Tanggung Jawab Etis Akuntan mempunyai kewajiban untuk menjaga standar perilaku etis tertinggi mereka kepada organisasi

dimana mereka bernaung, profesi mereka, masyarakat dan diri mereka sendiri. Akuntan mempunyai tanggung jawab menjadi kompeten dan untuk menjaga integritas dan obyektivitas mereka. Analisis terhadap sikap etis dalam profesi akuntan menunjukkan bahwa akuntan mempunyai kesempatan untuk melakukan tindakan tidak etis dalam profesi mereka (Fine et al. dalam Husein, 2004. Kesadaran etika dansikap profesional memegang peran yang sangat besar bagi seorang akuntan (Louwers et al. dalam Husein, 2004). Dalam menjalankan profesinya seorang akuntan secara terus menerus berhadapan dengan dilema etik yang melibatkan pilihan antara nilai-nilai yang bertentangan. Dilema etis dalam setting auditing misalnya, dapat terjadi ketika auditordan klien tidak sepakat terhadap beberapa aspek fungsi dan tujuan pemeriksaan. Dalamsituasi konflik seperti ini, maka pertimbangan profesional berlandaskan pada nilai dan keyakinan individu, kesadaran moral memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan akhir (Muawanah dan Indriantoro, 2001). Keputusan etis (ethical decision) per definisi adalah sebuah keputusan yang baik secara legal maupun moral dapat diterima oleh masyarakat luas (Trevino, 1986; Jones, 1991). Kemampuan dalam mengidentifikasi dan melakukan perilaku etis atau tidak etis adalah hal yang mendasar dalam profesi akuntan. Internal auditor juga tidak terlepas dari masalah bagaimana membuat keputusan etis. Internal auditor sebagai karyawan mempunyai tanggung jawab kepada organisasi.di mana dia bekerja, tetapi sebagai seorang akuntan profesional dia harus bertanggunjawab kepada profesinya, kepada masyarakat dan dirinya sendiri untuk berkelakuan etis yang baik. Kemampuan internal auditor untuk membuat keputusan yang akan diambil ketika menghadapi situasi dilema etika akan sangat bergantung kepada berbagai hal, karena keputusan yang diambil oleh internal auditor juga akan banyak berpengaruh kepada organisasi dan konstituen di mana dia berada (Arnold dan Ponemon, 1991). Internal auditor secara terus menerus

1992). Manajemen dapat menekan internal auditor untuk melanggar standar pemeriksaan. Pengalaman kerja telah dipandang sebagai suatu faktor penting dalam memprediksi kinerja auditor (Sularso dan Na im.. Pengalaman auditor akan semakin berkembang dengan bertambahnya pengalaman audit. . jika tidak memenuhi tuntutan tersebut kemungkinan dapat menghasilkan sanksi atas diri internal auditor.dihadapkan pada situasi dilema etika yang melibatkan pilihan-pilihan antara nilainilai yang saling bertentangan. Davis. 1999. Faktor-faktor individual tersebut meliputi variabel-variabel yang merupakan ciri pembawaan sejak lahir (gender. 2000. namun di lain pihak. Loe et. Manajemen dapat mempengaruhi proses pemeriksaan yang dilakukan oleh internal auditor. Faktor yang dapat dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan etis internalauditor ketika menghadapi dilema etika adalah faktor individual yaitu pengalaman. akuntan dengan komitmen profesional yang kuat maka perilakunya lebih mengarah kepada ketaatan terhadap aturan dibandingkan dengan akuntan dengan komitmen profesional yang rendah. kebangsaan dan sebagainya). umur. 2002). komitmen profesional serta orientasi etika auditor dan faktor situasional yaitu nilai etika organisasi. pengawasan dan review oleh akuntan senior. tetapi internal auditor juga terikat kepada etika profesi dan mempunyai tanggungjawab sosial.al. 1997. Bonner. Faktor determinan penting dalam perilaku pengambilan keputusan etis adalah faktor-faktor yang secara unik berhubungan dengan individu pembuat keputusan dan variabel-variabel yang merupakan hasil dari proses sosialisasi dan pengembangan masing-masing individu (Ford dan Richardson. Larkin. 2000. sedangkan faktor-faktor lainnya adalah faktor organisasi. mengikuti program pelatihan dan penggunaan standar auditing. profesi dan sebagainya. Jeffrey. Memenuhi tuntutan manajemen berarti melanggar standar dan etika profesi. 1994. 1990. maka auditor berada dalam situasi yang dilematis. lingkungan kerja. diskusi mengenai audit dengan rekan sekerja. Paolillo & Vitell. internal auditor yang berpengalaman cenderung lebih konservatif dalammenghadapi situasi dilema etika.

diwujudkan dalam perencanaan dan pelaksanaan audit untuk mendapatkan keyakinan yang memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material yang disebabkan oleh kesalahan ataupun kecurangan. auditor juga bertanggungjawab (Boynton. . Penghukuman dalam pemberian sanksi hingga pencabutan izin baru dilakukan dalam hal seorang Akuntan Publik tersebut telah melanggar ketentuan-ketentuan yang diatur dalam SPAP dan termasuk juga pelanggaran kode etik yang ditetapkan oleh IAPI. 17/PMK. baik atas temuan-temuan bukti pelanggaran apapun yang bersifat pelanggaran ringan hingga yang bersifat pelanggaran berat.68): a. sebagai akibat dari penggunaan hasil audit dari Akuntan Publik tersebut. pasal 64 dan pasal 65. hukuman yang bersifat administratif tersebut walaupun diakui merupakan suatu hukuman yang cukup berat bagi eksistensi dan masa depan dari seorang Akuntan Publik ataupun KAP. Selama melakukan audit.h. sanksi pembekuan ijin dan sanksi pencabutan ijin seperti yang diatur antara lain dalam pasal 62.01/2008 hanya dikenakan sanksi administratif. Akan tetapi. serta juga melakukan pelanggaran peraturan perundang-undangan yang berlaku yang berhubungan dengan bidang jasa yang diberikan. atau juga akibat dari pelanggaran yang terus dilakukan walaupun telah mendapatkan sanksi pembekuan izin sebelumya.Tanggung Jawab Hukum Dalam hal terjadinya pelangaran yang dilakukan oleh seorang Akuntan Publik dalam memberikan jasanya. ternyata masih belum menjawab penyelesaian permasalahan ataupun resiko kerugian yang telah diderita oleh anggota masyarakat. berupa: sanksi peringatan. pasal 63. ataupun tindakan-tindakan yang menentang langkah pemeriksaan sehubungan dengan adanya dugaan pelanggaran profesionalisme akuntan publik. Tanggungjawab untuk mendeteksi kecurangan ataupun kesalahankesalahan yang tidak disengaja. berdasarkan PMK No. Mendeteksi kecurangan 1.2003.

2. termasuk mematuhi prinsip akuntansi yang berlaku. Auditor berkewajiban melaksanakan . komite audit. Tanggung jawab ini hanya sebatas opini yang diberikan. tanggung jawab terhadap opini yang diberikan. Kedua adalah tanggung jawab terhadap profesi. Ketiga adalah tanggung jawab terhadap klien. hasil usaha dan arus kas sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum. Oleh karena itu penyajian yang wajar posisi keuangan. menyiratkan bagian terpadu tanggung jawab manajemen. Tindakan pelanggaran hukum oleh klien 1. dewan direksi b. Tanggungjawab untuk melaporkan tindakan melanggar hukum. Tanggungjawab untuk mendeteksi pelanggaran hukum yang dilakukan oleh klien. Apabila suatu tindakan melanggar hukum berpengaruh material terhadap laporan keuangan. Apabila revisi atas laporan keuangan tersebut kurang tepat. Tanggungjawab untuk melaporkan kecurangan jika terdapat bukti adanya kecurangan. Lebih jauh Soedarjono dalam Sarsiti (2003) mengungkapkan bahwa auditor memiliki beberapa tanggung jawab yaitu pertama. standar auditing dan kode etik akuntan Indonesia. sedangkan laporan keuangan merupakan tanggung jawab manajemen. Untuk itu auditor harus merencanakan suatu audit untuk mendeteksi adanya tindakan melanggar hukum serta mengimplementasikan rencana tersebut dengan kemahiran yang cermat dan seksama. 2. Tanggung jawab ini mengenai mematuhi standar/ketentuan yang telah disepakati IAI. Hal ini disebabkan pengetahuan auditor terbatas pada apa yang diperolehnya melalui audit. auditor bertanggungjawab untuk menginformasikannya kepada para pengguna laporan keuangan melalui suatu pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar bahwa laporan keuangan disajikan tidak sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum. auditor harus mendesak manajemen untuk melakukan revisi atas laporan keuangan tersebut. Auditor bertanggungjawab atas salah saji yang berasal dari tindakan melanggar hukum yang memiliki pengaruh langsung dan material pada penentuan jumlah laporan keuangan. Laporan ini dilaporkan oleh auditor kepada pihak manajemen.

Kelima adalah tanngung jawab terhadap pihak ketiga. akuntan publik harus bertanggung jawab. Contoh dari tanggung jawab ini adalah tanggung jawab atas kelalaiannya yang bisa menimbulkan kerugian yang cukup besar. Dengan melihat lebih jauh penyebabnya. pemberi kredit dan sebagainya. jika kecurangan karena prosedur auditnya tidak cukup. . seperti investor. Keempat adalah tanggung jawab untuk mengungkapkan kecurangan.pekerjaan dengan seksama dan menggunakan kemahiran profesionalnya. maka auditor harus bertanggung jawab. jika tidak dia akan dianggap lalai dan bisa dikenakan sanksi. Bila ada kecurangan yang begitu besar tidak ditemukan. seperti pendapat yang tidak didasari dengan dasar yang cukup. sehingga menyesatkan. Dan yang keenam adalah tanggung jawab terhadap pihak ketiga atas kecurangan yang tidak ditemukan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful