PENGENALAN ALAT UKUR Alat Ukur Theodolite Theodolite disebit juga alat ukur penyipat datar, adalah suatu

alat pengukur sudut, dan jarak optis, sudut yang dikukur adalah sudut mendatar dan sudut tegak. Tingkat ketelitian dari hasil pengukuran dengan menggunakan teodolite tergantung dari tingkat ketelitian pesawat (orde) type dan tujuan pengukuran.

1.

2. Bagian Theodolite a. Bagian atas Teropong Lingkaran skala tegak Sumbu mendatar Indeks pembacaan lingkaran skala tegak
a.

Bagian tengah Kaki penyangga Indeks pembacaan lingkaran skala mendatar Sumbu tegak Nivo tabung Bagian bawah Lingkaran skala mendatar Landasan berkaki tiga (kiap) Sekrup kaki kiap

a.

2. Macam Theodolite Dari konstruksi dan cara penggunaan, dikenal dua macam theodolite a. Theodolite Reiterasi Lingkaran skala mendatar menjadi satu dengan kiap, sehingga lingkaran skala mendatar tidak dapat diputar-putar.
b.

Theodolite Repetisi Lingkaran skala mendatar dapat diatur mengelilingi sumbu tegak, dan apabila sekrup pengunci lingkaran skala mendatar dibuka, tidak diperoleh ukuran sudut.

2. Syarat-syarat pengukuran sudut a. Sumbu tegak benar-benar tegak b. Sumbu mendatar benar-benar mendatar c. Garis bidik harus tegak lurus sumbu mendatar d. Tidak adanya salah indeks pada skala lingkaran tegak

MENGUKUR DENGAN THEODOLITE Pengertian Sudut yang diukur dalam Ukur Tanah adalah : a. Sudut mendatar Proyeksi dari sudut yang dibentuk oleh dua arah garis bidik dibidang mendatar.
1.

Sudut Tegak Sudut dibidang tegak yang dibentuk oleh garis bidik dan garis tegak atau oleh garis bidik dan garis mendatar.
b. 2.

Pengukuran Jarak Optis Pengukuran jarak optis pada theodolite menggunakan rambu ukur. Dalam teropong terlihat adanya benang silang diafragma, pada garis tegak sebelah atas terdapat garis datar pendek yang dinamakan Benang Atas (BA), serta garis silang ditengah yang panjang sebagai Benang Tengah (BT), serta terdapat benang pendek dibawahnya sebagai Benang Bawah (BB). Teropong dibidikkan pada rambu yang mana garis benang diafragma yang tegak diletakkan ditengah-tengah rambu, kemudian baca rambu pada teropong, berapa angka pada banang atas, berapa angka pada benang tengah, berapa angka pada benang bawah. Rumus untuk mendapatkan jarak optis (jarak dari tengah teropong ke rambu) : ( BA - BB ) x 100 = jarak optis untuk mengoreksi apakah bacaan benang dengan tafsirannya itu benar, maka dapat dilakukan sebagai beikur : ( BA + BB ) : 2 = BT Mengukur sudut tegak Mengukur sudut mendatar Menghitung jarak datar dan beda tinggi a. Menghitung jarak datar Kalau sudut tegak yang diukur, menggunakan rumus : Dmendatar = D miring x cos m

3.

4.

5.

baik ecara absolut maupun relatif terhadap yang lainnya.Kalau sudut miring yang diukur. Perhitungan parameter-paramater geografis seperti : Jarak antara 2 titik Arah dari suatu titik ke titik lainnya Luas suatu bidang tanah Arah Luas Jarak Sudut Horizontal dibagi dalam 2 sistem : Sistem Kartesian Sumbu y A Sistem Polar Sumbu y A θ 0 r Sumbu x 0 Sumbu x Koordinat titik A (x. menggunakan rumus : b. Menghitung beda tinggi DASAR TEORI Beberapa pengertian yang perlu dipahami : Horisontal Pendeskripsian lokasi dan letak suatu titik. garis atau pun bidang secara kuantitatif. Perekonstruksian lokasi dan letak suatu titik.θ) x = r .y) Hubungan antara kedua sistem : Koordinat titik A (r. menggunakan rumus : Dmendatar = D miring x sin z Kalau sudut zenit yang diukur. sin θ → sin θ = x r x r θ y . garis ataupun bidang dilapangan.

.x = r .z z = 90° . sin θ → sin θ = y r x tan θ = y Vertikal Menentukan beda tinggi antara titik-titik dimuka bumi serta menentukan ketinggian terhadap suatu bidang referensi (bidang datum) ketinggian tertentu. Δh = Beda tinggi H = Titik tinggi/ketinggian HB HA HB Δh AB HA bidang nivo yang melalui titik A permukaan air laut rata-rata/msl Sudut vertikal dibagi dalam 2 sistem Sudut zenit (z) z + m = 90° atau Sudut miring (m) m = 90° . z (-) z (+) Sudut Miring : Sudut yang dibaca dari arah horisontal (datar) sampai kearah yang dimaksud.m Sudut Zenit : Sudut yang dibaca dari arah vertikal (tegak) dengan searah putaran arah jarum jam sampai ke arah yang dimaksud.

yB) A (xA. y α Arah acuan (arah nol β 0 x . y 1 2 A 0 x B Dilihat dari titik A. yA) 0 dAB x Jarak titik A dan B dapat dihitung dengan rumus : d ( +2 = AB x AB x ) + + AB y AB ( 2 y ) Arah Menunjukkan lokasi suatu titik relatif terhadap titik lainnya. titik-titik 1 dan 2 terletak dalam arah yang berbeda Dilihat dari titik B. titik-titik 1 dan 2 terletak dalam arah yang sama Secara kuantitatif. suatu arah biasanya dinyatakan dalam besaran sudut yang dihitung searah jarum jam terhadap suatu arah acuan (arah nol) yang dipilih atau ditentukan.z (+) z (-) Horisontal Jarak Panjang garis dari titik A ke titik B pada bidang horisontal (datar) y B (xB.

y α Arah acuan (arah nol β θ 1 2 0 x .. y αAB y y αAB B αBA αAB = αBA – 180° αBA = αBA + 180° x A 0 . y y αab αOA A 0 x B αOA = sudut jurusan sisi OA αAB = sudut jurusan ssisi AB • • sudut jurusan mempunyai harga dari 0° sampai 360° sudut jurusan sisi AB berselisih 180° dengan sudut jurusan BA. dan bukan dibidang yang memuat titik-titik dipermukaan bumi.Sudut Jurusan Sudut jurusan suatu sisi adalah sudut yang dihitung dari arah sumbu Y positif (+) searah putaran jarum jam (kekanan) sampai ke sisi yang bersangkuan.Sudut • • Selisih antara dua arah Sudut dihitung pada bidang datar proyeksi.

X B ) y xB αAB xB A yB 0 x B yB Ditanya : sudut jurusan αAB Solusi : ?xAB B ?yAB αAB Pada gambar disamping : Δ x AB = x B – x A Δ Y AB = y B – y A A berdasarkan rumus trigonometris. Diketahui : koordinat titik A dan B sebagai berikut : A = (X A .Sudut jurusan suatu sisi dapat dihitung dari koordinat kartesian dua dimensi kedua titik ujungnya. Y B ) B = (X B . hubungan berikut berlaku : Tan α AB = Δx AB → α AB = Arc Tan Δy AB ⎛ Δx AB ⎞ ⎜ ⎜ Δy ⎟ ⎟ ⎝ AB ⎠ y Kuadran dari sudut jurusan : Δ X AB Δ Y AB Kuadran I II α AB 0° – 90° 90° – 180° IV III II x II + + + - .

- + III IV 180° – 270° 270° . y Utara AzAB AzOA A 0 x B Az OA = Azimut sisi OA Az AB = Azimut sisi AB • • • • Azimut mempunyai harga dari 0° sampai 360° Kalau arah utara yang digunakan adalah utara geografis : Azimut ? Azimut geografis Kalau arah utara yang digunakan adalah utara magnetis : Azimut ? Azimut magnetis Kalau arah utara // arah sumbu Y positif (+) : Azimut = Sudut Jurusan Up Ug Um .Azimut • Azimut suatu sisi adalah sudut yang dihitung dari arah Utara searah putaran jarum jam (kekanan) sampai ke sisi yang bersangkutan.360° Besar sudut jurusan α AB yang sebenarnya dihitung sebagai berikut : Kuadran I ? α AB = arc tan ⎢ α AB = arc tan ⎢ α AB = arc tan ⎢ ⎡ ΔX AB ⎤ ⎥ ⎣ ΔYAB ⎦ ⎡ ΔX AB ⎤ ⎥ + 180° ⎣ ΔYAB ⎦ ⎡ ΔX AB ⎤ ⎥ + 360° ⎣ ΔYAB ⎦ Kuadran II & III ? Kuadran IV ? .

Tahap Pengumpulan Data Data-data pada tahap ini diperoleh dari pelaksanaan pengukuran dilapangan (cara sederhana) dengan menggunakan peralatan kompas. Data-data ukuran tersebut berupa : - Azimut magnetis Sudut lereng (zenit atau miring) Jarak miring Contoh : . Data-data ukuran yang diperoleh ditulis pada blanko/formulir hitungan yang telah disiapkan. Seperti yang telah diungkapkan pada point I. 1. yaitu . pita ukur dan klinometer atau alat ukur teodolit kompas. PELAKSANAAN PEMETAAN SEDERHANA Pelaksanaan pemetaan dilakukan dengan cara sederhana disesuaikan dengan kebutuhan dan penggunaannya. pengumpulan data. Pendahuluan bahwa proses pemetaan secara umum dapat diklasifikasi dalam 3 tahap.Up = utara peta DM Ug = utara geografis Um = utara magnetis DM (Deklinasi Magnetis) = besarnya penyimpangan arah utara magnetis (um) terhadap utara geografis (ug). pengolahan data dan penyajian data. rambu dan tripod/statif.

Sin 2 θ dimana : h = beda tinggi (m) PR = pembacaan sumbu θ = sudut zenit atau sudut miring misalkan tinggi alat teodolit = 130 m.0 . Menghitung jarak datar dari pembacaan rambu dengan menggunakan rumus sbb: D = Pr.0 : sudut lereng = 95°30’ (sudut zenit) perhitungan : D = PR.724 ≈ 30 meter ? tulis dilajur 8 - Menghitung beda tinggi dari pembacaan rambu untuk pembidikan rambu setinggi alat dapat menggunakan rumus sbb : h = PR.995396) 2 = 29.Sin θ Cos θ atau h = ½ PR. Contoh : PR = 30.Sin 2 θ . diolah menjadi data-data ukuran yang siap untuk diplot ke atas kertas milimeter. θ = 95°30’ (sudut zenit) Perhitungan : h = ½ PR. maka rambu ukur dibidik dengan pembacaan benang tengah pada 130 m. Sin 2 Z = 30 x (Sin 95°30’) 2 = 30 x (0. Tahap Pengelolahan Data Data-data hasil pengukuran dilapangan pada buku ukur/blanko pengukuran tersebut.Cos 2 m Dimana : D = jarak datar PR = Pembacaan rambu z = sudut zenit ? z = 90° – m m = sudut miring ? m = 90° – z Contoh : data dari buku ukur : PR = 30.Sin 2 Z atau D = Pr.2.

Cos Z dimana : D = jarak datar h = beda tinggi .35 = 4.Sin Z h = d m . - Menghitung jarak datar dan beda tinggi dari jarak miring (menggunakan pita ukur dan klinometer) memakai rumus sbb : atau atau D = d m . BT = 165 cm perhitungan : h = (½ PR.BT dimana : t a = tinggi alat teodolit BT = pembacaan benang tengah pada sumbu Contoh : PR = 45 .5 x 0. m = sudut miring ? m = 90° .45 – 0. dm = jarak miring .197657) – 0.0. ? tulis dilajur 11 (berarti tempat rambu lebih rendah dari tmpat alat).65 = (22.Cos m h = d m .9 m.Sin 168° 36’) + 130 – 1.= ½ 30.10 m.Sin 2 θ ) + t a . t a = 130 cm θ = 84°18’ (sudut zenit) .19080 = -2.Sin 2(95°30’) = 15.z contoh : d m = 30 (menggunakan pita ukur) m = -5° 30’(menggunakan klinometer) perhitungan : D = d m Cos m .Sin 191° 0’ = 15 x.Sin m D = d m . z = sudut zenit ? z = 90° – m .BT = (1/2. - Menghitung beda tinggi dari pembacaan rambu yang tidak sama dengan tinggi alat dapat menggunakan rumus sbb : h = (½ PR.45.Sin 2 θ ) + t a .35 = 4.

86 ≈ 30 meter h = d m .995396 = 29.Sin . asimutharus diseragamkan menurut arah urutan hitungan. asimut sisi-sisi poligon diukur hanya 1 kali yaitu pembacaan asimut kebelakang atau kedepan.= 30. Sebelum memasukkan data asimut ukuran kedalam blanko hitungan. Tahap Perhitungan : .5° 30’ = 30 x 0. Pada pengukuran cara meloncat.9 m POLIGON KOMPAS • Menghitung Koordinat Hasil Pengukuran Poligon Kompsa Oleh Teodolit Kompas Dengan Cara Meloncat.095846 = -2.5° 30’ = 30 x -0. Misalnya asimut kemuka seluruhnya dengan menambahkan atau mengurangankan 1800 pada asimut kebelakang. Dengan demikian tidak ada ukuran lebih/berganda untuk dirata-ratakan.Cos . Koreksi boussole harus diberikan. Pada perhitungan koordinat ini diasumsikan bahwa utara grid atau utara peta sama dengan arah uatra astronomis.Sin m = 30. asimut harus diseragamkan menurut arah urutan hitungan.

c. Cos A 12 + koreksi + koreksi 2 2 23 A 12 Koordinat titik 3 dihitung dari koordinat titik 2. f. Sin . zone.sin A dan d.sin A dan d.cos A g. serta melengkapi data lain seperti. d. Memasukkan data asimut ukuran dan jarak daftar kedalaman blanko hitungan ( model P & P 05 ). .a. pusat koordinat dan sebagainya. yaitu : x = x +d y = y +d 3 2 3 2 23 . menjumlahkan d.sin A dan d. e.cos A ( lihat blanko model P & P 05 ) Menjumlahkan jarak datar. Cos A23 + koreksi 23 Demikian seterusnya untuk titik-titik berikutnya. halaman. Menghitung salah penutup jika terdapat koordinat awal dan koordinat akhir. Menghitung koreksi pada masing-masing d. Mengitung koordinat titik-titik poligan secara berurutan.sin A Salah penutup Ordinat (fy) = ( Y akhir – Y awal ) – Σ d. Menghitung d.cos A. Memberikan koreksi asimut. Sin A23 + koreksi .cos A. sistim koordinat. Memasukkan data koordinat awal atau akhir bila ada. Untuk d i Sin A i ? koreksi = d x (Δx) ∑d i Untuk d i Cos Ai ? koreksi = d x (Δy) ∑d i h. x = x +d y = y +d 2 2 23 . Salah punutup Absis (fx) = ( X akhir – X awal ) – Σ d. b.

Data yang diperoleh dari pengkuran . dan mengikuti tahap-tahap perhitungan. 1. 3.Dengan mengunakan blanko model P & P 05. POLIGON SUDUT Menghitung koordinator hasil pengukuran poligon sudut oleh teodolit sudut dengan berdiri disetiap titik. dan tidak merupakan pengukuran poligon yang tertutup. 2. Sudut disetiap titik poligon diukur satu segi berganda.6 dan no. diperoleh dengan cara pengamatan matahari atau dari 2 titik dilapangan yang diketahui koordinatnya. Jika pengukuran tidak terikat/tidak terkontrol oleh koordinat dititik akhir. maka tahap perhitungan no. Asimut awal/akhir. pengolahan data untuk memperoleh koordinat titik-itik poligon dapat dilaksanakan secara sistimatis. Dalam hal demikian hitungan titik poligon tersebut koordinatnya tidak koreksi.7 tidak perlu dikerjakan. Tahap perhitungan : . Jarak menatar setiap sisi poligon.

j. ∑β Memberikan koreksi pada masing-masing sudut yang besarnya.a.Sin A) dan jumlah seluruh D. Menghitung salah penutup Absis dan salah penutup ordinat. Memasukkan data koordinat titik akhir (bila ada) dan menghitung koordinat akhir – koordinat awal.Cos A) n. yaitu : X akhir – X awal dan Y akhir – Y awal o.Sin A dan D. Memasukan data koordinat awal dan melengkapi keterangan lain yang perlu diisi. Menghitung D. Menghitung salah penutup sudut.Cos A = ∑ (D. sebaiknya dibuat bagan/sketsa pengukurannya. Gunakan blanko hitungan. Menghitung asimut akhir – asimut awal. d. salahpenutupsudut fβ = banyaknyasudutyangdiukur n koreksi diberikan sampai bulatan satuan sekon. A = asimut. c.Sin A = ∑ (D. Memasukkan data sudut yang diukur ( β ) f. kelebihannya diberikan pada sudutsudut yang mempunyai sisi terpendek. g. Menghitung sudut-sudut yang dibetulkan ( β ’) β ' = β + koreksi sudut k. m. Menghitung asimut sisi-sisi poligon As 23 = As 12 + sudut β 2 ± 180 Catatan : untuk mengontrol asimut yang diperoleh. Salah Penutup Absis ( fx ) = (X akhir – X awal ) – ∑ (D. ƒ β = (As akhir – As awal ) + (n -1). b. Menggunakan sudut yang diukur ( ∑ β ) h. Memasukan data asimut awal dan akhir ke blanko hitungan. e. l. Memasukan data jarak datar (D).180° i. Menjumlahkan seluruhnya D.Cos A Dimana : D = Proyeksi jarak yang diukur .Sin A) .

Menghitung koreksi untuk setiap sisi poligon Untuk : X → Koreksi = Y → Koreksi = Di × fx ∑D Di × fy ∑D ∑ D (D. Menghitung koordinat setiap sisi poligon secara berurutan dari koordinat awal ⎛ D ⎞ X 2 = X 1 + (D 12 .CosAs . Arc tan ∑ D. Sin As dan D.Cos As 12 ) + ⎜ 12 × fy ⎟ ⎜ ∑D ⎟ ⎝ ⎠ Atau X 2 = X 1 + X 12 + koreksi Y 2 = Y 2 + Y 12 + koreksi s.Cos As yaitu. Untuk menchek kasar atau halusnya pengukuran poligon dapat dilihat dari hasil perhitungan : - Koreksi seluruh sudut-sudut yang diukur fx dan fy serta c = ( fx) 2 + ( fy ) 2 Perbedaan antara asimut yang dihitung dari perbedaan koordinat yaitu. Menjumlahkan proyeksi jarak yang diukur = q.Salah Penutup Ordinat ( fy ) = (Y akhir –Y awal ) – p.SinAs ∑ D. Sin As 12 ) + ⎜ 12 × fx ⎟ ⎜ ∑D ⎟ ⎝ ⎠ ⎛ D ⎞ Y 2 = Y 1 + (D 12 .Cos A) ∑ Dimana : Di = jarak masig-masing sisi poligon r. Arc tan X akhir − X awal Yakhir − Yawal Dengan asimut yang dihitung dari D.

. pengolahan data untuk memperoleh koordinat titik-titik poligon dapat dilaksanakan secara sistimatis. Menentukan Deklinasi Matahari Dari Tabel/Almanak Matahari. PENGAMATAN MATAHARI 1.Dengan menggunakan blanko hitungan dan mengikuti tahap perhitungan.

maka deklinasi matahari pada saat itu = δ + ( Dimana : δ 105 xΔδ ) 60 = deklinasi pada jam 07. 4. Besarnya deklinasi dapat dilihat pada almanak matahari yang diterbitkan setiap tahun. tanggal dan penunjukan jam saat pengamatan waktu setempat (WIB. Untuk setiap tanggal pengamatan terdapat satu besaran deklinasi matahari (δ). Ambil almanak tahun yang bersangkutan/yang dimaksud.2 misalnya pada pengamatan matahari untuk menentukan azimut pada pengukuran titik kontrol. Refraksi menengah (rm) tercantum pada buku Almanak Matahari. 2.00 WITA atau jam 09. 3. Menentukan Besarnya Koreksi Refraksi (R) Dan Setengah Diameter Matahari (1/2 d). 2.00 WIB atau jam 16.45 – 07. Cara mengunakan Almanak Matahari tersebut : 1.Deklinasi matahari berubah dengan berjalanya waktu secara periodik.00 WITA atau jam 17.WIT). Koreksi refraksi (r) diberikan pada sudut miring hasil ukuran dan selalu dikurangkan. Refraksi (r).00 WIT (sore).WITA.00 = 1 jam 45 menit = 105 menit. bulan. Jika pengamatan pada saat jam 08. Jika ada data tambahan perubahan berupa pengukuran temperatur & tekanan udara ditempat penmgamatan. Untuk menentuikan besarnya deklinasi matahjari p[ada saat pengamatan diperlukan data waktu yaitu : tahun. Pada pengamatan dengan teodolit T. koreksi yang teliti harus diberikan sampai sekon dan juga perlu diberi koreksi paralaks. Besarnya deklinasi matahari tersebut adalah pada saat tepat jam 07.00 WIB Δδ = perubahan deklinasi tiap jam 105 = 08.45 WIB misalnya.00 WIB atau jam 08. Buka halaman untuk bulan saat pengamatan. maka koreksi refraksi (r) adalah : .00 WIT (pagi). dan pada kolom lain disebelah kanan adalah pada saat tepat jam 15.

Jika tidak ada tambahan ct dan cp.200 210 . maka koreksi refraksi dibulatkan sampai menit dan koreksi paralaks tidak diperlukan karena nilainya sangat kecil dibandingkan dengan ketelitian pembacaan TO. Tinggi matahari 70 . misalnya untuk menentukan besarnya koreksi boussole. maka cukup dianggap r = rm.80 90 100 . dengan demikian tinggi matahari (t) adalah : t = t uk − r + p dimana : t r uk = tinggi (sudut miring) hasil ukuran.110 120 .150 160 . Koreksi paralaks juga tercantum pada tabel almanak matahari. Dengan demikian tinggi matahari (t) adalah : t = t uk − r Tabel besaranya koreksi refraksi untuk tinggi matahari tertentu.300 > 300 Refraksi 7’ 6’ 5’ 4’ 3’ 2’ 1’ .r = rm x ct x cp ct dan cp dapat dicari pada tabel almanak matahari. = koreksi refraksi p = koreksi paralaks Pada pengamatan dengan mengunakan teodolit TO.

Menghitung asimut dengan rumus : .1. Pada pengamatan dengan alat teodolit TO. cos t Untuk pengamatan dengan alat teodolit T.. Contoh : ½ d pada tanggal 2 Juni 1998 adalah 15’48”. A p = asimut matahari hasil pembacan pada alat ukur. 1 d Untuk pengamatan dengan alat teodolit T2. ½ d’ dapat disusun pada tabel dibawah ini: Tinggi ukuran (t) O0 .140 140 . perlu diberikan koreksi ½ d terhadap tinggi matahari (sudut miring) untuk memperoleh tinggi terhadap pusat matahari. Dalam hal ini arah utara geofrafis dianggap sama dengan arah utara astronomi dan utara grid/peta. Koreksi Boussole adalah penyimpangan penunjukkan jarum magnet teodolit kompas/BTM terhadap arah Utara Geografis. ½ d dapat diperoleh pada tabel deklinasi matahari yang terdapat pada buku Almanak Matahari. Pengamatan matahari dengan cara menadah bayangan matahari yang tepitepinya disingung pada benang silang diafragma..300 > 30 0 ½d 16’ 17’ 18’ 19’ 2. Pada pengukuran atau pengamatan dengan teodolit T2.240 240 . ½ d cukup dibulatkan sampai menit. Menghitung Koreksi Boussole.. Setengah Diameter Matahari (1/2 d). ½ d = 2 . Koreksi Boussole = A - A p Dimana : A = asimut matahari hasil pengamatan/perhitungan. sehingga selalu diperoleh harga ½ = 16’.. ½ d dicari sampai sekon.

.... ..Sin( s − a ) Dimana : a = 900 – D B = 900 – Q C = 900 – t S = ½ (a+b+c) P = tan ½ A untuk pengamatan pagi hari P = Co tan (1/2 A – 900) untuk pengamatan sore hari Tahap Hitungan : a... b...(1) CosQCost Dimana : A = asimut matahari B = deklinasi matahari Q = lintang tempat pengamatan T = tinggi matahari (sudut miring) P= Sin( s − c)..Sin( s − b) Sins. Masukkan data dari Almanak matahari yaitu deklinasi matahari..... Masukkan data lintang tempat pengamatan yang diperoleh dari peta topografi atau peta rupa bumi. Masukkan data hasil ukuran (tinggi yang diukur dan pembacaan asimut/pembacaan Boussole) pada basis dan kolom masing-masing yang sesuai dengan blanko pengamatan model P & P 01.. koreksi refraksi serta koreksi1/2 d dan ½ d’.CosA = SinD − SinQS int ..... c............ Menghitung menurut apa yang ditulis pada balnko hitungan secara berurutan dari atas kebawah sampai diperoleh koreksi Noussole pada setiap kolom dan hasilnya dirata-ratakan...... d....

Cost Dimana : A = asimut matahari D = deklinasi matahari Q = lintang tempat pengamatan t = tinggi matahari (sudut miring) Dengan diperolehnya asimut matahari dari rumus diatas. Menghitung Asimut Antara Titik Pengamatan Ke Titik Lain/Target.S int CosQ. maka asimut antara titik lainya pada stasiun pengamatan. serta sudut antara matahari dengan titik lainya pada stasiun pengamatan. Rumus untuk menghitung asimut adalah sama dengan rumus persamaan (1) pada no. = Aδ − A t . diperoleh dari perhitungan rumus diatas. = sudut yang terbentuk dititik δ yaitu terhadap matahari dan titik P. maka asimut antara titik pengamatan ketitik tersebut dapat dihitung dari hubungan : Aδ t =A+β dimana : Aδ A β β t = asimut antara stasiun pengamatan (titik δ) ke titik lain (titik P).3. = asimut matahari.2 Menghitung koreksi Bousole yaitu : Cos = SinD − SinQ.

Perhatikan data pada nomor pengambilan model P & P 01. Tahap Perhitungan : a. Masukkan data lintang tempat pengamatan yang diperoleh dari peta Topografi atau peta rupabumi. koreksi refraksi dan paralaks serta koreksi ½ d dan ½ d’. Masukkan data hasil ukuran (ukuran tinggi matahari dan susdut) pada baris dan kolom perhitungan yang sesuai dengan blanko pengamatan model P & P 01. Masukkan data dari tabel Alamanak matahari yaitu deklinasi matahari.Perhitungan rumus persamaan diatas disusun secara sistimatis pada blanco model P & P. d. Catatan : Perlu diperhatikan tanda +/. b. sehingga hitungan asimut mudah dilaksanakan. Menghitung menurut apa yang ditulis pada blanko model P & P 02 secara berurutan dari atas ke bawah sampai diperoleh asimut setiap kolom. hal tersebut dijelaskan pada keterangan nomor 3). Pada balnko model P & P 02.pada pengmatan pagi/sore hari untuk memperoleh harga A yang benar. c. 02. . Ada 4 kolom pada blanko hitungan model P & P 02 yang sesuai dengan nomor hitungan pada blanko pengmatan model P & P 01. harus dihitung pada kolom hitungan yang sesuai pada model p & P 02.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful