“PELAYANAN KEPADA KAUM HOMOSEKS” ( Oleh : Pdt.

Bob McKigney, mantan Homoseks )

Apakah seseorang yang melakukan kegiatan homoseksualitas (baik homoseks maupun lesbian) adalah orang yang memang lahir sebagai homoseks ? Apakah faktor genetik bertanggung jawab dalam gaya hidup seperti ini ? Ataukah ini merupakan suatu pilihan yang dibuat oleh seseorang ? Apakah memang sudah takdir seseorang harus menjalani kehidupan sebagai seorang homoseks, atau adakah pertolongan bagi mereka ? Berbagai kontroversi terhadap hal ini telah lama bermunculan, dengan para pendukung yang masing-masing merasa memiliki kebenaran sendiri. Akan tetapi, sebagai seorang yang pernah menjalani kehidupan sebagai homoseks, saya tahu persis bahwa perilaku homoseksual adalah suatu pilihan yang dapat dikembalikan kepada hakikat manusia yang sesungguhnya. Alkitab mengajarkan bahwa kita diciptakan segambar dengan Allah . “ Jawab Yesus : “ Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan ?” ( Mat 19:4-TB). Ketika Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan, Ia menempatkan berkat ke atas mereka dengan berkata, “ Beranak cuculah dan bertambah banyak” ( Kej 1:28 –TB) Akan tetapi, dalam tahun-tahun belakangan ini, tuntutan terhadap pernikahan sah homoseks dan perilaku kaum homoseks dijalankan secara normal. Mereka menuntut perbedaan karena apa yang mereka sebut sebagai “ orientasi seksual”. Mereka mengakui bahwa ini merupakan orientasi pemberian Tuhan, meskipun orang tidak mendukung pemikiran mereka ini.

“ Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka. Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab istri-istri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suamisuami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan istri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka” ( Roma 1: 24,26,27-TB)

Alkitab Menyebutnya Dosa Ketika kita memandang homoseksual melalui kacamata Alkitab, maka kita temukan bahwa Alkitab menyebutnya sebagai dosa. “Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit,pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita” ( 1 Kor 6:9-11-TB) Jika manusia tidak dilahirkan sebagai homoseks, bagaimana dan mengapa mereka terlibat dalam pola hidup seperti itu ? Meskipun banyak sebab yang mempengaruhi keadaan ini, tetapi satu alasan yang paling dalam sehingga orang dapat menjadi seorang homoseks adalah karena kesalahan atau tidak berfungsinya lingkungan keluarga secara baik. Luka yang mereka alami dalam keluarga sering mengakibatkan rendahnya harga diri, kemarahan, rasa bersalah, merasa tidak terampuni, depresi, dan rasa rendah diri atau malu. Orang yang mengalami penderitaan sebagai akibat dari satu sisi negatif tidak berfungsinya keluarga secara optimal dapat mengalami sejumlah rasa kecanduan akan sesuatu hal. Homoseksual adalah salah satu dari bentuk kecanduan itu. Sikap menekan dari seorang ibu yang dominan dalam rumah tangga dan memiliki seorang ayah yang secara fisik hadir di dalam rumah, tetapi secara emosional tidak, secara langsung mengarahkan saya untuk terlibat dalam kehidupan homoseksual selama 17 tahun. Berusaha untuk mengatasi penderitaan emosi sering memimpin kepada keterlibatan dalam hubungan seksual, baik homoseksual maupun heteroseksual.

Kaum Homoseks Harus Mau Keluar Dari Perangkap Mereka yang terkurung dalam perangkap homoseksual harus mau menjadi bebas sebelum mereka dapat mengubah gaya hidup mereka. Keselamatan adalah langkah pertama. Setelah saya menjadi seorang Kristen, saya mulai menghadiri suatu kelompok persekutuan Kristen, sebab saya sadar bahwa saya bukanlah satu-satunya orang yang sedang berusaha untuk keluar dari pola hidup seperti ini. Saya dimampukan untuk jujur terhadap diri sendiri, membagi penderitaan saya dengan orang lain, dan menemukan kebebasan yang sejati. Saya juga mendapat konseling pribadi dari pemimpin persekutuan Keterbukaan dan kejujuran dalam kelompok persekutuan baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain, menjadi tanggung jawab bersama. Hal ini penting, bukan untuk membenarkan perbuatan anggota persekutuan, tetapi untuk mencari jalan keluar yang baik. Alkitab berkata, “ Kita yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri “ ( Roma 15:1). Dan kita harus mengajar “…. mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” ( Mat 28:20 –TB). Kita seharusnya tidak menghindar untuk melayani mereka yang terperangkap dalam kehidupan homoseks. Alkitab Firman Allah menjanjikan pemulihan. Tuhan adalah Dia yang “ menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka “ ( Maz 147:3-TB). Homoseksual dapat diatasi melalui Kristus, dan gereja adalah kepanjangan tangan Kristus untuk menjangkau orang-orang seperti ini.

Tujuannya Bukanlah Supaya Mereka Berbuat Sesuai dengan Kehendak Kita. Inilah tujuannya. Dalam kenyataan, para hamba Tuhan mantan gay (Homoseks) melaporkan bahwa 85 % para konseli adalah berasal dari gereja. Bukankah semata-mata banyak gereja yang tidak diperlengkapi sebelumnya untuk melayani mereka yang terlibat dalam kehidupan homoseksual, tetapi sering sesama orang percaya tidak berhati-hati dengan perkataan mereka ketika menunjuk kepada mereka yang terkurung dalam perangkap gaya hidup homoseks. Sikap demikian tidak hanya membuat keraguan dalam diri orang percaya berbagi pengalaman dengan sesama jemaat lokal berkenan dengan cara mereka berjuang mengatasi masalah ini. Tetapi, sikap seperti ini juga menciptakan suatu dinding pembatas yang menghalangi mereka yang sangat membutuhkan pertolongan dan dukungan gereja ( pastoral dan konseling ) Gereja harus membuka mata terhadap masalah homoseksual dan mau menjangkau mereka dalam sikap memaafkan. Jika kita hanya menyatakan dosa homoseksual dan bukan

memberikan jalan keluar yang hanya dapat ditemukan di dalam Yesus Kristus, maka kita tidak memenuhi Amanat Agung Kristus, “ Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu”.

Catatan : Pendeta Bob McKigney dimampukan Tuhan Yesus Kristus untuk menjangkau bukan saja kaum homoseks, tetapi juga para pecandu obat terlarang (narkoba) maupun minuman keras, dan mereka yang memiliki keterlambatan perkembangan jiwa sehingga tidak dapat diajar secara normal karena kehidupan keluarga yang tidak harmonis.