BAB II PEMBAHASAN UMUM 2.1. DISTOSIA 2.1.1.

Definisi Distosia adalah suatu persalinan yang sulit, ditandai dengan kemajuan persalinan yang lambat. Untuk menentukan adanya distosia dapat menggunakan batasan waktu ataupun kelajuan proses. Distosia dapat terjadi pada kala I ataupun kala II persalinan. Distosia pada kala I aktif persalinan dapat dikelompokkan menjadi proses persalinan yang lambat (protraction disorder) ataupun tidak adanya kemajuan persalinan sama sekali (arrest disorder). American college of Obstetricians dan Gynecologist (ACOG) memiliki definisi sendiri mengenai gangguan kemajuan persalinan yang diadaptasi dari definisi awal pada tahun 1983. Distosia pada kala II persalinan ditandai dengan: 1. 2. 3. 4. Pada nulipara tanpa anestesi regional kala II lebih dari 2 jam Pada nulipara dengan anestesi regional kala II lebih dari 3 jam Pada multipara tanpa anestesi regional kala II lebih dari 1 jam Pada multipara dengan anestesi regional kala II lebih dari 2 jam Proses persalinan yang macet (distosia) dapat terjadi akibat adanya gangguan pada salah satu atau kombinasi dari empat komponen di bawah ini: 1. 2. 3.
4.

Gangguan pada daya pendorong, termasuk di dalamnya adalah Gangguan presentasi, posisi, dan perkembangan janin Gangguan pada tulang pelvis ibu Gangguan pada jaringan lunak traktus reproduksi yang dapat

gangguan kontraksi uterus dan gangguan meneran

menghalangi penurunan janin

Secara lebih sederhana penyebab distosia dapat dikategorikan menjadi tiga P:
1.

Gangguan pada powers (kontraksi uterus dan usaha meneran Gangguan pada passenger (posisi janin, presentasi janin, dan Gangguan pada passage  rongga pelvis dan jaringan lunak

ibu)
2.

ukuran janin)
3.

pada jalan lahir

Jenis-jenis distosia : Distosia Karena kelainan HIS (tenaga) Distosia karena kelainan HIS adalah HIS yang tidak normal baik kekuatan maupun sifatnya sehingga memperlambat kelancaran persalinan. ETIOLOGI Kelainan HIS sering dijumpai pada primi gravid tua sedangkan inersia uteri sering dijumpai pada multi gravida dan grande multi gravida, tetania uteri, aksi uterus inkoordinasi. Factor herediter, emosi dan ketakutan. Salah pimpinan persalinan atau salah pemberian obat-obat seperti oksitoksin dan obat-obat penenang. Bagian terbawah janin tidak rapat dengan segmen bawah rahim, dijumpai pada kelainan ltak janin dan disproporsi epalo pelvic. Kelainan uterus misalnya bikornis unifolis. Kehamilan post matur.

dimana gradient terlama dan terkuat adalah pada fundus (dominasi fundus) dan menjadi berkurang kearah serviks.1. 2. Mereka menyatakan selain adanya gradient aktivitas. didapatkan pula perbedaan onset dari kontraksi uterus di fundus. Caldeyro-Barcia dkk (1950) dari Montevideo. Disfungsi uterus hipertonik atau disfungsi inkoordinasi. Larks (1960) mendeskripsikan bahwa stimulus kontraksi berasal kornu dan beberapa milisekon kemudian sudah mencapai tempat lainnya. Uruguay. memasukkan balon kecil ke miometrium pada beberapa level.2. Gangguan kontraksi uterus Disfungsi uterus dapat dibedakan menjadi dua: 1. sehingga eksitasi akan bergabung menjadi satu di fundus dan akan berjalan bersamaan ke bawah uterus. Fisiologi kontraksi uterus Reynolds dkk (1948) menggarisbawahi bahwa kontraksi uterus saat persalinan normal ditandai dengan adanya gradient dari kontraksi uterus. yakni kekuatan kontraksi bagian basal berlebihan atau kekuatan dari fundus tidak tersalurkan dengan baik ke seluruh bagian uterus Montevideo dkk juga menemukan fakta bahwa tekanan kontraksi minimal untuk mendilatasikan serviks adalah 15 mmHg. DISTOSIA KARENA GANGGUAN PADA DAYA PENDORONG 2.2. midzone dan uterus bagian bawah. yakni bagian basal uterus tidak hipertonus dan kontraksi uterus simetris tetapi kekuatan selama kontraksi tidak cukup untuk membuat serviks berdilatasi 2.2. Hal ini sejalan dengan hasil yang ditemukan Hendricks dkk yang melaporkan bahwa kuat kontraksi spontan yang .2.2. Disfungsi uterus hipotonik.

Etiologi ü Multipara ü kelainan letak janin ü disproporsi cepalo pelvic ü kehamilan ganda . Pada hypotonus uterine dysfunction tidak ada hipertonus dan kontraksi uterus masih dalam pola normal. lebih singkat dan lebih jarang dari His normal. Pada hypertonic uterine dysfunction. Inersia uteri dibagi atas 2 keadaan : Ø Inersia uteri primer Kelemahan His timbul sejak permulaan persalinan hal ini ibedakan dengan His pendahuluan yang juga lemah dan kadang-kadang menjadi hilang. Distosia karena inersia uteri Inersia uteri adalah his yang sifatnya lemah. terjadi peningkatan tonus basal atau gangguan gradient tekanan. Ø Inersia uteri sekunder Kelemahan His yang timbul setelah adanya His yang kuat. Dari observasi ini dapat disimpulkan ada 2 tipe dari disfungsi uterus yakni hypotonus uterine dysfunction dan hyperteonic uterus dysfunction.normal biasanya 60 mmHg keatas. JENIS-JENIS DISTOSIA AKIBAT KELAINAN HIS dan PENANGANAN 1. Gangguan kontraksi uterus dapat terjadi pada fase aktif (kala 1) ataupun pada kala 2. Gangguan gradient tekanan dapat terjadi karena adaya kontraksi segmen uterus pada bagian selain fundus. dan kontraksi tersebut tidak cukup untuk mendilatasikan serviks. teratur dan dalam waktu yang lama. dan kontraksinya lebih kuat dari bagian fundus atau juga dapat terjadi asinkroni dari impuls yang berasal dari kornu.

presentasi dan keadan janin. Maksud dari pemberian adalah. dinaikkan setiap 10-15 menit sampai 40-50 tetes/menit. atau forsep atau sc). Kemudian buat rencana untuk menentukan sikap dan tindakan yang akan dikerjakan . ibu lemah dan partus telah berlangsung lebih dari 24 jam pada primi dan 18 jam pada multi gravid tidak ada gunanya memberikan oksitosin drip. Bila semula His kuat kemudian terjadi inersia buteri sekunder. Distosia karena Tetania uteri Tetania uteri adalah His yang terlalu kuat dan terlalu sering sehingga tidak ada relaksasi rahim. Penanganan : · · Berikan obat seperti morfin. asal janin tidak akan lahir dalam waktu dekat (4-6 jam) Bila ada tanda-tanda obstruksi. luminal dan sebagainya. turunnya bagian terbawah janin dan keadaan panggul. Pada malam hari berikan obat penenang misalnya valium 10 mg dan besoknya dapat diulang lagi pemberian oksitosin. persalinan harus segera diselesaikan dengan sc .ü hidrmnion ü uterus bikornis unikolis. · Pemberian oksitosin tidak usah terus menerus bila tidak memperkuat His setelah pemberian beberapa lama hentikan dulu dan ibu dianjurkan beristiharat. sebaiknya partus segera diselesaikan sesuai dengan hasil pemeriksaan dan indikasi obstetric lainnya (ekstraksi vakum. · Berikan oksitosin 5-10 unit dalam 500 cc D5 dimulai dengan 12 tetes/menit. · · Bila inersia disertai dengan disproporsi cepalo pelvic maka sebaiknya dilakukan section Caesar. supaya serviks dapat membuka. Penanganan : · Periksa keadaan serviks. 2.

Pada partus preisipitatus tidak banyak yang dilakukan karena janin lahir tiba-tiba dan cepat Distosia karena Partus lama atau terlantar Distosia karena aksi uterus inkoordinasi Sifat yang berubah-ubah.· 3. forsep atau . petidin dan valium Bila persalinan yang berlangsung lama dan berlanjut-lanjut selesaikan partus menggunakan hasil pemeriksaan dan evaluasi dengan ekstraksi vakum. Jadi kontraksi tidak efisien dalam mengadakan pembukaan dan pengeluaran janin. 4. cemas dan tonus otot berikan obat-obat anti sakit dan penenang (sedative dan analgetika) seperti morfin. Pada bagian atas dapat terjadi kontraksi tapi bagian tengah tidak. ü Stenosis vulva akibat perlukaan atau infeksi dengan parut yang kaku dapat mengecilkan vulva. Kelainan pada vulva ü Edema vulva dijumpai pada eklamsi dan gangguan gizi atau persalinan yang lama. Etiologi ü Pemberian oksitosin yang berlebihan atau ketuban pecah lama yang disertai infeksi Komplikasi Hipoksia janin karena gangguan sirkulasi uteroplasentar Penanganan: · · sc. tidak ada koordinasi dan sinkronisasi antara kontraksi. sehingga menyebabkan terjadinya lingkaran kekejangan sehimgga janin tidak dapat maju. JENIS-JENIS DISTOSIA KARENA KELAINAN JALAN LAHIR 1. ü Tumor vulva berupa bartholini atau kista. Kelainan pada servik uteri Untuk mengurangi rasa takut. 2. Kelainan pada vagina ü Stenosis vagina congenital ü Tumor vagina berupa kista gardner 3.

2. Perasaan tegang dan emosional 4.3. Inersia uterus hipotonik (Hypotonic Uterine Inertia) Definisi Kontraksi uterus kurang dari normal. lemah dan dalam durasi yang pendek Etiologi Hingga saat ini masih belum diketahui. Kandung kemih dan rektum penuh Tipe 1. Faktor umum 1. Kelainan pada ovarium 2. Pengaruh hormonal karena kekurangan prostaglandin atau oksitosin 5. Primigravida terutama pada usia tua 2. dan disproporsi cephalopelvik 5. Klasifikasi gangguan uterus A. Perkembangan anomali uterus misal hipoplasia 3. Faktor lokal 1. Mioma uterus 4. Overdistensi uterus 2. Inersia Sekunder : Inersia berkembang setelah terdapat kontraksi uterus yang sebelumnya baik . akan tetapi terdapat beberapa factor yang dapat mempengaruhi a. Ketidaktepatan penggunaan analgetik b.4. malposisi. Malpresentasi. Inersia Primer : Kontraksi uterus lemah sejak awal 2. Anemia dan asthenia 3.

3.Gambaran klinis 1. 2. Lebih rentan terdapatnya placenta yang tertinggal dan perdarahan paska persalinan karena intarsia persisten 6. Tokografi : Gelombang kontraksi kurang dari normal dengan amplitude pendek Penatalaksanaan a. dan terdapatnya reflex stimulasi kontraksi uterus ketika bagian presentasi bayi semakin mendekati bagian bawah uterus. Waktu persalinan memanjang 2. 2. c. Dilatasi serviks lambat 4. lemah atau dalam jangka waktu pendek 3. Tetesan infuse mulai dari 10 tetes/menit. dan kemudian meningkat . Membran biasanya masih utuh 5. Pemeriksaan umum : 1. Oksitosin 5 unit oksitosin (syntocinon) dalam 500 cc glukosa 5% diberikan IV. Hal ini terjadi karena pelepasan prostaglandin. b. malresentasi atau Penatalaksaan kala 1 yang baik Pemberian antiobiotik pada proses persalinan yang memanjang malposisi dan tetalaksana sesuai dengan kasus terutama pada kasus dengan membrane plasenta telah pecah Amniotomi 1. 3. Pemeriksaan untuk menentukan disproporsi. Bila cervik telah berdilatasi > 3 cm Bila presentasi bagian terbawah janin telah berada pada bagian Ruptur membrane buatan (artificial) yang dapat menyebabkan bawah uterus augmentasi kontraksi uterus. Kontraksi uterus kurang dari normal.

(3) Distres fetal sebelum terjadi dilatasi cervical. Persalinan menjadi memanjang b. Colicky uterus : Terjadi kontraksi uterus dari bagian uterus yang berbeda dan tidak terdapat koordinasi yang baik b. Inersia uterus hipertonus (Uncoordinated Uterine Action) Tipe a. Tekanan istirahat intrauterine tinggi d. Dilatasi cerviks lama e. Operasi cesar sesario diindikasi pada : (1) Kegagalan denga metode tersebut. Manifestasi Klinis a. vakum atau ekstraksi. Hal ini bergantung kepada bagian presentasi bayi. d. Nyeri dirasakan sebelum dan selama kontraksi c. Distress fetal dan maternal Penatalaksaan . Ketuban pecah dini f.secara bertahap sehingga mendapatkan kontraksi uterus rata – rata 3x dalam 10 menit. (2) Kontraindikasi terhadap infuse oksitosin. B. missal pada kasus disproporsi. 2. Persalinan per vaginam : Dengan menggunakan forceps. Metode persalinan 1. cerviks telah pembukaan lengkap. Segmen uterus bagian bawah hiperaktif : Sehingga dominasi bagian atas uterus menjadi hilang. Kontaksi uterus tidak teratur dan lebih nyeri.

2. Pemberian analgesic dan antispasmodic. dan kekuatan kontraksi uterus dalam persalinan 2.Metode Induksi dan Akselerasi a.3. lamanya 40 detik 2. Kegagalan metode sebelumnya Disproporsi Distal fetus sebelum mengalami pembukaan sepertu 1. (5) Sudut subpubik tidak sempit. Analgesia epidural memiliki keuntungan yang baik d. (2) Dinding dalam pelvis parallel. (4) Sakrum tidak mendatar. Pemeriksaan umum : Sama seperti inersia hipouteri b. 2.a.2.1. . Induksi dan Akselerasi persalinan 2. Oksitosin Prasyarat • • Diberikan ketika proses kehamilan telah berada dalam fase aktif Keadaan jalan lahir ibu memungkinkan bayi dapat lahir dengan perhitungan: (1)Konjugata diagonalis normal.3. (6) Kepala bayi telah melewati pintu atas panggul atau telah turun dengan tekanan dari fundus. missal pethidine c.3. 3. Operasi cesar diindikasikan pada” 1. Definisi Induksi persalinan adalah merangsang uterus untuk memulai terjadinya persalinan Akselerasi persalinan adalah meningkatkan frekuensi.3. (3) Spina ishiadika tidak prominen. Tujuan Tujuan tindakan tersebut adalah mencapai his 3x dalam 10 menit. lama.

Apbila DJJ kurang dari 100 menit/menit.Indikasi • Induksi atau augmentasi Pemantauan selama tindakan • Pemantauan denyut nadi. hentikan infuse dan kurangi hiperstimulasi dengan: (1) Terbutalin 250 mcg IV pelan – pelan selama 5 menit. (3) Denyut jantung janin (DJJ). atau (2) Salbutamol 5 mg dalam 500 ml cairan (gram fisiologis atau Ringer laktat) 10 tetes/menit • Jika tidak tercapai kontraksi yang adekuat (3 kali tiap 10 menit dengan lama lebih dari 40 detik) setelah pemberian infuse oksitosin .5 unit dalam 500 cc dekstrose (atau garam fisiologik) mulai dengan 10 tetes per menit • Naikkan kecepatan infuse 10 tetes per menit tiap 30 menit sampai kontraksi adekuat (3x tiap 10 menit dengan lama lebih dari 40 detik) dan pertahankan sampai terjadi kelahiran • Jika terjadi hiperstimulasi (lama kontraksi lebih dari 60 detik) atau lebih dari 4 kali kontraksi dalam 10 menit. tekanan darah. dan kontraksi ibu hamil. segera hentikan infuse Metode pemberian oksitosin • Infus oksitosin 2. (2) frekuensi dan lamanya kontraksi. dan periksa denyut jantung janin (DJJ) • Catat semua pengamatan pada partograf tiap 30 menit : (1) kecepatan infus oksitosin. Dengar DJJ tiap 30 menit dan selalu langsung setelah kontraksi.

Kemudian naikkan 10 tetes tiap 30 menit sampai kontraksi adekuat. Prostaglandin Indikasi: • Prostaglandin sangat efektif untuk pematangan serviks selama induksi persalinan Pemantauan selama pemberian: . induksi dianggap gagal. Jika kontraksi tetap tidak adekuat setelah 60 tetes per menit (60 mIU per menit. lakukan seksio sesarea (2) Pada Primigravida. infuse oksitosin bisa dinaikkan konsentrasinya yaitu: 10 unit dalam 500 ml dekstrose (atau garam fisiologik) 30 tetes per menit. (2)Naikkan kecepatan infuse 10 tetes per menit tap 30 menit sampai kontraksi adekuat (3x tiap 10 menit dengan lama lebih dari 40 detik) atau setelah infuse oksitosin mencapai 60 tetes per menit • Jika masih tidak tercapai kontraksi yang adekuat dengan konsentrasi yang lebih tinggi: (1) Pada multigravida.mencapai 60 tetes/menit: (1) Naikkan konsentrasi oksitosin menjadi 5 unit dalam 500 ml dekstrose (atau garam fisologis) dan sesuaikan kecepatan infuse sampai 30 tetes/menit (15 mIU/menit). lakukan seksio sesarea) • Jangan berikan oksitosin 10 unit dalam 500 ml pada multigravida dan pada bekas seksio sesarea b.

(2) Kematian janin dalam rahim lebih dari 4 minggu belum in partu. tekanan darah. naikkan dosis menjadi 50 mcg tiap 6 jam . c.• Pantau denyut nadi. dan terdapat tanda – tanda ganguan pembekuan darah Metode pemberian: • Tempatkan tablet misoprostol 25 mcg di forniks posterior vagina dan jika his tidak timbul dapat diulangi setelah 6 jam • Jika tidak ada reaksi setelah 2 kali pemberian 25 mcg. kontraksi ibu hamil. (4) atau pemakaian prostaglandin telah 24 jam. (3) Proses persalinan telah berlangsung. Misoprostol Indikasi: • Penggunaan misoprostol untuk pematangan serviks hanya pada kasus – kasus tertentu misalnya : (1) Preeklampsia berat / eklampsia dan serviks belum matang sedangkan seksio sesarea belum dapat segera dilakukan atau bayi terlalu premature untuk bisa hidup. dan periksa denyut jantung janin (DJJ). (2) Pematangan serviks telah tercapai. Catat semua pengamatan pada partograf Metode pemberian: • Prostaglandin E2 (PGE2) bentuk pesarium 3 mg atau gel 2 – 3 mg ditempatkan pada forniks posterior vagina dan dapat diulangi 6 jam kemudian (jika his tidak timbul) • Hentikan pemberian prostaglandin dan mulailah infuse oksitosin jika: (1) Ketuban pecah.

dan jangan lebih dari 4 dosis atau 200 mcg • Misoprostol mempunyai resiko meningkatkan kejadian rupture uteri. ketika dalam proses persalinan kontraksi tidak memenuhi syarat • Elektif amniotomi dapat dilakukan untuk mendeteksi mekonium Pemantauan selama tindakan: • • Periksa denyut jantung janin Lakukan pemeriksaan serviks dan catat konsistensi . penipisan. Amniotomi Indikasi: • • Induksi atau augmentasi Dari hasil pemeriksaan monitoring denyut jantung janin. diambil tindakan yang dapat mencegah terjadinya janin jeopardy • Dari pemeriksaan kontraksi intrauterus. Oleh karena itu. dan bukaan serviks dengan menggunakan sarung tangan DTT Tekhnik tindakan . hanya dikerjakan di pelayanan kesehatan yang lengkap • Jangan memberikan oksitosin dalam 8 jam sesudah pemberian misoprostol d.• Jangan lebih dari 50 mcg setiap kali pakai. posisi.

mekonium. periksa DJJ pada saat kontraksi dan sesudah kontraksi uterus. berikan antibiotka pencegahan: PenisilinG 2 juta unit IV atau ampisilin 2g IV (ulangi tiap 6 jam sapai kelahiran). antibiotik dihentikan • Jika proses persalinan yang baik tidak terjadi dalam 1 jam setelah amniotomi. Apabila ada kelainan DJJ (kurang dari 100 atau lebih dari 180 DJJ/menit) suspek gawat janin • Jika kelahiran diperkirakan tidak terjadi dalam 18 jam.jumlahya. Kateter Foley Indikasi: .infus oksitosin dilakukan bersamaan dengan amniotomi e. Catat warnanya. kejernihan. suspek gawat janin • Pertahankan jari tangan dalam vagina agar cairan ketuban mengalir perlahan dan ykin tidak teraba bagian kecil janin atau tali pusat yang menumbung • Setelah amniotomi. mulailah dengan infuse oksitosin • Pada persalinan dengan masalah misalnya sepsis atau eklampsia. Jika pasien tidak ada tanda – tanda infeksi sesudah kelahiran. pewarnaan.• Masukkan ½ kokher yang dipegang tangan kiri dengan bimbingan telunjuk dan jari tengah tangan kanan hingga menyentuh selaput ketuban • Gerakkan kedua ujung jari tangan dalam untuk menorehkan gigi kokher hingga merobek selaput ketuban • Cairan ketuban akan mengalir perlahan. Jika ada pewarnaan mekoneum.

ketuban pecah. kemudian lanjutkan dengan infuse oksitosin f. pertumbuhan janin terhambat Metode tindakan • • Pasang speculum DTT di vagina Masukkan kateter Foley pelan – pelan melalui serviks dengan menggunakan forsps DTT. Laminaria • Dengan menggunakan laminaria dapat tercapai pematangan cerviks. Stripping Membranes Metode tindakan: . Pastikan ujung kateter telah melewati ostium uteri internum • • • Gelumbangkan balon kateter dengan menggunakan 10 ml air Gulung sisa kateter dan letakkan di vagina Diamkan kateter dalam vagina sampai timbul kontraksi uterus atau sampai 12 jam • Kempiskan balon kateter sebelum mengeluarkan kateter.• Kateter foley merupakan alternative lain di samping pemberian prostaglandin untuk mematangkan serviks dan induksi persalinan • Jangan lakukan kateter Foley jika ada riwayat perdarahan. ifeksi vaginal. Dapat dipasang saat malam hari sebelum dilakukan kelahiran pada keesokan harinya g.

Komplikasi: • Dapat berpotensi menimbulkan infeksi.2. Seperti yang tertera pada table berikut. perdarahan dari plasenta previa yang tidak terdiagnosa sebelumnya atau plasenta letak rendah.4. dan resiko rupture membrane 2. namun korioamnitis yang ditemukan dini pada masa persalinan tidak diasosiasikan dengan hal . 2000). Perlu diperhatikan bahwa analgesia epidural dapat menyebabkan perlambatan proses persalinan (Sharma and Leveno. Korioamnionitis yang terdeteksi terlambat pada persalinan merupakan marker untuk operasi sexio. Faktor-faktor yang berpengaruh pada disfungsi uterus a. Korioamnionitis Karena pada banyak kasus terdapat hubungan antara pemanjangan waktu persalinan dengan infeksi intrapartum. beberapa klinisi menyimpulkan bahwa infeksi dapat menyebankan aktivitas uterus yang tidak normal. Analgesia epidural b.• Memasukkan tangan telunjuk ke dalam ostium sedalam mungkin dan kemudian memutari ostium 360 derajat hingga 2 x putaran. analgesia dapat memperlambat persalinan kala 1 dan kala 2 c. Satin dkk (1992) mempelajari efek korioamnionitis terhadap 266 stimulasi persalinan dengan oksitosin.

menurunkan kebutuhan analgesia. sehingga akan didapatkan pelvic outlet yang lebih luas. Sementara gupta dkk (1991) melaporkan bawa tidak ada perbedaan dimensi pelvic outlet dengan posisi supine atau jongkok. Russel (1969) melaporkan daerah pelvic outlet akan lebih luas dengan posisi jongkok dibandingkan dengan supine. The American College of Obstetricians and Gynecologist (2003) telah menyimpulkan bahwa ambulasi tidak berbahawa dan mobilitas dapat membuat si ibu lebih nyaman. Pada kala 2 didapatkan banyak pendapat. akan terjadi bila posisi ibu duduk atau berdiri.tersebut. bukan penyebab distosia. Posisi ibu sewaktu persalinan Berjalan-jalan sewaktu persalinan kala 1 dapat memperpendek waktu persalinan. Namun beberapa ahli berpendapat bahwa infeksi uterus merupakan konsekuensi dari persalinan yang lama. Empat puluh persen wanita yang menderita korioamnionitis setelah mendapatkan oksitosin untuk distosia persalinan pada akhirnya membutuhkan sexio. Namun Bloom dkk (1998) membuktikan bahwa ambulansi (berjalan-jalan) tidak mempercepat maupun memperlambat persalinan pada wanita nullipara dan wanita multipara. d. uterus akan berkontraksi lebih sering dengan intensitas yang lebih kurang dengan posisi supide dibandingkan dengan posisi miring. Ada juga yang melaporkan keuntungan dari menghindari posisi litotomi. Johnson dkk (1991) menemukan bahwa penggunaan alat bantuan persalinan seperti kursi persalinan. dan menurunkan frekuensi episiotomi (Flynn dkk. dan hal ini malah . Crowley (1991) melaporkan tidak ada keuntungan yang lebih dari penggunaan kursi persalinan. menurunkan jumlah oksitosin yang dibutuhkan nantinya. pada beberapa RCT tidak memiliki hasil yang dapat disimpulkan dan cenderung subjektif. Menurut Miller (1983). Kebalikannya. 1978).

Imersi air Pendekatan ini ditujukan untuk mendapatkan relaksasi persalinan sehingga akan menyebabkan persalinan yang lebih efisien dan lancar (Odent. 1983). Kedua diagnosis ini hanya dapat ditegakkan dalam keadaan wanita berada dalam fase aktif dengan dilatasi minimal 4 . Posisi berdiri/tegak juga tidak mempengaruhi hasil obstetri pada persalinan kala 2. yaitu protraction disorder dan arrest disorder. Pada protraction disorder perkembangan yang terjadi lebih lambat dari seharusnya (dilatasi serviks kurang dari 1 cm/ jam dalam pemantauan minimal 4 jam). keuntungan yang didapatkan pada hal ini adalah nyeri ibu yang lebih kurang dan kepuasan ibu terhadap pengalaman persalinan. De Jong dkk (1997) menemukan bahwa tidak ada peningkatan frekuensi perdarahan pada posisi duduk. e. Babayer dkk (1998) melaporkan bahwa duduk atau jongkok yang terlalu lama pada persalinan kala 2 dapat menyebabkan neuropati perineal.5. waktu persalinan. 2. tidak ada perkembangan sama sekali. Robertson dkk (1998) melaporkan bahwa tekhnik imersi air tidak diasosiasikan dengan korioamnionitis ataupun endometriosis. sedangkan pada arrest disorder . Kwee dkk (2000) melaporkan tekhnik imersi air dapat menurunkan tekanan darah ibu dan tidak mempengaruhi tekanan darah fetus. rute kelahiranm atau penggunaan analgesia. Active Phase Disorder Gangguan ini dibedakan lagi menjadi dua. Diagnosis Abnormalitas kontraksi uterus dibedakan berdasarkan fase menjadi: 2.meningkatkan kejadian perdarahan. Schorn dkk (1993) melaporkan bahwa tekhnik ini tidak mempengaruhi dilatasi serviks.2.

cm. Analgesia atau sedasi berat dapat menurunkan reflex / rasa ingin berkonstraksi dan juga menurunkan kemampuan perempuan untuk melakukan konstraksi otot abdomen. pada umumnya perempuan tidak dapat menahan rasa ingin mendorong pada saat uterus berkonstraksi. Second Stage Disorder Pada pembukaan lengkap. dan Penatalaksanaan Kriteria Diagnostik Pola Persalinan Prolongation > 20 jam Disorder (Pemanjanga n Fase Laten) Protraction Disorders 1. Otot – otot abdomen akan dikontraksikan berkali – kali untuk meningkatkan tekanan intra abdomen berkali – kali untuk meningkatkan tekanan intra abdomen sepanjang kontraksi. Kriteria Diagnostik. Protracted < 1. 3. Delapan puluh persen wanita dengan active phase disorder memiliki kontraksi uterus yang tidak adekuat (kurang dari 180 montevideo unit). Tabel 1 Pola persalinan Abnormal. Kontraksi uterus dan otot abdomen mendorong janin keluar.2 cm / active – phase dilatation jam < 1.5 cm Manajemen ekspentansi CPD > 14 jam Nullipara Multipara Penatalaksanaa Penatalaksanaan n Tirah baring khusus Oksitosin atau section cesarean pada keadaan emergensi .

Arrest if > 2jam jam < 2 cm / jam Manajemen ekspentansi CPD > 1 jam Oksitosin tanpa Istirahat bila CPD kelelahan > 2 jam Sectio Cesarea Section Cesarea descent dngan CPD Sumber : Cunningham F. 3. Selain pemeriksaan di atas juga perlu dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui apakah persalinan sudah benar dimulai atau tidak dan apakah terdapat disproporsi sefalopelvik atau tidak. Penatalaksanaan Diperlukan pengawasan dalam persalinan lama oleh sebab apa pun. Gary. Penatalaksanaan terhadap hypotonic uterine contraction meliputi: 1.6. presentasi dan posisi janin. pemberian infus larutan glukosa 5% dan larutan NaCl isotonik secara intravena bergantian. Penatalaksanaan mencakup pengukuran tekanan darah tiap 4 jam. Dystocia: abnormal labor. Wiliams Obstetrics.2005 3.2. Memperbaiki keadaan umum ibu Pengosongan kandung kencing serta rektum turunnya kepala janin dalam panggul dan keadaan panggul . pencatatan denyut jantung janin tiap setengah jam dalam kala I dan lebih sering dalam kala II. USA:Mc Graw-Hill.0 cm / descent Arrest Disorders 1. Prolonged > 3 jam deceleration 2.2. pemberian antinyeri berupa petidin 50 mg. Secondary arrest of dilatatiom 3. 2. Protracted < 1. Pemeriksaan keadaan serviks. Edisi 22.

Oksitosin jangan diberikan pada grande multipara dan pernah mengalami seksio sesarea karena dapat menyebabkan terjadinya ruptur uteri. Pemberian oksitosin.4. Penatalaksanaan yang dilakukan meliputi pengurangan tonus otot dan ketakutan penderita. Pemberian infus oksitosin memerlukan pengawasan ketat. . Penatalaksaan dalam hypertonic uterine contraction Meliputi pengobatan secara simptomatis. 5 satuan IU dalam laturan glukosa 5% diberikan infus intravena dengan kecepatan 12 tetes per menit. Infus dihentikan bila kontraksi uterus berlangsung lebih dari 60 detik atau kalau denyut jantung janin melambat atau menjadi lebih cepat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful