1

PERAN DEKLARASI RIO DE JANEIRO DALAM PEMBANGUNAN LINGKUNGAN HIDUP DAN IMPLEMENTASINYA DI INDONESIA Makalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Seminar Masalah-Masalah/Isu-Isu Kebijakan Lingkungan

Oleh: Kelompok 4 Syamsul Arifin (0910310314) Tamtowil Mustofa (0910310316) Tutut Adi Kusumadewi (0910310321) Shinta Tanumihardjo (0910311009) Mufid Mauludi (0910313112) Rizky Pratama Putra(0910313127) Kelas D

FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012

2

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Kata hutan, pada saat ini hampir dapat dipastikan bukan merupakan kata yang asing dalam kehidupan kita sehari-hari. Bagi mereka yang tinggal di pedesaan, di pinggir-pinggir hutan, hutan merupakan lingkungan kehidupannya sehari-hari. Bagi mereka yang tinggal di perkotaan yang jauh dari hutan, walaupun hutan bukan merupakan lingkungan kehidupannya sehari-hari, kecuali tentunya hutan kota (urban forest) atau hutan mini (arboretum) yang kini telah banyak dibangun di kota-kota, hutan barangkali selau mengisi benak-nya pada saat mereka mendambakan suasana yang sunyi, bebas dari hingar bingar keramaian, kebisingan dan kesumpekan udara perkotaan yang senantiasa menyertai kehidupannya seharihari. Yang pasti, kita sebagai makhluk hidup di muka bumi ini tanpa kita sadari sebenarnya tidak pernah lepas dari ketergantunan kepada hutan, hasil dan manfaatnya dari semenjak kita berada dalam kandungan ibu, dilahirkan ke dunia, mengisi kehidupan sebagai hamba Allah, sampai kembali ke pangkuan-Nya. Telah banyak bukti ilmiah yang mendukung kebenaran anggapan betapa besarnya peran hutan bagi kehidupan manusia, tidak saja sebagai sumber pangan, sandang papan dan kenyamanan tetapi juga bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebatang pohon tua yang berada di tengah-tengah hutan belantara, konon, dapat menjadi sumber inspirasi dan bahan penulisan disertasi bagi beberapa atau bahkan berpuluh-puluh calon doktor di bidang Ilmu Kehutanan. Lingkungan merupakan masalah krusial pada dasawarsa ini. berbagai elemen seperti intelektual publik, organisasi, partai dan bangsa terus bergerak untuk mendorong dan menggalang usaha bersama menjaga kelestarian alam demi kualitas kehidupan yang lebih baik. Langkah berbagai negara untuk melakukan persetujuan internasional di bidang lingkungan hidup patut diapresiasi oleh masyarakat luas, seperti yang dilakukan pada Earth Summit di Rio de Janeiro, Brazil pada tahun 1992 dan Protokol Kyoto di Jepang pada tahun 1997.

3

Kebakaran hutan, longsornya tanah perbukitan, kebanjiran dan kasus lingkungan hidup lainnya menunjukkan bukti bahwa tingkat kesadaran pengelolaan lingkungan hidup masih rendah dan harus menjadi perhatian serius oleh semua. Harus disadari bersama bahwa kualitas lingkungan hidup dan sumber daya manusia saling mempengaruhi. Kualitas lingkungan hidup yang baik berdampak pada peingkatan kualitas sumber daya manusia. Sebaliknya ketika kualitas sumber daya alam rendah maka dampak negatifnya pasti akan muncul dan memperburuk kualitas kehidupan manusia baik secara cepat maupun lambat. Problematika lingkungan hidup yang sangat serius dan menjadi fenomena adalah pemanasan global. Fenomena ini begitu nyata dengan adanya peningkatan suhu atmosfer bumi. Menurut data suhu rata-rata global pada permukaan bumi telah meningkat 0,74 ± oC (1.33 ± 0.32 oF), yang diakibatkan meningkatnya meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktifitas manuusia. Dampak buruk dari fenomena ini sangat mengganggu keberlangsungan makhluk hidup, seperti terjadinya perpindahan habitat, ikllim yang tidak stabil dan lainnya. Dengan demikian sangat tepat bahwa penanganan permasalahan ini harus terus digalang dan digerakkan. Konvensi Keanekaragaman Hayati adalah perjanjian multi lateral untuk mengikat para pihak (negara peserta konvensi) dalam menyelesaikan permasalahan global khususnya keanekaragaman hayati. Konvensi keanekaragaman hayati lahir sebagai wujud kekhawatiran umat manusia atas semakin berkurangnya nilai keanekaragaman hayati yang disebabkan oleh laju kerusakan keanekaragaman hayati yang cepat dan kebutuhan masyarakat dunia untuk memadukan segala upaya perlindungan bagi kelangsungan hidup alam dan umat manusia selanjutnya. Secara singkat sejarah munculnya konvensi keanekaragaman hayati adalah dari hasil pertemuan KTT Bumi Tahun 1992 di Rio de Janaeiro yang merupakan bentuk penegasan kembali dari Deklarasi Stockholm pada tanggal 16 Juni Tahun 1972, terutama menyangkut isi deklarasi bahwa permasalahan lingkungan merupakan isu utama yang berpengaruh pada kesejahteraan manusia dan pembangunan ekonomi di seluruh dunia (butir ke-2 Deklarasi Stockholm) pertemuan KTT Bumi Tahun 1992 di Rio de Janeiro ini telah merumuskan lima dokumen yakni: 1. Deklarasi Rio

4

2. Konvensi Acuan tentang Perubahan Iklim 3. Konvensi Keanekaragaman Hayati 4. Prinsip-Prinsip Pengelolaan Hutan, dan 5. Agenda 21 Prinsip dalam konvensi keanekaragaman hayati adalah bahwa setiap negara mempunyai hak berdaulat untuk memanfaatkan sumber-sumber daya hayati sesuai dengan kebijakan pembangunan lingkungannya sendiri dan mempunyai tanggung jawab utnuk menjamin bahwa kegiatan-kegiatan negara lain atau kawasan di luar batas yuridiksi tidak menimbulkan keusakan terhadap lingkungan negara lain atau kawasan di luar batas yuridiksi nasional. Indonesia telah meratifikasi konvensi keanekaragaman hayati melalui Undang-Undang No. 5 tahun 1994 tentang Pengesahan United Nations Convention on Biological Diversity (Konvensi PBB mengenai keanekaragaman hayati). 1.2 Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan di atas, maka dapat di rumuskan beberapa point untuk merumuskan makalah ini, rumusan makalah adalah sebagai berikut: 1.2.1 Apa saja bentuk kerusakan alam yang terjadi akhir-akhir ini?
1.2.2 Apa yang dimaksud dengan Deklarasi Rio de Janeiro? 1.2.3 Bagaimana peran Indonesia dalam penyelamatan lingkungan khususnya

keikutsertaan Indonesia dalam menjalankan Deklarasi Rio de Janeiro? 1.3 Tujuan Dalam mengkaji sebuah fenomena tentu sangat di butuhkan dan di pertanyakan tujuan mengkaji fenomena tersebut, dengan demikian penulis selaku pengaji Dokumen Rio de Janeiro yang pada akhirnya mempengaruhi lingkungan hidup adalah sebagai berikut:
1.3.1 Untuk mengetahui apa saja kerusakan alam yang terjadi akhir-akhir ini. 1.3.2 Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan Deklarasi Rio de Janeiro.

5

1.3.3 Untuk mengetahui bagaimana peran Indonesia dalam penyelamatan

lingkungan khususnya keikuutsertaan Indonesia dalam menjalankan Deklarasi Rio de Janeiro. 1.4 Manfaat Penulisan Adapun manfaat penulisan ini adalah:
1.4.1 Setelah mengetahui bentuk kerusakan alam kita dapat terdorong untuk ikut

dalam program penyelamatan lingkungan.
1.4.2 Mengetahui isi dari dokumen Rio de Janeiro dan ikut mendukung dalam

program penyelamatan lingkungan.
1.4.3 Mengetahui peran Indonesia dalam penyelamatan lingungan sehingga

terdorong untuk ikut menyelamatkan lingkungan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

6

2.1 Keanekaragaman Hayati 2.1.1 Pengertian Keanekaragaman Hayati Pengertian atau definisi Keanekaragaman hayati dapat diartikan dari berbagai aspek, uraian dibawah ini setidaknya mewakili beberapa diantaranya :  Keanekaragaman hayati adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keanekaan bentuk kehidupan di bumi, interaksi di antara berbagai makhluk hidup serta antara mereka dengan lingkungannya;  Keanekaragaman hayati mencakup semua bentuk kehidupan di muka bumi, mulai dari makhluk sederhana seperti jamur dan bakteri hingga makhluk yang mampu berpikir seperti manusia;  Keanekaragaman hayati ialah fungsi-fungsi ekologi atau layanan alam, berupa layanan yang dihasilkan oleh satu spesies dan/atau ekosistem (ruang hidup) yang memberi manfaat kepada spesies lain termasuk manusia (McAllister 1998);
 Keanekaragaman hayati merujuk pada aspek keseluruhan dari sistem

penopang kehidupan, yaitu mencakup aspek sosial, ekonomi dan lingkungan serta aspek sistem pengtahuan dan etika, dan kaitan di antara berbagai aspek ini;  Keanekaan sistem pengetahuan dan kebudayaan masyarakat juga terkait erat dengan keanekaragaman hayati.  Terdapat tiga pendekatan membaca keanekaragaman hayati, yakni tingkat tingkat ekosistem (1), tingkat taksonomik atau spesies (2), dan tingkat genetik (3). Berikut uraiannya:  Keanekaragaman ekosistem: mencakup keanekaan bentuk dan susunan bentang alam, daratan maupun perairan, di mana makhluk atau organisme hidup (tumbuhan, hewan dan mikroorganisme) berinteraksi dan membentuk keterkaitan dengan lingkungan fisiknya.  Keanekaragaman spesies: adalah keanekaan spesies organisme yang menempati suatu ekosistem, di darat maupun di perairan. Dengan demikian

7

masing-masing organisme mempunyai ciri yang berbeda satu dengan yang lain.  Keanekaragaman genetis: adalah keanekaan individu di dalam suatu spesies. Keanekaan ini disebabkan oleh perbedaan genetis antarindividu. Gen adalah faktor pembawa sifat yang dimiliki oleh setiap organisme serta dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Contoh keterkaitan ketiga tingkat keanekaragaman hayati tersebut dapat dilihat pada kawasan yang mempunyai keanekaan ekosistem yang tinggi, biasanya juga memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi dengan variasi genetis yang tinggi pula. Ada beberapa hal lain yang perlu dipahami mengenai keanekaragaman hayati, yaitu:
1. Pusat Asal-usul: adalah wilayah geografis tempat suatu takson berasal atau

pertama kali berkembang.
2. Pusat

Keanekaragaman:

kawasan

geografis

yang

mempunyai

keanekaragaman spesies atau genetis yang tinggi.
3. Pusat Endemisme: kawasan geografi dengan jumlah spesies endemik yang

tinggi pada tingkat lokal . 2.1.2 Nilai Keanekaragaman Hayati Keanekaragaman hayati memiliki beragam nilai atau arti bagi kehidupan. Ia tidak hanya bermakna sebagai modal untuk menghasilkan produk dan jasa saja (aspek ekonomi) karena keanekargaman hayati juga mencakup aspek sosial, lingkungan, aspek sistem pengetahuan, dan etika serta kaitan di antara berbagai aspek ini. Berdasarkan uraian tersebut, berikut ini setidaknya ada 6 nilai keanekaragaman hayati yang bisa diuraikan: a) Nilai Eksistensi Nilai eksistensi merupakan nilai yang dimiliki oleh keanekaragaman hayati karena keberadaannya (Ehrenfeld, 1991). Nilai ini tidak berkaitan dengan potensi suatu organisme tertentu, tetapi berkaitan dengan beberapa faktor berikut:  Faktor hak hidupnya sebagai salah satu bagian dari alam;

8

 Faktor yang dikaitkan dengan etika, misalnya nilainya dari segi etika agama. Berbagai agama dunia menganjurkan manusia untuk memelihara alam ciptaan Tuhan; dan  Faktor estetika bagi manusia. Misalnya, banyak kalangan, baik pecinta alam maupun wisatawan, bersedia mengeluarkan sejumlah uang untuk mengunjungi taman-taman nasional guna melihat satwa di habitat aslinya, meskipun mereka tidak mendapatkan manfaat ekonomi dari kegiatan tersebut. b) Nilai Jasa Lingkungan Nilai jasa lingkungan yang dimiliki oleh keanekaragaman hayati ialah dalam bentuk jasa ekologis bagi lingkungan dan kelangsungan hidup manusia. Sebagai contoh jasa ekologis ,misalnya, hutan, salah satu bentuk dari ekosistem keanekaragaman hayati, mempunyai beberapa fungsi bagi lingkungan sebagai:  pelindung keseimbangan siklus hidrologi dan tata air sehingga menghindarkan manusia dari bahaya banjir maupun kekeringan;  penjaga kesuburan tanah melalui pasokan unsur hara dari serasah hutan;
 pencegah erosi dan pengendali iklim mikro;

 Keanekaragaman hayati bisa memberikan manfaat jasa nilai lingkungan jika keanekaragaman hayati dipandang sebagai satu kesatuan, dimana ada saling ketergantungan antara komponen di dalamnya. c) Nilai Warisan Nilai warisan adalah nilai yang berkaitan dengan keinginan untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati agar dapat dimanfaatkan oleh generasi mendatang. Nilai ini acap terkait dengan nilai sosio-kultural dan juga nilai pilihan. Spesies atau kawasan tertentu sengaja dipertahankan dan diwariskan turun temurun untuk menjaga identitas budaya dan spiritual kelompok etnis tertentu atau sebagai cadangan pemenuhan kebutuhan mereka di masa datang. d) Nilai Pilihan Keanekaragaman hayati menyimpan nilai manfaat yang sekarang belum disadari atau belum dapat dimanfaatkan oleh manusia; namun seiring dengan perubahan permintaan, pola konsumsi dan asupan teknologi, nilai ini menjadi

9

penting di masa depan. Potensi keanekaragaman hayati dalam memberikan keuntungan bagi masyarakat di masa datang ini merupakan nilai pilihan (Primack dkk., 1998). e) Nilai Konsumtif Manfaat langsung yang dapat diperoleh dari keanekaragaman hayati disebut nilai konsumtif Dari keanekaragaman hayati. Sebagai contoh Dari nilai komsumtif ini ialah pemanfaatan keanekaragaman hayati untuk pemenuhan kebutuhan sandang, pangan maupun papan. f) Nilai Produktif Nilai produktif adalah nilai pasar yang didapat dari perdagangan keanekaragaman hayati di pasar lokal, nasional maupun internasional. Persepsi dan pengetahuan mengenai nilai pasar ditingkat lokal dan global berbeda. Pada umumnya, nilai keanekaragaman hayati lokal belum terdokumentasikan dengan baik sehingga sering tidak terwakili dalam perdebatan maupun perumusan kebijakan mengenai keanekaragaman hayati di tingkat global (Vermeulen dan Koziell, 2002). 2.2 Deklarasi Rio de Janeiro Setelah 20 tahun konferensi Stockholm dan 10 tahun konferensi Nairobi, PBB kembali menggelar suatu konferensi lingkungan hidup di Rio de Janeiro pada tahun 1992, dan diberi nama KTT bumi ( Earth summit). Topik yang diangkat dalam konferensi ini adalah permasalahan polusi, perubahan iklim, penipisan ozon, penggunaan dan pengelolaan sumber daya laut dan air, meluasnya penggundulan hutan, penggurunan dan degradasi tanah, limbah-limbah berbahaya serta penipisan keanekaragaman hayati. Degradasi lingkungan hidup yang terjadi diberbagai belahan bumi ini dapat berimbas pada kepentingan politik, ekonomi dan sosial secara meluas diseluruh dunia,Untuk mengurus konferensi Rio, panitia persiapan konferensi (Preparatory commite disingkat Prep Com) melakukan lima kali pertemuan secara beruntun, pertemuan-pertemuan itu tidak hanya membicarakan masalah teknis, tetapi juga sub stansi yang hendak dibahas dalam konferensi.

10

2.3 Landasan Teori 2.3.1 Teori Hubungan Internasional Pemahaman tentang Hubungan Internasional memiliki ruang lingkup yang kompleks. Menurut kaum realis yang diwakili oleh Morgenthau menyatakan bahwa tingkah laku suatu bangsa dapat dilihat dari tindakan-tindakan para diplomatnya yang selalu berjuang untuk mempertahankan atau memperbanyak keuntungankeuntungan politik demi kemajuan atau kelangsungan hidup negara mereka. Pemahaman mengenai hubungan internasional memiliki ruang lingkup yang sangat kompleks. Bagi kaum realis hubungan internasional adalah studi tentang hubungan antar pemerintah negara-negara berdaulat, kompleksitas hubungan internasional perlu memperhatikan 2 hal penting yaitu pertama perkembangan suatu bidang studi yang berkaitan erat dengan perkembangan bidang studi lainnya. Kedua perkembangan bidang studi tidak berjalan secara ajeg melainkan bisa saja terjadi perubahan secara besar-besaran. Kedua generalisasi ini perlu diterapkan dalam hubungan internasional karena berpengaruh dengan lingkungan disekitarnya. Teori adalah konsep-konsep yang saling berhubungan menurut aturan logika menjadi suatu bentuk pernyataan tertentu sehingga dapat menjelaskan fenomena secara ilmiah. Teori sebagai perangkat preposisi yang terintegrasi secara sintaksis, yaitu yang mengikuti aturan-aturan tertentu yang dapat dihubungkan secara logis satu dengan yang lainnya dengan tata dasar sehingga dapat diamati dan dapat berfungsi sebagai wahana untuk menjelaskan fenomena yang diamati. Fenomena saling ketergantungan antar negara dan saling keterkaitan antar masalah memang terlihat dalam interaksi hubungan internasional. Hal ini tercermin dari pembentukan kelompok kerjasama regional baik berlandaskan kedekatan geografis maupun fungsional yang semakin luas. Demikian pula, saling keterkaitan antar masalah dapat dilihat dalam pembahasan topik-topik global pada agenda internasional yang cenderung membahas isu-isu yang menyangkut HAM, tenaga kerja sampai pada permasalahan lingkungan hidup. BAB III PEMBAHASAN

11

3.1 Fenomena 3.1.1 Krisis Lingkungan Sains dan teknologi memang diperlukan tapi tidak cukup itu saja. Kita memerlukan agama untuk terlibat dan keluar dari krisis lingkungan. Sutau hari, Emil Salim, Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup saat itu datang menghadap ulama besar dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof. HajiAbdul Malik Karim Amarullah (Hamka) dan berharap dala ulama agar dapat memberi bantuan dalam menyadarkan umat Islam terhadap lingkungan. Emil menanyakan apa yang bisa dilakukan umat Islam dalam melestarikan lingkungan hidupnya. Lalu Prof. Hamka dengan arif menjawab bahwa tidak ada yang salah dengan ajaran Islam dalam soal lingkungan hidup tetapi kesalahan terjadi pada bagaimana cara kita mengajarkan Islam kepada masyarakat. Umat Islam akan tersentuh jika segala hal praktis dapat langsung dirasakan misalnya umat Isalm harus shalat lima waktu maka diperlukan air wudhu yang mensucikan, umat mendapatkan air bersih dari sungai yang mengalir, air tanah yang memenuhi persyarakat untuk menghadap khaliqnya dengan demikian setiap umat Islam harus memelihara air serrta sumber-sumbernya agar bisa beribadah kepada Allah, Menurut beliau wajib hukumnya Umat Islam memelihara sumber-sumber air tersebut. Krisis lingkungan tengah terjadi saat ini, degradasi lingkungan tengah dirasakan semakin memburuk dalam dekade terakhir. Pemanasan global, kepunahan jenis, kekeringan yang panjang, kelangkaan air bersih, pencemaran lingkungan dan polusi udara serta ancaman senjata biologis merupakan salah satu dari beberapa deret yang bisa menghancurkan peradaban umat manusia. Alam telah rusak, Pertemuan Bumi di Rio de Janeiro menghasilkan deklarasi bumi tahun 1992. Para ilmuwan telah menunjukk dengan penelitian intensif bahwa planet bumi telah terancam, selain itu akibat perubahan iklim dan kehilangan habitat dan ekspansi yang dilakukan manusia, kepunahan spesies semakin bertambah tinggi sedikitnya 15 spesies telah punah dalam 20 tahun terakhir, 12 spesies dapat bertahan hidup karena dipelihara, ditangkarkan oleh manusia, namun diyakini spesies yang mengalami kepunahan

12

jumlahnya jauh lebih besar. Menurut penelitian Global Species Asswement (GSA) dalam siaran pers bulan november 2004, sekitar 15.589 spesies terdiri dari 7.266 spesies satwa dan 8.323 spesies tumbuhan dan lumut kerak diperkirakan berada dalam resiko kepunahan. Jadi terbukti nyatanya segala konvensi dan peraturan saja tidak mengikat dan dapat mengambil langkah untuk menurunkan tingkat kerusakan dan kepunahan spesies di muka bumi. Setelah dirasakan tak ada perubahan, barulah timbul kesadaran baru yang mengaitkan prinsip agama yang diharapkan berperan dalam menanggulangi krisis ekologi. “Sains dan teknologi memang diperlukan tapi tidak cukup itu saja, kita tetap memerlukan agama untuk terlibat dalam keluar dari krisis lingkungan (menurut Mary Evlyn Tucker, guru besar agama dari Bucknel University). Umat manusia dan peradabannya juga terancam punah. Menurut Evlyn ada lima resep dasar untuk menyelamatkan lingkungan dengan lima R yakni:
1. Refrences atau Keyakinan, yang dapat diperoleh dari teks kitab suci dan

kepercayaan yang mereka miliki masing-masing 2. Respect, penghargaan kepada semua makhluk hidup yang diajarkan oleh agama sebagai makhluk Tuhan 3. Restrain, kemampuan untuk mengelola dan mengontrol sesuatu supaya penggunaannya tidak mubazir 4. Redistribution, kemampuan menyebarkan kekayaan, kegembiraan dan kebersamaan melalui langkah dermawan misalnya zakat, infaq dalam Isal
5. Responsibility, sikap tanggung jawab dalam merawat kondisi lingkungan

dan alam. Ilmuan dan agamawan bersatulah , spiritualitas agama kembali dipertimbangkan oleh para ahli lingkungan untuk mengingatkan manusia. Dalam dua dekade terakhir setidaknya ada upaya para ilmuwan dan ahli agama bersatu menyikapi situasi lingkungan. Terlihat sejak sebuah pertemuan pemimpin agama dan sains yang disebut “Join Apppeal by Religion and Science for the Environment,” yang diadakan bulan Mai 1992 di Washington, D.C. para ilmuwan dan pemimpin agama menyatakan, “Kami yakin sains dan agama dapat bekerjasama mengurangi dampak yang berarti dan membuat resolusi atas krisis lingkungan yang terjadi di bumi tapi yakin bahwa dimensi krisis ini tidak sepenuhnya diambil hati oleh para pemimpin

13

yang memimpin lembaga penting dan pemimpin industri namun kita menerima kewajiban kita membantu memberi pengetahuan dan pemahaman terhadap jutaan orang yang dilayani dan ajarkan mengenai kensekuensi apabila terjadi krisis lingkungan dan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi hal ini (Calvin B. DeWitt, The Good in Nature and Humanity in Stephen R, Kellert dan Timothy J Farnham, Island Press. 2002). Bagi para pemimpin agama, kesadaran terhadap lingkungan bukan merupakan suatu yang baru. Inisiatif pertama kali menggalang kesadaran pemimpin agama tersebut diadakan di Asisi, Italia. Pertemuan yang diadakan World Wildlife Fund (WWF) pada 1986 bergiat mengumpulkan seluruh pemuka agama untuk menghadapi krisis lingkungan dan konservasi alam yang terjadi di bumi dan menghasilkan “Deklarasi Asisi”, di mana masing-masing agama memberi pernyataan tentang peran mereka dalam melestarikan alam. “Kerusakan lingkungan hidup merupakan akibat dari ketidaktaatan, keserakahan dan ketidakperdulian (manusia) terhadap karunia besar kehidupan (Budha). “Kita harus, mendeklarasikan sikap kita untuk menghentikan kerusakan, menghidupkan kembali menghormati tradisi lama kita (Hindu).” “Kami melawan segala terhadap segala bentuk eksploitasi yang menyebabkan kerusakan alam yang kemudian mengancam kerusakannya,” (Kristiani) “Manusia adalah pengemban amanah,”berkewajiban untuk memelihara keutuhan CiptaanNya, integritas bumi, serta flora dan faunanya, baik hidupan liar maupun keadaan alam asli,” (Muslim) Indonesia inisiatif mengadakan kerjasama penyelamatan lingkungan melalui tokoh agama juga telah dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan The World Bank mengundang pemuka-pemuka agama mengadakan Conference on Religion and Conservation pada 18 Desember 2002, yang menghasilkan ‘Kebun Raya Charter’ yang intinya melibatkan peran para pemuka agama dan ulama dalam menanggulangi permasalah konservasi alam dan lingkungan hidup. Laporan pertemuan ini dapat dilihat pada publikasi LIPI: Peran Agama dan Etika Dalam Konservasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan (A.A. Arief, E.B. Prasetyo & A.Kartikasari, LIPI 2003). Bulan Mei 2004, para ulama pesantren yang difasilitasi oleh Konsorsium INFORM berkumpul untuk merumuskan Fikih Lingkungan dan

14

menghasilkan dokumen Fiqh al-Biah (A.S. Muhammad dkk Laporan INFORM 2004; TROPIKA Juli- September 2004 hal 41), aksi serupa dilakukan lagi oleh CI Indonesia untuk menggalang kesadaran umat Islam melalui pelatihan santri, lokakarya Islam dan da’wah langsung ke lapangan (lihat artikel: Merawat Alam Kembali Pada Fitrah Agama; Da’wah Konservasi di Wakatobi; Pulang Dari Bodogol Menjadi Da’i Leuweng).
3.2 Deklarasi Rio de Janeiro

3.2.1 Sejarah Deklarasi Rio de Janeiro Tahun 1992 kembali PBB mengadakan konferensi tentang lingkungan dan pembangunan UNCED (United Nations Conference on Enviroment and Development) di Rio de Janeiro. Konferensi diikuti oleh 107 orang pemimpin. Konferensi ini menghasilkan lima dokumen sebagai berikut: 1) Deklarasi Rio yang dikenal Earth Chapter yang terdiri 27 prinsip yang memrakarsai kerja sama internasional tentang perlunya pembangunan dengan prinsip perlindungan lingkungan dan analis dampak lingkungan. 2) Agenda 21 merupakan action plan di abad ke-21 yang memberi arah program pembangunan dengan prinsip penyelamatan lingkungan. Beberpa yang dicakup, antara lain soal perdagangan, pengentasan kemiskinan, masalah kependudukan, masalah perkotaan, kesehatan, atmosfer, sumber daya lahan pertanian, kekeringan hutan, bioteknologi, kelautan, bahan keracunan, limbah padat, dan limbah radioaktif. 3) Konvensi tentang perubahan iklim yang mengharuskan pengurangan sumber emisi gas seperti CO2, limbah pabrik. 4) Konvensi keanekaragaman hayati, yang mengajak semua negara untuk mengusahakan keanekaragaman hayati sumber daya alam yang dimiliki dan manfaat dari sumber daya tersebut. 5) Pernyataan tentang prinsip kehutanan, berupa pedoman pengelolaan hutan perlindungan serta pemeliharaan semua tipe hutan yang bermakna ekonomis dan keselamatan berbagai jenis biotanya.

15

Beberapa pertemuan dan hasil serta deklarasi yang dikeluarkan telah memberikan semangat dan menyadarkan untuk memperbaiki dan menjaga kelestarian lingkungan hidup. Bahkan, di Indonesia diperkuat dengan berbagai lembaga yang menopang bagi usaha penyelamatan lingkungan. Di samping ada kementrian yang merupakan pengendali utama dalam menentukan kebijakan lingkungan juga telah diusahakan meningkatkan kesadaran dan memasayarakatkan tentang kelestarian lingkungan, misalnya melalui pendidikan. Dalam kenyataannya, sekalipun tingkat pendidikan dan ketrampilan penduduk dalam menerapkan Iptek telah maju pesat, masih banyak penduduk yang kurang sadar akan arti lingkungan bagi kelangsungan hidup manusia. Masih banyak penduduk baik secara sengaja maupun tidak sengaja melakukan aktivitas dan kegiatan yang dapat merusak lingkungan. Contohnya sebagai berikut: 1) Berburu binatang yang dilindungi undang-undang, sehingga beberapa jenis binatang tertentu yang terancam punah. 2) Menangkap ikan dengan bahan peledak, menggunakan listrik atau dengan racun yang sangat menganggu kelangsungan hidup bibit ikan yang lain. 3) Pencurian kayu hutan dan penebangan hutan secara sembarangan. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya erosi, tanah longsor, banjr, bahkan kekeringan dan tanah tandus. 4) Menggembala ternak secara sembarangan, sehingga sering merusak tanaman, selokan air irigasi, dan pematang penahan air. 5) Membuang limbah secara sembarangan, sehingga mencemari udara. Air dan selanjutnya akan mengganggu kesehatan penduduk, dan kesuburan tanaman. 6) Penggunaan kendaraan bermotor yang berlebihan gasnya, tidak sesuai dengan ketentuan akan menimbulkan polusi udara yang juga dapat mengganggu kesehatan penduduk.

3.2.2

Tujuan Deklarasi Rio de Janeiro Konferensi Rio berupaya menyatukan perhatian dunia tentang masalah

lingkungan yang tetjadi diplanet ini. Masalah itu sangat berkaitan erat dengan

16

kondisi ekonomi dan masalah keadilan social. Konferensi juga mendeklarasikan bahwa jika rakyat miskin dan ekonomi nasionalnya lemah, maka lingkungannya yang menderita. Jika lingkungan hidup disalahgunakan dan sumber daya dikonsumsi secara berlebihan, akibatnya rakyat menderita dan perekonomian pun morat-marit. Tujuan utama konferensi bumi ini adalah untuk menghasilkan agenda lanjutan. Sebuah perencanaan bagi gerakan internasional dalam menghadapi isu-isu lingkungan hidup dan pembangunan. Perencanaan tersebut akan membantu memberi arahan bagi suatu kerja sama internasional serta pembuatan kebijakan pembangunan kedepan. Konferensi bumi menyepakati bahwa konsep pembangunan berkelanjutan merupakan tujuan dari setiap manusia yang hidup diatas muka bumi. Bagaimanapun, menyatukan dan menyeimbangkan perhatian dibidang ekonomi, sosial, dan lingkungan membutuhkan cara pandang baru. Baik mengenai bagaimana kita menghasilkan dan memakai sumber daya, bagaimana kita hidup, bagaimana kita bekerja, bagaimana kita bergaul dengan orang lain, atau bagaimana cara kita membuat keputusan. Konsep ini menjadi perdebatan panjang baik dikalangan pemerintahan, juga antara pemerintah dan masyarakatnya tentang bagaimana mencapai berkelanjutan tersebut. 3.2.3 Hasil Deklarasi Rio de Janeiro Selama konferensi tersebut, pemimpin dunia meratifikasikan lima instrumen mayor, deklarasi Rio, agenda 21, konvensi kerangka perubahan iklim, konvensi keanekaragaman hayati, dan pernyataan prinsip-prinsip kehutanan. Semua dokumen sudah disepakati sebelum Rio, kecuali agenda 21. Hasil-hasil dari KTT bumi adalah : a. Deklarasi Rio Satu rangkaian dari 27 prinsip universal yang bisa membantu mengarahkan tanggung jawab dasar gerakan internasional terhadap lingkungan dan ekonomi. b. Konvensi Perubahan Iklim ( FCCC ) Kesepakatan Hukum yang telah mengikat telah ditandatangani oleh 152 pemerintah pada saat komperensi berlangsung. Tujuan pokok Konvensi ini adalah " Stabilisasi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfir pada tingkat yang

17

telah mencegah terjadinya intervensi yang membahayakan oleh manusia terhadap system Iklim" c. Konvensi Keanekaragaman hayati Kesepakatan hukum yang mengikat telah ditandatangani sejauh ini oleh 168 negara. Menguraikan langkah-langkah kedepan dalam pelestarian keragaman hayati genetic.
d. Pernyataan Prinsip-Prinsip Kehutanan.

dan

pemanfaatan

berkelanjutan

komponen-komponennya,

serta

pembagian keuntungan yang adil dan pantas dari penggunaan sumber daya

Prinsip-prinsip yang telah mengatur kebijakan nasional dan internasional dalam bidang kehutanan. Dirancang untuk menjaga dan melakukan pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya hutan global secara berkelanjutan. Prinsip-prinsip ini seharusnya mewakili konsesi pertama secara internasional mengenai pemanfaatan secara lestari berbagai jenis hutan.
e. Komisi Pembangunan Berkelanjutan Commission on Sustainable

Development ( CSD ). Komisi ini di bentuk pada bulan desember 1992. Tujuan CSD adalah untuk memastikan keefektifan tindak lanjut KTT bumi. Mengawasi serta melaporkan pelaksanaan kesepakatan KOFERENSI Bumi baik di tingkat local , nasional, maupun internasional. CSD adalah komisi Funsional Dewan Ekonomi dan Sosial PBB ( ECOSOC ) yang beranggotakan 53 negara. Telah disepakati bahwa tinjauan lima tahunan majelis Umum PBB tentang Konperensi Bumi dan Agenda 21 harus dibuat pada bulan Juni 1997, dalam sidang istimewa rapat Earth Summit + 5 atau Rio + 5 di New York. Salah satu hasil KTT Bumi lainnya adalah Agenda 21, yang merupakan sebuah program luas mengenai gerakan yang mengupayakan cara baru dalam berinvestasi di masa depan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan Global di abad 21. Rekomendasi Agenda 21 ini meliputi cara-cara baru dalam mendidik, memelihara sumber daya alam, dan berpartisipasi untuk merancang sebuah ekonomi yangberkelanjutan. Tujuan keseluruhan Agenda 21 ini adalah untuk menciptakan

18

keselamatan, keamanan, dan hidup yang bermartabat. Pokok pokok cakupan Agenda 21 yang merupakan program aksi pembangunan berkelanjutan adalah : a. Social and Economic Dimension yang meliputi (1) kerjasama internasional untuk mempercepat pembangunan berkelanjutan negara berkembangserta kebijakan domestiknya. (2) Memerangi kemiskinan, (3) Merabah pola konsumsi, (4) dinamika demografi dan sustainibilitasi, (5) Proteksi dan peningkatan kesehatan manusia , (6) Promosi pengembangan pemukuman manusia berkelanjutan, (7) Integrasi lingkungan dan pembangunan dalam pengambilan keputusan.
b. Conservation and Management of Resources for Development yang

meliputi : (8) Proteksi atmosfir, (9) Pendekatan terintegrasi dalam perencanaan dan manajemen sumber daya lahan, (10) Memerangi deforestasi, (11) Pengelolaan ekosistem yang rawan, memerangi desertifikasi dan kekeringan, (12) Pengelolaan ekosistem yang rawan, pengembangan pegunungan berkelanjutan, (13) mempromosikan pertanian yang berkelanjutan dan pembangunan pedesaan, (14) konservasi keanekaragaman hayati, (15) pengelolaan bioteknologi berwawasan lingkungan, (16) Proteksi samudra, keaneka ragam kelautan, termasuk lautan tertutup dan semi tertutup,kawasan pesisir serta proteksi dan penggunaan secara rasional berikut pengembangan sumber alam hayati, (17) proteksi kualitas dan Supply air, (18) pengelolaan kimia toksik dan bahaya,(19) Pengelolan limbah beracun dengan wawasan lingkungan, termasuk pencegahan lalu lintas internasional secara illegal dalam limbah beracun dan berbahaya, (20) Pengelolaan limbah padat dan limbah cair berwawasan lingkungan, (21) pengelolaan yang aman dan berwawasan lingkungan dari limbah radio aktif. c. Strengthening the Role of major Group yang meliputi (22) aksi global bagi perempuan mengembangkan pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan, (23) anak dan pemuda dalam pembangunan berkelanjutan, (24) mengakui dan memberdayakan peranan organisasi non-pemerintah : mitra dalam pembangunan berkelanjutan, (26) Prakarsa otoritas local menunjang Agenda 21, (27) Memberdayakan peranan buruh serta serikat buruhnya, (28)

19

memberdayakan peranan bisnis dan industri, (29) Komunitas ilmuwan dan teknologi,(30) memberdayakan peranan petani.
d. MEANS OF Implementation mencakup: (31) sumber keuangan dan

mekanismenya, (32) Pengalihan teknologi berwawasan lingkungan, kerjasama serta pengembangan kapasitas, (33) ilmu pengetahuan bagi pembangunan berkelanjutan, (34) mempromosikan pendidikan, kesadaran publik dan latihan, (35) Mekanisme nasional dan kerjasama internasional untuk mengembangkan kapasitas dalam negara berkembang, (36) Pengaturan kelembagaan internasional,instrumental hukum dan mekanisme internasional, (37) Informasi bagi pengambilan keputusan. Untuk konteks Indonesia, Dokumen Agenda 21 nasional diselesaikan akhir tahun 1996. dokumen itu di capai lewat proyek pembangunan kapasitas pasca konferensi lingkungan hidup dan pembangunan PBB (UNCED), dilakukan oleh Menteri Lingkungan Hidup, dengan dukungan dari Program Pembangunan PBB (UNDP). Ada 22 Konsultan nasional yang terlibat dalam proyek ini. Proyek ini juga melibatkan berbagai pihak, antara lain pegawai pemerintah, ORNOP, Akademika, dan wakil masyrakat umum. Dokumen berisi rekomendasi untuk pembangunan berkelanjutan sampai tahun 2020 untuk setiap sector pembangunan, termasuk pelayanan masyarakat dan partisipasi masyarakat.
3.3 Peran Indonesia Dalam Menjalankan Deklarasi Rio De Janeiro

3.3.1 Hubungan Bilateral Indonesia-Republik Federal Brasil Pada tanggal 10-13 Januari 2007 Menteri Kehutanan, Malem Sambat Kaban melakukan kunjungan kerja ke Brasil. Tujuan kunjungan adalah mempelajari sistem pengelolaan Hutan Tanaman Industri di Brasil. Kunjungan tersebut ditindaklanjuti dengan kunjungan Tim Forest Monitoring and Assesment System (FOMAS) dipimpin oleh Sekretaris Jenderal Departemen Kehutanan ke Brasil. Pada tanggal 14-19 Januari 2008 Delegasi Brasil dipimpin oleh Direktur Jenderal Kerjasama Teknik Luar Negeri Kementerian Luar Negeri Brasil telah berkunjung ke Indonesia untuk menindaklanjuti rencana kerjasama kehutanan antara kedua

20

negara. Kedua pihak sepakat melakukan kerjasama melalui penandatanganan persetujuan kerjasama teknik. Saat ini pihak Indonesia menunggu rancangan Persetujuan yang akan disampaikan oleh pihak Brasil.Wilayah kerjasama yang potensial adalah pengawasan pengelolaan hutan melalui satelit, pendidikan dan pelatihan, pembuatan kertas bersertifikat internasional dan pengembangan biofuel. Sekretaris Jenderal Departemen Kehutanan menyampaikan kendala utama dalam kerjasama tersebut adalah masalah bahasa. 3.3.2 Paradigma Pembangunan Lingkungan Hidup Di Indonesia Menelaah gerakan lingkungan di Indonesia tentunya tidak bisa dilepaskan dari komponen pendukung sekaligus penunjang dari program pembangunan lingkungan hidup yaitu pemerintah, LSM, pihak yang terkait terhadap suatu program tertentu dan masyarakat. Mengkaji perkembangan gerakan lingkungan hidup tentunya banyak faktor yang dapat mempengaruhi, di antaranya:
a) Komitmen politik pemerintah terhadap pembangunan lingkungan hidup.

Setiap rezim pemerintah yang berkuasa mempunyai paradigma tersendiri dalam melihat program pembangunan lingkungan hidup sehingga dapat ditelusuri terjadinya perbedaan kebijakan dalam penanganan masalah lingkungan hidup. Hal ini telah dinyatakan oleh Sudarto P.Hadi yaitu : “ Kendatipun komitmen politik pemerintah cukup awal dibandingkan dengan sesama negara berkembang tetapi implementasi konsep pembangunan berkelanjutan seperti jalan di tempat. Di masa Orde Baru pencemaran dan kerusakan lingkungan meningkat baik dalam arti intensitas maupun keragamannya”.
b) Konsep dan aplikasi program pembangunan lingkungan hidup.

Hal ini dapat ditelusuri dari berbagai program pemerintah bersama, LSM atau masyarakat mengadakan program yang berdampak pada aspek kesejahteraan, aspek ekologis maupun kesadaran konservasi. Beberapa program yang dapat penulis ungkapkan di sini antara lain : 1). Program Seed for People : Hutanku Masa Depanku. Suatu program dengan upaya membangun sentra-sentra produksi kayu jati rakyat berbasis benih

21

unggul dengan pola sharing. Model pembangunan hutan kayu rakyat di masa depan yang mampu menjawab tantangan dalam menanggulangi kebutuhan industri kayu dan lahan kritis. Program ini merupakan pola kerjasama yang sinergis antara : Dep.Kehutanan, Pemkab, PT Perhutani dan masyarakat. 2) Pengelolaan produksi bersama (Joint Forest Resources Management) antara Perhutani dan masyarakat dan selanjutnya nanti diadakan Production Sharing Management (Manajemen Bagi Hasil) melalui studi PRA yaitu masyarakat diikutsertakan pada pengambilan keputusan, perencanaan dan pelaksanaan dan memberi peranan yang lebih besar dan prioritas kepada masyarakat dalam kegiatan yang banyak melibatkan masyarakat. 3). Community Based Forest Management. Peran pemerintah daerah sebagai fasilitator dalam mekanisme tata kelola sumber daya hutan di masing-masing wilayah hutan dan desa. Dampak positif pada terjaganya kualitas hutan, menekan jumlah perambah, dan peningkatan pendapatan masyarakat. 4). PT Perhutani dalam pengelolaan sumber daya hutan telah memberikan kesempatan kerja dan berusaha pada masyarakat hutan (masyarakat desa hutan) seperti reboisasi, pemeliharaan hutan, pemungutan hasil hutan. 5). Adanya bentuk-bentuk kegiatan seperti : Program Pendekatan Kesejahteraan Masyarakat (Prosperity Approach) seperti Insus dan Inmas Tumpangsari, Pembinaan Masyarakat Desa Hutan, Pengelolaaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM), Tanaman Obat-obatan dan lain-lain. 6). Perhutanan Sosial (Social Forestry). Aktivitas masyarakat desa, baik perorangan maupun kelompok dalam penanaman, pemeliharaan dan pemanfaatan hutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Program social forestry tersebut sudah termasuk di dalamnya agroforestry, prosperity approach, forestry forest for local community development.

22

7). Sejak tahun 1973, PT Perhutani mengikutsertakan masyarakat dengan prosperity approach yang disempurnakan dengan gerakan MALU : MantriLurah 8). Agroforestry Insus Tumpangsari. Konsep tumpangsari hutan adalah menanam tanaman selingan di antara tanaman pokok dalam lajur tersendiri, sebelum atau sesudah penanaman tanaman pokok selama pertumbuhannya tidak mempengaruhi atau dipengaruhi tanaman pokok. Bentuk-bentuk penyelesaian sengketa yang terjadi antara masyarakat dengan aparat pemerintah. Contoh yang dapat dikaji dari hal ini adalah kebijakan yang dikeluarkan aparat daerah dalam menyikapi konflik perhutanan, baik itu dengan masyarakat adat maupun ornop/LSM. Penyelesaian kasus-kasus perhutanan di Indonesia yang melibatkan perusahaan-perusahaan besar dapat dilihat sebagai fokus penilaian tingkat kepedulian aparat penegak hukum maupun masyarakat dalam penanganan kasus-kasus pelanggaran lingkungan hidup. Beberapa alasan di atas dapat ditelaah bahwa gerakan atau aliran lingkungan hidup yang dianut oleh Indonesia tidak dapat dikatakan menganut satu aliran. Banyak data empiris yang membuktikan pola-pola aliran tersebut berkembang secara natural dan sangat tergantung pada sudut pandang pihak tertentu dalam menyelesaikan konflik lingkungan hidup yang dihadapi. Dengan tidak dianutnya satu pola aliran maka dapat dikatakan pola aliran gerakan lingkungan hidup di Indonesia masih terproses dalam mencari bentuk atau dapat dikatakan menganut aliran kombinasi atau gabungan. Aliran kombinasi ini sesungguhnya merupakan hasil data empiris yang diterapkan di mana setiap kasus lingkungan hidup yang ditangani dapat dipecahkan dengan menganut ketiga aliran tersebut. Mengkaji permasalahan lingkungan hidup sepanjang sejarah hidup manusia, maka dapatlah ditarik benang merah yang saling terkait antara satu masalah dengan masalah yang lain. Jika ditelusuri sejarah pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia yang diatur dalam kaidah yuridis normatif mulai zaman Hindia Belanda, zaman Jepang dan zaman Kemerdekaan mempunyai ciri-ciri yang masing-masing berbeda sesuai sudut

23

pandangnya dan tergantung pada kebijakan pembangunan lingkungan hidup yang dicanangkan. Sejarah pengaturan lingkungan hidup telah banyak ditulis dalam berbagai literatur. Namun demikian, terdapat kesimpulan umum yang dapat penulis kemukakan yaitu : tingkat kepedulian pengelolaan lingkungan hidup dalam peraturan perundang-undangan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti : situasi politik, sosial budaya dan ekonomi, kualitas sumber daya manusia sampai globalisasi. Dalam pandangan yang demikian, maka komitmen bersama yang dituangkan dalam yuridis formal selayaknya teraplikasikan dalam mensikapi berbagai masalah lingkungan hidup yang terjadi dengan menjunjung tinggi supremasi hukum, menomorsatukan keadilan dan kepastian hukum serta mengindahkan prinsip-dasar ekologis. Dengan demikian konsep dasar pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan yang semula diistilahkan dengan pembangunan berwawasan lingkungan dan tertuang sejak GBHN tahun 1973 (dijabarkan dalam Repelita II) menjiwai setiap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan yang akan berlaku. Dengan demikian proses penegakan hukum lingkungan memalui instrumen kebijakan kriminal secara tidak langsung menjadi prinsip perjuangan para aparat penegak hukum untuk menomorsatukan kepentingan konsep dasar pembangunan yang berkelanjutan yang berwawasan lingkungan tersebut. Berkenaan dengan hal tersebut maka, hasil dari KTT Bumi di Rio mempunyai ikatan tertentu pada peserta KTT. Deklarasi Rio, Prinsip tentang Hutan dan Agenda 21 mempunyai kekuatan moril, sedangkan kedua konvensi yang lainnya mempunyai kekuatan hukum. Karena itu kewajiban yang terikat pada kedua konvensi lebih kuat daripada yang terikat pada hasil KTT yang lain. Lima tahun setelah Konferensi Rio telah disusun berupa Agenda 21 Indonesia : Strategi Nasional Untuk Pembangunan Berkelanjutan yang berisi visi dan rangkaian strategi dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Dokumen yang komprehensif ini memberikan petunjuk bagi keterkaitan pembangunan ekonomi dan sosial, perlindungan terhadap lingkungan dan sumber daya alam, serta paradigma baru dalam memandang aplikasi konsep pembangunan berkelanjutan yang berwawasan

24

lingkungan bagi Indonesia di masa depan. Dokumen ini mencakup aspek pelayanan masyarakat, pengelolaan limbah, pengelolaan sumber daya tanah dan pengelolaan sumber daya alam. Kondisi keterpurukan ekonomi seperti saat ini memberikan dampak negatif yang sangat besar terhadap aspek kelestarian lingkungan hidup. Masyarakat pun melakukan tindakan-tindakan yang dianggap di luar batas kewajaran sehingga aparat kewalahan mengatasinya. Melihat situasi seperti ini selayaknya para pihak yang terlibat dalam lingkungan hidup seperti pemerintah / aparat birokrasi, aparat penegak hukum, LSM, kaum akademisi maupun masyarakat mulai mengadakan reorientasi ulang perihal paradigma yang selama ini mereka anut terhadap lingkungan hidup dan pembangunan. Reorientasi itu dapat dimulai dari mencari hakekat akar permasalahan yang menyebabkan masalah lingkungan itu terjadi, menelusuri kebijakan lingkungan yang selama ini dirumuskan, mengadakan kajian tentang perlunya pengubahan paradigma pola pikir terhadap lingkungan hidup. Beberapa hal ini, nantinya akan sangat bermanfaat bagi pengambilan keputusan lingkungan hidup yang akan datang. 3.3.3 Green Ekonomi Di Bandung Bandung, (GNI) - Green Economy menjadi bahasan penting dalam Konferensi Internasional Anak dan Pemuda Tunza Indonesia 2011 di auditorium Sabuga Bandung. Menteri Negara Lingkungan Hidup Muhammad Hatta mengatakan Indonesia, dalam hal ini Bandung dipilih sebagai lokasi konferensi karena keseriusan pemerintah dalam melaksanakan ekonomi hijau. Dia mencontohkan kebijakan pemerintah yang akan merubah penggunakan energi terbarukan seperti matahari dan panas bumi sebagai pembangkit listrik dimasa depan. Presiden sudah memerintahkan 48 persen listrik dari geothermal. Achim Steiner perwakilan dari UNEP menyatakan hasil dari konferensi lingkungan bagi anak dan pemuda akan dibawa ke konferensi di Brasil tahun depan. “Apa yang dihasilkan di Bandung akan dibawa dalam konferensi lingkungan di Rio-Brazil pada Juni 2012 mendatang. Sehingga diharapkan anak dan pemuda yang hadir mampu memberikan ide dan kritik terkait pengelolaan lingkungan dan green economy,” ujarnya. Dalam

25

rangkaian Tunza 2011, diresmikan pula Deklarasi Baksil sebagai Hutan Kota Dunia di Kawasan Babakan Siliwangi, Bandung. Konferensi ini dihadiri 1.500 peserta anak dan pemuda dari 150 negara. Pemandangan dari udara hutan alami yang terus dirambah di kawasan Kabupaten Merangin, Jambi. Sebagian besar kawasan hutan penyangga mengalami kerusakan parah akibat aktivitas perambahan dan dialihfungsikan. Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan dalam kunjungannya, meminta masyarakat perambah untuk menghentikan aktivitas perambahan hutan yang kian marak itu. Indonesia mengajak negara pemilik hutan tropis menyatukan posisi dan memperjuangkan kepentingan bersama negara berkembang di berbagai pertemuan internasional. Upaya tersebut menjadi sangat penting diperlukan menjelang konferensi tingkat tinggi (KTT) COP 17 UNFCCC di Durban, Afrika Selatan, Desember 2011 dan Pertemuan Rio+20 di Brasil pada 2012 yang membahas perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan. Ajakan itu disampaikan Menteri Kehutanan (Menhut), Zulkifli Hasan, saat menjadi pembicara pertama pada KTT Hutan Tropis di Tiga Lembah Sungai (Basin) di Brazzaville, Republik Kongo beberapa waktu lalu. KTT ini sendiri membahas pengelolaan hutan berkelanjutan (sustainable forest management) di lembah sungai Amazon, Congo, dan Asia Tenggara, sekaligus memastikan kontribusi dari ketiga basin tersebut dalam upaya menghadapi perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan. Menurut menteri, KTT ini menjadi sangat penting karena keanekaragaman hayati dalam hutan tropis yang ada di ketiga lembah sungai ini sangat tinggi. Apalagi, hutan tropis ini juga menjadi sumber mata pencaharian jutaan penduduk di sekitarnya. Karena itu, Menhut dalam pertemuan itu menekankan pengelolaan hutan tropis harusnya tidak hanya dipandang penting dari perspektif perubahan iklim dan lingkungan, tetapi juga dari sisi sosial ekonomi beberapa negara yang melingkupinya. Menurut Menteri Kehutanan hal ini harus terus diperjuangkan negara berkembang pemilik hutan tropis. Untuk itu, dia memandang pentingnya kerja sama di antara negara-negara pemilik hutan tropis dalam memperjuangkan kepentingan bersama di berbagai petemuan internasional, termasuk COP 17 UNFCCC yang digagas PBB. Harus dipastikan pertemuan interasional memberikan manfaat kepada negara-negara

26

berkembang dan secara khusus kepada negara pemilik hutan tropis, hal itu juga sejalan dengan misi Indonesia mendukung inisiatif meningkatkan kerja sama dalam mewujudkan pengelolaan hutan secara berkelanjutan di seluruh penjuru dunia yang tercermin dari inisiatif Indonesia mendirikan dan kini mengetuai kelompok ‘Forest 11’ yang beranggotakan Brasil, Kosta Rika, Kamerun, Kolombia, Republik Demokratik Kongo, Gabon, Guatemala, Guyana, Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Peru, Republik Kongo, dan Suriname. Seperti negara-negara pemilik hutan tropis lainnya, kata menteri di hadapan perwakilan 32 negara dan di antaranya 7 Presiden, 3 Perdana Menteri, dan 3 Wakil Presiden, Indonesia sangat percaya mengenai harus ada pendekatan yang seimbang dalam memandang hutan. "Hanya dengan kerja sama yang berkelanjutan di antara kita sebagai bangsa-bangsa hutan tropis, kita bisa menjamin untuk mendapatkan manfaat yang optimal dari hutan dalam konteks pengentasan kemiskinan, pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Apalagi kawasan hutan menyediakan jasa lingkungan yang tak ternilai kepada dunia Indonesia bertekad mencapai tujuan kembar meningkatkan kesejahteraan rakyat sekaligus melindungi hutan. "Kita tahu ini bisa dilakukan dengan politik, inovasi, dan kreativitas," tegas Menhut yang pada KTT itu terus berupaya keras menarik simpati negara-negara Afrika untuk mendukung pencalon Indonesia sebagai Dirjen FAO. Kesamaan posisi negara pemilik hutan tropis ini menjadi demikian penting bagi Indonesia ketika semua pihak mengetahui bagaimana perundingan perbahan iklim di Cancun, Meksiko, dan berbagai perundingan sebelumnya mengalami jalan buntu karena pertentangan antara Eropa dan AS mengenai subsidi dan kurangnya perhatian negara pengemisi terhadap nasib pengelolaan hutan tropis di negara berkembang serta upaya kongkrit dunia dalam mengurangi emisi karbon. Sementara Sekjen Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Hadi Daryanto, yang juga menjadi anggota delegasi RI pada pertemuan di Kongo, Afrika, tersebut mengatakan, KTT menyepakati pembentukan sebuah biro untuk menindaklanjuti berbagai hasil pertemuan. Peserta KTT juga sepakat menunjuk Indonesia, Kongo dan Guyana mewakili pemilik hutan tropis di ketiga lembah sungai tersebut serta Afrika Selatan (tuan

27

rumah COP 17 UNFCCC) dan Brasil (tuan rumah konferensi Rio+20) duduk dalam biro tersebut dan terus bekerja sama menyelesaikan konsep perjanjian kerja sama (cooperation agreement). Konsep perjanjian kerja sama ini diharapkan dapat ditandatangani pada konferensi Rio+ 20. Peserta KTT akhirnya setuju membuat rujukan megenai perlunya pembahasan kerja sama dalam beberapa pertemuan lainnya. Poin penting dalam isu ini adalah perjanjian kerja sama tersebut harus dapat diselesaikan paling lambat dalam konferensi Rio+20 pada 2012 di Brasil. Proses konsultasi ini diharapkan dapat dilaksanakan antara lain pada Sidang Majelis Umum PBB ke-66 dan COP 17 UNFCCC di Afrika Selatan Desember 2011. "Karena itu, akhirnya dibentuk biro untuk menindaklanjuti kesepakatan ini," ujarnya. Selain pembentukan biro, kata Hadi, peserta KTT untuk menyetujui usulan Indonesia agar dokumen deklarasi bersama (joint declaration) bersifat politis. Deklarasi ini juga tidak mencantumkan arahan kepada menteri di sektor kehutanan untuk membuat sebuah "actian plan" yang bersifat teknis. Selain beberapa kesepakatan di atas, kata Sekjen Kemenhut, pertemuan tingkat tinggi ini juga diharapkan dapat menyetujui usulan pembentukan "political body". Badan ini yang bertugas mengimplementasikan berbagai kesepakatan, termasuk mekanisme pendanaan badan yang dibentuk. Hasil yang dicapai dari KTT ini yang akan menjadi kontribusi negara pemilik hutan tropis pada pertemuan UNFC CC ke-17 di Durban dan Pertemuan Rio+20 di Brazil, tegasnya.

BAB IV PENUTUP

28

4.1 Kesimpulan Brazil merupakan negara yang terluas di Amerika Selatan, sebagai negara terluas, Brazil dikaruniai Sumber Daya Alam yang berlimpah yang harus tetap dilestarikan. Krisis lingkungan tengah terjadi saat ini, berbagai permasalahan lingkungan dirasakan semakin meningkat pada dekade ini. Hingga akhirnya diadakan pertemuan Bumi di Rio de Janeiro menghasilkan deklarasi bumi tahun 1992. Para ilmuwan telah menunjuk dengan penelitian intensif bahwa planet bumi telah terancam, selain itu akibat perubahan iklim dan kehilangan habitat dan ekspansi yang dilakukan manusia, kepunahan spesies semakin bertambah tinggi. Indonesiapun turut ikut dalam program penyelamatan lingkungan ini, pada tanggal 10-13 Januari 2007 Menteri Kehutanan, Malem Sambat Kaban melakukan kunjungan kerja ke Brasil. Tujuan kunjungan adalah mempelajari sistem pengelolaan Hutan Tanaman Industri di Brasil dan melakukann kerjasama melalui penandatanganan persetujuan teknik. Selain itu Indonesia juga memasukkan green economy sebagai bahasan pentinga dalam Konferensi Internasional Anak dan Pemuda Tunza Indonesia 2011 yang diadakan di Auditorium Sabuga Bandung. Salah satu topik yang dibahas adalah hutan alami yang terus dirambah di kawasan Kabupaten Merangin, Jambi yang mengalami kerusakan parah. Hingga akhirnya para peserta KTT juga sepakat menunjuk Indonesia, Kongo dan Guyana mewakili pemilik hutan tropis. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia pada umumnya dan pemerintah Indonesia pada khususnya telah memperhatikan lingkungan dan ikut serta dalam penyelamatan lingkungan. Kota Rio de Janeiro di Brazil mencatat sejarah penting karena menyelenggarakan KTT Bumi yang dihadiri utusan dari 165 negara pada tahun Juni 1992. Dari berbagai perundingan dihasilkan konvensi yang menyankut lingkungan hidup. Sebagian besar negara ikut menandatangi untuk diratifikasi di negara masing-masing. Namun masih ada negara yang menoleh salah satu konvensi, misalnya Amerika Serikat yang menolak penandatanganan konvensi mengenai keanekaragaman hayati.

29

4.2 Saran KTT Bumi di yang diadakan di Rio de Janeiro perlu diikuti berbagai aksi dan tidak hanya sekedar menjadi arena adu slogan, KTT ini merupakan awal mengamankan lingkungan. Selama ini negara berkembang hanya dijadikan “kambing hitam” berbagai kerusakan lingkungan padahal yang rakus dalam mengeksploitasi sumber daya alam dan linkgungan tak lain adalah negara maju yang telah melakukannya sejak ratusan tahun yang lalu. Negara industri maju telah “kenyang” dalam mengkonsumsi sumber daya alam, sudah selayaknya bisa memikul tanggung jawab yang lebih besar terhadap upaya pemeliharaan dan perbaikan kualitas lingkungan. Negara industri maju memiliki dana dan teknologi yang memadai. Terlepas dari hal itu, lingkungan sebagai karunia yang diberikan Tuhan harus tetap dijaga kelestariannya. Dan hal ini harus dilakukan oleh semua pihak, tidak hanya beberapa pihak saja, karena lingkungan adalah milik bersama yang harus dijaga bersama.

30

DAFTAR PUSTAKA

http://ganjarbrasilia.wordpress.com/analisis-potensi-negara-brazil-menjadi-negaraadidaya/ http://www.globalnews-indonesia.com/fullpost/berita-utama/1317116541/greeneconomy-jadi-bahasan-penting-dalam-tunza-indonesia-2011.html http://www.analisadaily.com/news/read/2011/09/04/11079/indonesia_ajak_pemilik _hutan_tropis_satukan_posisi/#.TsJP2VaWPiQ http://green.kompasiana.com/penghijauan/2011/03/31/rio-dan-ktt-bumi-1992/ J. A. Katili, Sumber Daya Alam untuk Pembangunan Nasional, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1983 : hlm. 22 Siti Sundari Rangkuti, Hukum Lingkungan dan Kebijaksanaan Lingkungan dalam Proses Pembangunan Hukum Nasional Indonesia, (Disertasi, UNAIR, Surabaya, 1986), hlm. 29-30 Daud Silalahi, Hukum Lingkungan. Dalam Sistem Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia, Alumni, Bandung : hlm. 5 Otto Soemarwoto, Indonesia Dalam Kancah Isu Lingkungan Global, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1992 : hlm. 2-5 Otto Soemarwoto, “Dari Stockholm ke Rio : Implikasinya bagi Pembangunan Nasional”, dalam Analisis CSIS, Tahun XXI, No. 6, November-Desember 1992, hlm. 498-513

31

Mohamad Soerjani, Pembangunan dan Lingkungan. Meniti Gagasan dan Pelaksanaan Sustainable Development, IPPL, Jakarta, 1997 : hlm. 51-56. N. Teguh Budi Harjanto, Memajukan Demokrasi Mencegah Disintegrasi. Sebuah Wacana Pembangunan Politik, Tiara Wacana, Yogyakarta, 1998, hlm. 85. Ibid, Otto Soemarwoto, 1992, hlm. 500 Anthony Giddens, Jalan Ketiga. Pembaruan Demokrasi Sosial, Penerjemah Ketut Arya Mahardika, Gramedia, Jakarta, 1999, hlm. 64. Donald N. Dewees, Report of The Environmental Sector Review (Phase II), Volume II, Persuit os Sustainable Development, (Paper), Jakarta, 1987, p.1. Lihat dalam Michael Keating, Bumi Lestari. Menuju Abad 21, Konphalindo, 1994, hlm. XV. Conf. Ibid, Mohammad Soerjani, 1997, hlm. 55-56. Edith Brown Weiss, “Our Rights and Obligations to Future Generations for the Environment” dalam American Journal of International Law, Vol. 84, 1991, p.201-2002. Mas Achmad Santoso “Aktualisasi Prinsip-Prinsip Pembangunan Berkelanjutan yang Berwawasan Lingkungan dalam Sistem dan Praktek Hukum Nasional “, dimuat dalam, Jurnal Hukum Lingkungan Tahun III, 1996, halaman 1-21 Otto Soemarwoto, Indonesia Dalam Kancah Isu Lingkungan Global, PT Gramedia, Jakarta, 1992 ; hlm.7-8. Bumi Wahana, Strategi Menuju Kehidupan yang Berkesinambungan, Op.Cit, hlm.1. Ton Dietz dalam Entitlements to Natural Resources Countours of Political. Environmental Geography, International Books, Utrecht, 1996. Selanjutnya diterjemahkan Roem Topatimasang : Pengakuan Hak Atas Sumberdaya

32

Alam. Kontur Geografi Lingkungan Politik, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998. Sudarto.P.Hadi, Manajemen Lingkungan Berbasis Kerakyatan dan Kemitraan, Pidato Pengukuhan Guru Besar UNDIP, Semarang 12 Oktober 1999, hlm.3 Koesnadi Hardjasoemantri, Hukum Tata Lingkungan, Gadjah Mada University Press, 1992 ; Siti Sundari Rangkuti. Op.Cit ; Daud Silalahi, Hukum Lingkungan. Dalam Sistem Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia, Alumni, Bandung, 1992. ; Harun M. Husein, Lingkungan Hidup. Masalah, Pengelolaan dan Penegakan Hukumnya, Bumi Aksara, Jakarta, 1993 ; Bambang Pamulardi, Hukum Kehutanan dan Pembangunan Bidang Kehutanan, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful