TINJAUAN PUSTAKA

Pakan Ayam Broiler Ayam broiler merupakan salah satu jenis ternak sumber pangan bagi manusia yang banyak mengandung gizi. Budidaya ayam broiler agar dapat berlangsung cepat dan aman untuk konsumsi manusia, maka diperlukan pakan yang bermutu dengan formulasi pakan pada komposisi zat makanan yang seimbang sesuai kebutuhan gizi ternak. Pakan adalah campuran dari beberapa bahan baku pakan, baik yang sudah lengkap maupun yang masih akan dilengkapi, yang disusun secara khusus untuk dapat dipergunakan sebagai pakan sesuai dengan jenis ternaknya (Deptan 2007; Mulyantini 2010). Mutu pakan yang baik harus ada keseimbangan antara protein, energi, vitamin, mineral dan air. Kebutuhan pakan untuk ayam bergantung pada strain, umur, besar ayam, aktivitas, suhu lingkungan, kecepatan tumbuh, kesehatan dan imbangan zat pakan. Zat makanan untuk ternak umumnya terdiri dari 6 jenis, yaitu air, karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Untuk mengetahui berapa jumlah zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh ternak serta bagaimana menyusun pakan, diperlukan pengetahuan mengenai mutu dan kuantitas zat-zat gizi. Untuk itu diperlukan pengujian terhadap kandungan air, mineral, protein kasar, lemak kasar, serat kasar, asam amino, vitamin dan energi termetabolis (Amrullah 2004; Wahju 1997; Mulyantini 2010). Menurut Wahju (1997), faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan zatzat makanan dan yang sangat penting harus diperhatikan adalah hubungan-

hubungan antara : (1) makanan dan genetik; (2) makanan dan penyakit, cekamancekaman lainnya; dan (3) hubungan-hubungan yang menyangkut fungsi-fungsi khusus seperti mempertahankan mutu daging. Beberapa perusahaan menggolongkan pakan ayam broiler dalam 3 fase yaitu pakan fase starter untuk ayam dari umur 1-18 hari, pakan grower 19-30 hari dan pakan finisher 31-42 hari (Mulyantini 2010). Menurut BSN (2006), jenis pakan ayam broiler dibedakan menjadi dua jenis yaitu : 1. Pakan ayam broiler starter, biasa disebut BR1 merupakan pakan berbentuk tepung, pelet atau crumble yang diberikan kepada ayam broiler (ayam pedaging) mulai umur satu hari (DOC) sampai umur 21 hari.

4. 1. Bila suatu pakan tidak memenuhi persyaratan mutu yang telah ditetapkan. biasa disebut BR2 merupakan pakan berbentuk tepung.1.1.60 . Disamping itu masih terdapat lagi 13-15 vitamin dan bermacam-macam zat makanan yang berupa karbohidrat dan bahanbahan aktif yang belum banyak digali kegunaannya.20 0.5% (Amrullah 2004).60 .6 2. Fosfor Total 0. pelet atau crumble yang diberikan kepada ayam broiler (ayam pedaging) mulai umur 22 hari sampai panen. bungkil kedelai 25-30%. Persyaratan mutu pakan ayam broiler starter dan finisher No. Komposisi Nutrien Pakan Mutu pakan ayam broiler merupakan faktor yang sangat penting diperhatikan di dalam industri pakan ternak. Kecuali air. yang hanya satu macam. mineral (limestone/dicalsiumphosphat)+vitamin 1-1.90 . bungkil kelapa 10%. 3.1.00 Sumber : Badan Standardisasi Nasional (BSN) Tahun 2006 Perbedaan ayam broiler starter dengan finisher terdapat pada kandungan nutrisinya (Tabel 1). Analisa pakan tersebut sangat .1. minyak kelapa 3 %. Pakan ayam broiler finisher. maka pertumbuhan atau produksi ternak akan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Jenis pengujian Air Abu Protein Kasar Lemak kasar Serat Kasar Kalsium Kandungan nutrisi pakan (%) Ayam broiler Starter Max 14 Max 8 Min 19 Max 7.90 . Hal ini mengacu kepada tingkat imbangan energi metabolis dan protein yang berbeda untuk kedua masa atau umur ayam broiler.40 Max 6 0. Formula pakan ayam broiler umumnya terdiri dari bahan pakan : jagung 40-50%. dedak/pollar 3%. kini tidak kurang 15-21 macam mineral. 2 asam lemak. 8-11 asam amino dianggap esensial bagi hidup ternak. 5.20 Ayam broiler Finisher Max 14 Max 8 Min 18 Max 8 Max 6 0. 6. 2. Tabel 1.00 7. tepung ikan/tepung daging dan tulang 5 %.

kandungan air pakan ayam broiler baik starter maupun finisher adalah maksimal 14 %. 1998). Kadar Abu Kadar abu pada analisis proksimat tidak memberikan nilai nutrisi yang penting. begitu sebaliknya. 1998). Menurut BSN (2006) kandungan abu pakan ayam broiler baik starter maupun finisher adalah maksimal 8 %. Menurut BSN (2006). Tillman dkk.7 kompleks dan disederhanakan dengan mengelompokkan zat-zat makanan berdasarkan sifat fisik dan kimianya. lemak kasar. Oleh karena itu. Hal tersebut berakibat menurunkan reputasi pabrik pakan ternak yang memproduksinya. kadar air dalam pakan perlu dikontrol (Bates 1993. Pengujian kimia yang umum dilakukan pada pakan ayam broiler adalah air. Kandungan air yang tinggi dapat menyebabkan tumbuhnya bakteri dan jamur yang dapat menurunkan mutu pakan dan membahayakan ternak yang mengkonsumsinya. Metode ini dikenal dengan Analisis Proksimat. . yaitu metode terdekat dalam menggambarkan komposisi zat makanan suatu bahan makanan (Amrullah 2004. Komponen unsur-unsur mineral dalam bahan makanan yang berasal dari tanaman sangat bervariasi sehingga nilai abu tidak dapat dipakai sebagai indeks untuk menentukan jumlah unsur mineral tertentu atau kombinasi unsur-unsur yang penting. 1998. Apabila kadar abu pakan ayam broiler tinggi. Amrullah 2004). maka pabrik pakan akan mengalami kerugian akibat penyusutan. kadar abu berguna sebagai indeks untuk menaksir kadar kalsium dan fosfor. Pengujian kimia masih menjadi metode uji yang akurat untuk memberikan hasil uji suatu produk. serat kasar. protein kasar. Jumlah abu dalam makanan hanya penting untuk menentukan perhitungan BETN. Kadar Air Kadar air dalam pakan berhubungan erat dengan stabilitas pada saat penyimpanan. Pada bahan makanan yang berasal dari hewan. Jika pakan ayam broiler yang diproduksi pabrik pakan mengandung air yang tinggi. abu. maka nilai mineral terutama kalsium juga tinggi. namun agar lebih pasti dilakukan pengujian terhadap mineral (Tillman dkk. kalsium dan fosfor. Tillman dkk.

hormone. Keberadaan lemak juga dapat menyebabkan pakan menjadi cepat tengik. sebagian lagi merupakan unsur sulfur dan sedikit mengandung fosfat dan besi (Perlak I. kandungan protein kasar pakan ayam broiler baik starter maupun finisher adalah berturut-turut minimal 19 % dan 18 %. Protein-protein tersebut dibentuk oleh berbagai kombinasi asam amino yang terdiri dari 25 atau lebih asam amino yang berikatan dengan ikatan peptida. mencegah pemisahan bahan baku pakan. Protein mengandung karbon sebanyak 50–55 %. mengangkut zat nutrisi non lemak tertentu. E. menaikkan penyerapan vitamin A dan karoten. produksi ternak dan perbaikan jaringan yang rusak (Wahju 1998). dan K dan membantu penyerapan mineral-mineral tertentu.L.8 Kadar Protein Kasar Protein merupakan nutrisi utama yang mengandung nitrogen dan merupakan unsur utama dari jaringan dan organ tubuh hewan dan juga senyawa nitrogen lainnya seperti asam nukleat. enzim. mempertinggi palatabilitas. Ikatan-ikatan peptida ini dengan berbagai jumlah asam amino menghasilkan formasi protein seperti pada Gambar 1 (Perry et al. vitamin dan lain-lain. juga mengandung nitrogen rata-rata 16 %. D. seperti vitamin A. Protein dibutuhkan sebagai sumber energi utama karena protein ini terus menerus diperlukan dalam makanan untuk pertumbuhan. 1998). COOH R C H NH O C NH2 H R Gambar 1. . seperti kalsium. hidrogen 5-7 % dan oksigen 20-25 %. Tillman dkk. 19998). 2003. untuk itu perlu ditambahkan antioksidan ke dalam pakan ayam broiler (Tillman dkk. Menurut BSN (2006). 2009). Struktur umum protein Kadar Lemak Kasar Lemak dalam pakan ayam broiler digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi pakan.

di.4 % dan 8 %. dan polisakaride terutama pati dan kesemuanya mudah larut dalam larutan asam dan basa mempunyai daya cerna yang tinggi. 1998. (Tillman dkk. yaitu 7 macam mineral makro dan 9 macam mineral mikro. Amrullah 2004). selulosa dan lignin. Kadar Serat Kasar Karbohidrat bermacam-macam jenisnya dan berbeda-beda pula manfaatnya bagi tubuh. Pakan yang mengandung serat yang tinggi akan menurunkan mutu nutrisi dan palatabilitas ternak. pertumbuhan dan produksi. karena ayam tidak mempunyai enzim selulose. sebaliknya BETN yang berisi zat-zat mono. sehingga potensi terjadinya pengikatan oksigen menjadi besar. Karbohidrat menjadi dua komponen yaitu serat kasar yang sukar dicerna dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) yang bersifat mudah dicerna. kandungan serat kasar pakan ayam broiler baik starter maupun finisher adalah maksimal 6 %. 2003). tetapi peranannya mencakup seluruh fungsi pengelolaan. Ayam dapat menggunakan hemiselulosa sebagai sumber energi tapi dalam keadaan terbatas. Hal ini disebabkan oleh rasio antara hidrogen dan oksigen pada lemak sangat besar. Menurut BSN (2006). Kalsium dan Fosfor Mineral dibutuhkan dalam jumlah kecil. tri.9 Faktor kritis yang perlu diperhatikan mengenai lemak yang terkandung di dalam pakan adalah potensi terjadinya oksidasi selama penyimpanan. Menurut BSN (2006). Serat kasar adalah karbohidrat yang tidak larut setelah dimasak oleh asam dan basa. Pakan yang lebih tinggi kandungan serat kasarnya lebih amba dan umumnya lebih rendah nilai energinya. Terdapat 16 mineral esensial yang dibagi menjadi dua golongan. Umumnya mineral yang digunakan dalam pakan . Pengikatan oksigen di titik dimana adanya ikatan rangkap pada asam lemak tidak jenuh menyebabkan terbentuknya aldehid dan keton. Aldehid dan keton ini menyebabkan bau tengik pada pakan (Perry et al. Pembagian ini didasarkan kepada konsentrasi yang terdapat dalam tubuh ternak. Serat kasar diduga kaya akan lignin dan selulosa sehingga sulit dicerna oleh monogastrik. Serat kasar terdiri dari hemiselulosa. kandungan lemak kasar pakan ayam broiler baik starter maupun finisher adalah berturut-turut minimal 7.

Osborne et al. Total energi radiasi pada sampel sama dengan jumlah energi yang diabsorbsi. Imbangan optimum Ca dan P tersedia dalam pakan unggas berkisar 1:1 sampai 2:1. 1998. Vitamin D dapat membantu penyerapan kalsium. Kekurangan Ca dan P akan mengalami gangguan pada tulang dan paruh. Untuk itu perlu dilakukan suatu pengkajian agar metode NIR ini valid dan dapat digunakan dalam pengawasan mutu pakan di daerah. kandungan kalsium dan fosfor total pakan ayam broiler baik starter maupun finisher adalah berturut-turut 0. apabila telah dilakukan validasi metode yaitu membandingkannya dengan metode kimia. Oleh karena itu imbangan kedua mineral tersebut sangat penting.6-1 %. diteruskan atau dipantulkan. Amrullah 2004). ia akan diabsorpsi. Menurut Mulyantini (2010). Kalsium dan P merupakan mineral esensial yang saling berhubungan dalam proses biologis unggas. . lemahnya urat daging dan pertumbuhan terhambat (Tillman dkk.10 ayam broiler adalah kalsium dan fosfor total. Prinsip kerja NIR adalah bila suatu radiasi berinteraksi dengan sampel. lunaknya tulang. Mineral ini berfungsi membantu pembentukan dan pemeliharaan struktur kerangka tubuh. kebutuhan mineral. transpor energi. dipertimbangkan perannya dalam pakan. Level P dapat berpengaruh terhadap penyerapan Ca. pembekuan darah. diteruskan dan dipantulkan.9-1. enzim pendagradasi kompleks mioinositol. Dengan demikian bila energi yang dipantulkan dapat diukur dan energi yang diteruskan diatur supaya mempunyai nilai nol maka energi yang diabsorbsi dapat dihitung (Williams & Norris 1990. sistem-sistem enzim. Kelebihan kalsium akan mengganggu penggunaan magnesium.2 % dan 0. 1993). Menurut BSN (2006). khususnya Ca dan P sangat mungkin akan banyak direvisi apabila fitase. yang akan menyebabkan defisiensi fosfor. kontraksi otot dan saraf serta keseimbangan asam basa. Near Infrared (NIR) untuk Analisa Pakan Ternak Metode NIR dapat diterapkan dalam pengujian. mangan dan seng serta menyebabkan terbentuknya Ca3(PO4)2 tak larut. Hukum konservasi energi memungkinkan kejadian tersebut dapat diperhitungkan.

statistik dan ilmu komputer. Fontaine et al. Model matematika dibangun atas dasar hubungan antara komposisi kimia dengan absorbansi radiasi sinar near infrared pada panjang gelombang antara 4000 – 10. kemudian disinari menggunakan near infrared. Pada spektrum tersebut kita mengukur terutama vibrasi hidrogen pada ikatan kimia dimana hidrogen terikat dengan atom lain seperti nitrogen. Prediksi dengan metode ini hanya membutuhkan beberapa gram sampel dalam bentuk tepung dengan ketebalan sampel pada cawan petri minimal 1 mm sampai dengan 7 mm. Keuntungan penggunaan near infrared adalah cepat. 2001.000 cm-1 . kemudian digunakan untuk memprediksi komposisi kandungan pakan. Osborne et al. Data reflektan dari penyinaran tersebut dikonversi menjadi nilai absorbsi. oleh sebab itu analisis near infrared cenderung menggunakan reflektan daripada transmitan. murah. Analisis near infrared mengukur absorbs radiasi oleh komponen-komponen didalam sampel misalnya. tanpa menggunakan bahan kimia (Leeson & Summers 1997. Cahaya yang dipantulkan oleh sampel digunakan secara tidak langsung untuk mengukur jumlah energi yang diabsorbsi oleh sampel. persiapan sampel sederhana. Wrigley 1999).11 Suatu molekul mempunyai energi dalam berbagai bentuk misalnya energi vibrasi yang disebabkan perubahan periodik pada atomnya dari posisi kesetimbangannya. Kalibrasi hubungan antara data absorbsi near infrared dengan masing-masing kandungan gizi pakan adalah sangat penting. Proses kalibrasi membutuhkan sampel yang banyak dan algoritma yang sesuai. ikatan peptida pada panjang . Di samping itu molekul juga mempunyai energi rotasi berdasarkan atas perputaran terhadap pusat gravitasinya. Basis near infrared spectroscopy adalah chemometric yang mengaplikasikan matematika ke analisis kimia. Teknik ini merupakan integrasi spectroscopy. tetapi bila proses kalibrasi telah selesai maka proses analisis untuk setiap sampel membutuhkan waktu beberapa menit saja sekitar 10 menit (Williams & Norris 1990. Farrel 1999. Pada umumnya pakan ternak tidak tembus cahaya. 1993). Besarnya perbedaan energi vibrasi dan rotasi pada molekul yang diradiasi akan mempengaruhi absorbsi near infrared (Adrizal 2007) Data absorbsi near infrared sangat potensial digunakan untuk analisis mutu pakan ternak. 2001. oksigen dan karbon.

sedangkan PLS fokus pada kovarians diantara respon dan . namun bersifat mengganggu. Komponen lain juga mengabsorbsi energi. Untuk mengurangi efek tersebut dilakukan perlakuan matematik dan regresi linear atau prosedur statistik lainnya pada data tersebut (Williams & Norris 1990. PCA terfokus pada keragaman di dalam prediktor. Tiap-tiap komponen utama merupakan kombinasi linier dari semua variabel.12 gelombang tertentu. Komponen utama bertujuan untuk menjelaskan sebanyak mungkin keragaman data dengan kombinasi linier yang ditemukan yang saling bebas satu sama lain dan didalam arah keragaman paling besar. tetapi biasanya hanya memilih sedikit komponen utama pertama untuk analisis regresi. Menurut Harjono (2008). Terdapat komponen utama yang jumlahnya sama dengan jumlah variabel yang ada. dimana tujuannya adalah untuk memprediksi konsentrasi konstituen berdasarkan pada spektrumnya untuk mendapatkan persamaan regresi dari semua dimensi secara sederhana.000 cm-1. MLR adalah metode penetapan kuantitatif yang klasik. Osborne et al. Metode ini adalah kalibrasi multivariat. dan Partial Least Squares Regression (PLS). 1993). Komponen utama pertama menjelaskan variasi terbesar dari data diikuti dengan komponen utama kedua dan seterusnya. kita akan mempertimbangkan disini sebagai alat statistik melalui penggunaan komponen-komponen yang diturunkan adalam sebuah model regresi untuk memprediksi variabel respon yang tidak teramati menggunakan komponen utama. Menurut Buchi (2006). Principal components analysis (PCA) secara umum dikenal sebagai teknik interprestasi multivariat. sejenis dengan PCA. untuk mencari faktor-faktor yang paling relevan dalam memprediksi dan menginterprestasi data. Partial least squares (PLS) adalah sebuah metode reduksi dimensi data. dimana “the loading” dipilih untuk menjelaskan secara maksimal keragaman di dalam variabel. Principal Component Regression (PCR). Akan tetapi. dimana sudah banyak yang tidak menggunakan lagi. Panjang gelombang yang digunakan adalah 4000 – 10. Regresi PLS meningkatkan kemampuannya model dari PCA dengan menggunakan variabel respon secara aktif dalam dekomposisi bilinier prediktor. metode kalibrasi yang banyak digunakan adalah Multiple Linear Regression (MLR).

dimana tujuannya adalah untuk memprediksi konsentrasi konstituen berdasarkan pada spektrumnya. dan Mardia. Salah satu aplikasi PCR yang cukup penting adalah kalibrasi multivariat. sehingga terdiri dari ratusan komponen yang harus dianalisis. . dan Gnanadesikan (1977). Cooley dan Lohnes (1971). Spektrum secara khas terdiri dari nilai-nilai yang menjangkau panjang gelombang dengan kisaran yang luas. Dengan jalan menyeimbangkan informasi antara prediktor dan respon. b. Kent. PCA yang dilanjutkan dengan pemodelan regresi dan PLS-R dapat diterapkan untuk kalibrasi yang melibatkan dimensi prediktor relatif besar dengan respon yang relatif sedikit. PCA telah mulai dilakukan oleh Pearson (1901) dan kemudian dikembangkan oleh Hotelling (1933). Morrison (1976). Keuntungan utama dari kalibrasi PCR adalah sebagai berikut: a. Aplikasi dari PCA didiskusikan oleh Rao (1964). sedangkan faktor konsentrasi umumnya terbatas. Komponen tambahan yang tidak diketahui atau komponen background dapat secara otomatis dimodelkan sebagai komponen utama jika konsentrasi dari komponen tersebut bervariasi terhadap sampel kalibrasi yang berbeda. kita akan selalu memperoleh solusi yang terbaik dalam hal matrik yang mendekati tunggal. dan Bibby (1979). PLS mereduksi dampak dari banyaknya prediktor yang tidak relevan dengan keragaman data. atau dimana antar prediktor berkorelasi tinggi (multikolinieritas). dimana jumlah variabel bebas (prediktor) p adalah sangat banyak. Jadi. PCR secara khas digunakan untuk model-model regresi linier. Principal Component Regression (PCR) merupakan teknik analisis multivariat yang dilakukan dengan terlebih dahulu mereduksi komponen dengan teknik Principal omponent Analysis (PCA) dilanjutkan dengan teknik analisis regresi antara komponen utama yang baru terhadap respon. Dekomposisi dari matrik absorbansi menjadi matrik ortogonal yang lebih kecil memungkinkan terjadinya pengurangan permasalahan dimensional dalam kasus sistem yang dikondisikan buruk. Perlakuan statistik yang menakjubkan dengan PCA ditemukan oleh Kshirsagar (1972). Estimasi kesalahan prediktor ditingkatkan dengan cara validasi silang.13 prediktor-prediktor. jika terdapat spektrum dengan korelasi yang tinggi.

tepung ikan. PLS juga telah digunakan oleh Davies dalam kalibrasi multivariat pada angka oktan menggunakan 226 panjang gelombang NIR. kacang polong. sebagai contoh penggunaan jumlah pengukuran reflektan yang banyak untuk mengestimasi konsentrasi suatu larutan. Sebaliknya. dan akibat fokus prediksi.034 % . sehingga dengan algoritma ini dapat diperoleh model kalibrasi yang sempurna. tepung daging dan tepung produk samping pemotongan ayam (poultry meal). . Keunggulan utama dari metode PLS-R didasarkan pada proses dekomposisi matrik konsentrasi C dan matrik absorbansi A yang saling berhubungan. sedangkan SECV berkisar 0. PLS dapat menangani multikolinieritas.92 – 0. jumlah prediktor yang banyak. SEC berkisar 0.14 Partial Least-squared regression (PLS-R) pertama kali dikembangkan oleh Herman Wold.026 % . Kalibrasi dilakukan dengan Modified Partial Least Squares Regression (MPLS). bukan penjelasan.89 – 0.545 % untuk koefisien korelasi. Namun demikian.96.1. PLS-R pertama kali dipopulerkan oleh ahli kimia dan telah digunakan untuk mengatasi permasalahan kalibrasi dengan dimensi yang besar. tepung biji bunga matahari. Hasil terbaik dari kalibrasi dan validasi untuk tepung ikan menunjukkan koefisien korelasi (r) berkisar antara 0. rapeseed meal.989 %. skor diperoleh dengan mengekstraksi informasi yang ada didalam variabel x dengan menerapkan analisis komponen utama (PCA) tanpa menggunakan informasi apapun mengenai variabel y. yang tertarik pada aplikasi untuk ilmu sosial khususnya bidang ekonomi. (2001). telah menggunakan NIR untuk memprediksi kandungan asam amino esensial beberapa bahan pakan yaitu kedelai.1. PLS-R adalah sama dengan PCR yang bertujuan untuk mengestimasi koefisien regresi dalam model regresi linier dimana terdapat jumlah variabel x dengan multikolinieritas yang tinggi. Hasil validasi menunjukkan koefisien determinasi (R2) sebesar 0. skor dalam PLS-R dihitung dengan memaksimalkan kriteria kovarian antara variabel x dan y sehingga dalam teknik ini respon telah dilibatkan dalam analisis sejak awal. Dalam tahap pertama PCR.93. tidak adanya pemahaman yang baik mengenai hubungan respon terhadap prediktor tidak menjadi suatu masalah. Fontaine et al.

Hasil yang diperoleh adalah akurasi yang masih rendah dimana rasio SD/SEP berkisar antara 1. . Prediksi komposisi nutrien pakan kelinci telah dilakukan oleh Xiccato et al.15 Valdes dan Leesons (1992).61 sampai 3. (1999) dengan mendapatkan nilai SEC dan SEP protein sebesar 0. Cozzolino dan Moron (2004).77 %. telah menggunakan NIR dengan metode MPLS untuk memprediksi kandungan trace mineral dari bahan pakan leguminosa di Uruguay. telah menggunakan NIR dengan metode MPLS untuk memprediksi kandungan energi metabolis pada pakan unggas dan menunjukkan nilai SEP yaitu 58 kkal/kg pakan dari rata-rata 2996 kkal/kg dan standar deviasi (SD) sebesar 211 kkal/kg.75 % dan 0.70.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful