You are on page 1of 21

SKRIPSI APLIKASI PROSES AGLOMERASI PADA DEBU TEH SEBAGAI USAHA EFISIENSI BIAYA PEMBUATAN TEH CELUP DI PT UNILEVER

Tbk. PABRIK TBB CIKARANG - BEKASI

Oleh KURNIA JAYANTO


F24080108

2012 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

APLIKASI PROSES AGGLOMERASI PADA DEBU TEH SEBAGAI USAHA EFISIENSI BIAYA PEMBUATAN TEH CELUP DI PT UNILEVER Tbk. PABRIK TBB CIKARANG - BEKASI
SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN pada Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor

Oleh : KURNIA JAYANTO F2408108

2012 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

I. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG Minuman teh merupakan salah satu komoditi pangan yang paling digemari di Indonesia dan banyak dari produk minumam teh yang beredar di pasaran adalah teh dalam bentuk kantong atau biasa disebut teh celup. Teh celup merupakan produk olahan teh yang dikemas di dalam kantung yang terbuat dari filter paper dan dapat disajikan cepat dengan cara dicelup ke dalam air. Teh yang digunakan dalam pembuatan teh celup adalah jenis teh hitam. Teh hitam adalah teh kering hasil pengolahan pucuk dan daun muda termasuk tangkainya dari tanaman camellia sinensis var sinensis melalui proses fermentasi (SNI 1902 2002). Menurut Banarjee

(1992) teh adalah pucuk (peko) dan daun muda yang berasal dari tanaman teh (camellia sinensis var sinensis). Teh celup diperuntukkan bagi konsumsi manusia sehingga termasuk dalam kategori pangan. Oleh karena itu harus memiliki jaminan keamanan pangan agar tidak menimbulkan masalah kesehatan ketika dikonsumsi oleh konsumen. Dalam proses produksinya, daun teh mengalami beberapa perlakuan sebelum dapat dihasilkan teh yang siap kemas. Daun teh segar yang telah dipetik melalui tahap pelayuan. Pada tahap ini, daun teh dilayukan dengan melakukan pemanasan agar kadar air yang terkandung berkurang 65-70%. Pemanasan dilakukan dengan mengalirkan udara panas. Hal ini dilakukan agar daun teh dapat digiling dengan baik. Selanjutnya, daun teh yang sudah dilayukan masuk pada tahap penggilingan, pada tahap ini, daun teh digiling untuk memecah sel sel daun.

Pemecahan daun teh disesuaikan dengan kebutuhan atau permintaan pasar. Daun teh ada yang digiling kasar dan ada yang digiling hingga menjadi serbuk. Kemudian daun daun teh ini

disimpan didalam tempat yang bersih dan dibiarkan mengalami proses oksidasi. Enzim dalam teh akan bekerja dan membentuk warna, rasa, dan aroma teh. Daun teh selanjutnya dikeringkan. Pengeringan daun teh menggunakan mesin agar suhu yang dihasilkan stabil dan menghasilkan kualitas teh yang baik. Daun teh dikeringkan sampai kadar air dalam daun teh mencapai 2-3%. Teh yang sudah dikeringkan kemudian dikemas. Dalam proses pembuatan teh ini, tahap penggilingan dan pengeringan daun teh akan menghasilkan serbuk serbuk berbentuk debu yang apabila terlalu banyak tidak diinginkan

dalam proses produksi, oleh karena itu, pihak Unilever hanya menerima teh dengan kandungan

serbuk debu teh maksimum 10% dalam tiap satu karung daun teh kiriman dari perkebunan perkebunan pemproduksi daun teh tersebut. Debu debu ini dalam proses pembuatan teh

celup akan menjadi waste yang akan kemudian dikumpulkan dust collector yang terdapat dibagian bagian tertentu mesin mesin produksi. Dalam satu minggu produksi teh celup

berbagai varian, debu yang mampu dikumpulkan oleh dust collector mencapai 400 kg dan semua waste ini kemudian akan langsung dibuang atau dijadikan pupuk kompos. Seiring dengan program unilever untuk meningkatkan efisiensi di berbagai lini produksi pabriknya, sebuah project diadakan untuk menemukan cara memanfaatkan kembali dust dust yang telah terkumpul tersebut agar dapat digunakan kembali. Salah satu cara yang ditawarkan oleh penulis adalah untuk menggunakan proses aglomerasi agar ukuran partikel serbuk debu teh tersebut cukup besar agar tidak terhisap kembali oleh dust collector dan dapat digunakan kembali proses produksi teh celup ini. Apabila project ini berhasil, maka bisa menghemat biaya hampir 300 juta per tahun. B. TUJUAN Kegiatan yang dilakukan selama proses magang ini ditujukan untuk menentukan formula dan alat yang tepat dalam proses aglomerasi bubuk teh ini, sehingga didapatkan hasil yang dapat digunakan oleh pihak Unilever dalam mengefisiensikan biaya yang dikeluarkan dalam mengolah waste dan mengurangi loss yang dialami oleh pihak Unilever dari bahan baku yang digunakan. C. MANFAAT Setelah tujuan dari kegiatan magang tercapai, maka didapatkan manfaat antara lain : 1. Debu teh hasil samping produksi yang sebelumnya tidak dapat digunakan kembali menjadi dapat digunakan 2. Loss yang dialami perusahaan akibat debu teh yang tidak dapat digunakan dapat dihilangkan seluruhnya sehingga memperkecil kerugian perusahaan 3. Didapatkan hasil produk akhir teh celup yang memenuhi spesifikasi perusahaan sehingga tidak terdapat kerugian dalam kegiatan ini

II. TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN


A. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PERUSAHAAN

Unilever merupakan salah satu perusahaan terbesar di dunia yang beroperasi di sekitar 75 negara. Perusahaan berlogo U ini bergerak di bidang kebutuhan dasar dengan pasaran utama adalah deterjen, pangan, dan barang kosmetik. Unilever secara resmi berdiri pada tanggal 1 Januari 1930 dengan kantor pusat di London (Inggris) dan Rotterdam (Belanda). Unilever berawal dari peleburan dua perusahaan, yaitu Margarine Union dari Belanda dan Lever Brothers dari Inggris. Lever Brothers didirikan pada tahun 1885 oleh William Hesketh Lever dengan usaha utama di bidang sabun, selain juga menghasilkan margarin. Bisnis sabun tersebut merupakan yang terbesar di dunia, dengan warisan merk terkenal seperti Lux, Lifebuoy, Sunlight, dan Rinso. Sedangkan Margarine Union merupakan gabungan dari perusahaan Anton Jurgens Verenigde Fabrieken N. V. dan Van den Bergh Fabrieken N. V., yang mempunyai usaha utama di bidang lemak pangan dan sedikit bergerak di bidang sabun. Persamaan dari Lever Brothers dan Margarine Union adalah sama-sama memproduksi consumer goods, berkecimpung dalam bidang yang menggunakan bahan baku sama, dan mempunyai jalur distribusi yang luas. PT Unilever Indonesia, Tbk. mulai dirintis ketika sebuah pabrik sabun Lever Zeep Fabrieken N. V. dibangun pada tanggal 5 Desember 1933 di daerah Angke, Jakarta Kota. Dua tahun kemudian berdiri Van den Bergh s Fabrieken N. V. di lokasi yang sama dan menghasilkan margarin Blue Band. Berikut ini adalah perkembangan PT Unilever Indonesia, Tbk.:

1936 Pabrik makanan Van der Bergh s Fabrieken didirikan di Angke Jakarta. 1941 Pabrik sabun Maatschappij ter Exploitatie der Colibri Fabrieken NV didirikan di Surabaya. 1944 Pabrik Non Soap Detergent (NSD) didirikan di Angke, Jakarta. 1948 Pabrik pengolahan minyak Oliefabriek Archa NV mulai beroperasi. 1952 Pabrik minyak Archa di daerah perbankan Jakarta dibeli oleh Unilever. 1957 Perkembangan Unilever terganggu akibat konfrontasi antara Indonesia dengan Belanda dan Malaysia.

1964 Unilever berproduksi kembali di bawah pemerintahan Indonesia. 1967 Pemerintah Indonesia mengeluarkan UU PMA No. 1 tahun 1967, yang mengijinkan orang asing memiliki perusahaannya kembali. Sehingga Unilever menjadi lebih leluasa dalam menjalankan produksinya. 1970 Pabrik deterjen Rinso dioperasikan pertama kali di Angke, Jakarta. 1980 Pabrik Lever s Zeepfabrieken NV, Van der Bergh s Fabrieken, Olifabriek Archa NV, dan Maatschappij ter Exploitatie der Colibri Fabrieken NV melakukan merger dan menyatakan diri bernaung dalam perusahaan PT Unilever Indonesia. 1981 PT Unilever Indonesia mulai go public dan membuka penjualan saham sebesar 15% kepada investor Indonesia. 1982 Unilever melakukan relokasi pada karyawan produksi yang berasal dari Colibri-Ngagel menuju Rungkut, Surabaya. 1983 Pabrik sabun di Colibri-Ngagel dipindahkan ke Rungkut. Selanjutnya didirikan pabrik kosmetik Elida Gibbs di Rungkut,Surabaya. 1989 Unilever memulai bisnis teh dengan merk lokal Sariwangi. Proses produksinya dilakukan oleh pihak ketiga di Citeureup, Bogor. 1990 Produk teh Sariwangi mulai dipasarkan. 1992 Pabrik ice cream Wall s mulai beroperasi di Cikarang, Bekasi. Selain itu, penerapan Total Productive Maintenance (TPM) dilaksanakan di pabrik Angke. 1994 Pabrik sabun di Angke dipindahkan ke Rungkut. Produksi Lipton Tea dilakukan di ruang ganda di Citeureup, Bogor. Pada tahun yang sama juga dilakukan perluasan area pabrik Wall s. 1995 Pabrik di Angke mulai dipindahkan ke Cikarang. 1996 Pabrik NSD dipindahkan dari Angke ke Cikarang. Kemudian dilakukan perluasan area cold storage pabrik Wall s. Selain itu, Japan Institute of Plant Maintenance (JIPM) menganugerahkan penghargaan TPM Excellence Award kategori I untuk PT Unilever Indonesia. 1997 Pabrik makanan di Angke dipindahkan ke Cikarang. Pabrik kosmetik di Rungkut memperoleh akreditasi ISO 9001, diikuti pabrik lainnya. Proses produksi teh instan dipindahkan ke Citeureup.

1998 Pabrik Citeureup mulai menjalankan TPM dan berhasil memperoleh akreditasi ISO 9001. 1999 PT Unilever Indonesia meraih Unilever Safety Award, Bronze Excellent Trophy ISO 14001, akreditasi Occupational Health Service and Management System (OHSMS) BS 8800, dan lisensi produksi teh. Mulai dilakukan implementasi HACCP. 2000 PT Unilever Indonesia memperoleh penghargaan TPM Continuity Award, Unilever Safety Award, dan Silver Excellence Trophy. Pabrik teh dan teh instan dipindahkan ke Cikarang. 2001 Produksi Best Foods, Knorr, dan kecap Bango diambil alih oleh Unilever. 2002 Pabrik Food dan NSD menerima penghargaan TPM Special Award , dan pabrik Ice Cream menerima penghargaan TPM Continuity Award . 2003 Produksi snack Taro net dan Taro stick diambil alih, dan PT Rasa Mutu Utama diakuisisi oleh Unilever. 2004 Pabrik Food dan Ice Cream memperoleh akreditasi HACCP. Pabrik shampoo dipindahkan ke Cikarang-HPC Liquids Factory.

B. VISI, MISI, DAN TUJUAN PERUSAHAAN PT Unilever Indonesia, Tbk. mempunyai visi menjadi pilihan pertama bagi pelanggan dan konsumen , sedangkan misi yang dipegang adalah : 1. Menjadi yang pertama dan terbaik di kelasnya dalam menemukan kebutuhan dan aspirasi dari konsumen. 2. 3. 4. 5. Menjadi dekat dalam pasar untuk pelanggan dan pemasok. Memindahkan aktivitas tambahan yang tidak bernilai dari semua proses. Mencapai kepuasan kerja untuk semua pihak. Menuju target usaha dan penambahan keuntungan dan kepastian mengenai upah untuk pekerja dan para pemegang saham. 6. Patut mendapat kehormatan dan kesempurnaan, perhatian terhadap komunitas dan lingkungan.

PT Unilever Indonesia, Tbk. adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri penyediaan kebutuhan sehari-hari (consumer goods), oleh karena itu perusahaan ini menetapkan tujuan pendirian sebagai berikut: 1. Memenuhi kebutuhan sehari-hari setiap anggota masyarakat di manapun mereka berada, mengantisipasi aspirasi konsumen dan pelanggan, serta menanggapi secara kreatif dan kompetitif dengan produk-produk bermerk dan layanan yang meningkatkan kualitas kehidupan. 2. Akar yang kokoh dalam budaya dan pasar lokal di dunia merupakan warisan yang tidak ternilai dan menjadi dasar bagi pertumbuhan di masa yang akan datang. Unilever akan menyertakan kekayaan pengetahuan dan kemahiran internasional untuk melayani konsumen lokal sehingga menjadikannya perusahaan yang benar-benar multilokal. 3. Keberhasilan jangka panjang menuntut komitmen yang menyeluruh terhadap standar kinerja dan produktivitas yang sangat tinggi terhadap kerjasama yang sangat efektif, dan kesediaan untuk menyerap gagasan menerus. 4. Percaya bahwa keberhasilan memerlukan perilaku bersama yang berstandar tinggi terhadap karyawan, konsumen dan masyarakat, serta dunia. Sebagai perwujudan dari komitmen perusahaan untuk menjamin standar mutu produk bertaraf internasional, seluruh pabrik PT Unilever Indonesia, Tbk. telah mendapat sertifikat ISO 9001. gagasan baru serta keinginan untuk belajar terus

C. CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) Sebagai perusahaan multinasional, Unilever memiliki komitmen yang tinggi dalam menerapkan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai salah satu strategi bisnis yang terintegrasi bersama strategi-strategi yang lain. Hal tersebut secara umum memiliki tujuan meningkatkan pangsa pasar dan penjualan, serta memberikan kontribusi bagi masyarakat sekitar sebagai bentuk kepedulian Unilever. Strategi bisnis tersebut tetap sejalan dengan visi dan misi PT Unilever Indonesia secara umum. PT Unilever Indonesia memiliki misi untuk menambah vitalitas dalam kehidupan, yaitu dengan memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam bidang nutrisi, perawatan kebersihan, dan

perawatan pribadi, dengan brand yang membantu orang merasa baik, terlihat baik, dan mendapatkan sesuatu yang lebih dalam hidup. Untuk mewujudkan misi tersebut dalam kehidupan, perusahaan telah memulai dengan kegiatan-kegiatan internal, dan saat ini perusahaan berkomitmen membagikan semangat misi tersebut kepada konsumen melalui kampanye brand produk dan kegiatan-kegiatan yang secara konsisten menyertakan misi sosial dalam rangka membagikan vitalitas kepada masyarakat secara lebih meluas. Dengan demikian, CSR merupakan bagian integral dari vitalitas kehidupan yang ingin dicapai dalam misi PT Unilever Indonesia. Perusahaan menyadari bahwa CSR merupakan dampak dari seluruh kegiatan bisnis perusahaan terhadap masyarakat. Beberapa wujud nyata dari CSR PT Unilever Indonesia antara lain :

1.

Melalui lebih dari 3000 tenaga kerja yang ada, perusahaan telah berinvestasi dalam pengembangan sumber daya manusia local, menyalurkan pengetahuan dan keterampilan global, meningkatkan produktivitas lokal, serta menciptakan budaya kepemimpinan, keanekaragaman, dan nilai-nilai perusahaan.

2.

Melalui brand yang dimiliki, perusahaan berusaha mengikutsertakan misi - misi sosial dan spiritual. Untuk beberapa brand food antara lain : a. Royco bumbu penyedap masakan : memperkuat wanita Indonesia melalui aspek nutrisi dan memasak serta benar-benar membantu mereka untuk memperoleh sesuatu yang lebih dalam hidup (empowering indonesian women through nutrition and cooking and truly helping her to get more out of life). b. Blue Band margarin : setiap Ibu ingin memberikan kebaikan pada anak-anaknya, sehingga mereka dapat menjadi yang terbaik (every Mum wants to give goodness to her children so that they can be the best they can be). c. Taro snack : membantu anak-anak Indonesia untuk memperoleh pengalaman menyenangkan dan hidup bahagia yang sepatutnya mereka peroleh (helping Indonesian children to have the fun adventurous and happy life they deserve).

d. Teh SariWangi : brand yang paling memahami pentingnya berhubungan satu sama lain tali yang mengikat (the brand that truly understands the importance of connecting with one another the string that binds). e. Kecap Bango : melestarikan warisan sajian lezat kepulauan dan kehidupan orangorang yang membuatnya (preserving the heritage of the archipelago s delicious dishes and the livelihood of the people who make our product).

D. LOKASI PERUSAHAAN PT Unilever Indonesia Tbk. memiliki kantor pusat di Gedung Graha Unilever, Jalan Gatot Subroto Kav. 15 Jakarta. Pabrik Unilever berada di dua lokasi, yaitu Cikarang-Bekasi dan Rungkut-Surabaya. Pabrik Cikarang terdiri dari pabrik foods di Jalan Jababeka IX Blok D No. 1-29 dan pabrik NSD (Non Soap Detergent) di Jalan Jababeka VI Blok O, Desa Wangun Harja, Kecamatan Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat 17520. Pabrik foods dibagi menjadi tiga pabrik, yaitu SCC&C (Spread Cooking Category and Culinary), TBB (Tea Based Beverage), dan ice cream Wall s. Pabrik foods Cikarang memproduksi makanan dan es krim, sedangkan pabrik NSD memproduksi deterjen. Pabrik di Rungkut memproduksi sabun dan kosmetik. Kedua pabrik di Cikarang tersebut memiliki luas sekitar 20 ha dan dilengkapi dengan kantor, mushola/ masjid, pos penjagaan, kantin, unit pengolahan limbah, gudang bahan mentah, tempat parkir, dan taman. Pemilihan lokasi pabrik dipengaruhi oleh faktor kestrategisan tempat untuk pemasaran produk, tersedianya sarana infrastruktur, kemudahan perluasan pabrik, dan kemudahan suplai bahan baku.

E. BIDANG USAHA DAN PEMASARAN PERUSAHAAN Secara umum, PT Unilever Indonesia Tbk. menghasilkan produk kebutuhan sehari-hari. Bidang produksinya dibagi menjadi empat divisi : 1. Divisi Home Care a. Non soap detergent

Menghasilkan produk deterjen pencuci (bubuk dan krim) dengan merk dagang Rinso, Surf, Omo, dan Super Busa. Selain itu juga diproduksi cairan pewangi dan pelembut pakaian dengan merk dagang Comfort dan Molto. b. Household care Memproduksi cairan pembersih lantai, bahan pengkilap, dan penghilang kuman dengan merk dagang Super Pell, Sunlight, Vixal, dan Domestos. 2. Divisi Personal Care Divisi ini memproduksi barang kebutuhan perawatan pribadi yang terdiri dari hair (Clear, Sunsilk, Brisk, dan lain-lain), skin (Pond s, Dove, Hazeline, Lux, Lifebuoy, Cuddle, dan lainlain), deodorant (Axe dan Rexona), dan dental (Pepsodent dan Close Up). 3. Divisi Unilever Best Food (UBF) a. Spread Cooking Category and Culinary Memproduksi margarine dan bakery fat (Blue Band, Cake Margarine, Gold Margarine, Multi Margarine, Pastry Fat, Biscuit Fat, White Cream Fat, White Bread Emulsion, dan Cake Fat), aneka bumbu masakan (Royco dan Knorr), dan minuman serbuk (Sariwangi dan Lipton powdered mix). b. Tea Based Beverage Memproduksi teh untuk konsumsi dalam negeri dan ekspor dengan merk dagang Sariwangi, Bushells, Choya, dan lain-lain. c. Snacks Memproduksi snack Taro net dan Taro stick. 4. Divisi Ice Cream Memproduksi es krim Wall s dalam berbagai jenis, rasa, dan kemasan. Produk-produk tersebut akan dipasarkan ke seluruh konsumen yang tersebar di Indonesia maupun di luar negeri. PT Unilever Indonesia, Tbk., sebagai perusahaan yang berstatus Penanaman Modal Asing (PMA), tidak menjual produknya langsung ke konsumen atau pengecer, tetapi melalui distributor dan pedagang pedagang besar yang tersebar di seluruh Indonesia.Kantor-kantor depotnya terdapat di beberapa kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Surabaya, Medan, Padang, Bandung, Yogyakarta, Semarang, dan sebagainya.

Masing-masing depot dikelola oleh seorang manajer yang bertugas membantu para distributor dalam mempromosikan hasil produksi dari perusahaan kepada konsumen.

III. TINJAUAN PUSTAKA


A. TEH Teh ialah salah satu minuman yang digemari masyarakat, selain kopi. Teh merupakan produk yang diperoleh dari pohon teh (Camellia sinensis), yaitu pohon berbunga putih dan selalu berdaun hijau. Pohon teh pertama ditemukan di Assam, sebelah utara Burma dan Cina Barat daya, sekarang telah dikembangkan di lebih dari 30 negara dunia. Di hutan, pohon ini dapat tumbuh sampai 10 meter atau lebih, tetapi di perkebunan, pohon teh dipelihara setinggi 1- 1.2 meter, hal ini dilakukan untuk mempermudah pemetikan. Teh merupakan tanaman yang mampu beradaptasi dengan berbagai keadaan iklim yang berbeda, dimana ia dapat tumbuh subur di daerah tropis, daerah panas, dan daerah bercurah hujan tinggi, serta dapat bertahan pada musim salju selama empat bulan. Teh juga dapat tumbuh di ketinggian 7000 kaki dari permukaan laut, yaitu di pegunungan Himalaya, walaupun pertumbuhannya lambat. Pohon teh mulai dipanen setelah 3-5 tahun. Tiap pohon rata-rata menghasilkan 400 gram teh hitam kering per tahun, Biasanya pohon dapat bertahan hidup lebih dari 100 tahun, bahkan 800 tahun di Cina bagian barat. Selain menghasilkan produk minuman, pohon teh juga berguna untuk daerah tropis yang memiliki tingkat erosi yang tinggi, karena dapat menstabilkan permukaan tanah, mengurangi penguapan air, dan menstabilkan kandungan unsur dalam tanah. Negara penghasil teh utama di dunia adalah India, Cina, Sri Lanka, Afrika selatan, dan Indonesia. Di Indonesia tanaman teh pertama kali dikembangkan di pulau Jawa pada tahun 1684. Teh dari Indonesia memiliki ciri khas, yaitu teh hitam berwarna terang dan memiliki rasa yang unik, ideal diminum dengan susu atau melati. Teh terdiri dari tiga komponen utama, yaitu kafein, polifenol, dan minyak esensial. Setiap komponen memberi pengaruh terhadap mutu teh. Polifenol utama ialah tanin yang dapat mempengaruhi warna dan rasa dari teh. Senyawa polifenol lainnya ialah katekin. Semakin tinggi kadar katekin, semakin terang warna teh. Pada teh hijau, kadar katekin sederhana tinggi sehingga warna teh lebih terang dibandingkan teh hitam. Penelitian medis menyebutkan bahwa polifenol mempunyai efek positif dalam mencegah kematian akibat penyakit hati dan kanker (Bernard & Heijkoo, 1998). Minyak esensial berpengaruh pada rasa dan aroma dari teh. Kafein pertama kali dikenal dengan nama theine. Kafein dapat merangsang sistem saraf pusat, memperlancar sirkulasi darah, dan merangsang ginjal untuk memproduksi lebih banyak urin. Semakin lama waktu fermentasi kadar kafein semakin tinggi, dan makin kecil ukuran daun teh maka ekstraksi kafein makin kuat. Semua jenis teh (teh hijau, oolong, dan teh hitam) mengandung 40 mg kafein per saji. Pada umumnya kadar kafein pada teh lebih kecil daripada

kopi. Kadar kafein untuk teh antara pada 20 110 mg per saji (170ml) sedangkan untuk kopi 60 180 mg per saji (170 ml) B. GRANULASI Granulasi bubuk mengacu pada proses dimana agregrat dengan ukurang berkisar dari 01 2.0 mm diproduksi dan bisa didefinisikan sebagai proses dimana partikel partikel mengalami proses aglomerasi menhadi agregrat semi permanen yang lebih besar, dimana partikel aslinya masih dapat diidentifikasi. Granula ini dapat dibentuk melalui penyemprotan bahan cair yang dapat mengikat ke partikel partikel selama mereka mengalami proses pengadukan. Penambahan jumlah bahan cairan pengikat yang tepat sangat dibutuhkan untuk menghasilkan kekuatan ikatan yang kuat yang dihasilkan dari pembentukan kombinasi dari tekanan kapiler atau tekanan permukaan sampai ikatan yang lebih permanen terbentuk sampai proses pengeringan. Perkembangan granula dimulai saat cairan ditambahkan didalam bubuk yang diaduk dan berlanjut sampai penambahan cairan selesai dilakukan. Perkembangan granula, yang terjadi saat penambahan cairan dan pengadukan, dapat dibagi menjadi tiga tahap yang dapat digambarkan sebagai berikut : Granulation Mechanism Granulation of powders refers to the process whereby aggregates with sizes ranging from about 0.1 to 2.0 mm are produced and can be defined as a process whereby particles are agglomerated into larger semi-permanent aggregates, in which the original particles can still be identified. These granules are formed by spraying a liquid binder onto the particles while they are agitated in a tumbling drum, fluid bed, high shear mixer or similar device. In this case, we use extruder to formed this granulated tea dust. Addition of the proper amount of liquid wets the solid surfaces and generates the necessary binding forces by the formation of liquid bridges or by a combination of capillary pressure, surface tension and viscous forces, until more permanent bonds are formed during subsequent drying or sintering. We are going to use maltodekstrin as the liquid binder. The granule growth process begins as soon as liquid is added to the agitated powder mass and may continue after the liquid addition step has been completed. The growth of granules, which occurs during liquid addition and kneading, has been divided into three stages, as shown in figure :

C. Pengeringan Drying is one of the most cost-effective means of preservation of grains, crops, and foods of all varieties. This technique has been practiced since time immemorial. From both energy and enviromental viewpoints as well as the global requirement to feed the growing population, it is important Pengeringan merupakan salah satu pengawetan pangan yang paling tua. Cara ini merupakan suatu proses yang ditiru dari alam. Pada umumnya udara digunakan sebagai medium pengering sebab jjumlahnya cukup banyak, mudah digunakan dan pemanasan yang berlebihan terhadap bahan pangan dapat dikendalikan. Udara digunakan untuk menghantarkan panas ke dalam bahan pangan yang dikeringkan dan membawa uap air yang dibebaskan dari bahan pangan. Pengeringan dapat dilakukan dengan berangsur-angsur dan adanya kecenderungan menjadi gosong dan berubah warna selalu terkendali. Fungsi udara : Udara memberikan panas kepada bahan pangan, menyebabkan air menguap, dan merupakan pengangkut uap air yang dibebaskan oleh bahan pangan yang dikeringkan. Volume udara yang diperlukan dalam pengeringan : Udara yang diperlukan untuk menghantarkan panas kepada bahan pangan untuk menguapkan air yang ada lebih banyak daripada yang diperlukan untuk mengangkut uap air dari ruangan. Jika udara yang masuk tidak kering atau jika udara yang meninggalkan ruangan oleh pengering tidak jenuh dengan uap air, maka jumlah volume udara yang diperlukan berubah. Biasanya udara yang diperlukan untuk memanaskan bahan pangan ialah sebanyak 5 sampai 7 kali jumlah udara yang diperlukan untuk membawa uap air dari bahan pangan. Kapasitas uap air dari udara bergantung pada suhu. Kecepatan udara yang diperlukan bervariasi antara 300 1000 ft per menit. Dehidrasi adalah suatu operasi di mana terjadi penghantaran panas dan pemindahan massa. Panas dipindahkan ke air di dalam produk dan air diuapkan. Kemudian uap air dikeluarkan. Jenis pengeringan yang digunakan pada fluidized bed drier adalah pengeringan adiabatis. Pengeringan ini adalah dimana panas dibawa kedalam pengering oleh suatu gas panas. Gas memberikan panas kepada air di dalam bahan pangan dan membawa ke luar uap air yang dihasilkan. Gas panas merupakan hasil dari pemanasan udara. Fluidized Bed Drying has found many application for drying of granular solids in the food, ceramic, pharmaceutical, and agriculture industries. For drying of powder in the 50nm to 2000nm range, fluidizied bed FBD competes succesfullywith other more traditional dryer types, e.g., rotary, tunnel, conveyor, continuos tray, etc. FBD has the following advantages. 1. High drying rates due to excellent gas particles contact leading to high heat and meass transfer rates. 2. Smaller flow area. 3. Higher thermal efficiency 4. Lower capital and maintenance costs compared to rotary dryers

5. Ease of control Limitation : 1. High power consumption due to the need to suspend the entire bed in gas phase leading to high pressure drop 2. High potential of attrion, in some gases granulation or agglomeration 3. Low flexibility and potential of defluidization if the feed is too wet A heat pump is an air conditioning system operated in reverse. Unlike normal air conditioning systems, the heat exchanger in focus is the condenser. The basic components of the heat pump system comprise an expansion valve, two heat exchanger (evaporator and condenser) and a compressor.

RAW MATERIAL STORAGE MANAGEMENT Penggudangan di pabrik TBB terbagi menjadi 3 bagian yang utama, yaitu bagian raw material, bagian packaging material, dan bagian finished product. Pengaturan untuk penggudangan diatur oleh bagian warehouse management. Gudang yang digunakan tidak memiliki kondisi spesifik yang perlu diatur oleh tim penggudangan, karena bahan yang disimpan, termasuk teh, bahan pengemas, dan produk teh yang telah jadi, tidak mudah busuk oleh mikroba sehingga tidak perlu diatur suhu ruang dan kondisi kelembapan udaranya. Warehouse management division bertanggung jawab untuk menerima bahan-bahan yang dibeli oleh tea buying department dan mengatur bagaimana barang-barang tersebut disimpan didalam gudang. Raw material umumnya diterima dalam bentuk karung-karung. Setiap karung setidaknya memiliki 2 lapis kertas dan 1 lapis alumunium foil untuk mencegah kontaminasi bau atau kadar air karena teh adalah bahan yang higroskopis. Bahan-bahan yang baru sampai dari pemasok harus langsung diperiksa terlebih dahulu oleh tim QC untuk kesesuaian dengan standar dengan mengambil sample dengan metode sampling, apabila ternyata bahan tidak memenuhi standar, bahan dapat ditahan di loading bay atau dikembalikan kepada pemasok. Bahan yang telah lolos dari uji kualitas, akan diberi label pada palletnya yang berisikan tipe teh, nomor isi, nama supplier, waktu kedatangan, nomor karung, dan ditandatangani oleh penerima. Data-data ini akan dimasukkan ke dalam system oleh admin di divisi warehouse dan oleh tim forklift diletakkan di rak-rak barang sesuai dengan nomornya agar mudah ditemukan.

Penggudangan di pabrik ini selalu menggunakan prinsip FIFO (first in first out) untuk melakukan penyimpanan dan penggunaaan bahan-bahan yang disimpan dan pada umumnya, pada kondisi normal, teh yang masih dalam karung yang diberikan oleh supplier memiliki masa simpan hingga 5 tahun.

BLENDING PROCESS Proses blending artinya mencampurkan komponen-komponen yang berupa teh yang dikirim langsung dari perkebunan teh kemudian dicampur berdasarkan blend sheet yang dikeluarkan oleh Tea Buying Departement. Tiap blend sheet memiliki 20 komponen yang dirinci juga jumlah yang harus dicampurkan tiap komponen dan spesifikasinya komponen tersebut seperti apa. Blend sheet ini menjadi acuan utama untuk memulai proses blending yang pertama yaitu proses peracikan. Proses peracikan artinya pengambilan bahan-bahan baku di gudang penyimpanan dan disatukan menurut blend sheet, kemudian bahan-bahan yang sudah siap di blending akan di bawa ke daerah tipping. Di daerah tipping, karung-karung yang berisi teh tersebut akan di angkat menggunakan vaccum lifter menuju conveyor 1, conveyor akan membawa karung dan pada ujung conveyor tersebut disobek menggunakan pisau dan teh-teh tersebut akan jatuh ke tempat penampungan 1. Di area tipping ini terdapat saringan yang besarnya 5 mesh untuk mencegah bahan-bahan asing seperti tali, rambut, atau mur ikut tercampur dalam proses blending, di area tipping ini juga terdapat magnet bar yang berguna untuk menahan benda-benda yang mengandung besi seperti serbuk besi maupun material lainnnya. Selanjutnya bahan kemudian dibawa oleh conveyor 1 yang berbentuk landai menuju conveyor 2 yang benbentuk vertical lalu menuju ke siever vibrator. Siever vibrator berguna untuk menahan teh yang akan berguna untuk mengurangi beban kerja yang diterima oleh floveyor 1. Bahan akan terus dibawa menuju floveyor 1 menuju sub hoper 1. Sub hoper 1 ini digunakan untuk menampung sementara bahan-bahan sebelum dimasukkan ke dalam drum blend. Sub hoper dapat menahan beban sampai 1.5 ton. Saat blend drum sudah dikosongkan, pintu pada sub hopper akan dibuka dan bahan akan masuk kedalam blend drum.

Proses pencampuran di dalam blend drum berlangsung selama 5 menit, apabila lebih dari 5 menit, maka komponen dust didalam campuran akan meningkat sedangkan apabila kurang dari 5 menit, maka bahan akan belum tercampur seluruhnya secara merata. Kapasitas maksimum blend drum untuk bekerja secara optimal adalah 1.2 ton. Setelah proses pencampuran selesai, pintu yang terdapat di kedua sisi blend drum akan terbuka dan bahanbahan yang sudah tercampur akan masuk kedalam floveyor 2 dan floveyor 3. Pada pintu ini terdapat magnet bar dan dust collector. Campuran akan selanjutnya masuk ke sub hoper 2. Sub hopper kedua ini akan memindahkan campuran ke alat yang dapat memindahkan bahan secara bergerak ke dalam silo silo. Terdapat 9 silo yang digunakan untuk menampung hasil campuran, masing-masing silo dapat menampung hingga 5 ton. 2 buah silo digunakan sebagai direct silo yang berfungsi menyuplai campuran ke mesin-mesin yang terdapat di packing hall secara terus-menerus. Sedangkan silo yang lainnya dapat digunakan untuk menampung sementara campuran bahan sebelum dimasukkan di dalam direct bin atau karung-karung. Direct bin digunakan untuk mentransfer campuran bahan ke dalam mesin-mesin di packing hall di dalam feed station. Bin dibedakan berdasarkan warnanya, warna coklat untuk teh jenis campuran harmoni, sedangkan warna perak atau stainless steel digunakan untuk jenis campuran RSS. Sedangkan karung-karung digunakan untuk memindahkan bahan-bahan yang sudah dicampur yang selanjutnya akan diproses di pabrik teh di cicadas. Pada penggunaan direct silo, digunakan jenis pompa vakum yang dinamakan delphin, memiliki kekuatan vakum dan hisap yang lebih besar karena jarak tempuh yang harus dilalui bahan menuju ke packing hall lebih jauh dibandingkan kekuatan pompa vakum PIAB. PIAB akan bekerja optimal pada jarak 30-35 meter.

Conveyor 2 Conveyor 1 Filling into sack Batching Preparation Tipping (sack opening) Magnet bar Mixing in blend drum Tea receiving & storage Screening vibrator Sub Hoper 1 Sieve (5 bar) Floveyor 2 Magnet Bar Sub Hoper 2 Floveyor 1