A Primer of Freudian Psychology Calvin S. Hall Published by The New American Library of World Literature, Inc.

501 Madison Avenue, New York 22, New York
Copyright, 1954, The World Publishing Company.

Bab I Sigmund Freud (1856-1939)
1. Peninggalan ilmiah Freud Meskipun Sigmund Freud lahir di Freiburg, Moravia, dan meninggal di London, Inggris, dia adalah warga negara Wina, dimana dia menghabiskan hampir 80 tahun hidupnya. Jika Nazi tidak mencaplok Austria di tahun 1937, yang memaksa Freud mencari tempat perlindungan di Inggris, seluruh hidupnya, kecuali tiga tahun pertamanya, akanlah dihabiskan di ibukota Austria itu. Hidup Freud yang panjang, dari 1856 sampai 1939, merentang di satu periode paling kreatif dalam sejarah ilmu pengetahuan. Di tahun ketika Freud yang berusia tiga tahun dibawa keluarganya ke Wina, dia menyaksikan diterbitkannya buku Origin of Species karangan Charles Darwin. Buku ini ditakdirkan merevolusi konsepsi tentang manusia. Sebelum Darwin, manusia telah dipisahkan dari kerajaan binatang sematamata karena dia memiliki jiwa. Doktrin evolusioner membuat manusia sebagai satu bagian dari alam, seekor binatang diantara binatang yang lain. Diterimanya pandangan radikal ini berarti studi atas manusia haruslah kelanjutan dari garis-garis naturalistik. Manusia menjadi objek dari studi ilmiah yang tak berbeda, kecuali dalam kompleksitasnya, dengan bentuk-bentuk kehidupan lain. Tahun berikutnya setelah penerbitan Origin of Species, ketika Freud berusia 4 tahun, Gustav Fechner, membentuk ilmu psikologi. Ilmuwan dan filsuf Jerman dari abad 19 ini memperlihatkan di tahun 1860 bahwa pikiran bisa ditelaah secara ilmiah dan pikiran bisa diukur secara kuantitatif. Psikologi memiliki tempatnya diantara ilmu-ilmu pengetahuan alam yang lain. Dua orang ini, Darwin dan Fechner, memiliki dampak yang amat besar terhadap perkembangan intelektual Freud seperti halnya yang menimpa banyak kaum muda lain di periode itu. Minat dalam ilmu-ilmu biologis dan psikologi tumbuh subur sepanjang paruh kedua abad 19. Louis Pasteur dan Robert Koch, melalui karya fundamentalnya tentang teori penyakit, mengukuhkan ilmu bakteorologi; dan Gregor Mendel, melalui penyelidikannya atas the garden pea, membentuk ilmu genetika modern. Kehidupan ilmu pengetahuan berada dalam keriuhan yang kreatif. Ada pengaruh lain yang mempengaruhi Freud lebih mendalam lagi. Pengaruhpengaruh ini datang dari fisika. Di pertengahan abad itu, fisikus besar Jerman, Hermann von Helmholtz, merumuskan prinsip konservasi energi. Prinsip tersebut singkatnya menyatakan bahwa energi adalah kuantitas, tak beda dengan massa. Ia bisa ditransformasi, tapi tidak dapat dihancurkan. Ketika energi hilang dari satu bagian suatu sistem, ia haruslah muncul di lain bagian dalam sistem tersebut. Sebagai contoh, sewaktu satu objek menjadi lebih dingin, objek disampingnya akan menjadi lebih panas. Studi atas perubahan-perubahan energi dalam suatu sistem fisis membawa pada penemuan-penemuan momentus dalam bidang kajian dinamika. Lima puluh tahun antara pernyataan Helmholtz tentang konservasi energi dan teori relativitas Albert Einstein merupakan jaman keemasan tentang energi. Termodinamika, medan elektromagnetik, radioaktivitas, elektron, teori kuantum—semua ini adalah beberapa prestasi dari separuh abad yang vital ini. Orang-orang seperti James Maxwell, Heinrich Hertz, Max Planck, Sir Joseph Thompson, Marie dan Pierre Curie, James Joule, Lord

Kelvin, Josiah Gibbs, Rudolph Clausius, Dmitri Mendelyeev—untuk menyebutkan beberapa saja dari para raksasa fisika modern—secara harfiah mengubah dunia melalui penemuan-penemuan mereka tentang rahasia-rahasia energi. Sebagian besar alat-alat yang menghemat tenaga manusia yang membuat kehidupan kita sekarang jauh lebih mudah berasal dari gelombang pengaruh fisika abad 19. Kita sekarang ini masih terus saja menuai keuntungan dari jaman keemasan ini, sewaktu jaman atomik yang baru saja lahir, kita rasakan. Tapi jaman energi dan dinamika memberikan jauh lebih banyak lagi daripada hanya menyediakan manusia dengan perkakas elektronik, televisi, mobil, kapal terbang, bom atom dan hidrogen. Jaman ini menghiasi manusia dengan suatu konsepsi manusia yang baru. Darwin mengkonsepsikan manusia sebagai binatang. Fechner membuktikan pikiran manusia tidaklah berada di luar ilmu pengetahuan tapi bahwa ia bisa dimasukkan ke dalam laboratorium dan secara akurat bisa diukur. Fisika baru bahkan memungkinkan konsepsi manusia yang lebih radikal lagi. Ini adalah pandangan bahwa manusia merupakan suatu sistem energi dan dia mematuhi hukum-hukum fisis yang sama yang mengatur gelembung sabun dan gerak benda-benda langit. Sebagai seorang ilmuwan-muda yang tengelam dalam riset biologis sepanjang perempat terakhir abad 19, Freud hampir tidak bisa menghindarkan diri dari pengaruh fisika baru tersebut. Energi dan dinamika merembesi setiap laboratorium dan menulari pikiran para ilmuwan. Adalah peruntungan baik bagi Freud, sebagai seorang siswa kedokteran, untuk berada dibawah pengaruh Ernst Brücke. Brücke adalah direktur Laboratorium Fisiologi di Universitas Wina dan salah satu fisiolog terbesar dari abad tersebut. Bukunya, Lectures on Physiology yang terbit 1874, tahun setelah Freud masuk sekolah medis, mengemukakan pandangan radikal bahwa organisme merupakan suatu sistem dinamis yang dalam sistem seperti itu hukum-hukum kimia dan fisika berlaku. Freud amat kagum pada Brücke dan tanpa waktu lama dia terindoktrinasi oleh pandangan fisiologi dinamis baru ini. Berkat kegeniusan Freud, dia sekitar 20 tahun kemudian akan menemukan bahwa hukum-hukum dinamika bisa diterapkan pada personalitas manusia sebagaimana berlaku pada tubuhnya. Ketika dia sampai pada penemuannya ini, Freud melanjutkannya dengan menciptakan suatu psikologi dinamis. Psikologi dinamis ialah psikologi yang menelaah transformasi-transformasi dan pertukaran-pertukaran energi [yang terjadi] dalam personalitas. Ini adalah prestasi terbesar Freud, dan merupakan salah satu pencapaian terbesar dalam ilmu pengetahuan modern. Pastinya ia merupakan peristiwa krusial dalam sejarah psikologi. II. Freud menciptakan Psikologi Dinamis Meski Freud terdidik dalam ilmu pengobatan dan menerima gelar medisnya dari Universitas Wina di tahun 1881, dia tidak pernah berniat berpraktek sebagai dokter. Dia ingin menjadi seorang ilmuwan. Dalam usahanya mengejar cita-cita inilah, dia masuk sekolah medis di Universitas Wina di 1873, ketika itu berusia 17, dan melakukan karya riset pertamanya di tahun 1876. Dalam penyelidikan pertamanya ini dia menelaah topik yang pada masa itu sukar untuk dipahami dan sukar dilakukan: testis belut! Dan dia berhasil menemukannya. Kirakira selama 15 tahun setelahnya Freud menghabiskan waktu dalam penyelidikanpenyelidikan sistem saraf. Namun tidak secara eksklusif karena dia insaf bahwa bayaran dari riset ilmiah tidaklah akan menopang seorang istri, enam anak, dan kerabat yang banyak. Tambahan pula, anti-Semitisme yang masih kuat di Wina sepanjang periode itu menjauhkan Freud dari kemajuan karir di universitas. Akibatnya, jauh bertentangan dengan keinginannya dan atas nasihat Brücke, dia terpaksa membuka praktek

pengobatan. Terlepas dari prakteknya ini, dia menyisihkan waktu untuk riset neurologis, dan akhirnya mendapat reputasi sebagai ilmuwan muda yang menjanjikan. Ternyata ada untungnya juga Freud membuka praktek pengobatan. Jika dia tetap menjadi seorang ilmuwan medis barangkali dia tidak akan pernah punya kesempatan menciptakan psikologi dinamis. Kontaknya dengan para pasien merangsangnya untuk berfikir dalam term-term psikologis. Sewaktu Freud memulai praktek pengobatannya adalah lumrah, dalam latar belakang ilmiahnya, untuk menspesialisasi diri dalam perawatan gangguan-gangguan saraf. Cabang medis ini pada waktu itu amat ketinggalan. Tak banyak yang bisa dilakukan bagi orang yang menderita penyimpangan pikiran. Jean Charcot, di Prancis, telah mengalami kesuksesan dengan hipnosis, terutama dalam penanganan kasus histeria. Freud menghabiskan satu tahun di Paris (1885-86) demi mempelajari metode perawatan Charcot ini. Akan tetapi, Freud tidak puas dengan hipnosis karena dia merasa bahwa efek-efeknya hanyalah temporer dan tidak sampai pada akar persoalan dan sumber gangguan. Dari dokter Wina yang lain, Joseph Breuer, dia mempelajari kelebihan-kelebihan bentuk terapi cathartic atau “mengungkapkan permasalahanpermasalahan yang dimiliki pasien”. Pasien berbicara sementara si dokter menyimaknya. Meski Freud belakangan mengembangkan teknik-teknik terapeutik yang baru dan lebih canggih, metode “mengemukakan” atau asosiasi-bebas memberikannya banyak pengetahuan perihal sebab-sebab yang melandasi perilaku abnormal. Dengan semangat dan kepenasaran ilmiah yang sejati, dia mulai menggali lebih menukik lagi ke dalam pikiran para pasiennya. Penggaliannya ini menyingkapkan daya-daya dinamis yang bekerja yang bertanggung jawab dalam pembentukan simptom-simptom abnormal. Lambat laun mulai terbentuk dalam pikiran Freud gagasan bahwa sebagian besar dari daya-daya ini adalah bawah sadar. Ini merupakan titik balik dalam kehidupan ilmiah Freud. Menyingkirkan fisiologi dan neurologi, dia menjadi seorang penyelidik psikologis. Ruangan tempat dia merawat pasiennya menjadi laboratoriumnya, dipan adalah satu-satunya perabotan, dan omongan melantur para pasiennya adalah data ilmiahnya. Add to these the restless, penetrating mind of Freud, and one has named all of the ingredients that went into the creation of a dynamic psychology. Di tahun 1890an, dengan kecermatan yang khas, Freud mulai melakukan analisisdiri intensif atas daya-daya bawah sadarnya sendiri untuk menguji bahan-bahan yang diberikan para pasiennya. Dengan menganalisis mimpi-mimpinya sendiri dan mengatakan apapun yang terlintas dibenaknya sendiri, dia sanggup melihat cara kerja dari dinamika batinnya. Atas dasar pengetahuan yang diperoleh dari para pasien dan dari dirinya sendiri, dia mulai menghamparkan fondasi bagi teori tentang personalitas. Perkembangan teorinya ini melibatkan upaya-upaya yang paling kreatif sepanjang sisa hidupnya. Belakangan, dia akan menulis, “Hidup saya telah dibidikkan hanya pada satu tujuan; untuk menyimpulkan atau untuk menerka bagaimana aparatus mental dikonstruksi dan daya-daya apa yang saling bermain [saling mempengaruhi] dan saling berkontak didalamnya.” Adalah di tahun 90an The Interpretation of Dreams selesai ditulis, meski tidak diterbitkan sampai hari-hari terakhir abad 19 dan terbitannya diberi tanggal 1900. Buku ini merupakan karya yang memberkahi dimulainya abad baru. Buku ini, yang sekarang dipandang sebagai salah satu karya besar dari jaman moden, lebih dari sebuah buku tentang mimpi. Ia merupakan buku tentang dinamika pikiran manusia. Terutama pada bab terakhirnya, buku ini memuat teori Freud tentang pikiran. Sedikit orang awam membaca buku tersebut ketika ia pertama muncul, dan terabaikan dalam lingkungan ilmiah dan medis. Perlu 8 tahun untuk menjual 600 kopian

dari cetakan pertamanya. Tapi kegagalan awal dari The Interpretation of Dreams seperti ini tidak menyurutkan Freud. Dengan rasa percaya diri dari orang yang tahu dirinya berada di jalan yang benar, Freud terus menjelajahi pikiran manusia melalui metode psikoanalisis. Pada saat yang sama ketika dia membantu para pasiennya mengatasi permasalahan-permasalahan yang mereka punyai, mereka membantu Freud dalam memperluas pengetahuannya perihal daya-daya bawah sadar. Terlepas dari kegagalan yang dialami The Interpretation of Dreams, serangkaian buku dan artikel brilian mengalir dari pena Freud sepanjang 10 tahun selanjutnya. Di 1904, dia menerbitkan The Psychopathology of Everyday Life, yang mengemukakan tesis baru bahwa keseleo lidah, kesalahan, kecelakaan, dan salah-ingat semuanya dikarenakan motif-motif bawah sadar. Tahun berikutnya tiga karya yang lebih signifikan terbit. Salah satunya, A Case of Hysteria, memberikan penjelasan mendetail tentang metode Freud dalam menelusuri sebab-sebab psikologis dari gangguan mental. Three Essays on Sexuality mengedepankan pandangan-pandangan Freud tentang perkembangan insting seks. By many authorities ini dipandang sebagai karya Freud yang paling penting disamping The Interpretation of Dreams. Apakah orang setuju atau tidak dengan penilaian ini—penulis tidak menyepakatinya—Three Essays membuat Freud mendapatkan reputasi unwarranted sebagai seorang pan-sexualist. Volume ketiga, Wit and Its Relation to the Unconsious, memperlihatkan bagaimana banyolan yang diceritakan orang merupakan produk dari mekanisme bawah sadar. Meski, selama beberapa tahun, Freud bekerja sebagian besar dalam isolasinya dari dunia medis dan ilmiah, tulisan-tulisannya dan kesuksesan metode psikoanalitisnya dalam menangani pasien-pasien neurotik membuat namanya menarik perhatian sekelompok kecil orang. Diantara mereka ini adalah Carl Jung dan Alfred Adler, yang keduanya belakangan menarik dukungannya atas psikoanalisis dan mengembangkan mazhab tandingannya. Namun mereka berdua merupakan pengikut penting Freud di tahun-tahun sebelum Perang Dunia Pertama dan membantu mengukuhkan psikoanalisis sebagai suatu gerakan internasional. Di 1909, Freud menerima pengakuan akademis pertamanya ketika diundang berbicara pada hari peringatan 20 tahun pendirian Clark University di Worcester, Massachusetts. Stanley Hall, Presiden Clark University, dan dia sendiri adalah seorang psikolog terkemuka, mengakui arti penting kontribusi Freud pada psikologi dan membantu mempromosikan pandangan-pandangannya di Amerika Serikat. Semakin hari semakin banyak pengakuan bagi Freud, dan setelah Perang Dunia Pertama namanya dikenal jutaan orang di seluruh dunia. Psikoanalisis was the rage, dan pengaruhnya dirasakan hampir di semua relung teater kehidupan. Sastra, seni, agama, kebiasaan sosial, moral, etika, pendidikan, dan ilmu sosial—semuanya merasakan dampak psikologi Freudian. Pada waktu itu dipandang gaul untuk dipsikoanalisis dan jika menggunakan kata-kata semisal bawah sadar, dorongandorongan yang direpresi, larangan, kompleks-kompleks, dan fiksasi dalam percakapan sehari-hari. Kebanyakan minat populer dalam psikoanalisis dikarenakan asosiasinya dengan seks. Sepanjang hidupnya Freud terus menulis. Hampir tak pernah satu tahun berlalu tanpa menerbitkan sedikitnya satu buku atau artikel penting. Kumpulan tulisannya, dalam edisi Bahasa Inggris Standar, terkumpul 24 volume. Freud diperkatakan sebagai seorang master penulisan prosa. Dia memiliki begitu banyak ekspresi yang tak bisa ditandingi para penulis ilmiah. Meski tanpa berkesan mendikte kepada para pembacanya, dia berhasil menyampaikan gagasan-gagasannya dengan cara yang hidup, menarik dan jernih. Freud tidak pernah merasa karyanya selesai. Sewaktu bukti baru muncul dari para pasien dan koleganya, dia merevisi teori-teori dasarnya. Di tahun 1920an, misalnya,

ketika Freud berusia 70, dia sepenuhnya mengubah sejumlah pandangan-pandangan mendasarnya. Dia mengubah teorinya tentang motivasi, sepenuhnya membalikkan teorinya tentang kecemasan, dan membentuk model personalitas baru yang didasarkan atas id, ego, dan superego. Orang tak bisa mendapati fleksibilitas semacam itu pada orang yang berusia 70 tahun. Keengganan untuk berubah sudah merupakan ciri bagi orang yang sudah tua. Tapi Freud tidak bisa dinilai melalui standar yang biasa. Dia sudah belajar di awal-awal kehidupannya bahwa konformitas ilmiah berarti kelemahan intelektual. III. What was Freud? What was Freud? Atas dasar profesinya dia adalah seorang dokter. Dia merawat orang sakit dengan metode yang telah dia ciptakan sendiri. Di masa ini dia mungkin akan disebut sebagai seorang psikiater. Psikiatri adalah cabang kedokteran yang merawat penyakit-penyakit dan keabnormalan-keabnormalan mental. Freud adalah salah seorang pendiri psikiatri modern. Meski dia dia menafkahi hidupnya dengan berpraktek pengobatan, Freud bukanlah seorang dokter medis karena pilihan. Di tahun 1927 dia mengaku bahwa “setelah 41 tahun dari aktivitas medisnya, diri saya mengatakan saya tidak pernah benar-benar menjadi seorang dokter dalam artian yang sesungguhnya. Saya menjadi dokter karena merasa diharuskan untuk berbelok dari tujuan saya sesungguhnya.” Apakah tujuan sesungguhnya ini? Adalah untuk memahami sebagian teka-teki alam dan berkontribusi dalam memberikan solusinya.
Cara yang paling berpengharapan dalam mencapai tujuan ini tampaknya saya harus masuk fakultas kedokteran; tapi bahkan pada masa itu pun saya bereksperimen—dan gagal—dengan zoologi dan ilmu kimia, sampai pada akhirnya, dibawah pengaruh Brücke, yang lebih besar daripada pengaruh-pengaruh orang lain dalam hidup saya, saya mendamparkan diri pada psikologi, meski di masa-masa itu disiplin tersebut dengan sempit terlalu terbatas pada histologi.

Freud adalah seorang ilmuwan karena pilihan. Sebagai siswa medis muda dan belakangan dalam koneksi-koneksinya dengan bermacam rumah sakit, dia melakukan studi-studi atas fenomena psikologis. Dia menjadi tahu bagaimana mengumpulkan data melalui observasi seksama, mengkaitkan temuan-temuan dan menarik kesimpulan, dan menguji kesimpulan-kesimpulannya dengan observasi lebih jauh. Meski Freud tidak menghasilkan penemuan yang luar biasa/menonjol sebagai seorang fisiolog, pengalaman awal dalam laboratorium ini memberinya sikap disiplin dalam metode ilmiah. Mengajarkan padanya bagaimana menjadi seorang ilmuwan. Di tahun 1890an, Freud menemukan macam ilmuwan seperti apa yang dia inginkan. Dalam surat kepada seorang teman dia menulis, “adalah psikologi yang telah menjadi tujuan yang diisyaratkan pada saya dari suatu tempat yang antah berantah.” Sepanjang sisa hidupnya, sekitar 40 tahun, Freud adalah seorang psikolog. Apakah hubungan psikologi dengan psikoanalisis? Freud sendiri menjawab pertanyaan ini di tahun 1927: “Psikoanalisis berada di bawah bab psikologi; bukan psikologi medis dalam artian lama, juga bukan psikologi proses-proses morbid, tapi semata-mata psikologi. Ia pastinya bukanlah psikologi dalam keseluruhannya, tapi dalam substruktur dan barangkali seluruh fondasinya.” Freud disini sedang membicarakan psikoanalisis sebagai teori tentang personalitas. Tapi ada sisi lain dalam psikoanalisis. Psikoanalisis juga merupakan suatu metode psikoterapi. Ia memuat teknik-teknik dalam merawat orang yang terganggu secara mental. Bagi Freud, aspek terapeutik dari psikoanalisis adalah sekunder dari aspek teoritis dan ilmiahnya. Dia tidak

ingin terapi menghilangkan keilmuannya. Akanlah bijak, karenanya, untuk membedakan seperti yang kami lakukan dalam Pokok-pokok ini antara psikologi Freudian sebagai suatu sistem teoritis dari psikologi, dan psikoanalisis sebagai suatu metode dari psikoterapi. Dokter, psikiater, ilmuwan, psikolog—Freud memiliki semua predikat itu. Tapi dia juga sesuatu yang lain. Dia adalah seorang filsuf. Kita mendapat kesan tentang ini dalam satu surat yang ditulis untuk seorang teman di tahun 1896. “sebagai seorang muda saya tak merindukan yang lain daripada pengetahuan filosofis, dan saya sekarang berada ditengah jalan dalam memuaskan kerinduan tersebut dengan berpindah dari medis ke psikologi.” Tidaklah luar biasa bagi ilmuwan abad 19 untuk tertarik dengan filsafat. Nyatanya, banyak dari mereka, ilmu pengetahuan adalah filsafat. Bukankah filsafat berarti “cinta akan pengetahuan”? Dan cara yang lebih baik dalam memperlihatkan kecintaan seseorang akan pengetahuan daripada dengan menjadi seorang ilmuwan? Inilah inti dari apa yang dikatakan Goethe kepada setiap intelektual Jerman. Goethe adalah suara yang paling berpengaruh di pemikiran abad 19 dan merupakan idol dari abad tersebut. Dan Freud tidak imun dari pengaruh Goethe itu. Pada kenyataannya, dia memutuskan karir dalam ilmu pengetahuan setelah mendengar esai Goethe yang inspirasional tentang Alam yang dibacakan dalam suatu kuliah umum. Minat filosofis Freud bukanlah seperti minat dari mereka yang merupakan filsuf profesional atau akademis. Filsafatnya adalah sosial dan humanitaria. Ia mengambil bentuk bangunan filsafat-hidup. Bahasa Jerman memiliki satu kata bagi semua ini. Mereka menyebutnya Weltanschauung, yang berarti “pandangan-dunia”. Freud berdiri untuk suatu filsafat-hidup yang didasarkan pada ilmu pengetahuan daripada pada metafisika atau agama. Dia merasa bahwa suatu filsafat-hidup yang layak dimiliki adalah yang didasarkan atas suatu pengetahuan sejati tentang kodrat manusia, pengetahuan yang hanya bisa diperoleh melalui penyelidikan dan riset ilmiah. Freud tidak merasa bahwa psikoanalisis dimaksudkan untuk mengembangkan suatu Weltanschauung baru. Hanyalah perlu untuk meluaskan pandangan-dunia ilmiah pada studi tentang manusia. Filsafat-hidup Freud sendiri bisa diperas dalam satu frase: “pengetahuan melalui ilmu pengetahuan”. Pengetahuan intim akan kodrat manusia yang dimiliki Freud membuatnya sebagai pesimistis sekaligus kritis. He did not have a very high opinion of the bulk of mankind. Dia merasa bahwa daya-daya irasional dalam kodrat manusia amatlah kuat sehingga daya-daya rasionalnya memiliki sedikit kesempatan dalam memenangkan pertarungan melawan mereka. Segelintir orang sajalah yang barangkali mampu menjalani suatu kehidupan yang dilandaskan pada akal, tapi kebanyakan orang lebih nyaman hidup dengan delusi-delusi dan takhyul-takhyul yang mereka miliki daripada hidup penuh dengan kebenaran. Freud telah menyaksikan teramat banyak pasien dengan begitu gigihnya berjuang untuk mempertahankan delusi-delusi mereka. Orang cenderung bertahan dari mengetahui kebenaran tentang diri mereka. Titik pandang pesimistis ini dikembangkan secara paling tuntas dalam bukunya The Future of an Illusion meski mood ini selalu melandasi banyak tulisan-tulisannya. Freud juga adalah seorang kritikus sosial. Dia percaya bahwa masyarakat, yang telah dibentuk manusia, untuk sebagian besarnya mencerminkan irasionalitas yang dimiliki manusia. Sebagai konsekuensinya, tiap-tiap generasi menjadi korup karena dilahirkan ke dalam suatu masyarakat yang irasional. Pengaruh manusia pada masyarakat dan pengaruh masyarakat pada manusia merupakan suatu lingkaran setan, dan hanya segelintir jiwa yang kuat sajalah yang bisa membebaskan diri darinya. Freud merasa bahwa situasi seperti itu harus diperbaiki melalui penerapan [diterapkannya] prinsip-prinsip psikologis dalam mengasuh dan mendidik anak. Tentu

saja Ini berarti bahwa orangtua dan para guru harus menjalani suatu re-edukasi psikologis sebelum mereka bisa menjadi agen efektif dari akal/rasio dan kebenaran. Freud tidaklah menyederhanakan besarnya tugas ini, tapi dia tidak tahu cara lain dalam menciptakan suatu masyarakat yang lebih baik dan menciptakan orang-orang yang lebih baik. Kritik sosial Freud diungkapkan dalam bukunya Civilization and Its Discontents. Kemudian, apakah Freud? Dokter, psikiater, psikoanalis, psikolog, filsuf, dan kritikus—semua ini adalah beberapa bidang garapannya. Akan tetapi, dipandang secara terpisah ataupun sekaligus, semua itu benar-benar tidak mencerminkan arti penting Freud bagi dunia. Meski kata “genius” sudah biasa dipakai untuk memerikan sejumlah orang, tak ada kata tunggal lain yang cocok bagi Freud. Dia memang seorang genius. Orang bisa memilih untuk memandangnya, seperti yang saya lakukan, sebagai salah satu dari segelintir orang dalam sejarah yang memiliki pikiran universal. Seperti Shakespeare dan Goethe dan Leonardo da Vinci, apapun yang disentuh Freud berubah jadi emas. He was a very wise man.

Bab II The Organization of Personality
Keseluruhan personalitas Freud terdiri dari tiga sistem besar. Semuanya itu disebut id, ego, dan superego. Dalam diri orang yang sehat secara mental ketiga sistem ini membentuk suatu organisasi yang padu dan harmonis. Dengan bekerja bersama secara kooperatif, ketiganya memampukan individu untuk menjalankan transaksitransaksi yang memuaskan dan efisien dengan lingkungannya. Tujuan transaksitransaksi ini adalah pemenuhan kebutuhan dan hasrat dasariah manusia. Sebaliknya, jika ketiga sistem personalitas ini berlawanan satu sama lain, orang tersebut akan dikatakan sebagai maladjusted. Dia akan tidak puas dengan dirinya dan [tidak puas] dengan dunia, dan efisiensi yang dimilikinya mengalami reduksi. I. Id Fungsi id satu-satunya adalah memberikan pelepasan dengan segera kuantitaskuantitas dari excitation (energi atau ketegangan) yang dikeluarkan dalam organisme melalui stimulasi/rangsangan internal atau eksternal. Fungsi id ini memenuhi prinsip primordial dari hidup yang Freud sebut sebagai prinsip kenikmatan [pleasure]. Tujuan dari prinsip kenikmatan adalah membebaskan orang dari ketegangan, atau, jika hal ini tidak mungkin dilakukan—seperti yang biasanya terjadi—mereduksi jumlah ketegangan pada tingkat yang rendah dan mempertahankannya dalam kondisi tersebut sekonstan mungkin. Ketegangan dialami dan dimaknai sebagai rasa sakit atau ketaknyamanan, sementara keterbebasan dari ketegangan dialami sebagai kenikmatan atau kepuasan. Sasaran prinsip kenikmatan karenanya bisa dikatakan terdiri dari penghindaran rasa sakit dan pencarian kenikmatan. Prinsip kenikmatan merupakan kasus khusus kecenderungan universal yang ditemukan dalam semua makhluk hidup dalam mempertahankan kekonstanannya ketika berhadapan dengan gangguan-gangguan eksternal maupun internal. Dalam bentuknya yang paling awal, id merupakan suatu aparatus refleks yang dengan serta merta melakukan tindakan pelepasan melalui jalur-jalur motoris ketika excitation-excitation indrawi mengalami ketegangan. Demikianlah ketika sinar yang teramat kuat mengenai retina mata, kelopak mata menutup dan gangguan itu terbendung. Sebagai akibatnya, excitation-excitation yang dihasilkan dalam sistem syaraf oleh cahaya diredakan dan organisme tersebut kembali berada dalam keadaan yang tenang. Organisme dilengkapi dengan banyak refleks-refleks semacam itu, begitulah mereka diistilahkan, yang melayani tujuan untuk secara otomatis membuang setiap energi ragawi yang dilepaskan melalui suatu pemicu [trigger], stimulus, yang bersentuhan dengan organ indra. Akibat tipikal dari pelepasan motoris ini adalah membuang atau menghilangkan stimulus tersebut. Bersin, sebagai contoh, bisanya mengenyahkan material apapun yang mengganggu saluran hidung yang sensitif, dan membasahi mata demi membuang partikel-partikel asing. Stimulus bisa datang dari dalam tubuh sebagaimana pula dari dunia luar. Satu contoh stimulus internal adalah refleks membuka katup dalam usus besar jika tekanan didalamnya mencapai intensitas tertentu. Excitation [ketegangan] yang dihasilkan oleh tekanan tersebut dihilangkan dengan cara mengosongkan isi yang ada di kantong pencernaan melalui katup yang terbuka itu. Jika semua ketegangan yang ada dalam organisme bisa dibuang melalui tindakantindakan refleks, tidak akan adalah kebutuhan bagi suatu pengembangan disiplin psikologi yang melampaui subjek tentang aparatus refleks-refleks yang primitif semacam itu. Akan tetapi hal itu bukan kasus di sini. Banyak ketegangan berlangsung dalam organisme yang untuk semua ketegangan itu tak ada aparatus refleks yang sesuai

untuk membuangnya. Sebagai misal, ketika kontraksi-kontraksi akibat rasa lapar muncul dalam perut seorang bayi, kontraksi-kontraksi ini tidaklah secara otomatis mendatangkan makanan. Sebagai gantinya kontraksi-kontraksi itu memunculkan rasa resah dan tangisan. Kecuali si bayi diberi makan, kontraksi-kontraksi itu akan semakin intens sampai semua itu hilang karena rasa lelah. Tentu saja pada waktunya si bayi akan mati karena kelaparan. Bayi yang lapar itu tidaklah diperlengkapi dengan refleks-reflek yang dapat menghilangkan rasa lapar yang dialaminya, dan jika bukan karena intervensi dari orang lain yang membawakannya makanan, si bayi akan meninggal. Ketika makanan dalam bentuknya yang pas dimasukkan ke dalam mulut si bayi, refleks-refleks menyedot, menelan dan mencerna melangsungkan diri dan hilanglah ketegangan-ketegangan akibat rasa lapar itu. Tak akanlah ada perkembangan psikologis jika setiap kali bayi mulai merasakan ketegangan dari rasa lapar ia dengan serta merta mengenyangkan diri dan jika semua excitation lainnya yang muncul dalam tubuh dapat dihilangkan dengan cara serupa melalui upaya-upaya kooperatif antara perawatan parental dengan refleks-refleks bawaan lahir. Akan tetapi, in spite of the solicitude of parents, orang tua tampaknya tidak dapat mengantisipasi dan secara cepat memuaskan semua kebutuhan-kebutuhan si bayi. Dalam kenyataannya, dengan menggunakan penjadwalan-penjadwalan dan institusi pelatihan dan disiplin, tindakan-tindakan para orang tua dalam mereduksi ketegangan-ketegangan ternyata menghasilkan ketegangan-ketegangan yang lain. Si bayi tanpa dapat menghindarkannya mengalami semacam rasa frustrasi dan ketaknyamanan. Pengalaman-pengalaman ini merangsang perkembangan id. Perkembangan baru yang berlangsung dalam id sebagai hasil dari rasa frustrasi ini disebut proses primer. Dalam upaya memahami kodrat proses primer ini, perlulah untuk membahas beberapa kemungkinan-pemungkinan psikologis dalam manusia. Aparatus psikologis has a sensory end and motor end. Saluran indrawi terdiri dari organorgan indra, yang memiliki struktur-struktur yang dikhususkan dalam menerima stimuli, dan saluran-motor terdiri dari otot-otot, yang merupakan organ-organ aksi dan gerak. Untuk terjadinya tindakan refleks hanyalah perlu memiliki organ-organ indra dan otot serta sistem syaraf yang memperantarainya yang mengirimkan pesan dalam bentuk impuls-impuls syarafiah dari saluran-indrawi ke saluran-motoris. Di samping sistem indrawi dan sistem motoris, individu memiliki suatu sistem perseptual dan sistem memori. Sistem perseptual menerima excitation-excitation dari organ-organ indra dan membentuk suatu gambaran mental atau representasi dari objek yang dihadirkan pada organ-organ indra ini. Gambaran mental ini disimpan sebagai jejak-jejak ingatan dalam sistem memori. Ketika jejak-jejak ingatan itu diaktivasi, orang tersebut dikatakan memiliki citra-memori akan objek tersebut yang sebelumnya telah dia persepsi. Masa lalu dibawa ke masa sekarang melalui citra-citra memori ini. Persepsi adalah suatu representasi mental dari suatu objek, sementara citra-memori merupakan suatu representasi mental dari suatu persepsi. Ketika kita memandangi sesuatu yang ada di dunia, persepsi terbentuk; jika kita ingat akan apa yang suatu waktu pernah kita lihat, citra-memori terbentuk. Sekarang mari kita kembali pada kasus si bayi yang kelaparan. Di masa yang telah lalu, kapanpun si bayi merasa lapar, ia selalu pada akhirnya diberi makan. Selama pemberian makan itu, si bayi melihat, mencecap, mencium dan merasakan makanan, dan persepsi-persepsi ini disimpan dalam sistem memorinya. Melalui repetisi, makanan menjadi diasosiasikan dengan pengurangan-ketegangan. Karenanya jika si bayi tidak dengan segera diberi makan, ketegangan dari rasa lapar menghasilkan suatu citra memori akan makanan yang telah diasosiasikan dengan rasa lapar tersebut. Demikianlah, dalam id terdapat citra akan suatu objek yang mampu menghilangkan atau

mengurangi ketegangan dari rasa lapar. Proses yang menghasilkan suatu citra memori akan suatu objek yang diperlukan dalam mereduksi [mengurangi] ketegangan disebut proses primer. Proses primer berupaya membuang ketegangan dengan membuat apa yang disebut Freud sebagai “an identity of perception.” Melalui an identity of perception maksud Freud adalah bahwa id memandang citra-memori sebagai identik dengan persepsi itu sendiri. Bagi id, ingatan akan makanan setepatnya sama dengan memakan makanan tersebut. Dengan kata lain, id gagal [tidak bisa] untuk membedakan antara citra ingatan subjektif dengan persepsi atas objek real yang objektif. Ilustrasi gampang dari kegiatan dalam proses primer ini adalah pengelana kehausan yang berimajinasi melihat air. Contoh lain dari proses primer ini adalah mimpi buruk/menakutkan. Suatu mimpi adalah suksesi citra-citra, biasanya visual dalam kualitasnya, yang fungsinya untuk mereduksi ketegangan dengan menghidupkan kembali ingatan-ingatan akan peristiwa-peristiwa yang telah lalu dan objek-objek dari masa lalu yang sedemikian rupa diasosiasikan dengan pemuasan kebutuhan. Orang tidur yang mengalami rasa lapar memimpikan makanan dan hal-hal yang diasosiasikan dengan kegiatan makan, sementara dia yang terangsang secara seksual akan memimpikan kegiatan-kegiatan seksual dan kejadian-kejadian terkait. Pembentukan citra dari suatu objek yang [berkemungkinan dalam] mereduksi ketegangan disebut wish-fulfillment. Freud percaya bahwa semua mimpi merupakan wish-fulfillments atau pengupayaan wish-fulfillment. Kita bermimpi tentang apa yang kita inginkan. Sudah jelas bahwa orang yang lapar tidak dapat memakan citra-citra makanan juga tidak dapat seorang yang haus menghilangkan rasa hausnya dengan meminum air imajiner. Dalam kasus orang bermimpi, Freud memandang bahwa memimpikan objekobjek dan peristiwa-peristiwa yang diingini adalah demi maksud menghindarkan orang yang sedang tidur itu agar tidak terjaga. Bahkan dalam kehidupan terjaga, proses primer tidak sepenuhnya berhenti beroperasi, semenjak adalah perlu untuk mengetahui—yaitu memiliki suatu citra akan—apa yang orang butuhkan sebelum dia dapat memutuskan untuk mendapatkannya. Orang lapar yang memiliki representasi mental akan makanan tidaklah berada dalam posisi yang lebih baik dalam memuaskan rasa laparnya daripada orang yang tidak tahu apa yang dia cari. Jika bukan karena proses primer, orang hanya bisa memuaskan kebutuhan-kebutuhannya melalui tindakan trial-and-error yang serampangan. Karena proses primer itu pada dirinya sendiri tidak menghilangkan ketegangan secara efektif, proses sekunder kemudian dikembangkan. Tapi proses sekunder ini termasuk pada ego, karenanya kita akan menangguhkan pembahasan tentang hal ini di bagian selanjutnya. Freud mengatakan hal lainnya tentang id. Id adalah sumber utama energi psikis dan tempat bermukimnya insting-insting. (Untuk diskusi tentang energi dan insting, lihat Bab 3, “The Dynamics of Personality.”) Id berhubungan lebih dekat dengan tubuh beserta proses-prosesnya daripada dengan dunia eksternal. Id tidak memiliki organisasi [kata benda dari organize] sebagaimana dibandingkan dengan ego dan super ego. Energi yang dimilikinya berada dalam keadaan yang mobil agar energi itu bisa dibuang atau dipindahkan dari satu objek ke objek yang lain. Id tidaklah berubah seiring waktu; ia tidak bisa dimodifisir melalui pengalaman karena ia tidak melakukan kontak dengan dunia eksternal. Akan tetapi ia bisa dikontrol dan diatur oleh ego. Id tidaklah diatur melalui hukum-hukum rasio atau logika, dan ia tidak memiliki nilai-nilai, etika, atau moralitas. Ia diarahkan hanya oleh satu pertimbangan, untuk meraih pemuasan bagi kebutuhan-kebutuhan instingtual yang selaras dengan prinsip kenikmatan. Hanya ada dua isu yang mungkin bagi setiap proses id. Ia akan dilepaskan dalam tindakan atau wish-fulfillment, atau ia akan tunduk pada pengaruh ego, yang dalam kasus ini energi tersebut menjadi terkerangkeng alih-alih dibuang dengan segera.

Freud membahas id sebagai realitas psikis sejati. Dengan hal ini maksudnya adalah bahwa id merupakan realitas subjektif primer, dunia batiniah yang ada sebelum individu mengalami dunia eksternal. Tidak hanya insting-insting dan refleks-refleks bawaan lahir, tapi citra-citra yang dimunculkan oleh keadaan-keadaan penuh ketegangan bisa juga bersifat batiniah. Ini artinya bahwa seorang bayi yang lapar bisa memiliki suatu citra akan makanan tanpa harus belajar untuk mengasosiasikan makanan dengan rasa lapar. Freud percaya bahwa pengalaman yang diulang dengan kekerapan yang tinggi dan intens dalam diri orang dari beberapa generasi berturut-turut menjadi endapan permanen [permanent deposits] dalam id. Endapan-endapan baru dibuat dalam id selama hidup seseorang sebagai hasil dari mekanisme represi. (Represi dibahas dalam bab 4, “The Development of Personality.”) Id tidak hanya arkaik dari titik pandang sejarah ras, tapi ia juga arkaik dalam kehidupan seorang individu. Ia merupakan fondasi diatas mana personalitas dibangun. Id mempertahankan karakter infantil sepanjang hidupnya. Ia tidak bisa mentolelir ketegangan. Ia menginginkan pemuasan serta-merta. Ia menuntut, impulsif, irasional, asosial, mementingkan kepentingan diri, dan cinta akan kenikmatan. Ia merupakan bagian personalitas yang amat manja. Ia bisa melakukan apapun [omnipotent] karena ia memiliki kekuatan sihiriah yaitu memuaskan segenap keinginannya melalui imajinasi, fantasi, halusinasi, dan mimpi. Ia disamakan dengan oseanik, karena seperti laut, dia memuat segala hal. Ia pada dirinya sendiri tidak mengenal apapun yang eksternal. Id merupakan dunia dari realitas subjektif yang didalamnya pengejaran akan kenikmatan dan penghindaran rasa sakit merupakan satu-satunya fungsi yang diperhitungkan. Freud mengakui bahwa id merupakan bagian personalitas yang tak bisa diakses dan amat gelap, dan semua yang telah didapat melalui studi atas mimpi dan gejalagejala neurotik, hanyalah secuil bagian dari id. Akan tetapi, kita bisa melihat id sedang bekerja kapanpun seseorang melakukan sesuatu yang impulsif. Misalnya seseorang who acts on an impulse untuk melemparkan batu dari jendela atau memukul muka orang lain atau melakukan pemerkosaan berada dibawah dominasi id. Serupa itu pula, orang yang menghabiskan banyak waktu dengan bermimpi dan membangun kastil di langit, dia sedang dikontrol oleh id-nya. Id tidak berpikir. Ia hanya meng-ingin atau bertindak. II. The Ego Dua proses melalui mana id melepaskan/menghilangkan ketegangan, yaitu, aktivitas motor impulsif dan pembentukan citra (wish-fulfilment), tidaklah mencukupi dalam meraih tujuan-tujuan revolusioner dari reproduksi dan survival. Refleks-refleks maupun keinginan-keinginan tidaklah akan memberikan makanan bagi orang yang lapar juga tidak akan memberikan lawan jenis bagi orang yang terangsang secara seksual. Pada kenyataannya, prilaku impulsif bisa menghasilkan meningkatnya ketegangan (rasa sakit) dengan memunculkan hukuman yang datang dari dunia eksternal. Kecuali dia memiliki pengasuh yang permanen, seperti yang dia punyai ketika masa kanak, manusia harus mencari dan mendapatkan makanan, pasangan seks, dan banyak objek-tujuan lainnya yang diperlukan dalam hidup. Untuk mencapai misi-misi ini perlulah baginya untuk memperhitungkan realitas eksternal (lingkungan) dan, baik dengan cara menyesuaikan diri dengan dunia atau dengan menaklukan dunia, mendapatkan dari dunia itu apa yang dia butuhkan. Transaksi-transaksi antara orang dengan dunia mensyaratkan dibentuknya suatu sistem psikologis baru, ego. In the well-adjusted person, ego merupakan aparatus eksekutif dari personalitas, mengatur dan mengontrol id dan superego dan membangun hubungan dengan dunia luar demi kepentingan keseluruhan personalitas beserta kebutuhan-kebutuhan jangka panjangnya. Ketika ego melakukan fungsi-fungsi eksekutifnya dengan bijak, harmoni

dan persesuaian [dengan dunia] terbangun. Jika ego terlalu mengabdi dan tunduk pada kekuatan id, pada superego, atau pada dunia ekxternal, yang muncul adalah disharmoni dan maladjustment. Alih-alih prinsip kenikmatan, ego diatur oleh prinsip realitas. Realitas artinya segala sesuatu yang ada. Tujuan dari prinsip realitas adalah untuk menangguhkan pelepasan energi sampai objek aktual yang dapat memuaskan kebutuhan telah ditemukan atau dihasilkan. Sebagai contoh, si bayi haruslah belajar untuk tidak memasukkan segala benda kedalam mulutnya sewaktu lapar. Dia harus belajar mengenali makanan, dan harus menangguhkannya sampai dia berhasil menemukan objek-objek yang bisa dicerna. Jika tidak, dia akan mengalami berbagai pengalaman yang menyakitkan. Penangguhan tindakan berarti bahwa ego harus mampu mentolelir tensi [ketegangan] sampai ketegangan itu bisa dilepaskan melalui bentuk prilaku yang sesuai. The institution of the reality principle tidaklah berarti bahwa prinsip kenikmatan ditinggalkan. Prinsip itu hanya secara temporer ditangguhkan demi kepentingan prinsip realitas. Pada akhirnya, prinsip realitas membawa pada kenikmatan, meski orang harus mengalami beberapa ketaknyamanan sewaktu dia mencarinya dalam realitas. Prinsip realitas dijalankan melalui suatu proses yang Freud sebut sebagai proses sekunder, karena proses ini dikembangkan setelah dan diatas proses-proses primer dari id. Untuk memahami apa yang dimaksud dengan proses sekunder, perlulah untuk mengetahui sejauh mana proses primer memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang dimiliki individu. Ia memuaskan kebutuhan hanya sampai pada titik ketika si individu memiliki suatu gambaran dari objek yang akan memuaskan kebutuhannya. Langkah selanjutnya adalah menemukan atau membuat objek tersebut, yaitu, to bring it into existence. Langkah ini dicapai melalui proses sekunder. Proses sekunder terdiri dari menemukan atau membuat realitas melalui suatu rencana tindakan yang telah dikembangkan melalui pemikiran dan rasio (kognisi). Proses sekunder tak lebih dan tak kurang dari apa yang biasa diistilahkan dengan berpikir atau pemecahan masalah. Ketika orang menjalankan suatu rencana tindakan demi melihat apakah rencana itu akan berjalan baik atau tidak, dia dikatakan sedang terlibat dalam reality testing. Jika tes itu tidak bekerja, artinya, jika objek yang diinginkan tidak ditemukan, rancangan tindakan baru dibuat/dibagankan dan diuji kembali. Ini terus berlanjut sampai solusi yang korek (realitas) ditemukan dan ketegangan dilepaskan melalui aksi yang pas. Dalam kasus rasa lapar, tindakan yang pas itu akanlah terdiri dari memakan makanan. Proses sekunder sanggup mencapai apa yang tak bisa dilakukan proses primer, yaitu, untuk memisahkan dunia subjektif pikiran dari dunia objektif realitas fisis. Proses sekunder tidaklah membuat kesalahan, seperti yang dilakukan proses primer, dalam memahami citra dari suatu objek seolah-olah citra tersebut adalah objek itu sendiri. The inauguration of the reality priciple, pemungsian proses sekunder, dan peran yang lebih signifikan bahwa dunia eksternal ikut memainkan peran dalam kehidupan seseorang, merangsang pertumbuhan dan elaboration of the psychological processes of perception, memory, thinking, and action. Sistem perseptual mengembangkan daya-daya pembedaan [diskriminasi] yang lebih halus sehingga dunia eksternal dipersepsi dengan akurasi dan presisi yang lebih tinggi. Ia belajar untuk memindai dunia dengan lebih cepat dan memilih dari berbagai stimuli hanya bagian-bagian lingkungan yang relevan dengan permasalahan yang hendak dipecahkan. Disamping informasi yang diperoleh melalui organ-organ pengindraan, pemikiran mempergunakan informasi yang telah disimpan dalam sistem memory. Memori ditingkatkan [diperbaiki] melalui pembentukan asosiasi-asosiasi antara jejak-jejak memori, dan melalui pengembangan suatu sistem notasi: bahasa. Penilaian seseorang menjadi lebih tajam, sehinggal lebih mudahlah untuk membuat putusan-

putusan clear-cut perihal apakah sesuatu itu betul [true] (actually exists) atau apakah sesuatu itu salah (does not exists). Rangkaian perubahan penting lainnya berlangsung dalam sistem motorik. Dia belajar untuk menangani otot-ototnya lebih cakap dan sanggup melakukan pola-pola gerakan yang lebih kompleks. All in all, adaptasi-adaptasi dalam fungsi-fungsi psikologis memampukan orang untuk berprilaku lebih intelejen dan lebih efisien dan untuk menguasai impuls-impulsnya dan lingkungannya demi kepentingan kepuasan dan rasa nikmat yang lebih tinggi. Ego bisa dipandang sebagai suatu organisasi kompleks dari proses-proses psikologis yang bertindak sebagai perantara antara id dan dunia eksternal. Disamping proses-proses yang melayani realitas, terdapat satu fungsi ego yang mirip dengan proses primer dari id. Ini adalah fungsi yang menghasilkan fantasi dan mimpi. Fungsi ini bebas dari tuntutan-tuntutan pengujian realitas dan tunduk pada prinsip kenikmatan. Akan tetapi, proses ego ini berbeda dari proses primer karena ia membedakan antara fantasi dengan realitas, yang hal itu bukan merupakan kasus dalam proses primer. Fantasi yang dihasilkan ego ini dikenali sebagai mana adanya, yaitu, sebagai main-main dan kegiatan berkhayal yang mendatangkan kenikmatan. Meski semua fantasi itu tidak pernah disalahartikan sebagai realitas, mereka memberikan “hari libur” dari kegiatan-kegiatan ego lain yang lebih serius. Meski ego sebagian besarnya merupakan produk dari interaksi orang dengan lingkungan, garis-garis perkembangannya ditentukan oleh garis keturunan dan dipandu oleh proses-proses pertumbuhan natural (maturation). Ini berarti bahwa setiap orang memiliki potensialitas-potensialitas-bawaan-lahir untuk berpikir dan bernalar. Realisasi dari potensialitas-potensialitas ini dicapai melalui pengalaman, pelatihan dan pendidikan. Semua pendidikan formal, misalnya, memiliki tujuan utamanya dalam mengajar orang bagaimana berpikir lebih efektif. Berpikir efektif terdiri dari sanggup sampai pada kebenaran, kebenaran yang didefinisikan sebagai sesuatu yang mengada. III. Superego Institusi ketiga dari personalitas, superego, merupakan cabang moral atau judisial dari personalitas. Ia merepresentasikan ideal alih-alih hal-hal yang real, dan ia memperjuangkan kesempurnaan alih-alih untuk kenikmatan ataupun demi realitas. Superego adalah kode moral seseorang. Ia terbentuk sebagai konseksuensi dari asosiasi si anak pada standar-standar yang dimiliki orang tuanya perihal apa yang baik dan saleh dan apa yang buruk dan berdosa. Dengan mengasimilasikan otoritas moral orangtuanya, si anak mengganti otoritas yang dimiliki orang tua dengan otoritas batiniahnya sendiri. Internalisasi otoritas parental ini membuat si anak mampu mengontrol perilakunya segaris dengan keinginan-keinginan orangtua, dan dengan melakukan hal itu sekaligus pula mengukuhkan approval mereka dan menjauhkan ketaksenangan mereka. Dengan kata lain, si anak menjadi tahu bahwa dia tidak hanya harus mematuhi prinsip realitas untuk mendapatkan kesenangan dan menghindarkan rasa sakit, tapi bahwa dia juga harus berusaha berprilaku selaras dengan dikteandiktean moral dari orang tuanya. Panjangnya periode ketergantungan yang dialami si anak terhadap orang tuanya membantu pembentukan superego ini. Superego terdiri dari dua subsistem, ego-ideal dan nurani [conscience]. Ego-ideal berhubungan dengan konsepsi-konsepsi yang dipunyai anak perihal apa yang oleh orangtuanya dianggap baik secara moral. Orang tua menyampaikan standar-standar kebajikan mereka kepada si anak melalui pemberian ganjaran atas tindakan-tindakan yang selaras dengan standar-standar ini. Sebagai contoh, jika si anak secara konsisten diganjar karena bersih dan rapi maka kebersihan dan kerapian pantas menjadi salah satu dari ideal yang dimiliki si anak. Nurani, dilain pihak, berhubungan dengan konsepsikonsepsi yang dimiliki si anak tentang apa yang orang tua rasakan sebagai buruk

secara moral, dan semua ini dkukuhkan melalui pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan hukuman. Jika dia kerap dihukum karena kotor, maka kotor dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Ego-ideal dan nurani merupakan sisi yang berlawanan dari mata uang yang sama. Ganjaran dan hukuman apakah yang dipakai orangtua dalam mengontrol pembentukan superego? Ada dua macam, fisik dan psikologis. Ganjaran fisik terdiri dari objek-objek yang diinginkan anak. Objek-objek itu seperti misalnya makanan, mainan, ibu, ayah, belaian, dan permen. Hukuman fisik adalah tindakan-tindakan menyakitkan pada tubuh anak seperti misalnya spankings dan diambilnya hal-hal yang diinginkan si anak. Ganjaran psikologis yang pokok adalah ganjaran berupa persetujuan parental yang diungkapkan melalui kata-kata ataupun melalui ekspresi fasial. Persetujuan semacam itu merepresentasikan cinta. Dengan cara yang sama, menyurutnya cinta merupakan bentuk utama dari hukuman psikologis. Ini diekspresikan melalui hardikan verbal atau tatapan yang tak setuju*. Tentu saja ganjaran dan hukuman fisik juga bisa berarti cinta atau surutnya** cinta bagi si anak. Anak yang menerima spanking tidak hanya terluka tapi dia juga akan merasa bahwa orang tuanya sudah membuangnya, yaitu, menyurutkan cintanya. Akan tetapi mengalirnya dan menyurutnya cinta [afeksi] mempunyai sumber kekuatannya atas anak terutama karena kaitannya dengan pemuasan atau ketakpuasan atas kebutuhan-kebutuhan dasar. Seorang anak menginginkan cinta kasih ibunya karena dia sudah tahu [belajar] bahwa ibu yang tak mencinta suka lamban dalam memberi makan dan karenanya memperpanjang kondisi penuh ketegangan yang menyakitkan. Serupa itu pula, seorang anak berusaha keras untuk tidak membuat ayahnya tidak setuju [disapproval] karena dia tahu bahwa seorang ayah yang tak setuju bisa membuat kesakitan dengan men-spankingnya. In the final analysis, ganjaran dan hukuman, darimanapun sumbernya, merupakan kondisi-kondisi yang menghilangkan atau meningkatkan ketegangan batiniah. Agar superego memiliki kontrol yang sama atas diri si anak seperti halnya yang dimiliki oleh orang tua, perlu bagi superego untuk memiliki kekuatan dalam memaksakan aturan-aturan moralnya. Seperti orang tua, superego memaksakan aturan-aturan moralnya melalui ganjaran dan hukuman. Ganjaran dan hukuman ini diarahkan kepada ego karena ego, berkat kontrolnya atas aksi-aksi seseorang, dipandang bertanggungjawab atas berlangsungnya tindak-tindak moral dan immoral. Jika suatu tindakan selaras dengan standar-standar etis dari superego, ego diberi ganjaran. Akan tetapi tidaklah perlu bagi ego untuk melakukan suatu aksi fisik aktual melulu agar dirinya diganjar atau dihukum oleh superego. Ego bisa saja diganjar atau diberi hukuman semata-mata karena memikirkan melakukan sesuatu. Di mata superego, suatu pikiran sama dengan perbuatan. Dalam hal ini superego mirip dengan id, yang juga tidak membuat perbedaan antara subjektif dengan objektif. Ini menjelaskan kenapa orang yang menjalani hidup penuh kebajikan mengalami banyak serangan dari nuraninya. Superego menghukum ego karena memikirkan pikiran-pikiran buruk meski pikiranpikiran itu tidak pernah dinyatakan dalam perbuatan. Ganjaran dan hukuman apakah yang tersedia bagi superego? Bisa fisik atau psikologis. Superego bisa berkata, in effect, kepada seseorang yang segaris dengan jalan kebenaran, “Sekarang kamu sudah lama telah berlaku baik, kamu akan diberi kesempatan untuk menyenangkan diri.” Ini bisa berupa makan di restoran yang mahal, istirahat yang panjang, atau pemuasan seksual. Liburan, sebagai contohnya, biasanya dipandang sebagai ganjaran bagi kerja keras. Kepada para pelanggar moral superego mungkin bisa berkata, in effect, “Sekarang kamu sudah berbuat jahat, kamu akan dihukum berupa pengalaman-pengalaman yang
* **

Disapproving looks. withrawal

tak menyenangkan yang akan menimpa dirimu.” Kesialan-kesialan itu mungkin saja berupa sakit perut, luka, atau hilangnya barang-barang yang amat penting. Adalah pandangan Freud terhadap proses-proses personalitas yang halus dan njlimet inilah yang menyingkapkan alasan penting kenapa orang jatuh sakit, mengalami kecelakaan, dan kehilangan benda-benda. Semua kesialan itu sedikit-banyak bisa melibatkan tindakan menghukum-diri karena telah melakukan sesuatu yang salah. Contoh dari ini adalah seorang pemuda yang menabrakkan mobilnya tak lama setelah dia melakukan hubungan seksual dengan seorang gadis. Tentu saja, orang tidak menyadari kaitan antara memiliki perasaan bersalah dengan mengalami kecelakaan. Ganjaran dan hukuman psikologis yang dilakukan superego merupakan rasaperasaan pride [bangga] dan perasaan bersalah atau inferioritas. Ego menjadi lega karena bangga ketika dia telah berlaku saleh atau membayangkan pikiran-pikiran yang saleh, dan ia merasa malu akan dirinya sendiri ketika dia takluk pada godaan. Bangga adalah ekuivalen dengan cinta-diri, dan rasa-bersalah atau inferioritas dengan benci-diri; semua itu merupakan representasi-representasi batiniah dari cinta dan penolakan parental. Superego merupakan representatif nilai-nilai dan ideal-ideal tradisional masyarakat dalam personalitas yang diwariskan dari orang tua kepada anak. Dalam kaitan ini haruslah diingat bahwa superego yang dimiliki anak bukanlah refleksi dari tindak-tanduk orang tua tapi lebih merupakan superego yang dimiliki para orangtua. Seorang dewasa mungkin mengatakan suatu hal dan melakukan hal lain, tapi adalah apa yang dia katakan, yang didukung oleh ancaman atau ganjaran, yang penting dalam pembentukan superego si anak. Para guru, pendeta, polisi—sebenarnya setiap orang yang posisinya memiliki otoritas atas anak—bisa menempati peran orang tua. Reaksi-reaksi anak pada figur-figur otoritas ini sebagian besar ditentukan oleh apa yang telah dia asimilasikan sebelumnya dari orang tua. Apa tujuan dari superego? Utamanya dia melayani tujuan-tujuan mengontrol dan mengatur impuls-impuls yang ekspresi-ekspresinya—jika tak dikontrol—akan mebahayakan stabilitas masyarakat. Impuls-impuls ini adalah seks dan agresi. Anak yang tak patuh, memberontak, atau curious secara seksual dipandang sebagai buruk dan tak bermoral. Orang dewasa yang secara seksual promiscious [dengan siapa saja; tak pilih-pilih] atau yang melanggar aturan/hukum dan yang pada umumnya desktruktif dan antisosial dipandang sebagai orang yang jahat. Superego, dengan menerakan pembatasan-pembatasan batiniah atas anarki dan lawlessness, membuat orang mampu untuk menjadi anggota masyarakat yang patuh akan hukum. Jika id dipandang sebagai produk evolusi dan representatif psikologis dari pewarisan biologis*, ego merupakan hasil dari interaksi orang dengan realitas objektif dan wilayah dari proses-proses mental yang lebih tinggi, maka superego bisa disebut sebagai produk dari sosialisasi dan sarana bagi tradisi kultural. Pembaca haruslah ingat bahwa tak ada batasan-batasan yang tegas antara ketiga sistem ini. Hanya karena mereka memiliki nama-nama yang berbeda tidaklah berarti bahwa mereka merupakan entitas-entitas yang terpisah. Nama-nama, id, ego dan superego, sebenarnya tidaklah menandakan sesuatu. Semua itu semata-mata cara yang gampang untuk menunjukkan proses-proses, fungsi, mekanisme dan dinamisme yang berbeda dalam personalitas secara keseluruhan. The ego is formed out of the id and the superego is formed out of the ego. Mereka terus berinteraksi dan bercampur satu sama lain sepanjang hidup. Interaksi-interaksi dan percampuran-percampuran ini, sebagaimana pula oposisi-oposisi yang terkembang diantara ketiga sistem tersebut, menjadi pokok pembicaraan dari bab selanjutnya.
*

biological endowment

Referensi
Freud sigmund, (1990) The Interpretation of Dreams, Bab 7. London: The Hogarth Press, 1953. Freud, Sigmund. (1911) “Formulations Regarding the Two Principles in Mental Functioning.” Dalam Collected Papers, Vol. IV, hal.13-21. London: The Hogarth Press, 1946. Freud, Sigmund. (1923) The Ego and the Id. London: The Hogarth Press, 1947. Freud, Sigmund. (1925) “A Note upon the ‘Mystic Writing Pad.’” Dalam Collected Papers, Vol. V, hal. 175-80. London: The Hogarth Press, 1950. Freud, Sigmund. (1925) “Negation.” Dalam Collected papers, Vol. V, hal. 181-85. London: The Hogarth Press, 1950. Freud, Sigmund. (1933) New Introductory Lectures on Psycho-analysis, Bab. 3. New York : W.W. Norton & Company, Inc., 1933. Freud, Sigmund. (1938) An Outline of Psychoanalysis, Bab. 1. New York: W.W. Norton & Company, Inc., 1949.

Bab 3 The Dynamics of Personality
Di bab pertama kita membahas organisasi personalitas dan memerikan beberapa proses-proses dan fungsi-fungsi menonjol dari tiga bagiannya, id, ego, dan superego. Dalam bab ini tujuan kami adalah memperlihatkan bagaimana ketiga sistem ini beroperasi dan bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain dan dengan lingkungan. I. Energi psikis Organisme manusia adalah sistem energi yang rumit, mengasalkan energinya dari makanan yang dimakan dan menghabiskannya untuk tujuan-tujuan seperti sirkulasi, respirasi, pencernaan, konduksi sarafiah, aktivitas otot, persepsi, mengingat, dan berpikir. Tak ada alasan untuk percaya bahwa energi yang membuat organisme bergerak pada dasarnya berbeda dari energi yang menjalankan alam semesta. Energi mengambil beberapa bentuk—mekanik, termal, elektrik, dan kimiawi—dan bisa diubah bentuk dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Bentuk energi yang mengoperasikan tiga sistem personalitas disebut energi psikis. Tak ada yang mistikal, vitalistik, atau supernatural perihal konsep energi psikis ini. Ia menjalankan kegiatan atau sanggup menjalankan kegiatan seperti yang dilakukan bentuk energi lainnya. Energi psikis menjalankan kerja-kerja psikologis—seperti misalnya, berpikir, mempersepsi, dan mengingat—sama halnya dengan energi mekanik menjalankan kerja-kerja mekanis. Orang bisa mebicarakan transformasi energi ragawi menjadi energi psikis sebagai mana pula transformasi energi psikis menjadi energi ragawi. Transformasi-transformasi ini berlangsung berkelanjutan. Kita berpikir (energi psikis) dan kemudian bertindak (energi perototan), atau kita dirangsang oleh sepolaan gelombang-gelombang suara (energi mekanis) dan kita mendengar (energi psikis) seseorang berbicara. Hanya bagaimana semua transformasi ini berlangsung, tidaklah diketahui. II. Insting Segenap energi yang digunakan untuk menjalankan kerja dari personalitas didapatkan dari insting. Insting didefinisikan sebagai suatu kondisi bawaan lahir yang menggariskan arah pada proses-proses psikologis. Insting seks, misalnya, mengarahkan proses-proses psikologis seperti mempersepsi, mengingat, dan berpikir pada tujuan konsumasi seksual. Insting seperti sungai yang mengalir sepanjang cekungan tanah yang berkelok. Insting memiliki sumber, tujuan, objek, dan impetus [pendorong]. Sumber-sumber utama energi instingtual adalah kebutuhan-kebutuhan atau impuls-impuls ragawi. Suatu kebutuhan atau impuls merupakan suatu proses ekscitatoris* dalam jaringan atau organ tubuh yang melepaskan energi yang disimpan dalam tubuh. Sebagai contoh, kondisi fisis dari rasa lapar membangkitkan insting lapar dengan memberikannya energi. Energi instingtual ini kemudian menanamkan arah-tujuan pada proses psikologis yang berupa persepsi, memori dan pikiran. Orang mencari makanan, berusaha mengingat dimana makanan pernah ditemukan pada kejadian sebelumnya, atau merancangkan tahapan tindakan yang melaluinya makanan bisa diperoleh. Tujuan akhir dari insting adalah dihilangkannya kebutuhan ragawi. Tujuan dari insting lapar, misalnya, adalah untuk menghilangkan kondisi fisis rasa lapar. Ketika hal ini telah dilakukan, tak ada lagi energi ragawi yang dilepaskan, insting lapar hilang, dan individu kembali mencapai keadaan kedamaian [quiescence] psikologis dan fisiologis. Dinyatakan dengan cara lain, tujuan insting adalah untuk mengeliminir sumber-sumber insting tersebut.
*

an excitatory process

Disamping tujuan akhir dari quiescence, Freud mengamati bahwa terdapat pula tujuan-tujuan turunan yang harus dipenuhi sebelum tujuan akhir/utama bisa dicapai. Sebelum rasa lapar bisa diredakan perlulah untuk menemukan makanan dan memasukkannya ke dalam mulut. Menemukan dan mencerna makanan adalah hal-hal turunan dalam mengeliminir rasa lapar. Freud menyebut tujuan akhir dari insting sebagai tujuan internal, dan tujuan-tujuan turunan insting sebagai tujuan eksternal. Insting dikatakan bersifat konservatif karena tujuannya adalah mengembalikan seseorang pada keadaan yang quiescent yang sudah ada sebelum gangguan yang ditimbulkan proses ekcitatoris. The course of an instinct selalulah dari keadaan penuh ketegangan ke keadaan relaxation. Dalam beberapa contoh, terutama dalam pemuasan impuls-impuls seks, terdapat ketegangan yang menggunung sebelum terjadinya pelepasan terakhir. Hal ini tidaklah membantah prinsip umum dari fungsi yang dijalankan insting, karena tujuan terakhir dari dorongan seks adalah relief from excitation no matter how much tension may be generated prior to the final discharge. In fact, orang belajar memupuk banyak ketegangan karena pelepasannya yang tiba-tiba mendatangkan rasa nikmat yang tinggi. Dengan kata lain, insting selalu berusaha melakukan regresi pada kondisi sebelumnya. Tendensi insting untuk mengulang-ulang siklus dari excitation ke kondisi repose ini disebut repetition compulsion. Terdapat banyak contoh repetition compulsion ini dalam kehidupan sehari-hari. Fase regular dan periodik dari kegiatan terjaga yang diikuti dengan tidur adalah salah satunya. Tiga kali makan sehari adalah contoh yang lain. Hasrat seksual diikuti dengan pemuasan seksual juga contoh yang lainnya. Singkatnya, then, tujuan insting diberi ciri dengan sifat konservatif, regresif, dan repetitif. Objek suatu insting adalah objek atau cara yang melaluinya tujuan yang disasar insting dicapai. Objek dari insting lapar adalah mencerna makanan; objek dari insting seks, copulation; dan insting agresif, bertarung. Objek atau cara-cara tersebut merupakan ciri yang paling bervariasi dari sebuah insting, semenjak banyak objek dan aktivitas yang berbeda bisa saling menggantikan. Seperti yang akan kita lihat di Bab 4 tentang perkembangan personalitas, the elaboration of the means by which instincts reach their goal of tension-reduction constitutes one of the principal avenues of personality development. Impetus dari sebuah insting adalah kekuatan atau dayanya, yang ditentukan oleh jumlah energi yang ia miliki. Rasa lapar yang kuat menghasilkan impulsi yang lebih besar terhadap proses-proses psikologis daripada yang dilakukan oleh rasa lapar yang ringan. Ketika orang amat lapar, pikirannya dipenuhi oleh makanan sampai-sampai mengabaikan segala hal praktis lainnya. Serupa itu pula, jika orang mengalami jatuh cinta yang akut, sukarlah baginya untuk memikirkan hal lain. Tempat insting ada dalam id. Semenjak insting constitute the total amount of psychic energy, id dikatakan sebagai sumur orisinil dari energi psikis. Untuk membentuk ego dan superego, energi diambil dari sumur ini. Bagaimana penarikan energi ini berlangsung adalah subjek dari bagian berikut. III. Distribusi dan pembuangan Energi Psikis A. ID. Energi dari id digunakan untuk pemuasan instingtual melalui aksi-aksi refleks dan wish-fulfillment. Dalam aksi refleks seperti yang dicontohkan melalui mencerna makanan, pengosongan kantung makanan, dan orgasme seksual, energi secara otomatis dilepaskan dalam aksi motoris. Dalam wish-fulfillment, energi dipakai untuk menghasilkan citra dari objek instingtual. Tujuan dari kedua proses tersebut adalah untuk menghabiskan [membelanjakan] energi instingtual ke dalam cara-cara yang akan menghilangkan kebutuhan tersebut dan mendatangkan repose bagi individu.

The investment of energy dalam citra suatu objek, atau dihabiskannya energi dalam aksi-aksi pelepasan terhadap suatu objek yang akan memuaskan insting, disebut object-choice atau object-cathexis. Segenap energi dari id dihabiskan dalam cathexcathex-objek*. Energi yang disuntikkan id dalam object-choices amatlah cair. Ini berarti bahwa energi tersebut bisa dibelokkan [dilangsir] dengan mudah dari satu objek ke objek yang lain. Pembelokkan energi ini disebut displacement. Demikianlah, jika makanan tidak ada, bayi yang lapar akan menggantinya dengan apapun yang terpegang atau tangannya sendiri dan memasukkannya ke mulut. Objek-objek dipandang ekuivalen ketika terdapat keserupaan yang kongkrit dan spesifik di antara mereka. Dua objek seperti misalnya botol susu dan blok kayu mainan dipersepsi sebagai identik karena keduanya itu bisa dipegang tangan dan dimasukkan ke mulut. Energi dari id amat bisa diganti-gantikan karena id tidak memiliki kemampuan dalam membuat pembedaan diantara objek-objek. Tendensi id untuk memperlakukan objek seolah-olah mereka itu adalah benda yang sama, terlepas dari perbedaan yang ada diantara mereka, menciptakan semacam pemikiran terdistorsi yang disebut predicate thinking. Jika dua objek, misalnya sebatang pohon dengan organ seks pria, dipersamakan dalam benak seseorang karena keduanya sama-sama memiliki karakteristik fisik yang sama yaitu protruding, orang tersebut sedang melakukan predicate thinking. Jenis berpikir ini lazim terutama dalam mimpi, dan dapat menjelaskan simbolisme yang terjadi dalam mimpi. Mengendarai kuda atau membajak ladang bisa mewakili atau menyimbolkan persetubuhan karena gerak-gerak yang similar dilakukan dalam berkendara, membajak, dan bersetubuh. Predicate thinking umum pula terjadi dalam kehidupan terjaga, menyebabkan amat banyak kebingungan dalam pemikiran seseorang sehingga menghindarkannya dalam membuat diskriminasi yang memadai. Prasangka rasial seringkali dikarenakan predicate thinking ini. Karena kaum negro berkulit hitam dan karena hitam berasosiasi dengan kejahatan dan kotor, kaum negro dipandang sebagai buruk dan kotor. Serupa itu pula, orang yang berambut merah dipandang memiliki temperamen panas karena merah adalah warna yang panas. Jika aliran direksional dari energi instingtual dibendung oleh proses-proses ego atau superego, ia berusaha menghancurkan pembendungan tersebut dan meloloskan dirinya dalam fantasi atau tindakan. Ketika pembobolan itu berhasil, proses-proses rasional ego digerogoti. Orang akan melakukan kesalahan-kesalahan dalam bicara, menulis, mempersepsi, dan dalam mengingat, dan dia mengalami kecelakaan karena dia menjadi begitu bingung** dan kehilangan kontak dengan realitas. Kemampuannya untuk memecahkan masalah dan menyingkapkan realitas dibuat lemah oleh the intrusion of impulsive wishes. Tiap orang pasti tahu bagaimana sulitnya memfokuskan pikiran pada pekerjaan sewaktu dia lapar atau terangsang secara seksual atau sedang marah. Jika id tidak berhasil dalam menemukan saluran-keluar yang langsung bagi energi isntingtualnya, energi tersebut diambil alih oleh ego atau superego dan digunakan untuk memberi tenaga bagi operasi-operasi dari sistem-sistem ini. B. EGO. Ego pada dirinya sendiri tidaklah memiliki energi. Indeed ia tidak bisa dikatakan ada sampai energi dibelokkan dari id pada proses-proses laten yang membangun ego. Dengan pemberian tenaga atas proses-proses baru ini—seperti misalnya diskriminasi, memori, penilaian, penalaran—yang sampai pada titik ini berupa kecenderungankecenderungan laten dan innate dalam personalitas, ego sebagai suatu sistem yang terpisah memulai perkembangannya yang kompleks dan panjang.
* **

object-cathexes. confused

Titik berangkat bagi diaktifkannya potensialitas-potensialitas ego laten ini terkandung dalam mekanisme yang dikenal sebagai identifikasi. Untuk memahami sifat dari mekanisme ini perlulah untuk kembali kepada hal-hal pokok yang telah kita bahas. Ingatlah bahwa id tidak membuat distingsi antara pencitraan subjektif dengan realitas objektif. Jika ia meng-cathex suatu citra objek*, artinya, ketika energi disuntikkan dalam suatu proses yang membentuk representasi mental dari suatu objek, hal ini sama dengan meng-cathex objek itu sendiri. Bagi id, objek sebagai citra dan objek sebagai realitas eksternal adalah identik dan bukan merupakan entitas yang terpisah. Kegagalan id dalam mencapai kelegaan dari ketegangan membuat timbulnya garis perkembangan baru yang memberikan dasar bagi pembentukan ego. Alih-alih suatu citra dan objek riil dipandang sebagai identik, terjadi suatu pemisahan antara keduanya. Apa yang terjadi akibat pembedaan ini adalah bahwa hal yang sepenuhnya subjektif, dunia batiniah dari id menjadi dipilah ke dalam dunia batiniah yang subjektif (pikiran) dan dunia eksternal yang objektif (lingkungan). Jika dia ingin menselaraskan diri dengan memadai, orang itu sekarang dihadapkan dengan tugas mengharmonikan kedua dunia ini satu sama lain. Keadaan-keadaan mental harus disinkronisasi dengan realitas jika orang ingin selaras secara memadai. Sebagai contoh, jika seorang yang lapar memiliki citra memori akan makanan, dia harus melokalisir objek riil tersebut dalam lingkungan yang sesuai dengan citramemorinya. Jika citra memori tersebut adalah citra yang akurat, objek yang akan dia temukan akanlah berupa makanan. Jika citra memorinya bukan merupakan representasi akurat dari makanan, citra itu haruslah direvisi sampai ia berupa citra makanan. Jika tidak, orang yang lapar akan mati kelaparan. Pada suatu masa bumi dipercaya sebagai datar, tapi konsepsi ini direvisi ketika Columbus dan para penjelajah lain memperlihatkan bahwa dunia bulat dan tidak datar sama sekali. Segenap kemajuan dalam pengetahuan adalah membuat representasi mental orang atas dunia menjadi gambaran yang lebih akurat atas dunia sebagaimana adanya. Kerja-kerja membuat isi pikiran menjadi replika-replika yang faithful dan akurat atas isi dunia dilakukan oleh proses sekunder. Jika gagasan atas suatu objek selaras dengan objek itu sendiri, gagasan itu dikatakan beridentifikasi dengan objeknya. Identifikasi pikiran dengan realitas haruslah dekat dan eksak agar perancangan rencana tindakan akan membawa orang pada tujuannya. Sebagai akibat dari mekanisme identifikasi ini, energi yang disuntikkan oleh id dalam citra-citra without regarding for, and indeed with no conception of, reality is diverted into the formation of accurate mental representations of the real world. Pada titik ini, pemikiran logis menggantikan wish-fulfillment. Pengalihan energi dari id ke proses-proses kognitif ini menandai langkah awal dalam pengembangan ego. Adalah penting untuk mengingat bahwa adaptasi baru dari personalitas ini is contingent upon the separation of subject (mind) and object (matter). Bagi id tak ada pemilahan semacam itu. Sebagai akibatnya, tak dimungkinkan adanya identifikasi. Identitas citra dengan objek dalam id mungkin dipandang sebagai semacam identifikasi primitif. Akan tetapi adalah lebih baik menggunakan term identitas untuk kondisi ini dan memakai term identifikasi bagi kasus-kasus dimana terdapat a clear recognition of a separation of the two thngs that are being identified, namely, mental events and external reality. Pemisahan antara pikiran dengan dunia fisik realitas berlangsung sebagai hasil dari frustrasi dan proses belajar. Seperti yang telah kami katakan sebelumnya, id tidak dapat memuaskan kebutuhan-kebutuhan vital kehidupan melulu lewat aksi refleks atau wish-fulfillment. Sebagai akibatnya, orang haruslah mengetahui perbedaan antara citra dengan realitas jika dia ingin tetap hidup. Tak ragu lagi, there is an inborn predisposition
*

When it cathects an image of an object

untuk membedakan antara keadaan-keadaan mental batiniah dengan realitas luar, tapi predisposition ini haruslah dikembangkan melalui pengalaman dan latihan. Sedari usia yang amat awal, bayi belajar membedakan antara apa yang ada diluar dirinya di dunia sana dan apa yang ada dalam pikirannya. Lebih lagi, melalui pengalaman dan pendidikan, dia belajar membuat apa yang ada dipikirannya sejalan dengan apa yang pada kenyataannya ada di luar pikirannya. Dia belajar, dengan kata lain, untuk mengidentifikasi keduanya. Satu contoh dari perbedaan antara identitas dengan identifikasi barangkali akan menjernihkan arti dari kedua term tersebut. Ketika orang bermimpi sedang dikejar seekor singa, dia biasanya merasa seolah-olah seekor singa yang nyata sedang mengejarnya. Selama mimpi itu, citra-citra tersebut tidaklah dibedakan dari objek-objek real yang mereka representasikan. Semua itu adalah identitas-identitas. Sebagai akibatnya, orang yang bermimpi itu mengalami emosi yang sama yang akan ia rasakan jika peristiwa-peristiwa dalam mimpi tersebut nyata-nyata terjadi. Serupa itu pula, orang yang memiliki halusinasi tidaklah membedakannya dari realitas. Di lain pihak, jika orang dalam kehidupannya yang terjaga sedang menonton televisi atau membaca buku, dia tidak memandang bahwa gambar-gambar atau kata-kata merupakan objek-objek aktual pada dirinya sendiri. Dia menyadari bahwa semua itu hanyalah representasirepresentasi realitas. Dia mungkin mengidentifikasi peristiwa-peristiwa dalam acara televisi atau dalam buku dengan realitas, tapi jarang sekali dia terkecoh untuk memandang bahwa semua itu adalah realitas itu sendiri. Melalui identifikasi dengan objek-objek dari dunia eksternal, representasirepresentasi subjektif dari objek-objek ini mendapat kateks-kateks* yang sebelumnya disuntikan oleh id dalam objek-objek itu sendiri. Kateks-kateks baru ini disebut egocathexes untuk membedakannya dari pilihan-objek id yang instingtual**. Melalui identifikasi, lalu, energi menjadi tersedia bagi perkembangan pemikiran realistik (proses sekunder), yang menggantikan wish-fulfillment yang halusinatoris (proses primer). Redistribusi energi dari id ke ego ini merupakan peristiwa dinamis utama dalam perkembangan personalitas. Karena fungsi-fungsi rasional dari ego begitu berhasil dalam memperoleh gratifikasi bagi insting-insting tersebut, semakin banyak energi dari sumurnya dalam id dialirkan*** ke dalam ego. Sewaktu ego bersinar dalam kekuatannya, id justru semakin buram. Akan tetapi, jika ego gagal dalam tugasnya memuaskan tuntutan-tuntutan id, ego-cathexes diubah kembali ke dalam object-cathexes yang instingtual dan wishfulfillment masa kanak berdaulat kembali. Inilah apa yang terjadi sewaktu kita tidur. Karena ego tidak bisa berfungsi secara efektif sewaktu mimpi, proses primer dimunculkan dan membuat citra-citra halusinatoris. Bahkan sewaktu hidup terjaga, proses primer bisa saja diaktifkan kembali ketika ego tidak melahirkan hasil-hasil secara langsung. Ini dikenal sebagai autistic atau wishful thinking. Orang yang amat menginginkan sesuatu to be true seringkali menipu diri dengan memikirkannya sebagai true. Kita semua tahu seberapa mudah untuk membiarkan biasbias dan hasrat-hasrat kita mengarahkan pemikiran kita. Bahkan ilmuwan yang objektif sekalipun harus hati-hati untuk tidak membiarkan pilihan-pilihan teoritisnya mempengaruhi observasi dan penalaran. Itulah kenapa dia selalu hati-hati dengan menyediakan kontrol-kontrol yang cocok bagi eksperimen dan observasinya, dan untuk mengulang berkali-kali prosedur tersebut untuk memastikan apa yang dia lihat pertama kali benar-benar true. Wishful thinking tiada habisnya membuat jebakan untuk kita.
*

cathexes the instinctual object-choices of the id is siphoned off [draw liquid through tube: to transfer liquid from one container to another through a tube using atmospheric pressure to make it flow]
** ***

Dibawah kondisi normal ego memonopoli simpanan energi psikis. Ketika ia mengambil energi secukupnya dari id, ia bisa menggunakan energi ini untuk tujuantujuan yang lain daripada memuaskan insting-insting. Energi digunakan untuk mengembangkan proses-proses psikologis seperti mempersepsi, attending, belajar, dan berimajinasi. Semua proses-proses ini akan menjadi semakin efisien ketika ego mendapatkan kontrol atas energi tersebut. Dunia mendapat makna-makna baru bagi orang sewaktu dia semakin tahu tentangnya, dan dengan pengetahuannya yang bertambah ini dia berada dalam posisi yang lebih baik untuk memanipulasi dunia menurut tujuan-tujuan yang dipunyainya. Tidak hanya dalam perkembangan dari si individu tapi juga evolusi rasial dan kultural manusia selalu terdapat control yang semakin besar atas alam melalui pengalihan energi dari proses-proses nonrasional id pada proses rasional ego. Beberapa energi dari ego harus digunakan untuk membendung dan menangguhkan the outflow of exitation through the motor system. Tujuan dari penangguhan ini adalah untuk memberi kesempatan bagi ego untuk menjalankan rencana tindakan yang realistis sebelum ia bertindak. Ketika energi digunakan untuk membendung aliran energi yang sedang berupaya melakukan pelepasan terakhirnya, daya-daya pembendung ini disebut anti-cathexes. Suatu anti-cathexis adalah muatan energi* yang melawan cathexis. Anti-cathexes dari ego ini diarahkan untuk melawan idcathexes karena cathexes ini mendesak pelepasan beban karena adanya ketegangan. Wilayah perbatasan antara ego dengan id barangkali mirip dengan wilayah perbatasan dari dua negara, yang masing-masing berupaya menginvasi wilayah yang lain. Negara yang terancam infasi mendirikan pertahanan (anti-cathexes dari ego) yang bisa memukul mundur si penyerang (id-cathexes). Jika anti-cathexes menemui kegagalan, object-cathexes dari id akan memberangus ego dan menghasilkan perilaku impulsif. Inilah yang terjadi ketika orang yang biasanya terkontrol kehilangan kendali. Energi yang ada dalam ego bisa juga digunakan untuk membuat object-cathexes yang baru. Objek-objek ini tidaklah secara langsung memuaskan kebutuhan-kebutuhan dasar yang dimiliki organisme, meski mereka dikaitkan oleh mata rantai-mata rantai asosiatif with objects that do. Sebagai contoh, insting lapar bisa bercabang-cabang dan meliputi banyak aktivitas yang pada dasarnya tidak memuaskan rasa lapar. Mengumpulkan resep-resep yang tak biasa dan buku-buku masak, membeli perabotan Cina dan perabotan perak, memasang peralatan dapur elektronis, mengunjungi restoran yang menyediakan makanan-makanan eksotik, membaca dan berbincang tentang makanan dan bermacam hal lain seputar makanan and food-associated interests engage the energies of many people, meski tak satupun dari semua ini pada dirinya sendiri mereduksi rasa lapar. Alasan ego memiliki cukup energi yang bisa dihabiskan untuk tujuan-tujuan noninstingtual adalah bahwa pemungsiannya yang efektif menghasilkan suatu surplus energi yang dibutuhkan untuk kebutuhan-kebutuhan hidup yang vital. Semakin ekonomis ego beroperasi dalam memuaskan kebutuhan-kebutuhan ragawi, semakin banyak energi yang dimilikinya untuk kegiatan-kegiatan waktu senggang. The way in which these ego interests, as they are called, originate is discussed in the next chapter. Terakhir, energi dari ego digunakan untuk memastikan terjadinya sintesis atau integrasi dari ketiga sistem yang dimiliki personalitas. Tujuan dari sintesis ini adalah untuk menghasilkan harmoni-dalam dan transaksi yang mulus dengan lingkungan. Ketika ego sedang melakukan fungsi sintesisnya dengan bijak, id, ego, dan superego dipersatukan ke dalam keseluruhan yang padu dan tertata. Masih ada yang hendak kami bahas perihal fungsi sintesis dari ego ini, tapi itu di bab-bab yang akan datang.
*

charge of energy

Dengan membandingkannya dengan mobilitas energi dalam id, energi dari ego amatlah kurang cair dan amat terikat. By the binding of energy is meant that it is invested in mental operations and not expended in impulsive action or wish-fulfillment. Ego mengikat energi dengan menyalurkannya ke dalam proses-proses psikologis, dengan menyuntikkannya ke dalam anti-cathexes, dengan membentuk ego interests, dan dengan menggunakannya untuk sintesis. Sewaktu ego berkembang, ia menghabiskan semakin banyak energinya untuk fungsi-fungsi ini. C. SUPEREGO. Ketakutan akan hukuman dan keinginan akan approval membuat anak mengidentifikasikan dirinya dengan nasihat-nasihat moral orangtuanya. Identifikasi dengan orang tua ini menghasilkan pembentukan superego. Akan tetapi tidak seperti identifikasi realistik dari ego identifikasi yang atasnya superego didasarkan adalah orangtua yang diidealisir atau orangtua yang mahakuasa. Orangtua disuntikkan kekuasaan-kekuasaan besar dalam menghukum dan mengganjar si anak. Sebagai akibatnya, superego juga dilengkapi dengan kekuasaan untuk mengganjar dan menghukum. Mengganjar dilakukan oleh ego-ideal, menghukum oleh nurani [conscience]. Larangan-larangan nurani adalah hambatan-hambatan atau anti-cathexes yang membendung pelepasan energi instingtual baik secara langsung dalam prilaku impulsif dan wish-fulfillment, maupun secara tak langsung melalui cara mekanisme-mekanisme ego. Artinya, nurani melawan baik id maupun ego, dan berusaha menunda pelaksanaan prinsip kenikmatan dan prinsip realitas. Seseorang yang memiliki nurani yang kuat secara konstan selalu siap sedia dalam memerangi impuls-impuls immoral. Dia menghabiskan begitu banyak energinya demi melawan id sehingga dia tidak memiliki cukup energi untuk melakukan kerja-kerja yang bermanfaat dan memuaskan. Sebagai akibatnya, dia menjadi terimmobilisasi dan hidup bagaikan mengenakan mantelpengikat. Antic-athexes dari nurani berbeda dari anti-cathexes yang dimiliki ego. Daya-daya perlawanan ego melayani tujuan-tujuan dalam menangguhkan aksi final dengan maksud agar ego bisa membagankan rencana yang memuaskan. Larangan-larangan dari nurani, di lain pihak, berusaha menghilangkan semua pikiran tentang suatu aksi apapun. Nurani berkata “No” pada semua insting, sementara ego berkata “Tunggu”. Ego-ideal berusaha mencapai kesempurnaan. Energinya is invested in cathecting ideals yang merupakan representatif-representatif yang diinternalisasi dari nilai-nilai moral orang tua. Ideal-ideal ini merepresentasikan objek-choice yang perfeksionis. Orang yang memiliki sebagian besar energinya terikat dalam ego-ideal adalah seorang idealis dan high-minded. Pilihan-pilihannya atas objek ditentukan lebih oleh nilai-nilai moralistik mereka daripada nilai-nilai yang realistik. Dia lebih concerned dengan pemilahan yang baik dari yang buruk daripada dengan membedakan antara true dan false. Bagi orang semacam itu, virtue lebih penting daripada truth. Dengan mengidentifikasikan diri dengan object-choices etis yang dimiliki ego-ideal, ego merasakan semacam kebanggaan. Rasa bangga merupakan ganjaran yang diberikan ego-ideal kepada ego karena telah berbuat baik. Ini analog dengan perasaan yang anak miliki ketika dia dipuji oleh orangtuanya. Di lain pihak, ketika ego mengidentifikasikan diri dengan atau memilih suatu objek yang dianggap tak layak oleh superego, superego menghukum ego dengan membuatnya merasa malu dan bersalah. Inipun amat menyerupai situasi yang terjadi ketika seorang anak dihukum ibunya atau ayahnya karena telah berbuat nakal. Rasa bangga adalah bentuk narcissisme sekunder. Ego mencintai dirinya karena telah melakukan apa yang dianggap saleh. “Kesalehan adalah ganjarannya itu sendiri.”

Dengan cara yang sama bisa dikatakan bahwa dosa adalah bentuk hukumannya itu sendiri. Demikianlah kita melihat bahwa energi dari id disalurkan kepada ego dan superego melalui mekanisme identifikasi. Energi tersebut lalu bisa digunakan oleh ego atau superego untuk melancarkan atau menghambat tujuan-tujuan id, yang adalah mengejar kenikmatan (bebas dari ketegangan) dan untuk menghindari rasa sakit (semakin sengitnya ketegangan). Kita telah melihat bagaimana ego mensekutukan diri dengan id demi memuaskan insting-insting. Dilain pihak, akanlah terlihat bahwa superego, sebagai musuh segala hal yang immoral, insting yang gandrung akan kenikmatan, pastilah selalu menentang id. Tapi ini tidaklah selalu begitu. Superego bisa dimanipulasi oleh id demi tujuan mendapatkan kepuasan bagi insting-insting. Yaitu, superego bisa bertindak sebagai agen id baik dalam kaitannya dengan dunia eksternal maupun dalam hubungannya dengan ego. Sebagai contoh, superego dari orang yang moralistik bisa menjadi amat agresif dalam melawan egonya. Ego itu dibikin untuk merasa tak layak dan jahat. Orang yang mengalami hal ini bahkan bisa sampai melakukan bunuh diri. Tindakan-tindakan agresi-diri ini memuaskan impuls-impuls agresif yang dimiliki id. Superego dari orang yang amat high-minded bisa juga memuaskan id-nya dengan menyerang orang yang dipandang sebagai immoral. Cruelty masquerading as moral indignation bukanlah tidak diketahui dan telah dipraktekkan dalam skala yang luas. Lihatlah, misalnya, brutalitas dari Inkuisisi, pembakaran tukang sihir, dan pembunuhan masal yang disebarkan oleh Nazi. Ostensibly*, serangan-serangan sadistis ini dipicu oleh api moral dari ordo yang tertinggi. Akan tetapi pada kenyataannya semua ini merepresentasikan ekspresi dari daya-daya id yang primitif. Dalam kasus-kasus semacam itu, superego dikatakan dikorupsi oleh id. Id dan superego sama-sama memiliki kualitas yang lain. Keduanya berfungsi secara irasional dan mendistorsikan atau memfalsifikasi realitas. Atau tepatnya kita harus mengatakan bahwa id dan superego mendistorsikan pemikiran realistik yang dimiliki ego. Superego mendesak ego untuk melihat hal-hal sebagaimana mereka harusnya ada, bukan sebagaimana adanya mereka. Id memaksa ego untuk melihat dunia menurut yang diinginkan id. Dalam kedua kasus, proses sekunder, pengujian realitas, dan prinsip realitas dibelokkan [disesatkan] oleh kekuatan irasional. Dalam menutup bagian tentang distribusi dan pembuangan energi psikis dalam personalitas ini, haruslah diingat bahwa energi yang tersedia itu terbatas. Artinya jika ego mendapat energi, id atau superego—atau keduanya—haruslah kekurangan energi. Memberikan energi pada satu sistem personalitas berarti menarik energi dari sistem lain. Orang yang memiliki ego kuat akan memiliki id dan superego yang lemah. Dinamika personalitas terdiri dari perubahan-perubahan distribusi energi. Tindak-tanduk seseorang ditentukan oleh dinamikanya ini. Jika bagian besar energi dikontrol oleh superego, prilakunya akanlah moralistik. Jika energinya dikontrol oleh ego prilakunya akanlah realistik. Dan jika energi itu direbut kembali oleh id, yang merupakan sumber dari segenap energi psikis, tindakan-tindakannya akanlah impulsif. What a person is and does is inevitably an expression of the way in which the energy is distributed. IV. CATHEXIS AND ANTI CATHEXIS Dalam salah satu tulisannya Freud mencirikan psikoanalisis sebagai “konsepsi dinamis yang mereduksi kehidupan mental pada kesaling-bermainan [kesalingpengaruhan]** daya-daya yang mendorong dan menghambat secara timbal balik.” Daya yang mendorong itu adalah cathex, dan kekuatan yang menghambat itu adalah anti-cathex.
*

ostensible=seeming to be true or genuine, but open to doubt: presented as being true, or appearing to be true, but usually hiding a different motive or meaning ** interplay

Seperti yang telah kita lihat, id hanya memiliki cathex-cathex sementara ego dan superego juga memiliki anti-cathex. Pada kenyataannya, ego dan superego mengada karena dirasa perlu untuk membendung tindakan-tindakan terburu-buru [imprudent] yang dilakukan id. Akan tetapi, sewaktu proses-proses yang membentuk ego dan superego bertindak sebagai rem terhadap id, ego dan superego pun memiliki kekuatankekuatan pengarahnya sendiri. Cara lain dalam memandang konsep anti-cathexis adalah dengan memandangnya sebagai internal frustration. Daya yang menentang itu menghambat* pelepasan ketegangan. Jenis penghambatan ini [frustration] harus dibedakan dari jenis lain yang disebut external frustration. Dalam external frustration objek-tujuan tidak bisa didapatkan karena alasan-alasan yang tak dapat dikontrol orang. Orang mungkin ingin makanan, tapi jika tak ada makanan di sekitarnya atau jika dia dihindarkan dari mendapatkannya, laparnya itu akanlah tetap tak terpuaskan. External frustration is a state of of privation or deprivation, sementara internal frustration adalah penghambatan batiniah. Ketika orang ingin melakukan sesuatu tapi ada rintangan eksternal menghadang jalannya, itu adalah external frustration. Jika orang ingin melakukan sesuatu tapi ego atau superegonya berusaha menghalanginya dalam melakukan hal itu, itu adalah internal frustration. Freud mengamati bahwa internal frustration (anti-cathexis) tidaklah ada sampai external frustration menyiapkan dasar-dasar bagi kemunculannya. Artinya, orang harus mengalami privation atau deprivation terlebih dulu sebelum dia bisa mengembangkan kontrol-kontrol batiniah. Dalam kasus superego, misalnya, anak tidaklah mengembangkan disiplin-diri sampai dia telah memiliki kesempatan untuk mengidentifikasikannya dengan larangan-larangan moral orangtuanya. Seorang anak harus belajar apa yang buruk dengan mengalami pemberian hukuman sebelum dia bisa memapankan kontrol batiniahnya atas prilaku-prilakunya. Konsep tentang daya-daya mendorong dan menghambat ini memampukan kita memahami kenapa kita berpikir dan bertindak seperti yang kita lakukan. Umumnya, jika daya-daya pendorong lebih kuat daripada kekuatan yang menghambat, beberapa tindakan akan berlangsung atau beberapa gagasan akan menjadi conscious [sadar]. Jika anti-cathex lebih berat daripada cathex, tindakan atau pikiran itu akan direpresi. Akan tetapi, bahkan jika anti-cathexis tidak ada/hadir, proses mental bisa saja amat lemah dalam kandungan energinya sehingga kesadaran atau tindakan itu tidak mengejawantah. Ambil sebagai contoh kasus dari orang yang sedang berusaha mengingat sesuatu. Dia mungkin tidak dapat mengingat karena jejak memori tersebut tidak diberi energi dalam jumlah yang mencukupi. Jejak memori itu diberi energi yang minim karena pada dasarnya pengalaman tersebut tidak memberikan kesan yang kuat bagi orang itu. Atau energi yang dimiliki jejak memori itu telah habis dalam kegiatan membikin jejak-jejak ingatan yang baru. Proses mempelajari sesuatu yang baru biasanya berarti bahwa sesuatu yang lama harus di-unlearned atau dilupakan. Alasan untuk hal ini adalah bahwa orang memiliki energi yang terbatas. Ketika suntikan-suntikan [energi] baru dilakukan, energi haruslah dipinjam dari object-cathex-objek-cathex yang sudah mapan. Sebagai akibatnya cathex-cathex memeori yang lama dibikin lemah sewaktu energi diberikan pada cathex-cathex memori yang baru. Jejak-jejak memori yang memiliki sedikit energi atau yang energinya seluruhnya telah dipindahkan pada jejak-jejak memori yang lain diistilahkan dengan terlupakan. Jejakjejak ini bisa dikembalikan dalam ingatan melalui pengulangan pengalaman. Demikianlah ketika orang lupa nomor telepon dia bisa menyuntikan energi pada jejak memori tersebut dengan mencari nomor itu di buku telepon. Ini disebut menyegarkan ingatan seseorang.
*

frustrate

Di lain pihak, orang mungkin tak bisa mengingat sesuatu karena cathexis dari jejak memori tersebut ditentang oleh suatu bentuk perlawanan atau anti-cathexis. Ingataningatan semacam itu disebut terrepresi alih-alih dilupakan. Ingatan yang direpresi bisa dipanggil kembali baik melalui pengurangan kekuatan anticathexis yang ada atau dengan menambah kekuatan yang dimiliki cathexis tersebut. Tak satu pun dari kedua hal ini yang mudah untuk dilakukan. Yang kerapkali kita dapati adalah semakin keras usaha orang untuk membobol represi, semakin kuatlah benteng pertahanan itu. Teknik-teknik khusus, seperti misalnya hipnosis atau asosiasi-bebas dipakai untuk melemahkan benteng pertahanan tersebut. Perlawanan itu juga cenderung melemah ketika tidur sehingga kita mungkin ingat akan sesuatu dalam mimpi yang selama kehidupan terjaga hal tersebut selalu direpresi. Kenapa ingatan-ingatan direpresi? Ada dua alasan pokok. Ingatan itu sendiri adalah ingatan yang menyakitkan atau ingatan tersebut diasosiasikan dengan sesuatu yang menyakitkan. Contohnya, orang akan melupakan nama seorang kenalan karena perkenalan pertamanya itu menyakitkan. Atau dia mungkin melupakan nama itu karena nama itu berkaitan dengan sesuatu yang menyakitkan. Dalam kedua kasus, anti-cathex bertujuan melindungi orang tersebut dari ketaknyamanan dan kecemasan. All of which means that adalah lebih mudah untuk melupakan janji pertemuan dengan dokter gigi daripada melupakan kencan. Realitas dari daya pendorong dan penghambat dalam personalitas is brought home to one repeatedly. Contoh tipikal adalah dorongan untuk mengosongkan kantong pencernaan yang dihambat oleh rasa ketakpantasan waktu dan tempat untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Contoh familiar lainnya adalah impuls untuk menjegal orang lain yang dibendung oleh rasa sosial. Mengalami sesuatu sudah berada di ujung lidah menunjukkan bahwa represi sedang berlangsung; semakin keras orang berusaha mengingatnya semakin alot pula bendungannya. Jika orang mengalihkan perhatiannya pada hal lain, resistensi itu bisa melemah dan ingatan yang terepresi akan muncul secara spontan ke dalam kesadaran. Bermacam contoh yang lain dari daya penghambat ini bisa diberikan. Kadang orang sadar akan perlawanan ini sementara pada saat yang lain dia mengalami suatu perasaan ketegangan tanpa sadar sedikit pun akan daya-daya penghambat ini. Pembendungan suatu cathexis oleh anti-cathexis disebut conflik endopsikis atau batiniah. Suatu konflik endopsikis adalah konflik yang terdapat di dalam personalitas. Konflik-konflik semacam itu harus dibedakan dari konflik-konflik antara orang dengan lingkungannya. Meski konflik-konflik endopsikis amat beragam, sama banyaknya dengan jumlah pertentangan antara cathex-cathex dengan anti-cathex, semua itu bisa diklasifikasi dibawah satu dari dua kategori, konflik id-ego, konflik ego-superego. Tak ada konflik antara id dengan superego karena oposisi diantara id dengan superego selalu melibatkan ego. Itu berarti, id dan superego berkonflik karena masing-masing berusaya menggunakan/memanfaatkan ego demi kepentingan mereka sendiri. Lebih jauh lagi, konflik id-ego yang sederhana bisa menjadi rumit jika superego bersekutu bersama id dalam memerangi ego atau bergabung dengan ego dalam melawan id. Ego adalah elemen common dalam semua konflik, termasuk konflik-konflik yang melibatkan oposisi dengan dunia eksternal. Semenjak hasil dari konflik adalah decisif bagi perkembangan personalitas, kita akan membahas subjek penting ini sekali lagi di bab selanjutnya. Praktisnya setiap proses personalitas diregulasi oleh peran-peran yang dimainkan leh cathexis dan anti-cathexis. Kadang keseimbangan diantara mereka begitu rapuh [delicate] sehingga sedikit saja pergeseran dalam rasio kekuatan yang dimiliki cathexis kepada kekuatan anti-cathexis akan menentukan perbedaan antara melakukan dan tidak melakukan sesuatu. Sedikit penambahan energi dalam cathexis atau secuil

kemerosotan energi dalam anti-cathexis saja yang terjadi ketika jari orang yang ada pada pelatuk pistol bisa membuat pistol itu menyalak, satu orang terbunuh, dan pembunuhan dilakukan, didakwa, dan kemudian digantung. Keseimbangan yang rapuh dari kekuasaan yang seringkali ada antara daya-daya pendorong dan penghambat dalam suatu personalitas benar-benar membuat sulit untuk memprediksi setepatnya apa yang akan orang lakukan dalam situasi tertentu. karena tak beda dengan sepercik api bisa mendatangkan kebakaran mengerikan begitu juga pertambahan energi yang bahkan tak kasat mata dalam cathexis bisa memicu rangkaian peristiwa-peristiwa dalam kehidupan yang far-reaching. Ketakmampuan meramalkan prilaku orang ini menghindarkan psikologi untuk menjadi ilmu pengetahuan yang amat eksak. Ini yang ada dalam benak Freud ketika menulis:
Sepanjang kita menelusuri perkembangan dari tahap terakhir bergerak mundur ke belakang, kaitan-kaitan muncul secara kontinyu, dan kita merasa kita telah mendapatkan satu insight yang sepenuhnya memuaskan atau bahkan exhaustive. Tapi jika kita melakukannya dengan cara sebaliknya, jika kita memulai dari premis-premis yang diambil dari analisis dan mencoba mengikuti semua ini sampai pada hasil akhirnya, lalu kita tidak lagi mendapat kesan [gambaran] akan sekuens tak terhindarkan dari peristiwa-peristiwa yang tak akan kita pahami dengan cara sebaliknya. Kita insaf bahwa mungkin saja akan ada hasil yang lain, dan bahwa kita mampu untuk memahami dan menjelaskan yang belakangan. Sintesis ini dengan demikian tidaklah sama memuaskannya dengan analisis itu; dengan kata lain dari pengetahuan akan premis-premis kita tidak bisa meramalkan [foretold] hasilnya. Amatlah mudah untuk menjelaskan this disturbing state of affairs. Bahkan mengandaikan bahwa kita sepenuhnya tahu faktor-faktor aetiologis yang menentukan suatu hasil tertentu, tetaplah kita mengetahuinya hanya secara kualitatif, dan tidak dalam kekuatan relatifnya. Sebagian mereka sama lemahnya untuk menjadi disupresi oleh yang lain, dan karena itu tidak mempengaruhi hasil akhirnya. Tapi kita tidak pernah tahu sebelumnya yang mana dari faktor-faktor penentu itu yang terbukti lebih lemah atau lebih kuat. Kita hanya mengatakan pada akhirnya bahwa faktor yang berhasil pasti adalah yang lebih kuat. Hence selalulah mungkin melalui analisis untuk mengenali sebab-musabab tersebut dengan kepastian, sementara suatu prediksi atasnya melalui sintesis adalah mustahil.1

Apa yang Freud katakan di sini adalah bahwa karena the subtleties dalam intensitas relatif daya-daya pemicu dan daya penghambat dan karena perubahanperubahan kecil dalam intensitas-intensitasnya bisa menghasilkan efek-efek yang besar, psikologi tidak dapat menjadi sebuah ilmu yang prediktif. Akan tetapi ia bisa menjadi suatu ilmu yang postdiktif dalam artian bahwa given a result it can look back an unearth the causes that produced the result. Dalam bab berikutnya kita akan kembali pada persoalan peran yang dimainkan cathexis dan anti-cathexis dalam perkembangan personalitas. kIta juga akan memeriksa permasalahan tentang bagaimana suatu cathexis bisa berkelit dari suatu upaya pembendungan dengan cara menemukan jalan-keluaran yang lain. V. KESADARAN DAN BAWAH-SADAR Di tahun-tahun awal psikoanalisis konsep sentral dari teori Freud adalah bawah sadar. Dalam rumusan-rumusan Freud belakangan, dimulai sekitar 1920, bawah sadar dilengserkan dari statusnya sebagai wilayah pikiran yang paling besar dan paling penting menjadi semacam kualitas dari fenomena mental. Banyak dari apa yang sebelumnya diacukan pada bawah sadar menjadi [diacukan] pada id, dan distingsi struktural antara kesadaran dan bawah sadar diganti dengan organisasi tiga bagian dari id, ego, dan superego.
1

Sigmund Freud, “The Psychogenesis of a Case of Homosexuality in a Woman.” Dalam Collected Papers, II (London, 1933), 226-27.

Meski bukanlah tujuan kami disini menuliskan sejarah perkembangan gagasangagasan Freud dalam hubungannya dengan sejarah psikologi, bisalah ditunjukkan bahwa artipenting bawah sadar yang menyusut itu dalam psikoanalisis berparalel dengan menurunnya signifikansi pikiran sadar dalam psikologi. Sepanjang abad 19 psikologi sibuk menganalisis pikiran sadar, psikoanalisis terlibat dalam eksplorasieksplorasi pikiran bawah sadar. Freud merasa kesadaran hanyalah serpihan tipis dari keseluruhan pikiran, seperti puncak gunung es, bagian terbesar darinya yang terkubur dibalik permukaan air kesadaran. Para psikolog menjawab Freud dengan mengatakan bahwa pandangan akan suatu pikiran bawah sadar merupakan istilah yang kontradiktif; pikiran, berdasarkan definisi, adalah sadar. Kontroversi itu tidak pernah mencapai konklusi final karena baik psikologi maupun psikoanalisis mengubah objektif-objektifnya selama abad 20. Psikologi menjadi ilmu tentang prilaku, dan psikoanalisis menjadi ilmu tentang personalitas. Pada saat ini terdapat banyak indikasi bahwa dua ilmu itu sedang menuju pada titik yang sama untuk bergabung menjadi ilmu yang tunggal. Dari sudut pandang kita sekarang ini, muncul apa yang telah Freud upayakan selama tiga puluh tahun antara 1890 sampai 1920, ketika pikiran bawah sadar ditinggikan sebagai konsep yang berdaulat dalam sistem psikologisnya, untuk menemukan kekuatan-kekuatan penentu dalam personalitas yang tidak secara langsung diketahui para peneliti. Sama halnya dengan fisika dan kimia memperkenalkan apa yang sebelumnya tak dikenal tentang kodrat benda-benda melalui eksperimen dan demonstrasi, begitu pula tugas psikologi bagi Freud adalah untuk mengungkapkan ke permukaan faktor-faktor dalam personalitas yang sebelumnya tak diketahui. Ini tampaknya menjadi makna statemen Freud ketika mengatakan bahwa “kerja ilmiah kami dalam psikologi terbentuk dalam penerjemahan proses-proses bawah sadar mejadi proses sadar, dan dengan demikian menjembatani gap-gap dalam persepsi-persepsi sadar.”2 Freud semata-mata mengakui fakta yang dikenal luas bahwa tujuan dari segenap ilmu pengetahuan adalah mensubtitusi pengetahuan untuk keabaian. Sebagai contoh, manusia tidak secara langsung sadar akan proses pencernaan yang berlangsung, tapi fisiologi bisa memberitahukan apa yang terjadi ketika proses pencernaan berlangsung. Pengetahuan ini tidaklah membuat dia bisa mempersepsi (secara langsung sadar akan) proses-proses pencernaannya sendiri sewaktu semua itu berlangsung; meski demikian dia tahu (faham) apa yang terjadi. Dalam cara serupa pula, orang tidak sadar akan proses-proses mental bawah sadar, tapi psikologi bisa mengajarinya tentang apa yang sedang berlangsung dibawah permukaan kesadaran. Sebagai contoh, orang yang mengalami kecelakaan biasanya tidak sadar bahwa kecelakaan itu merepresentasikan keinginan untuk melukai diri. Akan tetapi inilah tepatnya apa yang ditunjukkan sejumlah studi yang telah dilakukan. Atau orang yang memiliki kegandrungan abnormal pada makanan atau minuman biasanya tidak sadar akan fakta bahwa kegandrungannya itu mungkin tumbuh dari hasrat tertahan akan cinta. Yet this is often the case. Bahkan ketika orang menjadi tahu [learn] bahwa terdapat hubungan antara kecenderungan-untuk-mengalami-kecelakaan [accident proneness] dan rasa perasaan bersalah atau antara alkoholisme dengan cinta yang terhambat, dia barangkali belumlah tentu untuk secara langsung sadar bahwa hubungan ini ada dalam dirinya. Freud percaya bahwa bila psikologi hendak menjustifikasi diri sebagai sebuah ilmu ia haruslah menyingkapkan sebab-sebab perilaku yang masih belum diketahui [unknown]. Itulah kenapa dia banyak membuat sebab-musabab atau motivasi bawah sadar dalam tahun-tahun awal psikoanalisisnya. Bagi Freud, apa yang bawah sadar adalah apa yang unknown.
2

Sigmund Freud, “Some Elementary Lessons in Psycho-analysis.” Dalam Collected Papers, V (London, 1950), 382.

Sadar dan bawah sadar dimasukkan dalam teori psikoanalitik setelah 1920 sebagai kualitas-kualitas dari fenomena mental. Apakah isi dari pikiran itu sadar atau bawah sadar tergantung pada the magnitude of the energy invested in it dan intensitas dari daya pembendungnya. Orang merasa sakit atau dia merasa nikmat ketika jika jumlah [the magnitude] rasa sakit atau rasa nikmat itu melampaui nilai cathexis tertentu yang disebut nilai ambang. Seperti itu pula, dia mempersepsi sebuah objek di dunia ketika proses-proses perseptual diberi energi yang melampaui nilai ambang tersebut. Bahkan ketika cathexis melebihi ambang itu, perasaan itu atau persepsi itu bisa tidak memiliki kualitas kesadaran karena efek-efek penghambat dari anti-cathexis yang menjauhkannya untuk menjadi sadar. Sebagai contoh, kasus-kasus yang diketahui dari orang yang tak bisa melihat terlepas dari fakta bahwa tak ada yang salah dengan mekanisme visualnya. Mereka buta karena mereka tidak ingin melihat. Ini berarti bahwa suatu kekuatan pembendung (anti-cathexis) secara efektif memblokir cathex-cathex visual. Alasan kenapa mereka tidak ingin melihat adalah bahwa melihat adalah terlalu menyakitkan bagi mereka. Mereka secara harfiah takut untuk melihat, seperti orang yang menutupkan mata ketika menonton bioskop agar tidak menyaksikan suatu adegan yang mengerikan. Persepsi dan perasaan merupakan pengalaman-pengalaman langsung atas sesuatu yang terjadi pada orang at the present time. Ingatan dan gagasan, di lain pihak, merupakan representasi mental dari pengalaman-pengalaman yang telah lalu. Agar gagasan dan ingatan menjadi sadar, perlulah bagi mereka untuk diasosiasikan dengan bahasa. Orang tidak bisa berpikir atau mengingat kecuali jika apa yang dia pikirkan dan dia ingat telah dikaitkan dengan kata-kata yang pernah dia lihat atau dengar. Consequently orang tidak dapat dengan sadar mengingat pengalaman-pengalaman masa kanak yang berlangsung sebelum perkembangan bahasa dimulai. Akan tetapi, terlepas dari fakta bahwa orang tidak dapat mengingat pengalaman-pengalaman awal tersebut, semua itu bisa memiliki artipenting decisif dalam perkembangan personalitas. Freud membedakan antara dua kualitas bawahsadar, prasadar dan bawah sadar sejati. Suatu gagasan atau ingatan prasadar adalah yang bisa menjadi sadar dengan lumayan mudah karena resistensi terhadap mereka lemah. Suatu pikiran atau ingatan bawah sadar butuh upaya keras untuk menjadi sadar karena besarnya kekuatan yang membendungnya. Di satu ujung skala tersebut adalah ingatan yang tidak akan pernah menjadi sadar karena ia tidak memiliki asosiasi dengan bahasa; di ujung yang lain adalah ingatan yang ada di ujung lidah. Semenjak konsentrasi besar dari energi dalam suatu proses mental dibutuhkan agar ia memiliki kualitas untuk menjadi sadar, energi untuk tujuan ini harus diperoleh dengan cara membelokkan pasokan energi dari proses-proses mental lain. Ini berarti bahwa kita hanya bisa menjadi sadar atas satu hal pada suatu saat. Akan tetapi, pergeseran energi yang cepat dari satu gagasan, ingatan, persepsi, atau perasaan pada yang lainnya menyediakan cakupan yang luas akan penyadaran yang sadar dalam waktu yang singkat. Orang bisa memikirkan atau berloncatan dalam mengingat begitu banyak hal dengan cepat dikarenakan mobilitas yang dimiliki energi psikis ketika semua itu diredistribusikan. Sistem perseptual seperti mekanisme sebuah radar yang memindai dengan cepat dan memotret banyak gambar dari dunia. Ketika sistem perseptual memperlihatkan suatu objek yang dibutuhkan atau menangkap keberadaan suatu ancaman potensial dalam dunia eksternal, ia beristirahat dan memfokuskan perhatiannya pada objek atau ancaman tersebut. Ideas and memories are summoned from the preconscious to help the person adjust to the situation confronting him. Ketika ancaman itu berlalu atau kebutuhan sudah dipuaskan, pikiran mengalihkan perhatian pada hal-hal yang lain.

VI. THE INSTINCT Sudah dituliskan dalam bagian sebelumnya dari bab ini (lihat Bagian II, “Instinct”) bahwa insting merupakan jumlah dari energi psikis yang memberikan arah pada prosesproses psikologis, dan bahwa ia memiliki sumber, tujuan, objek dan impetus. Berapa banyakkah insting yang ada? Jumlahnya sama banyaknya dengan kebutuhankebutuhan ragawi, semenjak insting merupakan representasi mental dari suatu kebutuhan ragawi. Freud mengatakan bahwa pertanyaan tentang jumlah insting adalah hal yang harus ditentukan oleh penyelidikan biologis. In his final reckoning, Freud mengenali dua kelompok besar insting, kelompok yang berperan melayani kehidupan, dan kelompok yang melayani kematian. Tujuan akhir dari insting-insting kematian adalah mengembalikan pada keadaan konstan yang dimiliki materi inorganik. Freud berspekulasi bahwa insting-insting kematian were built into living matter at a time in the evolution of the earth ketika kekuatan-kekuatan kosmik melakukan tindakan atas materi inorganik dan mengubahnya menjadi bentuk-bentuk kehidupan. Hal-hal kehidupan yang awali ini barangkali hanya berjalan amat singkat dan kemudian kembali (mengalami regresi) ke keadaan inorganis semula. Kehidupan pada dasarnya terdiri dari keadaan terganggu [disturbed] yang dihasilkan melalui stimulasi ekternal. Ketika gangguan itu mereda percik-percik kehidupan terbit. As a result of these conditions surrounding the creation of life, regresi pada keadaan inorganik menjadi tujuan dari yang organis. Seiring perjalanan evolusi dunia, bentuk-bentuk energi baru menciptakan gangguan-gangguan yang lebih bertahan lama sehingga rentang hidup pun lebih panjang. Eventually makhluk-makhluk hidup mendapatkan kekuatan untuk bereproduksi. Pada titik dalam evolusi ini penciptaan kehidupan menjadi independen dari stimulasi eksternal. Meski insting reproduksi memastikan [insure] kontinuitas kehidupan, kehadiran suatu insting kematian berarti bahwa tak ada makhluk hidup yang bisa hidup selamanya. Takdir terakhirnya selalulah kembali ke keadaan inorganik. Freud percaya bahwa hidup adalah jalan melingkar menuju kematian. Insting-insting kematian melaksanakan kerja-kerjanya secara misterius. Sedikit yang diketahui tentang insting-insting itu kecuali bahwa mereka secara tak terelakkan berhasil mencapai misinya. Akan tetapi, derivatif-derivatif dari insting-insting kematian, yang diantara insting terpentingnya adalah destructiveness dan agresi, jauh dari bersifat misterius. Diskusi tentang derivatif-derivatif insting akan ditemukan dalam Bab 4, “The Development of Personality.” Cukuplah untuk mengatakan di sini bahwa derivatif dari suatu insting adalah suatu daya pendorong yang memiliki sumber dan tujuan yang sama dengan insting yang darinya ia diasalkan, tapi berbeda dalam hubungannya dengan cara-cara yang melaluinya tujuan itu dicapai. Dengan kata lain, derivatif dari suatu insting is a substitute object-cathexis. Insting-insting kehidupan lebih dikenal karena efek-efeknya lebih publik. Semua itu merupakan representatif mental dari segenap kebutuhan-kebutuhan ragawi yang kepuasannya diperlukan untuk survival dan perkembang-biakkan. Insting-insting seks adalah insting kehidupan yang paling mendalam ditelaah dan mengasumsikan artipenting besar dalam teori personalitas psikoanalitik. Insting-insting seks memiliki sumber-sumbernya dalam bermacam zona ragawi, yang disebut zona-zona erogenus. Mulut, anus, dan organ-organ genital merupakan zona-zona erogenus yang utama. Freud memandang bahwa suatu zona erogenus mungkin merupakan bagian tubuh yang dipekakan oleh [peka karena] substansi-substansi kimiawi (hormon-hormon] yang dikeluarkan oleh kelenjar-kelenjar seks [sex glands]. Insting-insting seks muncul secara independen satu sama lain dalam hidup seorang individu, tapi pada pubertas [kematangan seksual] mereka lumrahnya menjadi disintesiskan dalam tugas-tugas reproduksi. Insting-insting seks juga berinteraksi dengan insting-insting kehidupan

lainnya. Mulut sebagai portal bagi makanan juga sebagai bagian tubuh yang ketika dirangsang dengan mencukupi akan memunculkan kenikmatan sensual. Anus adalah organ yang melaluinya produk-produk-buangan dieliminir tapi ia juga memberikan kenikmatan ketika ia distimulasi dalam cara tertentu. Derivatif utama insting-insting seks adalah cinta. Kita akan banyak membahas tentang insting-insting seks dan derivatifderivatifnya dalam bab berikutnya. Bentuk energi yang digunakan insting-insting kehidupan disebut libido, tapi tak ada nama khusus yang diberikan Freud bagi bentuk energi yang digunakan oleh instinginsting kematian. Dalam tulisan-tulisan yang lebih awalnya, Freud menggunakan term “libido” untuk menyebutkan energi seksual; tapi ketika dia merancang teorinya tentang motivasi, libido didefinisikan sebagai energi dari semua insting-insting kehidupan. Insting-insting kehidupan dan kematian dan derivatif-derivatif mereka bisa saja melebur satu sama lain, saling menetralisir, atau saling mengganti satu sama lain. Satu contoh dari peleburan [fusion] instingtual adalah tidur, semenjak tidur adalah baik keadaan dimana ketegangan direduksi (a partial return along the road back to the inorganic) dan saat yang ketika itu proses-proses kehidupan sedang direvitalisasi. Kegiatan makan merepresentasikan suatu peleburan insting kehidupan dengan insting destructiveness yang derivatifnya adalah insting kematian, semenjak hidup ditopang oleh makan tapi pada saat yang sama makanan itu sedang dihancurkan dengan digigit, dikunyah, dan ditelan. Cinta, suatu derivatif dari insting-insting seks, seringkali menetralisir rasa benci, derivatif dari insting-insting kematian. Atau mereka bisa saling menggantikan seperti yang terjadi ketika cinta berubah menjadi benci atau benci yang berubah menjadi cinta. Insting-insting bermukim dalam id, tapi mereka mengungkapkan diri dengan memandu proses-proses dari ego dan superego. Ego merupakan agen pokok dari insting-insting kehidupan. Ego melayani insting-insting kehidupan dalam dua cara penting. Ia lahir pada awalnya karena demi mendapatkan kepuasan bagi kebutuhankebutuhan ragawi. Ia melakukan hal ini dengan belajar melakukan transaksi-transaksi realistik dengan lingkungan. Ego juga melayani insting-insting kehidupan dengan mengubah [transforming] insting kematian ke dalam bentuk-bentuk yang tunduk pada tujuan-tujuan kehidupan alih-alih tujuan-tujuan kematian. Sebagai contoh, the primary death wish yang ada dalam id mengalami perubahan dalam ego menjadi agresi melawan musuh-musuh yang ada di dunia eksternal. Dengan melakukan tindakan agresif orang melindungi dirinya dari terluka atau dihancurkan oleh musuh-musuhnya. Agresi juga membantunya mengatasi rintangan-halangan yang tegak di tengah jalan menuju kepuasan yang diidamkan oleh kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Akan tetapi ketika orang sedang agresif dia seringkali menemui kontra-agresi dari tokoh-tokoh otoritas dan musuh-musuh. Untuk menghindari hukuman, orang itu kemudian belajar untuk mengidentifikasi dengan agresor. Ini berarti bahwa dia menjadi agresif terhadap [dalam melawan] impuls-impuls yang membuat dirinya memiliki sikap bermusuhan kepada orang lain. Dengan kata lain, dia mengembangkan superego yang memainkan peran yang sama dalam mengontrol impuls-impulsnya seperti yang dilakukan otoritas eksternal. Superego dalam perannya sebagai otoritas yang diinternalisasi kemudian mengambil aksi agresif terhadap ego kapanpun ego menimbang-nimbang untuk memiliki sikap bermusuhan atau memberontak terhadap suatu figur otoritas external. Urutan peristiwanya bisa diringkaskan sebagai berikut: (1) anak bersikap agresif kepada ayah, (2) sang ayah membalasnya dengan menghukum si anak, (3) si anak beridentifikasi dengan ayah yang menghukum tersebut, (4) otoritas yang dimiliki sang ayah diinternalisasi dan menjadi superego, dan (5) superego itu menghukum ego ketika ia tak mematuhi aturan moral dari superego. Dalam bentuk yang ekstrim, superego

berusaha untuk menghancurkan ego. Inilah apa yang terjadi, contohnya, ketika orang merasa begitu malu akan dirinya sendiri sehingga dia punya kecenderungan untuk bunuh diri. Semenjak ego merupakan agen kehidupan, superego dengan berusaha menghancurkan ego punya tujuan yang sama dengan the original death wish in the id. Itulah kenapa superego disebut-sebut sebagai agen dari insting-insting kematian. VII. ANXIETY Kecemasan merupakan salah satu konsep paling penting dalam teori psikoanalisis. Ia memainkan peran penting dalam perkembangan personalitas juga dalam dinamika bekerjanya personalitas. Lebih lagi, ia merupakan signifikansi sentral dalam teori Freud tentang neurosis dan psikosis dan dalam perawatan atas kondisi-kondisi patologis ini. Diskusi sekarang akan membatasi diri pada pembahasan atas bagian yang dimainkan kecemasan dalam berfungsinya personalitas normal. Kecemasan adalah pengalaman emosional yang menyakitkan yang dihasilkan melalui Excitasi-excitasi dalam organ-organ internal tubuh. Excitasi-excitasi ini dihasilkan dari stimulasi internal atau eksternal dan dikendalikan oleh sistem saraf otonomis. Sebagai contoh, ketika orang menghadapi suatu situasi yang membahayakan jantungnya berdetak lebih kencang, bernafas dengan lebih cepat, mulut menjadi kering, dan telapak tangannya berkeringat. Kecemasan dibedakan dari keadaan-keadaan menyakitkan lainnya, seperti misalnya ketegangan, rasa sakit, dan melankoli oleh beberapa kualitas tertentu dari kesadaran. Exactly apa yang menentukan kualitas ini yang belum diketahui. Freud berpandangan bahwa ia mungkin merupakan beberapa ciri distingtif dari the visceral excitations themselves. Dalam setiap kejadian, kecemasan merupakan keadaan sadar yang bisa dibedakan secara subjektif oleh orang yang mengalami rasa sakit, depresi, melankoli, dan ketegangan-ketegangan yang diakibatkan dari rasa lapar, haus, seks, dan kebutuhan-kebutuhan ragawi lainnya. Incidentally, tak ada hal seperti misalnya kecemasan bawah sadar any more than there is such a thing as rasa sakit bawah sadar. Orang bisa tak insaf akan alasan-alasan dari kecemasannya, tapi dia tidak dapat tidak [niscaya] insaf akan perasaan kecemasan tersebut. Kecemasan yang tidak dialami tidaklah ada. Kecemasan adalah sinonim dengan emosi ketakutan. Freud memilih term anxiety daripada fear karena rasa takut biasanya dipahami dalam artian berada dalam kondisi takut akan sesuatu yang ada di dunia eksternal. Freud mafhum bahwa orang bisa saja takut akan ancaman-ancaman internal sebagaimana ancaman yang eksternal. Dia membedakan tiga tipe kecemasan, kecemasan realitas atau objektif, kecemasan neurotik, dan kecemasan moral. Ketiga tipe kecemasan ini tidak berbeda diantara masing-masingnya secara kualitatif. Mereka semua memiliki kualitas tunggal sebagai sesuatu yang tak mengenakkan. Mereka berbedaan hanya dalam hubungannya dengan sumber-sumber mereka. Dalam kecemasan realitas, sumber ancaman itu terletak di dunia eksternal. Orang takut akan ular berbisa, orang berpistol, atau mobil yang bergerak tak terkendali. Dalam kecemasan neurotik, ancaman itu terdapat dalam an instinctual object-choice of the id. A person is afraid of being overwhelmed by an uncontrollable urge to commit some act or think some thought which will prove harmful to himself. Dalam kecemasan moral, sumber ancaman itu adalah nurani dari superego. Orang takut dihukum oleh nurani karena melakukan atau memikirkan sesuatu yang bersebrangan dengan standarstandar yang dimiliki ego-ideal. Ringkasnya, ketiga tipe kecemasan yang dialami oleh ego adalah rasa takut akan dunia eksternal, rasa takut akan id, dan rasa takut akan superego.

Distingsi antara ketiga tipe kecemasan ini tidaklah berarti bahwa orang yang mengalami kecemasan sadar akan sumber aktualnya. Dia mungkin mengira bahwa dia takut akan sesuatu yang ada dalam dunia eksternal ketika pada kenyataannya ketakutannya itu berakar dari suatu ancaman impulsif atau ancaman dari superego. Misalnya, orang yang takut memegang pisau-pisau yang tajam mungkin mengira bahwa ketakutannya itu adalah karena pisau yang tajam secara intrinsik memang membahayakan, ketika pada kenyataannya apa yang menakutkannya adalah bahwa dia mungkin menjadi agresif dan melukai seseorang ketika dia sedang memegang pisau. Atau orang mungkin mengira bahwa dia takut berada di tempat tinggi karena tempattempat tinggi secara objektif berbahaya, ketika sebenarnya dia takut nuraninya will seize the opportunity of his being on a high place to punish him for his sins by causing him to fall off. Suatu keadaan cemas bisa memiliki lebih dari satu sumber. Ia bisa pula merupakan campuran dari kecemasan objektif dan neurotik, atau dari kecemasan moral dengan kecemasan objektif, atau dari kecemasan neurotik dan kecemasan moral. Ia juga bisa merupakan campuran ketiganya. Fungsi satu-satunya kecemasan adalah untuk bertindak sewaktu suatu ancaman memberi sinyal kepada ego, sehingga ketika sinyal itu muncul dalam kesadaran the ego may institute measures to deal with the danger. Meski kecemasan adalah menyakitkan dan orang mungkin ingin semua itu sirna, ia melayani satu fungsi yang amat penting dengan memperingatkan orang akan keberadaan ancaman-ancaman internal dan eksternal. Dengan menjadi waspada, dia bisa melakukan sesuatu untuk mengenyahkan atau menghindarkan ancaman tersebut. Di lain pihak, jika ancaman itu tidak dapat dihindarkan, kecemasan bisa memuncak and finally overwhelm the person. Jika ini terjadi, orang itu dikatakan mengalami a nervous breakdown. A. REALITY ANXIETY Kecemasan realitas merupakan pengalaman emosional yang menyakitkan yang dihasilkan dari persepsi akan ancaman dalam dunia eksternal. Suatu ancaman adalah setiap kondisi yang ada di lingkungan yang mengancam akan melukai [mendatangkan kerugian, kenestapaan] orang tersebut. Persepsi akan ancaman dan munculnya kecemasan bisa saja bawaan lahir dalam artian bahwa orang tersebut mewarisi suatu kecenderungan untuk menjadi takut dengan kehadiran objek-objek tertentu atau kondisikondisi environmental tertentu, atau bisa juga kecemasan itu diperoleh sewaktu dia menjalani kehidupannya. Misalnya, takut akan gelap bisa merupakan bawaan lahir karena selama generasi-generasi yang telah lewat kaum prianya secara tetap terancam sepanjang malam sebelum mereka punya cara dalam membuat api, atau ia bisa dipelajari karena ia lebih cenderung mengalami pengalaman yang membangkitkan ketakutan sepanjang malam daripada di waktu siang hari. Atau adalah mungkin pewarisan dan pengalaman merupakan co-producers of fear of darkness. Pewarisan mungkin membuat orang menjadi rentan pada rasa takut tersebut sementara pengalaman bisa mengubah kerentanan itu menjadi aktualitas. Dalam suatu peristiwa, ketakutan lebih mudah diperoleh sepanjang masa bayi dan masa kanak ketika ketakberdayaan dari organisme yang belum matang itu membuatnya tidak sanggup untuk mengatasi ancaman-ancaman eksternal. Organisme yang masih muda itu seringkali diliputi rasa takut karena egonya belum berkembang sampai satu titik di mana dia bisa mengontrol jumlah stimulasi yang eksesif. Pengalaman-pengalaman yang membebani orang hingga dia tak bisa menanggungnya dengan kecemasan disebut traumatik, karena pengalamanpengalaman itu mengembalikan dia pada keadaan helplessness yang dia alami ketika dalam fase bayi. Prototip dari segenap pengalaman traumatik adalah birth trauma. Bayi yang baru dilahirkan dibombardir dengan stimulasi eksesif dari dunia yang dalam fase

sebelumnya, fase eksistensi fetal yang terlindung dalam rahim, tidak mempersiapkan si bayi dengan cara-cara untuk mengatasinya. Semasa tahun-tahun pertamanya, anak berhadapan dengan banyak situasi lain yang tidak dapat dia tangani, dan pengalamanpengalaman traumatik ini menyiapkan landasan bagi perkembangan keseluruhan bentuk dan perkaitan-perkaitan dari rasa takut. Tiap situasi dalam kehidupan yang kemudian yang berpotensi mengembalikan orang itu pada keadaan helplessness masa kanak akan memicu sinyal kecemasan. Ketakutan semuanya berhubungan dan diasalkan dari pengalaman-pengalaman awal akan situasi helplessness ini. Itulah kenapa amat penting untuk memproteksi bayi dari pengalaman-pengalaman traumatik. Akan tetapi kita bisa dan belajar bereaksi secara efektif ketika alarm dari kecemasan berdering. Kita kabur dari ancaman atau kita melakukan sesuatu untuk meredakan ancaman itu. Kita juga mendapat [lewat proses belajar] kemampuan untuk mengantisipasi ancaman dan mengambil langkah-langkah untuk mengenyahkannya sebelum ia menjadi traumatis. Kemampuan ini terdiri dari kemampuan untuk mengenali secuil perasaan akan apprehension sebagai sinyal untuk sesuatu yang akan menjadi lebih berbahaya kecuali hal itu dihentikan. Orang terus-terusan meregulasi perilakunya atas dasar of incipient feelings of apprehension. Ketika orang sedang mengemudikan mobil, misalnya, dia mengalami serangkaian apprehension yang memperingatkannya untuk bersikap waspada akan ancaman yang mungkin datang. Ketika orang tidak bisa melakukan sesuatu untuk mengusir ancaman, kecemasan memuncak sampai pada titik dimana orang itu pening atau pingsan. Rasa takut diketahui bisa membunuh orang. Seperti yang akan kita lihat dalam bab selanjutnya, ego memiliki cara lain dalam berurusan dengan kecemasan. B. NEUROTIC ANXIETY Kecemasan neurotik dilahirkan oleh suatu persepsi akan bahaya dari insting-inting. Ia merupakan ketakutan akan apa yang mungkin terjadi jika anti-cathex dari ego gagal untuk membendung object-cathex dari melepaskan ketegangan-ketegangannya dalam tindakan yang impulsif. Kecemasan neurotik bisa muncul dalam tiga bentuk. Ada a free-floating type of apprehensiveness yang sudah melekatkan diri pada keadaan environmental yang kurang lebih suitable. Macam kecemasan ini mencirikan orang yang gugup yang selalu mengekspektasi sesuatu yang menakutkan akan terjadi. Tentang orang seperti ini kita menyebutnya bahwa dia takut akan bayangannya sendiri. Kita mungkin lebih baik mengatakan bahwa dia takut akan id-nya sendiri. Apa yang sebenarnya dia takuti adalah bahwa id yang secara konstan melakukan pressure pada ego akan mendapatkan kontrol atas ego dan mengembalikannya pada keadaan helplessness. Bentuk kecemasan neurotik lainnya yang bisa dilihat adalah rasa takut intens dan irasional. Ini disebut phobia. Ciri khas dari fobia adalah intensitas ketakutan itu jauh amat tidak sebanding dengan ancaman aktual dari objek yang ditakutinya itu. Dia bisa saja takut setengah mati akan lalat buah, tikus, tempat-tempat tinggi, orang ramai, daerah terbuka, kancing, karet, menyebrang jalan, bicara di hadapan sekelompok orang, air, atau bola lampu, untuk menyebutkan sedikit dari banyak fobia yang pernah dilaporkan. Dalam masing-masing kasus ini ketakutan tersebut irasional karena pemicu utama dari kecemasan itu terdapat dalam id daripada dalam dunia eksternal. Objek fobia merepresentasikan suatu godaan kepada pemuasan instingtual atau diasosiasikan dengan bermacam cara dengan suatu object-choice instingtual. Di balik semua ketakutan neurotik terdapat suatu keinginan primitif id akan objek yang ditakutinya itu. Orang tersebut menginginkan apa yang ia takutkan atau dia menginginkan sesuatu yang diasosiasikan dengannya, atau disimbolkan oleh, objek yang ditakutinya.

Sebagai contoh, seorang wanita muda takut setengah mati dalam menyentuh segala sesuatu yang terbuat dari karet. Dia tidak tahu kenapa dia memiliki ketakutan semacam ini; dia hanya tahu bahwa dia sudah mengidapnya sudah lama sekali. Analisis menyingkapkan fakta-fakta berikut. Ketika dia masih kanak-kanak, ayahnya membawa pulang dua buah balon, satu untuknya dan yang satunya lagi untuk adik perempuannya. In a bit of temper dia memecahkan balon kepunyaan adiknya, yang untuk kesalahannya itu dia dihukum dengan keras oleh ayahnya. Lebih lagi, dia harus menyerahkan balonnya kepada adiknya sebagai ganti dari balon yang pecah. Dengan analisis yang lebih jauh diketahui bahwa dia telah menjadi amat cemburu pada adik perempuannya ini, sebegitu cemburunya sampai dia punya keinginan agar si adik mati saja dan akan membuatnya sebagai satu-satunya orang tempat curahan seluruh cinta ayahnya. Memecahkan balon adiknya ditandakan sebagai suatu tindakan destruktif dalam melawan adiknya. Hukuman yang datang kemudian dan rasa bersalah yang diidapnya kemudian diasosiasikan dengan balon karet. Kapanpun dia berkontak dengan karet, ketakutan yang lama untuk menghancurkan adik perempuannya itu membuat si wanita merasa kerdil. Fobia-fobia juga bisa dibikin intens oleh kecemasan moral ketika objek yang diinginkan namun ditakuti itu merupakan objek yang melanggar ideal yang dimiliki superego. Misalnya, seorang perempuan mungkin memiliki ketakutan irasional mengalami perkosaan karena dia benar-benar ingin diserang secara seksual tapi superegonya menentang keinginannya ini. Dia tidak benar-benar takut diperkosa; pada kenyataannya dia menginginkan hal itu terjadi. Yang ditakutkannya adalah nuraninya sendiri karena telah memelihara keinginan tersebut. Dengan kata lain, satu bagian dari personalitasnya sedang berperang dengan bagian yang lain. Id mengatakan, “I want it”; superego mengatakan, “How horrible”; dan ego mengatakan, “I am afraid.” Inilah penjelasan bagi banyak ketakutan yang akut. Bentuk ketiga kecemasan neurotik terlihat dalam reaksi-reaksi panik atau hampir-panik. Reaksi-reaksi ini muncul dengan tiba-tiba dan with no apparent provocation. Orang kadang-kadang membaca berita tentang seseorang yang berlari dengan perasaan marah lalu menembaki dengan membabi buta banyak orang yang bahkan tak pernah dia kenal dan yang tak pernah melakukan kerugian secuilpun kepada dirinya. Subsequently dia tidak bisa menjelaskan kenapa dia melakukan hal semacam itu. Apa yang dia tahu adalah bahwa dia merasa kecewa berat [upset] dan begitu tegang sehingga dia harus melakukan sesuatu sebelum dia meledak. Reaksi-reaksi panik ini merupakan contoh dari perilaku pelepasan ketegangan yang bertujuan untuk melepaskan kecemasan neurotik yang amat menyakitkan dengan melakukan hal-hal yang disuruh id, tanpa menghiraukan larangan-larangan ego dan superego. Perilaku panik adalah bentuk ekstrim dari reaksi yang seringkali diperlihatkan dalam bentuk-bentuk yang kurang violent. Ia terlihat kapanpun seseorang melakukan sesuatu yang diluar kebiasaannya. Ia bisa berupa memberondongkan kata-kata ofensif tertentu, mengambil benda yang bernilai kecil dari toko, atau melontarkan pernyataan menyakitkan mengenai seseorang. dalam kasus-kasus semacam itu orang itu disebut to be acting out his impulses. Acting out one’s impulses mengurangi kecemasan neurotik dengan mengendurkan tekanan yang dilakukan id kepada ego. Tak perlulah dikatakan, perilaku acting-out ini akan menghasilkan peningkatan kecemasan realitas ketika tindak impulsif tersebut membangkitkan reaksi mengancam dari lingkungan, seperti yang biasanya terjadi. Seorang anak yang berulang-ulang dihukum karena acting on impulse, so that he ussually learns to control his impulses. Jika dia sewaktu kecil tidak belajar mengontrol, dan tumbuh menjadi seorang yang impulsif, masyarakat memiliki cara-cara dalam menangani orang semacam dia melalui saluran-saluran hukum. Even so, warga yang patuh hukum telah sering kita dengar

melanggar hukum dibawah tekanan kecemasan neurotik. Kontrol yang mereka punya berantakan dan impuls-impuls saling berebutan minta disalurkan lewat perilaku. Meski orang yang terkontrol dengan baik biasanya menyesali tindakan-tindakan impulsif dan ledakan-ledakan emosional, there is a sense of relief that comes from exploding. Kecemasan neurotik didasarkan pada kecemasan realitas dalam artian bahwa orang harus mengasosiasikan tuntutan instingtual dengan suatu ancaman eksternal sebelum dia belajar untuk takut terhadap insting-instingnya. Sepanjang pelepasan instingtual tidak melahirkan hukuman, dia tidak mempunyai sesuatupun untuk ditakuti dari objectcathex instingtual. Akan tetapi, ketika perilaku impulsif mendatangkan masalah bagi seseorang, seperti yang biasanya terjadi, dia menjadi tahu [learns] seberapa bahaya insting-insting tersebut sebenarnya. Tamparan dan spankings dan bentuk-bentuk hukuman lainnya memperlihatkan pada anak bahwa pemuasan instingtual impulsif membawa orang pada situasi yang tak menyamankan. Si anak mendapatkan kecemasan neurotik ketika dia dihukum karena telah bertindak impulsif. Kecemasan neurotik bisa menjadi beban yang jauh lebih berat bagi ego daripada kecemasan objektif. Sewaktu kita tumbuh dan bertambah usia kita mengembangkan cara-cara menguasai atau menghindarkan ancaman-ancaman eksternal, dan bahkan sewaktu kanak kita selalu dapat melepaskan diri dari objek-objek atau situasi-situasi yang berbahaya. Tapi semenjak sumber kecemasan neurotik is a province of one’s own personality, adalah lebih sulit untuk menanganinya dan lumayan mustahil untuk melarikan diri darinya. Perkembangan personalitas, seperti yang akan kita lihat di bab selanjutnya, ditentukan sebagian besarnya oleh macam-macam adaptasi dan mekanisme yang dibentuk dalam ego untuk berurusan dengan kecemasan-kecemasan neurotik dan kecemasan moral. Pertarungan melawan rasa takut merupakan salah satu keterlibatan decisif dalam pertumbuhan psikologis, yang hasil akhirnya akan amat menentukan bagi karakter final dari seseorang. Sebelum bagian ini diakhiri pembaca haruslah mencatat bahwa kecemasan neurotik bukanlah sesuatu dimiliki secara eksklusif oleh orang-orang neurotik. Orang normal pun mengalami kecemasan neurotik, tapi kecemasan itu tidak mengontrol kehidupan mereka sejauh yang terjadi dalam kehidupan orang-orang neurotik. After all, perbedaan antara orarng neurotik dengan orang normal is one degree, dan garis batas antara keduanya adalah wilayah abu-abu. C. MORAL ANXIETY Kecemasan moral dialami sebagai perasaan bersalah atau malu dalam ego, dibangkitkan oleh persepsi akan adanya suatu ancaman dari nurani. Nurani sebagai agen otoritas parental yang diinternalisasi mengancam akan menghukum orang karena melakukan atau memikirkan sesuatu yang melanggar tujuan-tujuan perfeksionistik egoideal yang telah diterakan dalam personalitasnya oleh orang tua. Ketakutan original yang darinya kecemasan moral berasal adalah ketakutan yang objektif; ia merupakan ketakutan akan orang tua yang punitive. Seperti dalam kasus kecemasan neurotik, sumber kecemasan moral terletak dalam struktur personalitas, dan sebagaimana dengan kecemasan neurotik orang tidak dapat melepaskan diri dari perasaan bersalah dengan melarikan diri dari semua itu. Konflik ini sepenuhnya intra-psikis, yang berarti bahwa ia merupakan konflik struktural dan tidak memperlihatkan hubungan antara orang dengan dunia, kecuali dalam artian historis bahwa kecemasan moral adalah an outgrowth of an objective fear of the parents. Kecemasan moral memiliki kaitan yang kuat dengan kecemasan neurotik semenjak musuh utama dari superego adalah object-choice dari id. Kaitan-kaitan ini berasal dari disiplin orang tua yang sebagian besarnya diarahkan untuk melawan ekspresi-ekspresi seksual dan impuls-impuls agresif. Sebagai akibatnya, nurani, yang merupakan suara

otoritas parental yang diinternalisasi, terdiri dari larangan-larangan terhadap sensualitas dan ketakpatuhan. Adalah salah satu ironi kehidupan bahwa seorang yang saleh mengalami lebih banyak rasa malu daripada yang dialami oleh orang yang tak saleh. Alasan untuk hal ini adalah bahwa semata-mata memikirkan untuk melakukan sesuatu yang buruk membuat seorang yang saleh merasa malu. Orang yang melakukan banyak kontrol diri is bound to [cenderung] give a good deal of thought to instinctual temptations since he does not find other outlets for his instinctual urges. Orang yang kurang saleh tidak memiliki superego yang kuat, dan dengan begitu dia kurang merasakan kekangan-nurani ketika dia memikirkan atau melakukan sesuatu yang ganjil bagi kode moral yang ada. Perasaan bersalah merupakan bagian dari harga yang harus dibayar oleh orang idealistik atas penyangkalan instingtual [yang dilakukannya]. Kita telah mengatakan bahwa kecemasan merupakan suatu peringatan pada ego bahwa ia sedang terancam. Dalam kecemasan objektif jika orang tidak memperdulikan peringatan tersebut sesuatu yang mencelakakan bakalan terjadi. Dia menderita sakit atau luka fisik, atau dia akan mengalami privation or deprivation. Dengan memerdulikan peringatan itu, orang akan sanggup menghindarkan ancaman dan kecelakaan tersebut. Baik dalam kecemasan moral maupun kecemasan neurotik keterancaman itu tidaklah berada di dunia eksternal juga bukan luka fisik yang menyakitkan yang ia takutkan. Lalu apa yang dia takutkan? Orang takut akan rasa takut itu sendiri. Ini sudah jelas dalam kasus perasaan bersalah yang secara langsung menyakitkan bagi orang tersebut. Perasaan bersalah bisa begitu tak tertahankan, in fact, sehingga orang yang merasa bersalah bisa melakukan sesuatu yang mengundang hukuman dari sumber eksternal demi menghapuskan rasa bersalah itu dan mendapatkan kelegaan [relief]. Orang-orang yang ketahuan melakukan kejahatan terlepas dari perasaan bersalah. Mereka dengan mudah dapat ditangkap karena mereka ingin tertangkap dan ingin dihukum. Dalam cara yang serupa, tekanan kecemasan neurotik yang semakin sengit bisa membuat orang kehilangan akal dan melakukan sesuatu yang amat impulsif. Konsekuensi-konsekuensi dari perbuatan impulsif dipandang sebagai kurang menyakitkan daripada kecemasan itu sendiri. Kecemasan neurotik dan kecemasan moral tidak hanya merupakan a signal of impeding danger to the ego, ia juga ancaman itu sendiri. VIII. KESIMPULAN Dalam bab ini kita telah membahas personalitas sebagai sistem energi yang kompleks. Bentuk energi yang menjalankan personalitas dan memampukannya melakukan kerjakerjanya disebut energi psikis. Darimanakah energi ini berasal? Ia datang dari energi vital tubuh. Energi vital ditransformasi menjadi energi psikis. Bagaimana transformasi ini terjadi tidaklah diketahui. Sumber dari energi psikis adalah id. Energi id ini digunakan untuk memuaskan instinginsting kehidupan dan kematian. Melalui mekanisme identifikasi, energi disedot dari sumbernya dan digunakan untuk mengaktivasi ego dan superego. Energi untuk ego dan superego itu dipakai untuk dua tujuan utama. Ia bisa membantu untuk melepaskan ketegangan dengan disuntikkan dalam cathex-cathex, atau ia menghindarkan pelepasan ketegangan tersebut dengan disuntikkan dalam anti-cathex. Anti-cathex diciptakan utamanya demi tujuan-tujuan mereduksi kecemasan dan menjauhkan rasa sakit. Apa yang seseorang pikirkan dan apa yang dia lakukan ditentukan oleh kekuatan-kekuatan relatif dari daya-daya pendorong dan penentang ini. In the final analysis, dinamika personalitas terdiri dari pertukaran-pertukaran energi psikis diantara tiga sistem personalitas. REFERENSI

Energy, Instinct, and Cathexis
Freud, Sigmund. (1915) “Instincts and Their Vicissitudes.” Dalam Collected Papers, Vol. IV, hal. 60-83. London: The Hogarth Press, 1964. Freud, Sigmund. (1920) Beyond the Pleasure Principle. London: The Hogarth Press, 1948. Freud, Sigmund. (1923) The Ego and the Id, Bab. IV. London: The Hogarth Press, 1947. Freud, Sigmund. (1924) “The Economic Problem in Masochism.” Dalam Collected Papers, Vol. II, hal. 255-68. London: The Hogarth Press, 1933. Freud, Sigmund. (1933) New Introductory Lectures on Psycho-analysis, Bab IV. New York: W.W. Norton & Company, Inc., 1933. Freud, Sigmund. (1933) An Outline of Psychoanalysis, Bab 2. New York: W.W. Norton & Company, Inc., 1949.

Consciousnes and Unconsciousness
Freud, Sigmund. (1900) The Interpretation of Dreams, Bab 7. London : The Hogarth Press, 1953. Freud, Sigmund, (1912) “A Note on the Unconscious in Psychoanalysis.” Dalam Collected Papers, Vol. IV, hal. 22-29. London: The Hogarth Press, 1946. Freud, Sigmund. (1915) “The Unconscious.” Dalam Collected Papers, Vol. IV, hal. 98136. London: The Hogarth Press, 1946. Freud, Sigmund. (1938) An Outline of Psychoanalysis, Bab 4. New York: W.W. Norton & Company, Inc., 1949.

Anxiety
Freud, Sigmund. (1926) Inhibitions, Symtoms, and Anxiety. London: thp, 1948. Freud, Sigmund. (1933) New Introductory Lectures on Psychoanalysis. Bab 4. New York: W.W. Norton & Company, Inc., 1933.

Bab 4 The Development of Personality
Salah satu fakta tegas tentang personalitas adalah bahwa ia selalu berubah dan berkembang. Ini terutama dapat dikenali selama periode-periode bayi, anak, dan dewasa. Secara struktural, ego menjadi lebih terbedakan dan, secara dinamis, ia semakin mengontrol sumber-sumber energi yang instingtual. There is an elaboration of behaviour patterns, tumbuhnya cathex-cathex objek dalam bentuk minat dan keterlibatan [attachments] dan perkembangan proses-proses psikologis dari persepsi, memori, dan pemikiran. Seluruh personalitas menjadi lebih terintegrasi, yang berarti bahwa pertukaran energi di antara ketiga sistem tersebut dan dengan dunia eksternal terfasilitasi. Cathex-cathex dan anti-cathex cenderung menjadi stabil ketika orang bertambah umur, sehingga personalitas berfungsi dalam cara yang lebih halus, lebih tertata, dan lebih konsisten. Melalui proses pembelajaran, orang mengembangkan skill yang lebih tinggi dalam menangani frustrasi dan kecemasan. Perubahan-perubahan ini dan banyak lagi yang lainnya dalam diri seseorang merupakan hasil dari lima kondisi utama: (1) maturasi, (2) excitasi yang menyakitkan yang ditimbulkan dari external privations and deprivation (external frustration), (3) excitasi menyakitkan yang ditimbulkan dari konflik internal (cathex versus anti cathex), (4) ketakmemadaian personal, dan (5) kecemasan. Maturasi terdiri dari sekuen-sekuen terkontrol dari perubahan-perubahan developmental. Berjalan adalah contoh dari proses maturasi. Pertama-tama, bayi tidak memiliki kekuatan lokomosi*; lalu, karena pertumbuhan tulang, otot dan tendon, dan perkembangan dalam sistem saraf, bayi mengalami serangkaian progresi yang dimulai dengan mengangkat kepala dan diakhiri dengan melangkahkan langkah pertamanya sendiri. Perkembangan bahasa memperlihatkan serangkaian progresi serupa dari ujaran-ujaran tak bermakna yang dilakukan bayi sampai pada verbalisasi-verbalisasi bermakna seorang anak. Persepsi, memori, pembelajaran, penilaian, dan berpikir dipengaruhi oleh maturasi sistem saraf pusat, dan insting-insting, terutama insting seksual, berubah melalui maturasi sistem neuro-humoral yang terdiri dari sistem saraf otonom dan kelenjar-kelenjar endokrin. Maturation is pervasive. There is probably no aspect of development that does not bear its imprint; akan tetapi adalah sulit jika bukan mustahil untuk menguraikan efek-efek maturasi dari efek-efek proses pembelajaran. Maturasi dan proses pembelajaran bergerak bahu-membahu dalam perkembangan personalitas. Frustrasi adalah segala sesuatu yang menghalangi suatu excitasi menyakitkan atau tak mengenakkan untuk dilepaskan. Dengan kata lain, frustrasi adalah sesuatu yang ada di tengah jalan [menghalangi] beroperasinya prinsip kenikmatan. Orang bisa terfrustrasikan karena objek-tujuan tidak ditemukan di lingkungan. ini disebut privation. Atau objek-tujuan tersebut bisa saja ada tapi ia dikuasai pihak lain atau dijauhkan dari orang yang menginginkannya. Ini disebut deprivation. Privasi dan deprivasi dikelompokkan sebagai frustrasi eksternal kerena keduanya berada dalam lingkungan. Frustrasi bisa pula disebabkan oleh sesuatu yang ada dalam diri. Mungkin saja terdapat kekuatan-penentang atau anti-cathexis yang menghalangi orang dari mendapatkan kepuasan. Ini disebut conflict. Atau dia mungkin tidak memiliki keahlian, pemahaman, intelegensi, atau pengalaman yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian yang memuaskan. Kelemahan dan keterbatasan yang terdapat dalam diri disebut personal inadequacies. Terakhir, frustrasi bisa terjadi karena rasa takut. Orang
*

bergerak/berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

takut mengejar hal-hal yang ia inginkan. Rasa takut ini mungkin saja real, neurotik, atau moral, atau kombinasi daripadanya. Cara-cara yang dilakukan orang untuk mengatasi atau menyesuaikan diri pada rintangan-rintangan ini membentuk personalitasnya. Ini adalah pokok bahasan dari bab sekarang. Kita sekarang beralih untuk membahas beberapa metode prinsipil yang melaluinya seseorang berusaha menangani ftrustrasi-frustrasi, conflik-konflik dan kecemasan-kecesamasannya. Metode-metode ini adalah identifikasi, displacement, sublimasi, mekanisme pertahanan diri, dan transformasi insting melalui fusi dan kompromi. I. IDENTIFIKASI Dalam bab sebelumnya, pembentukan ego dan superego dijelaskan melalui mekanisme identifikasi. Dikatakan bahwa ego dan superego mengambil energi dari id dengan membuat identifikasi-identifikasi moralistik dan ideasional dengan object-choice dari id. Pada saat ini kami ingin mendiskusikan dengan lebih detil perihal kodrat identifikasi dan perannya dalam perkembangan personalitas. Dalam konteks sekarang, identifikasi akan didefinisikan sebagai the incorporation of the qualities of an external object, usually those of another person, into one’s personality. Orang yang berhasil mengidentifikasi dengan orang lain akan menyerupai orang itu. Salah satu alasan kenapa anak-anak menyerupai para orang tua mereka adalah bahwa mereka mengasimilasikan karakteristik dari orang tua mereka. Tendensi untuk menyalin dan mengimitasi orang lain merupakan faktor penting dalam mencetak personalitas. Di bawah kondisi apa identifikasi berlangsung? Pada awalnya sedikit kaitannya dengan frustrasi atau kecemasan. Ia melulu bergantung pada meluasnya cathexis narcisistik (cinta-diri) pada ciri-ciri orang lain yang are cathected in one’s self. Sebagai contoh, seorang anak lelaki yang meng-cathect-kan ciri-ciri maskulin sendiri will be more likely to value the masculine features of other males, bukan karena dia ingin memiliki ciri-ciri itu tapi karena mereka mirip dengan ciri-ciri yang dia punyai. Kita selalu condong mengidentifikasi dengan orang yang memiliki karakteristik yang sama dengan yang kita miliki. Ini berlaku pada kepemilikan-kepemilikan material juga pada ciri-ciri personal [traits]. Orang yang memiliki Cadillac lebih berkemungkinan untuk beridentifikasi dengan orang lain yang memiliki Cadillac daripada dengan mereka yang memiliki Ford. Jenis identifikasi ini disebut narcissistic identification. Narcissisme adalah istilah Freud untuk cinta-diri. Istilah ini diambil dari mitos Narcissus, yang jatuh cinta dengan bayangannya sendiri yang dia lihat terpantul pada permukaan air sebuah kolam. Kita mengatakan seseorang sebagai narcissistik ketika dia menghabiskan banyak waktu untuk memuji diri sendiri. Identifikasi narcissistik jangan dikacaukan dengan object-choice. Ketika orang membuat suatu object-choice dia melakukannya karena dia menginginkan objek tersebut. Dalam identifikasi narcissistik orang tersebut sudah memiliki objek yang dia inginkan; cathexisnya merely fans out to include other people who have the same object. Pria mengidentifikasi diri dengan pria lain karena mereka berbagi karakteristik yang sama, but they cathect women because women are a means by which tensions of various kinds can be reduced. Jika faktor narcissisme begitu kuat, orang akan akan mendapatkan kepuasan hanya dari memilih suatu objek cinta yang menyerupai dirin sendiri. Inilah satu alasan kenapa orang memilih homoseksualitas in preference to heterosexuality, atau kenapa seorang pria bisa menikahi seorang wanita maskulin atau seorang wanita menikahi pria yang feminin. Orang mencintai gambar pantulan dirinya seperti yang terjadi dengan Narcissus.

Cukuplah memungkinkan bahwa semua object-choices dipengaruhi sedikit banyak oleh narcissisme. Dua orang, misalnya, biasanya tidak akan jatuh cinta kecuali mereka menyerupai satu sama lain dalam cara tertentu. umumnya, orang dari kelas sosial yang sama dan dengan minat dan citarasa yang serupa akan saling jatuh cinta dan menikah. Identifikasi narcissistik is responsible for ikatan-ikatan yang ada di antara para anggota kelompok yang sama. Para anggota dari fraternity saling mengidentifikasikan diri karena mereka berbagi sedikitnya satu karakteristik yang sama: keanggotaannya dalam kelompok yang sama. Kapanpun dua atau lebih orang memiliki sesuatu yang sama, apakah itu fisik atau mental, minat, nilai, kepemilikan, keanggotaan dalam klub yang sama, kewargaaan, atau apapun, mereka cenderung mengidentifikasikan satu sama lain. Dua orang bisa mengidentifikasikan satu sama lain karena keduanya menginginkan hal yang sama, namun bersaing satu sama lain perihal penguasaan atas objek yang diinginkan tersebut. Akan terdengar paradoksikal unuk membicarakan an affinity antara para musuh atau rival, tapi tak bisa diragukan bahwa afinitas semacam itu benar-benar terjadi. Para musuh kadang menjadi teman, dan kompetisi kadang berubah menjadi kooperasi. Polisi beridentifikasi dengan pencuri, dan begitu pula sebaliknya. Jenis identifikasi kedua muncul dari frustrasi dan kecemasan. Bayangkan misalnya, kenestapaan [the plight] dari seorang gadis yang ingin dicintai. Dia menyaksikan temantemannya jatuh cinta dan bertanya-tanya apakah yang mereka punyai dan tak ia miliki. Dia memutuskan untuk mengimitasi teman-temannya, berharap dengan begitu bisa meraih tujuan yang sama yang telah mereka alami. Jenis identifikasi ini, dimana didalamnya seorang yang frustrasi mengidentifikasikan diri dengan orang yang sukses agar dirinya sendiri sukses, disebut goal-oriented identification. Identifikasi berorientasikan tujuan amat lumrah dan memiliki efek besar atas perkembangan personalitas. Seorang anak laki-laki semakin hari semakin mirip ayahnya jika si ayah mencapai tujuan yang juga diinginkan si anak. Seorang anak perempuan mengidentifikasi ibunya untuk alasan yang sama dan dengan hasil yang sama. Di lain pihak, jika si ayah atau si ibu tidak mengejar tujuan yang diinginkan si anak, anak itu akan mencari modelnya yang cocok di lain tempat. Salah satu alasan kenapa film-film begitu populer adalah bahwa penonton bisa beridentifikasi dengan para tokohnya, atau dengan tokoh-jahatnya jika dia mau, and vicariously* memuaskan keinginan-keinginan mereka yang terbendung [frustrated]. Dengan kepuasan vicarious itu artinya bahwa orang itu sendiri tidak mencapai tujuan tersebut tapi dia mengidentifikasikan diri dengan orang yang telah melakukannya. Jika orang tidak bisa membuat dirinya terkenal, dia bisa mendapat kepuasan semata-mata dengan mengasosiasikan diri dengan seorang yang terkenal. Haruslah ditekankan bahwa identifikasi berorientasikan tujuan biasanya dengan kualitas-kualitas individual dari orang lain dan tidak harus dengan suatu pribadi secara menyeluruh. Seorang anak mungkin mengidentifikasikan dengan kekuatan yang dimiliki ayahnya dan bukan dengan minatnya dalam membaca dan bermain golf, karena adalah kekuatan yang oleh si anak dipandang penting dan bukan kegiatan-kegiatan rekreasionalnya. Akan tetapi, identifikasi-identifikasi cenderung unguk menggeneralisir. Ini berati bahwa jika seseorang mengidentifikasikan diri dengan beberapa ciri yang dimiliki oleh orang lain dia juga cenderung akan mengidentifikasikan dengan ciri-cirinya yang lain. Lebih jauh lagi, mungkinlah sulit untuk mengisolasi dengan tepat karakteristikkarakteristik yang membuat orang lain itu sukses; sebagai akibatnya, identifikasi yang total alih-alih yang parsiallah yang akan dilakukan.

*

experienced through another by imagining: experienced through somebody else rather than at first hand, by using sympathy or the power of the imagination

Ketika seseorang kehilangan atau tidak dapat memiliki a cathected object, dia mungkin berusaha untuk memulihkannya dengan membuat dirinya seperti objek tersebut. Jenis identifikasi ini bisa disebut object-loss identification. Object-loss identification biasa terjadi di antara anak-anak yang telah diabaikan/dibuang oleh orang tuanya. Mereka berusaha mendapatkan kembali cinta parental dengan berperilaku selaras dengan ekspektasi-ekspektasi orang tua. Seorang anak akan mengidentifikasikan diri dengan apa yang dia pikir diinginkan orang tuanya. Atau seseorang yang telah kehilangan orangtua karena perceraian atau kematian may resolve to model his character upon the ideals of the missing parent. Dalam contohcontoh ini kita melihat bahwa tidaklah perlu karakter aktual dari orang tua yang menentukan jenis identifikasi yang dibuat oleh si anak; rather si anak mengasimilasikan standar-standar dan nilai-nilai dari orangtuanya. Ini adalah cara dalam mana ego-ideal dibentuk. Object-loss identification may serve to restore the actual object. Dengan menjadi baik si anak nyatanya mendapatkan kembali afeksi parental. Atau ia berperan untuk mengganti tempat yang sebelumnya diduduki oleh objek yang hilang. Jika seseorang mengadopsi karakteristik orang yang telah tak ada itu, orang itu karenanya menjadi bagian dari personalitasnya. Personalitas tersebut sepanjang perkembangannya terbentuk melalui teraan-teraan dari banyak object-cathex object-cathex yang telah hilang. Jenis identifikasi ke empat adalah identifikasi yang didalamnya seseorang mengidentifikasikan diri dengan larangan-larangan yang dikeluarkan oleh seorang figur otoritatif. Tujuan dari jenis identifikasi ini adalah untuk memampukan orang menghindarkan hukuman dengan menjadi patuh pada tuntutan-tuntutan musuh potensial. Orang beridentifikasi karena rasa takut alih-alih cinta. Identifikasi semacam ini merupakan fondasi yang menjadi dasar bagi nurani. The network of restraining forces yang membentuk nurani merepresentasikan the incorporation of parental restraints. Dengan meregulasi perilakunya melalui self-imposed restraints (anti-cathex), si anak menjauhkan diri dari melakukan hal-hal yang akan membuatnya dihukum. Sewaktu si anak bertambah umur, identifikasi-identifikasi serupa dibuat melalui tuntutan-tuntutan dari orang lain yang dominan. Dengan mengidentifikasikan diri pada figur otoritas, anak menjadi tersosialisasi. Ini berarti bahwa dia belajar tunduk pada hukum-hukum dan aturan-aturan masyarakat tempat dia tinggal. Dengan memauhi aturan-aturan ini, dia menjauhkan rasa sakit dan mendapatkan kenikmatan. Stabilitas masyarakat untuk sebagian besarnya didasarkan pada identifikasi-identifikasi yang dilakukan generasi muda dengan ideal-ideal dan larangan-larangan dari generasi yang lebih tua dan dominan. Generasi yang lebih muda mungkin memberontak terhadap konvensi tapi mereka biasanya berakhir dengan menyelaraskan diri pada masyarakat. Sebelum meninggalkan topik ini kami ingin menyinggung satu bentuk identifikasi yang amat primitif. Ini berupa memakan sesuatu agar menjadi serupa dengan sesuatu yang dimakan itu. Misalnya, seorang pemburu memakan hati seekor singa yang telah dia bunuh untuk menjadi seberani singa. Tipe identifikasi primitif ini secara simbolis muncul dan dipertahankan dalam sakramen Kristen. Dengan memakan wafel dan minum anggur yang merupakan simbol tubuh dan darah Kristus, orang diandaikan untuk menjadi lebih menyerupai Kristus. Kita telah melihat dalam bagian ini bagaimana identifikasi membentuk personalitas dengan memproduksi keserupaan antara seseorang dengan karakteristik-karakteristik dari objek-objek, biasanya orang lain, yang ada di dunia eksternal. Motif pendorong bagi identifikasi, di samping keragaman narcissistik, berasal dari frustrasi, ketakcakapan, dan kecemasan, dan tujuan yang hendak dicapai melalui identifikasi adalah pelepasan ketegangan yang menyakitkan melalui mastery of the frustration, inadequacy, or anxiety.

Keempat jenis identifikasi yang dibahas (1) narcissistik, yang didefinisikan sebagai pengluasan self-cathexis ke orang atau objek lain yang menyerupai diri, (2) berorientasikan tujuan, yang didefinisikan sebagai memodelkan personalitas seseorang atas personalitas orang lain yang telah berhasil mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan oleh dia yang mengidentifikasi, (3) object-loss, yang didefinisikan sebagai the incorporation of cathected objects that one has lost or not been able to possess, dan (4) with an aggressor, yang didefinisikan sebagai the incorporation of prohibitions imposed by an authoriy figure. II. DISPLACEMENT AND SUBLIMATION Dalam pembahasan tentang insting dalam bab 3 sudah ditunjukkan bahwa ciri yang paling variabel dari suatu insting adalah objek atau cara yang melaluinya tujuan dari insting tersebut, yaitu, reduksi ketegangan, dicapai. Jika suatu objek tidak tersedia, cathexis tersebut bisa diganti dengan sesuatu yang tersedia. Ini berarti bahwa energi psikologis memiliki kemampuan untuk ditukar. Proses melalui mana energi bisa disalurkan-ulang dari satu objek ke objek lainnya disebut displacement. Perkembangan personalitas berlangsung, dalam skala besarnya, melalui serangkaian displacement energi atau substitusi objek. Sumber dan tujuan dari instingnya tetap sama ketika energi didisplace; hanya objek tujuannya saja yang berbeda. Sebab-sebab displacement sama dengan yang menyebabkan terjadinya perkembangan personalitas, yaitu, maturasi, frustrasi, konflik, ketakmampuan, dan kecemasan. Bayangkan, misalnya, serangkaian displacement yang terjadi dalam kasus apa yang diistilahkan dengan oral gratification. Mulut dan bibir merupakan zona-zona sensitif yang yang amat berasosiasi dengan kegiatan makan. Perangsangan bibir oleh puting membuat si bayi menyedot. Meskipun menyedot melayani tujuan pemuasan rasa lapar, perangsangan bibir itu mendatangkan kenikmatan tersendiri dan tak adanya stimulasi tersebut setelah beberapa waktu lamanya akanlah mengganggu. Dengan kata lain terdapat kebutuhan untuk menyedot yang jika tidak sepenuhnya dipuaskan melalui penyerapan makanan akan mengekspresikan diri dalam cara-cara yang lain. Si bayi akan menyedot jarinya sendiri atau objek-objek yang ada dalam jangkauan. Jika dia dihukum karena menyedot jempolnya, the child will discover or be given other objects, e.g. a candy sucker, yang dapat dia sedoti tanpa takut dihukum. Ketika dia bertambah umur, bentuk kekanakan perangsangan bibir ditinggalkan di bawah tekanan sosial dan cara-cara orang dewasalah yang dia adopsi. Merokok, berciuman, membasahi bibir dengan lidah, menerapkan lipstik, minum, bersiul, menyanyi, bicara, mengunyah permen karet dan tembakau, dan meludah adalah beberapa dari aktivitas-aktivitas oral yang dilakukan orang dewasa. Ini tidaklah berarti bahwa penggantian object-cathex object-cathex tersebut melulu bergantung pada penyaluran-kembali menyedot yang instingtual dan energi rasa lapar. Insting-insting lain bisa juga mendapatkan kepuasan dalam kebiasaan oral pada saat yang sama that localized oral tensions are being reduced. Berciuman jua secara seksual memuaskan dan minum minuman keras bisa mengurangi ketegangan di samping [ketegangan] yang ada di bibir. As a matter of fact, adalah karakteristik object-choice orang dewasa bahwa semua itu ditentukan oleh penggabungan energi dari banyak sumber-sumber vital. Ini dikenal sebagai the fusion of instincts. Minat-minat dan pilihanpilihan orang dewasa, tidak seperti yang dimiliki anak kecil, termotivasi secara kompleks, atau seperti yang dikatakan Freud, they are overdeterminated. Dengan overdeterminasi artinya bahwa suatu object-choice bisa memuaskan beragam instinginsting. Fusi-fusi insting dan overdeterminasi juga dikenal sebagai condensations. Penyaluran beberapa insting atas suatu objek merepresentasikan suatu kondensasi sumber-sumber energi. Suatu aktivitas seperti berkebun atau hobi seperti membuat

model pesawat terbang bisa mereduksi secara simultan sejumlah keteganganketegangan yang sedikit banyak tak berkaitan. Satu alasan bagi minat orang dewasa yang tak pernah hilang, selalu kuat pada kerja atau suatu hobi adalah faktor motivasi multi-penyaluran ini. Seorang anak dengan cepat akan bosan dengan apa yang sedang dia kerjakan karena masing-masing aktivitas merupakan satu ekspresi dari hanya satu atau motif yang dengan sebentar saja sudah merasa terpuaskan. Apa yang menentukan suatu displacement akan dilakukan? Kenapa satu objek tertentu daripada objek yang lain yang dipilih sebagai pengganti bagi object-choice yang asli? Kenapa seseorang mengembangkan serangkaian minat dan ikatan-ikatan dan orang lain memiliki serangkaian minat dan ikatan-ikatan lain? Kenapa minat dan ikatan itu berubah dalam perjalanan hidup seseorang? Ada dua alasan utama kenapa displacement mengikuti suatu alur partikular. Pertama, masyarakat, yang bertindak melalui agen utamanya, orang tua, mempengaruhi araharah dalam proses displacement dengan mendukung object-choice tertentu dan melarang yang lainnya. Di masa kanak, menyedot jempol biasanya dicela sementara menjilati permen lolli tak dihiraukan. Orang dewasa yang menjilati permen lolli are apt to be ridiculed, tapi masyarakat membiarkannya dan mungkin bahkan mendorong mereka untuk menghisap rokok, cerutu, atau pipa. Seorang dewasa yang menyedot puting botol bayi akanlah menjadi objek celaan dan hardikan, tapi dia bisa minum bir dari botol tanpa mendapatkan konsekuensi yang menyakitkan. Masyarakat memberlakukan batasanbatasan pada jenis-jenis tertentu object-choice tapi juga ia biasanya menawarkan subtitut-substitut yang memuaskan. Ketika masyarakat gagal memberikan substitut yang cocok, orang cenderung menggunakan objek-objek yang dilarang, bagaimanapun juga. Lihatlah respon yang terjadi atas larangan pembuatan dan penjualan minuman beralkohol di Amerika Serikat selama tahun 1920an. Para pedagang gelap dan tokotoko gelap menjamur karena orang tidak akan meninggalkan bentuk gratifikasi oral ini. Penentu penting kedua dari pemberian arah bagi displacement adalah derajat kemiripan antara objek asli dengan subtitutnya, or what amounts to the same thing, the extent to which the objects are identified with one another. Jika seseorang dihalangi dalam melepaskan ketegangan by one route, dia akan mencari keluaran lain yang is as much like the forbidden path as it is possible for it to be. Jika keluaran ini juga dihalangi dia akan mencari objek ketiga, dan begitulah seterusnya sampai dia mendapatkan satu jalan yang bisa dilakukan. Derajat kemiripan biasanya semakin berkurang dengan masing-masing displacement suksesif sehingga pilihan final bisa saja jauh berbeda dan karenanya jauh kurang memuaskan daripada objek aslinya. Ketika dikatakan bahwa satu objek jauh kurang memuaskan daripada objek yang lain, itu berarti bahwa the outcome of the transaction with the object yields less tension-reduction. Dengan kata lain, melakukan transaksi dengan suatu objek substitut menyisakan orang dengan ketegangan residual atau sisa-sisa ketegangan yang belum dilepaskan. Pilihan finalnya merepresentasikan [memperlihatkan] suatu kompromi; objek substitut tersebut lebih baik daripada tidak ada sama sekali namun kurang memuaskan daripada pilihan yang asli. Ego yang mengontrol pemilihan objek final tersebut harus melakukan banyak kompromikompromi semacam itu di antara tuntutan-tuntutan id, superego, dan dunia eksternal yang saling berkonflik. Serangkaian displacement yang didalamnya each succesive substitution is less closely identified with the original choice may be illustrated by the following example. A boy’s first love object is ordinarily his mother. She is originally perceived as the ideal woman. Karena tidak mungkin baginya untuk mendapatkan kepemilikan yang eksklusif atas ibunya dan karena dia mengetahui bahwa dia memiliki ketak-ketaksempurnaan*, dia termotivasi untuk mencari suatu substitut yang sempurna dan available. Pilihan akan
*

bentuk penulisan kata benda jamak yang baru dalam bahasa Indonesia?

jatuh pada guru TK atau tetangga sebelah atau bibi sampai dia mendapati bahwa mereka juga memiliki kekurangan dan tak available. Selanjutnya dia akan jatuh cinta dengan perempuan yang lebih tua, barangkali kakak perempuan atau pacar kakak lelaki atau sekretaris ayahnya. Pilihan-pilihan ini ternyata jalan buntu juga. Dia mulai mengkhayalkan wanita sempurna atau mencoba menemukannya di filem dan dalam buku. Jika dia punya bakat dia bisa menulis puisi atau melukis gambar yang mengandung konsepsinya tentang wanita ideal. Pada akhirnya dia biasanya settles for a real person, seseorang yang menyerupai ibunya atau versi yang diidealisir atasnya. Dalam pencarian akan substitut ibu ini, displacement demi displacement ditumpuksusun sehingga keseluruhan jaringan object-cathex object-cathex bisa dikonstruksi. Energi dari cathexis yang dibentung itu mendistribusikan diri pada banyak aktivitasaktivitas baru tak beda dengan sungai yang dibendung mengalir mengikuti banyak aliran baru. Minat, hobi, kebiasaan dan trait pribadinya, nilai-nilai, sikap, sentimen, dan keterikatan-keterikatan yang dia miliki semua itu bisa diwarnai oleh displacement of energy dari hasrat yang terhalang untuk mencapai kepemilikan eksklusif atas ibu ideal. Jika objek substitut itu merupakan objek yang merepresentasikan suatu tujuan kultural yang lebih tinggi, tipe displacement ini disebut sublimasi. Contoh dari sublimasi adalah pengalihan energi pada pengejaran-pengejaran intelektual, humanitarian, kultural dan artistik. Ekspresi langsung dari insting agresif dan seksual ditransformasi menjadi bentuk-bentuk prilaku yang tidak seksual dan tidak agresif sama sekali. Sumber dan tujuan dari energi instingtual tetap sama dalam kegiatan-kegiatan sublimatif, seperti yang terjadi dalam semua displacement, tapi objek atau cara melalui mana keteganganketegangan direduksilah yang berubah. Freud melihat bahwa minat da Vinci dalam melukiskan Madonna-madonna merupakan ekspresi sublimatif dari perinduan akan ibunya yang telah terpisah darinya sejak usia dini. Soneta-soneta Shakespeare, puisi Walt Whitman, musik Tschaikowsky, dan novel Proust telah dipandang sebagai ekspresi-ekspresi sublimatif dari dorongan-dorongan homoseksual mereka. Semenjak mereka tidak dapat mencapai kepuasan yang tuntas bagi keinginan-keinginan seksualnya dalam kehidupan real, mereka berpaling pada kreasi-kreasi imajinatif. Orang yang kurang berbakat, yang sama banyaknya dalam membutuhkan sublimasi dengan para seniman dan pelukis, melakukan pengalihan-pengalihan yang lebih awam bagi energi-energi instingtualnya. Freud menunjukkan bahwa perkembangan peradaban dimungkinkan oleh larangan-larangan object-cathex object-cathex* yang primitif. Energi yang dihalangi pelepasannya dalam cara yang langsung dialihkan ke dalam saluransaluran yang secara sosial bermanfaat dan secara kultural kreatif. Sublimasi tidaklah menghasilkan kepuasan yang tuntas; selalulah ada semacam ketegangan residual yang tidak bisa dibuang melalui object-choice sublimatif. Ketegangan ini is responsible, in part, for the nervousness of civiled man, but it is also responsible for the highest achievement of mankind. Freud menunjukkan bahwa pada kenyataannya seseorang tidak pernah sepenuhnya membuang object-cathexisnya yang asli. Maksudnya bahwa seseorang selalu mencari cinta pertamanya dalam objek pengganti. Gagal dalam menemukan suatu substitut [pengganti] yang dapat memuaskan dengan tuntas, dia bisa meneruskan pencariannya atau dia mencoba berlapang dada dengan sesuatu yang nomor dua. Ketika dia menerima suatu substitut dia dikatakan to be compensating for the original goal object. Orang pendek yang ingin tinggi bisa berkompensasi dengan “berpura-pura menjadi besar”, orang yang ingin dicintai bisa berkompensasi dengan minum atau overreacting; wanita yang tidak menikah yang keinginannya untuk mempunyai anak terhambat bisa berkompensasi menjadi seorang guru. Struktur karakter memuat banyak kompensasikompensasi semacam itu; nyatanya, kebanyakan minat dan keterkaitan orang dewasa
*

object-cathexes (bentuk jamak dari object-cathex), jangan dikacaukan dengan object-cathexis.

merupakan kompensasi bagi keinginan-keinginan masa kanak yang terbendung. Ini tidaklah berarti bahwa kompensasi-kompensasi pada dirinya sendiri merupakan kekanakan; hal tersebut berarti bahwa sumber-sumber energi sebagai alasan keberadaan kompensasi-kompensasi tersebut berasal dari dispacement energi dari object-choice yang sebelumnya. Seorang pengacara bisa mendapatkan kepuasan oral yang tinggi dalam membela suatu kasus di hadapan juri, seorang dokter bedah bisa mendapatkan outlet bagi dorongandorongan agresifnya dengan melakukan operasi atas pasien, dan seorang psikolog bisa terpuaskan hasrat-hasrat masa kecilnya akan informasi seksual dengan melakukan studi-studi ilmiah tentang perilaku seksual, namun jaranglah bisa dikatakan bahwa kegiatan-kegiatan profesional dari pengacara, ahli bedah, atau psikolog adalah kekanakkan dan tak dewasa. Ia merupakan cara dalam mana energi yang digunakan membedakan anak-anak dari orang dewasa, bukan sumber-sumber energi atau tujuan akhirnya, yang banyak kesamaannya pada semua level umur. Pengacara bisa mereduksi ketegangan oral dengan berpresentasi di hadapan juri sama banyaknya dengan anak yang menjilati sebatang permen lolli, tapi cara yang mereka pakai dalam memastikan kelegaan tersebut sepenuhnya berbeda. Seseorang yang mengabdikan hidupnya dalam menyelidiki perilaku seks bisa mendapatkan kelegaan dari keteganganketegangan seksual setara dengan yang dialami don Juan yang mempraktekkan apa yang para ilmuwan telaah, namun hasil aktivitas-aktivitas mereka tidaklah sama, yang satu menambah khasanah pengetahuan sementara yang lain melulu mendapatkan kenikmatan sensual. Kemampuan untuk membelokkan energi dari satu objek ke objek yang lain merupakan instrumentalitas yang paling kuat bagi perkembangan personalitas. Seperti yang telah kita lihat di bab sebelumnya, pembentukan ego dan superego dicapai melalui displacement sejumlah besar energi dari proses-proses id untuk memproses hal-hal yang membentuk ego dan superego. Perkembangan ego dan superego selanjutnya dilakukan melalui displacement energi dalam masing-masing sistem. The whole complex network of adult interests, preferences, values, attitudes, and attachments, and the acquisition and abandonment of them throughout life, dimungkinkan oleh displacement. Jika energi psikologis tidak dapat dibelokkan [displacable] dan tidak distributif tak akanlah ada perkembangan personalitas. Ketika dikatakan bahwa energi psikis bersifat distributif itu berarti bahwa energi can be parceled out di antara sejumlah aktivitas. Sumber energi yang sama bisa melaksanakan banyak jenis kerja yang berbeda, sama seperti listrik yang mengalir di satu rumah bisa dipakai untuk memanggang roti, mencampur adonan kue, menjalankan vacuum cleaner, atau mencukur jenggot. Energi dari insting seksual, misalnya, bisa didistribusikan di antara beragam aktivitas seperti misalnya berkebun, menulis surat, menonton pertandingan baseball, atau mengkhayal. III. DEFENSE MECHANISMS OF THE EGO Salah satu tugas besar yang dibebankan kepada ego adalah tugas menangani ancaman dan bahaya yang mengepung dan melahirkan kecemasan. Ego bisa berusaha menangani mara bahaya dengan mengadopsi metode-metode problem-solving yang realistik, atau ia bisa berusaha mengurangi kecemasan dengan menggunakan metodemetode yang menyangkal, mem-falsify, atau mendistorsi realitas dan hal itu menghambat perkembangan personalitas. Metode-metode yang belakangan disebut defense mechanism yang dimiliki ego. Ada beberapa mekanisme pertahanan diri, dan mekanisme-mekanisme yang paling penting ini akan diperikan dalam bagian ini. A. REPRESI

Suatu cathexis dari id, ego atau superego yang mendatangkan kecemasan bisa bisa dihalangi untuk tidak masuk ke dalam kesadaran dengan ditandingi oleh suatu anticathexis. Penumpulan atau membendung cathexis melalui anti-cathexis disebut represi. Ada dua macam represi, represi primal dan represi sebenarnya [proper]. Represi primal mencegah suatu object-choice instingtual yang tidak pernah sadar masuk ke tataran sadar. Represi-represi primal merupakan rintangan-halangan yang ditentukan secara batiniah* yang bertanggungjawab dalam menjaga sebagian besar isi id untuk secara permanen tetap berada di tataran bawah sadar. Represi-represi primal ini telah terbentuk dalam diri orang sebagai hasil pengalaman rasial dalam situasi-situasi yang menyakitkan. Sebagai contoh, tabu terhadap incest dikatakan didasarkan pada suatu hasrat yang kuat akan relasi seksual dengan ayah atau ibu. Ekspresi dari hasrat ini dihukum oleh orang tua. Ketika ini terjadi berulang kali sepanjang sejarah rasial manusia, represi atas hasrat incest terbentuk dalam diri dan menjadi represi primal. Ini berarti bahwa tiap-tiap generasi baru tidak perlu belajar [learn] merepresi hasrat tersebut semenjak represi itu sendiri sudah diwarisi. Incidentally, suatu tabu yang kuat semisal tabu incest menandakan hasrat yang kuat kepada objek yang dilarang itu. Jika tidak, tak akanlah perlu bagi adanya larangan yang keras. Dengan tetap dijauhkan/dikeluarkan dari wilayah kesadaran, object-choice instingtual yang berbahaya tidak mampu membangkitkan kecemasan atas prinsip bahwa apa yang tak kita ketahui tak akan melukai. Akan tetapi, object-choices ini bisa mempengaruhi perilaku dalam berbagai cara tak langsung atau mengasosiasikan diri dengan bahanbahan yang telah menjadi sadar, karenanya membangkitkan kecemasan. Ego may then deal with the disguised penetration of threatening id-cathexes into cansciousness or behavior by instituting represion proper. Represi-sebenarnya (sedari sekarang lebih baik hanya disebut sebagai represi) mengusir memori, gagasan, atau persepsi yang berbahaya dari kesadaran dan memasang benteng-benteng pertahanan terhadap segala bentuk pelepasan motoris. Sebagai contoh, represi bisa menghindarkan orang dari melihat sesuatu that is in plain view, or distort that which he does see, or falsify the information coming in through the sense organs, in order to protect the ego from apprehending an object that is dangerous or that is associated with a danger that would arouse anxiety. Serupa itu pula, represi beroperasi terhadap memori-memori yang traumatik atau terhadap memori-memori yang diasosiasikan dengan pengalaman traumatik. Ingatan-ingatan yang diasosiasikan itu bisa sepenuhnya tak membahayakan pada dirinya sendiri, tapi dengan mengingat ingatan-ingatan itu orang akan beresiko untuk mengingat pengalaman traumatik. Karenanya a whole complex of memories may fall under the influence of repression. Gagasan-gagasan berbahaya bisa juga direpresi. Dalam semua kasus, apakah itu merupakan suatu persepsi, memori, atau gagasan yang direpresi, tujuannya adalah untuk menghilangkan kecemasan objektif, neurotik, atau moralistik dengan menyangkal atau memfalsifikasi keberadaan ancaman internal atau external demi kedamaian ego. Meski represi perlu bagi perkembangan personalitas normal dan digunakan to some extent oleh setiap orang, ada orang yang who depend upon it to the exclusion of other ways of adjusting to threats. Orang-orang ini dikatakan terrepresi. Kontak-kontak mereka dengan dunia terbatas dan mereka memberi kesan menarik diri, tegang, rigid, dan pasang kuda-kuda. Their lips are set and their movement are wooden. Mereka teramat banyak menggunakan energinya untuk mempertahankan their far-flung repressions that they do not have very much left over for pleasurable and productive interactions with the environment and with other people.
*

are innately determined barriers

Kadang represi akan mengganggu fungsi-fungsi normal bagian tubuh. Orang yang terrepresi bisa impoten secara seksual atau frigid karena dia takut akan impuls seks, atau dia mungkin mengembangkan apa yang diistilahkan kebutaan histeris atau kelumpuhan histeris. Dalam kebutaan atau kelumpuhan histeris, mata dan otot baik-baik saja tapi anti-cathex menghalangi si individu dari melihat atau menggerakkan kaki atau tangan. Mekanisme represi memberi kontribusi pada perkembangan banyak gangguan fisik, seperti misalnya arthritis, asma, dan ulcers, yang merupakan sebagian yang paling sering terjadi dari apa yang disebut gangguan psikosomatik. Arthritis bisa muncul dari inhibition of hostility. The inhibition spreads to the musculature, through which aggression is overtly expressed, and creates a condition of painful tension, which if it persists for a long time develops into a chronic arthritis condition. Serupa itu pula, asma bisa disebabkan oleh meluasnya represi pada mekanisme bernafas. A state of apprehension menyebabkan orang untuk bernafas pendek-pendek. Sebagai akibatnya, dia tidak mendapat cukup oksigen dan kurang mengeluarkan karbondioksida. The resulting partial asphyxiation menghasilkan nafas terengah-engah, sangat khas dari orang yang asmatis. Ulcers may develop when fear interferes with the digestion. Meski ego merupakan tempat beradanya represi, ia bisa bertindak di bawah perintahperintah superego ketika it institutes a repression. Sebagai akibatnya, semakin influental superego is in the character struktur, the more repressions there are likely to be. Represi yang dijalankan oleh superego merupakan versi terinternalisasi dari larangan-larangan parental yang diberlakukan kepada anak kecil. Apa yang terjadi pada cathex-cathex yang direpresi? Mereka mungkin tetap tak mengalami perubahan dalam personalitas, mereka mungkin mencari jalan untuk membobol rintangan yang membendungnya, mereka mungkin menemukan ekspresi melalui displacement, atau the repression may be lifted. Contohnya, impetus dari insting seks bisa meningkat begitu besar semasa adolescence sehingga it overwhelms the resistances established during childhood. Under strong provocation a person who has repressed his aggressive urges may become very belligerent. Ketika bendungan represi hancur, biasanya terjadi membuncahnya energi secara intens seperti ramainya seorang anak ketika bubaran kelas. Displacement memungkinkan cathex-cathex yang direpresi mendapatkan semacam pemuasan yang kurang lebih memuaskan. Akan tetapi perlulah bagi displacement untuk menyembunyikan sumber asli dari cathexisnya, jika tidak ego akan mengetahui siasat tersebut dan melakukan mekanisme represinya sekali lagi. Cathex-cathex yang direpresi melakukan segala cara penyamaran yang melalui penyamaran itu dia berkemungkinan mencapai pelepasan. Seorang anak yang permusuhannya terhadap sang ayah terepresi mungkin mengekspresikannya sebagai seorang dewasa dalam bentuk simbolik dengan melanggar hukum atau memberontak terhadap konvensi-konvensi masyarakat. Hasrathasrat yang terepresi seringkali mendapatkan pemenuhan simboliknya dalam mimpi. Bermimpi memasuki sebuah rumah, misalnya, bisa menyimbolkan suatu keinginan incest akan ibunya, jika rumah dan ibunya diasosiasikan bersama dalam pikiran orang yang bermimpi itu. Represi suatu hasrat menghukum diri sendiri bisa menyebabkan orang menghukum dirinya dalam cara-cara yang tak langsung seperti misalnya mengalami kecelakaan, kehilangan sesuatu, dan melakukan kesalahan-kesalahan yang tak perlu. Suatu cathexis yang direpresi bisa mengekspresikan diri dalam bentuk penyangkalan verbal atas benda-benda yang amat diinginkan sesoerang. “I don’t want that” sebenarnya bisa berarti “I do want it.” Ketika seseorang mengatakan, “That’s the last thing I was thinking of,” itu berarti it was the first. Represi bisa dibuang ketika sumber ancaman hilang sehingga represi tidak lagi diperlukan. Akan tetapi, dihilangkannya represi tidaklah terjadi secara otomatis. Orang harus menemukan [discover] bahwa ancaman tersebut sudah tidak ada lagi. Dia

mengetahui hal ini dengan pengujian realitas. Adalah sulit untuk melakukan pengujian semacam itu ketika represi masih ada, akan tetapi represi tidak akan hilang sampai pengujian itu dilakukan. Inilah kenapa seseorang is apt to catty around a lot of unnecessary fears that are hang-over from childhood. Dia tidak pernah mendapat kesempatan untuk menyingkapkan bahwa rasa takut itu tidak lagi memiliki fondasinya. Meskipun represi is responsible untuk banyak kondisi-kondisi abnormal, perannya dalam perkembangan personalitas normal tidak boleh diminimalisir. The erecting of a battery of repressing forces against the instinctual object-cathexes of the id melindungi ego infantil dari serangan-serangan yang dilancarkan id dan memampukan ego untuk mengembangkan its latent resources and capacities. Jika ego sudah mencapai kekuatan yang mencukupi untuk menangani ancaman dengan metode-metode yang lebih rasional, represi tidak lagi perlu dan its persistence constitutes a drain upon the ego’s energy. Pembuangan represi* sewaktu orang bertambah umur membebaskan energi yang disuntikkan ke dalam anti-cathex anti-cathex untuk kegiatan-kegiatan yang lebih produktif. B. PROYEKSI Jika seseorang menjadi merasa cemas akibat tekanan dari id atau superego kepada ego, dia bisa mencoba mengendurkan kecemasan tersebut dengan menerakan sebabmusabab atau asal-usulnya pada dunia eksternal. Alih-alih berkata, “I hate him,” dia bisa berkata, “He hates me”; atau alih-alih mengatakan, “My conscience is bothering me,” dia bisa berkata,”He is bothering me.” Dalam kasus pertama, orang menyangkal bahwa rasa permusuhan tersebut datang dari id dan mengatribusikannya pada orang lain. Dalam kasus kedua, orang menyangkal sumber perasaan dikejar-kejarnya itu dan mempersalahkannya pada orang lain. Jenis pertahanan ego terhadap kecemasan moral dan neurotik ini disebut proyeksi. Ciri mendasar proyeksi adalah bahwa the subject of the feeling, yang adalah orang itu sendiri, dirubah. Proyeksi mungkin mengambil bentuk mempertukarkan subjek dengan objek. “I hate you” dikonversi menjadi “You hate me.” Atau ia mungkin mengambil bentuk mengganti satu subjek dengan subjek lain sementara objeknya tetap sama. “I am punishing myself” diubah menjadi “He is punishing me.” Apa yang sebenarnya sedang ego lakukan ketika ia melakukan proyeksi adalah mentransformasi kecemasan moral atau neurotik menjadi kecemasan objektif. Seseorang yang takut akan impulsimpuls agresif dan seksualnya mendapatkan kelegaan bagi kecemasannya dengan mengatributkan keagresifan dan seksualitas kepada orang lain. Merekalah pihak yang agresif dan seksual, bukan dia. Seperti itu pula, seseorang yang takut akan nuraninya sendiri consoles** himself dengan pikiran bahwa orang lain bertanggungjawab dalam mengganggu dirinya, dan bukanlah nuraninya. Apakah tujuan dari transformasi semacam itu? Ia melayani tujuan mengubah ancaman internal dari id atau superego yang sulit ditangani ego menjadi ancaman eksternal yang lebih mudah untuk ego tangani. Seseorang biasanya memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengetahui bagaimana berurusan dengan ketakutan-ketakutan objektif daripada harus menguasai kecakapan dalam mengontrol kecemasan moral dan neurotik. Proyeksi lebih daripada membantu menyurutkan kecemasan. Ia juga memberikan orang suatu excuse dalam mengekspresikan perasaan realnya. Seseorang yang percaya bahwa dia dibenci atau dikejar-kejar bisa menggunakan kepercayaannya ini sebagai pembenaran untuk menyerang musuh imajinernya. Dengan menggunakan dalih mempertahankan diri terhadap musuh dia sanggup mendapat kepuasan bagi impulsimpuls dari sikap bermusuhan. Dia mendapatkan kenikmatan tanpa merasa bersalah
* **

the lifting of repression [console=to provide a source of comfort to somebody who is distressed or disappointed]

karena dia merasa bahwa agresinya itu terjustifikasi. Tentu saja, the whole affair is siasat yang disengaja atau rasionalisasi untuk mengelak dari tanggungjawab personal atas tindakan-tindakan seseorang agar tidak disalahkan oleh orang lain. Term rasionalisasi dipakai di sini dalam artian menemukan suatu excuse atau alibi yang justifiable dalam dunia eksternal untuk melakukan sesuatu yang berkemungkinan dihardik oleh superego. Rasionalisasi juga mengacu pada substitusi suatu motif yang disetujui secara sosial bagi motif lain yang tak diakui secara sosial. Orang yang memberikan banyak uang untuk sumbangan mungkin dia sedang melakukannya atas dasar kebaikan hati ketika dia sebenarnya dimotivasi oleh suatu hasrat untuk pamer atau oleh rasa bersalah dari nurani. Obviously orang tak bisa menyadari bahwa dirinya sedang melakukan proyeksi atau melakukan rasionalisasi, otherwise mekanisme tersebut tidak akan mengendurkan kecemasan. Ini berlaku untuk semua pertahanan diri yang dilakukan ego; mereka harus beroperasi secara tak disadari agar efektif dalam mereduksi kecemasan. Proyeksi larangan-larangan dan hukuman-hukuman superego amat mudah dilakukan karena superego merupakan representatif internal dari sesuatu yang aslinya adalah eksternal. Sebelum superego terbentuk, larangan-larangan dan hukuman-hukuman diberlakukan oleh orang tua. Sebagai akibatnya, sesuatu yang suatu kali adalah eksternal bisa dibikin eksternal sekali lagi. Ini lebih berkemungkinan besar terjadi ketika superego belum kukuh terinkorporasi ke dalam struktur personalitas. Seseorang dengan superego yang terintegrasi dengan lemah lebih cenderung mengatribusikan rasa perasaan bersalahnya pada pengejaran yang dilakukan oleh orang lain karena dia merasa bahwa hambatan-hambatan itu datang dari sumber yang asing dan bukan berasal dari dirinya. Proyeksi adalah bentuk mekanisme pertahanan diri yang sering kita temui karena sedari masa awal orang terdorong untuk mencari sebab-sebab prilakunya di dunia eksternal dan abai untuk memeriksa dan menganalisis motif-motifnya sendiri. Lebih jauh lagi, orang belajar bahwa dia bisa menghindarkan hukuman dan self-blame [penyalahan diri sendiri] dengan membuat excuse-excuse dan alibi-alibi yang plausible bagi perbuatanperbuatan salahnya. He is, in effect, diberi ganjaran karena mendistorsikan kebenaran. Terdapat tipe proyeksi lainnya yang sekilas tidak tampak bersifat defensif. It consists of sharing one’s feelings and thought with the world. Orang merasa bahagia dan memandang bahwa orang lain juga bahagia, atau orang merasa nestapa dan mengira bahwa dunia memang penuh kenestapaan. Dengan analisis yang lebih mendalam sifat defensif dari shared projection ini menjadi jelas. Ketika orang-orang lain tidak bahagia kebahagian yang dimiliki seseorang terancam, karena kebahagiaannya itu membuatnya merasa bersalah karena merasa berbahagia sendirian sementara yang lain ditimpa kemalangan. Untuk menghilangkan ancaman itu, dia mengatributkan kebahagiaan yang sama pada orang-orang lain. Seorang siswa yang terbiasa menyontek selama ujian sering mengexcuse diri atas dasar bahwa hampir semua orang lain menyontek juga. Atau dia percaya bahwa promiscuity* seksual adalah suatu kelumrahan dia bisa menggunakan kepercayaannya ini untuk meng-excuse-kan petualangan seksualnya. Jenis proyeksi ini tidaklah melibatkan represi atas motif aslinya dan menggantikannya dengan motif yang lain. Orang tersebut mengakui bahwa dia memiliki motif tersebut tapi kecemasan moralnya direduksi dengan memproyeksikan motif itu pada orang lain. C. REACTION FORMATION Insting-insting dan dan turunan-turunannya [derivatives] may be arranged as pairs of opposites: kehidupan versus kematian, cinta versus benci, konstruksi versus destruksi, aksi versus passivitas, dominansi versus ketundukan, dan seterusnya. Ketika salah satu
*

behavior characterized by casual and indiscriminate sexual intercourse, often with many people

insting menimbulkan kecemasan dengan melakukan tekanan kepada ego baik secara langsung atau pun melalui superego, ego akan mencoba mengalihkan impuls ofensif tersebut dengan berkonsentrasi pada kutub lawannya. Sebagai misal, jika perasaan benci kepada orang lain membuat seseorang cemas, ego bisa melancarkan aliran rasa kasih demi menutupi sikap permusuhan tersebut. Kita bisa mengatakan bahwa cinta is substituted for hate, tapi ini tidak benar karena perasaan-perasaan agresif tetap ada di balik penampilannya yang affectionate. Akanlah lebih tepat untuk mengatakan bahwa cinta adalah kedok yang menyembunyikan rasa benci. Mekanisme ini di mana satu insting disembunyikan dari kesadaran dengan kutub lawannya disebut reaction formation**. Bagaimana orang bisa membedakan antara sebuah cathexis akan suatu objek dengan cathexis yang merupakan produk dari pembentukan-reaksi ini? Sebagai contoh, apa yang membedakan cinta sebagai suatu pembentukan-reaksi dengan cinta “sejati”? ciri utama pembeda dari cinta reaktif adalah ciri exaggeration. Cinta reaktif terlalu banyak memprotes; it is overdone. Extravagant [royal, berlebihan sampai di luar kebiasaan], ingin menonjolkan diri, dan affected. Ia adalah tiruan, dan kepalsuannya, seperti pemeran ratu dalam Hamlet yang overacting, biasanya dengan mudah bisa dideteksi. ciri lain dari suatu pembentukan-reaksi adalah sifat kompulsifnya. Seseorang yang mempertahankan diri melawan kecemasan melalui suatu pembentukan reaksi cannot deviate from expressing the opposite of what he really feels. Cintanya, sebagai misal, tidaklah fleksibel. Ia tidak dapat mengadaptasi diri dalam mengubah keadaan seperti yang biasanya bisa dilakukan oleh emosi-emosi yang asli; rather it must be constantly on display as if any failure to exhibit it would cause the contrary feeling to come to the surface. Fobia adalah contoh dari suatu pembentukan-reaksi. Orang yang menginginkan apa yang dia takuti. Dia tidak takut akan objek tersebut; dia takut pada keinginan atas objek itu. Rasa takut reaktif membuat keinginan yang menakutkan itu tidak bisa dipenuhi. Pembentukan-pembentukan-reaksi juga berakar dari superego; nyatanya superego bisa dipandang sebagai suatu sistem pembentukan reaksi yang telah dikembangkan demi melindungi ego dari id dan dari dunia eksternal. High ideals of virtue and goodness mungkin merupakan pembentukan-pembentukan reaksi melawan object-cathex objectcathex primitif lebih daripada nilai-nilai realistik which are capable of being lived up to. Pandangan-pandangan Romantik atas chastity dan kemurnian mungkin mengedoki hasrat-hasrat seksual yang kasar, altruisme mungkin menyembunyikan sikap mementingkan diri sendiri, dan kesalehan menyembunyikan keberdosaan. Pembentukan-reaksi dipakai dalam melawan ancaman-ancaman eksternal juga terhadap ancaman internal. Seseorang yang takut akan orang lain bisa berpaling 180 derajat menjadi berteman dengannya. Atau ketakutan akan masyarakat bisa mengambil bentuk kepatuhan penuh pada konvensi-konvensi masyarakat. Kapanpun terdapat konformitas rigid dan berlebihan pada serangkaian aturan, secara adil bisa dipastikan bahwa konformitas tersebut adalah satu bentuk pembentukan-reaksi, dan di balik kedok conformitas itu dia sebenarnya didorong oleh pemberontakan dan antagonisme. Satu contoh yang menarik dari pembentukan-reaksi adalah pembentukan-reaksi yang diperlihatkan oleh kaum pria yang takut akan adanya tanda-tanda kelembekan, yang mereka persamakan dengan femininitas, in their make-up. Mereka berusaha untuk menutupi tendensi-tendensi femininnya dengan menjadi maskulin dan tegas [hard]. As a result mereka menjadi karikatur-karikatur dari maskulinitas daripada pria real. Kaum perempuan bisa berusaha menyembunyikan femininitasnya di balik mantel prilaku dan pakaian yang maskulin.
**

kalau dalam terjemahan ini ditemukan frase Reaksi-buatan, itu sebagai terjemahan dari Reaction Formation ini. Atau pilih mana yang paling tepat untuk terjemahan tersebut: apakah Pembentukan-reaksi atau Reaksi-buatan?

Kadang suatu pembentukan-reaksi akan memuaskan keinginan-aslinya which is being defended against. Seorang ibu yang takut mengakui bahwa dia merasa kesal dengan anak-anaknya akan teramat mencampuri kehidupan mereka, dengan dalih karena perduli perihal kesejahteraan dan keselamatan mereka, that her over-protection is really a form of punishment. Pembentukan-reaksi merupakan penyesuaian-penyesuaian terhadap kecemasan yang irasional. Mereka menghabiskan energi demi maksud-maksud yang menipu dan hipokritis. Mereka mendistorsikan realitas dan mereka membuat personalitas menjadi rigid dan tak fleksibel. D. FIKSASI Meski perkembangan psikologis, seperti pertumbuhan fisik, merupakan proses yang gradual dan kontinyu sepanjang dua dekade pertama dari hidup, adalah mungkin untuk membedakan tahapan-tahapan yang lumayan bisa didefinisikan dengan tegas yang dilalui oleh orang sewaktu dia berkembang. Sebagai contoh, terdapat empat tahapan masa bayi, masa kanak, remaja [transisi], dewasa. Biasanya orang bergerak dari satu tahap ke tahap lain dalam progresi yang tetap. Kadang progresi itu merandeg dan orang itu tetap berada pada satu titian tangga pertumbuhan alih-alih mengambil langkah selanjutnya. Ketika ini terjadi dalam perkembangan fisik kita menyebutkan pertumbuhan orang itu having been stunted. Jika ini terjadi dalam pertumbuhan psikologis kita mengatakan bahwa orang itu mengalami fiksasi. Fiksasi merupakan bentuk pertahanan lain melawan kecemasan. Orang yang mengalami fiksasi takut untuk mengambil tahap selanjutnya karena the hazards and hardships that he sees lying ahead. Kebanyakan anak akan merasakan keengganan yang diakibatkan oleh rasa cemas ketika mereka memulai hari pertama bersekolah, para remaja biasanya tidak tenang pada kencan pertamanya, siswa sekolah lanjutan atau kolese look forward with a mixture of worry and anticipation to his impending graduation, dan praktisnya setiap orang merasakan sedikit kecemasan sewaktu dia melakukan suatu petualangan baru. Kecemasan yang orang alami dalam meninggalkan yang lama dan yang familiar menuju yang baru dan tak familiar disebut kecemasan separasi. Ketika kecemasan separasi menjadi terlalu besar, orang cenderung tetap terfiksasi pada cara hidup yang lama daripada melangkah ke kehidupan yang baru. Apa yang ditakuti orang yang mengalami fiksasi? Ancaman apa yang menginterupsi perkembangan psikologis? Ancaman utama adalah insecurity, kegagalan dan hukuman. Insecurity adalah keadaan pikiran yang berkembang ketika seseorang merasa bahwa dia tidak memiliki kemampuan untuk menangani tuntutan-tuntutan dari suatu situasi baru. Dia merasa bahwa situasi baru tersebut terlalu berat baginya dan bahwa the outcome akanlah menyakitkan. Ketakutan akan gagal is much the same sort of thing kecuali bahwa ada rasa takut tambahan yaitu ketakutan dalam mendapat malu jika gagal. Kegagalan merupakan tamparan bagi self-esteem seseorang (ego-ideal). Terakhir terdapat ketakutan akan mendapat hukuman, yang mungkin merupakan ketakutan yang paling penting dari semuanya. Bayangkan seorang anak yang mencoba menyatakan independensinya dari orang tuanya dengan mengembangkan minat dan keterikatan-keterikatan dengan pihak diluar keluarganya. Yaitu, dia mengembangkan cathex-cathex untuk orang lain dan hal-hal lain. Dia mungkin enggan untuk membuat object-choice semacam itu karena dia takut orang tuanya akan membalas tindakantindakannya itu dengan menarik kembali cinta kasih mereka, dan sebagai akibatnya dia akan ditinggalkan sendirian dan tak terlindungi. Pada saat yang sama dia tidak dapat merasa pasti bahwa object-choice yang baru itu akan mengkompensasi kehilangan cinta kasih parental ini. Bagi si anak atau remaja tersebut hal ini barangkali menjadi suatu dilema yang nyata, the outcome of which will determine apakah dia akan melangkah

maju atau jalan di tempat. Dia lebih condong untuk berfiksasi jika dia sebelumnya pernah mengalami rejection parental. Adalah ironis, tapi meski demikian benar, bahwa seorang anak lebih condong untuk terikat kepada perlindungan dari ibunya karena ketakutan seperti ini daripada karena cinta. Dia takut akan apa yang ibunya akan lakukan padanya jika dia mencoba menyatakan independensinya. Seorang anak yang merasa yakin akan afeksi dari orangtuanya dan tahu dari pengalaman bahwa mereka tidak akan membuang dirinya sedikit kemungkinannya utnuk menjadi terfiksasi dalam tahap perkembangan yang belum matang. Di samping fiksasi pada objek-objek terdapat pula fiksasi dalam perkembangan struktur dan dinamika personalitas. Sebagian orang tidak maju melampaui level dari wishful thinking. Yang lain tidak pernah belajar membedakan dengan tegas antara dunia subjektif dengan realitas objektif. Yang lainnya lagi hidup di bawah dominasi superego yang kaku atau hidup dalam cengkraman ketakutan-ketakutan masa kecil. Sebagian orang berfiksasi pada suatu mekanisme pertahanan diri tertentu yang keseluruhan personalitas berpusing di sekitarnya. Yang lain tetap berada dalam level prilaku impulsif. Terdapat segala jenis dan derajat fiksasi yang menghindarkan orang dari penyadarannya akan potensialitas-potensialitas psikologis yang dia miliki. Hampir setiap orang secara psikologis dibuat tak bergerak melangkah dalam suatu cara oleh rasa takut. E. REGRESI Setelah mencapai suatu tahap perkembangan tertentu, seseorang bisa melangkah mundur pada level yang lebih awal karena rasa takut. Ini disebut regresi. Seorang wanita muda yang menikah yang menjadi cemas setelah pertengkaran pertamanya dengan suaminya bsa kembali ke keajegan rumah orang tuanya. Seseorang yang telah dilukai oleh dunia akan menutup diri dalam suatu dunia mimpi yang privat. Kecemasan moral bisa menyebabkan orang melakukan sesuatu yang impulsif agar dia dihukum seperti yang pernah dia alami ketika masih sebagai seorang anak. Any flight from controlled and realistic thinking constitutes a regression. Bahkan orang yang sehat, dan menyesuaikan diri dengan baik melakukan regresi dari waktu ke waktu demi mereduksi kecemasan, atau, seperti yang mereka katakan, to blow off steam. Mereka merokok, mabuk, makan berlebihan, lose their tempers, menggigiti kuku, pick their noses, melanggar hukum, talk baby talk, menghancurkan barang-barang, masturbasi, membaca cerita-cerita misteri, pergi ke bioskop, terlibat dalam praktek-praktek seksual tak biasa, mengunyah permen karet dan tembakau, berpakaian seperti anak-anak, ngebut dan mengemudi dengan ceroboh, percaya pada roh-roh baik dan jahat, tidur siang, berkelahi dan saling membunuh, berjudi kuda pacuan, mengkhayal, memberontak atau tunduk pada otoritas, berjudi kartu, berdandan lama di depan cermin, act out their impulses, mencari kambing hitam, dan melakukan seribu satu hal-hal yang kekanakan. Beberapa dari regresi ini dilakukan oleh orang dewasa. Bermimpi adalah contoh bagus dari aktivitas regresi dalam arti ia melibatkan proses pengukuhan rasa nikmat melalui wish-fulfilment yang magis. F. GENERAL CHARACTERISTICS OF THE DEFENSE MECHANISMS Mekanisme pertahanan diri dari ego merupakan cara-cara irasional dalam menangani kecemasan karena semua itu mendistorsikan, menyembunyikan, atau menyangkal realitas dan menghambat perkembangan psikologis. Mereka ngeukeuweuk energi yang bisa digunakan untuk aktivitas-aktivitas ego yang lebih efektif. Ketika suatu pertahanan diri menjadi amat berpengaruh ia mendominasi ego dan memangkas fleksibilitas dan

adaptabilitasnya. Finally, jika pertahanan-pertahanan itu ambruk, ego akan mengalami kemunduran dan dikuasai oleh kecemasan. Akibatnya adalah nervous breakdown. Lalu kenapa pertahanan-pertahanan itu ada jika mereka dalam banyak cara begitu membahayakan? Alasan bagi keberadaannya adalah alasan developmental. Ego anakanak masih terlalu lemah untuk mengintegrasikan dan mengsintesiskan semua tuntutan yang diajukan kepadanya. Pertahanan-pertahanan ego diadopsi sebagai tindakantindakan protektif. Jika ego tidak dapat mereduksi kecemasan melalui cara-cara rasional, ia harus memakai tindakan-tindakan seperti misalnya menyangkal adanya ancaman (represi), mengeksternalisasi ancaman tersebut (proyeksi), menyembunyikan ancaman tersebut (pembentukan-reaksi), diam tak bergerak (fiksasi), atau mengundurkan diri (regresi). Ego masa kanak memerlukan dan menggunakan semua mekanisme aksesoris ini. Kenapa mereka dipertahankan setelah mereka melayani tujuan-tujuannya yang penting bagi ego masa kanak? Mereka terus ada ketika ego gagal untuk berkembang. Tapi satu alasan kenapa ego gagal untuk berkembang adalah terlalu banyaknya energi ego diperuntukkan bagi pertahanan-pertahanan yang dimilikinya. Ini adalah lingkaran setan. Pertahanan-pertahanan tidak bisa dibuang/dihentikan karena ego tidak adekuat, dan ego tetap tidak adekuat sepanjang ia bergantung pada pertahanan-pertahanannya. Bagaimana ego bisa memutus lingkaran setan ini? Satu faktor yang penting adalah kedewasaan [maturation]. Ego tumbuh sebagai a result of innate changes in the organism itself, notably changes in the nervous system. Di bawah dampak maturasi, ego dipaksa untuk berkembang. Faktor penting lainnya bagi kesehatan perkembangan ego adalah lingkungan yang memberikan si anak suksesi pengalaman yang disinkronkan dengan kapasitaskapasitasnya dalam melakukan penyesuaian diri. At no time should the dangers and hardships be so strong as to be incapacitating to the child or so eak as to be unstimulating. Di masa bayi potensi-potensi ancaman dalam hidup harusnya kecil, di masa awal kanak-kanak ancaman itu harusnya sedikit lebih kuat, dan begitu seterusnya sepanjang tahun-tahun pertumbuhan. Dalam serangkaian lingkungan yang bergradasi semacam itu ego akanlah memiliki kesempatan untuk melepaskan satu demi satu mekanisme-mekanisme pertahanannya (di bawah kondisi-kondisi ideal mekanismemekanisme pertahanan itu tidak akan berkembang) dan menggantinya dengan mekanisme-mekanisme yang lebih realistik dan lebih efisen. IV TRANSFORMASI-TRANSFORMASI INSTING Perbedaan yang paling mencolok antara bayi dengan orang dewasa, terlepas dari perbedaan fisik dalam ukuran dan tenaga, adalah kontras antara the limited repertoire of behaviour of the baby dengan the wide range of activities dari orang dewasa. Bayi menghabiskan energinya hanya dalam beberapa cara sementara orang dewasa memiliki pilihan-pilihan yang hampir tak terbatas. Bagaimana energi menemukan saluran-saluran baru bagi pengekspresian diri? Bagaimana bisa terjadi bahwa instinginsting fundamental kehidupan dan kematian, yang merupakan sumber dari segenap energi psikis, mencabang ke semua arah dan memberikan motif bagi banyak ragam transaksi yang dilakukan orang dewasa dengan lingkungan? Pertama, adalah penting untuk memperjelas tentang certain fundamental matters. Insting-insting kehidupan dan kematian yang ada dalam id originally contain all of the psychic energy. Energi psikis dihasilkan melalui suatu transformasi dari energi ragawi. Tujuan dari insting-insting tersebut adalah untuk menghilangkan excitation-excitatiton ragawi dan mengembalikan seseorang pada keadaan mental dan fisiologis yang damai [quiescence] (keterbebasan dari ketegangan). Insting-insting ini berupaya mencapai tujuan ini dengan menggunakan energi untuk kerja-kerja psikologis, misalnya,

mempersepsi, mengingat, dan berpikir. Ketika kerja psikologis itu selesai dilakukan, artinya, ketika suatu rencana tindakan telah dirumuskan, energi muscular dilepaskan dalam bentuk tindakan motor. Orang tersebut melakukan sesuatu. Dia bicara, atau berjalan, atau menggunakan tangannya untuk mendatangkan hasil yang diinginkan. Hasil yang diinginkan itu selalu merupakan reduksi ketegangan. Ini dicapai dengan menghalau kondisi yang menggangu yang telah menghasilkan ketegangan. Hanya bagaimana rencana tindakan mental itu ditransformasikan ke dalam aktivitas fisik tidaklah diketahui. Bahwa hal itu terjadi pastilah sudah jelas bagi setiap orang yang pernah secara sadar memikirkan untuk melakukan sesuatu dan kemudian melakukannya. Ketika kita bertanya kenapa seseorang melakukan sesuatu, apakah itu menangkapi kupu-kupu, mencuci mobil, mengoperasikan mesin pintal, atau menulis buku, apa yang ingin kita tahu adalah apa yang memotivasinya. Insting tertentu apa yang mengarahkan proses-proses psikologisnya sedemikian rupa sehingga insting-insting itu memandunya untuk mengumpulkan kupu-kupu, mencuci mobil, menjalankan mesin pintal, atau menulis buku? Kita mungkin berpendapat bahwa terdapat suatu insting tertentu [spesifik] bagi masing-masing aktivitas ini, tapi tampaknya ini hampir tidak pernah merupakan penjelasan yang plausible. Sedikitnya penjelasan itu tidak terlalu ekonomis, dan ilmu pengetahuan selalu ingin mencapai ekonomi. Lebih baik kita harus mencari jawabannya dalam apa yang Freud sebut “the instincts and their vicissitudes.” [variability] dalam satu artian tertentu jawaban pada pertanyaan tentang bagaimana cakupan terbatas dari perilaku anak diperluas menjadi keberagaman perilaku orang dewasa akan membuat kita kembali mengulang segala hal yang sudah kita bahas. Satu jawaban yang pendek akanlah berarti bahwa pembentukan ego dan superego, pendistribusian energi dalam ketiga sistem dan pemakaiannya dalam cathex-cathex dan anti-cathex, dan jejaring interaksi yang rumit di antara id, ego, dan superego dan ketiganya dengan dunia menjelaskan bertambah kompleksnya perilaku. Alih-alih mengulang semua yang telah dikatakan, marilah kita membatasi perhatian kita pada beberapa pertimbangan yang penting. Yang terutama, sangatlah sedikit, jika pun ada, aktivitas-aktivitas orang dewasa yang merupakan produk dari suatu insting kehidupan atau kematian secara sendirian. Any particular action is more likely to be a consequence of a fusion of instincts. Seseorang belajar dari pengalaman bahwa dia bisa mereduksi ketegangan-ketegangan yang muncul secara serentak dari sejumlah sumber dengan terlibat dalam suatu aktivitas yang rumit [complicated]. Seorang pemain bola, misalnya, memuaskan sejumlah insting atau derivatif-derivatifnya ketika dia bermain bola. Hampir setiap aktivitas merupakan kondensasi dari suatu kompleks motif. Penggabungan insting-insting itu dicapai melalui pensintesisan fungsi-fungsi ego. Lebih detilnya akan dijelaskan nanti. Yang kedua, suatu aktivitas bisa memperlihatkan suatu kompromi antara dayadaya pendorong (cathex) dengan daya-daya penolak (anti-cathex). Sebagai akibat dari adanya resistensi, seseorang tidak dapat melepaskan ketegangannya secara langsung; dia mesti menemukan suatu landasan pertengahan antara kepuasan penuh dengan ketakpuasan penuh. Misalnya, afeksi-afeksi yang merepresentasikan kompromi antara pemenuhan suatu dorongan seksual dengan resistansi ego atau larangan superego terhadap pemenuhan semacam itu. Seperti itu pula kritik verbal merupakan titik tengah antara agresi fisik dengan non-agresi. Alasan dibentuknya kompromi ditemukan dalam pepatah “half a loaf is better than no bread at all.” Dari semua displacement-displacement ini—karena aktivitas-aktivitas kompromi sebenarnya adalah displacement—motif-motif baru (object-cathex) diperoleh. Ketika seseorang mensubstitusi cinta dengan seks, dikatakan bahwa dia telah membentuk satu

motif baru. Actually, akan tetapi, motif baru ini tidaklah meliputi perubahan dalam daya pendorong dasarnya atau dalam tujuan akhirnya. Daya pendorong itu tetap diberikan oleh insting seks, dan tujuannya masihlah menghilangkan ketegangan seksual. Apa yang berubah adalah cara dalam mencapai tujuan tersebut. Orang berusaha mereduksi ketegangan seksual dengan ekspresi-ekspresi cinta yang diseksualisasi. Motif-motif baru atau object-cathex object-cathex ini disebut instinct derivatives. Instinct derivatives sama beranekaragamnya dengan jumlah tak terbatas dari displacement dan kompromi yang sanggup dibikin manusia. Keterkaitan, preferensi, minat, cita-rasa, sikap, kebiasaan, sentiment, nilai, dan ideal-ideal adalah bentuk dari instinct derivatives. Compromise object-cathexes biasanya tidak melepaskan semua ketegangan. Cinta romantik, misalnya, menyisakan orang dengan excitasi seksual residual. Suatu insting yang dihalangi dalam melepaskan semua energinya mengalami apa yang dikatakan sebagai aim-inhibited. Insting yang dihambat-tujuannya membuat objectcathex yang kuat dan daya pendorong yang persistent karena mereka tidak diberi kesempatan untuk menyelesaikan pelepasan ketegangan. Sebagai akibatnya excitasiexcitasi yang tak dilepaskan tersebut memberikan a continual stream of energy yang digunakan untuk mempertahankan objek-cathex. Ini membawa pada konklusi yang tampaknya paradoksikal. Minat, keterkaitan, dan semua bentuk motif-motif yang acquired lainnya tetap hidup karena mereka pada derajat tertentu terhambat [terfrustrasikan] sekaligus terpuaskan. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki minat intens dan yang tak pernah puas* dalam mendengarkan musik klasik tidak mendapatkan pemuasan yang penuh. Mendengarkan musik bukanlah substitut yang sepenuhnya memuaskan bagi suatu object-choice yang lebih mendasar. Pencinta musik tidak dapat mendapatkan his fill of music karena ia bukanlah sesuatu yang sebenarnya dia inginkan. Akan tetapi hal itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Setiap kompromi pada saat yang sama adalah penyangkalan [renunciation]. Seseorang yang menyerah atas sesuatu yang benar-benar ia inginkan tapi tak bisa dia miliki, dan menerima hal terbaik kedua atau ketiga yang bisa dia peroleh. Cinta yang tak pernah padam seorang anak pada ibunya, dan cinta ibunya bagi si anak, perasaan positif yang dirasakan seorang anggota sebuah klub terhadap anggota lainnya, cinta pada negara, dan bermacam keterkaitan lainnya semuanya termotifasi oleh insting yang dihambat-tujuannya. Vicissitude yang ketiga yang dialami oleh insting dilakukan oleh tindakan mekanisme pertahanan. Pertahanan-pertahanan, begitulah mereka disebut, ada untuk membantu ego dalam menangani kecemasan. Semenjak satu sumber kecemasan merupakan ancaman dari insting, mekanisme pertahanan berusaha mematikan ancaman tersebut dengan mengubah object-choice instingtual. Insting kematian, misalnya, diproyeksikan ke luar oleh ego dalam bentuk destruksi, agresi, mastery, dominansi, ekploitasi, dan kompetisi. Ini berarti bahwa objek-objek eksternal disubstitusi untuk object-choice yang asli yang adalah dari dalam dirinya sendiri. Sepanjang energi dari insting kematian bisa dipantulkan menjauh dari diri orang itu sendiri, ancaman tersebut dimatikan dan dia tidak lagi merasa cemas. Di sini kita sekali lagi melihat bekerjanya an aim-inhibited instinct. Sepanjang action upon a substitute object tidak pernah bisa sepenuhnya dipuaskan, proyeksi insting kematian akan tetap ada. Ini menjelaskan bagi fakta bahwa keagresifan merupakan karakteristik manusia yang menonjol, dan bahwa bentuk-bentuk yang kurang menonjol dari digantikannya agresi seperti misalnya, mastery, dominansi, eksploitasi, dan kompetisi bahkan lebih sering ditemui. Semakin lemah ekspresi semakin sering ditemui daripada keagresifan yang kasar karena mereka lebih merepresentasikan suatu kompromi. Sebagai akibatnya,
*

insatiable

semua itu lebih termotivasi secara persisten karena, gagal dalam mereduksi ketegangan setuntasnya, they have more available to maintain the habit. Perkelahian adu jotos adalah lebih memuaskan (melepaskan lebih banyak ketegangan) daripada kompetisi di antara lawan bisnis, tapi orang dewasa jarang terlibat dalam pertarungan adu jotos dan lebih banyak dalam kompetisi. As a general rule, semakin substitut object-choice berbeda dari aslinya dalam memberikan kelegaan dari ketegangan, semakin besar ia akan dipelihara orang.

Represi atas object-choice instingtual menghasilkan bermacam jenis pembentukan substitute yang berperan dalam melepaskan energi dalam bentuk-bentuk yang tersamarkan. Penyamaran ini dicapai dengan mengganti satu object-choice dengan yang lain. Tujuan dari penyamaran ini adalah untuk menghindarkan ego untuk menjadi cemas. Sepanjang substitut itu berhasil mengecoh ego, dan pada saat yang sama memberikan semacam reduksi ketegangan, substitut tersebut akan dipertahankan. Seseorang yang telah merepresi insting kematiannya, misalnya, akan mendapatkan kepuasan bagi keinginan dari kematiannya dengan membaca berita-berita kematian dan kolom obituari dalam koran, dengan menghadiri penguburan, dan dengan mendengarkan dirge-dirge. Better yet, he may become an undertaker. Mimpi dipenuhi dengan representasi-representasi simbolik atau disamarkan dari hasrat-hasrat yang terepresi. Ketika yang disamarkan itu menjadi terlalu transparent, orang yang bermimpi biasanya akan terbangun. Mimpi-mimpi kecemasan dan mimpi buruk, misalnya disebabkan oleh munculnya hasrat-hasrat terepresi yang membuat orang itu menjadi cemas. Pembentukan reaksi operates on the instincts tidak melalui pensubstitusian satu objek dengan objek yang lain, seperti yang terjadi dengan proyeksi, tapi dengan menyuntikkan begitu banyak energi dari satu insting ke dalam suatu objek sehingga ia menghindarkan energi dari insting lainnya mengekspresikan diri. Modesty, misalnya, mungkin menyembunyikan hasrat untuk menonjolkan diri. In summary, all of the far-flung activities of the adult person are motivated by the energy of the life and death instincts. Apapun yang seseorang lakukan adalah bisa (1) suatu ekspresi langsung dari suatu insting, dalam kasus mana akan berupa objectchoice id yang simpel seperti, makan, tidur, eliminating, dan bersetubuh, atau (2) ia dimotivasi oleh kombinasi insting-insting, atau (3) ia merepresentasikan suatu kompromi antara daya pendorong dan daya pembendung, atau (4) ia membangun suatu pertahanan ego. Akan tetapi kita telah neglected untuk menyinggun satu jenis perubahan lainnya yang penting yang terjadi dalam insting-insting. Meski tujuan insting tetap konstan sepanjang hidup, sumber insting-insting, yang sebagiannya membentuk excitasi-excitasi ragawi, bisa berubah sepanjang berlangsungnya perkembangan. Excitasi-excitasi ragawi yang baru muncul, dan yang lama mengalami modifikasi atau dibuang sebagai konsekuensi dari pendewasaan, latihan, stimulasi, penyakit, kelelahan, medikasi, diet, bertambah umur, dan interaksi dengan excitasi ragawi yang lain. Perubahan-perubahan ini bisa menambahkan insting-insting baru, menghilangkan insting yang lama, atau memodifikasinya dalam suatu cara. V. THE DEVELOPMENT OF THE SEXUAL INSTINCT

Konsepsi Freud tentang insting seksual adalah lebih luas daripada konsepsi yang biasa. Ia tidak hanya meliputi pembelanjaan energi untuk aktivitas-aktivitas yang mendatangkan kenikmatan yang meliputi stimulasi dan manipulasi genital, tapi ia juga mencakup manipulasi atas zona-zona tubuh yang lain juga demi kenikmatan. Suatu bagian tubuh dimana berlangsung proses-proses excitatoris yang mengganggu (ketegangan) cenderung memfokus dan yang ketegangannya bisa dihilangkan dengan beberapa tindakan pada bagian tersebut, seperti misalnya menyedot atau dipijat, disebut zona erogenus. Manipulasi atas suatu zona erogenus dipandang memuakan karena manipulasi itu dapat mengendurkan ketergangguan, seperti menggaruk melegakan sensasi gatal, dan karena tindakan itu mendatangkan rasa sensual yang mendatangkan nikmat. Tiga zona erogenus yang utama adalah mulut, anus, dan organ-organ genital, meski setiap bagian permukaan tubuh bisa menjadi pusat excitatoris yang menuntut dilakukannya pengenduran dan memberikan rasa nikmat. Masing-masing zona utama diasosiasikan dengan kepuasan kebutuhan vital, mulut dengan kegiatan makan, anus dengan pembuangan, dan organ seks dengan reproduksi. Rasa nikmat dari zona-ona erogenus tersebut mungkin dan seringkali independen dari rasa nikmat yang datang dari dipenuhkannya kebutuhan vital tersebut. Sebagai contoh, menyedot ibu jari dan masturbasi merupakan kegiatan mereduksi ketegangan, tapi yang disebut lebih dahulu tidaklah memuaskan rasa lapar juga yang belakangan tidak melayani tujuan reproduksi. Zona-zona erogen amat penting bagi perkembangan personalitas karena zona-zona itu merupakan sumber-sumber excitasi mengganggu yang penting di masa permulaan yang harus ditanggulangi oleh si bayi dan yang membuat si bayi mendapatkan pengalamanpengalaman akan rasa nikmat penting untuk pertama kalinya. Lebih jauh lagi, tindakantindakan yang melibatkan zona-zona erogenus membuat si bayi terlibat konflik dengan orang tuanya, dan frustrasi-frustrasi dan kecemasan-kecemasan yang dihasilkannya merangsang dikembangkannya sejumlah hal seperti adaptasi, displacement, pertahanan, transformasi, compromi, dan sublimasi. A. ZONA ORAL Dua sumber utama dari rasa nikmat yang berasal dari mulut adalah rasa nikmat dari stimulasi tactual [berkenaan dengan indra rabaan], yang diperoleh dengan memasukkan benda-benda ke dalam mulut, dan menggigit. Stimulasi taktual dari bibir dan lubang mulut dengan memasukkan objek ke dalam mulut menghasilkan rasa nikmat erotik (seksual) oral. Rasa nikmat agresif oral datang belakangan dalam perkembangan yang terjadi karena ia harus menunggu tumbuhnya gigi. Jika kegiatan memasukkan benda ke dalam mulut menyakitkan, seperti ketika si bayi melakukannya dengan bahan yang pahit, si bayi melepaskan diri dari objek ofensif tersebut dengan meludahkannya keluar. Akibat dari pengalaman-pengalaman seperti itu, bayi belajar menghindari rasa sakit dengan menutup mulutnya dari benda-benda yang mengganggu. Dilain pihak, jika suatu objek yang mendatangkan nikmat dilepaskan dari mulut bayi, misalnya payudara ibu atau botol minum, the baby tends to hold on. Mulut, karenanya, memiliki lima cara utama dalam berfungsi, (memasukkan, (2) holding on, (3) menggingit, (4) memuntahkan, dan (5) menutup. Masing-masing cara ini adalah prototip atau model asli dor certain traits. Dengan prototip artinya suatu cara orisinil dalam menyesuaikan diri pada keadaan yang menyakitkan atau mengganggu. Ia berperan sebagai model bagi adaptasi-adaptasi yang terjadi belakangan. Dengan kata lain, bayi, setelah mengetahui cara melakukan penyesuaian tertentu, menggunakan penyesuaian-penyesuaian yang sama ketika situasi-situasi serupa yang muncul dalam kehidupannya yang belakangan. Jika memasukkan sesuatu ke dalam mulut mendatangkan rasa nikmat, seperti ketika si bayi sedang lapar, lalu memasukkan pengetahuan atau cinta atau kekuasaan seolah-olah

seseorang merasakan kekosongan mungkin juga mendatangkan rasa nikmat. Pada kenyataannya, kita membicarakan rasa lapar akan pengetahuan atau cinta atau kekuasaan seolah-olah semua itu merupakan benda keras yang bisa ditelan. Mulut menyediakan banyak pengalaman-pengalaman prototipikal yang ditransferkan dan dipindahkan pada situasi-situasi serupa lainnya. Indeed, sebagian besar pengalaman prototipikal melibatkan tubuh karena bayi lebih peduli dengan fungsi-fungsi tubuh daripada dengan lingkungan eksternal. Memasukkan sesuatu melalui mulut adalah prototip bagi acquisitiveness, holding on [prototipe untuk] tenacity [kegigihan] dan determinasi, menggigit untuk kedestruktifan, memuntahkan untuk rejeksi dan pencelaan, menutup untuk penyangkalan dan negatifisme. Apakah ciri-ciri ini akan berkembang dan menjadi bagian dari karakter seseorang atau tidak bergantung pada jumlah frustrasi dan kecemasan yang dialami dalam kaitannya dengan ekspresi prototipe ini. Misalnya, bayi yang disapih terlalu cepat mungkin mengembangkan kecenderungan kuat untuk to hold on to things untuk mengantisipasi terulangnya pengalaman penyapihan yang traumatis tersebut. Dengan berbagai macam displacement dan sublimasi, fiksasi atas satu mode oral prototipikal itu mungkin berkembang menjadi a whole network of interests, attitudes, and behaviour. A person who acquired a predominantly incorporative orientation tidak hanya memasukkan sesuatu melalui mulut tapi melalui organ-organ indra, misalnya, dengan menyaksikan dengan mata dan mendengarkan dengan telinga. Sikap untuk memasukkan tersebut mungkin melingkupi hal-hal abstrak dan simbolis seperti misalnya dimasukkannya cinta, pengetahuan, uang, kekuasaan, dan kepemilikan lainnya. Kerakusan dan acquisitiveness berkembang sebagai akibat dari tidak mendapatkan makanan atau cinta yang cukup yang terjadi di masa-masa awal kehiudupan. Orang yang acquisitive tidaklah bisa dipuaskan karena apapun yang dia dapatkan, apakah itu uang atau nama besar, hanyalah substitute bagi sesuatu yang benar-benar ia inginkan, yaitu, makanan dari seorang ibu yang penuh kasih. Karena si bayi amat tergantung pada suatu agen eskternal, biasanya ibunya, dalam kehendaknya untuk mengendurkan stress oral dan diperolehnya kenikmatan oral, sibu bisa mengontrol perilaku si bayi dengan memberina makanan ketika dia patuh pada keinginan-keinginan si ibu dan dengan menahan makanan ketika dia tak patuh. Semenjak pemberian makanan menjadi terasosiasikan dengan cinta dan approval dan menahan makanan dengan penolakan [rejection] dan disapproval, si bayi menjadi cemas ketika si ibu melakukan penolakan dan meninggalkannya, karena hal ini menandakan hilangnya desirable oral supplies. Jika banyak kecemasan bertumpuk pada ancaman ini yang mengancam kenikmatan oral si bayi, dia cenderung untuk menjadi terlalu bergantung pada ibu dan juga pada orang lain. Dia mengembangkan sikap bergantung kepada dunia. Alih-alih belajar memuaskan kebutuhan-kebutuhannya melalui usaha sendiri, dia mengharapkan segala sesuatu diberikan padanya ketika dia berbuat baik dan sebaliknya jika berbuat buruk.orang semacam itu dikatakan memiliki struktur karakter yang oral-dependent. Jika hasrat untuk bergantung membuat sesoerang merasa malu, suatu pembentukanr eaksi bisa berkembang yang akan membuat orang itu menentang tergantung pada orang. Dia tidak dapat meminta sesuatu kepada seseorang karena itu akan berarti hilangnya ketaktergantungannya. Proyeksi bisa juga dipakai sebagai bentuk pertahanan terhadap ketergantungan. Alihalih mencari bantuan, seseorang yang melakukan proyeksi akan merasa berkewajiban untuk memberikan bantuan kepada orang lain. Orang semacam itu mungkin akan memilih profesi perawat, pekerja sosial atau kerja-kerja humanitarian lainnya. Atau keinginan-keinginan oral yang terepresi mungkin muncul dalam bentuk yang tersamar.

Seseorang yang menjadi berminat dalam linguistik, mengoleksi botol, atau mempelajari ventriloquisme. Keagresifan oral dengan menggigit merupakan prototipe bagi banyak jenis agresi yang disamarkan atau yang diganti. Anak yang menggigit dengan giginya ketika dewasa akan menggigit dengan sarkasme verbal, mencela, dan sinis, atau dia mungkin menjadi pengacara, politisi, atau penulis editorial. We speak of “biting into something” atau “taking the bit in one’s teeth” ketika seseorang memperlihatkan perilaku agresif, masterful, dan dominan. Ketika orang merasa bersalah, agresi oral bisa digunakan sebagai sebentuk penghukuman-diri. Dia mungkin menggigit bibir atau lidahnya. Agresi oral mungkin menimbulkan perasaan cemas yang pada waktu itu dibendung melalui bermacam mekanisme ego. Orang mungkin bereaksi melawan agresi oral dengan menyuarakan hanya hal-hal yang baik saja tentang orang lain. Atau dia mungkin memproyeksikan agresi oralnya sehingga dia melihat dirinya sebagai seorang korban agresi dari suatu dunia yang dipenuhi dengan musuh. Dia akan menjadi terfiksasi dalam tahap perkembangan oral-agressive yang primitif (the oral biter) atau mengalami kemunduran ketika frustrasi=frustrasi yang dia alami dalam tahan-tahap selanjutnya lebih berat. Meludahkan [memuntahkan] dan menutup mulut hampir mengikuti garis yang sama dengan perkembangan memasukkan sesuatu ke dalam mulut dan menggitit. Cara-cara bereaksi yang prototipikal ini ditransformasi dalam beragam cara, tergantung pada kepuasan-kepuasan tertentu dan frustrasi-frustrasi yang mereka temui. Jenis personalitas yang meludahkan [memuntahkan] ini dicirikan dengan sikap mencela dan rasa jijik, tipe menutup mulut dengan a shut-in, guarded wuality. Dibentuknya pertahanan melawan mode-mode perilaku yang diakibatkan oleh kecemasan ini mempengaruhi perkembangan personalitas dalam banyak cara. Sebagai contoh, an undiscriminating acceptance of what anyone says or does, dicirikan oleh ungkapan, “He’ll swallow anything,” merupakan pembentukan reaksi terhadap sikap meludahkan ini. Perasaan merasa sebagai orang yang terbuang secara sosial yang kepadanya dunia telah menutup pintu-pintunya merupakan proyeksi dari menutup mulut terhadap dunia yang menyakitkan. Manifestasi-manifestasi dari kelima cara dari aktivitas oral ini bisa dilihat dalam banyak panggung kehidupan. Semua itu muncul dalam relasi-relasi dan keterkaitan-keterkaitan interpersonal seseorang, dalam minat-minat dan preferensi-preferensi ekonomi, sosial, politik, dan sikap religius, dan dalam minat preferensi estetik, kultural, rekreasional, atletis dan jenis profesi. B. ZONA ANAL Di ujung yang lain dari kanal pemberian makanan dari mulut adalah pintu yang ada di belakang, anus, yang melaluinya produk tak bermanfaat dari proses pencernaan dibuang dari tubuh. Ketegangan-ketegangan muncul di wilayah ini sebagai akibat dari akumulasi materi fecal. Materi ini memunculkan tekanan pada dinding-dinding usus, yang merupakan bagian dari jalur intestinal sebelum anus, dan pada kran anal, yang merupakan otot-otot yang seperti katup. Ketika tekanan pada kran anal itu mencapai level tertentu, ia membuka dan produk tak berguna itu dibuang melalui tindak defecation. Pembuangan dengan sedikit paksaan ini menghasilkan kelegaan bagi orang dengan cara menghilangkan sumber ketegangan itu. Sebagai akibat dari pengalaman pengenduran-ketegangan yang mendatangkan rasa nikmat dari pembuangan ini, mode aksi in imungkin dipakai untuk membuang ketegangan-ketegangan yang muncul di bagian-bagian tubuh lainnya. Pembuangan expulsif [dengan sedikit paksaan]

merupakan prototipe bagi terjadinya semprotan emosional, temper tantrums, rages, dan reaksi-reaksi pelepasan primitif lainnya. Biasanya sepanjang tahun kedua kehidupan, refleks-refleks ekspulsif involuntary are brought under voluntary control melalui serangkaian pengalaman yang secara familiar sudah dikenal sebagai pelatihan-toilet. Pelatihan-toilet biasanya merupakan pengalaman pertama yang krusial yang seorang anak miliki yang melibatkan disiplin dan otoritas eksternal. Pelatihan-toilet memperlihatkan suatu konflik antara suatu cathexis instingtual (keinginan untuk membuang kotoran) dengan halangan-halangan eksternal. Konsekuensi-konsekuensi dari konflik ini biasanya meninggalkan imprints yang sukar dihapuskan pada struktur personalitas. Metode-metode yang dipakai ibu dalam melatih anak, dan sikap-sikapnya tentang urusan-urusan seperti misalnya, defecation, kebersihan, kontrol, dan tanggungjawab, sebagian besar menentukan sifat pengaruh yang akan dipunyai pelatihan-toilet tersebut atas personalitas dan perkembangannya. A person naturally resists having a pleasurable activity interfered wiht and regulated. Jika interferensi itu amat ketat dan punitif anak akan membalasnya dengan mengotori diri secara sengaja. Ketika dia bertambah usia anak semacam itu akan berbuat adil terhadap figur-figur otoritas yang menghambat [membikin frustrasi] dengan bersikap messy, tak bertanggungjawab, tak mengikuti aturan, wasteful, dan berlebihan. Prosedur-prosedur pelatihan-toilet yang ketat mungkin juga mendatangkan suatu pembentukan reaksi terhadap uncontrolled expulsiveness dalam bentuk kerapihan yang mendetil, cerewet, keinginan akan ketertataan yang impulsif, hemat berat, penuh rasa jijik, takut akan yang kotor, hemat waktu dan uang, dan prilaku terlalu terkontrol lainnya. Susah buang air besar merupakan reasi pertahanan yang biasa terhadap pembuangan itu. Dilain pihak, if the mother pleads with the child to have a bowel movement dan memujinya dengan berlebihan ketika dia melakukannya, si anak akan memandang bahwa produk yang telah dia buang sebagai sesuatu yang bernilai besar. Belakangan dalam hidupnya dia akan termotivasi untuk memproduksi atau menciptakan sesuatu yang menyenangkan orang atau menyenangkan dirinya sendiri seperti ketika dia dulu berhajat demi menyenangkan ibu. Kedermawanan, memberikan hadiah, donasi, dan filantropi bisa merupakan keluaran dari pengalaman dasar ini. Jika terlalu banyak penekanan diletakkan pada nilai dari kotoran, si anak merasa bahwa dia telah kehilangan sesuatu yang bernilai ketika dia buang air besar. Dia akan merespon kehilangan itu dengan perasaan depressed, depleted, dan cemas. Dia akan berusaha menghindarkan kehilangan semacam itu di masa depan dengan menolak membuang kotorannya. Jika mode/cara ini difiksasi dan digeneralisir, orang itu akan pelit, hemat, dan ekonomis. Retensi atau ngeukeuweuk tahi adalah cara lain dari anal functioning. Meski ia bisa dipakai sebagai pertahanan melawan kehilangan sesuatu yang dipandang bernilai, retentsi mendatangkan rasa nikmat dalam dirinya sendiri. Tekanan yang halus pada dinding internal rectum oleh bahan-bahan fecal secara sensual memuaskan. Buang air besar menghentikan kenikmatan ini dan membuat orang merasa semacam kekosongan dan kehilangan. Jika seseorang berfiksasi atas jenis kenikmatan erotik ini ia akan berkembang menjadi minat yang digeneralisir adalam mengoleksi, memiliki atau mendapatkan objek. Suatu reaksi-buatan [reaction formation] terhadap retensi mungkin berkembang sebagai akibat dari rasa bersalah, yang dalam kasus mana orang akan berkewajiban untuk melepaskan kepemilikan dan uangnya dalam cara yang tanpa banyak pertimbangan atau dengan melakukan menginvestasikannya secara asal-asalan. Memiliki sesuatu membuat orang-orang semacam itu begitu cemas ehingga mereka akan melakukan

apapun untuk melepaskannya. Lebih jauh lagi, mereka medapat kepuasan dari kegiatan menghamburkan uang dalam cara yang ekspulsif. C. ZONA SEKSUAL Kenikmatan penting ketiga adalah organ-organ seks. Memijat dan memanipulasi organorgan seseorang (masturbasi) menghasilkan kenikmatan sensual. Pada saat yang sama, terdapat intensifikasi perinduan seksual dalam disi si anak akan oran tuanya yang memulai serangkaian perubahan-perubahan penting dalam object-cathexesnya. Periode pertumbuhan selama mana si anak asyik dengan genitalnya dinamakan tahap phallic. Karena organ reproduktif pria dan wanita berbeda dalam strukturnya, perlulah untuk membahas peristiwa-peristiwa dalam tahap phallik ini untuk kedua jenis kelamin secara terpisah. 1. Tahap phallik pria. Mendahului masuknya periode phallic, anak lelaki mencintai ibunya dan mengidentifikasikan diri dengan ayahnya. Ketika dorongan seksual meningkat, cinta si anak akan ibunya menjadi semakin incestuous dan sebagai akibatnya dia menjadi mencemburui rivalnya, sang ayah. This state of affair ini yang didalamnya si anak memimpikan kepemilikan seksual yang eksklusif atas si ibu dan merasakan hawa antagonistik kepada si ayah disebut Oedipus compleks. Oedipus adalah tokoh terkemuka dalam mitologi Yunani yang membunuh ayahnya dan menikahi ibunya. Perkembangan Oedipus kompleks menciptakan satu ancaman baru bagi si anak. Jika dia keukeuh dalam ketertarikannya secara seksual kepada sang ibu, dia akan beresiko untuk dilukai secara fisik oleh sang ayah. Ketakutan spesifik yang dipelihara si anak adalah bahwa ayahnya akan memotong [remove] organ seks si anak yang offending. Ketakutan ini disebut kecemasan cstrasi. The reality of castration dibawa pulang si anak ketika dia melihat anatomi seksual seorang anak perempuan, yang tidak menganjur keluar seperti genital kaum pria. Anak perempuan itu bagi si anak lelaki terlihat sebagai hasil dari [telah mengalami] castrasi. “Jika kastrasi itu bisa terjadi padanya, hal itu pun bisa berlaku untuk saya,” itulah yang ada dibenaknya. Sebagai akibat kecemasan castrasi, si anak merepresi hasrat incestuousnya terhadap sang ibu dan permusuhannya pada si ayah, dan Oedipus kompleks hilang. Faktor-faktor yang lain juga berkonspirasi dalam memandulkan Oedipus kompleks. Terdapat (1) ketakmungkinan untuk memenuhi keinginan seksual terhadap sang ibu, seperti yang dilakukan Oedipus, (2) ketaksetujuan di pihak si ibu, dan (3) maturasi. Ketika si anak membuang keinginan seksualnya terhadap si ibu, dia mungkin mengindentifikasikannya dengan objek yang hilang, ibunya itu, atau mengintensifikasi identifikasinya dengan sang ayah. Yang dari keduanya ini akan terjadi tergantung pada kekuatan relatif dari komponen-komponen maskulin dan feminin dalam susun-bangun personalitas si anak. Freud mengasumsikan bahwa setiap orang constitutionally adalah biseksual, yang berarti bahwa dia mewarisi tendensi-tendensi dari kedua kutub seks itu. Jika tendensi feminin yang dimiliki si anak lelaki secara lelatif kuat dia akan condong untuk beridentifikasi dengan si ibu setelah Oedipus kompleksnya hilang. Jika tendensi maskulinnya lebih kuat, identifikasi dengan sang ayah akan ditekankan. Typically, selalu terdapat beberapa indentifikasi sebagaimana object-cathexes dengan kedua orang tua. Dengan mengidentifikasikan dengan ayah, si anak shares the father’s cathexis terhadap si ibu. Pada saat yang sama, identifikasi dengan sang ayah takes the place of the boy’s feminine cathexis tor the father. Dengan mengidentifikasikan dengan sang ibu, dia mendapatkan kepuasan parsial akan hasrat seksualnya terhadap si ayah, sementara identifikasi tersebut takes the place of the boy’s cathexis for the mother. Adalah kekuatan relatif dan keberhasilan dari identifikasi-identifikasi ini yang menentukan nasib karakter si anak dan keterkaitan-keterkaitannya, antagonisme-antagonimsmenya, dan derajat maskulinitas dan femininitasnya dalam hidupnya di masa nanti. Identifikasi-

identifikasi ini juga melahirkan pembentukan superego. Superego dikatakan sebagai anak dari Oedipus kompleks, karena ia mengambil tempat yang dulunya diduduki oleh oedipus kompleks. Selama beberapa tahun, kira-kira antara umur 5, ketika Oedipus kompleks direpresi oleh ketakutan akan kastrasi, sampai 12, ketika energi insting seksual semakin besar melalui perubahan-perubahan dalam sistem reproduktif, impuls-impuls agresif dan seksual dari anak berada dalam keadaan yang subdued [terpenjara]. Ini disebut periode latency. Dengan dimulainya pubertas, impuls-impuls tersebut dihidupkan kembali dan memulai the typical stress and strains of adolescence. Adaptasi-adaptasi dan transformasitransformasi baru berlangsung selama masa adolescent ini yang akhirnya memuncak dalam penstabilan personalitas. 2. The Female Phallic Stage. Sama seperti yang terjadi dengan anak lelaki, objek cinta pertamanya anak perempuan, terlepas dari cintanya akan tubuhnya sendiri (narcissisme), adalah sang ibu, tapi tidak seperti kasus anak lelaki pada awalnya tak terjadi suatu identifikasi dengan ayahnya. Ketika dia mengetahui bahwa dia tidak memiliki genital esternal yang mudah dikenali secara selintas seperti yang dimiliki kaum pria, dia merasa telah mengalami kastrasi. Dia menyalahkan ibunya atas kondisi ini dan cathexis untuk ibunya itu karenanya menjadi lemah. Lebih jauh lagi, si ibu mengecewakan si anak dalam urusan yang lain. Dia merasa bahwa si ibu tidak memberikannya cukup cinta atau bahwa dia harus berbagi cinta si ibu dengan saudarasaudaranya baik yang pria maupun yang wanita. Sewaktu cathexis untuk sang ibu melemah, si anak mulai memilih sang ayah, yang mempunyai organ “yang sekarang tak dia miliki lagi”. Cintanya si anak terhadap ayahnya bercampur dengan rasa iri karena dia memiliki sesuatu yang tidak dia miliki. Ini dikenal dengan penis envy. Ini merupakan counterpart feminin dari kecemasan kastrasi yang diidap anak lelaki. Kedua kondisi ini, penis envy dang ketakutan akan kastrasi, merupakan aspek-aspek dari fenomena umum yang sama, yang disebut castrasi kompleks. Kastrasi dan Oedipus kompleks adalah dua perkembangan tahap phallik yang paling penting. Munculnya castrasi kompleks dalam diri anak lelaki adalah alasan pokok kenapa Oedipus kompleks ditinggalkan, sementara dalam diri anak perempuan kastrasi kompleks itu (penis envy) bertanggung jawab dalam memperkenalkan Oedipus kompleks. Dia mencintai ayahnya dan cemburu pada ibunya. Meski the female Oedipus complex tampaknya tidak hilang seperti dalam diri anak lelaki, ia menjadi semakin lemah berkat maturasi dan ketakmungkinan untuk memiliki sang ayah. Identifikasi-identifikasi kemudian mengambil tempat dari object-cahtexes. Seperti anak lelaki, anak perempuan juga biseksual, dan kekuatan identifikasi dengan masing-masing orang tua ditentukan sebagian oleh kekuatan relatif dari predisposisipredisposisi feminin dan maskulin yang dimiliki si anak perempuan. Jika komponen maskulinnya kuat, si anak akan lebih mengidentifikasikan dengan ayahnya dan menjadi tomboy. Jika impuls-impuls femininnya mendominasi, si anak akan beridentifikasi dengan lebih intim dengan ibunya. Akan tetapi, biasanya terdapat derajat-derajat identifikasi dan cathexis dengan masing-masing orang tua. Usaha untuk menyamai [menandingi] atas sang ibu yang dilakukan si anak membawanya lebih dekat pada sang ayah dan juga mengkompensasi hilangnya relasi cinta dengan ibunya. Serupa itu pula, identifikasinya dengan sang ayah mengkompensasi akan hilangnya genital dan memelihara cathexis untuk sang ibu. Kekuatan dan keberhasilan identifikasi-identifikasi ini mempengaruhi the nature of her attachments, hostilities and the degree of masculinity and femininity in later life, as well as producing the superego. Si anak juga memiliki periode latensi, ketika impuls-impulsnya berada di bawah dominasi reaksi-buatan. Dia bangkit dari latensi pada masa pubertas. Dia juga berhasil

mengatasi permasalahan-permasalahan kestabilan ketika dewasa.

masa

remaja

dan

akhirnya

mencapai

D. GENITAL SEXUALITY Ketiga tahap perkembangan, oral, anal, dan phallic, sama-sama masuk ke dalam periode pragenital. Periodu eini berlangsung sepanjang lima tahun pertama usia. Karakteristik menonjol dari insting seksual selama periode pragenital ini adalah narcisismenya. Jenis narcissisme ini yang disebut primer tidak boleh dikacaukan dengan apa yang disebut narcisisme sekunder. Narcisisme sekunder mengacu para perasaan pride yang ego alami ketika ia mengidentifikasikan diri dengan ideal-ideal yang dimiliki superego. Narcisisme primer mengacu para perasaan sensual yang muncul dari perangsangan-diri. Narcisisme primer adalah kenikmatan ragawi. Ia dicontohkan dengan menyedot ibujari, membuang atau mendapatkan kembali tahi, dan masturbasi. Insting seksual sepanjang periode pragenital tidak diarahkan kearah reproduksi. Si anak meng-cathex-kan tubuhnya sendiri karena tubuhnya itu merupakan sumber dari rasa nikmat yang tidak sedikit. Dia juga bisa meng-cathex-kan orang tuanya, tapi cathexcathex ini berkembang karena orang tuanya, terutama ibu, membantunya mencapai kenikmatan ragawi. Payudara ibu merupakan sumber utama dari kenikmatan oral, dan belaian, ciuman, dan peninakboboan yang dilakukan oleh kedua orang tua adalah memuaskan secara sensual. Mengikuti interupsi yang terjadi semasa periode latensi, insting seksual mulai berkembang dalam arahan tujuan reproduksi yang bersifat biologis. Remaja mulai tertarik pada lawan jenisnya. Ketertarikan ini pada akhirnya memuncak dalam sexual union. Fase perkembangan final ini disebut tahap genital. Tahap genital dicirikan oleh object-choices daripada oleh narcisisme. Ia merupakan periode sosialisasi, kegiatankegiatan sosial, perkawinan, dan membina rumah tangga, perkembangan minat serius dalam kemajuan keprofesian dan tanggungjawab-tanggungjawab orang dewasa lainnya. Ini merupakan tahap yang paling panjang dimulai sedari usia belasan-akhir until senility sets in, pada waktu mana seseorang cenderung mengalami regresi kembali ke masa pra genital. Namun tidak boleh diasumsikan bahwa tahap genital menggantikan tahap pragenital. Rather, cathex-cathex pragenital menjadi bercampur dengan cathex-cathex genita. Berciuman, membelai, dan bentuk-bentuk bercinta lainnya yang biasa dilakukan sebagai bagian dari pola berkasih-kasihan memuaskan impuls-impuls pragenital. lebih jauh lagi, displacement, sublimasi, dan tranfromasi-transformasi lain dari cathex-cathex pragenital menjadi bagian struktur karakter yang permanen. VI. SUMMARY Perkembangan personalitas berlangsung sebagai akibat dari dua kondisi. (1) maturasi dari pertumbuhan alamiah dan (2) proses pembeljaran untuk mengatasi frustrasi, menjauhkan diri dari rasa sakit, mengatasi konflik, dan mereduksi kecemasan. Proses pembelajaran terdiri dari pembentukan identifikasi, sublimasi, displacement, fusion, kompromi, renunciation, kompensasi dan pertahanan. Semua mekanisme personalitas ini melibatkan dilakukannya substitusi object-cathexes baru untuk objectchoices instingtual. Semua itu juga melibatkan dibentuknya anti-cathexes yang melawan cathex-cathex instingtual. Pembentukan cathex dan anti-cathex oleh ego dan superego, dan interaksi di antara mereka, are responsible for the way in which personality develops.

Referensi
Identifikasi Freud, Sigmund. (1921) Group psychology and the Analysis of the Ego, Bab VII. London: The Hogarth Press, 1948. Freud, Sigmund. (1923). The Ego and the Id, Bab III. London: The Hogarth Press, 1947. Freud, Sigmund (1923). New Introductory Lectures on Psychoanalysis, Bab 3. New York: W.W. Norton & Company, Inc., 1933. Displacement dan Sublimasi Freudm, Sigmund. *1908) “Character and Anal Erotism.” Dalam Collected Papers, Vol. II, hal. 45-50. London: The Hogarth Press, 1933. Freud, Sigmund. (1908) “’Civilized’ Sexual Morality and Modern nervousness.” Dalam Collected Papers, Vol. II, hal. 76-99. London: The Hogarth Press, 1946. Freud, Sigmund. (1908) “The Relation of the Poet to Day-dreaming.” Dalam Collected Papers, Vol. IV, hal. 173-83. London: The Hogarth Press, 1946. Freud, Sigmund. (1910) Leonardo da Vinci: A Study in Psycho-sexuality. New York: Random House, Inc., 1947. Freud, Sigmund. (1923) The Ego and the Id, Bab. IV. London: The Hogarth Press, 1947. Freud, Sigmund (1930) Civilization and Its Discontents, Bab II. London: The Hogarth Press, 1930. Mekanisme pertahanan Freud, Sigmund. (1915) “Repression.” Dalam Collected Papers, Vol. IV, hal. 84-97. London: The Hogarth Press, 1946. Freud, Sigmund. (1921) “Instincts and Their Vicissitudes.” Dalam Collected Papers, Vol. IV, hal. 60-83. London: The Hogarth Press, 1946. Freud, Sigmund (1936) “A Disturbance of Memory on the Acropolis.” Dalam Collected Papers, Vol. V, hal. 302-12. London: The Hogarth Press, 1950. Freud, Sigmund. (1937) “Analysis Terminable and interminable.” Dalam iCollected papers, Vol. V, hal. 316-57. London: The Hogarth Press, 1950. Freud, Sigmund (1939) Moses and Monotheism, Bagian III, Seksi I, Bab 5. New York: Alfred A. Knopf, Inc., 1947. Insting Seksual Freud, Sigmund. (1905) “Three Contributions to the Theory of Sex.” Dalam The Basic Writings of Sigmund Freud, hal. 553-629. New York: Random House, Inc., 1938. Freud, Sigmund. (1923) “The Infantile Genital Organization of the Libido.” Dalam Collected papers, Vol. II, hal. 244-49. London: The Hogarth Press, 1933. Freud, Sigmund. (1925) “The Passing of the Oedipus-Complex.” Dalam Collected Papers, Vol. II, hal. 269-76. London: The Hogarth Press, 1933. Freud, Sigmund. (1925) “Some Psychological Consequences of the Anatomical Distinction Between the Sexes.” Dalam Collected Papers, Vol. V, hal. 252-72. London: The Hogarth Press, 1950. Freud, Sigmund. (1933) New Introductory Lectures on Psychoanalysis, bab 5. New York: W.W. Norton & Company, Inc., 1933.

Personalitas yang Stabil
Perubahan terbesar dalam personalitas berlangsung selama dua dekade pertama dari hidupnya. Ini adalah periode yang didalamnya seseorang mematangkan diri dan belajar

untuk mengatasi atau menyesuaikan diri pada frustrasi-frustrasi internal maupun eksternal dan ketakmampuan-ketakmampuan personal, memperoleh kebiasaankebiasaan dan keahlian dan pengetahuan, untuk menjauhkan dari saya sakit dan meredakan kecemasan, untuk mendapatkan objek-objek yang dijadikan tujuan dan memastikan kepuasan, untuk mengkompensasi kehilangan-kehilangan, privasi dan deprivasi, dan untuk menyelesaikan konflik-konflik. Dengan berakhirnya periode ini, personalitas biasanya mencapai suatu derajat kekonstanan atau equilibrium yang bertahan sampai prose deterioratif masa tua. Organisasi dan dinamika personalitas dikatakan telah menjadi stabil. Ketika kita membicarakan personalitas yang stabil kami tidak hendak menyiratkan bahwa semua orang mengembangkan pola personalitas yang sama. Ekuilibrium mungkin dibangun disekitar suatu mekanisme pertahanan tertentu seperti misalnya represi, proyeksi, atau reaksi-buatan, atau ia bisa dilandaskan pada identifikasi kuat tertentu seperti yang terjadi ketika seseorang membuat model bagi dirinya yang diambil dari figur ayah, atau kerabat yang lebih tua atau pahlawan lainnya. Stabilitas juga lahir dari perkembangan displacemen, sublimasi, dan kompromi-kompromi yang habitual. Jumlah pola, displacemen, dan kompromi yang berbeda pada prakteknya tidak terhingga, seperti terlihat jelas jika kita membayangkan keanekaragaman aktivitas orang dewasai. Terdapat ribuan cara yang mengisi waktu mereka. Tak ada dua orang yang memiliki pola yang setepatnya sama dalam minat, citarasa, dan attachments, akan tetapi masing-masing sampai pada suatu jalan hidup yang memberikannya semacam stabilitas. Juga dengan istilah personalitas yang stabil itu tidak berarti sama dengan apa yang oranglain katakan sebagai personalitas yang dewasa, atau sehat, atau well-adjusted, atau ideal. Semua istialh-istilah ini mungkin menggambarkan tipe personalitas yang stabil tertentu, tapi banyak orang mengembangkan stabilitasnya tanpa pernah menjadi dewasa atau well-adjusted. Stabilitas mereka mungkin didasarkan atas fiksasi-fiksasi dan simptom-simptom neurotik atau atas penarikan diri yang psikotik. Seorang yang alkoholik mungkin amat mapan dan tenang dalam keadaannya, akan tetapi hampir tak dapat bahwa dia well-adjusted. Personalitas yang tergantung secara oral dan retentif secara anal mungkin telah mengembangkan konsistensi yang tinggi, tapi tak satupun dari keduanya dipandang sebagai dewasa. Banyak personalitas-personalitas yang stabil pada kenyataannya are stunted in their growth, misalnya, the perennial adolescent who never grows up. Meskipun istilah personalitas yang stabil mungkin menyiratkan bahwa orang dewasa has setled down to a ruotine, bebal karena terlalu familiar, ini bukanlah implikasi yang hendak kami terakan dalam ingatan pembaca. Stabilisasi tidaklah berlu berarti bahwa takadanya variasi dalam kehidupan sesoerang, meski untuk sebagian orang akanlah sebegitu artinya. Stabilisasi biasanya bararti bahw variasi akan selaras dengan suatu pola yang konsisten dan dapat diramalkan. Seorang dewasa bisa pindah kerja atau ganti istri atau hobi dengan lumayan kerap, tapi kerja atau istri atau hobi baru itu memiliki kemiripan dengan yang lama. variasi-variasi pada tema yang sama (istilah Freud adalah repetition compulsion) rather than a sucession of new themes characterize the behaviour of the typical stabilized adult. Terakhir, personalitas yang stabil bukanlah berarti personalitas yang didalamnya tidak ada satupun frustrasi, kecemasan, atau jenis ketegangan lainnya. Kehidupan tidak pernah bebas dari ketegangan. Lebih tepat, personalitas yang stabil adalah personalitas yang didalamnya aransemen-aransemen yang sedikit banyak permanent dalam menangani meningkatnya ketegangan yang telah timbul. Apakah aransemenaransemen ini merupakan pokok masalah dari bab ini.

Jelaslah cara yang paling efektif dalam menangani atau menghindarkan peningkatan ketegangan adalah dengan memakai proses-pross sekunder dari ego yang, it will be recalled, terdiri dari pemikiran, penalaran dan pemecahan masalah yang realistik. Mendapat pelatihan dan pengalaman yang mencukupi dalam pemecahan masalah yang logis dan rasional sepanjang 20 tahun pertama usianya dan kematangan intelektual yang mencukupi, seorang dewasa harusnya mampu memecahkan sebagian permasalahan yang menghadapinya dalam cara yang realistik dan memuaskan. Agar proses sekunder berjalan dengan efisien perlulah untuk menhadang object-cathexes dari id dan cathexes yang diidealisir dari superego dengan anti-cahtexes. Jika tidak cathex-cathex ini akan cenderung mendistorsikan prinsip realitas dari ego dengan mengotorinya dengan pemikiran moralistik atau yang wishful. Lebih jauh lagi, aliran yang kontinyu dari energi harus selalu available bagi proses-proses psikologis berupa persepsi, memori, penilaian, dan diskriminasi, semenjak proses sekunder begitu sering menggunakan fungsi-fungsi ini. Penyaluran energi ke proses-proses ego berarti bahwa energi bebas dari id diubah menjadi bound energy. Energi dikatakan berada dalam keadaan terikat ketika aliran energi yang bergerak bebas yang menjadi ciri dari excitation instingtif diubah kedalam a relatively quiescent tonic charge. Ini dicapai dengan penyuntikkan energi kedalam fungsi ego yang tak melakukan pelepasan. A person thinks instead of acts. Analogi yang mungkin membantu untuk menjelaskan apa yang terjadi ketika energi menjadi terikat. Sepanjang seseorang tidak memiliki kewajiban-kewajiban atau tanggungjawab finansial dia bisa membelanjakan uangnya dengan bebas dan secara impulsif. Dia bisa memperjudikannya menghabiskannya pada makanan dan minuman atau menghabiskannya pada kenikmatan apapun yang pada saat itu menggodanya. Akan tetapi, ketika dia merasa [assume] punya kewajiban dengan membeli sesuatu dengan kredit, dengan menginvestasikan uangnya, atau dengan membayar pajak, atau ketika dia melaksanakan tanggunjawabnya dengan menyediakan makanan secara reguler, tempat bernaung, dan kebutuhan dasar dan kenyamanan hidup lainnya bagi dirinya dan bagi orang lain, lalu dia mentekadkan diri untuk membelanjakan uangnya untuk tujuantujuan tertentu. he had tied up his money in monthly bills and fixed expenses and tidak lagi menghabisknnya sesuka yang ia mau. Seperti itu pulalah personalitas mengikat energi psikisnya dengan menginvestasikannya dalam proses-proses ego yang stabil dan terorganisir. Stabilitas juga dicapai dengan menginvestasikan energi dalam mekanisme-mekanisme proyeksi, reaksi-buatan, represi, fiksasi, dan regresi. Jika seseorang tidak dapat menangani realitas as it actually is, dia bisa mencoba mengubah realitas itu dan membuatnya satu nada dengan keinginan-keinginan dan ideal-idealnya. Meski strategistrategi di pihak ego ini mendistorsi dan memfalsifikasi realitas, semua itu efektif nevertheless in affording protection from the disabling effects of anxiety and frustration. Stabilitas yang diberikan oleh mekanisme pertahanan mungkin stabilitas yang rapuh jika pertahanan itu lemah, tapi ketika telah selama 20 tahun memperkuat pertahanan tersebut mereka tampaknya tidak akan jatuh remuk dengan begitu saja. Pertahanan tersebut menghabiskan energi yang diperuntukan bagi proses sekunder dan mengambil alih peran yang selama ini dilakukan oleh pemikiran realistik. Pada saat seseorang telah mencapai masa dewasa, displacement dan sublimasi telah menjadi terbentuk kukuh di atas basis yang lumayan permanen, dan transformasi dan fusi insting-insting sebagian besarnya telah selesai. Pengalaman-pengalaman dua puluh tahun pertama mengajarkannya bagaimana melakukan kompromi yang dalam ukuran tertentu memuaskan atau yang, jika tidak memuaskan, sedikitnya membantunya dalam tabah dalam mengalami rasa sakit dan kecemasan. Kompromi-kompromi ini mengungkapkan dirinya sebagai minat, sikap, attachment, dan preferensi. They have a

hand not only in determining the major decision of life—misalnya, memilih profesi dan memilih pasangan hidup—tapi mereka juga terlibat dalam bermacam keputusankeputusan minor yang harus diambil dalam kehidupan sehari-hari. Konsistensi yang dengannya pilihan-pilihan ini dibuat dan apa yang disebut konservatisme atau resistansi to change of the adult disebabkan oleh karakter tak berubah dari cahtex-cathex orang dewasa. Sifat tak gampang menyerah dari cathex-cathex ini bergantung pada dua faktor penting: (1) cathex-cathex itu diberi energi oleh sejumlah sumber-sumber instingtual (instingtual fusion) dan (2) mereka tidak membiarkan pelepasan ketegangan secara tuntas karena mereka dihadang oleh anti-cathexes. One’s work, misalnya, melibatkan sejumlah aktivitas yang berbeda yang memuaskan bermacam excitation instingtual, tapi kepuasan dari semua excitation itu at any one time is highly improbable. Ritual, tradisi, adat, konvensi, keseragaman, tatanan, konservatisme, habit, dan repetisi, semuanya mencirikan personalitas yang stabil, memperlihatkan kompromi diantara daya pendorong (cathex) dengan daya penentang/pembendung (anti-cathex). Ini membawa kita pada peran superego dalam personalitas orang dewasa. Cathexcathex dari ego-ideal merepresentasikan sublimasi atas object-cathexes yang primitif. Karaekter sublimasi tersebut aslibya bergantung pada jenis prilaku yang membuat si anak diberi ganjaran. Apakah sublimasi akan dipertahankan atau tidak bergantung, pada gilirannya pada kepuasan atau pengurangan rasa sakit yang terus ada. Jika, dalam jangka panjang, ia tidak memberikan rasa nikmat, sublimasi itu akan hilang. Selaras dengan itu pula, sepanjang masa-masa pertumbuhan, ideal-ideal yang dipuaskan tersebut menjadi diperkukuh dan ideal yang tak melayani tujuan apapun dipangkas. The finished personality contains the residue of the idealized object-choices yang merupakan kegiatan mereduksi ketegangan. Kepatuhan religius, kerja-kerja sosial, partisipasi kelompok pengejaran-pengejaran prestasi kultural, estetis, dan kesastraan, dan studi alam merupakan representatif dari sublimasi-sublimasi orang dewasa. Dalam cara yang sama, jejaring larangan-larangan (anti-cathexes) adalah nurani menjadi terstabilkan. Larangan-larangan dibikin lemah dan menghilang ketika pengalaman membuktikan bahwa ancaman-ancaman pada mana larangan tersebut didasarkan sudah tidak ada lagi, sementara larangan-larangan yang secara periodis dikerjuat oleh ketakutan akan hukuman menjadi menetap dalam personalitas. Ego dipaksa untuk menyelaraskan diri [to come to terms with] dengan tuntutan-tuntutan anticathexes superego. Ia melakukannya dengan mencari jalan tengah antara cathexcathexnya sendiri atau cathex dari id dengan anticathex milik nurani. Jalan tengah ini bertanggung jawab bagi ciri lain dari personalitas yang stabil, yaitu, its moderation. Ini biasanya jauh kurang spontan dan impulsif dalam perilaku orang dewasa ketika dibandingkan dengan perilaku para remaja. Akan tetapi, jika anti-cathexes superego be very strong relative to the id or ego object-choices, the stabilized persnality will be marked, not by moderation, tapi oleh rigiditas. Orang yang memiliki personalitas semacam itu menjalani hidup yang selalu lindungi dan terkungkung. Stabilitasnya adalah stabilitas dari orang yang mengenakan strait jacket. In the final analysis, personalitas yang stabil adalah personalitas yang telah mencapai, melalui proses pembelajaran dan pendewasaan, balans atau ekuilibrium antara cathexcathex dengan anti-cathex. Sifat balans ini, artinya, apakah ia lebih pada sisi pemenuhan atau lebih pada sisi penentangan atau berada dipertengahan, ditentukan oleh pengaruh-pengaruh yang are brought to bear upon the developing personality. Mayoritas larangan, ancaman, hukuman, kegagalan, deprivation, koersi, frustrasi, ketakadekuatan, dan kekurangan-kekurangan akan cenderung untuk mendirikan dan memberi energi pada daya-daya pembendung dalam personalitas; sementara mayoritas keberhasilan, pemuasan, kemenangan, adekuasi, dan perestasi-prestasi akan cenderung memihak pembentukan cathex-cathex. Secara umum, keberadaan anti-

cathex yang kuat akan meningkatkan level ketegangan yang dimiliki personalitas semenjak anti-cathex menjauhkan energi psikis untuk dilepaskan. Akan tetapi, terlepas dari adanya ketegangan yang considerable personalitas bisa lumayan stabil sepenjang ekuilibrium diantara daya-daya itu tetap terjaga. Some people who appear to be on the verge of flying to pieces momentarily retain their stability because the opposing forces are about evenly balanced. Stabilitas juga dihasilkan oleh resolusi atas konflik-konflik antara daya-daya instingtual yang saling berlawanan atau derivatif-derivatifnya. Resolusi suatu konflik bisa terjadi dalam beberapa cara. Salah satu pihak mungkin memenangkan situasi. Misalnya, cinta mungkin bisa menaklukan atau menetralisir kebencian. Ini tidak berarti bahwa rasa benci hilang; it will continue to exit in a latent or suppressed form. Jika cinta melemah, benci sekali lagi akan mengejawantahkan diri. Suatu konflik mungkin juga diselesaikan dengan mencari cara dalam memuaskan kedua motif yang sedang berkonflik itu. Ini bisa dicapai dengan melakukan transaksi-transaksi yang berbeda dengan jenis-jenis objek yang berbeda. Misalnya, seseorang bisa memperlihatkan sikap bersahabat kepada asosiatenya (mereka yang in-grup) dan sikap permusuhan pada orang asing (mereka yang out-group). Orang akan mengalah pada yang superior dan mengintimidasi mereka yang inferior. Suatu konflik mungkin pula diselesaikan dengan secara bergantian mengekspresikan insting yang satu kemudian insting yang lain pada objek yang sama. Cinta bisa dan seringkali berbelok arah dengan antagonismenya dalam hubungan intim. Bentuk resolusi ini seperti jarum jam yang bergoyang diantara dua kutub. Barangkali cara yang paling prevalen dalam menyelesaikan konflik adalah penyelesaian melalui fusi atau integrasi. Orang yang mendapati cara untuk memuaskan dua daya yang saling berseteru itu dalam satu aktivitas tunggal. Misalnya, orang who holds a responsible position as a salaried employee in a large corporation satisfies both his desire for dependence, by being a salaried member of a secure and more or less paternalistic organization, and his desire for independence, by having duties and responsibilites which require independent judgement and initiative. Demikianlah dia tidak menjadi terlalu cemas dengan keadaannya yang amat tergantung itu ataupun terlalu tak pasti dan rapuh karena sepenuhnya independent. During the exploratory period of the first two decades, seseorang belajar banyak cara dalam mengintegrasikan konflikkonfliknya. Dia belajar bahwa dia bisa mendapatkan kue dan juga memakannya, meski dia barangkali tidak pernah mendapatkan sebanyak yang dia mau. In summary, then, personalitas yang stabil adalah personalitas yang didalamnya energi psikis menemukan cara-cara yang sedikit banyak konstan dalam membelanjakan energi itu dalam melaksanakan kerja-kerja psikologis. The precise nature of this work ditentukan oleh karakteristik dinimis dan struktural dari id, ego, dan superego, oleh interaksi-interaksi diantara mereka, dan oleh sejarah perkembangan id, ego, dan superego itu. Referensi Freud, Sigmund. (1910) Leonardo da Vinci: A Study in Psycho-sexuality. New York: Random House, Inc., 1947. Freud, Sigmund. (1920) Beyond the Pleasure Principle. London: The Hogarth Press, 1948. Freud, Sigmund. (1930) Civilization and its Discontents. London: The Hogarth Press, 1930. Bacaan yang direkomendasikan Disamping tulisan-tulisan Sigmund Freud yang disebutkan diakhir tiap-tiap bab, daftar buku berikut ini dianjurkan pula bagi pembaca. Semua buku ini ditulis dengan bahasa yang jernih, dalam gaya yang menarik, dan, yang utama, tidak teknis.

Baruch, Dorothy, One Little Boy. New York: Julian Press, Inc., 1952. Jika orang ragu akan pengaruh krusial dari perasaan agresif dan seksual dalam kehidupan seorang anak kecil, keraguannya itu akanlah hilang dengan membaca buku ini. Ditulis oleh seorang psikolog dan terapis anak terkemuka. Anda akan merasa seperti membaca novel. Berg, Charles. Deep Analysis. New York: W.W. Norton & Company, Inc., 1947. Buku ini merupakan sekuel menarik untuk One Little Boy. Dr. Berg memerikan, dengan lumayan mendetail, psikoanalisis dari seorang pria dalam usianya yang ketiga puluh. Jika orang ingin tahu apa yang terjadi sepanjang psikoanalisis sebagai sebuah metode perawatan dia akan mendapatinya dalam buku ini. Blum, Gerald S. Psychoanalytic Theories of Personality. New York: McGraw-Hill Book Company, Inc., 1958. Buku yang berguna dan tersusun rapi ini menghadirkan bermacam sudut pandang, Freudian, neo-Freudian, dan non-Freudian. Utamanya ia berkenaan dengan perkembangan personalitas. Meski ditulis sebagai sebuah buku teks, ia tidaklah terlalu teknis bagi pembaca umum. Deutsch, Helene. Psychology of Women. 2 volume. New York: Grune and Stratton, Inc., 1944. Sedikit diketahui bahwa psikoanalis perempuan terkenal ini menulis tentang seksnya. Buku ini merupakan studi atas psikologi feminin yang mengagumkan. Erikson, E.H. Childhood and Society. New York: W.W. Norton & Company, Inc., 1950. Seorang psikoanalis anak terkemuka memperlihatkan bagaimana ego seorang anak berkembang dalam hubungannya dengan masyarakat. Dia mengilustrasikan poin-poin utamanya dengan menggunakan bahan-bahan kasus yang excellen yang diambil dari pengalamannya sendiri. Fenichel, Otto. The Psychoanalytic Theory of Neurosis. New York: W.W. Norton & Company, Inc., 1945. Penjelasan komprehensif tentang psikologi abnormal Freud ini dipandang sebagai tulisan yang otoritatif dan definitif. Isi yang merangsang pemikiran dari buku ini membuatnya agak sulit di baca, tapi layak untuk didalami. Hendrick, Ives. Facts and Theories of Psychoanalysis. New York: Alfred A. Knopf, Inc., 1947. Dr. Hendrick, seorang psikoanalis Amerika terkenal, menulis dengan otoritas dan kejernihan tentang segenap aspek dari psikoanalisis. Horney, Karen. New Ways in Psychoanalysis. New York: W.W. Norton & Company, Inc., 1939. Dr. Horney dikenal sebagai neo-Freudian (orang yang menerima beberapa konsep Freud sementara membuang atau merevisi konsep lainnya). Dikatakan tentang Horney bahwa wanita ini mengadopsi titik pandang yang lebih ke sosiologis daripada yang dilakukan Freud. Sebagian pembaca akan mendapati pandangan-pandangannya lebih mudah diterima daripada milik Freud.

Jones, ernest. The Life and Work of Sigmund Freud, Vol. I New York: Basic Books, Inc., 1953 Volume pertama dari karya yang diproyeksikan tiga volume meliputi tahun-tahun penggodokan dan penemuan-penemuan dasar-dasar psikologi dari Sigmund Freud. Biografi ini telah dikarakterisasi sebagai salah satu biografi terpenting dari jaman modern. Pembaca yang tertarik dengan hidup dan kerja Freud bisa mulai bacaannya dengan membuka buku ini. Menninger, Karl. Man Against Himself. New York: Harcourt, Brace and Company, 1938. Dr. Menninger, psikoanalis Topeka, telah menulis penjelasan yang mendetail dan terdokumentasikan tentang insting kematian. Mullahy, Patrick. Oedipus Myth and Complex, New York: Hermitage House, 1949. Buku ini meliputi segala hal yang orang ingin ketahui tentang kompleks Oedipus, yang Freud anggap sebagai salah satu penemuannya yang terpenting. Sterba, Richard. Introduction to the Psychoanalytic Theory of the Libido. New York: Nervous and Mental Disease Monographs, 1942. Penjelasan yang singkat namun jernih tentang teori perkembangan dan keberagaman insting seksual Freud.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful