Protokol Kyoto adalah sebuah amandemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), sebuah

persetujuaninternasional mengenai pemanasan global. Negara-negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi/pengeluarankarbon dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya, atau bekerja sama dalam perdagangan emisi jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas-gas tersebut, yang telah dikaitkan dengan pemanasan global. Jika sukses diberlakukan, Protokol Kyoto diprediksi akan mengurangi rata-rata cuaca global antara 0,02 °C dan 0,28 °C pada tahun 2050. (sumber: Nature, Oktober 2003) Nama resmi persetujuan ini adalah Kyoto Protocol to the United Nations Framework Convention on Climate Change (Protokol Kyoto mengenai Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim). [1] Ia dinegosiasikan di Kyoto pada Desember 1997, dibuka untuk penanda tanganan pada 16 Maret 1998 dan ditutup pada 15 Maret 1999. Persetujuan ini mulai berlaku pada 16 Februari 2005 setelah ratifikasi resmi yang dilakukan Rusia pada 18 November 2004.
Daftar isi
[sembunyikan]

    

1 Detil Protokol 2 Status persetujuan 3 Status terkini para pemerintah 4 Lihat pula 5 Pranala luar

[sunting]Detil

Protokol

Menurut rilis pers dari Program Lingkungan PBB: "Protokol Kyoto adalah sebuah persetujuan sah di mana negara-negara perindustrian akan mengurangi emisi gas rumah kaca mereka secara kolektif sebesar 5,2%

dibandingkan dengan tahun 1990 (namun yang perlu diperhatikan adalah, jika dibandingkan dengan perkiraan jumlah emisi pada tahun 2010 tanpa Protokol, target ini berarti pengurangan sebesar 29%). Tujuannya adalah untuk mengurangi rata-rata emisi dari enam gas rumah kaca karbon dioksida, metan, nitrous oxide, sulfur heksafluorida, HFC, dan PFC - yang dihitung sebagai ratarata selama masa lima tahun antara 2008-12. Target nasional berkisar dari pengurangan 8% untuk Uni Eropa, 7% untuk AS, 6% untuk Jepang, 0% untuk Rusia, dan penambahan yang diizinkan sebesar 8% untuk Australia dan 10% untuk Islandia." [2] Protokol Kyoto adalah protokol kepada Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC, yang diadopsi pada Pertemuan Bumi di Rio de Janeiro pada 1992). Semua pihak dalam UNFCCC dapat menanda tangani atau meratifikasi Protokol Kyoto, sementara pihak luar tidak diperbolehkan. Protokol Kyoto diadopsi pada sesi ketiga Konferensi Pihak Konvensi UNFCCC pada 1997 di Kyoto, Jepang. Sebagian besar ketetapan Protokol Kyoto berlaku terhadap negara-negara maju yang disenaraikan dalam Annex I dalam UNFCCC.
[sunting]Status

persetujuan

Pada saat pemberlakuan persetujuan pada Februari 2005, ia telah diratifikasi oleh 141 negara, yang mewakili 61% dari seluruh emisi [3]. Negara-negara tidak perlu menanda tangani persetujuan tersebut agar dapat meratifikasinya: penanda tanganan hanyalah aksi simbolis saja. Daftar terbaru para pihak yang telah meratifikasinya ada di sini [4]. Menurut syarat-syarat persetujuan protokol, ia mulai berlaku "pada hari ke-90 setelah tanggal saat di mana tidak kurang dari 55 Pihak Konvensi, termasuk Pihak-pihak dalam Annex I

yang bertanggung jawab kepada setidaknya 55 persen dari seluruh emisi karbon dioksida pada 1990 dari Pihak-pihak dalam Annex I, telah memberikan alat ratifikasi mereka, penerimaan, persetujuan atau pemasukan." Dari kedua syarat tersebut, bagian "55 pihak" dicapai pada 23 Mei 2002 ketika Islandia meratifikasi. Ratifikasi oleh Rusia pada 18 November2004 memenuhi syarat "55 persen" dan menyebabkan pesetujuan itu mulai berlaku pada 16 Februari 2005.
[sunting]Status

terkini para pemerintah

Lihat pula: Daftar penanda tangan Protokol Kyoto Hingga 3 Desember 2007, 174 negara telah meratifikasi protokol tersebut, termasuk Kanada, Tiongkok, India, Jepang, Selandia Baru, Rusia dan 25 negara anggota Uni Eropa, sertaRumania dan Bulgaria. Ada dua negara yang telah menanda tangani namun belum meratifikasi protokol tersebut: Amerika Serikat (tidak berminat untuk meratifikasi)  Kazakstan Pada awalnya AS, Australia, Italia, Tiongkok, India dan negara-negara berkembang telah bersatu untuk melawan strategi terhadap adanya kemungkinan Protokol Kyoto II atau persetujuan lainnya yang bersifat mengekang. [5] Namun pada awal Desember 2007 Australia akhirnya ikut seta meratifikasi protokol tersebut setelah terjadi pergantian pimpinan di negera tersebut.

[sunting]

negara industri maju untuk mengurangi emisi 6 jenis gas rumah kaca . Padahal Australia yang ketika masa kepemimpinan Perdana Menteri John Howard bersepakat dengan presiden AS George W Bush untuk tidak meratifikasi protokol Kyoto . menurut data yang dibuat oleh World Resources Institute. salah satunya Co2 . 1999.3 %. Sebuah hal yang sangat disayangkan. protocol mengamanatkan adanya pengurangan emisi yang harus dilaksanakan per Februari 2005 Washington sepertinya mengingkari kenyataan bahwa negaranya yang hanya berpenduduk 5 % dari total populasi dunia itu ternyata tercatat sebagai penyumbang terbesar emisi global dengan 30. negara itu menghasilkan hampir lima milyar ton gas karbon. Itu berarti hanya tinggal Amerika Serikat-lah satu-satunya negara industri maju yang belum meratifikasi Protocol Kyoto .negara tersebut kemudian dikelompokkan sebagai Negara ANNEX – 1 . Amerika Serikat dengan sikapnya yang angkuh berani mengabaikan peringatan para ilmuwan yang memperingatkan bahwa bumi sedang terancam oleh bayangan perubahan iklim yang disebabkan pemanasan global tersebut. . Protocol Kyoto itu pada dasarnya hanya ingin mengatakan bahwa pemanasan global. gas. telah “ menyerah “ dan meratifikasinya segera setelah perdana menteri yang baru Kevin rudd di lantik . yang diiringi dengan perubahan iklim . dan batu bara ) di hampir seluruh negara industri maju. Itu berarti.2 % sampai tahun 2012 . Sebenarnya. menurut data dari secretariat Unites nations framework Convention On climate Change ( konfensi kerangka kerja PBB tentang perubahan iklim / UNFCCC ) . Keprihatinan dunia pada sikap Amerika Serikat ini kembali menjadi sorotan bersamaan dengan dibukanya Konferensi PBB Tentang Perubahan Iklim yang baru saja dibuka oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup.AS dan Protokol Kyoto Posted in keikutsertaan AS dalam OI by nurulamerikaserikat on June 2. Dan bahkan. pada 3 Desember lalu. segera. dan untuk mencegah penumpukan gas rumah kaca yang lebih besar. Protocol yang pada awalnya diteken oleh 39 negara industri maju pada 11 Desember 1997 kini . Rachmat Witoelar. dan 151 diantaranya telah meratifikasi . rata-rata orang amerika melepas gas karbon delapan kali lebih besar dari penduduk dunia lainnya. Amerika Serikat menolak model kesepakatan Kyoto karena Protocol itu mengharuskan negara. telah mendapat dukungasn 194 negara . Negara. disebabkan oleh penumpukan gas – gas rumah kaca di atmosfer bumi yang merupakan hasil dari penggunaan bahan bakar fosil ( minyak. bila dihitung dengan lebih cermat. 2008 Sikap Amerika Serikat yang tetap keukeh menolak meratifikasi Protocol Kyoto dinilai dunia sebagai sebuah arogansi negara adidaya ini Amerika Serikat dengan Bush sebagai pimpinannya yang tetap menolak berkompromi. secara bertahap sedikitnya 5.kini di pandang banyak negara menjadi batu sandungan dalam upaya dunia internasional meredam proses pemanasan global.

