You are on page 1of 29

REFERAT ILEUS PARALITIK

Disusun Oleh : KARINA 20070310113

Dokter Pembimbing : Dr. Gunawan Siswadi. Sp.B

BAGIAN BEDAH FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA RS PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL 2012

HALAMAN PENGESAHAN REFERAT ILEUS PARALITIK

Disusun oleh : KARINA 20070310113

Telah dipresentasikan dan disetujui oleh pembimbing Di RSD Panembahan Senopati Pada tanggal january 2012

Mengetahui Dokter Penguji

Dr. Gunawan Siswadi. Sp.B RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL 2012

kritik. Avri. penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada: 1. sehingga penulisan referat yang berjudul Ileus Paralitik ini dapat selesai dengan lancar. dan Staf Bangsal serta Poliklinik bedah RSD Panembahan Senopati Teman-teman senasib seperjuangan Chandra. penulis mengucapkan terima kasih. hafid. agus. andra. Gunawan Siswadi. Elga. Wb.B selaku dokter pembimbing Kepaniteraan Klinik bedah di RSD Panembahan Senopati 2. Bidayati. puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT . 3.KATA PENGANTAR Assalamu´alaikum. Dalam penulisan presentasi kasus ini. Alhamdulillah. Suryo Hapsara Sp. Anti. january 2012 Penulis . Wb. beriring dengan shalawat serta salam kepada Rasulullah SAW. SpB dan dr. Wr. Seluruh Perawat. Yogyakarta. Semoga presentasi kasus ini dapat menambah ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi penulis dan pembaca. asa. Dr. Wassalamu´alaikum. dan saran yang membangun. Pada kesempatan ini. penulis menyadari adanya kelemahan dan kekurangan. Atas bantuan. Wr.

Demikian pula kelainan pada rongga dada seperti pneumonia paru bagian bawah.(4) Tu ju a n Pe nu lisa n a. keseimbangan elektrolit dan sebagainya. seringnya manipulasi usus dan lamanya usus berkontak dengan udara luar. Gerakan peristaltik merupakan suatu aktifitas otot polos usus yang terkoordinasi dengan baik. empiema dan infark miokard dapat disertai paralisis usus.BAB I ILEUS PARALITIK I.(1) Total angka kejadian dari obstruksi usus yang disebabkan oleh mekanik dan non mekanik mencapai 1 kasus diantara 1000 orang. Ileus paralitik ini bukan suatu penyakit primer usus melainkan akibat dari berbagai penyakit primer. sistem saraf simpatik dan parasimpatik. dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti keadaan otot polos usus. terlebih lagi bila disertai fraktur vertebra sering menimbulkan ileus paralitik yang berat. dan urin akan menimbulkan paralisis usus. tindakan (operasi) yang berhubungan dengan rongga perut. PENDAHULUAN Ileus paralitik atau adynamic ileus adalah keadaan dimana usus gagal/ tidak mampu melakukan kontraksi peristaltik untuk menyalurkan isinya. Kelainan peritoneal seperti hematoma retroperitoneal. Agar mahasiswa tahu dan mengerti tentang Iliusn dan IliusParalitik . Pencemaran peritoneum dengan asam lambung. Gangguan elektolit terutama hipokalemia merupakan penyebab yang cukup sering. Beratnya ileus pasca operasi bergantung pada lamanya operasi/ narcosis. Keadaan ini biasanya hanya berlangsung antara 24-72 jam. toksin dan obat-obatan yang dapat mempengaruhi kontraksi otot polos usus. isi kolon. enzim pankreas. darah. hormon-hormon intestinal.1. Ileus paralitik hampir selalu dijumpai pada pasien pasca operasi abdomen.ileus akibat meconium tercatat 9-33 % dari obstruksi ileus pada kelahiran baru.

jejenum. Anatomi Usus (5) Usus halus merupakan tabung yang kompleks.(1) Ileus merupakan kondisi dimana terjadi kegagalan neurogenik atau hilangnya peristaltic usus tanpa adanya obstruksi mekanik. Pemisahan duodenum dan jejunum ditandai oleh ligamentum treitz. Usus ini mengisi bagian tengah dan bawah abdomen. Pembagian ini agak tidak tepat dan didasarkan pada sedikit perubahan struktur. Ujung proksimalnya bergaris tengah sekitar 3.2.8 cm. Pada orang hidup panjang usus halus sekitar 12 kaki (22 kaki pada kadaver akibat relaksasi). mulai dari pilorus sampai kepada jejenum. Agar mahasiswa t ahu d an mengert i t ent ang c a r a penanganan terhadap pasien dengan penyakit Ilius Paralitik BAB II PEMBAHASAN II.(2) II.1. dan yang relatif lebih penting berdasarkan perbedaan fungsi. Agar mahasiswa tahu dan mengert i tentang Etiologi IliusParalitik c.b. Duodenum panjangnya sekitar 25 cm. Usus halus dibagi menjadi duodenum. dan ileum. suatu pita muskulofibrosa yang berorigo pada krus dekstra diafragma dekat hiatus esofagus dan berinsersio . berlipat-lipat yang membentang dari pilorus sampai katup ileosekal. A g a r m a h a s i s w a t a h u d a n m e n g e r t i p a t o f i s i o l o g i I l i u s Paralitik d.5 cm. Definisi Ileus Paralitik Ileus paralitik atau adynamic ileus adalah keadaan dimana usus gagal/ tidak mampu melakukan kontraksi peristaltik untuk menyalurkan isinya. tetapi semakin kebawah lambat laun garis tengahnya berkurang sampai menjadi sekitar 2.

5 inci (sekitar 6. . transversum. Sekum menempati sekitar dua atau tiga inci pertama dari usus besar. membentuk fleksura koli sinistra (fleksura lienalis) untuk kemudian menjadi kolon descendens. Jejenum terletak di region abdominalis media sebelah kiri. Pada sekum terdapat katup ileocaecaal dan apendiks yang melekat pada ujung sekum. desendens dan sigmoid. Kolon ascendens berjalan ke atas dari sekum ke permukaan inferior lobus kanan hati. Setelah mencapai hati. Lekukan-lekukan jejenum dan ileum melekat pada dinding posterior abdomen dengan perantaraan lipatan peritoneum yang berbentuk kipas yang dikenal sebagai messenterium usus halus. Katup ileocaecaal mengontrol aliran kimus dari ileum ke sekum. kolon ascendens membelok ke kiri. dan tiga perlima terminalnya adalah ileum.. Kolon sigmoid merupakan lanjutan kolon descendens. waktu mencapai daerah limpa. Kira-kira duaperlima dari sisa usus halus adalah jejenum.5 cm). Diameter usus besar sudah pasti lebih besar daripada usus kecil. kolon dan rektum. Pangkal lipatan yang pendek melanjutkan diri sebagai peritoneum parietal pada dinding posterior abdomen sepanjang garis berjalan ke bawah dan ke kanan dari kiri vertebra lumbalis kedua ke daerah articulatio sacroiliaca kanan. meninggalkan pelvis dengan menembus dasar pelvis. menduduki regio iliaca dan lumbalis kanan. Kolon sigmoid mulai pada pintu atas panggul. Ia tergantung ke bawah dalam rongga pelvis dalam bentuk lengkungan. Disisni rektum melanjutkan diri sebagai anus dalan perineum. tetapi makin dekat anus semakin kecil. Rektum ke atas dilanjutkan oleh kolon sigmoid dan berjalan turun di depan sekum. Rata-rata sekitar 2. Akar mesenterium memungkinkan keluar dan masuknya cabang-cabang arteri vena mesenterica superior antara kedua lapisan peritoneum yang memgbentuk messenterium. Jejunum mulai pada junctura denojejunalis dan ileum berakhir pada junctura ileocaecalis. Kolon transversum. membengkok ke bawah. Rektum menduduki bagian posterior rongga pelvis. membentuk fleksura koli dekstra (fleksura hepatik). Usus besar dibagi menjadi sekum. Kolon sigmoid bersatu dengan rektum di depan sakrum. Kolon transversum menyilang abdomen pada regio umbilikalis dari fleksura koli dekstra sampai fleksura koli sinistra. Ligamentum ini berperan sebagai ligamentum suspensorium (penggantung).pada perbatasan duodenum dan jejenum. Kolon dibagi lagi menjadi kolon asendens. sedangkan ileum cenderung terletak di region abdominalis bawah kanan. Usus besar merupakan tabung muskular berongga dengan panjang sekitar 5 kaki (sekitar 1.5 m) yang terbentang dari sekum sampai kanalis ani.

villi. Tela submucosa terdiri dari jaringan ikat longgar yang terletak diantara tunica muskularis dan lapisan tipis lamina muskularis mukosa. Sistem saluran pencernaan. Tunica Serosa. Ia paling tebal di dalam duodenum dan berkurang tebalnya ke arah distal. Masing-masing lipatan ini ditutup dengan tonjolan. tak lengkap di atas duodenum. Dalam ruangan ini berjalan jalinan pembuluh darah halus dan pembuluh limfe. Dua selubung otot polos tak bergaris membentuk tunica muscularis usus halus. II. .2. Lapisan luarnya stratum longitudinale dan lapisan dalamnya stratum circulare.. Yang terakhir membentuk massa dinding usus. Tela Submucosa. Di samping itu. Tunica mucosa usus halus. hampir lengkap di dalam usus halus mesenterica. Tunica serosa atau lapisan peritoneum. tempat lembaran visera dan mesenterica peritoneum bersatu pada tepi usus.Gambar 1. 3. 2. Tunica Mucosa. Plexus myentericus saraf (Auerbach) dan saluran limfe terletak diantara kedua lapisan otot. Histologi(5) Dinding usus halus dibagi kedalam empat lapisan: 1. kekecualian pada sebagian kecil. yang terletak di bawah mukosa. di sini ditemukan neuroplexus meissner. Tunica Muscularis. kecuali pars superior duodenum.1. tersusun dalam lipatan sirkular tumpang tindih yang berinterdigitasi secara transversa. 4.

Villi panjangnya 0. Arteri ini mendarahi seluruh usus halus kecuali duodenum yang sebagian atas duodenum adalah arteri pancreotico duodenalis superior. Lapisan mukosa usus besar jauh lebih tebal daripada lapisan mukosa usus halus dan tidak mengandung villi atau rugae. Vili merupakan tonjolan-tonjolan seperti jari-jari dari mukosa yang jumlahnya sekitar 4 atau 5 juta dan terdapat di sepanjang usus halus. Mikrovilli terlihat dengan mikroskop elektron dan tampak sebagai brush border pada mikroskop cahaya. Panjang taenia lebih pendek daripada usus. tetapi terkumpul dalam tiga pita yang dinamakan taenia koli.5 sampai 1 mm (dapat dilihat dengan mata telanjang) dan menyebabkan gambaran mukosa menyerupai beludru. Mikrovili merupakan tonjolan menyerupai jari-jari dengan panjang sekitar 1 pada permukaan luar setiap villus. 3. suatu cabang arteri gastroduoodenalis. Bila lapisan permukaan usus halus ini rata. Taenia bersatu pada sigmoid distal. maka luas permukaannya hanyalah sekitar 2. Kriptus lieberk n (kelenjar intestinal) terletak lebih dalam dan mempunyai lebih banyak sel goblet daripada usus halus. Lipatanlipatan ini nyata pada duodenum dan jejenum dan menghilang dekat pertengahan ileum. dengan demikian rektum mempunyai satu lapisan otot longitudinal yang lengkap.2 Vaskularisasi(5) Pada usus halus. Valvula koniventes. hal ini menyebabkan usus tertarik dan berkerut membentuk kantong-kantong kecil peritoneum yang berisi lemak dan melekat di sepanjang taenia. Akan tetapi.Usus halus ditandai oleh adanya tiga struktur yang sangat menambah luas permukaan dan membantu fungsi absorpsi yang merupakan fungsi utamanya: 1. Lapisan otot longitudinal usus besar tidak sempurna. yaitu menigkat seribu kali lipat. 2.00 cm². ada beberapa gambaran yang khas pada usus besar saja. II. Lapisan mukosa dan submukosa membentuk lipatan-lipatan sirkular yang dinamakan valvula koniventes (lipatan kerckringi) yang menonjol ke dalam lumen sekitar 3 ampai 10 mm.2. vili dan mikrovili bersama-sama menambah luas permukaan absorpsi sampai 2 juta cm². Usus besar memiliki empat lapisan morfologik seperti juga bagian usus lainnya. arteri mesentericus superior dicabangkan dari aorta tepat di bawah arteri seliaka. Sedangkan separoh bawah duodenum diperdarahi oleh arteri pancreoticoduodenalis inferior. Adanya lipatan-lipatan ini menyerupai bulu pada radiogram. suatu cabang .

sedangkan yang berasal dari sepertiga distal kolon transversum dan kolon descendens akan masuk ke nodi limphatici mesentericus inferior.arteri mesenterica superior. kolon descendens dan sigmoid.2. yang terletak sekitar pangkal arteri mesentericus superior.3. (2) sigmoidalis.2.4. kolon ascendens. Persarafan Usus(5) Saraf-saraf duodenum berasal dari saraf simpatis dan parasimpatis (vagus) dari pleksus mesentericus superior dan pleksus coeliacus. II. melalui nodi lymphatici pancreoticoduodenalis ke nodi lyphatici mesentericus superior sekitar pangkal arteri mesenterica superior. Pembuluh limfe untuk kolon mengalirkan cairan limfe ke kelenjar limfe yang terletak di sepanjang perjalanan arteri vena kolika. Pembuluh-pembuluh darah yang memperdarahi jejenum dan ileum ini beranastomosis satu sama lain untuk membentuk serangkaian arkade. Sedangkan saraf untuk jejenum dan ileum berasal dari saraf simpatis dan parasimpatis (nervus vagus) dari pleksus mesentericus superior. sedangkan rangsangan . Rangsangan parasimpatis merangasang aktivitas sekresi dan pergerakan. dan bagian proksimal rektum) : (1) kolika sinistra. dan dua pertiga proksimal kolon transversum) : (1) ileokolika. Darah dikembalikan lewat vena messentericus superior yang menyatu dengan vena lienalis membentuk vena porta. II. Bagian ileum yang terbawah juga diperdarahi oleh arteri ileocolica. Pembuluh Limfe(5) Pembuluh limfe duodenum mengikuti arteri dan mengalirkan cairan limfe ke atas melalui nodi lymphatici pancreoticoduodenalis ke nodi lymphatici gastroduodenalis dan kemudian ke nodi lymphatici coeliacus: dan ke bawah. Pembuluh limfe sekum berjalan melewati banyak nodi lymphatici mesentericus dan akhirnya mencapai nodi lymphatici mesentericus superior. (3) kolika media. Pembuluh limfe jejenum dan ileum berjalan melalui banyak nodi lymphatici mesentericus dan akhirnya mencapai nodi lymphatici mesentericus suprior. (3) rektalis superior. dan arteria mesenterika inferior memperdarahi bagian kiri (sepertiga distal kolon transversum. (2) kolika dekstra. arteri mesenterika superior memperdarahi belahan bagian kanan (sekum. Pada usus besar. Untuk kolon ascendens dan dua pertiga dari kolon transversum cairan limfenya akan masuk ke nodi limphatici mesentericus superior.

II. Persarafan usus besar dilakukan oleh sistem saraf otonom dengan perkecualian sfingter eksterna yang berada dibawah kontrol voluntar. Pada kolon transversum dipersarafi oleh saraf simpatis nervus vagus dan saraf parasimpatis nervus pelvikus. hampir sama dengan jumlah keseluruhan pada medulla spinalis. yang terletak di dalam submukosa.1. Jumlah neuron pada sistem enterik ini sekitar 100 juta. satu pleksus bagian luar yang terletak diantara lapisan otot longitudinal dan sirkular. Perangsangan simpatis menyebabkan penghambatan sekresi dan kontraksi. Walaupun sistem saraf enterik dapat berfungsi dengan sendirinya. Serabut-serabut nervus vagus hanya mempersarafi dua pertiga proksimal kolon transversum. Serabut simpatis berjalan dari pleksus mesentericus superior dan inferior. . berjalan melalui pleksus Auerbach yang terletak dalam lapisan muskularis. disebut pleksus Mienterikus atau pleksus auerbach. dan pleksus bagian dalam. Serabut-serabut sensorik sistem simpatis menghantarkan nyeri. Pleksus Mienterikus terutama mengatur pergerakan gastrointestinal dan pleksus submukosa terutama mengatur sekresi gastrointestinal dan aliran darah lokal. sepertiga distal dipersarafi oleh saraf parasimpatis nervus pelvikus. Sistem enterik terutama terdiri atas dua pleksus. perangsangan oleh sistem parasimpatis dan simpatis dapat mengaktifakan atau menghambat fungsi gastrointestinal lebih lanjut. sedangkan serabut-serabut parasimpatis mengatur refleks usus. yang menimbulkan fungsi motorik.simpatis menghambat pergerakan usus. mulai dari esophagus dan memanjang sampai ke anus. Sedangkan pada kolon descendens dipersarafi serabut-serabut simpatis dari pleksus saraf mesentericus inferior dan saraf parasimpatis nervus pelvikus. dan pleksus Meissner di lapisan submukosa.2. appendiks dan kolon ascendens dipersarafi oleh serabut saraf simpatis dan parasimpatis nervus vagus dari pleksus saraf mesentericus superior. hal ini menunjukkan pentingnya sistem enterik untuk mengatur fungsi gastrointestinal. disebut pleksus submukosa atau pleksus Meissner. Kedua pleksus tersebut berhubungan dengan serat-serat simpatis dan parasimpatis. serta perangsangan sfingter rektum. sedangkan perangsangan parasimpatis mempunyai efek berlawanan. Sistem ini seluruhnya terletak di dinding usus.4. Sekum. Kontrol saraf terhadap fungsi gastrointestinal(7) Sistem gastrointestinal memiliki sistem persarafan sendiri yang disebut sistem saraf enterik. tidak bergantung pada sarafsaraf ekstrinsik ini. Suplai saraf intrinsik.

ketiga dan keempat dari medulla spinalis serta berjalan melalui saraf pelvis ke separuh bagian distal usus besar.3. parasimpatis divisi cranial hampir seluruhnya berasal dari saraf vagus. Refleks-refleks yang seluruhnya terjadi di dalam sistem saraf enterik. sesudah meninggalkan medulla .2. Refleks-refleks dari usus ke ganglia simpatis prevertebral dan kemudian kembali ke traktus gastrointestinal. Saraf-saraf sensoris ini mengadakan refleks-refleks local di dalam usus itu sendiri dan refleks-refleks lain yang disiarkan kembali ke usus baik dari ganglia prevertebral maupun dari daerah basal sistem saraf pusat.Ujung-ujung saraf simpatis yang berasal dari epithelium gastrointestinal atau dinding usus dan kemudian mengirimkan serat-serat afferent ke kedua sistem enterik juga ke ganglia prevertebral dari sistem saraf simpatis. Refleks-refleks gastrointestinal(7) 1. Area sigmoid. lambung pankreas dan sedikit ke usus sampai separuh pertama bagian usus besar. efek penghambatan local dan sebagainya. II. Pengaturan otonom traktus gastrointestinal(7) Persarafan parasimpatis. Refleks-refleks tersebut mengatur sekresi gastrointestinal. II. peristaltic.2. seperti ganglion seliakus dan berbagai ganglion mesenterikus. Persarafan parasimpatis ke usus dibagi atas divisi cranial dan divisi sacral. Serat-serat simpatis yang berjalan ke traktus gastrointestinal berasal dari medulla spinalis antara segmen T-5 dan L-2. menimbulkan banyak efek yang berlawanan dengan yang ditimbulkan oleh sistem parasimpatis. beberapa berjalan melalui saraf simpatis ke medulla spinalis dan yang lainnya berjalan melalui saraf vagus ke batang otak. Persarafan simpatis. Ujung-ujung saraf simpatis mensekresikan norepineprin. 2. memasuki rantai simpatis dan berjalan melalui rantai ke ganglia yang letaknya jauh. Pada umunya. perangsangan sistem saraf simpatis menghambat aktivitas dalam traktus gastrointestinal.4. Refleks ini mengirim sinyal untuk jarak yang jauh dalam .4. kontraksi campuran. Parasimpatis sacral berasal dari segmen sacral medulla spinalis kedua. Sebagian besar preganglionik yang mempersarafi usus. Kecuali untuk beberapa serat parasimpatis di regio mulut dan faring dari saluran pencernaan. Saraf ini member inervasi yang luas pada esophagus. rectum dan anus dari usus besar diperkirakan mendapat persarafan parasimpatis yang lebih baik daripada bagian usus yang lain.2.

yaitu segmental dan peristaltik yang diatur oleh sistem saraf autonom dan hormon.3. Proses dilanjutkan di dalam duodenum terutama oleh kerja enzim-enzim pankreas yang menghidrolisis karbohidrat. Sekresi empedu dari hati membantu proses pencernaan dengan mengemulsikan lemak sehingga memberikan permukaan lebih luas bagi kerja lipase pankreas. Isi usus digerakkan oleh peristalsis yang terdiri atas dua jenis gerakan. dan protein menjadi zat-zat yang lebih sederhana. seperti sinyal dari lambung untuk menyebabkan pengosongan kolon (refleks gastrokolik). Fisiologi Usus(5) Usus halus mempunyai dua fungsi utama : pencernaan dan absorpsi bahan-bahan nutrisi dan air. asam klorida. lemak. contohnya gerakan propulsif yang mendorong makanan melalui esofagus berlangsung cepat tapi sebaliknya di usus . Banyak di antara enzim-enzim ini terdapat pada brush border vili dan mencernakan zat-zat makanan sambil diabsorpsi. sinyal dari kolon dan usus halus untuk menghambat motilitas lambung dan sekresi lambung (refleks enterogastrik) dan refleks dari kolon untuk menghambat pengosongan isi ileum ke dalam kolon (refleks kolonoileal). dan sekresi usus. Gerakan propulsif yaitu gerakan mendorong atau memajukan isi saluran pencernaan sehingga berpindah tempat ke segmen berikutnya. 3. Adanya bikarbonat dalam sekret pankreas membantu menetralkan asam dan memberikan pH optimal untuk kerja enzim-enzim. dimana gerakan ini pada setiap segmen akan berbeda tingkat kecepatannya sesuai dengan fungsi dari regio saluran pencernaan.traktus gastrointestinal. Pergerakan segmental usus halus mencampur zat-zat yang dimakan dengan sekret pankreas. refleks nyeri yang menimbulkan hambatan umum pada seluruh traktus gastrointestinal dan refleks defekasi. hepatobiliar. Meliputi refleks mengatur aktifitas motorik dan sekresi lambung. Proses pencernaan dimulai dalam mulut dan lambung oleh kerja ptialin.(7) II. Proses pencernaan disempurnakan oleh sejumnlah enzim dalam getah usus (sukus enterikus). dan pepsin terhadap makanan masuk. Refleks-refleks dari usus ke medulla spinalis atau batang otak dan kemudian kembali ke traktus gastrointestinal. dan pergerakan peristaltik mendorong isi dari salah satu ujung ke ujung lain dengan kecepatan yang sesuai untuk absorpsi optimal dan suplai kontinu isi lambung. Dalam proses motilitas terjadi dua gerakan yaitu: 1.

bersama dengan disakarida utama lain. Asam lemak kecil dapat memasuki kapiler dan secara langsung menuju ke vena porta. galaktosa. dihidrolisis menjadi monosakarida glukosa. gerakan ini mempunyai 2 fungsi yaitu mencampur makanan dengan getah pencernaan dan mempermudah penyerapan pada usus. Kemudian disakarida ini. Selain itu air.halus tempat utama berlangsungnya pencernaan dan penyerapan makanan bergerak sangat lambat. Disakarida ini dicerna menjadi monosakarida sewaktu berkontak dengan mikrovili ini atau sewaktu mereka berdifusi ke dalam . lemak dan protein (gula sederhana. maltase. Transport aktif membawa dipeptida dan tripeptida ke dalam sel untuk diabsorpsi. hasilnya bergabung dengan garam empedu membentuk misel. yang keluar dari sel dan memasuki lakteal. Lemak dalam bentuk trigliserida dihidrodrolisa oleh enzim lipase pankreas . menghasilkan asam amino dan 2 sampai 6 residu peptida. Absorpsi adalah pemindahan hasil-hasil akhir pencernaan karbohidrat. Protein oleh asam lambung di denaturasi. Misel kemudian memasuki membran sel secara pasif dengan difusif. Sel kemudian membentuk kembali trigliserida dan digabungkan dengan kolesterol. dan fruktosa. sukrase. pepsin memulai proses proteolisis. fosfolipid. Absoprpsi berbagai zat berlangsung dengan mekanisme transpor aktif dan pasif yang sebagian kurang dimengerti. dan endopeptidase. sekitar 0. Dari kumpulan 5 gram garam empedu yang memasuki kantung empedu. eksopeptidase) melanjutkan proses pencernaan protein. Garam empedu diabsorpsi ke dalam sirkulasi enterohepatik dalam ileum distalis. melepaskan garam empedu yang kembali ke dalam lumen usus dan asam lemak serta monogliserida ke dalam sel. 2. asam-asam lemak dan asa-asam amino) melalui dinding usus ke sirkulasi darah dan limfe untuk digunakan oleh sesl-sel tubuh. Gerakan mencampur. yang merupakan disakarida. kemudian mengalami disagregasi. kumpulan ini bersirkulasi ulang 6 kali dalam 24 jam. laktosa dan sukrosa.5 gram hilang setiap hari. elektrolit dan vitamin juga diabsorpsi. metabolisme awalnya dimulai dengan menghidrolisis pati menjadi maltosa (atau isomaltosa). Enzim laktase. dan isimaltase untuk pemecahan disakarida terletak di dalam mikrovili ¶brush border¶ sel epitel. Enzim protease pankreas (tripsinogen yang diaktifkan oleh enterokinase menjadi tripsin. Karbohidrat. dan apoprotein untuk membentuk kilomikron.

Gerakan massa merupakan pola yang kurang umum. 10¹¹-10¹²/gram. Gas kolon berasal dari udara yang ditelan. natrium. monosakarida. dan cairan duodenum menyokong sekitar 8-10 L/hari cairan tubuh. Bakteroides paling umum. Menerima 900-1500 ml/hari. kolinergik. produksi intralumen.(5) . kemudian segera disbsorpsi ke dalam darah porta. Kolon mengabsorpsi air. Escherichia coli berikutnya. dipercepat oleh hormon parathormon (PTH) dan vitamin D. khlorida. cairan empedu. karbon dioksida. cairan lambung. meningkat oleh makanan. Bakteri membentuk hidrogen dan metan dari protein dan karbohidrat yang tidak tercerna. difusi dari darah. hidrogen. Kalium diabsorpsi secara difusi pasif. tekanan 100-200 mmHg. Usus besar mempunyai berbagai fungsi yang semuanya berkaitan dengan proses akhir isi usus. Air secara osmotik dan secara hidrostatik diabsorpsi atau melalui difusi pasif. dan fruktosa. Air dan elektrolit. meningkatkan absorpsi. 20-30 detik panjang. Kalsium diabsorpsi melalui transport aktif dalam duodenum dan jejenum. glukosa. Sumber penting vitamin K. Nitrogen. paling banyak di proksimal. oksigen. kecuali 100-200 ml diabsorpsi. Sepertiga berat feses kering adalah bakterri. semua. Kolon sigmoid berfungsi sebagai reservoir yang menampung massa feses yang sudah dehidrasi sampai defekasi berlangsung. dan asam lemak rantai pendek serta mengeluarkan kalium dan bikarbonat. Natrium dan khlorida diabsorpsi dengan pemasangan zat telarut organik atau secara transport aktif.0 cm/detik. kebanyakan diabsorpsi. Produk pencernaan. Gerakan retrograd dari kolon memperlambat transit materi dari kolon kanan.5-1. pendorong antegrad melibatkan segmen panjang 0. Anaerob > aerob. galaktosa. mengisolasi segmen pendek dari kolon. kontraksi ini menurun oleh antikolinergik. Fungsi usus besar yang paling penting adalah mengabsorpsi air dan elektrolit. Kontraksi segmental merupakan pola yang paling umum. yang sudah hampir lengkap pada kolon bagian kanan. metan. terjadi dengan defekasi.mikrovili. Bikarbonat diabsorpsi secara pertukaran natrium/hidrogen. tiga sampai empat kali sehari. saliva. Hal tersebut membantu menjaga keseimbangan air dan elektrolit dan mencegah dehidrasi. Kapasitas sekitar 5 liter/hari. Normalnya 600 ml/hari.

ENS berhubungan langsung dengan usus sel otot polos. berasal dari jaringan ICC berhubungan dengan pleksus Auerbach. Sebuah komponen penting dari sistem kontrol myogenic adalah kegiatan pacu listrik yang berasal dari selsel interstisial dari Cajal (ICC). Myogenic mekanisme kontrol termasuk faktor yang terlibat dalam mengatur aktivitas listrik yang dihasilkan oleh sel otot polos pada saluran pencernaan. Modulator motilitas gastrointestinal meliputi sistem saraf pusat (SSP). Kontraksi yang terjadi sepanjang saluran pencernaan dikendalikan oleh myogenic. 2. pleksus ini berisi neuron yang bertanggung jawab atas motilitas gastrointestinal dan regulasi output enzimatik dari organ-organ yang berdekatan. 3. Yang mana-mana gelombang lambat dari usus kecil. juga dikenal sebagai pleksus Auerbach. Pleksus myenteric yang lebih besar. ICC tampaknya berfungsi sebagai perantara antara neurogenik (ENS) dan myogenic sistem kontrol karena mereka secara luas dipersarafi dan berada di dekat sel otot polos gastrointestinal. saraf otonom. Neurogenik. terdiri dari sekitar 100 juta neuron dibagi dalam dua pleksus ganglion (Gambar 22-2). ICC membentuk sistem alat pacu jantung nonneural terletak di antara lapisan otot sirkuler dan longitudinal dari usus kecil. 1. dan sistem saraf enterik (ENS). Jarak terjadinya kontraksi tergantung dari banyaknya panjang dari . biasanya disebut sebagai aktivitas kontrol listrik (ECA) dan potensi perintis (PP). terletak di antara lapisan otot longitudinal dan sirkular dari externa muskularis. tetapi juga memainkan peran penting dalam fungsi aferen visceral. mekanisme saraf dan kimia. ENS merupakan cabang bebas dari sistem saraf perifer. Kekacauan mekanisme yang mengatur fungsi motorik pencernaan ini dapat menyebabkan motilitas usus berubah. Kimia kontrol mengacu pada pengamatan kontraksi otot polos gastrointestinal selama periode depolarisasi dari membran potensial. Selain menghasilkan alat pacu jantung kegiatan.Fungsi motorik pada saluran pencernaan tergantung pada kontraksi sel otot polos dan integrasi dan modulasi oleh saraf enterik dan ekstrinsik. hanya terjadi jika ada neurotransmiter seperti asetilkolin. Pleksus submukosa yang lebih kecil disebut sebagai pleksus Meissner's.

hipomagnesemia. Kurangnya tindakan pendorong terkoordinasi menyebabkan akumulasi gas dan cairan dalam usus. Fisiologisnya ileus kembali normal spontan dalam 2-3 hari. Diduga. Meskipun ileus disebabkan banyak faktor. fenotiazine). otot dinding usus terganggu dan gagal untuk mengangkut isi usus. The celiac prevertebral. Etiologi Ileus Paralitik Ileus pada pasien rawat inap ditemukan pada: (1) proses intraabdominal seperti pembedahan perut dan saluran cerna atau iritasi dari peritoneal (peritonitis.(2) Ileus terjadi karena hipomotilitas dari saluran pencernaan tanpa adanya obstruksi usus mekanik. Setelah pembedahan. Saraf kranial terutama melalui saraf vagus. kontrol saraf ekstrinsik dari fungsi motorik gastrointestinal dapat dibagi lagi menjadi aliran parasimpatis kranial dan sakral dan pasokan torakolumbalis simpatik. dan mesenterika inferior ganglia simpatis memainkan peran penting dalam integrasi impuls aferen antara usus dan SSP. mesenterika superior. perdarahan). yang mempersarafi saluran pencernaan dari lambung ke usus besar kanan dan terdiri dari serat preganglionik kolinergik yang bersinaps dengan ENS. uremia. usus halus biasanya pertama kali yang kembali normal (beberapa jam). hiperkalsemia. dibetes ketoasidosis. diikuti lambung (24-48 jam) dan kolon (48-72 jam). Memang. setelah motilitas .segmen yang menunjukkan aktivitas kontrol listrik dan panjang segmen neurokimia bersebelahan yang diaktifkan 4.4. hipofosfatemia). ileus merupakan konsekuensi yang diharapkan dari pembedahan perut. (9) II. keadaan pascaoperasi adalah keadaan yang paling umum untuk terjadinya ileus. sepsis atau infeksi berat. pankreatitis. dan (3) obat-obatan yang mempengaruhi motilitas usus (opioid. Pasokan serat simpatis ke perut dan usus kecil muncul dari tingkat T5 sampai T10 dari kolom intermediolateral sumsum tulang belakang. dan ketidakseimbangan elektrolit (hipokalemia. (2) sakit berat seperti pneumonia. gangguan pernafasan yang memerlukan intubasi. antikolinergik.

Laparoskopi reseksi usus dikaitkan dengan jangka waktu yang lebih singkat daripada reseksi kolon ileus terbuka. inflamasi atau iritasi (empedu. Radang usus buntu 2. Hiponatremia 3. Hipomagnesemia 4. Hipermagensemia Infeksi. Konsekuensi klinis ileus pasca operasi dapat mendalam. ileus terjadi setelah operasi intraperitoneal. Ileus yang berlangsung selama lebih dari 3 hari setelah operasi dapat disebut ileus adynamic atau ileus paralitik pascaoperasi. Ileus juga meningkatkan katabolisme karena gizi buruk. Pneumonia 2. Sering. darah) 1. Secara keseluruhan.sigmoid kembali normal. Intrathorak 1. tetapi mungkin juga terjadi setelah pembedahan retroperitoneal dan extraabdominal.(2) Beberapa penyebab terjadinya ileus: Trauma abdomen Pembedahan perut (laparatomy) Serum elektrolit abnormalitas 1. Rongga perut 1. Infark miokard 2. Durasi terpanjang dari ileus tercatat terjadi setelah pembedahan kolon. Lower lobus tulang rusuk patah 3. Divertikulitis . Hipokalemia 2. dan akan meningkatkan risiko komplikasi paru. Intrapelvic (misalnya penyakit radang panggul ) 3. ileus meningkatkan biaya perawatan medis karena memperpanjang rawat inap di rumah sakit. Pasien dengan ileus merasa tidak nyaman dan sakit.

Jadi. dimana ia merangsangnya). Diltiazem atau verapamil 4. Patah tulang rusuk 2. Vertebral Retak (misalnya kompresi lumbalis Retak ) Pengobatan 1. trombosis iskemia Cedera tulang 1. namun tidak . menimbulkan banyak efek yang berlawanan dengan yang ditimbulkan oleh sistem parasimpatis. Kolesistitis 5.3. Perforasi ulkus duodenum Iskemia usus 1. Nefrolisiasis 4. Mesenterika emboli.5. Narkotika 2. perangsangan yang kuat pada sistem simpatis dapat menghambat pergerakan makanan melalui traktus gastrointestinal. Fenotiazin 3. Pankreatitis 6. (7) Hambatan pada sistem saraf parasimpatis di dalam sistem saraf enterik akan menyebabkan terhambatnya pergerakan makanan pada traktus gastrointestinal. Patofisiologi Patofisiologi dari ileus paralitik merupakan manifestasi dari terangsangnya sistem saraf simpatis dimana dapat menghambat aktivitas dalam traktus gastrointestinal. dan (2) pada tahap yang besar melalui pengaruh inhibitorik dari noreepineprin pada neuron-neuron sistem saraf enterik. Clozapine 5. Sistem simpatis menghasilkan pengaruhnya melalui dua cara: (1) pada tahap yang kecil melalui pengaruh langsung norepineprin pada otot polos (kecuali muskularis mukosa. Obat Anticholinergic (9) II.

Menurut beberapa hipotesis. Secara anatomis. Pneumonia. katekolamin. kolik ureter. Gangguan keseimbangan elektrolit (terutama hipokalemia).semua pleksus mienterikus yang dipersarafi serat saraf parasimpatis bersifat eksitatorik. sklerosis multiple Obat-obatan. penyakit sistemik seperti SLE. iritasi persarafan splanknikus. 3 refleks berbeda yang terlibat: ultrashort refleks terbatas pada dinding usus. antikolinergik. (9) Penyakit/ keadaan yang menimbulkan ileus paralitik dapat diklasifikasikan seperti yang tercantum dibawah ini: Kausa Ileus Paralitik Neurogenik. keracunan timbal.(8) . kemungkinan peptide intestinal vasoaktif dan beberapa peptide lainnya. refleks pendek yang melibatkan ganglia prevertebral. Infeksi/ inflamasi. Refleks inhibisi dari saraf efferent: menghambat pelepasan neurotransmitter asetilkolin. infeksi sistemik berat lainnya. komplikasi DM. kerusakan medulla spinalis. Refleks panjang yang paling signifikan. antihistamin. ujung seratnya mensekresikan suatu transmitter inhibitor. Respon stres bedah mengarah ke generasi sistemik endokrin dan mediator inflamasi yang juga mempromosikan perkembangan ileus. Iskemia Usus. y Neurogenik Refleks inhibisi dari saraf afferent: incisi pada kulit dan usus pada operasi abdominal. empiema. dan refleks panjang melibatkan sumsum tulang belakang. ileus pasca operasi dimediasi melalui aktivasi hambat busur refleks tulang belakang. beberapa neuron bersifat inhibitorik. pankreatitis. Pasca operasi. Narkotik. fenotiazin. peritonitis. Metabolik. uremia.

lambung 48 jam. hormon ini juga menghambat pengosongan makanan dari lambung untuk memberi waktu yang adekuat supaya terjadi pencernaan lemak di traktus gastrointestinal bagian atas. Kolesistokinin mempunyai efek yang kuat dalam meningkatkan kontraktilitas kandung empedu. Kolesistokinin juga menghambat motilitas lambung secara sedang. kolon 3-5 hari. (4) .(8) II. jadi mengeluarkan empedu kedalam usus halus dimana empedu kemudian memainkan peranan penting dalam mengemulsikan substansi lemak sehingga mudah dicerna dan diabsorpsi. opioid juga meningkatkan tonus otot polos usus dan menghambat gerak peristaltik terkoordianasi yang diperlukan untuk gerakan propulsi. terjadi setelah semua prosedur abdomen.y Hormonal Kolesistokinin. blockade excitatory neurons yang mempersarafi otot polos usus. gerakan usus akan kembali normal pada: usus kecil 24 jam. Selain itu. (8) Opioid: efek inhibitor. Oleh karena itu disaat bersamaan dimana hormon ini menyebabkan pengosongan kandung empedu.6. prostaglandin inhibisi kontraksi otot polos usus. Manifestasi Klinik Ileus adinamik (ileus inhibisi) ditandai oleh tidak adanya gerakan usus yang disebabkan oleh penghambatan neuromuscular dengan aktifitas simpatik yang berlebihan. (7) y Inflamasi Makrofag: melepaskan proinflammatory cytokines (NO). y Farmakologi Opioid menurunkan aktivitas dari neuron eksitatorik dan inhibisi dari pleksus mienterikus. disekresi oleh sel I dalam mukosa duodenum dan jejunum terutama sebagai respons terhadap adanya pemecahan produk lemak. asam lemak dan monogliserida di dalam usus. Sangat umum. Hormon lainnya seperti sekretin dan peptide penghambat asam lambung juga memiliki fungsi yang sama seperti kolesistokinin namun sekretin berperan sebagai respons dari getah asam lambung dan petida penghambat asam lambung sebagai respons terhadap asam lemak dan asam amino.

Pada abdomen harus dilihat adanya distensi. Pada gambaran foto polos abdomen didapatkan pelebaran udara usus halus atau besar. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya distensi abdomen. Muntah mungkin ada. Palpasi . yang mencakup kehilangan turgor kulit maupun mulut dan lidah kering. parut abdomen. Tidak ditemukan adanya reaksi peritoneal (nyeri tekan dan nyeri lepas negatif). Apabila penyakit primernya peritonitis. rasa mual dan dapat disertai muntah. tidak disertai nyeri kolik abdomen yang paroksismal. hernia dan massa abdomen. mungkin pula tidak ada.(1) II. Pasien ileus paralitik mempunyai keluhan perut kembung.7.Pasien ileus paralitik akan mengeluh perutnya kembung ( abdominal distention). pasien hanya menyatakan perasaan tidak enak pada perutnya. Pada pasien yang kurus tidak terlihat gerakan peristaltik. Keluhan perut kembung pada ileus paralitik ini perlu dibedakan dengan keluhan perut kembung pada ileus obstruksi. mual dan obstipasi. Anamnesa Pada anamnesa ileus paralitik sering ditemukan keluhan distensi dari usus. rasa tidak nyaman diperut tanpa disertai nyeri. perkusi timpani dengan bising usus yang lemah dan jarang bahkan dapat tidak terdengar sama sekali. Pemeriksaan fisik Inspeksi Dapat ditemukan tanda-tanda generalisata dehidrasi. anoreksia. Pasien kadang juga mengeluhkan tidak bisa BAB ataupun flatus. Pada palpasi. Diagnosa Pada ileus paralitik ditegakkan dengan auskultasi abdomen berupa silent abdomen yaitu bising usus menghilang. manifestasi klinis yang ditemukan adalah gambaran peritonitis.

dan klonidin dilaporkan bermanfaat untuk mengatasi ileus . Beberapa obat yang dapat dicoba yaitu metoklopramid bermanfaat untuk gastroparesis.(3) Beberapa obat-obatan jenis penyekat simpatik (simpatolitik) atau parasimpatomimetik pernah dicoba. usus halus dan usus besar. II.8. Pemberian cairan. Apabila dengan pemeriksaan foto polos abdomen masih meragukan. koreksi gangguan elektrolit dan nutrisi parenteral hendaknya diberikan sesuai dengan kebutuhan dan prinsip-prinsip pemberian nutrisi parenteral. mengobati kausa dan penyakit primer dan pemberiaan nutrisi yang adekuat.(1) Prognosis biasanya baik. ureum. keberhasilan dekompresi kolon dari ileus telah dicapai oleh kolonoskopi berulang.Pada palpasi bertujuan mencari adanya tanda iritasi peritoneum apapun atau nyeri tekan. Perkusi Hipertimpani Auskultasi Bising usus lemah atau tidak ada sama sekali (silent abdomen) dan borborigmi Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan laboratorium mungkin dapat membantu mencari kausa penyakit. yang mencakup µdefence muscular¶ involunter atau rebound dan pembengkakan atau massa yang abnormal untuk mengetahui penyebab ileus. dapat dilakukan foto abdomen dengan mempergunakan kontras. Air fluid level ditemukan berupa suatu gambaran line up (segaris). Penatalaksanaan Pengelolaan ileus paralitik bersifat konservatif dan suportif. Pemeriksaan yang penting untuk dimintakan adalah leukosit darah. glukosa darah dan amylase. sisaprid bermanfaat untuk ileus paralitik pascaoperasi. Pada ileus paralitik akan ditemukan distensi lambung. Untuk dekompresi dilakukan pemasangan pipa nasogastrik (bila perlu dipasang juga rectal tube). menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit. Hal ini berbeda dengan air fluid level pada ileus obstruktif yang memberikan gambaran stepladder (seperti anak tangga). ternyata hasilnya tidak konsisten. kadar elektrolit. Foto polos abdomen sangat membantu untuk menegakkan diagnosis. Tindakannya berupa dekompresi.

(1) Neostigmin juga efektif dalam kasus ileus kolon yang tidak berespon setelah pengobatan konservatif.paralitik karena obat-obatan. § Operasi dilakukan setelah rehidrasi dan dekompresi nasogastric untuk mencegah sepsis sekunder atau rupture usus. 2. cisapride § Parasimpatis stimulasi: bethanecol. Operatif § Ileus paralitik tidak dilakukan intervensi bedah kecuali disertai dengan peritonitis. § Intravenous fluids and electrolyte § Dipasang kateter urin untuk menghitung balance cairan. .(3) 1. neostigmin § Simpatis blokade: alpha 2 adrenergik antagonis 3. Konservatif § Penderita dirawat di rumah sakit. Farmakologis § Antibiotik broadspectrum untuk bakteri anaerob dan aerob. § Dekompresi dengan nasogastric tube. breathing and circulation. § Penderita dipuasakan § Kontrol status airway. § Analgesik apabila nyeri. § Prokinetik: Metaklopromide.

§ Operasi diawali dengan laparotomi kemudian disusul dengan teknik bedah yang disesuaikan dengan hasil explorasi melalui laparotomi. kedua kondisi itu adalah hal yang berbeda. juga disebut sebagai sindrom Ogilvie. Beberapa teks dan artikel cenderung menggunakan ileus sinonim dengan pseudo-obstruksi. Namun. kolostomi.(9) II. Usus besar kanan terlibat dalam klasik pseudo-obstruksi.9. itu terjadi didefinisikan karena tidak adanya gangguan mekanik. o Reseksi usus dengan anastomosis o Diversi stoma dengan atau tanpa reseksi. Bentuk kronis dari pseudo-obstruksi melibatkan dismotilitas baik dari usus besar dan kecil. Seperti ileus. atau neuropati. sedangkan ileus melibatkan baik usus kecil dan usus besar. sepsis. o Pintas usus : ileostomi. semua hal ini bermanifestai klinik sebagai obstruksi usus kecil. dan obstruksi usus mekanik. Agen farmakologis. Pseudo-obstruction Pseudo-obstruksi (6) Pseudo-obstruksi didefinisikan sebagai penyakit akut. miopati viseral. Diagnosis banding Masalah lain yang perlu dipertimbangkan umum untuk ileus adalah pseudo-obstruksi. ditanda dengan distensii dari usus besar. aerophagia. dan perbedaan elektrolit juga dapat berkontribusi untuk kondisi ini. Dismotilitas ini disebabkan hilangnya kompleks motorik yang berpindah dan bakteri berlebih. . yang biasanya terjadi pada pasien yang terbaring lama di tempat tidur dengan gambaran penyakit ekstraintestinal serius atau pada pasien trauma. Pseudo-obstruksi ini jelas terbatas pada usus besar saja.Kondisi kronis pada pseudo-obstruksi usus juga diamati pada pasien dengan penyakit kolagenvaskular.

atropin harus diberikan. Distensi kolon dapat mengakibatkan perforasi caecum.Pemeriksaan fisik biasanya menunjukkan tanda perut kembung tanpa rasa sakit. seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah. terutama jika diameter caecum melebihi 12 cm. dilatasi usus proksimal yang membesar. Dosis 2. Laparotomi dan reseksi usus untuk peritonitis dan iskemia merupakan jalan terakhir. Perhatikan besar dilatasi kolon. koreksi ketidakseimbangan elektrolit.5 mg dari neostigmine diinfuskan perlahan-lahan selama 3 menit dengan pengawasan jantung untuk mengamati efek bradikardi. Perawatan awal meliputi hidrasi. Tingkat kematian untuk pseudo-obstruksi adalah 50% jika pasien berkembang menjadi nekrosis iskemik dan perforasi. dan pencitraan kontras membedakan ini dari obstruksi mekanik. Ogilvie pseudo-obstruksi pada pasien dengan infeksi . dan penghentian obat yang menghambat motilitas usus. Obstruksi Mekanik . menghasilkan perbaikan pseudo-obstruksi dalam waktu 10-30 menit. terutama kolon kanan dan sekum. Dekompresi melalui kolonoskopi cukup efektif dalam mengurangi pseudo-obstruksi. Radiografi dari foto polos abdomen mengungkapkan adanya keadaan yang terisolasi. Neostigmine intravena mungkin juga efektif. namun pasien bisa juga mempunyai gejala mirip obstruksi. Jika terjadi bradikardia. pemasangan NGT dan rectal tube.

benda asing. hernia. denting suara bersamaan dengan aliran peristaltic. intususepsi . Jika obstruksi total. Perhatikan tidak adanya gas usus sepanjang usus besar. dan Mekanik Sumbatan. (6) . Menegakkan diagnosis dari obstruksi usus mekanik dapat dibantu dengan pencitraan endoskopi menggunakan kontras. Pemeriksaan fisik ditemukan borborygmi bertepatan dengan kram perut. Obstruksi mekanik usus disebabkan oleh karsinoma kolon kiri. Muntah mungkin terjadi tapi bisa juga tidak jika katup ileocecal kompeten dalam mencegah refluks. Tanda peritoneal terlihat nyata jika pasien mengalami strangulasi dan perforasi.(6) Tabel berikut menyajikan perbedaan antara ileus. Pada pasien yang kurus. Pseudo-obstruksi. pseudo-obstruksi. dan obstruksi mekanis. atau neoplasma. Pasien datang dengan nyeri kram perut berat yang paroksismal.Obstruksi mekanik usus dapat disebabkan oleh adhesi. Tabel. volvulus . pasien mengeluhkan tidak bisa BAB. Dengan auskultasi dapat terdengar suara bernada tinggi. gelombang peristaltik dapat divisualisasikan. Karakteristik ileus.

kembung. anoreksia muntah. terlokalisasi distensi. berkurangnya gas kolon di distal. peristaltik. perut. nyeri kram perut. terlokalisasi distensi. air fluid level. nyeri kram perut. nyeri Gambaran Radiografi dilatasi usus kecil dilatasi usus besar yang Bow-shaped loops in ladder dan diafragma meninggi besar. mual. anoreksia Temuan Pemeriksaan Fisik Silent abdomen. konstipasi. Borborygmi.(6) Macam ileus Obstruksi ++ + Nyeri Usus Distensi Muntah borborigmi +++ Meningkat Bising usus Ketegangan abdomen - . timpani gelombang bising usus hiperaktif atau bising usus hiperaktif ayau hipoaktif. obstipasi. Borborygmi. meninggi diafragma pattern. diafragma agak tinggi. Tabel. nyeri hipoaktif. konstipasi.Ileus Pseudo-obstruksi Mekanikal Obstruksi Gejala sakit kembung. muntah. peristaltik. mual. Perbandingan Klinis bermacam-macam ileus. konstipasi muntah. mual. gelombang timpani. timpani. obstipasi. terlokalisir.

fekal Meningkat - ++++ (terusmenerus. Prognosis Prognosis dari ileus bervariasi tergantung pada penyebab ileus itu sendiri. operasi menjadi perlu untuk menghapus jaringan nekrotik. Bila penyebab primer dari ileus cepat tertangani maka prognosis menjadi lebih baik. . terlokalisir) ++ +++ Tak tentu biasanya meningkat + Paralitik Oklusi vaskuler + +++++ ++++ +++ + +++ Menurun Menurun + II. kondisi ini biasanya bersifat sementara dan berlangsung sekitar 24-72 jam.simple tinggi Obstruksi simple rendah Obstruksi strangulasi (kolik) +++ (Kolik) +++ + Lambat.10. Prognosis memburuk pada kasus-kasus tetentu dimana kematian jaringan usus terjadi. Bila ileus hasil dari operasi perut.

2004. Last Updated. Price.. 2004.. D. Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit .D. M. R. R. http://www..J. .: Colonic Obstruction.. Mechaber..emedicine. Dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. and Kurup. 1. GawatAbdomen. 2005. J. LastUpdated..R. Murnizat.. Editor: Nazer.: Volvulus.DAFTAR PUSTAKA Sjamsuhidajat. Wim. W.L.Last Updated: June 10.com . and Antillon.Caroline. R. A. L.Editor: Price.: Small-Bowel Obstruction.emedicine.. Jakarta: EGC. London:Oxford University Press.A. p: 214-296. In Oxford handbook of clinical surgery Makalah Ilius Paralitik IKP REG IV B Kelompok 10 Editor by McLatchie. Hal:181-192. S. Editor terjemahan: Wijaya. Schwarz.. S. and Altschuler. McLatchie.. B.A.com. 2003.1.1. Djang. Dahlan. http://www. Konop. Schwarz.J. M.emedicine. G..J. Editor: Ochoa. V. Editor:Vargas. Editor:Sjamsuhidajat.F. Editor: DuBois. Last Updated: February 25. Fiedberg.com . and Altschuler. D.. Windle. Jakarta: EGC. Jusi. S. S. Chahine.. Li. A. S.. S.UK. Basson. M.G.A. A. J. 2004.R.emedicine. A. 2nd Edition. P.. and Altschuler.B.http://www.B.emedicine. S.Schwarz. D. Peel. R. G.. S.UK.... Edisi 2. S. 1994.L. and Katz.: Intestinal Volvulus. B.U. and Altschuler. and Leape.com . Editor: DuBois. June 29. Wilson. Schwarz.L. 2002. S. Talavera.Konop. Leaper. Li. J. Hebra. J.C.com. H.: Intussusception. Windle. McCarty. Shukia. and Miller. B. M.http://www.K. June 14. Li. 2004... LastUpdated: May 18.J. http://www. dan De Jong.. Piccoli.. J..:Gastrointestinal disease.