ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M.

 Noer Ilham

Halaman 1

ANALISIS STRUKTUR GEDUNG
DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0

A. MODEL STRUKTUR

Analisis struktur bangunan Gedung BRI Kanwil dan Kanca, Banda Aceh dilakukan dengan
komputer berbasis elemen hingga (finite element) untuk berbagai kombinasi pembebanan yang
meliputi beban mati, beban hidup, dan beban gempa dengan pemodelan struktur 3-D (space-
frame). Pemodelan struktur dilakukan dengan Program ETABS v9.2.0 (Extended Three-
Dimensinal Analysis of Building System) seperti terlihat pada Gambar 1.

Mengingat bentuk struktur yang tidak beraturan, maka analisis terhadap beban gempa selain
digunakan cara statik ekivalen dengan memperhitungkan puntiran akibat eksentrisitas gedung,
juga dilakukan analisis dinamik Response Spectrum Analysis dan Time History Analysis.
Struktur bangunan dirancang mampu menahan gempa rencana sesuai peraturan yang berlaku
yaitu SNI 03-1726-2002 tentang Tatacara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan
Gedung. Dalam peraturan ini gempa rencana ditetapkan mempunyai periode ulang 500 tahun,
sehingga probabilitas terjadinya terbatas pada 10 % selama umur gedung 50 tahun.
Berdasarkan pembagian Wilayah Gempa, lokasi bangunan di Banda Aceh, termasuk wilayah
gempa 5 (wilayah dengan intensitas gempa tertinggi kedua setelah wilayah 6) dengan
percepatan puncak batuan dasar 0,25.g (g = percepatan grafitasi = 9,81 m/det
2
).

Konsep perancangan konstruksi didasarkan pada analisis kekuatan batas (ultimate-strength)
yang mempunyai daktilitas cukup untuk menyerap energi gempa sesuai dengan peraturan yang
berlaku.


Gambar 1.1. Model struktur gedung Bank BRI Aceh

ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 2

B. PERATURAN DAN STANDAR

1. Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (SNI 03-1727-1989-F).
2. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2002).
3. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-2847-1992).
Untuk hal-hal yang tidak diatur dalam peraturan dan standar di atas dapat mengacu pada
peraturan-peraturan dan standar berikut :
1. Building Code Requirements for Structural Concrete (ACI 318-95)
2. Uniform Building Code (UBC)

C. BAHAN STRUKTUR

1. Beton

Untuk semua elemen struktur kolom, balok, dan plat digunakan beton dengan kuat tekan beton
yang disyaratkan, f
c
’ = 20 MPa (setara dengan mutu beton K-240).
Modulus elastis beton, E
c
= 4700.\f
c
’ = 21019 MPa = 21019000 kN/m
2
.
Angka poison, u = 0,2
Modulus geser, G = E
c
/ [ 2.( 1 + u ) ] = 9602345 kN/m
2
.

2. Baja Tulangan

Untuk baja tulangan dengan C > 12 mm digunakan baja tulangan ulir (deform) BJTD 40 dengan
tegangan leleh, f
y
= 400 MPa = 400000 kN/m
2

Untuk baja tulangan dengan C s 12 mm digunakan baja tulangan polos BJTP 24 dengan
tegangan leleh, f
y
= 240 MPa = 240000 kN/m
2


3. Input Data Bahan Struktur

Input data bahan struktur ke dalam ETABS seperti gambar 1.2.


Gambar 1.2. Input bahan struktur
ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 3

D. DIMENSI ELEMEN STRUKTUR

1. Input Data Balok dan Kolom

Dimensi balok yang diinput dalam ETABS ada beberapa macam dan diberi kode sesuai dengan
dimensinya, misal balok 300/600, 400/600, 300/700 dsb. Untuk kolom diberi kode K yang diikuti
dimensinya, misal kolom K400/400, K500/500, K550/550 dsb. (Lihat Gambar 1.3). Contoh input
data balok 300/600 seperti pada Gambar 1.4, sedang untuk kolom K550/550 seperti pada
Gambar 1.5.


Gambar 1.3. Input data dimensi balok dan kolom


Gambar 1.4. Contoh input data balok 300/600


Gambar 1.5. Contoh input data kolom 550/550
ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 4

2. Plat Lantai dan Plat Atap

Untuk plat lantai tebal 120 mm dan plat atap tebal 100 mm masing-masing diberi notasi S120
dan S100, sedang untuk plat lantai ruang SDB (Save Depossit Bank) yang mempunyai
ketebalan 300 mm diberi notasi S30 seperti terlihat pada Gambar 1.6. Contoh input data plat
lantai yang dimodelkan sebagai elemen plat lentur (plate bending) dapat dilihat pada Gambar
1.7.


Gambar 1.6. Input data dimensi plat


Gambar 1.7. Contoh input data plat lantai tebal 120 mm

Dimensi elemen struktur tersebut diinputkan pada model struktur seperti pada Gambar 1.8.
Denah masing-masing lantai dapat dilihat pada Gambar 1.9 sampai 1.16.


ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 5


Gambar 1.8. Dimensi elemen struktur


Gambar 1.9. Denah lantai dasar (tie-beam)
ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 6


Gambar 1.10. Denah lantai-1


Gambar 1.11. Denah lantai-2

ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 7


Gambar 1.12. Denah lantai-3


Gambar 1.13. Denah lantai-4


ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 8


Gambar 1.14. Denah lantai-5


Gambar 1.15. Denah lantai atap

ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 9


Gambar 1.16. Denah atap tangga dan lift



Gambar 1.17. Portal struktur as-5





ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 10


Gambar 1.18. Portal struktur as-6



Gambar 1.19. Portal struktur as-7





ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 11


Gambar 1.20. Portal struktur as-D



Gambar 1.21. Portal struktur as-E




ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 12

E. JENIS BEBAN

1. Beban Mati (Dead load)

Berat sendiri elemen struktur (BS) yang terdiri dari kolom, balok, dan plat dihitung secara
otomatis dalam ETABS dengan memberikan factor pengali berat sendiri (self weight multiplier)
sama dengan 1, seperti pada Gambar 1.22.


Gambar 1.22. Faktor pengali berat sendiri elemen struktur

Beban mati tambahan (MATI) yang bukan merupakan elemen struktur seperti finishing lantai,
dinding, partisisi, dll., dihitung berdasarkan berat satuan (specific gravity) menurut Tata Cara
Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (SNI 03-1727-1989-F) sebagai berikut :

No Konstruksi Berat Satuan
1 Beton bertulang 24.00 kN/m
3

2 Beton 22.00 kN/m
3

3 Dinding pasangan bata ½ batu 2.50 kN/m
2

4 Curtain wall kaca + rangka 0.60 kN/m
2

5 Cladding metal sheet + rangka 0.20 kN/m
2

6 Pasangan batu kali 22.00 kN/m
3

7 Finishing lantai (tegel) 22.00 kN/m
3

8 Marmer, granit per cm tebal 0.24 kN/m
2

9 Langit-langit + penggantung 0.20 kN/m
2

10 Mortar 22.00 kN/m
3

11 Tanah, Pasir 17.00 kN/m
3

12 Air 10.00 kN/m
3

13 Kayu 9.00 kN/m
3

14 Baja 78.50 kN/m
3

15 Aspal 14.00 kN/m
3

16 Instalasi plumbing (ME) 0.25 kN/m
2


a. Beban mati pada plat lantai

Berat sendiri plat lantai dihitung secara otomatis dalam Program ETABS karena merupakan
elemen struktur slab, sehingga beban mati pada lantai bangunan adalah sebagai berikut :
ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 13


Berat finishing lantai (spesi + tegel) tebal 5 cm = 0.05 x 22 = 1.10 kN/m
2
.
Berat langit-langit + penggantung = 0.20 kN/m
2
.
Berat instalasi ME = 0.25 kN/m
2
.
Beban mati lantai,

= 1.55 kN/m
2
.
Beban mati pada plat atap dihitung sebagai berikut :
Berat waterproofing dengan aspal tebal 2 cm = 0.02 x 14 = 0.28 kN/m
2
.
Berat langit-langit + penggantung = 0.20 kN/m
2
.
Berat instalasi ME = 0.25 kN/m
2
.
Beban mati atap beton = 0.73 kN/m
2
.
Beban mati pada plat dudukan tangki air dihitung sebagai berikut :
Beban plat untuk tangki air kapasitas 2 m
3
= 20/(1.5 x 2) = 6.67 kN/m
2
.
Distribusi beban mati pada plat dapat dilihat pada Gambar 1.23.


Gambar 1.23. Distribusi beban mati pada plat lantai

b. Beban mati pada balok

Beban dinding beton tebal 30 cm (ruang SDB) = 0.3 x 3.5 x 24.00 = 25.20 kN/m.
Beban dinding pasangan bata ½ batu = 3.5 x 2.50 = 8.75 kN/m.
Beban dinding partisi (cladding) = 3.5 x 0.20 = 0.70 kN/m.
Beban reaksi tangga akibat beban mati = 11.76 kN/m.
Beban akibat gaya reaksi pada dudukan mesin lift : P
1
= 45.00 kN.
P
2
= 55.00 kN.

Distribusi beban mati pada balok dapat dilihat pada Gambar 1.24.

ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 14


Gambar 1.24. Distribusi beban mati pada balok

2. Beban hidup (Live load)

Beban hidup (HIDUP) yang bekerja pada lantai bangunan tergantung dari fungsi ruang yang
digunakan. Besarnya beban hidup lantai bangunan menurut Tata Cara Perencanaan
Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (SNI 03-1727-1989-F), adalah sebagai berikut :

No Lantai bangunan Beban hidup Satuan
1 Ruang kantor, ruang kerja, ruang staf 2.50 kN/m
2

2 Hall, coridor, balcony 3.00 kN/m
2

3 Ruang arsip, SDB (Save Depossit Bank) 6.00 kN/m
2

4 Tangga dan bordes 4.00 kN/m
2

5 Atap bangunan 1.00 kN/m
2


Beban hidup pada lantai di-input ke ETABS sebagai shell/area load (uniform) yang
didistribusikan secara otomatis ke balok lantai sebagai frame/line load. Beban hidup pada lantai
bangunan dapat dilihat pada Gambar 1.25.
Beban hidup pada balok berupa frame/line load yang ditimbulkan oleh reaksi tangga akibat
beban hidup yang besarnya = 17.64 kN/m.
Distribusi beban hidup pada balok dapat dilihat pada Gambar 1.26.

ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 15


Gambar 1.25. Beban hidup pada lantai bangunan


Gambar 1.26. Beban hidup pada balok

3. Beban gempa (Earthquake)

Beban gempa dihitung berdasarkan Tatacara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan
Gedung (SNI 03-1726-2002) dengan 3 metode yaitu cara static ekivalen, cara dinamik dengan
Spectrum Respons Analysis dan cara dinamik dengan Time History Analysis. Dari hasil analisis
ketiga cara tersebut diambil kondisi yang memberikan nilai gaya/momen terbesar sebagai dasar
perencanaan.
Dalam analisis struktur terhadap beban gempa, massa bangunan sangat menentukan besarnya
gaya inersia akibat gempa. Dalam analisis modal (modal analysis) untuk penentuan waktu getar
alami / fundamental struktur, mode shape dan analisis dinamik dengan Spectrum Respons
ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 16

maupun Time History, maka massa tambahan yang di-input pada ETABS meliputi massa akibat
beban mati tambahan dan beban hidup yang direduksi dengan faktor reduksi 0,5 seperti
Gambar 1.27. Dalam hal ini massa akibat berat sendiri elemen struktur (kolom, balok, dan plat)
sudah dihitung secara otomatis karena factor pengali berat sendiri (self weight multiplier) pada
Static Load Case untuk BS adalah = 1.


Gambar 1.27. Input data massa

Dalam analisis struktur terhadap beban gempa, plat lantai dianggap sebagai diafragma yang
sangat kaku pada bidangnya, sehingga masing-masing lantai tingkat didefinisikan sebagai
diafragma kaku seperti Gambar 1.28 dan 1.29.


Gambar 1.28. Input diafragma pada masing-masing lantai
ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 17


Gambar 1.29. Diafragma pada masing-masing lantai

Pusat massa lantai tingkat yang merupakan titik tangkap beban gempa statik ekuivalen pada
masing-masing lantai diafragma, koordinatnya dapat dilihat seperti pada Gambar 1.30.


Gambar 1.30. Gaya statik ekuivalen dan koordinat titik tangkapnya


F. METODE ANALISIS STRUKTUR TERHADAP GEMPA

1. Metode Statik Ekuivalen

Gaya geser dasar nominal pada struktur akibat gempa menurut Tata Cara Perencanaan
Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2002), dihitung dengan rumus
sebagai berikut :
t
W
R
I
C V
1
=

Dengan, C
1
= nilai faktor response gempa, yang ditentukan berdasarkan wilayah gempa,
kondisi tanah dan waktu getar alami (T).
Wilayah gempa : zone 5 (lihat Gambar 1.31) untuk lokasi bangunan di Aceh.
ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 18

Kondisi tanah : sedang.


Gambar 1.31. Zone gempa di Indonesia

Waktu getar alami dapat didekati dengan rumus Rayleigh :
¿
¿
=
i i
i i
d F g
d W
T
2
1
3 , 6
dengan, V
z W
z W
F
i i
i i
i
¿
=
F
i
= gaya horisontal pada masing-masing taraf lantai.
W
i
= berat lantai tingkat ke-I, termasuk beban hidup yang direduksi.
z
i
= ketinggian lantai tingkat ke-I diukur dari taraf penjepitan lateral.
d
i
= simpangan horizontal lantai tingkat ke-i.
g = percepatan gravitasi = 9,81 m/det
2
.

Waktu getar alami dapat diperoleh dari hasil Modal Analysis dengan ETABS untuk mode 1
(Gambar 1.32) dan mode 2 (Gambar 1.33) yang memungkinkan struktur berperilaku elasto
plastis.
ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 19


Gambar 1.32. Mode 1 (arah Y) dengan T = 0.7139 sec


Gambar 1.33. Mode 2 (arah X) dengan T = 0.6963 sec

Untuk menghindari penggunaan struktur yang terlalu fleksibel, maka perlu dilakukan kontrol
terhadap waktu getar yang diperoleh. Syarat yang harus dipenuhi : T < ç.n dengan, n =
jumlah tingkat = 6. Untuk wilayah gempa 5, maka nilai ç = 0,16. Batas maksimum waktu getar =
ç.n = 0,96 sec. Untuk mode 1 dengan T = 0,7139 sec < ç.n = 0,96 sec (OK), jadi fleksibilitas
struktur memenuhi ketentuan SNI-03-1726-2002.
Kurva respons spectrum gempa rencana untuk wilayah gempa zone-5 dengan kondisi tanah
sedang menurut SNI-03-1726-2002 adalah seperti pada Gambar 1.34.
ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 20


Gambar 1.34. Respons spektrum gempa rencana

Nilai spektrum gempa rencana dihitung sebagai berikut :
Gempa statik arah X (mode 2) : T = 0,6963 sec, maka : C
1
= 0,50/T = 0.7181.
Gempa statik arah Y (mode 1) : T = 0,7139 sec, maka : C
1
= 0,50/T = 0,7004.
R = faktor reduksi gempa representatif.
Untuk taraf kinerja struktur gedung daktail parsial, maka diambil : faktor daktilitas, µ = 3.
Ditetapkan kuat lebih beban dan bahan yang terkandung di dalam struktur gedung :
f
1
= 1,6. Maka : R = µ.f
1
= 4,8.
F
i
= gaya horisontal pada masing-masing taraf lantai.
I = faktor keutamaan (diambil, I = 1).
W
t
= jumlah beban mati dan beban hidup yang direduksi (faktor reduksi diambil = 0,5) yang
bekerja di atas taraf penjepitan lateral.
Koefisien gaya geser dasar gempa arah X = C
1
.I/R = 0,7181 x 1/4,8 = 0,1496.
Koefisien gaya geser dasar gempa arah Y = C
1
.I/R = 0,7004 x 1/4,8 = 0,1459.
Koefisien tersebut di-input kedalam ETABS untuk gempa statik arah X (GEMPAX) dan gempa
statik arah Y (GEMPAY) seperti Gambar 1.35 dan 1.36.


Gambar 1.35. Input koefisien gaya geser dasar gempa arah X
ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 21


Gambar 1.36. Input koefisien gaya geser dasar gempa arah Y

Dalam analisis gempa statik ekuivalen harus dilakukan dengan meninjau secara bersamaan
100% gempa arah X dan 30% gempa arah Y, dan sebaliknya.

Untuk memperhitungkan puntiran gedung akibat eksentrisitas pusat massa terhadap pusat
rotasi masing-masing lantai tingkat, maka nilai eksentrisitas arah X dan Y tersebut di-input
kedalam ETABS seperti Gambar 1.37 dan 1.38.


Gambar 1.37. Input nilai eksentrisitas pusat massa arah X terhadap pusat rotasi


Gambar 1.38. Input nilai eksentrisitas pusat massa arah Y terhadap pusat rotasi





ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 22

2. Metode Analisis Response Spectrum

Besar beban gempa ditentukan oleh percepatan gempa rencana dan massa total struktur.
Massa total struktur terdiri dari berat sendiri elemen struktur (BS), beban mati (MATI) dan beban
hidup (HIDUP) yang dikalikan dengan faktor reduksi 0,5. Percepatan gempa diambil dari data
zone 5 Peta Wilayah Gempa Indonesia menurut Tatacara Perencanaan Ketahanan Gempa
untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2002). Input data kurva spectrum gempa rencana ke
dalam ETABS seperti Gambar 1.39.



Gambar 1.39. Input data kurva spectrum gempa rencana

Nilai spectrum respons tersebut harus dikalikan dengan suatu factor skala (scale factor) yang
besarnya = g x I/R dengan g = percepatan grafitasi (g = 981 cm/det
2
).
Scale factor = 9,81 x 1 / 4,8 = 2,044.
Analisis dinamik dilakukan dengan metode superposisi spectrum response. dengan mengambil
response maksimum dari 4 arah gempa, yaitu 0, 45, 90, dan 135 derajat. Nilai redaman untuk
struktur beton diambil, Damping = 0,05.
Digunakan number eigen NE = 3 dengan mass partisipation factor > 90 % dengan kombinasi
dinamis (modal combination) CQC dan directional combination SRSS.
Karena hasil dari analisis spectrum response selalu bersifat positif (hasil akar), maka perlu
faktor +1 dan –1 untuk mengkombinasikan dengan response statik.
ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 23

Input data respons spectrum gempa rencana pada ETABS seperti pada Gambar 1.40.


Gambar 1.40. Input data spectrum respons gempa rencana

3. Metode Analisis Dinamik Time History

Analisis dinamik linier riwayat waktu (time history) sangat cocok digunakan untuk analisis
struktur yang tidak beraturan terhadap pengaruh gempa rencana. Mengingat gerakan tanah
akibat gempa di suatu lokasi sulit diperkirakan dengan tepat, maka sebagai input gempa dapat
didekati dengan gerakan tanah yang disimulasikan. Dalam analisis ini digunakan hasil rekaman
akselerogram gempa sebagai input data percepatan gerakan tanah akibat gempa. Rekaman
gerakan tanah akibat gempa diambil dari akselerogram gempa El-Centro N-S yang direkam
pada tanggal 15 Mei 1940. Input data akselerogram gempa El-Centro ke dalam ETABS
dilakukan seperti pada Gambar 1.41.
Dalam analisis ini redaman struktur yang harus diperhitungkan dapat dianggap 5% dari
redaman kritisnya (lihat Gambar 1.43 dan 1.44). Faktor skala yang digunakan = g x I/R dengan
g = percepatan grafitasi (g = 981 cm/det
2
). Scale factor = 9,81 x 1 / 4,8 = 2,044
Untuk memasukkan beban gempa Time History ke dalam ETABS maka harus didefinisikan
terlebih dahulu ke dalam Time History Case seperti terlihat pada Gambar 1.34. Mengingat
akselerogram tersebut terjadi selama 10 detik, maka dengan interval waktu 0,1 detik, jumlah
output step-nya menjadi = 10/0,1 = 100. Data-data tersebut diinputkan ke dalam ETABS untuk
gempa Time History arah X dan Y seperti Gambar 1.42, 1.43 dan 1.44.
ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 24


Gambar 1.41. Input data akselerogram gempa El-Centro



Gambar 1.42. Beban gempa Time History



ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 25


Gambar 1.43. Input data gempa Time History arah X


Gambar 1.44. Input data gempa Time History arah Y



ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 26

G. KOMBINASI PEMBEBANAN

Semua komponen struktur dirancang memiliki kekuatan minimal sebesar kekuatan yang
dihitung berdasarkan kombinasi beban sebagai berikut :
Kombinasi : 1,4.D D = beban mati (Dead load)
Kombinasi : 1,2.D + 1,6.L L = beban hidup (Live load)
Kombinasi : 1,2.D + L
r
± E L
r
= beban hidup yang direduksi dengan factor 0,5
E = beban gempa (Earthquake)

Input data masing-masing kombinasi beban seperti pada Gambar 1.45.


Gambar 1.45. Input kombinasi beban

Untuk kombinasi pembebanan gempa dengan metode statik ekuivalen, menurut Tatacara
Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2002) harus dilakukan
dengan meninjau secara bersamaan 100% gempa arah X (E
x
) dan 30% gempa arah Y (E
y
),
dan sebaliknya. Dengan demikian kombinasi pembebanan untuk gempa statik ekuivalen
menjadi sebagai berikut :
o Kombinasi : 1,2. D + 0,5.L + E
x
+ 0,3.E
y

o Kombinasi : 1,2. D + 0,5.L + E
x
- 0,3.E
y

o Kombinasi : 1,2. D + 0,5.L - E
x
+ 0,3.E
y

o Kombinasi : 1,2. D + 0,5.L - E
x
- 0,3.E
y

o Kombinasi : 1,2. D + 0,5.L + 0,3.E
x
+ E
y

o Kombinasi : 1,2. D + 0,5.L + 0,3.E
x
- E
y

o Kombinasi : 1,2. D + 0,5.L - 0,3.E
x
+ E
y

o Kombinasi : 1,2. D + 0,5.L - 0,3.E
x
- E
y

Kombinasi beban tersebut dapat dilihat pada Gambar 1.46.


ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 27




Gambar 1.46. Kombinasi beban


H. ANALISIS

1. Parameter Perencanan Konstruksi Beton

Sebelum dilakukan analisis struktur, perlu dilakukan penyesuaian parameter perencanaan
konstruksi beton menurut American Concrete Institute (ACI 318-99) terhadap Tata Cara
Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-2847-1992). Penyesuaian
dilakukan dengan mengubah ketentuan (Options) untuk perencanaan konstruksi beton
(Concrete Frame Design) seperti terlihat pada Gambar 1.47. Faktor reduksi kekuatan yang
digunakan untuk perencanaan konstruksi beton untuk lentur dan tarik diambil 0,8 dan untuk
geser diambil 0,75 seperti pada Gambar 1.48.
ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 28



Gambar 1.47. Ketentuan perencanaan konstruksi beton


Gambar 1.48. Faktor reduksi kekuatan yang disesuiakan dengan SNI

2. Asumsi yang digunakan dalam analisis

Analisis struktur dilakukan dengan 6 derajat kebebasan (Degree of Freedom) Full 3D (space-
frame) dengan model diafragma lantai kaku baik untuk analisis statik maupun dinamik. Analisis
dinamik (Modal Analysis) dilakukan dengan metode Eigenvectors dengan mengambil jumlah
mode = 12 seperti Gambar 1.49. Deformasi struktur kecil dan material isotropic, sehingga
digunakan analisis linier dengan metode matrik kekakuan langsung (direct stiffness matriks).
Dalam hal ini efek P-delta pada kolom sangat kecil sehingga diabaikan.
ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 29


Gambar 1.49. Derajat kebebasan dan ketentuan analisis dinamik

I. HASIL ANALISIS
1. Momen dan gaya geser akibat gempa

Momen akibat gempa arah X dengan metode statik ekuivalen, respons spectrum dan time
history seperti terlihat pada Gambar 1.50 sampai 1.52.


Gambar 1.50. Momen arah X akibat gempa statik ekuivalen
ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 30


Gambar 1.51. Momen arah X akibat gempa respons spectrum



Gambar 1.52. Momen arah X akibat gempa time history (El-Centro) saat 2,7 sec

Gaya geser akibat gempa arah X dengan metode statik ekuivalen, respons spectrum dan time
history seperti terlihat pada Gambar 1.53 sampai 1.55.


ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 31


Gambar 1.53. Gaya geser arah X akibat gempa statik ekuivalen


Gambar 1.54. Gaya geser arah X akibat gempa respons spectrum


ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 32


Gambar 1.55. Gaya geser arah X akibat gempa time history saat 2,7 sec

Dari ketiga metode analisis dapat disimpulkan bahwa hasilnya tidak jauh berbeda, hanya pada
analisis gempa dengan time history memberikan hasil momen dan gaya geser yang lebih besar
dibanding cara statik ekuivalen maupun respons spectrum.

2. Pembesian balok dan kolom

Hasil perhitungan pembesian balok dan kolom dengan kombinasi pembebanan yang telah
ditetapkan dapat dilihat pada Gambar 1.56 dan 1.57. Tampak bahwa tak satupun elemen balok
atau kolom yang mengalami over strength (OS) yang ditandai dengan warna merah pada
elemennya. Dengan demikian secara keseluruhan struktur aman terhadap berbagai macam
kombinasi beban gempa yang telah ditetapkan.
Sebagian besar pembesian kolom ditentukan oleh kombinasi dengan beban gempa time history
seperti terlihat pada Gambar 1.58.
Sebagai contoh cara menetapkan jumlah tulangan kolom berdasarkan hasil design penulangan
seperti Gambar 1.59 adalah sebagai berikut :
Luas tulangan longitudinal kolom yang diperlukan = 42,250 cm
2
.
Misal, digunakan tulangan deform D 22, maka luas 1 tulangan = t/4 x 2,2
2
= 3,801 cm
2
.
Jumlah tulangan yang diperlukan = 42,250 / 3,801 = 11,115 buah.
Maka digunakan tulangan : 12 D 22
Luas tulangan geser kolom arah sumbu kuat = arah sumbu lemah = 0,093 cm
2
.
Misal digunakan tulangan polos P 10, maka luas sengkang 2 P = 2 x t/4 x 1,0
2
= 1,571 cm
2
.
Jarak sengkang yang diperlukan = 1,571 / 0,093 = 16,89 cm.
Maka digunakan sengkang : 2 P 10 - 150
ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 33


Gambar 1.56. Tulangan longitudinal



Gambar 1.57. Tulangan geser





ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

Halaman 34


Gambar 1.58. Pembesian kolom



ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0

[C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

B. PERATURAN DAN STANDAR
1. Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (SNI 03-1727-1989-F). 2. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2002). 3. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-2847-1992). Untuk hal-hal yang tidak diatur dalam peraturan dan standar di atas dapat mengacu pada peraturan-peraturan dan standar berikut : 1. Building Code Requirements for Structural Concrete (ACI 318-95) 2. Uniform Building Code (UBC)

C. BAHAN STRUKTUR
1. Beton Untuk semua elemen struktur kolom, balok, dan plat digunakan beton dengan kuat tekan beton yang disyaratkan, fc’ = 20 MPa (setara dengan mutu beton K-240). Modulus elastis beton, Ec = 4700.fc’ = 21019 MPa = 21019000 kN/m2. Angka poison,  = 0,2 Modulus geser, G = Ec / [ 2.( 1 +  ) ] = 9602345 kN/m2. 2. Baja Tulangan Untuk baja tulangan dengan  > 12 mm digunakan baja tulangan ulir (deform) BJTD 40 dengan tegangan leleh, fy = 400 MPa = 400000 kN/m2 Untuk baja tulangan dengan   12 mm digunakan baja tulangan polos BJTP 24 dengan tegangan leleh, fy = 240 MPa = 240000 kN/m2 3. Input Data Bahan Struktur Input data bahan struktur ke dalam ETABS seperti gambar 1.2.

Gambar 1.2. Input bahan struktur Halaman 2

ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0

[C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham

D. DIMENSI ELEMEN STRUKTUR
1. Input Data Balok dan Kolom Dimensi balok yang diinput dalam ETABS ada beberapa macam dan diberi kode sesuai dengan dimensinya, misal balok 300/600, 400/600, 300/700 dsb. Untuk kolom diberi kode K yang diikuti dimensinya, misal kolom K400/400, K500/500, K550/550 dsb. (Lihat Gambar 1.3). Contoh input data balok 300/600 seperti pada Gambar 1.4, sedang untuk kolom K550/550 seperti pada Gambar 1.5.

Gambar 1.3. Input data dimensi balok dan kolom

Gambar 1.4. Contoh input data balok 300/600

Gambar 1.5. Contoh input data kolom 550/550 Halaman 3

Denah masing-masing lantai dapat dilihat pada Gambar 1. Contoh input data plat lantai tebal 120 mm Dimensi elemen struktur tersebut diinputkan pada model struktur seperti pada Gambar 1.9 sampai 1.6. Halaman 4 . Plat Lantai dan Plat Atap Untuk plat lantai tebal 120 mm dan plat atap tebal 100 mm masing-masing diberi notasi S120 dan S100.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9. Contoh input data plat lantai yang dimodelkan sebagai elemen plat lentur (plate bending) dapat dilihat pada Gambar 1.2.7. sedang untuk plat lantai ruang SDB (Save Depossit Bank) yang mempunyai ketebalan 300 mm diberi notasi S30 seperti terlihat pada Gambar 1.8.7. Noer Ilham 2. Gambar 1.16.0 [C]MNI‐2011 : M.6. Input data dimensi plat Gambar 1.

9.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.0 [C]MNI‐2011 : M. Denah lantai dasar (tie-beam) Halaman 5 . Noer Ilham Gambar 1. Dimensi elemen struktur Gambar 1.8.

10. Noer Ilham Gambar 1. Denah lantai-1 Gambar 1.2.0 [C]MNI‐2011 : M.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.11. Denah lantai-2 Halaman 6 .

13. Denah lantai-3 Gambar 1.2. Denah lantai-4 Halaman 7 .ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9. Noer Ilham Gambar 1.0 [C]MNI‐2011 : M.12.

Denah lantai atap Halaman 8 .0 [C]MNI‐2011 : M.2. Denah lantai-5 Gambar 1.14.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.15. Noer Ilham Gambar 1.

0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham Gambar 1.16. Portal struktur as-5 Halaman 9 .ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9. Denah atap tangga dan lift Gambar 1.17.2.

18.0 [C]MNI‐2011 : M. Portal struktur as-7 Halaman 10 .2. Noer Ilham Gambar 1.19.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9. Portal struktur as-6 Gambar 1.

20.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham Gambar 1.2. Portal struktur as-D Gambar 1.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9. Portal struktur as-E Halaman 11 .21.

dihitung berdasarkan berat satuan (specific gravity) menurut Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (SNI 03-1727-1989-F) sebagai berikut : No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Konstruksi Beton bertulang Beton Dinding pasangan bata ½ batu Curtain wall kaca + rangka Cladding metal sheet + rangka Pasangan batu kali Finishing lantai (tegel) Marmer.00 9..00 22. Faktor pengali berat sendiri elemen struktur Beban mati tambahan (MATI) yang bukan merupakan elemen struktur seperti finishing lantai. Beban mati pada plat lantai Berat sendiri plat lantai dihitung secara otomatis dalam Program ETABS karena merupakan elemen struktur slab. JENIS BEBAN 1.24 0. sehingga beban mati pada lantai bangunan adalah sebagai berikut : Halaman 12 . dinding.00 0.00 0.00 2.22.20 22.00 78.00 22. partisisi.00 10. balok. dll.50 14.0 [C]MNI‐2011 : M. Pasir Air Kayu Baja Aspal Instalasi plumbing (ME) Berat 24.00 17.2. dan plat dihitung secara otomatis dalam ETABS dengan memberikan factor pengali berat sendiri (self weight multiplier) sama dengan 1.22.60 0.50 0.25 Satuan kN/m3 kN/m3 kN/m2 kN/m2 kN/m2 kN/m3 kN/m3 kN/m2 kN/m2 kN/m3 kN/m3 kN/m3 kN/m3 kN/m3 kN/m3 kN/m2 a. Noer Ilham E. seperti pada Gambar 1. Beban Mati (Dead load) Berat sendiri elemen struktur (BS) yang terdiri dari kolom. granit per cm tebal Langit-langit + penggantung Mortar Tanah.20 22. Gambar 1.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.

= 1. Gambar 1. = 6. = 1.5 x 0.76 kN/m. = 0.20 Beban reaksi tangga akibat beban mati Beban akibat gaya reaksi pada dudukan mesin lift : P1 P2 Distribusi beban mati pada balok dapat dilihat pada Gambar 1. Beban mati pada balok Beban dinding beton tebal 30 cm (ruang SDB) = 0.5 x 24.70 kN/m.24.00 kN. = 25. Noer Ilham Berat finishing lantai (spesi + tegel) tebal 5 cm = 0.3 x 3.50 Beban dinding partisi (cladding) = 3.25 kN/m2.00 Beban dinding pasangan bata ½ batu = 3.23. = 0.73 kN/m2.5 x 2) Distribusi beban mati pada plat dapat dilihat pada Gambar 1. = 0. = 45. Beban mati pada plat atap dihitung sebagai berikut : Berat waterproofing dengan aspal tebal 2 cm = 0.02 x 14 Berat langit-langit + penggantung Berat instalasi ME Beban mati atap beton Beban mati pada plat dudukan tangki air dihitung sebagai berikut : Beban plat untuk tangki air kapasitas 2 m3 = 20/(1. Halaman 13 . = 8. = 0.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.2.75 kN/m. = 55. Distribusi beban mati pada plat lantai b.10 kN/m2.20 kN/m2.05 x 22 Berat langit-langit + penggantung Berat instalasi ME Beban mati lantai.28 kN/m2.5 x 2.20 kN/m2. = 0.55 kN/m2.00 kN.20 kN/m.0 [C]MNI‐2011 : M.23.25 kN/m2.67 kN/m2. = 0. = 0. = 11.

Beban hidup pada balok berupa frame/line load yang ditimbulkan oleh reaksi tangga akibat beban hidup yang besarnya = 17.50 3. SDB (Save Depossit Bank) Tangga dan bordes Atap bangunan Beban hidup 2.0 [C]MNI‐2011 : M. Distribusi beban mati pada balok 2.00 Satuan kN/m2 kN/m2 kN/m2 kN/m2 kN/m2 Beban hidup pada lantai di-input ke ETABS sebagai shell/area load (uniform) yang didistribusikan secara otomatis ke balok lantai sebagai frame/line load. balcony Ruang arsip. Distribusi beban hidup pada balok dapat dilihat pada Gambar 1. Noer Ilham Gambar 1. ruang kerja. adalah sebagai berikut : No 1 2 3 4 5 Lantai bangunan Ruang kantor. Halaman 14 .2. Besarnya beban hidup lantai bangunan menurut Tata Cara Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (SNI 03-1727-1989-F).00 1.26.25.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9. ruang staf Hall. Beban hidup (Live load) Beban hidup (HIDUP) yang bekerja pada lantai bangunan tergantung dari fungsi ruang yang digunakan.00 6. coridor. Beban hidup pada lantai bangunan dapat dilihat pada Gambar 1.24.00 4.64 kN/m.

0 [C]MNI‐2011 : M. cara dinamik dengan Spectrum Respons Analysis dan cara dinamik dengan Time History Analysis. Dalam analisis struktur terhadap beban gempa. Beban gempa (Earthquake) Beban gempa dihitung berdasarkan Tatacara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2002) dengan 3 metode yaitu cara static ekivalen. Dari hasil analisis ketiga cara tersebut diambil kondisi yang memberikan nilai gaya/momen terbesar sebagai dasar perencanaan.26. Dalam analisis modal (modal analysis) untuk penentuan waktu getar alami / fundamental struktur. mode shape dan analisis dinamik dengan Spectrum Respons Halaman 15 .2.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9. Beban hidup pada balok 3. massa bangunan sangat menentukan besarnya gaya inersia akibat gempa.25. Beban hidup pada lantai bangunan Gambar 1. Noer Ilham Gambar 1.

sehingga masing-masing lantai tingkat didefinisikan sebagai diafragma kaku seperti Gambar 1.27.27. maka massa tambahan yang di-input pada ETABS meliputi massa akibat beban mati tambahan dan beban hidup yang direduksi dengan faktor reduksi 0. Gambar 1.29.28 dan 1.5 seperti Gambar 1. Noer Ilham maupun Time History. Input data massa Dalam analisis struktur terhadap beban gempa. Input diafragma pada masing-masing lantai Halaman 16 .2. Dalam hal ini massa akibat berat sendiri elemen struktur (kolom. Gambar 1.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.0 [C]MNI‐2011 : M. dan plat) sudah dihitung secara otomatis karena factor pengali berat sendiri (self weight multiplier) pada Static Load Case untuk BS adalah = 1. balok.28. plat lantai dianggap sebagai diafragma yang sangat kaku pada bidangnya.

dihitung dengan rumus sebagai berikut : V  C1 I Wt R Dengan. Wilayah gempa : zone 5 (lihat Gambar 1. Halaman 17 .ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9. kondisi tanah dan waktu getar alami (T). Noer Ilham Gambar 1.31) untuk lokasi bangunan di Aceh. yang ditentukan berdasarkan wilayah gempa. METODE ANALISIS STRUKTUR TERHADAP GEMPA 1. Gambar 1. Gaya statik ekuivalen dan koordinat titik tangkapnya F.30. Metode Statik Ekuivalen Gaya geser dasar nominal pada struktur akibat gempa menurut Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2002). Diafragma pada masing-masing lantai Pusat massa lantai tingkat yang merupakan titik tangkap beban gempa statik ekuivalen pada masing-masing lantai diafragma. C1 = nilai faktor response gempa.2. koordinatnya dapat dilihat seperti pada Gambar 1.29.0 [C]MNI‐2011 : M.30.

Zone gempa di Indonesia : T1  6.31. Gambar 1.2.33) yang memungkinkan struktur berperilaku elasto plastis.81 m/det2.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9. Noer Ilham Kondisi tanah : sedang. Waktu getar alami dapat diperoleh dari hasil Modal Analysis dengan ETABS untuk mode 1 (Gambar 1. = ketinggian lantai tingkat ke-I diukur dari taraf penjepitan lateral. = simpangan horizontal lantai tingkat ke-i.0 [C]MNI‐2011 : M.3 Waktu getar alami dapat didekati dengan rumus Rayleigh dengan. = percepatan gravitasi = 9.32) dan mode 2 (Gambar 1. Halaman 18 . = berat lantai tingkat ke-I. Fi  Fi Wi zi di g W d g F d i i i 2 i Wi zi V  Wi zi = gaya horisontal pada masing-masing taraf lantai. termasuk beban hidup yang direduksi.

96 sec. Kurva respons spectrum gempa rencana untuk wilayah gempa zone-5 dengan kondisi tanah sedang menurut SNI-03-1726-2002 adalah seperti pada Gambar 1.96 sec (OK). Batas maksimum waktu getar = . jadi fleksibilitas struktur memenuhi ketentuan SNI-03-1726-2002.n = 0. Untuk wilayah gempa 5.34. n = jumlah tingkat = 6.n dengan.33.7139 sec < .6963 sec Untuk menghindari penggunaan struktur yang terlalu fleksibel. Mode 1 (arah Y) dengan T = 0.0 [C]MNI‐2011 : M. Halaman 19 . maka nilai  = 0. maka perlu dilakukan kontrol terhadap waktu getar yang diperoleh. Mode 2 (arah X) dengan T = 0. Untuk mode 1 dengan T = 0. Noer Ilham Gambar 1.n = 0.16.7139 sec Gambar 1. Syarat yang harus dipenuhi : T < .2.32.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.

6963 sec.1496. maka : C1 = 0.7181 x 1/4.0 [C]MNI‐2011 : M.I/R = 0. = jumlah beban mati dan beban hidup yang direduksi (faktor reduksi diambil = 0.7004 x 1/4. I = 1).8 = 0.35. Noer Ilham Gambar 1.  = 3. Maka : R = . Gempa statik arah Y (mode 1) : T = 0.50/T = 0.34.8. Koefisien gaya geser dasar gempa arah Y = C1.2. maka diambil : faktor daktilitas.36. Koefisien gaya geser dasar gempa arah X = C1.I/R = 0. Gambar 1.f1 = 4. I = faktor keutamaan (diambil. R = faktor reduksi gempa representatif.7181. Input koefisien gaya geser dasar gempa arah X Halaman 20 .8 = 0. Respons spektrum gempa rencana Nilai spektrum gempa rencana dihitung sebagai berikut : Gempa statik arah X (mode 2) : T = 0. Ditetapkan kuat lebih beban dan bahan yang terkandung di dalam struktur gedung : f1 = 1.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9. Untuk taraf kinerja struktur gedung daktail parsial.1459.5) yang Wt bekerja di atas taraf penjepitan lateral.50/T = 0.7004.6. maka : C1 = 0.7139 sec.35 dan 1. Fi = gaya horisontal pada masing-masing taraf lantai. Koefisien tersebut di-input kedalam ETABS untuk gempa statik arah X (GEMPAX) dan gempa statik arah Y (GEMPAY) seperti Gambar 1.

Input nilai eksentrisitas pusat massa arah Y terhadap pusat rotasi Halaman 21 . maka nilai eksentrisitas arah X dan Y tersebut di-input kedalam ETABS seperti Gambar 1.38. Untuk memperhitungkan puntiran gedung akibat eksentrisitas pusat massa terhadap pusat rotasi masing-masing lantai tingkat.37. Input koefisien gaya geser dasar gempa arah Y Dalam analisis gempa statik ekuivalen harus dilakukan dengan meninjau secara bersamaan 100% gempa arah X dan 30% gempa arah Y.38.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9. Input nilai eksentrisitas pusat massa arah X terhadap pusat rotasi Gambar 1.36. Gambar 1.0 [C]MNI‐2011 : M.37 dan 1. dan sebaliknya.2. Noer Ilham Gambar 1.

Analisis dinamik dilakukan dengan metode superposisi spectrum response. Percepatan gempa diambil dari data zone 5 Peta Wilayah Gempa Indonesia menurut Tatacara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2002).81 x 1 / 4.044.39. 45. Digunakan number eigen NE = 3 dengan mass partisipation factor  90 % dengan kombinasi dinamis (modal combination) CQC dan directional combination SRSS.8 = 2.5. Massa total struktur terdiri dari berat sendiri elemen struktur (BS). Gambar 1. Input data kurva spectrum gempa rencana ke dalam ETABS seperti Gambar 1.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9. Metode Analisis Response Spectrum Besar beban gempa ditentukan oleh percepatan gempa rencana dan massa total struktur. beban mati (MATI) dan beban hidup (HIDUP) yang dikalikan dengan faktor reduksi 0. dengan mengambil response maksimum dari 4 arah gempa.39.2. Noer Ilham 2. maka perlu faktor +1 dan –1 untuk mengkombinasikan dengan response statik. dan 135 derajat. Damping = 0. Scale factor = 9.05.0 [C]MNI‐2011 : M. Nilai redaman untuk struktur beton diambil. Karena hasil dari analisis spectrum response selalu bersifat positif (hasil akar). yaitu 0. Halaman 22 . 90. Input data kurva spectrum gempa rencana Nilai spectrum respons tersebut harus dikalikan dengan suatu factor skala (scale factor) yang besarnya = g x I/R dengan g = percepatan grafitasi (g = 981 cm/det2).

34. Metode Analisis Dinamik Time History Analisis dinamik linier riwayat waktu (time history) sangat cocok digunakan untuk analisis struktur yang tidak beraturan terhadap pengaruh gempa rencana.40.81 x 1 / 4.0 [C]MNI‐2011 : M.43 dan 1.044 Untuk memasukkan beban gempa Time History ke dalam ETABS maka harus didefinisikan terlebih dahulu ke dalam Time History Case seperti terlihat pada Gambar 1. Faktor skala yang digunakan = g x I/R dengan g = percepatan grafitasi (g = 981 cm/det2).2. Rekaman gerakan tanah akibat gempa diambil dari akselerogram gempa El-Centro N-S yang direkam pada tanggal 15 Mei 1940. Dalam analisis ini digunakan hasil rekaman akselerogram gempa sebagai input data percepatan gerakan tanah akibat gempa. Input data spectrum respons gempa rencana 3.8 = 2. maka dengan interval waktu 0. Dalam analisis ini redaman struktur yang harus diperhitungkan dapat dianggap 5% dari redaman kritisnya (lihat Gambar 1. Noer Ilham Input data respons spectrum gempa rencana pada ETABS seperti pada Gambar 1. jumlah output step-nya menjadi = 10/0. maka sebagai input gempa dapat didekati dengan gerakan tanah yang disimulasikan. Data-data tersebut diinputkan ke dalam ETABS untuk gempa Time History arah X dan Y seperti Gambar 1. Mengingat akselerogram tersebut terjadi selama 10 detik. Scale factor = 9.44. Mengingat gerakan tanah akibat gempa di suatu lokasi sulit diperkirakan dengan tepat.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.1 detik. 1. Gambar 1.42. Halaman 23 .40.1 = 100. Input data akselerogram gempa El-Centro ke dalam ETABS dilakukan seperti pada Gambar 1.44).41.43 dan 1.

Input data akselerogram gempa El-Centro Gambar 1. Beban gempa Time History Halaman 24 .41. Noer Ilham Gambar 1.0 [C]MNI‐2011 : M.2.42.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.

Input data gempa Time History arah X Gambar 1. Noer Ilham Gambar 1.43.2.0 [C]MNI‐2011 : M.44. Input data gempa Time History arah Y Halaman 25 .ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.

ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.5.L .4.2.5.Ex .0.3.2.L + 0.6.L . Dengan demikian kombinasi pembebanan untuk gempa statik ekuivalen menjadi sebagai berikut : o Kombinasi : 1.2.Ey Kombinasi beban tersebut dapat dilihat pada Gambar 1. dan sebaliknya.5.3.5.46.L L = beban hidup (Live load) Kombinasi : 1.Ey o Kombinasi : 1.5. D + 0.L . D + 0.2.2. D + 0.Ey o Kombinasi : 1. Input kombinasi beban Untuk kombinasi pembebanan gempa dengan metode statik ekuivalen. D + 0.3.5 E = beban gempa (Earthquake) Input data masing-masing kombinasi beban seperti pada Gambar 1. Gambar 1.L + Ex .45.2.Ex + Ey o Kombinasi : 1.Ey o Kombinasi : 1. KOMBINASI PEMBEBANAN Semua komponen struktur dirancang memiliki kekuatan minimal sebesar kekuatan yang dihitung berdasarkan kombinasi beban sebagai berikut : Kombinasi : 1.2.Ex .0.2. Noer Ilham G.3. Halaman 26 .5.Ex + 0.3.45.L + Ex + 0.5.3.D + Lr ± E Lr = beban hidup yang direduksi dengan factor 0. D + 0. D + 0.L + 0.2.Ey o Kombinasi : 1.0 [C]MNI‐2011 : M.Ey o Kombinasi : 1.Ex + Ey o Kombinasi : 1.2.2.3.0.D D = beban mati (Dead load) Kombinasi : 1.L .3.0.5.D + 1. D + 0. D + 0.Ex . menurut Tatacara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2002) harus dilakukan dengan meninjau secara bersamaan 100% gempa arah X (Ex) dan 30% gempa arah Y (Ey).

47. Noer Ilham Gambar 1.48.75 seperti pada Gambar 1. perlu dilakukan penyesuaian parameter perencanaan konstruksi beton menurut American Concrete Institute (ACI 318-99) terhadap Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-2847-1992).46.8 dan untuk geser diambil 0.2. Faktor reduksi kekuatan yang digunakan untuk perencanaan konstruksi beton untuk lentur dan tarik diambil 0.0 [C]MNI‐2011 : M. Penyesuaian dilakukan dengan mengubah ketentuan (Options) untuk perencanaan konstruksi beton (Concrete Frame Design) seperti terlihat pada Gambar 1.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9. Kombinasi beban H. Halaman 27 . Parameter Perencanan Konstruksi Beton Sebelum dilakukan analisis struktur. ANALISIS 1.

0 [C]MNI‐2011 : M.48.47.2. Noer Ilham Gambar 1.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9. Faktor reduksi kekuatan yang disesuiakan dengan SNI 2. Ketentuan perencanaan konstruksi beton Gambar 1. Deformasi struktur kecil dan material isotropic. Asumsi yang digunakan dalam analisis Analisis struktur dilakukan dengan 6 derajat kebebasan (Degree of Freedom) Full 3D (spaceframe) dengan model diafragma lantai kaku baik untuk analisis statik maupun dinamik. Analisis dinamik (Modal Analysis) dilakukan dengan metode Eigenvectors dengan mengambil jumlah mode = 12 seperti Gambar 1. sehingga digunakan analisis linier dengan metode matrik kekakuan langsung (direct stiffness matriks). Halaman 28 . Dalam hal ini efek P-delta pada kolom sangat kecil sehingga diabaikan.49.

50. Derajat kebebasan dan ketentuan analisis dinamik I.49.0 [C]MNI‐2011 : M. Noer Ilham Gambar 1. Momen arah X akibat gempa statik ekuivalen Halaman 29 . Gambar 1. respons spectrum dan time history seperti terlihat pada Gambar 1.52.50 sampai 1. Momen dan gaya geser akibat gempa Momen akibat gempa arah X dengan metode statik ekuivalen.2.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9. HASIL ANALISIS 1.

2.53 sampai 1.7 sec Gaya geser akibat gempa arah X dengan metode statik ekuivalen. respons spectrum dan time history seperti terlihat pada Gambar 1.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.55.51. Noer Ilham Gambar 1. Momen arah X akibat gempa respons spectrum Gambar 1.52. Momen arah X akibat gempa time history (El-Centro) saat 2.0 [C]MNI‐2011 : M. Halaman 30 .

2.53.0 [C]MNI‐2011 : M.54. Gaya geser arah X akibat gempa respons spectrum Halaman 31 . Gaya geser arah X akibat gempa statik ekuivalen Gambar 1. Noer Ilham Gambar 1.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.

22 = 3. digunakan tulangan deform D 22.115 buah. 2. Pembesian balok dan kolom Hasil perhitungan pembesian balok dan kolom dengan kombinasi pembebanan yang telah ditetapkan dapat dilihat pada Gambar 1.093 = 16.093 cm2.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9. Dengan demikian secara keseluruhan struktur aman terhadap berbagai macam kombinasi beban gempa yang telah ditetapkan.57. Maka digunakan sengkang : 2 P 10 .2.59 adalah sebagai berikut : Luas tulangan longitudinal kolom yang diperlukan = 42.7 sec Dari ketiga metode analisis dapat disimpulkan bahwa hasilnya tidak jauh berbeda.801 = 11.55.571 cm2.801 cm2. Misal digunakan tulangan polos P 10. Jarak sengkang yang diperlukan = 1. Jumlah tulangan yang diperlukan = 42. hanya pada analisis gempa dengan time history memberikan hasil momen dan gaya geser yang lebih besar dibanding cara statik ekuivalen maupun respons spectrum. Tampak bahwa tak satupun elemen balok atau kolom yang mengalami over strength (OS) yang ditandai dengan warna merah pada elemennya. Sebagian besar pembesian kolom ditentukan oleh kombinasi dengan beban gempa time history seperti terlihat pada Gambar 1.58.250 / 3. maka luas 1 tulangan = /4 x 2. Gaya geser arah X akibat gempa time history saat 2.250 cm2. Maka digunakan tulangan : 12 D 22 Luas tulangan geser kolom arah sumbu kuat = arah sumbu lemah = 0. Misal.0 [C]MNI‐2011 : M.02 = 1.150 Halaman 32 .56 dan 1. Sebagai contoh cara menetapkan jumlah tulangan kolom berdasarkan hasil design penulangan seperti Gambar 1.571 / 0.89 cm. Noer Ilham Gambar 1. maka luas sengkang 2 P = 2 x /4 x 1.

2. Tulangan geser Halaman 33 . Tulangan longitudinal Gambar 1.56.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.0 [C]MNI‐2011 : M.57. Noer Ilham Gambar 1.

 Noer Ilham Gambar 1. Pembesian kolom Halaman 34 .58.ANALISIS STRUKTUR GEDUNG DENGAN SOFTWARE ETABS V9.0 [C]MNI‐2011 : M.2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful