BAB I PEE NDA HUL UAN 1.

1 Latar belakang
Menurut hipocrates epilepsy diidentifikasi sebagai masalah yang ada kaitannya dengan otak epilepsy dapat menyerang segala kelompok usia.juga segala jenis bangsa dan keturunan di seluruh dunia,pada kebanyakan kasus mungkin terdapat interaksi antara predisposisi pembawaan dan factor-factor lingkuangan,insiden epilepsy lebih sering di jumpai pada keturunan orang yang menderita epilpsy jika di banding dengan penduduk lain pd umumnya. Epilepsi merupakan salah satu kelainan neorologis yang terbanyak setelah stroke. Epilepsi adalah gangguan sementara system saraf akibat pelepasan listrik secara tiba-tiba dan berlebihan dari neuron serebral yang dapat mengakibatkan kejang, gangguan sensasi, dan kehilangan kesadaran. Epilepsi sering terjadi pada anak yang berusia di bawah 20 tahun, dan orang tua yang berusia 60 tahun, karena hal ini berhubungan dengan stroke, tumor otak, penyakit alzhimer atau akibat proses penuaan. Setiap orang punya resiko satu di dalam 50 untuk mendapatkan epilepsi. Untuk itulah di dalam makalah ini akan di bahas hal-hal apa saja mengenai penyakit epilepsi, apa penyebabnya, siapa saja yang beresiko menderita epilepsi dan cara pengobatannya. Epilepsi merupakan salah satu kelainan neorologis yang terbanyak setelah stroke. Epilepsi adalah gangguan sementara system saraf akibat pelepasan listrik secara tiba-tiba dan berlebihan dari neuron serebral yang dapat mengakibatkan kejang, gangguan sensasi, dan kehilangan kesadaran. Epilepsi sering terjadi pada anak yang berusia di bawah 20 tahun, dan orang tua yang berusia 60 tahun, karena hal ini berhubungan dengan stroke, tumor otak, penyakit alzhimer atau akibat proses penuaan. Setiap orang punya resiko satu di dalam 50 untuk mendapatkan
1

epilepsi. Untuk itulah di dalam makalah ini akan di bahas hal-hal apa saja mengenai penyakit epilepsi, apa penyebabnya, siapa saja yang beresiko menderita epilepsi dan cara pengobatannya.

1.2Rumusan masalah
Agar penjelasan dalam makalah ini terlihat jelas dan dapat dimengerti, maka penulis membatasi hal-hal yang akan dibahas, yaitu :
a. Apa pengertian epilepsy. b. Apa Insidens yang terjadi pada epilepsy.

c. Apa Penyebab epilepsy.
d. Bagaimana patologi dan diagnosis.

e. Klasifikasi epilepsy. f. Bagaimana manifestasi Klinis. g. Bagaimana manajemen pengobatan epilepsy.

1.1Tujuan
a. Untuk mengetahui apa itu epilepsy.

b. Untuk mengetahui insidens yang terjadi pada epilepsy. c. Untuk mengetahui penyebab epilepsy. d. Untuk mengetahui patologi dan diagnosis. e. Untuk mengetahui klasifikasi epilepsy. f. Untuk mengetahui manifestasi klinis. g. Untuk mengetahui manajemen pengobatan pada epilepsy.

2

BAB II PEMBAHASAN 2.1KONSEP MEDIS 2.1.1 Pengertian
Kata “epilepsi” berasal dari bahasa Yunani. “epi” berarti “atas”, dan “lepsia” berasal dari kata “lembenein”yang berarti “menyerang”. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa pada mulanya “epilepsia” itu berarti suatu “serangan dari atas”, suatu kutukan dari surge.

Epilepsi terkadang disebut ayan atau sawan yang berarti serangan. Epilepsi merupakan gejala-kompleks dari banyak gangguan susunan saraf pusat (SSP) yang dicirikan oleh terjadinya bangkitan yaitu modifikasi fungsi otak yang bersifat mendadak dan sepintas, yang berasal dari sekelompok besar sel-sel otak yang bersifat spontan, singkron, berirama dan berkala serta dikarakteristikkan oleh kejang berulang atau kehilangan kesadaran dan gangguan perilaku. Bangkitnya epilepsi terjadi apabila proses eksitasi di dalam otak lebih dominant dari pada proses inhibisi. Epilepsi yang sukar untuk mengendalikan secara medis, sebab mayoritas pasien dengan epilepsi adalah bersifat menentang, kebanyakan yang sering terserang terlebih dahulu yaitu bagian kepala. Sakit kepala sukar sekali untuk diperlakukan secara pharmakologis, walaupun obat antiepileptic sudah secara optimal diberikan sekitar 30-40% penderita biasanya melakukan operasi pembedahan untuk menghilangkan rasa sakit untuk sementara, tetapi gejala akan timbul sesekali. Epilepsi adalah suatu gejala atau manifestasi lepasnya muatan listrik yang berlebihan di sel neuron saraf pusat yang dapat menimbulkan hilangnya kesadaran, gerakan involunter, fenomena sensorik abnormal, kenaikan aktivitas otonom dan berbagai gangguan fisik.

3

Epilepsy merupakan gangguan serebral kronik dengan berbagai macam etiologi yang di cirikan oleh timbulnya serangan,paroksimal yang berkala akibat lepasnya muatan listrik neuron-neuron serebral secara berlebihan,tergantung pada jenis gangguan dan daerah serebral yang secara berkala melepaskan muatan listriknya maka terdapat berbagi jenis epilepsy. Walaupun penyakit ini telah lama dikenal dalam masyarakat, terbukti dengan adanya istilah-istilah bahasa daerah untuk penyakit ini seperti sawan, ayan, sekalor, dan celengan, tapi pengertian akan penyakit ini masih kurang bahkan salah sehingga penderita digolongkan dalam penyakit gila, kutukan dan turunan sehingga penderita tidak diobati atau bahkan disembunyikan. Akibatnya banyak penderita epilepsi yang tak terdiagnosis dan mendapat pengobatan yang tidak tepat sehingga menimbulkan dampak klinik dan psikososial yang merugikan baik bagi penderita maupun keluarganya.

2.1.2

Insidens
Epilepsi dapat menyerang anak-anak, orang dewasa, para orang tua bahkan

bayi yang baru lahir. Angka kejadian pada pria lebih tinggi dibangdingkan wanita yaitu 1-3% penduduk akan menderita epilepsi seumur hidup. Di inggris satu orang diantara 131 orang mengidap epilepsy. Setidaknya 456000 pengidap epilepsy di inggris. Di AS, satu diantara 100% populasi penduduk terserang epilepsy dan kurang lebih 2,5 juta telah menjalani pengobatan pada lima tahun terakhir. Menurut WHO, sekitar 50 juta penduduk di seluruh dunia mengidap epilepsi (2004 epilepsi.com). di indonesia penyandang epilepsi berkisar 1% dari total jumlah penduduk, atau sebanyak 2 juta jiwa.

2.1.3 Etiologi
a. Idiopatik.
b. Acquerit : kerusakan otak, keracunan obat, metabolik, bakteri.

- trauma lahir - trauma kepala - tumor otak

4

- stroke - cerebral edema - hypoxia - keracunan - gangguan metabolik - infeksi.

2.1.1 Patofisiologi
Menurut para penyelidik bahwa sebagian besar bangkitan epilepsi berasal dari sekumpulan sel neuron yang abnormal di otak, yang melepas muatan secara berlebihan dan hypersinkron. Kelompok sel neuron yang abnormal ini, yang disebut juga sebagai fokus epileptik mendasari semua jenis epilepsi, baik yang umum maupun yang fokal (parsial). Lepas muatan listrik ini kemudian dapat menyebar melalui jalur-jalur fisiologis-anatomis dan melibatkan daerah disekitarnya atau daerah yang lebih jauh letaknya di otak. Tidak semua sel neuron di susunan saraf pusat dapat mencetuskan bangkitan epilepsi klinik, walaupun ia melepas muatan listrik berlebihan. Sel neuron diserebellum di bagian bawah batang otak dan di medulla spinalis, walaupun mereka dapat melepaskan muatan listrik berlebihan, namun posisi mereka menyebabkan tidak mampu mencetuskan bangkitan epilepsi. Sampai saat ini belum terungkap dengan pasti mekanisme apa yang mencetuskan sel-sel neuron untuk melepas muatan secara sinkron dan berlebihan (mekanisme terjadinya epilepsi).

2.1.4 Klasifikasi
a. Epilepsi Umum.

- Grand mal. - Petit mal. - Infantile spasm.
b. Epilepsi Jenis Focal / Parsial.

- Focal motor.

5

- Focal sensorik. - Psikomotor.

2.1.4 Manifestasi klinis
a. penderita biasanya merasa pusing,

b. pandangan berkunang-kunang,
c. Alat pendengaran kurang sempurna. d. Selain itu, keluar keringat berlebihan dan mulut keluar busa. e. Penderita jatuh pingsan diiringi dengan jeritan.

f. Semua urat-urat mengejang,
g. Lengan dan tungkai menjulur kaku, tangan menggenggam dengan

eratnya,
h. Biasanya penderita sulit bernafas,

i. Muka merah atau kebiru-biruan

2.1.4 Pengobatan
a. Obat pertama yang paling lazim dipergunakan : Sodium Valporat,

Phenobarbital dan Phenytoin. Ini adalah anjuran bagi penderita epilepsi yang baru.
b. Obat kedua yang lazim digunakan : lamotrigin, tiagabin, gabapetin

Jka tidak terdapat perubahan kepada penderita, obatnya akan ditambah dengan obatan kedua.
c. Obat yang biasa dipakai untuk epilepsi yang dapat diberikan pada

semua bentuk kejang : - Fenobarbital, dosis 3-8 mg/kg BB/hari. - Diazepam, dosis 0,2 -0,5 mg/Kg BB/hari. - Diamox (asetazolamid); 10-90 mg/Kg BB/hari. - Dilantin (Difenilhidantoin), dosis 5-10 mg/Kg BB/hari. - Mysolin (Primidion), dosis 12-25 mg /Kg BB/hari. d. Hingga kini belum diketahui obat yang sungguh-sungguh mujarab untuk menyembuhkan penyakit ayan. Usaha terpenting adalah

6

menghilangkan dulu sebab-sebab yang dapat mengakibatkan serangan ayan, misalnya sisa-sisa penyakit raja singa, urat darah mengeras, penyakit-penyakit otak, racun alkohol, cacing-cacing dalam perut dan lain-lain. Untuk usaha dalam mengurangi timbul serangan ayan dan memperkecil bahaya-bahaya bagi penderita ayan adalah antara lain: 1. Hendaknya si penderita menjaga dalam kehidupan sehari-hari, badan dan fikirannya jangan terlampau berat dalam bekerja agar tidak menjadi penat. Jangan diperbolehkan si penderita minum minuman keras, kopi atau teh yang pekat dan jangan terlalu banyak makan daging. Si penderita seharusnya harus banyak memakan sayur-sayuran dan cukup istirahat serta usahakan dapat buang air besar dengan teratur.
2. Si penderita jangan di perbolehkan melakukan sesuatu perbuatan

yang sekiranya dapat membahayakan dirinya seperti memanjat pohon atau tangga, meniti jembatan sempit, berdiri dipinggir sungai atau kolam ataupun api, berenang, bersepeda, berjalan sendiri di jalan besar dan berdiri di dekat mesin yang sedang berputar dan lain sebagainya. Karena itu semua, membahayakan si penderita apabila ayan sedang kambuh.
3. ika tampak tanda-tanda bahwa si penderita akan terserang ayan,

maka suruhlah ia menelan 1 atau 2 sendok teh garam dan menghirup bau bawang putih yang sudah ditumbuk halus. Dan juga kaki dan tangannya bisa juga diikat dengan erat, boleh pakai kain atau tali yang besar. Dengan cara demikian, biasanya serangan ayan dapat dihindarkan.
4. Apabila si penderita sudah jatuh pingsan, hendaklah dibaringkan

terlentang dan pakaiannya agak dilonggarkan, jika perlu disela-sela gigi atas dan bawah dimasuki kain bersih yang sudah dilipat atau sendok, untuk menghindari lidah tergigit dan biarkan sampai ia sadar kembali. 5. Berikanlah salah satu nutrisi-nutrisi herbal di bawah ini untuk membantu kesembuhan si penderita ayan yang diantaranya adalah:

7

a. Children Nutrient High Calcium Powder dosis (1×1) dengan Cordyceps Mycellium Capsules dosis (2×2) Untuk Anak-Anak. b. Nutrient High Calcium Powder dosis (1×1) dengan Beneficial Capsules dosis (2×3) dan dibantu dengan Vigor Rousing Capsules dosis (2×2) untuk dewasa.

8

2.1 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
2.2.1 Data dasar pengkajian pasien. a. Aktivitas / istirahat

Keterbatasan dalam aktivitas / bekerja yang ditimbulkan oleh diri sendiri / orang terdekat . Tanda : Perubahan tonus / kekuatan otot. Gerakan involunter / kontraksi otot ataupun sekelompok otot.
b. Sirkulasi

Gejala : Iktal : Hypertensi, peningkatan nadi, sianosis. Postiktal : Tanda vital normal atau depresi dengan penurunan nadi dan pernafasan.
c. Integritas ego

Gejala : Stressor eksternal / internal yang berhubungan dengan keadaan dan / atau penanganan. Peka rangsang; perasaan tidak ada harapan / tidak berdaya. Perubahan dalam berhubungan. Tanda : Pelebaran rentang respons emosional.
d. Eliminasi

Gejala : Inkontinensia episodik. Tanda : Iktal : peningkatan tekanan kandung kemih dan tonus sfingter. Postiktal : otot relaksasi yang mengakibatkan inkontinensia (baik urine / fekal).
e. Cairan & makanan

Gejala : Sensitivitas terhadap makanan, mual / muntah yang berhubungan dengan aktivitas kejang. Tanda : Kerusakan jaringan lunak / gigi (cedera selama kejang). Hyperplasia gingival (efek samping pemakaian Dilantin jangka panjang).

9

f. Neurosensori

Gejala : Riwayat sakit kepala, aktivitas kejang berulang, pingsan, pusing. Riwayat trauma kepala, anoksia dan infeksi serebral. Adanya aura (rangsangan visual, auditorius, area halusinogenik). Postiktal : kelemahan, nyeri otot, area parestese / paralisis. Tanda : Karakteristik kejang : - Kejang umum. - Kejang parsial (kompleks). - Kejang parsial (sederhana).
g. Nyeri / kenyamanan

Gejala : Sakit kepala, nyeri otot / punggung pada periode postiktal. Nyeri abnormal paroksismal selama fase iktal. Tanda : Sikap / tingkah laku yang berhati-hati. Perubahan tonus otot. Tingkah laku gelisah / distraksi.
h. Pernafasan

Gejala : Fase iktal : gigi mengatup, sianosis, pernafasan menurun / cepat; peningkatan sekresi mukus. Fase postiktal : apnea.
i. Keamanan

Gejala : Riwayat terjatuh / trauma, fraktur. Adanya alergi. Tanda : Trauma pada jaringan lunak / ekimosis. Penurunan kekuatan / tonus otot secara menyeluruh.
a. Interaksi sosial

Gejala : Masalah dalam hubungan interpersonal dalam keluarga atau lingkungan sosialnya. Pembatasan / penghindaran terhadap kontak sosial.
b. Pembelajaran penyuluhan

Gejala : Adanya riwayat epilepsi pada keluarga. Penggunaan / ketergantungan obat (termasuk alkohol).

10

c. Prioritas keperawatan

1. Mencegah / mengendalikan aktivitas kejang. 2. Melindungi pasien dari cedera. 3. Mempertahankan jalan nafas. 4. Meningkatkan harga diri yang positif. 5. Memberikan informasi tentang proses penyakit, prognosidan kebutuhan penanganannya. 2.2.1 Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul a. Resiko tinggi terhadap trauma b/d perubahan kesadaran; kelemahan; kehilangan koordinasi otot besar atau kecil.
b. Bersihan jalan nafas tidak efektif / pola nafas tidak efektif

b/d

kerusakan neuromuskuler; obstruksi trakeobronkial. c. Gangguan dengan persepsi harga diri / identitas diri b/d terkontrol; stigma berkenaan dengan kondisi; ditandai dengan : takut penolakan, perubahan persepsi tentang diri, kurang mengikuti / tidak berpartisipasi pada terapi
d. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai kondisi dan

aturan pengobatan b/d kurang pemajanan, salah interpretasi informasi, kurang menginat, ditandai dengan : kurang mengikuti aturan obat, pertanyaan, kurang kontrol aktivitas kejang
2.2.1 Rencana tindakan / intervensi :

a. Resiko tinggi terhadap trauma b/d perubahan kesadaran; kelemahan; kehilangan koordinasi otot besar atau kecil HYD: Tidak terjadi trauma
 Gali bersama-sama klien berbagai stimulasi yang dapat menjadi

pencetus kejang. Rasional : alkohol, berbagai obat dan stimulasi lain (seperti kurang tidur, lampu yang terlalu terang, menonton televisi terlalu lama) dapat meningkatkan aktivitas otak, yang selanjutnya meningkatkan resiko terjadinya kejang.
11

 Pertahankan bantalan lunak pada penghalang tempat tidur yang

terpasang dengan posisi tempat tidur rendah. Rasional : mengurangi trauma saat kejang (sering / umum) terjadi selama pasien berada di tempat tidur.
 Tinggallah bersama pasien dalam waktu beberapa lama selama /

setelah kejang. Rasional : meningkatkan keamanan pasien.
 Catat tipe dari aktivitas kejang (seperti lokasi / lamanya aktivitas

motorik, hilang kesadaran, inkontinensia, dan lain-lain) dan berapa kali terjadi (frekuensi / kekambuhannya). Rasional : membantu untuk melokalisasi daerah otak yang terkena.
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif / pola nafas tidak efektif

berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler; obstruksi trakeobronkial. HYD : Tidak terjadi Sesak
 Anjurkan klien untuk mengosongkan mulut dari benda / zat

tertentu / gigi palsu atau alat yang lain jika fase aura terjadi dan untuk menghindari rahang mengatup jika kejang terjadi tanpa ditandai gejala awal. Rasional : menurunkan resiko aspirasi atau masuknya sesuatu benda asing ke faring.
 Letakkan pasien dalam posisi miring, permukaan datar, miringkan

kepala selama serangan kejang. Rasional : meningkatkan aliran (drainase) sekret, mencegah lidah jatuh dan menyumbat jalan nafas.
 Tanggalkan pakaian pada daerah leher / dada dan abdomen.

Rasional : untuk memfasilitasi usaha bernafas / ekspansi dada.
 Masukkan spatel lidah / jalan nafas buatan atau gulungan benda

lunak sesuai dengan indikasi. Rasional : jika memasukkannya di awal untuk membuka rahang, alat ini untuk mencegah tergigitnya lidah dan memfasilitasi saat

12

melakukan penghisapan lendir atau memberi sokongan terhadap pernafasan jika diperlukan.
 Lakukan penghisapan sesuai indikasi.

Rasional : menurunkan resiko aspirasi atau asfiksia.
 Kolaborasi dalam pemberian tambahan oksigen.

Rasional : dapat menurunkan hipoksia serebral sebagai akibat dari sirkulasi yang menurun atau oksigen sekunder terhadap spasme vaskuler selama serangan kejang.
a. Gangguan dengan persepsi harga diri / identitas diri b/d terkontrol;

stigma berkenaan dengan kondisi; ditandai dengan : takut penolakan, perubahan persepsi tentang diri, kurang mengikuti / tidak berpartisipasi pada terapi. HYD : Tidak terjadi stress
 Diskusikan perasaan pasien mengenai diagnostik, persepsi diri

terhadap penanganan yang dilakukannya. Anjurkan untuk mengungkapkan perasaannya. Rasional : reaksi yang ada bervariasi diantara individu dan pengetahuan / pengalaman awal dengan keadaan penyakitnya akan mempengaruhi penerimaan terhadap aturan pengobatan.
 Identifikasi / antisipasi kemungkinan reaksi orang pada keadaan

penyakitnya. Rasional : memberikan kesempatan untuk berespons pada proses pemecahan masalah dan memberikan tindakan kontrol terhadap situasi yang dihadapi.
 Gali bersama pasien mengenai keberhasilan yang telah diperoleh

atau yang akan dicapai selanjutnya dan kekuatan yang dimilikinya. Rasional : memfokuskan pada asfek positif dapat membantu untuk menghilangkan perasaan dari kegagalan atau kesadaran terhadap diri sendiri dan membentuk pasien mulai menerima penanganan terhadap penyakitnya.

13

 Diskusikan rujukan kepada psikoterapi dengan pasien atau orang

terdekat. Rasional : kejang mempunyai pengaruh yang besar pada harga diri seseorang dan pasien / orang terdekat dapat merasa berdosa atas keterbatasan penerimaaan terhadap dirinya dan stigma masyarakat. Konseling dapat membantu mengatasi perasaan terhadap kesadaran diri sendiri.
a. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai kondisi dan

aturan pengobatan b/d kurang pemajanan, salah interpretasi informasi, kurang menginat, ditandai dengan : kurang mengikuti aturan obat, pertanyaan, kurang kontrol aktivitas kejang. HYD: Klien mau meminum obat sesuai dosis yang dianjurkan
 Jelaskan kembali mengenai patofisiologi / prognosis penyakit dan

perlunya pengobatan / penanganan dalam jangka waktu yang lama sesuai prosedur. Rasional : memberikan kesempatan untuk mengklarifikasi kesalahan persepsi dan keadaan penyakit yang ada sebagai sesuatu yang dapat ditangani dalam cara hidup yang normal.
 Tinjau kembali obat-obat yang didapat, penting sekali memakan

obat sesuai petunjuk, dan tidak menghentikan pengobatan tanpa pengawasan dokter. Termasuk petunjuk untuk pengurangan dosis. Rasional : tidak adanya pemahaman terhadap obat-obatan yang didapat merupakan penyebab dari kejang yang terus menerus tanpa henti.
 Anjurkan pasien untuk memakai gelang / semacam petunjuk yang

memberitahukan bahwa anda adalah penderita epilepsi. Rasional : mempercepat penanganan dan menentukan diagnosa dalam keadaan darurat.
 Diskusikan manfaat dari kesehatan umum yang baik, seperti diet

yang adekuat, istirahat yang cukup, latihan yang cukup dan hindari bahaya alkohol, kafein dan obat yang dapat menstimulasi kejang.

14

Rasional : aktivitas yang sedang dan teratur dapat membantu menuurnkan / mengendalikan faktor-faktor predisposisi yang meningkatkan perasaan sehat dan kemampuan koping yang baik dan juga meningkatkan harga diri.

15

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan  Epilepsi merupakan gejala-kompleks dari banyak gangguan susunan saraf pusat (SSP) yang dicirikan oleh terjadinya bangkitan yaitu modifikasi fungsi otak yang bersifat mendadak dan sepintas, yang berasal dari sekelompok besar sel-sel otak yang bersifat spontan, singkron, berirama dan berkala serta dikarakteristikkan oleh kejang berulang atau kehilangan kesadaran dan gangguan perilaku.
 Penyebabnya cukup beragam yaitu : trauma kepala, alcohol, cedera otak,

keracunan, stroke, infeksi, infestasi parasit, tumor otak, masalah-masalah sirkulasi, demam, gangguan metabolisme dan nutrisi/ gizi dan intoksikasi obaobatan. Kadang epilepsi mungkin juga karena genetic (meski relative kecil antara 5-10 %), tapi epilepsy bukanlah penyakit keturunan.
 Epilepsy dapat dibagi antara lain : Epilepsi grand mal, Epilepis petit mal,

Epilepsi fokal, Epilepsi atonik, Epilepsi mioklonik.
 Adapun faktor pencetus epilepsy :Tekanan, Kurang tidur/ rehat, Sensitive

pada cahaya yang terang (photo sensitive) dan Minum-minuman keras.
 Pengobatan : obat pertama yang paing lazim dipergunakan : (sodium

valporat, Phenobarbital dan phenytoin), Obat kedua yang lazim digunakan : lamotrigin, tiagabin, gabapetin, Tindakan bedah saraf. 3.1 Saran Bahwa setelah membaca makalah ini, para pembaca dapat mengetahui dan menghindari hal-hal apa yang dapat menyebabkan epilepsi dan bagaimana cara pencegahan dan perawatan bagi penderita.

16

17

DAFTAR PUSTAKA

Behrman, Kliegman, Arvin. 1996. Ilmu Kesehatan Anak Vol. 3. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Doengoes, Marylin,1999. Rencana Asuhan Keperawatan Vol.3, EGC, Jakarta. Elizabeth, J.Corwin. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Cetakan I. Penerbit : EGC, Jakarta. Mansjoer, Arif. dkk, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Media Auskulapius, Jakarta. Price, Silvia A. 2006. Patifisiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Smeltzer, Suzenne. C. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

18

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful