Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

ETIKA DALAM PENDIDIKAN AKUNTANSI Oleh: Dwiyani Sudaryanti Abstract Ethicss is one of basic needs for business. It is no longer just a lyps services, but affects bussines’s continuity itself. As a source of human resources in bussiness, accounting and business education has to put serious concern on business ethics. Based on researches, students’s ethical attitudes have strong relationship with their working ethics. Teaching ethics to students is not an optional course anymore. Teaching ethics needs unconventional ways. It is not just giving materials, but also giving new perspectives, broading world of views, and shaping the way of thinking. Therefore, the first step in teching ethics to student is teaching the teachers. Key words: ethics, business ethics, accounting student’s ethics Dosen Akuntansi STIE ASIA Malang PENDAHULUAN Moral reasoning dan perkembangannya memainkan peranan penting dalam semua jenis profesi akuntansi (Louwers et al, 1992). Akuntan selalu berhadapan dengan dilemma penetapan diantara berbagai pilihan nilai-nilai yang bertentangan. Akuntan pajak, misalnya, berhadapan dengan pilihan untuk menjadi tax avoidance atau tax evasion. Akuntan internal, berhadapan dengan masalah manajemen laba. Auditor, harus berhadapan dengan konsekuensi dari penyajian informasi tentang perusahaan yang membayar fee mereka. Berbagai masalah ini, memerlukan judgment yang professional, berdasarkan kemampuan moral reasoning yang dimiliki oleh akuntan. Institusi pendidikan akuntansi, sebagai lembaga yang menyiapkan calon-calon akuntan ini bertanggungjawab menyiapkan para mahasiswanya, tidak saja dari sisi kemampuan teknis dan analitis dalam dunia kerja, namun juga dalam mempersiapkan

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

1

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

kemampuan menghadapi masalah etika yang akan mereka hadapi di dunia nyata. Apalagi Sierles (1980) menunjukkan, terdapat hubungan yang kuat antara tindakan tidak etis dalam masa kuliah dengan tindakan tidak etis di dunia kerja. Tulisan ini bertujuan memaparkan etika dalam dunia pendidikan akuntansi, khususnya penerapan pendidikan etika dalam pendidikan akuntansi. Pemaparan akan dibagi menjadi tiga bagian, pemaparan tentang etika secara umum, pengertian pendidikan etika dan urgensinya, disertai bukti empiris hubungan pendidikan etika dengan kemampuan etis mahasiswa. Bagian terakhir disajikan penelitian-penelitian etika dalam bidang pendidikan akuntansi. Tulisan ini ditutup oleh kesimpulan dan harapan penulis pada dunia pendidikan akuntansi di Indonesia.

ETIKA Ada berbagai pendapat mengenai pengertian etika.Etika didenifisikan sebagai sebuah studi mengenai tingkah laku yang berdasarkan, prinsip moral, pilihan reflektif dan berdasarkan standar tingkah laku benar atau salah (Wheelwright,1959 dalam Adams et al,1995). Menurut Profesor Robert Solomon sebagaimana

dikutip Husada (1996) etika adalah (1) karakter individu,dan (2) hukum social yang mengatur, mengendalikan, membatasi perilaku kita. Bartens (1993) membedakan pengertian etika menjadi tiga pengertian, yaitu: 1. Suatu system nilai, yaitu nilai-nilai dan norma-norma moral yang dipakai seseorang atau kelompok orang sebagai suatu pegangan bagi tingkah lakunya 2. Sebagai kode etik, yaitu kumpulan prinsip dan nilai moral yang mengatur perilaku suatu kelompok Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 2

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

3. Suatu filsafat ilmu, yaitu ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk, tentang apa yang harus dilakukan manusia dan yang tidak boleh dilakukan Sedangkan Ward et al (1993) mendefinisikan etika sebagai sebuah proses, yaitu proses penentuan yang kompleks tentang apa yang harus dilakukan dalam situasi tertentu. Pendapat Ward tersebut berdasarkan pada ketidaksetujuannya pada terlalu sederhananya persepsi umum tentang pengertian etika yang hanya dianggap sebagai pernyataan benar salah atau baik buruk. Proses itu sendiri meliputi penyeimbang pertimbangan sisi dalam (inner) dan sisi luar (outer) yang disifati oleh kombinasi unik dari pengalaman dan pembelajaran masing-masing individu. Berdasarkan berbagai pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian etika tergantung dari sudut pandang yang diambil oleh masing-masing pendefinisi. Sudut pandang tersebut adalah dari sisi proses, ilmu atau studi, dan dari sisi norma atau system nilai. Menurut Rest (1986), secara kognitif, seseorang yang berperilaku secara moral berarti melakukan empat proses psikologis sebagai berikut: 1. Menginterpretasikan situasi, yaitu dengan mempertimbangkan tindakan yang mungkin dan pengaruh tindakan tersebut pada diri sendiri maupun orang lain 2. Menetapkan tindakan-tindakan manakah yang benar secara moral (moral judgment) 3. Memberikan prioritas pada tindakan yang dianggap benar secara moral 4. Menunjukkan kekuatan dan keahlian sebagai bentuk intensitas untuk berperilaku secara moral

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

3

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

Kohlberg (1969) dalam Gaffikin (2008) menyebutkan tiga tahap perkembangan moral, dan masing-masing tahap terdiri atas 2 tingkatan. Tahap tersebut dapat dilihat dalam table berikut: Level Pre-Conventional Conventional Post-Conventional Stage 1 2 3 4 5 6 Social Orientation Obedience and punishment Individualism and exchange Good interpersonal relationship Maintaining the social order Social contract and individual rights Universal principles

Dalam tahap pertama perkembangan moral, orang bertindak berdasarkan kesesuaian dengan norma-norma social, karena dorongan dari pihak yang lebih berkuasa. Tahap kedua, diwarnai kesadaran bahwa keputusan tindakan tidak lagi atas dorongan satu orang berkuasa,tapi ada banyak pihak, sehingga yang dipilih adalah yang paling sesuai dengan kepentingannya. Tahap kedua perkembangan moral menunjukkan perluasan pandangan dalam mendasari keputusan moral. Pandangan kini kearah keberterimaan masyarakat pada keputusan. Tahap terakhir, yang merupakan perkembangan dalam level tertinggi dikarakterisasi dengan kesadaran pentingnya penciptaan masyarakat yang lebih baik. Berdasarkan pandangan Kohlberg, bisa dikatakan bahwa judgment etis sangat dipengaruhi oleh factor eksternal disamping factor internal seseorang. Trevino (1992) menyatakan bahwa moral judgment dipengaruhi oleh lingkungan dan pekerjaan, pendidikan dan pelatihan, dan kelompok pembuat keputusan seta kepemimpinan.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

4

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

Senada dengan Trevino, Husada (1996) menyatakan factor-faktor yang berpengaruh pada keputusan tidak etis, adalah: 1. Factor keuangan individu 2. Tidak ada pedoman 3. Kecerdasan emosional, perilaku dan kebiasaan 4. Lingkungan tidak etis 5. Perilaku atasan Lingkungan yang tidak etis terkait pada teori psikologi social. Teori ini menyatakan bahwa anggota mencari konformitas dengan lingkungan dan kepercayaan pada kelompok. Kepercayaan artinya, bila ditemukan perbedaan, maka ia memutuskan bahwa dirinya keliru sedangkan kelompoknya benar. Oleh karena itu, etika yang mengatur kelompok masyarakat tertentu sangat penting dalam mendorong para anggotanya bertindak etis. Keraf, sebagaimana dikutip Husada (1996). Mengelompokkan etika menjadi empat kelompok besar, yaitu etika umum, etika khusus, etika individual, dan etika social. Etika social mencakup etika profesi dan etika bisnis. Prinsip-prinsip etika profesi adalah: 1. Tanggung jawab terhadap pelaksanaan pekerjaan, terhadap dampak ke masyarakat umum 2. Keadilan,tidak melanggar hak orang lain 3. Otonomi berkode etik Sedangkan etika bisnis memiliki prinsip ideal: 1. Otonomi, bebas mengambil keputusan etis dan bertanggung jawab

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

5

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

2. Kejujuran bisnis (memenuhi kontrak, menawarkan barang jasa, tak berusaha menipu, good ethics drives good business 3. Berbuat baik (benefiance), dan tak berbuat jahat (non-malefiance), tak bermaksud merugikan 4. Prinsip keadilan 5. Hormat pada diri sendiri

PENDIDIKAN ETIKA Teori dan riset telah menunjukkan hubungan antara moral judgment dan tindakan moral (Blasi, 1980 dalam Trevino, 1992). Bagaimana seseorang berfikir, terkait dengan apa yang mereka kerjakan. Oleh karena itu, penting bagi para pendidik khususnya, untuk mengetahui cara mengarahkan moral judgment peserta didiknya. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menyelenggarakan pendidikan etika. Tujuan pendidikan etika menurut Callahan (1980), sebagaimana dikutip Hilbeitel dan Jones (1992) adalah: 1. Merangsang imajinasi moral 2. Mengenalkan persoalan-persoalan etis 3. Menimbulkan sense of moral obligation 4. Mengembangkan keahlian analitis 5. Menahan dan mengurangi disagreement dan ambiguity Secara lebih spesifik, tujuan etika bisnis menurut Gandz dan Hayes (1988) dalam McDonald dan Donleavy (1995) adalah:

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

6

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

1. Memupuk kesadaran terhadap komponen etis dalam pengambilan keputusan manajerial 2. Melegitimasi komponen etis sebagai bagian dari pengambilan keputusan manajerial 3. Menentukan rerangka konseptual untuk penganalisaan komponen-komponen dan membantu individu menjadi yakin dalam menggunakannya 4. Membantu mahasiswa dalam menerapkan analisa etis untuk aktifitas sehari-hari Sedangkan tujuan pendidikan etika dalam bidang akuntansi menurut Loeb (1988), sebagaimana dikutip Hiltebeitel dan Jones (1992) adalah: 1. Menghubungkan pendidikan akuntansi kepada persoalan-persoalan etis 2. Mengenalkan persoalan-persoalan dalam akuntansi yang memiliki implikasi etis 3. Mengembangka suatu perasaan berkewajiban atas tanggung jawab moral 4. Mengembangkan kemampuan yang berkaitan dengan konflik etis 5. Belajar menghubungkan dengan ketidakpastian profesi akuntansi 6. Menyusun tahapan untuk suatu perubahan dalam perilaku etis 7. Mengapresiasikan dan memahami sejarah dan komposisi seluruh aspek etika akuntansi dan hubungannya terhadap bidang umum dan etika Menurut Wynd dan Mager (1989), sebagaimana dikutip oleh McDonald dan Donleavy (1995), tujuan pendidikan etika secara umum seharusnya bukan untuk mengubah cara bagaimana mahasiswa menganggap bagaimana seharusnya mereka bertindak dalam situasi tertentu. Tujuan yang lebih layak adalah untuk membuat mahasiswa lebih menyadari dimensi social dan dimensi etika dalam setiap pengambilan keputusan bisnis mereka, sehingga diharapkan dimensi ini akan menjadi komponen dalam proses pengambilan keputusan mereka kelak. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 7

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

Namun tidak semua pihak menyetujui konsep pendidikan etika. McDonald dan Donleavy (1995) merangkum berbagai alas an ketidaksetujuan pada pendidikan etika, yaitu: 1. Pendidikan etika hanya sekedar bentuk respon untuk meredakan isu-isu moral yang ada 2. Pendidikan etika dianggap tidak bersifat saintis dan tidak empiris 3. Nilai-nilai etika telah tertanam pada awal kehidupan seseorang sehingga akan sangat sulit untuk mengubah sikap hidup seseorang melalaui pendidikan etika 4. Kemampuan setelah pendidikan etika tidak menjamin seseorang bertindak etis 5. Nilai-nilai etis dalam pendidikan mungkin luntur oleh tuntutan dalam dunia kerja 6. Etika bersifat ambigu, dan tidak mampu memberi jawaban konkrit 7. Pendidikan etika hanya proses indoktrinasi Kohlberg dan koleganya (Power et al., 1989 dalam Trevino, 1992) menyatakan, salah satu keterbatasan pendidikan etika adalah tidak digunakan contoh nyata dalam memberikan kasus-kasus dilematis. Selain itu, pendidikan etika saja tidak akan mengarahkan peserta didik sampai pada tahap-tahap akhir moral reasoning Kohlberg. Pada tahap yang lebih rendah, pengaruh social merupakan hal yang penting. Oleh karena itu, Kohlberg menyarankan agar para pendidik menciptakan kondisi komunitas yang layak (just communities). Salah satu contohnya adalah partisipatif dalam kegiatan akademis serta membuka seluas mungkin berbagai kemungkinan pemecahan masalah dalam diskusi. Mahasiswa diberikan kebebasan untuk menyatakan pendapatnya. Dengan metode seperti ini, akan mampu mendorong kemampuan moral reasoning. Kerr dan Smith (1995) menunjukkan bahwa mahasiswa sangat memerlukan arahan etika. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 8

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

Perlunya pendidikan etika di kalangan mahasiswa dilatarbelakangi kesadaran bahwa kebutuhan dunia bisnis, sebagai salah satu dunia yang akan ditempati mahasiswa kelak, tidak hanya kebutuhan akan manusia yang trampil dalam berbisnis, namun juga kebutuhan akan manusia yang beretika. Etika bisnis menjadi salah satu penunjang keberlangsungan hidup bisnis itu sendiri. Oleh karena penting bagi para akademisi untuk memasukkan etika ke dalam kurikulumnya. Pendidikan etika tidak hanya bagi para mahasiswa. Para akademis yang mengajarkan etika memegang peranan sangat penting dalam proses ini. Bahkan Macoby (1976 dalam Stevens et al, 1993) melancarkan kritik terhadap para akademisi karena mereka ikut membentuk sikap mahasiswa bisnis yang cenderung menggunakan otak daripada hati, akibat dari materi yang diajarkan dalam pendidikan bisnis yang mereka peroleh. Sudaryanti (2001) menunjukkan, terdapat hubungan antara pandangan etis staf pengajar dengan mahasiswanya. Pentingnya peranan pengajar dalam mengajarkan etika dinyatakan oleh Tomas (1988, dalam Kerr dan Smith, 1995) sebagai berikut; If we want to produce people who share the values of a democratic culture, they must be taught those values and not be left to acquire them by chance Selain factor pengajar, factor metode pengajaran etika pun tidak kalah penting. Sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya, Kohlberg menilai pendidikan etika tidak efektif karena tidak menunjukkan kasus-kasus nyata. Smith (1993 dalam Kerr dan Smith, 1995) menyarankan metode-metode yang bisa digunakan dalam pengajaran etika, yaitu:

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

9

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

1. Penggunaan buku teks. Buku teks untuk dijadikan landasan normative etika, misalnya yang terkait dengan kode etik 2. Penyajian kasus-kasus nyata. Penyajian kasus nyata tidak hanya sebatas kasus tersebut, namun disertai penyajian konsekuensi dari tindakan etis yang telah dilakukan. Akan lebih baik jika konsekuensi dititikberatkan pada aspek emosi psikologis, agar muncul empati dari mahasiswa. 3. Penyajian video. Penyajian video ini adalah kelanjutan dari penyajian kasus, namun dalam bentuk yang lebih hidup, karena disajikan dalam bentuk film. Video bisa berasal dari pengajar, juga bisa dijadikan tugas untuk para mahasiswa untuk menyiapkan film yang terkait dengan masalah etika. Diharapkan dengan metode ini, selain meningkatkan apresiasi mahasiswa terhadap isu etika, juga mengembangkan kemampuan interpersonal dan komunikasi. 4. Pemberian buku cerita atau novel bertema pendidikan etika. Tujuan penggunaan novel adalah untuk: a. Memperluas pemahaman mahasiswa tentang tema etika tertentu b. Memperdalam persepsi mahasiswa tentang dunia akuntansi c. Mendorong pemahaman mahasiswa akan isu etika d. Menstimulasi kreatifitas mahasiswa e. Meningkatkan performa pengajaran pendidik 5. Telaah artikel-artikel yang terkait dengan etika Factor lain yang perlu dipertimbangkan menurut Kerr dan Smith (1995) adalah evaluasi terus menerus atas bentuk pengajaran yang telah dilakukan. Evaluasi bisa dilakukan dengan cara mengadakan survey pada mahasiswa untuk mendapatkan timbal balik mengenai suatu Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 10

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

metode pengajaran tertentu maupun evaluasi tentang efektifitas materi yang telah disampaikan. PENDIDIKAN ETIKA DAN SIKAP ETIS MAHASISWA Menurut Hiltebeitel dan Jones (1992), efektifitas pendidikan etika bisa diukur dari perubahan kemampuan mahasiswa dalam; a. Mengidentifkasi respon-respon alternative terhadap situasi yang menyangkut aspek moral b. Mengidentifikasi efek dari berbagai alternative terhadap berbagai stakeholder c. Mengevaluasi implikasi etis yang terkait dengan isu akuntansi tertentu d. Mendasarkan pada berbagai prinsip etika Pengujian secara empiris mengenai keefektivan pendidikan etika memberikan hasil yang berbeda-beda. Misalnya, Glenn (1992) yang menguji pengaruh pendidikan etika selama 4 tahun pada mahasiswa bisnis, menunjukkan bahwa pendidikan tersebut berpengaruh positif pada ethical judgment (dalam McDonald dan Donleavy, 1995). Senada dengan Glenn, Gordon (1998) dan Helbietel dan Jones (1992) menunjukkan bahwa pendidikan etika mampu meningkatkan sensitifitas etis mahasiswa. Namun, Boyd (1981-1982) menunjukkan tidak adanya pengaruh yang positif antara pendidikan etika kesadaran etis (dalam Helbietel dan Jones, 1992). Sedangkan Arlow dan Ulrich (1983) menunjukkan pengaruh yang positif namun terdapat penurunan setelah 4 bulan kemudian (dalam Helbietel dan Jones, 1992). Bervariasinya hasil penelitian tentang keefektifan pendidikan akuntansi terhadap sikap etis mahasiswa, diidentifikasi oleh Weber (1990) adalah karena factor-faktor: 1. Perbedaan sampel dalam tiap penelitian (jenjang pendidikan, bidang pendidikan) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 11

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

2. Perbedaan instrumen pengukuran 3. Metode analisa 4. Focus penelitian PENELITIAN TENTANG ETIKA MAHASISWA AKUNTANSI Cohen et al (1998) melakukan penelitian yang menguji perbedaan gender dan disiplin ilmu dalam evaluasi etis, ethical intention, dan orientasi etis. Sampel penelitian mereka adalah mahasiswa undergraduate dari disiplin ilmu akuntansi, bisnis, dan liberal art dari empat universitas di Northern United States. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan disiplin ilmu mempengaruhi penilaian etis. Mahasiswa akuntansi lebih percaya bahwa tindakan yang masih dipertanyakan keetisannya merupakan tindakan kurang

etis,dibandingkan dengan penilaian mahasiswa dari bidang ilmu bisnis dan liberal art. Penelitian Cohen tersebut sama dengan yang ditemukan olehj Fischer dan Rosenzweig (1995). Fischer dan Rosenzweig menemukan bukti bahwa bidang ilmu memiliki pengaruh pada sensitifitas etis. Mahasiswa akuntansi memiliki sensitivitas etis yang paling rendah dibandingkan praktisi akuntansi dan mahasiswa MBA. Hasil ini juga sama dengan yang ditemukan oleh O’Clock dan Okleshen (1993). Sudaryanti (2001) meneliti etika dalam tema yang spesifik, yaitu persepsi etis mahasiswa akuntansi, mahasiswa manajemen, dan staf pengajar akuntansi dan manajemen terhadap praktik perataan laba (earning management). Hasil penelitian menunjukkan, tidak terdapat perbedaan antara empat kelompok tersebut dalam menilai praktik earning management dari sisi etis.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

12

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

KESIMPULAN Etika adalah hal yang sudah bersifat inheren dalam dunia manusia. Etika dalam dunia bisnis menjadi sorotan, karena tujuan umum dunia bisnis adalah memaksimalkan laba,dengan asumsi laba ekonomis jangka pendek. Padahal kesadaran pada etika bisnis juga pada akhirnya akan memperpanjang daya hidup perusahaan itu sendiri. Bisnis yang beretika meningkatkan kepercayaan masyarakat, dan kepercayaan masyarakat adalah modal penting bagi kelangsungan hidup perusahaan. Kebutuhan bisnis akan manusia yang beretika harus bisa dijawab dengan baik oleh dunia pendidikan bisnis dan akuntansi. Tanggung jawab moral para pengajar sangat diperlukan dalam mengembangkan kurikulum pendidikan bisnis dan akuntansi yang berbasis pada etika. Kesiapan staf pengajar, metode pengajaran, dan evaluasi yang terus menerus merupakan salah satu cara yang bisa ditempuh untuk mendapatkan basis pengajaran etika yang memadai bagi para mahasiswa. Daftar Pustaka Adams, B.L., F.L. Malone dan W. James (1995). Confidentiality Decisions: The Reasoning Process of CPAs in Resolving Ethical Dilemas. Journal of Bussiness Ethics, 1015-1020 Bartens, K. (1993, Juli). Etika Bisnis Menjadi Urusan Siapa?. Usahawan, No.7 th XXII Cohen, J.R., L.W. Pant, dan D.J. Sharp (1998). The Effect of Gender and Academic Dicipline Diversity on the Ethical Evaluation, Ethical Intentions, and Ethical Orientation of Potential Public Accounting Recruits. Accounting Horizons, 12, 250-270 Fischer, M. dan Rosenzweig, K. (1995). Attitudes of Students and Accounting Practitioners Concerning the Ethical Acceptability of Earnings Management. Journal of Bussiness Ethics. 433-444

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

13

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

Gaffikin, M.(2008). Accounting Theory: Research, Regulation And Accounting Practice. Australia: Pearson Education Hilbeitel, K.M. dan S.K. Jones (1992). An Assessment of Ethics Instruction in Accounting Education. Journal of Business Ethics, 11, 37-46 Hoesada, J. (1996). Etika Bisnis dan Etika Profesi dalam Era Globalisasi. Makalah dalam Konvensi Nasional Akuntansi, hal. 158-172 Kerr, D.S., dan L.M. Smith (1995). Importance of and Approaches to Incorporating Ethics into the Accounting Classsroom, Journal of Business Ethics 14, 987-995 Louwers, T.J., L.A. Ponemon, dan R.R. Radtke (1992) Examining Accountants’ Ethical Behaviour: A Review and Implications for Future Research, Behavioral Accounting Research: Foundations and Frontiers McDonald, G.M. dan G.D. Donleavy (1995). Objection to the Teaching of Business Ethics. Journal of Business Ethics, 15, 839-853 O’Clock, P dan M. Oklesen (1993). A Comparasion of Ethical Perception of Business and Engineeringn Majors. Journal of Business Ethics 12, 677-687. Sierles, F., I., Hendrickx, dan S. Circel (1980). Cheating in Medical School. Journal of Medical Education, 55, 124-125. Stevens, R.E., O.J. Harris, dan S. Williamson (1993). A Comparasion of Ethical Evaluations of Business School Faculty and Students: A Pilot Study. Journal of Business Ethics, 12, 611-619 Sudaryanti, D. (2001). Persepsi Staf Pengajar dan Mahasiswa Jurusan Akuntansi dan Manajemen Terhadap Praktik Earning Management. Tesis. Universitas Gadjah Mada Trevino, L.K (1992). Moral Reasoning and Business Ethics: Implication for Research, Education, and Management. Journal of Business Ethics, 11, 445-459 Ward, P.W., D.R. Ward dan A.B. Deck (1993). Certified Public Accountants: Ethical Perception, Skills, and Attitudes on Ethics Education. Journal of Business Ethics, 12, 601-610 Weber, J (1990). Teaching Ethics to Future Managers. Journal of Business Ethics 9,

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

14

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

15

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful