutkan sekira 15 juta remaja mengalami kehamilan tidak diinginkan (KTD). Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang batasan usianya adalah 12-24 tahun . pun semakin mengkhawatirkan. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebutkan bahwa mahasiswa belum menjadi sasaran program kesehatan reproduksi remaja. Persoalan kesehatan reproduksi menjadi spesial karena masih banyak kalangan menganggap bahwa pengetahuan mengenai seksualitas masih dianggap tabu.000 kelahiran hidup. Tak heran jika Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia mencapai 307 dari setiap 100. dengan Kecamatan Pengalengan Kabupaten Bandung menjadi yang tertinggi se-Asia Tenggara dalam hal AKI (Depkes RI. 2005). dan sampai pada bertambahnya penderita HIV/AIDS menjadi persoalan yang diakibatkan dari kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi terutama soal seks. Sedangkan.lingkungan dan ciri khas satuan pendidikan yang bersangkutan( Pasal 38 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989).html Pemberian informasi mengenai kesehatan reproduksi masih sangat kurang dan belum tepat sasaran. Sekira 40-60 juta ibu dari jumlah penghuni dunia yang tidak menginginkan kehamilan tersebut mengambil jalan aborsi. dimana 60 %-nya berupaya mengakhirinya.com/2011/03/mata-pelajaran-pendidikan-reproduksi. Perilaku seksual remaja yang menyimpang menjadi dampak dari kurangnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi tersebut. Maka jelas pendidikan reproduksi remaja perlu ditambahkan dalam kurikulum SMP demi melindungi hak remaja untuk memperoleh informasi yang benar tentang reproduksi dan menghindarkan mereka dari kasus aborsi. maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. khususnya untuk remaja. kasus aborsi. 2. Tertutupnya akses pengetahuan tersebut menyebabkan perilaku menyimpang seksual menjadi semakin tinggi dan telah menjadi fenomena gunung es. perilaku seperti seks bebas. Remaja dan Reproduksi Remaja seperti tidak pernah lepas dari persoalannya. Penyusunan kurikulum Pendidikan Reproduksi Remaja ( PRR ) didasarkan umur dan tingkat emosional siswa usia Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) http://irmanovi. baik oleh pemerintah maupun kalangan perguruan tinggi. Penambahan Kurikulum Pendidikan Reproduksi Remaja pada jenjang Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) sebagai implementasi yang dilakukan untuk menghindari aborsi remaja yang diakibatkan free sex. Padahal. serta sekira 30-50 % diantaranya meninggal akibat komplikasi abortus yang tidak aman.blogspot.

dan seks berganti-ganti pasangan. situs porno di internet. Terkadang adanya informasi mengenai seksualitas bukan memberikan pelajaran malah menjadikan remaja penasaran untuk mencoba. kesehatan ibu dan anak. dan HIV/AIDS selama ini tidak diketahui oleh para remaja yang melakukan aktivitas seksual secara aktif. pubertas. besarnya minat untuk ingin tahu tersebut harus disertai dengan pengetahuan yang tepat pula. keterampilan hidup dan pengambilan keputusan. Mereka beralasan tidak dapat menahan hasrat biologis mereka sehingga memilih jalan untuk melakukan hubungan suami istri (HUS) dengan pasangannya. Kesehatan reproduksi (kespro) remaja menjadi cukup serius sepanjang hidup. Karena jika tidak segera diperhatikan. Untuk itu. apakah pendidikan tersebut akan membuat remaja paham untuk tidak mencoba ataukah malah semakin penasaran untuk mencobanya. Harus dingat dan untuk kemudian diluruskan kembali bahwa tujuan dari pendidikan seks ini adalah agar remaja menyadari bahwa pemegang kendali utama tubuh kita berada pada diri kita sendiri bukan pada orang tua. Sedangkan estimasi jumlah remaja usia 10-24 tahun di jawa barat tahun 2008 mencapai 11. Pertama. 222 orang remaja mengalami KTD. seperti mitos seputar seks. dan lainnya akan membuat pemahaman dan persepsi anak tentang seks menjadi salah pula. VCD porno. tertular penyakit menular seksual (PMS). yaitu mengenai hubungan keluarga. Beberapa cara dalam mengatasinya patut untuk dicoba. kebersihan alat reproduksi. 17 remaja tertular HIV/AIDS. remaja dengan segala dinamikanya diharapkan mampu untuk . masalah kesehatan reproduksi boleh jadi menjadi masalah yang sangat serius. Jawa Barat). 3752 remaja melakukan aktivitas yang mengarah pada HUS. Untuk itu. penanggulangan infeksi saluran reproduksi dan HIV/AIDS (Depkes RI. Pendidikan seks bagi remaja menjadi program yang begitu penting sehingga harus direalisasikan. Simpelnya alasan tersebut adalah indikasi dari adanya kekurangpahaman mengenai seksualitas. Konsekuensi-konsekuensi seperti. Kesehatan reproduksi bukan hanya menyangkut kehamilan atau yang langsung berkaitan dengan kehamilan.662. dan 47 remaja melakukan aborsi. Pengetahuan remaja tentang seks dinilai masih sangat kurang. sekira 980 remaja melakukan HUS pranikah. gender. kehamilan di luar nikah (KTD). Hal ini menjadi penting karena usia remaja adalah suatu fase dimana rasa keingintahuan untuk mencoba sangatlah besar. MCR-PKBI Jabar tahun 2001-2006 mencatat. Perilaku seksual remaja yang bermasalah serta harus menjadi perhatian adalah seks di luar nikah. tidak mengherankan jika ternyata sekarang perkembangan reproduksi berada pada ambang batas yang semakin mengkhawatirkan. seksualitas. pemberian pengetahuan tentang kesehatan reproduksi (kespro) masih sangat relevan untuk generasi muda. atau teman dari berbagai paksaan yang menyangkut tubuh dan jiwa kita. Tak hanya dari keluarga. Remaja semakin akan penasaran ketika dikekang.(WHO).000 orang (MCR. Kedua. Langkah Konkrit Pemecahan Persoalan Melihat beberapa fenomena tersebut. Jawa Barat menjadi salah satu yang tertinggi di Indonesia dalam hal tersebut. Kebanyakan dari mereka yang melakukan seks secara aktif di luar nikah dikarenakan belum mengetahui dampak perilaku seks tersebut. seks tidak aman. perlu adanya peninjauan ulang mengenai pendidikan seks dan reproduksi remaja yang telah berjalan sampai sekarang. Kesehatan reproduksi mencakup area yang lebih luas. 1995). pacar. tetapi juga pendidikan di sekolah. Departemen Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan bahwa elemen-elemen kespro di Indonesia adalah menyangkut keluarga berencana. Apalagi jika harus ditambah dengan pemberian informasi yang keliru serta dari sumber yang salah.

REPRODUKSI . alkohol.menemukan formulasi yang tepat untuk memagari diri mereka sendiri sehingga tidak terjerumus dalam pergaulan bebas (sex bebas. Sudah menjadi tugas bersama untuk memberikan pengetahuan yang tepat tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas yang masih dianggap tabu tersebut. Bayyinatul Tahun: 2008 Label: 612. Muchtaromah. Pemimpin bangsa mendatang diharapkan untuk lebih concern terhadap permasalahan kespro ini yang nampak dianak tirikan. Bayyinatul "Pendidikan reproduksi bagi anak menuju aqil baligh / Bayyinatul Muchtaromah" (2008) Judul: Pendidikan reproduksi bagi anak menuju aqil baligh / Bayyinatul Muchtaromah Penulis: Muchtaromah.STUDI DAN PENGAJARAN 2. dan narkotika) yang dapat merusak moralitas bangsa. Kesuksesan sebuah bangsa adalah akumulasi kesuksesan individunya yang salah satunya terletak pada generasi mudanya.6071 MUC p Penerbit: Malang: UIN-Malang Press Tersedia: 1 Subyek: 1. PENDIDIKAN ISLAM .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful