SEMINAR LAPORAN KASUS ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.

B SINDROMA KORONARIA AKUT DIRUANG UPJ L3 RSDK SEMARANG

OLEH :

JOKO SUSILO NIM : G3A011024

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG TAHUN 2011 / 2012

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN UNIMUS PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS KEPERAWATAN MEDICAL BEDAH BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Penyakit jantung merupakan salah satu penyebab morbiditas & mortalitas. Akhir-akhir ini insiden penyakit jantung mengalami peningkatan. Kajian epidemiologi menunjukan bahwa ada berbagai kondisi yang mendahului dan menyertai penyakit jantung. Kondisi tersebut dinamakan factor resiko. Faktor resiko yang ada dapat dimodifikasi artinya dapat dikontrol dengan mengubah gaya hidup atau kebiasaan pribadi dan factor resiko yang non modifiable yang merupakan konsekwensi genetic yang tak dapat dikontrol. Contohnya ras, dan jenis kelamin. Sindroma Koroner Akut merupakan sindroma klinis akibat adanya penyumbatan pembuluh darah koroner baik bersifat intermiten maupun menetap akibat rupturnya plak atherosklerosis (Price, 1995). Sindroma Koroner Akut merupakan sekumpulan gejala yang diakibatkan oleh gangguan aliran darah pembuluh darah koroner jantung secara akut. Umumnya disebabkan oleh penyempitan pembuluh koroner akibat plak aterosklerosis yang kemudian mengalami perobekan dan hal ini memicu terjadinya gumpalan-gumpalan darah (trombosis) (Widiastuti, 2001). Berdasarkan klasifikasi SKA, maka SKA terdiri dari UAP ( Unstable Angina Pectoris ), Non STEMI ( Non ST Elevation Miocard infark ), STEMI (ST Elevation Miocart infark ). B.Tujuan Penulisan 1.Tujuan Umum Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui Asuhan Keperawatan pada klien SKA oleh karena UAP ( Unstable Angina Pectoris )

2.Tujuan Khusus a.Mengetahui pengertian SKA, khususnya UAP ( Unstable Angina Pectoris ) b.Mengetahui Klasifikasi SKA khususnya UAP ( Unstable Angina Pectoris ) c.Mengetahui Ethiologi SKA khususnya UAP ( Unstable Angina Pectoris ) d.Mengetahui Faktor resiko SKA khususnya UAP ( Unstable Angina Pectoris ) e.Mengetahui Pathofisiologi SKA khususnya UAP ( Unstable Angina Pectoris ) f.Mengetahui Pemeriksaan Penunjang SKA khususnya UAP ( Unstable Angina Pectoris ) g.Mengetahui Komplikasi SKA khususnya UAP (Unstable Angina Pectoris ) h.Mengetahui Penatalaksanaan SKA khususnya UAP ( Unstable Angina Pectoris ) i.Mengetahui Askep SKA khususnya UAP ( Unstable Angina Pectoris ) C.Batasan Masalah Mengingat kasus klien adalah SKA karena UAP ( Unstable Angina Pectoris ) maka pembahasan masalah pada makalah ini hanya terbatas pada Asuhan Keperawatan Pada Klien UAP ( Unstable Angina Pectoris ).

Angina Pektoris didefinisikan sebagai perasaan tidak enak di dada (chest discomfort) akibat iskemika miocard. Perasaan tidak enak di dada ini dapat berupa nyeri. Yang tergolong dalam Unstable Angina Pectoris (UAP) adalah nyeri dada yang munculnya tidak tentu. rasa terbakar. DEFINISI Sindroma Koroner Akut merupakan sindroma klinis akibat adanya penyumbatan pembuluh darah koroner baik bersifat intermiten maupun menetap akibat rupturnya plak atherosklerosis (Price. atau di ulu hati (FKUI. Beberapa . dapat terjadi pada saat penderita sedang melakukan kegiatan fisik atau dalam keadaan istirahat dan gejalanya bervariasi tergantung bentuk. KLASIFIKASI Klasifikasi syndrome koroner akut yaitu: 1. 1995). Sindroma Koroner Akut merupakan sekumpulan gejala yang diakibatkan oleh gangguan aliran darah pembuluh darah koroner jantung secara akut. besar kecil dan keadaan thrombus. atau dengan kata lain suplai kebutuhan oksigen jantung meningkat (Brunner dan Suddarth. Kadang-kadang tidak dirasakan di dada melainkan di leher. 2001). B. bahu. menyebabkan suplay oksigen ke jantung tidak adekuat. Umumnya disebabkan oleh penyempitan pembuluh koroner akibat plak aterosklerosis yang kemudian mengalami perobekan dan hal ini memicu terjadinya gumpalan-gumpalan darah (trombosis) (Widiastuti. rahang bawah. Penyebabnya yaitu berkurangnya aliran darah koroner.BAB II TINJAUAN KONSEP A. 1996). 2002). Unstable Angina Pectoris (UAP) Angina pectoris adalah suatu sindroma klinik yang ditandai dengan episode atau paroksisma nyeri atau perasaan tertekan di dada depan. atau rasa tertekan.

lebih jarang terjadi. dan lamanya episode angina pectoris yang dialami selama ini. Angina pasca infark miokard. b. Pajanan terhadap dinding dapat mengakibatkan vasokonstriksi dan peningkatan tekanan darah disertai peningkatan kebutuhan oksigen.kriteria yang dapat dipakai untuk mendiagnosis angina pekoris tak stabil yaitu (FKUI. kepada kematian mendadak. c. sehingga menurunkan ketersediaan darah untuk suplai jantung. 2002) : a. 2. menyebabkan frekuensi jantung meningkat akibat pelepasan adrenalin dan meningkatkan tekanan darah. Jantung spidol. Perubahan EKG seperti segmen ST depresi. yang dipicu oleh kurang tenaga. berlangsung lama. terjadi secara spontan pada saat istirahat. Angina progresif kresendo yaitu terjadi peningkatan dalam intensitas. 1996) : a. CPK tidak ditinggikan tapi troponin I atau T mungkin akan sedikit meningkat. elevasi segmen ST. fekuensi. atau inversi gelombang T mungkin terjadi selama angina tidak stabil tetapi sementara. Pada jantung yang sudah parah pintasan darah untuk pencernaan membuat nyeri angina semakin buruk. c. Latihan fisik dapat memicu serangan dengan cara meningkatkan oksigen jantung. d. Angina tidak stabil secara klinis tidak stabil dan sering merupakan awal MI atau aritmia atau. Rasa sakit atau ketidaknyamanan angina tidak stabil biasanya lebih kuat. b. Non ST Elevation Miocard Infark (non STEMI) . Angina at rest/ nocturnal yang baru. Stress atau emosi akibat situasi yang menegangkan. Memakan makanan berat akan meningkatkan aliran darah ke mesentrik untuk pencernaan. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan nyeri angina meliputi hal-hal sebagai berikut (Brunner dan Suddarth. Dengan demikian beban kerja jantung juga meningkat. Angina pada umumnya dapat hilang dengan istirahat dan nitrogliserin.

emboli atau vaskulitis (Price. Kejadian ini erat hubungannya dengan adanya penyempitan arteri koronaria oleh plak ateroma dan thrombus yang terbentuk akibat rupturnya plak ateroma. Apabila arteri koronaria yang tama tersumbat. tetapi dijumpai adanya T inverted dan adanya gelombang ST depresi Enzim jantung umumnya normal Terjadi injuri pada bagian dari moikard Dapat sedikit lega atau untuk sementara waktu dengan istirahat dan nitrogliserin 3. 1996). Diantara tandanya yaitu . ST Elevation Miocard Infark (STEMI) adalah kerusakan jaringan miokard akibat iskemia hebat yang terjadi secara tiba-tiba. ateroma pada arteri koroner yang kemudian diikuti oleh terjadinya thrombosis. gejala dan manifestasi klinis dari non STEMI adalah sama dengan gejala pada unstable angina pectoris (UAP). • • • • Biasanya pada gambaran EKG tampak normal. reaksi inflamasi. ST Elevation Miocard Infark (STEMI) ST Elevation Miocard Infark (STEMI) didefinisikan sebagai nekrosis miokardium yang disebabkan oleh tidak adekuatnya pasokan darah akibat sumbatan akut areteri koroner yang ditandai dengan adanya segmen ST elevasi pada EKG. Pada EKG tampak gelombang Q-patologis yang disebut Q-wave myocardial infarction (FKUI. maka akan terjadi infark miokard transmural yang mana kerusakan jaringannya mengenai seluruh dinding miokard. Secara anatomi. Kadang-kadang sumbatan akut ini dapat pula disebabkan oleh spasme arteri koroner. Apabila hanya cabang profunda yang tersumbat. dan mikroembolisasi distal. Sumbatan ini sebagian besar disebabkan oleh rupture plak. atau mungkin tidak tersumbat namun tiba-tiba terjadi peningkatan konsumsi oksigen yang . arteri koronaria dibagi menjadi cabang epikardial yang memperdarahi epikard dan bagian luar dari miokard dan cabang profunda yang memperdarahi endokard dan miokard bagian dalam. vasokonstriksi. 1995).Pada prinsipnya.

1996).hebat. punggung. dan gelombang Q (significant infark) atau Q patologis. Penderita tidak bisa menunjuk lokasi nyeri dengan satu jari. lengen kiri. Trias Diagnostik Infark Miokardium menurut WHO. 3. muntah. kadang berupa nyeri dagu. karena pada EKG tidak tampak gelombang Qpatologis (FKUI. • Kualitas nyeri: rasa berat seperti ditekan atau rasa panas seperti terbakar. • Nyeri tidak hilang dengan istirahat atau dengan pemberian nitrogliserin sublingual. 1999 adalah: 1. Perubahan pada segmen ST dan gelombang T diakibatkan karena iskemia dan akan menghilang sesudah jangka waktu tertentu. Riwayat Nyeri dada yang khas • Lokasi nyeri dada di bagian dada depan (bawah sternum) dengan/ tanpa penjalaran. Adanya perubahan EKG Perubahan EKG pada infark miokardium inversi gelombang T. epigastrum. • Kadang disertai gejala penyerta berupa keringat dingin. berdebar-debar atau lemas. maka kerusakan miokard terjadi hanya sebatas pada subendokard sehingga disebut infark miokard non-transmural atau non-Q-wave myocardial infarction. • Penjalaran bisa ke dagu. mual. emosi/ stress. leher. sesak. • Lama nyeri bisa lebih dari 15 – 30 menit. elevasi segmen ST. leher atau seperti sakit gigi. tetapi ditunjukkan dengan telapak tangan. atau dingin. 2. Kenaikan enzim otot jantung . • Sering didapatkan faktor pencetus berupa aktivitas fisik. Gelombang Q menunjukkan nekrosis miokardium dan bersifat irreversible.

enzim ini meningkat 6-10 jam setelah nyeri dada dan akan kembali normal dalam 48-72 jam. Secara umum. Ada lima penyebab yang tidak terpisah satu sama lainnya. C. • Walaupun kurang spesifik. Mikroemboli dari agregasi trombosit beserta komponennya dari plak yang ruptur. Trombus tidak oklusif pada plak yang sudah ada Penyebab tersering SKA adalah penurunan perfusi miokard oleh karena penyempitan arteri koroner sebagai akibat dari trombus yang ada pada plak aterosklerosis yang robek/pecah dan biasanya tidak sampai menyumbat. merupakan risiko tinggi dibandingkan dengan Troponin T negatif. Penderita dengan perubahan ECG dan troponin T +. Nilai normal troponin ialah 0. yaitu pemeriksaan Myoglobin (meningkat dalam 2-3 jam pertama).1 0. merupakan penyebab keluarnya pertanda kerusakan miokard pada banyak pasien. Selain pemeriksaan tersebut akhir-akhir ini sudah berkembang dengan pemeriksaan lain yang dapat dideteksi lebih awal adanya kerusakan otot jantung. dan dianggap positif bila > 0. aspartate amino transferase (AST) dapat membantu bila penderita datang ke RS sesudah hari ke-3 nyeri dada atau laktat dehidrogenase (LDH) akan meningkat sesudah hari ke-4 dan menjadi normal sesudah hari ke-10. penyebab dari Sindroma Koronaria Akut adalah : 1. 2. ETIOLOGI Sindroma Koronaria Akut (SKA) ditandai oleh adanya ketidakseimbangan antara pasokan dengan kebutuhan oksigen miokard. mengakibatkan infark kecil di distal.2 mg/dl. Troponin T dan I yang meningkat 3-12 jam setelah infark. Obstruksi dinamik (spasme koroner atau vasokonstriksi) Penyebab yang agak jarang adalah obtruksi dinamik yang mungkin diakibatkan oleh spasme fokal yang terus menerus pada segmen arteri .• Creatine Kinase Myocardial Band (CKMB) merupakan enzim yang spesifik untuk penanda kerusakan otot jantung.2 mg/dl.

destabilisasi plak. Spasme ini disebabkan oleh hiperkontraktilitas otot polos pembuluh darah dan atau akibat disfungsi endotel. 4. yang mungkin menyebabkan penyempitan arteri. Telah ditemukan beberapa faktor yang dikenal sebagai faktor resiko yang meningkatkan kerentanan terhadap terjadinya arterosklerosis koroner (Widiastuti. 3. Obstruksi mekanik yang progresif Penyebab ketiga dari SKA adalah penyempitan yang hebat namun bukan karena spasme atau trombus. Yang tak dapat diubah Yang dapat diubah Mayor Minor . Pada pasien ini ada penyebab berupa penyempitan arteri koroner yang mengakibatkan terbatasnya perfusi miokard. D. makrofag dan limfosit-T di dinding plak meningkatkan ekspresi enzim seperti metalloproteinase. sehingga selanjutnya dapat mengakibatkan SKA. dan mereka biasanya menderita angina stabil yang kronik.koroner epikardium. rupture dan trombogenesis. 2001). Faktor atau keadaan pencetus Penyebab kelima dari SKA yang merupakan akibat sekunder dari kondisi pencetus di luar arteri koroner. Inflamasi dan atau infeksi Penyebab keempat adalah inflamasi. yang dapat mengakibatkan penipisan dan rupture dari plak. disebabkan oleh atau yang berhubungan dengan infeksi. 5. Obstruksi dinamik koroner dapat juga diakibatkan oleh konstriksi abnormal pada pembuluh darah yang lebih kecil. FAKTOR RESIKO Banyak faktor yang saling berkaitan dalam mempercepat proses aterogenik. Hal ini terjadi pada sejumlah pasien dengan aterosklerosis progresif atau dengan stenosis ulang setelah intervensi koroner perkutan (PCI).

maka suplai oksigen miokardium berkurang. Tekanan membahayakan. sehingga terjadi dilatasi dan payah jantung. karena biasanya tidak menunjukan gejala sampai telah menjadi kronis. Hemoglobin sebagai komponen dalah yang mengangkut oksigen lebih mudah terikat pada CO daripada O2. Bila proses arterosklerosis berlanjut. Peningkatan tekanan darah sistemik meningkatkan resistensi terhadap pemompaan darah dari ventrikel kiri. Oleh karena itu. Akan tetapi. trigliserida dan fosfolipid. Hiperlipidemia Plasma lipid adalah asam lemak bebas yang berasal dari makanan eksogen dan sintesis lemak endogen. akibatnya beban kerja jantung bertambah. Kolesterol dan trigliserida merupakan 2. 3. Merokok Merokok berperan dalam memperburuk kondisi penyakit arteri koroner melalui 3 cara yaitu: • Menghirup asap akan meningkatkan kadar karbonmonoksida (CO) darah. Kebutuhan miokardium yang akan oksigen yang meningkat akibat hipertrofi ventrikel dan peningkatan beban kerja jantung akirnya menyebabkan angina atau infark miokardium. kemampuan ventrikel untuk mempertahankan curah jantung sebagai kompensasi akirnya terlampaui. kolesterol dan kalori Gaya hidup yang kurang aktivitas Stress psikologis Tipe kepribadian 1. yaitu: kolesterol. Hal yang merupakan komponen plasma lipid. . Sehingga sebagian akibat kematian karena hipertensi adalah infark atau payah jantung. Terjadi hipertrofi ventrikel untuk meningkatkan kekuatan kontraksi.Usia Jenis kelamin Riwayat keluarga Ras Peningkatan lipid serum Hipertensi Merokok Gangguan toleransi glukosa Diet lemak jenuh. Hipertensi darah tinggi merupakan faktor resiko yang paling dua jenis lipid yang mempunyai makna klinis penting sehubungan dengan arteosklerosis.

5. Stress menyebabkan pelepasan katekolamin. dengan cara : • • • Meningkatkan kontraktilitas dan otot-otot miokardium sehingga dapat dicapai stroke volume yang maksimal. • Merokok meningkatkan adhesi trombosit. gula dan garam merupakan salah satu faktor yang berperan penting pada timbulnya penyakit hiperlipoproteinemia dan obesitas. Olahraga teratur dapat menurunkan tekanan darah sebanyak 5-10 mmHg. tetap masih dipertanyakan apakah stress bersifat aterogenik atau hanya bersifat mempercepat serangan. Hiperglikemia menyebabkan peningkatan agregasi trombosit yang dapat menyebabkan pembentukan thrombus. Olahraga juga dapat meningkatkan cardiac output. Aliran darah dan oksigenasi jaringan menjadi terganggu. Meningkatkan jumlah kapiler-kapiler di miokard. Menurunkan resistensi perifer saat istirahat. 6.oksigen yang disuplai ke jantung menjadi sangat berkurang. Pola hidup Pola hidup yang kurang aktivitas dan stressor psikososial juga berperan dalam menimbulkan masalah pada jantung. sehingga mengakibatkan kemungkinan terjadinya peningkatan pembentukan thrombus. 4. Menurunkan denyut jantung saat istirahat. • E. • Asam nikonat pada tembakau akan memicu pelepasan katekolamin yang menyebabkan konstriksi arteri. PATOFISIOLOGI . lemak total. Diet Diet tinggi kalori. lemak jenuh. Obesitas meningkatkan kerja jantung dan kebutuhan akan oksigen. demikian juga kasus atreoklerosis ini. Diabetes Mellitus Penderita diabetes melitus cendrung memiliki prevalensi yang lebih tinggi. sehingga membuat jantung bekerja lebih keras untuk menghasilkan energy yang sama besarnya.

Pembentukan fosfat berenergi tinggi menurun cukup besar. Menurunnya fungsi ventrikel kiri dapat mengurangu curah jantung dengan berkurangnya curah sekuncup. tekanan jantung kiri akan meningkat. Metabolisme anaerob lewat lintasan glikolitik jauh lebih tidak efisien apabila dibandingkan dengan metabolism aerob melalui fosforilasi oksidatif dan siklus Krebs. gerakan dinding segmen yang mengalami iskemik menjadi abnormal. Gabungan efek hipoksia. Iskemia yang bersifat sementara akan menyebabkan perubahan reversible pada tingkat sel dan jaringan. Hasil akhir metabolism anaerob. Berkurangnya pengosongan ventrikel saat systole akan memperbesar volume ventrikel. Peningkatan tekanan diperbesar oleh perubahan daya kembang dinding jantung akibat iskemia. Perubahan hemidinamika bervariasi sesuai ukuran segmen yang mengalami iskemia. Selain itu. serabut-serabutnya memendek. dan daya serta kecepatannya berkurang. Akibatnya. Kekuatan kontraksi daerah miokardium yang terserang berkurang. Bagian mokardium yang mengalami infark atau nekrosis akan berhenti berkontraksi secara permanen. tekanan akhir diastolic ventrikel kiri dan tekanan dalam kapiler paru-paru akan meningkat. Iskemia yang berlangsung lebih dari 30-45 menit akan menyebabkan kerusakan seluler yang irreversible dan kematian otot atau nekrosis. akan tertimbun sehingga menurunkan pH sel.Kebutuhan akan oksigen yang melebihi kapasitas suplai oksigen oleh pembuluh yang terserang penyakit menyebabkan iskemia miokardium local. Jaringan yang mengalami infark dikelilingi oleh suatu daerah . yaitu asam laktat. Berkurangnya kadar oksegen memaksa miokardium mengubah metabolism yang bersifat aerob menjadi metabolism anaerob. serta asidosis dengan cepat mengganggu fungsi ventrikel kiri. Berkurangnya daya kontraksi dan gangguan gerakan jantung mengubah hemodinamika. dan menekan fungsi miokardium. dan derajat respon reflex kompensasi system saraf otononm. bagian tersebut akan menonjol keluar setiap kali ventrikel berkontraksi. berkurangnya energy yang tersedia. Dinding yang kurang lentur semakin memperberat peningkatan tekanan pada volume ventrikel tertentu.

Secara ringkas terdapat serangkaian refleks yang dapat mencegah memburuknya curah jantung dan tekanan perfusi. Infark miokard akan mengurangi fungsi ventrikel karena otot yang nekrosis kehilangan daya kontraksi sedangkan otot yang iskemia di sekitarnya juga mengalami gangguan daya kontraksi. diantaranya : • • • • • peningkatan frekuensi jantung dan daya kontraksi vasokonstriksi umum retensi natrium dan air dilatasi ventrikel hipertropi ventrikel Tetapi semua respon kompensasi ini akhirnya dapat memperburuk keadaan miokardium dengan meningkatkan kebutuhan miokardium akan oksigen (Price dan Wilson. Dalam jangka waktu 24 jam timbul oedema pada sel-sel. sedangkan perbaikan iskemia akan memperkecil daerah nekrosis. 1994). . Ukuran infark akhir tergantung dari nasib daerah iskemik tersebut. Secara fungsional infark miokardium akan menyebabkan perubahan-perubahan seprti pada iskemia : • • • • • • • daya kontraksi menurun gerakan dinding abnormal perugahan daya kembang dinding ventrikel pengurangan curah sekuncup pengurangan fraksi ejeksi peningkatan volume akhir sistolik dan diastolic ventrikel peningkatan tekanan akhir diastolic ventrikel kiri. Otot yang mengalami infark akan mengalami serangkaian perubahan selama berlangsungnya proses penyembuhan. Mula-mula otot yang mengalami infark tampak memar dan sianotik akibat terputusnya aliran darah regional.iskemik yang berpotensi dapat hidup. Bila pinggir daerah ini mengalami nekrosis maka besar daerah infark akan bertambah besar. Enzim-enzim jantung akan terlepas dari sel-sel ini. respon peradangan disertai infiltrasi leukosit.

Kecepatan sedimentasi Kimia Meningkat pada ke-2 dan ke-3 setelah AMI . hiperkalemi 4. 10. Mungkin normal. 3. EKG Untuk mengetahui fungsi jantung : T. menunjukkan arteriosclerosis sebagai penyebab AMI Mungkin normal atau menunjukkan pembesaran jantung diduga GJK atau aneurisma ventrikuler. 9.000 – 20. ST depresi. tergantung abnormalitas fungsi atau perfusi organ akut atau kronis 7. 11. Ekokardiogram Dilakukan untuk menentukan dimensi serambi. 6. Troponin T Ketidakseimbangan dapat mempengaruhi konduksi dan kontraktilitas. Pemeriksaan pencitraan nuklir . patologis 2. Elektrolit. gerakan katup atau dinding ventrikuler dan konfigurasi atau fungsi katup.F. CPKMB. Meningkat. Sel darah putih Leukosit ( 10. Inverted. Enzim Jantung. menunjukkan inflamasi.000 ) biasanya tampak pada hari ke-2 setelah IMA berhubungan dengan proses inflamasi 5. AST. ST Elevasi. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. missal hipokalemi. 8. GDA Kolesterol atau Trigliserida serum Foto dada Dapat menunjukkan hypoksia atau proses penyakit paru akut atau kronis. LDH. Q.

Biasanya dilakukan sehubungan dengan pengukuran tekanan serambi dan mengkaji fungsi ventrikel kiri (fraksi ejeksi). . Talium : mengevaluasi aliran darah miocardia dan status sel Technetium : terkumpul dalam sel iskemi di sekitar area Pencitraan darah jantung (MUGA) miocardia missal lokasi atau luasnya IMA Mengevaluasi penampilan ventrikel khusus dan umum. Prosedur tidak selalu dilakukan pad fase AMI kecuali mendekati bedah jantung angioplasty atau emergensi. 15. Gagal Jantung Kongestif Merupakan kongestif sirkulatif akibat disfungsi miokardium.a. Infark miokardium mengganggu fungsi miokardium karena menyebabkan pengurangan kontraktilitas. hingga udem paru sampai terjadi gagal jantung kiri. sehingga tekanan ventrikel kiri meningkat. 14. pembentukan plak. KOMPLIKASI 1. serambi jantung atau katup ventrikel. G. b.Nuklear Magnetic Resonance (NMR) Memungkinkan visualisasi aliran darah. gerakan dinding regional dan fraksi ejeksi (aliran darah) 13. nekrotik 12. Gagal jantung kiri dapat berkembang menjadi gagal jantung kanan. dan menambah daya kembang ruang jantung. Akibatnya tekanan vena pulmonalis meningkat dan dapat menyebabkan transudasi. gerakan dinding yang abnormal. area nekrosis atau infark dan bekuan darah.Tes stress olah raga Menentukan respon kardiovaskuler terhadap aktifitas atau sering dilakukan sehubungan dengan pencitraan talium pada fase penyembuhan. Dengan berkuragnya kemampuan ventrikel kiri untuk mengosongkan ruang. volume kuncup berkurang. Angiografi koroner Menggambarkan penyempitan atau sumbatan arteri koroner. lesivaskuler.

kemudian aliran terpecah menjadi dua yaitu melalui aorta dan melalui defek septum ventrikel. biasanya mengenai lebih dari 40% ventrikel kiri. dengan manifestasi meliputi hal-hal berikut yaitu: • • • • Penurunan perfusi perifer Penurunan perfusi koroner Peningkatan kongesti paru Hipotensi. dari daerah yang lebih besar tekanannya menuju daerah yang lebih rendah tekanannya. sedangkan kematian yang diakibatkannya mencapai 80-90%. asidosis metaboik. Ruptur membentuk saluran keluar kedua dari ventrikel kiri pada tiap kontraksi ventrikel. dan hipoksemia yang selanjutnya makin menekan fungsi miokardium. Insiden syok kardiogenik adalah 10-15% pada klien pascainfark. Maka darah akan menyerong melalui defek dari kiri ke kanan. Timbul lingkaran setan hemodinamik progresif hebat yang irreversible.2. Syok Kardiogenik Diakibatkan karena disfungsi nyata ventrikel kiri sesudah mengalami infark yang massif. Defek Septum Ventrikel Nekrosis septum interventrikularis dapat menyebabkan rupture dinding septum sehingga terjadi defek septum ventrikel. Dinding nekrotik yang tipis pecah sehingga terjadi perdarahan massif ke dalam kantung pericardium yang relative tidak elastic dapat berkembang. 4. Rupture jantung Meskipun jarang terjadi. Darah yang dapat dipindahkan ke jantung kanan cukup besar jumlahnya sehingga jumlah darah yang dikeluarkan aorta menjadi berkurang. Akibatnya curah jantung sangat berkurang disertai peningkatan kerja ventrikel kanan dan kongesti paru. Kantung pericardium yang terisi . 3. rupture dinding ventrikel jantung yang bebas dapat terjadi pada awal perjalanan infark selama fase pembuangan jaringan nekrotik sebelum pembentukan parut. Oleh karena tekanan jantung kiri jauh lebih besar daripada jantung kanan.

Tromboembolisme Nekrosis endotel ventrikel akan membuat permukaan endotel menjadi kasar yang merupakan faktor predisposisi pembentukan thrombus. Pada Aritmia. Intervalnya dapat bervariasi tergantung usia klien. Aritmia Henti jantung terjadi bila jantung tiba-tiba berhenti berdenyut.oleh darah menekan jantung. terjadi kedutan otot yang tidak seirama (fibrilasi ventrikel). perkembangan efusi yang cepat dapat meregangkan pericardium sampai ukuran maksimal dan menyebabkan penurunan curah jantung. Terdapat interval waktu sekitar 4 menit antara berhentinya sirkulasi dengan terjadinya kerusakan otak menetap. Kadang-kadang terjadi efusi pericardialatau penimbunan cairan antara kedua lapisan. sehingga merangsang permukaan pericardium dan menimbulkan raeksi peradangan. Namun. Perikarditis Infark transmural dapat membuat lapisan epikardium yang langsung berkontak dan menjadi kasar. PENATALAKSANAAN Secara umum penatalaksanaan pada penyakit SKA meliputi : 1. sehingga menimbulkan tamponade jantung. 6. H. Pecahan thrombus mural intrakardium dapat terlepas dan dapat terjadi embolisme sistemik. terjadi penghentian sirkulasi efektif. Akibatnya. terjadi kehilangan kesadaran mendadak. Secara normal kantung pericardium berisi cairan sebanyak kurang dari 50 ml. 5. Pupil mata mulai berdilatasi dalam 45 detik. cairan pericardium akan terakumulasi secara lambat tanpa menyebabkan gejala yang nyata. tidak ada denyutan dan bunyi jantung tidak terdengar. Farmakologis . 7. semua kerja jantung berhenti. kadang-kadang terjadi kejang.

f. b. Obat anti iskemik Tujuan dari terapi ini adalah mengurangi iskemia dan mencegah terjadinya kemungkinan yang lebih buruk. 2. obat-obat anti iskemik mulai diberikan bersamaan sambil merencanakan strategi pengobatan definitif. terutama terhadap kadar lipid serum. Terapi oksigen Terapi oksigen dimulai saat awitan nyeri.a. SKA berulang. e. d. Efektifitas terapi oksigen ditentukan dengan observasi kecepatan dan irama pertukaran pernafasan. Saat ini. analgetik Tujuan adalah mengurangi rasa sakit akibat nyeri yang hebat. Untuk mengembalikan aliran darah. Setelah dilakukan pembedahan darah akan kembali beredar ke jantung. Obat. Statin Statin telah menunjukkan efek yang menguntungkan pada pasien SKA. unfactionated heparin (UFH) atau Low Molecular Weight Heparin (LMWH) dan antagonis reseptor GPIIb/IIIa merupakan terapi yang paling efektif. Isosorbid dinitrat. Pada keadaan ini. dll c. dan pasien mampu bernapas dengan mudah. Teknik relaksasi . Oksigen yang dihirup akan langsung meningkatkan saturasi darah. clopidogrel. Sebaiknya statin diberikan segera setelah onset SKA. kombinasi dari ASA. Obat anti trombolitik Terapi anti trombolitik sangat penting dalam memperbaiki hasil menurunkan resiko kematian. Non farmakologis a. missal morphin sulfat. Revaskularisasi Revaskularisasi koroner adalah proses memulihkan aliran oksigen dan nutrisi ke jantung. Misalnya : nitrat. pembedahan yang diperlukan untuk melewati penyumbatan atau hambatan pada arteri koroner.

Tekanan darah tinggi. masase. disritmia. Pengkajian a. Heart rate mungkin meningkat atau menglami penurunan (tachy atau bradi cardia). I. Ada berbagai macam cara. b. crackles mungkin juga timbul dengan gagal jantung. Suara jantung . Warna kulit mungkin pucat baik di bibir dan di kuku. ketidakmampuan untuk tidur (mungkin di dapatkan Tachycardia dan dispnea pada saat beristirahat atau pada saat beraktivitas). b. Edema: Jugular vena distension. missal teknik napas dalam. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN 1. Murmur jika ada merupakan akibat dari insufisensi katub atau muskulus papilaris yang tidak berfungsi. dll. odema anasarka. kelelahan. nadi mungkin normal atau terlambatnya capilary refill time. diabetes melitus. Sirkulasi Mempunyai riwayat SKA. Pendidikan kesehatan juga bisa termasuk upaya discharge planning saat pasien akan pulang. Eliminasi . suara jantung tambahan S3 atau S4 mungkin mencerminkan terjadinya kegagalan jantung/ ventrikel kehilangan kontraktilitasnya. CHF.Teknik relaksasi merupakan teknik untuk mengalihkan respon nyeri pada klien. Pendidikan kesehatan pendidikan kesehatan diperlukan untuk memberikan pemahaman pada pasien dan keluarga serta untuk mengurangi kecemasan terhadap proses penyakit yang diderita. Irama jnatung mungkin ireguler atau juga normal. Tekanan darah mungkin normal atau meningkat. Aktivitas dan istirahat Kelemahan. Penyakit jantung koroner. c.

d. Penyebaran dapat meluas didada. biasanya lebih parah dan berlangsung lebih lama. g.Bising usus mungkin meningkat atau juga normal. Quality of pain • • Seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien Sifat keluhan nyeri seperti tertekan 3. 2. 4.Severity (scale)of pain Klien bisa ditanya menggunakan rentang 0-5 dan klien akanmenilai seberapa jauh rasa nyeri bekisar antara 4-5 skala (0-5). Changes mentation. Hygiene perseorangan Dispnea atau nyeri dada atau dada berdebar-debar pada saat melakukan aktivitas. berkeringat banyak. 5. Nutrisi Mual. penurunan turgor kulit. f. Kenyamanan Pengkajian RPS yang mendukung keluhan utama dengan melakukan serangkaian pertanyaan tentang nyeri dada klien secara PQRST adalah sebagai berikut. Nyeri oleh infark miokardium dapat timbul pada waktu istirahat. muntah dan perubahan berat badan. relief Lokasi nyeri didaerah substernal atau nyeri diatas pericardium.Region.gejala-gejala yang menyertai .Provoking incident Nyeri setelah beraktifitas dan tidak berkurang dengan istirahat dan setelah diberikan nitrogliserin. e. Neurosensori Nyeri kepala yang hebat. 1.Time Sifat mula timbulnya (onset). radiation. Dapat terjadi nyeri serta ketidakmampuan bahu dan tangan. kehilangan nafsu makan. gejala timbul mendadak. Lama timbulnya (durasi)nyeri dada dikeluhkan lebih dari 15 menit.

Sputum jernih atau juga merah muda/ pink tinged. batuk produktif. h. pucat atau cyanosis. hipertensi. diabetes. Pada pemeriksaan mungkin di dapatkan peningkatan respirasi. Enzym dan isoenzym pada jantung: CPK-MB meningkat dalam 4-12 jam. j. Studi diagnostik ECG menunjukan: adanya S-T elevasi yang merupakan tanda dari iskemi. emosi yang tak terkontrol. Elektrolit: ketidakseimbangan yang memungkinkan terjadinya penurunan konduksi jantung dan kontraktilitas jantung seperti hipo atau hiperkalemia. kesulitan dalam beradaptasi dengan stresor. ansietas. riwayat perokok dengan penyakit pernafasan kronis. stroke. suara nafas crakcles atau wheezes atau juga vesikuler. Interaksi sosial Stress. i. gelombang T inversi atau hilang yang merupakan tanda dari injuri. Whole blood cell: leukositosis mungkin timbul pada keesokan hari setelah serangan. Peningkatan SGOT dalam 6-12 jam dan mencapai puncak pada 36 jam. Respirasi Dispnea dengan atau tanpa aktivitas. dan pingsan. berkeringat. Pengetahuan Riwayat di dalam keluarga ada yang menderita penyakit jantung. dan mencapai puncak pada 24 jam. dan gelombang Q yang mencerminkan adanya nekrosis. k. . Analisa gas darah: Menunjukan terjadinya hipoksia atau proses penyakit paru yang kronis ata akut. Kolesterol atau trigliseid: mungkin mengalami peningkatan yang mengakibatkan terjadinya arteriosklerosis.infark miokardium meliputi dispnea. perokok.

Pemeriksaan Treadmill test: sebagai skrinning untuk mendeteksi adanya penyempitan pembuluh darah koroner. Diagnosa keperawatan 1.Chest X ray: mungkin normal atau adanya cardiomegali. TD > 120/80AGD dengan : pa O2 < 80 mmHg. LDL/HDL Tujuan : Gangguan perfusi jaringan berkurang / tidak meluas selama dilakukan tindakan perawatan di RS. Echocardiogram: Mungkin harus di lakukan guna menggambarkan fungsi atau kapasitas masing-masing ruang pada jantung. atau aneurisma ventrikiler. CHF. AST. Gangguan perfusi jaringan Dapat dihubungkan dengan : Iskemik. penyempitan / penyumbatan pembuluh darah arteri koronaria Kemungkinan dibuktikan oleh :  Daerah perifer dingin  EKG elevasi segmen ST & Q patologis pada lead tertentu  RR lebih dari 24 x/ menit  Kapiler refill Lebih dari 3 detik  Nyeri dada  Gambaran foto torak terdapat pembesaran jantung & kongestif paru ( tidak selalu )  HR lebih dari 100 x/menit. kerusakan otot jantung. Kriteria : . pa Co2 > 45 mmHg dan Saturasi < 80 mmHg  Nadi lebih dari 100 x/ menit  Terjadi peningkatan enzim jantung yaitu CK. 2.

Observasi karakteristik. Pa CO2 dan saturasi O2 ). TD 120/80 mmHg Rencana Tindakan : 1. delirium perubahan nadi TD . wajah meringis. Nyeri Dapat dihubungkan dengan: Iskemia jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri coroner. kapiler refill 3-5 detik. misalnya nafas dalam. Kolaborasi : Berikan cairan IV l sesuai indikasi 6. lokasi. ekpresi wajah rileks/ tenang. Bantu klien melakukan tehnik relaksasi. elektrolit . atau dari 2 ke 1. Ukur haluaran urin dan catat berat jenisnya 5. tidak gelisah. 3. gambaran EKG tak menunjukan perluasan infark RR 16-24 x/ menit tak terdapat clubbing finger.Daerah perifer hangat. 2. Observasi warna dan suhu kulit / membran mukosa 4. atau bimbingan imajinasi. Dan Pemberian oksigen 2. Monitor Frekuensi dan irama jantung 2. nadi 60-100x / menit. Observasi perubahan status mental 3. dan perjalanan rasa nyeri dada tersebut. Anjurkan pada klien menghentikan aktifitas selama ada serangan dan istirahat. Pertahankan Oksigenasi dengan bikanul contohnya ( 2-4 L/ menit ) dibuktikan oleh : nyeri dada dengan atau tanpa penyebaran. tak sianosis. waktu. 4. tak tegang. gelisah. Kemungkinan Tujuan : Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan perawatan selama Kriteria : Nyeri dada berkurang misalnya dari skala 3 ke 2. nadi 60-100x menit. Pantau Pemeriksaan diagnostik / dan laboratorium mis EKG. perilaku distraksi. TD 120/ 80 mmHg Rencana tindakan : 1. visualisasi. GDA( Pa O2.

5. peningkatan tekanan hidrostatik atau penurunan protein plasma ( menyerap cairan dalam area interstisial/ jaringan ) Kemungkinan dibuktikan oleh: tidak adanya tanda-tanda dan gejala gejala membuat diagnosa actual. perubahan membran alveolar. 3. Ukur masukan / haluaran. sekresi berlebihan / perdarahan aktif Kemungkinan dibuktikan oleh : total caiaran 2000 ml/24 jam dalam . sifat konsentrasi. Kolaborasi : pemberian diet rendah natrium. Observasi adanya oedema dependen 3. tak ada distensi vena perifer/ vena dan edema dependen. 4. paru bersih dan berat badan ideal ( BB ideal TB –100 ± 10 %) Rencana tindakan : 1. berikan diuetik.kapiler ( atelektasis . Kerusakan pertukarann gas Dapat dihubungkan oleh : Gangguan aliran darah ke alveoli atau kegagalan utama paru. hitung keseimbangan cairan 2. catat penurunan . Kolaborasi dengan tim kesehatan dalam pemberian analgetik. kolaps jalan nafas/ alveolar edema paru/efusi. Pertahankan masukan toleransi kardiovaskuler 5. pengeluaran. Kemungkinan terhadap kelebihan volume cairan ekstravaskuler Faktor resiko meliputi : Penurunan perfusi ginjal. Monitor tanda-tanda vital ( Nadi & tekanan darah ) tiap dua jam. Tujuan : Keseimbangan volume cairan dapat dipertahankan selama dilakukan tindakan keperawatan selama di RS Kriteria : Mempertahankan keseimbangan cairan seperti dibuktikan oleh tekanan darah dalam batas normal. 6. peningkatan natrium/ retensi air. Timbang BB tiap hari 4.

perubahan GDA. hipoksemia Tujuan : Oksigenasi dengan GDA dalam rentang normal (pa O2 < 80 mmHg. GDA dala batas Normal ( pa O 2 < 80 mmHg. 3. 5. adanya iskemik/ nekrotik jaringan miocard. tekanan darah dalam aktifitas. Kriteria hasil : Tidak sesak nafas. kelemahan umum Tujuan : Terjadi peningkatan toleransi pada klien setelah dilaksanakan tindakan keperawatan selama di RS Kriteria : frekuensi jantung 60-100 x/ menit dan TD 120-80 mmHg Rencana tindakan :: . penghisapan lendir dll. batuk.Dispnea berat. Auskultasi paru untuk mengetahui penurunan / tidak adanya bunyi nafas dan adanya bunyi tambahan missal krakles. 4. ronki dll. tidak gelisah. sianosis. Tinggikan kepala / tempat tidur sesuai kebutuhan / toleransi pasien 5. pa Co2 > 45 mmHg dan Saturasi < 80 mmHg ) setelah dilakukan tindakan keperawtan selama di RS. penggunaan otot Bantu pernafasan 2. Kaji toleransi aktifitas misalnya keluhan kelemahan/ kelelahan selama kerja atau tanda vital berubah. Catat frekuensi & kedalaman pernafasan. Kemungkinan dibuktikan oeh : Gangguan frekuensi jantung. terjadinya disritmia. pa Co2 > 45 mmHg dan Saturasi < 80 mmHg ) Rencana tindakan : 1. gelisah. Lakukan tindakan untuk memperbaiki / mempertahankan jalan nafas misalnya . Intoleransi aktifitas dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari Dapat dihubungkan dengan : ketidakseimbangan antar suplai oksigen miocard dan kebutuhan.

Beri penjelasan factor resiko. Rencana tindakan : 1. Catat frekuensi jantung. 6. 2. contoh bengun dari kursi bila tidak ada nyeri.1. dan sesudah aktifitas yang tidak berat. Peringatan untuk menghindari paktifitas manuver valsava kondisi penyakitnya menguat setelah diberi pendidikan kesehatan selam di RS masalah. Berikan informasi dalam bentuk belajar yang berfariasi. kebutuhan perubahan pol hidup. diet ( Rendah lemak dan rendah garam ) dan aktifitas yang berlebihan. Kurang pengetahuan mengenai kondisi. Tanya jawab dll. ambulasi dan istirahat selam 1 jam setelah mkan. dan perubahan TD selama Tingkatkan istirahat ( di tempat tidur ) Batasi aktifitas pada dasar nyeri dan berikan aktifitas sensori Jelaskan pola peningkatan bertahap dari tingkat aktifitas. kebutuhan pengobatan Dapat dihubungkan dengan : Kurang informasi tentang fungsi jantung / implikasi penyakit jantung dan status kesehatan yang akan datang . 5. 2. 3. irama. rencana pengobatan. kesalahan konsep. 4. tujuan pengobatan & efek samping / reaksi merugikan Menyebutkan gngguan yang memerlukan prhatian cepat. Kaji ulang tanda gangguan yang menunjukan tidak toleran terhadap aktifitas atau memerlukan pelaporan pada dokter. terjadinya kompliksi yang dapat dicegah . 3. program audio/ visual. Kemungkinan dibuktikan oleh : Pernyataan Tujuan : Pengetahuan klien tentang Kriteria : Menyatakan pemahaman tentang penyakit jantung . pertanyaan. contoh buku.

penurunan karakteristik miokard Tujuan : Curah jantung membaik / stabil setelah dilakukan tindakan keperawatan selama di RS Kriteria Hasil : . penurunan vital kapasitas paru. 2. Rasional : fase ekspirasi biasanya 2 kali panjangnya dari kecepatan inspirasi. 4. peningkatan saturasi oksigen. Rasional : Memberikan informasi tentang adanya obsturksi jalan nafas 3. rekreasi aktifitas seksual.4. Pola pernapasan tidak efektif berhubungan dengan gangguan rasio O2 dan CO2. tidak ada hipoksia. catat bila ada kelainan bunyi pernapasan. penurunan PO2 < 80. sianosis. gelisah Tujuan: Pola pernapasan efektif Kriteria hasil : Saturasi oksigen normal. 7. peningkatan CO2 > 45. Kemungkinan dibuktikan oleh: perubahan frekuensi nafas. Kolaborasi pemberian oksigen sesuai indikasi 8. Dapat dihubungkan dengan: Gangguan rasio O2 dan CO2. retraksi interkostal. tidak ada sianosis Rencana tindakan : 1. Awasi rasio inspirasi den ekspirasi. Observasi pola napas dan catat frekuensi pernapasan. Latih pasien sehubungan dengan aktifitas yang bertahap contoh : jalan. Auskultasi dada secara periodik. kerja. kapasital vital normal. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan factor-faktor listrik.

mengejan ( gunakan laxan ) . TD Monitor haluaran urin Kaji dan pantau TTV tiap jam Kaji dan pantau EKG tiap hari Berikan oksigen sesuai kebutuhan Auskultasi pernafasan dan jantung tiap jam sesuai indikasi Pertahankan cairan parenteral dan obat-obatan sesuai advis Berikan makanan sesuai diitnya Hindari valsava manuver.    Intervensi :           Tidak ada edema Tidak ada disritmia Haluaran urin normal TTV dalam batas normal Pertahankan tirah baring selama fase akut Kaji dan laporkan adanya tanda – tanda penurunan COP.

Identitas 1.BAB III TINJAUAN KASUS ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.PENGKAJIAN A.Identitas penanggung jawab . wib. : Ruang UPJ L3 RSDK Semarang : 6-2-2012 jam 21.20 wib. 2.07. B SINDROMA KORONARIA AKUT: UAP ( UNSTABLE ANGINA PECTORIS ) DIRUANG UPJ L3 RSDK SEMARANG Nama Mahasiswa NIM Tempat praktek Tanggal pengkajian I. B : 52 tahun : laki-laki : SMA : Islam : Jawa : Kawin : Tidak bekerja :B : Kodia Semarang : 1-2-2012 jam 16. : 6841924 : UAP : Ny.Identitas Klien Nama Tempat dan tgl lahir Jenis kelamin Pendidikan terakhir Agama Suku Status perkawinan Pekerjaan Golongan darah Alamat Tanggal masuk No RM Diagnosa medis Nama Umur : Tn. 3A011024. M : 49 tahun : Joko Susilo : G.

Tropo nin I.EKG. aktifitas klien terbatas dan dilakukan diatas tempat tidur.Oral:ISDN 5 mg.Ureumkreatin.kesadaran composmentis. infus Rl 10 tpm. oleh keluarga klien dibawa ke UGD RSDK Semarang.Tensi 150/110 mmHg.CKMB.Klien tampak kesakitan memegangi area yang sakit.Klien terlihat letih dan lemah.Setelah diperiksa oleh dokter jaga klien dicurigai UAP dan disarankan opname advis therapy: 02 3lpm. Klien mengatakan ia merasa letih dan ngos ngosan setelah beraktifitas ringan termasuk terasa sesak dan berkeringat dingin ketika ngobrol dilakukan pengkajian oleh penulis.Rongent thoraxAp.4 º C.nyeri berkurang kalau klien beristirahat atau minum obat ISDN. skala nyeri 5 ..Pada tanggal 1-2-2012 jam 16.injeksi Ranitidin 1 ampul extra. Nadi 98 x/mt.07 wib nyeri bertambah berat klien tampak kesakitan.Gds.nyeri terasa seperti tertindih benda berat. klien terbaring ditempat tidur. nyeri dirasa timbul bila klien beraktifitas atau banyak bergerak.plavix 75 mg.Berdasarkan pemeriksaan:Keadaan umum lemah.Aspilet 160 mg.Jenis kelamin Agama Suku Hubungan dengan pasien Pekerjaan Alamat B. .Status Kesehatan saat ini : perempuan : Islam : Jawa : Istri : Ibu rumah tangga : Kodia Semarang Kurang lebih 1 Minggu yang lalu Klien mengeluh nyeri dada kiri menjalar kepundak dan lengan kiri.klien bernafas dengan cepat dan berkeringat dingin.Status Kesehatan 1.cekdarahlengkap. RR 22 x/mt.nyeri berkurang jika klien beristirahat atau minum obat ISDN. nyeri timbul jika klien beraktifitas. Suhu 36. Berdasarkan pengkajian yang dilakukan saat kasus diambil: Klien menyatakan nyeri dada sebelah kiri menjalar kepundak dan lengan kiri. hilang timbul durasi 15-20 menit.Konsul Cardiologi.elektrolit:Ca.Mg.

Klien menyatakan tidak pernah berolah raga.000.Status Kesehatan masa lalu Sebelumnya kurang lebih 6 bulan yang lalu klien pernah dirawat di RSDK dengan kasus yang sama. dislipidemi.Saat pengkajian sosio ekonomi yang berhubungan dengan kesehatan klien menyatakan bahwa klien adalah seorang kepala keluarga dengan penghasilan cukup untuk kebutuhan hidup. Asma. DM.kecuali diet rendah lemak dan garam sesuai petunjuk tenaga kesehatan. 3.Klien mempunyai usaha wiraswasta dengan penghasilan Rp.tidak ada makanan pantang. Keluarga tidak ada riwayat Hipertensi. alkohol.Klien tidak mempunyai kebiasaan mengkonsumsi jamu. Upaya yang dilakukan dalam mempertahankan kesehatan. C.-/bulan.500.karena klien merupakan kepala keluarga maka kalau sehat klien dapat mengatur keluarga. klien kontrol rutin di Puskesmas setempat. Klien menyatakan mempunyai riwayat penyakit hipertensi 10 tahun yang lalu. Klien diperbolehkan pulang. kopi.Persepsi Dan Pemeliharaan Kesehatan Klien menyatakan kesehatan merupakan unsur utama dan penting bagi hidupnya. Klien . karena menurut klien tugas sebagai kepala keluarga sama dengan berolah raga.Pengkajian Pola Fungsional ( Sesuai Buku Panduan ) 1. klien selalu mandi 3x/hari dengan sabun. riwayat perokok 35 tahun yg lalu perhari 2 bungkus dan sudah berhenti 1 bulan yang lalu. selalu ganti pakaian sesudah mandi/sewaktu waktu pakaian kotor.kecuali diit rendah lemak dan garam . klien tidak pernah diet. klien sering kontrol ke Puskesmas setempat jika badannya terasa sakit. tapi klien ada riwayat perokok 35 tahun yang lalu 2 bungkus perhari sudah berhenti 1 bulan yang lalu.2. dan penyakit jantung.Saat dikaji pengetahuan dan persepsi tentang penyakit dan perawatannya klien menyatakan penyakit merupakan anugrah dari allah tetapi manusia wajib berusaha mencari pengobatan dan perawatan sehingga dengan pengobatan dan perawatan diharapkan dapat sembuh seperti semula. Klien selalu makan teratur 3x/hari. gosok gigi pagi dan sore hari serta sebelum tidur dengan pasta gigi.

Cairan Dan Metabolik DS: Klien menyatakan sebelum sakit klien makan 3x/hari dengan menu nasi. ada makanan pantang yaitu diit rendah lemak dan garam. mukosa mulut dan lidah bersih tidak ada caries. tidak ada demam/panas. tidak terdapat nafas cuping hidung. Dalam sehari klien minum 7-9 gelas air putih. tidak oedema.tidak ada tanda-tanda peradangan. dan buah secara teratur. Klien tidak mual. tidak terdapat hernia/massa. Klien minum 5-7 gelas air putih /hari. integritas kulit normal. 3. ekspansi dada simetris. gusi. tidak diaforesis.Pernafasan.Pernafasan DS: Klien menyatakan sebelum sakit klien tidak mengalami gangguan pernafasan.Nutrisi. DO: Suhu 36. porsi makan habis. Aktifitas Dan Latihan a. saat dikaji pernafasan normal 22x/mt. turgor kulit sedang. tidak terdapat distensi vena jugularis. lingkar abdomen 90 Cm. holitosis dalam batas normal. tidak memakai alat bantu pernafasan. lauk pauk.4º C. BB klien dari sebelum dirawat di Rumah Sakit sampai sekarang tetap 62 kg. tidak cyanosis. Selama sakit di Rumah Sakit Klien tetap mau makan 3x/hari sesuai diitnya. BB 62 kg TB 164 Cm.bertempat tinggal dengan lingkungan yang aman dan nyaman dengan tetangga sekitarnya. tonus otot normal. bunyi nafas normal. .tidak muntah. minum air putih 1 gelas. DO: Pernafasan normal 22x/mt dalam.gigi. 2. mulut. tidak ditemukan tanda-tanda allergi terhadap makanan. Pada proses makan klien dapat mengunyah makanan karena gigi klien masih ada. sayur. tidak acites.

b. mengenakan pakaian dengan bantuan perawat dan keluarga. DO: Klien tampak sedikit segar.klien bernafas dengan cepat dan berkeringat dingin. . miring ke kiri/ke kanan ditempat tidur. bau badan dalam batas normal. Selama sakit klien menyatakan ia merasa letih dan ngos ngosan setiap beraktifitas ringan termasuk terasa sesak dan berkeringat dingin ketika ngobrol dilakukan.4 º C. postur tubuh dalam batas normal. Klien terlihat letih dan lemah. tidak terdapat gangguan gerak. kuku pendek dan bersih.kesadaran composmentis. massa/tonus otot normal. Kadang-kadang tidur siang 1-2 jam. Suhu 36. RR 22 x/mt.Istirahat tidur selama 8-9 jam. 4. Nadi 98 x/mt. Klien mandi disibin 2x/hari. tidak deformitas. kekuatan otot normal. holitosis dalam batas normal. Berdasarkan pemeriksaan:Keadaan umum lemah. Istirahat tidur tidak ada masalah. kulit kepala bersih. tidak terdapat mati rasa. BAB/BAK ditempat tidur dengan bantuan perawat dan keluarga. saat dikaji klien kooperatif dengan konsentrasi cukup. DO: Klien tampak lemah. hanya kadang-kadang terjaga oleh nyeri dada tapi dapat tidur kembali. Pakaian klien rapi.Aktifitas ( termasuk kebersihan diri dan latihan ) DS: Sebelum sakit klien mampu melakukan aktifitas sendiri tanpa bantuan orang lain. klien terbaring ditempat tidur. Selama sakit di Rumah Sakit tidak ada gangguan tidur. aktifitas sehari-hari dilakukan diatas tempat tidur. tidak ngantuk. tidak menguap. saat dikaji klien kooperatif.Istirahat DS: Sebelum sakit klien menyatakan tidak ada kesulitan tidur.Tensi 150/110 mmHg.

tidak DM. Klien menyatakan nyeri dada kiri menjalar kepundak dan lengan kiri. tidak oedema. warna kuning.normal tidak ada gangguan. sklera mata tidak icteric. : Bising usus normal : Terdapat timpani :Tidak ada nyeri tekan.5.tidak ada kesulitan BAB ( konstipasi/diare ). DO: Tensi 150/110 mmHg. Nadi/pulsasi carotis normal teraba. DO: Abdomen: -Inspeksi -Auscultasi -Perkusi -Palpas distensi Pola Eliminasi : Abdomen datar. dorsalis pedis normal teraba. tidak friksi gesek. tidak mur mur.tidak ada masa. tidak varises. radialis normal teraba. tidak oedema. tidak haemoroid. tidak pernah menggunakan diuretik. Extremitas normal. simetris. Sedangkan untuk BAK klien sudah BAK lancar tidak ada gangguan. suhu 36. warna membran mukosa mulut merah tidak kering. Bunyi jantung reguler 98x/mt.Sirkulasi DS: Klien menyatakan sebelum sakit klien mempunyai riwayat hipertensi 10 tahun yang lalu. warna merah. tidak plebitis.tidak terdapat kandung kemih . bibir merah tidak kering. tidak ada tanda-tanda homan. bau khas. tidak pernah perdarahan.4º C. kuat.Eliminasi DS: Klien menyatakan sebelum sakit klien BAB 1x/hari konsistensi normal. popliteal normal teraba. Saat dikaji klien menyatakan sudah BAB 1x. conjungtiva tidak anemis. femoralis normal teraba. tidak cyanosis. tidak pernah kesemutan. tidak pernah menggunakan laksatif.Klien belum pernah dipasang kateter. jugularis normal teraba. Nadi 98x/mt.tidak palpitasi. pengisian kapiler normal. punggung kuku merah. 6.tidak terdapat masa.

tidak ada riwayat cedera/kecelakaan.makanan maupun lingkungan.Pola BAK karakteristik urine warna kuning. DO: .tidak ada riwayat kejang. jumlah 2500 cc/hari. tidak epitaxis.Konsistensi lunak.reflex positif. pendengaran normal.reaksi pupil terhadap cahaya positif. karena saat ditanya keyakinan tentang kesembuhan penyakitnya klien berkesimpulan benar.pola BAB normal 1x/hari.ekpresi wajah biasa tidak sedih. V:5. kecuali riwayat hipertensi sejak 10 tahun yang lalu.warna kuning.penglihatan normal. M:6.Neurosensori Dan Kognitif DS: Klien menyatakan tidak pusing. Klien tidak mengalami delusi.pendengaran normal.Penampilan umum klien tampak lemah. GCS:15 E. Klien tidak mengalami gangguan memori. telinga tidak berdenging.tidak menggunakan alat bantu penglihatan/pendengaran. tempat/orang. bau khas.bau khas. Tidak terdapat disorientasi baik waktu. 8. DO: Kesadaran composmentis. tidak kesemutan.postur tubuh normal. baik memori segera.tidak ada riwayat transfusi darah maupun reaksinya. Tidak ada riwayat PMS.4. tidak terdapat penyempitan focus. 7. tidak terdapat masa.Keamanan DS: Klien menyatakan sebelum sakit tidak mempunyai riwayat allergi baik obatobatan. klien dapat rilek dapat mengalihkan perhatian dari rasa sakit.Tidak terdapat gangguan persepsisensori baik ilusi maupun halusinasi.normal isokor 2-3 mm.Setelah opname saat dikaji riwayat-riwayat tersebut diatas tidak ada.klien dapat mengontrol emosinya.jangka pendek menengah maupun panjang. efek klien normal dapat dinilai karena expresi emosinya selalu nyambung dengan ide-ide yang disampaikan.penglihatan normal.

Setiap ada permasalahan dipecahkan bersama-sama dengan musyawarah keluarga. Klien tidak takut/cemas.tidak terdapat jaringan parut. 10. sehingga klien mendapat dukungan keluarga.ayah.Sexual Dan Reproduksi.klien tegar tidak putus asa sehingga dapat selalu mengambil keputusan bersama keluarga. Klien dan istri memahami itu semua sehingga tidak ada masalah.4º C. 9. DS: Klien menyatakan tidak pernah stres karena hidup ini dijalani dengan senang hati dengan ibadah. tidak terdapat diaforesis. klien menyukai keadaan tubuhnya karena bagi klien keadaan tubuhnya sudah bagus yang merupakan karunia dari allah yang harus disyukuri.Persepsi Diri.Suhu tubuh 36.Tidak terdapat gangguan keseimbangan.integritas jaringan normal.Upaya dalam menghadapi permasalahan penyakitnya sekarang dimusyawarahkan bersama keluarga.tonus otot positif. Ideal diri: Klien menyatakan ingin cepat sembuh dan cepat pulang berkumpul dengan keluarganya.tidak terdapat ekimosis/tanda perdarahan lain. .tidak ditemukan tanda-tanda penyakit.bersih tidak ada lesi.kekuatan umum dalam batas normal. DS: Klien menyatakan sudah lama sudah tidak melakukan aktifitas sexual karena klien merasa sudah tua dan berpenyakit jantung.suami dan kakek yang terkadang ada suka dukanya. Konsep Diri Dan Mekanisme Koping. DO: Alat kelamin normal. Harga diri: Klien menyatakan bahwa dirinya sudah merasa puas menjadi pribadi yang sederhana sebagai kepala keluarga.orang tua. Tentang Konsepdiri: Citra diri: Klien menyatakan percaya diri dengan keadaan tubuhnya.tidak terdapat parese/paralisis.

ayah.orang tua. 12.Tidak ditemukan tanda-tanda prilaku menarik diri. N:98 x/mt. RR: 22x/mt. klien tidak mampu melakukan ibadah sholat lima waktu.tidak pernah ada konflik peran. S: 36. 11. . pembezuk maupun tenaga kesehatan.klien tidak pernah menyalahkan allah.tetangga maupun masyarakat sekitar.Pola Nilai Kepercayaan Dan Spiritual DS: Sebelum sakit klien rajin melakukan ibadah sholat lima waktu secara rutin tanpa gangguan.suami dan kakek.4º C.Semua dapat berjalan sesuai dengan perannya masing-masing. Selama diRumah Sakit Klien tidak mengalami gangguan interaksi sosial baik dengan keluarga. tidak ada kesulitan dalam interaksi keluarga. DO: Klien tampak tenang tidak emosi Tanda vital: T: 150/110 mmHg. klien hanya dapat berdoa ditempat tidur.Orang yang terdekat dan berpengaruh pada klien adalah istri. DO: Klien dapat berkomunikasi dengan jelas dan lancar serta dapat dimengerti baik verbal maupun non verbal.Interaksi Sosial DS: Klien menyatakan 1 Minggu yang lalu sebelum sakit klien dapat berinteraksi sosial baik dengan keluarga.Klien bisa berperan sebagai kepala keluarga.Klien merasa tidak ada perubahan identitas.Tidak ada keyakinan klien yang bertentangan dengan kesehatan dan pengobatan serta perawatan. klien kooperatif.Bagi klien allah adalah sumber kekuatan bagi dirinya.bagi klien penyakit adalah anugrah yang harus dijalani.Setelah dirawat diRumah Sakit karena kondisi klien yang lemah. tidak menggunakan alat bantu bicara. Setiap ada masalah selalu dimusyawarahkan dalam keluarga.klien lain.

Conjungtiva tidak anemis. D. fungsi penglihatan normal. tidak memakai alat bantu kaca mata. gigi.mudah tersinggung.tindakan dan perawatan yang diprogramkan oleh tenaga kesehatan. Tidak ada sikap permusuhan dengan tenaga kesehatan.OMA ) . tidak berbau 6.Telinga : Bentuk simetris. tidak ada serumen.Hidung : Bentuk simetris. membran mukosa mulut dan bibir tidak cyanosis.tidak ada penolakan dari klien.mudah menangis.BB/TB : 62 kg/ 164 cm 5. tidak ada lesi.Mata : Simetris.Kepala : Bentuk mesocephalus. tidak ada peradangan gusi.marah/sarkasme. bersih.DO: Tidak ditemukan tanda-tanda menarik diri.PEMERIKSAAN FISIK 1.Keadaan umum : Lemah 2.Rambut : Lurus.RR 22x/mt 9. bersih. 8. tidak terdapat polyp.Klien menjalankan program pengobatan. bibir. fungsi penciuman normal.Mulut : Mulut. fungsi pendengaran normal. kulit kepala bersih. tidak ditemukan peradangan ( OMP.Tanda-tanda vital: : 150/110 mmHg : 98x/mt : 36. bersih. 10. warna hitam 7.Kesadaran Tensi Nadi Suhu RR : Composmentis 3. pupil isokor. Klien tampak menjalankan aktifitas agama islam diatas tempat tidur. tidak ada skret. tidak ada stomatitis. sklera tidak icteric. tidak rontok. bersih. tidak ada caries.4º C : 22x/mt 4.

11.Leher

: Bentuk simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada pembesaran vena jugularis, tidak ada peradangan kelenjar lymfe, tidak ada nyeri tekan.

12.Thorax Paru-paru Inspeksi : Simetris Palpasi : Tidak ada nyeri tekan Percusi : Pola paru kanan sonor,paru kiri pekak Auscultasi Jantung Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak Palpasi : Ictus cordis tidak teraba Percusi : Redup batas jantung normal Auscultasi 13.Abdomen Inspeksi Auscultasi Perkusi Palpas 14.Genetalia 15.Extremitas Atas Bawah 16.Kulit : Tangan normal, reflex normal, tidak terdapat tanda-tanda penyakit. : Kaki normal, reflex normal, tidak terdapat tanda-tanda penyakit. : Bersih, sawo matang, tidak cyanosis, kulit tidak kering, tidak ada lesi, turgor sedang. : Abdomen datar, tidak terdapat masa, simetris. : Bising usus normal : Terdapat timpani :Tidak ada nyeri tekan, tidak ada masa, tidak terdapat distensi kandung kemih : Bersih, tidak berbau, tidak ditemukan tanda-tanda penyakit kelamin, tidak terpasang DC. : Bunyi jantung I, II reguler :SDV ( Sonor disel vesikuler )

II.DATA PENUNJANG 1.Hasil Pemeriksaan Ekg 12 lead tanggal 1-2-2012. Interpretation Normal sinus rhythm Incomplete right bundle branch block Non specific ST dan T wave abnormality Prolonged QT Abnormal ECG. 2.Hasil Pemeriksaan Laboratorium tanggal 2-2-2012. NO JENIS PEMERIKSAAN 1 KIMIA KLINIK .Glukosa sewaktu .Kreatinin .HDL Cholesterol .HbAic 3.Therapy tanggal 6-2-2012 .Aspilet 1 X 160 mg. .Plavix 1 X 75 mg. .ISDN 3 X 5 mg. .Captopril 3 X 25 mg. .Bisoprol 1 X 2,5 mg. .Simvastatin 1 X 10 mg. .Alprazolam 1 X 0,5 mg. .Dulcolax 1 X 2 tablet. HASIL 107 1.44 34 5.7 SATUAN NILAI NORMAL mg/dl mg/dl mg/dl % 74-106.H 0.60-1.30.H 35-60.L 6.0-8.0.L

III.PROBLEM LIST Initial Klien : Tn. B No. Rm : 6841924

Umur

: 52 tahun

Ruang Tanggal MASALAH Nyeri akut

: UPJ L 3 RSDK : 6-2-2012. ETIOLOGI Peningkatan asam laktat

Dx.Medis : UAP NO DATA FOCUS 1 DS: Klien menyatakan nyeri dada P:bila beraktifitas/banyak bergerak Q:seperti tertindih benda berat R:dada kiri S:5 T:hilang timbul durasi 15-20 menit DO: Klien tampak kesakitan memegangi area yang sakit, klien terbaring ditempat tidur, aktifitas klien terbatas dan dilakukan diatas tempat tidur. DS: 2 Klien mengatakan ia merasa letih dan ngos ngosan setelah

beraktifitas Intoleransi

Suplai 02 tidak adekwat

ringan termasuk terasa sesak dan aktifitas berkeringat dingin ketika ngobrol dilakukan pengkajian oleh penulis. DO: Klien terlihat letih dan lemah,klien bernafas berkeringat dengan cepat dan umum dingin.Berdasarkan

pemeriksaan:Keadaan

lemah,kesadaran composmentis,Tensi 150/110 mmHg, Nadi 98 x/mt, Suhu 36,4 º C, RR 22 x/mt.

Skala nyeri menurun dari 5 menjadi 4 c. dan perjalanan 3. produksi asam laktat No. B Umur NO DIAGNOSA KEPERAWATAN 1 Nyeri akut b. Rm Ruang Tanggal TUJUAN DAN KRITERIA HASIL Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam.mengurangi nyeri 4. TD sistolik: 90-120 mmHg. Klien melaporkan nyeri berkurang/ hilang b. Tanda vital dalam rentang normal. Klien terlihat Klien rileks. Observas si.DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. RASIONAL : 52 tahun Dx.Nyeri akut b/d peningkatan asam laktat 2.Medis : UAP INTERVENSI Management 1.berpengaruh terhadap suplai . Pantau respon non verbal atau verbal saat nyeri 1. pajanan lokasi.NURSING CARE PLAN Initial Klien : Tn. d.Intoleransi aktifitas b/d suplai 02 tidak adekwat V.loka 2.non verba 2. Suhu: Pain : 6841924 : UPJ L 3 RSDK : 6-2-2012.d. nyeri berkurang dengan kriteria hasil: a. TD diastolik: 60-90mmHg. Anjurka n klien untuk melakukan teknik relaksasi dengan mendengarkan musik sesuai kesukaan klien. menunjukkan perilaku untuk mengurangi nyeri. waktu rasa nyeri dada klien 3.Waktu dan i karakteristik.mengetahui respon verbal.IV.mengetahui karakteristi. e.

memenuhi kebutuhan 02 .mengurangi kelelaham 1. RR: 1820 x/menit. tidak Anjurka 02 n klien agar menggunakan teknik nafas dalam 5. Anjurka n klien untuk menghentikan aktivitas selama ada serangan dan istirahat 6.5 oC. vital Environmental Management: Comfort 1.memperberat serangan 6.mengetahui Ku 1. Berikan lingkungan yang tenang.mengurangi stres dan sesak 2. misal posisi semi fowler 2. Nadi: 60100 x/menit 4. Berikan O2 nasal Monitor tanda-tanda 5. Anjurka n klien dan keluarga untuk membatasi pengunjung Medication Management 1.36.5-37.

pola Jelaskan Berikan 2.suplai O2 tidak adekuat Monitor EKG terutama saat klien nyeri 4. Klien tidak terlihat lemah setelah beraktivitas ringan misalnya mengobrol > 30 menit 4. irama.melatih kebutuhan 02 miocard secara bertahap .mengurangi nyeri 3. Batasi aktifitas pada saat sesak dan berikan aktifitas sensori yang tidak berat 4.menentukan intervensi lanjut 2 1. Tingkatka n istirahat (di tempat tidur) 3. mengurangi kebutuhan 02 melaporkan tidak merasa lemah atau letih setelah beraktivitas ringan ( dapat berjalan lebih dari 20 meter) tanpa bantuan 2.mengetahui aktifitas dan letak kelainan jantung 4. Intoleransi aktivitas b. Catat frekuensi jantung.mengetahui perubahan selama dan sesudah aktifitas 2.mengurangi kebutuhan 02 3. obat antiangina ISDN 3.kanul 3 liter per menit 2. Monitor pemeriksaan enzim jantung Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam terjadi peningkatan toleransi terhadap aktivitas dengan kriteria hasil : 1. Klien Activity Therapy 1. dan perubahan TD selama dan sesudah aktifitas 2.d.

537. Suhu: 36.rehabilitasi dan fisiottherapy 1.3.intervensi sesak jalan bila tidak tingkatkan 6. Nadi: 60-100 x/menit o peningkatan bertahap tingkat aktifitas. dan tidur bila tidak dari istirahat selama setelah 5. Kaji ulang tanda gangguan yang menunjukan tidak toleran terhadap aktifitas atau memerlukan pelaporan pada dokter 6. Anjurkan klien untuk menggerakkan kakinya sesering mungkin dan latihan berjalan tempat nyeri.mengevaluasi lalu untuk tentukan jalan.mengurangi nyeri dan kebutuhan 02 . latihan merasa jaraknya 5.Tanda vital dalam rentang normal TD sistolik: 90-120 mmHg TD diastolik: 6090mmHg.5 C. contoh bangun dari ada ambulasi 1 jam makan. RR: 18-20 x/menit.

tidak melakukan aktifitas sedang-berat 3. Rm : 6841924 .mencegah timbulnya serangan 4. Anjurkan Anjurkan klien untuk 2. Anjurkan klien untuk beristirahat ketika sesak saat beraktifitas 2.menurunkan tensi klien untuk menghemat energi yang ada dalam tubuh dengan banyak istirahat dan beraktifitas ringan 4.Kolaborasi Pemberian captopril VI.NURSING NOTE Initial Klien : Tn.mencegah timbulnya serangan 3. B No.agar kaki tidak kaku Energy Management 1.

S: klien mengatakan ia akan melakukan anjuran mahasiswa O:Klien tampak mencoba S: klien mengatakan jika ia merasa nyeri ia langsung menghentikan aktivitas dan segera berbaring ditempat tidur 1 3. Saat ini ia tidak mengeluh nyeri O: Klien terlihat nyeri. Kemudian nyeri berkurang setelah diberi ISDN dibawah lidah. Nadi 76 x/menit.S 36. Mengkaji teknik yang digunakan klien untuk mengurangi nyeri 1 . Menganjurkan klien untuk tidak melakukan teknik nafas dalam saat nyeri 4.Umur HARI/ TGL 6-2-12 NO DK 1 : 52 tahun IMPLEMENTASI Ruang Tanggal : UPJ L 3 RSDK : 6-2-2012 RESPON S: Klien mengatakan tadi malam terjadi serangan nyeri dada menjalar sampai lengan kiri. Skala nyeri 5. Menganjurkan klien untuk menghentikan aktivitas selama terjadi serangan S: Klien mengatakan tadi malam setelah terjadi serangan ia minum obat dan istirahat O: Klien terlihat mendengarkan penjelasan mahasiswa. Mengkaji nyeri PQRST 1 2.5ºC Dx. RR:20x/menit. TD 110/90.Medis : UAP 1.

O: Klien tampak tidur telentang ditempat tidur S: Klien mengatakan ia . kemudian meningkatkan jarak menjadi 15 meter saat klien tidak merasa nyeri dan sesak nafas. Menganjurkan klien untuk melakukan aktivitas secara bertahap misalnya duduk kemudian berjalan dengan jarak 10 meter.O:Klien tampak istirahat ditempat tidur 2 5. Memberikan aspilet 1x160 mg dan plavix 1x75 mg (po) S: Klien mengatakan ia akan minum obatnya O: Klien terlihat meminum obat 2 8. Memonitor TTV S: Klien menyatakan mau diperiksa O: TD : 110/90 mmHg Nadi : 76x/menit RR : 20 x/menit S : 36.50C 2 6. Memberikan posisi dan lingkungan yang nyaman bagi klien S: Klien mengatakan ia nyaman dengan tidur telentang. S: Klien mengatakan ia sudah melakukan aktivitas bertahap misalnya bangun tidur duduk kemudian baru berjalan O: klien terlihat berjalan ke nurse stasion saat menanyakan tentang obatnya 2 7.

TD selama aktivitas 120/80mmHg.2 9. irama. Mengukur frekuensi jantung. 1 3. Memberikan ISDN kepada klien S:klien mengatakan ia akan segera meminumnya O:Klien terlihat meminum . Skala nyeri 4 O: klien terlihat memegangi dada Klien terlihat pucat dan berkeringat dingin 1 2. dan TD sesudah aktivitas S:Klien mengatakan ia berkeringat dingin O: frekuensi jantung 98x/menit Irama regular. Menganjurkan klien untuk istirahat akan istirahat O: klien terlihat berbaring ditempat tidur S:Klien menyatakan mau 2 O:Klien kooperatif 10. Menganjurkan klien untuk tidak melakukan aktifitas sedang-berat 2 11. Melakukan pengkajian nyeri yang dialami klien S: klien mengatakan ia merasa nyeri dada dan berkeringat dingin setelah berbincang lebih dari 20 menit. Menganjurkan klien untuk tidak banyak pikiran S:Klien menyatakan mau O:Klien tampak mengerti 7-2-12 1 1.

klien berjanji 2 7. Ia akan berusaha tidak mengejan saat nanti BAB O:Klien tampak berjanji 2 8. Menganjurkan klien untuk mendengarkan music sesuai kesukaan klien saat terjadi nyeri S: Klien mengatakan ia suka lagu-lagu kenangan dan dangdut O:Klien tampak mendengarkan lagu dihp 2 6. Memonitor TTV S:Klien menyatakan mau diperiksa O: TD :120/80 mmHg .2 4. Menganjurkan klien untuk istirahat obat S: klien mengatakan ia akan segera sembuh dan beraktifitas lagi setelah beristirahat O: Klien terlihat berbaring ditempat tidur dan membaca Koran 2 5. Menganjurkan klien untuk tidak mengejan saat defekasi S: klien mengatakan pagi ini ia belum BAB. Menganjurkan klien untuk menghindari makanan yang tinggi lemak dan kolesterol jahat S: Klien mengatakan mulai dari sekarang ia akan berhati-hati dalam makan dan akan menghindari makanan yang tinggi kolesterol O:Klien kooperatif.

Memberikan obat sinvastatin 1x20 mg dan alprazolam 1x0.Mengkaji keluhan yang dialami klien 8-2-12 1 S: klien mengatakan hari ini masih terkadang nyeri timbul O:Skala nyeri 2 2 2.4º C 9.Menganjurkan klien untuk rutin 1 mengontrol kesehatannya di rumah sakit S: Klien mengatakan ia akan rutik control di RS O:Klien kooperatif 5. S:Klien mengatakan ia akan meminum obat saat dirumah nanti O:Klien tampak ada kesungguhan 4.Menganjurkan klien untuk rutin 1 meminum obat saat dirumah.Nadi:72x/mt RR:22x/mt Suhu:36.5 gr 2 S:Klien menyatakan mau minum obat O:obat masuk tidak ada tanda allergi 1.Menganjurkan klien untuk tidak banyak pikiran S: Klien mengatakan ia orangnya santai dan jarang .Menganjurkan klien untuk tidak melakukan aktivitas sedang sampai berat saat di rumah nanti S:Klien mengatakan ia tidak akan melakukan aktivitas yang berat lagi saat dirumah nanti O:Klien tampak kooperatif 3.

1 memendam pikiran O:Klien kelihatan sungguh-sungguh 6.T 110/90 mmHg.S 36.PROGRES NOTE Initial Klien : Tn.5ºC RR 20x/mt. B Umur HARI/ TGL Senin/6 -2-12 : 52 tahun Dx. Skala nyeri 4 JS . A:Masalah belum teratasi P:Lanjutkan intervensi:1 2 S:Klien mengatakan ia sudah melakukan aktivitas bertahap misalnya bangun tidur duduk kemudian baru berjalan O:klien terlihat berjalan ke nurse stasion saat menanyakan tentang obatnya A:Masalah sebagian teratasi P:Lanjutkan intervensi:1 JS Selasa/ 7-2-12 1 S:Klien mengatakan ia merasa nyeri dada dan berkeringat dingin setelah berbincang lebih dari 20 menit.Menganjurkan klien untuk 1 menghentikan kebiasaan merokok dan S: Klien mengatakan ia tidak akan merokok lagi menghindari makanan yang tinggi mulai dari sekarang kolesterol mengingat penyakitnya yang sudah parah O:Klien tampak berjanji VII. Rm Ruang Tanggal : 6841924 : UPJ L 3 RSDK : 6-2-2012 TTD JS NO CATATAN PERKEMBENGAN DK 1 S:Klien mengatakan dadanya masih terasa nyeri O:Skala nyeri 5.Medis : UAP No.N 76x/mt.

O:Klien terlihat memegangi dada. A:Masalah teratasi P:Hentikan intervensi Rabu/8.klien terlihat pucat dan berkeringat dingin A:Masalah teratasi sebagian P:Lanjutkan intervensi:1 2 S:Klien mengatakan ia akan segera sembuh dan dapat beraktifitas lagi setelah beristirahat O: Klien terlihat berbaring ditempat tidur dan membaca koran.1 2-12 S:Klien mengatakan hari ini masih terkadang nyeri timbul O:Skala nyeri 2 A:Masalah sebagian teratasi P:Lanjutkan intervensi:1 JS JS BAB IV PEMBAHASAN .

menyebabkan suplay oksigen ke jantung tidak adekuat. klien terbaring ditempat tidur. aktifitas klien terbatas dan dilakukan diatas tempat tidur. 2001 ) maka prioritas pertama diagnosa keperawatan yang penulis angkat adalah nyeri akut berhubungan dengan produksi asam laktat. riwayat hipertensi 10 tahun yang lalu dan perokok berat 35 tahun yang lalu 2 bungkus perhari. besar kecil dan keadaan thrombus (FKUI.B Sindroma Koronaria Akut oleh karena UAP ( Unstable Angina Pectoris ) diruang UPJ RSDK Semarang. klien juga pecandu rokok 35 tahun yang lalu 2 bungkus perhari yang mana merokok sangat berperan dalam memperburuk kondisi penyakit arteri coroner ( Widiastuti. Rasionalisasi: suatu sindroma klinik yang ditandai dengan episode atau paroksisma nyeri atau perasaan tertekan di dada depan. 2002). klien memiliki riwayat hipertansi 10 tahun yang lalu yang mana hipertensi merupakan factor resiko yang paling berbahaya. dengan rincian: P: bila beraktifitas /banyak bergerak. atau dengan kata lain suplai kebutuhan oksigen jantung meningkat (Brunner dan Suddarth. R:dada kiri. Penyebabnya yaitu berkurangnya aliran darah koroner. B didapatkan data: klien menyatakan nyeri dada. . B dengan kemampuan penulis sebagai berikut: A. S: 5. T: hilang timbul durasi 15-20 menit. Berdasarkan uraian data dan fakta diatas baik teori maupun realita bahwa nyeri klien sudah berulang bahkan pernah diopname diRSDK. Pada pengkajian penulis juga menemukan data dukung bahwa enam bulan yang lalu klien pernah opname diRSDK dengan kasus yang sama.Dalam Bab IV. dapat terjadi pada saat penderita sedang melakukan kegiatan fisik atau dalam keadaan istirahat dan gejalanya bervariasi tergantung bentuk. klien tampak kesakitan memegangi area yang sakit. penulis akan membahas tentang Asuhan Keperawatan Pada Tn. Q: seperti tertindih benda berat. Disamping itu nyeri dada yang munculnya tidak tentu. PROBLEM LIST Pada pengkajian hari pertama yang dilakukan pada Tn. Penulis mencoba memberikan alternatif pemecahan masalah yang timbul pada Asuhan Keperawatan pada Tn. 1996).

lokasi. Memakan makanan berat akan meningkatkan aliran darah ke mesentrik untuk pencernaan. 1. 2002): Latihan fisik dapat memicu serangan dengan cara meningkatkan oksigen jantung.Observasi karakteristik. Pajanan terhadap dinding dapat mengakibatkan vasokonstriksi dan peningkatan tekanan darah disertai peningkatan kebutuhan oksigen. B penulis berdasarkan pada Hirarki Maslow. B juga didapatkan data: Klien mengatakan ia merasa letih dan ngos ngosan setelah beraktifitas ringan termasuk terasa sesak dan berkeringat dingin ketika ngobrol dilakukan pengkajian oleh penulis.4 º C. Dari uraian diatas.Stress atau emosi akibat situasi yang menegangkan. Suhu 36.Berdasarkan pemeriksaan: Keadaan umum lemah. 2001 ). Dengan demikian beban kerja jantung juga meningkat. 1994). Rasionalisasi: faktor yang dapat menyebabkan nyeri angina meliputi hal-hal sebagai berikut (Brunner dan Suddarth.Pada Tn. kesadaran composmentis.Nyeri akut berhubungan dengan produksi asam laktat.klien bernafas dengan cepat dan berkeringat dingin. B. RR 22 x/mt. waktu. Nadi 98 x/mt. Penulis memprioritaskan masalah ini pada prioritas pertama karena merupakan keluhan utama yang paling dirasakan oleh klien dan jika nyeri tidak diatasi dapat menyebabkab shock cardiogenic ( Widiastuti. Pada jantung yang sudah parah pintasan darah untuk pencernaan membuat nyeri angina semakin buruk.NURSING CARE PLAN Untuk menetapkan prioritas masalah pada Tn. Klien terlihat letih dan lemah. menyebabkan frekuensi jantung meningkat akibat pelepasan adrenalin dan meningkatkan tekanan darah. sehingga menurunkan ketersediaan darah untuk suplai jantung. Tensi 150/110 mmHg. Untuk masalah tersebut penulis memberikan intervensi: 1. dan perjalanan rasa nyeri dada tersebut. . Tetapi semua respon kompensasi ini akhirnya dapat memperburuk keadaan miokardium dengan meningkatkan kebutuhan miokardium akan oksigen (Price dan Wilson. maka penulis mengangkat diagnose intoleransi aktifitas berhubungan dengan suplai 02 tidak adekwat sebagai prioritas kedua.

irama. Rasionalisasi: mengurangi rasa sakit 2. dan perubahan TD selama dan sesudah aktifitas Rasionalisasi: mengetahui perubahan-perubahan yang timbul selama dan sesudah aktifitas 2.Pertahankan Oksigenasi dengan bikanul contohnya ( 2-4 L/ menit ) Rasionalisasi: memenuhi kebutuhan 02. lokasi. 4.Bantu klien melakukan tehnik relaksasi. 3.Catat frekuensi jantung. misalnya nafas dalam. Untuk mengatasi intoleransi aktifitas tersebut penulis lakukan intervensi: 1. . 2. Disamping itu menurut penulis intoleransi aktifitas merupakan akibat lanjut dari diagnosa pertama nyeri akut berhubungan dengan peningkatan asam laktat yang harus mendapat penangan dengan segera dan serius. Rasionalisasi: dengan relaksasi akan mengurangi rasa sakit.Anjurkan pada klien menghentikan aktifitas selama ada serangan dan istirahat. mengurangi kebutuhan metabolism 02. visualisasi.Tingkatkan istirahat ( di tempat tidur ) Rasionalisasi: mengurangi kebutuhan metabolism 02.Batasi aktifitas pada dasar nyeri dan berikan aktifitas sensori yang tidak berat Rasionalisasi:. Jika tidak diatasi maka klien tergantung terus pada keluarga ( Barbara.Intoleransi Aktifitas berhubungan suplai 02 tidak adekwat Penulis mengangkat masalah ini sebagai prioritas kedua agar terjadi peningkatan toleransi pada klien setelah dilakukan tindakan keperawatan sehingga aktifitas sehari-hari klien dapat terpenuhi secara bertahap dan mandiri.Monitor tanda-tanda vital ( Nadi & tekanan darah ) tiap dua jam. atau bimbingan imajinasi.Rasionalisasi: mengetahui karakteristik. 5. perilaku distraksi. waktu dan perjalanan nyeri yang dapat menentukan intervensi selanjutnya. Rasionalisasi: mengetahui keadaan umum dan tanda-tanda vital 6. Rasionalisasi: banyak aktifitas akan memperberat serangan 3. 1994 ).Kolaborasi dengan tim kesehatan dalam pemberian analgetik.

makan minum mandi dan bersosialisasi dengan klien lain. nyeri dada kadang-kadang masih timbul.Kaji ulang tanda gangguan yang menunjukan tidak toleran terhadap aktifitas atau memerlukan pelaporan pada dokter. Rasionalisasi: melakukan evaluasi untuk menentukan intervensi selanjutnya.Masalah teratasi kurang dari waktu yang target yang ditetapkan yaitu teratasi 2 x 24 jam dari yang ditetapkan 3 x 24 jam. ambulasi dan istirahat selam 1 jam setelah mkan.Jelaskan pola peningkatan bertahap dari tingkat aktifitas. C. masalah teratasi sebagian. B adalah: DP I :Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam keadaan klien semakin membaik. contoh bangun dari kursi bila tidak ada nyeri. semua intervensi dapat dilaksanakan : DP I Semua intervensi dapat dilaksanakan tanpa kendala DP II Semua intervensi dapat dilaksanakan tanpa kendala D.PROGRES NOTE Pada evaluasi akhir atau catatan perkembangan masalah yang ditemukan pada Tn. Rasionalisasi: melatih kebutuhan 02 secara bertahap 5. klien sudah dapat beraktifitas secara bertahap. . Perlu intervensi lanjut sehubungan dengan nyeri DPII :Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam klien mengatakan ia akan segera sembuh dan dapat beraktifitas lagi setelah beristirahat. waktu yang ditetapkan masih kurang.NURSING NOTE Penulis dalam melakukan implementasi sesuai dengan intervensi . kesadaran composmentis.4. skala nyeri 2.

Nyeri akut berhubungan produksi asam laktat .BAB V PENUTUP Pada dasarnya klien SKA oleh karena UAP yang terjadi pada TN. B muncul diagnosa keperawatan sebagai berikut: 1.

. Karena kedua permasalahan ini merupakan permasalahan serius saling interaksi. Dalam melakukan penanganan klien SKA tidak hanya dokter jantung dan perawat saja yang berperan tapi harus melibatkan tim kesehatan yang lain termasuk ahli gizi dan ahli rehabilitasi medic.Intoleransi aktifitas berhubungan dengan suplai 02 tidak adekwat Menurut penulis kedua diagnosa ini merupakan diagnosa keperawatan yang muncul pada Tn. B yang paling utama dan dominan yang bisa mematikan jika tidak dilakukan tindakan keperawatan secara cepat tepat dan profesional. Penanganan tidak hanya sebatas di rumah sakit saja tapi rencana tindak lanjut setelah klien dirumah. Jakarta.2. (1993) Proses Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler. DAFTAR PUSTAKA 1. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan .interrelasi dan interdependensi satu sama lainnya yang harus ditangani secara bersamaan. .

Widiastuti M. edisi ketiga (1996). Semarang. Brunner and Suddarht. (2001). Belajar Bertolak dari Masalah Infark Miokard Akut. Wilson. 6. Jakarta. Jakarta. Critical Care Nursing: A Holistic Approach (1994). Philadelphia. 3. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit (Pathophysiolosy Clinical Concept of Disease Procceses). Gallo Barbara M. Sylvia A. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 4. Jilid II. . Badan Penerbit Universitas Diponegoro . Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam . Edisi keempat (1995). Philadelphia. Samekto. 5.2. Balai Penerbit FKUI. Carolyn M. . Hudak. Lorraine M. Text Book of Medical Surgical Nursing (2002). Price.

Evolusi gambaran EKG pada SKA .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful