EFEK SAMPING ANTI PSIKOTIK TIPIKAL I.

PENDAHULUAN Dewasa ini konsep kedokteran mengenai pengobatan gangguan psikotik masih berputar pada penggunaan antipsikotik. Antipsikotik merupakan salah satu obat golongan psikotropik. Obat psikotropik adalah obat yang bekerja secara selektif pada susunan saraf pusat (SSP) dan mempunyai efek utama terhadap aktivitas mental dan perilaku (mind and behavior altering drugs), digunakan untuk terapi gangguan psikiatrik (psychotherapeutic medication).(obat) Menurut WHO (1966) obat psikotropik adalah obat yang mempengaruhi fungsi psikis, kelakuan atau pengalaman. Psikotropik hanya mengubah keadaan jiwa penderita sehingga lebih kooperatif dan dapat menerima psikoterapi dengan lebih baik. (farmako) Berdasarkan penggunaan klinik, psikoterapi dibagi menjadi 4 golongan yaitu: (1) antipsikotik; (2) antianxietas; (3) antidepresi; dan (4) psikotogenik. Antipsikotik atau dikenal juga dengan istilah neuroleptik (major tranquilizer) bermanfaat pada terapi psikosis akut maupun kronik. Antipsikotik bekerja dengan menduduki reseptor dopamin , serotonin dan beberapa reseptor neurotransmiter lainnya . Antipsikotik dibedakan atas antipsikotik tipikal (antipsikotik generasi pertama) antara lain klorpromazin, flufenazin, tioridazin, haloperidol; serta antipsikotik atipikal (antipsikotik generasi kedua) seperti klozapin, olanzapin, risperidon dan lain sebagainya. (pidato) Obat antipsikotik tipikal tentunya memiliki efek samping yang perlu diketahui agar pengobatan klinis dapat efisien dan sesuai dengan proporsi dan tentunya agar mencapai target terapi. Untuk itu kita harus mengenali obat antipsikotik ini terlebih dahulu, karena selain manfaatnya, antipsikotik juga mempunyai kerugian yang menyertainya. Beberapa proses fisiologis dipengaruhi oleh antipsikotik. Secara khusus, antipsikotik mempengaruhi SSP seperti terjadinya gangguan dalam bergerak, efek sedasi, kejang dan beberapa efek samping lainnya yang dapat mengganggu pasien seperti pengaruh dalam seksual dan fungsi reproduksi.(arana)

1

suatu derivate phenotiazine yang merupakan antagonis reseptor dopamine. (Kaplan) Istilah “neuroleptik” menekankan efek neurologis dan motorik dari sebagian besar obat. DEFINISI Sekelompok obat yang menghambat reseptor dopamine tipe 2 (D2) sering dinamakan senagai antipsikotik. KLASIFIKASI ANTIPSIKOTIK TIPIKAL Adapun penggolongan dari anti[sikotik tipikal dapat dilihat sebagai berikut: (obat.farmako) A. efek otonomik (+++). Obat antipsikotik juga dinamakan sebagai neuroleptik dan trankuiliser mayor. efek hipotensi(++) 2. 8 mg Dosis anjuran : 12-24 mg/hari 2 . Rantai Aliphatic  Chlorpromazine (Largactil ®)  Sediaan : 25-100 mg  Dosis anjuran : 150-600 mg/hari  Efek ekstrapirimidal (++). adalah yang pertama dinamakan antipsikotik klasik atau tipikal yang disintesis awal tahun 1950-an. Diperkenalkannya obat antipsikotik merupakan revolusi terapi pasien skizofrenia dan pasien psikotik serius lainnya. (Kaplan) III. Derivat Fenotiazin 1. Pemakaian antipsikotik tipikal menghasilkan perbaikan klinis yang bermakna pada kira-kira 50-75% pasien psikotik dan hamper 90% pasien psikotik mendapatkan manfaat klinis dari obat tersebut. Rantai Piperazine  Perphenazine (Trilafon ®) Sediaan : 2mg. 4 mg.II. efek sedatif (+++). Indikasi utama untuk pemakaian obat adalah terapi skizofrenia dan gannguan psoikotik lainnya. Istilah “trankuiliser mayor” secara tidak akurat menekankan efek primer dari obat adalah untuk mensedasi pasien dan dikacukan dengan obat yang dinamakan trankuiliser minor seperti benzodiazepine.(Kaplan) Antipsikotik tipikal seperti chlorpromazine.

Efek ekstrapirimidal (+++). 5 mg Dosis anjuran : 5-15 mg/hr Efek ekstrapirimidal (++++). efek otonomik (+). efek sedatif (+)  Trifluoperazine (Stelazine ®) Sediaan : 1 mg. efek otonomik (+).5 mg. MEKANISME KERJA ANTIPSIKOTIK TIPIKAL Mekanisme kerja obat Antipsikotik tipikal adalah memblokade dopamin pada reseptor pasca-sinaptik neuron di otakn khusunya di sistem limbik dan sistem ekstrapirimidal (dopamin D2 receptor antagonists). efek otonomik (+).5 mg. 3 . efek sedatif (+) C. efek sedatif (+++) B. efek otonomik (+++). 100 mg Dosis anjuran : 150-300 mg/hari Efek ekstrapirimidal (+). 1. Derivat Diphenyl butyl piperidine Pimozide (orap forte) Sediaan : 4 mg Dosis anjuran : 2-4 mg/hari Efek ekstrapirimidal (++). 5 mg Dosis anjuran : 10-15 mg/hari Efek ekstrapirimidal (+++). efek otonomik (+). 5 mg Dosis anjuran : 10-15 mg/hari Efek ekstrapirimidal (+++). efek otonomik (+).5 mg. Rantai Piperidine  Thioridazine (Melleril ®) Sediaan : 50 mg. efek sedatif (++) 3. efek sedatif (+)  Fluphezine (Anantensol ®) Sediaan : 2. sehingga efektif untuk gejala POSITIF. Derivat Butyrophenone Haloperidol (haldol. efek sedatif (+) III.serenace dll) Sediaan : 0.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful