Fakta Kekerasan dalam Rumah Tangga KDRT adalah persoalan yang rumit untuk dipecahkan.

Ada banyak alasan. Boleh jadi, pelaku KDRT benar-benar tidak menyadari bahwa apa yang telah ia lakukan adalah merupakan tindak KDRT. Atau, bisa jadi pula, pelaku menyadari bahwa perbuatan yang dilakukannya merupakan tindakan KDRT. Hanya saja, ia mengabaikannya lantaran berlindung diri di bawah norma-norma tertentu yang telah mapan dalam masyarakat. Sehingga menganggap perbuatan KDRT sebagai hal yang wajar dan pribadi .

Definisi Kekerasan dalam Rumah Tangga atau KDRT, sebagaimana dikemukakan dalam Pasal 1 UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. UU PKDRT ini lahir melalui perjuangan panjang selama lebih kurang tujuh tahun yang dilakukan para aktivis gerakan perempuan dari berbagi elemen. Di Indonesia, secara legal formal, ketentuan ini mulai diberlakukan sejak tahun 2004. Misi dari Undang-undang ini adalah sebagai upaya, ikhtiar bagi penghapusan KDRT. Dengan adanya ketentuan ini, berarti negara bisa berupaya mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga, dan melindungi korban akibat KDRT. Sesuatu hal yang sebelumnya tidak bisa terjadi, karena dianggap sebagai persoalan internal keluarga seseorang. Pasalnya, secara tegas dikatakan bahwa, tindakan keekerasan fisik, psikologis, seksual, dan penelantaran rumah tangga (penelantaran ekonomi) yang dilakukan dalam lingkup rumah tangga merupakan tindak pidana. Tindakan-tindakan tersebut mungkin biasa dan bisa terjadi antara pihak suami kepada isteri dan sebaliknya, atapun orang tua terhadap anaknya. Sebagai undang-undang yang membutuhkan pengaturan khusus, selain berisikan pengaturan sanksi pidana, undang-undang ini juga mengatur tentang hukum acara, kewajiban negara dalam memberikan perlindungan segera kepada korban yang melapor. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa ketentuan ini adalah sebuah terobosan hukum yang sangat penting bagi upaya penegakan HAM, khusunya perlindungan terhadap mereka yang selama ini dirugikan dalam sebuah tatanan keluarga atau rumah tangga. Terobosan hukum lain yang juga penting dan dimuat di dalam UU PKDRT adalah identifikasi aktor-aktor yang memiliki potensi terlibat dalam kekerasan. Pada Pasal 2 UU PKDRT disebutkan bahwa lingkup rumah tangga meliputi (a) suami, isteri, dan anak, (b) orang-orang yang memiliki hubungan keluarga sebagaimana dimaksud pada huruf (a) karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga dan atau (c) orang-orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut sehingga dipandang sebagai anggota keluarga. Identifikasi kekerasan terhadap pekerja rumah tangga sebagai kekerasan domestik sempat mengundang kontraversi karena ada yang berpendapat bahwa kasus tersebut hendaknya dilihat dalam kerangka relasi pekerjaan (antara pekerja dengan majikan). Meskipun demikian, UU PKDRT mengisi jurang perlindungan hukum

karena sampai saat ini undang-undang perburuhan di Indonesia tidak mencakup pekerja rumah tangga. Sehingga korban kekerasan dalam rumah tangga adalah orang yang mengalami kekerasan dan/atau ancaman kekerasan dalam lingkup rumah tangga. UU PKDRT merupakan terbosan hukum yang positif dalam ketatanegaraan Indonesia. Dimana persoalan pribadi telah masuk menjadi wilayah publik. Pada masa sebelum UU PKDRT ada, kasus-kasus KDRT sulit untuk diselesaikan secara hukum. Hukum Pidana Indonesia tidak mengenal KDRT, bahkan kata-kata kekerasan pun tidak ditemukan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Kasus-kasus pemukulan suami terhadap isteri atau orang tua terhadap anak diselesaikan dengan menggunakan pasal-pasal tentang penganiayaan, yang kemudian sulit sekali dipenuhi unsur-unsur pembuktiannya, sehingga kasus yang diadukan, tidak lagi ditindaklanjuti. Catatan tahunan komnas perempuan sejak tahun 2001 sampai dengan 2007 menunjukkan peningkatan pelaporan kasus KDRT sebanyak lima kali lipat. Sebelum UU PKDRT lahir yaitu dalam rentang 2001 ± 2004 jumlah kasus yang dilaporkan sebanyak 9.662 kasus. Sejak diberlakukannya UU PKDRT 2005 ± 2007, terhimpun sebanyak 53.704 kasus KDRT yang dilaporkan. Data kekerasan 3.169 tahun 2001, 5.163 tahun 2002, 7.787 tahun 2003, 14.020 tahun 2004, 20.391 tahun 2005, 22.512 tahun 2006, dan 25.522 tahun 2007. Jumlah Kekerasan terhadap Perempuan (KtP) mulai meningkat dengan cukup tajam sejak tahun 2004 (lebih dari 44% dari tahun 2003) dan tahun-tahun berikut kenaikan angka KtP berkisar antara 9% - 30% (tahun 2005, 30% tahun 2006), 9% dan tahun 2007 11%. KTP ini mayoritas ditempati menurut ranah kekerasan. Maka KDRT cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan lonjakan tajam antara tahun 2004 (4.310 kasus) ke tahun 2005 (16.615 kasus). Dari data 25.522 kasus KtP pada tahun 2007, KDRT terdapat 20.380 kasus, KtP di komunitas 4.977 kasus, dan KtP dengan pelaku negara 165 kasus. Dari 215 lembaga dan tersebar dari 111 pulau yang memberikan datanya kepada Komnas Perempuan, data terbanyak berasal dari Pulau Jawa (2 di Banten, 7 di Yogyakarta, 22 di Jawa Barat, 29 di Jawa Tengah, dan 31 di Jawa Timur). Kecenderungan meningkatnya kasus KDRT yang dilaporkan ini menunjukkan adanya bangunan kesadaran masyarakat tentang kekerasan khusunya kekerasan yang terjadi di ranah rumah tangga pada umumnya dan kesadaran serta keberanian perempuan korban untuk melaporkan kasus KDRT yang dialaminya,pada khususnya. Banyaknya kasus yang dalam perjalannnya dicabut oleh pelapor yang sekaligus juga korban, lebih karena banyaknya beban gender perempuam korban yang seringkali harus ditanggung sendiri,, kuatnya budaya patriarkhi, doktrin agama, dan adat menempatkan perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga dalam situasi yang sulit untuk keluar dari lingkar kekerasan yang dialaminya, dab cenderung ragu untuk mengungkap fakta kekerasannya, bahkan korban sulit mendapat dukungan dari keluarga maupun komunitas. Keyakinan ¶berdosa¶ jika menceritakan ¶kejelekan, keburukan, atau aib¶ suami membuat banyak perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga menyimpan dalam-dalam berbagai bentuk kekerasan yang dialaminya.

meskipun fakta KDRT terbanyak tersembunyi dalam gugat cerai. Kejaksaan yang telah mengalokasikan dana secara rutin untuk menangani kasus KtP. Dan terakhir keempat.380 kasus. Kedua. Lebih kurang empat tahun sejak pengesahannya pada tahun 2004.582 kasus kekerasan psikis. layanan konseling. sehingga pengungkapan kekerasannya sendiri tidak terungkap. Dalam rangka memberikan layanan bagi perempuan korban KDRT diantara beberapa lembaya yang terlibat yakni pertama. support group. Dimana. dan penguatan ekonomi. pendampingan hukum. Dari jumlah kasus KDRT ini ada 17. sekalipun pengadilan agama menjadi lembaga yang paling banyak menangani kasus KDRT (penelantaran ekonomi dalam perkara gugat cerai) tetapi mereka tidak menggunakan UU PKDRT sebagai acuan. Menuju Upaya Pemenuhan Hak-hak Korban Harus diakui kehadiran UU PKDRT membuka jalan bagi terungkapnya kasus KDRT dan upaya perlindungan hak-hak korban. Women Crisis Center (WCC). Sayangnya. Selain itu. ancaman hukuman yang tidak mencantumkan hukuman minimal dan hanya hukuman maksimal sehingga berupa ancaman hukuman alternatif kurungan atau denda dirasa terlalu ringan bila dibandingkan . Peran aktif RS dalam memberikan layanan bagi perempuan korban kekerasan dikembangkan oleh Komnas Perempuan dan RSCM Jakarta. pelayanan medis. awalnya KDRT dianggap sebagai wilayah privat yang tidak seorang pun diluar lingkungan rumah tangga dapat memasukinya. Dengan demikian proses hukum KDRT itu sendiri tidak pernah berjalan. Ketiga.Perempuan korban menggapai keadilan PA merupakan tempat rujukan terbanyak perempuan korban KDRT menggantungkan keadilan. PP No 4 tahun 2006 tentang Pemulihan merupakan peraturan pelaksana dari UU ini. walapun UU ini dimaksudkan memberikan efek jera bagi pelaku KDRT.772 kasus terindentifikasi sebagai kekerasan terhadap isteri. terapi psikologi. yang diharapkan mempermudah proses implementasi UU sebagaimana yang tertera dalam mandat UU ini. Kasus KDRT terbanyak terdapat di PA yakni 41% dari 20.212 kasus penelantaran ekonomi dan 1. Setidaknya ada delapan macam pelayanan yang biasa diberikan WCC adalah hotline. Yang kemudian diadopsi diberbagai lembaga kesehatan lainnya. Rumah Sakit. Lembaga ini juga mengintegrasikan jender sebagai salah satu bidang pendidikan yang diajarkan kepada aparatnya. saat UUPA menjadi unit tersendiri dalam struktur kepolisian berdasarkan Peraturan Kapolri No 10/2007. dalam perjalannnya UU ini masih ada beberapa pasal yang tidak menguntungkan bagi perempuan korban kekerasanm. Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UUPA) adalah tindak lanjut dari Ruang Pelayanan Khusus (RPK) yang dibentuk sejak tahun 1999 di Kepolisian. penyediaan rumah aman atau shelter. Pemisahan antara perkara perdata (cerai) dan pidana (KDRT) dalam sistem peradilan Indonesia ternyata tidak menguntungkan kepentingan perempuan korban untuk mendapatkan keadilan. Ini menunjukkan bahwa kasus gugat cerai di PA sebagian besar berkaitan dengan kasus KDRT. para perempuan korban. Di PA ada 6. atau organisasi perempuan penyedia layanan.

Hasil dari kerjasama ini telah terwujud dari Sistem Peradilan Pidana Terpadu (SPPT) antara aparat penegak hukum dan para advokat/pengacara. Kerja-kerja ini akan terus dilanjutkan dan dikembangkan dengan menggandeng kehakiman seperti pelatihan untuk para hakim pengadilan negeri tentang KDRT. Untuk mewujutkan mandatnya kmnas perempuan bekerja dengan membentuk 4 sub komisi.Sub Kom Pemulihan. Keberadaan buku referensi ini nantinya diharapkan mampu memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang KDRT bagi hakim PA.Sukom Pemantauan dan Sub Kom Litbang dan Pendidikan. Sub Kom Reformasi Hukum dan Kebijakan pada periode 2007-2009 salah satu program kerjanya menjalin hubungan dengan aparat penegak hukum dan organisasi kemasyakatan sipil (Penguatan Penagak Hukum/PPH). psikis. Pelatihan ini dimasudkan untuk mengembangkan bangunan pengetahuan tentang KDRT. perlu upaya strategis diluar diri korban guna mendukung dan memberikan perlindungan bagi korban dalam rangka mengungkapkan kasus KDRT yang menimpanya. LSM. telah terselenggara Pelatihan bagi Hakim Peradilan Agama dengan materi KDRT. SPPT bagi pendamping korban. sebagai tempat terakhir bagi kebanyakan perempuan korban menggapai keadilan dan mengungkap kebenaran. Komitmen Komnas Perempuan Sebagai Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) yang independen. untuk itu. organisasi agama dan PT di pusat maupun daerah. regional maupun internasional. bahkan lebih menguntungkan bila menggunakan ketentuan hukum sebagaimana yang diatur dalam KUHP. termasuk hak-hak perempuan korban kekerasan. Menangkap antusiasme permintaan dari para hakim PA dalam pelatihan tersebut diatas. tidak hanya yang diatur dalam hukum nasional (UU PKDRT). keadilan dan pemulihan. yaitu hak atas kebenaran. Komnas Perempuan dalam menjalankan mandatnya bermitra kerja dengan institusi pemerintah. atau bahkan korban meninggal.Organisasi sosial dan budaya. Apalagi jika korban mengalami cacat fisik. Pada bulan November 2007. adalah keberadaan LPSK. Hal lain yang menjadi harapan besar bagi Komnas Perempuan sebagai upaya perlindungan terhadap korban yang belum maksimal diberikan oleh negara. Buku Referensi ini telah dilaunching pada bulan Juli 2008 bersama Ketua Muda Urusan Lingkungan Agama MA-RI dan Dirjen Badan Peradilan Agama MA-RI. dan advokasi revisi KUHAP. Sebagai UU yang memfokuskan pada proses penanganan hukum pidana dan penghukuman dari korban. sesuai mandatnya Komnas Perempuan memfokuskan diri pada upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan serta upaya menciptakan suasana kondusif bagi pemenuhan hak asasi perempuan. Dengan terpilihnya anggota Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban usaha perindungan sebagaimana yang tertera dalam UU PKDRT yakni segala upaya yang ditujukan untuk memberikan rasa aman . maka Komnas Perempuan menyelenggarakan workshop untuk penyusunan materi buku.dengan dampak yang diterima korban. yaitu sub komisi Reformasi Hukum. agar ada buku Referensi bagi mereka tentang KDRT. tetapi juga hukum Islam. pendataan kasus KDRT di kejaksaan.

lembaga sosial. kejaksaan. atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan penetapan pengadilan dapat segera terwujud. advokat. Semoga. pengadilan. kepolisian.kepada korban yang dilakukan oleh pihak keluarga. Sehingga terjadi kerja-kerja sinergi dalam memenuhi hak-hak korban. .

dapat saja disiksa oleh suaminya. Pembagian ruang lingkup ini yang kemudian menguak kejahatan yang selama ini tersembunyi dan ter-'lindungi' dari intervensi luar untuk membantu korban dari berbagai bentuk kekerasan dalam keluarga yang terakhir ini dikenal dengan sebutan domestic violence atau kekerasan dalam rumah tangga. . yaitu di keluarga atau domestic. pasangan hidupnya. seksual dan ekonomi. Karibia. Orang-orang dalam lingkup rumah tangga yang dimaksud adalah suami. 1993) membagi ruang lingkup terjadinya Kekerasan terhadap Perempuan atas 3 lingkup. Di Malaysia. menetap dalam rumah tangga serta orang yang bekerja membantu dan menetap dalam rumah tangga tersebut. Australia. penyiksaan terhadap pasangan. pacarnya. dimana penyiksa berupaya untuk menerapkannya terhadap istrinya atau pasangan intimnya melalui penyiksaan secara fisik. Menurut Laporan Bank Dunia tahun 1994. anak. sosial. Dan perlu diketahui bahwa tidak semua bentuk-bentuk kekerasan dalam relasi hubungan intim berlangsung antara seorang penyiksa laki-laki terhadap seorang perempuan (korban). serta orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga karena hubungan darah. di masyarakat atau public domain serta dilakukan oleh negara atau state. pengasuhan. penyiksaan terjadi pula diantara pasangan homoseksual (lesbian dan gay). mantan pasangan atau seseorang dengan siapa dia mempunyai seorang anak. seksual atau penelantaran dalam rumah tangga. Deklarasi Penghapusan Segala Bentuk Kekerasan Terhadap Perempuan[1] (PBB. Domestic violence atau KDRT [Kekerasan Dalam Rumah Tangga] juga dikenal sebagai tindakan pemukulan terhadap istri. kekerasan dalam perkawinan atau kekerasan dalam keluarga. psikis. Tercatat sejumlah negara telah lebih dahulu memberlakukan Undang-Undang mengenai domestic violence ini diantaranya Malaysia memberlakukan Akta Keganasan Rumah Tangga (1994). tindak penderaan [penganiayaan] fisik terhadap perempuan cukup tinggi jumlahnya. istri. Disebutkan pula bahwa seorang perempuan dalam situasi mengalami kekerasan dalam rumah tangganya. perkawinan. emosi. bentuk kekerasan terhadap perempuan yang terbanyak kejadiannya adalah penyiksaan terhadap istri atau tepatnya penyiksaan terhadap perempuan dalam relasi hubungan intim yang mengarah pada sistimatika kekuasaan dan kontrol. Jepang.000 (36%) perempuan Malaysia yang berumur diatas 15 tahun telah pengalami pemukulan secara fisik oleh suami atau teman lelakinya. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau yang dikenal dengan nama UU Penghapusan KDRT (disahkan 22 September 2004). Meksiko dan beberapa negara bagian di Amerika Serikat. perwalian.800. persusuan. penderaan tersebut dilakukan oleh suami atau teman lelaki korban.[2] Bagaimana tindak KDRT ini di Indonesia? Sejauhmana penegakan hukum terhadap UU Penghapusan KDRT diterapkan di negara kita? Tulisan berikut ini akan membahas topik tersebut diatas. meskipun mayoritas kasus domestic violence dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan. UU ini melarang tindak KDRT terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya dengan cara kekerasan fisik. Selandia Baru. Di tahun 1989 diperkirakan sebanyak 1. mantan suami.Pendahuluan Selama hampir empat tahun terakhir ini Indonesia telah memberlakukan Undang-Undang No. penyiksaan terhadap istri. mantan pacarnya.

Diagram 1 . Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan atau disebut Komnas Perempuan. dan 13. Data tahun 2007 Mitra Perempuan WCC mencatat 87% dari perempuan korban kekerasan yang mengakses layanannya mengalami KDRT.020 kasus) dan Jawa tengah (4. Women¶s Crisis Centre (WCC) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang menyediakan layanan pendampingan bagi Korban serta Kejaksaan.Fakta KDRT di Indonesia Hingga saat ini Indonesia belum mempunyai statistik nasional untuk tindak KDRT. Diagramdiagram berikut adalah Statistik kasus yang didampingi oleh Mitra Perempuan WCC (20042006). Lembaga-lembaga tersebut termasuk RPK [Ruang Pelayanan Khusus] atau Unit Perlindungan Perempuan dan Anak di kepolisian. Fakta tersbut juga menunjukkan 9 dari 10 perempuan korban kekerasan yang diampingi WCC mengalami gangguan kesehatan jiwa. dimana pelaku kekerasan terbanyak adalah suami dan mantan suaminya (82. Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama. Pusat Krisis Terpadu & Pusat Pelayanan Terpadu [PKT & PPT] di Rumah Sakit atau Layanan Kesehatan. mencatat bahwa di tahun 2006 sebanyak 22.12% dari mereka menderita gangguan kesehatan reproduksinya. 12 orang pernah mencoba bunuh diri.512 kasus kekerasan terhadap perempuan dilayani oleh 258 lembaga di 32 propinsi di Indonesia 74% diantaranya kasus KDRT dan terbanyak dilayani di Jakarta (7. Pencatatan data kasus KDRT dapat ditelusuri dari sejumlah institusi yang layanannya terkait sebagaimana diatur dalam UU Penghapusan KDRT dan Peraturan Pemerintah No. 4 tahun 2006 tentang Penyelenggaraan dan Kerjasama Pemulihan Korban kekerasan Dalam Rumah Tangga.75%).878 kasus)[3].

2006: Diagram 3 Perbandingan Dampak Kekerasan terhadap Kesehatan Psikis dan Reproduksi Perempuan Dampingan Mitra Perempuan WCC. 2004-2006: .Diagram 2 Bentuk-bentuk Kekerasan yang dialami 336 Perempuan Dampingan Mitra Perempuan WCC.

di samping gangguan atau kesakitan fisik. Memaksakan dilanjukannya kehamilan yang tidak diinginkan oleh Korban Perkosaan akan meningkatkan resiko kehamilan perempuan. kecacatan pada bayi dan kerusakan organ genital atau reproduksi. pemaksaan abortus. 2004-2006: Penegakan Hukum Kasus KDRT Terdapat beberapa perlindungan hukum yang telah diatur dalam UU Penghapusan KDRT ini. termasuk infeksi HIV dan AIDS. karena kekerasan seksual selalu disertai dengan kekerasan fisik dan psikis. gangguan kesehatan mental bahkan potensial terjadi kematian atau korban bunuh diri.Dampak tindak perkosaan dan kekerasan seksual lainnya terhadap kesehatan perempuan yang mengalami kekerasan sangat memprihatinkan karena berdampak pada kesehatan perempuan secara menyeluruh. Gangguan kesehatan reproduksi yang dialami perempuan yang mengalami perkosaan diantaranya Infeksi Saluran Reproduksi. abortus spontan. Infeksi Menular Seksual (IMS). kehamilan yang tidak dikehendaki. Salah satu dampak yang menimbulkan masalah serius adalah dampak secara khusus pada kesehatan reproduksi perempuan. Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR). juga diatur pidana tambahan yang dapat dijatuhkan oleh Hakim yang mengadili perkara KDRT . Tekanan psikis dan trauma yang dialami oleh perempuan hamil tersebut akan membayangi kehidupannya. Diagram 4 Perbandingan Jumlah Kasus Percobaan Bunuh Diri Perempuan Korban Kekerasan Dampingan Mitra Perempuan WCC. Di samping sanksi ancaman hukuman pidana penjara dan denda yang dapat diputuskan oleh Hakim.

yang didakwa dan dituntut dengan menggunakan pasal-pasal KUHP (pasal 351. pembatasan gerak pelaku baik yang bertujuan untuk menjauhkan pelaku dari korban dalam jarak dan waktu tertentu. Tercatat sejumlah sanksi pidana penjara antara 6 bulan hingga 2 tahun 6 bulan. pasal 45 untuk tindak kekerasan psikis berupa pengancaman. Penerapan Ancaman Pidana Penjara dan Denda Dari hasil pemantauan terhadap kasus-kasus KDRT di Jakarta. serta penetapan perlindungan sementara yang dapat ditetapkan oleh Pengadilan sejak sebelum persidangan dimulai. Belum ditemukan tuntutan yang menggunakan ancaman pidana penjara atau denda maksimal sebagaimana yang diatur dalam UU Penghapusan KDRT ini. Hakim dapat menjatuhkan pidana tambahan berupa: a. pasal 44 untuk tindak kekerasan fisik. 286 jo 287. Inisiatif untuk merancang program dan menyenggarakan konseling bagi pelaku KDRT sudah dimulai oleh Mitra Perempuan bekerjasama dengan sejumlah konselor laki-laki dari profesi terkait dan petugas BAPAS yang mempersiapkan modul untuk layanan konseling yang dibutuhkan. pasal 81 & 82 UU No. 289 & 335 untuk kasus penganiayaan anak dan perkosaan anak). Penerapan Pidana Tambahan Hingga kini belum ada putusan Pengadilan yang menjatuhkan hukuman pidana tambahan terhadap pelaku KDRT sebagaimana yang diatur oleh UU No. Hal ini dipilih oleh mereka yang tidak bermaksud mempidanakan . Bogor Tangerang. 352. 285. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT juga menggunakan KUHP dan UU No. Pasal 50 UU tersebut mengatur: ³Selain pidana sebagaimana dimaksud dalam bab ini.´ Putusan Pengadilan ini diharapkan menjadi suatu bentuk perlindungan hukum bagi hak-hak korban dan merespon kebutuhan untuk mencegah berlanjutnya ancaman tindak KDRT. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. yang telah diputuskan oleh Pengadilan Negeri dengan menggunakan pasal-pasal UU No. maupun pembatasan hak-hak tertentu dari pelaku. Sedangkan putusan Pengadilan dengan sanksi pidana penjara yang lebih tinggi hingga 6 tahun diputuskan terhadap sejumlah kasus dalam relasi KDRT. Di samping itu juga ada kebutuhan untuk menyelenggarakan program konseling yang ditujukan untuk membimbing pelaku melakukan koreksi atas perbuatan KDRT yang pernah dilakukannya. Data di WCC mencatat bahwa sejumlah perempuan menempuh upaya hukum secara perdata dengan mencantumkan alasan tindak KDRT dalam gugatan perceraian ke Pengadilan Negeri atau Pengadilan Agama.ini. 23 tahun 2004 diantaranya pasal 49 jo pasal 9 dan pasal 279 KUHP untuk tindak penelantaran dan suami menikah lagi tanpa ijin istri. 23 tahun 2002 dan pasal 287 & 288 KUHP untuk kasus perkosaan anak. penetapan pelaku mengikuti program konseling di bawah pengawasan lembaga tertentu. Depok dan Bekasi. b. penegakan hukumnya selain menggunakan UU No. 23 tahun 2004.

dan memprosesnya dalam tenggang waktu kurang dari 7 (tujuh) hari. Sosialisasi mengenai Undang-Undang Penghapusan KDRT dan Peraturan Pemerintahnya serta informasi teknis penerapannya di kalangan penegak hukum dan masyarakat luas merupakan kebutuhan mendesak yang perlu direncanakan dengan baik. Penegakan hukum untuk menerapkan Undang-Undang Penghapusan KDRT yang sarat dengan perlindungan hak-hak korban dan keluarganya memerlukan komitmen yang kuat dengan penghargaan yang tinggi terhadap nilai keadilan. d.´ Bentuk perlindungan hukum ini juga belum banyak dikenal dan diterapkan oleh para penegak hukum dan dimanfaatkan oleh masyarakat. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT selama hampir 4 (empat) tahun terakhir. e.suaminya. relawan pendamping. . teman korban. cukup memberikan gambaran bahwa upaya penghapusan KDRT merupakan upaya yang melibatkan banyak pihak dan membutuhkan penegakan hukum yang konsisten.atau pembimbing rohani. kepolisian. namun memerlukan upaya hukum agar dapat memutus mata rantai kekerasan yang dilakukan oleh suaminya selama perkawinan[4]. c. Permohonan tersebut dapat disampaikan dalam bentuk lisan atau tulisan. 23 tahun 2004. non diskriminasi dan hak asasi manusia sebagaimana telah dijamin oleh konsititusi. Berdasarkan pemantauan LSM hingga tahun 2008 ini. Pasal 29 UU ini mengatur: ´Permohonan untuk memperoleh surat perintah perlindungan dapat diajukan oleh: a. korban atau keluarga korban. b. Kesimpulan dan Saran Beberapa catatan atas penegakan hukum dan penerapan UU No. Ketua Pengadilan wajib mengeluarkan surat penetapan yang beisi perintah perlindungan tersebut dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari sejak diterimanya surat permohonan kecuali ada alasan yang patut (pasal 28). Penerapan Perlindungan Bagi Korban oleh Pengadilan Salah satu bentuk perlindungan hukum yang juga dirancang khusus untuk merespon kebutuhan korban kejahatan KDRT dan anggota keluarganya adalah penetapan yang berisi perintah perlindungan yang dapat ditetapkan oleh Pengadilan sebagaimana diatur dalam pasal-pasal 28-38 UU No. baru satu Pengadilan Negeri di Jawa Tengah yang telah beberapa kali mengeluarkan surat penetapan perintah perlindungan bagi korban.

Kes Memukul Wanita di Malaysia: prevalens. 1993. 2002. United Nations. Declaration on the Elimination of Violence against Women. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak _______. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan. 2007. edisi 53. suap dan kolusi di seluruh jajaran lembaga penegak hukum. _______.Selain itu dibutuhkan pula kondisi penegakan hukum yang bebas dan bersih dari korupsi. edisi 26. Hentikan Kekerasan Terhadap Perempuan. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Jakarta: 2007. Jakarta: Komnas Perempuan. _______. 6. Rashidah Abdullah et all. Daftar Pustaka Jurnal Perempuan. Catatan Kekerasan terhadap Perempuan & Layanan Women¶s Crisis Centre: Laporan 2007. masalah dan sikap orang awam. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. 2000. _______. Kes Memukul Wanita di Malaysia: prevalens. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan. Catatan Tahunan tentang Kekerasan Terhadap Perempuan. Peraturan Pemerintah Nomor 4 tahun 2006 tentang Penyelenggaraan dan Kerjasama Pemulihan Korban kekerasan Dalam Rumah Tangga _______. Vienna: 1993. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. 2007. 7 Maret 2007. [2] Rashidah Abdullah et all. factsheet. . Jakarta: Mitra Perempuan. Informasi Tahunan 2007. factsheet. Statistik Kekerasan dalam Rumah Tangga. masalah dan sikap orang awam (Selangor Darul Ehsan Malaysia: WAO. Kesehatan Reproduksi: Andai Perempuan Bisa Memilih. Selangor Darul Ehsan Malaysia: WAO. 2000). Mitra Perempuan. layanan sosial dan layanan publik yang terkait. Republik Indonesia. Jakarta: Mitra Perempuan. hal. End Note: [1] The United Nations Declaration on the Elimination of Violence against Women.

Catatan Kekerasan terhadap Perempuan & Layanan Women¶s Crisis Centre: Laporan 2007. [4] Mitra Perempuan. . 5. Jakarta.[3] Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. 2. hal. 7 Maret 2007. Catatan Tahunan tentang kekerasan Terhadap Perempuan. hal.

penderitaan tidak hanya dialami oleh istri saja. dalam kehidupan keluarga sering terjadi pertentangan dan perbedaan pendapat yang sering berujung pada tindak kekerasan fisik yang dilakukan oleh suami terhadap istri. Sehingga suami yang mestinya berfungsi sebagai pengayom justru berbuat yang jauh dari harapan anggota keluarganya. dan kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam setiap lapangan kehidupan termasuk dalam rumah tangga. Meskipun telah memakan cukup banyak korban dari berbagai kalangan masyarakat. amat perlu diformulasikan hukum Islam yang mampu menjadi payung yang melindungi terpelihara dan tercapainya mashlahat tersebut. dianggap sebagai Hidden crime. Perempuan adalah mitra sejajar bagi laki-laki. Pasal ini sekaligus menjustifikasi bahwa antara laki-laki dan perempuan mempunyai kedudukan yang sama di hadapan hukum.Tinjauan Sosial Dan Hukum Terhadap Kekerasan Dalam Rumah Tangga Diposting oleh : Farizal Nuh. Kekerasan terhadap istri dalam suatu rumah tangga. . Hal ini secara tegas diungkapkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 bahwa Setiap warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan itu tanpa kecuali . Sebagai akibatnya. Namun. sering oleh para ahli. S.Dibaca: 2113 kali Kekerasan dalam rumah tangga biasa dianggap sebagai Hidden crime yang telah memakan cukup banyak korban dari berbagai kalangan masyarakat. Pendahuluan Hak dan kewajiban setiap warga negara adalah sama. kewajiban. Kekerasan dalam rumah tangga dapat menghalangi pencapaian mashlahat yang bersangkut paut dengan rumah tangga dan proses regenerasi umat. tetapi juga anak-anaknya karena dalam rumah tangga tentu tidak hanya terdapat suami dan istri saja tetapi juga terdapat anak-anak yang mungkin melihat secara langsung atau minimal mendengar terjadinya tindakan kekerasan dalam rumah tangga.Kom Kategori: Artikel . Oleh karena itu. mempunyai hak. Hal ini dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan disebabkan oleh berbagai faktor.

dan hal ini tidak terjadi sebaliknya. apakah masih anak-anak atau sudah dewasa. 3. pemaksaan atau ancaman pada nyawa yang dirasakan pada seorang perempuan. Hal ini sebagaimana biasa terjadi dalam hubungan seksual antara suami dan istri di mana suami adalah pihak yang membutuhkan dan harus dipenuhi kebutuhannya. definisi kekerasan terhadap perempuan adalah setiap tindakan kekerasan verbal maupun fisik. atau psikologis. 2.kekerasan dalam rumah tangga (selanjutnya disingkat KDRT). Lebih tegas lagi dapat dikatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga terutama digunakan untuk mengontrol seksualitas perempuan dan peran reproduksi mereka. KDRT sering dianggap wajar karena adanya keyakinan bahwa memperlakukan istri sekehendak suami adalah hak suami sebagai pemimpin dan kepala dalam rumah tangga. KDRT mendapat tanggapan yang serius dari berbagai organisasi perempuan baik yang berhubungan dengan pemerintah maupun non pemerintah hingga lahirnya UU No. masih merupakan masalah sosial serius yang kurang mendapat perhatian masyarakat. Lebih jauh lagi Maggi Humm menjelaskan bahwa beberapa hal di bawah ini dapat dikategorikan sebagai unsur atau indikasi kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga yaitu: . karena: 1. KDRT terjadi dalam lembaga yang legal yaitu perkawinan. Namun. seiring berjalannya waktu. pemaksaan atau perampasan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di depan umum atau dalam kehidupan pribadi (keluarga). penghinaan atau perampasan kebebasan dan yang melanggengkan subordinasi perempuan. Definisi Kekerasan (Terhadap Perempuan) dalam Rumah Tangga Secara ringkas. KDRT memiliki ruang lingkup yang relatif tertutup (pribadi) dan terjaga privasinya karena persoalannya terjadi dalam rumah tangga (keluarga). Adapun pengertian kekerasan dalam rumah tangga. seksual. Pembahasan A. yang menyebabkan kerugian fisik atau psikologis. termasuk ancaman tindakan tertentu. sebagaimana tertuang dalam rumusan pasal 1 Deklarasi Penghapusan Tindakan Kekerasan terhadap Perempuan (istri) PBB dapat disarikan sebagai setiap tindakan berdasarkan jenis kelamin yang berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik. 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Budaya seperti inilah yang merupakan salah satu faktor awal munculnya peluang tindakan kekerasan terhadap perempuan (istri) dalam berbagai bentuknya. sebagaimana diterangkan dalam pasal 351 s.1. Di sini terlihat pengabaian dan sikap merendahkan perempuan sehingga pelaku menganggap wajar melakukan tindakan kekerasan terhadap perempuan. ia hanya diposisikan sebagai saksi pelapor atau saksi korban. . kondisi dari budaya yang timpang sebagaimana disebutkan di atas telah menyebabkan hukum. No. aparat hukum. atau ancaman pada nyawa. Dalam konsideran deklarasi PBB juga dikatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah efek dari ketimpangan historis dari hubungan-hubungan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan yang telah mengakibatkan dominasi dan diskriminasi laki-laki atas perempuan. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan pasal 31 ayat (3): Suami adalah kepala rumah tangga dan istri adalah ibu rumah tangga." Meski demikian. Tindakan kekerasan tersebut dapat merugikan fisik maupun psikologis perempuan 5. KUHAP sangat minim membicarakan hak dan kewajiban istri sebagai korban. baik dari pemerintah. KUHP juga memuat peluang istri untuk mendapat keadilan. Tindakan kekerasan itu dapat berbentuk hinaan. Dalam konteks Indonesia. Kekerasan dan penganiayaan terhadap istri dalam KUHP merupakan tindak pidana yang sanksinya lebih besar sepertiga dari tindak pidana penganiayaan biasa atau dilakukan oleh dan terhadap orang lain.d. seksual. Adapun definisi kekerasan dalam rumah tangga menurut UU No. 355 KUHP. budaya hukum) yang ada kurang responsif dalam melindungi kepentingan perempuan. Setiap tindakan kekerasan baik secara verbal maupun fisik. Tindakan tersebut diarahkan kepada korban karena ia perempuan. Begitu pula yang tercantum dalam UU. dan lain-lain 4. perampasan kebebasan. 23 Tahun 2004 yaitu: Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan. dan sistem hukum (materiil hukum. baik berupa tindakan atau perbuatan. Pernyataan dalam KUHP tersebut dipertegas lagi dengan keluarnya UU. 23 Tahun 2004 Tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) pada tanggal 22 September 2004 yang merupakan hasil kerja cukup panjang dari berbagai elemen bangsa. Tindakan kekerasan tersebut terjadi dalam lingkungan keluarga atau rumah tangga. parlemen. Dominasi ini terus dilanggengkan sehingga perempuan terus berada dalam ketertindasan. 3. 2. dan tentu saja masyarakat luas yang dalam hal ini diwakili oleh lembaga-lembaga yang mempunyai perhatian serius terhadap penyelesaian kekerasan dalam rumah tangga dan pembangunan hukum yang adil bagi seluruh lapisan masyarakat. yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik. No.

Kekerasan psikologis. serta berlaku kasar. Kekerasan fisik langsung dalam bentuk pemukulan. maupun ekonomis. membanting pintu. B. berselingkuh. Bentuk dan Faktor Kekerasan dalam Rumah Tangga Ratna Batara Munti menjelaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga dapat terjadi dalam berbagai bentuk sebagaimana diringkaskan di bawah ini yaitu: 1. Dari keterangan tentang berbagai macam bentuk kekerasan dalam rumah tangga tersebut dapat diketahui bahwa kekerasan tersebut adalah suatu tindakan yang out of control yang dapat menjadi kebiasaan jahat yang dapat merugikan pasangan. Gabungan dari berbagai kekerasan sebagaimana disebutkan di atas baik fisik. jorok. juga oleh Istiadah yang dapat diringkaskan sebagai berikut: 1. gelas. dan penelantaran rumah tangga. mendiamkan. dan meninggalkan pergi tanpa kejelasan dalam waktu lama dan tanpa tanggung jawab. pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. . 4. Adapun faktor-faktor terjadinya kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga khususnya yang dilakukan oleh suami terhadap istri telah diungkap dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Diana Ribka. Anggapan bahwa suami lebih berkuasa dari pada istri telah terkonstruk sedemikian rupa dalam keluarga dan kultur serta struktur masyarakat. menteror baik secara langsung maupun menggunakan media tertentu.psikologis. Kekerasan ekonomi. termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan. membiarkan atau bahkan memaksa istri bekerja keras. memecahkan piring. tempat bunga dan lain-lain. pencakaran sampai pengrusakan vagina (kekerasan seksual) dan kekerasan fisik secara tidak langsung yang biasanya berupa memukul meja. berupa ucapan kasar. Bahwa istri adalah milik suami oleh karena harus melaksanakan segala yang diinginkan oleh yang memiliki. Jika sudah demikian halnya maka ketimpangan hubungan kekuasaan antara suami dan istri akan selalu menjadi akar dari perilaku keras dalam rumah tangga. dan yang berkonotasi meremehkan dan menghina. juga tidak memberi nafkah setelah terjadi perceraian meskipun pengadilan memutuskan. berupa tidak diberikannya nafkah selama perkawinan atau membatasi nafkah secara sewenang-wenang. psikologis. 2. 3. Adanya hubungan kekuasaan yang tidak seimbang antara suami dan istri. Hal ini menyebabkan suami menjadi merasa berkuasa dan akhirnya bersikap sewenang-wenang terhadap istrinya.

c. ataupun kekecewaan karena tidak dipenuhinya keinginan. Ketergantungan ekonomi. 3. Hal ini biasa terjadi pada pasangan yang a. kemudian dilakukan tindakan kekerasan dengan tujuan istri dapat memenuhi keinginannya dan tidak melakukan perlawanan. Persaingan Jika di muka telah diterangkan mengenai faktor pertama kekerasan dalam rumah tangga adalah ketimpangan hubungan kekuasaan antara suami dan istri. sementara di sisi lain istri juga tidak mau terbelakang dan dikekang. Bahkan. Bahwa di satu sisi suami tidak mau kalah. 5. pergaulan. Faktor ketergantungan istri dalam hal ekonomi kepada suami memaksa istri untuk menuruti semua keinginan suami meskipun ia merasa menderita. Hal ini didasari oleh anggapan bahwa jika perempuan rewel maka harus diperlakukan secara keras agar ia menjadi penurut. memukulnya. di lingkungan kerja. dan lingkungan masyarakat di mana mereka tinggal. 4. membentaknya dan tindakan lain yang semacamnya. baik dalam hal pendidikan. . dapat menimbulkan persaingan dan selanjutnya dapat menimbulkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Dalam kasus ini biasanya suami mencari pelarian kepada mabuk-mabukan dan perbuatan negatif lain yang berujung pada pelampiasan terhadap istrinya dengan memarahinya. penguasaan ekonomi baik yang mereka alami sejak masih kuliah. Masih serba terbatas dalam kebebasan karena masih menumpang pada orang tua atau mertua. Belum siap kawin b. Maka di sisi lain. sekalipun tindakan keras dilakukan kepadnya ia tetap enggan untuk melaporkan penderitaannya dengan pertimbangan demi kelangsungan hidup dirinya dan pendidikan anak-anaknya.2. Frustasi Terkadang pula suami melakukan kekerasan terhadap istrinya karena merasa frustai tidak bisa melakukan sesuatu yang semestinya menjadi tanggung jawabnya. perimbangan antara suami dan istri. Kekerasan sebagai alat untuk menyelesaiakan konflik. Biasanya kekerasan ini dilakukan sebagai pelampiasan dari ketersinggungan. Anggapan di atas membuktikan bahwa suami sering menggunakan kelebihan fisiknya dalam menyelesaikan problem rumah tangganya. Faktor ini merupakan faktor dominan ketiga dari kasus kekerasan dalam rumah tangga. Hal ini dimanfaatkan oleh suami untuk bertindak sewenang-wenang kepada istrinya. Suami belum memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap yang mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Adapun dampak kekerasan dalam rumah tangga yang menimpa istri adalah: 1. 3. maupun secara tidak langsung. 2. karena istri menjadi ketakutan dan tidak bisa merespon secara normal ajakan berhubungan seks. kejam kepada binatang. Kekerasan psikologis dapat berdampak istri merasa tertekan. Kekerasan ekonomi mengakibatkan terbatasinya pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang diperlukan istri dan anak-anaknya. sangat minim kesempatan istri untuk mengungkapkan kekerasan yang ia alami. sehubungan dengan kekerasan yang ia lihat terjadi pada ibunya. Dalam proses sidang pengadilan. sering ngompol. mudah terserang penyait seperti sakit kepala. bahwa kekerasan tersebut juga dapat berdampak pada anak-anak. maka penderitaan akibat kekerasan ini tidak hanya dialami oleh istri saja tetapi juga anak-anaknya. Menurut hasil penelitian tim Kalyanamitra. suka minggat. Kekerasan dalam rumah tangga yang dialami anak-anak membuat anak tersebut memiliki kecenderungan seperti gugup. menyaksikan kekerasan adalah pengalaman yang amat traumatis bagi anak-anak. serta depresi yang mendalam. trauma. 4. Hal ini juga terlihat dari minimnya KUHAP membicarakan mengenai hak dan kewajiban istri sebagai korban. Hal ini penting karena bisa jadi laporan korban kepada aparat hukum dianggap bukan sebagai tindakan kriminal tapi hanya kesalahpahaman dalam keluarga.6. Dampak Kekerasan dalam Rumah Tangga Karena kekerasan sebagaimana tersebut di atas terjadi dalam rumah tangga. Kekerasan seksual dapat mengakibatkan turun atau bahkan hilangnya gairah seks. rasa takut. karena posisi dia hanya sebagai saksi pelapor atau saksi korban. gampang cemas ketika menghadapi masalah. sebagian dari anak yang hidup di tengah keluarga seperti ini juga diperlakukan secara keras dan kasar karena kehadiran anak terkadang bukan meredam sikap suami tetapi malah sebaliknya. kuper. emosi tinggi dan meledak-ledak. dan asma. Bahkan. perut. shock. Ketika bermaian sering meniru bahasa yang kasar. marah. Sebagaimana telah disebutkan di atas. Adapun dampak-dampak itu dapat berupa efek yang secara langsung dirasakan oleh anak. jelek prestasinya di sekolah. C. Kekerasan fisik langsung atau tidak langsung dapat mengakibatkan istri menderita rasa sakit fisik dikarenakan luka sebagai akibat tindakan kekerasan tersebut. gelisah dan tidak tenang. dan suka melakukan pemukulan terhadap orang lain yang tidak ia sukai . Kesempatan yang kurang bagi perempuan dalam proses hukum Pembicaraan tentang proses hukum dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga tidak terlepas dari pembicaraan hak dan kewajiban suami istri. berperilaku agresif dan kejam.

Kekerasan dalam rumah tangga yang ia lihat adalah sebagai pelajaran dan proses sosialisasi bagi dia sehingga tumbuh pemahaman dalam dirinya bahwa kekerasan dan penganiayaan adalah hal yang wajar dalam sebuah kehidupan berkeluarga. Peraturan Perundang-undangan Tentang Kekerasan ±(Fisik) Terhadap Istri. masih ada lagi akibat lain berupa hubungan negatif dengan lingkungan yang harus ditanggung anak seperti: 1. Harus pindah rumah dan sekolah jika ibunya harus pindah rumah karena menghindari kekerasan 2. Menurut Hukum Pidana Pada dasarnya. Pemahan seperti ini mengakibatkan anak berpendirian bahwa: 1. dulunya dibesarkan dalam rumah tangga yang bapaknya sering melakukan kekerasan terhadap istri dan anaknya. D. proses penetapan bahwa perbuatan seseorang dapat dipidanakan adalah karena perbuatan itu tidak dikehendaki atau tidak disukai oleh masyarakat. . Merasa disia-siakan oleh orang tua Kebanyakan anak yang tumbuh dalam rumah tangga yang penuh kekerasan akan tumbuh menjadi anak yang kejam.Dalam Rumah Tangga 1. Mereka tumbuh dewasa dengan mental yang rusak dan hilangnya rasa iba serta anggapan bahwa melakukan kekerasan terhadap istri adalah bisa diterima.80% laki-laki yang memukuli istrinya atau anak-anaknya. Menggunakan kekerasan dalam menyelesaiakan berbagai persoalan adalah baik dan wajar 4. Tidak bisa berteman atau mempertahankan teman karena sikap ayah yang membuat anak terkucil 3. Menggunakan paksaan fisik untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan adalah wajar dan baik-baik saja Di samping dampak secara langsung terhadap fisik dan psikologis sebagaimana disebutkan di atas. Salah satu ukurannya adalah bahwa perbuatan tersebut dapat merugikan atau mendatangkan korban. Penelitian membuktikan bahwa 50% . Tidak perlu menghormati perempuan 3. Satu-satunya jalan menghadapi stres dari berbagai masalah adalah dengan melakukan kekerasan 2.

terlebih lagi perbuatan itu dapat merugikan istri dan anaknya yang menjadi korban tindakannya.´ Kealpaan baru mungkin tidak dapat dipidanakan hanya jika terjadi dalam perbuatan peserta yang melakukan bantuan/ikut serta berbuat karena kealpaannya dalam perbuatan penyertaan (culpose deelneming) sebagaimana keterangan dalam pasal 56 KUHP yang berbunyi: "Dipidana sebagai pembantu sesuatu kejahatan: mereka yang sengaja memberikan bantuan pada waktu kejahatan dilakukan. karena melakukan penganiayaan berat. Dari penelusuran berbagai pasal dalam KUHP. kekerasan fisik terjadi lebih karena faktor emosi yang sudah tidak terkendali setelah didahului oleh terjadinya pertengkaran antara suami dan istri. dan anaknya. diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun. pasal 351 s. sarana atau keterangan untuk melakukan kejahatan. . Selanjutnya. baik tindak pidana tersebut dilakukan dengan sengaja ataupun karena kealpaan. dan mereka yang sengaja memberi kesempatan. 354. Perbedaan ancaman pidana antara kesengajaan dan kealpaan hanya terdapat pada berat ringannya pidana yang diancamkan. Permasalahannya adalah bahwa sebagaimana diketahui. bapaknya yang sah. kekerasan fisik terhadap istri ini bukanlah delik penyertaan di mana suami berperan sebagai pembantu atau penyerta perbuatan yang dilakukan dengan kealpaan. dengan pidana penjara paling lama delapan tahun". 353. terjadinya kesalahan mensahkan diterapkannya pidana. diperoleh data bahwa ancaman pidana dapat dikenakan kepada pelaku. penulis kutibkan pasal dalam KUHP yang memuat tindak pidana yang dilakukan dengan sengaja atau alpa dengan berat atau ringannya ancaman pidananya. Dalam kaitannya dengan kekerasan fisik terhadap istri dalam rumah tangga adalah bahwa kekerasan fisik yang dilakukan oleh suami termasuk dalam perbuatan yang tidak dikehendaki dan tidak disukai oleh masyarakat.´ Dengan demikian kekerasan fisik terhadap istri yang dilakukan oleh suami meskipun dilakukan dengan kealpaan tetap dapat dipidanakan. sehingga agak diragukan apakah suami sengaja melakukan kekerasan fisik tersebut atau tidak sengaja (alpa). yang berbuat dapat diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. Jika perbuatan mengakibatkan luka berat. disebutkan: "Barang siapa sengaja melukai berat orang lain diancam. Sedangkan dalam pasal 360 KUHP disebutkan: "Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain mendapat luka-luka berat. Untuk lebih jelasnya.Oleh karena itu. 355 KUHP menerangkan bahwa penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.d. dalam hukum pidana dikenal sebuah asas yang fundamental berkaitan dengan pemidanaan yaitu "tiada pidana tanpa kesalahan" atau dengan kata lain. Dan pada pasal 356 menyebutkan bahwa pidana yang ditentukan dalam pasal 351. istri. Ditambah lagi. Sebagaimana tersebut dalam pasal 354 KUHP tentang penganiayaan. dan 355 dapat ditambah dengan sepertiga bagi yang melakukan kejahatan itu terhadap ibunya.

istri. Jika disimak lebih lanjut mengenai pasal-pasal di atas terlihat bahwa negara hanya mengatur tindak penganiayaan sebagai kejahatan yang sifatnya umum. serta menerangkan tentang lingkup rumah tangga yang meliputi suami. 23 Tahun 2004 ini terdiri dari sepuluh bab dan lima puluh enam pasal. Bahwa asas yang mendasari dilaksanakannya penghapusan kekerasan dalam rumah tangga adalah sebagaimana tersebut dalam pasal 3 yaitu meliputi: a. Secara garis besar dapat penulis uraikan sebagai berikut: bab I berisi ketentuan umum yang menerangkan tentang definisi kekerasan dalam rumah tangga dan penghapusan kekerasan dalam rumah tangga sebagaimana tercantum dalam pasal 1. Perlindungan korban Adapun tujuannya adalah sebagaimana terdapat dalam pasal 4 yaitu: a. Negara belum mengakomodir kekerasan yang dialami istri dalam keluarga. Hal ini mengakibatkan pasal-pasal yang menjerat tindak kekerasan dalam rumah tangga itu sulit untuk diterapkan. Mencegah segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga b. 23 Tahun 2004 UU No. Oleh karena itu. Menurut UU No. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa KUHP tidak mengenal konsep kekerasan yang berbasis jender di mana sesungguhnya ada tindakan kejahatan yang dilakukan justru karena jenis kelamin. Keadilan dan kesetaraan jender c. dan d.Walaupun demikian banyak masyarakat menganggap bahwa persoalan rumah tangga adalah aib untuk diceritakan kepada orang lain. diperlukan upaya legislasi lebih lanjut untuk mengakomodasi kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga ini. dan anak (pasal 2). Melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga c. 2. Bab II berisi asas dan tujuan. Penghormatan hak asasi manusia b. Anti diskriminasi. Memelihara keutuhan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera . Menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga d.

kepolisian. dan . advokat. atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan penetapan perintah perlindungan dari pengadilan b. seksual. wajib melakukan upaya-upaya sesuai dengan batas kemampuannya untuk: a. maka ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh pemerintah sebagaimana tercantum dalam pasal 12 yang meliputi: a. lembaga sosial. psikis. sebagaimana tercantum dalam pasal 5. bahwa setiap orang dilarang melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang lain dalam lingkup rumah tangganya. kejaksaan. yaitu bahwa setiap orang yang mendengar. dan edukasi tentang kekerasan dalam rumah tangga c. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan sensitif jender dan isu kekerasan dalam rumah tangga serta menetapkan standar dan akreditasi pelayanan yang sensitif jender Adapun yang dimaksud dengan kewajiban masyarakat adalah sebagaimana tercantum dalam pasal 15. informasi. Pelayanan bimbingan rohani Bab V berisi kewajiban pemerintah dan masyarakat dalam penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Penanganan secara khusus berkaitan dengan kerahasiaan korban d. Pendampingan oleh pekerja sosial dan bantuan hukum pada setiap tingkat proses pemeriksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. pengadilan. (pasal 11). melihat. Memberikan pertolongan darurat. Untuk melaksanakan ketentuan tersebut. atau mengetahui terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. dan menerlantarkan rumah tangganya. Menyelenggarakan sosialisasi dan advokasi tentang kekerasan dalam rumah tangga d. dan e. Bab IV berisi hak-hak korban sebagaimana tercantum dalam pasal 10 yang meliputi: a.Bab III berisi larangan kekerasan dalam rumah tangga. Perlindungan dari pihak keluarga. Merumuskan kebijakan tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga b. Menyelenggarakan komunikasi. Pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis c. Memberikan perlindungan kepada korban c. Mencegah berlangsungnya tindak pidana b. baik dengan cara kekerasan fisik.

30. dan pemeriksaan di sidang pengadilan.000. Bab VII berisi upaya pemulihan korban. dan pembuktian (pasal 54 dan 55). maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 bulan atau denda paling banyak Rp. tenaga kesehatan yang wajib memeriksa korban sesuai dengan standar profesinya (pasal 40) b.000.d.000.d. bahwa untuk kepentingan pemulihan. kekerasan (fisik) dalam rumah tangga dapat dipidanakan atau dengan kata lain . dan perlindungan oleh advokat sebagaimana terdapat dalam pasal 25. korban dapat memperoleh pelayanan dari: a.000. penuntutan.000. penulis uraikan rinciannya sebagai berikut: a.Bab IX berisi Ketentuan lain-lain yang menerangkan tentang penyidikan. Jika kekerasan tersebut mengakibatkan matinya korban. Membantu proses pengajuan permohonan penetapan perlindungan kepada lembaga terkait Bab VI berisi perlindungan yang harus diberikan oleh kepolisian sebagaimana tercantum dalam pasal 16 sampai 20. maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun atau denda paling banyak Rp. 23 Tahun 2004. Jika kekerasan fisik tersebut mengakibatkan sakit dan luka berat.b. Kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp. Khusus untuk kekerasan fisik. Jika kekerasan tersebut tidak mengakibatkan penyakit atau halangan apa pun untuk menjalankan pekerjaan dan kegiatan lainnya. dan rohaniwan yang wajib memberikan konseling untuk menguatkan dan memberikan rasa aman bagi korban (pasal 41) Bab VIII berisi ketentuan pidana yang tercantum dalam pasal 44 sampai 53. UU di tutup dengan bab X tentang ketentuan penutup (pasal 56).000. perlindungan oleh rohaniwan sebagaimana terdapat dalam pasal 24. Pekerja sosial dan relawan pendamping. 15. 5. 45.000.000.c. 3. perlindungan dan pelayanan kesehatan yang terdapat dalam pasal 21. maka pelakunya dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun atau denda paling banyak Rp. dan perlindungan dari pekerja sosial dan relawan pendamping sebagaimana tercantum dalam pasal 22 dan 23. Menurut Hukum Pidana Islam Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa baik menurut KUHP maupun UU No.

Dalam hukum pidana Islam dikenal empat kelompok pemidanaan yaitu qisas. Hadis Banyak hadis yang menerangkan kewajiban suami terhadap istri sebagaimana disampaikan oleh Mu'awiyah al-Qusyairi. apakah hak seorang istri atas suaminya? Rasulullah menjawab: kamu memberinya makan seperti apa yang kamu makan. Kalau pun terjadi kasus kekerasan fisik. Di masa kini dan masa yang akan datang perlukah memformulasikan hukum pidana Islam hingga mampu menyentuh dan membereskan pelaku kekerasan dalam rumah tangga?. tidak pernah ditemukan satu kasuspun qisas diterapkan kepada suami zalim yang melakukan kekerasan fisik terhadap istrinya atau sebaliknya. bahwa seseorang yang terbukti membunuh atau melukai tanpa alasan yang haq. formulasi hukum pidana Islam secara praktikal "belum" menyentuh pelaku kekerasan dalam rumah tangga. Ya Rasulallah. demikian pula kewajiban suami untuk memenuhi nafkahnya sebagaimana dijelaskan dalam QS.S. dan ta'zir. Al-Qur'an Ayat al-Qur'an dengan tegas menyeru dan memerintahkan para suami untuk memenuhi kewajiban terhadap istrinya. Ada beberapa hal dalam Islam yang dengan kokoh mendasari perlunya upaya ini. pencuri. Dasardasar itu adalah: a. Qisas dan diyat (uang tebusan atas darah) adalah pemidanaan atas kejahatan terhadap nyawa dan badan. maka dipidana mati/luka atau membayar tebusan atas nyawa/luka dengan sejumlah besar uang. Pertanyaan inilah yang akan coba dijawab. perampok. al-Baqarah (2): 233 b. al-Nisa' (4): 19. Dalam konteks KDRT. ia menyatakan: "Saya bertanya. Dengan kata lain. memberinya pakaian seperti kamu memakai pakain. dan pemberontakan terhadap pemerintahan yang sah. diyat. Adapun hudud adalah pidana Islam yang mencakup enam hal yaitu: pidana bagi pezina. baik dalam al-Qur'an dan Hadis maupun praktek masyarakat Islam pada masa awal dan seterusnya. yaitu si suami/istri zalim. orang yang menuduh orang baik-baik berzina. maka Pidana Islam yang relevan untuk diterapkan adalah qisas karena menyangkut kezaliman. yaitu kejahatan fisik terhadap orang lain. Hanya saja.pelakunya dapat dikenai sanksi pidana. Lantas bagaimana menurut Hukum Pidana Islam (Jinayah). maka solusi hukum Islam hanya sebatas membolehkan perceraian setelah upaya penggunaan jasa hakam yang bertugas memediasi suami dan istri yang berselisih tidak berhasil (Q. hudud. yaitu mempergaulinya dengan cara yang ma'ruf (mu'asyarah bi al-ma'ruf) sebagaimana diterangkan dalam QS. Sedangkan ta'zir adalah hukuman yang diberikan atas terpidana berdasarkan pertimbangan hakim. dapatkah hal itu dipidanakan. peminum/pengguna khamr. jangan memukul .. dalam khazanah hukum Islam. al-Nisa' (4): 35). Manusia yang sehat jasmani dan rohani dengan tegas akan mengatakan "perlu".

akal. dharuriyyah. demikian diungkapkan oleh al-Syatibi. Piranti Pidana Islam Sebagaimana telah diungkapkan di atas. Mahslahat kategori dhruriyyah (primer) yang tidak bisa tidak harus terpenuhi. maka berarti suami diperintahkan untuk berlaku lembut terhadap istri. masih ada kemungkinan celah untuk mempidanakan suami/istri zalim dalam kerangka pidana Islam yaitu melalui konsep ta'zir. Lebih jauh ia mendefinisikan mashlahat sebagai sesuatu yang melindungi kepentingan-kepentingan. berlaku tidak baik terhadap istri/suami adalah bertentangan dengan salah satu kepentingan yang harus terpelihara yaitu membina keturunan dan kehormatan yang merupakan salah satu tujuan utama Syari' yaitu Allah SWT. Demikian yang dapat dipahami dari kaidah ushul "al-amru bi al-syai'i nahyun 'an dhiddihi" yang artinya: memerintahkan sesuatu berarti melarang yang sebaliknya. jiwa. Sebagaimana dijelaskan bahwa pidana ta'zir didasarkan atas kebijakan hakim. dan tahsiniyah. Namun. sedangkan pelanggaran dan kejahatan yang terjadi di masyarakat tidak hanya terbatas pada jenis kejahatan yang . Perlu digarisbawahi bahwa jenis pidana yang telah ditentukan hukumannya dalam al-Qur'an maupun Hadis sangat terbatas jumlahnya. dan harta. yaitu mashlahat yang membicarakan substansi kehidupan manusia dan pencapain apa yang dituntut oleh kualitas-kualitas emosional dan intelektualnya dalam pengertian yang mutlak. Oleh karena itu. Begitu pula ketika Hadis melarang memukul istri. terdiri dari memelihara agama. Ibn Majah) Berkaitan dengan ayat al-Qur'an dan Hadis di atas yang menyuruh suami untuk mempergauli istrinya dengan cara yang baik. dan janganlah engkau menjelekkannya kecuali kalau berada di dalam rumah (HR.wajahnya. maka suami dilarang untuk memperlakukan istri seenaknya. dan aku adalah sebaik-baik kalian terhadap keluargaku" (HR. c. Abu Dawud). Malalui celah inilah kiranya yuris Islam dapat menggali sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya khazanah hukum Islam. jinayah/pidana Islam sebagai penindak atas hal-hal yang menghalangi realisasi tujuan tersebut memang diperlukan. Begitu pula Hadis dari A'isyah yang menyatakan bahwa Rasulullah bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. hajjiyyah. Jelas sekali bahwa membina keluarga yang baik bertujuan untuk membina keturunan yang baik pula. Karenanya. Qashdu al-Syari' Tujuan utama dari Syari' (legislator) adalah mashlahat manusia. bahwa memang tidak pernah terjadi kasus qisas atas kejahatan suami terhadap istri. d. keturunan. Selanjutnya ia membagi mashlahat dalam tiga kategori.

kiranya menjadi suatu keharusan diformulasikannya hukum Islam yang mampu menjadi payung yang melindungi terpelihara dan tercapainya mashlahat tersebut. Dengan demikian. baik secara preventif dan jika perlu. Maka dengan keikhlasan mari kita bekerja.demi terwujudnya mashlahat dunia akhirat di tengah zaman yang terus berkembang. ta'zir adalah kebijakan luar biasa dari Allah dan Rasulullah bagi umatnya agar dapat menggali hukum lebih dalam sebagaimana yang telah dilakukan oleh generasi Islam terdahulu.disebutkan dalam al-Qur'an -belum lagi mempertimbangkan motiv dan modus kejahatan-. Formulasi hukum Islam ini akan berfungsi. Penutup Mengingat besarnya bahaya yang ditimbulkan oleh kekerasan dalam rumah tangga terhadap pencapaian mashlahat yang bersangkut paut dengan rumah tangga dan proses regenerasi umat.secara kuratif terhadap tindakan yang mengancam mashlahat. Allah dan Rasul-Nya telah memberikan dasar yang kokoh bagi pembangunan sistem hukum Islami demi tegaknya umat. . Adalah tantangan bagi yuris Islam dan umat secara keseluruhan untuk mewujudkan hal ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful