You are on page 1of 10

Laporan Praktikum Pestisida dan Alat Aplikasi

Ekstraksi Bahan Tumbuhan dan Uji Pendahuluan

Oleh : Cahyo Citro Handoko C01108042

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA 2012

Ekstraksi Bahan Tumbuhan
Tujuan : Mengekstrak bahan tanaman (biji Keben) menggunakan pelarut organic (99,95%) dengan metode maserasi/perendaman. Dasar Teori Ekstraksi bahan tumbuhan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu : 1. Ekstraksi dengan air (cara tradisional).      Tepung tumbuhan + air, tanpa pemanassan Tepung tumbuhan + air, kemudian dipanaskan/direbus Tepung tumbuhan + air + detergen Tepung tumbuhan + air + surfaktan (pengemulsi) pestisida Tepung tumbuhan + air + sedikit alcohol/methanol + surfaktan

2. Ekstraksi dengan pelarut organic Ekstraksi senyawa yang mengandung pestisida dari dalam tumbuhan biasanya menggunakan pelarut organic seperti etanol, methanol, aseton, dan triton. Hasil yang diperoleh dengan menggunakan pelarut organic ini biasanya efektif, namun pelarut ini sulit diperoleh dan harganya mahal. Beberapa factor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih metode ekstraksi meliputi tujuan ekstraksi, skala ekstraksi, ciri senyawa aktif yang akan diekstrak, cirri pelarut yang digunakan, penggunaan ekstrak, dan kemudahan daur ulang pelarut. Tujuan ekstraksi : - Ekstraksi senyawa kimia yang telah diketahui dari tumbuhan tertentu. Cara ekstraksi dapat mengikuti prosedur yang telah diterbitkan. - Bahan tumbuhan akan diperiksa apakah mengandung senyawa kimia dari golongan tertentu, misalnya terpenoid, alkaloid, atau flavonoid, tetapi struktur kimia senyawa tersebut tidak diketahui dengan pasti. - Jenis senyawa yang akan diekstrak belum diketahui atau tidak ditentukan terlebih dahulu. Metode ekstraksi yang dipilih disesuaikan dengan uji hayati

yang akan dilakukan dan dapat mengekstrak senyawa kimia tumbuhan dalam kisaran yang lebar. Metode ekstraksi umum Dua cara yang umum digunakan untuk mengekstrak bahan insektisida botani ialah ekstraksi dengan pelarut dan distilasi uap (penyulingan).  Ekstraksi dengan pelarut Bahan yang diekstrak diupayakan kontak dengan pelarut selama jangka waktu tertentu kemudian larutan ekstrak dipisahkan dari ampas padatan dan selanjutnya pelarut diuapkan dari larutan ekstrakdengan menggunakan alat uap yang sesuai. Ada 4 cara ekstraksi dengan pelarut, yaitu : a. Perkolasi b. Infuse c. Ekstraksi fluks d. Ekstraksi soklet  Penyulingan (Distilasi uap) Penyulingan dapat dilakukan dengan mencampur bahan tumbuhan dengan air dan memanaskan campuran tersebut sampai mendidih (distilasi dengan air). Uap yang keluar dikumpulkan dan dibiarkan mengembun dan minyak yang diperoleh dipisahkan dari air. Untuk menghindari pemanasan minyak secara terus-menerus, uap dari ruang pembangkit panas yang terpisah dapat dialirkan melalui bahan tumbuhan yang diletakkan dalam air tetapi tidak dipanaskan (distilasi uap air) atau langsung melalui serbuk bahan tumbuhan yang diletakkan pada ruang berkasa diantara lubang masuk uap dan tabung pengembun (distilasi uap langsung).

Alat dan Bahan : Alat yang digunakan yaitu : Neraca analitik

-

Wadah (kertas) untuk menimbang Gelas ukur Pengocok magnetic Labu didih spatula Kertas saring Labu penguap Alat penguap (rotary evaporator)

Bahan yang digunakan yaitu : Biji Berangan bor Etanol Air suling

Cara kerja : 1. Rajang bahan tanaman (biji Berangan bor) kecil-kecil 2. Dikeringkan udarakan 3. Setelah benar-benar kering dihaluskan menggunakan blender 4. Diayak dengan ayakan kasa berjalin 1 mm 5. Timbang tepung biji berangan bor sebanyak 20 gram 6. Masukkan ke dalam labu didih 7. Dilarutkan dengan pelarut organic (etanol) sebanyak 200 ml 8. Dikocok dengan pengocok magnetic dan direndam selama 24 jam 9. Diendapkan beberapa saat hingga bening/tidak keruh. 10. Disaring whatman no.4 11. menggunakan corong kaca diatas kertas saring

Diuapkan menggunakan rotary evaporator

12. Mendapatkan crude ekstrak

Hasil pengamatan No. 1. 2. Perlakuan Pengamatan tepung berwarna

Perajangan bahan (biji Keben), Hasil berupa dikeringkan lalu diblender putih.

Bahan ditimbang sebanyak 20 Etanol yang digunakan = 10 x 20 gram dan dilarutkan dengan = 200 ml. etanol dengan perbandingan 1:10 Terbentuk larutan berwarna putih susu. Dikocok dengan pengocok Terbentuk 2 lapisan, yaitu lapisan magnetic lalu direndam selama bening putih di bagian bawah. 24 jam dan diendapkan. Disaring dengan kertas saring Dihasilkan crude ekstrak berwarna whatman no.4, lalu diuapkan kecoklatan. dengan rotary evaporator

3.

4.

Pembahasan Percobaan kali ini mempelajari cara melakukan ekstraksi bahan tanaman, yaitu keben. Keben merupakan tanaman yang berbentuk pohon dan berkayu lunak memiliki diameter sekitar 50 cm dengan ketinggian 4-16 m. keben mempunyai system perakaran yang banyak dan sebagian tergenang di air laut ketika sedang pasang. Ia juga memilki banyak percabangan yang terletak di bagian bawah batang mendekati tanah, bentuk daunnya cukup besar, mengkilap dan berdaging. Daun mudanya berwarna merah muda dan akan berubah menjadi kekuningan setelah tua. Bagian luar buah keben terdiri dari kulit berserabut dan didalamnya terdapat tempurung. Di dalam tempurung terdapat biji yang keras, berlendir dan berwarna putih. Biji inilah yang sekarang dikembangkan menjadi pestisida botani. Taksonomi tanaman keben Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida Sub kelas : Oilleniidae Ordo : Lecythidales Family : Lecythidaceae Genus : Barringtonia Spesies : Barringtonia asiatica kurz Hingga saat ini banyak penelitian yang dilakukan untuk mengungkap kandungan senyawa aktif dalam tanaman keben, keben mengandung saponin di dalam bijinya yang telah diterapkan dalam ilmu kedokteran dan berperan dalam penyembuhan pada pengobatan mata. Selain itu, keben juga mengandung asam galat, asam hidrosianat, as. Bartogenat, as. 19epitartogenat dan as. Anhidro-kartogenat. Dalam kandungan senyawa tersebut biji keben telah dilaporkan sebagai anti bakteri, anti jamur, analgesic dan anti tumor. Untuk mengetahui apakah biji keben juga berparan dalam mengendalikan OPT, maka perlu dilakukan suatu percobaan/penelitian. Hal yang pertama kali dilakukan adalah mengekstrakan bahan tanaman yaitu biji keben. Tujuan ekstraksi adalah untuk mendapatkan bahan aktif tanaman yang akan digunakan untuk mengendalikan OPT. sehingga hasil yang didapat setelah diuapkan dalam wadah tertutup untuk digunakan dilain waktu. Crude ekstrak dapat disimpan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, sehingga ini memudahkan bagi peneliti untuk mengaplikasikannya di tempat lain atau di waktu yang akan dating. Untuk mengetahui apakah crude ekstrak dari biji keben dapat mengendalikan OPT atau tidak; tidak perlu dilakukan uji selanjutnya. Kesimpulan • • Crude ekstrak dari biji keben berwarna kecoklatan dan mengandung berbagai bahan aktif yang dapat digunakan untuk mengendalikan OPT. Biji keben merupakan salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida botania diantara ratusan spesies tanaman Kalimantan yang berpotensi sebagai pestisida botani.

Daftar Pustaka

Dadang 2007. Pengembangan Formulasi Insektisida Botani Untuk Pengelolaan Hama Tanaman Kubis-Kubisan Dalam Upaya Mengurangi Penggunaan Insektisida Sintetik. Jakarta. Prijono, Djoko. 2003. Panduan Pemanfaatan senyawa Bioaktif Tanaman. FP IPB. Prijono, Djoko. 2003. Teknik Ekstraksi Uji Hayati dan Aplikasi Senyawa Bioaktif Tumbuhan. Bogor : FP IPB.

Uji Pendahuluan
Tujuan : untuk mendapatkan konsentrasi yang mematikan larva 10% - 90% Dasar teori Uji pendahuluan (uji hayati) merupakan langkah penting yang perlu dilakukan dalam pencarian insektisida botani baru sebagai sarana untuk memantau bioaktivitas bahan uji sejak ektraksi hingga isolasi bahan aktif. Senyawa insektisida botani yang bukan racun syaraf sering memiliki bukan hanya satu macam aktivitas hayati, tetapi dapat memiliki beberapa pengaruh seperti penghambat makan dan penghambatan perkembangan selain kematian. Karena itu, berbagai pengujian perlu dilakukan untuk mengungkapkan berbagai kemungkinan pengaruh tersebut. Pada pengujian dengan menggunakan daun sebagai medium, perlakuan dapat dilakukian dengan meneteskan bahan uji pada potongan daun luasan tertentu, mencelupkan daun dalam sediaan bahan uji atau dengan menyemprotkan sediaan bahan uji dengan menggunakan menara semprot Potter. Serangga yang digunakan dalam uji hayati umumnya berasal dari populasi yang telah lama dipelihara di laboratorium. Bila populasi serangga demikian tidak tersedia, maka serangga yang akan digunakan dapat dikumpulkan dari lapangan kemudian dibiakkan di laboratorium. Penggunaan serangga contoh yang seragam sudah menjadi syarat mutlak dalam setiap uji hayati. Ukuran atau umur serangga biasanya digunakan sebagai acuan keseragaman bila serangga contoh tersebut diambil dari biakan yang sama. Bila serangga yang akan digunakan berasal dari

beberapa sangkar, serangga contoh dari setiap sangkar hendaknya dikumpulkan menjadi satu terlebih dahulu, kemudian diambil sejumlah serangga secara acak dari contoh gabungan tersebut.. hal ini dimaksudkan untuk memperkecil keragaman antar populasi dari sangkar yang berbeda. Dalam pengujian yang menggunakan larva sebagai serangga uji, larva yang digunakan harus seragam, baik instar maupun umurnya (dihitung sejak saat ganti kulit). Perbedaan umur instar dapat mengakibatkan perbedaan kepekaan yang cukup besar karena proses fisiologi yang berkaitan dengan proses ganti kulit sangat berpengaruh pada kepekaan serangga terhadap insektisida. Ciri morfologi dan perilaku larva yang ganti kulit perlu diketahui agar larva yang siap ganti kulit dapat dipisahkan dari larva lainnya.

Alat dan Bahan Alat : Bahan : -

Labu takar Sonde mikro Pelubang gabus Petridisk Tisu Kertas label

Ekstrak etanol biji keben (0,5 %) Aseton Methanol Daun brokoli Larva C. pavonana

Cara Kerja 1. Potong daun brokoli membentuk cakram dengan diameter 3 cm menggunakan pelubang gabus. 2. Olesi daun dengan aseton methanol sebagai kompor dan ekstrak etanol biji keben (0,5%) sebagai perlakuan , sebanyak 25 ml pada permukaan atas dan 25 ml pada permukaan bawah. Dikeringkan udarakan. 3. Investasikan larva sebanyak 15/10 ekor. 4. Larva perlakuan 48 jam, amati. 5. Pada jam ke -47 diberi daun bebas perlakuan.

Hasil Pengamatan Hari kePerlaku an (Kontrol ) K1 K2 K3
Ekstrak Keben (0,5%)

0 H M H

1 M H

2 M H

3 M H

4 M H

5 M H

6 M H

7 M

10 15 15 H

0 0 0 M

10 15 13 H

0 0 2 M

10 15 13 H

0 0 2 M

10 15 13 H

0 0 2 M

7 14 11 H

3 1 4 M

7 10 10 H

3 5 5 M

0 6 6 H

10 9 9 M

0 1 0 H

10 14 15 M

B1 B2 B3

10 10 10

0 0 0

5 3 6

5 7 4

4 0 1

6 10 9

1 0 0

9 10 10

0 0 0

10 10 10

0 0 0

10 10 10

0 0 0

10 10 10

0 0 0

10 10 10

Pembahasan

Percobaan ini memiliki tujuan yaitu untuk mendapatkan konsentrasi yang mematikan larva 10%-90%. Larva yang digunakan adalah larva dari ordo Lepidoptera yaitu ulat kubis, C.Pavonana. terdapat 2 perlakuan pada percobaan ini yaitu control (dioles dengan pelarut) dan dengan sktrak etanol biji keben (0,5%). Pada pengamatan hari ke-1 pada daun control, belum ada ulat yang mati, akan tetapi pada daun yang dioles dengan ekstrak etanol keben, sebagian ulat telah mati. Yaitu pada ulangan 1 (B1) terdapat 5 ulat yang mati, pada ulangan 2 (B2) 7 ulat mati, dan pada ulangan 3 (B3) 4 ulat yang mati. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol biji keben,memiliki bahan aktif yang bersifat racun perut sehingga menggangu metabolism tubuh larva yang kemudian menyebabkan larva mati. Dan pada hari ke-4 semua larva pada Petridis yang berisi daun yang dioles ekstrak etanol biji keben mati. Sedangkan larva pada daun control ulangan 1 (k1) dan 3 (K3) mati 100% pada hari ke-7, ini dimungkinkan larva mati kelaparan karena daun yang habis dimakan.

Kesimpulan • •

Daun brokoli yang hanya dioles pelarut (aseton meanol) tidak mengakibatkan larva keracunan. Ekstrak etanol biji keben pada konsentrasi 0,5% dapat mematikan larva 100% pada hari ke-4 Biji keben mengandung bahan aktif sebagai pestisida botani dan dapat mengendalikan OPT

Daftar Pustaka A.Almahdy. 2008. Etikasi Bengapten sebagai Pestisida Palembang. Jurnal Sains & Teknologi Farmasi 13:1-4. Botani Baru-

Prijono, Djoko. 2003. Teknik Ekstraksi, Uji Hayati, dan Aplikasi Senyawa Bioaktif Tumbuhan. Bogor. FP IPB