You are on page 1of 30

Mukaddimah

Masyarakat kaum Muslimīn dewasa ini umumnya menghadapi kesenian
sebagai suatu masalah hingga timbul berbagai pertanyaan, bagaimana
hukum tentang bidang yang satu ini, boleh, makrūh atau harām? Di
samping itu dalam praktek kehidupan sehari-hari, sadar atau tidak,
mereka juga telah terlibat dengan masalah seni. Bahkan sekarang ini
bidang tersebut telah menjadi bagian dari gaya hidup mereka dan bukan
hanya bagi yang berdomisilli (bertempat kediaman tetap; bertempat
kediaman resmi) di kota. Umat kita yang berada di desa dan di kampung
pun telah terasuki.(penetrate, possess).

Media elektronika seperti radio, radiokaset, televisi, dan video telah
menyerbu pedesaan. Media ini telah lama mempengaruhi kehidupan
anak-anak mudanya. Kehidupan di kota bahkan lebih buruk lagi. Tempat-
tempat hiburan (ma‘shiat) seperti "night club", bioskop dan panggung
pertunjukkan jumlahnya sangat banyak dan telah mewarnai kehidupan
pemuda-pemudanya.

Sering kita melihat anak-anak muda berkumpul di rumah teman-
temannya. Mereka mencari kesenangan dengan bernyanyi, menari
bersama sambil berjoget tanpa mempedulikan lagi hukum halāl-harām.
Banyak di antara mereka yang berpikir bahwa hidup itu hanya untuk
bersenang-senang, jatuh cinta, pacaran, dan lain-lain.

Semua keadaan yang kami tuturkan di atas terjadi dan berawal dari
kejatuhan seni budaya dan peradaban Islam. Kita dapat menyaksikan
sendiri, seni dan budaya kita telah digantikan dan tergeser (shifted,
moved, removed) oleh seni budaya dan peradaban produk Barat yang
nota-benenya (perhatiannya) menekankan kehidupan yang bebas tanpa
ikatan agama apapun.

Cabang seni yang paling dipermasalahkan adalah nyanyian, musik dan
tarian. Ketiga bidang itu telah menjadi bagian yang penting dalam
kehidupan modern sekarang ini karena semua cabang seni ini dirasakan
langsung telah merusak akhlaq dan nilai-nilai keislāman.

Adanya dampak negatif dari bidang kesenian menyebabkan banyak orang
bertanya-tanya, khususnya dari kalangan pemuda yang masih memiliki
ghirah (cemburu terhadap musuh agama) Islam. Mereka bertanya:
bagaimana pandangan Islam terhadap seni budaya? Bolehkah kita
bermain gitar, piano, organ, drum band, seruling, bermain musik blues,
klasik, keroncong (popular Indineisan music originating from Portuguese
songs), musik lembut, musik rock, dan lain-lain? Bagaimana pula dengan
lirik lagu bernada asmara, porno, perjuangan, qashīdah, kritik sosial, dan
sejenisnya? Di samping itu, bagaimana pandangan hukum Islam dalam
seni tari. Apakah tarian Barat seperti Twist, Togo, Soul, Disko dan

sebagainya? Kalau tidak boleh dengan tarian Barat, bagaimana dengan
tari tradisional? Juga, bolehkan wanita atau lelaki menari di kalangan
mereka masing-masing?

Dalam buku ini akan dipaparkan pembahasan semua permasalahan para
fuqahā’, khususnya dari kalangan empat madzhab. Harapan penulis
semoga karya ini dapat menutupi kekurangan buku-buku bacaan tentang
hukum di bidang seni. Dengan segala kerendahan hati, penulis senantiasa
menghargai setiap kritik dan saran dari semua pihak demi
menyempurnakan risālah kecil ini.

Seni Musik dan Tari pada Bangsa Arab

Pada umumnya orang ‘Arab berbakat musik sehingga seni suara telah
menjadi suatu keharusan bagi mereka semenjak zamān jāhilliyah. Di Hijāz
kita dapati orang menggunakan musik mensural yang mereka namakan
dengan IQA (irama yang berasal dari semacam gendang, berbentuk
rithm). Mereka menggunakan berbagai intrusmen (alat musik), antara lain
seruling, rebana, gambus, tambur, dan lain-lain.

Setelah bangsa ‘Arab masuk Islam, bakat musiknya berkembang dengan
mendapat jiwa dan semangat baru. Pada masa Rasūlullāh, ketika Hijāz
menjadi pusat politik, perkembangan musik tidak menjadi berkurang.

Dalam buku-buku Hadīts terdapat nash-nash yang membolehkan
seseorang menyanyi, menari, dan memainkan alat-alat musik. Tetapi
kebolehan itu disebutkan pada nash-nash tersebut hanya ada pada acara
pesta-pesta perkawinan, khitanan, dan ketika menyambut tamu yang
baru datang atau memuji-muji orang yang mati syahīd dalam peperangan,
atau pula menyambut kedatangan hari raya dan yang sejenisnya.

Dalam tulisan ini kami kutipkan beberapa riwāyat saja, antara lain riwāyat
Bukhārī dan Muslim dari ‘Ā’isyah r.a. ia berkata (Lihat SHAHĪH BUKHĀRĪ,
Hadīts No. 949, 925. Lihat juga SHAHĪH MUSLIM, Hadīts No. 829 dengan
tambahan lafazh:((ِ‫ستَا ُمغَ ّن َيتَيْن‬
َ ْ‫"وَ َلي‬Kedua-duanya (perempuan itu) bukanlah
penyannyi"):

"Pada suatu hari Rasūlullāh masuk ke tempatku. Di sampingku ada dua
gadis perempuan budak yang sedang mendendangkan nyanyian (tentang
hari) Bu‘ats (Bu‘ats adalah nama salah satu benteng untuk Al-AWS yang
jaraknya kira-kira dua hari perjalanan dari Madīnah. Di sana pernah terjadi
perang dahsyat antara kabilah Aus dan Khazraj tepat 3 tahun sebelum
hijrah).(di dalam riwāyat Muslim ditambah dengan menggunakan rebana).
(Kulihat) Rasūlullāh s.a.w. berbaring tetapi dengan memalingkan
mukanya. Pada sā‘at itulah Abū Bakar masuk dan ia marah kepada saya.
Katanya: "Di tempat Nabi ada seruling setan?" Mendengar seruan itu,
Nabi lalu menghadapkan mukanya kepada Abū Bakar seraya bersabda:

"Biarkanlah keduanya, hai Abū Bakar!". Tatkala Abū Bakar tidak
memperhatikan lagi maka saya suruh kedua budak perempuan itu keluar.
Waktu itu adalah hari raya di mana orang-orang Sudan sedang (menari
dengan) memainkan alat-alat penangkis dan senjata perangnya (di dalam
masjid)....."

Dalam riwāyat lain Imām Bukhārī menambahkan lafazh (Lihat SHAHĪH
BUKHĀRĪ, Hadīts No. 509, 511):

‫ع ْيدًا َو هذَا عِيْدُنَا‬
ِ ٍ‫ل قَوْم‬
ّ ُ‫يَا َأبَا َبكْرٍ إِنّ ِلك‬

"Wahai Abū Bakar, sesungguhnya tiap bangsa punya hari raya. Sekarang
ini adalah hari raya kita (umat Islam)."

Hadīts Imām Ahmad dan Bukhārī dari ‘Ā’isyah r.a. (Lihat SHAHĪH BUKHĀRĪ
Hadīts No. 5162, TARTĪB MUSNAD IMĀM AHMAD, Jilid XVI, hlm. 213. Lihat
juga: Asy-Syaukānī, NAIL-UL-AUTHĀR Jilid VI, hlm. 187):

ُ‫ج ُبهُم‬
ِ ْ‫لنْصَا َر ُيع‬
َ ‫ن َمعَكُ ْم مِنْ َلهْ ٍو َفإِنّ ا‬
َ ‫لنْصَا ِر فَقَالَ ال ّنبِيّ (صلعَْمْ (يَا عَائِشَ ُة مَا كَا‬
َ ‫ل مِنَ ا‬
ٍ ُ‫ت امْرََأةً إِلى رَج‬
ِ ّ‫َأّنهَا َزف‬
ُ‫الّلهْو‬

"Bahwa dia pernah mengawinkan seorang wanita dengan seorang laki-laki
dari kalangan Anshār. Maka Nabi s.a.w. bersabda: "Hai ‘Ā’'isyah, tidak
adakah padamu hiburan (nyanyian) karena sesungguhnya orang-orang
Anshār senang dengan hiburan (nyanyian)."

Juga ada lafaz Hadīts riwāyat Imām Ahamd berbunyi (Lihat Asy-Syaukānī,
ibidem jilid VI, hlm. 187):

ٌ‫لنْصَا َر قَ ْو ٌم فِيْهِمْ َهزْل‬
َ ‫حيّيْكُ ْم فَإِنّ ا‬
َ ُ‫حيّوْنَا ن‬
َ َ‫ َأ َت ْينَاكُ ْم ف‬:ُ‫ن ُي َغنّيْهِمْ َو يَقُوْل‬
ْ َ‫َل ْو بَ َع ْثتُ ْم َمعَهَا م‬

"Bagaimana kalau diikuti pengantin itu oleh (oran-orang) wanita untuk
bernayanyi sambil berkata dengan senada: "Kami datang kepadamu.
Hormatilah kami dan kami pun menghormati kamu. Sebab kaum Anshār
senang menyanyikan (lagu) tentang wanita."

‘Abd-ul-Hayy Al-Kaththānī (Lihat ‘Abd-ul-Hayy Al-Kaththāīi, AT-TARĀTIB-UL-
IDĀRIYYAH, Jilid II, hlm. 121-126). mencatat nama-nama penyanyi wanita
di masa Rasūlullāh. Mereka ini suka menyanyi di ruang tertutup (rumah)
kalangan wanita saja pada pesta perkawinan dan sebagainya. Di
antaranya bernama Hammah (Lihat juga Ibnu Al-Asqalany, AN-NISĀ’,
AL-'ASHĀBAH FĪ TAMYĪZ ASH-SHAHĀBAH, Jilid IV, hlm. 274 dan 275) dan
Arnab (Lihat Ibnu Hajar Al-Asqalany, ibidem, hlm. 226).

Kaum lelaki masa Rasulullah dan sesudahnya suka memanggil penyanyi
budak (jawārī) ke rumah mereka jika ada pesta pernikahan. Buktinya Amir
bin Sa‘ad (seorang dari Tābi‘īn) pernah meriwayatkan tentang apa yang
terjadi dalam suatu pesta pernikahan. Ia berkata (Lihat SUNAN AN-NASĀ’I,
Jilid VI, hlm. 135):

a. dan pejuang di perang Badar. Jilid VI.a. banyak berbuat untuk jihād fī sabīlillāh. Mari kita dengar bersama. Mereka mengarang kitab-kitab musik baru dengan mengadakan .W. An- Nasai. Membela Islam dan meluaskannya menghendaki seluruh pemikiran dan usaha sehingga tidak ada sisa waktu lagi untuk bersenang-senang menciptakan bentuk-bentuk keindahan (seni musik. ditandai oleh dua karakteristik." (H. Pada waktu itu muncullah seorang ahli musik bernama Ibnu Misjah (wafat tahun 705 M. yaitu (1). Sesungguhnya telah diperbolehkan bagi kita untuk mengadakan hiburan (nyanyian) apabila ada pesta perkawinan. Ketika itu sedang berlangsung pesta perkawinan. kaum Muslimīn berbaur dengan berbagai bangsa yang masing-masing mempunyai kebudayaan dan kesenian sehingga terbukalah mata mereka kepada kesenian suara baru dengan mengambil musik-musik Persia dan Romawi.A. PENGARANG TEORI MUSIK DARI KALANGAN KAUM MUSLIMĪN. kalau engkau mau.). Maka saya bertanya: :Kalian berdua adalah sahabat Rasūlullāh s. Setelah itu kaum Muslimin banyak yang mempelajari buku-buku musik yang diterjemahkan dari bahasa Yunani dan Hindia. Ini membuktikan bahwa masyarakat Islam di masa Rasūlullāh bukan tanah yang subur untuk kesenian. Orang-orang Islam dengan lagu dan musik.w. sederhana. Imām An-Nasā’i meriwayatkan dalam bāb Mengumumkan Pernikahan Dengan Suara (Nyanyian) dan Rebana yang diriwayatkannya dari M. lagu) apalagi menikmatinya.w. 127): ِ‫ت فِي ال ّنكَاح‬ ُ ْ‫ الدّفّ وَ الصّو‬:ِ‫ل مَا َبيْنَ الْحَلَلِ وَ الْحَرَام‬ ُ ْ‫َفص‬ "Tanda pemisah (pembeda) antara yang halāl dengan yang harām (dalam suatu pernikahan) adalah (mengumumkanmua dengan) memainkan rebana dan menyanyi. lihat Bab Hiburan dan Nyanyian Pada Pesta Pernikahan). Kalau tidak. bersabda (Lihat SUNAN AN-NASĀ’I. Walaupun demikian perlu juga diperhatikan. Tiba-tiba beberapa perempuan budak (jawārī) mulai menyanyi-nyanyi.a. hlm. (2). ِ‫حبَا َرسُوْلِ ال‬ ِ ‫ َأ ْن ُتمَا صَا‬:ُ‫ن َفقُلْت‬ َ ْ‫ي فِيْ عُرْسٍ وَ ِإذَا جَوَارِيْ ُيغَنّي‬ ّ ِ‫لنْصَار‬َ ‫سعُوْدٍ ا‬ ْ َ‫دَخَ ْلتُ عَلى قُ َرظَ َة بْنِ َكعْبٍ وَ َأبِيْ م‬ َ‫ع ْند‬ ِ ِ‫ب َقدْ ُرخّصَ َلنَا فِي الّلهْو‬ ْ َ‫ت اذْه‬ َ ْ‫شئ‬ ِ ْ‫سمَعْ َم َعنَا وَ إِن‬ ْ ‫ت فَا‬ َ ْ‫شئ‬ ِ ْ‫ ِاجْلِسْ إِن‬:َ‫ع ْندَكُ ْم َفقَال‬ ِ ‫ل هذَا‬ ُ َ‫ل بَدْ ٍر يُ ْفع‬ ِ ‫(صلعَْمْ) َو مِنْ أَ ْه‬ ِ‫ا ْلعُ ْرس‬ "Saya masuk ke rumah Qurazhah bin Ka‘ab dan Abū Mas‘ūd Al-Anshārī. silakan pergi.R." 1. 2. KEHIDUPAN MASYARAKAT ISLAM PADA MASA RASŪLULLĀH S. kehidupan masyarakat Islam di masa Rasūlullāh s. Tetapi ketika wilayah Islam meluas. bin Hathib bahwa Nabi s. Kenapa hal yang begini kalian lakukan pula? Quraizhah menjawāb: "Duduklah.w.

dayang-dayang di istana dan di rumah pejabat negara atau pun di rumah para hartawan untuk mendapatkan pekerjaan. Hasjmy. Di antara pelayan (jawārī) atau biduan dan biduanita yang menjadi penyannyi di istana negara tercatat nama-namanya sebagai berikut (Lihat Prof. 7. Khalīl bin Ahmad (wafat tahun 791 M. 2. Pada masa itu para khalīfah dan para pejabat lainnya memberikan perhatian yang sangat besar dalam pengembangan pendidikan musik. Beliau adalah pengarang musik pertama dalam Islam. 3. A. Sejarah kebudayaan Islam. Buku musiknya yang terkenal adalah KITĀB-UL-ALHAN WAL-ANGHĀM (Buku Not dan Irama). penyempurnaan. hlm.) telah berhasil memperbaiki musik ‘Arab jāhilliyah dengan sistem baru. . 2. Kitāb-kitāb karangannya dalam musik sangat bernilai tinggi sehingga penggarang-penggarang teori musik Eropa banyak yang merujuk ke ahli musik ini. PENDIDIKAN MUSIK DI NEGERI-NEGERI ISLAM. 6. Banyak sekolah musik didirikan oleh negara Islam di berbagai kota dan daerah. A. dan pembaharuan.).penambahan. ibidem. Ibrāhīm al-Mausully dan puteranya Ishāk al-Mausully.). Selain dari penyusunan kitāb musik yang dicurahkan pada akhir masa Daulah Umayyah.Hasmy. A. 3. Dua bersaudara Hakam dan ‘Umar Al-Wady. 320-321). Al-Kharīd. 324-326): Yang menjadi biduan antara lain: 1. ibidem. Hasjmy . 4. 322).). (Lihat Prof. (Lihat Prof. hlm. Di antara pengarang teori musik Islam yang terkenal ialah: 1. Karena itu telah menjadi suatu keharusan bagi para pemuda dan pemudi untuk mempelajari musik. Yunus bin Sulaimān Al-Khatīb (wafat tahun 785 M. Ma‘bad. baik sekolah tingkat menengah maupun sekolah tingkat tinggi. hlm. 5. Nasyīth. Fulaih bin Abī ‘Aurā. baik dari segi alat-alat instrumen maupun dengan sistem dan teknisnya. Beliau sangat terkenal dalam musik sehingga mendapat julukan IMĀM-UL-MUGHANNIYĪN (Raja Penyanyi). Siyāth. Ishāk bin Ibrāhīm Al-Mausully (wafat tahun 850 M. pengasuh. 3. Sekolah musik yang paling sempurna dan teratur adalah yang didirikan oleh Sa‘id ‘Abd-ul-Mu’mīn (wafat tahun 1294 M. Beliau telah mengarang buku teori musik mengenai not dan irama. Salah satu sebab mengapa dalam Daulah ‘Abbāsiyyah didirikan banyak sekolah musik adalah karena keahlian menyanyi dan bermusik menjadi salah satu syarat bagi pelayan (budak).

Adapun nyanyian yang disertai dengan alat musik maka ulama yang menghalalkannya mengatakan bahwa semua Hadits yang membahas masalah ini nilainya tidak sampai ke tingkat shahih maupun hasan. AHKAM-UL- QURAN. Bahkan ada Hadits yang menunjukkan bolehnya nyanyian. Bazel dan Zat-ul-Khal (biduanita istana di masa Khalīfah Hārūn Ar-Rasyīd).Adapun biduanitanya anatara lain: 1. Begitu juga Ibnu Thahir berpendapat ada ijma' sahabat dan tabi'in tentang halalnya nyanyian vokal ini. Rasulullah s. hlm. 1053-1054): "Tidak terdapat satu dalil pun di dalam Al-Quran maupun Sunnah Rasul yang mengharamkan nyanyian. NAIL-UL-AUTHAR. 2. Ibnu "Uyainah. At-Taj-ul-Fazari dan Ibnu Qutaibah menyebutkan adanya ijma' penduduk Mekah dan Madinah.w. di antaranya adalah Imam yang empat. bersabda: "Biarkanlah keduanya. Mereka mengatakan bahwa nyanyian semacam ini halal atau dibolehkan. 4. Ibnu Thahir dan Ibnu Qutaibah juga menyebutkan adanya ijma' penduduk Madinah dalam hal tersebut. Habhabah (biduanita kesenangan Khalīfah Yazīd I). Sedangkan Imam Al-Mawardi mengatakan bahwa penduduk Hijaz sejak dulu sampai sekarang (abad 5 H) membolehkan nyanyian jenis ini pada hari-hari yang mulia dalam setahun yang (kaum Muslimin) diperintahkan untuk melakukan nazam-nazam zikir dan ibadah. sebagaimana yang dikutip oleh Imam Asy-Syaukani dari berbagai kalangan ulama (Lihat Asy- Syaukani . dan jumhur Syafi'yah. ada seruling syaitan?" Mendengar perkataan itu. 3.hlm." Imam An-Nawawi dalam kitabnya Al-Umdah berkata: "Telah diriwayatkan tentang halalnya nyanyian dan mendengarkannya dari sekelompok sahabat dan tabi'in. Al-Adhfawi dalam kitabnya AL-IMTA menyebutkan bahwa Imam Al-Ghazali dalam berbagai karangan fiqihnya menegaskan kesepakatan ulama tentang halalnya nyanyian jenis ini. Neam (biduanita istana Khalīfah Makmun)." . Hadits shahih itu mengatakan bahwa Abu Bakar pernah masuk ke tempat Aisyah yang disampingnya ada dua jariyah penyanyi dari kalangan Anshar yang sedang menyanyikan tentang hari Bu'ats.a. wahai Abu Bakar. sebab sesungguhnya hari ini adalah hari raya." Ini mengenai nyanyian vokal tanpa instrumen musik.w. Kemudian Abu Bakar berkata: "Di rumah Nabi s. HALAL ATAU HARAM NYANYIAN DAN MEMAINKAN ALAT MUSIK? Nyanyian yang bersifat vokal (suara manusia tanpa instrumen musik) tidak diperselisihkan oleh para fuqaha. Sallamah (biduanita istana Khlīfah Yazīd II). Jilid III. 114-115): "Nyanyian tanpa instrumen musik.a. Basbas (biduanita istana di masa Khalīfah Al-Mahdi). dan 5. Inilah yang dikatakan oleh Al-Qadhi Abu Bakar Ibn-ul-'Arabi (Lihat Abu Bakar Ibn-ul-'Arabi. Jilid VIII.

Tetapi alasan yang diberikan beliau (Nabi s. Jilid VI. tambur. 60). Maka Ibnu Hazm membantah pendapat ini dengan mengatakan (Lihat Ibnu Hazm. Pendapat Ibnu 'Abbas dan Ibnu Mas'ud. dalam surat Luqman. tidak akan ada sama sekali hal tersebut. dan sebagainya. dan Ikrimah tentang firman Allah s. Mujahid. bahwa semua pendapat yang semacam ini tidak dapat dijadikan sebagai hujjah atau bukti dengan sebab-sebab sebagai berikut: 1.w. Teks ayat tersebut cukup untuk membatalkan hujjah mereka. Begitu juga pendapat Ibnu 'Abbas yang mengatakan bahwa memainkan alat musik rebana dan setiap alat musik termasuk seruling. sebagaimana yang diterangkan dalam ayat tersebut adalah orang-orang yang bila mengajarkannya telah termasuk kafir tanpa ada selisih pendapat (khilaf).a. Tidak ada hujjah dalam ucapan manusia manapun selain ucapan Rasulullah s. Ibrahim. pulangnya seseorang kekampung halamannya. Jadi.t.Ibn-ul-'Arabi berkata: "Jika nyanyian itu haram. maka telah terbukti bahwa ia adalah halal atau boleh secara mutlak. (Lihat Ibnu Hazm.w. AL- MUHALLA. yang hal tersebut menunjukkan bahwa bila nyanyian itu dilakukan secara terus-menerus. baik berkumpulnya kalangan kaum wanita maupun pria. baik bertolak dari nash maupun suatu takwilan. hlm.t. Jilid VI. 2. surat Luqman. Inilah komentarnya. Berkumpulnya orang-orang (dalam acara tersebut) biasanya untuk menyenangkan hati orang-orang yang sejak lama tidak bertemu atau berkumpul.w. Bahkan menurut beliau. Orang- orang yang bertindak demikian. maka pendapat ini bertentangan senga pendapat yang lainnya dari kalangan sahabat dan tabi'in.a. 3.a. tentu di rumah Rasulullah s.) untuk membolehkannya adalah karena nyanyian itu dilakukan pada hari raya. ayat 6 yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah nyanyian. hlm." Imam Ibnu Hazm juga memberikan komentar yang melemahkan semua Hadits riwayat tentang nyanyian." Adapun orang yang bertolak dari pendapat Ibnu Mas'ud dan Ibnu 'Abbas tentang firman Allah s. AL-MUHALLA. ayat 6 tentang arti Lahw-ul- hadits dalam ayat tersebut adalah 'nyanyian". Sedangkan rukhshah (keringanan) untuk melakukannya terbatas pada saat-saat tertentu seperti hari raya.w. adalah haram. perkawinan.t. 59): "Jika belum ada perincian dari Allah s.w. Mereka telah . maupun RasulNya tentang haramnya sesuatu yang kita bincangkan di sini (dalam hal ini adalah nyanyian dan menggunakan alat-alat musik). sebagian di antaranya adalah maudhu' (palsu). setiap Hadits yang diriwayatkan maupun ayat dipergunakan untuk menunjukkan keharaman nyanyian merupakan pendapat yang bathil atau tidak benar dari segi sanad dan ijtihad.w. maka hukumnya makruh.

maka tidak ada sesuatu kebenaran itu melainkan kesesatan.. 60)..t. Adapun yang tidak meninggalkan sesuatu dari apa yang telah diwajibkan walaupun ia sibuk dengan apa yang telah diuraikan di atas. buku-buku Hadits.a. telah berfirman: ِ‫َفمَاذَا َبعْدَ ا ْلحَقّ ِإلّ الضّلَل‬ ".t.. Bahwasanya apa yang diperoleh oleh seseorang adalah sesuai dengan apa yang diniatkannya. Kemudian beliau melanjutkan bantahannya terhadap pendapat dari pihak yang menanyakan.) sebagai senda gurau. dengan mengatakan (Lihat Ibnu Hazm.. telah bersabda: )‫ئ مَا نَوى) (متفق عليه‬ ٍ ِ‫ل امْر‬ ّ ُ‫ل بِال ّنيَاتِ وَ ِإنّمَا ِلك‬ ُ ‫عمَا‬ ْ َ‫(ِإّنمَا ال‬ "Sesungguhnya amal perbuatan (manusia) itu tergantung niatnya..w. . Bertolak dari keterangan di atas maka terbukti dengan pasti bathilnya pendapat orang-orang yang meributkan masalah tersebut (yang mengharamkan nyanyian)." Oleh karena itu siapa saja yang niatnya mendengar nyanyian untuk melakukan suatu kemaksiatan kepada Allah. atau menyibukkan diri dengan nyanyian dan yang serupa dengannya.w. maka orang tersebut adalah muhsin (orang yang tidak salah melangkah). Arti ayat itu bukan ditujukan kepada orang- orang yang menyibukkan dirinya dengan sesuatu untuk menghibur diri tanpa bermaksud menyesatkan orang lain dari jalan Allah s.t.w. Inilah yang dicela oleh Allah s. Begitu pula halnya tiap sesuatu (hiburan) selain nyanyian. Sedangkan orang yang berekreasi di kebun atau duduk-duduk di depan pintu rumah sambil melihat orang-orang yang sedang berjalan.w. Begitu pula dengan orang-orang yang sengaja menyibukkan diri dengan maksud tidak melakukan solat walaupun apa yang dilakukannya adalah dengan membaca Al-Quran. AL-MUHALLA. hlm." (10:32). Rasulullah s.menjadikan Sabil (Agama Allah s. sibuk memandang banyaknya uang. over). hujjah mereka telah gugur. Andaikan Al- Quran dibeli untuk menyesatkan orang-orang dari jalan Allah s. mencelup bajunya dengan warna biru atau hijau.w. bend s. dan dijadikannya sebagai bahan ejekan maka tentu orang-orang yang melakukan hal tersebut telah menjadi kafir.t. melalui ayat tersebut. dan warna lainnya.w. apakah nyanyian itu tergolong dalam Al-Haq (sesuatu yang dibenarkan oleh agama) atau tidak? Ini disebabkan karena Allah s. maka ia adalah seorang fasiq. Jilid VI.. mencari bahan untuk pengajian.t.t. begitu pula dengan seluruh perbuatan yang serupa dengannya. Dengan demikian. atau ingin meluruskan kaki atau menekuknya (fold s. maka orang tersebut adalah fasiq dan telah berbuat maksiat.t.

irama gerak dan memfokuskan pada hiburan. Bangsa-bangsa primitif percaya pada daya magis dari tari. Pada tarian sufi (darwish). Tarian tradisional seringkali mendapat sentuhan penata tari yang kemudian menjadi tarian kreasi baru. tapdans. ditambah dengan berbagai keterangan sebelumnya maka dapat kita simpulkan bahwa para ulama memang telah berselisih pendapat terhadap masalah nyanyian. Gerakannya bisa dinikmati sendiri. seni tari telah memainkan peranan penting dalam upacara kerajaan dan masyarakat maupun pribadi. Kita lantas mengenal adanya seni tari modern yang umumnya digali dari tarian traditional. Seni sekarang berada halnya dengan tarian abad-abad sebelumnya. PANDANGAN ISLAM TERHADAP SENI TARI. walaupun ada yang bersifat sosial. maka itulah hukum Allah terhadapnya. maka itulah hukum Allah terhadapnya. Sedangkan bagi orang-orang yang belum terbukti baginya keshahihan Hadits-Hadits yang mengharamkan nyanyian yang disertai dengan dugaan kuat dan dengan ijtihad yang benar. Sejak dahulu. Tarian ini dijadikan lambang kekuatan kerjasama kelompok dan perwujūdan saling menghormati. Dari tarian ini dikenal tari Kesuburan dan Hujan. Selain itu ada tarian rakyat yang komunal (folk dance). Orang mengenal ada tari balet. Seni tari dilakukan dengan menggerakkan tubuh secara berirama dan diiringi dengan musik. Sebagian dari mereka tidak menganggap Hadits-Hadits yang mengharamkan nyanyian adalah shahih. juga terhadap setiap orang yang mengikutinya. tari Eksorsisme. Seni tari adalah akar tarian Barat populer masa kini. merupakan ekspresi gagasan. Karenanya. Tarian ini lebih mengutamakan keindahan. ketoprak atau sendratari Gaya tarian abad XX berkembang dengan irama-irama musik pop singkopik.Berdasarkan uraian-uraian di atas. Sedangkan yang lain telah menjadikan Hadits-Hadits tersebut sebagai hujjah atau bukti untuk mengharamkan nyanyian. sesuai dengan tradisi masyarakat. Tarian Asia Timur hampir seluruhnya bersifat keagamaan. emosi atau kisah. . tari Perburuan dan Perang. siapa saja yang ijtihadnya telah menghasilkan suatu dugaan yang kuat bahwa bernyanyi dan mendengarkannya adalah haram. Masing-masing mengikuti apa yang mereka tentukan sebagai dasar pengambilan hukum sesuai dengan ijtihadnya. gerakan dipakai untuk mencapai ekskatase (semacam mabuk atau tak sadar diri). dan Kebangkitan. Juga terhadap setiap orang yang mengikutinya sebab masalah ini adalah masalah khilafiyah sebagaimana yang telah kami uraikan pada bab-bab sebelumnya.

. Seni tari pada permulaan Islam berbentuk sederhana dan hanya dilakukan oleh orang-orang yang datang dari luar jazīrah ‘Arab. seperti orang-orang Sudan. soul. 152." (secara berulang-ulang). Jilid III. Banyak anak- anak berkumpul di sekitarnya karena ingin menonton tarian mereka.a. 204-205): )ٌ‫حمّدٌ َعْبدٌ صَالِح‬ َ ‫ ُم‬:َ‫شةُ يَزِْفنُوْ َن َبْينَ َيدَيْ َرسُوْ ِل الِ (ص) وَ يَ ْرقُصُوْ َن وَ َيقُوْلُو ْن‬ َ َ‫حب‬ َ ‫(كَاَنتِ اْل‬ "Orang-orang Habsyah (pada hari raya ‘Īd-ul-Adhhā) menari (dengan memainkan senjata mereka) di hadapan Rasūlullāh s. 1. hlm. Dalam sejarah Islam terdapat perbedaan pendapat antara yang pro dengan yang kontra tentang seni tari. Kedua tarian ini gerakannya menggila dan digandrungi anak muda. seni tari berkembang dengan pesat. hlm.a..w. Beliau menentang keras seni tari dalam kitabnya yang berjudul Risālah fī Simā‘i war-Raqs was-Surākh (Risālah tentang Mendengar Musik. Salah satu contoh tentang hal ini adalah seperti yang diriwayatkan oleh Abū Dāwūd dari ‘Anas r. Ahmad Ibnu Taimiyah (wafat tahun 1328 M). Jilid II. Jilid IV. orang-orang Habsyah (Ethiopia sekarang) menari dengan gembira menyambut kedatangan beliau sambil memainkan senjata mereka. togo. . SYARH-SHAHĪH BUKHĀRĪ. SENI TARI DALAM LINTASAN SEJARAH ISLAM. 281): )ْ‫ك لَ ِعبُوْا ِبحِرَاِب ِهم‬ َ ِ‫حبْشَةُ فَ ْرحًا بِذل‬ َ ‫(َلمّا َقدِمَ الّنبِ ّي (ص) اْل َمدِيَْنةَ لَ ِعَبتِ اْل‬ "Tatkala Rasūlullāh datang ke Madīnah. twist.w. Beliau berkata (Lihat MUSNAD IMĀM AHMAD. tetapi ketika itu orang-orang telah melakukannya). khususnya di jaman Daulah ‘Abbāsiyyah. Sesudah jaman Rasūlullāh s.. Orang-orang Habsyah bernyanyi (dengan sya‘ir): "MUHAMMAD ADALAH HAMBA YANG SHALEH. dan lain-lain. IRSYĀD-US-SARI. seperti hari raya dan hari- hari gembira lainnya. Namun banyak ‘ulamā’ yang tidak setuju dengan tarian semacam itu. hlm. Kehidupan mewah yang dicapai kaum Muslimīn pada waktu itu telah mengantarkan mereka kedalam suatu dunia hiburan yang seakan-akan telah menjadi keharusan dalam masyarakat yang ma‘mūr (Hukum mendengarkan alunan lagu adalah mubah.a. tercatat di antaranya ialah Imām Syaikh-ul-Islam. dan terakhir adalah disko dan breakdance. lihat juga Al-Qastallanī." Imām Ahmad dan Ibnu Hibbān juga meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Anas r. Menari biasa dilakukan pada hari-hari gembira.misalnya dansa cha-cha-cha.. Ethiopia. yang berkata (Lihat SUNAN ABŪ DĀWŪD.a.

Kemudian pada masa khilafah ‘Utsmāniah berikutnya. Tari Zapin sampai sekarang masih hidup subur di kepulauan Riau (Melayu). Dahulu. Bahkan banyak tradisi yang sekarang berkembang di nusantara adalah hasil perkembangan tari rakyat Riau yang diperagakan mulai dari lingkup istana sampai kedai-kedai kopi. hlm. Yang berpendapat begini di antaranya Ibrāhīm Muhammad Al-Halabī (wafat tahun 1545 M. Namun ada juga kalangan ‘ulamā’ yang membolehkan seni tari selama tidak melanggar norma-norma Islam. yang mengarang kitāb AR-RAQSU WAZ- ZAFNU (Kitāb tentang Tari dan Gerak Kaki) (Lihat Prof. khususnya tarian sufi yang biasa dilakukan oleh kaum pria saja. Namun perlu diperhatikan di sini. kesenian tari mulai mundur ketika tentara bangsa Mongol menguasai pusat peradaban Islam di Baghdād. hlm. Kata-kata pengiring tarian ini masih menggunakan bahasa ‘Arab yang bercampur dengan bahasa Melayu (Lihat Dr. seni tari telah mendapatkan tempat yang istimewa di tengah masyarakat. pada jaman khilafah ‘Abbāsiyah. Ibidem. Pengarang kitāb ‘ilmu seni tari yang pertama di dalam Islam adalah Al- Farābī (wafat tahun 950 M. 128. Pada akhir masa khilafah ‘Abbāsiyah. adalah tarian populer peninggalan karya tersebut. Mereka ini adalah penari "berkaliber tinggi". Ini berbeda halnya dengan nyanyian. baik di kalangan istana. para penyanyi diijinkan menyanyi menyanyi sambil menari di jalanan atau di atas jembatan serta di tempat-tempat umum lainnya. Bentuk seni inipun berkembang dengan baik dan mendapatkan perhatian sultan. 127). Hoesin. seperti yang dilakukan sekarang ini (khususnya anak-anak muda). hlm.). Semua hasil karya seni dirusak oleh tentara keji itu karena memang bangsa ini tidak menyukai tarian. Jilid XVIII. 326). KULTUR ISLAM. Oemar A. hlm. Rumah-rumah les privat menyanyi dan menari dibuka untuk umum. baik di rumah-rumah orang kaya maupun miskin. seni tari berkembang lebih pesat lagi. Sedangkan penari wanita menarikan tarian di istana dan rumah-rumah para pejabat. Riau adalah pusat kerajaan Melayu dan pernah memperoleh masa kejayaannya di sana. dalam sejarah umat Islam yang panjang. A.). Berbagai guru serta pelatih tari dan nyanyian dipelihara sultan di istana. AL-AGHĀNĪ. maupun di tempat-tempat hiburan lainnya (taman ria dan sebagainya). misalnya di night club. Pengaruh kitāb ini masih dapat kita ketahui. Hasjmy. tari-tarian itu tidak pernah dilakukan di tempat-tempat terbuka yang penontonnya bercampur-baur antara lelaki dengan wanita. . panggung pertunjukan. Beliau mengarang kitāb yang berjudul Ar-Rahs Wal-Waqs Limustahill-ir-Raqs (Benteng yang Kokoh bagi Orang yang Membolehkan Tari-Tarian). Pada masa pemerintahan khilafah ‘Abbāsiyah. dan Jilid XIII.Tarian-Tarian dan Nyanyian). (Lihat Abū Al-Farāj Al-Ishfahānī. Begitu juga dengan perkembangan sya‘ir. misalnya. dan sebagainya. gedung-gedung khusus (rumah pejabat dan hartawan). Serampang dua belas. 466-467). Tetapi tidak pernah dilakukan di tempat-tempat khusus.

dan aku tergolong ke dalam golonganmu.a. kecuali sesudah kebudayaan Barat mulai mewarnai dan mempengaruhi kebudayaan Islam. Sebab. 1141.w. dansa. dan sekelompok penari kawakan yang tercatat di dalam kitāb Al-Aghānī. ibidem.a. bersabda: )َ‫(َأْنتَ ِمنّيْ وَ َأنَا ِمنْك‬ "Engkau tergolong ke dalam golonganku. : )ْ‫(أَ ْشَب ْهتَ َخلْقِيْ وَ ُخلُقِي‬ "Engkau adalah orang yang paling mirip dengan corak dan tabiatku".Perlu diingat. kata beliau: "Para sahabat Rasūlullāh s. Jilid VI. Namun ada juga penari dari kalangan pria. Sebagaimana kami sebutkan di atas. joget. 1142 dan 1187) beranggapan bahwa mendengar nyanyian dan musik sambil menari hukumnya mubāh. Kata Imām Al-Ghazālī.a. hlm. misalnya Ibrāhīm Al-Maushili (wafat 235 H. IHYĀ‘-UL-‘ULŪM-ID-DĪN.w. di rumah para pejabat. Jilid V (Riwayat hidup Ibrāhīm Al-Maushili)). (Lihat Imam Al- Ghazali. Imām Al-Ghazālī kemudian menyebutkan bahwa ‘Alī bin Abī Thālib pernah berjinjit atau menari tatkala ia mendengar Rasūlullāh s. dia pernah melakukan hal yang sama (berjinjit) ketika mendengar sabda Rasūlullāh s." . tari-tarian pada masa lalu hanya dilakukan oleh wanita- wanita budak saja yang bekerja di istana. 2. Imām Al-Ghazālī dalam kitāb IHYĀ’-UL‘ULŪM-ID-DĪN.: )‫(َأْنتَ أَخُوْنَا وَ َم ْو َلنَا‬ "Engkau adalah saudara dan penolong kami. Sesudah itu baru muncul kebiasaan menari dengan mengikuti para penari Barat dengan gaya merangsang syahwat dan membangkitkan birahi. seperti tari balet. (Lihat Abū Al-Farāj Al- Ishfahānī. atau tarian yang menimbulkan histeria seperti disko dan break dance. tari-tarian dimasa permulaan Islam tidak pernah dilakukan dalam keadaan kaum lelaki menari bercampur dengan kaum wanita.).a. atau di rumah-rumah rakyat biasa.w.w. pernah melakukan "hajal" (berjinjit) pada saat mereka merasa bahagia. TANGGAPAN UTAMA ISLAM TERHADAP TARIAN. dangdut. Juga Zaid bin Hāritsah pernah berjinjit tatkala mendengar sabda Rasūlullāh s." Begitu juga Ja‘far bin Abī Thālib.

hal ini tidak bisa dijadikan sebagai hujjah untuk membolehkan tari-tarian yang tujuannya untuk menghibur diri. Semua ini hukumnya mubāh yang tujuannya untuk menampakkan rasa gembira.w. bahkan mendorong mereka untuk melanjutkan tariannya.a. saat walīmahan pernikāhan. atau tidak dijauhi oleh rakyatnya. ‘aqīqahan. Padahal jumhur ulama telah menegur pendapat ini dalam hal perbedaan maksud dan tujuan. seperti hari raya. Jilid VI. hlm. atau pada waktu khitanan. dan Zaid. dan setelah seseorang hafal Al-Qur’ān. Oleh karenanya. 258-260)." Akan tetapi Imām Ibnu Hajar menentang pengertian Hadīts yang membolehkan tarian. pesta pernikahan. Kemudian Imām Al-Ghazālī menyimpulkan bahwa menari bahwa menari itu hukumnya boleh pada saat-saat bahagia." (Lihat Ibnu Hajar Al-Asqalani. maka ditentang keras oleh Imām Ibn-ul-Jauzi (Lihat Imām Ibn-ul-Jauzi TALBĪS IBLĪS.: )18:‫(وَ َل تَمْشِيْ فِي الَرْضِ َمرَحًا) (لقمن‬ "Dan janganlah kamu berjalan di bumi ini dengan angkuh.Dalam kesempatan lain ‘Ā’isyah diijinkan Rasūlullāh s. FATH-UL-BĀRI.. tidak dijatuhkan martabatnya. pulangnya seseorang ke kampung halamannya.w.w. Tujuan orang- orang Habsyah yang bermain-main dengan perisai dan tombak merupakan bagian dari latihan yang biasa mereka lakukan untuk berperang. Tentang riwāyat Imām Bukhārī dan Imām Ahmad yang berkaitan dengan menarinya orang-orang Habsyah di hadapan Rasūlullāh s.t.a. untuk menyaksikan penari-penari Habsyah. Adapun mengenai nukilan Imām Al-Ghazālī tentang "hajal" (berjinjitnya) ‘Alī.w. Ja‘far. hlm. Al-Qādhī ‘Iyādh berkata: "Ini merupakan dalīl yang paling kuat tentang bolehnya tarian sebab Rasūlullāh s. hajal tidak lebih dari semacam cara dalam gerak kaki berjalan yang dilakukan pada saat seseorang merasa gembira. Al- Qur’ān telah mencantumkan keharaman tarian dengan nash yang tegas seperti firman Allah s. Ini bertujuan agar mereka tidak dikecilkan rakyat. Maka inipun merupakan salah satu cara dalam berjalan pada saat berhadapan dalam peperangan. Beliau berkata: "Sekelompok sufi telah berdalīl kepada Hadīts tersebut untuk membolehkan tari-tarian dan mendengarkan alat-alat musik." (31:18) . Sedangkan tarian tidak demikian! Gerakan Zafarnya orang-orang Habsyah adalah mendorong keras dan menyepak dengan kaki. membiarkan mereka melakukannya. 553). Kemudian Imām Ibn-ul-Jauzi berkata: "Menurut Abū Al Wafā Ibn-ul-‘Aqīl. Tetapi tari-tarian itu maupun jenis- jenis hiburan lainnya tidak layak dilakukan para pejabat dan pepimpin yang menjadi panutan masyarakat. lahirnya seorang bayi.a. Katanya.

perut." (31:18). Karena itulah menurut Abū Wafā Ibnul ‘Aqīl. Apakah layak bagi seseorang membanggakan diri dengan menari seperti binatang dan menepuk dada seperti wanita (sambil menari). tangan. Tari piring.Allah s. Syara‘ tidak mengharāmkan seseorang untuk menggerakkan badan. dan sebagainya. baik yang berirama maupun yang tidak diiringi musik. Tujuannya adalah untuk menarik pengunjung (wisatawan – mancanegara atau domestic) untuk atau yang sedang berkunjung ke negeri-negeri tertentu. Keinginan untuk menari sama dengan keinginan manusia untuk berjalan.t. Tarian rakyat itu akhirnya tidak terlepas dari promosi atau pengenalan negeri tempat asalnya. dapatkah kita membayangkan suatu perbuatan keji yang dapat menjatuhkan nilai akal dan kewibawaan bagi seseorang serta menyebabkan ia terjatuh dari sifat kesopanan dan rendah hati. Apalagi yang melakukannya adalah kakek-kakek yang berjenggot. tari rantak) yang ditarikan oleh masyarakat setempat pada berbagai upacara perayaan atau ketika menyambut tamu luar negeri. . bermain. Ada tarian modern (tradisional daerah.w. Bahkan semua perbuatan itu akan muncul secara alami. menari merupakan cara berjalan paling angkuh dan penuh dengan kesombongan. Ada tarian dari masyarakat primitif yang berbentuk tarian upacara ritual. Biasanya tari-tarian ini tidak terlepas dari iringan musik dan nyanyian khas serta ciptaan daerah tertentu. kaki. MENENTUKAN SIKAP DAN PENDIRIAN. Kemudian Imam Ibn-ul-Jauzi melanjutkan dengan mengomentari tarian orang sufi. seperti yang dilakukan oleh seorang (sufi yang ) berjanggot. dan seterusnya. Katanya. juga mencela orang-orang yang sombong dengan firmanNya: )18:‫ختَالٍ َفخُوْرٍ) (لقمن‬ ْ ‫حبّ ُكلّ ُم‬ ِ ‫ل لَ ُي‬ َ ‫(إِنّ ا‬ "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang sombong lagi membanggakan diri. tari Minang. Tarian ini tetap dilestarikan keberadaannya. Telah cukup banyak jenis tarian yang ada di tengah masyarakat saat ini. Semua merupakan perbuatan yang biasa dilakukan secara alami (fitri) dalam rangka menghibur diri atau mencari kesenangan dan kebahagiaan. yang sudah gaek dan hampir masuk liang kubur yang nantinya akan diminta pertanggungjawabannya di Padang Mahsyar? 3. bertepuk tangan dan mengikuti irama yang dinyanyikan para wanita dan anak-anak muda yang belum tumbuh jenggotnya. Hukum asal untuk menari adalah mubāh selama dalīl-dalīl syara‘ tidak mengharāmkan tari-tarian tertentu.

atau Fling dari Skotlandia). sehasta demi sehasta. BUKHĀRĪ). yang biasanya dilakukan dengan penekanan gerak pada bagian perut.a. Tarian Barat juga banyak macamnya. bersabda (Lihat ‘Abd-ur-Ra’ūf Al-Manāwī. bagaimana status hukum syara‘ terhadap tari-tarian yang telah disebutkan di atas? Di bawah ini akan di rinci pandangan syara‘ terhadap tarian sebagai berikut: 1. kalian pun mengikutinya. cha-cha-cha. Hadīts No. Polka dari Bohemia. FAIDH-UL- QĀDIR. 7320).Bahkan terkadang." (HR. Ada juga tarian yang dilakukan oleh wanita-wanita. Ini sama saja dengan dansa Agogo.w. Jig dari Irlandia. twist. berputar atau menggelepar. bersabda (Lihat SHAHĪH BUKHĀRĪ. Lalu. Ada tari perut di Timur Tengah.w. Czardas dari Hongaria. karena Rasūlullāh s. Di kepulauan-kepulauan sekitar Pasifik dan negeri-negeri Timur lainnya. Tarian ini adalah jenis tarian hiburan semata. apakah yang (engkau) maksudkan di sini adalah (seperti) bangsa-bangsa Persia dan Romawi?" Rasūlullāh menjawab: "Siapa lagi kalau bukan mereka. Dalam hal ini termasuk semua jenis tarian upacara keagamaan dan primitif. Dalam riwāyat lain disebutkan bahwa yang di ikuti oleh kaun Muslimīn adalah (budaya) orang-orang Nasrānī dan Yahūdī. Rasūlullāh s. 2. Tarian ini biasanya dilakukan oleh sepasang manusia (lelaki-perempuan).a. Semua tarian ini sudah lazim dilakukan oleh pasangan penari lelaki dan wanita. Ada tari Balet yang merupakan tarian drama tunggal yang diiringi musik. 7319): ‫لَ تَقُوْمُ السّا َعةُ حَتّى تَأْ ُخذَ أُمّتِيْ بِأَ ْخذِ الْقُرُوْنِ قَْبَلهَا شِبْرًا بِشِبْرٍ وَ ِذرَاعًا‬ ‫ وَ َمنْ ِمنَ النّاسِ إِلّ أُولِئكَ؟‬:َ‫يَا َرسُوْلَ الِ كَفَارِسَ وَ الرّوْمَ؟ فَقَال‬:َ‫ِب ِذرَاعٍ فَقِيْل‬ "Tidak akan terjadi kiamat sebelum umatku mengambil apa-apa yang dilakukan oleh bangsa-bangsa terdahulu (abad-abad silam) sejengkal demi sejengkal. Hadīts No. Sampai-sampai ketika mereka masuk ke liang biawak. Setiap tarian yang berpasangan lelaki wanita yang bercampur-baur dan diiringi dengan instrumen musik. 5824): (ِ‫)الْغِيْ َرةُ مِ َن الِيْمَانِ َو الْ ِمذَاءُ ِمنَ النّفَاق‬ . Hadīts No.(Lihat SHAHĪH BUKHĀRĪ. tarian dari negara tertentu dapat kita temukan di negeri lain karena perwakilan konsulat bidang kebudayaan negara tersebut dangan senanghati menggelar pertunjukannya (seperti telah kita lihat adanya tarian-tarian Fandago dari Spanyol. maka harām hukumnya. terdapat tarian-tarian yang seluruhnya dilakukan dengan sikap duduk. Syara‘ melarang kaum Muslimīn menyerupai orang kafir dalam hal-hal yang menyangkut urusan agama." Para sahabat bertanya: "Ya Rasūlullāh. dan disko.

maka ia (telah) tergolong ke dalam golongan mereka. Imām Al-Qazwīnī menukil pendapat Imām Al-Halīmī tentang arti Hadīts tersebut. Berdasarkan keterangan di atas. atau membiarkan lelaki pergi bersama kaum wanita. MUKHTASHAR-USY-SYU‘AB-IL-ĪMĀN."(Lihat Ibnul ‘Atsīr. mengumpulkan lelaki-perempuan agar masing-masing pasangan mencampuri pasangan lainnya. hlm. Ada yang mengatakan bahwa kata tersebut berasal dari "AMDZAIT-UL- FARAS" yang artinya: "Aku telah melepaskan kudaku untuk merumput. . yaitu zina. Di samping itu. sebagaimana kaidah syara‘ yang berbunyi: )ٌ‫(اْلوَسِيْلَةُ إِل اْلحَرَامِ َحرَام‬ "Sesuatu yang menghantarkan kepada yang harām maka ia harām pula (dikerjakan). Menurut ketentuan syara'. BAIHAQĪ. b. maka bercampurnya kaum lelaki dengan wanita yang bukan muhrim dalam bentuk apapun adalah harām. baik mereka pergi bertamasya bersama-sama maupun barmain- main seperti layaknya suami-istri. Termasuk dalam hal ini adalah menari bersama dengan lelaki-perempuan dan mengikuti irama musik. Jilid IV. Lelaki yang membawa sejumlah pria ke rumahnya untuk mencampuri istrinya. 312-313). dan Hudzaifah bin Al-Yaman). 8593): (ْ‫)مَنْ َتشَبّهَ بِ َقوْ ٍم َف ُهوَ مِْن ُهم‬ "Siapa saja yang menyerupai suatu kaum (dalam pola hidup dan adat istiadat). FAIDH-UL-QĀDIR. Imām Ibnu ‘Atsīr menafsirkan Mizā’ dengan makna sebagai berikut: a. setiap sesuatu yang menghantarkan kepada perbuatan harām maka ia harām pula. 238). yaitu (Lihat ‘Abd-ur-Ra’ūf Al-Manāwī."Ghīrah (cemburu) itu adalah bagian dari īmān." (HR AL-BAZZĀR. Hadīts No. dari Abū Sa‘īd Al-Khudrī). hlm." Tari-tarian masa sekarang sering dilakukan bersama-sama lelaki-wanita. AN-NIHĀYAH. THABRANĪ. sedangkan Mizā’ adalah bagian dari nifāq. dari Ibnu ‘Umar. Dalam kitāb MUKHTASHAR-USY-SYU‘AB-IL-ĪMĀN. Bahkan acara tersebut tidak terlepas dari perbuatan-perbuatan harām lainnya." (HR. ABŪ DĀWŪD. yaitu (Lihat Imām Al-Halīmī. ditambah dengan menenggak minuman keras sampai teler. Ada dalīl lain yang mengharāmkan semua jenis tarian dari semua bangsa- bangsa. Tidak jarang acara seperti itu akan menghantarkan kepada perbuatan dosa besar.

hidup bebas. memainkan tombak dan perisai dan senjata tajam lainnya sambil menarikannya. dan lelaki yang menyerupai wanita." (HR. lahirnya seorang bayi. dari Ibnu ‘Amru bin Al-‘Āsh)..Inilah larangan atau tegah menyerupai bangsa manapun dengan apa saja secara mutlak. hukum asal menari adalah mubāh selama tidak melampaui batas-batas syara‘...a. misalnya pesta pernikahan. Hukum Menyanyi Dan Musik Dalam Fiqih Islam Keprihatinan yang dalam akan kita rasakan. seperti : (15 :‫)فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِِبهَا) (اللك‬ "Berjalanlah di segala penjuru (bumi). kalau kita melihat ulah generasi muda Islam saat ini yang cenderung liar dalam bermain musik atau bernyanyi.. ‘ibādah. dan sebagainya. 3.. baik dalam urusan ‘aqīdah. dan sebagainya. 4.w. atau: (42 :‫)اُ ْركُضْ بِرِ ْجلِكَ) (ص‬ "Hentakkanlah kakimu. Bertolak dari umumnya nash-nash yang membolehkan menggerakan kaki. adat kebiasaan. atau Hadīts-Hadīts yang membolehkan seorang lelaki berjinjit. tidak boleh kaum lelaki muhrim atau suami menari dengan tarian yang biasanya dilakukan oleh kaum wanita. Maka.. IMĀM AHMAD. Sebaliknya. Termasuk di sini hal-hal yang menyangkut masalah tari-tarian. Seorang wanita atau lelaki boleh bernyanyi dan menari di rumahnya sendiri untuk anggota keluarga atau kerabat yang muhrim." (67:15). misalnya tari perut dan sejenisnya. khususnya pada hari gembira. kaum wanita tidak boleh menarikan tarian lelaki. sebab Rasūlullāh s. nikāh. melarang kaum lelaki menyerupai wanita atau sebaliknya: (ِ‫)لَ ْيسَ مِنّا َمنْ َتشَّبهَ بِالرّجَالِ ِمنَ الّنسَاءِ وَ لَ َمنْ َتشَّبهَ ِمنَ الّنسَاءِ بِالرّجَال‬ "Tidak termasuk golonganku wanita yang menyerupai lelaki. Mungkin mereka berkiblat kepada penyanyi atau kelompok musik terkenal yang ." (38:42). Walaupun demikian. Seorang istri boleh bernyanyi dan menari untuk suami atau sebaliknya. hari raya.

seperti halnya bermain musik dan bernyanyi sesuai ketentuan Islam dalam ruang lingkup kampus kita atau lingkungan kita. di tengah perjuangan kita mewujudkan kembali masyarakat Islami tersebut. maka kita akan meninjau lebih dahulu definisi seni. sebagai akibat penerapan paham sekulerisme yang kufur. Selain itu. Dengan demikian. kaset. bukan berarti kita saat ini tidak berbuat apa-apa dan hanya berpangku tangan menunggu perubahan.umumnya memang bermental bejat dan bobrok serta tidak berpegang dengan nilai-nilai Islam. mereka cukup sulit atau jarang mendapatkan teladan permainan musik dan nyanyian yang Islami di tengah suasana hedonistik yang mendominasi kehidupan saat ini. tetapi juga nampak dalam pemisahan agama dari urusan seni budaya. Namun demikian. Minimal di kampus atau lingkungan kita. Muhammad Quthb mengatakan sekularisme adalah iqamatul hayati ‘ala ghayri asasin minad dîn. radio. Inilah solusi fundamental dan radikal terhadap kondisi kehidupan yang sangat rusak dan buruk sekarang ini. Walhasil. hal. artinya. generasi muda Islam akhirnya cenderung membebek kepada para pemusik atau penyanyi sekuler yang sering mereka saksikan atau dengar di TV. lalu di atas reruntuhannya kita bangun sistem kehidupan Islam. Atau mungkin juga. 2. Tidak demikian. sebagai proses pendahuluan untuk memahami fakta (fahmul waqi’) yang menjadi objek penerapan hukum. yaitu sebuah sistem kehidupan yang berasaskan semata pada Aqidah Islamiyah sebagaimana dicontohkan Rasulullah Saw dan para shahabatnya. sekularisme sebenarnya tidak sekedar terwujud dalam pemisahan agama dari dunia politik. Tak dapat diingkari. sekularisme menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah memisahkan agama dari segala urusan kehidupan (fashl ad-din ‘an al-hayah) (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. dan berbagai media lainnya. mengatur kehidupan dengan tidak berasaskan agama (Islam). kondisi memprihatinkan tersebut tercipta karena sistem kehidupan kita telah menganut paham sekularisme yang sangat bertentangan dengan Islam. Tulisan ini bertujuan menjelaskan secara ringkas hukum musik dan menyanyi dalam pandangan fiqih Islam. 25). Definisi Seni Karena bernyanyi dan bermain musik adalah bagian dari seni. Diharapkan. norma-norma Islami yang disampaikan dalam makalah ini tidak hanya menjadi bahan perdebatan akademis atau menjadi wacana semata. Kondisi ini harus segera diakhiri dengan jalan mendobrak dan merobohkan sistem kehidupan sekuler yang ada. tentu saja perumusan tersebut diharapkan akan bermuara pada pengamalan konkret di lapangan. Nizhâm Al-Islâm. tetapi juga menjadi acuan dasar untuk merumuskan bagaimana bermusik dan bernyanyi dalam perspektif Islam. VCD. termasuk seni musik dan seni vokal (nyanyian). Atau dalam bahasa yang lebih tajam. Kita tetap wajib melakukan Islamisasi pada hal-hal yang dapat kita jangkau dan dapat kita lakukan. Dalam . berupa perilaku Islami yang nyata dalam aktivitas bermain musik atau melantunkan lagu.

Abdurrahman al-Baghdadi. Di samping pembahasan ini. dan sebagainya (Dr. biola. Ada baiknya penulis sampaikan. lebih beranekaragam dari dua aktivitas tersebut. 3. hukum mendengarkan nyanyian. Sebab fakta yang ada. akan disajikan juga tinjauan fiqih Islam berupa kaidah-kaidah atau patokan-patokan umum. cara membuat not. orkes simfoni. Seni Dalam Pandangan Islam. Seni musik membahas antara lain cara memainkan instrumen musik. Seni musik ini bentuknya dapat berdiri sendiri sebagai seni instrumentalia (tanpa vokal) dan dapat juga disatukan dengan seni vokal. hal. agar aktivitas bermain musik dan bernyanyi tidak tercampur dengan kemaksiatan atau keharaman. adalah seni yang diperdengarkan melalui media alat-alat musik. Abdurrahman al-Baghdadi. melainkan hukum yang termasuk dalam masalah khilafiyah. dan studi bermacam-macam aliran musik. bahwa hukum menyanyi dan bermain musik bukan hukum yang disepakati oleh para fuqaha. Sedang seni vokal. Adapun seni musik (instrumental art) adalah seni yang berhubungan dengan alat-alat musik dan irama yang keluar dari alat-alat musik tersebut. penulis melakukan pemilahan hukum berdasarkan variasi dan kompleksitas fakta yang ada dalam aktivitas bermusik dan menyanyi. hukum mendengarkan musik. Tinjauan Fiqih Islam Dalam pembahasan hukum musik dan menyanyi ini. yaitu: Pertama. paling tidak. Ketiga. Kedua. Menurut penulis. Inilah sekilas penjelasan fakta seni musik dan seni vokal yang menjadi topik pembahasan. hal. drama) (Dr. Jadi para ulama mempunyai pendapat . Seni instrumentalia. 13-14). dan lain-lain) atau dengan alat-alat musik majemuk seperti band. seperti telah dijelaskan di muka. adalah seni yang diungkapkan dengan cara melagukan syair melalui perantaraan oral (suara saja) tanpa iringan instrumen musik. ada 4 (empat) hukum fiqih yang berkaitan dengan aktivitas bermain musik dan menyanyi. yaitu hukum memainkan musik dan hukum menyanyi. Maka dari itu. piano. Keempat. Seni vokal tersebut dapat digabungkan dengan alat-alat musik tunggal (gitar. yang dilahirkan dengan perantaraan alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar (seni suara). atau dilahirkan dengan perantaraan gerak (seni tari. indera pendengar (seni lukis). terlalu sederhana jika hukumnya hanya digolongkan menjadi dua. hukum memainkan alat musik. 13).Ensiklopedi Indonesia disebutkan bahwa seni adalah penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia. karawitan. Seni Dalam Pandangan Islam. hukum melantunkan nyanyian (ghina’).

di antaranya al-Hasan. 27-3 .” (Qs. Bukhari. dan Qs. al-Qurthubi. seperti diuraikan oleh al-Ustadz Muhammad al- Marzuq Bin Abdul Mu’min al-Fallaty mengemukakan dalam kitabnya Saiful Qathi’i lin-Niza’ bab Fi Bayani Tahrimi al-Ghina’ wa Tahrim Istima’ Lahu (Musik. Dan Seni Tari Dalam Islam.1./ juga oleh Dr. 3. Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas. Abdurrahman al-Baghdadi. musik atau lagu. Shahih Bukhari. Kitab al-Fiqh ‘Ala al-Madzahib al-Arba’ah. hal. Toha Yahya Omar. 41-42. hal. dan alat-alat musik (al-ma’azif). Sebagian mengharamkan nyanyian dan sebagian lainnya menghalalkan. 21-25. 20-22). Berikut sebagian dalil masing-masing. Karena itu. Hadits Abu Malik Al-Asy’ari ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya akan ada di kalangan umatku golongan yang menghalalkan zina. Berdasarkan firman Allah: “Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna (lahwal hadits) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu ejekan. boleh jadi pendirian penulis dalam tulisan ini akan berbeda dengan pendapat sebagian fuqaha atau ulama lainnya. Dr. an-Najm [53]: 59-61. dan Syaikh Muhammad asy- Syuwaiki dalam Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas (hal.” [HR. Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki. hal. 5590]. Pendapat- pendapat Islami seputar musik dan menyanyi yang berbeda dengan pendapat penulis.berbeda-beda dalam masalah ini (Syaikh Abdurrahman al-Jaziri. Seni Dalam Pandangan Islam. arak. Ayat-ayat lain yang dijadikan dalil pengharaman nyanyian adalah Qs.ashifnet. Hukum Melantunkan Nyanyian (al-Ghina’ / at-Taghanni) Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum menyanyi (al-ghina’ / at- taghanni).” Kemudian beliau . hadits no. Hukum Seni Musik. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan. al-Isrâ’ [17]: 64 (Abi Bakar Jabir al-Jazairi. 96.tripod. Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud. b. Luqmân [31]: 6) Beberapa ulama menafsirkan maksud lahwal hadits ini sebagai nyanyian. http://www. c. sutera. 3).com). Abdurrahman al-Baghdadi dalam bukunya Seni dalam Pandangan Islam (hal. Dalil-Dalil Yang Mengharamkan Nyanyian: a. 97-101): A. Seni Suara. hal. mempelajarinya atau mendengar-kannya. Masing-masing mempunyai dalilnya sendiri-sendiri. hal. Haramkah Musik Dan Lagu? (al-I’lam bi Anna al-‘Azif wa al-Ghina Haram). Hadits Aisyah ra Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan nyanyian-nyanyian (qoynah) dan menjualbelikannya. tetap penulis hormati.

janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas. yaitu: 1.” [HR. “Demikianlah yang dilakukan Rasulullah Saw. Hadits dari Nafi’ ra.” B.]. Rasulullah Saw bersabda: “Orang yang bernyanyi. maka dia menutup telinganya dengan telunjuknya terus berjalan sambil berkata. al- Mâ’idah [5]: 87). Ruba’i Binti Mu’awwidz Bin Afra berkata: Nabi Saw mendatangi pesta perkawinanku. Ibnu Abi Dunya dan al-Baihaqi. f. Ibnu Abid Dunya. d. [HR.” [HR. Ibnu Abi Dunya dan Ibnu Mardawaih]. hadits mauquf]. Dalam perjalanan kami mendengar suara seruling.” Maka Nabi Saw bersabda: . maka Allah SWT mengutus padanya dua syaitan yang menunggangi dua pundaknya dan memukul-mukul tumitnya pada dada si penyanyi sampai dia berhenti. 2. c. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka berkata: “Di antara kita ada Nabi Saw yang mengetahui apa yang akan terjadi kemudian. Rasulullah Saw bersabda: “Nyanyian itu bisa menimbulkan nifaq. Ratapan seorang ketika mendapat musibah sehingga menampar wajahnya sendiri dan merobek pakaiannya dengan ratapan syetan (rannatus syaithan). “Hai Nafi. katanya: Aku berjalan bersama Abdullah Bin Umar ra. sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas. Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Auf ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya aku dilarang dari suara yang hina dan sesat. masihkah kau dengar suara itu?” sampai aku menjawab tidak.membacakan ayat di atas. b. Hadits dari Ibnu Mas’ud ra. Kemudian dia lepaskan jarinya dan berkata. e. Firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman.” (Qs. Alunan suara nyanyian yang melalaikan dengan iringan seruling syaitan (mazamirus syaithan). Hadits dari Abu Umamah ra.” [HR. Dalil-Dalil Yang Menghalalkan Nyanyian: a. lalu beliau duduk di atas dipan seperti dudukmu denganku. seperti air menumbuhkan kembang. lalu mulailah beberapa orang hamba perempuan kami memukul gendang dan mereka menyanyi dengan memuji orang yang mati syahid pada perang Badar. Ibnu Abid Dunya dan al-Baihaqi].

hal. C. Itu lebih baik daripada melakukan tarjih. di mana salah satunya menafikan apa yang ditetapkan yang lainnya.“Tinggalkan omongan itu. hal. Dari Aisyah ra. Dari Abu Hurairah ra. hal. Imam asy-Syafi’i mengatakan bahwa tidak dibenarkan dari Nabi Saw ada dua hadits shahih yang saling bertentangan. juz. Dalam hal ini Syaikh Dr.” [HR. Pandangan Penulis Dengan menelaah dalil-dalil tersebut di atas (dan dalil-dalil lainnya).” [HR. Karena itu kita perlu melihat kaidah-kaidah ushul fiqih yang sudah masyhur di kalangan ulama untuk menyikapi secara bijaksana berbagai dalil yang nampak bertentangan itu. Muhammad Husain Abdullah. 485]. yakni menguatkan salah satunya dengan menolak yang lainnya. kecuali dua hadits ini dapat dipahami salah satunya berupa hukum khusus sedang lainnya hukum umum. Teruskanlah apa yang kamu (nyanyikan) tadi. III. 390). Muslim. e. Muhammad Husain Abdullah menetapkan kaidah ushul fiqih: Al-‘amal bi ad-dalilaini —walaw min wajhin— awlâ min ihmali ahadihima “Mengamalkan dua dalil —walau pun hanya dari satu segi pengertian— lebih utama daripada meninggalkan salah satunya. jika ada dua kelompok dalil hadits yang nampak bertentangan. meskipun mujtahid belum menjumpai nasakh itu (Imam asy-Syaukani. 113. Karena itu. akan nampak adanya kontradiksi (ta’arudh) satu dalil dengan dalil lainnya. atau salah satunya global (ijmal) sedang lainnya adalah penjelasan (tafsir). Al-Wadhih fi Ushul Al-Fiqh. Lalu Hasan berkata: “Aku pernah bersyi’ir di masjid dan di sana ada orang yang lebih mulia daripadamu (yaitu Rasulullah Saw)” [HR. Irsyadul Fuhul Ila Tahqiq al-Haq min ‘Ilm al-Ushul.” (Syaikh Dr. Maka Umar memicingkan mata tidak setuju. Jadi kedua dalil yang nampak bertentangan itu semuanya diamalkan dan diberi pengertian yang memungkinkan sesuai proporsinya. dalam Fâth al-Bârî. hal. maka sikap yang lebih tepat adalah melakukan kompromi (jama’) di antara keduanya. bukan menolak salah satunya. Pertentangan hanya terjadi jika terjadi nasakh (penghapusan hukum). 275). juz II. Tiba-tiba Rasulullah Saw bersabda: “Mengapa tidak kalian adakan permainan karena orang Anshar itu suka pada permainan. Prinsip yang demikian itu dikarenakan pada dasarnya suatu dalil itu adalah untuk . dari Aisyah ra]. Bukhari]. dia pernah menikahkan seorang wanita kepada pemuda Anshar. d. sesungguhnya Umar melewati shahabat Hasan sedangkan ia sedang melantunkan syi’ir di masjid. Bukhari.

102-103). melihat. dan semisalnya (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi. Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas. Sebab memang ada perbedaan antara melantunkan lagu (at-taghanni bi al-ghina’) dengan mendengar lagu (sama’ al-ghina’). menggerakkan kaki. zina. Misalnya nyanyian yang syairnya memuji sifat-sifat Allah SWT.” (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki. makan. hal. bukan untuk ditanggalkan. atau syairnya yang bertentangan dengan syara’. hal. nasionalisme. Sedangkan mendengarkan lagu. yaitu nyanyian yang disertai dengan kemaksiatan atau kemunkaran. liberalisme. termasuk dalam hukum af-‘âl jibiliyah. hal. 3. minum. kondisi. Nyanyian haram didasarkan pada dalil-dalil yang mengharamkan nyanyian. menunjukkan bolehnya nyanyian secara muqayyad (ada batasan atau kriterianya) (Dr. mendorong orang meneladani Rasul. 239). dan sebagainya. hal. mendengar. seperti pada hari raya. menunjukkan hukum khusus. Seni Dalam Pandangan Islam. menceritakan keindahan alam semesta. Hukum melantunkan lagu termasuk dalam hukum af-‘âl (perbuatan) yang hukum asalnya wajib terikat dengan hukum syara’ (at-taqayyud bi al-hukm asy-syar’i). duduk. ikhtilath (campur baur pria–wanita). seperti berjalan.diamalkan. Hukum Mendengarkan Nyanyian a. baik berupa perkataan (qaul). 103). atau sarana (asy-yâ’). yang muncul dari penciptaan manusia. Seni Dalam Pandangan Islam. yaitu bolehnya nyanyian pada tempat. 64-65. misalnya mengajak pacaran. atau peristiwa tertentu yang dibolehkan syara’. Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki. misalnya disertai khamr. dan . Hukum Mendengarkan Nyanyian (Sama’ al-Ghina’) Hukum menyanyi tidak dapat disamakan dengan hukum mendengarkan nyanyian. bukan untuk ditanggalkan (tak diamalkan). Sedang dalil yang menghalalkan. 63-64. Syaikh Taqiyuddin an- Nabhani menyatakan: Al-ashlu fi ad-dalil al-i’mal lâ al-ihmal “Pada dasarnya dalil itu adalah untuk diamalkan. yang hukum asalnya mubah.2. Abdurrahman al-Baghdadi. mengajak taubat dari judi. Atau dapat pula dipahami bahwa dalil yang mengharamkan menunjukkan keharaman nyanyian secara mutlak. Dari sini kita dapat memahami bahwa nyanyian ada yang diharamkan. menggerakkan tangan. juz 1. Asy- Syakhshiyah al-Islamiyah. mendukung pergaulan bebas. Sedang dalil yang membolehkan. perbuatan (fi’il). mengajak menuntut ilmu. yaitu nyanyian yang kriterianya adalah bersih dari unsur kemaksiatan atau kemunkaran. Nyanyian halal didasarkan pada dalil-dalil yang menghalalkan. atau perkecualian (takhsis). kedua dalil yang seolah bertentangan di atas dapat dipahami sebagai berikut : bahwa dalil yang mengharamkan menunjukkan hukum umum nyanyian. tidur. mempropagandakan sekularisme. Af-‘âl jibiliyyah adalah perbuatan-perbuatan alamiah manusia. penampakan aurat. Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas. membaui. dan ada yang dihalalkan. hal. Atas dasar itu.

Sebab mendengar adalah perbuatan jibiliyyah yang hukum asalnya mubah. Masing-masing ini tidak memerlukan dalil khusus untuk membolehkannya. Mendengar nyanyian (sama’ al-ghina’) adalah sekedar mendengar. apakah melihat gunung.” (Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki. Hanya saja di sini ada sedikit catatan. misalnya melihat aurat wanita. Imam Muslim. Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas.” [HR. Jika suara yang terdengar berisi suatu aktivitas maksiat. ubahlah dengan lisannya (ucapannya). kita tidak dibolehkan berdiam diri dan wajib melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Kaidah syariah menetapkan: Al-ashlu fi al-af’âl al-jibiliyah al-ibahah “Hukum asal perbuatan-perbuatan jibiliyyah. adalah mubah. melihat apa saja adalah boleh. ada perbedaan antara mendengar (as-sama’) dengan mendengar-interaktif (istima’). apakah suara gemericik air. mobil. an-Nasa’i. sebab melihat itu sendiri adalah boleh menurut syara’. sebenarnya adalah mubah. dan seterusnya. maka meskipun mendengarnya mubah. dan tidak boleh mendiamkannya. bagaimanapun juga nyanyian itu. Demikian pula mendengar. suara binatang. Maka dari itu. b. Ada hukum lain. ubahlah dengan hatinya (dengan tidak meridhai). juga suara manusia termasuk di dalamnya nyanyian. batu. Demikian pula hukum mendengar nyanyian. Jika tidak mampu. Perbuatan-perbuatan yang tergolong kepada af-‘âl jibiliyyah ini hukum asalnya adalah mubah. kerikil. Nabi Saw bersabda: “Siapa saja di antara kalian melihat kemungkaran. sehingga hukum asalnya adalah boleh. melihat —sebagai perbuatan jibiliyyah— hukum asalnya adalah boleh (ibahah). Misalnya kita mendengar seseorang mengatakan. Tetapi jika isi atau syair nyanyian itu mengandung kemungkaran. 96). hal. tanpa ada interaksi misalnya ikut hadir dalam proses . suara halilintar. Jika tidak mampu. Hukum Mendengar Nyanyian Secara Interaktif (Istima’ al-Ghina’) Penjelasan sebelumnya adalah hukum mendengar nyanyian (sama’ al-ghina’). tidak haram. Dalam bahasa Arab.sebagainya. “Saya akan membunuh si Fulan!” Membunuh memang haram. Hanya saja jika ada dalil khusus yang mengaramkan melihat sesuatu. Mendengar suara apa saja boleh. Jadi. Dan itu adalah selemah-lemah iman. Abu Dawud dan Ibnu Majah]. Tapi perbuatan kita mendengar perkataan orang tadi. kecuali adfa dalil yang mengharamkan. pohon. maka pada saat itu melihat hukumnya haram. Perbuatan mendengar termasuk perbuatan jibiliyyah. Sekedar mendengarkan nyanyian adalah mubah. Hanya saja kita berkewajiban melakukan amar ma’ruf nahi munkar terhadap orang tersebut dan kita diharamkan mendiamkannya. yaitu mendengarkan nyanyian secara interaktif (istima’ li al- ghina’). ubahlah kemungkaran itu dengan tangannya (kekuatan fisik). ada kewajiban amar ma’ruf nahi munkar.

Hukum Memainkan Alat Musik Bagaimanakah hukum memainkan alat musik.” (Qs. Adapun selain alat musik ad-duff / al-ghirbal. berdiam di sana. Toha Yahya Omar. Menurut Syaikh Nashiruddin al-Albani hadits-hadits yang mengharamkan alat-alat musik seperti seruling. “…Maka janganlah kamu duduk bersama kaum yang zhalim setelah (mereka) diberi peringatan. berada dalam satu forum. Ada yang mengharamkan dan ada pula yang menghalalkan. atau rebana. dan sejenisnya. rebana. hal.menyanyinya seseorang.3. Imam Ibnu Katsir dalam Ikhtishar ‘Ulumul Hadits. Akan tetapi Syaikh Nashiruddin al-Albani dalam kitabnya Dha’if al- . dan kemudian mendengarkan nyanyian sang penyanyi (Syaikh Muhammad asy- Syuwaiki. Imam an-Nawawi dalam Al-Irsyad. Hukum Seni Musik. piano. Dalam hal ini penulis cenderung kepada pendapat Syaikh Nashiruddin al-Albani. Allah SWT berfirman: “Maka janganlah kamu duduk bersama mereka hingga mereka beralih pada pembicaraan yang lainnya. Dan Seni Tari Dalam Islam. ada satu jenis alat musik yang dengan jelas diterangkan kebolehannya dalam hadits. Sabda Nabi Saw: “Umumkanlah pernikahan dan tabuhkanlah untuknya rebana (ghirbal). Memang ada beberapa ahli hadits yang memandang shahih. 104). Seni Suara. hal. Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas. seperti gitar. Adapun jika seseorang mendengar nyanyian secara interaktif (istima’ al-ghina’) dan nyanyiannya adalah nyanyian haram. an-Nisâ’ [4]: 140). seluruhnya dha’if. Jadi kalau mendengar nyanyian (sama’ al-ghina’) adalah perbuatan jibiliyyah. Sedangkan istima’ li al-ghina’. hal. hal. dan sebagainya? Jawabannya adalah. dan nyanyian serta kondisi yang melingkupinya sama sekali tidak mengandung unsur kemaksiatan atau kemungkaran. Ibnu Majah] ( Abi Bakar Jabir al-Jazairi. maka aktivitasnya itu adalah haram (Syaikh Muhammad asy- Syuwaiki. yaitu ada tambahannya berupa interaksi dengan penyanyi. as- Sakhawy dalam Fathul Mugits.” (Qs. 52. yaitu ad-duff atau al-ghirbal. 3. secara tekstual (nash). Imam Ibnu Hajar dalam Taghliqul Ta’liq. Jika seseorang mendengarkan nyanyian secara interaktif. atau kondisi yang melingkupinya haram (misalnya ada ikhthilat) karena disertai dengan kemaksiatan atau kemunkaran. yaitu duduk bersama sang penyanyi. seperti Ibnu Shalah dalam Muqaddimah ‘Ulumul Hadits. al-An’âm [6]: 6 . sedang mendengar- menghadiri nyanyian (istima’ al-ghina’) bukan perbuatan jibiliyyah. Haramkah Musik Dan Lagu? (Al-I’lam bi Anna al-‘Azif wa al-Ghina Haram). adalah lebih dari sekedar mendengar. Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas.” [HR. gendang. ash-Shan’ani dalam Tanqihul Afkar dan Taudlihul Afkar juga Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim dan masih banyak lagi. 104). maka orang itu boleh mendengarkan nyanyian tersebut. 24). maka ulama berbeda pendapat.

maka telah terbukti bahwa ia halal atau boleh secara mutlak. Seni Dalam Pandangan Islam. Kecuali jika ada dalil tertentu yang mengharamkan. hal. maka hukumnya adalah mubah (Dr. Dan Semisalnya Menurut Dr. Patokannya adalah tergantung ada tidaknya unsur kemaksiatan atau kemungkaran dalam pelaksanaannya. memainkan alat musik apa pun. hal. Hukum asalnya adalah mubah (ibahah). radio. Jika tidak terdapat unsur kemaksiatan atau kemungkaran.Adab al-Mufrad setuju dengan pendapat Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla bahwa hadits yang mengharamkan alat-alat musik adalah Munqathi’ (Syaikh Nashiruddin Al-Albani. hal. atau terjadi ikhthilat. 57). Seni Dalam Pandangan Islam. seperti show di panggung pertunjukkan. 74). Inilah hukum dasarnya. tidak sama dengan hukum mendengarkan musik secara langsung sepereti show di panggung pertunjukkan. maka pada saat itu suatu alat musik tertentu adalah haram. hukumnya sama dengan mendengarkan nyanyian secara interaktif. hal. misalnya syairnya tidak Islami. VCD. yaitu mubah. juz VI. 14-16). Dha’if al-Adab al-Mufrad. Hukum Mendengarkan Musik a. dan semisalnya. Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya Al-Muhalla.” (Dr. hal. Kaidah syar’iyah mengenai hukum asal pemanfaatan benda menyebutkan: . Jika tidak ada dalil yang mengharamkan. kembali kepada hukum asalnya. 3. Kemubahannya didasarkan pada hukum asal pemanfaatan benda (asy-yâ’) — dalam hal ini TV. Kesimpulannya. Jika terdapat unsur kemaksiatan atau kemungkaran. adalah mubah. dan semisalnya— yaitu mubah. Mendengarkan Musik Secara Langsung (Live) Pada dasarnya mendengarkan musik (atau dapat juga digabung dengan vokal) secara langsung. b. TV. hal. 107- 108) hukum mendengarkan musik melalui media TV. Mendengarkan Musik Di Radio. dan semisalnya. bagaimana pun juga bentuk musik atau nyanyian yang ada dalam media tersebut. di GOR. atau terjadi penampakan aurat. 59 mengatakan: “Jika belum ada perincian dari Allah SWT maupun Rasul-Nya tentang sesuatu yang kita perbincangkan di sini [dalam hal ini adalah nyanyian dan memainkan alat-alat musik]. lapangan. Abdurrahman al-Baghdadi (Seni Dalam Pandangan Islam. Abdurrahman al-Baghdadi. maka hukumnya haram.4. kaset. Abdurrahman al-Baghdadi. 74-76) dan Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki (Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas.

berpakaian ketat dan transparan. 2. berpakaian ala pastor atau bhiksu. Setidaknya ada 4 (empat) komponen pokok yang harus diislamisasikan. adalah boleh. Kaidah syar’iyah menetapkan: Al-wasilah ila al-haram haram “Segala sesuatu perantaraan kepada yang haram. Namun demikian. hingga tersuguh sebuah nyanyian atau alunan musik yang indah (Islami): 1. Musisi/Penyanyi. Misalnya. Abdurrahman al-Baghdadi. meskipun asalnya adalah mubah.” (Dr. c) Tidak menyalahi ketentuan syara’. dan sejenisnya. Pedoman ini disusun atas di prinsip dasar. b) Tidak ada unsur tasyabuh bil-kuffar (meniru orang kafir dalam masalah yang bersangkutpaut dengan sifat khas kekufurannya) baik dalam penampilan maupun dalam berpakaian. penulis ingin membuat suatu pedoman umum tentang nyanyian dan musik yang Islami. mengajak jihad fi sabilillah. kemungkaran. Musisi/Penyanyi a) Bertujuan menghibur dan menggairahkan perbuatan baik (khayr / ma’ruf) dan menghapus kemaksiatan. Atau yang . seperti wanita tampil menampakkan aurat. hal. Berikut sekilas uraiannya: 1). selama tidak terdapat dalil yang mengharamkannya. mengenakan kalung salib.” (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. menentang pacaran.Al-ashlu fi al-asy-yâ’ al-ibahah ma lam yarid dalilu at-tahrim “Hukum asal benda- benda. Instrumen (alat musik). Muqaddimah ad-Dustur. seperti diuraikan di atas. dan sejenisnya. Sya’ir dalam bait lagu. 4. bahwa nyanyian dan musik Islami wajib bersih dari segala unsur kemaksiatan atau kemungkaran. bila diduga kuat akan mengantarkan pada perbuatan haram. 76). Pedoman Umum Nyanyian Dan Musik Islami Setelah menerangkan berbagai hukum di atas. hukumnya dapat menjadi haram. dan kezhaliman. atau mengakibatkan dilalaikannya kewajiban. mengajak mendirikan masyarakat Islam. hal. dalam bentuk yang lebih rinci dan operasional. hukumnya haram juga. 86). 4. 3. menentang pergaulan bebas. Waktu dan Tempat. bergoyang pinggul. menentang kezaliman penguasa sekuler. Seni Dalam Pandangan Islam. Misalnya. Atau menentang judi.

dan sebagainya) dan nahi ma’ruf (mencela jilbab. e) Hal-hal mubah yang tidak bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam. hukum asal alat musik adalah mubah. dan sebagainya). c) Berisi ‘ibrah dan menggugah kesadaran manusia. 3). memberantas kemaksiatan. c) Berisi “bius” yang menghilangkan kesadaran manusia sebagai hamba Allah. b) Tidak ada unsur tasyabuh bil-kuffar dengan alat musik atau bunyi instrumen yang biasa dijadikan sarana upacara non muslim. Rasul-Nya. d) Ungkapan yang tercela menurut syara’ (porno. e) Segala hal yang bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam. Ini semua haram. kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Sya’ir Berisi: a) Amar ma’ruf (menuntut keadilan.dsb). tak tahu malu. maka di antara yang mendekati kesamaan bentuk dan sifat adalah: a) Memberi kemaslahatan bagi pemain ataupun pendengarnya. Dan perlu diingat. b) Mencela Allah. Rasul-Nya dan ciptaan-Nya. Instrumen/Alat Musik Dengan memperhatikan instrumen atau alat musik yang digunakan para shahabat. instrumen yang digunakan sangat relatif tergantung maksud si pemakainya.laki-laki memakai pakaian dan/atau asesoris wanita. atau sebaliknya. al-Qur’an. Tidak berisi: a) Amar munkar (mengajak pacaran. d) Tidak menggunakan ungkapan yang dicela oleh agama. yang wanita memakai pakaian dan/atau asesoris pria. perdamaian. 2). Dalam hal ini. Salah satu bentuknya seperti genderang untuk membangkitkan semangat. . dan sebagainya) b) Memuji Allah. kebenaran dan sebagainya) dan nahi munkar (menghujat kedzaliman.

yang menjadi pendahuluan untuk membangun peradaban dan masyarakat Islam yang kita idam-idamkan bersama. 1992. * Al-Amidi. kedatangan saudara. hari raya. Cetakan I. Penutup Demikianlah kiranya apa yang dapat penulis sampaikan mengenai hukum menyanyi dan bermusik dalam pandangan Islam. Penulis sadari bahwa permasalahan yang dibahas ini adalah permasalahan khilafiyah. (Jakarta : Wala` Press). Haramkah Musik dan Lagu ? (Al-I’lam bi Anna Al-‘Azif wa Al-Ghina Haram). (Beirut : Darul Bayariq). dialog dan kritik konstruktif sangat diperlukan guna penyempurnaan dan koreksi. d) Pria dan wanita wajib ditempatkan terpisah (infishal) tidak boleh ikhtilat (campur baur). (Beirut : Darul Fikr).4). 1996. Seni Dalam Pandangan Islam. yaitu masyarakat Islam di bawah naungan Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah. Shiddiq al-Jawi] Wallahu a’lam bi ash-showab. Cetakan I. Mungkin sebagian pembaca ada yang berbeda pandangan dalam menentukan status hukum menyanyi dan musik ini. 1995. Juz I. dan sebagainya. Waktu Dan Tempat a) Waktu mendapatkan kebahagiaan (waqtu sururin) seperti pesta pernikahan. dan perbedaan itu sangat penulis hormati. * Al-Baghdadi. b) Tidak melalaikan atau menyita waktu beribadah (yang wajib). 1991. . [M. Tentu saja tulisan ini terlalu sederhana jika dikatakan sempurna. Cetakan I. (Jakarta : Gema Insani Press). Al-Wadhih fi Ushul Al-Fiqh. Saifuddin. Abi Bakar Jabir. Alih Bahasa oleh Awfal Ahdi. Semua ini mudah-mudahan dapat menjadi kontribusi —walau pun cuma secuil— dalam upaya melepaskan diri dari masyarakat sekuler yang bobrok. Abdurrahman. mendapatkan rizki. 5. Cetakan II. Daftar Bacaan * Abdullah. c) Tidak mengganggu orang lain (baik dari segi waktu maupun tempat). Amin. Maka dari itu. Muhammad Husain. * Al-Jazairi. Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam.

* Bulletin An-Nur. 1953.or. Cetakan I. Qism Al-Mu’amalat. Alih Bahasa oleh Muslich. http://www.p. * ———-.2001.ummigroup. http://www. Kitab Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah.sidogiri.syariahonline. * Asy-Syuwaiki. Juanda. Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah. * Santoso. http://www. (Beirut : Darul Ummah).co. Juz I. Juz III (Ushul Al- Fiqh).com/ * Fatwa Pusat Konsultasi Syariah. http://www. 2001. Tanpa Tahun.tripod. 1983. Al-Khalash wa Ikhtilaf An-Nas. * ———-.t. : t.p. 1999. Sya’ir. (Bangil : Al-Izzah). Nizham Al-Islam. . Hukum Musik dan Lagu. dan Waktu”. (t.).(Beirut : Darul Fikr). Taqiyuddin.p. dan Seni Tari Dalam Islam.pesantrenvirtual. Mendengarkan Musik. Musik. (Beirut : Darul Fikr).* Al-Jaziri. Tentang Musik. Instrumen. Tanpa Tahun.ashifnet. Cetakan II. Iman. Abdurrahman.p.alsofwah. : t. * Asy-Syaukani. Mahmud. Hukum Seni Musik. Muqaddimah Ad-Dustur.t.id/ * Bulletin Istinbat. * An-Nabhani. (Surabaya : Syirkah Bungkul Indah).). Muhammad. Tanpa Tahun. (Al-Quds : Min Mansyurat Hizb Al-Tahrir). Irsyadul Fuhul Ila Tahqiq Al-Haq min ‘Ilm Al- Ushul. 1963. * ———-. Cetakan I. Hukum Nyanyian dan Musik. Seni Suara.id/ * Wafaa. Cetakan IV.(t. Haram ? http://www. Lagu dan Musik. * Ath-Thahhan. (Al- Quds : Mu`assasah Al-Qudsiyah Al-Islamiyyah).com/ * Kusuma. Metode Tarjih Atas Kontradiksi Dalil-Dalil Syara’ (Ta’arudh Al-Adillah min Al-Kitab wa As-Sunnah wa At-Tarjih Baynaha). (Jakarta : Penerbit Widjaya). Toha Yahya. http://www. Taysir Musthalah Al-Hadits.com/ * “Norma Islam untuk Musisi. Muhammad. 2001. 1994.com/ * Omar. Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah. Cetakan II. Juz II.