Teori Siklus Ibn Khaldun

Ibn Khaldun, nama ini begitu mashur dikalangan pemikir dan Ilmuwan Barat. Ia adalah pemikir dan Ilmuwan Muslim yang pemikiranya dianggap murni dan baru pada zamannya. Tak heran ide-idenya tentang masyarakat Arab seperti yang tertuang dalam buku fenomenalnya “muqaddimah” dianggap sebagai bibit dari kelahiran Ilmu Sosiologi. Penelitiannya tentang sejarah dengan menggunakan metode yang berbeda dari penelitian Ilmuwan pada saat itu juga disebut sebagai bibit dari kemunculan Filsafat Sejarah seperti yang ada sekarang. Kehidupannya yang malang melintang di Tunisia (Afrika) dan Andalusia, serta hidup dalam dunia politik tak ayal mendukung pemikirannya tentang Politik serta Sosiologi tajam dan mampu memberikan sumbangsih yang besar pada Ilmu Pengetahuan.

Asal Mula Negara (daulah)

Menurut Ibn Khaldun manusia diciptakan sebagai makhluk politik atau sosial, yaitu makhluk yang selalu membutuhkan orang lain dalam mempertahankan kehidupannya, sehingga kehidupannya dengan masyarakat dan organisasi sosial merupakan sebuah keharusan (dharury) (Muqaddimah: 41). Pendapat ini agaknya mirip dengan pendapat Al-Mawardi dan Abi Rabi‟. Lebih lanjut, manusia hanya mungkin bertahan untuk hidup dengan bantuan makanan. Sedang untuk memenuhi makanan yang sedikit dalam waktu satu hari saja memerlukan banyak pekerjaan. Sebagai contoh dari butir-butir gandum untuk menjadi potongan roti memerlukan proses yang panjang. Butir-butir gandum tersebut harus ditumbuk dulu, untuk kemudian dibakar sebelum siap untuk dimakan, dan untuk semuanya itu dibutuhkan alat-alat yang untuk mengadakannya membutuhkan kerjasama dengan pandai kayu atau besi. Begitu juga gandumgandum yang ada, tidak serta merta ada, tetapi dibutuhkan seorang petani. Artinya, manusia dalam mempertahankan hidupnya dengan makanan membutuhkan manusia yang lain. (Muqaddimah: 42). Selain kebutuhan makanan untuk mempertahankan hidup, menurut Ibn Khaldun manusia memerlukan bantuan dalam hal pembelaan diri terhadap ancaman bahaya. Hal ini karena Allah ketika menciptakan alam semesta telah membagi-bagi kekuatan antara makhlukmakhluk hidup, bahkan banyak hewan-hewan yang mempunyai kekuatan lebih dari yang

dan inilah peradaban. (Muqaddimah: 139). . Tetapi yang membedakannya bahwa penelitian yang dilakukan Ibn Khaldun dalam Muwaddimahnya bukan sekadar kajian filososif. melainkan kajian yang berdasarkan pada pengamatan Inderawi dan analisis perbandingan data-data yang obyektif. seorang yang berpengaruh kuat atas anggota masyarakat. al-Mawardi. mempunyai otoritas dan kekuasaan atas mereka sebagai pengendali/ wazi‟ (‫ . meskipun ia sendiri mengatakan bahwa teorinya ini adalah yang baru. sehingga dengan akal dan tangan yang diberikan Tuhan padanya tidak memungkinkan untuk mempertahankan diri dari serangan manusia yang lain karena setiap manusia mempunyai akal dan tangan pula.dimiliki oleh manusia.)عزاولا‬Dengan demikian tidak akan ada anggota masyarakat yang menyerang sesama anggota masyarakat lain. Setelah organisasi masyarakat terbentuk. Dengan akal dan tangan ini manusia bisa mempertahankan hidup dengan berladang. Untuk itulah diperlukan sesuatu yang lain untuk menangkal watak agresif manusia terhadap lainnya. sehingga organisasi kemasyarakatn merupakan sebuah keharusan. Tetapi sekali lagi untuk mempertahankan hidup tersebut manusia tetap saling membutuhkan bantuan dari yang lainnya. ataupun melakukan kegiatan untuk mempertahankan hidup lainya. perdana Menteri. Ia adalah seseorang dari masyarakat itu sendiri. Farabi. Oleh karenanya Allah memberikan kepada masing-masing makhluk hidup suatu anggota badan yang khusus untuk membela diri. serta pembantu-pembantu yang lain hingga terbentuklah sebuah Dinasti (daulah) atau kerajaan (mulk). Kebutuhan akan adanya seseorang yang mempunyai otoritas dan bisa mengendalikan ini kemudian meningkat. dan kehendak Tuhan untuk mengisi dunia ini dengan ummat manusia dan membiarkannya berkembang biak sebagai khalifah tidak akan terlaksana (Muqaddimah: 43). Didukung dengan rasa kebersamaan yang terbentuk bahwa seorang pemimpin (rais) dalam mengatur dan menjadi penengah tidak dapat bekerja sendiri sehingga membutuhkan tentara yang kuat dan loyal. Pemikiran Ibn Khaldun dalam hal ini agaknya mirip dengan yang dikemukakan oleh Aristoteles. maka masyarakat memerlukan seseorang yang dengan pengaruhnya dapat betindak sebagai penengah dan pemisah antara anggota masyarakat. Ibn Abi Rabi‟. Tanpa organisasi tersebut eksistensi manusia tidak akan lengkap. Ini karena manusia mempunyai watak agresif dan tidak adil. Sehingga pemikirannya dalam hal ini bukan hal baru. Sedang manusia diberikan akal atau kemampuan berfikir dan dua buah tangan oleh Tuhan. Dan watak agresif adalah sesuatu yang alami bagi setiap makhluk.

Mereka terbiasa hidup mewah dan banyak mengikuti hawa nafsu. dan Solidaritas Sosial Selain apa yang telah dipaparkan di atas. Jiwa mereka telah dikotori oleh berbagai macam akhlak tercela. Mereka hidup liar di tempat-tempat jauh di luar kota dan tak pernah mendapatkan pengawasan tentara. Mereka larut dalam kenikmatan dan kemewahan. solidaritas kelompok.)ا‬Teorinya tentang „ashabiyah inilah yang melambungkan namanya dimata para pemikir modern. Sedangkan orang-orang Badui. meskipun juga berurusan dengan dunia. fanatisme kesukuan. sebagian orang yang hidup di padang pasir adalah orang zuhud. Yaitu cinta dan kasih sayang seorang manusia kepada saudara atau tetangganya ketika salah satu darinya diperlakukan tidak adil atau disakiti. dan bukan dalam kemewahan. Orang-orang yang taat beragama sedikit sekali yang tinggal di kota-kota karena kota telah dipenuhi kekerasan dan masa bodoh. mereka sendiri yang mempertahankan diri mereka sendiri dan tidak minta bantuan pada orang lain (Muqaddimah: 125). Karena itu. Untuk bertahan hidup masyarakat pedalaman harus . Mereka mempercayakan urusan keamanan diri dan harta kepada penguasa.sebagai upaya untuk memahami manusia pada masa lampau dan kini untuk meramalkan masa depan dengan berbagai kecenderungannya. hawa nafsu dan kesenangan (Muqaddimah: 123). teori yang membedakannya dari pemikir Muslim lainnya. nasionalisme. Orang Kota. Daerah yang subur berpengaruh terhadap persoalan agama. Orang-orang Badui yang hidup sederhana dibanding orang-orang kota serta hidup berlapar-lapar dan meninggalkan makanan yang mewah lebih baik dalam beragama dibandingkan dengan orang yang hidup mewah dan berlebih. Sosiologi Masyarakat: Peradaban Badui. atau sentimen sosial. Karena penduduk kota malas dan suka yang mudah-mudah.atok napudihek)(‫رة‬ dan Niscaya (dharury) (Muqaddimah: 120). „Ashabiyah mengandung makna Group feeling. namun masih dalam batas kebutuhan. yaitu „ashabiyah ( ‫ . Ibn haldun berpendapat bahwa ada faktor lain pembentuk egara (daulah). Orang Badui lebih berani daripada penduduk kota. Sedangkan orang Badui hidup memencilkan diri dari masyarakat.(badareb takaraysam . masyarakat primitif. Oleh karena itu. Penduduk kota menurutnya banyak berurusan dengan hidup enak. Ibn Khaldun dalam hal ini memunculkan dua kategori sosial fundamental yaitu Badawah (‫()ةوادب‬komunitas pedalaman. atau daerah gurun) dan Hadharah (‫ اضح‬haimala gnay anemonef nakapurem aynaude .

sehingga dia memperoleh kekuasaan dan sanggup memimpin rakyatnya dengan sempurna. adalah karena kekuasaan dimiliki melalui keberanian dan kekerasan. Pendapat Ibn khaldun dalam hal ini tidak mengherankan. keduanya akan bercampur yang secara bersama-sama menuntun tujuan yang lebih tinggi dari kedaulatan. apabila solidaritas masing-masing individu mengakui keunggulan solidaritas sosial sang pemimpin. Sifat kepemimpinan selalu dimiliki orang yang memiliki solidaritas sosial. Akhirnya. Jika solidaritas sosial itu setara. Setiap suku biasanya terikat pada keturunan yang bersifat khusus (khas) atau umum („aam). Jika solidaritas sosial dapat menaklukan solidaritas lain. pembangkit suatu klan. Di dalam memimpin kaum. suku liar lebih berani dibanding yang lainnya. maka ia akan mencari solidaritas golongan lain yang tak ada hubungan dengannya. Oleh karena itu. apabila suatu negara sudah tua umurnya dan para pembesarnya yang terdiri dari solidaritas sosial sudah tidak lagi mendukungnya. Sebabnya. Apabila di antara golongan ini ada yang lebih hebat terbiasa hidup di padang pasir dan lebih liar. Solidaritas pada keturunan yang bersifat khusus ini lebih mendarah-daging daripada solidaritas dari keturunan yang bersifat umum. Sebab. Tak ayal lagi. maka solidaritas . maka orangorang yang berada di bawahnya akan sebanding. Kehidupan padang pasir merupakan sumber keberanian. memimpin hanya dapat dilaksanakan dengan kekuasaan. dia akan lebih mudah memiliki kekuasaan daripada golongan lain (Muqaddimah: 138).memiliki sentimen kelompok („ashabiyyah) yang merupakan kekuatan pendorong dalam perjalanan sejarah manusia. Begitu solidaritas sosial memperoleh kedaulatan atas golongannya. Maka solidaritas sosial yang dimiliki oleh pemimpin harus lebih kuat daripada solidaritas lain yang ada. Bangsabangsa liar lebih mampu memiliki kekuasaan daripada bangsa lainnya. Solidaritas sosial menjadi syarat kekuasaan (Muqaddimah: 131). Karena solidaritas sosial itulah yang mempersatukan tujuan. lan yang memiliki „ashabiyyah kuat tersebut dapat berkembang menjadi sebuah negeri (Muqaddimah: 120). karena beliau melakukan penelitian pada masyarakat „Arab dan Barbar khususnya yang memang menjalani kehidupan sukar dipadang pasir. Oleh karena itulah. maka akan siap untuk tunduk dan patuh mengikutinya (Muqaddimah: 132). mempertahankan diri dan mengalahkan musuh. harus ada satu solidaritas sosial yang berada di atas solidaritas sosial masing-masing individu. Tujuan terakhir solidaritas adalah kedaulatan. mereka lebih mampu memiliki kekuasaan dan merampas segala sesuatu yang berada dalam genggaman bangsa lain.

kedaulatannya akan sangat luas. sebab dalam keadaan demikian masing-masing suku mempunyai kepentingan. maka ia akan digantikan oleh orang yang memiliki solidaritas yang campur di dalam solidaritas sosial (Muqaddimah: 140). bukan tambah memperoleh kedaulatan. dan hubungan antara pelindung dan yang dilindungi. Inilah yang terjadi pada orang-orang Turki yang masuk ke kedaulatan Bani Abbas (Muqaddimah: 139-140).sosial yang baru akan merebut kedaulatan negara. Homogenitas juga berpengaruh dalam pembentukan sebuah Dinasti yang besar. bahwa motivasi Agama saja tidak cukup sehingga tetap dibutuhkan solidaritas kelompok („ashabiyyah). Agama dapat memperkokoh solidaritas kelompok tersebut dan menambah keampuhannya. maka butuh solidaritas lain. Sebab menurutnya. angkuh. Khusus bangsa Arab menurut Ibn Khaldun. Jika suatu negara sudah hancur. tetapi tetap ia membutuhkan motivasi-mativasi lain yang bertumpu pada hal-hal diluar Agama (Muqaddimah: 159). Tujuan akhir dari solidaritas sosial („ashabiyyah) adalah kedaulatan. tempat tinggal berdekatan atau bertetangga. Tetapi menurutnya pula. Hanya dengan . Hanya karena Agama yang dibawa oleh Nabi mereka akhirnya bisa dipersatukan dan dikendalikan (Muqaddimah: 151). „Ashabiyyah tersebut terdapat pada watak manusia yang dasarnya bisa bermacam-macam. Menurut Ibn Khaldun apabila suatu bangsa itu liar. ikatan darah atau persamaan keTuhanan. Bangsa Arab adalah Bangsa yang paling tidak mau tunduk satu sama lain. Karena bangsa yang demikian lebih mampu memperoleh kekuasaan dan mengadakan kontrol secara penuh dalam menaklukan golongan lain (Muqaddimah: 145). aspirasi. Bisa juga ketika negara sudah berumur tua. Aka tetapi hambatan jalan mencapai kedaulatan adalah kemewahan. persamaan Ketuhananlah yang membuat mereka berhasil mendirikan Dinasti. negara akan memasukkan para pengikut solidaritas sosial yang kuat ke dalam kedaulatannya dan dijadikan sebagai alat untuk mendukung negara. kasar. dan pandangan yang berbeda-beda sehingga kemungkinan untuk membentuk sebuah Dinasti yang besar merupakan hal yang sulit. persekutuan atau aliansi. Dalam situasi demikian. Semakin besar kemewahan dan kenikmatan mereka semakin dekat mereka dari kehancuran. „Ashabiyyah yang ada hanya „ashabiyyah kesukuan/qabilah yang tidak memungkinkan mendirikan sebuah dinasti karena sifat mereka. Kemewahan telah menghancurkan dan melenyapkan solidaritas sosial. ambisius dan masing-masing ingin menjadi pemimpin. Adalah jarang sebuah Dinasti dapat berdiri di kawasan yang mempunyai beragam aneka suku.

original dan tampil dari bani Mudhar. serta mereka hormat pada keunggulan suku Quraisy. solidaritas. Imam. Ibn haldun menilai bahwa seorang Raja haruslah berasal dari solidaritas kelompok yang paling dominan. loyalitas yang besar dari rakyatnya. imamah wajib karena akal/ perlunya manusia terhadap organisasi sosial. ataupun Sulthan. 2. Tetapi ada juga yang berpendapat. Ibn Khaldun sendiri menetapkan 5 syarat bagi khalifah. Khilafah. Imamah atau Sulthananh. 4. Dan jika kepemimpinan dipegang oleh suku lain. Padahal Nabi menginginkan persatuan. Keturunan Quraisy. Lembaga imamah adalah wajib menurut hukum agama.hegemonitas akan menimbulkan solidaritas yang kuat sehingga tercipta sebuah Dinasti yang besar (Muqaddimah: 163). Maka tidak heran jika kepemimpinan Islam dipercayakan kepada mereka. Berdasarkan teori „ashabiyah. Ibn haldun berpendapat sama dengan Pemikir Muslim sebelumnya tentang keutamaan keturunan Quraisy. Mempunyai kemampuan. dan persaudaraan (Muqaddimah: 194). Khilafah adalah pengganti Nabi Muhammad dengan tugas mempertahankan agama dan menjalankan kepemimpinan dunia. Tetapi menurut Ibn Khaldun hal ini jangan diartikan bahwa kepemimpinan itu dimonopoli oleh suku Quraisy. Dalam kaitannya tentang „ashabiyyah. Memiliki pengetahuan. dan dengan keanggunannya suku Quraisy memiliki wibawa yang tinggi. maka yang terjadi adalah pembangkangan serta berujung pada kehancuran. Dengan jumlahnya yang banyak dan solidaritas kelompoknya yang kuat. menjaga ketertiban. Sulthanah Khilafah menurut Ibn Khaldun adalah pemerintahan yang berlandaskan Agama yang memerintahkan rakyatnya sesuai dengan petunjuk Agama baik dalam hal keduniawian atau akhirat. serta melindungi negara dari ancaman musuh baik dari luar maupun dalam dia membutuhkan dukungan. yang dibuktikan dengan dibai‟atnya Abu Bakar sebagai khalifah. Ia mengemukakan bahwa orang-orang Quraisy adalah pemimpinpemimpin terkemuka. Sedang pemimpinnya disebut Khalifah. Maka pemerintahan yang dilandaskan pada Agama disebut dengan Khilafah. Dan hal ini hanya bisa terjadi jika ia berasal dari kelompok yang dominan. Memiliki sifat „adil. Namun hukum wajibnya adalah fardhu kifayah (Muqaddimah: 191-193). 3. Imamah. sebab seluruh bangsa Arab mengakui kenyataan akan kewibawaannya. Sehat Panca indera dan badannya. Sebab dalam mengendalikan sebuah negara. atau syarat keturunan Quraisy . yaitu: 1. Imam atau Sulthan. 5.

atau ada suku lain yang mempunyai „ashabiyyah yang tinggi dan kebibawaan yang tinggi. Dan karena yang dipakai sebagai asas kebijaksanaan pemerintahan itu adalah ajaran Agama. khususnya Islam. 3. dan anarki. baik yang bersifat keduniawian maupun keukhrawian. Pemerintahan yang berasaskan Undang-undang yang dibuat oleh para cendekiawan dan orang pandai. dan kemampuan yang lebih. Pemerintahan yang berlandaskan Agama (siyasah Diniyyah). penindasan. 2. Pemerintahan jenis ini pada zaman sekarang menyerupai pemerintahan otoriter. oleh karena ia adalah pengganti Nabi dalam memelihara kelestarian Agama . otokrasi. bahwa khalifah haruslah dari golongan Quraisy. yaitu pemerintahan yang membawa masyarakatnya sesuai dengan tujuan nafsu. Pemerintahan yang natural (siyasah thabi‟iyah).didahulukan daripada kemampuan. Pemikiran Ibn Khaldun dalam hal ini mirip dengan pemikiran Al-Mawardi ataupun Ghazali. karena dengan hukum yang bersumber dari ajaran Agama akan terjamin tidak saja keamanan dan kesejahteraan di dunia tetapi juga di akhirat. Pemerintahan jenis ini pada zaman sekarang serupa dengan pemerintahan Republik. Bentuk-Bentuk Pemerintahan Ibn Khaldun berpendapat bentuk pemerintahan ada 3: 1. yaitu pemerintahan yang membawa semua rakyatnya sesuai dengan tuntunan agama. dan juga kepemimpinan dari suku Quraisy sudah tidak dapat lagi diharapkan. Tetapi Ibn haldun merealisasikannya dengan teori „Ashabiyyah seperti dijelaskan di atas. hingga ketika suku Quraisy telah dalam keadaan tidak berwibawa. Ini hanya didasarkan pada kewibawaan dan solidaritas yang tinggi pada suku Quraisy pada saat itu. maka kepala Negara disebut Khalifah dan Imam. seorang raja dalam memerintah kerajaan (mulk) lebih mengikuti kehendak dan hawa nafsunya sendiri dan tidak memperhatikan kepentingan rakyat yang akibatnya rakyat sukar mentaati akibat timbulnya terror. yaitu pemerintahan yang membawa rakyatnya sesuai dengan rasio dalam mencapai kemaslahatan duniawi dan mencegah kemudharatan. Bentuk Pemerintahan seperti ini dipuji disatu sisi tetapi dicela disatu sisi. Artinya. atau kerajaan insitusional yang dapat mewujudkan keadilan sampai batas tertentu. Pemerintahan yang berdasarkan nalar (siyasah „aqliyah). atau inkonstitusional. solidaritas. Khalifah. Menurut Ibn Khaldun model pemerintahan seperti inilah yang terbaik. individualis. maka kepemimpinan dapat berpindah ke suku atau kelompok lain yang mempunyai kewibawaan.

Jika suatu bangsa sudah sampai pada generasi ketiga ini. Pada tahap ini. yakni mereka yang karena diuntungkan secara ekonomi dan politik dalam sistem kekuasaan.Tahap sejahtera. Tahapan Timbul Tenggelamnya Peradaban Berdasarkan teorinya „ashabiyyah. Imam. karena sebagai pemimpin dia ibarat Imam Salat yang harus diikuti oleh rakyatnya sebagai makmum (Muqaddimah: 191). 5.Tahap hidup boros dan berlebihan. penguasa menjadi perusak warisan pendahulunya. Pada tahap ini. 3. Pada tahap ini.Tahap sukses atau tahap konsolidasi. maka keruntuhan negara sebagai sunnatullah sudah di ambang pintu. Mereka dapat melakukan apa saja yang mereka sukai tanpa memedulikan nasib negara. dimana otoritas negara didukung oleh masyarakat (`ashabiyyah) yang berhasil menggulingkan kedaulatan dari dinasti sebelumnya. Segala perhatian penguasa tercurah pada usaha membangun negara. tahap dimana penguasa berbuat sekehendaknya pada rakyatnya. Generasi yang tidak lagi memiliki hubungan emosionil dengan negara. dan menurut . melainkan pada makna fungsional keimamahan itu sendiri.Tahap kepuasan hati. tentram dan damai. orang yang memimpin negara senang mengumpulkan dan memperbanyak pengikut. 2. yaitu: (Muqaddimah: 175). 3. Penguasa menutup pintu bagi mereka yang ingin turut serta dalam pemerintahannya.dan kesejahteraan duniawi rakyatnya. nampak bahwa Ibn Khaldun menempuh jalur baru dibanding Al-Farabi dan Ibn Abi Rabi‟ dalam pengklasifikasian pemerintahan. Maka segala perhatiannya ditujukan untuk kepentingan mempertahankan dan memenangkan keluarganya. Generasi Pembangun. juga pada jabatan Imam itu sendiri. Dari pembagian pemerintahan di atas. menjadi tidak peka lagi terhadap kepentingan bangsa dan negara. yaitu: 1. Pada tahap ini. Generasi Penikmat. negara tinggal menunggu kehancurannya. yang dengan segala kesederhanaan dan solidaritas yang tulus tunduk dibawah otoritas kekuasaan yang didukungnya. Tahap-tahap itu menurut Ibnu Khaldun memunculkan tiga generasi. penguasa merasa puas dengan segala sesuatu yang telah dibangun para pendahulunya. 2. 4. Ibn haldun membuat teori tentang tahapan timbul tenggelamnya suatu Negara atau sebuah peradaban menjadi lima tahap.Tahap tirani. Ia tidak memandang pada sisi personalnya. Sehingga menurutnya substansi setiap pemerintahan adalah undang-undang yang menjelaskan karakter suatu sistem pemerintahan. 1. ketika kedaulatan telah dinikmati. pemuas hawa nafsu dan kesenangan.

Sedangkan revolusi yang muncul dari perubahan pandangan dan cita rasa. memandang bahawa perubahan dapat dilakukan melalui apa yang telah ia lakukan. agar dapat menyingkirkan sebuah rezim untuk digantikan dengan rezim yang lain tanpa memperhitungkan berapakah yang menjadi korban untuk mencapai tujuan ini. Impian yang tercapai kemudian memunculkan sebuah peradaban baru. dan begitulah seterusnya hingga teori ini dikenal dengan Teori Siklus. pengkhianatan. . Sebab revolusi yang dilahirkan dari kekerasan senjata biasanya tidak bertahan lama dan tidak menemui jalan yang dapat menjadi pegangan dalam hati rakyat yang tidak mendukung revolusi itu. dan pemerasan. Ibn Khaldun juga menuturkan bahwa sebuah Peradaban besar dimulai dari masyarakat yang telah ditempa dengan kehidupan keras. Keinginan hidup dengan makmur dan terbebas dari kesusahan hidup ditambah dengan „Ashabiyyah di antara mereka membuat mereka berusaha keras untuk mewujudkan cita-cita mereka dengan perjuangan yang keras. pada mulanya bersumber dari dendam yang mendalam dari kalangan orang-orang yang mempercayai cara-cara kekerasan. membawa prinsipprinsip dan rukun-rukun yang tidak mudah goyah dan lebih mendalam pengaruhnya dalam hati individu masyarakat serta cita rasa mereka yang peka Sebab gerakan-gerakan revolusi pada masa sekarang ini. Dan kemunculan peradaban baru ini pula biasanya diikuti dengan kemunduran suatu peradaban lain (Muqaddimah: 172).Ibnu Khaldun proses ini berlangsung sekitar satu abad. kemiskinan dan penuh perjuangan. Tahapan-tahapan di atas kemudian terulang lagi. kelicikan.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.