negara-negara berkembang sudah lebih maju dengan melakukan aksi nyata. Dengan atau tanpa keikutsertaan Amerika Serikat. Memang beberapa alasan resmi kemudian dikemukakan oleh Presiden Bush dalam upaya menolak Protocol Kyoto. target emisi 7% bagi Amerika Serikat dianggapnya tidak berdasarkan pertimbangan ilmiah. karena model Protocol Kyoto segera akan memukul perekonomian Amerika Serikat. awal 2001. dalam sehari saja mereka bisa menenggak minyak bumi sampai 18 juta barrel. Kedua. Sebagai contoh. Belum lagi kebutuhan energinya yang 55 % masih ditopang oleh sumber energi yang paling kotor. alasan-alasan yang dikemukakan pemerintah Amerika Serikat tersebut tetap saja tidak bisa dipahami oleh dunia internasional sebagai alasan yang logis dan bahkan dunia melihat alasan itu sebagai alasan yang tidak realistis. kecemburuan Amerika Serikat kepada China juga dinilai dunia sebagai hal yang berlebihan. Karena. takut akan angka pengurangan 7 %. hal tersebut akan membuat kita semakin tercengang. Padahal pada awalnya Amerika Serikat mendukung Protocol Kyoto. Amerika Serikat juga menolak target pengurangan emisi 7 % yang bahkan diikutinya dengan tuduhan yang tidak mendasar. Untungnya Rusia kemudian meratifikasi protokol tadi. Namun entah mengapa begitu masuk gedung putih. Alasan ketiga. hanya membuat dunia makin prihatin. Penolakan Amerika Serikat tersebut hampir saja membuyarkan kesepakatan. selagi Amerika Serikat terus-menerus berkelit terhadap tekanan dunia atas Protocol Kyoto. karena di saat Amerika Serikat terus menolak. sehingga syarat dukungan dari 55 % negara industri maju untuk menyatakan Protocol Kyoto mengikat secara hukum pun terpenuhi. alasan gangguan ekonomi misalnya. Karena. Uni Eropa malah lebih berani.Hal ini memang gila. menjadi alasan yang tidak realistis bila kita melihat bahwa semua negara pun mengalami situasi yang sama. . Bukti kepiawaian negara berpenduduk terbanyak di dunia itu dalam menerapkan kebijakan energi yang efisien dan dengan melakukan konservasi energi. Presiden George W. Kemudian. Bush menyatakan menarik diri dan merasa tak terikat lagi dengan target penurunan emisi sebesar 7 % seperti yang amanatkan Protocol Kyoto. Amerika Serikat tidak setuju pada pandangan Protokal Kyoto atas China dan India yang digolongkan sebagai negara berkembang. China . sebab standarisasi mesin secara mendadak dianggap hanya akan menimbulkan goncangan yang berakibat pada naiknya harga barang-barang konsumsi dan besar kemungkinan akan memicu pengangguran. Apalagi bila kita melihat keborosan negara itu dalam penggunaan bahan bakar fosil. yakni batu bara. sehingga tidak dibebankan keharusan untuk mengurangi emisinya. bahkan sudah sejak 1999 telah berhasil mengurangi emisi gas rumah kacanya sebesar 19 % tanpa mengganggu roda ekonominya. Pertama. Namun. Hal ini begitu aneh terdengar.

Sedangkan bila kita mau melihat yang lebih besar lagi. Meraka bahkan dengan lantang memasang target 8 %. Dan inilah hasilnya. 75 % di antaranya kembali masuk dan dinikmati oleh Partai Republik. Menimbang hal ini. bila kita mau merinci lebih jauh lagi aliran dana kampanye Presiden Amerika Serikat tahun 1999-2000. pernyataan mereka didasarkan dari hasil investigasi yang mereka lakukan. Dunia bertanya. dalam hal ini Bush. Ternyata jumlah yang dikucurkan para saudagar minyak bumi dan gas untuk musim kampanye 19992000 tersebut. dengan tegas malah menuding bahwa sikap Washington itu adalah hasil dari sebuah rekayasa dan lobi dari para pengusaha terutama para pengusaha minyak di Amerika. bisa bersikap lebih keras dan berani. Hal yang bertolak belakang memang.4 juta. Dan lagi-lagi. raksasa minyak Amerika ini tercatat sebagai penyumbang terbesar kas Partai Republik. bahwa ternyata sekitar USD 64 juta telah di berikan oleh sektor sumber daya alam untuk modal kampanye. Namun. akan terungkap. Kerena tentulah Bush bukanlah seseorang yang lupa akan jasa-jasa pihak yang membantunya naik ke puncak kekuasaan. segera akan kita dapati hal-hal yang lebih mencengangkan lagi. seperti yang kita ketahui sebagiannya adalah negara industri maju. Jepang pun nyatanya mempunyai sikap yang sama. Exxon mobil misalnya. tentu tidaklah mengherankan bila kita melihat sikap arogan Bush dalam menolak Protocol. Dia dengan tega melawan kepentingan segenap umat manusia . Bila memperhatikan hal-hal di atas tentulah kita akan menjadi maklum melihat sikap keras kepala Amerika. Kekursi presiden Amerika Serikat. dalam menolak ajakan dunia untuk ikut serta dalam gerakan internasional melawan pemanasan global. tapi ternyata bukan saja Uni Eropa yang legowo dengan target tinggi tersebut. apakah mungkin ada alasan lain dibalik penolakan Amerika serikat tersebut? GreenPeace. Partai tempat Bush bernaung. untuk mengurangi emisi gas rumah kacanya. Greenpeace tidaklah asal tuduh. Investigasi itu menunjukkan bahwa raksasa-raksasa minyak adalah donator terbesar bagi Partai Republik. Bush kepuncak hirarki kekuasaan. telah mencapai USD 32juta yang 78 %-nya mengucur masuk dengan deras ke kas Partai Republik. Lalu kenapa Amerika Serikat begitu takut? Ketakutan Amerika Serikat yang diwujudakannya dengan sikap arogan itu memang begitu aneh terlihat. Alasan-alasan ekonomi yang mereka gunakan untuk menolak protokol justru mengundang banyak kecurigaan dari berbagai pihak. Partai mengusung George W. Raksasa kapitalis Asia ini terlihat begitu tenang dalam menghadapi target 6 % yang dibebankan kepadanya. Dengan menyumbangkan dana kampanye sampai USD 1. sebuah organisasi non pemerintah.Kumpulan negara-negara Eropa barat itu.

pemanasan global yang telah menjadi permasalahan bersama ini bias kita selesaikan bersama pula. Hal itulah yang seharusnya kita kedepankan. maka diharapkan akan terwujud kesatuan global yang berjalan dengan penuh harmonisasi. Sesuatu yang amat sangat melukai rasa kemanusiaan kita. Kesatuan dalam perbedaan. Bukan dengan jiwa yang individualistis. Kepentingan bersama haruslah di atas segala-galanya. Karena dengan jiwa yang di penuhi semangat kekeluargaan.hanya karena membela keserakahan segelintir orang di belakangnya.com/2008/02/02/alasan-terselubung-amerika-menolak-protokol-kyoto/ . Dengan jiwa kebersamaan yang penuh tenggang rasa dan kekeluargaan.wordpress. Kesatuaan yang solid dengan keindahan rasa kebersamaan dan semangat gotong-royong. Namun sepatutnya.janganlah kita menjadi manusia individualis yang haus kekuasaan. Dan janganlah pula sengaja menutup mata pada kenyataan http://camarcacat.

Mengikuti program doktoral di bidang Energi. Protokol Kyoto dilengkapi dengan mekanisme perdagangan emisi (emission trading). yaitu UNFCCC (UN Framework Convention on Climate Change). dengan dokumen dikenal sebagai Protokol Kyoto. Sektor energi. penerapan bersama (JI).id . khususnya kegiatan pembakaran bahan bakar fosil (batubara. Universitas Kyoto. Mekanisme Pembangunan Bersih dan Pengembangan Sektor Energi Indonesia: Catatan Strategis Hanan Nugroho 1 Pendahuluan Kekhawatiran masyarakat bumi bahwa perubahan iklim akan membawa dampak dahsyat telah tumbuh dengan cepat. fungsional perencana dalam bidang energi di BAPPENAS.Ratifikasi Protokol Kyoto. global bawah 1997 yang Protokol Kyoto berisikan kesepakatan legal pemerintah negara-negara Annex I (pada umumnya negara industri) mengenai target kuantitatif pengurangan emisi gas rumah kaca untuk diterapkan pada periode 2008-2012. gas bumi) merupakan penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca (khususnya  Hanan Nugroho. Conference of the Parties (COP) dari badan itu pada tahun telah menghasilkan kesepakatan internasional untuk memanajemeni perubahan iklim global. Untuk mencapai target yang ditetapkan. Email: nugrohohn@bappenas. dan “mekanisme pembangunan bersih” (clean development mechanism). pemanfaatan “rosot” (sinks).go. minyak bumi. ditandai antara lain dengan dibentuknya Badan Khusus di Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai perubahan iklim. Ekonomi dan Lingkungan di Sekolah Pascasarjana Ilmu Pengetahuan Energi. Emisi gas rumah kaca (green house gases) dianggap sebagai penyebab perubahan iklim global yang ditakutkan itu.

gas bumi dan batubara merupakan sumber utama pendapatan pemerintah sejak lebih 3 dekade yang lalu. khususnya melalui fasilitas mekanisme pembangunan bersih (CDM) yang disediakannya memungkinkan negara berkembang seperti Indonesia untuk mendapatkan manfaat dalam bentuk aliran finansial maupun teknologi dari negara maju. khususnya bahan bakar fosil.karbondioksida. namun ketika mendiskusikan cara mengatasinya. Tulisan ini menguraikan hal-hal pokok mengenai Protokol Kyoto.berupaya melindungi gaya hidup royal energi dan berkilah agar upaya pengurangan emisi dunia dilakukan sedikit saja di negara mereka. sehingga perubahan iklim yang akan berpengaruh terhadap pemanasaan global merupakan masalah yang menjadi perhatian negara ini. negara-negara industri -pemilik kekhawatiran sekaligus pencemar lingkungan terbesar. khususnya peluang ekonomi dari perdagangan bahan bakar fosil serta perdagangan karbon nantinya. Masalah ”bersama” ini cenderung disikapi oleh negara miskin/negara kepulauan kecil dengan berbagai tuntutan dan oleh negara-negara berkembang dengan mempertahankan hak “membuat kesalahan sama” yang dulu dilakukan negara-negara industri. tapi juga dalam menyumbangkan pendapatan langsung dari penjualan produk-produk energi. Di sisi lain. mempunyai hutan–hutan tropis serta garis pantai yang terpanjang di dunia. Indonesia pada dasarnya setuju untuk meratifikassi Protokol Kyoto dan telah membuat sejumlah langkah untuk menyiapkan hal itu. benturan kepentingan terjadi. Indonesia perlu mempelajari implikasi Protokol Kyoto untuk menentukan masa depan sektor energi. Protokol Kyoto. perdagangan bahan bakar fosil serta kemungkinan perubahan kecenderungannya untuk menjadi bahan antisipasi dan perencanaan strategis yang mesti disiapkan oleh Indonesia. Indonesia adalah negara dimana sektor energi memberikan sumbangan besar tak hanya untuk menggerakkan ekonomi nasional. Indonesia juga adalah negara agraris. Ekspor minyak bumi. CO2) dan oleh karena itu. potensi perdagangan karbon / mekanisme pembangunan bersih. sektor ini akan terkena dampak langsung kesepakatan dunia mengenai manajemen perubahan iklim tersebut. Negara . karena dampaknya yang cukup besar terhadap sektor energi. 2 Mekanisme Lentur Protokol Kyoto dan Sektor Energi Kekhawatiran masyarakat bumi bahwa perubahan iklim global akan membawa dampak dahsyat adalah serupa. Namun demikian.

telah menyiapkan langkah-langkah untuk meratifikasi Protokol Kyoto tersebut. khususnya karbondioksdia. sejumlah 126 negara. 2. minyak bumi dan gas bumi) adalah penyebab utama emisi karbondioksida (CO 2 )yang dianggap bertanggungjawab terhadap perubahan iklim global dan yang ditargetkan untuk dikurangi oleh Protokol Kyoto. Protokol Kyoto akan mengikat secara hukum internasional setelah 55 persen dari jumlah negara penandatangan kesepakatan (Annex-I) atau yang mewakili 55 persen dari emisi negaranegara tersebut telah meratifikasi Protokol Kyoto.2 persen atau masih dibawah besaran 55 persen yang disyaratkan agar Protokol Kyoto dapat diterapkan secara hukum internasional (enter into force). khususnya dengan kegiatan pembakaran bahan bakar fosil (terutama batubara. Jumlah negara ini telah jauh melewati angka 55 persen dari penandatangan kesepakatan Protokol Kyoto (http://www. Berdasarkan hubungan ini. Indonesia. dengan Jepang serta negara-negara Eropa Barat dan Skandinavia sebagai pelopornya) pada suatu target kuantitatif pengurangan emisi gas rumah kaca. Inti kesepakatan adalah bahwa pada periode 2008-2012. pencemar terbesar dunia.pengekspor energi. emisi karbondioksida dari negara-negara yang telah meratifikasi Protokol Kyoto tersebut baru mencapai 44. Sekitar tiga-per-empat dari emisi gas rumah kaca yang dipancarkan bumi pada tahun 1990 berasal dari kegiatan pembakaran bahan bakar fosil. menolak untuk meratikasi Protokol Kyoto. Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia telah menyetujui ratifikasi Protokol Kyoto dan pada saat tulisan ini dibuat (awal Oktober 2004). sementara ratifikasi oleh Rusia -yang juga menghasilkan kandungan emisi sangat besar. negara-negara tersebut secara bersama-bersama (dengan target pengurangan emisi yang dapat berbeda untuk masing-masing negara) harus bisa mencapai pengurangan emisi karbondioksida sebesar 5 (lima) persen di bawah emisi karbondioksida mereka pada tahun 1990. ratifikasi Protokol Kyoto oleh Indonesia tinggal menunggu tanda tangan persetujuan Presiden. khususnya OPEC. terdiri dari 33 negara Annex-I dan 93 negara Annex II telah meratifikasi Protokol Kyoto. Amerika Serikat. Namun demikian. dampak penerapan Protokol Kyoto bagi sektor energi sangat jelas: mendesak dilakukannya perubahan pola konsumsi.sedang ditunggu karena pengaruhnya yang akan sangat penting dalam kemajuan proses ratifikasi total. Saat tulisan ini disiapkan (pertengahan Oktober 2004). distribusi energi serta dikembangkannya teknologi energi akrab lingkungan atau yang menghasilkan sesedikit mungkin emisi gas rumah kaca. tak setuju target pengurangan emisi yang berarti menurunkan konsumsi dunia akan komoditi andalan mereka.1 Implikasi bagi sektor energi Sektor energi. Sidang COP-3 di Kyoto secara gemilang telah berhasil mengikat kesepakatan negaranegara Annex-I (sebagian besar negara industri. bukan negara Annex-I. .int). produksi.unfccc.

3 GW (lebih dua kali kapasitas pembangkitan PLN sekarang). namun beberapa kecenderungan dapat diperkirakan (http://www.ieej. yang pada umumnya dikonsumsi oleh negara-negara industri dan sebagian besar bahan bakunya diproduksi oleh negara-negara berkembang. pada tahun diawalinya penerapan Protokol Kyoto. Bagi negara pengekspor bahan bakar fosil. implikasi pengurangan emisi berupa penurunan konsumsi energi dapat mengandung arti pengurangan pendapatan ekspor. photo-voltaic). Pola konsumsi yang berubah akan membawa pengaruh terhadap pola produksi dan perdagangan internasional bahan-bahan bakar fosil. tidak cukup optimis bahwa langkah-langkah efisiensi teknologi. mengurangi industri berat. memassalkan angkutan umum berpolusi rendah serta menerapkan baku lingkungan yang makin ketat juga menjadi bagian dari kebijakan energi Jepang. Pembangkitan energi -sektor terdepan yang terkena dampak pengurangan emisiperlu diubah dari pemakaian bahan bakar beremisi tinggi ke yang rendah atau ke yang hampir tak menghasilkan polusi (misalnya.jp). Langkah lain yang dilakukan Jepang adalah meningkatkan pemakaian sumber energi terbarukan (renewables) seperti sel surya (solar cell. Meningkatkan efisiensi teknologi. pengetatan baku lingkungan maupun riset energi baru yang dilakukannya akan dapat membantu seluruh target pengurangan emisi yang dicanangkan Protokol Kyoto. pajak. menyubsidi pengembangan teknologi batubara bersih.eia. Langkah utama Jepang mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil adalah memanfaatkan nuklir. Protokol Kyoto juga mendesak agar efisiensi penggunanan energi ditingkatkan atau intensitas energi (rasio antara konsumsi energi dengan nilai ekonomi yang dihasilkannya) diperbaiki. di luar pertumbuhan sebagaimana biasanya (business as usual). air. angin. Sebagai contoh adalah pemerintah Jepang. maupun coal bed methane dan DME (di-metil-ethene). Selain berimplikasi agar konsumsi energi -khususnya oleh negara-negara industridikurangi. Pertumbuhan permintaan batubara dan minyak bumi khususnya. dari batubara ke gas alam atau ke panas bumi dan nuklir). dan harga energi perlu ditinjau untuk mendorong penggunaan energi bersih dan menjamin bahwa energi digunakan secara hemat. seperti bahan bakar hidrogen.Konsumsi energi dunia perlu dikurangi atau diefisienkan karena pola konsumsi energi ini berkaitan langsung dengan tingkat emisi gas rumah kaca yang diproduksi bumi. khususnya oleh negara-negara Annex-I. negara yang efisiensi pemanfaatan energi dan baku lingkungannya telah terdepan di dunia. Namun Jepang. Studi rinci menghitung dampak penerapan Protokol Kyoto pada penurunan pendapatan ekspor energi suatu negara berkembang belum banyak dilakukan. dengan meningkatkan pangsa pembangkitan listrik tenaga nuklir menjadi 42 persen di tahun 2010 (http://www. Dengan beroperasinya pembangkit di Shika tahun 2006 dan 9 reaktor baru di tahun 2008. dan biomass. akan dihambat oleh target pengurangan emisi Protokol Kyoto tersebut.org). Hanya negara dengan industri bahan . Amanat Protokol Kyoto berpengaruh jelas pada kebijakan energi yang dikembangkan.or. Kebijakan subsidi. kapasitas pembangkitan tenaga nuklir direncanakan mencapai 54. mengarahkan pengembangan industri ke yang tidak boros energi. Negeri itu juga sangat aktif dalam riset-riset untuk mengembangkan sumber-sumber energi di masa depan.

diterapkannya baku lingkungan yang ketat serta adanya kecenderungan harga naik karena dikuranginya subsidi. Selanjutnya. Penerapan bersama (JI) mewadahi mekanisme untuk melakukan investasi proyek pengurangan emisi di suatu negara Annex-I oleh suatu negara Annex-I lainnya. mekanisme yang melibatkan negara berkembang (bukan negara Annex-I) adalah yang dikenal sebagai mekanisme pembangunan bersih (CDM). Kelebihan dari CDM yang tidak dipunyai oleh mekanisme lentur Protokol Kyoto lainnya adalah bahwa CER yang diperoleh sejak tahun 2000 hingga 2007 dapat digunakan sebagai kredit untuk memenuhi target pengurangan emisi dalam periode pertama penerapan Protokol Kyoto (2008-2012).bakar fosil yang memiliki volume ekspor besar dan biaya produksi rendah saja yang berpotensi menikmati rente pendapatan ekspor bahan bakar fosil mereka nanti. ET). serta untuk membantu negara Annex-I mencapai target pengurangan emisi mereka. khususnya di negara-negara industri penghasil batubara. Tujuan CDM sebagai ditegaskan oleh Protokol Kyoto (Pasal 12) adalah membantu negara berkembang melakukan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dan turut menyumbang bagi pencapaian tujuan pengurangan emisi global.2 Mekanisme lentur Protokol Kyoto Untuk mencapai target pengurangan emisi karbondioksida yang ditetapkannya. Dengan fasilitas CDM. CDM). JI) dan “mekanisme pembangunan bersih” (clean development mechanism. Ekspor batubara (penghasil emisi terbesar di antara bahan bakar fosil lainnya) akan terkena dampak paling besar. akan menjadi pilihan utama dari peralihan penggunaan batubara dan minyak bumi. CER) tersebut akan diberikan kepada negara Annex-I. Bagaimanapun juga. Sebaliknya. yang dapat dilakukan misalnya di bursa karbon dunia yang diharapkan berkembang. 2. hingga jangka menengah gas bumi. Kredit pengurangan emisi yang diperoleh dari pelaksanaan proyek tersebut akan diberikan kepada negara yang melakukan investasi. Termasuk dalam mekanisme lentur Protokol Kyoto tersebut adalah perdagangan emisi (emission trading. upaya-upaya yang dilakukan tidak akan . upaya-upaya melakukan proyek CDM hanya akan dihargai nantinya bila negara berkembang tempat melakukan proyek-proyek CDM tersebut telah meratifikasi Protokol Kyoto. Perdagangan emisi merupakan mekanisme untuk menjual dan membeli izin untuk melakukan pencemaran (emission permit) atau melakukan perdagangan karbon. CDM merupakan mekanisme Protokol Kyoto yang memungkinkan negara Annex-I dan negara berkembang bekerja-sama untuk melakukan “pembangunan bersih”. karena tingkat emisinya yang terkecil dibandingkan bahan bakar fosil lainnya. Tanpa meratifikasi Protokol Kyoto. Daya tarik tradisional bahan bakar ini pada harga yang murah tidak lagi memikat karena meningkatnya preferensi ke bahan bakar bersih. penerapan bersama (joint implementation. negara Annex-I dapat memenuhi kewajiban pengurangan emisinya dengan melakukan proyek “pengurangan emisi” di suatu negara berkembang dan sang negara berkembang mendapatkan kompensasi finansial dan teknologi dari kerja-sama tersebut. Investasi negara Annex-I di negara berkembang yang menghasilkan penurunan emisi akan disertifikasi dan kredit dari “pengurangan emisi yang disertifikasi” (certified emission reduction. Protokol Kyoto dilengkapi dengan mekanisme lentur (flexible mechanisms) yang menjadi bagian sangat penting dari Protokol tersebut.

biofuel. dengan meminjam model perencanaan energi MARKAL (MARKet ALlocation). Dalam skim CDM. memproyeksikan komposisi pemakaian energi primer (primary energy mix) di Indonesia hingga tahun 2025. Dalam kategori ini termasuk pengembangan tenaga surya (angin. baik bahan bakar fosil maupun untuk sumber-sumber energi terbarukan (renewables) masih akan tumbuh cukup besar di Indonesia. di antaranya terhadap pertumbuhan konsumsi energi Indonesia.diakui sebagai kegiatan resmi CDM dan tidak bisa diberikan kredit atau certificate emission reduction-nya. khususnya batubara. dibiayai oleh Bank Dunia). penambahan energi dan pengurangan dampak lingkungan yang semakin kompleks di tanah air nanti berpotensi melahirkan banyak kegiatan yang masuk kategori “mekanisme pembangunan bersih” Protokol Kyoto. panas bumi (geothermal). Kecenderungan pertumbuhan konsumsi energi primer yang menonjol tampak pada. sel surya). . dan nuklir. bagi negara Annex-I yang target pengurangan emisinya terbatasi pada efisiensi teknologi yang sulit ditingkatkan dan penggunaan bahan bakar bersihnya (gas bumi. 3 Mekanisme pembangunan bersih dan sektor energi Indonesia Pembangunan ekonomi Indonesia membutuhkan banyak tambahan energi. batubara. kebutuhan akan energi. seperti pemanfaatan mesin-mesin co-generation dan teknologi batubara bersih (clean coal technology) juga dapat dipertimbangkan sebagai proyek CDM untuk mendapatkan CER. Studi tersebut melakukan analisis. yang dalam kurun 2-3 dekade terakhir ini juga memiliki tingkat pertumbuhan konsumsi energi yang jauh di atas rata-rata dunia. misalnya yang dilakukan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dalam National Strategy Study on Clean Development Mechanism in Indonesia (NSS. Berdasarkan proyeksi konsumsi energi primer tersebut. serta potensi Indonesia dalam melakukan proyek-proyek mekanisme pembangunan bersih. Di sisi lain. pangsa Indonesia dalam pasar karbon dunia. karena “pengurangan emisi” adalah dibandingkan dengan suatu “base line” tertentu yang dapat berupa teknologi energi yang sekarang digunakan. 2001. air. emisi yang kita hasilkan “masih sangat sedikit” dibandingkan yang dipancarkan oleh banyak negara-negara industri. Diperlihatkan pangsa konsumsi minyak bumi. maka peluang untuk mendapatkan CER dari sektor energi di Tanah Air akan berada pada pemanfaatan teknologi energi untuk sumber-sumber energi terbarukan (renewables). Dengan perkataan lain. Potensi Indonesia untuk mendapatkan manfaat dari mekanisme pembangunan bersih Protokol Kyoto pernah dihitung. kemudian diperkirakan besaran emisi karbondioksida (CO2 ) yang dihasilkan dari kegiatan pemanfaatan energi (Tabel 1). Upaya-upaya untuk melakukan perhitungan potensi memperoleh manfaat dari penerapan proyek-proyek CDM tentu saja masih terbuka lebar untuk dilakukan. NSS. Sektor energi Indonesia dapat menawarkan daya tarik itu ke pasar emisi internasional untuk memperoleh dana dan teknologi energi bersih. gas bumi. Interaksi pembangunan ekonomi. “membeli” pengurangan emisi seperti di Indonesia adalah pilihan yang rasional. namun yang lebih efisien dan lebih bersih dibandingkan yang ada sekarang. Di pihak lain. renewables) sudah cukup maksimal (misalnya Jepang). nuklir. Teknologi energi di bidang bahan bakar fosil. tenaga air (hydropower) dan biomass.

Tabel 1. pendapatan dari proyek-proyek CDM di Indonesia diperkirakan mencapai $ 94 juta. Analisis sensitivitas dari pemodelan yang dilakukan menunjukkan bahwa besaran CDM di Indonesia dapat bervariasi cukup besar. NSS menghitung bahwa volume total CDM yang dapat dihasilkan di Indonesia hingga 2012 nanti adalah sekitar 125 MT CO2. Berdasarkan skenario standar. Indonesia memiliki potensi cukup besar untuk menjadi tempat bagi proyek-proyek CDM.4 3.4 0. 2001.9 TOTAL 228 246 298 392 526 672 3.3 Sumber: NSS on CDM in Indonesia. Namun demikian. sebagian besar dari angka ini akan dipergunakan untuk biaya-biaya transaksi (transaction costs). tergantung pada teknologi yang diterapkan serta biaya yang mengikuti nantinya. Tenaga Listrik Industri Energi Pertumbuhan Rata-rata 2025 141 25 168 275 63 2000 58 21 55 54 40 2005 66 22 61 66 30 2010 73 23 76 90 35 2015 91 23 99 152 27 2020 109 22 128 220 48 (% per tahun) 2. dan sebagiannya sangat dipengaruhi oleh kesiapan institusi .6 juta dari penjualan ini perlu dibayarkan untuk “biaya adaptasi” (adaption fund).4 5. Secara global. Biaya yang dibutuhkan untuk menerapkan proyek-proyek CDM diperkirakan sekitar $ 130 juta.1 1. Perkiraan emisi karbondioksida dari sektor energi Indonesia hingga tahun 2025 Total emisi CO2 (juta TON) Sektor Industri Rumah Tangga Transportasi Pbk. Hingga tahun 2012. Kepada siapa pendapatan itu akan diterimakan dan bagaimana kemudian ia akan digunakan sangat tergantung pada perjanjian-perjanjian (contractual agreement) yang nantinya dilakukan. termasuk biaya persiapan proyek. Sejumlah $ 4. biayabiaya transaksi masih sulit diperhitungkan. beberapa di antaranya menjanjikan biaya proyek yang sangat murah. pemantauan dan akreditasi. Penjualan sejumlah rata-rata 25 MT CO2 per tahun selama periode komitmen (2008-2012) akan menghasilkan pendapatan sekitar $ 228 juta.

Selain itu. Sebagian besar dari potensi melakukan proyek-proyek CDM akan berada pada sektor energi. . Besarnya potensi Indonesia untuk menjadi tempat bagi proyek-proyek CDM juga ditunjukkan. Organisasi kerja sama bilateral dan multilateral seperti NEDO (Jepang). Pembentukan badan yang akan memanajemeni proyek-proyek CDM (sebuah Designated National Authority) akan sangat berguna untuk menjamin agar Indonesia dapat memanfaatkan semaksimum mungkin peluangnya untuk merebut proyek-proyek CDM yang ditawarkan di pasar global. Beberapa proyek dalam kerangka AIJ (activities implemented jointly). GTZ (Jerman) maupun Bank Dunia secara aktif melakukan promosi mengenai mekanisme pembangunan bersih di Tanah Air. efisiensi dan konservasi energi. yang merupakan rintisan proyek CDM namun belum akan dihitung CER-nya juga telah dilakukan di Tanah Air. Tabel 2 menunjukkan nama sejumlah proyek di sektor energi -termasuk lokasi dan pelakunya. Unsur-unsur dari instansi Pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan (stake holders) perlu dikonsolidasikan untuk menyiapkan dan mengisi Badan baru penanganan CDM tersebut.5 persen. penerapan teknologi energi. antara lain dengan telah mulai beroperasinya sejumlah perusahaan Jepang dan Eropa Barat yang menawarkan kerja sama untuk melakukan persiapan proyek-proyek dalan kerangka mekanisme pembangunan bersih di Indonesia.5 dan 3. Skenario pesimis dan optimis menunjukkan potensi pangsa Indonesia dalam pasar CDM dunia adalah 1.yang berpotensi untuk menghasilkan pendapatan dari skim proyek CDM. khususnya dengan kegiatan pengembangan energi terbarukan. agar terdapat proses seleksi dan administrasi yang cukup baik bagi proyek-proyek CDM yang dilakukan di Tanah Air.di dalam negeri yang akan menangani proyek-proyek CDM serta aturan internasional yang dikembangkan berkenaan dengan CDM.

Central Sulawesi Luwuk. Bolaang. Maggarai. of Energy . dilanjutkan KLH PLN PLN Ndungga. Luwu. South Sulawesi Mowewe. South East Sulawesi Basessang Tempe. North Sulawesi Luwuk. Central Sulawesi Ampana Kota. South Sulawesi Belopa. Banggai. Uwu. North Sumatera Pangkalan Brendan. Kolaka. Catra Nusantara Local Government Min.Tabel 2. Ende. Yapen Waropen Depabre. PT. Poso. Unocal Geothermal Indonesia PLN PLN PLN Geothermal power plant Ulumbu Project Cluster: Small Hydro in Irian Papua -Mini hydro power plant Tatui -Micro hydro power plant Amai Project Cluster: Renewable Energy in East & West Nusa Tenggara (NTT & NTB) -Renewable Energy Supply Systems (RESS) (AJJ) -Mini hydro power plant Ndunggango -Mini hydro power plant Santong Project Cluster: Rural Electrification in Sulawesi -Micro hydro power plant Mongang -Mini hydro power plant Lobong -Mini hydro power plant Kalumpang -Mini hydro power plant Hanga hanga I -Mini hydro power plant Hanga hanga II -Mini hydro power plant Sansarino -Mini hydro power plant Batu Sitanduk -Mini hydro power plant Kadundung -Mini hydro power plant Usu Malili -Mini hydro power plant Sambilam Bo -Mini hydro power plant Rante Balla -Coal drying plant at Suralaya power plant -Paper sludge and solid waste recycle for steam generation . Central Sulawesi Walenrang. Kandidat proyek-proyek mekanisme pembangunan bersih (CDM) sektor energi Nama Proyek Geothermal power plant Sarulla Lokasi North Sumatera Pemilik / Pelaksana Proyek PLN. Gorontalo. NTT Gangga. of Energy Min. Mongondow. Luwu. Ajar Surya Wisesa (AJJ) Waste recycling and emission capturing at tapioca starch plant Use of palm oil palntation wastes in a co-generation facility Using palm oil mill waste to generate electricity Rice husk generation Cogeneration in industry Microhydro power plants Energy efficiency in textile industry Sumber utama: NSS on CDM in Indonesia Satar Messe. North Sulawesi Passi. Lombok Barat.PT. East Java Torgamba Plantation. West Java PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN PLN Ponorogo. Banggai. South Sulawesi Malili. NTT Yapen Selatan. North Sumatera Gorontalo Some scaterred projects Some scaterred projects West Java Bronzeoak Ltd. PERTAMINA Panas Bumi. South Sulawesi West Java Bekasi. Jayapura East Nusa Tenggara (NTT) Negara-negara E7. Bronzeoak Ltd. Banggai.. South Sulawesi Sinjai. NTB Attingola.

solar.4 58.8 Subsidi BBM 0. transportasi. yaitu subsidi yang diberikan pemerintah Indonesia kepada Pertamina (perusahaan pertambangan minyak negara) untuk melayani penduduk Indonesia mengkonsumsi bahan bakar minyak (khususnya bensin.5 16.4 9.6 20.4 22.3 31.2 70.0 25.7 1.7 26. Nota Keuangan.8 286.1 66. Ditunjukkan pula angka subsidi BBM (bahan bakar minyak).6 78.1 35.7 74.4 22. dan minyak tanah). Hal ini nampak nyata.8 27. khususnya sejak Indonesia mengalami krisis ekonomi/finansial 1997/98 yang lalu.7 1.4 41.9 336.2 108. Pendapatan dari mengekspor minyak bumi. Meskipun pangsa minyak dan gas bumi dalam perekonomian nasional kemudian menurun karena perkembangan industri manufaktur.2 35.4 Perdagangan bahan bakar fosil Indonesia Indonesia adalah negara dimana sektor energi memberikan sumbangan besar tak hanya untuk menggerakkan ekonomi nasional (menjadi bahan bakar kegiatan industri. Tabel 3.9 56.3 12.4 30. rumah tangga dan kegiatan lainnya) tapi juga dalam bentuk pendapatan langsung dari penjualan bahan bakar fosil. peranan yang besar dari ekspor bahan bakar fosil kembali meningkat dan menjadi sangat penting. gas bumi dan batubara merupakan sumber utama pendapatan ekspor nasional sekaligus pendapatan pemerintah.5 89.0 % Minyak & Gas Bumi / Total 31. Penerimaan minyak dan gas bumi dan subsidi BBM Tahun 1992/93 1993/94 1994/95 1995/96 1996/97 1997/98 1998/99 1999/00 2001 2002 2003 Penerimaan Dalam Negeri 48.3 24. serta besaran dan pangsa minyak dan gas bumi dalam penerimaan dalam negeri pemerintah Indonesia tersebut.2 Penerimaan Minyak & Gas Bumi 15. Tabel 3 memperlihatkan perkembangan penerimaan dalam negeri pemerintah (pusat) Indonesia. yang tercantum dalam Nota Keuangan naskah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).3 0.3 20.8 301.5 13.3 13.4 71. .8 68.2 157.7 32.1 20.2 31.6 Sumber: Statistik Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas).5 187. sejak industri perminyakan Indonesia dibangkitkan kembali pada era Repelita I (periode awal 70-an lalu).

Selama sedasa-warsa terakhir. Perlu dicatat bahwa selain mengekspor minyak bumi dan LNG. yang kebutuhan bahan bakar fosilnya hampir seluruhnya mengandalkan pada impor. Tabel 4-A.1 3. Pangsa ekspor ke Jepang ditunjukkan.740 287. Di satu sisi Protokol Kyoto. Sebagai ilustrasi Tabel 4 (4-A dan 4-B) menunjukkan perkembangan ekspor bahan bakar fosil utama Indonesia minyak bumi dan gas bumi (LNG). perlu sedari dini mempelajari dampak dari penerapan Protokol Kyoto. lebih se-per-empat dari eskpor batubara dan lebih tiga-perempat dari ekspor LNG Indonesia ditujukan ke Jepang.989 98. Bahan bakar fosil Indonesia selama beberapa dekade telah diekspor ke beberapa negara tujuan dengan Jepang merupakan negera tujuan utama. dapat mengakibatkan penurunan pada perdagangan bahan bakar fosil Indonesia.444. Namun di sisi lain. Indonesia.) 5. khususnya batubara. LPG (liquefied petroleum gas) dan gas bumi melalui pipa. dan strategi baru perdagangan bahan bakar fosil perlu dikembangkan. untuk memperlihatkan pangsanya yang sangat penting dalam tujuan ekspor bahan bakar fosil Indonesia. Bagi Jepang sendiri. memungkinkan Indonesia untuk memperoleh manfaat dari perdagangan karbon dunia nanti. pangsa impor bahan bakar fosil dari Indonesia itu dari keseluruhan impor bahan bakar fosil Jepang adalah sekitar 10 persen untuk minyak mentah. Ekspor minyak mentah dan LNG seperti ditunjukkan oleh Table 4-A dan 4-B bernilai antara US$ 8 – 12 milyar setiap tahunnya.8 5.Dengan peranan bahan bakar fosil yang sedemikian penting dalam perekonomian nasionalnya. melalui mekanisme pambangunan bersihnya.823 85. yang juga adalah pengekspor minyak bumi terbesar di kawasan TimurJauh (satu-satunya anggauta OPEC dari kawasan ini). Indonesia juga mengekspor batubara.975 Total Volume (1000 B/D) 283.365 Total Value (US$ mill.9 . Dampak penerapan Protokol Kyoto perlu diantisipasi dengan cermat oleh Indonesia.932 280. perubahan paradigma yang radikal terhadap bahan bakar fosil yang dibawa oleh Protokol Kyoto. termasuk empat besar pengekspor batubara dunia. Ekspor bahan bakar fosil memiliki nilai finansial yang jauh lebih besar daripada potensi pendapatan yang mungkin diperoleh Indonesia dari perdagangan karbon melalui melalui mekanisme pembangunan bersih (CDM) nantinya. sekitar separuh dari eskpor minyak mentah. Perkembangan ekspor minyak mentah Indonesia Tahun Tujuan  1996 1997 1998 Jepang 106. Angka ini belum termasuk ekspor batubara dan LPG yang juga berkembang pesat. Ditunjukkan volume dan nilai finansial dari ekspor minyak bumi (mentah: crude oil & condensate) dan ekspr LNG tersebut dan batubara. dan pengekspor terbesar di dunia untuk gas alam cair (LNG: liquefied natural gas).711. 7 persen untuk batubara dan 50 persen untuk gas bumi cair (LNG).458.

730. Taiwan dan dengan pemasok utama Indonesia.232 Total Volume (MMBTU) 1.484 120. dengan mengandalkan lapangan produksi dan pemrosesan di Bontang (Kalimantan Selatan) dan Arun (Aceh).762 320.375.400.0 Sumber: Statistik Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Tabel 4-B.389.549 1.1 5.370.398 155.512.5 7. Malaysia. Amerika Serikat.8 6.612 217.260.742 372.1 6.500 241. Indonesia juga mengekspor dan mengimpor sejumlah produk-produk minyak (oil products).) 4. Ekspor gas bumi Indonesia dalam bentuk LNG dilakukan pertama kali pada tahun 1977 dengan tujuan ekspor Jepang.035.884 Taiwan 78.489.3 5.318 927. khususnya minyak tanah (kerosene) yang diimpor dari Singapura.274 4. Indonesia juga mengimpor minyak mentah.655 933.153 110.323 200.936 1.595.866 61.2 4. Indonesia juga di awal abad ke-21 melakukan ekspor gas bumi melalui pipa ke negara tetangga Malaysia dan .395. serta oleh kemampuan produksi yang juga menurun.940 1. Australia dan sejumlah kecil ke kawasan ASEAN.224 371. Ekspor LNG selanjutnya ditujukan ke Korea Selatan (1986) dan Taiwan (1990).8 4. yang didatangkan selain dari kawasan Timur Tengah.5 6.987 97.785 1.552 78.0 Sumber: Statistik Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Ekspor minyak mentah (crude oil) ditujukan ke Jepang.024 1. Perkembangan ekspor LNG Indonesia Tahun Tujuan  1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 Jepang 955.734.751 285.399 223.543 Total Value (US$ mill.519 145.766 212.1999 2000 2001 2002 94.282.646 432. Korea Selatan.807 77.501.238.949.426 Korea 335.660 870. Walaupun permintaan akan minyak bumi Indonesia dari konsumen di luar negeri terus meningkat.802.387. namun kemampuan untuk memenuhi permintaan tersebut dihambat oleh peningkatan konsumsi di dalam negeri sendiri yang terus berkembang.720 74. Peningkatan permintaan minyak mentah yang menonjol tahun-tahun belakangan ini datang dari negeri Cina. dan Australia telah membentuk Asia Timur sebagai kawasan perdagangan LNG terbesar di dunia.141 958.9 3. juga dari Malaysia dan Vietnam.978 714.065 1. Selain mengekspor. Perdagangan LNG dengan tujuan Jepang. negara-negara industri Asia Timur lainnya (khususnya Korea Selatan dan Taiwan).772 936. yang membutuhkan gas bumi untuk pembangkitan tenaga listrik dan gas kota.

dengan menggunakan OWEM (Opec World Energy Model) telah mencoba melakukan studi mengenai dampak Protokol Kyoto terhadap pendapatan ekspor minyak bumi negara-negara OPEC. ketika permintaan pemakaian batubara. dibandingkan dengan volume LNG yang diekspor. Perlu dicatat bahwa dari segi perdagangan produk minyak (oil product) kita telah mengalami transisi menjadi pengimpor neto beberapa masa sebelumnya. karena jatuhnya kurs mata uang kita. dimana harga jual bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri menjadi jauh lebih murah dibandingkan harga belinya. berdasarkan pemahaman terhadap hal-hal yang mendasar mengenai perdagangan bahan bakar fosil. produksi minyak bumi kita yang tidak banyak tarik menarik dengan peningkatan permintaan BBM di dalam negeri yang terus meningkat. OPEC.Singapura.1 Perdagangan minyak bumi Sampai saat ini studi formal yang cukup rinci/mendalam mengenai dampak penerapan Protokol Kyoto terhadap perdagangan bahan bakar fosil Indonesia belum dilakukan. status pengimpor neto untuk produk minyak bahkan telah kita alami sejak periode krisis 1997/98 yang lalu. khususnya untuk pembangkit tenaga listrik sedang tumbuh cepat di dunia. Walaupun demikian. beberapa perkiraan dapat dikemukakan Menghadapi penurunan permintaan minyak bumi. 4. Pertumbuhan ekspor untuk melayani kawasan-kawasan yang sangat tergantung pada impor bahan bakar fosil dari luar tersebut telah membuat Indonesia tumbuh menjadi 3 besar pengeskpor batubara di dunia. namun dampak terhadap satu per satu negara OPEC tidak diperlihatkan. Ekspor batubara Indonesia berkembang dalam periode 80-an. biaya produksi minyak bumi Indonesia yang tinggi dan cenderung meningkat merupakan penghambat untuk mendapatkan keuntungan ekspor. ekspor atau untuk digunakan di dalam negeri (dengan harga murah seperti sekarang ini) perlu dikaji lebih dalam dan diubah untuk memberikan kemanfaatan yang lebih baik bagi Indonesia. Ditinjau dari segi finansial. Mengingat cadangan minyak bumi kita yang kecil (dibandingkan dengan anggota OPEC yang lain) maka keputusan produksi. Perkembangan produksi dan ekspor batubara Indonesia selanjutnya berjalan sangat pesat. Jepang dan Korea Selatan). . Volume ekspor gas bumi melalui pipa ini. khususnya untuk melayani permintaan negara-negara industri Asia Timur (Taiwan. masih sangat kecil. Selain itu Indonesia juga mengekspor LPG (liquefied petroleum gas) yang bersumber dari lapangan/pemrosesan yang sama dengan yang menghasilkan LNG (di Bontang dan Arun). Perkembangan yang penting diperhatikan dalam perdagangan minyak bumi kita adalah mulai tergelincirnya status Indonesia sebagai negara pengimpor neto (net importing country) pertengahan tahun 2004 ini. Untuk diekspor.

seperti pengembangan jaringan transmisi dan distribusi gas bumi. untuk menjadi bahan bakar di industri-industri kecil dan rumah tangga. 4.yang cukup besar. rencana pengembangan infrastruktur energi. meskipun permintaan oleh beberapa negara. yang pangsa permintaannya akan meningkat. batubara Indonesia berpotensi mengalami penurunan pendapatan ekspor.2 Batubara dan gas bumi Dalam era Protokol Kyoto. digantikan dengan penetapan harga yang lebih mencerminkan nilai ekonomi dari pengusahaan BBM. karena sanksi lingkungan di dalam negeri yang masih lunak. Walaupun ekspor batubara Indonesia yang ditujukan ke negara-negara bukan penandatangan Protokol Kyoto masih akan cukup banyak. yaitu upaya untuk melakukan efisiensi dan konservasi pemakaian BBM (khususnya di sektor transportasi) dan mewujudkan subtitusi BBM melalui pembangunan infrastruktur gas bumi dan batubara (termasuk pembangunan sarana/prasarana energi terbarukan). Tantangan yang perlu segera diatasi adalah menjadikan batubara. serta jaringan infrastruktur batubara di dalam negeri perlu dilakukan dengan tajam dan diwujudkan pembangunannya. permintaan domestik akan batubara akan tumbuh. Cadangan terbukti (proven reserves) gas bumi maupun batubara di Tanah Air adalah lebih besar dibandingkan minyak bumi. harga dari kedua jenis bahan bakar fosil ini juga lebih murah dibandingkan minyak bumi. Untuk gas bumi. Pembangunan pembangkit listrik di mulut tambang batubara (mine mouth power plant) juga akan berkembang. masih akan meningkat. dengan target pertama mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi dan mengembangkan substitusinya.diperkirakan akan tertekan ke bawah karena persaingan pemasokan dengan Australia. baik oleh konsumen lama seperti Jepang maupun oleh konsumen baru. Di sisi lain. termasuk untuk memasok listrik ke sistem JAMALI yang telah terinterkoneksi dengan sistem Sumatera. Dalam hal ini. Pemanfaatan batubara di dalam negeri sebagai bahan bakar sektor industri juga akan meningkat. . khususnya untuk industri berskala menengah seperti pabrik semen.Indonesia sesungguhnya memiliki cadangan sumberdaya energi yang kaya dan bervariasi. Amerika Serikat dan Afrika Selatan. Mengingat ketersediaan cadangan sumberdaya energi yang cukup besar dan bervariasi tersebut. khususnya briket batubara. Di sisi yang lain. Tanpa melakukan pembenahan ke dalam. tersebar di banyak tempat di luar JAMALI (Jawa-Madura-Bali). Harga batubara di pasar Asia –berlainan dengan di Eropa. khususnya Cina. Pengembangan batubara untuk keperluan domestik penting dilakukan untuk menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel (BBM) yang masih banyak terdapat. maka peluang kita untuk memperoleh pendapatan dari ekspor minyak bumi dalam era penerapan Protokol Kyoto akan sangat kecil. Kebijakan subsidi yang diberikan oleh Pemerintah untuk konsumsi BBM perlu segera diubah. Kebijakan untuk memperoleh komposisi pemanfaatan energi yang optimum (energy mix policy) perlu ditetapkan. yang sesungguhnya lebih bernilai bila diekspor daripada dikonsumsi di dalam negeri dengan harga murah. seperti Cina dan Amerika Serikat. syukurlah kita memiliki cadangan gas alam -primadona bahan bakar nanti. Catatan perlu diberikan untuk pengembangan ekspor maupun pemakaian gas bumi di dalam negeri. ketergantungan konsumsi energi kita yang sangat tinggi terhadap minyak bumi tak dapat dipertahankan lagi. menghindari batubara akan menjadi pola umum.

masih terhambat oleh ketersediaan infrastruktur yang sangat kurang. Indonesia perlu melakukan pencarian alternatif-palternatif baru bagi perdagangan bahan bakar fosilnya. Infrastruktur penyaluran gas bumi. masih akan menjadi bahan bakar impor favorit Jepang. Untuk minyak bumi. masih akan menjadi favorit pembangkit tenaga listrik di Jepang karena sifatnya yang bisa langsung dibakar tanpa melalui proses pengilangan (refinery). yang akan mengubah prinsip-prinsip konsumsi energinya sesuai semangat Protokol Kyoto. Walaupun Jepang akan lebih berhati-hati dalam menentukan keputusan impor bahan bakar fosilnya nanti. Mengembangkan pasar ekspor baru dari konsumen tradisional seperti Jepang ke negara-negara lain di Asia yang permintaan energinya besar dan tumbuh cepat (seperti Cina dan India) akan merupakan pola alternatif. Terlepas dari kecenderungan bahwa minyak bumi memiliki kadar emisi yang tinggi dibandingkan gas bumi. baik dalam bentuk LNG atau disalurkan melalui pipa juga perlu memperhatikan amanat Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi Nomer 22/2001 yang menegaskan prioritas pemanfaatan gas bumi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. seperti pipa transmisi. karena itu perhitungan yang matang mutlak dilakukan sebelum investasi bagi pembangunan infrastruktur gas bumi dimulai. infrastruktur gas bumi seperti pipa transmisi. Jepang sebagai tujuan utama ekspor bahan bakar fosil Indonesia adalah juga pelopor dan tokoh Protokol Kyoto. Menjadi pertanyaan adalah bagaimana prospek eskpor minyak mentah Indonesia . minyak mentah dari lapangan Minas khususnya. analisis terhadap perubahan kecenderungan impor Jepang terhadap bahan bakar fosil Indonesia perlu dilakukan lebih cermat. petrokimia). menunjukkan kadar gravity dan kandungan sulfur dari suatu jenis minyak mentah) yang dipunyai oleh sebagian minyak mentah Indonesia. 4. Pemanfaatan gas bumi untuk kebutuhan dalam negeri. penggunaannya untuk pembangkit tenaga listrik membutuhkan waktu konstruksi yang cepat dan biaya lebih murah dibandingkan pembangkit termal lainnya. Menghadapi situasi ini.3 Perubahan orientasi perdagangan bahan bakar fosil Pola permintaan bahan bakar fosil akan berubah karena perubahan pandangan terhadap bahan bakar fosil sebagai penafsiran masing-masing negara terhadap Protokol Kyoto. Gas bumi adalah pilihan yang baik bagi pembangkit tenaga listrik selain bagi bahan bakar industri dan bahan baku (pupuk. Pengembangan ekspor gas bumi Indonesia. yang akan sangat besar peranannya untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi.Gas bumi karena kandungan emisinya yang paling rendah dibandingkan bahan bakar fosil lainnya akan merupakan pilihan bahan bakar yang banyak diminati dan berkembang permintaannya nanti. Gas bumi selain bersih juga memiliki kandungan panas/daya bakar yang sangat baik. Pembangunan infrastruktur gas bumi membutuhkan biaya yang sangat mahal dan waktu pembangunan yang cukup lama. Selain itu. sifat “ringan dan manis” (light and sweet. Kendala bagi pengembangan ekspor gas bumi adalah ketersediaan infrastruktur untuk memproses dan menyalurkannya dari lapangan-lapangan produksi/pemrosesan ke lokasi-lokasi konsumennya. distribusi maupun terminal penerimaan LNG bersifat “tidak dapat dipindah” (fixed). perlu dikembangkan untuk membawa gas bumi dari lokasi keterediaannya di Sumatera/Kalimantan ke pusat-pusat konsumsi energi Indonesia di pulau Jawa. harganya murah relatif terhadap minyak bumi.

Kebutuhan Cina akan minyak bumi dan batubara juga tetap tinggi. Namun demikian. Perubahan pasar ekspor juga dapat dilakukan ke India. termasuk gas bumi impor. baik batubara. Pangsa ekspor batubara Indonesia ke Jepang cenderung menurun dibandingkan tujuan ekspor Taiwan dan Korea Selatan. secara umum dapat diatasi dengan mengubah orientasi pasar ekspor. yang permintaannya masih tumbuh dengan cepat. seiring dengan perkembangan ekonomi dan peningkatan kebutuhan energi mereka. khususnya jenis steam coal masih akan mendapat tempat dalam pasar ekspor ke Jepang. yang seperti Cina. khususnya ekspor LNG ke India. yang kandungan emisinya lebih buruk dibandingkan Minas. Dengan demikian. Ikut meratifikasi Protokol Kyoto . 5 Ringkasan dan kesimpulan Karena posisi geografisnya sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang di dunia dan memiliki hutan-hutan tropis luas yang menyangga iklim dunia. Indonesia dapat mengembangkan. Kecenderungan penurunan ekspor bahan bakar fosil ke Jepang. dapat dikembankan sebagai tujuan ekspor. Indonesia perlu terlibat aktif dalam menyikapi masalah perubahan iklim global. khususnya ke negara-negara yang permintaan energinya besar dan tumbuh cepat. Pertanyaannya adalah apakah Indonesia dalam era Protokol Kyoto nanti masih dapat menyediakan batubara bermutu tinggi seperti yang selama ini dapat kita eskpor? Ekspor gas bumi ke Jepang -walaupun gas bumi akan merupakan bahan bakar favoritmesti memperhitungkan persaingan dengan pemasok gas bumi lain dari Timur Tengah dan selesainya proyek Sakhalin untuk mengalirkan gas bumi dari kawasan Siberia ke Jepang. Penggunaan batubara dan gas bumi di dalam negeri perlu dikembangkan untuk pembangkit tenaga listrik. Pemasokan gas ke Singapura. dan dengan tujuan untuk mengurangi pangsa konsumsi minyak bumi. Cina. khususnya batubara dan gas bumi di dalam negeri sendiri.yang dihasilkan dari lapangan-lapangan lain. Konsumsi energi Cina yang semula sangat mengandalkan batubara akan bergeser ke pemakaian bahan bakar yang lebih bersih. Harga LNG ke Jepang juga mungkin tertekan karena berkembangnya volume perdagangan serta pasar spot LNG di dunia. sedang mengalami pertumbuhan konsumsi energi yang cukup besar dan mengubah komposisi pemakaian bahan bakarnya ke yang lebih bersih lingkungan. membutuhkan banyak tambahan bahan bakar fosil. walaupun permintaan akan gas bumi (LNG) masih akan terjaga. tak boleh diabaikan adalah potensi pemakaian bahan bakar fosil. dimana Indonesia dapat memasoknya. yang ekonominya besar dan tumbuh cepat. yang membuat kapasitas supplai gas bumi ke Jepang meningkat. Negara tetanga seperti Filipina akan membutuhkan pasokan batubara dari Indonesia. batubara dengan kandungan panas yang tinggi dan kadar sulfur rendah. Malaysia maupun pengembangan jaringan baru gas bumi ke Filipina merupakan alternatif yang layak ditempuh. Negara-negara tetangga di ASEAN. namun pendapatan dari ekspor LNG ke Jepang mungkin tidak meningkat. menjadi bahan bakar bagi kegiatan industri dan rumah tangga. minyak bumi dan gas bumi. Namun demikian. digunakan sebagai bahan bakar untuk mengembangkan industri manufaktur yang terus dilakukannya. yang selama ini bukan merupakan pasar besar bagi perdagangan bahan bakar fosil Indonesia.

Hal terakhir ini perlu diantisipasi lebih baik. Menawarkan portofolio kandidat proyek-proyek CDM sektor energi ke pasar emisi internasional kita nantinya akan merupakan suatu pilihan yang realistis. Di satu sisi. merupakan sektor yang akan terkena pengaruh langsung dan terbesar dari penerapan Protokol Kyoto. namun eskpor LNG Indonesia ke Jepang akan disaingi dengan impor gas Jepang dari kawasan Timur Tengah dan pengembangan jaringan pipa gas dari Siberia. Tujuan ekspor bahan bakar fosil Indonesia yang telah dikembangkan secara tradisional adalah Jepang sebagai pasar utama.termasuk bagian dari peran Indonesia untuk ikut terlibat dalam manajemen perubahan iklim global tersebut. Interaksi pembangunan ekonomi. Demikian pula. khususnya melalui fasilitas “mekanisme pembangunan bersih”-nya. Hambatan untuk mengembangkan ekspor kedua jenis bahan bakar fosil itu terletak pada: (i) untuk minyak mentah. adalah tugas yang mesti segera diwujudkan. Sektor energi. perdagangan dan produksi energi. Protokol Kyoto. . Segera setelah meratifikasi Protokol Kyoto. serta pemanfaatan teknologi bersih (seperti dalam pembangkitan tenaga listrik) dapat pula ditawarkan sebagai proyek CDM untuk menghasilkan manfaat ekonomi. memberikan peluang bagi Indonesia untuk memperoleh manfaat dalam bentuk aliran finansial dan teknologi. akan berubah sebagai akibat dari diterapkannya Protokol Kyoto. Antisipasi terhadap dampak Protokol Kyoto terhadap perdagangan bahan fosil kita perlu ditujukan khususnya dengan memperhatikan perubahan pandangan Jepang terhadap impor bahan bakar fosil dari Indonesia. Peran aktif tersebut penting karena Indonesia juga adalah negeri yang memiliki beraneka-ragam sumberdaya energi dan sektor energi memiliki peranan luas dalam ekonomi nasionalnya. bio-fuel. Dampak Protokol Kyoto terhadap sektor energi dan ekonomi Indonesia dapat dilihat dari sisi yang berbeda. volume ekspor yang terus menurun karena meningkatnya permintaan di dalam negeri dan merosotnya kemampuan produksi (ii) untuk batubara. sel surya. Pola konsumsi. Perhitungan yang dilakukan National Strategy Study on CDM in Indonesia memperkirakan potensi Indonesia untuk mendapat manfaat ekonomi dari pelaksanaan proyek-proyek CDM dalam periode pertama komitmen Protokol Kyoto (2008-2012) adalah sekitar $ 94 juta. namun minyak mentah Indonesia dari jenis “ringan dan manis” masih akan dapat menembus pasar ekspor Jepang. sebagai penyebab emisi gas rumah kaca terbesar. Walaupun Jepang memiliki preferensi yang kuat ke pengunaaan bahan bakar fosil yang lebih bersih. khususnya bahan bakar fosil. Gas bumi sebagai sumber energi bersih tetap akan menarik perhatian Jepang. penerapan Protokol Kyoto akan mengakibatkan pola perdagangan bahan bakar fosil Indonesia berubah. seberapa besar jumlah batubara bermutu tinggi itu masih dapat disediakan nantinya. dan negara-negara industri Asia Timur lainnya (Korea Selatan dan Taiwan) sebagai pasar besar berikutnya. tenaga angin dan panas bumi. proyek-proyek efisiensi dan konservasi energi (yang dapat diterapkan khususnya di sektor transportasi dan energi). Termasuk dalam potensi proyek-proyek CDM di sektor energi adalah pembangunan proyekproyek energi terbarukan (renewables) seperti hydro. Di lain sisi. batubara dari jenis yang bernilai kalori tinggi dan beremisi rendah masih akan dapat diekspor ke Jepang. pembentukan Designated National Authority untuk memanajemeni proyekproyek CDM. Selain itu. peningkatan konsumsi energi dan pengurangan dampak lingkungan yang semakin kompleks di tanah air berpotensi melahirkan banyak proyek CDM.

Kebutuhan akan minyak bumi. sedang tumbuh cepat dan bukan penandatangan kesepakatan Protokol Kyoto (non-Annex I). khususnya Cina dan India perlu dikembangkan untuk menjadi tujuan ekspor utama bahan bakar fosil Indonesia. Tujuan ekspor lain yang perlu dikembangkan/diperlihara adalah negara-negara industri Asia Timur dan ASEAN. . Kawasan di Asia yang kebutuhan energinya besar. maka analisis yang mendalam dibutuhkan untuk memperthitungkan dampak penerapan Protokol Kyoto terhadap perdagangan bahan bakar fosil Indonesia. khususnya untuk gas bumi dan batubara. Karena perdagangan bahan bakar fosil merupakan andalan pendapatan nasional dan karena nilai finansial perdagangan bahan bakar fosil ini jauh lebih besar daripada potensi mendapatkan manfaat ekonomi dari proyek-proyek CDM. Pengembangan ekspor bahan bakar fosil dalam era penerapan Protokol Kyoto perlu pula mempertimbangkan kebutuhan bahan bakar fosil di dalam negeri yang meningkat cepat dan perlu dipenuhi.Mengubah orientasi pasar ekspor bahan bakar fosil merupakan pilihan yang selayaknya dilakukan Indonesia. gas bumi maupun batubara dari kedua negeri raksasa yang sebelumnya mengandalkan batubara sebagai sumber energi primernya terus meningkat didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang yang berkembang.

Jakarta: Perencanaan Pembangunan No. 2004. Hanan & Hari Kristijo. 1999. 2001. In Press. Austria. Indonesia: the political economy of energy. Menuju komposisi pemanfaatan energi yang optimum di Indonesia: pengembangan model ekonomi-energi dan identifikasi kebutuhan infrastruktur energi. Nugroho. 2004. Vienna. dipresentasikan di kantor OPEC. Kaya. Hanan. Environment. Nugroho. Michael. et all. 6 Juli 2004. Energy in Asia. energy Jakarta: Kompas. Nugroho. Increasing the share of natural gas in national industry and consumption: infrastructure developmet plan? Jakarta: Perencanaan Pembangunan No. Proceeding: The 19th World Energy Congress & . National Strategy Study on Clean Development Mechanism in Indonesia. Nugroho. a guide and assessment. halaman 32-52. 2004. Yokobori. Energy. Nugroho. Hanan. Draft. Universitas Kyoto: Sekolah Pascasarjana Ilmu Pengetahuan Energi. Tokyo: United Nations University Press. IX/3/2004. 1995. 2004. The Kyoto Protocol. Makalah. Masalah Besar Menghadang. Yoichi & K. Institute of Energy Economics of Japan. Nugroho. Disiapkan untuk World Regional Renewable Energy Congress & Exhibition 2005 in Jakarta. Philiph. Gas energy pricing in Indonesia for promoting the sustainable economic growth. Oxford: Oxford Institute for Energy Studies Grubb. Handbook of energy and economic statistics in Japan. halaman 20-33. Penyediaan BBM Nasional. 2004. Hanan. Hanan.Daftar Pustaka Barnes. Tokyo: IEEJ. All. 2004. Ministry of Environment. et. 2001. and Economy: Strategies for Sustainability. Financing Indonesia’s renewable energy. IX/4/2004. Mei 2004. Analyzing Indonesia’s export of fossil fuels. Hanan. Hanan. Nugroho. 1997. Hanan. Republic of Indonesia. Pengembangan industri hilir gas bumi Indonesia: tantangan dan gagasan. Nugroho. London: Royal Institute of International Affairs. Tidak dipublikasikan.

gov http://www. OECD Nuclear Energy Agency. 2001. Jakarta: November 2004. Hanan Nugroho et. Sydney.ieej. dipresentasikan di Kongres World Energy Council.doe.org http://www. Primana. Nugroho. 2002. Rizal. 2004.iea.or. Modelling Indonesia’s energy and infrastructure by INOSYD. Indonesia: Enerugi.jp .int http://www. Widodo. Journal.unfccc.Exhibition. Japan Society of Energy & Resources: Oktober. All. Komite Nasional Indonesia. Nuclear energy and the Kyoto Protocol. Indonesia: deregulation of power industry after the implementation of new electricity law. Keizai to Kankou. Forthcoming. 5-9 September 2004. Hanan et all.eia. 2001. Paris: OECD Nuclear Agency. Paper. http://www.

merupakan sumber utama emisi gas rumah kaca dunia.Foto-1. Di kota tua yang selama 1000 tahun lebih pernah menjadi ibukota Jepang ini. khususnya bahan bakar fosil. Kyoto. Penerapan Protokol Kyoto akan memberikan dampak besar terhadap kegiatan konsumsi. seperti pada pembangkitan tenaga listrik tenaga batubara dan transportasi perkotaan. dilahirkan Protokol Kyoto mengenai perubahan iklim global pada tahun 1997. produksi dan perdagangan energi. Foto2. Pembakaran bahan bakar fosil. .

Pembangkitan energi dari sumber-sumber energi terbarukan seperti tenaga angin dan tenaga surya pada gambar di atas merupakan teknologi energi yang bersahabat dengan Protokol Kyoto. . seperti juga panas bumi. Kyoto juga menjadi tempat bagi banyak riset teknologi energi efisien dan ramah lingkungan. Untuk bahan bakar fosil. dan sebuah mobil eksperimen berbahan bakar bio-diesel di Kyoto. sel bahan bakar (fuel cell) dan nuklir. gas bumi akan menjadi primadona. Foto-4. bio-fuel. Contoh bus berbahan bakar gas.Foto-3. Teknologi seperti ini akan berkembang pemakaiannya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful