Pattimura

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa

Untuk Kapitan Pattimura sebagai nama kapal laut TNI dengan nomor lambung 371, lihat KRI Kapitan Patimura

Keseluruhan atau sebagian dari artikel ini membutuhkan perhatian dari ahli subyek terkait.
Jika Anda adalah ahli yang dapat membantu, silakan membantu memperbaiki kualitas artikel ini.

Kapitan Pattimura (sumber: foto-foto.com)

Kapitan Pattimura (lahir di Hualoy, Hualoy, Seram Selatan, Maluku, 8 Juni 1783 – meninggal di Ambon, Maluku, 16 Desember 1817 pada umur 34 tahun), memiliki nama asli Thomas Matulessy atau Thomas Matulessia.

Pattimura, lahir di Saparua.Ia adalah putra Frans Matulesi dengan Fransina Silahoi. Adapun dalam buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit, M Sapija menulis, "Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau merupakan nama orang di negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan". patimura sebenarnya merupakan pahlawan tanpa tanda jasa,, seperti guru pada era soeharto
Daftar isi
[sembunyikan]

• •

1 Istilah Kapitan 2 Perjuanga

akan tetapi dalam pratiknya pemindahan dinas militer ini dipaksakan [4] Kedatangan kembali kolonial Belanda pada tahun 1817 mendapat tantangan keras dari rakyat. adalah homo religiosa (makhluk agamis). Menurut Sejarawan Mansyur Suryanegara. Keyakinan mereka terhadap sesuatu kekuatan di luar jangkauan akal pikiran mereka. Rakyat Maluku akhirnya bangkit mengangkat senjata di bawah pimpinan Kapitan Pattimura [3] Maka . dari sudut sejarah dan antropologi. Bila ia melekat pada seseorang. namun secara genealogis/silsilah/keturunan adalah turunan pemimpin atau kapitan. Padahal tidak. Dari sinilah sebenarnya sebutan "kapitan" yang melekat pada diri Pattimura itu bermula. Walaupun kemudian mereka sudah memeluk agama. gelar kapitan adalah pemberian Belanda. kesaktian-kesaktian khusus yang dimiliki seseorang. Oleh sebab itu.[2] Kata "Maluku" berasal dari bahasa Arab Al Mulk atau Al Malik yang berarti Tanah Raja-Raja. serta mengabaikan Traktat London I antara lain dalam pasal 11 memuat ketentuan bahwa Residen Inggris di Ambon harus merundingkan dahulu pemindahan koprs Ambon dengan Gubenur dan dalam perjanjian tersebut juga dicantumkan dengan jelas bahwa jika pemerintahan Inggris berakhir di Maluku maka para serdadu-serdadu Ambon harus dibebaskan dalam artian berhak untuk memilih untuk memasuki dinas militer pemerintah baru atau keluar dari dinas militer. menimbulkan tafsiran yang sulit dicerna rasio modern. dan hubungan kemasyarakatan yang buruk selama dua abad. pemindahan penduduk serta pelayaran Hongi (Hongi Tochten). tingkah laku sosialnya dikendalikan kekuatan-kekuatan alam yang mereka takuti.[3] mengingat pada masa itu banyaknya kerajaan Pada tahun 1816 pihak Inggris menyerahkan kekuasaannya kepada pihak Belanda dan kemudian Belanda menetapkan kebijakan politik monopoli. Hal ini disebabkan karena kondisi politik. ekonomi. Sifat-sifat itu melekat dan berproses turun-temurun. Dia adalah pemimpin yang dianggap memiliki kharisma. Jiwa mereka bersatu dengan kekuatan-kekuatan alam. pajak atas tanah (landrente). Kesaktian itu kemudian diterima sebagai sesuatu peristiwa yang mulia dan suci. maka orang itu adalah lambang dari kekuatan mereka. leluhur bangsa ini. [1] [sunting]Perjuangan Sebelum melakukan perlawanan terhadap VOC ia pernah berkarier dalam militer sebagai mantan sersan Militer Inggris.n • • 3 Rujukan 4 Pranala luar [sunting]Istilah Kapitan Dari sejarah tentang Pattimura yang ditulis M Sapija.

menyediakan pangan dan membangun benteng-benteng pertahanan. mengatur pendidikan. tipu muslihat dan bumi hangus oleh Belanda. Pertempuran-pertempuran yang hebat melawan angkatan perang Belanda di darat dan di laut dikoordinir Kapitan Pattimura yang dibantu oleh para penglimanya antara lain Melchior Kesaulya. memimpin rakyat. salah seorang Komisaris Jenderal untuk menghadapi Patimura. Raja-raja Patih.pada waktu pecah perang melawan penjajah Belanda tahun 1817. Pertempuran yang menghancurkan pasukan Belanda tercatat seperti perebutan benteng Belanda Duurstede. Jasirah Hitu di Pulau Ambon dan Seram Selatan. Kapitan Pattimura dikukuhkan sebagai “PAHLAWAN PERJUANGAN KEMERDEKAAN” oleh pemerintah Republik Indonesia. Sulawesi dan Jawa.Ullath. Kapitan Pattimura mengatur strategi perang bersama pembantunya. . Philip Latumahina dan Ulupaha. Anthoni Rebhok. Perang Pattimura yang berskala nasional itu dihadapi Belanda dengan kekuatan militer yang besar dan kuat dengan mengirimkan sendiri Laksamana Buykes. Para tokoh pejuang akhirnya dapat ditangkap dan mengakhiri pengabdiannya di tiang gantungan pada tanggal 16 Desember 1817 di kota Ambon. Para Kapitan. Sebagai pemimpin dia berhasil mengkoordinir Raja-raja Patih dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan. Untuk jasa dan pengorbanannya itu. raja-raja di Bali. Dalam perjuangan menentang Belanda ia juga menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate dan Tidore. Ouw. Perang Pattimura hanya dapat dihentikan dengan politik adu domba. Kewibawaannya dalam kepemimpinan diakui luas oleh para Raja Patih maupun rakyat biasa. Sebagai panglima perang. Pahlawan Nasional Indonesia. Tua-tua Adat dan rakyat mengangkatnya sebagai pemimpin dan panglima perang karena berpengalaman dan memiliki sifat-sfat kesatria (kabaressi). pertempuran di pantai Waisisil dan jasirah Hatawano.

suatu pertempuran yang luar biasa terjadi. tepatnya pada tahun 1816. rakyat Maluku langsung mengalami penderitaan. . Namun setelah 18 tahun pemerintahan Inggris di Maluku. ia pun dinobatkan bergelar Kapitan Pattimura. Terkadang perpindahtanganan penguasaan dari satu negara ke negara lainnya itu malah kadang secara resmi dilakukan. Untuk itu. Begitu pemerintahan Belanda kembali berkuasa. Maluku tahun 1783. Pada tanggal 16 mei 1817. daerah ini pernah dikuasai oleh bangsa Belanda kemudian berganti dikuasai oleh bangsa Inggris dan kembali lagi oleh Belanda. Berbagai bentuk tekanan sering terjadi. Pengadilan kolonial Belanda menjatuhkan hukuman gantung padanya. Pada tahun 1798. seperti bekerja rodi. banyak wilayah Indonesia yang pernah dikuasai oleh dua negara kolonial secara bergantian. Eksekusi yang dilakukan pada tanggal 16 Desember 1817 akhirnya merenggut jiwanya. Thomas Matulessy dipilih oleh rakyat untuk memimpin perlawanan. Perlawanan sejati ditunjukkan oleh pahlawan ini dengan keteguhannya yang tidak mau kompromi dengan Belanda. Tidak tahan menerima tekanan-tekanan tersebut. pemaksaan penyerahan hasil pertanian. termasuk Residen Van den Berg. dan lain sebagainya. Beliau memilih gugur di tiang gantung sebagai Putra Kesuma Bangsa daripada hidup bebas sebagai penghianat yang sepanjang hayat akan disesali rahim ibu yang melahirkannya. Rakyat Saparua di bawah kepemimpinan Kapitan Pattimura tersebut berhasil merebut benteng Duurstede. Dalam sejarah pendudukan bangsa-bangsa eropa di Nusantara. Beberapa kali bujukan pemerintah Belanda agar beliau bersedia bekerjasama sebagai syarat untuk melepaskannya dari hukuman gantung tidak pernah menggodanya. Saparua. wilayah Maluku yang sebelumnya dikuasai oleh Belanda berganti dikuasai oleh pasukan Inggris. akhirnya rakyat pun sepakat untuk mengadakan perlawanan untuk membebaskan diri. Demikianlah wilayah Maluku. Perlawanan yang awalnya terjadi di Saparua itu kemudian dengan cepat merembet ke daerah lainnya diseluruh Maluku. ini lahir di Negeri Haria. Thomas Matulessy sempat masuk dinas militer Inggris dan terakhir berpangkat Sersan. Thomas Matulessy sendiri pernah mengalami pergantian penguasaan itu. Tentara Belanda yang ada dalam benteng itu semuanya tewas. Belanda kembali lagi berkuasa.Pahlawan Nasional: Kapitan Pattimura (Thomas Matulessy) (1783 -1817) Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Kapitan Pattimura yang bernama asli Thomas Matulessy. Perlawanannya terhadap penjajahan Belanda pada tahun 1817 sempat merebut benteng Belanda di Saparua selama tiga bulan setelah sebelumnya melumpuhkan semua tentara Belanda di benteng tersebut. Di Saparua. Namun beliau akhirnya tertangkap. tanpa perebutan. Ketika pemerintahan Inggris berlangsung.

Pattimura masih terus dibujuk. Periode 1803–1821 adalah masa perang Paderi melawan Adat dengan corak keagamaan. Alhasil. seperti menyabung ayam. Sejak tahun 1821 saat kembalinya tiga orang haji dari Mekkah. Perang Paderi melawan Belanda meletus ketika Belanda mengerahkan pasukannya menduduki Semawang pada tanggal 18 Februari 1821. Haji Sumanik dan Haji Piabang. Di sana beberapa kali dia dibujuk agar bersedia bekerjasama dengan pemerintah Belanda namun selalu ditolaknya. Satu hari sebelum eksekusi hukuman gantung dilaksanakan. Belanda kemudian melakukan operasi besar-besaran dengan mengerahkan pasukan yang lebih banyak dilengkapi dengan persenjataan yang lebih modern. Belanda tidak mau menyerahkan begitu saja benteng itu. yang semula Inggris kemudian digantikan oleh Belanda (berdasarkan Konvensi London). Akhirnya dia diadili di Pengadilan kolonial Belanda dan hukuman gantung pun dijatuhkan kepadanya. Dari perjuangannya dia meninggalkan pesan tersirat kepada pewaris bangsa ini agar sekali-kali jangan pernah menjual kehormatan diri. Bersama beberapa anggota pasukannya. Di depan benteng Victoria. Pasukan Pattimura akhirnya kewalahan dan terpukul mundur. tetapi gerakan Paderi sendiri sudah ada sejak awal abad ke-19. Di sebuah rumah di Siri Sori. Kapitan Pattimura berhasil ditangkap pasukan Belanda. yaitu Haji Miskin. Kaum Adat yang merasa terdesak. Adat yang selama itu dianut dan yang menjadi sasaran gerakan Paderi adalah kebiasaan-kebiasaan buruk. madat. keluarga. gerakan Paderi dapat dibagi menjadi dua periode. Terjadilan perbenturan antara kaum Adat dengan kaum Paderi. Padahal kaum Adat justru ingin melestarikan adat istiadat warisan leluhur mereka. a. selama tiga bulan benteng tersebut berhasil dikuasai pasukan Kapitan Patimura. Kaum Paderi berkeinginan memperbaiki masyarakat Minangkabau dengan mengembalikan kehidupannya yang sesuai dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Kapitan Pattimura gugur sebagai Pahlawan Nasional. .Pasukan Belanda yang dikirim kemudian untuk merebut kembali benteng itu juga dihancurkan pasukan Kapitan Pattimura. b. eksekusi pun dilakukan. Di lihat dari sasarannya. Namun. dan minum-minuman keras. Masa Perang Paderi melawan Belanda dapat dibagi menjadi tiga periode. Tapi Pattimura menunjukkan kesejatian perjuangannya dengan tetap menolak bujukan itu. terutama bangsa dan negara ini. dia dibawa ke Ambon. Ambon pada tanggal 16 Desember 1817. ► juka *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) Perlawanan Kaum Paderi (1821–1838 ) Tuanku Imam Bonjol Perang Paderi melawan Belanda berlangsung 1821–1838. kemudian minta bantuan kepada pihak ketiga. Walaupun begitu. berjudi. gerakan Paderi melawan kaum Adat dimulai. Belanda masih berharap Pattimura masih mau berobah sikap dengan bersedia bekerjasama dengan Belanda. Periode 1821–1838 adalah masa perang Paderi melawan Belanda dengan corak keagamaan dan patriotisme.

Pertikaian Kaum Padri vs Kaum Adat. Casus belli Belanda. Itu berarti seluruh perlawanan dari kaum Paderi berhasil dipatahkan oleh Belanda. antara lain sebagai berikut. c. Tuanku Imam Bonjol dibuang ke Cianjur. Penduduk dibebaskan dari pembayaran pajak yang berat dan kerja rodi. Pemimpin di pihak Belanda. Kaum Paderi perlu menyusun kekuatan. Benteng Bonjol berhasil dilumpuhkan oleh Belanda. ditandai dengan meredanya pertempuran. Sebaliknya. antara lain Letkol A. Raaff. Periode 1821–1825. ensiklopedia bebas Perang Padri Perang Padri Tanggal 1803–1838 Lokasi Sumatera Barat. dan tempat-tempat lain. Selanjutnya. kemudian melibatkan Pihak yang terlibat . sedangkan pihak Belanda baru memusatkan perhatiannya menghadapi perlawanan Diponegoro di Jawa. Tuanku nan Gapuk. Sulit Air. Sumatera Utara dan Riau Hasil Kemenangan Belanda. Tuanku Pasaman kemudian mengundurkan diri ke daerah Lintau. akhirnya seluruh Sumatra Barat jatuh ke tangan Belanda. d. Pertempuran menimbulkan banyak korban di kedua belah pihak. Belanda akan bertindak sebagai penengah jika terjadi perselisihan antarpenduduk. a. Hubungan dagang hanya diperbolehkan dengan Belanda. ditandai dengan perlawanan di kedua belah yang makin menghebat. Di bawah pimpinan Tuanku Pasaman. Belanda mengeluarkan Pelakat Panjang yang isinya. Belanda menjalankan siasat pengepungan mulai masuk tahun 1837 terhadap Benteng Bonjol. dipindahkan ke Ambon (1839). Akhirnya. ditandai dengan meletusnya perlawanan di seluruh daerah Minangkabau. Penduduk boleh mengatur pemerintahan sendiri. Sipinan. Tuanku Hitam. Kolonel de Stuer. Belanda mengajak berunding kaum Paderi yang berujung pada penangkapan Tuanku Imam Bonjol (25 Oktober 1837). Setelah ditahan. Periode 1830–1838. kaum Paderi menggempur pos-pos Belanda yang ada di Semawang. b.Perlawanan kaum Paderi kemudian dilanjutkan oleh Tuanku Tambusi. Pada tahun 1833.a. sedangkan di pihak Paderi ialah Tuanku Imam Bonjol. c. Periode 1825–1830. b. dan tahun 1841 dipindahkan ke Manado hingga wafat tanggal 6 November 1864. Gillavry dan Elout.F. Tuanku Nan Renceh. kemudian mendirikan benteng pertahanan di Batusangkar (Fort Van den Capellen). Mac. Belanda yang telah berhasil menguasai Lembah Tanah Datar.(*) Perang Padri Dari Wikipedia bahasa Indonesia. Setelah Imam Bonjol tertangkap. Tuanku Nan Cerdik dan Tuanku Tambusi.

Perang 1803–1821: Kaum Adat Perang 1821–1833: Kaum Adat Belanda Perang 1833–1838: Belanda Kaum Padri Kaum Padri Kaum Padri Kaum Adat Komandan Rajo Alam* Mayor Jendral Cochius Kolonel Stuers Letnan Kolonel Raaff* Letnan Kolonel Elout Letnan Kolonel Krieger Letnan Kolonel Bauer* Letnan Kolonel Michiels Mayor Laemlin* Mayor Prager Mayor du Bus* Kapten Poland .

Daftar isi [sembunyikan] 1 Latar Belakang 2 Keterlibatan Belanda 3 Genjatan Senjata 4 Tuanku Imam Bonjol . tembakau. Lukisan Rumah Gadang pada tahun 1890. Perang ini selain meruntuhkan kekuasaan Kerajaan Pagaruyung. Perang Padri ini terjadi pada kawasan Kerajaan Pagaruyung antara tahun 1803 hingga 1838. seperti perjudian. penyabungan ayam.Kapten Lange Tuanku Nan Renceh* Tuanku Pasaman* Tuanku Imam Bonjol Tuanku Rao* Tuanku Tambusai * Meninggal dunia dalam rentang waktu peperangan Perang Padri merupakan peperangan yang pada awalnya akibat pertentangan dalam masalah agama sebelum berubah menjadi peperangan melawan penjajahan. sirih. juga berdampak merosotnya perekonomian masyarakat sekitarnya serta munculnya perpindahan masyarakat dari kawasan konflik. Kemudian peperangan ini meluas dengan melibatkan Belanda.[2] Perbedaan pendapat ini memicu peperangan antara Kaum Padri yang dipimpin oleh Harimau Nan Salapan dengan Kaum Adat di bawah pimpinan Yang Dipertuan Pagaruyung waktu itu Sultan Arifin Muningsyah. Peperangan ini dimulai dengan munculnya gerakan Kaum Padri (Kaum Ulama) dalam menentang perbuatan-perbuatan yang marak waktu itu di kalangan masyarakat yang ada dalam kawasan Kerajaan Pagaruyung sekitarnya.[1] sempat mereda tahun 1825 namun kembali berkecamuk tahun 1830. dan juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan dan umumnya pelaksanaan longgar kewajiban ritual formal agama Islam. menguras harta dan mengorbankan jiwa raga. minuman keras. Perang Padri termasuk peperangan dengan rentang waktu yang cukup panjang. penggunaan madat (opium).

[3] Mengetahui hal tersebut. Haji Sumanik dan Haji Piobang yang ingin memperbaiki syariat Islam yang belum sempurna dijalankan oleh masyarakat Minangkabau. Serangan ini menyebabkan Sultan Arifin Muningsyah terpaksa menyingkir dan melarikan diri dari ibu kota kerajaan. Tuanku Nan Renceh sangat tertarik lalu ikut mendukung keinginan ketiga orang Haji tersebut bersama dengan ulama lain di Minangkabau yang tergabung dalam Harimau Nan Salapan.[4] Harimau Nan Salapan kemudian meminta Tuanku Lintau untuk mengajak Yang Dipertuan Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah beserta Kaum Adat untuk meninggalkan beberapa kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang Kerajaan Pagaruyung dan pecahlah peperangan di Koto Tangah.[6] [sunting]Keterlibatan Belanda Karena terdesak dalam peperangan dan keberadaan Yang Dipertuan Pagaruyung yang tidak pasti. Seiring itu beberapa nagari dalam Kerajaan Pagaruyung bergejolak. walaupun sebetulnya Sultan Tangkal Alam Bagagar waktu itu dianggap tidak berhak membuat perjanjian dengan mengatasnamakan Kerajaan Pagaruyung. menyebutkan bahwa ia hanya mendapati sisa-sisa Istana Kerajaan Pagaruyung yang sudah terbakar. Belanda menjadikannya sebagai tanda penyerahan .[7] Akibat dari perjanjian ini.5 Peperangan Jilid Kedua 6 Perlawanan Bersama 7 Serangan ke Bonjol 8 Benteng Bonjol 9 Pengepungan Bonjol 10 Perundingan 11 Akhir Peperangan 12 Referensi 13 Daftar Pustaka [sunting]Latar Belakang Perang Padri dilatarbelakangi oleh kepulangan tiga orang Haji dari Mekkah sekitar tahun 1803. Dalam beberapa perundingan tidak ada kata sepakat antara Kaum Padri dengan Kaum Adat. puncaknya pada tahun 1815. maka Kaum Adat yang dipimpin oleh Sultan Tangkal Alam Bagagar meminta bantuan kepada Belanda pada tanggal 21 Februari 1821. yaitu Haji Miskin.[5] Dari catatan Raffles yang pernah mengunjungi Pagaruyung pada tahun 1818.

Sementara pada tahun 1824 Yang Dipertuan Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah kembali ke Pagaruyung atas permintaan Letnan Kolonel Raaff. namun pada tahun 1825 Sultan Arifin Muningsyah raja terakhir Minangkabau ini wafat dan kemudian dimakamkan di Pagaruyung.[12] Sementara pada bulan September 1824. Kemudian Belanda membangun benteng pertahanan di Batusangkar dengan nama Fort Van der Capellen.[13] [sunting]Genjatan Senjata . namun pasukan Belanda dapat terus melaju ke Luhak Agam. sehingga pada tanggal 16 April 1823 Belanda terpaksa kembali ke Batusangkar. Laemlin meninggal dunia di Padang. Fort van der Capellen Pada tanggal 4 Maret 1822.[8] Keterlibatan Belanda dalam perang karena diundang oleh kaum Adat.[10] Pada tanggal 10 Juni 1822 pergerakan pasukan Raaff di Tanjung Alam dihadang oleh Kaum Padri. Pada tanggal 14 Agustus 1822 dalam pertempuran di Baso.Kerajaan Pagaruyung kepada pemerintah Hindia Belanda. dan campur tangan Belanda dalam perang itu ditandai dengan penyerangan Simawang dan Sulit Air oleh pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema pada bulan April 1821 atas perintah Residen James du Puy di Padang. pasukan Belanda dibawah pimpinan Letnan Kolonel Raaff berhasil memukul mundur Kaum Padri keluar dari Pagaruyung. Pada bulan September 1822 pasukan Belanda terpaksa kembali ke Batusangkar karena terus tertekan oleh serangan Kaum Padri yang dipimpin oleh Tuanku Nan Renceh. kemudian mengangkat Sultan Tangkal Alam Bagagar sebagai Regent Tanah Datar. namun karena luka-luka yang dideritanya di bulan Desember 1824. pasukan Belanda di bawah pimpinan Mayor Frans Laemlin telah berhasil menguasai beberapa kawasan di Luhak Agam di antaranya Koto Tuo dan Ampang Gadang. namun Kaum Padri dengan gigih melakukan perlawanan. Raaff mencoba kembali menyerang Lintau.[11] Sedangkan Raaff sendiri meninggal dunia secara mendadak di Padang pada tanggal 17 April 1824 setelah sebelumnya mengalami demam tinggi. Kapten Goffinet menderita luka berat kemudian meninggal dunia pada 5 September 1822.[9] Kemudian pada 8 Desember 1821 datang tambahan pasukan yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Raaff untuk memperkuat posisi pada kawasan yang telah dikuasai tersebut. Setelah mendapat tambahan pasukan pada 13 April 1823. Kemudian mereka juga telah menduduki Biaro dan Kapau. sedangkan Kaum Padri menyusun kekuatan dan bertahan di Lintau.

Walau di sisi lain fanatisme tersebut juga melahirkan sikap kepahlawanan dan cinta tanah air. sedangkan agama Islam berlandaskan kepada Al-Qur'an.Perlawanan yang dilakukan oleh Kaum Padri cukup tangguh sehingga sangat menyulitkan Belanda untuk menundukkannya. salah seorang pemimpin Perang Padri. Christine Dobbin menyebutnya lebih kepada perang dagang. hal ini seiring dengan dinamika perubahan sosial masyarakat Minangkabau dalam liku-liku perdagangan di pedalaman dan pesisir pantai barat atau pantai .[15] Kemudian menjadi pemimpin sekaligus panglima perang setelah Tuanku Nan Renceh meninggal dunia.[16] Pada masa kepemimpinannya. sebagaimana yang terdapat dalam memoirnya.[5] [sunting]Peperangan Jilid Kedua Setelah berakhirnya perang Diponegoro dan pulihnya kekuatan Belanda di Jawa. Tuanku Imam Bonjol mencoba memulihkan kekuatan dan juga mencoba merangkul kembali Kaum Adat. Oleh sebab itu Belanda melalui residennya di Padang mengajak pemimpin Kaum Padri yang waktu itu telah dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol untuk berdamai dengan maklumat "Perjanjian Masang" pada tanggal 15 November 1825. ia mulai meyesali beberapa tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Kaum Padri terhadap saudara-saudaranya. Selama periode gencatan senjata. Kabupaten Tanah Datar yang mewujudkan konsensus bersama Adat Basandi Syarak. Sampai abad ke-19. Hal ini sangat didasari oleh keinginan kuat untuk penguasaan penanaman kopi yang sedang meluas di kawasan pedalaman Minangkabau (darek). Syarak Basandi Kitabullah yang artinya adat Minangkabau berlandaskan kepada agama Islam.[2] Hal ini dimaklumi karena disaat bersamaan Pemerintah Hindia Belanda juga kehabisan dana dalam menghadapi peperangan lain di Eropa dan Jawa seperti Perang Diponegoro. yang diilustrasikan oleh de Stuers pada tahun 1820. Pemerintah Hindia Belanda kembali mencoba untuk menundukan Kaum Padri. komoditas perdagangan kopi merupakan salah satu produk andalan Belanda di Eropa. Sehingga akhirnya muncul suatu kompromi yang dikenal dengan nama "Plakat Puncak Pato" di Bukit Marapalam. Artikel utama untuk bagian ini adalah: Tuanku Imam Bonjol Tuanku Imam Bonjol yang bernama asli Muhammad Shahab muncul sebagai pemimpin dalam Perang Padri setelah sebelumnya ditunjuk oleh Tuanku Nan Renceh sebagai Imam di Bonjol.[14] [sunting]Tuanku Imam Bonjol Tuanku Imam Bonjol.

Di Jawa. Vermeulen Krieger. kehadiran Sentot yang ditempatkan di Lintau justru menimbulkan masalah baru. Kemudian untuk memperkuat kedudukannya. untuk mempercepat penyelesaian peperangan. [11] Selanjutnya untuk melemahkan kekuatan lawan. sehingga kembali Kaum Padri terpaksa mundur dari kawasan luhak dan bertahan di Bonjol.[17] Kemudian Kaum Padri terus melakukan konsolidasi dan berkubu di Kamang. Beberapa dokumen-dokumen resmi Belanda membuktikan kesalahan Sentot yang telah melakukan persekongkolan dengan Kaum Padri sehingga kemudian Sentot dan legiunnya dikembalikan ke Pulau Jawa. Sentot Prawirodirdjo. Sedangkan pasukannya dibubarkan kemudian direkrut kembali menjadi tentara Belanda. Namun Tuanku Lintau masih tetap melakukan perlawanan dari kawasan Luhak Limo Puluah. Namun kemudian Letnan Kolonel Elout berpendapat. Belanda membangun benteng di Bukittinggi yang dikenal dengan nama Fort de Kock. dan Belanda pun juga tidak ingin ia tetap berada di Jawa dan mengirimnya kembali ke Sumatera. Belanda melanggar perjanjian yang telah dibuat sebelumnya dengan menyerang nagari Pandai Sikek yang merupakan salah satu kawasan yang mampu memproduksi mesiu dan senjata api. Kepper. Sentot diturunkan dan ditahan di Bengkulu. Dengan tambahan pasukan tersebut pada bulan Oktober 1832. yang diilustrasikan oleh G. ia memperoleh tambahan kekuatan dari pasukan Sentot Prawirodirdjo salah seorang panglima pasukan Pangeran Diponegoro yang telah membelot dan berdinas pada Pemerintah Hindia Belanda setelah usai perang di Jawa. Pada bulan Juli 1832. namun seluruh kekuatan Kaum Padri di Luhak Agam juga dapat ditaklukkan Belanda setelah jatuhnya Kamang di akhir tahun 1832. Namun di tengah perjalanan.timur. Sementara ketika Letnan Kolonel Elout melakukan berbagai serangan terhadap Kaum Padri antara tahun 1831-1832. Luhak Limo Puluah telah berada dalam kekuasaan Belanda bersamaan dengan meninggalnya Tuanku Lintau. Sentot juga tidak berhasil menghilangkan kecurigaan Belanda terhadap dirinya. Fort de Kock Pada awal bulan Agustus 1831 Lintau berhasil ditaklukkan. Sementara Belanda pada satu sisi ingin mengambil alih atau monopoli. dari Jakarta dikirim pasukan infantri dalam jumlah besar di bawah pimpinan Letnan Kolonel Ferdinand P. lalu ditinggal sampai mati sebagai orang buangan. . menjadikan Luhak Tanah Datar berada dalam kendali Belanda.

Kemudian Belanda berdalih bahwa untuk menjaga keamanan. dan sebagainya memerlukan biaya. Maka Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1833 mengeluarkan pengumuman yang disebut "Plakat Panjang" berisi sebuah pernyataan bahwa kedatangan Belanda ke Minangkabau tidaklah bermaksud untuk menguasai negeri tersebut.[7] Menyadari hal itu. pada tanggal 29 Januari 1833. membuka sekolah. pasukan Belanda membangun kubu pertahanan di Padang Mantinggi. Kedudukan Regent Tanah Datar kemudian diberikan kepada Tuan Gadang di Batipuh. dapatlah dikatakan sebagai perang saudara melibatkan sesama etnik Minang dan Batak.[18] Namun dalam pertempuran di Air Bangis. ditangkap oleh pasukan Letnan Kolonel Elout pada tanggal 2 Mei 1833 di Batusangkar atas tuduhan pengkhianatan. membuat jalan. Tuanku Rao menderita luka berat akibat dihujani peluru. Kemudian Belanda mengasingkannya ke Jakarta.[19] [sunting]Perlawanan Bersama Kaum Adat Sejak tahun 1833 mulai muncul kompromi antara Kaum Adat dan Kaum Padri. Diduga jenazahnya kemudian dibuang ke laut oleh tentara Belanda. tetapi secara keseluruhan masyarakat Minangkabau. membuat keadaan menjadi kacau. Belum lama berada di atas kapal. Tuanku Rao menemui ajalnya.[21] Sultan Tangkal Alam Bagagar yang sebelumnya ditunjuk oleh Belanda sebagai Regent Tanah Datar. namun sebelum mereka dapat memperkuat posisi. walau dalam catatan Belanda Sultan Tangkal Alam Bagagar menyangkal keterlibatannya dalam penyerangan beberapa pos Belanda. kini Belanda bukan hanya menghadapi Kaum Padri saja. Kemudian ia dinaikkan ke atas kapal untuk diasingkan. maka penduduk diwajibkan menanam kopi dan mesti menjualnya kepada Belanda. [20] Diujung penyesalan muncul kesadaran. [sunting]Serangan ke Bonjol . Hampir selama 20 tahun pertama perang ini (1803-1823). Dengan diserangnya kubu pertahanan dari garnisun Belanda secara mendadak. namun pemerintah Hindia Belanda juga tidak mau mengambil risiko untuk menolak laporan dari para perwiranya. mengundang Belanda dalam konflik justru menyengsarakan masyarakat Minangkabau itu sendiri. penduduk Minangkabau akan tetap diperintah oleh para penghulu mereka dan tidak pula diharuskan membayar pajak.Selanjutnya pasukan Belanda mulai melakukan penyisiran pada beberapa kawasan yang masih menjadi basis Kaum Padri. mereka hanya datang untuk berdagang dan menjaga keamanan. kubu pertahanan tersebut diserang oleh Kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Rao yang mengakibatkan banyak korban di pihak Belanda. Pada awal Januari 1833.

memaksa Gubernur Jenderal Hindia Belanda Johannes van den Bosch pada tanggal 23 Agustus 1833 pergi ke Padang untuk melihat dari dekat proses operasi militer yang dilakukan oleh pasukan Belanda. didedikasikan oleh G. Selain itu pihak Belanda juga terus berusaha menanamkan pengaruhnya pada beberapa kawasan yang dekat dengan kubu pertahanannya.Letnan Kolonel Raaff dan pasukannya yang meninggal dunia sebelum berakhirnya Perang Padri. Taktik serangan gerilya yang diterapkan Kaum Padri kemudian berhasil memperlambat gerak laju serangan Belanda ke Benteng Bonjol. Lamanya penyelesaian peperangan ini. Pada tanggal 16 April 1835.[22] Sesampainya di Padang. diilustrasikan oleh G. Kemudian selama tahun 1834 Belanda hanya fokus pada pembuatan jalan dan jembatan yang mengarah ke Bonjol dengan mengerahkan ribuan tenaga kerja paksa. ia melakukan perundingan dengan Komisaris Pesisir Barat Sumatera. karena kesetiaan penduduk Luhak Agam masih disangsikan dan mereka sangat mungkin akan menyerang pasukan Belanda dari belakang. Pasukan ini mesti . Belanda memutuskan untuk kembali mengadakan serangan besar-besaran untuk menaklukkan Bonjol dan sekitarnya. Riesz dan Elout menerangkan bahwa belum datang saatnya yang baik untuk mengadakan serangan umum terhadap Benteng Bonjol. Van den Bosch membuat laporan bahwa penyerangan ke Bonjol gagal dan sedang diusahakan untuk konsolidasi guna penyerangan selanjutnya. memecah pasukannya menuju Masang menjadi dua bagian yang bergerak masing-masing dari Matur dan Bamban. Sehingga pada tanggal 21 September 1833. Hal ini dilakukan untuk memudahkan mobilitas pasukannya dalam menaklukkan Bonjol. Kepper. pasukan Belanda dipimpin oleh Letnan Kolonel Bauer. kedua opsir tersebut meminta tangguh enam hari sehingga jatuhnya Bonjol diharapkan pada tanggal 16 September 1833. Kepper. Operasi militer dimulai pada tanggal 21 April 1835. bahkan dalam beberapa perlawanan hampir semua perlengkapan perang pasukan Belanda seperti meriam beserta perbekalannya dapat dirampas. Pasukan Belanda hanya dapat membawa senjata dan pakaian yang melekat di tangan dan badannya. Tetapi Van den Bosch bersikeras untuk segera menaklukkan Benteng Bonjol paling lambat tanggal 10 September 1833. sebelum Gubernur Jenderal Hindia Belanda digantikan oleh Jean Chrétien Baud. Romantisme kepahlawanan dalam Perang Padri. pusat komando pasukan Padri. Mayor Jenderal Riesz dan Letnan Kolonel Elout untuk segera menaklukkan Benteng Bonjol.

[24] Selanjutnya pada tanggal 11 Juni 1835 pasukan Belanda kembali bergerak menuju sebelah timur Batang Alahan Panjang dan membuat kubu pertahanan disana.[23] Walau pergerakan laju pasukan Belanda menuju Bonjol masih sangat lamban. Tidak begitu jauh dari benteng ini mengalir Batang . kemudian mereka mencoba membuat kubu pertahanan. sampai banyak korban di kedua belah pihak. Pada tanggal 17 Juni 1835 kembali datang bantuan tambahan pasukan sebanyak 2000 orang yang dikirim oleh Residen Francis di Padang dan pada tanggal 21 Juni 1835. Namun Kaum Padri tidak tinggal diam dengan menembakkan meriam pula dari Bukit Tajadi.menyeberangi sungai yang saat itu tengah dilanda banjir. Akhirnya dengan kekuatan yang jauh tak sebanding. sementara pasukan Kaum Padri tetap bersiaga di seberangnya. Benteng Bonjol terletak di atas bukit yang hampir tegak lurus ke atas. pecah pertempuran sengit antara pasukan Belanda dengan Kaum Padri. dan terus masuk menyelusup ke dalam hutan rimba. Pasukan Belanda berhasil mendekati Bonjol dalam jarak kira-kira hanya 250 langkah pada tengah malam tanggal 16 Juni 1835. Namun pada tanggal 8 Juni 1835 pasukan Belanda berhasil menguasai daerah ini. dengan kekuatan yang besar pasukan Belanda memulai gerakan maju menuju sasaran akhir yaitu Benteng Bonjol di Bukit Tajadi. pasukan Belanda menembaki Benteng Bonjol. Pada tanggal 23 April 1835 gerakan pasukan Belanda ini telah berhasil mencapai tepi Batang Gantiang. mortir dan meriam. Sesampainya di Sipisang. Sehingga dengan posisi yang kurang menguntungkan. Pertempuran berlangsung selama tiga hari tiga malam tanpa henti. Dari sini hanya ada satu jalan sempit menuju Sipisang. kemudian daerah ini dijadikan sebagai kubu pertahanan sambil menunggu pembuatan jembatan menuju Bonjol. pasukan Kaum Padri terpaksa mengundurkan diri ke hutan-hutan rimba sekitarnya. mendaki gunung dan menuruni lembah. hampir sebulan waktu yang diperlukan untuk dapat mendekati daerah Alahan Panjang. Jatuhnya daerah Sipisang ini meningkatkan moralitas pasukan Belanda. guna membuka jalur baru menuju Bonjol. Selanjutnya dengan menggunakan houwitser. kemudian menyeberanginya dan berkumpul di Batusari. [sunting]Benteng Bonjol Lukisan Bonjol pada tahun 1839. Sebagai front terdepan dari Alahan Panjang adalah daerah Padang Lawas yang secara penuh masih dikuasai oleh Kaum Padri. daerah yang masih dikuasai oleh Kaum Padri. dikenal dengan nama Bukit Tajadi. pasukan Belanda banyak menjadi korban.

Blokade yang dilakukan ini ternyata tidak efektif. Dinding luar terdiri dari batu-batu besar dengan teknik pembuatan hampir sama seperti benteng-benteng di Eropa dan di atasnya ditanami bambu berduri panjang yang ditanam sangat rapat sehingga Kaum Padri dapat mengamati bahkan menembakkan meriam kepada pasukan Belanda. malah pada tanggal 5 September 1835. Di antara kedua lapis dinding dibuat parit yang dalam dengan lebar 4 meter. hidup mulia atau mati syahid. karena justru kubu-kubu pertahanan pasukan Belanda dan bahan perbekalannya yang banyak diserang oleh pasukan Kaum Padri secara gerilya. maka pada pertengahan Agustus 1835 penyerangan mulai dilakukan terhadap kubu-kubu pertahanan Kaum Padri yang berada di Bukit Tajadi. Benteng ini berbentuk segi empat panjang. Keadaan inilah yang dimanfaatkan dengan baik oleh Kaum Padri untuk membangun kubu pertahanan yang strategis. pasukan Belanda belum berhasil menguasai Bukit Tajadi. Melihat kokohnya Benteng Bonjol. Usaha untuk melakukan serangan ofensif terhadap Bonjol baru dilakukan kembali setelah bala bantuan tentara yang terdiri dari pasukan Bugis datang. pasukan Belanda mencoba melakukan blokade terhadap Bonjol dengan tujuan untuk melumpuhkan suplai bahan makanan dan senjata pasukan Padri. Setelah serangan tersebut.[25] Semak belukar dan hutan yang sangat lebat di sekitar Bonjol menjadikkan kubukubu pertahanan Kaum Padri tidak mudah untuk dilihat oleh pasukan Belanda.[26] [sunting]Pengepungan Bonjol Kejatuhan Bukit Tajadi. dan pasukan Bugis ini berada pada bagian depan pasukan Belanda dalam merebut satu persatu kubu-kubu pertahanan strategis Kaum Padri yang berada disekitar Bukit Tajadi. berliku-liku dari utara ke selatan. Kaum Padri keluar dari kubu pertahanannya menyerbu ke luar benteng menghancurkan kubu-kubu pertahahan Belanda yang dibuat sekitar Bukit Tajadi. sebuah sungai di tengah lembah dengan aliran yang deras. sekaligus menjadi markas utama Tuanku Imam Bonjol. Disaat bersamaan seluruh pasukan Kaum Padri mulai berdatangan dari daerahdaerah yang telah ditaklukkan pasukan Belanda.[27] Namun sampai awal September 1835. yaitu dari berbagai negeri di Minangkabau dan sekitarnya. Semua bertekad bulat untuk mempertahankan markas besar Bonjol sampai titik darah penghabisan. tiga sisinya dikelilingi oleh dinding pertahanan dua lapis setinggi kurang lebih 3 meter. diilustrasikan oleh G. pasukan Kaum Padri segera kembali masuk ke dalam Benteng Bonjol. Kepper.Alahan Panjang. .

yang diilustrasikan oleh G. pasukan Belanda kembali melakukan serangan besar-besaran terhadap Benteng Bonjol. Madura. perlawanan ini dapat diatasi. Kemenangan Belanda dalam Perang Padri. Indlandsche Luitenant Prawiro di Logo. 1. Pasukan Belanda kewalahan mengatasi perlawanan ini. pasukan Belanda mencoba menyerang dari arah Luhak Limo Puluah dan Padang Bubus. Pembantu Letnan Satu Steinmetz. Kegagalan penaklukan ini benar-benar memukul kebijaksanaan Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Jakarta yang waktu itu telah dipegang oleh Dominique Jacques de Eerens. Hampir setahun mengepung Bonjol. 36 perwira pribumi. namun hasilnya gagal. seperti Jawa. Tetapi dengan kegigihan dan semangat juang yang tinggi Kaum Padri kembali berhasil memporak-porandakan musuh sehingga Belanda terusir dan terpaksa kembali keluar dari benteng dengan meninggalkan banyak sekali korban jiwa di masing-masing pihak. dan seterusnya. Kepper. Letnan Kolonel Bauer. Letnan Kolonel Bauer. pada tanggal 3 Desember 1836. sebagai usaha terakhir untuk penaklukan Bonjol. Dalam daftar nama para perwira pasukan Belanda tersebut di antaranya adalah Mayor Jendral Cochius. Letnan Satu van der Tak. Mayor Prager.130 tentara pribumi. 4. Blokade yang berlarut-larut dan keberanian Kaum Padri. Pasukan gabungan ini sebagian besar terdiri dari berbagai suku. termasuk didalamnya Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen (pasukan pembantu Sumenap alias Madura). sehingga pada tanggal 11 Desember 1835 rakyat Simpang dan Alahan Mati mengangkat senjata dan menyerang kubu-kubu pertahanan Belanda. salah seorang komandan pasukan Belanda menderita sakit dan terpaksa dikirim ke Bukittinggi kemudian posisinya digantikan oleh Mayor Prager. .103 tentara Eropa. sehingga pasukan Belanda dapat masuk menyerbu dan berhasil membunuh beberapa keluarga Tuanku Imam Bonjol. Mayor Sous.[28] Cochius merupakan seorang perwira tinggi Belanda yang memiliki keahlian dalam strategi perang Benteng Stelsel. Terdapat 148 perwira Eropa. Serangan dahsyat ini mampu menjebol sebagian Benteng Bonjol. kemudian pada awal tahun 1837 mengirimkan seorang panglima perangnya yang bernama Mayor Jenderal Cochius untuk memimpin langsung serangan besar-besaran ke Benteng Bonjol untuk kesekian kalinya. membangkitkan semangat keberanian rakyat sekitarnya untuk memberontak dan menyerang pasukan Belanda. Bugis dan Ambon. Namun setelah datang bantuan dari serdadu-serdadu Madura yang berdinas pada pasukan Belanda. Selanjutnya Belanda dengan intensif mengepung Bonjol dari segala jurusan selama sekitar enam bulan (16 Maret-17 Agustus 1837)[29] dipimpin oleh jenderal dan beberapa perwira. Kemudian ada juga nama Inlandsche (pribumi) seperti Kapitein Noto Prawiro. bahkan banyak menyebabkan kerugian pada pasukan Belanda. Kapten MacLean.Pada tanggal 9 September 1835.

tanpa membawa senjata. terdiri dari 1 sergeant. komandan penaklukan Benteng Bonjol.[26] . dimana pada tanggal 20 Juli 1837 tiba dengan Kapal Perle di Padang. Dari Jakarta didatangkan terus tambahan kekuatan tentara Belanda. [sunting]Perundingan Frans David Cochius. Prawiro Sentiko. Kemudian Tuanku Imam Bonjol menyatakan kesediaannya melakukan perundingan. Dalam kondisi seperti ini. dan pada akhir tahun 1838. Kemudian pada tanggal 19 Januari 1839. Pada tanggal 3 Agustus 1837 dipimpin oleh Letnan Kolonel Michiels sebagai komandan lapangan terdepan mulai sedikit demi sedikit menguasai keadaan. Dalam pelarian dan persembunyiannya. serta dipimpin oleh Kapitein Sinninghe. untuk selanjutnya diasingkan. Merto Poero dan lainnya. Serangan yang bergelombang serta bertubi-tubi dan hujan peluru dari pasukan artileri yang bersenjatakan meriam-meriam besar. 4 korporaals dan 112 flankeurs. selama kurang lebih 6 bulan lamanya. direkrut dari Ghana dan Mali. dan akhirnya pada tanggal tanggal 15 Agustus 1837. tempat perundingan. Namun Tuanku Imam Bonjol dapat mengundurkan diri keluar dari benteng dengan didampingi oleh beberapa pengikutnya terus menuju daerah Marapak. Tuanku Imam Bonjol terus mencoba mengadakan konsolidasi terhadap seluruh pasukannya yang telah bercerai-berai dan lemah. pada tanggal 8 November 1864. dan pada tanggal 16 Agustus 1837 Benteng Bonjol secara keseluruhan dapat ditaklukkan. Namun pada tanggal 23 Januari 1838. sejumlah orang Eropa dan Sepoys. peristiwa itu terjadi di bulan Oktober 1837 dan kemudian Tuanku Imam Bonjol dalam kondisi sakit langsung dibawa ke Bukittinggi kemudian terus dibawa ke Padang. Selama 14 hari berkibar bendera putih dan gencatan senjata berlaku. Tuanku Imam Bonjol kembali dipindahkan ke Menado. Tapi hal itu cuma jebakan Belanda untuk menangkap Tuanku Imam Bonjol. Tuanku Imam Bonjol menemui ajalnya. Prawiro Brotto. tiba-tiba datang surat tawaran dari Residen Francis di Padang untuk mengajak berunding. ia kembali dipindahkan ke Ambon. serta pasukan infantri dan kavaleri yang terus berdatangan. Bukit Tajadi jatuh. dan di daerah inilah setelah menjalani masa pembuangan selama 27 tahun lamanya. ternyata hanya sedikit saja yang tinggal dan masih siap untuk bertempur kembali. Tuanku Imam Bonjol diminta untuk datang ke Palupuh. ia dipindahkan ke Cianjur. namun karena telah lebih 3 tahun bertempur melawan Belanda secara terus menerus.Karto Wongso Wiro Redjo. serdadu dari Afrika yang berdinas dalam tentara Belanda. Perundingan itu dikatakan tidak boleh lebih dari 14 hari lamanya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful