You are on page 1of 1

Sengketa Tanah Ulayat, Warga Ancam Menduduki Lahan Sawit PT Mutiara Agam SABTU, 21 NOVEMBER 2009 10:26 ADMINISTRATOR

Tiku, Indowarta Lima ratusan orang suku Tanjung, Nagari Manggopoh, dengan menggunakan 15 truk, Kamis (19/11) mendatangi PT Minang Agro (PT Mutiara Agam), di Muaroputih, Tiku V Jorong, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam. Kedatangan warga ke perusahaan sawit tersebut menuntut pengembalian hak tanah ulayat seluas 2.500 hektar yang selama ini diklaim PT Mutiara Agam, karena PN Lubuk Basung telah memenangkan tuntutan warga. PT Mutiara Agam merupakan perusahaan besar swasta nasional (PBSN) perkebunan sawit di kawasan Tiku, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam, yang kini sudah berubah nama menjadi PT Minang Agro. Ederman, koordinator warga Manggopoh dalam aksinya mengatakan, Aksi massa suku Tanjung Manggopoh untuk memperjuangkan hak sesuai dengan keputusan PN Lubuk Basung yang memutuskan pengembalian lahan kepada ulayat kaum, dengan ganti rugi Rp 200 miliar. Namun hingga kini, PT Mutiara Agam tetap menguasai tanah ulayat tersebut, meskipun keputusan PN Lubuk Basung memenangkan tuntutan warga atas tanah ulayat seluas 2.500 hektar, dengan register perkara nomor 14-2008, tanggal 10 Agustus 2009. Ederman juga mengancam ”Jika eksekusi tanah ulayat tidak segera dilakukan, warga akan mendirikan tenda-tenda untuk menduduki tanah ulayat mereka hingga tuntutannya direalisasikan”. Sengketa tanah ulayat seluas 2.500 hektar antara warga dengan PT Mutiara Agam (perusahaan sawit) berlangsung sejak tahun 2000. Selama ini perusahaan sawit tersebut berulangkali berpolemik baik dengan dengan masyarakat sekitar dan permasalahan tersebut seringkali terulang kembali. Tanah ulayat suku Tanjung Manggopoh seluas 2.500 hektar, sebelah selatan berbatasan dengan Batang Antokan, sebelah Utara dengan Masang Kiri, sebalah Barat dengan Talao Batang Bajangguik, dan sebelah Timur dengan tanah ulayat suku Tanjung Manggopoh. Terkait masalah tersebut, Burhanudin yang merupakan adminitratur PT Mutiara Agam mengungkapkan, pihaknya belum bisa memberikan keputusan, karena keputusan penyelesaian masalah tersebut yang menentukan adalah pimpinan perusahaan. (HA/YS)