PENERAPAN PROBLEM BASED INSTRUCTION SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR FISIKA POKOK BAHASAN KINEMATIKA GERAK LURUS

PADA SISWA KELAS X SEMESTER 1 SMA NEGERI 1 BATANG TAHUN PELAJARAN 2005/ 2006

SKRIPSI Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Pada Universitas Negeri Semarang

Oleh Gathot Sumarsono 4201401007

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN FISIKA 2006

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke dalam Sidang Panitia Ujian Skripsi.

Semarang,

April 2006

Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. Dwi Yulianti, M.Si NIP 131404299

Drs. Nathan Hindarto, Ph.D NIP 130604212

ii

PENGESAHAN KELULUSAN Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang pada: Hari : Selasa

Tanggal : 11 April 2006 Panitia Ujian Ketua Sekretaris

Drs. Kasmadi Imam S, M.S NIP 130781011 Pembimbing I

Drs. M. Sukisno, M.Si NIP 130529522 Penguji I

Dra. Dwi Yulianti, M.S NIP 131404299 Pembimbing II

Dr. Wiyanto, M.Si NIP 131764032 Penguji II

Drs. Nathan Hindarto, Ph.D NIP 130604212

Dra. Dwi Yulianti, M.Si NIP 131404299 Penguji III

Drs. Nathan Hindarto, Ph.D NIP 130604212

iii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang,

April 2006

Gathot Sumarsono

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan” (Surat Al Fatihah:5). “Jangan berpikir untuk menjadi yang terbaik, tetapi berbuatlah yang terbaik yang kamu bisa” (Benjamin Franklin).

Karya ini aku persembahkan kepada: 1. Ayah dan Ibu tercinta, terima kasih atas segalanya. 2. Kakakku mas Sulis dan mas Sigit serta adikku Indra, aku selalu menyayangimu. 3. Bapak dan Ibu kosQ yang selalu mendukung dan mendoakanku. 4. Rekan-rekan kosQ. 5. The best all my friend physics ’01. 6. Wasis, Faiz and Syukrillah crew, Obay, Navis, Yuyun, Umi, Indri, Desi W, Desi S, Wahyu, Haryani, Ani, Thanks for everything. 7. Almamater.

v

KATA PENGANTAR

Berkat kerja keras dan ridho Allah Swt, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Penerapan Problem Based Instruction Sebagai Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Pokok Bahasan Kinematika gerak Lurus Pada Siswa Kelas X Semester 1 SMA Negeri Batang Tahun

Pelajaran 2005/2006. Oleh karena itu segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allh SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya. Penulisan skripsi ini dilakukan guna memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Universitas Negeri Semarang. Dalam penyusunan Skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Dr. A.T.Soegito, SH,M.M, sebagai Rektor Universitas Negeri Semarang. 2. Bapak Drs. Kasmadi Imam S, M.S, selaku Dekan FMIPA Universitas Negeri Semarang. 3. Bapak Drs. M Sukisno, M.Si, selaku Ketua Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Semarang. 4. Ibu Dra. Dwi Yulianti, M.Si, selaku pembimbing utama yang telah dengan sabar dan penuh tanggung jawab memberikan bimbingan dan motivasi dalam penyusunan skripsi ini.

vi

5. Bapak Nathan Hindarto, Ph.D, selaku dosen pendamping yang telah banyak meluangkan waktu dan penuh tanggung jawab memberikan bimbingan dan motivasi dalam penyusunan skripsi ini. 6. Bapak Dr. Wiyanto, M.Si, selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan dan kritik. 7. Bapak Mirwan selaku dosen wali, atas bimbingan dan motivasi selama kuliah. 8. Bapak dan Ibu dosen FMIPA yang telah memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis. 9. Ibu Drs. Titik Dwi Hartini, selaku Kepala SMA Negeri 1 Batang yang telah memberikan ijin penelitian dan kemudahan saat melaksanakan penelitian. 10. Bapak Drs. Djoko Purnomo, selaku guru Fisika, atas bantuan dan kerjasamanya dalam penelitian. 11. Seluruh keluargaku yang telah memberikan bantuan, kasih sayang dan motivasi dalam penulisan skripsi ini. 12. Bu Wiet, Mas Wasi, Mas Sulis, Mas Supri, Mas sigit, Mba Dini, Titis, Indra, Mba Indah dan Pak Pur serta siswa SMA N 1 BATANG yang telah memberikan bantuan, semangat dan dorongan dalam penulisan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap dengan tersusunnya skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Semarang, April 2006

Penulis

vii

ABSTRAK Sumarsono, Gathot. 2006. Penerapan problem Based Instruction Sebagai Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Pokok Bahasan Kinematika Gerak Lurus Pada Siswa Kelas X Semester 1 SMA Negeri 1 Batang Tahun Pelajaran 2005/ 2006. Skripsi. Jurusan Fisika. FMIPA. UNNES. Pembimbing: I. Dra Dwi Yulianti, M.Si, II. Drs. Nathan Hindarto, Ph.D Pembelajaran Fisika seharusnya dapat mengembangkan kecakapan dalam memecahkan masalah, sesuai dengan misi dan visi pelajaran Fisika dalam kurikulum 2004 yaitu membentuk siswa yang peka, tanggap dan berperan aktif dalam menggunakan Fisika untuk memecahkan problem di lingkungannya. Harapan di dalam misi dan visi tersebut belum dilaksanakan sepenuhnya di kelas X SMA N 1 Batang tahun pelajaran 2005/2006. Hal ini secara umum berdampak pada pemahaman konsep dan pencapaian hasil belajar siswa yang belum mencapai ketuntasan baik secara individual maupun klasikal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar Fisika pada pokok bahasan Kinematika Gerak Lurus melalui penerapan Problem Based Instruction. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X1 SMA N 1 Batang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Tiap siklusnya meliputi 4 tahap yakni, perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Faktor yang diteliti adalah hasil belajar siswa (kognitif, afektif, psikomotorik). Data hasil belajar kognitif diambil dari nilai tes setiap akhir siklus. Data hasil belajar afektif dan psikomotorik diperoleh dari lembar observasi. Dari hasil penelitian, hasil belajar kognitif siswa sebelum tindakan (pretes) diperoleh nilai tes rerata 65,2 dengan ketuntasan klasikal 57,5%. Pada siklus I, nilai tes rerata 69,3 dengan ketuntasan klasikal 70%. Pada siklus II, nilai tes rerata 76,4 dengan ketuntasan klasikal 87,5%. Hasil belajar afektif pada siklus I, nilai rerata siswa 75,43 dengan ketuntasan belajar klasikal 95%. Pada siklus II, nilai rerata siswa 77,66 dengan ketuntasan belajar klasikal 100%. Hasil belajar psikomotorik pada siklus I, nilai rerata 72,9 dengan ketuntasan belajar klasikal 70%. Pada siklus II, nilai rerata 77,7 dengan ketuntasan belajar klasikal 77,5%, sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan Problem Based Instruction pada pokok bahasan Kinematika Gerak Lurus dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Batang tahun pelajaran 2005/2006. Peningkatan hasil belajar dapat dilihat dari kenaikan nilai rerata dan ketuntasan belajar klasikal dari satu siklus ke siklus berikutnya. Diharapkan dengan penerapan Problem Based Instruction dalam pembelajaran Fisika dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir dan pemecahan masalah melalui perlibatan dengan pengalaman nyata sehingga hasil belajar siswa bisa lebih optimal. Kata kunci: Problem Based Instruction, Hasil belajar

viii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..................................................................................... PERSETUJUAN PEMBIMBING................................................................. PENGESAHAN KELULUSAN ................................................................... PERNYATAAN............................................................................................ MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................ KATA PENGANTAR .................................................................................. ABSTRAK .................................................................................................... DAFTAR ISI................................................................................................. DAFTAR TABEL......................................................................................... DAFTAR GAMBAR .................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN................................................................................. BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. A. Latar belakang Masalah ................................................................ B. Permasalahan ................................................................................ C. Tujuan Penelitian .......................................................................... D. Manfaat Penelitian ........................................................................ E. Penegasan Istilah........................................................................... F. Pembatasan Masalah .................................................................... G. Sistematika Skripsi........................................................................

i ii iii iv v vi viii ix xi xii xiii 1 1 4 4 4 5 5 6

ix

BAB II LANDASAN TEORI ....................................................................... A. Hakikat Belajar dan Pembelajaran Sains (Fisika)......................... B. Hasil Belajar.................................................................................. C. Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Instruction/PBI)................................................... 1. Hakikat Pembelajaran Berdasarkan Masalah.......................... 2. Landasan Teoritik dan Empirik............................................... 3. Proses Pemecahan Masalah .................................................... 4. Ciri-ciri Pembelajaran Berdasarkan Masalah ......................... 5. Tahap-tahap Pembelajaran Berdasarkan Masalah .................. 6. Pelaksanaan Pembelajaran Berdasarkan Masalah................... D. Materi Kinematika Gerak Lurus ................................................... BAB III METODE PENELITIAN ............................................................... A. Subyek dan Tempat Penelitian...................................................... B. Faktor yang diteliti ........................................................................ C. Pelaksanaan Penelitian.................................................................. D. Metode Pengumpulan Data........................................................... E. Metode Analisis Data.................................................................... F. Indikator Keberhasilan.................................................................. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............................. A. Hasil Penelitian ............................................................................. B. Pembahasan................................................................................... BAB V PENUTUP........................................................................................ A. Simpulan ....................................................................................... B. Saran.............................................................................................. DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... LAMPIRAN..................................................................................................

8 8 10

12 12 14 15 17 20 21 25 34 34 34 34 41 42 44 45 45 47 53 53 54 55 57

x

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Tahap-tahap Pembelajaran Berdasarkan Masalah ....................... Tabel 4.1 Ringkasan Hasil Belajar Kognitif Sebelum Tindakan, Siklus I dan Siklus II ................................................................... Tabel 4.2 Ringkasan Hasil Belajar Afektif Siklus I dan Siklus II ............... Tabel 4.3 Ringkasan Hasil Belajar Psikomotorik Siklus I dan Siklus II .....

20

45 46 46

xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1

Grafik Hubungan jarak (s) terhadap waktu (t) pada Gerak Lurus Beraturan (GLB)...................................... 27

Gambar 2.2

Grafik Hubungan kecepatan (v) terhadap waktu (t) pada Gerak Lurus Beraturan (GLB)...................................... 28

Gambar 2.3

Grafik Hubungan Percepatan (a) terhadap waktu (t) pada Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB) ................... 28

Gambar 2.4

Grafik Hubungan kecepatan (v) terhadap waktu (t) pada Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB) ................... 29 41 45 46 47

Gambar 3.1 Gambar 4.1 Gambar 4.2 Gambar 4.3

Skema Prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK) .............. Grafik Hasil Belajar Kognitif Siswa ..................................... Grafik Hasil Belajar Afektif Siswa ....................................... Grafik Hasil Belajar Psikomotorik Siswa .............................

xii

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Lampiran 2. Silabus dan Sistem Penilaian ................................................ Rencana Pembelajaran (RP) 1............................................... Rencana Pembelajaran (RP) 2............................................... Rencana Pembelajaran (RP) 3............................................... Rencana Pembelajaran (RP) 4............................................... Lembar Kerja Siswa (LKS) A............................................... Lembar Kerja Siswa (LKS) B ............................................... Lembar Kerja Siswa (LKS) C .............................................. Kisi-kisi Instrumen Soal Uji Coba ........................................ Instrumen Soal Uji Coba....................................................... Instrumen Soal Penelitian ..................................................... 57 59 61 63 65 67 74 80 83 85 96

Lampiran 3.

Lampiran 4. Lampiran 5.

Lampiran 6.

Lembar Jawab Siswa Instrumen Soal Uji Coba.................... 102 Lembar Jawab Siswa Instrumen Soal Penelitian .................. 103 Kunci Jawaban Instrumen Soal Uji Coba ............................. 104 Kunci Jawaban Instrumen Soal Penelitian............................ 110 Daftar Nama Responden Instrumen Soal Uji Coba .............. 111 Hasil Analisis Instrumen Soal Uji Coba ............................... 112

Lampiran 7.

Lampiran 8. Lampiran 9.

Lampiran 10. Rekapitulasi Hasil Instrumen Soal Uji Coba ........................ 120 Lampiran 11. Daftar Tabel Harga Kritik r Product Moment....................... 121 Lampiran 12. Lembar Observasi Afektif Siswa ......................................... 122 Lembar Observasi Psikomotorik Siswa ................................ 137 Lampiran 13. Rekapitulasi Nilai Ulangan Materi Besaran dan Satuan ...... Rekapitulasi Hasil Belajar Kognitif ..................................... Rekapitulasi Hasil Belajar Afektif ....................................... Rekapitulasi Hasil Belajar Psikomotorik .............................. 141 142 143 146

Lampiran 14. Deviasi Standar Hasil Belajar Kognitif................................. 147 Deviasi Standar Hasil Belajar Afektif .................................. 150 Deviasi Standar Hasil Belajar Psikomotorik ........................ 152

xiii

Lampiran 15. Usulan Pembimbing .............................................................. 154 Lampiran 16. Surat Ijin Penelitian............................................................... 155 Lampiran 17. Surat Keterangan................................................................... 156

xiv

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) mempengaruhi

hampir seluruh kehidupan manusia di berbagai bidang. Untuk dapat menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, maka kualitas sumber daya manusia harus ditingkatkan melalui peningkatan mutu pembelajaran di sekolah. Pendidikan tidak hanya bertujuan memberikan materi pelajaran saja tetapi lebih menekankan bagaimana mengajak siswa untuk menemukan dan membangun pengetahuannya sendiri sehingga siswa dapat mengembangkan kecakapan hidup (life skill) dan siap untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan. Dari hasil observasi awal di SMA N 1 Batang diperoleh data tentang nilai rata-rata ulangan harian siswa pada pokok bahasan besaran dan satuan adalah 69,62 dengan ketuntasan belajar 67,5 %. Dalam pembelajaran Fisika di SMA N 1 Batang dijumpai fakta-fakta sebagai berikut: 1. Metode pengajaran yang dominan adalah metode ceramah yang bersifat informatif sehingga interaksi antar subyek belajar kurang intensif. 2. Guru lebih aktif dalam pembelajaran dan dianggap sebagai satu-satunya sumber belajar bagi siswa serta kurangnya alam sekitar dan gejala alam dijadikan sumber belajar, walaupun sering berinteraksi dan ditemui dalam kehidupan, akibatnya siswa cenderung pasif, bosan sehingga kurang mengasah cara berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah.

1

2

3. Banyak siswa beranggapan bahwa mata pelajaran Fisika sulit, rumit, banyak rumus, bersifat abstrak dan teoritis serta penerapan dan manfaatnya sangat sedikit dalam kehidupan manusia yang mengakibatkan kurangnya minat siswa terhadap mata pelajaran Fisika. Hasil belajar merupakan salah satu indikator keberhasilan proses pembelajaran dan mutu pendidikan. Pembelajaran Fisika seharusnya dapat mengembangkan kecakapan dalam memecahkan masalah, sesuai dengan misi dan visi pelajaran Fisika dalam kurikulum SMA 2004 yaitu membentuk siswa yang peka, tanggap dan berperan aktif dalam menggunakan fisika untuk memecahkan problem di lingkungannya (Mardapi dkk, 2003:5). Pembelajaran yang kurang melibatkan siswa secara aktif dapat menghambat kemampuan berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah sehingga perlu dipilih dan diterapkan suatu model pembelajaran untuk mewujudkan tercapainya tujuan pembelajaran. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menghendaki situasi belajar yang alamiah, yaitu siswa belajar dengan sungguh-sungguh dengan cara mengalami dan menemukan sendiri pengalaman belajarnya. Ketika siswa belajar ilmu alam, maka yang dipelajari adalah ilmu alam sekitar yang dekat dengan kehidupan siswa. Situasi pembelajaran sebaiknya dapat menyajikan fenomena dunia nyata, masalah yang autentik dan bermakna yang dapat menantang siswa untuk memecahkannya. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah pembelajaran berdasarkan masalah atau Problem Based Instruction (PBI).

3

Menurut Nurhadi (2004:109), Problem Based Instruction merupakan model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta memperoleh pengetahuan dan konsep yang essensial dari mata pelajaran. Guru harus mendorong siswa untuk terlibat dalam tugas-tugas berorientasi masalah melalui penerapan konsep dan fakta, serta membantu menyelidiki masalah autentik dari suatu materi. Materi kinematika gerak lurus merupakan salah satu bahan kajian Fisika kelas X semester 1 siswa SMA atau sederajat. Kinematika gerak lurus merupakan materi dengan konsep yang sederhana dan fenomenanya dapat diamati dan seringkali dijumpai dalam kehidupan manusia serta besaran-besaran fisisnya dapat diukur. Dengan penerapan Problem Based Instruction, guru berusaha

menunjukkan kepada siswa bahwa materi kinematika gerak lurus dekat, konkrit dan berkaitan langsung dengan pengalaman keseharian siswa. Berkaitan dengan uraian dan fakta di atas, maka peneliti akan melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul: PENERAPAN PROBLEM BASED INSTRUCTION SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR FISIKA POKOK BAHASAN KINEMATIKA GERAK LURUS PADA SISWA KELAS X SEMESTER I SMA NEGERI 1 BATANG TAHUN PELAJARAN 2005/2006.

4

B.

Permasalahan Dalam penelitian ini masalah yang diteliti adalah apakah dengan penerapan

Problem Based Instruction (PBI) dapat meningkatkan hasil belajar Fisika pokok bahasan kinematika gerak lurus pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Batang tahun pelajaran 2005/2006.

C.

Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar

Fisika pokok bahasan kinematika gerak lurus melalui penerapan Problem Based Instruction (PBI).

D.

Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat : 1) Bagi Siswa Siswa dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, kemampuan bekerja sama, dan kemampuan berkomunikasi 2) Bagi Guru Guru mendapatkan model pembelajaran yang sesuai untuk memperbaiki dan meningkatkan hasil belajar siswa serta proses pembelajaran di kelas 3) Bagi Sekolah Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran Fisika di sekolah.

5

E.

Penegasan Istilah Untuk menghindari kesalahan penafsiran dalam penelitian ini, maka perlu

dijelaskan beberapa istilah, antara lain : 1. Pembelajaran Berdasarkan Masalah atau Problem Based Instruction Menurut Nurhadi (2004:109), Pembelajaran berdasarkan masalah atau Problem Based Instruction (PBI) merupakan model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta memperoleh pengetahuan dan konsep yang essensial dari mata pelajaran 2. Hasil Belajar Sudjana (1989:22), menyatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuankemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. 3. Kinematika Gerak Lurus Menurut Kanginan (2004:105), kinematika adalah ilmu yang mempelajari gerak suatu benda tanpa memperdulikan penyebab timbulnya gerak. Sedangkan gerak lurus adalah gerak yang lintasannya berupa garis lurus.

F.

Pembatasan Masalah Dalam penelitian ini, objek penilaian meliputi hasil belajar kognitif, afektif

dan psikomotorik. Aktivitas pembelajaran pada materi tentang perpindahan, jarak, kecepatan dan kelajuan dilakukan dengan percobaan secara mandiri oleh kelompok siswa. Materi gerak lurus beraturan dan gerak lurus berubah beraturan dilakukan dengan demonstrasi. Sedangkan pada materi gerak vertikal, siswa melakukan percobaan secara berkelompok di dalam laboratorium

6

G.

Sistematika Skripsi Sistematika dalam skripsi ini disusun dengan tujuan agar pokok-pokok

masalah dibahas secara urut dan terarah. Sistematika terdiri dari tiga bagian yaitu bagian awal, bagian isi, bagian akhir. 1) Bagian Awal Bagian ini berisi halaman judul, persetujuan, pengesahan, pernyataan, motto dan persembahan, kata pengantar, abstrak, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar dan daftar lampiran. 2) Bagian Isi Bagian ini terdiri dari pendahuluan, landasan teori, metode penelitian, hasil penelitian dan pembahasan, serta simpulan dan saran. BAB I : PENDAHULUAN Berisi latar belakang, permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah, pembatasan masalah dan

sistematika skripsi BAB II : LANDASAN TEORI Berisi teori tentang teori-teori yang digunakan untuk melandasi penelitian BAB III : METODE PENELITIAN Bab ini berisi tentang subyek dan tempat penelitian, faktor-faktor yang diteliti, rencana tindakan, prosedur penelitian, metode pengumpulan keberhasilan data, metode analisis data dan indikator

7

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini menyajikan tentang hasil penelitian dan pembahasan dengan diterapkannya Problem Based Instruction (PBI) BAB V : SIMPULAN DAN SARAN Berisi tentang simpulan dan saran 3) Bagian Akhir Bagian ini memuat daftar pustaka dan lampiran-lampiran.

BAB II
LANDASAN TEORI

A.

Hakikat Belajar dan Pembelajaran Sain (Fisika) Belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang berlangsung dalam

diri seseorang yang mengubah tingkah lakunya, baik tingkah laku dalam berpikir, bersikap dan berbuat (Gulo, 2002:8). Definisi ini menyiratkan dua makna. Pertama, bahwa belajar merupakan suatu proses dalam diri seseorang untuk mencapai tujuan tertentu. Kedua, perubahan tingkah laku merupakan hasil belajar. Sehingga pada hakikatnya belajar menyangkut dua hal yaitu proses belajar dan hasil belajar. Pandangan konstruktivisme-kognitif mendefinisikan belajar sebagai

“perubahan dalam struktur mental yang berisi informasi dan prosedur pengoperasian pada informasi tersebut” (Koes, 2003:38). Pandangan

konstruktivisme meyakini bahwa setiap pebelajar harus mengkonstruksi pengetahuan dan secara aktif mencari makna. Dalam hal ini, belajar yang terjadi adalah sesuatu yang dihubungkan dengan pengetahuan, pengalaman atau konseptualisasi yang telah ada pada individu. Menurut Darsono (2000), salah satu prinsip belajar adalah siswa yang belajar dengan melakukan sendiri dan diharapkan guru selalu ingat bahwa tugasnya adalah membelajarkan siswa, dengan kata lain membuat siswa dapat belajar untuk mencapai hasil optimal.

8

9

Guru

berinteraksi

dengan

masing-masing

siswa

untuk

mengamati

bagaimana ia memperoleh informasi baru, membantu siswa merekonstruksi pengetahuan secara benar, memotivasi serta membimbing siswa dalam memecahkan masalah. Jadi adanya informasi dan pengalaman baru

mengakibatkan terjadinya rekonstruksi pengetahuan yang lama sehingga terbentuk pengetahuan baru. Menurut pandangan konstruktivisme, pembelajaran harus lebih berpusat pada peserta didik, bersifat analitik, dan lebih berorientasi pada proses pembentukan pengetahuan dan penalaran. Pembelajaran (Koes, 2003:39-44) memiliki ciri-ciri sebagai berikut. 1) Menyediakan pengalaman belajar dengan meningkatkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan. 2) Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar. 3) Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistis dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit. 4) Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerjasama seseorang dengan orang lain atau lingkungannya. 5) Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran lebih efektif. 6) Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga Sains Fisika menjadi lebih menarik dan siswa termotivasi untuk belajar.

10

Membicarakan hakikat Fisika sama halnya dengan membicarakan hakikat Sains karena Fisika merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Sains. Oleh sebab itu, karakteristik Fisika pada dasarnya sama dengan karakteristik Sains. Menurut Koes (2003:3), salah satu kata kunci untuk pembelajaran Fisika adalah pembelajaran Fisika harus melibatkan siswa secara aktif untuk berinteraksi dengan objek konkrit. Dalam pembelajaran siswa terlibat secara aktif dalam mengamati, mengoperasikan alat, atau berlatih menggunakan objek konkrit sebagai bagian dari pelajaran. Dengan demikian diharapkan pembelajaran Fisika akan lebih bermakna. Pembelajaran Sains lebih menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi, agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan Sains diarahkan untuk “mencari tahu” dan “berbuat” sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendasar tentang alam sekitar.

B.

Hasil Belajar Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima

pengalaman belajarnya (Sudjana, 1989:22 ). Hasil belajar dapat diartikan sebagai hasil yang dicapai setelah interaksi dengan lingkungan, sehingga menghasilkan perubahan tingkah laku. Hasil yang dicapai berupa angka atau nilai yang diperoleh dari tes hasil belajar. Tes hasil belajar dibuat untuk menentukan tingkat pengetahuan dan keterampilan dalam penguasaan materi.

11

Hasil belajar memiliki peran penting dalam proses belajar mengajar. Penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi sampai sejauh mana keberhasilan seorang siswa dalam belajar. Selanjutnya, dari informasi tersebut guru dapat memperbaiki dan menyusun kembali kegiatan belajar pembelajaran lebih lanjut, baik untuk keseluruhan kelas maupun individu. Pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), hasil belajar siswa meliputi hasil belajar kognitif, psikomotorik dan afektif. Hasil belajar kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual, yang dinyatakan dengan nilai yang diperoleh siswa setelah menempuh tes. Hasil belajar psikomotorik berkaitan dengan keterampilan dan kemampuan bertindak siswa yang diperoleh dari hasil

pengamatan terhadap siswa ketika mengamati, menganalisis atau melakukan percobaan/ekperimen. Sedangkan untuk hasil belajar afektif, diperoleh dari hasil pengamatan sikap dan perilaku siswa ketika mengikuti pelajaran atau melakukan percobaan. Benyamin Bloom (Munaf, 2001:67) mengklasifikasikan kemampuan belajar menjadi tiga kategori, yaitu: 1) Ranah kognitif, meliputi kemempuan intelektual yang terdiri dari pengetahuan/ ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. 2) Ranah afektif, berkenaan dengan sikap dan minat yang terdiri penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. 3) Ranah psikomotorik, mencakup yang berupa keterampilan fisik (motorik) dan kemampuan bertindak, yang terdiri atas gerakan reflek, ketrampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan komplek, dan gerakan ekpresif dan interpretatif.

12

C.

Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Instruction/PBI)

1. Hakikat Pembelajaran Berdasarkan Masalah Model pembelajaran berdasarkan masalah atau Problem Based Instruction (PBI) juga dikenal dengan nama lain seperti Project Based Teaching (Pembelajaran Proyek), Experience Based Education (Pendidikan Berdasarkan Pengalaman), Authentic Learning (Belajar Autentik), dan Anchored Instruction (Belajar Berakar pada Kehidupan Nyata). Nurhadi (2004:109) menyatakan bahwa Problem Based Instruction (PBI) merupakan model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta memperoleh pengetahuan dan konsep yang essensial dari mata pelajaran. Sedangkan Ibrahim dkk (2000:3) menyatakan bahwa Problem Based Instruction (PBI) adalah pembelajaran yang menyajikan kepada situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka melakukan penyelidikan dan inkuiri. Pembelajaran berdasarkan masalah bukanlah sekedar pembelajaran yang dipenuhi dengan latihan-latihan soal seperti pada bimbingan belajar (les). Dalam pembelajaran berdasarkan masalah, potensi siswa lebih diberdayakan dengan dihadapkan pada permasalahan yang mengakibatkan rasa ingin tahu, menyelidiki masalah dan menemukan jawabannya melalui kerjasama serta

mengkomunikasikan hasil karyanya kepada orang lain.

13

Model pembelajaran berdasarkan masalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar mengembangkan potensi melalui suatu aktivitas untuk mencari, memecahkan dan menemukan sesuatu. Dalam pembelajaran siswa didorong bertindak aktif mencari jawaban atas masalah, keadaan atau situasi yang dihadapi dan menarik simpulan melalui proses berpikir ilmiah yang kritis, logis, dan sistematis. Siswa tidak lagi bertindak pasif, menerima dan menghafal pelajaran yang diberikan oleh guru atau yang terdapat dalam buku teks saja. Pemecahan masalah adalah suatu jenis belajar discovery. Dalam hal ini, siswa secara individu maupun secara kelompok berusaha memecahkan masalah autentik. Memecahkan masalah secara kelompok dipandang lebih menguntungkan karena dapat memperoleh latar belakang yang lebih luas dari anggota kelompok, sehingga dapat menstimulasi munculnya ide, permasalahan dan solusi pemecahan masalah. Hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam pembelajaran berdasarkan masalah adalah memunculkan masalah yang berfungsi sebagai batu loncatan untuk proses penyelidikan dan inkuiri. Di sini guru membimbing dan memberikan petunjuk minimal kepada siswa dalam memecahkan masalah. Pembelajaran berdasarkan masalah memiliki perbedaan penting dengan pembelajaran penemuan. Pada pembelajaran penemuan didasarkan pada pertanyaan-pertanyaan menurut disiplin ilmu dan penyelidikan siswa berlangsung di bawah bimbingan guru terbatas dalam ruang lingkup kelas. Sedangkan pembelajaran berdasarkan masalah dimulai dengan masalah kehidupan nyata yang bermakna dimana siswa mempunyai kesempatan melakukan penyelidikan, baik di dalam dan di luar kelas sejauh itu diperlukan untuk pemecahan masalah.

14

2. Landasan Teoritik dan Empirik Terdapat tiga aliran yang berpengaruh pada pembelajaran berdasarkan masalah. Teori-teori tersebut antara lain : 1) Dewey dan Kelas Demokratis Dewey (Ibrahim dkk, 2000:15) mengemukakan pandangan bahwa sekolah seharusnya menjadi laboratorium untuk pemecahan masalah kehidupan secara nyata. Untuk itu, guru harus mendorong siswa terlibat dalam tugas-tugas berorientasi masalah dan membimbing mereka menyelidiki suatu masalah. Pembelajaran di sekolah akan lebih bermanfaat jika dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan tugas yang menarik. 2) Piaget, Vygotsky dan Konstruktivisme Piaget (Ibrahim dkk, 2000:17) menegaskan bahwa anak mempunyai rasa ingin tahu bawaan dan secara terus menerus berusaha memahami dunia sekitarnya. Rasa ingin tahu ini memotivasi mereka secara aktif membangun pengetahuan mereka tentang lingkungan yang mereka hadapi. Oleh karena itu pada semua tahap perkembangan, anak perlu memahami lingkungan, diberi motivasi untuk menyelidiki dan membangun teori-teori yang menjelaskan lingkungan itu. Pandangan Konstruktivis-Kognitif mengemukakan bahwa siswa dalam

segala usia secara aktif terlibat dalam proses memperoleh informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri. Pengetahuan tidak statis tetapi secara terus-menerus tumbuh dan berubah pada saat siswa menghadapi pengalaman baru yang memaksa mereka membangun dan memodifikasi pengetahuan awal mereka.

15

Sedangkan Vygotsky (Ibrahim dkk, 2000:18) percaya bahwa perkembangan intelektual terjadi pada saat individu berhadapan dengan pengalaman baru dan menantang serta ketika mereka berusaha untuk menyelesaikan masalah yang muncul. Oleh karena itu, individu mengkaitkan pengalaman baru dengan pengetahuan awal yang telah dimilikinya dan membangun pengetahuan baru. 3) Bruner dan Pembelajaran Penemuan Bruner (Koes, 2003:34) menekankan pentingnya membantu siswa memahami struktur atau ide kunci dari suatu disiplin ilmu dan perlunya siswa aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Tujuan pendidikan tidak hanya meningkatkan banyaknya pengetahuan siswa, tetapi juga menciptakan

kemungkinan-kemungkinan penemuan siswa.

3. Proses Pemecahan Masalah Dalam proses pemecahan masalah, aktivitas yang dilakukan cukup kompleks karena memerlukan keterampilan berpikir yang sangat beragam antara lain mengamati, melaporkan, menganalisis, mengklasifikasi, menafsirkan, mengkritik, memprediksi dan menarik simpulan berdasarkan informasi yang diperoleh dan diolah. Pemecahan masalah dapat dipandang sebagai proses mencari atau memperoleh informasi secara sistematis, langkah demi langkah dengan mengolah informasi yang diperoleh melalui pengamatan untuk mencapai suatu hasil pemikiran sebagai respon terhadap masalah yang dihadapi (Nasution, 2001:117).

16

Pada proses pemecahan masalah, setiap siswa harus memiliki konsep awal terhadap suatu masalah. Pada kegiatan pembelajaran, penguasaan konsep pada taraf tertentu memerlukan penguasaan konsep pada taraf di bawahnya, karena ini berguna untuk menentukan kelancaran proses pemecahan masalah. Bila ada sesuatu yang tidak dikuasai dalam konsep, maka siswa akan menghadapi masalah dalam pemecahan masalah. Metode pemecahan masalah yang dikenalkan para ahli (Nasution, 2001:121) adalah sebagai berikut. a. Model John Dewey Langkah-langkah pemecahan masalah, sebagai berikut. (1) Mengidentifikasi dan merumuskan masalah (2) Mengemukakan hipotesis (3) Mengumpulkan data (4) Menguji hipotesis (5) Menarik kesimpulan b. Model Karl Albreacht Terdiri dari enam langkah yang dapat digolongkan dalam dua fase utama: Fase perluasan atau ekspansi atau fase divergen (1) Menemukan masalah (2) Merumuskan masalah (3) Mencari pilihan atau alternatif

17

Penyelesaian atau fase konvergen (1) Mengambil keputusan (memilih diantara dua alternatif) (2) Mengambil tindakan (komitmen untuk melaksanakan keputusan demi hasil yang diperoleh) (3) Mengevaluasi hasil (menentukan sampai manakah jerih payah itu berhasil atau menemui kegagalan) c. Model Berry K beyer (1) mengidentifikasi masalah (2) membuat rencana pemecahan (3) melaksanakan rencana pemecahan masalah (4) memeriksa jawaban

4. Ciri-ciri Pembelajaran Berdasarkan Masalah Menurut Ibrahim dkk (2000:5), Pembelajaran berdasarkan masalah memiliki karakteristik sebagai berikut : 1) Pengajuan pertanyaan atau masalah Pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pembelajaran di sekitar pertanyaan atau masalah dan secara pribadi bermakna bagi siswa. Pertanyaan atau masalah yang diajukan haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut. a. Autentik. Masalah harus lebih berakar pada kehidupan nyata siswa. Misalnya berjalan, berlari, naik sepeda motor, benda jatuh dari ketinggian tertentu merupakan peristiwa yang biasa ditemukan siswa di lingkungannya.

18

b. Jelas dan mudah dipahami. Masalah yang diberikan hendaknya mudah dipahami siswa dan dibuat sesuai dengan tingkat perkembangan siswa sehingga tidak menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya menyulitkan siswa. Misalnya membahas orang berlari maka harus jelas dari mana orang itu mulai berlari dan di mana pula orang itu berhenti. Jadi, jika siswa diminta mengukur jarak tempuhnya maka siswa tidak mengalami kesulitan. c. Luas dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Masalah yang disusun mencakup seluruh materi pelajaran yang akan diajukan sesuai dengan waktu, ruang dan sumber yang tersedia serta, sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Misalnya, jika membahas orang berlari maka akan diperoleh informasi mengenai jarak, perpindahan, kelajuan dan kecepatan. Jadi satu masalah dapat mencakup beberapa materi pelajaran. d. Bermanfaat. Masalah yang bermanfaat adalah masalah yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan memecahkan masalah siswa serta membangkitkan motivasi belajar. Misalnya siswa dihadapkan pada masalah bagaimana mengukur kelajuan seorang yang sedang berlari, maka hal pertama yang dipikirkan siswa adalah bahwa orang yang berlari akan menempuh panjang suatu lintasan dalam waktu tertentu. Maka yang pertama harus dilakukan adalah mengukur jarak tempuh lalu membaginya dengan waktu tempuhnya. Setelah mengetahui cara mengukur jarak, waktu dan kelajuan maka siswa dapat menggunakannya dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan kebermaknaan materi pelajaran maka siswa akan termotivasi untuk belajar lebih lanjut.

19

2) Berfokus pada keterkaitan antar disiplin ilmu. Pembelajaran berdasarkan masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu. Masalah yang diajukan hendaknya benar-benar autentik agar dalam pemecahannya siswa meninjau masalah tersebut dari banyak segi atau mengkaitkannya dengan disiplin ilmu yang lain. Misalnya kita membahas kedudukan suatu tempat, maka kita dapat mengkaitkannya dengan ilmu geografi dan jika membahas kecepatan dapat dikaitkan dengan ilmu olahraga maupun transportasi. 3) Penyelidikan autentik Siswa diharuskan melakukan penyelidikan autentik sebagai proses untuk mencari penyelesaian terhadap masalah nyata. Metode penyelidikan yang digunakan bergantung kepada masalah yang sedang dipelajari. Dalam penyelidikan, siswa merumuskan masalah, melaksanakan eksperimen (jika diperlukan), mengumpulkan data/informasi, menganalisis data, meramalkan hipotesis, membuat simpulan dan menyusun hasil pemecahan masalah. 4) Menghasilkan karya dan memamerkannya Pada pembelajaran berdasarkan masalah, siswa bertugas menyusun hasil pemecahan masalah berupa laporan hasil penyelidikan kemudian

mempresentasikannya di depan kelas untuk didiskusikan. 5) Kerjasama Pada pembelajaran berdasarkan masalah, tugas-tugas belajar dalam

pemecahan masalah lebih baik diselesaikan bersama-sama antar siswa, baik dalam kelompok kecil maupun besar, dengan bimbingan dari guru.

20

5. Tahap-tahap Pembelajaran Berdasarkan Masalah Pembelajaran berdasarkan masalah terdiri dari lima tahap, yang disajikan pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Tahap-tahap pembelajaran berdasarkan masalah

Tahap Tahap 1 Orientasi siswa pada masalah Tahap 2 Mengorganisasi siswa untuk belajar Tahap 3 Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok Tahap 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Tahap 5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Sumber : Ibrahim dkk, 2000:12 yang

Tingkah Laku Guru Menjelaskan tujuan pembelajaran, logistik dibutuhkan, memotivasi siswa siswa mengidentifikasi tugas belajar dan yang terlibat pada aktivitas pemecahan masalah Membantu mengorganisasikan

berhubungan dengan tugas belajar tersebut Mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan percobaan untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah Mendorong laporan Membantu siswa untuk merefleksi atau mengevaluasi penyelidikan mereka dan proses yang mereka gunakan siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti

21

6. Pelaksanaan Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah Pelaksanaan model pembelajaran berdasarkan masalah meliputi dua kegiatan, yaitu tugas perencanaan dan tugas interaktif (Ibrahim dkk, 2000:24). 1) Tugas-tugas Perencanaan Tugas-tugas perencanaan terdiri dari : a. Penetapan tujuan Pertama kali guru mendeskripsikan bagaimana pembelajaran

berdasarkan masalah direncanakan untuk membantu mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. b. Merancang situasi masalah yang sesuai Situasi masalah yang baik harus memenuhi kriteria antara lain autentik, tidak terdefinisi secara ketat, bermakna bagi siswa dan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya, luas, serta bermanfaat. c. Organisasi sumber daya dan rencana logistik Pembelajaran berdasarkan masalah memotivasi siswa untuk bekerja dengan beragam material dan peralatan yang dapat dilakukan di dalam kelas, perpustakaan atau laboratorium dan jika dimungkinkan di luar sekolah. Untuk itu, guru harus mengumpulkan dan menyediakan bahanbahan yang diperlukan untuk penyelidikan siswa dalam rangka memecahkan masalah.

22

2) Tugas Interaktif Tugas-tugas interaktif terdiri dari : a. Tahap 1. Orientasi siswa pada masalah Guru mengkomunikasikan tujuan pembelajaran dan menjelaskan model pembelajaran yang akan digunakan. Selanjutnya, guru menyajikan situasi masalah dengan prosedur yang jelas untuk melibatkan siswa dalam identifikasi masalah. Situasi masalah harus disampaikan secara tepat dan menarik. Biasanya memberi kesempatan siswa untuk melihat, merasakan dan menyentuh sesuatu atau menggunakan kejadian-kejadian di sekitar siswa sehingga dapat memunculkan ketertarikan, rasa ingin tahu dan motivasi. b. Tahap 2. Mengorganisasikan siswa untuk belajar Siswa dikelompokkan secara bervariasi dengan memperhatikan tingkat kemampuan, keragaman ras, etnis dan jenis kelamin yang didasarkan pada tujuan yang telah ditetapkan. c. Tahap 3. Membimbing penyelidikan individu dan kelompok. a) Pengumpulan data. Siswa melakukan penyelidikan atau pemecahan masalah dalam kelompoknya. Guru bertugas mendorong siswa untuk mengumpulkan data dan melaksanakan penyelidikan sampai mereka benar-benar memahami situasi masalah yang dihadapi. Tujuan pengumpulan data yaitu agar siswa mengumpulkan cukup informasi untuk membangun ide dan pengetahuan mereka sendiri.

23

b) Berhipotesis, menjelaskan dan memberikan pemecahan Siswa mengajukan berbagai hipotesis, penjelasan dan pemecahan dari masalah yang diselidiki. Pada tahap ini guru mendorong semua ide, menerima sepenuhnya ide tersebut, melengkapi dan membenarkan konsep-konsep yang salah. d. Tahap 4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Guru meminta salah seorang anggota kelompok untuk

mempresentasikan hasil pemecahan masalah kelompok dilanjutkan dengan diskusi dan membimbing siswa jika mereka mengalami kesulitan. Kegiatan ini berguna untuk mengetahui hasil sementara pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran. e. Tahap 5. Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah. Guru menganalisis dan mengevaluasi proses berpikir dan keterampilan penyelidikan siswa serta proses menyimpulkan hasil penyelidikan. Ibrahim dkk (2000:7) merumuskan bahwa pembelajaran berdasarkan masalah atau Problem Based Instruction dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir dan pemecahan masalah, belajar berbagai peran orang dewasa melalui perlibatan dalam pengalaman nyata dan menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri. Jadi penerapan pembelajaran berdasarkan masalah mempunyai tujuan agar siswa mampu mencari dan menemukan sendiri jawaban dari permasalahan yang dihadapinya dengan melaksanaan penyelidikan autentik melalui demonstrasi atau percobaan. Dengan menemukan dan mencari jawaban dari suatu permasalahan, maka siswa dilatih untuk menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri.

24

Dalam pembelajaran berdasarkan masalah, siswa dituntut mengajukan pertanyaan atau masalah dan mencari jawaban atas permasalahan yang diajukan, sehingga diharapkan dapat mengubah cara belajar siswa, mengembangkan rasa ingin tahunya dan menghubungkan konsep yang dipelajari dengan alam lingkungannya. Jadi adanya informasi dan pengalaman baru mengakibatkan terjadinya perubahan dan membentuk pengetahuan baru sebagai hasil dari proses belajar. Hasil yang dicapai siswa setelah proses belajar mencerminkan tingkat pengetahuan dan keterampilan dalam penguasaan materi. Pada proses pemecahan masalah yang dilakukan dengan penyelidikan autentik melalui percobaan atau demonstrasi. Dari kegiatan percobaan atau demonstrasi, maka keterampilan dan kemampuan bertindak siswa dapat teramati dengan lembar observasi psikomotorik. Pada proses pembelajaran, keterlibatan dan keaktifan siswa menunjukkan sikap dan minat siswa terhadap pembelajaran yang dilakukan. Keterlibatan dan keaktifan siswa diamati dengan lembar observasi afektif. Diharapkan dengan tercapainya hasil belajar afektif dan psikomotorik secara optimal maka hasil belajar kognitif siswa dapat tercapai secara optimal juga, sehingga dapat meningkatkan kompetensi siswa dan mengembangkan kecakapan hidup (life skill). Dalam penelitian ini, penerapan Problem Based Instruction diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pokok bahasan kinematika gerak lurus.

25

D.

Materi Kinematika Gerak Lurus Kinematika adalah ilmu yang mempelajari gerak suatu benda tanpa

mempertimbangkan penyebab gerak tersebut. Sedangkan gerak lurus adalah gerak yang lintasannya berupa garis lurus. 1. Kedudukan, jarak dan perpindahan Suatu benda dikatakan bergerak apabila kedudukannya senantiasa berubah terhadap suatu titik acuan tertentu. Kedudukan adalah letak suatu benda pada suatu waktu tertentu terhadap suatu acuan tertentu. Titik acuan adalah titik patokan yang dipakai sebagai permulaan untuk mengukur kedudukan suatu benda pada suatu saat. Jarak didefinisikan sebagai panjang lintasan yang ditempuh oleh suatu benda yang bergerak dalam selang waktu tertentu. Perpindahan adalah perubahan kedudukan suatu benda karena adanya perubahan waktu.

r Δx = x2 − x1
r Keterangan : Δx = perpindahan (m)

x1 = kedudukan awal (m) x2 = kedudukan akhir (m)

2. Kelajuan dan kecepatan Kelajuan rata-rata didefinisikan sebagai hasil bagi antara jarak yang ditempuh dengan waktu untuk menempuhnya.

v=

s t

Keterangan : v = kelajuan rata-rata (m/s) s = jarak tempuh (m) t = waktu tempuh (s)

26

Kecepatan rata-rata didefinisikan sebagai hasil bagi antara perpindahan
dengan selang waktunya. Kecepatan rata-rata benda dapat dinyatakan sebagai

v=

r r r Δx x2 − x1 = Δt t2 − t1

Keterangan : v = kecepatan rata-rata (m/s)
r Δx = perpindahan (m)
Δt = selang waktu (s)

kecepatan sesaat merupakan kecepatan rata-rata pada selang waktu yang
sangat singkat, yaitu selang waktu yang mendekati nol. Secara matematis, kecepatan sesaat dapat ditulis sebagai

r Δx v = lim Δt → 0 Δt r Δx atau v = Δt
3. Percepatan

untuk Δt sangat kecil atau mendekati nol

Percepatan rata-rata didefinisikan sebagai perubahan kecepatan dalam tiap satuan waktu. percepatan rata-rata benda dapat dirumuskan sebagai r r r Δv v2 − v1 a= = Δt t2 − t1 Keterangan : a = percepatan (m/ s 2 )
r Δv = perubahan kecepatan (m/s)

Δt = selang waktu (s)

27

percepatan sesaat merupakan percepatan rata-rata pada selang waktu yang

sangat singkat, yaitu selang waktu yang mendekati nol. Secara matematis, percepatan sesaat (a) dapat ditulis sebagai
r Δv a = lim Δt → 0 Δt

atau

r Δv a= Δt

untuk Δt sangat kecil (mendekati nol)

4. Gerak Lurus Beraturan (GLB)

Gerak lurus beraturan didefinisikan sebagai gerak suatu benda pada suatu

lintasan lurus dengan kecepatan tetap. Yang dimaksud kecepatan tetap adalah benda menempuh jarak yang sama untuk selang waktu yang sama (Δs sama untuk Δt yang sama) dan arah geraknya selalu tetap.
s(m) 3 2 1
α
Δs1 Δs 2

Δs 3

0
Δt1

1
Δt 2

2
Δt 3

3

t(s)

Gambar 2.1. Grafik hubungan jarak (s) terhadap waktu (t) pada GLB

Berdasarkan Gambar 2.1, untuk Δs1= Δs2 = Δs3 dan Δt1= Δt2 = Δt3 diperoleh kecepatan
v= Δs1 Δs 2 Δs3 = = = tan α Δt1 Δt 2 Δt 3

Karena dalam GLB kecepatan benda tetap, maka grafik kecepatan (v) terhadap waktu (t) dapat dilukiskan sebagai berikut.

28

v (m/s) v

0

t

t(s)

Gambar 2.2. Grafik hubungan kecepatan (v) terhadap waktu (t) pada GLB

Jika saat t=0 posisi awal benda x0 dan setelah bergerak t detik posisi benda xt, maka kecepatan benda dapat dirumuskan sebagai
v=v =
Δx xt − x0 = Δt t − t0

atau

v t = xt − x0

sehingga

x t = x0 + vt

Keterangan : xt = posisi benda setelah t detik (m) x0 = posisi awal (m) v = kecepatan (m/s) t = waktu (s)
5. Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB)

Gerak lurus berubah beraturan adalah gerak benda pada lintasan lurus yang

kecepatannya berubah secara teratur atau percepatannya tetap. Grafik percepatan terhadap waktu dapat dilukiskan sebagai berikut a (m/s2) a

t(s)
Gambar 2.3. Grafik hubungan percepatan (a) terhadap waktu (t) pada GLBB

29

v(m/s) v
Δv = v – v0

v0
Δt

t

t(s)

Gambar 2.4. Grafik hubungan kecepatan (v) terhadap waktu (t) pada GLBB

Jika saat t0 = 0 kecepatan awal benda v0 dan setelah bergerak selama t detik kecepatannya vt, maka percepatan benda dapat dirumuskan sebagai
a=a =
Δv vt − v0 = Δt t − t0

sehingga Keterangan: vt = kecepatan (m/s)
v0 = kecepatan awal (m/s)

vt = v0 + at

a = percepatan (m/ s 2 ) t = waktu (s) Kecepatan rata-rata v adalah nilai tengah dari kecepatan v0 dan kecepatan saat t adalah vt, sehingga
v=
1 (vt + v0 ) 2

Jarak yang ditempuh benda merupakan kecepatan rata-rata dikalikan dengan waktu tempuhnya, sehingga s = vt dan s= 1 ( v 0 + v) t 2

30

Dengan subsitusi, maka s= 1 ( v 0 + v 0 + at ) t sehingga 2 s = v0 t + 1 2 at 2

Keterangan : s = jarak (m) v0 = kecepatan awal (m/s) a = percepatan (m/s2) t = waktu (s) Dari persamaan vt = v0 + at diperoleh t = Dengan substitusi, diperoleh s = v0 t + 1 2 at 2

v t − v0 a

s = v0 (
2

1 v −v vt − v0 ) + a( t 0 ) 2 2 a a
2

v − v0 s= t 2a

atau

vt = v0 + 2as

2

2

Gerak vertikal termasuk dalam GLBB. Gerak vertikal 3 macam, yaitu gerak vertikal ke bawah, gerak jatuh bebas, dan gerak vertikal ke atas.
a. Gerak vertikal ke bawah

Gerak vertikal ke bawah adalah gerak suatu benda yang dilempar tegak
lurus ke bawah dengan kecepatan awal tertentu dan selama geraknya mengalami percepatan tetap, yaitu percepatan gravitasi bumi. Karena kecepatan awal benda tidak sama dengan nol (v0 ≠ 0) dan percepatan benda searah dengan gerak benda sehingga bernilai positif (a=g), maka dari persamaan GLBB diperoleh

31

vt = v0 + at
sehingga vt = v0 + gt sedangkan jarak yang ditempuh benda setelah bergerak t detik adalah s = v0 t + 1 2 at 2 1 2 gt 2

sehingga s = v0t +

b. Gerak jatuh bebas

Gerak jatuh bebas adalah gerak sebuah benda yang jatuh dari ketinggian
tertentu tanpa kecepatan awal yang selama geraknya mengalami percepatan tetap, yaitu percepatan gravitasi bumi. Karena kecepatan awal sama dengan nol (v0=0) dan percepatan benda searah dengan gerak benda sehingga percepatan benda mempunyai harga positif (a=g). Dari persamaan gerak vertikal ke bawah diperoleh

vt = v0 + gt
sehingga vt = gt sedangkan jarak yang ditempuh benda setelah bergerak t detik adalah 1 s = v0t + gt 2 2 1 sehingga s = gt 2 2

32

c. Gerak vertikal ke atas

Gerak vertikal ke atas adalah gerak suatu benda yang dilempar tegak
lurus ke atas dengan kecepatan awal tertentu. Mula-mula benda bergerak ke atas hingga mencapai tinggi maksimum. Karena pada gerak vertikal ke atas kecepatan awal tidak sama dengan nol (v0 ≠ 0) dan percepatan benda berlawanan arah dengan arah gerak benda ( a = − g ), maka dari persamaan GLBB

vt = v0 + at

sehingga vt = v0 − gt sedangkan jarak yang ditempuh benda setelah bergerak t detik adalah s = v0 t + sehingga s = v0t − 1 2 at 2

1 2 gt 2

Keterangan : v0= kecepatan awal (m/s) vt= kecepatan pada saat t (s) g= percepatan gravitasi (m/s2) t= waktu tempuh (s) Oleh karena itu kecepatan benda di titik tertinggi adalah nol (vt ≠ 0) maka
v = v0 − gt

0 = v0 − gtm sehingga tm =

v0 g

33

Jika ketinggian maksimum yang dicapai benda adalah hm , maka 1 2 h m = v 0 t n − gt n 2

⎛v ⎞ 1 ⎛v ⎞ hm = v0 ⎜ 0 ⎟ − g ⎜ 0 ⎟ ⎜g⎟ 2 ⎜g⎟ ⎝ ⎠ ⎝ ⎠

2

v sehingga h m = 0 2g Keterangan :

2

hm = tinggi maksimum (m) tm = waktu untuk mencapai tinggi maksimum (s)

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Subyek dan Tempat Penelitian Subyek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas X1 SMA Negeri 1 Batang tahun pelajaran 2005/2006 dengan jumlah siswa 40 orang, terdiri dari 16 siswa putra dan 24 siswa putri. Subyek penelitian ditentukan dengan random sampling. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Batang yang berlokasi di Jalan Ki Mangunsarkoro 8 Batang.

B. Faktor yang diteliti Faktor yang diteliti dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa, meliputi hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotorik. Hasil belajar kognitif diukur dengan tes tertulis, sedangkan hasil belajar afektif dan psikomotorik diamati dengan lembar observasi.

C. Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang terbagi dalam tahapan bersiklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap kegiatan, yaitu Perencanaan, Pelaksanaan, Pengamatan, Refleksi.

34

35

1. Perencanaan Kegiatan yang dilakukan yang dilakukan antara lain: a. Observasi awal dan identifikasi masalah mengenai hasil ulangan harian siswa pokok bahasan sebelumnya, metode pembelajaran yang biasa digunakan, fasilitas di dalam laboratorium, motivasi dan minat siswa terhadap Fisika dan situasi kelas. b. Menyusun skenario pembelajaran sesuai dengan tahapan pembelajaran berdasarkan masalah dan menyusun perangkat pembelajaran seperti silabus dan sistem penilaian, rencana pembelajaran (RP), lembar kerja siswa (LKS) petunjuk pelaksanaan percobaan atau demonstrasi serta menyiapkan alat dan bahan yang terkait dengan pelaksanaan percobaan atau demonstrasi. c. Menyiapkan alat evaluasi berupa tes tertulis yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar kognitif siswa. Tes tertulis berbentuk pilihan ganda (multiple choice) dengan lima alternatif jawaban. d. Menyusun lembar observasi untuk penilaian afektif dan psikomotorik siswa. Lembar observasi afektif dan psikomotorik yang digunakan berbentuk skala bertingkat (rating scale), yaitu sebuah pernyataan yang diikuti kolom-kolom yang menunjukkan tingkatan-tingkatan penskoran dengan skala penskoran sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. e. Menyusun kisi-kisi soal uji coba f. Melakukan uji coba dan analisis soal evaluasi

36

Setelah perangkat tes disusun kemudian diujicobakan untuk mendapatkan perangkat tes yang valid, reliabel dan memiliki taraf kesukaran dan daya pembeda yang baik. Uji coba instrumen penelitian dilakukan tanggal 27 Agustus 2005 pada siswa kelas XI IA1 SMA Negeri 1 Batang. Rumus yang digunakan untuk menganalisis hasil uji coba instrumen adalah sebagai berikut: 1) Validitas butir soal Rumus yang digunakan untuk mengetahui validitas suatu soal yaitu rumus korelasi product moment.
rXY = N ∑ XY − (∑ X )(∑ Y )

{N ∑ X 2 −

(∑ X )}{N ∑ Y
2

2

− (∑ Y ) 2 }

( Arikunto, 1998:240)

Keterangan: rXY X Y N = koefisien korelasi = skor tiap butir soal = skor total yang benar dari tiap subjek = jumlah subjek

Hasil perhitungan rxy dikonsultasikan pada tabel kritik r product moment dengan interval kepercayaan 95%. Jika rxy> rtabel maka soal itu valid. Soal objektif dengan interval kepercayaan 95% untuk N= 40 diperoleh r
tabel

=

0.312. Jika harga rxy< 0.312, maka soal tersebut tidak valid. Sebaliknya jika harga rxy> 0.312 maka soal tersebut valid. Contoh perhitungan selengkapnya terdapat pada lampiran.

37

2) Reliabilitas tes Reliabilitas dihitung dengan teknik korelasi KR-20 yang rumusnya adalah

⎛ k ⎞⎛ Vt − ∑ pq ⎞ ⎟ r11 = ⎜ ⎟⎜ ⎟ Vt ⎝ k − 1 ⎠⎜ ⎝ ⎠ Keterangan:
r11

(Arikunto, 2002: 163)

= reliabilitas instrumen = banyaknya butir pertanyaan = varians total = proporsi subjek yang menjawab betul pada sesuatu butir = proporsi subjek yang menjawab item salah (q = 1 – p)

k Vt P q

Vt =

∑X

2

(∑ X ) −
N N

2

Di mana : X = skor siswa N = jumlah siswa Soal dikatakan reliabel jika r 11 > r tabel, dengan interval kepercayaan 95%. Dari hasil analisis diperoleh r 11 sebesar 0,877 > r tabel untuk N=40 yang berarti instrumen tersebut reliabel. Untuk perhitungan selengkapnya pada lampiran.

38

3) Indeks kesukaran butir soal Indeks kesukaran dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut.

IK =

B JS

(Arikunto, 1998: 208)

Keterangan: IK = Indeks kesukaran soal B = banyaknya jawaban yang benar JS = jumlah siswa peserta tes Indeks kesukaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Soal dengan IK = 0,00 adalah soal terlalu sukar

Soal dengan 0,00 < IK ≤ 0,3 adalah soal sukar Soal dengan Soal dengan Soal dengan 0,3 < IK ≤ 0,7 adalah soal sedang 0,7 < IK ≤ 1,00 adalah soal mudah IK = 1,00 adalah soal terlalu mudah ( Suherman, 1990:113) Untuk perhitungan selengkapnya pada lampiran. 4) Daya pembeda butir soal Untuk menentukan daya pembeda butir soal:

DP =

BA BB − = PA − PB JA JB

(Suherman, 1990: 202)

Keterangan: JA = Banyaknya peserta kelompok atas JB = Banyaknya peserta kelompok bawah BA= Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal dengan benar

39

BB= Banyaknya peserta kelompok bawah menjawab soal itu dengan benar PA=

BA = Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar JA

PB=

BB = Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar JB

Daya pembeda diklasifikasikan sebagai berikut: Soal dengan Soal dengan Soal dengan Soal dengan Soal dengan DP ≤ 0,00 adalah soal sangat jelek 0,00 < DP ≤ 0,20 adalah soal jelek 0,2 < DP ≤ 0,40 adalah soal cukup 0,4 < DP ≤ 0,70 adalah soal baik 0,7 < DP ≤ 1,00 adalah soal sangat baik (Suherman, 1990: 202) Untuk perhitungan selengkapnya pada lampiran.

2. Pelaksanaan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah guru memberikan pretes untuk mengetahui kemampuan awal siswa kemudian melaksanakan skenario pembelajaran. Adapun tindakan yang dilakukan oleh guru adalah orientasi siswa kepada masalah, mengorganisasikan siswa untuk belajar, membimbing

penyelidikan individual maupun kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Langkah terakhir yaitu memberikan postes di akhir siklus.

40

3. Pengamatan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini yaitu merekam atau mengamati segala peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama pelaksanaan tindakan untuk memantau sejauh mana efek tindakan pembelajaran dengan menggunakan

Problem Based Instruction. Guru (peneliti) dan observer mengamati jalannya
proses pembelajaran sambil mengisi lembar observasi untuk mengetahui kemampuan afektif dan psikomotorik siswa selama pembelajaran berlangsung. Melakukan koreksi dan penilaian jawaban LKS dan postes.
4. Refleksi

Refleksi berhubungan dengan proses dan dampak tindakan perbaikan yang akan dilakukan. Refleksi disini meliputi kegiatan: analisis, sintesis, penafsiran, menjelaskan dan menyimpulkan. Dari hasil observasi, guru (peneliti) dapat merefleksi apakah dengan penerapan Problem Based Instruction telah dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil refleksi ini dijadikan sebagai acuan untuk memperbaiki kinerja guru dan melakukan revisi terhadap perencanaan yang akan dilaksanakan pada siklus atau kegiatan belajar pembelajaran selanjutnya. Tahap kegiatan ini terus berulang sampai suatu permasalahan dianggap teratasi. Banyak sedikitnya jumlah siklus dalam penelitian tindakan kelas (PTK) bergantung pada terselesaikannya masalah yang diteliti. Jika pelaksanaan penelitian pada suatu siklus dikatakan berhasil maka tidak perlu dilanjutkan pada siklus berikutnya. Secara ringkas skema prosedur penelitian tindakan kelas dapat dijabarkan sebagai berikut.

41

SIKLUS Siklus selanjutnya Belum terselesaikan Observasi Perencanaan Pelaksanaan Refleksi Pengamatan

Terselesaikan
Gambar 3.1. Skema prosedur penelitian tindakan kelas (PTK)

D. Metode Pengumpulan Data

1. Sumber Data Sumber data berasal dari siswa dan guru SMA Negeri 1 Batang. 2. Jenis Data dan Cara Pengumpulan Data a. Data awal tentang hasil belajar siswa sebelum penelitian diperoleh dari nilai pretes. b. Hasil belajar kognitif siswa diperoleh dari nilai postes . c. Hasil belajar afektif dan psikomotorik diperoleh dari hasil pengamatan pada lembar observasi. Lembar observasi afektif meliputi minat, sikap dan nilai. Aspek minat terdiri dari kehadiran di kelas, perhatian mengikuti pelajaran, partisipasi dalam kegiatan laboratorium, keaktifan mengerjakan tugas, laporan. Aspek sikap terdiri dari tanggung jawab, kejujuran, berinteraksi dengan guru, teliti dan sistematis. Aspek nilai terdiri dari kerjasama dalam kelompok, menghargai pendapat orang lain, menghargai waktu, kerapian dan menggunakan peralatan.

42

Lembar observasi psikomotorik terdiri dari mempersiapkan alat, merangkai alat, membaca hasil pengukuran, melakukan pengamatan atau percobaan dan mengkomunikasikan hasil percobaan. Cara mengamati minat, sikap dan nilai adalah dengan mengelompokkan siswa. Pada saat proses pembelajaran, dalam sebuah kelompok dapat terlihat siswa yang aktif, siswa yang pasif dan siswa yang lain termasuk siswa berkemampuan rata-rata, sehingga penilaiannya dilakukan secara global dalam suatu kelompok untuk beberapa individu. Hal ini untuk memudahkan guru mengobservasi siswa.

E. Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan cara membandingkan hasil belajr siswa sebelum tindakan dan sesudah tindakan pada siklus I maupun siklus II, termasuk rata-rata kelas dan ketuntasan klasikal. Analisis data yang telah terkumpul dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Data hasil pretes dan postes a. Setiap jawaban siswa dibandingkan dengan kunci jawaban b. Memberikan skor pada hasil pekerjaan pretes dan postes c. Membandingkan nilai pretes dan postes untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar siswa. Hasil belajar kognitif siswa dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

43

Nilai =

∑ Jumlah jawaban benar x100 ∑ Jumlah seluruh soal

(Slameto, 1988)

2. Data hasil observasi Data hasil observasi meliputi data penilaian afektif dan psikomotorik siswa. Data hasil observasi dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Nilai =

∑ Skor perolehan x 100 ∑ Skor maksimal

(Depdiknas, 2003)

3. Data ketuntasan belajar siswa Persentase ketuntasan hasil belajar siswa dihitung dengan menggunakan rumus deskriptif presentase sebagai berikut:

%=

n x 100% N

(Sudjana, 1999)

Keterangan: % n N = Persentase = Jumlah siswa yang tuntas secara individual = Jumlah seluruh siswa

4. Data rerata nilai Rerata nilai sebelum dilakukan dan sesudah dilakukan tindakan dicari dengan rumus berikut.

M =

ΣX N

(Sudjana, 1999)

Keterangan : M = Nilai rerata kelas ΣX = Jumlah nilai N = Jumlah peserta tes

44

F. Indikator Keberhasilan

Menurut Mulyasa (2002:99), keberhasilan pembelajaran untuk aspek kognitif dapat dilihat dari hasil tes, jika hasil belajar siswa mencapai 65% secara individual dan 85% secara klasikal. Indikator keberhasilan untuk aspek afektif dapat dilihat dari hasil yang dicapai siswa, jika hasil belajar siswa mencapai 60% secara individual (Priatiningsih dalam Umiyati, 2005:34) dan 75% secara klasikal (Mulyasa, 2002:102). Sedangkan untuk penilaian aspek psikomotorik, seorang siswa dikatakan tuntas jika hasil belajar siswa mencapai 75% secara individual (Priatiningsih dalam Umiyati, 2005:14) dan 75% dengan ketuntasan klasikal 75% (Mulyasa, 2002:102). Indikator keberhasilan pada penelitian ini tercermin dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa setiap siklusnya berupa kenaikan jumlah siswa yang tuntas belajar baik dari aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN 1. Data Hasil Belajar Kognitif Siswa Hasil belajar kognitif siswa berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang ditunjukkan dengan nilai yang diperoleh siswa setelah menempuh tes. Ringkasan hasil belajar kognitif siswa sebelum dan sesudah diterapkan Problem Based Instruction dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 4.1 Ringkasan Hasil Belajar Kognitif Siswa Sebelum dan Sesudah Penerapan Problem Based Instruction

No 1 2 3 4 5

Keterangan Nilai tertinggi Nilai terendah Nilai tes rerata Standar deviasi Ketuntasan klasikal

Sebelum tindakan 80 44 65,2 9,29 57,5%

Sesudah tindakan Siklus I Siklus II 92 92 48 56 69,3 76,4 11,11 9,53 70% 87,5%

Peningkatan hasil tes kognitif sebelum tindakan, siklus I dan siklus II dapat dilihat melalui diagram batang berikut ini.
100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 92 92 80 56 44 48 76.4 69.3 65.2

87.5 70 57.5

Nilai

Sebelum Tindakan Siklus I Siklus II

Nilai Tertinggi

Nilai Terendah

Nilai rerata

Ketuntasan Klasikal

Keterangan
Gambar 4.1. Grafik Hasil Belajar Kognitif Siswa

45

46

2. Data Hasil Belajar Afektif Siswa Penilaian afektif diperoleh dari lembar observasi siswa meliputi minat, sikap dan nilai. Ringkasan hasil belajar afektif siswa dapat dilihat pada tabel 4.2.
Tabel 4.2 Ringkasan Hasil Belajar Afektif Siswa

No. 1 2 3 4 5

Keterangan Nilai tertinggi Nilai terendah Nilai rerata Standar deviasi Ketuntasan klasikal

Siklus I 84 58,66 75,43 6,20 95%

Siklus II 84 60 77,66 5,29 100%

Peningkatan hasil belajar psikomotorik siswa dapat dilihat melalui diagram batang berikut ini.
100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0
95 84 84 60 58.66 77.66 75.43 100

Nilai

Siklus I Siklus II

Nilai Tertinggi

Nilai Terendah

Nilai rerata

Ketuntasan Klasikal

Keterangan
Gambar 4.2. Grafik Hasil Belajar Afektif Siswa

3. Data Hasil Belajar Psikomotorik Siswa Penilaian psikomotorik diperoleh dari lembar observasi. Hasil penilaian psikomotorik siklus I dan siklus II dapat dilihat pada table 4.3 berikut ini.
Tabel. 4.3 Ringkasan Hasil Belajar Psikomotorik Siswa

No 1 2 3 4 5

Keterangan Nilai tertinggi Nilai terendah Nilai rerata Standar deviasi Ketuntasan klasikal

Siklus I 88 64 72,9 6,53 70%

Siklus II 88 64 77,7 6,13 77,5%

47

Peningkatan hasil belajar psikomotorik siswa dapat dilihat melalui diagram batang berikut ini.
100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0

88

88 64 64 72.9

77.7 70

77.5

Nilai

Siklus I Siklus II

Nilai Tertinggi

Nilai Terendah

Nilai rerata

Ketuntasan Klasikal

Keterangan
Gambar 4.3. Grafik Hasil Belajar Psikomotorik Siswa

B. PEMBAHASAN Indikator keberhasilan untuk aspek kognitif dapat dilihat dari hasil tes yang dicapai siswa, jika hasil belajar siswa mencapai 65% secara individual dan 85% secara klasikal, maka hasil belajar dikatakan tuntas. Berdasarkan tabel 4.1 dan gambar 4.1, pada penilaian aspek kognitif diperoleh nilai tes rerata sebelum tindakan (pretes) adalah 65,2 dengan ketuntasan belajar klasikal 57,5%. Pada siklus I, hasil belajar kognitif (postes siklus I) meningkat menjadi 69,3 dengan ketuntasan belajar klasikal 70%. Pada siklus II, hasil belajar kognitif (postes siklus II) juga mengalami peningkatan menjadi 76,4 dengan ketuntasan belajar klasikal 87,5%. Ini berarti pada silus II, 87,5% siswa mendapat nilai tes minimal 65, sehingga secara klasikal hasil belajar kognitif telah tuntas. Peningkatan hasil belajar tersebut menunjukkan bahwa penguasaan dan tingkat pemahaman siswa terhadap materi semakin meningkat.

48

Peningkatan nilai tes rerata maupun ketuntasan belajar klasikal pada aspek kognitif, terjadi karena dalam pembelajaran berdasarkan masalah, potensi siswa lebih diberdayakan dengan dihadapkan pada permasalahan yang mengakibatkan rasa ingin tahu, menyelidiki masalah dan menemukan jawabannya melalui kerjasama serta mengkomunikasikan hasil karyanya kepada orang lain. Siswa tidak lagi bertindak pasif, menerima dan menghafal pelajaran yang diberikan oleh guru atau yang terdapat dalam buku teks saja. Ini sesuai dengan pendapat Ibrahim dkk (2000:7) yang merumuskan bahwa pembelajaran berdasarkan masalah atau Problem Based Instruction dikembangkan untuk membantu siswa

mengembangkan kemampuan berpikir dan pemecahan masalah, belajar berbagai peran orang dewasa melalui perlibatan dalam pengalaman nyata dan menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri. Walaupun pada siklus I terjadi peningkatan nilai tes rerata dan ketuntasan belajar klasikal, hasil belajar kognitif siswa belum tuntas berdasarkan indikator keberhasilan. Kurang berhasilnya pembelajaran pada siklus I, dikarenakan beberapa kendala, antara lain siswa kurang membaca dan kurang memahami materi karena jarang belajar, kebanyakan siswa belajar apabila menghadapi ulangan. Sebagian siswa jarang melakukan latihan soal, walaupun banyak soal yang tersedia dapat digunakan untuk latihan memecahkan masalah dan cenderung mengandalkan teman dalam mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah. Materi kinematika gerak lurus memerlukan berpikir analisis yang baik terutama dalam penurunan dan penerapan rumus pada gerak lurus berubah beraturan dan gerak vertikal, sehingga beberapa siswa mengalami kesulitan karena tidak terbiasa dan kurang persiapan sebelum pelaksanaan pembelajaran.

49

Indikator keberhasilan untuk aspek afektif dapat dilihat dari hasil yang dicapai siswa, jika hasil belajar siswa mencapai 60% secara individual dan 75% secara klasikal, maka hasil belajar dikatakan tuntas. Berdasarkan tabel 4.2 dan gambar 4.2, pada penilaian afektif diperoleh nilai rerata siklus I adalah 75,43 dengan ketuntasan belajar klasikal 95%. Pada siklus II, hasil belajar afektif mengalami peningkatan menjadi 77,66 dengan ketuntasan belajar klasikal 100%, sehingga secara klasikal hasil belajar afektif siklus I dan siklus II sudah tuntas berdasarkan indikator keberhasilan karena sekurang-kurangnya 75% siswa mendapat nilai minimal 60. Meskipun hasil belajar afektif secara klasikal telah tuntas, namun berdasarkan pengamatan selama pembelajaran masih terlihat kekurangan, yaitu keterlibatan dan partisipasi siswa dalam kegiatan laboratorium dan diskusi belum optimal, terlihat hanya beberapa anak yang aktif, sebagian ada yang duduk diam atau mondar-mandir melihat pekerjaan kelompok lain. Masih banyak siswa yang malu atau takut untuk bertanya, menjawab dan mengemukakan pendapat. Belum terjalin kerjasama yang baik antar siswa dalam kelompok, karena kerja kelompok masih didominasi siswa tertentu. Peningkatan nilai rerata dan ketuntasan belajar klasikal aspek afektif terjadi karena dalam pembelajaran masalah yang disajikan atau muncul berasal dari peristiwa kehidupan sehari-hari siswa sehingga memberikan kesempatan kepada siswa terlibat aktif untuk memecahkan masalah tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Piaget dan Vygotsky dalam Ibrahim dkk (2000:14) yang menegaskan bahwa perkembangan intelektual siswa terjadi pada saat siswa berusaha menyelesaikan masalah yang dimunculkan oleh pengalaman baru yang ditemuinya. Siswa mempunyai rasa ingin tahu dan secara terus menerus berusaha memahami dunia sekitarnya.

50

Indikator keberhasilan untuk aspek psikomotorik dapat dilihat dari hasil yang dicapai siswa, jika hasil belajar siswa mencapai 75% secara individual dan 75% secara klasikal, maka hasil belajar dikatakan tuntas. Berdasarkan tabel 4.3 dan gambar 4.3, pada penilaian aspek psikomotorik diperoleh nilai rerata siklus I adalah 72,9 dengan ketuntasan belajar klasikal 70%. Pada siklus II, hasil belajar psikomotorik meningkat menjadi 77,7 dengan ketuntasan belajar klasikal 77,5. Ini berarti pada siklus II 77,5% siswa mendapat nilai minimal 75, sehingga secara klasikal hasil belajar psikomotorik telah tuntas berdasarkan indikator

keberhasilan. Pada siklus I, hasil belajar aspek psikomotorik secara klasikal belum tuntas. Belum tuntasnya hasil belajar yang dicapai dikarenakan siswa belum terbiasa melakukan penyelidikan melalui kegiatan percobaan/demonstrasi menggunakan metode pemecahan masalah meskipun sudah ada LKS sebagai petunjuk pelaksanaan percobaan/demonstrasi. Beberapa siswa kurang terampil

menggunakan alat karena jarang melakukan kegiatan pembelajaran di laboratorium. Sebagian siswa kurang menghargai alat-alat percobaan karena menggunakannya untuk mainan. Masih banyak siswa yang kurang serius dalam melakukan percobaan maupun pengamatan dan pengaturan waktu juga belum efisien. Kekurangan-kekurangan yang terdapat pada siklus II menjadi pertimbangan untuk melakukan perbaikan-perbaikan pada siklus II. Perbaikan-perbaikan yang dilakukan antara lain memotivasi siswa untuk belajar dan bekerjasama dalam memecahkan masalah. Memotivasi siswa agar berani bertanya, menjawab atau

51

mengeluarkan pendapat dan berperan aktif dalam pembelajaran. Merevisi LKS agar lebih dimengerti siswa dan memudahkan siswa dalam proses penyeledikan melalui percobaan atau demonstrasi. Guru memberikan balikan (feed back) dan penguatan (reinforcement) dengan lebih jelas dan sederhana. Untuk mengatasi kurangnya kerjasama antar anggota kelompok yaitu solusi pemecahan masalah adalah hasil kerja kelompok sehingga anggota yang tidak berpartisipasi dalam proses penyelidikan bukan merupakan bagian dari kelompok, kedudukan siswa dalam suatu kelompok adalah sama, nilai kerjasama yang didapatkan oleh suatu kelompok adalah sama untuk setiap anggota, setiap kelompok harus mengurusi tugas kelompoknya sendiri dan melakukan pembagian kerja. Pada siklus II, hasil belajar pasikomotorik mengalami peningkatan, baik nilai rerata maupun ketuntasan belajar klasikalnya. Peningkatan hasil belajar psikomotorik dikarenakan beberapa hal yaitu selama pembelajaran berlangsung siswa lebih serius dan aktif, misalnya melakukan percobaan dan membandingkan hasil penemuannya dengan penemuan temannya melalui lembar kerja siswa (LKS). Melalui pengalaman tersebut siswa lebih mudah memahami materi yang dipelajari. Hal ini sesuai dengan pendapat Darsono (2000) yang menyatakan bahwa salah satu prinsip belajar adalah mengalami sendiri, artinya siswa yang belajar dengan melakukan sendiri akan memberikan hasil belajar yang lebih lebih optimal.

52

Selama pembelajaran berlangsung, penyelidikan autentik sebagai usaha memecahkan suatu masalah merupakan sarana melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran yang memiliki dampak positif untuk meningkatkan hasil belajar. Hal ini sesuai dengan pendapat Koes (2003:3) yang menyatakan bahwa pembelajaran fisika harus melibatkan siswa secara aktif untuk berinteraksi dengan objek konkrit, agar pembelajaran lebih bermakna. Guru membimbing siswa dalam proses penyelidikan untuk menemukan solusi atau jawaban dari permasalahan yang dirumuskan. Solusi dari masalah tersebut dikemukakan dan didiskusikan yang pada akhirnya diperoleh pengalaman. Pengetahuan baru yang diperoleh berupa konsep yang jelas dan benar tentang suatu materi. Pengalaman, pengetahuan dan konseptualisasi yang terjadi pada siswa merupakan hasil pemecahan masalah yang ditemukan siswa yang tentunya dengan bimbingan guru. Proses pembelajaran ini sesuai dengan pandangan kognitif–konstruktivisme yang menyatakan bahwa pembelajaran harus merekonstruksi pengetahuan lama dengan informasi dan pengalaman baru sehingga terbentuk pengetahuan baru (Koes, 2003:28).

BAB V PENUTUP

A. Simpulan Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan Problem Based Instruction pada pokok bahasan Kinematika Gerak Lurus dapat meningkatkan hasil belajar aspek kognitif, afektif, psikomotorik siswa kelas X SMA Negeri 1 Batang tahun pelajaran 2005/2006. Peningkatan hasil belajar dapat dilihat dari kenaikan nilai rerata dan ketuntasan belajar klasikal dari satu siklus ke siklus berikutnya. Hasil belajar kognitif mengalami peningkatan. Sebelum penerapan Problem Based Instruction, nilai tes rerata 65,2 dengan ketuntasan belajar klasikal 57,5%. Pada siklus I, nilai tes rerata 69,3 dan ketuntasan belajar klasikal 70%. Pada siklus II, nilai tes rerata 76,4 dengan ketuntasan belajar klasikal 87,5%. Hasil belajar afektif juga mengalami peningkatan. Pada siklus I, nilai rerata 75,43 dengan ketuntasan belajar klasikal 95%. Pada siklus II, nilai rerata 77,66 dengan ketuntasan belajar klasikal 100%. Hasil belajar psikomotorik juga mengalami peningkatan. Pada siklus I, nilai rerata 72,9 dengan ketuntasan belajar klasikal 70%. Pada siklus II, nilai rerata 77,7 dengan ketuntasan belajar klasikal 77,5%.

53

54

B. Saran Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka saran yang dapat diberikan adalah. 1. Problem Based Instruction atau Pembelajaran berdasarkan masalah dapat dijadikan sebagai alternatif pembelajaran bagi guru dalam upaya

meningkatkan hasil belajar siswa. 2. Dalam pelaksanaan Problem Based Instruction, jika proses pemecahan masalah autentik untuk mencari dan mengkonstruksi pengetahuan dilakukan melalui percobaan, maka diperlukan kelengkapan alat-alat percobaan untuk mempermudah siswa melakukan percobaan dan memperlancar proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad. 2002. Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo Arikunto, Suharsimi. 2002. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara . 1998. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta Darsono, Max. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata pelajaran Sains. Jakarta. Depdiknas Gulo, W. 2002. Strategi belajar mengajar. Jakarta: Grasindo Ibrahim, Muslimin dkk. 2000. Pengajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya: Unesa Kanginan, Marthen. 2004. Fisika IA SMA Kelas I Semester 1. Jakarta: Erlangga Koes, Supriyono. 2003. Strategi Pembelajaran Fisika. Malang: JICA Mardapi, Djemari dkk. 2003. Kurikulum 2004 SMA Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran Fisika. Jakarta: Depdiknas Mulyasa. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Rosdakarya Munaf. 2001. Evaluasi Pendidikan Fisika. Bandung: UPI Nasution. 2001. Asas-asas Kurikulum. Jakarta: Bumi Aksara Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004 Pertanyaan dan Jawaban. Jakarta: Grasindo Slameto. 1988. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara Sudjana. 1999. Metode Statistika. Bandung: Tarsito Sudjana, Nana. 1989. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Rosdakarya

55

56

Suherman, Erman. 1990. Evaluasi Pendidikan untuk Matematika. Bandung: Wijayakusumah Tim Pelatih Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Jakarta : Depdikbud Tim Peneliti Program Pascasarjana UNY. 2003. Pedoman Penilaian Afektif. Jakarta: Depdiknas Tim Penyusun. 2003. Fisika IA Kelas I SMU Semester 1. Klaten: Intan Pariwara

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful