MAKALAH FARMAKOTERAPI I

DIABETES MELITUS DAN HIPERLIPIDEMIA

Disusun Oleh:

Kelas Farmakoterapi I A Apoteker LXX

DEPARTEMEN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS INDONESIA 2009

BAB I ETIOLOGI DAN GEJALA DIABETES MELITUS

A. ETIOLOGI Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu penyakit kronik metabolik yang dikarakterisasi oleh hiperglikemia kronik dengan adanya gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein sebagai akibat adanya kerusakan dalam sekresi insulin, sensitivitas reseptor insulin, ataupun keduanya. Pada keadaan normal terjadi metabolisme seimbang dari glukosa, asam lemak bebas, dan asam amino untuk menjaga kadar glukosa dalam darah dalam batas yang normal. Sedangkan pada penderita diabetes, glukosa dalam darah tidak dapat diatur dengan baik karena gangguan pada hormon insulin sehingga mengakibatkan kadar glukosa dalam darah meningkat. Diabetes Melitus dapat diakibatkan oleh: 1. Pengrusakan (destruksi) sel-sel beta pankreas yang dimediasi oleh imun akibat defisiensi absolut insulin. 2. Terjadinya resistensi pada reseptor insulin bersamaan dengan defisiensi relatif insulin. 3. Penyebab-penyebab lain tak umum: a. b. c. Penyakit-penyakit endokrin (akromegali, sindrom cushing) Penyakit pankreas eksokrin (pankreatitis) Pengobatan (golongan glukokortikoid, pentamidin, niasin, dan -interferon) Mekanisme Pelepasan Insulin Insulin diproduksi oleh sel β pulau langerhans pada pankreas. Pelepasan insulin dari sel β terutama dirangsang oleh adanya glukosa. Sel β memiliki saluran K+ yang diatur oleh ATP intraselular (Kanal/saluran KATP ). Ketika kadar glukosa darah meningkat, semakin banyak glukosa yang masuk ke dalam sel β. Glukosa masuk ke dalam sel melalui GLUT 2 transporter (lokasi jaringan hati, sel β langerhans, usus halus, ginjal). Glukosa yang masuk kemudian difosforilasi oleh glukokinase dan menghasilkan ATP. Semakin banyak glukosa yang masuk ke

dalam sel maka jumlah ATP intraselular meningkat. Peningkatan jumlah ATP intraselular ini menutup kanal KATP . Akibat penutupan kanal KATP terjadi depolarisasi sel β yang memprakarsai masuknya ion Ca2+ melalui kanal Ca2+ yang sensitif terhadap voltase dan merangsang pelepasan insulin.

Gambar 1. mekanisme pelepasan insulin di sel β pulau langerhans Reseptor insulin merupakan glikoprotein yang terbagi atas sub unit λ dan sub unit β. Setelah insulin terikat pada sub unit λ, kompleks insulin-reseptor masuk ke dalam sel di mana insulin dipecah oleh enzim lisosomal. Pengikatan insulin kepada reseptor mengaktifkan tirosin kinase dari sub unit β dan merangsang kompleks reaksi rantai yang menimbulkan kerja dari insulin.

remaja maupun masa awal dewasa. 2. Hal ini terjadi karena kadar gula yang tinggi dalam darah sehingga glukosa akan sampai ke air kemih. Diabetes melitus tipe 1 merupakan penyakit hiperglikemia akibat ketiadaan absolut insulin. 4. KLASIFIKASI Penyakit Diabetes Melitus dapat digolongkan menjadi 4 tipe. yaitu peningkatan rasa haus yang disebabkan karena dehidrasi. Polifagia. . Kasus DM tipe 1 terjadi sekitar 10 % dari seluruh kasus DM. C.B. Berat badan menurun karena lemak dipecah untuk memenuhi kebutuhan energi dalam sel. Hal ini akan merangsang respon lapar di hipotalamus. yaitu: 1. Glukosa yang bersifat diuretik osmosis akan menarik air di sekitarnya sehingga ginjal akan membuang air tambahan untuk mengencerkan sejumlah besar glukosa tersebut. 5. pun karena agen lingkungan pencetus serta autoimunitas dari sel β pulau langerhans. 3. yaitu peningkatan pengeluaran urin. Badan lemas dan lesu akibat insulin tidak dapat bekerja untuk memasukkan glukosa ke dalam sel sebagai sumber energi. 6. Glukosuria. GEJALA Gejala-gejala diabetes melitus antara lain: 1. maka penderita sering berkemih dalam jumlah yang banyak. yaitu terdapat glukosa dalam urin (yang dalam keadaan normal tidak ada). Karena ginjal menghasilkan air kemih dalam jumlah yang berlebihan. Poliuria. yaitu peningkatan rasa lapar. DM Tipe 1 : IDDM (Insulin Dependent Diabetes Mellitus) Diabetes melitus tipe 1 merupakan penyakit karena gangguan autoimun yang berkembang pada masa anak-anak. Polidipsi. Hal ini terjadi karena viskositas darah yang tinggi menyebabkan aliran darah lambat mencapai otak sehingga otak kekurangan oksigen dan nutrisi. Pada umumnya DM tipe 1 diawali dengan pemaparan genetis terhadap individu yang rentan terhadap DM. Hal tersebut menyebabkan dehidrasi dan hilangnya elektrolit pada penderita.

Serangan autoimun dapat timbul setelah infeksi virus misalnya gondongan. dan glikogen. Karakteristik DM tipe 1 Pengidap DM tipe 1 memperlihatkan penanganan glukosa yang normal sebelum penyakit muncul. Namun. Salah satu kemungkinannya adalah bahwa terdapat suatu agen lingkungan yang secara antigenis mengubah sel-sel pankreas untuk merangsang pembentukan autoantibodi. ketika penyakitnya muncul. DM tipe I biasanya dijumpai pada orang yang tidak gemuk berusia kurang dari 30 tahun. Insiden DM tipe I memuncak pada usia remaja dini. Namun. asam lemak. yaitu suatu profil genetik yang menyebabkan mereka rentan mengidap DM tipe 1 (atau mungkin penyakit autoimun lainnya). DM tipe I dapat timbul pada segala usia. Kemungkinan juga para individu yang mengidap DM tipe 1 memiliki kesamaan antigen antara sel-sel beta pulau langerhans mereka dengan virus atau obat tertentu. pankreas sedikit atau tidak mengeluarkan insulin. Kadar glukosa darah meningkat karena tanpa insulin glukosa tidak dapat masuk ke sel. dengan perbandingan laki-laki lebih banyak daripada wanita. Pada saat dilakukan diagnosis DM tipe 1. rubella. terdapat pula kecendrungan genetik untuk DM tipe 1. ditemukan antibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans pada sebagian besar pasien. Pada saat yang sama. hati mulai melakukan glukoneogenesis (sintesis glukosa baru) menggunakan substrat yang tersedia berupa asam amino. Penyebab DM Tipe 1 DM tipe 1 diperkirakan timbul akibat destruksi autoimun sel-sel β pulau langerhans yang dicetuskan oleh lingkungan. sitomegalovirus kronik atau setelah pajanan obat atau toksin (misalnya golongan nitrosamin yang terdapat pada daging yang diawetkan). Selain itu. sistem imun gagal mengenali bahwa sel-sel pulau langerhans adalah bukan antigen.Pasien DM tipe 1 harus mendapat insulin pengganti. Substrat-substrat ini . Sebagian orang mungkin memiliki gen diabetogenik. Sewaktu merespon terhadap virus atau obat tersebut. Penyebab seseorang dapat membentuk antibodi terhadap sel-sel pulau langerhans belum diketahui secara pasti. maka dahulu bentuk ini disebut sebagai diabetes juvenilis.

Obesitas (kelebihan berat badan) merupakan faktor utama terjadinya DM tipe 2. dan Hispanik yang tinggal di Amerika Serikat memiliki resiko dua sampai tiga kali lipat terhadap DM tipe 2. DM Tipe 2 : NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus) Pada DM tipe 2. pankreas tetap menghasilkan insulin namun tubuh mengalami resistensi terhadap insulin sehingga tubuh menganggap kebutuhan insulin kurang. 2. Keton bersifat asam sehingga pH plasma turun. namun memerlukan . Resistensi insulin terjadi karena penurunan kemampuan insulin merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat glukosa oleh hati. penduduk asli Amerika. Hal ini menyebabkan sel-sel mengalami kelaparan walaupun kadar glukosa darah sangat tinggi. Pankreas pada pasien ini masih memproduksi insulin. Sekitar 15% dari pasien berusia lebih dari 70 tahun mengalami DM tipe 2. Sekitar 80–90% pasien yang mengalami DM tipe 2 adalah pasien dengan obesitas. Pembentukan energi yang hanya mengandalkan asam-asam lemak menyebabkan produksi badan keton oleh hati meningkat. Kulit hitam. DM tipe 2 juga cenderung terjadi dalam satu keluarga. Pasien dari latar belakang ras dan etnis tertentu memiliki resiko lebih tinggi mengalami DM tipe 2. Metabolisme asam lemak bebas di siklus Krebs menghasilkan adenosine trifosfat (ATP) yang diperlukan untuk menjalankan fungsi sel. Hanya sel otak dan sel darah merah yang tidak kekurangan glukosa karena keduanya tidaka memerlukan insulin untuk memasukkan glukosa. Semua sel lain kemudian menggunakan asam lemak bebas untuk menghasilkan energi. DM tipe 2 biasanya dimulai pada orang berusia lebih 30 tahun dan akan lebih progresif terjadi pada usia lebih lanjut.mempunyai konsentrasi yang tinggi dalam sirkulasi karena efek katabolik glukagon tidak dilawan oleh insulin. Obesitas menyebabkan resistensi terhadap insulin sehingga tubuh memerlukan jumlah insulin yang lebih besar untuk mencapai kadar gula normal darah.

Lazimnya penyakit ini dimulai pada usia di atas 40 tahun dengan insidensi lebih besar pada orang gemuk (overweigh) dengan Q. Karakteristik DM Tipe 2 Orang-orang dengan DM tipe 2 mungkin tidak mengalami gejala apapun selama bertahun-tahun atau puluhan tahun sebelum mereka didiagnosis. penglihatan kabur. dan mengalami dehidrasi. atau mengalami kondisi yang disebut hipoglikemia. Pankreatitis kronis atau berulang dan penyakit lainnya yang secara langsung merusak pankreas dapat menyebabkan DM tipe 2. Kadang-kadang selama tahap awal diabetes. orang merasa sangat lelah. dimana faktor keturunan memegang peranan besar dengan kemungkinan penurunan penyakit adalah 1:20. . Selain itu kepekaan reseptornya menurun.I >27 dan pada usia lanjut. latihan fisik dan penggunaan obat-obatan untuk meningkatkan produksi insulin dan memperbaiki penggunaan glukosa. Sel beta yang tersisa umumnya masih aktif. Akhirnya. kadar gula darah rendah. DM tipe 2 juga dapat terjadi pada pasien dengan kelebihan produksi hormon pertumbuhan (acromegali) dan pada orang yang mensekresi hormon tertentu penyebab tumor. Pada awalnya terjadi peningkatan urinasi dan rasa haus yang ringan dan secara bertahap akan semakin memburuk selama beberapa minggu atau bulan. Kelainan dan penggunaan obat-obatan tertentu dapat mempengaruhi tubuh dalam penggunaan insulin dan dapat menyebabkan DM tipe 2. Orang yang malas dan kurang gerak lebih besar lagi risiko terkena DM tipe 2. tapi sekresi insulinnya semakin berkurang.pengendalian diri. Antara 70-80% dari semua kasus diabetes termasuk jenis ini. Oleh karena proses menua banyak pasien jenis ini mengalami penyusutan sel-sel beta yang progresif serta penumpukan amiloid di sekitar sel-sel beta. Kortikosteroid dosis tinggi (dari penyakit Cushing atau mengkonsumsi obat kortikosteroid) dan kehamilan adalah penyebab paling umum terjadinya perubahan penggunaan insulin oleh tubuh. Mungkin juga berkaitan dengan suatu infeksi virus pada masa muda.

Penyebab DM Gestasional dianggap berkaitan dengan peningkatan kebutuhan energi dan kadar estrogen dan hormon pertumbuhan yang terus menerus tinggi selama kehamilan.Tabel 1. Namun. Sekitar 50% wanita pengidap kelainan ini akan kembali ke status nondiabetes setelah kehamilan berakhir. Defek dasar Sering jika tidak diobati Destruksi sel beta pankreas Jarang Penurunan kepekaan sel sasaran terhadap insulin 3. Perbandingan DM tipe 1 dan tipe 2 Karakteristik 1. Usia awitan yang lazim 3. DM Dalam Kehamilan / DM Gestasional DM Gestational adalah kehamilan normal yang disertai dengan peningkatan resistensi insulin. DM Gestasional terjadi pada wanita hamil yang sebelumnya tidak mengidap diabetes. Hormon pertumbuhan memiliki beberapa efek anti insulin. misalnya perangsangan glikogenolisis (penguraian glikogen) dan penguraian jaringan lemak. Semua faktor Cepat Lambat Ya Ya 10-20% Tidak 80-90% Umumnya ya DM tipe 1 Tidak ada atau hampir tidak ada Anak-anak DM tipe 2 Mungkin normal atau melebihi normal Masa dewasa . Kecepatan perkembangan gejala 7. Timbulnya ketosis 8. Faktor genetik dan lingkungan penting untuk mencetuskan penyakit 6. resiko mengalami DM tipe 2 pada waktu mendatang lebih besar daripada orang normal. Tingkat sekresi insulin 2. Persentase pasien 4. Keterkaitan dengan kegemukan 5. Hormon pertumbuhan dan estrogen merangsang pengeluaran insulin dan dapat menyebabkan gambaran sekresi berlebihan insulin seperti DM tipe 2 yang akhirnya menyebabkan penurunan responsivitas sel.

Endokrinopati . Wanita yang mengidap DM Gestasional mungkin sudah memiliki gangguan subklinis pengontrolan glukosa bahkan sebelum diabetes muncul. 3). DM Tipe Lain Termasuk dalam golongan ini adalah diabetes melitus yang disebabkan oleh berbagai hal. Maturity-Onset Diabetes of the Young (MODY) Defek/cacat genetik fungsi sel beta akibat mutasi DNA mitokondria (DNA adalah molekul pembawa sifat genetik yang terdapat dalam inti sel. mitokondria adalah organel sel yang berfungsi untuk pernafasan sel dan pembuatan energi sel) b. 2). DM Gestasional secara rutin diperiksa pada pemeriksaan medis pranatal. Penyakit eksokrin (suatu kelenjar yang mengeluarkan hasil produksinya melalui pembuluh) pankreas: 1). lahir mati.ini mungkin berperan menimbulkan hiperglikemia pada DM Gestasional. 2). yang dapat menimbulkan masalah saat persalinan. Cacat genetik kerja insulin c. DM Gestasional terjadi bila dua atau lebih nilai berikut ditemukan atau dilampaui setelah pemberian 75 gram glukosa oral: Puasa : 105 mg/dl 1 Jam : 190 mg/dl 2 jam : 165 mg/dl 3 jam : 145 mg/dl 4. Pankreatitis (radang/inflamasi pada pankreas) Tumor/pankreatektomi (pankreas telah diangkat) Pankreatopati fibrokalkulus (adanya jaringan ikat dan batu pada pankreas) d. antara lain: a. Cacat genetik fungsi sel beta: 1). dan bayi bertubuh besar. DM Gestasional dapat menimbulkan efek negatif pada kehamilan dengan meningkatkan resiko malformasi konginetal.

cytomegalovirus (CMV) g. 2). Glukokortikoid. hormon tiroid 3). Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan diabetes melitus: Sindrom Down. sehingga insulin tidak dapat bekerja memasukkan glukosa ke dalam sel). Akromegali (terlampau banyak hormon pertumbuhan) Sindrom Cushing (terlampau banyak produksi kortikosteroid dalam Feokromositoma (tumor kelenjar anak ginjal. tubuh) 3). Vacor. . Karena obat/zat kimia: 1). Sebab imunologi yang jarang Antibodi anti insulin (tubuh menghasilkan zat anti terhadap insulin. Tiazid. sindrom Klinefelter. sindrom Turner dan lain-lain. yang antara lain Hipertiroidisme berfungsi menghasilkan hormon steroid [kortikosteroid]) e. interferon alfa dan lain-lain f. 4).1). h. asam nikotinat 2). dilantin. Infeksi: Rubela (campak Jerman) kongenital (dialami sejak dalam kandungan). pentamidin.

Hampir semua lipoprotein dibentuk di dalam hati. kolesterol ini akan diangkut kembali oleh HDL (High Density Lipoprotein) untuk dibawa ke hati yang selanjutnya diuraikan lalu dibuang ke dalam kandung empedu sebagai asam (cairan) empedu.BAB II LIPOPROTEIN A. dan trigliserida (kecuali trigliserida yang diabsorpsi dari usus dalam bentuk kliomikron) disintesis. transporters. protein transmembran dari mitokondria. otak dan lain-lain. sel hati akan memproduksinya. sedangakn lipoprotein yang lain terutama penting dalam tahap-tahap transport fosfolipid dan kolesterol yang terdapat dalam hati menuju jaringan perifer atau dari jaringan perifer kembali ke hati. Banyak enzyme. Lipid atau turunannya mungkin secara kovalen dan non-kovalen terikat pada protein. sehingga disebut dengan lipoprotein. Seperti contoh yang termasuk pada High Density (HD) atau Low Density (LD) Lipoprotein yang memungkinkan lemak menjadi pembawa dalam sirkulasi darah sistemik. yang merupakan tempat sebagian kolesterol plasma. struktur protein. Lipoprotein densitas sangat rendah mengangkut trigliserida yang disintesis di dalam hati terutama dalam jaringan adipose. Sedangkan bila terjadi kelebihan kolesterol. Protein utama yang membentuk LDL yaitu Apo-B (Apolipoprotein-B) dan LDL ini . Bila asupan kolesterol tidak mencukupi. DEFINISI DAN FUNGSI LIPOPROTEIN Kolesterol dan unsur lemak lain yang tidak dapat larut di dalam darah (seperti trigliserida dan fosfolipid) harus berikatan dengan protein agar dapat diangkut ke dalam aliran darah. antigen dan toxin merupakan lipoprotein. Sejumlah lipoprotein densitas tinggi juga disintesis di dalam epitel usus selama absorpsi asam lemak dalam usus. Lipoprotein merupakan perpaduan biokimia yang mengandung lipid dan protein. kolesterol diangkut oleh LDL (Low Density Lipoprotein) untuk dibawa ke sel-sel tubuh yang memerlukan termasuk selotot jantung. Dari hati. Fungsi utama dari lipoprotein adalah untuk mengangkut komponenkomponen lipidnya di dalam darah. fosfolipid.

dapat menyebabkan penempelan kolesterol di dinding pembuluh darah sehingga dianggap sebagai ”lemak jahat”. Sedangkan protein utama yang membentuk HDL yaitu Apo-A (Apolipoprotein-A) dan HDL ini dapat membersihkan kelebihan kolesterol dari dinding pembuluh darah dengan mengangkutnya kembali ke hati sehingga dianggap sebagai ”lemak baik”.

Gambar 2. Struktur lipoprotein Tabel 2. Jenis-jenis Apoprotein

B.

KLASIFIKASI LIPOPROTEIN 1. Kilomikron Merupakan lipoprotein dengan berat molekul terbesar, lebih dari 80% komponennya terdiri dari trigliserida yang berasal dari makanan dan kurang dari 5% kolesterol ester. Kilomikron membawa trigliserida dari makanan ke jaringan lemak dan otot rangka juga membawa kolesterol makanan ke dalam hati. 2. VLDL (lipoprotein pre-β  Very Low Density Lipoprotein) Lipoprotein terdiri dari 60% trigliserida dan 10 – 15% kolesterol, dibentuk dari asam lemak bebas di hati. Karena asam lemak dan gliserol dapat disintesis dari karbohidrat, maka makanan kaya karbohidrat akan meningkatkan jumlah VLDL. 3. IDL (Intermediet Density Lipoprotein) Merupakan zat perantara yang terjadi sewaktu VLDL dikatabolisme menjadi LDL. Adanya IDL dapat dilihat dari kekeruhan plasma yang didinginkan. 4. LDL (Lipoprotein β  Low Density Lipoprotein) Merupakan lipoprotein pengangkut kolesterol terbesar pada manusia yaitu sekitar 70%. LDL merupakan metabolit VLDL yang berfungsi membawa kolesterol ke dalam jaringan perifer. 5. HDL (Lipoprotein α  High Density Lipoprotein) Komponen HDL adalah 13% kolesterol, kurang dari 5% trigliserida dan 50% merupakan protein. HDL penting untuk bersihan trigliserida dan kolesterol serta untuk transport dan metabolisme ester kolesterol dalam plasma, HDL membawa 20 – 25% kolesterol darah dan berfungsi mengangkut kolesterol dari jaringan perifer masuk ke dalam hati.

Gambar 3. Kilomikron, VLDL, IDL, LDL dan HDL Tabel 3. Perbedaan lipoprotein
Densitas (g/mL) >1.063 1.019-1.063 1.006-1.019 0.95-1.006 <0.95 Kelas HDL LDL IDL VLDL Kilomikron Diameter (nm) 5 – 15 18 – 28 25 – 50 30 – 80 100 – 1000 % Protein 33 25 18 10 <2 % Kolesterol 30 50 29 22 8 % Fosfolipid 29 21 22 18 7 % Trigliserol 8 4 31 50 84

C.

TRANSPORTASI LIPID 1. Jalur Eksogen Trigliserida dan kolesterol yang berasal dari makanan dalam usus dikemas dalam kilomikron. Kemudian akan diangkut oleh saluran limfe ke dalam darah melalui ductus torotikus. Di dalam jaringan lemak mengalami hidrolisis oleh lipoprotein lipase yang terdapat pada permukaan sel endotel, akibatnya terbentuk asam lemak dan kilomikron. Asam lemak akan menembus endotel kembali dan masuk ke dalam jaringan lemak atau otak yang akan diubah kembali menjadi trigliserida kembali. Kilomikron akan dibersihkan oleh hati dari sirkulasi dengan mekanisme endositosis oleh lisosom berupa kolesterol bebas. Kolesterol bebas ini disimpan di hati dan siap diekskresikan ke empedu untuk menjadi lipoprotein endogen yang dikeluarkan ke dalam plasma. 2. Jalur Endogen

High Density Lipoprotein (HDL) yang berasal dari hati dan usus yang berada di bawah pengaruh enzim lesitin akan mengalami perpindahan dari HDL menjadi VLDL dan IDL sehingga dengan demikian terjadi kebalikan arah transport kolesterol dari perifer menuju hati untuk dikatabolisme. METABOLISME LIPOPROTEIN . Transportasi lipid D.Trigliserida dan kolesterol yang disintesis oleh hati diangkut secara endogen dalam bentuk VLDL dan akan mengalami hidrolisis dalam sirkulas oleh lipoprotein lipase menjadi partikel lipoprotein yang lebih kecil yaitu IDL dan LDL. Gambar 4.

gliserol tetap dalam sirkulasi darah menuju hati karena hati memiliki . Kilomikron merupakan lipoprotein yang disintesis oleh usus. Di sirkulasi darah. LPL disekresi keluar dari sel dan ditranslokasi menuju permukaan lumen dari sel endotel kapiler dimana terdapat heparin sulfat. LPL . seperti jaringan adiposa dan jaringan otot.merupakan esterase asam amino hasil hidrolisis dari sebuah protein.1. Asam lemak dibawa ke jaringan ekstrahepatik. Metabolisme Kilomikron Kilomikron merupakan lipoprotein yang banyak mengandung lipid dengan kandungan protein paling sedikit (dibandingkan lipoprotein lain) sehingga kilomikron memiliki densitas yang paling rendah dari keseluruhan lipoprotein. adanya Apo C akan mengaktivasi enzim lipoprotein lipase untuk memecah lemak menjadi asam lemak bebas dan gliserol. Sementara itu. terdapat di jaringan otot dan jaringan adiposa. Dari usus kilomikron masih dalam bentuk yang belum sempurna (yang disebut kilomikron nascent) karena masih memerlukan penambahan apoprotein. Kilomikron nasen membawa triasilgliserol (TAG) dan kolesterol (C) dengan bantuan aktivator Apo B-48 juga Apo-A milik HDL yang disintesis di usus. kilomikron ini mendapatkan apo-C dan Apo-E dari HDL plasma yang ditukar dengan fosfolipid. Makanan yang mengandung triasilgliserol (lemak) akan dicerna oleh enzim lipoprotein lipase yang terdapat di dinding usus kemudian masuk ke sistem limfatik. Kilomikron memiliki fosfolipid dan protein pada permukaannya agar permukaan yang hidrofilik dapat berikatan dengan air. apo A-I. LPL adalah enzim yang paling banyak terlibat di dalam proses yang terjadi pada kilomikron dan VLDL. LPL menghidrolisis ester asam lemak yang mengikat gliserol bebas dan asam-asam lemak. Tambahan apo-CII yang didapat dari HDL dibutuhkan untuk mengaktivasi lipoprotein lipase (LPL). Molekul hidrofobik berada di dalam inti lipoprotein. sedangkan di dalam otot asam-asam lemak dioksidasi untuk menghasilkan energi. Apoprotein yang berikatan dengan kilomikron yang baru dibentuk adalah apo B-48. Ketika mendekati jaringan ekstrahepatik. dan di dalam jaringan adiposa asam lemak ini di sintesis kembali menjadi triasilgliserol untuk disimpan. apo A-II and apo A-IV. Dalam sirkulasi darah kilomikron mendapat tambahan apoprotein yaitu Apo E dan Apo C dari HDL sehingga membentuk kilomikron yang sempurna. Asam-asam lemak tersebut kemudian diserap oleh sel endotel kapiler.

Sisa kilomikron ini hanya mengandung sisa triasilgliserol. Selama jaringan mengabsorbsi asam lemak. Metabolisme kilomikron 2. Metabolisme kilomikron ditunjukkan pada gambar berikut. Metabolisme VLDL dan LDL Hati mensintesis asam lemak dan kolesterol dan mengemasnya untuk diangkut di pembuluh darah dalam bentuk VLDL sehingga VLDL adalah kendaraan untuk mengangkut triasilgliserol dari hati ke jaringan ekstrahepatik. kilomikron mentransfer fosfolipid dan apoprotein A dan C ke HDL akibatnya kilomikron remnan kekurangan protein apo A dan apo C sehingga tidak bisa berikatan dengan LPL. Gambar 5. sedangkan asam lemak bebas akan digunakan untuk sintesis HDL dan VLDL.enzim untuk memetabolisme gliserol. Apo E merupakan reseptor ligan untuk kilomikron agar kolesterol yang diangkut dapat masuk kembali ke hati. Apo E dan Apo B-48. Apoprotein utama pada VLDL adalah B-100 sehingga pada abetalipoproteinemia . Akan tetapi. Dalam organ hati sisa kolesterol akan diubah menjadi ester kolesterol dan asam empedu. kolesterol. Sekresi VLDL dari hati terjadi secara eksositosis. Selama terjadinya penyusutan tersebut. kilomikron mengalami penyusutan secara berkala hingga menjadi kilomikron remnan yang kaya akan kolesterol. diet kolesterol yang tinggi dapat mengubah komposisi VLDL menjadi kaya akan ester kolesterol.

Adanya Apo C akan mengaktivasi enzim lipoprotein lipase sehingga trigliserida yang diangkut VLDL juga mengalami hidrolisis menjadi gliserol dan asam lemak bebas. Asam lemak bebas akan masuk ke jaringan ekstrahepatik. Proses metabolisme VLDL juga hampir sama dengan metabolism kilomikron yaitu trigliserida dan kolesterol hasil sintesis di hati akan dibawa oleh VLDL nascent menuju jaringan sel dengan aktivator apoprotein Apo B-100. atau berikatan dengan albumin serum sedangkan gliserol akan dibawa oleh darah masuk ke dalam hati. seperti jaringan adiposa dan otot. Trigliserida pada VLDL bukan berasal dari makanan (jalur eksogen) melainkan berasal dari sintesis endogenik dari asam lemak bebas dan karbohidrat di dalam hati (jalur endogen). IDL menyerahkan fosfolipid dan melalui kerja enzim plasma lesitin-kolesterol asiltransferase (LCAT). Pada jaringan adiposa asam lemak mengalami sintesis ulang menjadi triasilgliserol dan disimpan. Dalam perjalanannya. IDL juga dapat dikatabolisme oleh LPL sehingga melepaskan lebih banyak trigliserida dan apo E menjadi LDL. Apo E dan Apo C. Mekanisme pembentukan VLDL oleh sel parenkim hati memiliki keimripan dengan pembentukan kilomikron oleh sel usus dan. VLDL memberikan fosfolipid dan apoprotein C kepada HDL. mengambil ester kolesterol yang terbentuk dari kolesterol HDL. VLDL ini menyusut menjadi IDL (intermediate Density Lipoprotein) atau sisa VLDL dan selama mengalami penyusutan. asam lemak dioksidasi untuk menghasilkan energi. Setelah sebagian besar trigliseridanya dikeluarkan oleh kerja enzim lipoprotein lipase. kolesterol yang diangkut LDL dibawa kembali ke hati. LDL juga menyediakan kolesterol bagi jaringan.tidak terbentuk lipoprotein yang mengandung Apo B dan terjadi penimbunan butiran lipid di usus dan hati. Kolesterol adalah suatu unsur pokok esensial di membran sel dan digunakan oleh sel kelenjar untuk membentuk hormone steroid. Di dalam . VLDL dan kilomikron yang baru disekresikan atau ‘nascent’ hanya mengandung sedikit apoliporotein C dan E. Selanjutnya dengan adanya reseptor LDL di hati. kemudian VLDL yang baru disekresi dari hati mendapatkan tambahan apo C dan E dari HDL. VLDL nascent mendapat tambahan Apo C dan Apo E sehingga menjadi VLDL yang sempurna. Beberapa IDL diambil oleh hati karena IDL dapat berikatan dengan reseptor sel hati dimana IDL diabsorbsi dengan cara yang sama dengan kilomikron remnant. sedangkan di dalam otot.

Setelah vesikel berada di dalam sel. clathrin secara spontan terdisosiasi dari vesikel endosom. Oleh karena itu. Reseptor LDL bermigrasi ke area membran plasma yang khusus untuk endositosis. pH dari vesikel ini menurun. Reseptor LDL terbentuk kembali menjadi permukaan sel. LDL terikat pada reseptor spesifik sel yang berada pada membran plasma sel target. Vesikel bersatu dengan lisosom dan kemudian mendegradasi lipoprotein menjadi komponen asalnya. yang disebut coated pits (lubang bersalut) karena protein clathrin melapisi atau menyalut sisi sitoplasmik pada membran. Saat LDL terikat pada reseptor. Kadar LDL yang tinggi berhubungan dengan pembentukan plak aterosklerosis yang menyumbat pembuluh darah yang menyebabkan stroke dan serangan jantung. LDL adalah lipoprotein yang kaya akan kolesterol dan banyak mengandung apo B-100. Kolestreol ini bergabung ke dalam kolam kolesterol interselular yang digunakan untuk sintesis membran atau steroid. kolesterol. LDL umumnya disebut sebagai ‘kolesterol jahat’ ketika membawa kolesterol di dalam plasma menuju jaringan. gliserol. LDL reseptor merupakan glikoprotein yang mengandung bagian dengan muatan negatif. dan asam amino. Bagian pengikatan LDL memiliki interaksi elektrostatik dengan muatan positif arginin dan lisin yang merupakan residu apo-B 100. asam lemak. LDL merupakan sumber kolesterol untuk kebanyakan jaringan di dalam tubuh. protein clathrin menyebabkan endositosis. sehingga LDL terdisosiasi dari reseptor.hati dan kebanyakan jaringan ekstrahepatik. konsentrasi LDL dalam plasma memiliki korelasi yang positif dengan kejadian penyakit jantung koroner. . LDL diambil dengan endositosis dengan mediator reseptor LDL. Hati juga mengabsorpsi LDL dengan mekanisme endositosis yang sama. Kira-kira 75% dari LDL diabsorpsi oleh hati. LDL adalah pembawa kolesterol utama di dalam plasma.

HDL yang baru disintesis berbentuk cakram (diskoid). Metabolisme VLDL dan LDL 3.Gambar 6. Akan tetapi. Ester kolesteril yang dihasilkan akan bergerak ke tengah membentuk inti yang non-polar sheingga molekul HDL membulat menjadi HDL3. HDL3 yang terus menerima kolesterol dari jaringan akan membesar dan membentuk HDL2. HDL3 akan menerima kolesterol dari jaringan melalui reseptor SR-B1 (class B scavenger receptor B1). Selama HDL bertambah besar. apoprotein C dan E hanya disintesis di dalam hati sehingga HDL yang disintesis dari usus perlu memperoleh apo-C dan -E dari HDL yang disintesis oleh hati. HDL memerlukan apo-E yang meningkatkan . Aktivasi enzim ini akan menyebabkan esterifikasi kolesterol pada permukaan HDL menjadi ester kolesteril. Metabolisme HDL HDL disintesis dan disekresikan oleh hati dan sel usus. yaitu enzim periferal yang bersirkulasi dengan HDL dan berperan mengkatalisis pemindahan asam lemak rantai panjang dari fosfolipid ke kolesterol untuk membentuk ester kolesterol. sedangkan pada jaringan lainnya reseptor ini membantu penerimaan kolesterol dari jaringan ke HDL. yaitu pada hati dan organ steroidogenik reseptor ini membantu penerimaan kolesterol dari HDL. kolesterol dan apo-A. Apo-A1 merupakan aktivator enzim Lecithin:cholesterol acyltransferase (LCAT). Reseptor SRB1 sebenarnya memiliki peran ganda. dan hanya terdiri atas fosfolipid.

Gambar 7. sedangkan jika fosfolipid pada HDL2 ikut mengalami hidrolisis. Fungsi utama dari HDL yang membawa kolesterol menuju hati adalah untuk memindahkan kolesterol yang berlebih dan membawa kelebihan kolesterol tersebut untuk dimetabolisme menjadi garam empedu. HDL umumnya disebut kolestrerol baik karena HDL merupakan pembawa kolesterol plasma kembali ke hati. Lipoprotein lain ini mentransport kolesterol ester ke hati. maka HDL3 akan kembali terbentuk. Secara umum.afinitas pengikatan pada reseptor di hati. HDL2 lalu menuju hati dan di hati HDL2 akan mengalami hidrolisis. maupun terhadap fosfolipidnya. maka yang tersisa dari molekul HDL hanyalah apo-A. baik hanya terhadap ester kolesterilnya. Fungsi pemindahan kolesterol dari jaringan ini menyebabkan hubungan yang berbanding terbalik antara konsentrasi HDL dalam plasma dan resiko terjadinya penyakit jantung. Jika HDL2 hanya mengalami hidrolisis pada ester kolesterilnya. HDL berfungsi: • Memindahkan (mentransfer) apoprotein ke lipoprotein lain • Memindahkan lipid dari lipoprotein lain • Memindahkan kolesterol dari membran sel • Mengubah kolesterol menjadi kolesterol ester melalui reaksi LCAT • Memindahkan kolesterol ester ke lipoprotein lain melalui CETP. Metabolisme HDL . Apo-A ini dapat diekskresikan melalui ginjal (jika berlebih) atau digunakan kembali untuk membentuk HDL melalui pembentukan pre-β HDL.

4. yang akan menyerahkan kolesterol jaringan kepada HDL. pengambilan kolesterol bebas dari lipoprotein yang kaya akan kolesterol ke membran sel. keseimbangan kolesterol diatur seperti yang terlihat pada gambar di bawah. Gambar 8. misalnya reseptor LDL atau reseptor scavenger. Oleh karena itu. sintesis kolesterol. sedangkan proses pengeluaran kolesterol dari jaringan memerlukan reseptor. Adapun penurunan kolesterol jaringan disebabkan oleh efluk kolesterol dari membran ke HDL melalui ABCA-1 dan SRB1. bahkan kolesterol juga dapat masuk ke dalam jaringan tanpa melalui reseptor. Penerimaan kolesterol ke dalam jaringan lebih mudah terjadi karena adanya berbagai reseptor yang memfasilitasi proses ini. Kolesterol Dalam Jaringan Dalam jaringan. perbandingan jumlah HDL dan LDL juga merupakan faktor penting dalam kasus hiperlipidemia. dan penggunaan kolesterol untuk sintesis senyawa steroid seperti hormon atau asam empedu di hati. esterifikasi kolesterol oleh ACAT (asil-koA:kolesterol asil transferase). seperti SR-B1 dan ABCA1. dan hidrolisis dari ester kolesteril oleh enzim kolesteril ester hidrolase. Kolesterol jaringan meningkat karena adanya pengambilan lipoprotein yang mengandung kolesterol oleh reseptor. selain jumlah HDL dan LDL. Tranpor kolesterol keluar dari dan masuk ke dalam sel .

trigliserida ataupun kombinasi keduanya. hiperlipoproteinemia. kurang dari 70% dalam bentuk ester kolesterol. baik secara primer (disebabkan oleh adanya gangguan-gangguan metabolisme lipid) atau sekunder (komplikasi penyakit lain). 2. ETIOLOGI Hiperlipidemia. 3. antara lain sebagai berikut: 1. Kolesterol juga banyak terdapat dalam lipoprotein plasma darah. Triasilgliserol adalah ester dari alkohol gliserol dengan tiga molekul asam lemak. . Lemak yang mengalami peningkatan ini meliputi kolesterol. Fosfolipid Fosfolipid merupakan suatu gliserida yang mengandung fosfor dalam bentuk ester asam folat. Trigliserida Trigliserida diperoleh dari lemak tumbuhan dan hewan yang terdiri dari campuran triasilgliserol (trigliserida dalam lemak netral). merupakan depot lemak pada sel tumbuhan atau hewan. Senyawa ini banyak terdapat pada hewan dan merupakan komponen membran plasma hewan serta terdapat dalam jumlah lebih sedikit pada membran organel sub seluler. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya hiperlipidemia melalui terganggunya keseimbangan metabolisme lemak ataupun karena asupan konsumsi lemak yang berlebihan akibat life style (gaya hidup). sedangkan hipertrigliserida meningkatkan kasus nyeri perut dan pankreatitis. oleh karenanya fosfolipid adalah suatu fosfogliserid. Hiperkolesterolemia dapat mempertinggi morbiditas dan mortalitas PJK (Penyakit Jantung Koroner). atau dislipidemia adalah keadaan dimana kadar lemak dalam darah meningkat sampai di atas batas normal. Adapun bagian-bagian dari lemak yang dapat menyebabkan terjadinya hiperlipidemia. Kolesterol Merupakan golongan senyawa steroid yaitu sterol (steroid alkohol).BAB III ETIOLOGI DAN KLASIFIKASI HIPERLIPIDEMIA A.

Klasifikasi hiperlipidemia menurut WHO Tipe I II a II b Kolesterol Tinggi Tinggi/normal Tinggi Kolesterol LDL Rendah/normal Tinggi Tinggi Trigliserida Tinggi Normal Tinggi Gangguan Lipoprotein Kilomikron meningkat LDL meningkat LDL dan VLDL meningkat Kilomikron sisa dan IDL meningkat VLDL meningkat Kilomikron dan VLDL meningkat Plasma* Putih susu Kuning jernih Keruh III Tinggi Rendah/normal Tinggi Keruh IV Tinggi/normal Normal Tinggi Keruh V Tinggi Normal Tinggi Putih susu * = perangai plasma setelah didiamkan di dalam lemari es selama semalam . sel dan fungsi organ lainnya yang mengakibatkan keadaan yang tidak normal pada lipoprotein. a. KLASIFIKASI Hiperlipidemia Primer Hiperlipidemia primer ditandai dengan kerusakan genetik yang meliputi kelainan pada protein. asam oleat. hewan dan manusia yang berfungsi sebagai unsur struktural membran. Pada tumbuhan tingkat tinggi dan hewan. 4. Asam lemak Asam lemak adalah asam karboksilat berupa rantai hidrokarbon yang panjang. B. asam linoleat dan asam stearat. terdapat dalam bentuk teresterifikasi sebagai komponen utama dari lipid yang bervariasi.Umumnya terdapat alam sel tumbuhan. Tabel 3. jarang terdapat bebas secara alami. asam lemak yang dominan adalah C16 dan C18 seperti asam-asam palmitat. Pengklasifikasian hiperlipidemia dapat dilihat pada Tabel 3 dan 4.

Klasifikasi hiperlipidemia menurut Fredrickson Tipe Sinonim Buerger-Gruetz syndrome. Nicotinic acid. Gemfibrozil a. or Familial hyperchylomicronemia Polygenic hypercholesterolaemia or Familial hypercholesterolemia Masalah Decreased lipoprotein lipase (LPL) or altered ApoC2 LDL receptor deficiency Decreased LDL receptor and Increased ApoB Defect in ApoE synthesis Increased VLDL production and Decreased elimination Increased VLDL production and Decreased LPL Gambaran Laboratorium Terapi I Elevated Chylomicrons Diet Control IIa Elevated LDL only Bile Acid Sequestrants. . Statins. Primary hyperlipoproteinaemia. Hiperlipoproteinemia tipe I Hiperlipoproteinemia tipe I memperlihatkan hiperkilomikronemia pada waktu puasa yang disebabkan oleh defisiensi enzim lipoprotein lipase (LPL) atau adanya perubahan pada apolipoprotein C2 yang dibutuhkan pada metabolisme kilomikron untuk memecah lemak menjadi asam lemak bebas dan gliserol di jaringan ekstrahepatik. Gemfibrozil Drug of choice: Gemfibrozil IIb Combined hyperlipidemia Elevated LDL and VLDL and Triglycerides III Familial Dysbetalipoproteine Mia Increased IDL IV Endogenous Hyperlipemia Increased VLDL Drug of choice: Nicotinic acid V Familial Hypertriglyceridemia Increased VLDL and Chylomicrons Nicotinic acid.Tabel 4. Nicotinic acid Statins.

• Tipe IIb Pada tipe ini ditandai dengan meningkatnya kadar VLDL meliputi meningkatnya kadar trigliserida. Kelainan tipe I muncul sebelum pasien berusia 10 tahun dengan gejala seperti kolik. nyeri perut.1 % dari populasi. Hingga dengan tahun 1980. Hiperlipoproteinemia tipe II Hiperlipoproteinemia tipe II. presentasi kematian akibat acute cononary sebelum usia 20 tahun menunjukkan angka yang normal yakni 0. selain itu pasien yang menderita Hiperlipoproteinemia tipe I juga dapat mengalami peningkatan kadar LDL-C. Dan pada pemeriksaan biokimia menunjukkan adanya lapisan krem di permukaan plasma pasien puasa. dan xanthelasma (penumpukan lipid di kelopak mata). dimana tipe pembagiannya berdasarkan atas tingginya kadar trigliserida terhadap LDL kolesterol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang menderita Hiperlipoproteinemia tipe II disebabkan adanya perubahan pada gen reseptor LDL yakni pada kromosom 19 (0. tendon xanthomas (penumpukan lipid di otot). xantoma dan hepatosplenomegali.Hiperlipoproteinemia tipe I disebabkan oleh adanya perubahan dari gen reseptor LDL.2%) sehingga kolesterol tidak dapat masuk ke dalam hati dan jaringan ekstrahepatik serta tetap berada di peredaran darah. • Tipe IIa Pasien yang menderita Hiperlipoproteinemia tipe II memiliki presentasi yang tidak terlalu signifikan di dalam populasi.2% dari populasi) atau disebabkan adanya perubahan gen pada Apoprotein B (0. terbagi menjadi dua tipe yakni tipe IIa dan tipe IIb. acetil CoA dan adanya peningkatan sintesis . Sedangkan pada orang dewasa gejala muncul dengan tanda terjadinya penumpukan pada kolesterol seperti corneal arcus (penumpukan lipid di cornea). Seorang pasien yang menderita Hiperlipoproteinemia tipe I memiliki serum level dari LDL-C dua atau tiga kali lebih tinggi dari orang normal. Sehingga sangatlah penting untuk melakukan identifikasi dan pengobatan sejak dini.

tetapi tipe IV yang didapat biasanya bersifat sekunder akibat penyakit lain. Separuh dari penderita ini meningkat kadar trigliseridnya pada umur 25 tahun. . Gejala klinik muncul pada usia pertengahan.dari B-100. Pada kelainan ini kolesterol serum dan trigliserid meningkat (350-800 mg/dl). Kemungkinan terjadinya resiko terkena aterosklerosis pada pasien sekitar 15% bagi mereka yang juga mengalami penyakit jantung pada usia 60 tahun. Pada penderita ini pengambilan sisa kilomikron dan sisa VLDL oleh hati dihambat dan menyebabkan terjadinya akumulasi di darah dan jaringan. Hiperlipoproteinemia tipe III ditandai dengan tingginya kadar kilomikron dan IDL (intermediate density lipoprotein). b. Hiperlipoproteinemia tipe IV Tipe ini ditandai dengan terjadinya peningkatan VLDL dan trigliserida yang kemudian dikenal dengan hipertrigliseridemia. alkoholisme berat atau diet kaya karbohidrat dan biasanya penderita gemuk. Mekanisme kelainan yang familiar tidak diketahui. Gejala klinik muncul pada masa remaja berupa xantoma pada kulit terutama pada siku dan lutut. Hiperlipoproteinemia tipe III Hiperlipoproteinemia tipe III merupakan penyakit keturunan yang sangat jarang sekali ditemui. Penimbunan IDL pada tipe ini disebabkan oleh blokade parsial dalam metabolisme VLDL menjadi LDL dan adanya peningkatan kadar apoprotein E total. Hal tersebut dapat disebabkan oleh menurunnya konsentrasi dari reseptor LDL dan meningkatnya Apoprotein B. Presentasi penderita Hiperlipoproteinemia tipe II mencapai 10% dari populasi.

Hiperlipoproteinemia tipe V Tipe ini memperlihatkan akumulasi VLDL dan kilomikron yang disebabkan ketidakmampuan tubuh untuk memetabolisme dan membuang kelebihan trigliserida sebagaimana mestinya. Kelainan ini jarang ditemukan. Hiperlipoproteinemia tipe V biasanya ditemui pada pasien yang memiliki kelebihan berat badan, menderita diabetes, hyperuricemic dan tidak ditemuinya adanya xanthoma. Secara genetik Hiperlipoproteinemia tipe V bersifat heterogen dan penderita dengan kelainan familial biasanya tidak menunjukkan gejala sampai sesudah usia 20 tahun. c. Hiperlipoproteinemia Sekunder Hiperlipoproteinemia sekunder ditandai dengan kelainan pada lipid sebagai akibat dari kelainan suatu penyakit atau efek samping dari terapi obat dimana hal tersebut tercatat memiliki presentasi hingga 40% dari semua tipe pada hiperlipoproteinemia. Tabel 5. Contoh penyakit dan efek samping dari obat yang menyebabkan hiperlipoproteinemia sekunder. Penyebab penyakit Endokrin/metabolic : Penyebab efek samping obat Diabetes Mellitus Alkohol Von Grierke’s disease Progestins Sexualateliotic dwarfism Thiazide diuretic Acromegaly Β bloker Hypothyroidism Glucocorticoids Anorexia nervosa Androgens Wemer’s syndrome Ciclosporin Acuteintermittent Oral contraceptives porphyria Vitamin A

Renal : Uremia Nephrotic syndrome Hepatic : Primary biliary cirrhosis, Hepatoma, Immunologic, Systemic lupus erythematosis, Monoclonal gammapathies, Stress

2.

HIPERLIPIDEMIA SEKUNDER Hiperlipidemia sekunder ditandai dengan kelainan pada lipid sebagai akibat dari kelainan suatu penyakit atau efek samping dari terapi obat dimana hal tersebut memiliki persentase hingga 40% dari semua tipe pada hiperlipidemia. Penyebab hiperlipidemia sekunder:

Penyebab hipertrigliseridemia 1. Diabetes melitus Pada penderita diabetes melitus, hormon insulin tidak bekerja, oleh karena itu glukagon-lah yang bekerja. Glukagon bekerja dengan 3 mekanisme, yaitu glukogenolisis, glukoneogenesis, dan lipolisis. Pada peristiwa lipolisis, lemak dipecah menjadi asam lemak dan gliserol, asam lemak dalam darah selanjutnya masuk ke hati dan menjadi asil Ko-A. Asil Ko-A akan diesterifikasi dengan gliserol 2. membentuk trigliserida, selanjutnya hal ini mengarah pada hipertrigliseridemia. Gagal ginjal kronis Penderita gagal ginjal tidak dapat melakukan filtrasi dengan baik. Zat-zat yang seharusnya tersaring akan terbuang bersama urin. Apabila zat yang terbuang itu adalah protein, dan protein tersebut merupakan Apo C maka akan berpengaruh pada metabolisme VLDL dan kilomikron. Hal ini disebabkan karena VLDL dan kilomikron membutuhkan Apo C untuk berikatan dengan lipoprotein lipase, untuk selanjutnya memecah VLDL dan kilomikron menjadi asa lemak dan gliserol. Apabila proses ini terhambat, akan terjadi pula peningkatan trigliserida (TGA) karena VLDL dan kilomikron mengandung TGA. 3. Hipotiroidisme Pada penderita hipotiroidisme, kelenjar tiroidnya tidak se-aktif seperti pada orang normal, sehingga hormon tiroksin yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid berkurang. Tiroksin berfungsi merangsang metabolisme karbohidrat, protein, lemak. Kekurangan tiroksin berakibat pada terhambatnya metabolisme lemak intraseluler sehingga kadarnya dalam darah meningkat. 4. Gangguan penyimpanan glikogen

Bila terjadi gangguan penyimpanan glikogen, berarti terdapat gangguan kerja insulin. Selanjutnya mekanisme timbulnya penyakit sama seperti pada diabetes melitus. 5. Stress Stress merangsang keluarnya adrenalin di saraf simpatis. Adrenalin bekerja sama seperti glukagon. Mekanisme selanjutnya sama seperti pada penderita diabetes melitus. 6. 7. Sepsis Alkohol

Penggunaan alkohol akan meningkatkan aktivitas NADH di hati, yang selanjutnya akan meningkatkan produksi asam lemak yang kemudian diesterifikasi dengan gliserol membentuk trigliserida. 8. Lipodistrofi Lipodistrofi adalah perubahan struktur jaringan lemak. Perubahan struktur ini dapat berupa lisis yang akan mengakibatkan tingginya kadar TGA. 9. Kehamilan Kehamilan bagi beberapa wanita dapat mengakibatkan diabetes melitus gestasional. 10. Terapi penggantian hormon estrogen oral Estrogen bekerja di saraf simpatis. Saraf simpatis bila terkena rangsangan akan mengeluarkan neurotransmitter epinefrin, dimana epinefrin bekerja sama seperti glukagon. Mekanisme selanjutnya sama seperti pada penderita diabetes melitus. 11. Obat antihipertensi: beta bloker, diuretik betabloker dan diuretik adalah Efek samping dari obat antihipertensi peningkatan kadar TGA dalam darah 12. 13. Penggunaan glukokortikoid Terapi protease inhibitor Glukokortikoid bersifat katabolik dan diabetogenik akibat lipolisis. Penggunaan protease inhibitor dapat mengakibatkan efek samping berupa penyakit diabetes melitus. 14. Hepatitis akut

FAKTOR RESIKO HIPERLIPIDEMIA Beberapa faktor resiko hiperlipidemia adalah: 1. kolesterol merupakan unsur penting yang diperlukan oleh tubuh. Lupus erythematosus sistemik  Penyebab hiperkolesteronemia Hipotiroidisme Sindrom nefrotik Sindrom nefrotik adalah kelainan ginjal dimana terjadi albuminuria. Tubuh selanjutnya akan mensistesis kolesterol sehingga kadar kolesterol dalam tubuh meningkat.Hepatitis akut menyebabkan kerusakan hati. Kolestasis Kolestatis adalah gangguan sekresi empedu. sehingga bila hati ruseak. Apabila orang tidak makan. ada kemungkinan terjadinya pembuangan proteinprotein lipase ekstrahepatik yang akan menurunkan penggunaan lipoprotein dalam darah. akan terjadi pula gangguan metabolisme lemak. Penyakit obstruktif hati Penggunaan glukokortikoid Terapi protease inhibitor Porfiria intermiten akut C. Karena ada hambatan sekresi empedu. Hati berfungsi untuk memetabolisme lemak. wanita ≥ 55 tahun. 15. Apabila albumin terbuang lewat urin. atau wanita dengan menopause prematur tanpa terapi penggantian estrogen . Kolesterol di hati seharusnya dikeluarkan dalam bentuk asam empedu dan empedu. mengakibatkan kolesterol tidak bisa dikeluarkan sehingga kadarnya dalam darah juga tinggi. Anoreksia nervosa Orang yang menderita penyakit ini tidak akan memiliki nafsu makan. berarti tidak ada pemasukan kolesterol. Usia: Laki-laki ≥ 45 tahun. Padahal.

hanya sekitar 20% penderita yang mengalami kegagalan ginjal. Hal tersebut dikarenakan onset penyakit diabetes pada tipe I lebih cepat. namun pada tipe I prevalensinya lebih tinggi. atau orang yang meminum obat anti hipertensi 5. Tetapi pada tipe II. Penyakit makrovaskuler menjadi penyebab utama kematian pada tipe II disebabkan diabetes tidak tertata laksana dengan baik karena kurangnya kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat. Penyebab utama kematian pada penderita DM tipe 1 adalah gagal ginjal. Demikian pula halnya dengan retinopati. HIPOGLIKEMIA Hipoglikemia adalah keadaan di mana kadar glukosa darah < 60 mg/dL. Merokok sigaret 4.  KOMPLIKASI AKUT A. Hipertensi (≥140/90 mm Hg).2. sedangkan pada penderita tipe II penyebab utama kematian adalah penyakit-penyakit makrovaskuler yang mengawali infark miokard dan stroke. Sejarah keluarga dengan penyakit jantung koroner prematur 3. Pada umumnya gejala-gejala hipoglikemia baru timbul bila kadar glukosa darah < 45 mg/dL. resiko terjadinya retinopati pada tipe I dan tipe II sama. sehingga gagal ginjal akan lebih cepat terjadi dibanding pada tipe II. sekitar 40% penderita mengalami kegagalan ginjal. . Kolesterol HDL yang rendah (<40 mg/dL) BAB IV KOMPLIKASI DIABETES MELITUS Pada tipe I.

palpitasi. Hal ini menyebabkan berkurangnya glukosa ke otak dan menyebabkan timbul gejala–gejala seperti pusing. atau obat hipoglikemia oral yang terlalu banyak pada pengobatan diabetes. Fase 1 Pada awalnya tubuh memberikan respon terhadap rendahnya kadar gula darah dengan melepasakan epinefrin (adrenalin) dari kelenjar adrenal dan beberapa ujung saraf. tidak mampu berkonsentrasi. kejang dan koma. Hal ini paling sering terjadi pada orang yang memakai insulin atau obat hipoglikemik peroral. Epinefrin merangsang pelepasan gula dari cadangan tubuh tetapi juga menyebabkan gejala yang menyerupai serangan kecemasan seperti berkeringat. 2 Fase 2 Hipoglikemia yang lebih berat yaitu terjadinya gangguan fungsi otak yang dinamakan juga gejala neurologi. lemah. lelah. gemetar. Gejala-gejala hipoglikemia adalah: 1. EFEK SOMOGYI Terjadinya hiperglikemia pada pagi hari dapat disebabkan oleh durasi yang lebih pendek dari waktu yang sudah diantisipasi dari insulin dengan efek awal yang ditetapkan untuk meningkatkan glukosa. atau oleh obat hipoglikemia yang diberikan pada malam hari yang dapat menyebabkan terjadinya lonjakan hiperglikemia (efek somogyi) pada pagi hari. B. Gejala yang menyerupai kecemasan maupun gangguan fungsi otak bisa terjadi secara perlahan maupun secara tiba-tiba. Gejala ini merupakan gejala awal karena pasein masih sadar dan dapat cepat dilakukan tindakan.Hipoglikemia dapat terjadi karena:  Pemakaian insulin. gelisah. gangguan penglihatan. jantung berdebar-debar dan kadang rasa lapar serta mual. jumlah kalori atau waktu makan tidak tepat. bingung. sakit kepala.  Asupan makan tidak adekuat . Penetapan ukuran kadar glukosa darah . perilaku yang tidak biasa. yaitu terjadinya penurunan respon hormonal (adrenergik) terhadap hipoglikemia.

Badan keton akan terakumulasi di dalam darah dan akan dikeluarkan dari tubuh melalui urin. kondisi ketoasidosis dapat terjadi kapan saja terutama pada penderita Diabetes Melitus tipe 1. Namun karena penggunaan lemak tidak dapat sempurna dibakar. C. Jika terjadi reaksi Somogyi ini. berkeringat yang berlebih di malam hari ) dapat membantu membedakan penyebabnya. Keadaan tersebut merupakan keadaan serius yang dapat mengancam jiwa. rasa haus. maka akan dihasilkan suatu zat yang disebut badan keton. dosis insulin harus dirubah. Hormon insulin diperlukan pada proses penyerapan nutrisi agar gula dapat masuk ke dalam sel guna didistribusikan ke seluruh tubuh untuk dijadikan sumber energi. rasa dehidrasi. KETOASIDOSIS Ketoasidosis adalah salah satu komplikasi akut diabetes melitus yang terjadi disebabkan karena kadar glukosa pada darah sangat tinggi. Ketika kadar hormon insulin dalam darah ditingkat rendah. muntah. Menanyakan kepada pasien tentang gejala hipoglikemia pada malam hari ( mimpi buruk. tubuh akan mengkompensasikannya dengan cara menggunakan lemak sebagai sumber energi alternatif. intensitas buang air kecil jadi lebih sering (poliuria). mulut kering. Gejala-gejala yang pertama kali timbul sama seperti gejala-gejala Diabetes Melitus yang tidak diobati. Acapkali terjadinya ketoasidosis diawali dari tidak patuhnya pasien pada pola diet yang telah ditetapkan. Tidak jarang penetapan ukuran kadar juga tetap dibutuhkan lebih dari jam 3 dini hari. Hormon insulin juga membantu menyimpan cadangan lemak di sel lemak dari hasil pencernaan makanan. Keadaaan kadar insulin pada darah yang rendah menyebabkan kadar glukosa pada darah menjadi tinggi. maka gula tidak dapat masuk kedalam sel untuk diproses menjadi sumber energi. yakni. dan nyeri perut bisa juga terjadi. rasa mengantuk dan yang paling berat keadaan koma. Penyebab terjadinya ketoasidosis dikaitkan dengan kadar hormon insulin pada darah yang rendah. . Gejala lainnya seperti mual. Jika demikian. Gejala-gejala selanjutnya dapat berupa seperti kesulitan bernafas.pada dini hari (sekitar pukul 3 pagi) akan diturunkan karena dapat menyebabkan hiperglikemia pada pagi hari.

D. Keadaan ketoasidosis memerlukan penanganan medis segera. yang bisa menyebabkan kebingungan mental. Jarang terjadi ketoasidosis. Jika kekurangan insulin semakin parah. sehingga penderita harus cepat dibawa ke rumah sakit. suatu keadaan yang disebut koma hiperglikemik-hiperosmolar non. kejang. Hal ini dapat terjadi terutama pada anak-anak dengan diabetes ketoasidosis. KOMA NON KETOTIK HIPERGLIKEMIA HIPEROSMOLAR Penderita diabetes tipe II bisa tidak menunjukkan gejala-gejala selama beberapa tahun. Keadaan darah yang menjadi lebih asam disebut ketoasidosis. maka timbullah gejala yang berupa sering berkemih dan sering merasa haus. Meningkatnya kadar glukosa urin akan menyebabkan volume urin bertambah sehingga cairan didalam tubuh akan berkurang. pusing. karena dapat menyababkab pembengkakan serebral.ketotik. Terjadinya dehidrasi dan terbentuknya badan keton membuat darah menjadi lebih asam.000 mg/dL. Proses terjadinya koma pada ketoasidosis lebih bertahap dibandingkan terjadinya koma hipoglikemia.Terdapatnya badan keton didalam urin disebut ketonuria. Biasanya terjadi dehidrasi yang berat jika kadar gula darah meningkat (sampai lebih dari 1. Pengobatan yang harus segera diberikan adalah penyuntikan hormon insulin dan mengganti cairan tubuh yang hilang dan kadar ion kalium pada darah yang turut berkurang akibat peningkatan frekuensi buang air kecil (poliuria). Ketika kondisi tubuh mengalami kondisi dehidrasi. Kecepatan perbaikan kadar glukosa darah tidak dianjurkan. Pada kasus ini banyak terjadi kematin. maka akan menimbulkan gejala-gejala antara lain rasa haus dan mulut kering yang merupakan tanda khas dari kadar glukosa darah yang tinggi. biasanya terjadi akibat stres-misalnya infeksi atau obat-obatan). Kadar glukosa darah yang tinggi akan menyebabkan kadarnya di urin meningkat.  KOMPLIKASI KRONIS . Kadar glukosa darah harus diturunkan dengan berangsur-angsur dengan cairan hipotonik dan diberi infus insulin dosis rendah (1-2 unit/h).

Asam lemak bebas dihasilkan sebagai hasil dari lipolisis di jaringan adiposa dan akan dibawa ke dalam hati dan diesterifikasi menjadi triasilgliserol (TAG). Mekanisme terjadinya arterosklerosis: Peningkatan lipolisis dapat menyebabkan peningkatan asam lemak bebas dalam plasma darah. Selanjutnya IDL akan diubah menjadi LDL dan VLDL dalam darah meningkat.A. Sehingga sintesis VLDL-trigliserida oleh hati juga meningkat. Jadi. Aterosklerosis Aterosklerosis pembuluh koroner merupakan penyebab arteria koronaria yang paling sering ditemukan. Keadaan hiperglikemia akan mempercepat proses oksidasi LDL. Hiperlipidemia Pada penderita diabetes terjadinya defisiensi insulin menyebabkan hormon glukagon bekerja merangsang aktivitas lipase sensitif hormon di jaringan adiposa menyebabkan peningkatan lipolisis dan bertambahnya pasokan asam lemak bebas ke hati. 2. TAG dan kolesterol dibawa oleh VLDL keluar dari hati. Bila lumen menyempit maka resistensi terhadap aliran darah yang meningkat. Kemudian TAG dalam VLDL dihidrolisis oleh enzim lipoprotein lipase menjadi asam lemak bebas dalam jaringan ekstrahepatik. Akan tetapi pada penderita diabetes terjadi peningkatan lipolisis VLDL-trigliserida yang menyebabkan meningkatnya asam lemak bebas dalam plasma darah. Hiperlipidemia yang terjadi pada penderita diabetes dapat menyebabkan terjadinya arterosklerosis. KOMPLIKASI PADA SISTEM KARDIOVASKULAR 1. pada . Salah satu fungsi insulin meningkatkan aktivitas lipoprotein lipase sehingga jumlah asam lemak yang berasal dari lipoprotein digunakan untuk sel. Bila penyakit ini semakin lanjut. maka penyempitan lumen akan diikuti perubahan vaskular yang mengurangi kemampuan pembuluh untuk melebar. dan membahayakan aliran darah miokardium. sehingga secara progresif mempersempit lumen pembuluh darah. keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen menjadi penting dan membahayakan miokardium distal dari daerah lesi. Ateroklerosis menyebabkan penimbunan lipid dan jaringan fibrosa dalam arteri koronaria. sedangkan VLDL berubah menjadi IDL.

yaitu sindrom dimana pasien mengalami serangan pada saat istirahat. disebabkan karena aktivitas fisik atau tekanan emosional. Angina klasik. Oksidasi dari LDL menstimulasi monosit masuk ke dalam intima pembuluh darah dan terjadi proses fagositosis kolesterol yang dianggap benda asing oleh makrofag menjadi sel busa (foam cell). Adanya ateroma akan menyebabkan pembuluh darah menebal dan elastisitasnya berkurang menyebabkan lumen pembuluh darah menyempit dan terjadi kerusakan endotel menyebabkan aterosklerosis. Angina Tidak Stabil (Crescendo angina atau Preinfarction angina). Tipe angina : a. ginjal merespon dengan mengaktifkan sistem renin-angiotesin yang menyebabkan vasokonstriksi dan retensi air. Pada angina jenis ini terjadi ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen tanpa terjadinya aterosklerosis. c. Small dense LDL akan meningkatkan sentivitas LDL menjadi teroksidasi. terjadi hanya beberapa menit. . Angina prinzmetal. Angina Pektoris Angina pektoris adalah sindrom klinis dimana pasien mendapat serangan nyeri di dada yang seringkali menjalar ke lengan kiri. Hipertensi Salah satu penyebab utama hipertensi sekunder adalah stenosis (penyempitan) arteri renal sebagai hasil dari aterosklerosis pada arteri renal. Serangan biasanya terjadi selama 30 detik sampai 30 menit. thrombosis koroner atau vasospasme. Biasanya serangan terjadi terjadi pada pagi hari. Sebagai hasil dari penurunan aliran darah ginjal yang menyertai penyempitan pembuluh darah. disebabkan oleh aterosklerosis stenosis. 3. Lama kelamaan sel busa yang terbentuk menyebabkan terjadinya ateroma (plak) yang terdegenerasi dan menebal atau sumbatan fibrous atau jaringan ikat tipis yang kaya sekali dengan kandungan lipid. dapat diatasi dengan pemberin Nitrogliserin atau istirahat b.pasien DM ukuran partikel LDLnya kecil (small dense LDL). 4.

yaitu rekaman grafik aksi sisa sel. Iskemia yang bersifat sementara akan menyebabkan perubahan reversible pada tingkat sel dan jaringan dan menekan fungsi miokardium. 6. Iskemia Kebutuhan akan oksigen yang melebihi kapasitas oleh pembuluh yang terserang penyakit menyebabkan iskemia miokardium lokal. sedangkan disfungsi ventrikel kanan atau gagal jantung kanan mengakibatkan kongesti vena sistemik. Perubahan ini bermanifestasi sebagai bentuk potensial aksi. KOMPLIKASI PADA SISTEM SARAF PERIFER . Pada stroke terjadi hipoksia serebrum yang menyebabkan cedera dan kematian sel-sel neuron. 7. akibat embolus yang mengalir dari bagian tubuh lain. Stroke Stroke adalah cedera otak yang berkaitan dengan aliran darah otak. Kerusakan otak karena stroke terjadi akibat pembengkakan dan edema yang timbul dalam 24-72 jam pertama setelah kematian sel-sel neuron. Gagal Jantung Kongestif Gagal jantung kongestif merupakan kongesti sirkulasi akibat disfungsi miokardium. Aritmia atau gangguan irama jantung Aritmia timbul akibat perubahan elekrofisiologi sel-sel miokardium. atau adanya perdarahan otak. stroke dapat terjadi akibat pembentukan thrombus pada arteri serebrum. Manifestasi klinis gagal jantung mencerminkan derajat kerusakan miokardium dan kemampuan serta besarnya respon kompensasi. B. Kegagalan pada kedua ventrikel dinamakan gagal biventrikular. 8.5. Disfungsi ventrikel kiri atau gagal jantung kiri menimbulkan kongesti pada vena pulmonalis.

yang akhirnya menyebabkan demielinisasi segmental sel-sel saraf. Demielinisasi menyebabkan perlambatan hantaran saraf dan berkurangnya sensitifitas. hipotensi ortostatik. Sel-sel penunjang saraf. Hilangnya sensasi suhu dan nyeri meningkatkan kemungkinan pasien mengalami cidera yang parah dan tidak disadari. seperti frekuensi jantung yang meningkat tetapi menetap. . Polineuropati sensorik Tipe neuropati ini sering disebut neuropati perifer. penurunan sensibilitas nyeri dan suhu membuat penderita neuropati beresiko untuk mengalami cedera dan infeksi pada kaki tanpa diketahui. kesemutan atau peningkatan kepekaan) b. rasa terbakar (khususnya pada malam hari) c. otonom dan spinal. Neuropati otonom Neuropati pada system saraf otonom mengakibatkan berbagai disfungsi yang mengenai hamper seluruh system organ tubuh. sel Schwann. dan infrak miokard tanpa nyeri Terdapat 2 tipe neuropati yang sering dijumpai adalah polineuropati sensorik dan neuropati otonom. Neuropati diabetik mengacu pada sekelompok penyakit yang menyerang semua tipe saraf. termasuk saraf perifer (sensorimotor). khususnya saraf ekstremitas bawah. 1. Kelainan tersebut tampak beragam secara klinis dan bergantung pada lokasi sel saraf yang terkena. Ada beberapa akibat utama dari neuropati otonom : • kardiovaskular. Saraf yang dipengaruhi oleh diabetes adalah saraf somatik dan saraf otonom. 2. Neuropati disebabkan keadaan kronik hipoksia dari jaringan saraf. baik sensorik maupun motorik. penurunan fungsi proprioseptif dan penurunansensibilitas terhadap sentuhan ringan d. yang sering mengenai distal serabut saraf. mulai menggunakan metode-metode alternatif untuk menangani beban peningkatan glukosa kronik. gejala permulaan adalah : a.Pada penderita diabetes jangka panjang dapat menyebabkan gangguan pada sistem saraf perifer. penyakit ini dinamakan neuropati. parestesia (rasa tertusuk-tusuk.

atau dingin pada tangan dan kaki mereka. Kaki Diabetik Neuropati diabetik menyebabkan penderita diabetes tidak dapat merasakan apa-apa ketika kaki mendapatkan tekanan sehingga terbentuk kalus. Secara umum. mereka akan tetap menggunakan sepatu yang dapat menyebabkan trauma pada kaki. kembung. Luka pada kaki dapat menjadi buruk karena penderita diabetes tidak menyadari adanya luka tersebut.• gastrointestinal. penderita diabetes tidak akan dapat merasakan sakit. Manifestasi klinis kelainan saraf otonom adalah gangguan produksi keringat sehingga kaki menjadi tidak berkeringat. retensi urin. dan sensorik. tingginya kadar gula darah dapat menyebabkan dua hal pada kaki penderita diabetes. disebut juga neuropati diabetik. panas. kalus menjadi lembek dan mencair lalu lepas dari luka. Kerusakan saraf dapat juga menyebabkan infeksi. muntah. maka dapat pula menimbulkan ulserasi. Selanjutnya luka akan terinfeksi dan jika tidak ditangani secara memadai akan meluas dan mungkin harus diambil tindakan amputasi. Kerusakan saraf Masalah pertama yang timbul adalah kerusakan saraf di tangan dan kaki. Kehilangan rasa ini disebabkan kerusakan saraf. motorik. Kelainan saraf terbagi menjadi kelainan saraf otonom. kelambanan pengosongan lambung dapat terjadi dengan gejala khas seperti perasaan cepat kenyang. penurunan kemampuan untuk merasakan disfungsi seksual. mual. selain itu dapat terjadi hiperfluktuasi kada glukosa darah. satu komplikasi diabetes yang paling ditakuti. sedangkan di bagian tubuh lain berkeringat. Kelainan saraf motorik meliputi atrofi dan melemahnya otot-otot kaki. yakni: 1. Dengan saraf yang telah rusak. . terutama di daerah telapak kaki. khususnya impotensi seksual merupakan salah kandung kemih yang penuh. Karena tekanan terus-menerus. • • urinarius. Oleh karena kelainan saraf motorik biasanya diikuti hilangnya sensorik. Jika perubahan tersebut tidak disadari oleh pasien.

regenerasi akan sangat sulit. Luka tersebut dapat menjadi awal terjadinya infeksi dan berkembang sampai ke jaringan yang lebih dalam sehingga membutuhkan amputasi sebagai tata laksana. terdapat pula kelainan saraf sensorik. misalnya kaki anda terluka karena penggunaan sepatu yang sempit. Keluhannya adalah kesemutan saat tidur dan berlanjut pada kelemahan organ gerak. Awalnya. Kelainan saraf sensorik sering menjadi komponen utama terjadinya ulserasi dan amputasi pada kaki penyandang diabetes. Aliran darah yang terganggu Masalah kedua adalah ketika tidak cukupnya aliran darah ke tangan dan kaki. Anda tidak menyadari dan tidak merasakan sakit karena adanya kerusakan . Sebagai gambaran. pengidap akan mengalami proses kehilangan rasa. serta lebih terasa sakit pada malam hari. 2. Bahkan. Masalah ini disebut penyakit vaskular perifer.Selain kelainan saraf otonom dan motorik. Ditambah lagi dengan rentannya penyandang diabetes terhadap risiko infeksi karena daya tahan tubuh yang menurun. akan semakin memperbesar risiko mengalami komplikasi kaki diabetik. Salah satu faktor risiko kaki diabetes adalah penyakit arteri perifer. kaki kram dan sakit hebat jika digerakkan. Gejala yang sering dirasakan yaitu kaki terasa terbakar dan bergetar sendiri. Tingginya kadar gula darah mengakibatkan gangguan antaran listrik pada serabut saraf perifer (tepi) dan merusak pembuluh darah kapiler. Penderita diabetes yang merokok akan makin memperburuk aliran darahnya. Akibat menurun atau hilangnya kemampuan merasakan sakit. Penderita diabetes yang mengalami neuropati harus melakukan perawatan kaki yang memadai. tahap selanjutnya meningkat pada hypaesthesia (baal). Kalau tahap paraesthesia (kesemutan) sudah terlampaui. Kedua masalah di atas dapat menyebabkan terjadinya kaki diabetik. Inilah yang mengakibatkan kesemutan dan bila serabut saraf tepi dan pembuluh darah kapiler sudah rusak. penyandang diabetes dengan kelainan saraf sensorik sering tidak menyadari adanya luka di kaki hingga luka tersebut bertambah parah. Aliran darah yang buruk akan menyebabkan luka atau infeksi sukar sembuh. sampai akhirnya anaesthesia (hilang rasa sama sekali).

Hal ini diperparah dengan aliran darah kaki yang buruk sehingga memperlambat proses penyembuhan luka. . terbentuk ‘cotton wool spot’. KOMPLIKASI PADA PENGLIHATAN 1. Retinopati proliferatif (malignant retinopathy). c. Kuman kemudian berkembang biak dan menyebabkan infeksi bertambah buruk. Kebocoran pembuluh darah yang rapuh ini memperparah kerusakan retina. Pengontrolan kadar gula darah yang tidak baik akan memperparah retinopati. luka yang awalnya kecil itu akan terinfeksi. dokter dapat mengambil tindakan operasi untuk memotong jari kaki atau bagian dari kaki yang terinfeksi. Untuk mencegah gangren meluas. pendarahan. Retinopati Retinopati terjadi pada penderita yang telah menderita diabetes selama bertahun-tahun. Terdapat tiga kategori retinopati diabetic: a. Selanjutnya. b. eksudat. Pemotongan bagian tubuh ini dikenal dengan istilah amputasi. Pada penyandang diabetes. sehingga merusak kemampuan penglihatan. Kurang lebih 50% penderita diabetes akan mengalami retinopati setelah 10 tahun. ditandai dengan iskemi arteri. Retinopati preproliferatif. yakni daerah lesi yang kecil pada mata. Infeksi yang tidak ditangani dengan segera dapat menyebabkan gangren. kadar gula dalam darah yang tinggi merupakan makanan bagi kuman. Terjadi bila pembuluh darah kecil yang terdapat di belakang mata rusak sehingga terjadi kebocoran protein dan darah ke retina. C. Pada gangren. sehingga daerah di sekitar luka tersebut akan berwarna kehitaman dan menimbulkan bau. Retinopati sederhana (background/ simple retinopathy). Diabetes merupakan penyebab umum non-traumatik kasus amputasi kaki. terdiri dari pembuluh darah yang baru namun rapuh terbentuk (neovaskularisasi). terdiri dari mikroaneurisme. dan udem pada retina. dan 80% akan mengalami retinopati setelah 15 tahun.saraf pada kaki anda. kulit dan jaringan di sekitar luka tersebut akan mati (nekrotik).

Katarak Katarak adalah penurunan progresif kejernihan lensa mata yang ditandai dengan lensa mata menjadi keruh atau berwarna putih abu-abu. yaitu glaukoma sudut terbuka dan glaukoma sudut tertutup (open-angle glaucoma and close-angle glaucoma). tetapi saluran tidak sepenuhnya tertutup. Glaukoma merupakan penyebab utama kebutaan (berdasarkan data di Amerika Serikat). Glaukoma Glaukoma adalah suatu penyakit yang ditandai dengan adanya peningkatan tekanan intraokuler (melebihi 20 mmHg). Pada pasien diabetes melitus. Kadar glukosa yang tinggi pada pasien diabetes menyebabkan glukosa menumpuk di lensa mata.2. Katarak yang terjadi pada penderita diabetes mirip dengan senile cataract. namun glukosa tersebut tidak dapat keluar sehingga lama-kelamaan akan tereduksi menjadi sorbitol. sehingga ketajaman penglihatan berkurang. Tekanan yang sangat tinggi menyebabkan penekanan saraf optikus sehingga terjadi kematian serat-serat saraf. Ada 2 tipe glaukoma. Pada glaukoma sudut terbuka juga terjadi obstruksi aliran aqueous humor. Penumpukan inilah yang menyebabkan pengaburan pada lensa mata. Namun pada penderita diabetes. D. yakni katarak yang sering terjadi pada orang usia lanjut. terjadinya hipertensi (hilangnya elastisitas pada pembuluh) pada saluran yang berperan dalam mengalirkan aqueous humor di dalam bola mata juga berperan menyebabkan glaukoma. KOMPLIKASI PADA MULUT . perkembangan penyakit lebih cepat. Glaukoma disebabkan oleh obstruksi atau hambatan aliran aqueous humor. 3. Peningkatan tekanan dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan kerusakan saraf sehingga terjadi gangguan penglihatan. Glaukoma sudut tertutup terjadi karena adanya obstruksi aliran aqueous humor melalui jaringan trabekuler oleh peripheral iris. Adanya sumbatan pada saluran ini menyebabkan aqueous humor tidak dapat mengalir sehingga aqueous humor yang terjerap tersebut menyebabkan peningkatan tekanan intraokular.

Merokok meningkatkan resiko terkena penyakit mulut. Manifestasi penyakit mulut tersebut antara lain: gigi tercabut. sehingga mulut terasa kering. kadar gula yang tinggi pada saliva menyuburkan pertumbuhan bakteri pada mulut sehingga menyebabkan penyakit mulut. infeksi. dan penderita menjadi lebih rentan terhadap infeksi. sehingga aliran oksigen dan nutrisi ke mulut berkurang dan memperlambat pengeluaran ‘limbah’ yang berbahaya dari mulut. Mulut kering (xerostomia) DM yang tidak terkontrol menyebabkan penurunan aliran saliva. mulut kering. Diabetes dapat menyebabkan pembuluh darah menebal dan kurang elastis. serta disfungsi indra pengecap dan lidah. Penderita DM rentan terhadap masalah-masalah dalam rongga mulut seperti: 1.Seperti halnya komplikasi diabetes lainnya. Jadi bila aliran saliva menurun maka akan menyebabkan timbulnya rasa tak nyaman. karang gigi. monosit dan makrofag yang berfungsi untuk pertahanan tubuh. Di tambah lagi dengan adanya peningkatan kadar sel radang dalam cairan saku gusi. komplikasi pada mulut berkaitan dengan buruknya kontrol kadar gula darah. dan manifestasinya lebih parah. di mana alirannya dapat berfungsi sebagai pembilas sisa-sisa makanan dan kotoran dari dalam mulut. Hal ini menyebabkan kemampuan tubuh untuk melawan bakteri menjadi menurun. infeksi bakteri dan jamur. rasa sakit pada lidah. menyebabkan jaringan periodontal lebih mudah terinfeksi dan menyebabkan kerusakan tulang Penderita diabetes dengan kontrol gula darah yang buruk mempunyai resiko lebih tinggi untuk terkena penyakit mulut. mulut serasa terbakar. Saliva memiliki efek self-cleansing. Selain itu. Lambatnya aliran darah ini menurunkan kemampuan tubuh untuk memerangi infeksi. Jadi infeksi bakteri pada . dan lubang gigi. 2. lebih rentan untuk terjadinya ulserasi (luka). Diabetes yang tidak terkontrol mengganggu sel darah putih dan sel-sel imun seperti neutrofil. sedangkan periodontitis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Radang gusi (gingivitis) dan radang jaringan periodontal (periodontitis) Komplikasi lain dari DM adalah menebalnya pembuluh darah sehingga memperlambat aliran nutrisi dan produk sisa dari tubuh.

Sebagai respon dari penurunan aliran darah ginjal. 3. KOMPLIKASI PADA GINJAL Ginjal adalah organ yang berperan penting untuk pembuangan produk sisa metabolisme dari tubuh. Oral thrush Penderita diabetes yang sering mengkonsumsi antibiotik untuk memerangi infeksi sangat rentan mengalami infeksi jamur pada mulut dan lidah. dan faktor sistemik atau kondisi tubuh secara umum. Ginjal juga berperan pada pengaturan tekanan darah. resiko terjadinya infeksi jamur jauh lebih besar. Rusaknya jaringan periodontal membuat gusi tidak lagi melekat ke gigi. renin berinteraksi dengan protein . Pengaturan aliran darah oleh ginjal: Sel khusus yang terdapat pada dinding aferen arteri glomerulus yang disebut sel juxtaglomerular mampu memonitor aliran darah yang melalui arteriol renal. dan lama kelamaan gigi menjadi goyang. Dalam sirkulasi darah. Apalagi penderita diabetes yang merokok. tulang menjadi rusak. penghantaran oksigen. E.penderita diabetes lebih berat. dan proses filtasi. Angka kasus penyakit periodontal di masyarakat cukup tinggi meski banyak yang tidak menyadarinya. kalkulus (karang gigi). dan eritropoeisis. dan penyakit ini merupakan penyebab utama hilangnya gigi pada orang dewasa. Untuk menjaga fungsi normal ginjal aliran darah yang melewati kapiler glomerular harus adekuat. Peningkatan tekanan darah yang kronik pada ginjal dapat merusak pembuluh darah ginjal sehingga mempengaruhi aliran darah ke ginjal. di antaranya akumulasi plak. Berkurangnya aliran darah ke ginjal dapat mengaktivasi sistem renin-angiotensin yang menyebabkan bertambahnya peningkatan tekanan darah. Kerusakan ginjal yang disebabkan hipertensi diperparah pada pasien diabetes. Hal ini dapat menyebabkan insufisiensi ginjal yang selanjutnya dapat berkembang menjadi gagal ginjal. sel tersebut melepaskan enzim renin ke sirkulasi darah. Ada banyak faktor yang menjadi pencetus atau yang memperberat periodontitis. volume darah.

Namun. Pada aterosklerosis. diabetes. Impotensi adalah ketidakmampuan pria untuk mencapai atau mempertahankan ereksi. hipertensi. F. Salah satu penyebab fisik utama impotensi adalah aterosklerosis arteri-arteri penis. Ada beberapa adaptasi fisiologis yang terjadi di ginjal untuk merespon gagal ginjal kronik. Angiotensin I dengan adanya angiotensin-converting enzyme (ACE) diubah menjadi angiotensin II. pelepasan aldosteron oleh kelenjar adrenal sehingga meningkatkan reabsorpsi air dan garam oleh tubulus ginjal. Impotensi dapat timbul sekali-kali. ACE ditemukan pada sel endotelial pembuluh darah paruparu. Angiotensin II menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah. antara lain meningkatkan aliran darah ginjal dan GFR serta hipertrofi nefron. adaptasi ini dapat membantu. aliran darah ke penis berkurang dan terjadi penurunan kemampuan arteri tersebut untuk berdilatasi sewaktu perangsangan seksual. Gagal ginjal kronik dapat disebabkan oleh obstruksi ginjal. Impotensi dapat diakibatkan oleh oleh faktor fisik atau fisiologi.(angiotensinogen) dan membentuk peptide baru yang bernama angiotensin I. dalam jangka waktu panjang. KOMPLIKASI PADA GENITALIA Pria yang menderita DM dapat mengalami impotensi. sering atau setiap kali pria berusaha untuk berhubungan kelamin. Gagal ginjal kronik Gagal ginjal kronik merupakan hasil dari kerusakan ginjal progresif dan berkurangnya fungsi ginjal. peningkatan retensi air dan garam oleh ginjal. . peningkatan tekanan pada ginjal dan peningkatan kebutuhan oksigen dapat menyebabkan kerusakan nefron lebih lanjut dan kegagalan ginjal yang lebih parah. Untu jangka waktu singkat. dan nefronsklerosis (aterosklerosis pada arteri ginjal).

dan proliferasi sel otot polos. adalah suatu keadaan pada arteri besar dan kecil dimana terjadi penimbunan lemak. makrofag. dan arteri-arteri serebrum.Akibat dari peradangan ini dapat merangsang proliferasi sel otot-otot polos tumbuh kedalam tunika intima. pembentukan jaringan parut. maka agregasi trombosit meningkat dan mulai terbentuk bekuan darah (trombus).BAB V KOMPLIKASI HIPERLIPIDEMIA A. trombosit.Kolesterol dan lemak plasma dapat masuk ke tunika intima karena permeabilitas endotel meningkat. dan sel-sel darah putih lainnya di seluruh kedalaman tunika intima/lapisan dalam (lapisan sel endotel) dan akhirnya ke tunika media/lapisan tengah (lapisan otot polos).Apabila cedera dan peradangan terus berlanjut. Daerah aterosklerotik pada suatu arteri disebut plak. sehingga terjadi pelepasan peptida-peptida vasoaktif dan penimbunan makrofag dan trombosit di luar dan di dalam arteri. Semua faktor ini menyebabkan berkurangnya garis tengah arteri dan peningkatan kekakuan. Cedera pada sel-sel endotel mencetuskan reaksi peradangan dan imun. Aterosklerosis KOMPLIKASI PADA SISTEM KARDIOVASKULER Aterosklerosis. integritas sel endotel terganggu dan permeabilitas sel-sel endotel terhadap berbagai bahan didalam plasma meningkat sehingga bahan-bahan tersebut memiliki akses kedalam arteri. Tahap awal dalam pembentukan aterosklerosis tampaknya adalah cedera pada sel-sel endotel yang melapisi lumen arteri. 1. . Sebagian dinding pembuluh diganti oleh jaringan parut sehingga struktur dinding berubah. pembentukan bekuan yang berasal dari trombosit. atau pengerasan arteri.Hasil akhirnya adalah penimbunan kolesterol dan lemak. Arteri yang paling sering terkena adalah arteri koroner. aorta. Akibat cedera.

masuk ke lapisan dinding pembuluh darah yang lebih dalam yaitu intima. kemudian memicu terjadinya disfungsi endothelium dan rangkaian interaksi antar sel yang berakhir pada aterosklerosis. Kolesterol yang berlebihan dalam darah akan mudah melekat pada dinding sebelah dalam pembuluh darah. Hipotesis respon terhadap luka menyatakan bahwa faktor resiko seperti LDL teroksidasi. atau infeksi menginduksi terjadinya perubahan pada endothelium dan fungsi utama. luka mekanik pada endothelium. LDL-teroksidasi akan memacu terbentuknya zat yang dpat melekatkan dan menarik monosit (salah satu jenis sel darah putih) menembus lapisan endotel dan masuk ke dalam intima disamping itu LDL-teroksidasi juga menghasilkan zat yang dapat mengubah monosit yang telah masuk ke dalam intima menjadi makrofag. Sel busa yang terbentuk akan saling berikatan membentuk gumpalan yang makin lama makin besar sehingga membentuk benjolan yang mengakibatkan penyempitan lumen pembuluh darah. homosistein yang berlebihan. trigliserida. serta penurunan HDL berkaitan dengan berkembangnya penyakit jantung koroner.Faktor Resiko Aterosklerosis Kadar kolesterol serum dan trigliserida yang tinggi dalam darah (hiperlipidemia) dapat menyebabkan pembentukan aterosklerosis. Peningkatan kolesterol total dan LDL. Sementara itu LDL-teroksidasi akan mengalami oksidasi tahap kedua menjadi LDL yang teroksidasi sempurna yang dapat mengubah makrofag menjadi sel busa. Pada aterosklerosis. Selanjutnya. Makin kecil ukuran LDL atau makin tinggi kepadatannya makin mudah pula LDL tersebut menyusup ke dalam intima. pengendapan lemak yang disebut sel-sel buih ditemukan di seluruh kedalaman tunika intima dan meluas kedalam tunika media. serangan imunologis. LDL yang telah menyusup ke dalam intima akan mengalami oksidasi tahap pertama sehingga terbentuk LDL yang teroksidasi. dan phospholipid ditransformasikan sebagai kompleks lemak dan protein. Keadaan ini akan semakin memburuk karena LDL akan teroksidasi sempurna juga merangsang sel-sel otot pada lapisan pembuluh darah yang lebih dalam (media) untuk masuk ke lapisan intima dan kemudian akan membelah-belah . Kolesterol. LDL akan menembus dinding pembuluh darah melalui lapisan sel endotel.

pembentukan trombus. Sitokin interferon-γ diproduksi pada limfosit T. LDL teroksidasi memicu respon inflamasi yang diperantarai oleh sejumlah chemoattractans dan sitokin. dan proliferasi sel otot polos.diri sehingga jumlahnya semakin banyak. Hipertensi Dapat timbul hipertensi akibat aterosklerosis yang lama. Sehingga sel-sel otot pada pembuluh darah mengalami kekakuan atau elastisitasnya berkurang. Penampang melintang arteri pada keadaan normal dan pada aterosklerosis b. Gambar 9. maka lumen arteri berkurang dan resistensi terhadap aliran darah yang melintasi arteri meningkat. jaringan parut. menghambat kemampuan sel-sel otot yang lembut untuk mensintesis kolagen. Karena. Ventrikel kiri harus memompa secara lebih kuat untuk menghasilkan . Proses terjadinya aterosklerosis Gambar 10.

Pada orang sehat. e. Iskemia Iskemia merupakan suatu kondisi yang disebabkan ketidakseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan oksigen di jaringan. c. timbul iskemia. maka tidak terjadi vasodilatasi untuk merespons meningkatnya kebutuhan oksigen.Kerusakan otak karena stroke.Apabila arteri koroner kaku atau menyempit karena terjadi arterosklerosis dan tidak dapat berdilatasi untuk merespons meningkatnya kebutuhan oksigen. maka timbul iskemia miokard. Sel-sel miokard . atau akibat embolus yang terlepas dari pembuluh non otak yang terpajan tekanan tinggi. terjadi sebagai akibat pembengkakan dan edema yang timbul dalam 24-72 jam pertama setelah kematian sel neuron.jika pembuluh darah mengalami arterosklerosis. Stroke Stroke adalah cedera otak yang berkaitan dengan obstruksi aliran darah otak. sehingga aliran darah ke daerah-daerah yang diperdarahinya berkurang.Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri-arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan menebal.cukup gaya yang mendorong darah melewati sistem vascular yang aterosklerotik sehingga dapat timbul hipertensi. Angina Pektoris Angina pektoris merupakan rasa nyeri pada jantung yang disebabkan kurangnya oksigen ke sel-sel miokard. d. Tetapi.Arteri-arteri otak yang mengalami aterosklerosis dapat melemah sehingga meningkatkan kemungkinan terbentuknya aneurisma. Ketika kerja daripada jaringan meningkat.Pada stroke. maka kebutuhan oksigen juga akan meningkat.Stroke dapat timbul akibat perdarahan tekanan tinggi di otak. terjadi hipoksia serebrum yang menyebabkan cedera dan kematian sel-sel neuron. Akibatnya tidak terpenuhinya kebutuhan oksigen. hal tersebut akan menyebabkan pembuluh darah berdilatasi sehingga lebih banyak aliran darah dan oksigen.

Kerusakan ventrikel kiri memicu hambatan pada arteri pulmonalis sedangkan kerusakan ventrikel kanan menyebabkan hambatan pada kapiler sistemik. dimana plak-plak lipid yang ada dapat mengikis dinding arteri dan membahayakan integritasnya.akan melakukan metabolisme secara anaerobik yang menghasilkan asam laktat.Apabila kerusakan terjadi pada kedua ventrikel tersebut. dan proses penuaan normal. Aneurisma mungkin terjadi pada arteri apa saja. merupakan akibat dari kerusakan ventrikel karena infark miokard. 2. maka disebut gagal jantung Gagal jantung kongestif terjadi apabila kerusakan ada pada ventrikel kiri dan ventrikel kanan. f.Hal ini dapat merupakan akibat dari disfungsi diastolik atau disfungsi sistolik. Selain itu aneurisma juga dapat terjadi karena hipertensi. infeksi vaskular. namun aorta yang paling rentan terkena aneurisma. g. Disfungsi sistolik sebagai penyebab gagal jantung. Gagal Jantung Kongestif Gagal jantung kongestif disebabkan oleh ketidakmampuan jantung untuk memompa darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Penyebab utama aneurisma adalah aterosklerosis. Disfungsi diastolik umumnya muncul karena hipertensi yang berkepanjangan yang akan menyebabkan terjadinya penurunan ventricular filling. mengembang dan membentuk seperti balon. . Sel-sel miokard akan mulai rusak setelah kirakira 20 menit mengalami kekurangan oksigen. Aneurisma Aneurisma adalah suatu dilatasi dinding arteri yang terlokalisasi. Asam laktat akan menurunkan pH miokardium sehingga timbul nyeri pada dada. Infark Miokard Infark miokardium merupakan proses terjadinya kerusakan (nekrosis) sel-sel miokardium yang diakibatkan kurangnya pasokan oksigen dalam waktu yang lama karena terjadinya iskemia miokard.

 Aneurisma pada aorta torasik pada umumnya disertai nyeri pada punggung atau leher. Aneurisma palsu atau pseudoaneurisma adalah akumulasi darah ekstravaskular disertai disrupsi ketiga lapisan pembuluh darah. Pseudoaneurisma paling sering disebabkan oleh cedera atau infeksi atau komplikasi dari prosedur vaskular yang infasif. dan terutama terdiri dari jaringan fibrosa. toraks. atau embolisasi. batuk. trombosis akut. seperti angioplasty atau bedah arteri. atau torakoabdominalis. Aneurisma dapat terjadi dimana-mana dalam aorta dan pembulah darah perifer. dinding aneurismaa palsu adalah trombus dan jaringan yang berdekatan.Aneurisma sejati timbul akibat atrofi tunika media arteri. Hal ini dapat mengakibatkan stroke bila terjadi ruptur atau pendarahan dari pembuluh darah sehingga masuk ke jaringan otak.Aneurisma aorta diklasifikasikan sebagai abdominalis. . sulit menelan atau ada tekanan pada trakea. bergantung pada lokasinya. Aneurisma fusiformis aterosklerotik adalah bentuk dilatasi sirkumferensial uniformis yang lebih sering ditemukan.Dinding arteri berdilatasi tetapi tetap utuh walaupun mengalami distorsi. dapat juga menimbulkan nyeri karena tekanan pada saraf tulang belakang atau organ abdominal. Tempat terbentuknya aneurisma yang paling sering adalah aorta abdominalis. Aneurisma sejati dapat berbentuk fusiformis atau sakular. sedangkan aneurisma sakular berbentuk seperti kantong yang menonjol keluar pada dinding arteri. Tanda pertama penyakit ini dapt berupa komplikasi gawat yang berbahaya seperti rupture.  Aneurisma pada aorta abdominal seringkali asimtomatik.  Aneurisma pada arteri serebral sering disertai munculnya gejala berupa kenaikan tekanan intracranial. Manifestasi Klinik Aneurisma:  Aneurisma seringkali asimtomatik.

Asetil-KoA merupakn sumber atom karbon di dalam kolesterol dan senyawa steroid lain. pasien penyakit diabetes melitus dapat mengalami hiperlipidemia (kadar lemak dalam darah melebihi batas normal). Lipid di dalam makanan atau dari hasil sintesis de novo dari asetil-KoA derivat karbohidrat menghasilkan asam lemak rantai panjang. Asetil-KoA teroksidasi sempurna menjadi CO2 + H2O lewat siklus asam sitrat.Gambar 11. dan dengan demikian merupakan bahan baker yang sangat efektif bagi jaringan tubuh. Oleh karena peristiwa di atas. lipogenesis akan . asetil-KoA membentuk badan-badan keton yang terdiri atas aseton. asam lemak yang didapat dioksidasi menjadi asetil-KoA (β-oksidasi) atau di esterifikasi menjadi asilgliserol. PERLEMAKAN HATI Ketidakseimbangan antara kecepatan pembentukan dan pengeluaran triasilgliserol menyebabkan perlemakan hati (fatty liver). Asam lemak menghasilkan energi yang sangat besar baik dalam βoksidasi maupun dalam siklus asam sitrat.Di dalam jaringan. 3. serta 3-hidroksibutirat. asetoasetat. Kadar asam lemak bebas di dalam darah akan meningkat dan lebih banyak lagi asam lemak bebas yang akan ditarik ke dalam hati. Asetil-KoA yang terbentuk lewat β-oksidasi mengalami berbagai peristiwa penting : 1. badan keton ini merupakan bahan bakar alternatif yang bersifat larut air di dalam jaringan tubuh dan sumber energi penting pada keadaan tertentu (misal:kelaparan). 2. Pada keadaan ini. Aneurisma B. yang menyusun cadangan utama kalori tubuh dalam bentuk sebagai triasilgliserol (lemak). Di dalam hati.

yang memungkinkan triasilgliserol berakumulasi. kemampuan untuk meyekresikan VLDL juga akan terganggu. Hal ini dapat terjadi sebagai akibat rendahnya kadar insulin dan terganggunya sintesis protein. infiltrasi lemak yang terjadi cukup berat sehingga hati tampak pucat (gambaran perlemakan) dan membesar yang mungkin disertai gangguan fungsi hati. Secara teoritis. Produksi VLDL tidak dapat mengikuti kecepatan aliran masuk (influks) asam lemak bebas sehingga terjadi penimbunan triasilgliserol yang ada di hati akan meningkat secara bermakna dalam keadaan kelaparan dan pemberian diet tinggi lemak. (2) penyekatan pada sintesis lipoprotein dari lipid serta apoliprotein. Asam lemak bebas dengan jumlah yang meningkat akan diambil oleh hati dan diesterifikasi. Jika akumulasi lipid di hati berlangsung kronis. Tipe perlemakan hati yang kedua biasanya disebabkan oleh penyekatan metabolik pada produksi lipoprotein plasma. Salah satu tipe perlemakan hati yang telah diteliti secara luas pada tikus. keadaan kelaparan). toksemia kehamilan pada biri-biri dan ketosis pada ternak sapi. Perlemakan hati dapat digolongkan ke dalam 2 kategori utama.terhambat sehingga asam lemak bebas merupakan sumber utama asam lemak triasilgliserol di hati dan VLDL. Ketidakseimbangan triasilgliserol yang masuk ke hati dengan sintesis VLDL yang membawa triasilgliserol keluar hati dapat menyebabkan akumulasi triasilgliserol di hati (perlemakan hati). defisiensi tersebut . lesi dapat terjadi karena (1) penyekatan pada sintesis apoliprotein. Pada banyak keadaan (missal. Pada diabetes mellitus yang tidak terkontrol. Tipe pertama berkaitan dengan kenaikan kadar asam lemak bebas di dalam plasma yang terjadi akibat mobilisasi lemak dari jaringan adipose atau dari hasil hidrolisis lipoprotein triasilgliserol atau kilomikron oleh enzim lipoprotein lipase di jaringan ekstrahepatik. perubahan fibrotik akan terjadi di sel hati. yang karena itu kemudian diberi nama faktor lipotropik. terjadi akibat defisiensi kolin. Karena kolin dapat disintesis dengan menggunakan gugus metil labil yang diberikan oleh asam amino metionin pada proses transmetilasi. (3) kegagalan pengadaan fosfolipid yang ditemukan pada lipoprotein. atau (4) kegagalan pada mekanisme sekresinya sendiri. yang kemudian akan berlanjut menjadi keadaan sirosis dan gangguan faal hati.Akumulasi yang ekstensif dianggap sebagai suatu keadaan patologik.

Glukosa Plasma Puasa (FBS) Sebelum dilakukan pemeriksaan glukosa plasma puasa. dan sebagainya.53 mmol/L 85-125 mg/dl untuk > 50 tahun . maka perlu diakukan tes toleransi glukosa oral untuk meyakinkan apakah DM atau bukan.89-6. 2.11 mmol/L 60 – 110 mg/dl atau 3. polifagi. poliuria. Dewasa : Serum puasa Darah puasa Tidak puasa 70 – 110 mg/dl atau 3. seperti polidipsi. Glukosa Plasma Sewaktu Tes ini cenderung dilakukan bersamaan telah adanya keluhan klinik yang mengacu pada diabetes melitus. jika glukosa plasma puasa terganggu.33-5. Kriteria diagnosa: a.<126 mg/dl. Jika kadar glukosa plasma >200mg/dl. berat badan yang menurun. BAB VI DIAGNOSIS DIABETES MELITUS A. tetapi jika >126 mg/dl maka sudah dapat dikatakan DM. PEMERIKSAAN DM 1. pasien sebaiknya puasa terlebih dahulu minimal 10 jam . Beberapa mekanisme telah dikemukakan untuk menjelaskan peranan kolin sebagai zat lipotropik termasuk ketidakadaan zat tersebut sehingga menimbulkan gangguan pada sintesis senyawa lipoprotein fosfolipid. yaitu 110 .pada dasarnya disebabkan oleh kekurangan tipe gugus metil yang diberikan oleh metionin. glukosuria. Namun. Kadar normal <110 mg/dl. maka sudah dikatakan positif DM dan penderita tidak perlu lagi pemeriksaan tes toleransi glukosa.

Tabel 6.7 mmol/L 4. b.53 mmol/L 3.70–115 mg/dl untuk < 50 tahun b. Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) Jika hasil pemeriksaan glukosa darah meragukan. 1 jam. diambil sampel plasma darah vena. 2 jam. 1 ½ jam. Pemeriksaan benda keton . Hasil tes toleransi glukosa Kadar Glukosa (mg/dl) Puasa 0-120 menit Setelah 2 jam Normal <115 <200 <140 Belum pasti DM 116-139 <200 140-200 DM >140 >200 >200 5. Plasma darah pasien diambil setelah ½ jam. Spesimen darah 2 jam setelah makan pada individu puasa menunjukkan peningkatan yang langka pada individu normal tetapi meningkat secara signifikan pada individu diabetes. lalu diukur kadar glukosa darahnya. Tes ini juga digunakan untuk memonitor terapi insulin. pemeriksaan TTGO diperlukan untuk konfirmasi diagnosis DM. Nilai normal : <120 mg/dl atau < 6. d. Anak-anak : 60-110 mg/dl atau 3. Glukosa Darah 2 jam Postprandial (2-hr PBBS) Tes dilakukan setelah makan dan merupakan tes yang baik untuk mendiagnosis ada tidaknya diabetes. pasien yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok. dilarutkan dalam air 250 ml. Pasien puasa selama 10-12 jam. Tes ini dilakukan untuk meyakinkan pasien apakah pasien benar-benar menderita DM. dan diminum selama dalam waktu 5 menit c. Prosedur pemeriksaan: a.33-5. Kemudian diukur kadar glukosa darah tiap waktu pengambilan. Selama pemeriksaan. Diberikan glukosa 75 gram. dan 2 ½ jam.

input makanan. maupun stres emosional. obat-obat diabetes. level HbA1c akan kembali pada rentang normal.Nilai kadar glukosa pada tes TTGO bisa tinggi setelah 2 jam mendekati normal sehinggan meragukan. sehingga darah menjadi asam dan teradilah ketoasidosis. Pengamatan terhadap hemoglobin terglikosilasi merefleksikan rata-rata level gula darah selama periode 2-3 bulan sebelum tes. Diabetic Control Index Tes ini merupakan indeks dari kontrol glukosa jangka panjang. perlu dipastikan dengan tes benda keton. Kadarnya kan menurun secara bertahap seiring dengan digantikannya eritrosit lama yang kadar HB A1c-nya tinggi dengan sel-sel eritrosit baru. Jadi. Hasil dilihat sebagai persentase total hemoglobin: • • Implikasi klinis a.0 % Normal (nondiabetic) Diabetic : > 7% : 4-7% Faktor yang mempengaruhi a. akan tetapi bila kadarnya tinggi dalam darah maka akan menyebabkan pH darah meningkat. nilai meningkat pada kasus diabetes yang baru terdiagnosis atau yang tidak dikontrol dengan baik b. 6. c. Hasil palsu mungkin saja terjadi pada kasus hemoglobinopati.0 % : > 12. . Pada pasien DM sering kali didapatkan kadaan ketoasidosis.0 – 12. d. Dalam keadaan normal sebenarnya benda keton juga berfungsi sebagai energi dalam metabolisme lemak. dengan kontrol insulin yang optimal. Hasil tes tidak dipengaruhi oleh waktu. olahraga. pasien diabetes yang terkontrol dengan baik mungkin saja masih memiliki kadar hemoglobin terglikosilasi yang tinggi.0 % : 9. Hemoglobin Terglikosilasi ( HbA1c) . Kontrol yang baik Kontrol sedang Kontrol buruk : < 9. Glychohemoglobin (G-Hb) .

limfa. SGOT dan SGPT tinggi. limfa dan paru-paru. Sementara nilai meningkat pada kondisi thalasemia. otot skelet pankreas. 2. B. tapi SGOT > SGPT. Sedangkan pada penyakit hati. Kompleks QRS dan gelombang T. SGPT banyak terdapat di hati dan otot jantung. EKG normal terdiri dari gelombang P. EKG (Elektrokardiogram) Elektokardogram adalah rekaman tekanan potensial (voltase) listrik yang timbul sebagai aktivitas jantung yang dicatat oleh elektrokardiogram dari permukaan tubuh. jug untuk mengetahui gangguan atau kelainan pada jantung. tapi SGPT > SGOT. SGPT 6-32 IU/ml . ginjal. Rekaman EKG biasanya dibuat pada kertas yang berjalan dengan kecepatan standar 25 mm/detik dan refleksi 10 mm sesuai potensi 1 mV. PEMERIKSAAN KOMPLIKASI DM 1. SGOT terdapat hampir di semua jaringan tubuh antara lain jantung dan hepar (tinggi). Tujuan pemeriksaan a. Nilai normal SGOT dan SGPT tergantung cara dan umur: • Cara Karmen : SGOT > 35 IU/ml. paru-paru. otot skelet.b. Melihat efektifitas terapi. SGPT dan SGOT Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah terjadi pelemakan dalam hati dan kematian sel hati. Mengetahui sudah berapa lama pasien menderita DM b. SGOT dan SGPT tinggi. pankreas. Jika sgot dan sgpt meningkat akan beresiko pada infark miokard dan penyakit hati. Mengetahui tingkat kepatuhan pasien dalam menjalankan pengobatan c. Nilai rendah pada kehamilan dan anemia sel sabit. Yang direkam adalah potensial-potensial listrik yang dapat timbul pada waktu otot-otot jantung berkontraksi. Pada infark miokard.

Yang ditetapkan yaitu isozim LDH yaitu LDH1. LDH4. LDH2. dan otak. jantung. otot skelet. hati. LDH3. CPK (Kreatinin fosfokinase) CPK banyak terdapat di otot skelet. eritrost dan jaringan tumor. ginjal. LDH yang tinggi dalam darah menunjukkan bahwa proses glikolisis anaerob berlangsung dominan di jantung dan mengindikasikan jantung mengalami iskemia. Asam Urat . LDH5. Serum Kreatinin Tes ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada gangguan pd nefron ginjal akibat TD tinggi dan dapat merusak nefron ginjal sehg terjadi gangguan sekresi & absorbsi pd ginjal. yaitu : CPK 1 subunit B3 : CpK1 meningkat pada kelainan otak. 3. Dikenal 3 macam isozim CPK yang tersusun dari dua sub unit dan M. Kadar kreatinin tinggi atau melebihi batas normal menunjukkan kreatinin tidak diekskresi sempurna oleh ginjal. Kadar normal 85 – 300 IU/L (Wrobleski). SGPT 7-35 IU/ml • Umur bayi : SGOT 0-120 IU/ml. SGPT 0-90 IU/ml. Kadar kreatinin serum:    ringan sedang tinggi : : : 250-300 µmol/L 300-700 µmol/L > 700 µmol/L 5. CPK 2 subunit M3 : CPK2 meningkat pada kelainan jantung CPK3 subunit M : CPK3 meningkat pada kelainan otot 6. LDH (Laktat Dehidrogenase) LDH (Laktat Dehidrogenase)diperiksa untuk mengetahui apakah terjadinya keelainan pada jantung karena enzim ini terdapat dalam sel otot jantung. 70-240 IU/L (King) 4.• Cara Reitman dan Frankel : SGOT 8 -40 IU/ml. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui kelainan pada otot jantung.

diastolik 90 mmHG atau lebih atau sistolik 140 mmHg atau lebih. Klasifikasi Tekanan Darah untuk yang berumur 18 tahun atau lebih. Klasifikasi hipertensi Kategori Hipertensi Derajat 1 Derajat 2 Derajat 3 Sistolik (mmHg) 140-159 160-179 >180 Diastolik (mmHg) 90-99 100-109 >110 Diastolik (mmHg) <80 <85 85-89 Dikatakan hipertensi jika pada dua kali atau lebih pemeriksaan yang berbeda waktu didapatkan tekanan darah rata-rata dari dua atau lebih pengukuran. Kolesterol Total . Tekanan Darah Tekanan darah diperiksa untuk mengetahui normal tidaknya tekanan darah pada pasien.Kadar asam urat yang normal adalah 3-6 mg/dl. Pasien DM mempertahnkan tekanan darah agar tidak lebih dari 140/90 mmHg karena tekanan darah yang tinggi dapat merusak atau memberi lesi pada endotel yang sebelumnya sudah abnormal. Pada pasien diabetes melitus dan kolesterol. karena adanya gula dan lemak dalam darah maka darah akan menjadi kental dan terjadi retensi Na. 8. asam urat akan diberikan dengan natrium membentuk garam (Natrium Uric) untuk diekskresikan melalui urin. Tekanan darah tinggi (hipertensi) lebih banyak ditemukan pada diabetes dibanding non diabetes. 7. Kategori Optimal Normal Normal-tinggi Sistolik (mmHg) <120 <130 130-139 Tabel 8. Selain itu terakumulasi dipersendiaan sehingga menyebabkan rasa nyeri dipesendiaan.Di dalam darh. Tabel 7. Oleh karena itu asam urat yang harusnya diekskrsikan menjadi tertahan menyebabkan garam urat terakumulasi didalam darah dan terjadi hipertensi. Peningkatan tekanan darah dapt mengindikaasikan penurunan elastisitas pembuluh darah.

LDL (Low Density Lipoproteins) Kadar LDL dalam darah sangat penting untuk menilai terjadinya aterosklerosis. Kadar trigliserida yang sangat tinggi (sampai 800 mg/dl) bisa menyebabkan pembesaran hati dan limpa dan timbulnya gejala-gejala pancreatitis (misalnya nyeri perut yang hebat). maka resiko terjadinya serangan jantung adalah lebih dari 2 kali. Idealnya. HDL bertugas membuang kelebihan kolesterol dari dalam tubuh. Kadar trigliserida darah diatas 250 mg/dl dianggap abnormal. Kadar LDL dapat digunakan untuk menilai adanya resiko terjadinya aterosklerosis dengan melihat perbandingan antara kadar LDL-HDL dalam darah.Kadar kolesterol yang abnormal dalam sirkulasi darah bisa menyebabkan masalah jangka panjang. Resiko terjadinya aterosklerosis dan penyakit arteri koroner meningkat pada seseorang yang memiliki kadar kolesterol total yang tinggi. tetapi kadar yang terlalu rendah juga tidak baik. tetapi kadar yang tinggi ini tidak selalu menandakan resiko terjadinya aterosklerosis maupun penyakit arteri koroner. HDL (High Density Lipoproteins) Kolesterol yang dibawa HDL menyebabkan menurunkan resiko gangguan jantung dan dirasa menguntungkan. Kadar HDL harus meliputi lebih dari 25% dari kadar kolesterol total. Idealnya kadar kolesterol LDL tidak boleh lebih dari 130 mg/dl. 9. Kadar kolesterol total yang ideal adalah 140-200 mg/dl atau kurang. kadar kolesterol HDL tidak boleh kurang dari 40 mg/dl. 10. Kadar kolesterol rendah biasanya lebih baik dibandingkan dengan kadar kolesterol yang tinggi. Sebagai faktor resiko dari penyakit jantung atau sroke. kadar kolesterol total tidak terlalu penting dibandingkan perbandingan kolesterol total dengan kolesterol HDL atau perbandingan kolesterol LDL dengan kolesterol HDL. Trigliserida Kadar normal dari triglserida dalam darah adalah 10-160 mg/dl. 11. Nilai LDL dapat dihitung secara matematis sebagai berikut: . Jika kadar kolesterol total mendekati 300 mg/dl.

Pemeriksaan pertama:  usia diatas 30 tahun : : 5 tahun setelah diagnose : pada saat diagnose trimester pertama  Usia dibawah 30 tahun  Pada kehamilan b. Tujuannya adalah untuk mempertahankan dan memperbaikii ketajaman penglihatan dan mencegah timbulnya Retinopati Diabetik Proliferatif. 13.LDL = kolesterol total – HDL – (trigliserida:5) 12. Diabetes tidak dapat secara langsung menyebabkan kardiomegali tetapi komplikasi diabetes pada sistem kardiovaskular yang dapat menyebabkan kardiomegali. Pemeriksaan Mata Jenis pemeriksaan proliferase untuk mengetahui gejala komplikasi mata pada penderita DM dapat dilakukan pemeriksaan menggunakan metoda fotokoagulasi laser. jantung. Pemeriksaan berkala:  Tidak ada retinopati : setiap tahun : 6-12 bulan  RD non proliferative ringan tanpa edema macula  RD non proliferative ringan dengan edema macula : 4-6 bulan  RD non proliferative sedang-berat  Selama kehamilan  RD non proliferative sangat berat  RD proliferatif : : : : 3 bulan tiap trisemester terapi dan contro < 3 bulan terapi dan control < 3 bulan . Rontgen Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat orghan-organ tubuh seperti ginjal. Dengan mekanismemenghentikan progresivitas neovaskularisasi sehingga tidak menyebabkan kompliksai retinopati yang lebih berat dimana pada penderita DM resiko kebutaan mencapai 50-60%. Metode ini dapat mengurangi resiko komplikasi retinopati sebesar 50% dan merupakan tindakan yang cukup efektif. dan organ lannya. Rekomendasi pemeriksaan mata pada DM a.

14.1982. sputum dan urine. Skema pemeriksaan laboratorium untuk diagnosis kandidiasis .(Nolte.2002).dapat dilakukan kultur dengan menggunakan agar sabouraud`s atau eosinmethylene blue pada suhu 37 % C. 1982). bahan pemeriksaan dapat diwarnai dengan periodic acid schiff (P. dapat dilihat pada skema di bawah ini. Selanjutnya bahan pemeriksaan tersebut diletakkan pada gelas objek dalam larutan potassium hydroksida (KOH). Untuk lebih jelasnya.(Nolte .S). (Mc C ullough. (Silverman 2001. disamping pemeriksaan klinis dan mengetahui riwayat penyakit.Mc Farlen. Pemeriksaan Jamur di Mulut Untuk menentukan diagnosis kandidiasis harus dilakukan pemeriksaan mikroskopis.hasilnya akan terlihat pseudomyselia dan hifa. 2005). hasilnya akan terbentuk koloni dalam waktu 24 – 48 jam. Pada kasus hyperplastik kandidiasis kronis pada umumnya dilakukan biopsi. Mc Farlen. Bahan pemeriksaan dapat diambil dengan beberapa cara yaitu usapan (swab) atau kerokan (scraping) lesi pada mukosa atau kulit.A. hasilnya akan terlihat pseudohyphae yang tidak beraturan atau blastospora. Disamping itu akan terlihat parakeratosis dan leukosit polimorfonuklear. 2002). Gambar 13. Juga dapat digunakan darah. Selain pemeriksaan mikroskopis.

PENGOBATAN DIABETES MELITUS Terapi farmakologi dilakukan pada penderita diabetes mellitus jika terapi non-farmakologi seperti olahraga. diet dan modifikasi gaya hidup tidak dapat mencapai tujuan terapi. 30 di antaranya membentuk satu rantai polipeptida (rantai A) dan 21 asam amino lainnya membentuk rantai kedua (rantai B). 2. insulin adalah protein yang terdiri dari 51 asam amino. asam amino ke-30 pada rantai A disubstitusi dengan alanin. Terapi farmakologi diabetes mellitus terdiri dari 2 yaitu dengan insulin dan obat diabetik oral (ADO). Insulin Sapi . Insulin Secara kimia.BAB VII TERAPI FARMAKOLOGIS DIABETES MELITUS DAN HIPERLIPIDEMIA A. 1. Insulin dapat diklasifikasi berdasarkan: a. Kedua rantai tersebut dihubungkan dengan ikatan disulfida. Insulin Babi Insulin babi memiliki perbedaan 1 asam amino dengan insulin manusia yaitu treonin. Sumber 1.

Insulin Aspart adalah insulin dimana terdapat asam aspartat pada rantai B28. pasien harus diberitahukan untuk menyuntikan regular insulin secara subkutan 30 menit sebelum makan.Insulin sapi memiliki perbedaan 3 asam amino dengan insulin manusia. 1. Masa Kerja Ultra Short Acting Insulin (Insulin Lispro. Glulisin) Insulin Lispro merupakan insulin analog yang dihasilkan melalui teknolgi rekombinan. Aspart. Ketika disuntikkan secara subkutan. Short Acting Insulin (Insulin Regular) Insulin regular adalah kristal insulin yang tidak dimodifikasi yang biasanya disebut sebagai insulin alami. yaitu pada rantai A treonin asam amino ke-30 dan ke-8 disubstitusi dengan alanin. memiliki onset 15-30 menit dan durasi kerja sekitar 3-4 jam. Insulin Lispro dan Aspart merupakan sediaan insulin yang jernih. Insulin Lispro dan Aspart diadministrasi 20-60 menit sebelum makan. Insulin Regular merupakan insulin zinc kristal yang berbentuk larutan. Insulin glulisin adalah insulin dimana 2 asam amino pada rantai B dimodifikasi yaitu lisin B29 dipindah ke B3 dan glutamat pada B3 dipindah ke B29. Durasi insulin regular adalah 3-6 jam. dimana 2 asam amino pada rantai B dimodifikasi yaitu proline pada B28 dipindah ke B29 dan lisin pada B29 dipindah ke B28. Namun durasi kerja insulin yang diberikan secara intravena hanya berlangsung selama 30 menit. regular insulin membentuk gumpalan kecil yang disebut dengan hexamer yang kemudian mengalami konversi menjadi dimer yang diikuti menjadi monomer sebelum absorbsi sistemik terjadi. Insulin regular dapat diberikan secara . insulin Lispro dan Aspart diabsorpsi dengan cepat dan mencapai kadar maksimum dalam darah setelah 1-2 jam. 2. Insulin Manusia b. Kadar maksimum diperoleh setelah 2-3 jam. Pada injeksi subkutan. Insulin regular memiliki onset 30 menit – 1 jam setelah pemberian secara subkutan. Oleh karena itu. Insulin jenis ini dapat diberikan secara intravena pada keadaan hiperglikemia yang sangat parah untuk mendapatkan efek hipoglikemia yang cepat. dan isoleusin asam amino 10 disubstitusi dengan valin. 3.

Kadar maksimum dicapai setelah 10-16 jam. Durasi kerja insulin Lente adalah 8-12 jam 4. Insulin Ultralente memiliki onset 6-10 jam. yaitu suspense dari insulin zinc Kristal yang kelarutannya buruk dengan durasi sampai dengan 35 jam. Glargine tidak dapat diberikan secara intravena atau dicampur dengan produk insulin lainnya. Lente dan Isophane) Insulin Semilente adalah insulin zinc amorf. NPH tersedia dalam kombinasi 70/30 dan 50/30 dengan insulin regular. yang akan mengendap pada pemberian subkutan. Durasi kerja insulin Ultralente adalah 18-20 jam. Intermediate Acting Insulin (Insulin Semilente. NPH memiliki onset 2-4 jam. 3. Campuran dua macam . Insulin Lente memiliki onset 3-4 jam. Regular insulin adalah satu-satunya insulin yang dapat diberikan secara intravena. Baik glargine maupun detemir tidak memberikan konsentrasi puncak pada serum dan dapat diberikan tanpa menghiraukan waktu atau adanya makanan. Kadar maksimum dicapai setelah 4-6 jam setelah pemberian. Selain itu jenis insulin yang mempunyai kerja panjang adalah ultralente. Glargine dan detemir didesain sebagai dosis tunggal insulin. Ada 2 macam insulin dengan kerja panjang yang disetujui digunakan di US. Isophane atau Neutral Protamine Hagedorn (NPH) merupakan kompleks insulin zinc kristalin dan insulin zinc protamin. Ketiganya terdapat dalam bentuk suspensi. Kerja insulin Ultralente yang terlalu lama dapat menyebabkan akumulasi insulin dan hipoglikemia yang berbahaya pada pasien.intravena pada keadaan hiperglikemia yang parah dan diabetes ketoasidosis. Insulin glargine beda 3 asam amino dengan regular insulin. Durasi kerja insulin Lente adalah 12-18 jam. Insulin Lente adalah campuran 30% insulin zinc amorf dan 70% kristal zinc insulin. Kadar maksimum dicapai setelah 6-12 jam setelah pemberian. Kombinasi produk insulin Beberapa kombinasi insulin telah tersedia secara komersial. Long Acting Insulin (Insulin Ultralente) Insulin Ultralente adalah suspensi kristal zinc insulin yang sukar larut. menyebabkan kelarutannya rendah pada pH 4.

pasien yang merokok. Campuran Humalog 75/25 yang terdiri dari 75% suspense insulin lispro protamine dan 25% insulin lispro. vial. vial. rekombinasi insulin manusia. Oral inhalation insulin Insulin inhalasi pertama kali disetujui pada awal tahun 2006. atau 3 ml pen cartridge Vial 28 hari Pabrik Pilihan Cara Pemberian Suhu ruang. Produk ini tersedia dalam 3-8 unit injeksi insulin.insulin dengan masa kerja pendek juga telah tersedia. yang sama dengan regular insulin. Mempunyai waktu onset antara 10-20 menit. yang sama dengan rapid-acting insulin. Suspensi insulin lispro dan aspart dikembangkan secara khusus pada produk campuran dan tidak tersedia secara komersial dalam keadaan terpisah (sediaan tunggal). Kadaluarsa Novolog (insulin Aspart) Apidra (insulin Glulisin) 28 hari 28 hari . atau pasien yang telah berhenti merokok 6 bulan yang lalu. Exubera tidak direkomendasikan untuk pasien dengan penyakit paruparu kronik seperti asma atau penyakit pernapasan obstruksi kronik. Klasifikasi Insulin Nama Generik Insulin Durasi Cepat Insulin pen.5 dan 3 ml pen cartridge Insulin pen. dan mempunyai durasi kerja sekitar 6 jam. Camouran Novolog 70/30 yang terdiri dari 70% insulin aspart protamine dan 30% insulin aspart. Tabel 6. adalah alternatif insulin injeksi yang tersedia di US. Exubera. atau Humalog (insulin Lispro) Lilly NovoNordisk Aventis 1. Inhalasi insulin tidak sepenuhnya menggantikan injeksi insulin karena injeksi insulin dengan kerja panjang sangat penting dalam kontrol basal. Campuran dua macam insulin dengan masa kerja pendek juga telah tersedia. Monitor fungsi paru-paru harus dilakukan pada awal dan 6 bulan setelah permulaan terapi. Beberapa pasien membutuhkan inhalasi multipel untuk mencapai dosis waktu makan.

dan InnoLet Vial Vial Vial Vial: 28 hari. Pen: 10 hari Vial: 28 hari. dan InnoLet Suhu ruang. lainnya: 28 hari Insulin Durasi Sedang NPH Humulin N Lilly NovoNordisk Lilly Lilly Aventis Vial.Nama Generik Insulin Durasi Pendek Humulin R (Reguler) Tersedia U-100 dan U-500 Novolin R (Reguler) Pabrik Lilly NovoNordisk Pilihan Cara Pemberian U-100. 3 ml pen cartridge Lilly NovoNordisk Lilly Vial. pen: 14 hari Vial: 30 hari. atau 3 ml pen cartridge. pen: 10 hari Vial: 30 hari. prefilled pen Vial. 25% lispro) Novolog Mix 70/30 (70% suspensi aspart protamine. lain: 10 hari NovoNordisk Vial. 30% aspart) Kombinasi NPH-regular Humulin 70/30 Novolin 70/30 Humulin 50/50 Lilly Vial. prefilled pen. InnoLet Vial Mekanisme Kerja . 10 ml vial U-500. prefilled pen Vial: 28 hari. prefilled pen. lainnya 14 hari 28 hari 28 hari 28 hari Novolin N Lente Humulin L Insulin Durasi Panjang Humulin U (ultralente) Lantus (insulin glargine) Pre-mixed Insulin Analog Pre-mixed insulin Humalog Mix 75/25 (75% netral protamine lispro. Kadaluarsa 28 hari Vial: 30 hari. vial. lainnya: 14 hari Vial: 28 hari. pen cartridge. 20 ml vial Insulin pen. prefilled pen Vial.

penanganan pilihan saat pemberian IV tidak berhasil pada pasien yang hilang kesadaran 2. penderita diabetes mellitus dengan kadar glukosa darah yang sangat tinggi. IgE. penderita diabetes mellitus tipe II yang tidak bisa ditangani oleh terapi non-farmakologik dan obat diabetes oral. hilang kesadaran. IgM. Indikasi Penderita diabetes mellitus tipe I. Cara penanganannya adalah: Glukosa (10-15 g) yang diberikan secara oral direkomendasikan Dekstrosa secara intravena mungkin dibutuhkan oleh pasien yang Glukagon sebanyak 1 g secara intramuskular merupakan cara untuk diberikan pada pasien yang sadar. Alergi Setidaknya terdapat 5 jenis antibodi insulin ketika melakukan terapi insulin. yaitu IgA. IgG. Rata-rata pasien DM tipe 1 menggunakan dosis 0. Selain itu insulin juga meningkatkan ambilan glukosa di hati. IgD. dan dosis ditingkatkan perlahan-lahan sampai glycemic goals tercapai. otot dan jaringan adipose. Hipoglikemia Hipoglikemia merupakan efek samping yang paling umum dari penggunaan insulin. wanita hamil dan menyusui.6-1 unit/kg/hari Efek Samping 1. misal pada penderita diabetik hiperosmolar yang kadar glukosa darahnya bisa mencapai 600 mg/dL.Insulin dapat menurunkan kadar glukosa darah melalui penghambatan proses glikogenolisis dan glukoneogenesis. Alergi insulin atau hipersensitivitas adalah kondisi yang jarang ditemukan dimana terjadi urtikaria lokal atau sistemik . Dosis Pasien DM tipe 1 dimulai sekitar 0.6 units/kg/hari.

Bagian depan paha atas . Subkutan.akibat pelepasan histamin dari jaringan sel mast yang diinduksi oleh antibodi anti insulin IgE. namun area 2 cm di sekeliling pusar tidak boleh terkena injeksi insulin 3. disebabkan reaksi imun antibodi insulin. risiko anafilaksis juga terjadi. Aksi anabolik insulin akan meningkatkan massa lemak yang dapat terlihat pada area injeksi. Injeksi yang jauh dari area sebelumya dengan insulin yang dimurnikan direkomendasikan. Pemberian insulin subkutan terus menerus memberikan hasil yang memuaskan untuk pengendalian keadaan diabetes. Tempat Injeksi 1. Bokong 4. Lipoatrofi. Bagian belakang lengan atas 2. Absorpsi setelah pemberian insulin subkutan bervariasi dan bergantung pada lokasi penyuntikan dan variasi individu. Pada beberapa kasus. 2. ditandai oleh destruksi lemak yang terdapat di area injeksi. Intravena Insulin yang diberikan secara intravena akan bekerja cepat. Daerah perut. yairu insulin kerja cepat. Lipodistrofi pada tempat penyuntikan Terdapat 2 bentuk lipodistrofi. Lipohipertrofi disebabkan injeksi yang dilakukan pada satu area injeksi secara berulang-ulang. Oleh karena itu. 2-5 menit setelah penyuntikan akan tampak efek penurunan glukosa darah. 3. yaitu lipohipertrofi dan lipoatrofi. Insulin yang diberikan secara intravena merupakan sediaan insulin yang berupa larutan. Rute Pemberian 1. rotasi tempat penyuntikan dapat dilakukan untuk mencegah lipodistrofi.

Insulin Pen Insulin pen menggunakan jarum suntik sekali pakai untuk menyuntikkan insulin 3. Jangan melakukan kerja berat setelah menyuntikkan insulin namun belum mendapatkan asupan makanan 4. Jangan menyuntikkan insulin di malam hari Alat Penyuntik Insulin: 1. Pompa akan melepaskan sejumlah insulin setelah makan dan saat kadar glukosa darah tinggi berdasarkan pengaturan yang telah dilakukan oleh pasien. Rotasi penyuntikan 2. Area injeksi insulin Hal-hal yang harus dperhatikan saat penyuntikan insulin: 1. Penyuntikan tidak boleh terkena pembuluh darah karena insulin yang diharapkan bekerja lambat akan masuk dengan cepat ke sirkulasi sistemik sehingga menimbukan efek hipoglikemia yang cepat 3. Syringe 2.Gambar 12. . Insulin Pump Insulin pump merupakan alat yang menyuntikkan insulin melalui tube dan jarum yang dimasukkan ke bawah kulit dekat abdomen. Insulin pump dapat dipakai seperti ikat pinggang. Insulin Jet Injektor Insulin jet injektor menggunakan tekanan untuk memasukkan insulin ke dalam epidermis. 4.

Gambar 13. kemudian kanal Ca terbuka dan memungkinkan ion-ion Ca2+ masuk. Untuk alasan finansial. pasien dapat menggunakan insulin lebih lama dari tanggal kadaluarsanya. Sekali insulin digunakan. sehingga terjadi peningkatan sekresi insulin. Wilayah injeksi alat insulin pada kulit Kestabilan Insulin yang belum dibuka direkomendasikan untuk disimpan di lemari es (2°-8° F) sebelum digunakan. sehingga terjadi peningkatan kadar . 2. berubah warna. Tabel 1 memberikan data tanggal kadaluarsa untuk insulin yang disimpan pada suhu kamar (15°-30° F). Ikatan tersebut menyebabkan berkurangnya asupan kalsium dan terjadi depolarisasi membran. Tanggal kadaluarsa dari pabrik yang tertera pada kemasan insulin berlaku untuk insulin yang belum dibuka dan disimpan dalam lemari es. glipizide. dll). Di dalam tubuh. glikazid. tolazamid Generasi II: glibenkalamid. glimepirid Mekanisme kerja: Merangsang pelepasan insulin dari sel β pulau Langerhans. tetapi harus hati-hati terhadap kontrol gula darah dan gejala dari kerusakan insulin (menggumpal. gliquidon. Anti Diabetik Oral (ADO) Sulfonilurea Contoh obat sulfonylurea: Generasi I: tolbutamid. tanggal kadaluarsa tersebut bervariasi tergantung insulin dan alat pemberiannya. mengendap. sulfonilurea akan terikat pada reseptor spesifik sulfonilurea pada sel β pankreas. a. klorpropamid.

2. Kontra indikasi: DM tipe I. Peningkatan tersebut menyebabkan sekresi insulin ke permukaan sel. dimana kadar gula darah tidak dapat dikendalikan secara adekuat dengan diet.5 . Insulin yang telah terbentuk akan diangkut dari pankreas melalui pembuluh vena untuk beredar ke seluruh tubuh. 500 3000 Lama kerja (jam) 72 12 Frek 1 2-3 Pemberian Dengan makanan Dengan makan atau segera sesudah makan Dengan makan Glibenklamid Glikazid Glipizid Gliquidon 2. 5 . Tabel 7. dan disfungsi hati. Obat ini hanya efektif untuk penderita diabetes tipe II yang tidak begitu berat. koma diabetikum. 250 500 250.5-20 80-240 20 30-120 12-24 10-20 24 10-20 1-2 1-2 1-2 1-3 atau segera sesudah makan Dengan makan Sebelum makan Sebelum makan dan pagi Dengan makan atau segera sebelum makan Glimepirid 1. yang sel-sel β-nya masih bekerja dengan baik. Indikasi: DM tipe II. latihan fisik dan penurunan berat badan saja. Profil beberapa obat 73ulfonylurea Nama Obat Klorpropamid Tolbutamid Dosis (mg) Awal Harian 100.20 15 2. dekompensasi metabolik diabetik. kerusakan hati yang parah.4 8 24 2 Efek samping .5 40 2. 10 .Ca2+ dalam sel.

2. Klorpropamid/Tolbutamid/Glikazid dengan Allopurinol Peningkatan waktu paruh dari klopropamid dan penurunan waktu paruh dari tolbutamid dengan pemakaian bersama dengan Allopurinol telah dijelaskan. sulfonamid. Interaksi obat yang terjadi pada Golongan sulfonilurea : 1. Klorpropamid dengan Probenesid Bersihan/klirens dari klorpropamid dari tubuh diperpanjang dengan adanya probenesid.Efek samping utama yang diketahui dari sulfonilurea adalah hipoglikemia dan kenaikan berat badan. dan kolestasis. Kadar gula darah puasa merupakan indikator akan potensi terjadinya hipoglikemia. tetapi umumnya menyerang penderita dengan terapi klorpropamid yaitu sekitar 5%. Efek samping lain dari penggunaan sulfonilurea antara lain ruam kulit. FPG yang tinggi menandakan peluang hipoglikemia besar. anemia hemolitik. rifampisin. akibatnya kadar natrium plasma menurun drastis. tetapi secara klinik belum diketahui secara pasti. wanita. 3. Interaksi obat Tabel 8. penggunaan bersama dengan diuretik tiazid. tetapi efek dari perubahan respon hipoglikemia dari pasien tidak dapat dipastikan. Reaksi tipe disulfiram pernah dilampirkan terjadi pada pengguna tolbutamid dan klorpropamid yang dikombinasi dengan alkohol. fenilbutazon. (sitokrom P-450) Perubahan ekskresi ginjal simetidin. Hiponatremia terjadi akibat diuresis yang terlalu kuat oleh diuretik lengkungan. Klorpropamid/Tolbutamid/Glibenklamid dengan Antikoagulan . Mengubah metabolisme dalam hati Kloramfenikol. Faktor pemicu terjadinya hiponatremia adalah usia lanjut (> 60 tahun). Obat salisilat. Allopurinol dan Probenesid. Hiponatremia (serum natrium <129 mEq/L) pernah dilaporkan terjadi pada pengguna tolbutamid. Hipoglikemia dan koma terjadi pada pasien dengan penggunaan glikazid dan allopurinol. penghambat MAO. Obat-obatan yang berinteraksi dengan sulfonilurea Interaksi Mengubah posisi ikatan protein Warfarin. gangguan gastrointestinal.

Glibanklamid mengurangi kadar plasma dari bosentan. 8. glibenklamid (gliburid) atau gliklazid ketika digunakan bersama mikonazol. 9. 6. Hal ini dapat meningkatkan hipoglikemia (kemungkinan dapat koma) dan meningkatkan efek antikoagulan (memungkinkan terjadi perdarahan) meningkatkan efek dari warfarin. Klorpropamid/Tolbutamid dengan Kloramfenikol Efek hipoglikemia dari tolbutamid dan klorpropamid dapat meningkat dengan penggunaan kloramfenikol. Dicoumarol dapat meningkatkan efek hipoglikemia dari klorpropamida. Gliklazid/Glibenklamid dengan Simetidin/Ranitidin Kasus hipoglikemia terjadi pada penggunaan gliklazid/simetidin dan glibenklamid (glyburide)/ranitidin. Tolbutamid/Glibenklamid/Glikazid dengam Mikonazol Efek hipoglikemia terjadi pada penggunaan tolbutamid. Pengecualiannya terjadi pada glipizid dengan simetidin. Glibenklamid-Bosentan Penggunaan glibenklamid-bosentan akan meningkatkan resiko kerusakan hati dan kombinasi ini seharusnya dicegah. Hipoglikemia akut dapat terjadi. Glipizid/Glibenklamid dengan Flukonazol Glipizid/Glibenklamid-Fluconazole dapat menyebabkan koma hipoglikemia disebabkan adanya kenaikan efek hipoglikemia yang tinggi. Sulfonilurea dengan Rimfampisin Rifampicin menurunkan kadar serum dari tolbutamid. dan bosentan menurunkan kadar plasma dari glibenklamid. Peningkatan dosis perlu dilakukan untuk mengontrol DM secara efektif. glimidin. Warfarin-glibenklamid/tolbutamid dapat . 7. Tolbutamid dengan Ketonazol Ketoconazole meningkatkan efek hipoglikemia dari tolbutamid. tetapi perubahan pada pasien diabetes yang menggunakan sulfonilurea yang juga diberikan simetidin atau ranitidin jarang terjadi. Tolbutamid-Azapropazone Dua kasus dilaporkan bahwa penggunaan azapropazone-tolbutamid dapat meningkatkan efek dari tolbutamid dan menyebabkan hipoglikemia. 10. 5.Dicoumarol dan tolbutamid saling berinteraksi. klorpropamid dan glibenklamid (gliburid). 4. 11.

. Biguanid (Metformin) Mekanisme kerja Golongan Biguanid mempunyai efek menurunkan kadar gula darah yang meningkat pada penderita diabetes. 3 mg/ tablet (Aventis) Glikazid Diamicron 80 mg/ tablet (Darya Varia) Glibet 80 mg/ tablet (Dankos) Glicab 80 mg/ tablet (Tempo Scan Pasific) Glidabet 80 mg/ tablet (Kalbe farma) Gored 80 mg/ tablet (Bernofarm) b.5mg/ tablet (Aventis) Glukonic 5 mg/ tablet (Nicholas) Glimel 5 mg/ tablet (Merck) Prodiabetik 5 mg/ tablet (Bernofarm) Renabetik 5 mg/ tablet (Fahrenheit) Glipizid Aldiab 5 mg/ tablet (Merck) Glucotrol 5. SemiDaonil 2. Tabel 9. 2. Saat pemberian insulin dan sulfonilurea harus hati-hati dengan tanda-tanda dari hipoglikemia (takikardi.tremor) tidak akan terjadi meskipun produksi keringat meningkat. tetapi tidak meningkatkan sekresi insulin.Tolbutamid tidak berinteraksi dengan obat ini. 250mg/ tablet (Pfizer) Tesmel 100 mg/ tablet (Phytho kemo agung) Glibenklamid Daonil 5mg/ tablet. 10 mg/ tablet (Pfizer) Minidiab 5. Sediaan obat-obat golongan sulfonilurea Klorpropamid Diabenese 100. Fakta menunjukan bahwa absorpsi dari glipizid akan berkurang sekitar 1/3 jika digunakan secara bersama-sama dengan kolestiramin. 13. Efek anti diuretik dari klorfibrat pada pengobatan diabetes insipidus berlawanan dengan glibenklamid. 14. Sulfonilurea-Beta bloker Efek hipoglikemia sufonilurea akan berkurang dengan adanya beta-blockers.12. Sulfonilurea-bile acid sequestrants Efek hiperkolesterolemia dari kolestipol tidak mempengaruhi insulin tetapi akan menginaktifkan terapi dari phenformin dan sulfonilurea. Sulfonilurea dengan fibrat Sulfonilurea-Klorfibrate akan meningkatkan efek hipoglikemia pada beberapa pasien dan penggurangan dosis perlu untuk dilakukan. 10 mg/ tablet (Kalbe farma) Glimepirid Amaryl 1.

bersifat menekan nafsu makan atau anoreksia. penurunan glukoneogenesis yang meningkat dan penghambatan absorpsi glukosa intestinal. Pada orang normal. alkoholisme.Penurunan kadar gula darah ini disebabkan oleh peningkatan asupan glukosa ke dalam otot. syok. infark miokard. hipersensitivitas. penyakit hati yang kronik. Metformin dapat ditingkatkan dosisnya dari 500 mg tiap minggu hingga tercapai glikemik atau 2000 . Metformin meningkatkan sensitivitas insulin di hati dan jaringan periferal (otot). penyakit kronik dan akut yang berhubungan dengan hipoksia jarinagn. dengan meningkatkan ikatan insulin pada reseptornya. Hamil dan menyusui hentikan pemberian 2-3 hari sebelum operasi. Indikasi Pengobatan awal untuk diabetes tipe 2 dengan berat badan lebih atau normal dan diet gagal. penderita dengan infeksi serius atau trauma. mekanisme anti regulasi akan menutupi efek obat sehingga kadar gula tidak berubah. tetapi mungkin berhubungan dengan adanya adenosin-5-monofosfat yang mengaktifkan aktivitas protein kinase. tirosin kinase. Perhatian: Fungsi ginjal yang kurang sempurna. Mekanisme pasti bagaimana metformin dapat meningkatkan sensitivitas insulin masih diteliti. Kondisi yang dapat menyebabkan dehidrasi. Terapi tunggal pada kegagalan sulfonilurea primer dan sekunder. Metformin tampaknya memperkuat efek insulin. gagal jantung. dan glukosa transporter. Terapi tambahan pada diabetes tipe 1 untuk menurunkan dosis insulin yang dibutuhkan. Efeknya ialah turunnya kadar insulin yang terlau kuat dan penurunan berat badan. Kontra indikasi DM dengan koma. kerusakan fungsi ginjal yang serius. riwayat penyakit yang berhubungan dengan asidosis laktat. ketoasidosis. Dosis Metformin biasanya diberikan dengan dosis 500 mg dua kali sehari dengan makanan untuk mengurangi efek samping gastrointestinal. Monitor fungsi ginjal secara teratur.

Maka metformin dikontraindikasikan. Dosis metformin sehari dimungkinkan 850 mg kemudian ditingkatkan setiap satu atau dua minggu hingga mencapai dosis maksimal 850 mg sehari 3x (2550 mg/hari). Interaksi obat Interaksi yang merugikan : a) Metformin-fenprokumon: hati b) Metformin-alkohol: alkohol meningkatkan efek anti hiperglikemia dan hiperlaktatemia dari metformin. Efek samping ini dapat terjadi beberapa minggu. kembung. Metformin digunakan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal jika diketahui kadar serum kreatinin yaitu 1. sekitar 80% efek penurunan glikemik terlihat pada dosis efektif 1500 mg dan 2000 mg/hari. Jika terjadi efek samping pastikan pasien minum metformin dengan makanan atau setelah makan dan kurangi dosis hingga efek samping ini tidak terjadi. Efek samping Metformin mempunyai efek gastrointestinal seperti mual.5mg/dL pada pria. Efek samping ini dapat diatasi dengan pemberian obat titrasi lambat. Hal ini dihubungkan dengan adanya peningkatan aliran darah ke . Kombinasi tersebut dapat menyebabkan peningkatan eliminasi fenprokumon. karena mekanisme yang berbeda yang saling aditif. Interaksi yang menguntungkan : a) Metformin-sulfonilurea: merupakan kombinasi yang rasional. anoreksia dan perasaan kenyang dan menyebabkan terjadinya penurunan berat badan.mg/ hari. Terapi metformin jarang terjadi asidosis laktat. Pasien yang diobati dengan Metformin sebaiknya menghindari alkohol. c) Simetidin dapat menurunkan bersihan dari metformin. Metformin tidak boleh diberikan pada pasien usia lanjut yang telah mengalami penurunan massa otot.4 mg/dL pada wanita dan 1. Peningkatan dosis dapat dilakukan dalam beberapa minggu. sehingga kadar metformin dalam darah tinggi dan menyebabkan hipoglikemia. diare pada sekitar 30% pasien. dimana jumlah ratarata filtrasi glomerular kreatinin urin selma 24 jam kurang dari 70-30 ml/menit.

Total dosis maksimum sehari tidak boleh melebihi 16 mg. 1). ganguan fungsi hati dan ginjal parah Dosis Dosis awal: 0. ibu hamil dan menyusui. Benofomin (500 dan 850 mg). Efek samping Hipoglikemia. dosis awal 1 mg setiap sebelum makan. Eraphage ( 500mg). c. Pasien pindahan dari obat antidiabetes lain. Interaksi obat . Sediaan Glucophage (500 mg). b) Metformin-insulin: kombinasi ini dianjurkan pada pasien obesitas yang kadar glukosa darahnya sulit dikendalikan. Non-sulfonilurea secretagogeus Repaglinid Mekanisme kerja Menstimulasi sekresi insulin dari sel β-pankreas Indikasi Diabetes militus tipe 2 yang tidak terkontrol dengan diet dan olah raga Kontra indikasi Hipersensitif.menurunkan kadar glukosa darah lebih banyak dari pada pengobatan tunggal masing-masing obat tersebut. Diabex( 500 dan 850 mg).5 mg setiap sebelum makan. diabetes ketoasidosis. kejadian efek tak diinginkan tidak berbeda dari yang teramati pada insulin secretagogeus oral lain. Glumin (500 dan 850 mg). diabetes militus tipe 1. Dosis maksium sekali pemberian 4 mg setiap sebelum makan.

pusing. dan penghambat adregonik non selektif. artropati. peningkatan kadar enzim hati Interaksi obat Potensiasi efek hipoglikemik oleh AINS. 2 mg) 2). Gemfibrozil merupakan obat yang umum digunakan untuk mengobati hipertrigliseridemia pada DM. . ganguan saluran cerna (mual. Sediaan Novonorm (0. produk dari tiroid dan simpatotimetik. gejala flu. bronkhitis. penurunan efek hipoglikemik jika diberikan bersama tiazid. penghambat MAO. hamil dan laktasi Dosis 120 mg 3x/hari Efek samping Hipoglikemik. Neteglinid Mekanisme kerja Menstimulasi sekresi insulin dari sel β-pankreas Indikasi DM tipe 2 (non insulin) atau kombinasi dengan metformin Kontra indikasi DM tipe 1. 1 mg . Inhibitor CYP2C9 pada metabolisme tolbutamid. muntah). alkohol dan diabetik oral. salisilat. nyeri punggung. diabetik ketoasidosis. kostikosteroid. memiliki waktu paruh 2x lipat dari repaglinid dan dihasilkan pada reaksi hipoglikemik diperpanjang. infeksi saluran nafas atas.5 mg . batuk.Kontrol glikemik dan hipoglikemik harus dimonitor ketika obat-obat yang menghambat & menginduksi CYP3A4 diberikan bersama repaglinid.

data ditingkatkan hingga 45 mg sekali sehari. Thiazolidinediones meningkatkan sensitifitas insulin di otot. peningkatan kadar ALT (Alanin aminotransferase). resistensi cairan. Interaksi obat . Kombinasi monoterapi dengan sulfonilurea atau metformin saat makan. Efek samping Idiosinkrasi hepatotoksisitas. anak2 dibawah 18 tahun. hati. menurunkan kadar leptin yang berperan dalam mengatur nafsu makan dan pemasukan makanan. Untuk terapi kombinasi 15 atau 30 mg sekali sehari.Sediaan Starlix (125 mg) d. Indikasi Diabetes tipe 2. Dosis Untuk monoterapi 15 atau 30 mg sekali sehari. pasien dialisa. olahraga dan monoterapi yang cukup. peningkatan berat badan. jaringan lemak secara tidak langsung. hati. Kontra indikasi Untuk pasien yang pernah mengalami kerusakan jantung. yang paling banyak terdapat di sel lemak dan sel vaskular. Thiazolidindione Pioglitazon Mekanisme kerja Berikatan pada peroksisom proliferator aktivator reseptor-γ (PPAR-γ). 1). dan kombinasi terapi dengan insulin.

peningkatan kadar ALT (Alanin aminotransferase). Kontra indikasi DM tipe 1 dan ketoasidosis diabetik Efek samping Idiosinkrasi hepatotoksisitas. Sediaan Avandia 4 mg . hati. Rosiglitazon Mekanisme kerja Berikatan pada peroksisom proliferator aktivator reseptor-γ (PPAR-γ). menurunkan kadar leptin yang berperan dalam mengatur nafsu makan dan pemasukan makanan. ranitidine ataupun warfarin. oral contrasepsi. digoxin. Indikasi Untuk monoterapi sebagai tambahan diet dan olahraga untuk meningkatkan kontrol gula darah pada pasien DM tipe 2. metformin dan sulfonilurea Sediaan Actos 15 dan 30 mg 2). nifedipin. yang paling banyak terdapat di sel lemak dan sel vaskular. Thiazolidinediones meningkatkan sensitifitas insulin di otot. warfarin. glibenklamid. jaringan lemak secara tidak langsung. alcohol. metformin. phenprocoumon.tidak ada interaksi obat dengan digoxin. resistensi cairan. peningkatan berat badan. Interaksi obat Tidak ada interaksi dengan acarbose. food.

ganguan ginjal berat. dosis dapat ditingkatkan hingga 4-8 minggu. α-glukosidase Inhibitor (Akarbose dan miglitol) Mekanisme kerja Menghambat kerja enzim (maltase. dan glukoamilase) secara kompetitif dalam usus halus sehingga menunda pemecahan sukrosa dan kompleks karbohidrat Indikasi Sebagai tambahan terhadap sulfonilurea atau biguanid pada DM yang tidak dapat dikendalikan. Kontra indikasi Hipersensitif. diare.e. Dapat menurunkan efek digoksin. kehamilan dan laktasi Dosis Awali dengan 50 mg kemudian ditingkatkan hingga 100-200 mg. terapi penambah diet untuk penderita diabetes mellitus. kembung. 3xsehari. ganguan intestinal kronis berkaitan dengan absorpsi dan pencernaan. Sediaan: Glukobay (50 mg. isomaltase. Interaksi ADO secara umum Obat Angiotensin Efek terhadap glukosa Mereduksi Mekanisme Meningkatkan sensitivitas . 100 mg)  Interaksi Obat ADO atau insulin Tabel 10. Efek samping Efek samping yang sering terjadi adalah flatulensi. sukrase. Interaksi obat Meningkatkan efek antikoagulan dari warfarin.

2. ADO dengan antasida Kecepatan dari absorpsi beberapa ADO meningkat dengan penggunaan bersama antasida. mengurangi penggunaan glukosa pripheral Memungkinkan peningkatan resisitensi insulin Melemahkan aksi insulin Melemahkan aksi insulin. tetapi tidak terlihat adanya laporan dari respon yang tidak diinginkan pada penderita DM sebagai hasil dari interaksi ini. 3. Insulin/ADO dengan steroid anabolik Nandrolon (norandrostenolon). khususnya pada dosis harian 100 mg atau lebih dan mengganggu kontrol untuk penderita DM. metandienon (methandrostenolone). meningkatkan resistensi insulin Belum jelas Menginhibisi Diuretic Glukocorticoid Asam nikotinat meningkatkan meningkatkan meningkatkan Kontrasepsi oral Pentamidine meningkatkan Menurunkan I-kappa-b kinase-beta (IKK-beta) (hanya Simpatomimetic Clozapin olanzapin Sedikit dosis tinggi 4-6/hari) Meningkatkan glikogenolisis dan glukoneogenesis Belum jelas. Insulin/ADO dengan klorpromazin Klorpromazine dapat meningkatkan kadar gula darah. sehingga dosis dari obat diabetes baik insulin maupun ADO harus diturunkan. Perlu dilakukan peningkatan dosis dari insulin maupun ADO. testosteron dan stanozolol dapat meningkatkan efek pengurangan kadar gula darah. .(enzim inhibitor) Alcohol Α-interferon Diazoxide Mereduksi meningkatkan meningkatkan insulin Mengurangi produksi glukosa dihati Belum jelas Mengurangi sekresi insulin. meningkatkan berat badan meningkatkan dan meningkatkan 1.

sehingga cocok Sulfonilurea Repaglinid Metformin (atau Acarbosa) kelebihan berat badan. Metformin dapat25 kg/m2 potensi ↓ ↓ ↓ glibenklamid dalam menaikkan berat badan pada pasien DM tipe 2. peningkatan atau pengurangan dosis ADO saat mendapatkan terapi hormon sex seperti kontrasepsi oral. diet.↓ sehingga regulasi gula darah dapat terkontrol dengan lebih TargetKombinasi ini setelah 1 bulan samping yang lebih baik. Di samping itu. Sulfonilurea/biguanid dengan NSAID Pada pemberian fenklofenak dengan klorpropamid dan metformin. apabila dibandingkan dengan efek samping apabila menggunakan Kurus Hiperglikemia Gemuk BMI (metformin Postprandial BMI > menekan monoterapi < 25 kg/m2 atau glibenklamid saja). hipoglikemia terjadi pada pasien yang menggunakan gliklazid dan nikardipin.4. Indobufen meningkatkan efek dari glipizid. dan piroksikam meningkatkan efek dari glibenklamid. glibenklamid dengan diflunisal dan glibenklamid dan metformin dapat terjadi hipoglikemia. Pasien lain membutuhkan insulin yang dosisnya ditingkatkan 30% saat menerima terapi nifedipin. namun itu tidak umum terjadi sebagai gangguan yang serius. untuk pasien diabetes melitus tipe 2 yang mengalami ↓ ↓ ↓ -------------------------------Kontrol Inadekuat-------------------------------------↓ ↓ ↓ Kombinasi Sulfonilurea Kombinasi Metformin + Repaglinid + Rosiglitazon -------------------------------Kontrol Inadekuat-------------------------------------↓ Insulin ↓ Kontrol Inadekuat ↓ Kombinasi Insulin dengan Antidiabetik Oral . Terdapat sebuah laporan dimana pasien diabetes semakin parah dan membutuhkankan insulin lebih saat menerima terapi diltiazem. 5. dan olahraga. kombinasi ini saling Diet dan Olahraga → Target tercapai memperkuat kerja masing-masing obat. tidak tercapai memiliki efek ↓ ↓ ↓ sedikit. Antidiabetika Oral Kombinasi Metformin dan Glibenklamid Kombinasi ini sangat cocok digunakan untuk penderita DM tipe 2 pada pasien yang hiperglikemianya tidak Hiperglikemia dengan single terapi (metformin bisa dikontrol ↓ atau glibenklamid saja). ADO dengan hormon sex Beberapa obat diabetes membutuhkan penyesuaian dosis. 6. Insulin dengan Penghambat kanal Calsium Penghambat kanal Calsium diketahui mempunyai efek pada sekresi insulin dan pengaturan glukosa tetapi tidak terjadi gangguan yang signifikan.

dan . Statin (HMG-KoA reduktase) Contoh obat Lovastatin. sehingga menyebabkan aktivasi Sterol Regulatory Element Binding Protein (SREBP) yang merupakan factor transkripsi yang normalnya terdapat pada sitoplasma.Gambar 14. jumlah kolesterol pada hepatosit menurun. rosuvastatin Mekanisme kerja Efek penurunan kolesterol statin disebabkan karena golongan ini merupakan inhibitor kompetitif 3-hidroksi-3-metilglutaril KoA Reduktase (HMG KoA) reduktase. simvastatin. atorvastatin. fluvastatin. Algoritma terapi obat Diabetes Melitus Tipe 2 B. PENGOBATAN HIPERLIPIDEMIA 1. Akibat adanya penghambatan sintesis kolesterol. SREBP selanjutnya berdifusi ke dalam nucleus dan mengikat Sterol Response Elements pravastatin. yang merupakan enzim yang mengkatalisis perubahan HMG KoA menjadi mevalonat dalam biosintesis kolesterol.

(SRE). VLDL dan IDL adalah prekursor LDL. Hamil dan laktasi. Reseptor LDL juga mengikat VLDL dan IDL karena keduanya banyak mengandung ApoE. jumlah LDL plasma menurun. Selain menghambat HMG KoA reduktase dan menghasilkan penurunan kolesterol. Dosis Dosis lazim 10-20 mg/ hari. statin juga memiliki efek farmakologis lain yang disebut efek pleiotropik. Akibatnya. menyebabkan peningkatan transkripsi gen reseptor LDL. dan meningkatkan stabilitas plak. yang mencakup memperbaiki fungsi endotel. mengurangi inflamasi. Jumlah reseptor LDL meningkat sehingga mengikat lebih banyak LDL-plasma. dosis maksimal 80mg/hari Efek samping 1) Hepatotoksisitas Studi post marketing surveillance menunjukkan bahwa pasien yang mengonsumsi statin memperlihatkan peningkatan transaminase hepatik sebesar tiga kali lipat nilai normal. beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa menurunnya sintesis kolesterol menyebabkan penurunan sintesis VLDL yang salah satu komponennya adalah kolesterol. yang dikenali oleh reseptor LDL. Insidens kemungkinan meningkat seiring dengan peningkatan dosis. dengan insidens sebesar 1%. Miopati dan rhabdomiolisis . sehingga jumlah LDL pun menurun. Indikasi Statin menurunkan LDL hingga 25-55% dan TG 10-25%. Selain itu. mengurangi koagulasi darah. serta meningkatkan HDL 5% Kontra indikasi Penyakit hati aktif atau peningkatan persisten serum transaminase yang tidak dapat diterangkan. Hipersensitif.

Interaksi dengan gemfibrozil merupakan penyebab miopati tersering. seperti siklosporin. Interaksi obat: Kombinasi dengan resin asam empedu menyebabkan reduksi LDL 20-30% lebih besar dibanding pemberian statin saja. dan antijamur azole. antibiotik makrolida. nefazodon. Oleh karena itu. 20. yaitu melalui mekanisme pengambatan uptake statin ke hepatosit dan interferensi terhadap katabolisme statin oleh CYP dan glukuronidase di hati. kemungkinan disebabkan oleh peningkatan penghambatan sintesis kolesterol pada otot rangka (interaksi farmakodinamik). penyakit sistemik seperti diabetes mellitus. niasin dan resin asam empedu menyebabkan reduksi LDL hingga 70%. dan 40 mg) Lescol XL (Fluvastatin Na 40 mg) Crestor (Kalsium rosuvastatin 10 dan 20 mg) I. Interaksi dengan niasin juga dapat menyebabkan miopati. Statin boleh diberikan bersama obat-obat di atas apabila dosis statin kurang dari 25% dari dosis maksimal. seperti usia lanjut. namun resiko meningkat seiring meningkatnya konsentrasi plasma statin.1 Bile Acid Resin (BAR) Contoh obat: . disfungsi hepatik dan renal. faktor-faktor yang menghambat katabolisme statin diasosiasikan dengan resiko miopati. Kombinasi statin. inhibitor HIV protease. BMI kecil. Obat-obat yang mengurangi katabolisme statin meningkatkan resiko miopati. fenilpiperadin.Insidensnya cukup rendah (0. dan hipertiroidisme yang tidak diobati.01%). Obat-obat lain yang mengganggu oksidasi statin adalah golongan yang terutama dimetabolisme oleh CYP3A4. Sediaan: Zocor (simvastatin 5 dan 10 mg) Pravachol (Pravastatin Natrium 10 dan 20 mg) Lipovas (Lovastatin 20 mg) Lipitor (Kalsium atorvastatin 10. Fibrat lain terutama fenofibrat tidak mengganggu glukuronidase statin sehingga resiko miopati rendah.

kondisi ini juga diikuti dengan peningkatan jumlah reseptor LDL pada membran hati sehingga terjadi penurunan kadar LDL (yang mengandung kolesterol) di plasma. antara lain tetrasiklin. digoksin. Penurunan jumlah kolesterol di hati akibat peningkatan biosintesis kolesterol menjadi empedu menyebabkan peningkatan ambilan kolesterol dari plasma. Selain itu. fenobarbital.Kolestiramin. penderita gangguan complete biliary. Selain itu juga menyebabkan flatulensi. Hal ini menyebabkan penurunan jumlah empedu sehingga merangsang sintesis empedu di hati dari kolesterol. peningkatan biosintesis kolesterol juga mengakibatkan peningkatan produksi VLDL. mual. Peningkatan kebutuhan akan kolesterol oleh hati juga menyebabkan peningkatan ambilan kolesterol dari jaringan oleh HDL untuk dibawa ke hati dan disintesis menjadi empedu. . warfarin. heartburn dapat diatasi dengan konsumsi makanan berserat . 2x 1 hari Efek samping: Gastrointestinal: konstipasi. anoreksia. Dosis: Kolestipol 10 g. obat golongan statin. Indikasi: hiperkolesterolemia primer (familial hyper cholesterolemia) dan untuk menurunkan kadar LDL Kontra indikasi: Hipersensitif. Akibatnya kadar HDL plasma meningkat. diare musculoskeletal: osteoporosis atau osteomalasia akibat terjadinya penghalangan absorpsi vitamin D Interaksi obat: Kolestipol dan kolestiramin dapat menurunkan absorpsi beberapa obat dalam usus. Karena kondisi ini maka obat-obat BAR dapat memperburuk hipertrigliseridemia. ketidaknyamanan abdomen. Kolestipol Mekanisme kerja: Mengikat empedu dalam lumen usus untuk dikeluarkan melalui feses sehingga mencegah empedu kembali ke hati melalui sirkulasi enterohepatik.

Koletiramin dan kolestipol dapat mengurangi absorpsi vitamin A. Oleh sebab itu. Niasin diindikasikan untuk hipertrigliseridemia dan hiperkolesterolemia dengan HDL rendah. sehingga mengurangi aktivitas lipase yang sensitif terhadap hormon dan menghambat lipolisis TG sehingga kadar asam lemak bebas di plasma menurun. Sediaan: Questran (kolestiramin anhidrat 4g) Cholybar (kolestiramin) (4g resin/batang) Colestid (kolestipol HCl) (serbuk 5 g/kemasan) I. D. Niasin juga meningkatkan half life Apo-A HDL sehingga konsentrasi HDL plasma meningkat. penyakit tukak peptic aktif. obat-obat tersebut harus diminum 1-2 jam sebelum pemberian kolestipol atau 4-6 jam sesudah pemberian kolestipol. anak dan remaja. dan K serta asam folat. ezetimibe.2 Niasin (Asam Nikotinat) Mekanisme kerja: Niasin merupakan vitamin B kompleks larut air yang hanya berfungsi sebagai vitamin dalam bentuk amida. Oleh sebab itu. furosemid. dan diuretik thiazid. Dosis: . sehingga sintesis TG hepatik juga berkurang. Peningkatan HDL mencapai 30-40%. Penurunan sintesis TG menyebabkan berkurangnya produksi VLDL hepatik sehingga kadar LDL plasma juga berkurang.fenofibrate. Hanya niasin yang bukan dalam bentuk amida yang mempunyai efek penurunan lipid. Kontra indikasi: Gangguan fungsi hati yang signifikan atau tidak dapat dijelaskan. Selain itu. perdarahan arteri. gemfibrozil. Niasin menghambat adenilil siklase di adeposit dan menurunkan produksi cAMP. E. Indikasi: Niasin adalah obat terbaik untuk meningkatkan HDL. harus disertai pemberian suplemen asam folat. Hal ini menyebabkan uptake asam lemak bebas ke hati berkurang. niasin juga menurunkan TG sebesar 35-45% dan menurunkan LDL sebesar 20-30%.

5-2 gram/ hari. 750. Gejalanya adalah nyeri otot. Resistensi insulin Efek peningkatan resistensi insulin menyebabkan pemberian niasin harus dimonitor dengan ketat pada pasien diabetes mellitus. Semua ES ini dapat diminimalisir bila niasin diminum setelah makan. 500. Hiperurisemia Interaksi obat: Sediaan: Niaspan (Asam nikotinat 375. Efek samping: Flushing & pruritus Merupakan ES utama dan menjadi parah seiring peningkatan dosis.Dosis awal 100-250 mg/ hari. dan dapat juga menyebabkan mual. level serum albumin menurun. Niasin dalam bentuk sustained release mengurangi efek samping ini. Fenofibrate Mekanisme kerja: . ES ini juga dapat diminimalisir bila dosis awal kecil (100-250mg/ hari) atau bila diminum setelah sarapan/ makan malam. Hepatotoksisitas Baik sediaan regular (kristal) maupun sustained release dengan dosis lebih dari 2 gram dapat menyebabkan hepatotoksisitas. Hal ini mungkin disebabkan oleh meningkatnya kadar prostaglandin.3 Asam Fibrat Contoh obat: Gemfibrozil. sehingga dapat diatasi dengan menambahkan aspirin atau obat AINS lainnya. AST dan ALT meningkat. muntah dan diare namun insidensnya lebih jarang. Penderita tukak lambung dikontraindikasikan terhadap niasin karena dapat memperparah tukak lambung. dan LDL menurun lebih dari 50%. dan 1000 mg) I. ditingkatkan perlahan sebesar 100-200 mg/ hari tiap 7 hari hingga mencapai dosis total 1. Dispepsia Niasin menyebabkan dyspepsia.

disfungsi ginjal Interaksi obat: Peningkatan toksisitas bila digunakan bersama statin. diare. atau ↑Trigliserida dan ↓HDL. rash Kurang umum: sakit kepala. MAO Inhibitor. nyeri otot. diminum 30 menit sebelum makan Dosis maksimum (sehari): 1. sulfonylurea. hiperglikemia. Akibatnya terjadi penurunan kadar triasilgliserida dalam plasma. anemia. mengantuk. batu empedu. pusing. Penurunan efek bila digunakan bersama resin dan rifampin. siklosporin. dan warfarin.Obat-obat golongan ini bekerja dengan meningkatkan aktivitas enzim lipoprotein lipase sehingga meningkatkan hidrolisis triasilgliserida pada kilomikron dan VLDL. pruritus. Kontra indikasi: Gagal ginjal atau hati yang parah Dosis: Dosis lazim: 600 mg 2x sehari.5 g Efek samping: Umum terjadi: nyeri abdomen. furosemid. Gemfibrozil dapat mengurangi sintesis VLDL dan apolipoprotein B bersamaan dengan meningkatnya kecepatan bersihan lipoprotein kaya trigliserida dari plasma. Golongan fibrat dapat meningkatkan efek klorpropamid.4 Cholesterol Absorption Inhibitor . impotensi. Klofibrat kurang efektif dibandingkan dengan gemfibrozil atau niasin dalam menurunkan produksi VLDL. penurunan libido. Sediaan: Lopid (300mg/kapsul) I. Indikasi: Obat-obat turunan asam fibrat merupakan obat pilihan untuk kondisi ↑↑Trigliserida dan ↑LDL. gangguan penglihatan Jarang: Miopati. peningkatan enzim-enzim hati. dan probenesid. furosemid.

diare. peningkatan serum transaminase. trombositopenia Interaksi obat: Sediaan: Ezetrol Zetia (10 mg/tablet) Vytorin (Simvastatin-Ezetimibe): Simvastatin-Ezetimibe (10mg-10mg) Simvastatin-Ezetimibe (20 mg-10mg) Simvastatin-Ezetimibe (40mg-10mg) .Contoh obat: Ezetimibe Mekanisme kerja: Secara selektif menghambat absorpsi kolesterol di brush border usus halus sehingga menurunkan kadar kolesterol plasma. pankreatitis. penyakit hati sedang sampai parah. Ezetimibe dapat menurunkan kadar kolesterol total. Ezetimibe dapat digunakan tunggal ataupun dalam kombinasi dengan statin. Dosis: 10 mg 1 kali sehari Indikasi: Hiperkolesterolemia familial maupun multifaktorial Kontra indikasi: Hipersensitivitas. nyeri dada. Perhatian: Hindari penggunaan selama kehamilan dan menyusui terutama bila pasien juga mengkonsumsi statin. Ezetimibe merupakan obat pilihan sebagai terapi tambahan berkaitan dengan mekanisme kerjanya. Efek samping: ES muskoskleletal (miopati) ES lain: sakit kepala. apoB dan trigliserida serta memfasilitasi peningkatan HDL dalam darah. LDL. hepatitis.

Minute maid heart wise orange juice . stigmasterol. Kontra indikasi: Pada pasien sitosterolemia dapat menyebabkan iskemia. kampestanol) Mekanisme kerja: Menghambat absorpsi kolesterol eksogen Indikasi: Pasien hiperkolesterolemia poligenik yang sangat sensitif dengan penambahan kolesterol dari luar (makanan). maksimum 30 g sterol/hari Efek samping: Arteri koroner Interaksi obat: Sediaan: Benecol.1 Lain-lain Fitosterol Contoh obat: β-sitosterol.5. kampesterol. fitosterol jenuh (sitostanol.5 I.I. Dosis: 2-3 g sterol/hari. Take control.

Amir (48 thn. glukosa urin (+++) Obat yang diperoleh: R/ Zocor 40 mg 3 x 1 Amaryl 2 x 1 Lasix 1 x 1 Selama 5 hari evaluasi tidak memuaskan  bagaimana penilaian pengobatan dan solusi? . tidak kuat jalan jauh dan mengangkat beban berat. TGA 375 mg/dl. gula darah sewaktu 298 mg/dl. Hasil lab: Pembesaran jantung. TD 163/100. selalu merasa haus.BAB VIII PEMBAHASAN KASUS Pasien: Tn. kolesterol total 307 mg/dl. 86 kg) Keluhan: Tiap malam beberapa kali berkemih.

Berikut ini adalah evalusi pengobatan yang dapat dinberikan:  Pengobatan hiperglikemia dengan Glimepirid (Amaryl).  Saran obat  metformin (misalnya: glucophage) . ADO golongan sulfonilurea Hasil kurang memuaskan dikarenakan sulfonilurea kurang cocok digunakan pada penderita hiperglikemia yang mengalami obesitas/kegemukan (berat badan 86 kg). pasien dapat diberikan kombinasi metformin dan sulfonilurea untuk mengobati hiperglikemia. Amir mengalami: • • • Diabetes mellitus tipe II Glukosa darah sewaktu 298 mg/dL. Furosemid (Lasix)  untuk mengobati hipertensi Glimepirid (Amaryl)  untuk mengobati hiperglikemia Berdasarkan hasil evaluasi pengobatan selama 5 hari. misalnya metformin. Apabila terapi dengan biguanid juga kurang kurang memuaskan.  normal 120/80 Hiperlipidemia Kolesterol total 308 mg/dl  normal < 200 mg/dl Trigliserida 375 mg/dl  normal <150 mg/dl Berdasarkan soal di atas pasien diberikan obat : • • • Simvastatin (Zokor)  untuk mengobati hiperlipidemia. ternyata tidak diperoleh hasil yang memuaskan dari terapi.  normal 140-200 mg/dL Hipertensi Tekanan darah 163/100. Oleh karena itu disarankan pasien mengganti sulfonilurea dengan metformin.Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan laboratorium diketahui Tn. Untuk pengobatan terapi hiperglikemia pada pasien gemuk lebih cocok menggunakan derivat biguanid. untuk meningkatkan hasil terapi.

disarankan untuk mengganti pengobatan untuk hiperlipidemia dengan mengganti simvastatin (Zokor) menjadi obat derivat fibrat (gemfibrozil) yang mempunyai indikasi mengobati penyakit hiperlipidemia dengan gambaran patologis hiperkolestrolemia dan hipertrigliseridemia. Sehingga perlu penambahan suplemen kalium untuk menjaga keseimbangan kation-anion dalam tubuh. Catatan lain: Perlunya penambahan suplemen kalium karena penggunaan diuretik furosemid (lasix). Sedangkan keadaan hipertrigliseridemia yang diderita oleh pasien tidak dapat dikoreksi oleh simvastatin (zokor). dosis maksimal perhari dari simvastatin adalah 80 mg. Suplemen yang disarankan adalah Aspar-K. Selain itu. Oleh karena itu.  Obat lain yang masih dipakai furosemid (lasix) untuk mengkoreksi tekanan darah pasien serta menghindari edema jantung. sedangkan dosis yang diterima pasien perhari adalah 120 mg. pemakaian obat kolesterol digunakan bukan sehari tiga kali tapi sehari sekali pada malam hari karena saat malam hari terjadi sintesis kolesterol. Pasien yang menderita hiperkolesterolemia memiliki resiko arterosklerosis (penyempitan pembuluh darah) yang mengakibatkan permukaan pembuluh darah yang harus dilalui oleh darah menjadi tidak rata sehingga akan terjadi pembekuan . Berdasarkan referensi.  Saran obat : Gemfibrozil (Misalnya: lopid). Akibat penggunaan diuretik. Pengobatan hiperlipidemia dengan simvastatin (Zokor) Evaluasi pertama adalah bahwa dosis maksimal perhari yang diterima pasien adalah berlebih. Hasil pengobatan kurang memuaskan dikarenakan obat yang digunakan (simvstatin/Zokor) hanya diindikasikan untuk hiperlipidemia dengan keadaaan hiperkolestrolemia. maka cairan tubuh akan banyak keluar membawa ion-ion tubuh (terjadi hipokalemia). Obat ini diberikan satu kali sehari pada pagi hari. sehingga berisiko toksik.

Amir: R/ Lopid 900 mg 1 x sehari 1 tablet malam hari sebelum makan Lasix 40 mg 1 x sehari 1 tablet pagi Glucophage 500 mg 3 x sehari 1 tablet Aspilets 81 mg1 x sehari 1 tablet Aspar-K 300 mg 3 x sehari 1 tablet Allopurinol 300 mg 1 x sehari 1 tablet . Karena pasien mengalami keadaan hiperlipidemia. Oleh karena itu perlu ditambahkan aspirin dalam konsentrasi kecil yang berguna sebagai anti platelet. Tambahan obat yang dianjurkan adalah Acetilsalicylic acid (Aspilet). penggunaan furosemid juga dapat berkompetisi dengan asam urat. Oleh karena itu perlu penambahan zat yang dapat menghambat sintesis asam urat. sehingga risiko angina dan infark senantiasa mengancam. Saran peresepan obat untuk Tn.darah atau trombus akibat bersentuhan dengan permukaan pembuluh darah yang kasar dan semakin memperparah aterosklerosis. Salisilat dalam jumlah kecil akan bereaksi dengan asam urat membentuk garam salisilat-urat yang lebih sulit dikeluarkan. sehingga terjadi peningkatan reaborpsi asam urat. Rekomendasi lain yang diberikan pada pasien adalah agar pasien selalu sedia (dalam kantong) obat isosorbid dinitrat. sehingga kadar asam urat dalam darah tetap dalam kondisi normal. ada risiko yang cukup besar terjadinya sumbatan pembuluh darah akibat trombus dan emboli. Mekanisme kerjanya adalah asam asetilsalisilat akan diubah menjadi salisilat. karena pasien telah mengalami perbesaran jantung dan keadaan hiperlipidemia. Sayangnya penggunaan aspilet menyebabkan efek yang kurang baik berupa peningkatan asam urat dalam darah. Selain itu. Obat yang disarankan adalah allopurinol. Isosorbid dinitrat ini sebagai pertolongan pertama pada serangan jantung.

2nd ed. September 2009. tanggal 9 . New York. Pharmacotherapy Principles & Practice. 1373...W.Wade. V. P. Farmakologi Ulasan Bergambar. M. Mycek. United States: McGraw-Hill.. 364-368..G. 2004: 107. Ph.D. 26th Ed.R.. dkk. New York: McGraw Hill Companies Inc. 2002. D. Jakarta. Joseph T. Michael J. D. Lippincott Williams & Wilkins: USA. http://www. Ph. Jakarta: Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Corwin. Miles. and William E. Hal 569-570. Medical Pharmacology at a glance. Guyton. Dipiro. Watts. 2000. hal. Murray. Blackwell Publishing Company: Inggris. pkl 13. The Merck Manuals – Home edition for patients and caregivers.K. Elizabeth J. Pharmacoteraphy & Pathophysiologic Approach 6th ed. Rodwell. McGraw-Hill Companies.. and Hall. 27 April 2009. Barret.html. Mayes.K. Neal. Cook.D. Johnson.D. 221-232. Hal 1079. Chan. Granner. 1997.. Jakarta.tamu.25 WIB. Lipoprotein transport in the metabolic syndrome: methodological aspects of stable isotope kinetic studies in Clinical science. B. Handbook of Pathophysiology. 2003. R. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.com/mmhe/sec13/ch165/ch165a.DAFTAR PUSTAKA Anonim.. 9th ed. Mary J. John T. 2002. Widya Medika. Arthur C.merck.C. John E. Hal 78-79.edu/classes/bich/bmiles/lectures/Lipid%20Transport. Christopher L. F. 1995. 2008: 643. Ganiswarna.H. Review of Lipoproteins. Edisi 4.. Harper’s Illustrated Biochemistry. Farmakologi dan Terapi.A. http://www. 2001..pdf-. P.. EGC.

Kanada J. 2005. Michael. 2008. Pharmacoterapy Handbook. Alwi. 2003. Clinical Pharmacy & Therapeutics Ed. 2 Oktober 2009. Drugs and Drugs ed. 2005. 658-660 Anonim. Hal. 15. USA: McGrawHill. Diagnosis dan Penatalaksanaan Diabetes Melitus. 2006. 2006.fpnotebook. Handbook of Pharmacoteraphy 6th edition. Pharmacotheraphy a pathophysiology approach sixth ed. 183-184 Chisholm-burns.htm. et all. P. United kingdom: Elsevier Dipiro. 3. Hal. Spain : Elseiver Science Limited Wells. Pengarang?. et al. Neal. Meyler’s Side Effect of Drugs ed. et al. pukul 13. Jakarta : Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1995. Farmakologi dan Terapi.11th Ed..2: A Practical Guide to The Safe Use of Common Drugs in Adults.wikipedia. Singapore : The McGraw-Hill Companies. Roger. Inc. 78-79 Moses. Hamilton. 2006.01 Wells. http://www. J. Olive Edwards. 2006. 2006. et al. Hui. dan D. Joseph T. Hal. Sixth Edition. 2008. http://en. Marie A.. 2006. Barbara G.org/wiki/Lipoprotein Aronson. Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus di Indonesia : Perkeni. Family Practice Notebook. USA: McGraw-Hill.Goodman & Gilman's The Pharmacologic Basis of Therapeutics . edisi 4 (cetak ulang 2005). USA: McGraw-Hill.Shahab.com/CV/ Pharm/PlntStrl. Jumat. Jakarta: Erlangga. At a Glance Farmakologi Medis Edisi Kelima. K. Scott. .Mc Graw-Hills Companies. Pharmacotherapy principles & practice. Barbara G. Walker.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful