RTH di Kota Bandung

PENDAHULUAN Dalam Undang-Undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, ruang didefinisikan sebagai wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya. Kegiatan manusia dan makhluk hidup lainnya membutuhkan ruang yang dapat mewadahi berbagai kegiatan, sesuai dengan kondisi alam setempat dan teknologi yang diterapkan. Ketersediaan ruang itu sendiri tak terbatas, hanya saja jika pemanfaatan ruang tidak diatur dengan baik, kemungkinan besar terdapat pemborosan manfaat ruang dan penurunan kualitas ruang. Oleh karena itu, diperlukan penataan ruang untuk mengatur pemanfaatannya berdasarkan besaran kegiatan, jenis kegiatan, fungsi lokasi, kualitas ruang, dan estetika lingkungan. Ketersediaan ruang untuk menampung kegiatan manusia dalam berinteraksi, salah satunya adalah ruang publik. Ruang publik adalah satu ruang yang berfungsi untuk mewujudkan keseimbangan kehidupan manusia. Dari segi pribadi, keseimbangan kehidupan dapat tercipta dengan menyalurkan ekspresi dan opini pribadi dalam suasana kebersamaan setelah bergelut dalam kehidupan sehari-hari. Dari segi masyarakat, ruang publik dibutuhkan untuk menyeimbangkan kehidupan warga kota yang heterogen. (Harry:2010) Ruang publik merupakan suatu kebutuhan dasar masyarakat kota. Ruang terbuka publik harus dapat digunakan untuk menampung berbagai kegiatan masyarakat dan harus dapat digunakan oleh masyarakat umum dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi dan budaya (Carr, 1992:19). Salah satu fungsi ruang publik adalah sebagai tempat bertemu, berinteraksi dan silaturrahmi antarwarga. Ruang publik juga digunakan sebagai tempat rekreasi dengan bentuk kegiatan yang khusus, seperti berolahraga dan bersantai (Ahmad, 2002:32). Beraktivitas di ruang publik dapat menimbulkan rasa kebersamaan di antara warga kota tanpa harus menghilangkan perbedaan. RTH merupakan ruang publik yang menghiasi kawasan perkotaan, keberadaan RTH sangat penting pada suatu wilayah perkotaan. Disamping sebagai salah satu fasilitas sosial masyarakat, RTH kota mampu menjaga keserasian antara kebutuhan ruang aktivitas

masyarakat kota dengan kelestarian bentuk lansekap alami wilayah itu. RTH kota juga memiliki berbagai manfaat seperti kenyamanan, estetika, hidrologis, klimatologis, ekologis, protektif, edukatif, kesehatan, dan wisata.

Keberadaan RTH yang diwajibkan 30% dari luas wilayahnya berdasarkan UndangUndang No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, yaitu setiap kota wajib menyisihkan 20 persen lahan perkotaan untuk RTH publik dan 10 persen lagi untuk RTH privat. dengan proporsi tersebut dapat mengatasi dampak-dampak negatif yang akan muncul di wilayahnya. Dampak yang akan ditimbulkan, yaitu berkaitan dalam hal kesegaran udara telah dipenuhi oleh karbondioksida kendaraan bermotor dan industri, dalam hal penyediaan resapan air, dan juga dalam hal mengatasi genangan-genangan atau banjir disaat musim hujan. Adanya kebijakan Pemerintah untuk melakukan penggusuran terhadap permukiman kumuh dengan alasan menciptakan RTH merupakan sesuatu yang wajar. Hal ini dikarenakan kebijakan tersebut bertujuan untuk menciptakan ketertiban, keteraturan, dan mengakomodasi keinginan masyarakat secara luas. Komponen-komponen pengaturan yang harus diperhatikan dalam penyediaan dan pengelolaan RTH adalah pengaturan teknis dan pengaturan penyelenggaraan. Pengaturan teknis meliputi bentuk-bentuk, standar kebutuhan, dan alokasi lahan RTH kota. Pengaturan penyelenggaraan meliputi pengelolaan RTH (perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan, dan pengendalian), kelembagaan, pembiayaan, dan peran serta masyarakat (Fahrentino, 2003). Komponenkomponen tersebut memberikan pengaruh yang sangat besar dalam keberadaan RTH.

Fungsi dan manfaat RTH Adapun fungsi dari penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan adalah :      Pengamanan keberadaan kawasan lindung perkotaan. daerah). adalah area memanjang/jalur dan atau mengelompok. batu-batuan dan permukaan tanah. Pengendali tata air. Penampilannya dicirikan oleh pemandangan tumbuh-tumbuhan alam segar daripada bangunan sekitar. yang penggunaannya lebih bersifat terbuka. dan (b) RTH privat atau non publik. Peraturan yang mengatur RTH adalah Peraturan Menteri No. Ruang terbuka terdiri atas ruang terbuka hijau dan ruang terbuka nonhijau. Ruang terbuka dapat dikatakan sebagai unsur ruang alam yang dibawa ke dalam kota atau lapangan terbuka yang dibiarkan seperti keadaaan aslinya. Ruang terbuka adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luasbaik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalurdimana dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan. tempat tumbuh tanaman.PEMBAHASAN 1. Menurut Budlyono. air dan udara. Tempat perlindungan plasma nutfah dan keanekaragaman hayati. Ruang Terbuka Hijau (RTH). Sarana estetika kota. . yaitu RTH yang berlokasi pada lahan-lahan publik atau lahan yang dimiliki oleh pemerintah (pusat. baik yang tumbuh tanaman secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. semak. Skala ruang terbuka ini lebih banyak ditentukan oleh pohon. 05 Tahun 2008 Tentang Pedoman Penyedian dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Perkotaan. yaitu RTH yang berlokasi pada lahan-lahan milik privat. ruang terbuka (open space) disebut juga sebagai natural space yang dapat mewakili alam di dalam dan sekitar kota. Pengendali pencemaran dan kerusakan tanah. 05 Tahun 2008 Tentang Pedoman Penyedian dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau. Kajian Teori Pengertian RTH Menurut Peraturan Menteri No. Status kepemilikan RTH diklasifikasikan menjadi (a) RTH publik.

pendidikan dan penyuluhan. Menumbuhkan rasa bangga dan meningkatkan prestise daerah. .         Sarana penelitian. Gambar 1 Bagan Proporsi RTH Kawasan Perkotaan (Ilustrasi) (Sumber: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Indonesia) Penyediaan RTH berdasarkan luas wilayah Penyediaan RTH berdasarkan luas wilayah di perkotaan adalah sebagai berikut:  ruang terbuka hijau di perkotaan terdiri dari RTH Publik dan RTH privat. Meningkatkan cadangan oksigen di perkotaan.Adapun manfaat penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan adalah Sarana mencerminkan identitas daerah. Sarana rekreasi aktif dan pasif serta interaksi sosial. Sarana aktivitas sosial bagi anak-anak. Sarana ruang evakuasi untuk keadaan darurat. Meningkatkan nilai ekonomi lahan perkotaan. dewasa dan manula. Memperbaiki iklim mikro. remaja.

dilakukan dengan mengalikan antara jumlah penduduk yang dilayani dengan standar luas RTH per kapita sesuai peraturan yang berlaku. 30. serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota. 120. maupun sistem ekologis lain yang dapat meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat.  proporsi RTH pada wilayah perkotaan adalah sebesar minimal 30% yang terdiri dari 20% ruang terbuka hijau publik dan 10% terdiri dari ruang terbuka hijau privat.5 Di pusat kegiatan RW 3.0 Lokasi Di tengah lingkungan RT 2. Proporsi 30% merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota. maka proporsi tersebut harus tetap dipertahankan keberadaannya. Penyediaan RTH berdasarkan jumlah penduduk Untuk menentukan luas RTH berdasarkan jumlah penduduk.3 Dikelompokkan dengan sekolah/pusat kelurahan 4.000 0.000 0. 2500 jiwa Taman RW 1. apabila luas RTH baik publik maupun privat di kota yang bersangkutan telah memiliki total luas lebih besar dari peraturan atau perundangan yang berlaku.2 Dikelompokkan dengan sekolah/pusat kecamatan . baik keseimbangan sistem hidrologi dan keseimbangan mikroklimat.000 jiwa Taman kecamatan 24. Tabel 1 Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk No Unit Lingkungan Tipe RTH Luas minimal unit (m ) 1 250 jiwa Taman RT 250 2 Luas minimal kapita (m2) 1.250 0.000 jiwa Taman Kelurahan 9.

RTH kawasan perlindungan setempat berupa RTH sempadan sungai. Pertokoan.2 0. berlaku seperti persyaratan pada RTH pekarangan rumah. sarana dan prasarana misalnya melindungi kelestarian sumber daya alam. Perkantoran.Pemakaman 5. jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi. dan RTH pengamanan sumber air baku/mata air.000 jiwa Taman Kota disesuaikan 144. pertokoan. Untuk dengan tingkat KDB 70%-90% perlu menambahkan tanaman dalam pot. pengaman pejalan kaki atau membatasi perkembangan penggunaan lahan agar fungsi utamanya tidak teganggu.000 1. . b. c. RTH sempadan pantai. Arahan Penyediaan RTH 1. RTH kategori ini meliputi: jalur hijau sempadan rel kereta api. 480.3 Tersebar Di pusat wilayah/kota Hutan Kota Disesuaikan 4. dan ditanam pada area diluar KDB yang telah ditentukan. memiliki minimal 2 (dua) pohon kecil atau sedang yang ditanam pada lahan atau pada pot berdiameter diatas 60 cm. Persyaratan penanaman pohon pada perkantoran. pertokoan dan tempat usaha dengan KDB dibawah 70%.5 Disesuaikan dengan kebutuhan Penyediaan RTH Berdasarkan Kebutuhan Fungsi Tertentu Fungsi RTH pada kategori ini adalah untuk perlindungan atau pengamanan. dan tempat usaha umumnya berupa jalur trotoar dan area parkir terbuka. Penyediaan RTH pada kawasan ini adalah sebagai berikut: a.0 Di dalam/kawasan pinggiran Untuk fungsi-fungsi tertentu Sumber: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Indonesia disesuaikan 12. RTH Halaman Perkantoran. pertokoan dan tempat usaha dengan KDB diatas 70%. dan Tempat Usaha RTH halaman perkantoran.

teras rumah. aspek pemeliharaan:   peralatan tanaman Gambar 2 Contoh Struktur Lapisan pada Roof Garden (Sumber: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Indonesia) . c. maka untuk RTH dapat memanfaatkan ruang terbuka non hijau. seperti pot dengan berbagai ukuran sesuai lahan yang tersedia. aspek keselamatan dan keamanan. Aspek yang harus diperhatikan dalam pembuatan taman atap bangunan adalah: a. lapisan kedap air (waterproofing ). e. d. atau pada kawasan-kawasan dengan kepadatan tinggi dengan lahan yang sangat terbatas. pemilihan material. Lahan dengan KDB diatas 90% seperti pada kawasan pertokoan di pusat kota. seperti atap gedung. sistem utilitas bangunan. RTH dapat disediakan pada atap bangunan. dan lain-laindengan memakai media tambahan.RTH dalam Bentuk Taman Atap Bangunan (Roof Garden) Pada kondisi luas lahan terbuka terbatas. b. g. Untuk itu bangunan harus memiliki struktur atap yang secara teknis memungkinkan. f. media tanam. struktur bangunan. teras-teras bangunan bertingkat dan disamping bangunan.

3 m2 per penduduk kota. Mendukung pelestarian dan perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia.Tanaman untuk RTH dalam bentuk taman atap bangunan adalah tanaman yang tidak terlalu besar. . Memperbaiki dan menjaga iklim mikro dan nilai estetika. tahan terhadap hembusan angin serta relatif tidak memerlukan banyak air. dengan jumlah vegetasi minimal 100 pohon dengan jarak tanam rapat tidak beraturan. yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi dan olah raga. dengan luas taman minimal 144. dan semak ditanam secara berkelompok atau menyebar berfungsi sebagai pohon pencipta iklim mikro atau sebagai pembatas antar kegiatan. Taman ini dapat berbentuk sebagai RTH (lapangan hijau). Semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum.000 penduduk dengan standar minimal 0. dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 80% . Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) seluas 90% . Hutan kota dapat berbentuk: a.100% dari luas hutan kota. b. Taman ini melayani minimal 480. Menyebar: hutan kota yang tidak mempunyai pola bentuk tertentu. c.90%. Bergerombol atau menumpuk: hutan kota dengan komunitas vegetasi terkonsentrasi pada satu areal. dengan luas minimal 2500 m. Komunitas vegetasi tumbuh menyebar terpencar-pencar dalam bentuk rumpun atau gerombol-gerombol kecil. Hutan Kota Tujuan penyelenggaraan hutan kota adalah sebagai peyangga lingkungan kota yang berfungsi untuk: a. Menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota. b. b.000 m2. dengan perakaran yang mampu tumbuh dengan baik pada media tanam yang terbatas. Kota/Perkotaan a. Jenis vegetasi yang dipilih berupa pohon tahunan. dan d. Meresapkan air. RTH Taman Kota RTH Taman kota adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kota atau bagian wilayah kota. c. perdu.

daerah rendah dengan drainase yang kurang baik sering tergenang air hujan yang dapat mengganggu aktivitas kota serta menjadi sarang nyamuk. untuk membangun sabuk hijau yang berfungsi sebagai penahan angin perlu diperhitungkan beberapa faktor yang meliputi panjang jalur. Sabuk hijau dapat berbentuk:    RTH yang memanjang mengikuti batas-batas area atau penggunaan dipenuhi pepohonan. Lebar minimal hutan kota berbentuk jalur adalah 30 m. Sabuk Hijau Sabuk hijau merupakan RTH yang berfungsi sebagai daerah penyangga dan untuk membatasi perkembangan suatu penggunaan lahan (batas kota. Penapis cahaya silau. Struktur hutan kota dapat terdiri dari: a. pemisah kawasan. Penahan angin. Hutan kota. serta pengamanan dari faktor lingkungan sekitarnya. pesawahan. c. jalan. dipertahankan keberadaannya. yang telah ada sebelumnya (eksisting) dan melalui peraturan yang berketetapan hukum. juga terdapat semak dan penutup tanah dengan jarak tanam tidak beraturan. . lahan tertentu. Fungsi lingkungan sabuk hijau:      Peredam kebisingan. saluran dan lain sebagainya.d. sehingga berperan sebagai pembatas atau pemisah. yaitu memiliki komunitas tumbuh-tumbuhan selain terdiri dari pepohonan dan rumput. b. pantai. yaitu hanya memiliki komunitas tumbuh-tumbuhan pepohonan dan rumput. perkebunan. dan lainlain) atau membatasi aktivitas satu dengan aktivitas lainnya agar tidak saling mengganggu. Hutan kota berstrata banyak. Mengurangi efek pemanasan yang diakibatkan oleh radiasi energi matahari. Kebun campuran. Mengatasi penggenangan. Hutan kota berstrata dua. Berbentuk jalur: hutan kota pada lahan-lahan berbentuk jalur mengikuti bentukan sungai. lebar jalur.

. tanaman tidak berakar dalam sehingga mampu tumbuh baik dalam pot atau bak tanaman. dan Tempat Usaha. d. h. Halaman Perkantoran. perakaran dan pertumbuhan batang yang tidak mengganggu struktur bangunan. b. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang kehadiran burung. Pekarangan Rumah Kecil. Pertokoan. relatif tahan terhadap kekurangan air. e. g. sehingga akan meningkatkan jumlah air tanah yang akan menahan perembesan air laut ke daratan. memiliki nilai estetika yang menonjol.    Penyerap dan penepis bau. c. tidak beracun. Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan Rumah Besar. b. d. mudah dalam pemeliharaan. jenis tanaman tahunan atau musiman. Mengatasi penggurunan. c. Mengatasi intrusi air laut. tahan terhadap hama penyakit tanaman. warna hijau dengan variasi warna lain seimbang. RTH hijau di dalam kota akan meningkatkan resapan air. tahan dan tumbuh baik pada temperatur lingkungan yang tinggi. dahan tidak mudah patah. b. Mengamankan pantai dan membentuk daratan. tidak berduri. f. Pekarangan Rumah Sedang. sistem perakaran masuk ke dalam tanah. tidak merusak konstruksi dan bangunan. perakaran tidak mengganggu pondasi. ketinggian tanaman bervariasi. Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a. Kriteria Vegetasi RTH a. mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. e. Kriteria Vegetasi untuk Taman Atap Bangunan dan Tanaman dalam Pot Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a.

jarak tanam setengah rapat sehingga menghasilkan keteduhan yang optimal. e. g. j. mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. tidak beracun. f. tajuk cukup rindang dan kompak. k.Tabel 2 Contoh Tanaman untuk Roof Garden Sumber: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Indonesia Kriteria Vegetasi untuk RTH Taman dan Taman Kota Kriteria pemilihan vegetasi untuk taman lingkungan dan taman kota adalah sebagai berikut: a. c. . d. jenis tanaman tahunan atau musiman. ketinggian tanaman bervariasi. tidak berduri. berupa habitat tanaman lokal dan tanaman budidaya. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung. warna hijau dengan variasi warna lain seimbang. perakaran tidak mengganggu pondasi. tahan terhadap hama penyakit tanaman. dahan tidak mudah patah. perawakan dan bentuk tajuk cukup indah. tetapi tidak terlalu gelap. b. i. kecepatan tumbuh sedang. h.

batang tegak kuat.Tabel 3 Contoh Pohon untuk Taman Lingkungan dan Taman Kota Sumber: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Indonesia Kriteria Vegetasi untuk Hutan Kota Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a. j. e. agar tumbuhan lain dapat tumbuh baik sebagai penutup tanah. . tidak mudah patah. tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor dan industri. tajuk cukup rindang dan kompak. l. f. sistem perakaran yang kuat sehingga mampu mencegah terjadinya longsor. toleran terhadap keterbatasan sinar matahari dan air. i. k. berumur panjang. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang kehadiran burung. c. seresah yang dihasilkan cukup banyak dan tidak bersifat alelopati. b. g. memiliki ketinggian yang bervariasi. mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. h. tahan terhadap hama penyakit. d. batang dan sistem percabangan kuat.

memiliki perakaran yang dalam.  Ameliorasi iklim mikro. Kriteria Vegetasi untuk Sabuk Hijau Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut:  Peredam kebisingan. hal tersebut disebabkan terjadinya perubahan fungsi yang semula berupa lahan terbuka menjadi terbangun untuk berbagai keperluan seperti perumahan. Mengatasi penggenangan. namun jumlah total taman kota (berdasarkan pengertian taman sesuai kriteria yang disusun) di Kota Bandung saat ini berkurang sebesar 2.   Penapis cahaya silau. pertokoan. kantor. Pemilihan vegetasi berdaun rapat berukuran relatif besar dan tebal dapat meredam kebisingan lebih baik. banjir dan berbagai dampak negatif lingkungan lainnya (PPSDAL-UNPAD. 2003). tumbuhan berukuran tinggi dengan luasan area yang cukup dapat mengurangi efek pemanasan yang diakibatkan oleh radiasi energi matahari. n. Kondisi RTH di Kota Bandung Luas ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Bandung setiap tahun semakin berkurang.44% yaitu dari 450 taman pada tahun 2002 menjadi 439 taman pada tahun 2003. Disamping ini semakin terbatasnya RTH juga berpengaruh terhadap peningkatan iklim mikro. Fakta mengenai ruang terbuka hijau di Bandung:  Dari 123 taman baru yang tidak tercatat pada data 2002. dan lain-lain. jenis tanaman yang ditanam termasuk golongan evergreen bukan dari golongan tanaman yang menggugurkan daun (decidous).Penurunan jumlah taman tersebut disebabkan karena tidak dimasukannya sejumlah taman yang tercatat pada tahun 2002 karena sebenarnya tidak . Semakin sempitnya RTH. pencemaran udara.m. industri. peletakan tanaman yang diatur sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi dan menyerap cahaya. 2. khususnya taman dapat menimbulkan munculnya kerawanan dan penyakit sosial sifat individualistik dan ketidakpedulian terhadap lingkungan yang sering ditemukan di masyarakat perkotaan. untuk fungsi ini dipilih penanaman dengan vegetasi berdaun rapat.

118. maka pemenuhan taman bagi warga kota Bandung baru mencapai sekitar 0. ternyata tidak seluruhnya potensial sebagai lahan yang dapat menyerap air.6 ha. melainkan berbeda sesuai dengan karakteristik pola penanaman dan jenis tanamannya serta jenis RTH/tamannya masing-masing.09 ha (34. dan sekurangkurangnya terdapat 18 jenis tanaman yang termasuk kategori tanaman langka.  Jumlah total jenis tanaman di taman tercatat 193 jenis yang terdiri dari 98 jenis pohon dan 95 jenis tanaman hias. sekurangkurangnya terdapat 8 jenis tanaman yang diindikasikan masuk ke dalamkelompok jenis pohon yang mampu menyerap zat pencemar di udara. serta adanya taman yang hilang/beribah fungsi.54 dan di Karees 2. Ratio jumlah taman per 100 ha area di Cibeunying adalah 3. Rencana dan Program Pembangunan RTHK.290. sehingga telah mengakibatkan pembangunan dan pengelolaan taman tidak berjalan dengan baik. Hal ini diindikasikan dari menurunnya . proporsi taman saat ini baru mencapai 4. Bila dibandingkan dengan totalluas kota (167. Proporsi luastaman terhadap luas wilayahnya juga menunjukkan perbedaan yang sangat tinggi.  Pola sebaran jumlah dan luas taman disetiap wilayah tidak merata.8% sedangkan di 4 wilayah lain antara 7. karena seluas 28.2% .07% dari kebutuhan luas taman ideal.07.  Kebijakan.  Dari 439 taman dengan total luas 80.729 ha).masuk dalam kategori taman yang bukan berfungsi sebagai fasilitas umum dan fasilitas sosial.86% .4 ha.9%) berupa lahan yang diperkeras (open space).5 m2 /orang. Dari 98 jenis pohon.13 sedangkan 4 wilayah lain dibawah 1.  Fungsi ekologis tanaman dan RTH/taman dari setiap taman tidak dapat disamaratakan.25. Kelurahan) masih terdapat jenis tanaman yang kurang sesuai karena dapat membahayakan pengguna taman atau terdapat jenis yang mudah rusak karena kegiatan masyarakat didalam taman.  Bila mengacu pada ratio styandar ideal menurut Lancashire Country Council yaitu 7 – 11. sedangkan luas lahan terbukanya (green space) adalah 50. Dengan demikian jumlah total luas taman di Kota Bandung juga menurun dari 1. Secara umum pola penanaman tanaman di taman jalan dan taman kota telah menunjukan kesesuaian antara jenis tanaman yang ditaman dengan peruntukan tamannya.5%.000 m2 atau 16. RW. khususnya Taman di Kota Bandung masih belum jelas.8%. Sedangkan untuk taman lingkungan (RT.965 ha pada tahun 2003.43 m2 /orang atau 3. di wilayah Cibeunying dan Gedebage proporsinya antara 22.2% .6.16.855 ha pada tahun 2002 menjadi 803.

maka terdapat peran lain yang dapat dilakukan oleh swasta. Untuk mencapai peran tersebut. Mengupayakan bantuan pendanaan bagi masyarakat dalam realisasi pelibatan dalam pemanfaatan dan pemeliharaan ruang terbuka hijau. swasta dan masyarakat untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan penyusunan RTH perkotaan.24 hektar dari total luas wilayah Kota Bandung. serta adanya keluhan masyarakat tentang akses terhadap RTH/taman serta terbatas/menyusutnya RTH/taman seperti yang tertuang pada Agenda 21 Kota Bandung. Peran swasta yang diharapkan dalam pemanfaatan ruang perkotaan sama seperti peran yang diharapkan dari masyarakat. Kegiatan ini dapat berupa pemberian pelatihan pembangunan ruang terbuka hijau maupun dengan proses diskusi dan seminar. d. Bekerjasama dengan pemerintah dan masyarakat dalam membangun dan memelihara ruang terbuka hijau. RTH Kota Bandung baru mencapai 8. Hingga tahun 2008. Berperan aktif dalam diskusi dan proses pembangunan sehubungan dengan pembentukan kebijakan publik dan proses pelibatan masyarakat dan swasta yang terkait dengan pembangunan ruang terbuka hijau. 3. . terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pihak swasta: a. Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian. e. dan sebagainya) dengan areal yang luas perlu menyertakan konsep pembangunan ruang terbuka hijau.jumlah dan luas taman. Pihak swasta yang akan membangun lokasi usaha (mall. karena swasta memiliki karakteristik yang berbeda dengan masyarakat umum. Peran Swasta dalam Penyediaan RTH di Kota Bandung Swasta merupakan pelaku pembangunan penting dalam pemanfaatan ruang perkotaan dan ruang terbuka hijau.484. yaitu untuk tidak saja menekankan pada tujuan ekonomi. Terutama karena kemampuan kewirausahaan yang mereka miliki.87 persen atau sekitar 1. namun juga sosial dan lingkungan dalam memanfaatkan ruang perkotaan. masih banyaknya tanaman yang kurang terawat. Namun. plaza. c. b. f. Menfasilitasi proses pembelajaran kerjasama pemerintah.

Taman Kota Pihak yang memiliki peran lebih dalam lembaga pengelola RTH tipe ini adalah Unsur Pemerintah sebagai perencana dan sekaligus pengelola. Pada Taman rekreasi yang bersifat profit. Taman Rekreasi Terdapat dua tipe taman rekreasi berdasarkan pengelolaannya yaitu taman rekreasi yang bersifat non-profit biasanya dikelola oleh pemerintah dan taman rekreasi yang bersifat profit biasanya dikelola oleh swasta/masyarakat. Pengelolaan selanjutnya dapat dilakukan oleh masyarakat atau pihak swasta. 3. peran pemerintah hanya sedikit.Keterlibatan swasta dalam penyediaan RTH bermacam macam tergantung jenis RTH. Peran masyarakat umum adalah ikut serta menjaga dan memelihara kebersihan dan keindahan taman kota. Tetapi bisa juga hanya proses perencanaan dan pembangunannya saja. Keuntungan dari pihak swasta sebagai pengelola dapat berupa pemanfaatan beberapa area untuk keperluan promosi dengan tanpa mengurangi estetika dan kenyamanan pengunjung. pelaksanaan sampai dengan pemeliharaan dan perlindungan. . Keterlibatan pemerintah pada taman rekreasi yang bersifat non-profit bisa menyeluruh mulai perencanaan. Taman Wisata Alam Keterlibatan pemerintah dalam tipologi ini biasanya hanya sebagai perencana saja. Keuntungan yang dapat diambil oleh pihak swasta adalah tersedianya space untuk promosi dengan tanpa mengurangi estetika dari tama itu sendiri. ikut serta menjaga kebersihan dan keamanan taman wisata alam tersebut. Peran masyarakat umum sebagai menerima manfaat pada tipe jenis dapat ikut terlibat dalam lembaga pengelola atau pun hanya sebagai partisipan saja. Keterlibatan Pihak Swasta pada tipe ini dapat berupa penyediaan sarana-prasarana pendukung dan pemeliharaannya. Peran tersebut dapat berupa regulasi atau perencanaan saja. 2. Peran swasta sebagai pengelola dituntut lebih intensif dalam tipologi ini karena taman wisata biasanya sudah bersifat profit oriented. Pengelolaan Taman Wisata Alam biasanya dilimpahkan pada pihak Swasta. Peran masyarakat sebagai penikmat jasa. Pengelolaan selanjutnya dilakukan oleh pihak yang diberikan wewenang untuk mengelola taman rekreasi tersebut. diantaranya sebagai berikut 1.

4. Pelestarian dan pengelolaan tipologi RTH seperti ini adalah tanggung jawa pengelola Kebun Binatang. Pemerintah dapat memberikan reward bagi pengelola yang dapat memelihara dan mempertahankan kelestarian taman lingkungan di perkantoran dan gedungnya masing-masing. Peran pemerintah dalam lingkup keci (RT/RW. Kebun Binatang Kebun Binatang merupakan tipe RTH yang berfungsi sebagai tempat rekreasi / tujuan wisata. Ruang Terbuka Hijau merupakan bagian dari pelayanan pihak pengelola terhadap masyarakat . Kelurahan) berperan dalam mengkoordinir kegiatan-kegiatan yang ada di lingkungan tersebut. Taman Perkantoran/ Gedung Komersial Pengelolaan taman lingkungan perkantoran dan gedung komersial merupakan tanggung jawab pengelola perkantoran dan gedung tersebut. 5. Peran serta masyarakat dalam hal ini adalah secara tidak langsung dari konstribusi yang mereka bayarkan pada saat mengunjungi kebun binatang dan ikut menjaga RTH kebun binatang dengan tidak merusak/mengotori RTH kebun binatang. Taman Lingkungan Keberadaan taman di lingkungan perumahan dan permukiman selain memiliki nilai estetis juga memiliki fungsi ekologis yang sangat bermanfaat bagi semua warga penghuni perumahan dan pemukiman tersebut. Masyarakat sebagai penghuni berperan dalam menjaga dan memelihara taman lingkungan tersebut. Pengelolaannya biasanya dikelola oleh pihak pemerintah (BUMD/BUMN) maupun swasta. Pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan tipologi RTH ini adalah Swasta sebagai pengembang kompleks perumahan dan pemukiman berperan dalam perencanaan dan pembangunan Taman Lingkungan. Peran serta masyarakat sekitar sebagai penerima manfaat dapat berupa partisipasi aktif dengan turut serta menjaga dan memelihara taman lingkungan tersebut. Sebagian keuntungan yang diperoleh dari pengelolaan kebun binatang disalurkan untuk pemeliharaan ruang terbuka hijau yang ada di kawasan tersebut. Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau pada area parkir merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pengelolaan area parkir itu sendiri. 6. 7. Parkir Pengelolaan Ruang Terbuka hijau pada area parkir terbuka merupakan tanggung jawab pengelola area parkir tersebut.

tetapi pemeliharaan dan pengamanan adalah tanggung jawab bersama masyarakat penghuninya. Berdasarkan sumber-sumber anggaran tersebut. maka untuk mempermudah dan mengefektifkan proses kelembagaan dalam pembangunannya akan menyesuaikan dengan struktur pemerintahan di wilayah setempat/lokal. maka pembangunan dan pemeliharaannya menjadi tanggung jawab bersama masyarakat dengan pembinaan Lurah. Peran masyarakat pengguna adalah ikut menjaga dan tidak merusak RTH pada area parkir terbuka. Pembangunan RTH privat ruang publik di sekitar bangunan perusahaan baik BUMN. BUMS maupun BUMD. walaupun secara keselauruhan wilayah kota tetap bertanggung jawab secara berjenjang kepada Walikota. Mengingat calon lokasi RTH dimungkinkan lokasinya tersebar dan berbeda tipologinya dari suatu wilayah perkotaan sampai kelurahan. Para pihak eksekutor sebagaimana tersebut di atas perlu berkoordinasi dengan dinas teknis yang terkait dalam hal penentuan jenis bibit. Mekanisme pembiayaan untuk pembangunan RTH di wilayah kota dapat berupa bantuan dari anggaran APBN. Ketua RW/RT setempat. untuk suatu komplek perumahan. hal ini sudah menjadi kewajiban dan bagian dari IMB yang mengharuskan sebagian arealnya untuk RTH. kewajiban pembangunan memang menjadi bagian dari pengembang. mekanisme pengalokasian anggaran untuk pembangunan suatu RTH akan berbeda-beda. Pelaksana pembangunan. APBD Kota maupun sumber lainnya yang sah.pengguna jasa perparkiran. teknis penanaman hingga pemeliharaan. Pemerintah menganggarkan pembiayaan untuk pembangunan dan pengelolaan RTH melalui alokasi anggaran pada APBD. antara lain dapat berupa keproyekan. Pihak swasta dapat menganggarkan dana untuk pengelolaan RTH sebagai bagian dari program CSR (Corporate Social Responsibility) yang . Sedangkan hirarki dengan Lurah atau Camat adalah dalam hal proses perijinan sebagai bahan untuk database RTH di wilayah kelurahan atau kecamatan untuk dilaporkan lebih lanjut kepada Walikota sebagai bahan evaluasi ke depan. hibah dari pihak lain/donor. pemeliharaan maupun pengamanan RTH di wilayah kota bertanggung jawab kepada Walikota dan pada tahapan perencanan harus selalu berkoordinasi dengan pihak Bappeda atau Dinas Tata Kota dalam kaitannya dengan pemaduserasian calon lokasi RTH dengan RUTRK sehingga menjadi sesuai peruntukkannya. APBD provinsi. program CSR pihak perusahaan maupun swadaya masyarakat. Sedangkan RTH publik di wilayah RW/RT diluar komplek perumahan yang dibangun pengembang. Pembangunan RTH publik di sekitar permukiman.

Pada awalnya kawasan bersejarah dengan taman yang berusia lebih dari 100 tahun ini mengalami degradasi fungsi yang cukup parah dan dikenal sebagai pusat pengguna narkoba serta mempunyai angka kriminalitas tinggi yang berakibat pada menurunnya okupansi beberapa gedung perkantoran dan perdagangan. dengan luas 6 acre. Selanjutnya setelah dua tahun sejak dibuka kembali. kios temporer dan even-even publik angka kriminalitas berkurang sebanyak 92 persen. Masyarakat dalam hal ini berperan mengelola RTH baik dari segi pembiayaan (penggalangan dana masyarakat) dan pengelolaan fisik di lapangan. sebagian besar RTH di kota bandung justru menjadi polemic dengan adanya kativitas negatif yang terjadi di ruang publik seperti kriminalitas yang justru menimbulkan dampak yang tidak baik. Contohnya RTH di alun-alun Kota bandung menjadi sarang PKL dan pada malam hari menjadi tempat berkumpulnya wanita tuna susila. RTH juga sering kali menjadi tempat berkumpulnya kelompok-kelompok negatif yang memberikan ketidaknyamanan terhadap pengguna RTH lainnya. Best Practice  Bryant Park New York Bryant Park New York merupakan salah satu taman (park) yang berhasil dalam pengelolaan ruang publik dan telah berfungsi sebagai katalis urban di tengah Kota New York. namun dalam pemanfaatannya sering kali menyimpang. diprogram dan dibiayai secara privat. Revitalisasi kawasan bersejarah Kota New York menitik beratkan pada perbaikan Brant Park.merupakan salah satu tanggung jawab sosial perusahaan/swasta terhadap lingkungan sekitarnya. perusahaan non profit yang mengaplikasikan manajemen perusahaan. yang terletak didepan perpustakaan publik New York dengan langkah awal mendirikan Bryant Park Restoration Corporation (BPRC). Permasalahan RTH Ruang tebuka hijau di kota bandung banyak jumlahnya. dengan mengaplikasikan keamanan taman. Strategi pengelolaan kawasan oleh BPRS dengan memperhatikan pada detail-detail taman termasuk menghias pembatas . Pada tahun 1987. angka penyewaan ruang perkantoran disekitar kawasan meningkat 60% dan pada tahun 1988 kontrak 15 tahun ruang komersial ditandatangani. Pembiayaan lain yang berasal dari hibah atau swadaya masyarakat dimungkinkan dalam pengelolaan RTH terutama RTH yang dikelola langsung oleh masyarakat. Pada tahun 1992 pengelolaan taman ini telah mempunyai anggaran enam kali lebih besar saat dikelola oleh pemerintah kota.

desain dan semua elemen yang ada mensuport bervariasi aktivitas dan penggunaan untuk pekerja. air mancur. Pengembangan kawasan cukup berhasil menciptakan kenyamanan dengan vegetasi serta aktivitas dan even yang beragam mampu menarik pengunjung secara terus menerus dan membuat kawasan lebih hidup. Berdasarkan program dan hasil yang didapat Bryant Park sampai saat ini. taman mampu menampung 5000 pekerja dan 20000 pengunjung dalam sehari. Pada tahun 2002. memilih ukuran gravel untuk promenade. koran dan makanan Sejak direstorasi tahun 1980. .pedestrian menuju taman. Gambar 3 Salah satu pintu masuk ke dalam Bryant Park. tinggal disekitar atau sekedar berkunjung pada kawasan dengan menyediakan ruang berumput dikelilingi pedestrian dan pepohonan. lembaga Trust Public Land dan Urban Place Consulting Groups Inc. makanan kecil dan koran menyambut pengunjung di pintu masuk taman. kursi. Delapan kios kopi. backgammon dan petangue. dan mendesain tempat sampah. Masyarakat disediakan fasilitas kios-kios majalah. Bryant Park menyediakan hot-spot internet gratis bagi pengguna taman. berbelanja. carousel dan area persewaan permainan catur. Beberapa fasilitas kenyamanan diantaranya bangku. kios dan struktur lainnya. menempatkan Bryant Park sebagai salah satu katalis urban yang berhasil mendorong pembangunan disekitarnya. Selama jam makan siang.

Untuk mengakomodasi semua kegiatan tersebut. Kerjasama dilakukan dengan jaringan televisi dan perusahaan lainnya termasuk HBO yang menyedia-kan televisi layar lebar untuk menayangkan tampilan olahraga maupun film seri malam hari. Selain itu BPRC juga menyewakan ruang kota untuk kegiatan/even publik dan privat diantaranya carousel yang banyak digunakan untuk pesta ulang tahun. berbagai program dilaksanakan dengan target tidak saja para pekerja kantor (yang banyak disekitar lokasi) namun juga berbagai umur (anak-anak dan pensiunan) dan latar belakang. Even diadakan secara kontinyu berupa festival. . di taman mempunyai keamanan 24 jam dengan petugas keamanan sendiri maupun polisi serta petugas BPRC berseragam yang siap melayani sepanjang waktu. pemeliharaan dan pemasaran usaha bisnis berkaitan penggunaan taman. keamanan. Untuk tetap menjaga banyaknya jumlah pengunjung secara terus menerus. konser. film malam yang dapat dinikmati secara gratis dan terbuka bagi semua orang.Gambar 4 Fasilitas catur dan permainan lainnya yang diperuntukkan bagi segala usia dari balita sampai manula juga penyandang cacat BPRC bertanggung jawab penuh terhadap aktivitas dan event.

id/2010/05/bryantpark-new-york/ [online].Daftar Pustaka Adie.blogspot. L. Medha. “Ringkasan Eksekutif Pengkajian Pola Penghijauan di Kota Bandung”. http://www.pdf [online].net/taru/ upload/nspk/pedoman/RTH/9.Bab4.ac. Diakses tanggal: 22 Mei 2011 Emerton. 2009. Best Practice Protected Areas Guidelines Serries Number 13. “Fungsi dan Manfaat Ruang Terbuka Hijau”. Diakses tanggal: 22 Mei 2011 Prosedur perencanaan dan peran masyarakat http://www. 2003.ub. 97 pp. Diakses Tanggal: 22 Mei 2011 PPSDAL-UNPAD. 2006. Bishop and L. J. Thomas. Diakses tanggal: 22 Mei 2011 Baskara. Sustainable Financing of Protected Areas : A Global Review of Challenges and Options. 2010.bandung. Switzerland. http://aulipad. Dimas. http://medha.id/images/ragaminfo/penghijauan.penataanruang. Kelembagaan dan pembiayaan RTH. Gland. The World Conservation Union (IUCN). http://semuatentangkota.pdf [online]. Diakses tanggal: 22 Mei 2011 . Bryant Park New York..com/ [online].com/2009/04/fungsi-dan-manfaat-ruang-terbuka-hijau.lecture.html [online].wordpress.go.

KTW 328-Analisis Kebijakan Publik Keterlibatan Swasta dalam Pengadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Kuliah Analisis Kebijakan Publik Oleh : Sekar Pandanwangi Bunga Hanifitriane Sabrina Witanti Nur Utami Annisa Ayu.A Mailia Dwi Astuti Astriana M Asbanu Mikaela Tien Muyaan Nova Mandasari Mariana Iftisan Jerry Alfajri Amrifa (24-2008-003) (24-2008-007) (24-2008-008) (24-2008-012) (24-2008-013) (24-2008-018) (24-2008-019) (24-2008-020) (24-2008-021) (24-2008-026) INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN JURUSAN TEKNIK PLANOLOGI BANDUNG 2011 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.