You are on page 1of 59

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Gangguan jiwa adalah penyakit non fisik, dimana kedudukannya setara dengan penyakit fisik lainnya. Meskipun gangguan jiwa tersebut tidak dianggap sebagai gangguan yang menyebabkan kematian secara langsung, namun beratnya gangguan tersebut dalam arti ketidak mampuan serta invalisasi baik secara individu maupun kelompok akan menghambat pembangunan, karena tidak produktif dan tidak efisian (Kusumanto Setjionegoro, 1981) Menurut paham kesehatan jiwa seseorang dikatakan sakit apabila ia tidak lagi mampu berfungsi secara wajar dalam kehidupannya sehari-hari, dirumah, disekolah / kampus, ditempat kerja dan lingkungan sosialnya. Seseorang yang mengalami gangguan jiwa akan mengalami ketidak mampuan berfungsi secara optimal dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu faktor yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan jiwa adalah adanya stressor psikososial. Stressor psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang (anak, remaja, dewasa). Sehingga orang itu terpaksa mengadakan adaptasi (penyesuaian diri) untuk menanggulangi stressor yang timbul. Namun, tidak semua orang mampu mengadakan adaptasi dan mampu menanggulanginya sehingga timbullah keluhan-keluahan dibidang kejiwaan berupa gangguan jiwa dari ringan hingga yang berat. Kehidupan individu sejak lahir tidak lepas dari interaksi dengan lingkungan fisik dan sosial. Dalam interaksi ini, individu menerima rangsangan atau stimulus dari luar dirinya. Persepsi merupakan proses akhir dari pengamatan yang diawali dengan proses pengindraan, yaitu proses dimana diterimanya stimulus oleh alat indra, kemudian individu ada perhatian, lalu diteruskan ke otak, dan baru kemudian individu menyadari tentang sesuatu yang dinamakan persepsi. Dengan persepsi individu menyadari dapat mengerti tentang keadaan lingkungan yang ada disekitarnya, maupun tentang hal yang ada di dalam diri individu yang bersangkutan. (Sunaryo, 2004).
1

Beberapa pasien mengalami halusinasi (persepsi sensori yang salah, atau pengalaman persepsi yang sebenarnya tidak ada). Halusinasi dapat melibatkan kelima indra dan sensasi pada tubuh. Halusinasi pendengaran (mendengar suara- suara) adalah halusinasi yang paling banyak ditemukan dan halusinasi penglihatan (melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada) merupakan jenis kedua yang paling sering ditemukan. Pasien pada awalnya mempersepsikan halusinasi sebagai pengalaman yang nyata, tetapi pada tahap sakit yang selanjutnya, mereka mengenalinya sebagai suatu halusinasi. (Videbeck L. Sheila, 2008) Salah satu bentuk gangguan jiwa yang terdapat diseluruh dunia adalah gangguan jiwa skizofrenia. Skizofrenia berasal dari dua kata ³ Skizo ³ yang artinya retak atau pecah ( split ), dan ³ frenia ³ yang artinya jiwa. Dengan demikian seseorang yang menderita gangguan jiwa Skizofrenia adalah orang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakan kepribadian ( splitting of personality ). Di Indonesia angka penderita skizofrenia 25 penduduk dan proyeksi 25 tahun mendatang mencapai 3 / 1000 penduduk ( Hawari, 1993 ). Angka pevalensi adalah jumlah kasus ( penderita ) secara keseluruhan dalam kurun waktu tertentu. Dan didaerah tertentu, dibagi dengan jumlah penduduk yang diperiksa. Sedangkan angka insidensi adalah jumlah kasus (penderita baru ) dalam kurun waktu tertentu dan didaerah tertentu. Diindonesia angka yang tercatat di Depertemen Kesehatan berdasarkan survai di Rumah Sakit (1983 ) adalah antara 0,05 % sampai 0,15 %. Penelitian mengenai mekanisme terjadinya skizofrenia. Maju dengan pesat, demikian pula kemajuan dibidang obat-obatan anti skizofrenia (psikofarmaka). Telah menjadikan penderita skizofrenia dapat dipuihkan sehingga dapat berfungsi kembali secara optimal.

1.2

Rumusan Masalah Bagaimana asuhan keperawatan jiwa halusinasi pendengaran dan penglihatan pada Tn.F dengan diagnosa medis skizofrenia katatonik di paviliun IV Rumkital Dr. Ramelan Surabaya.

2

1.3 1.3.1

Tujuan Tujuan Umum Mengidentifikasi asuhan keperawatan jiwa halusinasi pendengaran dan

penglihatan pada Tn.F dengan diagnosa medis skizofrenia katatonik di paviliun IV Rumkital Dr. Ramelan Surabaya. 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Melakukan pengkajian pada Tn.F dengan masalah keperawatan halusinasi pendengaran dan penglihatan pada Tn.F dengan diagnosa medis skizofrenia katatonik di paviliun IV Rumkital Dr. Ramelan Surabaya. 2. Merumuskan diagnose keperawatan pada Tn.F F dengan masalah keperawatan halusinasi pendengaran dan penglihatan pada Tn.F dengan diagnosa medis skizofrenia katatonik di pavilun IV Rumkital Dr. Ramelan Surabaya. 3. Melaksanakan tindakan keperawatan pada Tn.F F dengan masalah keperawatan halusinasi pendengaran dan penglihatan pada Tn.F dengan diagnosa medis skizofrenia katatonik di paviliun IV Rumkital Dr. Ramelan Surabaya. 4. Mengevaluasi tindakan keperawatan pada Tn.F F dengan masalah keperawatan halusinasi pendengaran dan penglihatan pada Tn.F dengan diagnosa medis skizofrenia katatonik di paviliun IV Rumkital Dr. Ramelan Surabaya.

1.4

Manfaat

1.4.1 Teoritis Memberikan sumbangan ilmu pengetahuan khususnya dalam asuhan

keperawatan jiwa halusinasi pendengaran dan penglihatan pada Tn.F dengan diagnosa medis skizofrenia katatonik di paviliun IV Rumkital Dr. Ramelan Surabaya.

1.4.2 Praktis Dapat menjadi masukan bagi pelayanan di rumah sakit agar dapat melakukan asuhan keperawatan jiwa halusinasi pendengaran dan penglihatan pada Tn.F dengan diagnosa medis skizofrenia katatonik di paviliun IV Rumkital Dr. Ramelan Surabaya.

3

1.4.3 Bagi Pelayanan Kesehatan Dapat menjadi masukan bagi pelayan di rumah sakit agar dapat melakukan asuhan keperawatan jiwa halusinaasi pendengaran dan penglihatan pada Tn.F dengan diagnosa medis skizofrenia katatonik di paviliun IV Rumkital Dr. Ramelan Surabaya. 1.3.4 Bagi pasien Dapat menjadi pengetahuan bagi pasien mengenai penyakitnya.

4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Konsep Halusinasi

2.1.1 Pengertian Menurut Varcarolis, halusinasi dapat didefinisikan sebagai terganggunya persepsi sensori seseorang, dimana tidak terdapat stimulus. Tipe halusinasi yang paling sering adalah halusinasi pendengaran (auditory-hearing voices or sounds), pengelihatan (visual-seeing person or things), penciuman (olfactory-smelling odors), pengecapan (gustatory-eksperiencing tastes). Paien merasakan stimulus yang sebetulnysa tidak ada. Pasien merasa ada suara padahal tidak ada stimulus suara. Melihat bayangan orang atau sesuatu yang menakutkan padahal tidak ada bayangan tersebut. Membaui bau-bauan tertentu padahal orang lain tidak merasakan sensasi serupa. Merasakan mengecap sesuatu padahaltidak sedang makan apapun. Merasakan sensasi rabaan padahal tidak ada apapun dalam permukaan kulit. Diperkirakan lebih dari 90% pasien dengan skizofrenia mengalami halusinasi. Meskipun bentuk halusinasinya bervariasi tetapi sebagian besar pasien skizofrenia di RSJ mengalami halusinasi dengar. Suara dapat berasal dari dalam diri individu atau dalam luar dirinya. Suara dapat dikenal (familiar), misalnya suara nenek yang meninggal. Suara dapat tunggal ataupun multiple. Isi suara dapat memerintahkan sesuatu pada pasien atau seringny tentang perilaku pasien sendiri. Pasien sendiri merasa yakin bahwa suara itu berasal dari tuhan, setan, sahabat atau musuh. Kadang-kadang suara yang muncul semacam bunyi bukan suara yang mengandung arti. Halusinasi adalah ketidakmampuan klien dalam mengidentifikasi dan

menginterpretasikan stimulus yang ada sesuai yang diterima oleh panca indra yang ada (Fortinash, 1995). Halusinasi adalah persepsi sensori yang salah atau persepsi eksternal yang tidak realita atau tidak ada (Sheila L Videbeck, 2000). Halusinasi adalah suatu keadaan dimana individu mengalami suatu perubahan dalam jumlah atau pola rangsang yang mendekat (baik yang dimulai secara eksternal maupun internal) disertai dengan respon yang berkurang dibesar-besarkan, distorsi atau kerusakan rangsang tertentu (Towsend, 1998). Dari keempat pengertian di atas maka penulis menyimpulkan bahwa
5

Pembicaraan kacau kadang tidak masuk akal. Muka merah kadang pucat. Mengatakan mendengar suara. Merusak diri sendiri / orang lain / lingkungan. k. ( Tim Direktorat Kesehatan Jiwa Bandung. Sikap curiga dan bermusuhan. Bicara. Sulit membuat keputusan. Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan hal yang tidak nyata.halusinasi adalah persepsi yang timbul tanpa stimulus eksternal serta tanpa melibatkan sumber dari luar yang meliputi semua system panca indra. n. c. menghindar dari orang lain. e. j. b. Ketakutan. Banyak keringat. Menyalahkan diri sendiri / orang lain. i.1. q. f. o.2 Tanda dan Gejala Tanda dan gejala pasien halusinasi : a.1. Tekanan sdarah meningkat.3 Penyebab A. Menarik diri. m. d. g. Ekspresi wajah tegang p. Predisposisi y Faktor perkembangan 6 . r. l. mudah marah. Nadi cepat. senyum dan tertawa sendiri. Tidak mampu melaksanakan asuhan mandiri : mandi. berpakaian. 2. h. Mudah tersinggung. jengkel. 2002 : 26 ) 2. Tidak dapat mremusatkan konsentrasi / perhatian.

dan tidak percaya pada lingkungan. hilang percaya diri dan lebih rentang terhadap stress. y Factor genetic dan pola asuh Penelitian menunjukkan bahwa anak sehat yang diasuh oleh orang tua skizofrenia cenderung mengalami skizofrenia. Misalnya.Tugas perkembangan pasien yang terganggu misalnya rendahnya control dan kehangatan keluarga menyebabkan pasien tidak mampu mandiri sejak kecil. mudah frustasi. Menurut Rawliens dan Heacock. gelisah. tidak mampu mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan tidak nyata. dan binggung. perilaku merusak diri. kesepian. Faktor Presipitasi Perilaku Respon pasien terhadap halusinasi dapat berupa curiga. y Factor biokimia Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. 1993 mencoba memecahkan masalah halusinasi berlandaskan 7 . Adanya stress yang berlebihan dialami seseorang maka di alam tubuh akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia seperti buffofenon dan dimetytransferase (DMP). y Factor sosiokultural Seseorang yang merasa tidak diterima lingkungan sejak bayi (unwanted child) akan merasa disingkirkan. Hasil studi menunjukkan bahwa factor keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini.akibat stress yang berkepanjangan menyebabkan teraktifasinya neurotransmitter otak. ketakutan. y Factor psikologis Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggung jawab mudah terjerumus pada penyalahgunaan zat adiktif. Hal ini berpengaruh pada ketidakmampuan pasien dalam mengambil keputusan yang tepat demi masa depannya. B. Pasien lebih memilih kesenangan sesaat dan lari dalam nyata menuju alam hayal. perasaan tidak aman. terjadi ketidakseimbangan asetil kolin dan dopamine. kurang perhatian.

y Dimensi emosional Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang tidak dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi. sehingga jika perintah halusinasi berupa ancaman. Pada awalnya gangguan halusinasi usaha dari ego sendiri untuk melawan impuls yang menekan. Oleh karena itu. kontrol diri dan harga diri yang tidak didapatkan dalam dunia nyata. pasien mengganggap bahwa hidup bersosialisasi dialam nyata sangat membahayakan. Isi halusinasi dijadikan system control oleh individu tersebut. y Dimensi intelektual Dalam dimensi intelektual ini menerangkan bahwa individu dengan halusinasi akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego. namun merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh perhatian pasien dan tak jarang mengontrol semua perilaku pasien. Pasien tidak sanggup lagi menentang perintah tersebut hingga dalam kondisi tersebut pasien berbuat sesuatu terhadap ketakutan tersebut. aspek penting dalam melaksanakan suatu proses intervensi interaksi keperawatan pasien dengan mengupayakan yang menimbulkan pengalaman interpersonal yang memuaskan. demam hingga delirium. Pasien asyik dengan halusinasinya. Isi dari halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan menakutkan. penggunaan obat-obatan. serta mengusahakan pasien tidak menyendiri 8 .atas hakikat keberadaan seorang individu sebagai makluk yang di bangun atas dasar unsure-unsur bio-psiko-sosio-spiritual sehingga halusinasi dapat dilihat dari 5 dimensi : y Dimensi fisik Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti kelelahan yang luar biasa. y Dimensi sosial Pasien mengalami gangguan interaksi sosian dalam fase awal dan comforting. seolah-olah ia merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial. dirinya atau orang lain individu cenderung untuk itu. intoksikasi alcohol dan kesulitan untuk tidur dalam waktu yang lama.

Tipe ini sering ditemukan pada klien dengan dimensia seizure atau mengalami gangguan cerebrovaskuler. y Dimensi spiritrual Secara spiritual pasien halusinasi mulai dengan kehampaan hidup. 9 . Halusinasi Penciuman Mencium bau-bau padahal di tempat tersebut tidak ada bau.4 Jenis-jenis halusinasi Dibawah ini beberapa tipe dari halusinasi (Cancro & Lehman. 2. Halusinasi ini paling sering dialami klien dibandingkan dengan halusinasi yang lain. Saat terbangun merasa hampa dan tidak jelas tujuan hidupnya. 4. Halusinasi Sentuhan Perasaan nyeri.sehingga pasien selalu berinteraksi dengan lingkungannya dan halusinasi tidak berlangsung. Halusinasi Pengecapan Termasuk rasa yang tidak hilang pada mulut. nikmat atau tidak nyaman padahal stimulus itu tidak ada. Halusinasi Penglihatan Melihat bayangan yang sebenarnya tidak ada. Ia sering memaki takdir tetapi lemah dalam upaya menjemput rezeki. 2. seperti cahaya atau seseorang yang telah mati. Irama sikardiannya terganggu. 5.1. 2000): 1. karena ia sering tidur terlalu malam dan bangun sangat siang. menyalahkan lingkungan dan orang lain yang menyebabka takdirnya memburuk. sering mendengar suara-suara orang berbicara atau membicarakannya. rutinitas tidak bermakna hilangnya aktivitas ibadah dan jarang berupaya secara spiritual untuk menyucikan diri. 3. Halusinasi Pendengaran Mendengar suara-suara. suara-suara tersebut biasanya familiar. perasaan adanya rasa makanan dan berbagai zat lainnya yang dirasakan oleh indra pengecapan klien.

1. pasien mungkin melamun. memfokuskan pikirannnya kedalam hal-hal menyenangkan untuk menghilangkan stress dan kecemasannya. Fase Pertama Pasien mengalami kecemasan. 2. Tapi hal ini bersifat sementara.5 Proses terjadinya halusinasi Proses terjadinya halusinasi (Stuart & Laraia. memarahi. Pasien menjadi lebih terbiasa dan tidak berdaya dengan halusinasinya. Fase Kedua Kecemasan meningkat dan berhubungan dengan pengalaman internal dan eksternal. individu berada pada tingkat listening pada halusinasinya. perasaan terpisah dan kesepian. stress. gambarn suara dan sensori dan halusinasinya dapat berupa bisikan yang jelas. 4. Pasien hidup dalam dunia yang menakutkan yang berlangsung secara singkat atau bahkan selamanya. jika kecemasan datang pasien dapat mengontrol kesadaran dan mengenal pikirannya namun intesitas persepsi meningkat. Halusinasi sebelumnya menyenangkan berubah menjadi mengancam.2. Pasien membuat jarak antara dirinya dan halusinasinya dengan memproyeksikan seolah-olah halusinasi datang dari orang lain atau tempat lain. Fase Ketiga Halusinasi lebih menonjol. 2. Pasien tidak dapat berhubungan dengan orang lain karena terlalu sibuk dengan halusinasinya.2.1 Pengerian Skizofrenia Skizofrenia termasuk dalam salah satu gangguan mental yang disebut psikosis. 3.2 Konsep Skizofrenia 2. menguasai dan mengontrol. Kadang halusinasinya tersebut memberi kesenangan dan rasa aman sementara. 1998) dibagi menjadi empat fase yang terdiri dari: 1. Pikiran internal menjadi menonjol. Pasien psikotik tidak dapat mengenali atau tidak memiliki kontak dengan 10 . memerintah. Fase Keempat Pasien merasa terpaku dan tidak berdaya melepaskan diri dari kontrol halusinasinya.

Merasa dirinya ³Orang Besar´. merasa serba mampu. yang dapat dilihat dari isi pembicaraannya. namun penderita tetap meyakini kebenarannya. agresif. mondar-mandir. Misalnya bicaranya kacau. tidak dapat diam. Gambaran alam perasaan ini dapat terlihat dari wajahnya yang tidak menunjukkan ekspresi. Pada gejala positif yang muncul amat mengganggu lingkungan (keluarga) dan merupakan salah satu motifasi keluarga untuk membawa penderita berobat. Kekacauan alam pikir. 11 . Yang termasuk dalam gejala-gejala positif tersebut adalah : a. misalnya penderita mendengar suara-suara / bisikan ditelinganya padahal tidak ada sumber dari suara / bisikan tersebut. Alam perasaan (affect) ³tumpul´ dan ³mendatar´. g. dan ³ frenia ³ yang artinya jiwa. sehingga tidak dapat diikuti alur pikirannya. Delusi atau waham. Gejala Positif. Skizofrenia berasal dari dua kata yaitu ³ Skizo ³ yang artinya retak atau pecah. Berikut ini merupakan gejala-gejala Skizofrenia yang terbagi dalam 2 kelompok yaitu Gejala Positif dan Gejala Negatif. 2003). Pikirannya penuh dengan kecurigaan atau seakan-akan ada ancaman terhadap dirinya. karena dianggap tidak mengganggu. Yang termasuk pada gejala-gejala negatif adalah: a. ( Hawari. gelisah. Menyimpan rasa permusuhan. Dengan demikian Skizofrenia adalah seseorang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakan kepribadian ( Hawari. yaitu suatu keyakinan yang tidak rasional ( tidak masuk akal). Gaduh. Gejala negatif adalah berarti penurunan kemunculan suatu tingkah laku yang juga berarti penyimpangan dari fungsi psikologis yang normal. meskipun telah dibuktikan secara obyektif bahwa keyakinannya itu tidak rasional. e. serba hebat. d. berarti bertambahnya kemunculan suatu tingkah laku dalam kadar yang berlebihan dan menunjukkan penyimpangan dari fungsi psikologis yang normal. f. Halusinasi. b. 2001) 2. Skizofrenia memiliki berbagai tanda dan gejala.realita. bicara dengan semangat dan gembira berlebihan. c. yaitu pengalaman panca indera tanpa ada rangsangan (stimulus). Pada gejala ini sering kali tidak disadari atau kurang diperhatikan oleh pihak keluarga.

2. d. Faktor keturunan Pada penelitian menunjukan bahwa keturunan juga menentukan timbulnya skizofrenia. orang tua.2. Abnormalis Struktur Otak Pada pasien skizofrenia yang kronis cenderung memiliki ventrikel otak yang lebih besar serta volume jaringan otak lebih sedikit dari orang normal. Kontak emosional amat ³miskin´.. termasuk schizophrenia. et al. Dari penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa resiko timbulnya psikosis. 1991). g. serta tidak ingin apa-apa dan serba malas (kehilangan nafsu).b. Tidak ada/kehilangan dorongan kehendak dan tidak ada inisiatif. ( Hawari. Ketidakseimbangan Kimia Otak. suka melamun (day dreaming). menarik diri dari pergaulan sosial. tidak ada spontanitas.2. anak kandung) dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya (Rathus. sangat kuat mempengaruhi resiko seseorang mengalami skizofrenia 2. Menarik diri atau mengasingkan diri (withdrawn) tidak mau bergaul atau kontak dengan orang lain. Sulit dalam berfikir abstrak. monoton. pendiam. sekitar empat kali lebih besar pada hubungan keluarga tingkat pertama (saudara kandung. 2. c. Angka kesakitan bagi 12 . e. Faktor Genetik ( keturunan ) Berbagai penelitian menunjukkan bahwa gen yang diwarisi seseorang. Pasif dan apatis. sedangkan kadar dopamin pada bagian lain dari otak terlalu sedikit 3.2 Faktor-faktor penyebab terjadinya Skizofrenia. sukar diajak bicara. Pola pikir stereotip.3 Penyebab 1. 2001). f. Pendekatan biologis a. tidak ada upaya dan usaha. Pada penderita skizofrenia produksi neurotransmiter dopamin berlebihan. Faktor-faktor tersebut antara lain : 1.

Otak Sekitar 20-35% penderita skizofrenia mengalami beberapa bentuk kerusakan otak (Sue. 1992). dan hipokampus yang lebih kecil pada penderita skizofrenia (Atkinson. 1986) telah mengidentifikasikan skizofrenia sebagai akibat dari adanya ketidakseimbangan kimiawi karena tidak normalnya kelenjar kelamin. c. 13 . kembar monozigot 61-86%. Itu berarti jika ventriker lebih besar dari normal. Adanya indikasi pengaruh factor genetis setidaknya menunjukkan adanya pengaruh faktor biokimia karena faktor genetik terjadi melalui proses biologis dan kimiawi tubuh. jaringan otak pasti lebih kecil dari normal. 1986).1992). Hipotesis dopamine menyatakan bahwa skizofrenia disebabkan oleh terlalu banyaknya penerimaan dopamine dalam otak. et al.al. suatu neurotransmitter yang aktif di wilayah otak yang terlihat dalam regulasi emosi atau sistem limbik (Atkinson. Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa lobus frontalis. Kelebihan ini mungkin karena produksi neurotransmitter atau gangguan regulasi mekanisme pengambilan kembali yang dengannya dopamine kembali dan disimpan oleh vestikel neuron parasimpatik. Penelitian dengan CAT (Computer Axial Tomography) dan MRI (Magnetic Resonance Imagins) memperlihatkan bahwa sebagian penderita schizophrenia memiliki ventrikel serebral (yaitu ruangan yang berisi cairan serebrospinal) yang jauh lebih besar dibanding dengan orang normal. et al.. lobus temporalis.. 1994) menyebutkan adanya unsur kimia yang tidak diketahui. et al. et al. Sementara Carl Jung (Davison. et. b.saudara kandung 7 ± 15 % anak dengan salah satu orang tua menderita 40 ± 68 % kembar heterozigot 2-15%.. Faktor biokimia Kraeplin (Sue. Pembesaran ventrikel berarti terdapat proses memburuknya atau berhentinya pertumbuhan jaringan otak. Para peneliti lain menemukan adanya substansi kimia yang tidak normal yang disebut taraxein dalam serum darah (Sue. 1986).. Riset terakhir difokuskan pada dopamine.. yang disebutnya "toxin x". et al..

Seseorang belajar untuk "menampakkan" tingkah laku skizofrenia bila tingkah laku demikian lebih memungkinkan untuk diperkuat daripada tingkah laku yang normal. pada mulanya individu menggunakan mekanisme pertahanan rasionalisasi. pola kepribadian immature yang berkaitan dengan impuls seksual dan agresi merupakan predisposisi untuk menimbulkan gangguan tersebut. Misalnya. seperti Ullmann dan Krasner (dalam Davison et al. Pendekatan teori belajar Para ahli teori belajar. dimana individu akan mengembangkan pola penyelesaian masalah yang tidak berhubungan dengan realita yang ada. individu mengungkapkan hal yang berlawanan dengan perasaan yang direpressnya melalui reaksi formasi. 1994). menerangkan tingkah laku skizopfrenia sebagai hasil proses belajar lewat pengkondisian dan pengamatan. Kemudian. Dalam hal ini terjadi beberapa defence mechanism yang saling berbenturan secara bersamaan. melalui pola kepribadian yang immature. Selanjutnya. mereka akan semakin menyesuaikan diri dengan stimulus pribadi atau idiosinkratis. yaitu : id. orang-orang akan melihat bahwa mereka sebagai orang aneh sehingga mengalami penolakan sosial dan pengasingan yang akan semakin memperkuat tingkah 14 . 1988). simptom delusi dan halusinasi yang dikembangkan oleh skhizofrenia merupakan defence terhadap defence yang lain (defence againts a defence).. rasionalisasi tersebut direpressnya. Dalam menghadapi peristiwa pencetus tersebut. Oleh karena itu. individu mengembangkan defence mekanisme yang berlebihan.2. ego dan super ego (Suryabrata. 3. Berkembangnya gangguan skhizofrenia lebih lanjut biasanya diawali oleh apa yang disebut sebagai precipitating event atau peristiwa pencetus. Teori ini menekankan nilai penguatan stimulasi sosial. Kondisi tersebut. Bersamaan dengan itu. Skizofrenia mungkin muncul oleh karena lingkungan tidak memberi penguatan akibat pola keluarga yang terganggu atau pengaruh lingkungan lainnya sehingga seseorang tidak pernah belajar merespon stimulus sosial secara normal. yang sampai akhirnya antar aspek-aspek kepribadian terjadi disintegrasi atau terpecah. Pendekatan psikoanalisa Menurut Freud kepribadian terdiri atas 3 sistem atau aspek. Kemudian. menyebabkan putusnya hubungan antara individu dengan dunia nyata. Pada skizofrenia.

Dalam 6 bulan tersebut. namun penderita tetap meyakinikeberanannya. 1994) menyatakan bahwa orang tersebut sekurang-kurangnya selama 6 bulan telah menunjukkan gejala-gejala gangguan. 1999). Pada fase residual. 2. dan terdapat tanda-tanda penarikan diri. Kekacauan alam piker. terdapat fase aktif selama sekurang kurangnya 1 bulan. emosi yang tidak sesuai perkembangan pikiran dan bicara yang aneh. yaitu pengalaman panca indera tanpa ada rangsangan (stimulus). et al. delusi. Halusinasi. dan hilangnya inisiatif dan energi. tetapi tidak parah dan tidak mengganggu (Martaniah. b. dan fase residual periode sisa setelah fase aktif. fase prodromal periode sisa sebelum fase aktif.4 Fase-fase Skizofrenia Dalam mendiagnosa seseorang adalah penderita skizofrenia.5 Tanda dan Gejala Menurut Hawari (2004). pengalaman persepsi yang aneh. Delusi atau waham.2. 2. 15 . c. gejala ± gejala positif yang yang diperlihatkan pada penderita skizofrenia adalah sebagai berikut: a.2. terdapat simptom seperti fase sebelumnya. ketidakmampuan bekerja secara produktif. yang dapat dilihat dari isi pembicaraannya. Perilaku aneh ini akan semakin bertahan karena tidak ada penguatan dari orang lain berupa perhatian dan simpati. Pada fase prodromal. pakaian yang tidak rapi. yaitu suatu keyakinan yang tidak rasional (tidak masuk akal). Pada fase aktif. dimana paling sedikit selama 1 bulan. yaitu halusinasi. sehingga tidak dapat diikuti alur pikirannya.. Misalnya bicaranya kacau. pembicaraan dan tingkah lakunya yang tidak teratur. individu mengalami simptom psikotik. Meskipun telah dibuktikan secara obyektif bahwa keyakinannya itu tidak rational. individu menunjukkan gangguan-gangguan fungsi sosial dan interpersonal yang progresif.laku yang aneh. DSM IV (Davison. Misalnya pederita mendenga suara ± suara / bisikan ± bisikan di telinganya padahal tdak ada sumber dari suara / bisikan itu. Perubahan yang terjadi dapat berupa penarikan sosial. kepercayaan yang tidak biasa. eksentrik.

dan prognosisnya lebih baik dibanding jenis-jenis lain 2. Individu ini dapat penuh curiga. Merasa dirinya ³orang besar´. yaitu: a. 1997). Ciri-ciri utamanya adalah waham yang sistematis atau halusinasi pendengaran. g. Pikirannya penuh dengan kecurigaan atau seakan akan ada ancaman terhadap dirinya. 2. dan agresif. kerusakan social lebih sedikit. sering kambuh dan kondisi kejiwaa penderita semakin lama semakin merosot. Perilaku kurang regresif.2. Skisofrenia paranoid Skizofrenia paranoid merupakan skizofrenia yang dikarakteristikkan dengan kecurigaan yang ekstrim terhadap orang lain dengan halusinasi dan waham kejar atau waham kebesaran (Towsend. argumentatif. tidak dapat diam. kegembiraan berlebih atau posturing (mematung). serba hebat. Gejala yang muncul di antaranya adalah mutisme (kadang-kadang mata tertutup) dan muka tanpa mimic.d. Stupor Katatonik. dan sejenisnya. kasar. Ciri-ciri utamanya adalah ditandai dengan gangguan psikomotor. mondar mandir. gelisah. Ciri penyerta yang lain adalah gerakan stereotypic. merasa serba mampu. Skizofrenia jenis katatonik terbagi menjadi 2. merupakan gangguan di mana penderita tidak menunjukkan perhatian sama sekali pada lingkungan. gangguan ini terdiri dari: 1. 16 .6 Jenis ± jenis Skizofrenia Gangguan schizophrenia merupakan gangguan jiwa yang berlanngsung menahun. kadang-kadang pasien juga menunjukkan perubahan yang cepat antara kegembiraan dan stupor. manerisme dan fleksibilitas lilin (waxy flexibility) dan yang sering dijumpai adalah mutisme (Kusuma. Menyimpan rasa permusuhan. negativism. bicara dengan semangat dan gembira berlebihan. agresif. yang melibatkan imobilitas atau justru aktivitas yang berlebihan. e. f. Gaduh. Skizofrenia katatonik Skizofrenia katatonik merupakan salah satu jeniss skizofrenia yang ditandai dengan rigiditas otot. 1998).

gangguan asosiasi. Awitan biasanya terjadi sebelum 25 tahun dan dapat bersifat kronis. 1998). tetapi gejala-gejala psikosis saat diperiksa/dirawat tidak menonjol. 2005). Individu tersebut juga mempunyai sikap yang aneh. pasien mempunyai sikap yang aneh. pasien memiliki riwayat paling sedikit satu episode skizofrenia dengan gejala-gejala yang menonjol. merupakan skizofrenia jenis katatonik di mana terdapat hiperaktivitas. serta afek yang datar atau tidak tepat. mengabaikan hygiene dan penampilan diri. 4. Skhizoaffective Kelainan schizoaffective merujuk kepada perilaku yang berkarakteristik schizophrenia. 17 . 5. halusinasi. Gaduh Gelisah Katatonik. Perilaku regresif. 1998). Skizofrenia hebephrenik Skizofrenia hebephrenik (Disorganized schizophrenia) merupakan jenis skizofrenia yang ditandai dengan adanya percakapan dan perilaku yang kacau. dengan interaksi social dan kontak dengan realitas yang buruk.b. Menarik diri atau afek yang serasi merupakan karakteristik dari kelainan. Skizofrenia tak tergolongkan Skizofrenia tak tergolongkan dikarakteristikkan dengan perilaku yang disorganisasi dan gejala-gejala psikosis (mis: waham. serta afek yang datar atau tidak tepat. menunjukkan perilaku menarik diri secara sosial yang ekstrim. ada tambahan indikasi kelainan alam perasaan seperti depresi atau mania (Towsend. gangguan asosiasi juga banyak terjadi. Ciri-ciri utamanya adalah percakapan dan perilaku yang kacau. inkoherensia atau perilaku kacau yang sangat jelas) yang mungkin memenuhi lebh dari satu tipe/kelompok criteria skizofrenia (Towsend. 6. menunjukkan perilaku menaik dirisecara social yang ekstrim. biasanya terjadi sebelum usia 25 tahun (Isaac. 3. mengabaikan hygiene dan penampilan diri. Skizofrenia residual Skizofrenia residual adalah eksentrik. tetapi tidak disertai dengan emosi dan rangsangan dari luar.

2009). Penelitian dalam Journal of Psychiatry menyebutkan bahwa penggunaan milnacipran mampu menghambat afek negative skizofrenia seperti avolisi. Melalui psikoterapi ini.7 Terapi Skizofrenia 1. Seperti diketahui bahwa jumlah dopamine yang berlebihan menjadi pemicu munculnya skizofrenia. Sementara obat skizofrenia versi baru. maka pasien dibantu untuk melakukan sosialisasi dengan lingkunganya. psikoterapi keluarga adalah aspek penting dalam pengobatan. halusinasi. obat ini mampu membantu orang untuk berpikir lebih jernih dan mengurangi delusi atau halusinasi. Obat bagi penderita skizofrenia biasa disebut neuroleptics (berarti mengendalikan syaraf). Kasus ini terjadi pada penderita skizofrenia berusia 37 tahun yang dirawat di rumah sakit jiwa (Hoaki et al. Menurut Hawari. 2006). pasien harus mendapat terapi khusus dari rumah sakit. Sayangnya. keluarga.2. dan dokter atau psikolog. Terapi Keluarga Selain terapi obat. Penderita skizofrenia yang mengonsumsi obat versi lama masih sering tampak bengong dan gemar melamun. 2. alogia. Keluarga dan teman merupakan pihak yang juga sangat berperan membantu pasien dalam bersosialisasi. ia harus tinggal di rumah sakit tersebut untuk beberapa lama sehingga dokter dapat melakukan kontrol dengan teratur dan memastikan keamanan 18 . menurut Hawari (Arif. dan asocial. obat skizofrenia versi lama hanya menyembuhkan gejala positif skizofrenia. Pada umumnya. obat tersebut tidak menyembuhkan gejala negatif. agitasi). obat ini dapat mempengaruhi gejala-gejala negatif dan disorganisasi. Obat yang disebut Neuroleptics ini mampu mengurangi gejala kegilaan yang muncul pada penderita skizofrenia.2. seperti gampang mengamuk dan gemar berteriak-teriak. Jika efektif. Kalau perlu. Terapi Biologis/Medis Sejak tahun 1990-an telah ditemukan obat bagi penderita skizofrenia. berhasil menyembuhkan gejala-negatif sekaligus positif. Fungsi neuroleptics adalah antagonis dopamin. Dalam kadar yang lebih rendah. tujuan psikoterapi adalah untuk membangun hubungan kolaborasi antara pasien. Obat ini bekerja dengan cara mempengaruhi gejala positif (delusi. Dalam kasus skizofrenia akut.

Menurut penulis. Alasan utama adalah terapi kelompok biasa digunakan pada proses rehabilitasi pecandu narkotika (dalam proses penyembuhan). Kelompok pembahas menyajikan terapi kelompok sebagai salah satu terapi untuk skizofrenia.penderita. Tapi sebenarnya. b. d. pemberian terapi kelompok pada penderita skizofrenia kurang tepat. Upaya membentuk self help group di antara keluarga yang memiliki anggota keluarga skizofrenia adalah sebuah langkah positif (Arif. Konsep dasar terapi kelompok adalah mediasi masalah dalam kelompok. penderita skizofrenia memerlukan perhatian dan empati. e. dinamikan kelompok. Menurut Dadang. maka penderita harus terus menerus diajak berkomunikasi dengan realitas. dan terlalu mengontrol yang justru bisa menyulitkan penyembuhan. agar halusinasi tidak muncul lagi. c. Namun. Seluruh anggota keluarga harus berperan dalam upaya dukungan bagi penderita skizofrenia. 2006). sejumlah penderita skizofrenia juga sering kambuh meski telah menyelesaikan terapi selama enam bulan. Meningkatkan komunikasi dan ketrampilan pemecahan masalah dalam keluarga. Memberikan pendidikan tentang skizofrenia. keluarga juga tidak boleh berlebihlebihan dalam memperlakukan penderita skizofrenia. atau outbond (dengan individu yang mengalami masalah yang sama). yang paling penting adalah dukungan dari keluarga penderita. Memberikan informasi tentang dan memonitor efek pengobatan dengan antipsikotik. Kelompok pembahas menyajikan beberapa hal sebagai berikut tentang terapi kelompok: a. karena jika dukungan ini tidak diperoleh. SpKJ. bukan tidak mungkin para penderita mengalami halusinasi kembali. LS Chandra. termasuk simtom dan tanda-tanda kekambuhan. Mendorong pasien dan keluarga untuk mengembangkan kontak social 19 . namun keluarga perlu menghindari sikap expressed emotion (EE) atau reaksi berlebihan seperti sikap terlalu mengkritik. Karena itu. memanjakan. Menghindari saling menyalahkan dalam keluarga. Menurut dr.

Bellack. Para klinisi berusaha mengajarkan kembali berbagai keterampilan sosial seperti keterampilan percakapan dasar. 1996. Psikoterapi Islami Psikologi Islami. Psikoterapi doa sebenarnya dilakukan oleh klien yang mengalami gangguan kecemasan. juga memberikan metode terapi untuk mengatasi gangguan kejiwaan berat. f. dan Liberman. Meningkatkan harapan bahwa segala sesuatu membaik. Namun dalam konteks skizofrenia.mereka. 2006). Meskipun tidak sedramatis halusinasi dan delusi. dalam Jurnal Psikologi Islami. dan pasien mungkin tidak harus kembali ke rumah sakit. 3. masalah ini dapat menimbulkan konflik dalam hubungan sosial. Jadi mungkin masih ada kerancuan pada kelompok pembahas mengenai konsep dasar terapi kelompok dan terapi keluarga. 2007) 4. keluarga harus senantiasa memberikan terapi doa untuk penderita skizofrenia. asertivitas. terutama berkaitan dengan jaringan pendukung. Durand dan Barlow. 4. 20 . dan 5 sebenarnya adalah bagian dari proses terapi keluarga. Terapi psikotik dilakukan dengan cara menyucikan jiwa individu. Doa diyakini sebagai cara yang ampuh untuk mengalirkan energi positif dari alam kepada manusia (Urbayatun. Perspektif spiritual dalam psikologi Islami meyakini bahwa ada yang salah dalam kalbu manusia sehingga ia terkena gangguan psikotik. baru kemudian jiwa tersebut diisi dengan kebaikan (oleh terapis). Poin ke 3. Klien juga diberikan terapi okupasi sebagai bagian untuk membantu mereka melaksanakan tugas sederhana dalam kehidupan sehari-hari (Smith. dan cara membangun hubungan pada penderita skizofrenia. Terapi Psikososial Salah satu efek buruk skizofrenia adalah dampak negatif pada kemampuan orang untuk berinteraksi dengan orang lain.

c. Perawatan yang dilakukan oleh para ahli bertujuan mengurangi gejala skizofrenik dan kemungkinan gejala psyhcotik. b. Penderita perlu tahu penyakit apa yang diderita dan bagaimana melawannya.2. Penderita skizofrenia biasanya menjalani pemakaian obat-obatan selama waktu tertentu.com dijelaskan tentang beberapa cara penanganan skizofrenia. d. Dukungan keluarga akan sangat berpengaruh. d.2.8 Penanganan Prognosa dan penyembuhan bagi penderita skizofrenia pada umumnya sedikit sekali kemungkinan bisa sembuh terutama jika keadaannya sudah parah. bahkan mungkin harus seumur hidup. e. 21 . c. Yang penting adalah usaha prefentif menurut Kartini Kartono(2002) berupa: a. Menciptakan kontak-kontak sosial yang baik. Menghindarkan dari frustrasi-frustrasi dan kesulitan-kesulitan psikis lainnya. Beranikan ia mengambil sikap tegas dalam menghadapi realitas dengan rasa positif dan usakanlah agar dia bisa menjadi extrovert. Sikap menerima adalah langkah awal penyembuhan b. Dalam situs www. Membiasakan pasien memiliki sikap hidup positif. dan mau melihat hari depan dengan rasa berani.sivalintar. yaitu: a.

tetapi pernah marah-marah dan memaki isterinya. F : 38 Tahun Tanggal pengkajian No. Pernah mengalami gangguan dimasa lalu : Tidak 2.1 PENGKAJIAN I. 39. IDENTITAS KLIEN Nama Umur : Tn. RM : 26 Desember 2011 : 00. pasien mengalami COS dan kemudian dirawat di H1. II. Pengobatan sebelumnya : Tidak ada 3.3 : Pasien tidak pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu.BAB 3 TINJAUAN KASUS 3.2. 1. Pengalaman : Jenis pengalaman Aniaya fisik Aniaya seksual Penolakan Kekerasan keluarga Tindakan criminal Lain ± lain Tahun Tahun Usia Tahun Tahun Tahun dalam Tahun Pelaku Korban Saksi - Penjelasan no 1.xx ALASAN MASUK : Setelah mengalami kecelakaan lalu lintas.maki-maki istri.89. Masalah Keperawatan : Resiko perilaku kekerasan KELUHAN UTAMA : Dirumah marah-marah. Setelah KRS dan berada dirumah pasien marah-marah dan memaki-maki istrinya. Pasien tidak pernah menjadi korban dan saksi penganiayaan fisik. FAKTOR PREDISPOSISI . 22 .

Pasien menceritakan tidak ada pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan.4 o C RR: 20 x/mnt Tinggi Badan ( TB ) : 168 cm 3. Genogram : X x Keterangan : Laki-laki Perempuan Ada Hubungan : : : 23 ..5 : Pasien mengatakan tidak ada keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Tanda. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan PEMERIKSAAN FISIK 1. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan ? Tidak Penjelasan no 4. Ukuran : Berat Badan ( BB ): 70 Kg N : 90 x/mnt S: 36. Adakah anggota keluarga yang gangguan jiwa ? Tidak 5.Masalah Keperawatan : Resiko Perilaku Kekerasan Masalah Keperawatan : Regimen terapeutik inefektif 4. PSIKOSOSIAL 1.tanda vital : 110/70 mmHg 2. Keluhan fisik : Pasien tidak memiliki keluhan fisik Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan III.

d. Peran : Pasien mengatakan bahwa pasien adalah seorang kepala rumah tangga yang mempunyai 3 orang anak. semuanya perempuan. pasien saat ini tinggal bersama istri dan ketiga anaknya( semuanya perempuan ). Harga diri : Pasien mengatakan bahwa ia suka mengenal orang lain. b. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 3. Peran serta dalam kegiatan kelompok / masyarakat SMRS : Pasien mengatakan pasien tidak memiliki peran serta dalam kegiatan kelompok dirumah. Identitas diri : Pasien mengatakan bahwa pasien seorang pria berumur 38 tahun. e. b.yaitu istri dan ketiga anaknya. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan. MRS : Pasien berinteraksi dengan pasien yang lain. c.Tinggal Serumah Klien Meninggal dunia : : : Penjelasan : Pasien adalah anak ke 7 dari 7 bersaudara. Ideal diri : Pasien mengatakan bahwa ia ingin segera pulang. Citra tubuh : Saat ditanya bagian tubuh mana yang di sukai? Pasien menjawab´ saya suka semua anggota tubuh saya´. Hubungan Sosial: a. Konsep Diri a. walapun hanya sebentar berinteraksi seperti berbicang-berbincang. walaupun hanya sekedar dudukduduk dan berbincang-berbincang sebentar. 2. Orang yang berarti : Pasien mengatakan orang yang paling dekat dengannya adalah keluarga. 24 .

b. STATUS MENTAL 1. Do: Penampilan pasien rapi. Spiritual a.c. Penampilan : Ds: Pasien mengatakan sudah mandi. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 3. Alam perasaan : Pasien mengatakan khawatir dengan keadaan istri dan anak-anaknya di rumah. Masalah keperawatan: Ansietas 25 . Pasien tidak pernah mendapatkan caci maki atau hinaan. Pembicaraan : Pembicaraan pasien tidak cepat (biasa). Nilai dan Keyakinan : Pasien mengatakan beragama kristen. Aktivitas motorik: Pasien tampak bosan ketika diajak berinteraksi dalam waktu yang lama. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 4. Masalah Keperawatan : tidak ada masalah keperawatan IV. MRS : Pasien mengatakan jarang untuk berdoa. 2. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain Tidak ada hambatan dalam berinteraksi dengan orang lain. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan 4. Beliau mau mengenal dan berbincang-bincang dengan pasien yang lain. Kegiatan ibadah : SMRS : Pasien mengatakan selalu pergi ke gereja setiap minggu. tetapi klien mampu memulai pembicaraan saat diajak berbincang-bincang. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan. cara berpakaian seperti biasa ( menggunakan celana panjang dan kaos ). Namun sedikit nglantur jika berbicara. Pasien rindu ingin bertemu keluarganya.

pasien mengatakan ada halusinasi (mendengar suara orang mengetuk pintu dan melihat harimau di depan pintu dapur). Depersonalisasi.5. Misalnya pasien tertawa saat diajak bercanda. Masalah Keperawatan : Gangguan Sensori/Persepsi : Halusinasi visual dan auditorius. pada jam 08. Isi pikir Pasien tidak ada obsesi. Ide yang terkait. Tingkat kesadaran Pada saat pengkajian. 9. Masalah keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan. 6. 12. Pikiran mangis. Memori Pada saat ditanya kapan masuk rumah sakit (MRS). namun sedikit ngelantur. pasien mampu menjawab pertanyaan dengan benar dan sesuai dengan apa yang ditanyakan. Masalah keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan. Afek: Saat diajak berbincang-bincang. Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan.00 WIB setelah makan pagi dan setelah makan siang. Proses pikir Setiap diberi pertanyaan. Interaksi selama wawancara : Selama pasien berbincang-bincang dengan perawat kontak mata pasien baik dan menatap wajah perawat. Masalah keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan. Masalah keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan 11. fobia. Hipokondria. 8. Masalah Keperawatan : tidak ada masalah keperawatan 7. 10. klien menjawab´kurang lebih 6 hari yang lalu´. Tingkat konsentrasi dan berhitung: 26 . pasien mengetahui tempat saat berbicara duduk-duduk di depan kamar pasien. dan Waham. Persepsi ± halusinasi : Menurut anamnese. pasien mengikuti suasana yang berlangsung.

Misalnya saat ditanya ingin mandi atau makan. Masalah keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan. Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan. Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan V. Kemampuan penilaian Pasien tidak mengalami kemampuan penilaian baik gangguan ringan maupun gangguan bermakna. 13.Pasien mampu menginggat berapa lama ia berada di rumah sakit mulai 23 tanggal Desember 2011 sampai saat kelompok melakukan pengkajian tanggal 26 Desember 2011. Masalah keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan. pasien dapat secara mandiri. 2. Kemampuan pasien mengalami kebutuhan : Kemampuan memenuhi kebutuhan Makanan Keamanan Perawatan kesehatan Pakaian Transportasi Tempat tinggal Keuangan Ya        Tidak Jelaskan : pasien mampu memenuhi kebutuhannya/ ADL mandiri. Bahkan pasien mampu menghitung berapa jumlah anaknya serta menyebutkan satu persatu namanya. pasien mengatakan 6 hari berada di rumah sakit. Perawatan diri Dalam perawatan diri. klien mampu mengambil keputusan. tidak ada bantuan total maupun minimal. 14. oleh karena itu pasien berada di paviliun VI ini. Daya tilik diri Pasien tidak mengingkari penyakitnya. 27 . ia tahu kalau ia memiliki penyakit jiwa (akibat kecelakaan ). Kegiatan hidup sehari-hari (ADL) : a. KEBUTUHAN RENCANA PULANG 1.

Kemampuan pasien dalam hal-hal berikut ini : Mengantisipasi kebutuhan sendiri : Ya Membuat keputusan berdasarkan kebutuhan sendiri : Ya Mengatur penggunaan obat : Tidak Melakukan pemeriksaan kesehatan : Tidak Pasien mampu mengantisipasi kebutuhan sendiri dan mampu membuat keputusan berdasarkan keinginan tetapi pasien tidak mampu mengatur penggunaan obat dan melakukan pemeriksaan kesehatan.00 WIB bangun jam 06. 28 . Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan c.Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan b. kadang merasa gelisah. bergabung dengan teman-teman yang lain Frekuensi makan sehari : 3 x sehari dan frekuensi kudapan 1 x sehari Berat badan : tetap Berat badan saat ini : 70 kg Jelaskan : Pola makan pasien teratur. Tidur : Apakah ada masalah tidur ? Tidak ada Apakah merasa segar setelah bangun tidur ? Ya Apakah ada kebiasaan tidur siang ? kadang Lamanya: 1-2 jam. Apakah ada yang menolong anda mempermudah untuk tidur? Tidak ada. Pasien mengatakan ´nafsu makan selama masuk rumah sakit jiwa biasa atau cukup´. Masalah keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan. Nutrisi : Apakah anda puas dengan pola makan anda ? pasien mengatakan puas Apakah anda makan memisahkan diri ? tidak. 3. sebanyak 3x sehari ditambah sekali makan snack.00 WIB Rata-rata tidur malam : 8 jam - Apakah ada gangguan tidur ? iya. Tidur malam jam : 22.

Masalah keperawatan : Resiko Perilaku Kekerasan VII. Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan. kegiatan produktif atau hobi? Ya Berolahraga. Pasien memiliki sistem pendukunng : Teman sejawat Keluarga Terapis : tidak ada : tidak ada : tidak ada Pasien memiliki tidak memiliki sistem pendukung Masalah keperawatan: Harga Diri Rendah 5.Masalah keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan. MEKANISME KOPING ADAPTIF   Bicara dengan orang lain Mampu menyelesaikan masalah Teknik relaksasi dengan jalan-jalan ditaman Aktivitas konstruktif  Olah raga Lain-lain Menghindar  Menciderai diri Lain-lain Bekerja berlebihan MALADAPTIF  Minum Alkohol Reaksi lambat / berlebihan Jelaskan : pasien senang berinteraksi dengan teman-teman yang di pavilium 6. Apakah pasien menikmati saat bekerja.Masalah berhubungan dengan lingkungan. spesifiknya: Pasien memiliki tidak memiliki sistem pendukung .makan dan tidur. pasien ikut serta dalam kegiatan: menyapu lantai.Masalah dengan dukungan kelompok. 29 . VI. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN . membersihkan tempat tidur.spesifiknya: Setiap ada kegiatan di rumah sakit. 4.

3.Masalah dengan pendidikan. 4. . spesifiknya: Tidak ada masalah dengan pendidikannya. IX. . serta penyelesaian masalah yang ia hadapi.Masalah dengan pekerjaan.Masalah dengan perumahan. spesifiknya Pasien tidak ada masalah dengan pelayanan kesehatan Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan. namun belum mengetahui kegunaan obat-obatan yang ia minum. VIII.spesifiknya: Pasien bertempat tinggal di rumah sendiri. 6.spesifiknya: Pasien mengatakan´ tidak ada beban berat di kantor atau di rumah´.Masalah dengan pelayanan kesehatan.Masalah dengan ekonomi. . ASPEK MEDIS Diagnosa medik : Skizofrenia Katatonik Terapi medic : Hexymer 2 mg (pagi siang) CPZ 100 mg (pagi siang) Haloperidol 5 mg (pagi siang) X. DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Masalah keperawatan: Kurangnya pengetahuan tentang obat. Gangguan persepsi sensori Halusinasi visual dan auditorius Koping inefektif Isolasi Sosial Harga Diri Rendah Kurang Pengetahuan Anxietas 30 . PENGETAHUAN KURANG TENTANG Pasien mengatakan mengerti tentang penyakit jiwanya . 5. spesifiknya: Pasien mengatakan tidak memiliki masalah ekonomi. . 2..

2 POHON MASALAH Akibat Resiko Perilaku Kekerasan CP Gangguan Sensori/Persepsi : Halusinasi visual dan auditorius. Gangguan proses berpikir Gangguan pola tidur Resiko perilaku kekerasan 3.7. 9. 8. Penyebab Isolasi Sosial Harga diri rendah Koping Inefektif 31 .

3 ANALISA DATA NAMA : Tn. F DATA DS :. y Pasien tampak ling-lung y Pasien terkadang bicara nglantur 32 . DO : y Ekspresi wajah pasien tampak datar. y Pasien mengatakan merasa No RM : 00 xx xx RUANG : Pav VI B TTD DIAGNOSA KEPERAWATAN Resiko tinggi perilaku kekerasan gelisah dan ingin marah.3. saat malam hari pasien mendengar suara mandi gedoran dan pintu kamar melihat pasien harimau di depan pintu dapur.

1 Beri salam Hubungan saling percaya merupakan kelancaran dasar untuk /panggil nama hubungan nama interaksi selanjutnya.xx. VI B/6 TGL DIAGNOSA KEPERAWATA N 27-122011 Resiko Perilaku Kekerasan Tinggi SP 1 : Tujuan Umum : Klien tidak PERENCANAAN TUJUAN KRITERIA HASIL INTERVENSI RASIONAL mencederai diri sendiri Tujuan Khusus : 1. sambil jabat tangan mau 1.1 Klien membalas salam Klien menjabat tangan Klien mau 1.xx.1.2 Sebutkan perawat mau 1. F Diagnosis Medis No.1.2 1. 1.3 1. Catatan Medik : Resiko Tinggi PK : 00.xx Ruang/kamar : Pav.3 Jelaskan maksud 33 .RENCANA KEPERAWATAN Nama klien : Tn.1. Klien dapat membina hubungan saling percaya.

2 Klien dapat mengungkapkan penyebab perasaan 2.5 Klien mau 1. 2.5 Beri rasa aman dan sikap empati kontak tetapi mau 1.1.1.6 Lakukan singkat sering.1. bagi perawat untuk membantu klien dalam menyelesaikan masalah yang konstruktif.1.menyebutkan nama 1. 2.6 Klien mengetahui nama perawat 2.1 Klien mengungkapkan perasaanya .1 Beri kesempatan Informasi dari klien penting untuk mengungkapkan perasaannya. 2. kontak mata 1.4 Klien tersenyum hubungan interaksi mau 1. Klien dapat mengidenti fikasi penyebab perilaku kekerasan.1 Bantu klien untuk Pengungkapan perasaan megungkapkan dalam suatu lingkungan penyebab perasaan yang tidak mengancam akan 34 .2.4 Jelaskan tentang kontrak akan dibuat yang 1.

Anjurkan klien Pengungkapan secara kekesalan untuk mengungkapkan konstruktif apa yang dialami mencari penyelesaian dan dirasakannya masalah yang konstruktif saat jengkel/marah. lingkungan atau orang lain ) jengkel /kesal.2. 3. 35 . gejala dilakukan sehingga oleh klien memudahkan untuk intervensi.1. Klien dapat perasaan saat marah/jengkel.1.1. perilaku kekerasan 3. Observasi tanda Mengetahui perilaku yang dan perilaku kekerasaan. menolong pasien untuk samapai kepada akhir penyelesaian persoalan 3.jengkel /kesal ( dari diri sendiri. pula.1. Klien dapat mengidentif ikasi dan tanda gejala 3.

Anjurkan klien Memudahkan dalam pemberian tindakan kepada klien.1. 4.1. Klien dapat menyimpulkan tanda dan gejala jengkel/kesal yang dialaminya. mengidentifi kasi perilaku kekerasan yang biasa untuk mengungkapkan perilaku kekerasaan yang dilakukan biasa klien dilakukan. pada dan pada diri sendiri). 3.3. dengan 36 bermain sesuai . pada orang lain. 4.1. lingkungan.1 Klien dapat mengungkapkan perilaku kekerasaan yang biasa dilakukan 4.1.2.2 Klien bermain sesuai dapat 4. Klien dapat 4. peran perilaku Bantu klien Mengetahui bagaimana cara peran klien melakukannya.2.2. (verbal. dialami klien.Simpulkan bersama Untuk mengetahui tanda klien tanda dan dan gejala apa saja yang gejala jengkel/kesal yang dialami klien.

klien lakukan masalahnya selesai. 37 .1.3. Bersama klien menyimpulkan Mencari metode koping yang tepat dan konstruktif. Klien dapat menjelaskan akibat dari cara yang digunakan klien : y Akibat pada klien sendiri y Akibat pada orang lain y Akibat pada 5.kekerasaan yang perilaku kekerasaan yang dilakukan biasa biasa dilakukan. Bicarakan dengan Membantu dalam klien. 4.1.1. dilakukan klien.1.3 Klien dapat mengetahui cara yang biasa dilakukan untuk menyelesaikan masalah. Klien dapat 5. 5. Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan klien. apakah memberikan motivasi untuk dengan cara yang menyelesaikan masalahnya.2.1. 4. mengidentifi kasi akibat perilaku kekerasan Mengerti cara yang benar dalam mengalihkan akibat dari cara yang perasaan marah. 5.

Menambah pengetahuan klien tentang koping yang konstruktif.2 Beri pujian atas kegiatan fisik I yang biasa dilakukan napas klien. Dengan cara sehat dapat dengan mudah mengontrol kemarahan klien.1. Dengan cara sehat dapat dengan mudah mengontrol kemarahan klien. Mengidentifikasi klien agar berlatih tarik napas secara teratur.1 Diskusikan kegiatan fisik I yang biasa dilakukan klien.lingkungan 5.1. 38 .3 Diskusikan cara fisik I yang paling mudah dilakukan untuk mencegah perilku kekerasan yaitu tarik napas dalam. 6.3. Tanyakan kepada klien ³apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat´. 6. Klien dapat 6.1 klien dapat 6. 6.1.1. mendemonstr asikan cara menyebutkan contoh pencegahan perilaku kekerasan secara fisik I y tarik dalam fisik I untuk mencegah perilaku kekerasan.

6.4 Beri pijian positif atas klien mendemonstrasika n cara menarik kemampuan diberikan lima napas napas dalam.2. 6. 6. mendemonstra sikan cara fisik untuk mencegah perilaku kekerasan dengan klien.2.2.2.3 Minta klien untuk mengikuti contoh yang sebanyak kali. 6.1 Diskusikan melakukan napas cara Latihan tarik napas dapat tarik mencegah perilaku dalam kekerasan. 6.2 klien dapat 6.2 Beri contoh kepada Dengan memberikan latihan klien tentang cara tarik napas menarik dalam.2.5 Tanyakan perasaan klien setelah 39 .

2.6 untuk cara fisik lain dipertemuan yang lain.2.2.3 klien mempunyai jadwal melatih pencegahan untuk cara 6.3.1 Diskusikan dengan klien frekuensi yang mengenai latihan akan dilakukan sendiri 40 .2.6 Anjurkan untuk klien menggunakan cara yang telah dipelajari saat marah/ jengkel 6. 6. 6.1 dengan sampai 6.7 Lakukan hal yang sama 6.selesai.

4. kegiatan melatih cara yang telah dipelajari 6.4.4 Klien mengevaluasi kemampuannyadalam melakukan cara fisik I 6. cara pencegahan perilaku kekerasan yang dilakukan mengisi telah dengan jadwal sesuai jadwal yang disusun telah kegiatan harian ( self evaluation ) 6.fisik I yang oleh klien.2Validasi kemampuan dalam melaksanakan latihan klien 41 .2Susun sebelumnya. jadwal untuk telah dipelajari 6.1 Klien mengevaluasi pelaksanaan latihan .3.

4Tanyakan klien kegiatan pencegahan perilaku kekerasan dapat mengurangi : kepada apakah cara perasaan marah 28-122011 SP 2 7.2 Beri pujian atas kegiatan fisik II yang biasa dilakukan klien.6.1. .4. 7. Klien dapat 7. 7.1.1 Diskusikan cara untuk kegiatan fisik II yang biasa dilakukan klien.3Berikan pujian atas keberhasilan klien 6.1.3 Diskusikan cara fisik yang paling mudah dilakukan 42 mencegah perilaku kekerasan y pukul kasur dan bantal y dll : kegiatan fisik mencegah perilaku kekerasan.1 Klien mendemon strasikan cara II fisik untuk meyebutkan fisik II dapat 7.4.

2. klien tentang cara memukul-mukul batal atau kasur. untuk mencegah perilaku kekerasan 7. 7.4 Beri pijian positif atas klien 43 diberikan lima kemampuan .2 Beri contoh kepada seperti. memukul bantal dan kasur. 7.2.2 Klien dapat 7.3 Minta klien untuk mengikuti contoh yang sebanyak kali.untuk mencegah perilku kekerasan yaitu n pukul kasur serta bantal.2. 7.2.1 Diskusikan cara mendemonstrasika n cara fisik II memukul-mukul bantal atau kasur kepada klien.

mendemonstrasika n cara menarik napas dalam.5 Tanyakan perasaan klien selesai.1 sampai 7.2. 44 .2.6 Anjurkan untuk menggunakan cara yang dipelajari marah/ jengkel 7.7 Lakukan hal yang sama dengan 7. 7.6 telah saat klien setelah untuk cara fisik lain dipertemuan yang lain.2.2.2. 7.

2Susun kegiatan jadwal untuk mengenai latihan akan sendiri dipelajari sebelumnya.1 klien mengevaluasi pelaksanaan latihan mengisi kegiatan.1 Diskusikan dengan jadwal melatih pencegahan II yang untuk cara fisik telah klien frekuensi yang dilakukan oleh klien.4 Klien mengevaluasi kemampuannya dalam melakukan cara fisik II sesuai jadwal yang telah disusun 7.7.4. 7. 45 . melatih cara yang telah dipelajari.2 Validasi kemampuan klien dalam dengan jadwal melaksanakan latihan. 7.3.3.4. 7.3 klien mempunyai 7.

7. atas 46 .3 Memberikan pujian keberhasilan klien.4.

Mengidentifikasi frekuensi halusinasi pasien S : Px mengatakan selalu mendengar suara-suara dan melihat wujud itu tiap malam hari sebelum tidur. 47 .00. S : Px mengatakan sering mendengar suara-suara dan melihat hal yang tidak kasat mata.IMPLEMENTASI DAN EVALUASI NAMA : Tn. 4. S : Px mengatakan bahwa dia mendengar suara kamar mandi diketok-ketok dan melihat sosok harimau didepan dapur. 3. F NIRM : 00. Membina hubungan saling percaya. EVALUASI 27/12/ Halusinasi 2011 Pendengaran dan Penglihatan 2. S : Px mengatakan bersedia untuk diwawancarai.xx.xx. Mengidentifikasi waktu halusinasi pasien S : Px mengatakan suara-suara dan wujud itu muncul pada malam hari pada saat dia mau tidur sekiat pukul 22. Mengidentifikasi isi halusinasi pasien. Mengidentifikasi jenis halusinasi pasien. 5.00 ± 03.xx RUANGAN :PAV VI/6 TGL Dx IMPLEMENTASI SP 1 Pasien : 1.

6. S : Px mengatakan dia selalau mengeceknya saat dia mendengar suara-suara pintu diketuk tersebut. 7. dan klien tidak pernah merasa takut terhadap sosok harimau tersebut. S :Px pasien mengatakan bahwa dia bersedia untuk mendengarkan penjelasan mengenai cara menghardik halusinasinya. Mengajarkan pasien menghardik halusinasi. 9. Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi. A : Masalah teratasi Px mampu mengungkapkan dan menjawab setiap pertanyaan dari perawat. S : Px mengatakan bahwa dia besidia mencoba cara yang telah diajarkan tersebut dan klien bersedia memasukkan cara tersebut kedalam jadwal kegiatan hariannya. pasien juga sudah bisa mengenal 48 . Mengidentifikasi respons pasien terhadap halusinasi. O : Px kooperatif dan menyetujui jadwal yang telah dinuat antara Px dan perawat. Menganjurkan pasien memasukkan cara menghardik halusinasi dalam jadwal kegiatan harian. S : Px mengatakan suara dan wujud itu ketika suasana sepi pada saat malam hari sebelum tidur. 8.

O : Px bersedia mengikuti anjuran perawat untuk bercakap-cakap dengan px yang lain ataupun perawat. lanjutkkan SP 2 SP 2 Pasien 1. Menganjurkan pasien memasukkan kegiatan bercakap-cakap dengan orang lain dalam jadwal kegiatan harian S : Px mengatakan bahwa dia tidak mau menpraktekkan cara pengendalian halusinanya. 3.halusinasinya dan mau mempraktekkan cara menghardik halusinasinya yang sudah diajarkan oleh perawat. S : Px mengatakan sudah melakukkan cara menghardik halusinasi yang sudah diajarkan oleh perawat kemarin. 2. P : Intervensi dihentikan 49 . Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien.dan Px mengatakan bahwa kemarin malam dia sudah tidak mendengar suarasuara ketokan pintu serta sudah tidak melihat sosok harimau lagi. Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan cara bercakapcakap denngan orang lain. S : Px mengatakan bahwa dia bersedia mendengarkan penjelasan mengenai cara mengendalikan halusinanya. A : Sp2 berhasil. P : SP 1 tercapai.

membantu pasien mengenal penyebab perilaku kekerasan. F diagnose medis Skizofrenia Katatonik maka kelompok dapat megambil kesimpulan : 1. Untuk menyelesaikan masalah tersebut kelompok melaksanakan rencana keperawatan jiwa. 50 . Data diperoleh dari pengkajian 2. 4.BAB 5 PENUTUP 1.2 Saran 1. 3. mengidentifikasi tanda dan gejala perilaku kekerasan. Bagi Rumah Sakit Bagi perawat unit jiwa. mengajarkan cara pengendalian perilaku kekerasan dengan menarik napas dalam).1 Kesimpulan Dari hasil yang telah diuraikan tentang Asuhan Keperawatan Jiwa dengan masalah utama Resiko Perilaku Kekerasan pada Tn. kelompok sudah melakukan perkenalan dan menjelaskan maksud kelompok untuk melakukan asuhan keperawatan pada klien sehingga klien percaya dan mengikuti dengan kooperatif. SP 2 (mengevaluasi cara pengendalian perilaku kekerasan dengan menarik napas dan menganjurkan pasien mengendalikan PK dengan cara memukul bantal / kasur). perlu terapi yang lebih spesifik khususnya pada pasien dengan waham curiga dengan untuk mengatasi waham tersebut. 5. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Dari hasil pengkajian kelompok didapatkan diagnose keperawatan Perilaku kekerasan. mengenal perilaku kekerasan yang dilakukan dan akibat dari perilaku kekerasan. SP I (membina hubungan saling percaya. 5. Dalam melaksanakan tindakan keperawatan kelompok hanya dapat menyelesaikan sampai SP II.

Bagi Institusi Pendidikan Pendidikan terhadap pengetahuan perawatan secara formal dan informal khususnya pengetahuan yang berhubungan dengan keperawatan jiwa. Bagi Pasien Dapat secara mandiri menerapkan proses keperawatan yang sudah diajarkan oleh perawat.Bagi IPTEK Tingkatkan pemahaman perawatan terhadap konsep manusia secara komprehensif dengan harapan perawat mempunyai respon yang tinggi terhadap keluhan klien sehingga intervensi yang diberikan dapat membantu menyelesaikan masalah. dengan harapan institusi pendidikan mampu mengajarkan cara memberikan pelayanan asuhan keperawatan jiwa sesuai standart asuhan keperawatan dan kode etik.2. 51 . 4. 3.

1998. Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Schizofrenia. Maramis WF. Townsend C. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. edisi 3. EGC . Jakarta. Jakarta : EGC Keliat Budi Anna. 2001. Jakarta. GW dan Sundeen. Keperawatan Jiwa. Pusat Keperawatan Kesehatan Jiwa. Penerbit Buku Kedokteran. penerbit buku kedokteran EGC : Jakarta. Jakarta. Penerbit : Buku Kedokteran EGC . FKUI. 2007. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. 1998.DAFTARA PUSTAKA Hawari Dadang. S. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta. Iyus. 1998. 2010. penerbit : Buku Kedokteran EGC .2006. Yosep. Mary . Edisi 3.J. Diagnosa Keperawatan Psikiatri. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Bandung: Aditama Keliat Budi Anna. Jakarta : EGC Stuart. 52 . 2010. dkk. Keliat Budi Anna.

F Umur : 38 Tahun 2011 A. DO : ekspresi muka datar. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan kriteria : a. Kondisi Klien DS : Klien mengatakan bahwa kadang-kadang klien merasa resah dan ingin marah. Tindakan Keperawatan SP I 1. Klien mampu mempraktekkan latihan cara mengendalikan marah 4. 53 .LAMPIRAN Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan Nama : Tn. ngomong kadang ngelantur. Diagnosa Keperawatan Resiko tinggi perilaku kekerasan 3. Klien bersedia menggungkapkkan perasaannya secara bertahap 2. tiap malam klien mendengar suara gedoran pintu kamarv mandi dan melihat harimau didepan ruang dapur. Ekspresi wajah besahabat.kondisi klien tampak ling-lung. Proses Keperawatan 1. b. Selain itu. Bersedia berjabat tangan d. Tujuan Khusus SP I 1. namun klien mengatakan bahwa klien merasa lebih nyaman dan lebih senang berada disini. Bina hubungan saling percaya dengan prinsip salam komunikasi terapeutika. Menunjukkan rasa senang c. Pertemuan : 1 Tanggal : 27 Des 2. Bersedia menyebutkkan nama e. Ada kontak mata dengan klien f.

Disini saya akan praktik selama 5 hari. Kerja (Langkah-langkah Tindakan keperawatan) 54 . Jujur dan menepati janji f. Sapa klien dengan ramah.? c. setelah itu bisa dilanjutkan lagi lain waktu. Orientasi a. saya biasa dipanggil Rida. Jelaskan tujuan pertemuan e.sebelum kita ngobrol-ngobrol..kalo boleh tau nama bapak siapa ya? b. Strategi Komunikasi Dalam Pelaksaan Tindakan Keperawatan 1. B. mulai dari hari ini sampai hari jum¶at. Salam Terapeutik Selamat pagi pak« Nama saya Nuridhayati.. dan yang ini teman saya namanya Radius.a. Kontrak Topik : Bagaimana kalau sekarang kita ngobrol-ngobrol tentang keadaan atau perasaan bapak akhir-akhir ini ? Waktu : Oh ya pak. Perkenalkan diri dengan sopan c. baik verbal maupun nonverbal. Nonik. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai d. Mengajarkan cara mengendalikan emosi klien saat klien marah. Tempat : Bapak mau ngobrol-ngobrol dimana ? 2. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya 2. b. dan yuneka..apabila bapak membutuhkan bantuan bapak boleh minta bantuan kesaya atau teman-teman saya yang lain. kira-kira bapak minta waktu berapa menit? Bagaimana kalau 20 menit dulu.. Evaluasi / validasi Ngomong-ngomong awalnya bagaimana bapak kok bisa datang kesini ? diantar siapa pak¶. Kami Mahasiswa STIKES Hang Tuah Surabaya.

Kalo boleh tau Biasanya bapak kalu marak-marak ke ibu maslahnya karena apa ya pak¶? f.besok dilanjutkan kembali«sekarang bapak silakkan melakukkan aktivitas yang lain. Bapak kalu dirumah sering marah-marah tidak pak¶? e. Tadi kan sudah menyebutkkan nama. Waktu : Besok kita ngobrol-ngobrol lagi ya pak. b. sekarang bapak bisa menyebutkan berapa usia bapak trus tinggal dimana ? b. .. Terus perasaan bapak selama berada disini bagaimana ? g.bapak bisanya jam berapa ya pak ? 55 ya pak. Terminasi a.. Oh« terus bapak tinggal bersama siapa saja pak¶? c. 3.bapak ambil nafas panjang melalui hidung dan bapak keluarkan melalui mulut secara perlahan. Berarti bapak tinggal bersama istri dan 3 orang anak bapak ya«terus perasaan bapak sekarang bagaimana ? d. Tindakan lanjut klien ( apa yang perlu dilatih sesuai dengan hasil tindakan yang sudah dilakukan ) Baiklah bapak«waktu cukup sampai disini c. Evalusi respon klien terhadap tindakan keperawatan Evaluasi kx subyektif Sekarang bagaimana perasaan bapak setelah bapak ngobrol-ngobrol dengan kita? Evaluasi perawat Coba sekarang bapak sebutkan lagi siapa nama saya dan nama teman-teman saya ini. kontrak yang akan datang Topik : Besok kita ngobrol-ngobrol lagi ya pak tentang bagaimana bapak bisa menenangkan diri saat bapak marah atau merasa kesal dengan vara yang lainnya.a. tindakan ini akan membantu bapak merasa tenang.. Jika bapak merasa kesal dan marah« bapak bisa menarik nafas panjang dan dalam..

Tempat : Besok bapak maunya kita ngobrol dimana ? 56 .

3. Diagnosa Keperawatan Resiko tinggi perilaku kekerasan 3. Menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan klien . 4. Orientasi 57 . Melatih klien mengendalikan emopsinya saat klien marah dengan cara memukulmukul bantal atau kasur.Strategi Pelaksaan Tindakan Keperawatan Nama : Tn. Tujuan Khusus SP II Melatih klien mengontrol emosinya saat klien marah dengan cara memukul-mukul bantal atau kasur. Strategi Komunikasi Dalam Pelaksanaan Tindakan 1. Tadi malam klien sudah tidak mendengar suara gedoran pintu kamar mandi dan tidak melihat harimau lagi didepan dapur. Kondisi Klien DS : Klien mengatakan bahwa klien kadang masih merasa gelisah dan ingin marah. DO : Wajah klien masih datar. namun klien mengatakan bahwa dia lebih tanag dan senang berada disini. klien tampak ling-lung dan ngomong ngelantur. Proses Keperawatan 1. F Umur : 38 Tahun 2011 Pertemuan : 2 Tanggal : 28 Des A. Tindakan keperawatan SP II 1. B. 2. Mengevaluasi jadwalo kegiatan klien 2.

...caranya adalah dengan cara memukul-mukul bantal atau kasur saat bapak merasa ingin marah..hari ini saya akan mengajarkan cara yang kedua...sekarang bapak silahkan melakukan aktivitas lain atau bapak mau istirahat silakan. Terminasi Bagaimana perasaan bapak setelah bapak mencoba latihan ini.a.terimaksih buat waktu bapak. Salam terapeutik Selamat pagi pak« bagaimana perasaannya hari ini? Apa bapak masih merasa gelisah ? dan suara gedoran pintu masih terdengar pak¶? terus bapak masih melihat harimau didepan pintu dapur? Apa cara yang saya anjurkan kemarin sudah dilaukan bapak? b.bagaimana kalu kita memasukkan latihan ini dalam jadwal kegiatan bapak? Hari ini cukup sampai disini dulu ya pak..dengan cara ini bapak bisa menyalurkan rasa emosi bapak ke tindakan ini.... Kerja Pak¶«kemarin kan bapak sudah saya ajarkan cara untuk mengontrol emosi yang pertama.saya tinggal dulu ya pak. c.ayo sekarang bapak coba sebentar. 58 .jadi sudah berapa cara pak yang sudah saya ajakan ke bapak¶? Bagus« cobalah kedua cara ini kalau bapak merasa ingin marah atau merasa gelisah.

59 .