BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Konsep Bedside Teaching

2.1.1 Pengertian Bedside Teaching Bedside teaching merupakan metode mengajar kepada peserta didik, yang aktivitasnya dilakukan di samping tempat tidur klien dan meliputi kegiatan mempelajari kondisi klien dan asuhan keperawatan yang dibutuhkan klien (Nursalam, 2007). 2.1.2 Manfaat Agar pembimbing klinik dapat mengajarkan dan mendidik peserta didik untuk menguasai keterampilan prosedural, menumbuhkan sikap profesional, mempelajari perkembangan biologis/fisik, melakukan komunikasi dan

pengamatan langsung (Nursalam, 2007). Bedside teaching juga memberikan kesempatan pembimbing klinik mengobservasi keterampilan klinik peserta didik dan memberikan umpan balik yang langsung dan segera kepada peserta didik. Selain itu dapat dilaksanakan pada hampir semua klien, baik yang menjalani rawat inap maupun rawat jalan (http://www.ucimc.netouch.com). Pembelajaran bedside teaching memungkinkan peserta didik belajar sambil melakukan sendiri, sehingga hal ini sesuai dengan pepatah: ‘Apa yang saya dengar, saya lupa; Apa yang saya lihat, saya ingat; Apa yang saya lakukan, saya tahu’. 2.1.3 Persiapan (Nursalam, 2007; http://www.ucimc.netouch.com) 2.1.3.1 Pembimbing 1) Berkoordinasi dengan staf di klinik agar tidak mengganggu jalannya rutinitas perawatan klien.

6

7

2) 3)

Mempersiapkan diri menjadi model peran profesional bagi peserta didik. Diperlukan untuk menjadi pembimbing yang efektif dan efisien, serta memiliki keahlian dan keterampilan dalam melaksanakan tindakan dan prosedur keperawatan.

4)

Membuat tujuan tiap sesi pembelajaran, misalnya keterampilan klinik yang harus dicapai peserta didik.

2.1.3.2 Peserta Didik 1) Peserta didik mampu menggunakan dirinya secara efektif, artinya dapat mengoptimalkan penggunaan kekuatannya dan meminimalkan pengaruh kelemahan yang ada pada dirinya. 2) Peserta didik mempersiapkan diri untuk menghadapi kasus yang akan dikelolanya. 3) (1) (2) Peserta didik memahami persiapan teknikal yang harus dilalui: Peserta didik mengikuti pembelajaran bedside teaching. Peserta didik melakukan keterampilan teknik prosedural langsung di bawah supervisi pembimbing klinik. (3) Peserta didik melakukan keterampilan secara mandiri tanpa kehadiran pembimbing klinik. 2.1.3.3 Sarana dan Prasarana 1) 2) Melengkapi fasilitas/prasarana yang akan digunakan. Jika dibutuhkan persiapkan tempat konferensi khusus, atau ruangan yang disepakati untuk melakukan pre dan post conference. 2.1.3.4 Persiapan Klien 1) Perkenalkan diri (pembimbing dan peserta didik) kepada klien.

1. http://www. 3) Kaji pemahaman peserta didik sesegera mungkin terhadap apa yang didapatnya saat itu. Jelaskan pada klien bahwa klien boleh berpartisipasi dalam pelaksanaan kegiatan.ucimc.4 Prinsip Pelaksanaan (Nursalam. Persiapkan klien dan jelaskan tujuan pertemuan. Diskusi pada awal dan paska demonstrasi di depan klien dilakukan seminimal mungkin.5 Fase-Fase Pelaksanaan (Nursalam. tujuan spesifik yang ingin dicapai oleh peserta didik dan kriteria evaluasi. 2. yang meliputi: menanyakan pengetahuan dan pengalaman peserta didik sebelumnya. 2) Persiapkan peserta didik sebelum bertemu dengan klien. 3) 4) Berikan peserta didik penjelasan tentang pedoman pelaksanan.1 Pre-Conference/Briefing 1) Menentukan kasus yang akan dihadapi.netouch. .com) 2.1. menanyakan permasalahan peserta didik yang memerlukan bantuan pembimbing.5. 4) Kegiatan didemonstrasikan adalah sesuatu yang belum pernah diperoleh peserta didik sebelumnya. 2007): 1) 2) Jumlah peserta didik dibatasi (ideal 5-6 orang). 2. 2007. atau apabila peserta didik menghadapi kesulitan menerapkan.1.8 2) 3) Jelaskan tujuan pertemuan.

2. Mulailah umpan baik yang positif dengan memberikan penguatan baik pujian dan dorongan untuk lebih baik lagi.5.2 Implementasi/Demonstration and Inclusion of Microskills 1) Memberikan kesempatan peserta didik untuk melihat bagaimana pembimbing berinteraksi dengan klien. 3) Berikan umpan balik pada peserta didik baik yang positif maupun yang negatif.9 2. . 2) Memberi kesempatan peserta didik melakukan keterampilan teknik prosedural dalam rangka memberikan asuhan keperawatan dengan supervisi. Berikan kesempatan kepada peserta didik untuk memberikan masukan atau menyampaikan pertanyaan.1.3 Post-Conference/Debriefing 1) 2) Membahas hal-hal yang telah dilakukan pada saat implementasi. 4) Koreksi kesalahan peserta didik dengan menunjukkan atau menjelaskan bagaimana melakukan keterampilan klinik tersebut dan bagaimana meningkatkannya. 5) 6) Menemukan kendala yang dihadapi dan mencari cara untuk mengatasinya.5. 3) Memfasilitasi belajar aktif peserta didik dengan memberikan pertanyaan berkaitan dengan apa yang dilakukan peserta didik dan mengapa itu dilakukan. Mengukur tingkat pencapaian tujuan praktik saat itu.1. 4) Mengobservasi kemampuan klinik peserta didik dan mengobservasi interaksi peserta didik dengan klien.

1. terutama penglihatan dan pendengaran akan memperlancar dan mendukung proses bedside teaching.1. 2. sedangkan kesiapan mencerminkan keinginan dan kemampuan peserta didik untuk belajar. Belajar yang dilandasi motivasi yang kuat dan berasal dari dalam diri individu serta peserta didik merasa siap.1 Faktor Internal Peserta Didik (Herawani. (2) Keadaan indra: keadaan indra peserta didik yang sehat dan normal. teknikal dan interpersonal peserta didik.6 Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Bedside Teaching 2.4 Evaluasi 1) 2) Menilai kemampuan intelektual.1. 3) Mencari cara yang lebih efektif yang digunakan untuk meningkatkan metode pembelajaran. akan memperlancar proses bedside teaching. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menilai cara dan metode yang dilaksanakan pembimbing. Sunaryo. (2) Emosi: emosi yang stabil. 2) (1) Faktor psikologis Motivasi dan kesiapan: motivasi adalah keinginan untuk belajar. (3) Keadaan kesehatan: kondisi badan peserta didik yang sehat dan tidak cacat akan memperlancar dan mendukung proses bedside teaching.10 2. 2001.6. .5. 2004) 1) (1) Faktor fisiologis Kematangan fisik: fisik peserta didik yang sudah matang atau siap untuk belajar akan memudahkan dan memperlancar proses bedside teaching. terkendali dan tidak emosional akan mendukung proses bedside teaching.

2 Faktor Eksternal/di Luar Peserta Didik (Herawani. (4) Minat: materi pembelajaran yang menarik akan mempermudah peserta didik mempelajari materi pembelajaran dengan sebaik-baiknya. kondisi fisik dan dalam menerima pengajaran akan memperlancar proses bedside teaching. akan berpengaruh besar terhadap keberhasilan bedside teaching.11 (3) Sikap: sikap peserta didik yang positif terhadap materi.6. . Sunaryo. mampu berkomunikasi dengan baik. Apabila peserta didik memiliki intelegensi tinggi akan mudah untuk memperoleh hasil pembelajaran yang baik. tahu kebutuhan dan kesulitan yang dihadapi peserta didik. 2001. (6) Intelegensi: di antara berbagai faktor yang dapat mempengaruhi bedside teaching. penuh perhatian terhadap peserta didik. faktor intelegensi sangat besar pengaruhnya dalam proses dan kemajuan pembelajaran peserta didik. dan mampu menciptakan hubungan baik dengan peserta didik. memiliki usaha untuk memperbaiki kegagalan. (5) Bakat: peserta didik yang berbakat pada bidang tertentu. bila mengikuti materi pembelajaran yang sesuai dengan bakatnya akan mempermudah proses pembelajaran. sehingga akan merasa aman bila menghadapi bedside teaching. (7) Kreativitas: peserta didik yang mempunyai kreativitas. fasilitator. 2.1. 2004) 1) (1) Faktor sosial: Pembimbing/pendidik: pembimbing yang mampu mendidik dengan baik.

12 (2) Manusia yang hadir: manusia yang hadir pada saat peserta didik sedang belajar dapat mengganggu proses bedside teaching. (3) Materi atau bahan pelajaran serta metode pembelajaran: dengan keterlibatan aktif. 2. Sedangkan pembelajaran dari sederhana ke kompleks mempermudah pemahaman informasi baru. 1990). mengasimilasikannya dengan pembelajaran sebelumnya dan membentuk pemahaman baru.1 Pengertian Kemampuan adalah kesanggupan/kecakapan untuk melakukan sesuatu (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. misalnya: suasana menjadi gaduh dan berisik. Umpan balik membantu orang mempelajari keterampilan psikomotor dengan mengaitkan dengan tujuan yang diinginkan. Kemampuan dapat diartikan juga sebagai kapasitas individu untuk mengerjakan .2.2 Konsep Kemampuan 2. Keterlibatan aktif dan pengulangan membuat pembelajaran lebih cepat dan retensi materi akan lebih baik. (2) Lingkungan belajar yang optimal memfasilitasi pembelajaran dengan mengurangi distraksi dan memberikan kenyamanan fisik dan psikologis. pemberian umpan balik. pengulangan dan pembelajaran dari sederhana ke kompleks. 2) (1) Faktor non sosial: Alat bantu serta sarana dan prasarana yang memadai akan membantu proses bedside teaching. karena materi terorganisasi sedara logis dan berurutan. Selain itu dukungan klien terhadap interaksi selama bedside teaching akan mempengaruhi keberhasilan pembelajaran.

Hal itu terjadi karena kemampuan merupakan hasil dari belajar dan pengalaman (George. yang dapat diukur dengan attitude/sikap. Kemampuan terbentuk diawali dari cognitive domain. 2004). kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. yaitu (Notoatmodjo. yaitu domain yang berkaitan dengan aspek intelektual atau berpikir/bernalar. Sunaryo. 2. 2003. Sudrajat. affective domain. 2003. Sudrajat. kemampuan seseorang dalam mengerjakan suatu pekerjaan atau kegiatan merupakan hasil dari proses belajar. 1994). 2003. yaitu respons batin dalam bentuk sikap dari individu dan diakhiri dengan psychomotor/tindakan individu. 2. yang dapat diukur dari practice/keterampilan (BNSP. Kemampuan yang didasari pengetahuan umumnya bersifat langgeng (Notoatmodjo. 2008): . Sunaryo. 2004). baik yang sengaja dilakukan maupun terjadi secara kebetulan.1 Domain Kognitif Adapun tingkatan pengetahuan di dalam domain kognitif. minat. 2008.2 Komponen Utama Kemampuan Sesuai dengan taxonomi Bloom Theory.2. yang dapat diukur dengan knowledge/pengetahuan. yaitu domain yang berkaitan dengan aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuromuscular system) dan fungsi psikis. 2003. Proses pembelajaran manusia tersebut mencakup 3 domain: cognitive domain.2. Notoatmodjo. dan psychomotor domain. sehingga menimbulkan pengetahuan pada individu. mencakup 6 tingkatan. kemudian diikuti affective domain. seperti perasaan. 2003).2. sikap. yaitu individu terlebih dahulu tahu terhadap materi. yaitu domain yang berkaitan dengan aspek emosional.13 berbagai tugas dalam suatu pekerjaan dan merupakan perilaku yang dihasilkan/terbentuk dari proses belajar (Notoatmodjo.

2008): (1) Mengetahui sesuatu secara khusus: Mengetahui terminologi. yaitu berhubungan dengan mengenal atau mengingat kembali istilah atau konsep tertentu yang dinyatakan dalam bentuk simbol. (2) Mengetahui tentang cara untuk memproses atau melakukan sesuatu: Mengetahui kebiasaan atau cara mengetengahkan ide atau pengalaman. yaitu mengenal atau mengingat kembali tanggal. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengenal dan mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. arah dan gerakan suatu gejala atau fenomena pada waktu yang berkaitan. Mengetahui penggolongan atau pengkategorisasian.14 1) Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. pendapat atau perlakuan. yaitu proses. peristiwa. Mengetahui kelas. baik berbentuk verbal maupun non verbal. kejadian masa lalu dan sebagainya. prinsip. Mengetahui fakta tertentu. perangkat atau susunan yang digunakan dalam bidang tertentu atau memproses sesuatu. isi pengetahuan dapat digolongkan sebagai berikut (Sudrajat. sumber informasi. . tempat. Dilihat dari objek yang diketahui. kelompok. Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah tetapi paling mendasar. Mengetahui urutan dan kecenderungan. orang. Mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi fakta.

bagan dan pola yang digunakan untuk mengorganisasi suatu fenomena atau pikiran. (3) Ekstrapolasi. Mengetahui hal-hal yang universal dan abstrak dalam bidang tertentu. yaitu seperangkat cara yang digunakan untuk mencari. baik dalam bentuk simbol verbal maupun nonverbal. - Mengetahui prinsip dan generalisasi. yaitu menjelaskan makna yang terdapat dalam simbol. yaitu ide. arah atau kelanjutan dari suatu temuan tertentu.15 - Mengetahui metodologi. meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajarinya. memperbandingkan atau mempertentangkan konsep satu dengan konsep yang lain. Mengetahui teori dan struktur. yaitu melihat kecenderungan. Adapun tingkatan dalam pemahaman meliputi (Sudrajat. menyimpulkan. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan. dengan menjelaskan dan mengintepretasikan dengan benar tentang materi tersebut. yaitu mengubah simbol tertentu menjadi simbol lain tanpa perubahan makna. 2008): (1) Translasi. (2) Interpretasi. jika dapatmembedakan. menyebutkan contoh. menemukan atau menyelesaikan masalah. Individu yang dikatakan dapat menginterpretasikan tentang konsep atau prinsip tertentu. 2) Memahami (Comprehension) Memahami atau disebut juga mengerti diartikan sebagai suatu kemampuan untuk mengorganisasikan materi yang diketahui. .

4) Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen/bagian lebih kecil. rumus. metode. Aplikasi di sini diartikan sebagai penggunaan hukum-hukum. Kemampuan untuk mengidentifikasi berbagai motif dan membedakan mekanisme perilaku antara individu dan kelompok. Kemampuan untuk memisahkan kesimpulan dari berbagai pernyataan yang mendukungnya. kemampuan analisis terdiri atas: (1) Menganalisis unsur: Kemampuan melihat asumsi-asumsi yang dinyatakan secara eksplisit pada suatu pernyataan. Ukuran kemampuan analisis adalah dapat menggambarkan. Kemampuan untuk membedakan fakta dan hipotesa. membedakan. prinsip dan sebagainya ke dalam konteks atau situasi lain. yang dikutip Sudrajat (2008). tetapi masih di dalam satu struktur organisasi yang masih terkait satu dengan yang lain. Menurut Bloom. mengelompokkan. dan sebagainya.16 3) Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). (2) Menganalisis hubungan: Kemampuan melihat secara komprehensif interrelasi antar ide-ide. membuat bagan. Kemampuan untuk membedakan pernyataan faktual dengan pernyataan normatif. memisahkan. untuk memecahkan masalah. .

Kemampuan untuk memastikan konsistensinya hipotesis dengan informasi atau asumsi yang ada. Kemampuan untuk mengetahui maksud. atau kemampuan untuk menyusun . 5) Sintesis (Synthesis) Sintesis yaitu suatu kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Kemampuan untuk mengenal hubungan kausal dan unsur-unsur yang penting dan yang tidak penting di dalam perhitungan historis. sudut pandang atau cara berpikir pengarang materi dan perasaan yang dapat diperoleh dalam materi tersebut.17 - Kemampuan untuk mengenal berbagai unsur khusus yang membenarkan suatu pernyataan. Kemampuan untuk melihat teknik yang digunakan dalam menyusun suatu materi yang bersifat persuatif. (3) Menganalisis prinsip-prinsip organisasi: Kemampuan untuk menguraikan antara alat dan bahan. Kemampuan untuk mendeteksi hal-hal yang tidak logis di dalam suatu argumen. Kemampuan untuk mengenal bentuk dan pola dalam rangka memahami maknanya. Kemampuan untuk mengenal fakta atau asumsi yang esensial yang mendasari suatu pendapat atau tesis atau argumen yang mendukungnya. Kemampuan untuk menganalisis hubungan di antara pernyataan dan argumen guna membedakan mana pernyataan yang relevan dan mana yang tidak.

2. Penentuan sikap yang utuh ini sangat dipengaruhi oleh pengetahuan. ide dan konsep terhadap objek. yaitu: 1) Menerima (Receiving) Menerima diartikan bahwa orang ingin dan mau serta memperhatikan materi (stimulus) yang diberikan. Kemampuan berfikir induktif dan konvergen merupakan ciri kemampuan ini. sikap mempunyai 3 komponen pokok. 2003. Ukuran kemampuan sintesis adalah dapat menyusun.2. Sunaryo.2 Domain Afektif Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. yang kedua. Tahapan penerimaan adalah (Sudrajat. baik yang kualitatif maupun kuantitatif. 2. Sikap merupakan kesiapan/kecenderungan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek (Notoatmodjo. 2004). sikap memiliki berbagai tingkatan. Menurut Soekidjo Notoatmodjo (2003). kehidupan emosional atau evaluasi terhada objek. pikiran. meringkas. dan yang terakhir kecenderungan untuk bertindak/tend to behave ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Menurut Allport (1954).18 formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada. keyakinan dan emosi (Notoatmodjo. yang pertama kepercayaan/keyakinan. 2008): . merencanakan. 6) Evaluasi (Evaluation) Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. 2003). dan menyesuaikan suatu teori atau rumusan yang telah ada.

(3) Mengkhususkan perhatian (controlled or selected attention). misalnya mengajukan pertanyaan. Adanya usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan berarti bahwa orang tersebut menerima ide tersebut. sikap individu mengajak orang lain . yaitu usaha untuk mengalokasikan perhatian pada stimulus yang yang bersangkutan. (3) Keputusan menanggapi (satisfaction in response). yaitu adanya aksi atau kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk memuaskan keinginan mengetahui. mentaati peraturan dan lain-lain. 3) Menghargai (Valuing) Pada tingkat ini sudah timbul proses internalisasi untuk memiliki dan menghayati nilai dari stimulus yang dihadapi. (2) Kemauan untuk menerima (willingness to receive). suara atau kata-kata tertentu saja. 2) Merespons (Responding) Pada tingkat ini. individu mengadakan aksi terhadap stimulus. individu dapat memberikan jawaban bila ditanya. Mungkin perhatian itu hanya tertuju pada warna. Adapun proses merespon meliputi (Sudrajat. yang ditandai dengan kehadiran dan usaha untuk memberi perhatian pada stimulus yang bersangkutan.19 (1) Kesiapan untuk menerima (awareness). (2) Kemauan menanggapi (willingness to respond). yaitu adanya kesiapan untuk berinteraksi dengan stimulus (fenomena atau objek yang dipelajari). mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan. 2008): (1) Kesiapan menanggapi (acquiescene of responding). yaitu usaha untuk melihat hal-hal khusus di dalam bagian yang diperhatikan.

Domain ini berkaitan dengan berbagai aspek . terpesona. (2) Menyeleksi nilai yang lebih disenangi (preference for a value) yang dinyatakan dalam usaha untuk mencari contoh yang dapat memuaskan perilaku menikmati. (3) Komitmen yaitu kesetujuan terhadap suatu nilai dengan berbagai alasan tertentu yang muncul dari rangkaian pengalaman.2.20 untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah. tetapi mulai melihat beberapa nilai yang relevan untuk disusun menjadi satu sistem nilai.3 Domain Psikomotor/Practice/Tindakan Tindakan atau praktik adalah sesuatu yang dilakukan/dilaksanakan secara nyata sesuai dengan teori (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. yaitu kelanjutan dari usaha memuaskan diri untuk menanggapi secara lebih intensif. (4) Komitmen ini dinyatakan dengan rasa senang. sehingga sistem ini selalu konsisten (Sudrajat. Adanya tindakan untuk mengerjakan atau mendiskusikan masalah tersebut. Menghargai terbagi atas empat tahap. menunjukkan komitmen terhadap nilai keberanian yang dihargainya. 2. 4) Bertanggung jawab (Responsible) Hal ini berarti individu bertanggung jawab dan siap menanggung segala risiko atas segala sesuatu yang telah dipilihnya. kagum. 1990).2. individu tidak hanya menginternalisasi satu nilai tertentu seperti pada tahap komitmen. berarti individu mempunyai sikap yang positif. 2008): (1) Menerima nilai (acceptance of value). 2008). sebagai berikut (Sudrajat. Pada tahap ini. Kagum atas keberanian seseorang. selain itu individu memiliki kemampuan untuk menghayati atau mempribadikan sistem nilai.

4) Adaptasi (Adaptation) Adaptasi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik dan tindakan tersebut sudah dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut untuk disesuaikan dengan kebutuhan atau situasi tempat di mana keterampilan itu dilaksanakan. 2008). . 2) Respons Terpimpin (Guided Response) Respons terpimpin yaitu individu dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh yang diamatinya walaupun belum mengerti hakekat atau makna dari keterampilan itu. Tindakan ini mempunyai beberapa tingkatan. hal ini berhubungan dengan kesediaan diri melatih keterampilan tertentu.21 keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuromuscular system) serta fungsi psikis (Sudrajat. 2003. dan dukungan dari pihak lain (support). dengan kata lain keterampilan tersebut sudah menjadi kebiasaan individu tersebut. 2008. Faktor pendukung atau kondisi yang memungkinkan terlaksananya tindakan. 2004): 1) Persepsi (Perception) Persepsi yaitu mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil/dilakukan. Sudrajat. yaitu (Notoatmodjo. 3) Mekanisme (Mechanism) Mekanisme. individu dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis tanpa harus melihat contoh. antara lain fasilitas. Sunaryo.

2001). di mana individu sudah mampu menciptakan sendiri suatu karya. instruksi.22 5) Menciptakan (Origination) Menciptakan. Tujuan SOP dibuat adalah untuk menjaga konsistensi kualitas tindakan. menggantikan air. 2. antara lain: untuk menyediakan air. 2008). jaminan kualitas pelayanan dan memastikan pelayanan yang diberikan sesuai dengan regulasi pemerintah (US EPA. prosedur tetap. elektrolit dan nutrien untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.2. yang menetapkan pelaksanaan suatu kegiatan agar dapat dilaksanakan dengan tepat. Smeltzer.3 Standard Operating Procedur/SOP 2.3.3. Menciptakan merupakan aktivitas motorik yang paling kompleks yang mencakup penciptaan pola gerakan baru. atau worksheets/kertas kerja.1 Tujuan: Umumnya cairan infus diberikan untuk mencapai tujuan spesifik. 2000.3. 2. .1 Pengertian Standard operating procedur/SOP adalah seperangkat instruksi tertulis yang membuktikan kebenaran suatu aktivitas rutin atau berulang yang diikuti oleh suatu organisasi. memperbaiki kekurangan elektrolit dan keseimbangan asam-basa pada klien yang tidak mungkin atau tidak bisa mengkonsumsi/mempertahankan masukan yang adekuat secara per oral. serta menyediakan suatu medium untuk pemberian obat secara intravena (Nurachmah. SOP dapat juga disebut sebagai protokol.2 SOP Memasang Infus 2.

vena yang terdapat pada ekstremitas bawah hanya digunakan sebagai pilihan terakhir. ukuran yang lebih besar untuk larutan yang mengiritasi atau kental.3. dan adapun pilihan vena yang digunakan: vena metakarpal. vena basilika/sefalika (memudahkan pergerakan tangan).2. antara lain: gunakan cabang vena distal yang cukup besar pada lengan nondominan. 3) Ukuran 20G dan 22G untuk kebanyakan cairan infus. pilih vena yang dilatasi baik.3 Persiapan Klien Klien harus dipersiapkan sebelum dipasang infus intravena. kecuali pada situasi darurat. 2. mediana basilika atau sefalika hanya untuk pemasangan infus yang singkat saja serta hindari vena yang melintasi persendian (Nurachmah.2.3. 22G dan 24G) hanya untuk memenuhi ruang minimal dalam vena. 2000.2 Pemilihan Tempat Pungsi Vena Pemilihan tempat pungsi vena merupakan hal yang sangat penting artinya selain pemilihan jenis kanula yang paling sesuai dengan klien (usia dan ukuran vena). perlu juga untuk memilih kanul yang sesuai. misalnya pada anak dan lansia. Kateter dengan diameter yang kecil (misalnya no. vena fossa antekubital. ukuran 18G atau yang lebih besar untuk pemberian darah.8 cm-3 cm. lamanya terapi intravena yang diharapkan. Perry.23 2. Selain pemilihan tempat pungsi vena. 2001). pada klien dewasa. 2005). Klien harus diinformasikan secara singkat tentang proses pungsi . Kriteria pemilihan vena. Berbagai faktor yang mempengaruhi pilihan ini termasuk jenis larutan yang diberikan. keadaan umum klien dan keadaan vena yang digunakan (Smeltzer. Pedoman untuk pemilihan kanul antara lain: 1) 2) Panjang kanul 1.

Gulung lengan baju klien dan pasang torniquet di pertengahan lengan atas. Plester 1 inchi dan stiker kosong untuk menulis tanggal pemasangan infus. Menjelaskan prosedur dan tujuannya serta mintalah ijin tindakan (pada klien dan keluarga). 4) 5) 6) (1) Perawat berdiri di dekat lengan yang akan digunakan/dipungsi.24 vena. ukuran dan tipenya didasarkan pada situasi klinis. perawat dapat memberikan tanggapan yang sesuai (Smeltzer. Sarung tangan. 2005) 1) 2) Mencuci tangan. Perry.4 Persiapan Peralatan: 1) Pemilihan larutan intravena dan juga selang pemberian didasarkan pada situasi klinis. Klien harus juga diberi kesempatan untuk mengungkapkan kekhawatirannya. Siapkan peralatan dan persiapkan agar peralatan itu dekat dengan perawat: Selang intravena dikaitkan ke wadah larutan intravena serta isi sebagian tabung selang dengan larutan tersebut kemudian gantungkan dan alirkan .5 Pelaksanaan Memasang Infus (Jastremski. Swab alkohol 70% atau betadin 2%.3.2. setelah mengetahui ketakutan ini. Torniquet. 3) Memberikan posisi semi fowler atau terlentang di atas tempat tidur dan atur pencahayaan. Band aid dan balutan plastik yang transparan dan perekat. 2001). 1996. 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Kateter jarum. Kassa steril 4 x 4 inchi.3. 2. tentang lamanya infus yang diperkirakan dan pembatasan aktivitas tempat pungsi vena.2. 2.

14) Peganglah unit kateter jarum IV dengan tangan anda yang dominan sedemikian rupa sehingga hub kateter berada di antara ibu jari dan jari telunjuk serta ujung dari jarum diperkuat oleh jari ketiga dan jari keempat. ini membantu mengarahkan vena. Pilih letak insersi. 13) Lakukan palpasi 5 sampai 7. 16) Secara perlahan-lahan majukan kateter IV ke dalam vena sampai darah mengalir melalui ruang kateter. Pasang torniquet dan identifikasi vena yang sesuai. Pakailah sarung tangan. agak distal terhadap tempat pungsi vena paralel dengan vena dan dengan sudut 20o sampai 30o terhadap kulit. dengan bagian jarum yang miring menghadap ke atas. 12) Lepaskan tutup dari ujung dan pastikan kateter dapat dengan mudah meluncur dari jarum. Beberapa lembar plester yang diperlukan. Pilih kanula/kateter IV yang sesuai. biarkan agar kering dulu atau keringkan dengan kassa steril 4 x 4 inchi.25 cairan dengan selang menghadap ke atas sehingga udara di dalamnya keluar tutup ujung selang (periksa label infus yang sesuai dengan program therapi cairan yang akan diberikan).5 cm dari sistal vena yang dipilih menjadi tempat tusukan dengan jari telunjuk/ibu jari tangan non dominan perawat. lalu turunkan jarum sampai rata dengan . (2) (3) 7) 8) 9) 10) 11) Band aid dan balutan plastik transparan dan perekat yang telah dibuka. Gerakkan dengan gerakan melingkar dari tempat tusukan kurang lebih 5 cm. Bersihkan kulit sekitar tempat tusukan dengan swab alkohol atau betadin. 15) Lakukan pungsi vena dengan memasukkan kateter IV.

21) 22) 23) Periksa ulang kecepatan tetesan infus untuk perhitungan tetesan per menit. 19) 20) Bersihkan semua darah yang ada dengan bantalan kassa 4 x 4 inchi. Buang jarum atau benda tajam lain pada wadah yang tepat dan aman. Pastikan larutan intravena dapat mengalir dengan lancar.26 kulit. 2. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan. Jangan menyentuh titik masuk adapter jarum. 18) Dengan cepat. Tuliskan tanggal dan waktu pemasangan kateter IV pada balutan. sambungkan adapter dari set selang infus dengan hub kateter. Masukkan lagi kateter ¼ inchi ke dalam vena. dengan memberikan tekanan lembut tetapi kuat dengan jari telunjuk tangan non dominan 3 cm di atas tempat insersi. Fiksasi atau amankan kateter IV dan pasang balutan steril/band aid di atas tempat insersi. 17) Stabilisasi kateter dan jarum dengan satu tangan dan tangan lain melepaskan torniquet.3 . Lepaskan stilet/jarum kateter IV. kemudian kendurkan stilet dan majukan kateter secara keseluruhan dengan ibu jari dan telunjuk.

2. Dukungan orang lain (komunitas profesi. Faktor fisiologis: Maturasi.Persiapan lingkungan. . Tuntutan masyarakat mendapatkan asuhan yang bermutu. Lingkungan belajar optimal 6. minat. 5.Persiapan pasien. Peningkatan Keterampilan Mahasiswa Mutu asuhan keperawatan berkualitas Gambar 2. percaya diri. . . Metode pembelajaran. Faktor internal: 1.27 2. Alat bantu dan sarana prasarana pembelajaran. Faktor psikologis: Motivasi. Pembimbing/pengajar.Pelaksanaan.Dokumentasi. emosi. kreativitas. keadaan kesehatan. . 4. 3. kesiapan. . Adapun hipotesis penelitian ini (hipotesis alternatif/H1). sikap. 2003). adalah: ada pengaruh positif bedside teaching terhadap kemampuan mahasiswa dalam melaksanakan melaksanakan SOP keperawatan medikal bedah (memasang infus). dll). 2. pengetahuan & intelegensi.4 Kerangka Konseptual Faktor eksternal: 1.Persiapan alat. keadaan indera. Keterangan: : Diteliti : Tidak diteliti 2. bakat.1 Kerangka Konseptual Penelitian Pengaruh Bedside Teaching terhadap Kemampuan Mahasiswa dalam Melaksanakan SOP Keperawatan Medikal Bedah. Mahasiswa keperawatan Bedside teaching Kemampuan SOP Keperawatan Medikal Bedah (prosedur pemasangan infus): .5 Hipotesis Penelitian Hipotesis penelitian adalah jawaban sementara dari rumusan masalah atau pertanyaan penelitian (Nursalam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful