Problematika Pendidikan Islam Di Indonesia

Problematika Pendidikan Islam di Indonesia (bagian 1) Ditulis oleh Aries Musnandar Sabtu, 05 November 2011 11:03 A.

Tinjauan Praksis Pendidikan Islam Proses pendidikan terejawantahkan sebagai hasil kajian dari ilmu pendidikan yang lebih bersifat praksis. Ilmu pendidikan tidak dapat dipelajari dari belakang meja tanpa peserta didik dan pendidik, tanpa tujuan pendidikan dan kebijakan pendidikan. Keadaan ilmu pendidikan di Indonesia sudah sejak lama oleh sebagian kalangan pakar pendidikan dikatakan dalam status stagnasi karena terputus hubungannya dengan praktik pendidikan. Dengan sendirinya banyak kebijakan pendidikan yang bukan ditentukan oleh data dan informasi di lapangan. Proses pendidikan terjadi dalam lingkungan pendidikan dengan para stakeholder-nya yaitu peserta didik, pendidik, orang tua, masyarakat dan pemerintah. Keberhasilan dan kegagalan yang disebabkan oleh pelaksanaan kebijakan pendidikan adalah informasi untuk perumusan kembali kebijakan. Kebijakan pendidikan Islam tidak terlepas dari model H.AR Tilaar (2009) yang menyatakan bahwa pendidikan di Indoensia seharusnya memerhatikan Evidence Information Based yakni terkait antara teori, riset, kebijakan dan praktik pendidikan. Pendidikan Islam di Indonesia telah berlangsung lama bersamaan dengan masuknya Islam di Indonesia. Sejumlah literatur tentang sejarah perkembangan Islam mensinyalir bahwa Islam masuk dan disebar ke Indonesia melalui pedagang-pedagang yang beragama Islam baik dari Asia maupun Timur Tengah. Semula pendidikan Islam terlaksana secara informal antara pedagang dan atau mubaligh dengan masyarakat sekitar. Kegiatan pendidikan berlangsung di mesjid ataupun di surau/langgar. Setelah berdirinya kerajaankerajaan Islam pendidikan Islam berada dibawah pengawasan dan tanggungjawab kerajaan. Penyelenggaraan pendidikan Islam tidak hanya di mesjid dan langgar tetapi juga berkembang ke tempat khusus untuk belajar ilmu agama Islam secara lebih mendalam, teratur dan tertib dalam penyampaian pesan-pesan ajaran Islam tersebut. Tempat menuntut ilmu Islam ini dikenal masyarakat sebagai pesantren . Masuknya penjajah (khususnya penjajah Barat) di Indonesia membawa banyak perubahan menadasar dalam dinamika pengajaran dan pendidikan agama Islam di Indonesia. Penjajahan yang memiliki ciri ingin melanggengkan kekuasaan di negeri jajahannya itu sedikit banyak telah berhasil menanamkan paradigma di masyarakat tentang perbedaaan antara pendidikan Islam dan pendidikan Barat. Sehingga memunculkan pandangan bahwa pendidikan Islam di Pesantren lebih pada masalah keakheratan, sedangkan pendidikan Barat (ilmu-ilmu umum) lebih bertumpu pada persoalan keduniawian belaka. Paradigma ini terus berlanjut hingga kini. Seperti dikemukakan diatas bahwa sesungguhnya pendidikan Islam itu telah berlangsung sejak lama. bahkan jauh sebelum pendidikan umum diselenggarakan oleh penjajah Belanda di bumi Nusantara ini. Disisi lain, seperti telah disinggung dimuka bahwa sumbangan pemikir dan tokoh Islam dalam pengembangan ilmu pengetahuan (sebagian mengenalnya sebagai ilmu pengetahuan Barat) tidak diragukan lagi. Ide, gagasan atau

pandangan yang digali dari wahyu Ilahi berupa ayat-ayat qauliyah serta hasil-hasil penelitian sebagai fenomena kauniyah merupakan landasan berpijak para cendikiawan Muslim tatkala mengembangkan suatu ilmu . Perkembangan pendidikan Islam di Indonesia yang semula berangkat dari prakarsa dan kemandirian, bebas pengaruh otoritas kebijakan, sedikit banyak mulai terpengaruh. Madrasah sebagai bagian dari lembaga pendidikan Islam cukup dinamis dalam menanggapi kondisi kekinian masyarakat. Pada awalnya kurikulum Madrasah menitikberatkan pada pendidikan agama dari pada ilmu-ilmu umum, tapi kini berbalik yakni: 70% ilmu umum dan 30% agama. B. Persoalan dan Hambatan Pada tataran filosofis dan praksis pendidikan Islam di Indonesia tak luput dari bermacam persoalan baik yang bersifat akut maupun faktual. Persoalan akut seperti diskursus yang tak kunjnung usai antara ilmu agama dan ilmu umum. Sementara problema faktual lebih terkait pada masalah-masalah teknis implementatif pelaksanaan pendidikan Islam. Peta pendidikan Islam meliputi pertama: pendidikaan keagamaan yakni diniyah, pesantren; kedua: matakuliah/ pelajaran Agama Islam di IAIN/Perguruan Tinggi & TK//SD/SMP/A; serta ketiga: pendidikan umum bercirikan Islam seperti TKI/RA/BA, SDI/MI/MTs, SMUI/MA/K dan PTAI. Dalam makalah ini pembahasan problematika pendidikan Islam lebih dititik beratkan pada hambatan terjadi di pendidikan umum bercirikan Islam terutama tingkat sekolah dasar hingga menengah yakni Madrasah Ibtidaiyah (SD). Madrasah Tsanawiyah (SMP) dan Madrasah Aliyah (SMA). Berdasarkan data yang dikeluarkan Center for Informatics Data and Islamic Studies (CIDIES) Departemen Agama dan data base EMIS (Education Management System) Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama, jumlah Madrasah Ibtidaiyah/MI, Madrasah Tsanawiyah/MTs dan Madrasah Aliyah/MA sebanyak 36.105 madrasah (tidak termasuk diniyah dan pesantren). Dari jumlah itu 90,08 % berstatus swasta dan hanya 9,92 % yang berstatus negeri. Atas dasar itu, madrasah-madrasah swasta yang jumlahnya lebih banyak daripada madrasah negeri yakni 32.523 buah mengalami masalah yang mendasar yaitu berjuang keras untuk mempertahankan hidup atau lâ yamûtu walâ yahya diplesetakan menjadi kurang bermutu dan perlu biaya (agar lebih bermutu dan tidak mati)). Namun demikian, madrasah bagi sebagian masyarakat Indonesia tetap memiliki daya tarik. Hal ini dibuktikan dari adanya peningkatan jumlah siswa madrasah dari tahun ke tahun rata-rata sebesar 4,3 %, sehingga berdasarkan data CIDIES, pada tahun 2005/2006 saja diperkirakan jumlah siswanya mencapai 5, 5 juta orang dari sekitar 57 juta jumlah penduduk usia sekolah di Indonesia . Berbagai persoalan dan hambatan mencuat dalam penyelenggaraan pendidikan Islam tak dapat dielakkan sebagai ekses dari implementasi kebijakan pendidikan nasional yang di disain pemerintah. Persoalan di hulu yang berkaitan filosofis pendidikan Islam telah menimbulkan diskursus, demikian pula di hilir pada tataran implementatif pendidikan Islam masih jauh dari kesempurnaan spirit ajaran Islam. Senyata dan sejatinya nilai-nilai Islam sangat universal dan pengejawantahan nilai-nilai Islam akan membawa manfaat

muatan kurikulum sekolah-sekolah berbasis ormas ini seakan ‘over dosis' karena kelebihan beban. untuk kondisi saat ini masih sulit memimpikan kebersamaan antara kedua ormas tersebut dalam bekerjasama untuk melahirkan sekolah-sekolah Islam yang efektif dan di segani tidak hanya di Indonesia tetapi di kancah internasional. Maka. Sekolah-sekolah umum berbasis Islam ini tidak hanya harus mengikuti kebijakan politis ormas yang melahirkannya dengan mengejawantahkan kebijakan tersebut ke dalam kurikulum sekolah. Dari hambatan politis bersifat internal antar umat Islam (baca: ormas Islam) di Indonesia. Namun pencantuman Madrasah dalam UU itu sekedar "pelengkap" komponen utama pendidikan nasional. 1. Secara politis kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia diatur melalui UU sistem pendidikan nasional no 20 tahun 2003 diakui memang memuat keberadaan pendidikan Islam seperti madrasah dan pesantren. Hambatan Politis: Internal dan Eksternal Secara internal hambatan politis terjadi disebabkan terlalu campur tangannya organisasi massa (ormas) Islam yang memayungi sekolah-sekolah berbasis keislaman. penyelenggaraan pendidikan Islam yang ada di Indonesia ini berkembang tanpa sinergitas dan perbedaan yang diramu untuk suatu keunggulan yang lebih besar.bagi semua (rahmatan lil alamin). Hambatan disebabkan berbagai kebijakan pemerintah yang kurang memerhatikan maksimal terkait dengan penyelenggaraan pendidikan Islam. Tetapi juga tentunya harus mengkuti ketentuan dan kebijakan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional sebagai Pembina utama sekolah-sekolah tersebut. Padahal. Alhasil.Walau diakui ada kemajuan tapi masih jauh dari harapan rakyat Indonesia yang mayoritas berpenduduknay beragama Islam. Persoalan politis yang berasal dari internal umat Islam ini memang sudah menjadi ciri khas dari kedua organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu. Keinginan ormas untuk menunjukkan jati diri politis cukup kental dengan memasukkan sejumlah matapelajaran yang berkaitan dengan asal usul pendirian ormas tersebut. menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan nasional (UUSPN). Mereka saling berupaya secara sendiri-sendiri ingin menampilkan keunggulannya masing-masing. Sekolah atau madrasah yang terkait kedua organisasi massa Islam terbesar di Indonesia itu seolah ingin menunjukkan jati diri meraka masing-masing sebagai sekolah yang "paling benar" dalam mengemban misi dan visi keislaman. Demikian pula materi ahlus sunnah wal jamaah diberikan untuk sekolah yang berbasis ormas Nadhatul Ulama (NU) atau yang di dirikan oleh para tokoh NU. Kenapa demikian? Karena dalam tataram praksis perhatian penyelenggara Negara tampaknya lebih menaruh perhatian dan fokus pada sekolah-sekolah umum (dibawah pengawasan Kemendiknas) baik dari sis teknis peningkatan mutu persekolahan maupun sisi anggaran yang tersedia. Masing-masing ormas tetap ingin mempertahankan jati diri dan kekhasannya sendiri-sendiri. Konsekuensinya. Sebut saja misalnya ada materi kemuhammadiyahan yang diberikan mulai dari sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi. penyelenggaraan pendidikan Islam juga dihadapkan hambatan politis yang bersifat eksternal. madrasah memiliki kedudukan dan peran yang sama dengan lembaga pendidikan lainnya .

Pada bagian lain pendidikan umum berciirikan Islam (madrasah) ditangani Kementerian Agama sedangkan sekolah umum bercirikan Islam diawasi Kementereian Pendidikan Nasional. 2. Hanya saja stigma pendidikan Islam merupakan urusan akherat begitu mengental hingga mempengaruhi tumbuh kembang disiplin ilmu selain agama. Pengelola merupakan pencerminan dari kondisi umat islam yang tidak terlepas dari hambatan kultural internal tersebut. pada akhirnya berpengaruh juga pada persepsi masyarakat terhadap lembaga pendidikan Islam. Kurangnya kesungguhan penyelenggara pendidikan Islam dalam mengelola lembaga pendidikan Islam seperti madrasah dan sekolah berbasis keislaman disinyalir karena kesadaran umat Islam atas kewajiban menuntut ilmu masih rendah. dunia Barat maju seperti sekarang ini tidak terlepas dari hasil kajian cendekiawan Muslim terdahulu. menyebarkan budaya membaca dan bekerja keras serta nilai-nilai social keislaman lainnya. Desentralisasi.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Hal ini disebabkan lemahnya kinerja yang ditunjukkan serta rendahnya motivasi untuk menjadikan lembaga pendidikan Islam ini sebagai "kawah candradimuka" para intelektual yang agamis dan para ulama yang intelektual. Undang-undang itu menyatakan bahwa desentralisasi adalah azas dan proses pembentukan otonomi daerah dan penyerahan wewenang pemerintah di bidang tertentu oleh Pemerintah Pusat. Padahal berdasarkan teori sistem yang dikemukakan David Easton dalam HAR Tilaar (2009) manajemen pendidikan memerlukan keterpaduan penggerakan sistem sebagai syarat penting keberhasilan sistem . Padahal. sehingga menampakkan kesan dualisme dalam pengelolaan pendidikan antara Pusat dan Daerah. Sejak lama masyarakat menumbuh-kembangkan pendidikan Islam baik di mesijid maupun pesantren dengan cara bergotong royong. para pembaharu perilaku dan budaya untuk menerapkan nilai-nilai Islam dalam bentuk ketauhidan social seperti menegakkan disiplin sekolah secara ajeg dan konsisten. demokrasi dan otonomi merupakan isu yang mengemuka sekarang ini sebagai dampak dari implementasi UU no. Gejala rendahnya budaya membaca. sistem pendidikan Islam (madrasah) tidak ikut dikaji secara baik oleh pemangku kebijakan bahkan cenderung diabaikan "neglected community". Hambatan Kultural: Internal dan Eksternal Kita sangat menyayangkan hingga kini lembaga-lembaga pendidikan Islam masih sulit dijadikan model lembaga pendidikan yang paripurna dan berlaku umum di Indonesia.(persekolahan). Dengan kenyataan ini seringkali tatkala membahas pengembangan persekolahan. belajar dan bekerja keras menunjukkan bahwa pemahaman umat Islam tentang nilai-nilai Islam belum merata dan menjadi hambatan untuk maju berprestasi. Kemandirian adalah cirri utama pemdidikan Islam kala itu. Kondisi internal umat Islam yang masih lemah untuk menanam-suburkan nilai-nilai Islam itu oleh para penyelenggara dan pengelola pendidikan Islam. Secara sociocultural politis pendidikan Islam berlangsung semenjak masuknya Islam di persada Nusantara. Pengelola belum mampu bangkit menjadi "agent of change". Di Indonesia. efeknya terasa hingga kin tatkala muncul kesadaran untuk tidak memisahkan keduanya. skenario penjajah yang berciri "devide et impera" sukses memisahkan urusan dunia dan ukhrowi. Fenomena kondisi . Otonomi ini meliputi juga sektor pendidikan. dalam konteks sociocultural politics.

.. Sehingga kedua-duanya (kultural internal dan eksternal) menjadi hambatan bagi kemajuan dan pengembangan mutu penyelenggaraaan pendidikan Islam. Terlebih lagi penguasaan agama sebagian umat Islam juga masih rentan dipengaruhi budaya-budaya lokal setempat yang ternyata ssulit dihilangkan.) . bahkan cenderung dapat menguburkan nilai-nilai Islam sesungguhnya. Persepsi masyarakat sudah terlanjur terpengaruh dengan paradigm bahwa pendidikan Islam hanya berkutat pada masalah agama dan kurang menaruh perhatian pada pengembangan aspek-aspek lainnya seperti kecerdasan intelektual dan sosial. Persepsi masyarakat sudah terlanjur terbentuk sangat kuat tentang hal itu. Hambatan kultural baik yang berasal dari dalam (internal) maupun dari luar (eksternal) masih ditambah dengan sistem pendidikan nasional yang terkesan juga terjebak diskursus dikotomi antara ilmu-ilmu umum dan agama..cultural umat Islam yang menyelenggarakan pendidikan Islam merupakan aspek internal yang saling kait mengkait dengan persepsi umat Islam di luar lembaga tersebut. (Bersambung. Budaya-budaya lokal yang diadopsi tanpa landasan filosofis yang kuat bisa menjadi boomerang kemajuan umat Islam...

perlu diakui bahwa selain keberhasilan dalam memberikan kontribusinya dalam meningkatkan ketaatan menjalankan agamanya. 4. metodologi. Meskipun demikian. demokratis. seperti SDM. supervise.STRATEGI PEMBINAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH ** Oleh : Nurhayati Djamas Latar Belakang 1. sebab pendidikan agama di sekolah bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan dalam pembentukan watak dan kepribadian siswa. Dalam Undang-undang No. 3. usaha untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan pendidikan agama di sekolah terkendala dengan keterbatasan waktu yang teralokasikan 2 jam pelajaran per minggu. Berdasarkan pengalaman. belum dapat masuk menjadi bagian primer atau strategis dalam mainstraim sistem pendidikan nasional. memiliki pengetahuan dan keterampilan. produktif serta inovatif. penyelenggaraan pendidikan agama Islam di sekolah juga didorong oleh tuntutan dilakukannya upaya pembaharuan ke arah masyarakat yang lebih terbuka. 20 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional ditetapkan. Gejala ini memang sulit dinyatakan secara kongkrit. Ketentuan ini menempatkan pendidikan agama pada posisi yang amat strategis dalam upaya mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Berbagai gejolak sosial dan problem-problem budaya yang muncul sangat gencar akhir-akhir ini mendorong berbagai pihak mempertanyakan efektivitas pelaksanaan pendidikan agama di sekolah. transparan. Dewasa ini pendidikan agama menjadi sorotan tajam masyarakat. padahal muatan utama pendidikan agama 2 adalah proses internalisasi nilai yang memerlukan kerapatan . Sejalan dengan tujuan tersebut. tetapi dapat dirasakan melalui berbagai fenomena. bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia serta bertujuan membentuk manusia Indonesia seutuhnya. dalam Undang-undang ditegaskan bahwa pendidikan agama merupakan muatan wajib dalam semua jalur. seperti: a. 2. Permasalahan lain yang juga ikut menjadi pertimbangan pentingnya reaktualisasi pendidikan agama Islam di sekolah amino adalah posisi Pendidikan Agama yang masih terasa berada pada posisi marjinal. kesehatan jasmani dan rohani. kepribadian yang mantap dan mandiri. dan lain-lain. Memang tidak adil menimpakan tanggung jawab munculnya kesenjangan antara harapan dan kenyataan itu kepada pendidikan agama di sekolah. dalam pelaksanaan pendidikan agama masih terdapat kelemahankelemahan yang mendorong dilakukannva penyempurnaan terus menerus. manajemen pendidikan. serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur. sarana-prasarana. Selain kelemahan internal pada aspek-aspek instrumental. kurikulum. sistem evaluasi. Jumlah jam pelajaran yang hanya 2 jam. dan jenis pendidikan. jenjang.

Pada umumnya. termasuk membaca Al Qur'an. upaya internalisasi nilai-nilai agama jelas memerlukan kolaborasi dari semua pihak -vang ada di sekolah. yaitu tentang impian dan citacita apa yang hendak diwujudkan dari penyelenggaraan pendidikan agama di sekolah. bukan pembentukan jiwa keagamaan dan watak kepribadian. orang tua menyekolahkan anaknya ke sekolah. Padahal. serta strategi ini diharapkan dapat menjadi acuan dan sumber inspirasi bagi seluruh unsur yang terlibat dan bertanggung jawab dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam di sekolah dalam upaya dan perjuangannya mencapai tujuan yang diharapkan. watak dan kepribadian dengan landasan iman dan ketakwaan serta nilai-nilai akhlak atau budi pekerti yang kokoh yang tercermin dalam keseluruhan sikap dan prilaku sehari-hari. dan (3) Pengembangan keterampilan beribadah. pendidikan agama menjadi unsur terpenting dalampembentukan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur. d. dari pada transformasi ilmu pengetahuan agama. Hal ini dapat dimaklumi karena pada umumnya. dan strategi pendidikan agama Islam. misi. untuk selanjutnya memberi corak bagi pembentukan watak bangsa. Pada umumnya siswa lebih termotivasi dalam mata pelajaran yang langsung berkenaan dengan kebutuhan hidup sehari-hari. dibanding pencapaian kemampuan kognitif. Perumusan dan pemantapan visi dan misi. ditetapkan empat misi pokok dalam penyelenggraan . dengan waktu yang hanya 2 jam pelajaran per minggu. pertama kali tentu atas pertimbangan kepentingan pengembangan kecerdasan. Rendahnya motivasi siswa terhadap mata pelajaran agama.perulangan dan kesinambungan. 3 MISI PENDIDIKAN AGAMA DI SEKOLAH Berdasarkan visi di atas serta mengingat kendala serta permasalahan yang dihadapi. Sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Posisi ini menempatkan pendidikan agama lebih banyak berimplikasi dengan tujuan yang bersifat penanaman nilai-nilai sikap dan perilaku. Di samping beberapa sekolah yang sangat menonjol kegiatan pendidikan agamanya. Tidak adanya Ujian Akhir Nasional pada mata pelajaran Pendidikan Agama juga menjadi salah satu alasan kurangnya motivasi siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama. Untuk itu. "Terbentuknya sosok anak didik yang memiliki karakter. c. terutarna kepala sekolah dan guru mata pelajaran lain. Tujuan pendidikan agama Islam pada sekolah seharusnya lebih menekankan domain afektif dan psikomotor. (2) Pembentukan akhlaq/budi pekerti. Kurangnya perhatian pihak sekolah. Rendahnya perhatian orang tua terhadap pentingnya pendidikan agama di sekolah. b. selebihnya adalah sekolah yang kurang begitu antusias untuk mengembangkan kegiatan keagamaan di sekolah. VISI PENDIDIKAN AGAMA DI SEKOLAH Berbagai pertimbangan di atas telah mendorong dilakukannya penajaman visi. yaitu: (1) Penanaman keyakinan/ keimanan. visi pendidikan agama Islam di sekolah dirumuskan sebagai berikut. perhatian pihak sekolah umum terhadap penyelenggaraan pendidikan agama sangat rendah.

baik sebagai pendidik. Guru pendidikan agama harus mencerminkan sosok sebagai pendidik.Untuk itu Guru Pendidikan Agama Islam sekurangkurangnya harus memiliki kualifikasi clan kompetensi dasar. dan diikuti dengan pembiasaan pengamalan ibadah bersama di sekolah. bahwa kegiatan belajar mengajar di depan kelas. Menyelenggarakan pendidika agama di sekolah engan mengintegrasikan aspek pengajaran. serta instrumen pendukung pendidikan lainnya.pendidikan agama di sekolah. pembimbing dan penasehat bagi anak didik. 2. 2. dan jenjang pendidikan. Melaksanakan pendidikan agama sebagai bagian integral dari keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Pemantapan kurikulum pendidikan agama dengan mengedepankan esensi dari aspek-aspek keagamaan yang elementer bagi terwujudnya . pengamalan. Pengembangan dan pemberdayaan SDM guru pendidikan agama yang diarahkan kepada penguatan posisi dan peran mereka dalam sistim pendidikan di sekolah. yaitu memiliki self image/self confidence (citra diri sebagai pendidik dan 4 kepercayaan diri yang tinggi). maupun sebagai pembimbing. kunjungan dart memperhatikan lingkungan sekitar. serta sekaligus sebagai komunikator dan penggerak bagi terciptanya suasana keagamaan di sekolah. 4. 3. komunikator serta penggerak bagi terciptanya suasana dan disiplin keagarnaan di sekolah. sarana. dan penasehat. 3. Karena itu. dan pengalaman. serta memiliki kemampuan untuk mengimpelementasikannya dalam proses pendidikan di sekolah. kepala sekolah. serta penerapan nilai dan norma akhlak dalam perilaku sehari-hari. 2 tahun 1989 tentang Sistim Pendidikan Nasional yang menegaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan Agama Islam wajib diberikan pada setiap jalur. proses belajar mengajar dan pendekatan pendidikan agama di sekolah. komitmen yang tinggi terhadap profesi dalam mencapai visi Pendidikan Agama Islam. strategi bagi pencapaian visi dan pelaksanaan misi pendidikan agama meliputi: 1. prasarana dan instrumen pendukung penyelenggaraan pendidikan agama. kurikulum. Melakukan penguatan posisi dan peran guru agama di sekolah secara terus menerus. Pemerataan penyelenggaraan pendidikan agama sejalan dengan tuntutan UndangUndang nomor. jenis. STRATEGI PENDIDIKAN AGAMA DI SEKOLAH Faktor-faktor yang menjadi pilar utama penentu keberhasilan pelaksanaan pendidikan agama tersebut diatas yaitu guru pendidikan agama. sehingga dapat mendukung terselenggaranya proses pendidikan agama di sekolah secara optimal bagi pencapaian visi pendidikan agama. penguasaan pengetahuan teknis terkait dengan profesi sebagai pendidik. Melakukan upaya bersama antara guru agama dengan kepala sekolah serta seluruh unsur pendukung pendidikan di sekolah untuk mewujudkan budaya sekolah (school culture) yang dijiwai oleh suasana dan disiplin keagamaan yang tinggi yang tercermin dari aktualisasi nilai dan norma keagamaan dalam keseluruhan interaksi antar unsur pendidikan di sekolah dan di luar sekolah. yaitu : 1.

penyertaan kelompok Rohani Islam OSIS dalam upaya menciptakan suasana keagamaan di sekolah. Untuk itu. Perlu ada upaya dan langkah konkrit antara Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional untuk menyediakan ruang ibadah di sekolah. proses belajar mengajar di kelas perlu diikuti oleh upaya optimalisasi pemanfaatan jam pelajaran agama di sekolah dengan menyediakan waktu pada jam pelajaran untuk diisi dengan pengamalan ibadah berupa shalat berjamaah di sekolah yang diikuti dialog antara guru dan murid membahas pendidikan moral dari ilustrasi pendidikan akhlak yang terkandung di dalam Al Qur'an dan ajaran Rasul. namun dapat pula dilengkapi dengan kepustakaan berupa bukubuku agama Islam sebagai referensi tambahan bagi materi pendidikan agama yang dapat dimanfaatkan baik oleh anak didik maupun guru. hendaknya tergambar dalam rumusan kemampuan dasar pada setiap tahapan pelaksanaan kurikulum tersebut. seperti pembentukan kelompok belajar Al Qur'an sebagai salah satu jenis kegiatan ekstra kurikuler. Ruang ibadah juga dapat bermanfaat bagi kegiatan ekstra kurikuler kelompok belajar Al 5 Qur'an atau kegiatan keagamaan lainnya. Untuk mendukung proses belajar mengajar dengan pendekatan pendidikan agama. Namun. pelaksanaan kurikulum perlu didukung oleh metodologi dan pendekatan pendidikan agama yang tidak saja terbatas pada aspek kognitip dalam bentuk transfer of knowledge semata. yang berfungsi tidak saja untuk melaksanakan praktek ibadah seperti shalat berjamaah di sekolah. pengamalan dan pengalaman seperti dikemukakan di atas. tetapi meliputi dan lebih mengutamakan pada perwujudan sikap dan perilaku anak didik. yang mencerminkan nilai-nilai keagamaan dalam keselurt/han sikap dan perilakunya. Pelaksanaan pendidikan agama oleh guru agama bersama dengan . ketakwaan dan nilai-nilai moral yang kokoh. Sosok anak didik yang berwatak dan berkepribadian utuh. pesantren kilat pada bulan Ramadhan. perlu dirumuskan indikator keluaran (out put) atau capaian dari pelaksanaan kurikulum pada setiap jenjang pendidikan dengan merumuskan standard kemampuan dasar pada anak didik dalam setiap tahapan proses pendidikan yang dilaluinya. berkarakter dan berkepribadian utuh dengan landasan iman. tetapi lebih menekankan pada pembentukan sikap dan perilaku anak didik. Buku-buku wajib yang berisikan materi standar bagi pendidikan agama secara nasional tetap perlu diupayakan pengadaannya bagi pemenuhan kebutuhan anak didik. pembentukan pengurus kegiatan keagamaan mushalla sekolah dan lainnya. Dalam pada itu. yang mengintegrasikan antara unsur pengajaran. Karena itu. 6. terutama pada tingkat pendidikan dasar. sekolah dan guru agama perlu diberi peluang untuk menggunakan buku referensi di luar buku wajib tersebut bagi pengayaan materi pendidikan agama. 4. rumusan kemampuan dasar tersebut tidak lagi semata-mata terbatas pada penguasaan pengetahuan agama (yang bersifat verbal). Selain itu. perlu diupayakan berbagai instrumen dan institusi pendukung bagi proses pendidikan agama di sekolah. perlu dikembangkan sarana dan prasarana pendidikan agama yang memadai di sekolah.sosok anak didik yang berwatak. 5. Untuk itu.

8. Untuk itu. Mengupayakan langkah-langkah peningkatan koordinasi. serta untuk menerapkan disiplin di sekolah. sebagai bagian dari pelaksanaan manajemen pendidikan di sekola kegiatan pengawasan pendidikan agama perlu dioptimalkan f'ungsima. perlu pula dikembangkan dan difungsikan secara optimal wadah jaringan kerja antar guru seperti KKG. antara guru dan anak didik. diperlukan upaya clan langkah penguatan posisi dan fungsi pengawas pendidikan agama. Selanjutnya. Untuk itu. Upaya ke arah optimalisasi fungsi dari berbagai instrumen pendukung pendidikan agama tersebut antara lain dapat dilakukan oleh pemerintah melalui insentip yang diberikan secara kompetitip ditinjau dari kinerja yang ditunjukkannya. Pengawas pendidikan agama merupakan kepanjangan tangan sekali gus sebagai mediator antara unsur pemerintah. yang berwenang dalam kebijakan pendidikan agama dengan guru agama clan kepala sekolah. ** Disampaikan pada Rapat Kordinasi oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah Umum. 19 Oktober 2000. monitoring dan evaluasi secara terintegrasi dengan keseluruhan proses pendidikan yang berlangsung di sekolah. Wadah terakhir ini diperlukan untuk tugas khusus mewujudkan ketertiban dalam hubungan antar sesama anak didik. Wadah kerjasama dan jaringan kerja antar guru dapat difungsikan untuk berbagi pengalaman dalam pelaksanaan pendidikan agama serta mencari solusi bersama dari kendala clan hambatan dalam menjalankan misi pendidikan agama. integrasi clan sinkronisasi pelaksanaan pendidikan agama di sekolah dengan pelaksanaan pendidikan agama di lingkungan keluarga dan masyarakat. yang bertanggung jawab dalam proses pelaksanaan pendidikan agama di sekolah. Penerapan manajemen pendidikan tersebut diperlukan agar seluruh kegiatan pendidikan agama dapat diselenggarakan melalui perencanaan. MGMP.komponen pendidikan lainnya perlu didukung oleh manajemen pendidikan (agama). pelaksanaan. 7. Kamis. . dan bahkan kelompok kerja guru di sekolah. Untuk itu perlu ditingkatkan pemanfaatan semua potensi yang relevan bagi pengembangan keterpaduan pelaksanaan pendidikan agama.

pendidikan Islam. maka turut kemajuan suatu institusi pendidikan akan sangat terkait erat dengan potensi masyarakat. oleh dan untuk kepribadian individual dan kegunanan masayarakat yang diarahkan untuk menghimpun semua aktivitas tersebut1. sebagaimana tidak . potensi. Kata kunci: Pemberdayaan. Jika sudah demikian. Perjalanan Pendidikan Islam tidak terlepas dari pasang surutnya sistem Pendidikan Nasional itu sendiri. ekonomi. Juni 2007 URGENSI PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT OLEH: NUR ASIAH * ABSTRAKS Banyak kritikan cukup tajam yang dilontarkan berbagai pihak tentang out put Pendidikan Islam yang belum menunjukkan keberhasilannya ditengah-tengah masyarakat. Salah satunya dengan memberdayakan potensi masyarakat tepat guna. Dalam hubungannya dengan tema di atas. masyarakat. maka secara kuat dipahami bahwa proses pemberdayaan masyarakat dalam hal ini *Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Intan Bandar Lampung 24 Komunitas. Karena peserta didik itu datang dan bermuara pada masyarakat. orientasi. maka menjadi suatu keharusan masyarakat harus ikut andil dalam usaha memajukan Pendidikan Islam itu sendiri. moral. dengan demikian pendidikan akan menjadi lebih bermakna.23 Volume 3. maka arah kebijakan kurikulumpun harus berorientasi pada masyarakat Pada tempat pertama semua kegiatan pendidikan harus diarahkan dengan jelas dan tegas kepada tujuan pendidikan. Oleh karena Pendidikan Islam bukan hanya tanggungjawab institusi pendidikan saja. Pendidikan Islam merupakan sub sistem Pendidikan Nasional Indonesia. Sebab pada hakekatnya belajar itu bukan untuk sekolah (non scholae) tetapi belajar adalah untuk hidup ( sed vitae discimus). Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam NUR ASIAH difokuskan pada aspek pendidikan terutama Pendidikan Islam. Pendidikan merupakan perkembangan yang terorganisir dan kelengkapan dari semua potensi manusia. intelektual maupun jasmani. Nomor 2. PENDAHULUAN Pemberdayaan masyarakat merupakan suatu proses yang berusaha meningkatkan kualitas hidup individu atau sekelompok masyarakat untuk beranjak dari kualitas kehidupan sebelumnya menuju pada kualitas hudup selanjutnya. maupun sosial kebudayaan. Oleh karena itu pemaknaan pemberdayaan masyarakat mempunyai cakupan yang luas seperti aspek pendidikan. akan tetapi tanggungjawab komunitas muslim. politik.

Hal ini dimaksudkan sebagai perencanaan jangka panjang untuk menjawab tantangan eksternal yang semakin dinamis dan kompleks.terlepasnya umat Islam ketika kita membicarakan nasib bangsa ini. Yang nota bane mayoritas masyarakatnya memeluk Agama Islam. orang tua. karena out-put pendidikan pada akhirnya akan bermuara pada satu titik yaitu masyarakat. Juni 2007 URGENSI PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT kelemahan (faktor internal). sarana dan prasarana serta pengawasan pendidikan. maupun para pakar pendidikan untuk peningkatan mutu pendidikan tak terkecuali Pendidikan Islam sudah sejak lama namun hasil yang dicapai belumlah maksimal. tujuan. Nomor 2. Menurut hemat penulis baik upaya-upaya yang dilakukan pemerintah. dukungan. inilah yang dimaksud penulis dengan istilah memberdayakan masyarakat. serta membangun moral bangsa (Nation Character Building)2. Untuk saat ini seharusnya lembaga Pendidikan Islam memerlukan adanya perencanaan strategis. dinilai hanya mampu memenuhi aspek normatif semata dan “tidak atau belum sanggup” mewujudkan apa yang selama ini diharapkan. Saat ini terdapat ketidakseimbangan antara idealita dengan realita yang ada. maupun masyarakat. Dengan latar belakang permasalahan di atas. Kita merasakan dan mengetahui bahwa Pendidikan Islam di Indonesia dewasa ini. terkotak-kotak dan tidak komprehensif. Sehingga keberhasilan pendidikan bukan saja menjadi tugas dan tanggung jawab institusi pendidikan saja tetapi yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat dapat memberikan respon positif terhadap perkembangan pendidikan yang ada saat ini. program dan kegiatan. Di sinilah diperlukan analisis kekuatan. serta menjadi primadona bagi peserta didik. tenaga. Sehingga wajar apabila out-put peserta didik yang nota bane Pendidikan Islam kurang memberikan hasil yang maksimal baik terhadap peserta didik. pendidikan Islam juga memiliki kelemahan –kelemahan prinsipil untuk bisa berperan secara pasti dalam memberdayakan komunitas muslim di negeri ini. dengan menyusun visi. Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). orang tua. metode. mau ke mana sekolah dan apa masalah krusial yang dihadapi. peluang serta ancaman (faktor eksternal). Dengan kata lain. Demikian juga halnya dalam upaya peningkatan mutu pendidikan seharusnya Pendidikan Islam dijadikan tolok ukur dalam membentuk watak dan pribadi peserta didik. maupun masyarakat. Akhirnya akan diketahui dimana posisi sekolah. 25 Volume 3. Upaya upaya peningkatan mutu pendidikan masih bersifat parsial. penulis ingin . sasaran. Upaya mengikutsertakan masyarakat dalam meningkatkan mutu pendidikan dengan memberikan pertimbangan.3 Proses seperti ini perlu melibatkan sejumlah orang yang tak kalah pentingnya dalam ikut mensukseskan Pendidikan Islam. dan bahkan Pendidikan Islam mempunyai sejarah panjang di Indonesia yang telah ikut mewarnai kehidupan bangsa ini baik masa sebelum penjajahan bahkan setelah Indonesia merdeka. arahan. seharusnya Pendidikan Islam mendasari pendidikan-pendidikan lainnya. lalu dibuat perencanaan strategis menjangkau masa depan yang lebih baik. misi.

tentang masih perlunya pemikiran proses pemberdayaan masyarakat yang terencana. karena proses yang berlangsung sangat didominasi oleh proses pemberdayaan secara intelektual. cendikiawan muslim. MENGAPA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Dalam sejarah bangsa Indonesia yang harus digaris bawahi terlebih dahulu adalah. tokoh masyarakat yang tertarik dan peduli terhadap peningkatan mutu pendidikan. berakhlak.dan dengan demikian mempunyai masalah-masalah yang sekaligus sebagai hambatan dalam melaksanakan pemberdayaan masyarakat diskursus Pendidikan Islam. dan mencari pemecahan mengenai kekurangan yang masih kita miliki dalam upaya memberdayakan komunitas muslim. Ini pula yang menjadi salah satu aspek yang utama agar masyarakat bangsa ini dapat terjamin dan mempertahankan diri dalam wilayah sosialistis religius. berwatak ksatria dan . matang. Untuk memahami aspek pertama. Sedangkan yang kedua adalah. Sebab Pendidikan Islam pada umumnya belum bisa dinilai telah ikut serta secara memadai dalam menanamkan atau memberdayakan masyarakat dengan nilai-nilai moral agama. maka dengan jelas dapat dimengerti bahwa jumlahnya yang besar (komunitas muslim). oleh umat Islam terhadap umat Islam sendiri.5 Karena pada hakekatnya peserta didik itu datang dan kembali kepada masyarakat disinilah tuntutan yang harus dilakukan oleh para pemerhati pendidikan tak terkecuali Pendidikan Islam untuk memikirkan proses pemberdayaan komunitasnya. jika dunia pendidikan Islam mampu menggali dan memenej sumber daya manusia (SDM) yang ada pada komunitas muslim dalam peningkatan mutu pendidikan sungguh akan memberikan nilai maksimal yang dicapai oleh institus Pendidikan Islam. komunitas muslim merupakan kelompok masyarakat yang jumlahnya sangat besar. Sebab.mengkaji dimanakah letak esensial dan relevansinya perbincangan yang menuju pada suatu tindakan. Pendidikan Nasional belum sepenuhnya mampu mengembangkan manusia Indonesia yang religius. disamping harus berilmu pengetahuan juga harus beriman dan bertaqwa4. Ini tampak menjadi sebuah kegelisahan sosial. Instutusi pendidikan yang banyak menggunakan masyarakat sebagai sumber pelajaran memberi kesempatan yang luas untuk mengenal kehidupan masyarakat yang sebenarnya. Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam pada : komite sekolah atau majlis sekolah.telah melahirkan berbagai potensi dalam langkah optimalisasi pemberdayaan masyarakat umat Islam di negeri ini. 2. konsultan sekolah. Kedua. bahkan terbesar di dunia yang terkonsentrasikan dalam satu negara. Adapun pemberdayaan masyarakat pada komunitas muslim ada 26 Komunitas. tokoh-tokoh agama yang mempunyai komitmen pada ajaran Islam. Selama ini muncul beberapa pendapat yang mengkritisi Pendidikan Islam di sekolah di antaranya : 1. Hasil belajar PAI belum sesuai dengan tujuan-tujuan Pendidikan Islam itu sendiri. menjadi dasar pemikiran penting selanjutnya. pertama. ajaran Islam menyatakan bahwa manusia. dan lain-lain.

kreativitas dan perkembangan kecerdasan emosional. 3. kemampuannnya menangkap gejala. kemampuan operasi berpikir manusia ditentukan oleh kemampuan manusia itu untuk mengasimilasi atau mengadaptasikan lingkungan dalam pikirannya. kedua. padahal yang diperlukan adalah suasana keagamaan. Menurut penulis bahwa keberhasilan Pendidikan Islam sangat memeliki ketergantungan yang sangat tinggi. Permasalahan Pendidikan Islam di sekolah saat ini mengalami masalah metodologi. Selain itu. bukan pada pemaknaannya. Upaya pemberdayaan potensi masyarakat harus dimulai dari pemberdayaan pendidikan keluarga. 2. kemampuannya untuk mengkonsepsikan gejala itu menjadi suatu pengertian umum. Institusi pendidikan merupakan arah pemberdayaan potensi masyarakat yang selanjutnya setelah keluarga. Nomor 2. Semakin banyak gejala alam yang dapat ditangkap anak pada tiga tahun pertama usia mereka. Konsep “Brain development” menjelaskan bahwa system penserabutan otak manusia sangat ditentukan oleh kontak manusia pada tiga tahun pertama kehidupannya di bumi. bahkan tumbuhnya kecerdasan spiritual secara optimal. yang berarti akan berdampak tingginya kecerdasan anak di masa mendatang. Juni 2007 ARAH PEMBERDAYAAN POTENSI MASYARAKAT Masyarakat pada dasarnya memiliki potensi untuk berkembang apabila kita berdayakan. 5. 6. Padahal pendidikan kita belum mampu . NUR ASIAH 27 Volume 3. kecerdasan intelektual. Pendidikan Islam lebih menekankan pada kemampuan verbalisme dan kemampuan numerik (menghitung). sementara kemampuan mengendalikan diri dan penanaman keimanan diabaikan. Dalam upaya pemberdayaan potensi masyarakat dapat diklasifikasikan pada tiga arah : 1. Menjadi tanggungjawab pihak sekolah dalam hal pertumbuhan anak selanjutnya baik fisik. penyampaian materi akhlak di sekolah sebatas teori. maka akan merangsang pertumbuhan sistem serabut-serabut otak. dan juga mengkondisikan agar anak mengalami proses perkembangan secara proporsional. Oleh karena itu pemberdayaan potensi ummat harus dilakukan sejak awal kelahiran. maka kemampuan berpikir manusia ditentukan oleh dua komponen pertama. Kegagalan Pendidikan Islam disebabkan pembelajarannya lebih menitikberatkan pada hal-hal yang bersifat formal dan hafalan. Seperti dijelaskan oleh Piaget dalam bukunya Sund (1976). yang dipengaruhi oleh adanya proses kerjasama yang erat antara institusi Pendidikan dengan masyarakat. Dalam terminologi lain.7 Namun potensi itu tidak berkembang apabila orang tidak memanfaatkan kesempatan itu. ada beberapa faktor yang perlu fianalisis dan segera mendapat perhatian dari semua pihak.patriotic. orang tua harus bertanggungjawab terhadap perilaku gizi yang proposional. 4.6 Terhadap realitas demikian.

Disinilah sebenarnya letak pemberdayaan masing-masing potensi masyarakat (keluarga. ujian. kalangan pemuka agama.8 Menurut penulis instistusi Pendidikan Islam sudah saatnya melakukan upaya-upaya inovasi dalam bidang pendidikan. Paradigma yang keliru dan mendasar sekali adalah selama ini bahwa “belajar untuk sekolah bukan untuk hidup”. Agar maksud ini bisa dicapai maka kemampuan URGENSI PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT 28 Komunitas. bukan secara tambal sulam melainkan secara menyeluruh dan mendasar. dan menggeser serta mengubah paradigma yang keliru. kelulusan sampai dengan pakaian bahkan sepatu seragam sekolah . sekolah menentukan metode pembelajaran. Untuk itulah sudah saatnya institusi Pendidikan melakukan berbagai upaya inovasi dengan landasan bahwa pemberdayaan potensi masyarakat perlu memperkecil peran tumbuhnya cara berpikir linier (yang masih menjadi tekanan pendidikan sekarang). mengapa demikian karena sesunguhnya bumi dan seisinya selalu mengalami perubahan-perubahan yang begitu cepat yang selalu tidak linier. melibatkan banyak pihak baik kalangan birokrat. begitu juga seharusnya konsep pendidikan Islam. Kurikulum di sekolah harus mempunyai hubungan yang erat dengan kehidupan di masyarakat dengan demikian peserta didik akan lebih memahami kondisi masyarakat. Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam ketrampilan dan seni harus menjadi bagian integral dari kurikulum pendidikan. kalangan usahawan. dan memerlukan jaringan yang luas. harus dirubah dengan “belajar bukan untuk sekolah (non scholae) tetapi belajar untuk hidup (sed vitae discimus)”. Sekolah menentukan kurikulum dan silabus. Sekolah janganlah terisolasi dari masyarakat. 9 3. ditinjau dari pencapaian tujuan pendidikan. dan masyarakat) untuk bersama-sama mengkompromikan bagaimana seharusnya sistem pendidikan yang akan diterapkan. Arah pemberdayaan selanjutnya adalah di masyarakat dengan cara meningkatkan rasa tanggungjawab terhadap terwujudnya bangsa yang memiliki peradaban dan moral tinggi. dan tentunya kalangan . Dengan demikian peserta didik akan lebih serasi dipersiapkan sebagai warga masyarakat. ini adalah beberapa contoh yang seharusnya masyarakat ikut andil dan bertanggungjawab terhadap keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan. Kita membutuhkan satu revolusi di bidang pendidikan. tanpa mempertanyakan secara kritis apa manfaat dari semuanya itu. Masyarakat mengikuti apa saja yang ditentukan sekolah. sekolah. Berarti untuk pemberdayaan potensi masyarakat harus selalu diarahkan kepada berkembangnya kreativitas masyarakat.melaksanakan tugas ini. apa yang dipelajari hendaknya berguna bagi kehidupan peserta didik dalam masyarakat dan didasarkan atas masalah masayarakat. Dalam penanganan proses pemberdayaan potensi masyarakat ini pihak sekolah harus membutuhkan strategi yang tepat. sekolah menentukan ulangan.10 Hubungannya dengan proses pendidikan selama ini sikap masyarakat belum atau tidak kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang ditentukan oleh pihak sekolah.

proses kerjasama ini lebih didasarkan pada faktor rasa keperdulian masyarakat terhadap kebutuhan akan pentingnya keberhasilan pendidikan. 2. tujuan yang hendak dicapai diantaranya. Juni 2007 UPAYA-UPAYA PEMBERDAYAAN POTENSI MASYARAKAT DALAM PENDIDIKAN ISLAM Keberhasilan pendidikan merupakan tanggungjawab bersama antara pemerintah. bagaimana masyarakat menyikapi proses . Kurikulum Pendidikan Islam selama ini hanya milik sekolah. karena pihak sekolah selalu memberikan aturan yang membatasi gerak mereka. dalam bentuk pertemuan rutin yang dilakukan secara berkala. siswa. satu. Yaitu berbagai inovasi sistem pembelajaran yang melibatkan berbagai pihak dengan memanfaatkan pemberdayaan potensi yang ada di masyarakat. Mereka diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengenali sekolah. masyarakat.pendidikan serta organisasi-organisasi kemasyarakatan.dan unsur lain yang dianggap perlu) sehingga belajar bukan untuk sekolah tetapi belajar untuk hidup. bukan saja bentuk fisiknya tetapi juga program sekolah. baik dan tidaknya. dan pemerintah dalam pendidikan. Hal ini ditegaskan dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. URGENSI PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT 30 Komunitas. 20 tahun 2003 (pasal 5-11) tentang hak dan kewajiban warga negara. Sifat kurikulum tidak baku tetapi selalu mengalami pembauran sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan pendidikan saat ini. maka masyarakat melakukan kegiatan yang dapat dikontrol benar salahnya. Jika kurikulum sudah terbentuk. Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam 4. karena sudah saatnya Pendidikan Islam bukan hanya milik institusi pendidikan tetapi juga milik seluruh ummat islam. masyarakat. Usaha institusi pendidikan dalam menumbuhkembangkan potensi masyarakat dalam bentuk formal organisatoris. Nomor 2. dalam bentuk kerjasama informal individual. sudah seharusnya dirumuskan dengan melibatkan berbagai pihak (sekolah. guru. dengan usaha-usaha melibatkan orang tua secara intens dengan kegiatan-kegiatan sekolah. 3. dan masyarakat menjadi sesuatu yang sangat diharapkan. maka penulis mencoba menyajikan sebuah sistem pembelajaran yang disebut dengan keterpaduan pembelajaran pendidikan islam. Untuk lebih jelasnya berkenaan dengan pemberdayaan potensi masyarakat akan penulis uraikan dalam bentuk kerjasama dalam penerapan pembelajaran Pendidikan islam sebagai berikut: 1.orang tua. karena keberhasilan pendidikan merupakan keberhasilan bagi anaknya dan juga bagi orang tua tersebut. Menanggapi berbagai kritikan Pendidikan Islam yang antara lain sudah disebutkan terdahulu. dan masyarakat. keluarga. sekolah. Disinilah peran orang tua. NUR ASIAH 29 Volume 3. Aspek orang tua yang menjadi sasaran penting dalam hal ini. orang tua. Sudah saatnya orang tua peserta didik menjadi salah satu bagian dari aktivitas pemberdayaan potensi masyarakat yang harus dibina. Orang tua peserta didik selama ini kurang memperhatikan perkembangan sekolah .

KESIMPULAN Banyak terutama kalangan masyarakat mengkritisi bahwa Pendidikan Islam tidak atau belum menunjukan keberhasilan ditengah-tenganh masyarakat yang masih sangat membutuhkan peranannya. 6. Untuk itu dalam tulisan ini penulis ingin menjawab bahwa : 1. akan tetapi Pendidikan Islam adalah milik semua komunitas muslim yang ada di dunia ini. 2. 3. Oleh karena Pendidikan Islam menjadi milik semua komunitas muslim. Pendidikan Islam bukan saja milik suatu lembaga institusi pendidikan saja. Agar masyarakat mengetahui dan memahami betapa beratnya tugas institusi pendidikan. sebagai tindakan evaluasi terhadap program penerapan kurikulum yang telah disusun secara terpadu. Untuk mempersatukan orang tua murid dan pihak sekolah dalam rangka memenuhi kebutuhan peserta didik. dalam artian seluruh tenaga pengajar harus mendukung dan menerapkan sistem pembelajaran yang agamis. Juni 2007 pendidikan yang memberdayakan masyarakat untuk menyikapi dan menyelesaikan masalah-masalah pendidikan secara kreatif dan inovatif. 2.pendidikan dengan kejadian-kejadian dan kebutuhan yang terjadi di masyarakat. maka Pendidikan Islam menjadi tanggungjawab masyarakat yang harus dibuktikan dengan usaha-usaha yang dapat menunjang . 5. Adapun manfaat dari adanya pemberdayaan potensi masyarakat dalam bidang pendidikan adalah : 1. Untuk membangun kesadaran kepada semua pihak akan pentingnya pendidikan. Membangun iklim sekolah yang efektif. 4. Untuk membangun dan memelihara kepercayaan yang diberikan masyarakat terhadap sekolah. Nomor 2. 7. Untuk memberikan pengetahuan dan mengembangkan pemahaman terhadap masyarakat tentang maksud-maksud dan sasaran-sasaran yang akan dicapai oleh sekolah. 5. dan ini menjadi tanggungjawab bersama. Pada bagian ini menjadi tugas manajer sekolah untuk menerapkan sistem pembelajaran agama yang integral. Dengan pemberdayaan seperti inilah Pendidikan Islam akan semakin bercahaya ditengah-tengah masyarakat. Untuk menilai program sekolah apakah sesuai dengan apa yang diharapkan dan dibutuhkan oleh masyarakat. Untuk mengerahkan bantuan dan dukungan dalam pemeliharaan dan peningkatan program sekolah. Kedua. Iklim sekolah dapat dibina dan dikembangkan menuju kepada situasi yang kondusif dalam upaya mencapai sekolah efektif Khusus dalam penerapan Pendidikan Islam harus ada pola kerjasama (antara guru agama dengan guru mata pelajaran lainnya) dalam pembinaan pendidikan agama Islam pada sekolah tersebut. Sehingga dengan adanya usaha pemberdayaan potensi masyarakat melalui mekanisme yang sudah disepakati dapat meningkatkan rasa tanggungjawab masyarakat terhadap terwujudnya NUR ASIAH 31 Volume 3.

Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam _______________________. 2005 Djohar. Islam Dan Masalah Sumber Daya Manusia. Fuad. Jakarta: Ciputat Press.2005).Cit h. Pendidikan Agama Islam Berbasisi Kompetensi. Sosiologi Pendidikan.161 3 Syafaruddin. hubungan antara institusi pendidikan dengan masyarakat masih sangat minim dan masyarakat tidak difungsikan sebagai sumber pelajaran. Jakarta: Misaka Galiza. orang tua. (dkk). Kurikulum sebagai arah pendidikan akan sangat menentukan keberhasilan pendidikan. 2003 Majid. 139 .Cit. akan tetapi selalu mengalami perubahan seiring dengan kebutuhan masyarakat.Cit. maka menurut penulis kurikulum harus dirumuskan melalui pemberdayaan potensi masyarakat dengan berdasarkan pada kebutuhan masyarakat. S. kelemahan yang ada. 2005 URGENSI PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT 32 Komunitas. Islam Dalam Perspektif Sosio Cultural . h.Cit. Jakarta: Lantabora Press. Pendidikan Strategig Alternatif Untuk Masa Depan. 95 2 Untuk lebih jelasnya. 2005 Hasan. 165 7 Djohar. Op. 154 10Djohar Op. Manajemen Lembaga Pendidikan Islam. Nasution. 133-134 8Ibid. Ke-3. DAFTAR PUSTAKA Nasution. 2004). Dengan pemberdayaan potensi masyarakat melalui mekanisme tepat guna yang dikoordinir pihak sekolah akan menjawab semua kekurangan.131 4Abdul Majid.h. Nasution. 2003 Syafaruddin. h. 2003). 2004). Op. Muhammad. (Jakarta:Ciputat Press. Yogyakarta: Lesfi. h. 2003 Mukhtar.153 6Abdul Majid. maupun masyarakat. h. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. oleh karena itu sifat kurikulum tidaklah baku. 2005 (Endnotes) 1 Muhammad Tholhah Hasan. Oleh karena itu paradigma pembelajaran harus dirubah “belajar bukan untuk sekolah akan tetapi belajar untuk hidup” karena pada hakekatnya peserta didik datang dan akan bermuara juga pada masyarakat. Islam Dalam Perspektif Sosio Kultural. Jakarta: Lantabora Press. 3. 2005). h. h. (Yogyakarta:Lesfi. pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. h. Selama ini menurut hemat penulis. 2004 Hasan. Dasar-Dasar Kependidikan.Cet.162 5 S. (Jakarta: lantabora Press. (Jakarta: Bumi Aksara.h. lihat Abdul Majid. 5. Jakarta: Rineka Cipta. 4. Op. 134-135 9S. Manajemen Lembaga Pendidikan Islam. Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Abdul. Bandung: remaja Rosdakarya.keberhasilan pendidikan dan menjawab keluhan-keluhan yang banyak dikritisi baik peserta didik. Tholhah. Pendidikan Strategig Alternatif Untuk Masa Depan.

Syria. Aljazair. Dalam tempo lebih kurang 25 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad saw (632 M). dan Inovasi bekerjasama dengan Institute for the History of Arabic-Islamic Science Johann Wolfgang Goethe University Frankfurt itu bertujuan membangkitkan kembali semangat dan kesadaran generasi muda akan pentingnya mempelajari dan menguasai sains dan teknologi. Palestina. Seperti diberitakan harian ini (10/01/07). Lebih dari seratus Kemajuan Sains dalam Sejarah Islam Awal kemunculan dan perkembangan sains di dunia Islam tidak dapat dipisahkan dari sejarah ekspansi Islam itu sendiri. wilayah Islam telah meliputi hampir seluruh luas jajahan Alexander the Great di Asia (Kaukasus) dan Afrika Utara (Libya. Pelebaran sayap dakwah Islam ini tentu bukan tanpa konsekuensi. Proses interaksi yang berlangsung alami namun intensif ini tidak lain dan tidak bukan adalah gerakan “islamisasi” (ada juga yang lebih suka menyebutnya sebagai naturalisasi. ditampih dan disaring dulu sebelum kemudian diserap. sementara elemen-elemen yang tidak sesuai dengan kerangka dasar ajaran Islam ditolak dan dibuang. Mesir. Tunisia. Teknologi. terjadi pula penyerapan terhadap tradisi budaya dan peradaban setempat. Hal-hal yang positif dan sejalan dengan Islam dipertahankan. Maka tak sampai satu abad. Persia (Iran). pameran yang diselenggarakan oleh Kementerian Sains. Seiring dengan terjadinya konversi massal dari agama asal atau kepercayaan lokal kedalam Islam. . plus semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugis) dan India. pada 750 M.Pekan depan Pameran Kegemilangan Sains dalam Tamadun Islam yang digelar di ibukota negara jiran Kuala Lumpur akan berakhir. dilestarikan dan dikembangkan. satu persatu. dan Marokko). mencakup Mesopotamia (Iraq). integralisasi. kaum Muslim telah berhasil menaklukkan seluruh jazirah Arabia dari selatan hingga utara. kerajaan demi kerajaan dan kota demi kota berhasil ditaklukkan. Bagai diterpa gelombang tsunami. atau assimilasi). dimana unsur-unsur dan nilai-nilai masyarakat lokal ditampung. Ekspansi dakwah yang diistilahkan ‘pembukaan negerinegeri’ (futuh al-buldan) itu berlangsung pesat tak terbendung.

al-Battani (w. mengamati mengkaji pergerakan matahari dan bulan. Seperti buku-buku lainnya. Pelaksananya adalah para cendekiawan dan paderi yang juga dipercaya sebagai pegawai pemerintahan. Begitu gencarnya ayatayat itu didengungkan. yaitu De scientia stellarum. 1138) mengantisipasi Galileo dengan kritiknya terhadap teori Aristoteles tentang daya gerak dan kecepatan. Pertama. meliputi berbagai bidang ilmu pengetahuan. menyusul berdirinya Daulat Abbasiyyah yang berpusat di Baghdad. wajarlah jika kemudian muncul pertanyaan bagaimana semua itu dapat terjadi? Jika dikaji dan ditelusuri dengan teliti. dan berfikir ilmiah rasional. merancang pembuatan pelbagai instrumen observasi. 929) mengoreksi dan memperbaiki sistem astronomi Ptolemy. 1292) dan belakangan dipopulerkan oleh Leonardo da Vinci (w. membuat kalkulasi baru. 1198) dan al-Bitruji (w. melakukan observasi. Seperti kita ketahui. ditandai dengan produktifitas yang tinggi dan orisinalitas luar biasa. faktor-faktor yang telah memungkinkan dan mendorong kemajuan sains di dunia Islam pada saat itu ada lima. Ini dimulai dengan penerjemahan karya-karya ilmiah dari bahasa Yunani (Greek) dan Suryani (Syriac) ke dalam bahasa Arab pada zaman pemerintahan Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Menjelang akhir abad ke-9 Masehi. Kedua. Kegemilangan itu berlangsung sekitar lima abad lamanya. ekspedisi (siru fil ardhi). mendesain katalog bintang. yang dipakai sebagai salah satu bahan rujukan oleh Kepler dan Copernicus. hampir seluruh korpus saintifik Yunani telah berhasil diterjemahkan. fisika. kitab suci al-Qur’an banyak berisi anjuran untuk menuntut ilmu. pada sekitar tahun 800an M di Andalusia (Spanyol). termasuk desain jam matahari (sundial) dan alat ukur mural quadrant. 833 M) mendirikan sebuah pusat kajian dan perpustakaan yang dinamakan Bayt al-Hikmah. 1190). sehingga belajar atau mencari ilmu pengetahuan diyakini sebagai kewajiban atas setiap individu Muslim. Ibn Sina (Avicenna) dan masih banyak sederetan nama besar lainnya. astronomi. matematika. Faktor Pemicu Kejayaan Sains Melihat prestasi gemilang itu. astrologi dan alchemy. al-Khawarizmi (Algorithm). Kritik terhadap teori-teori Ptolemy juga telah dilontarkan oleh Ibn Rusyd (w. 1519). Syria. dari kedokteran. Dalam bidang fisika.Dalam proses interaksi tersebut. Ibn Bajjah (w. adanya motivasi agama. hingga filsafat. Jabir ibn Hayyan (Geber). Muncullah orang-orang seperti Abu Bakr al-Razi (Rhazes). Sebagai ilustrasi. esplorasi. Khalifah al-Ma’mūn (w. Bahkan dalam hal teknologi. dengan implikasi berdosalah mereka yang tidak . Ibn Firnas telah merancang pembuatan alat untuk terbang mirip dengan rekayasa yang dibuat Roger Bacon (w. Al-Qur’an juga mengecam keras sikap dogmatis atau taklid buta. membaca (iqra’). karya al-Battani pun diterjemahkan ke bahasa Latin. Demikian pula dalam bidang-bidang lainnya. Akselerasi terjadi setelah tahun 750 M. berkat kesungguhan dalam mengimani mempraktekkan ajaran Islam sebagaimana tertuang dalam al-Qur’an dan Sunnah itu lahirlah individu-individu unggul yang pada gilirannya membentuk masyarakat madani Islami. kaum Muslim pun terdorong untuk mempelajari dan memahami tradisi intelektual negeri-negeri yang ditaklukkannya.

dokter istana. mengapa cahaya kegemilangan itu kemudian redup lalu seolah lenyap sama sekali? Menjawab pertanyaan ini tidaklah sesederhana melontarkannya. Pada dataran praktis. dua pilar utama setiap peradaban. 1217) dan Ibn Bat Ketiga adalah faktor ekonomi. doktrin ini membawa dampak sangat positif. internal dan eksternal. faktorfaktor penyebab kematian sains di dunia Islam dapat dikelompokkan menjadi dua. Ia mendorong dan mempercepat terciptanya masyarakat ilmu (knowledge society) dan budaya ilmu (knowledge culture). keamanan dan persatuan. Berber. Secara umum. Dengan kemakmuran jugalah kaum Muslim dahulu dapat membangun istana-istana yang megah. Para pencari ilmu maupun cendekiawan dengan leluasa dan aman bepergian ke pusat-pusat pendidikan dan keilmuan. pemerintah mengalokasikan dana khusus untuk para penuntut ilmu. Ini belum termasuk mereka yang menjelajahi seluruh pelosok dunia Islam semisal Ibn ah (w. Dengan demikian terwujudlah stabilitas. Tumbuh dan berkembangnya budaya ilmu dan tradisi ilmiah pada masa itu dimungkinkan antara lain ―jika bukan terutama― oleh kondisi masyarakat Islam yang. Pentingnya patronase ini dibenarkan oleh sejarawan Toby Huff (1993): The considerable freedom and resources that certain outstanding philosophers and mathematicians had to pursue their studies. atau dari Yaman ke Damaskus. mengikuti patron-nya. Mereka menjadi penasehat sultan. dan lain lain). Imam ad-Dhahabī (w. baik staf pengajar maupun pelajar dijamin kehidupannya oleh badan wakaf masing-masing.melakukannya. meskipun terdiri dari bermacam-macam etnis (Arab. dari Seville ke Baghdad. Para saintis semisal Ibn Sina. Aziziyyah. Koptik. perpustakaanperpustakaan besar dan sejumlah rumah sakit.ūt. . Di universitas dan sekolah-sekolah tinggi seperti Nizamiyyah.Jubayr (w. Namun umumnya. atau sekaligus pejabat (Ibn Sina diangkat sebagai menteri oleh penguasa Hamadan waktu itu). dari Isfahan ke Kairo. sehingga bisa konsentrasi penuh pada bidang dan karirnya serta produktif menghasilkan karya-karya ilmiah. Ketiga adalah faktor sosial politik. Kemunduran Sains di Dunia Islam Lantas mengapa perjalanan sains di dunia Islam seolah-olah mendadak berhenti. misalnya. Ibn Tufayl dan at-Tusi berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kesejahteraan masyarakat masa itu membuka kesempatan bagi setiap orang untuk mengembangkan diri dan mencapai apa yang diinginkannya. namun berhasil diikat oleh tali persaudaraan Islam. dari Samarkand ke Madinah. Faktor keempat yang tak kalah pentingnya adalah dukungan dan perlindungan penguasa saat itu. Mustansiriyyah dan sebagainya. menuntut ilmu hingga usia 20 tahun dengan biaya orangtuanya.. 1377). dengan latarbelakang bahasa dan budaya masingmasing. Turki. was always contingent upon the official protection of local rulers. Parsi. 1348). however.

Tak dapat dipungkiri bahwa krisis ekonomi dan kekacauan politik amat berpengaruh terhadap perkembangan sains. Buktinya. Arithmetika dipelajari karena penting untuk menghitung pembagian harta warisan. Ini pendapat David Lindberg (1992). optik maupun kedokteran. and patronage. Astronomi dan geometri (atau lebih tepatnya trigonometri) diajarkan terutama untuk membantu para muwaqqit menentukan arah kiblat dan menetapkan jadwal shalat. sebagai akibatnya. Semua ini diperparah dengan datangnya serangan tentara Salib. tegas Huff. meskipun disponsori dan dilindungi oleh patronnya. Pada level yang lebih tinggi. Copernicus pun didapati menggunakan model dan instrumen yang didesain oleh at-Tusi.Menurut Profesor Sabra (Harvard) dan David King (Frankfurt). Tradisi saintifik Islam. serta keterasingan dan keterpinggiran sebagai tiga faktor utama penyebab kematian sains di dunia Islam. Namun demikian tidak ada lembaga khusus yang menampung mereka. kata Lindberg. prosperity. Penjelasan semacam ini tidak terlalu tepat. Faktor ketiga yang ditunjuk Lindberg biasa disebut ‘marginality thesis’. Selain itu. Seberapa jauh kebenaran tesis ini masih terbuka untuk diperdebatkan. Pengajaran sains hanya bisa dilakukan dengan cara ‘nebeng’ atau diselipkan bersama subjek lainnya. kurangnya matematisasi. mengapa di dunia Islam yang terjadi justru kejumudan dan bukan revolusi sains lebih disebabkan oleh masalah sosial budaya ketimbang oleh hal-hal tersebut diatas. Kesimpulan semacam ini agak problematik. Menurutnya. hal ini berimplikasi pada riset dan pengembangan. dan invasi Mongol yang meluluh-lantakkan Baghdad pada 1258. juga dianggap sebagai penyebab stagnasi sains di dunia Islam. Tidak sedikit perpustakaan dan berbagai fasilitas riset dan pendidikan porak-poranda. Tiga pilar ini mulai absen di dunia Islam menjelang abad ke-13 Masehi. sains dan saintis pada masa itu seringkali ditentang dan disudutkan. Ia menunjuk kasus pembakaran buku-buku sains dan filsafat yang terjadi antara lain di Cordoba. sains tidak pernah secara resmi diakui sebagai salah satu mata pelajaran atau bidang studi tersendiri. sains berjalan tertatih-tatih. karena institutionalisasi tidak selalu berdampak positif tetapi bisa juga berakibat sebaliknya. Oleh karena itu Huff lebih cenderung menyalahkan iklim sosial-kultural-politik saat itu yang . Padahal. langkanya imajinasi teoritis. krisis militer dan hancurnya ekonomi. Konon para saintis saat itu banyak yang bekerja sendiri-sendiri. Pertama. krisis ekonomi dan politik. Sains di dunia Islam tidak bisa maju karena konon selalu dipinggirkan atau dianak-tirikan. Ekonomi pun lumpuh dan. menjadi faktor pemicu perkembangan dan kemajuan sains. Pendapat ini disanggah oleh Toby Huff. sebab asas manfaat ini acapkali justru berperan sebaliknya. kemunduran itu dikarenakan pada masa terkemudian kegiatan saintifik lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan praktis agama. Akibatnya. Konflik berkepanjangan disertai perang saudara telah mengakibatkan disintegrasi. di laboratorium milik pribadi. karena mencerminkan generalisasi yang tergesa-gesa dan. pembantaian riconquista di Spanyol. Jawaban lain menyatakan bahwa oposisi kaum konservatif. a flourishing scientific enterprise requires peace. dan jarangnya eksperimentasi. Menurutnya. juga terbukti cukup kaya dengan pelbagai teknik eksperimen dalam bidang astronomi. kedua. beberapa faktor internal seperti kelemahan metodologi.

Jadi lebih tepat jika dikatakan bahwa kemunduran sains disebabkan oleh praktek-praktek semacam ini. Huff menilai tidak terdapatnya skeptisisme yang terorganisir dan dedikasi murni turut mempengaruhi perkembangan sains di dunia Islam. Popularisasi tasawuf inilah yang bertanggung-jawab melahirkan sufi-sufi palsu (pseudo-sufis) dan menumbuhkan sikap irrasional dikalangan masyarakat. tetapi ilmu sihir. gerakan-gerakan tersebut kemudian mengkristal jadi tarekat-tarekat dengan pengikut yang kebanyakannya orang awam. . Di sisi lain. Akibatnya yang berkembang bukan sains. pedukunan dan aneka pseudo-sains seperti astrologi.dianggapnya gagal menumbuhkan semangat universalisme dan otonomi kelembagaan di satu sisi. muncul berbagai gerakan moral spiritual yang dipelopori oleh kaum sufi. primbon. kesaktian. Obsesi untuk memperoleh kesaktian dan kegandrungan pada hal-hal tersebut pada gilirannya menyuburkan berbagai bentuk bid’ah. Ada juga klaim yang menghubungkan kemunduran sains dengan sufisme. dan bukan oleh ajaran tasawuf. Pada perkembangannya. Memang benar. dan membiarkan partikularisme serta elitisme tumbuh berkembang-biak. takhayyul dan khurafat. dan sebagainya ketimbang pada aspek ritual dan moralnya. Tidak sedikit dari mereka yang lebih tertarik pada aspek-aspek mistik supernatural seperti keramat. seiring dengan kemajuan peradaban Islam saat itu. dan perjimatan. Intinya adalah penyucian jiwa dan pembinaan diri secara lebih intensif dan terencana.

Qur’anan dalam hal ini berarti juga qira’atahu (bacaannya/cara membacanya). Allah berfirman : “ Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (dalam dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.2 Secara etimologis. serta untuk mencegah kemungkinan terjadinya manipulasi oleh orang-orang yang hendak menyalah artikan atau usaha mereka yang hendak mengubahnya. qira’atan wa qur’anan. Apabila kamu telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya”. Tidak seperti kitabkitab suci lain dimana wahyu hanya terhimpun dalam bentuk tulisan saja atau hanya dalam hafalan saja. Nama-nama itu mengandung makna yang berbias dan memiliki akar kata 1. konjugasi) “fu’lan” dengan vocal “u” seperti “gufran” dan “syukran”.Sumber-sumber Hukum Islam A.4 . qur’an.. qiraa’atan atau qur’aanan yang berarti mengumpulkan (al jam’u) dan menghimpun (al dlammu) huruf-huruf serta kata-kata dari satu bagian kebagian lain secara teratur 3. Diantara beberapa nama itu yang paling terkenal ialah al Kitab dan al Qur’an. memilih beberapa nama bagi wahyu-Nya. yang berbeda sekali dari bahasa yang biasa digunakan masyarakat arab untuk penamaan sesuatu. Al Qur’an berasal dari kata “qara’a”. Definisi Al Qur’an Dan Akar kata al Qur’an Allah Swt. Al Qur’an 1. artinya sama saja yakni maqru’ (apa yang dibaca) atau nama Qur’an (bacaan). Wahyu dinamakan al Kitab yang menunjukkan pengertian bahwa wahyu itu dirangkum dalam bentuk tulisan yang merupakan kumpulan huruf-huruf dan menggambarkan ucapan (lafadz) adapun penamaan wahyu itu dengan al Qur’an memberikan pengertian bahwa wahyu itu tersimpan didalam dada manusia mengingat nama al Qur’an sendiri berasal dari kata qira’ah (bacaan) dan didalam qira’ah terkandung makna : agar selalu diingat. yaqra’u. Jadi kata itu adalah masdar menurut wazan (tasrif. Wahyu yang diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas itu telah ditulis dengan sangat hati-hati agar terpelihara secara ketat. tetapi penulisan wahyu yang satu ini didasarkan pada isnad yang mutawatir (sumber-sumber yang tidak diragukan kebenarannya) dan isnad yang mutawatir itu mencatatnya dengan jujur dan cermat. Kita dapat mengatakan qara’tuhu. (al Qiyamah [75]:17-18). Dikatakan Al Qur’an karena ia berisikan intisari dari semua kitabullah dan intisari dari ilmu pengetahuan.

kita boleh mengatakan bahwa ia sedang membaca Qur’an. maka seolah-olah sebagian ayat-ayatnya merupakan indikator dari apa yang dimaksud oleh ayat lain yang serupa. Tiga pendapat diatas menurut Subhi as Shalih adalah beberapa contoh dari Ulama yang berpendapat bahwa lafadz al Qur’an tanpa huruf hamzah ditengahnya jauh dari kaidah pemecahan kata (isytiqaq) dalam bahasa Arab. “Dimensi-dimensi Studi Islam” hal. yang berarti indikator (petunjuk).a. begitu juga untuk 1 Subhi 2 Ibid. Hal ini karena al Qur’an merupakan kitab suci yang menghimpun intisari ajaran-ajaran dari kitab suci sebelumnya.86 . jadi menurut asy Syafi’i. Seperti kalimat quri’al ma’u fil-haudi. Al Asy’ari berpendapat bahwa lafadz al Qur’an tidak memakai hamzah dan diambil dari kata qarana. Darul. Dan secara gabungan kata itu dipakai untuk nama qur’an secara keseluruhan. Az Zajjaj. MA. bukan huruf tambahan. Karya Abditama. lafadz tersebut pecahan (musytaq) darai akar kata qar’un yang berarti jam’un. “Dimensi-dimensi Studi Islam”. Lafadz tersebut sudah lazim digunakan dalam pengertian kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Asy-Syafi’i. sementara yang lain berpendapat berbeda. yang berarti menggabungkan.8 c. sehingga Qur’an menjadi nama khas kitab itu. atau menhimpun. yang dalam bahasa Indonesia bermakna kumpul. “Mabahis fi Ulumil Qur’an” penamaan ayat-ayatnya.a. 5 Ibid. 4 Manna’ Khalil al Qattan. maka dengarkanlah dan perhatikanlah …(Al-A’raf [7]:204). Dr. dan bukan merupakan kata jadian. “Mabahis fi Ulumil-Qur’an”. Sedangkan para ulama’ yang berpendapat bahwa lafadz al Qur’an ditulis dengan tambahan hamzah ditengahnya adalah : a. Jadi dalam kalimat itu kata qar’un bermakna jam’un. lafadz tersebut bukan berasal dari akar kata qa-ra-a (membaca). Maka jika kita mendengar orang membaca ayat Qur’an. Drs. “dan apabila dibacakan Qur’an. Libanon Subhi as shalih. sebagai nama diri. sama halnya dengan nama Taurat dan Inzil. “Mabahis fi Ulumil-Qur’an”.6 b.. berpendapat bahwa kata qur’an ditulis dan dibaca tanpa hamzah ( Quran) yang tidak diambil dari kata lain (Musytaq). Hal ini disebabkan karena sebagian ayat-ayat al Qur’an itu serupa satu sama yang lain. as shalih. Untuk itulah ada baiknya jika kita mereferensi beberapa pendapat ulama tentang asal kata Qur’an : a. lafadz al Qur’an ditulis dengan huruf hamzah ditengahnya berdasarkan pola kata (wazn) fu’lan.Ilm Lil-Malayin. Al-Farra’ dalam kitabnya “Ma’anil Qur’an” berpendapat bahwa lafadz qur’an tidak memakai hamzah. yang berarti : air dikumpulkan dalam kolam. sebagaimana kitab Injil dan Taurat dipakai khusus untuk kitab-kitab Tuhan yang diberikan kepada Nabi Isa dan Musa 5.Qur’an dikhususkan sebagai nama bagi kitab yang diturunkan kepada Muhammad s. sebab kalau akar katanya qa-ra-a.. Surabaya. maka tentu setiap sesuatu yang dibaca dapat dinamai al Qur’an. dan diambil (musytaq) dari kata qara’in jamak dari qarinah.w. 1994:86. Beirut.7 Dan huruf “nun” pada akhir lafadz al Qur’an adalah huruf asli. Ia adalah nama Khusus yang dipakai untuk kitab suci yang diberikan kepada Nabi Muhammad. Ada analisa penyebutan tersebut kemungkinan adalah karena Qur’an dijadikan sebagai suatu nama bagi kalam yang diturunkan kepada Nabi s..w. Sebagian Ulama berpendapat bahwa kata Qur’an itu pada mulanya tidak berhamzah sebagai sebuah kata jadian. Hal ini disebabkan karena surat-surat dan ayat-ayat al Qur’an dihmpun dan digabungkan dalam satu mushaf. hal.9 3 Muhaimin.

MA. membacanya merupakan ibadah. Allah dan obyek penerima wahyu yakni rasulullah Muhammad saw. Dr.50 . (Manna Khalil al-Qattan Mabahist fi ulum alQur’an diterjemahkan oleh Drs. isinya dijamin kebenarannya. Tidak dinamakan al Qur’an seperti Zabur. Dan dengan menghubungkan kepada Allah (kalamullah) berarti tidak termasuk semua kalam manusia. dimulai dari surat al fatihah dan ditutup dengan surat an Nas.10 b. Artinya: “Kalam Allah9 yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Dan definisi ketiga berkaitan dengan isi dan kriteria bagi orang ingin memahaminya. Syaikh Muhammad Abduh mendefinisikan al Quran sebagai kalam mulia yang diturunkan oleh allah kepada Nabi yang paling sempurna (Muhammad) ajarannya mencakup keseluruha ilmu pengetahuan. Definisi kedua melengkapi penjelasan cara turunnya melalui malaikat Jibril. jin dsan malaikat.11 7 Muhaimin. yakni : a.Pustaka Setia. lafadz al Qur’an ditulis dengan huruf ditengahnya berdasarkan pola kata ghufran dan merupakan pecahandari akar kata qa-ra-a yang bermakna tala (membaca). “Mabahis fi Ulumil-Qur’an”. penegasan tentang awal dan akhir surat. membacanya dikategorikan sebagai ibadah. Prof. Bandung. Taurat dan Injil. hal.”Ilmu Ushul FIqf”. Secara terminologi al Qur’an menurut beberapa ulama adalah: a. Ulama Ushul fiqh. “Mabahis fi Ulumil-Qur’an”. Muzdakkir As dalam “Studi Ilmu-Ilmu Al Qur’an” Litera Antar Nusa. 1987. yang terhimpun dalam mushaf yang dimulai dari surat al fatihah dan diakhiri dengan surat an Nas yang diriwayatkan kepada kita dengan jalan mutawatir c. undang-undang bagi seluruh manusia dan petunjuk dalam beribadah serta dipandang ibadah dalam membacanya. hal. Ia merupakan sumber yang mulai yang essensinya tidak dimengerti kecuali bagi orang yang berfjiwa suci dan berakal cerdas. 10 Syafe’I. Al Lihyani. dan sebagai hujjah kerasulannya. proses penyampaiannya kepada umat secara mutawatir.10 Drs. Rachmat .hal.1999. Dr.CV. dalam definisi “kalam” merupakan semua jenis yang meliputi segala kalam. Kehujjahan al Qur’an 9 Menurut Manna Khalil al-Qattan. Ketiga definisi tersebut sebenarnya saling melengkapi. Al Qur’an merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada Muhammad Saw. Jakarta. Dengan bahasa Arab.86 8 Subhi as shalih. Abdul Wahab Khalaf mendefinisikan al Qur’an sebagai firman Allah yang diturunkan melalui ruhul amin (jibril) kepada Nabi Muhammad saw. Ketiga kitab tersebut memang termasuk kalam Allah tapi tidak diturunkan kepada nabi Muhammad sehingga tidak disebut al qur’an.Dr. b. Dalam bahasa Arab yang dinukilkan kepada generasi sesudahnya secara mutawatir. Dari definisi tersebut dapat dinalisa bahwa al Qur’an memiliki unsur-unsur Yang menjadi ciri khas bagi al Qur’an. tertulis dalam mushaf .6 Subhi as shalih. Definisi pertama lebih focus pada subyek pembuat wahyu. MA “Dimensi-dimensi Studi Islam” hal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful