SEMINAR KASUS ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (DALAM ) PADA NY.

S DENGAN BRONKOPNEUMONIA DI RUANG ANGGREK I RSUD Dr MOEWARDI SURAKARTA

OLEH: Hazil Maryadi 070110B014

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS PROGRAM STUDI ILMU KEPERWATAN STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN 2011

KONSEP TEORI
BRONKOPNEUMONIA A. Definisi Pneumonia merupakan peradangan perenkim paru-paru yang biasanya berasal dari suatu infeksi.(Price,1995) Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan menimbulkan gangguan pertukaran gas setempat (Zul, 2001) Bronkopneumonia digunakan untuk menggambarkan pneumonia yang mempunyai pola penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi dalam bronki dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya. Pada bronkopneumonia terjadi konsolidasi area berbercak. (Smeltzer,2001). Perubahan system respirasi yang berhubungan dengan usia yang mempengaruhi kapasitas dan fungsi paru meliputi: 1. 2. 3. 4. 5. 6. B. Peningkatan diameter anteroposterior dada. Kolaps osteoporotik vertebrae yang mengakibatkan kifosis

(peningkatan kurvatura konveks tulang belakang). Kalsifikasi kartilago kosta dan penurunan mobilitas kosta. Penurunan efisiensi otot pernapasan. Peningkatan rigiditas paru. Penurunan luas permukaan alveoli.

Klasifikasi pneumonia Klasifikasi menurut Zul Dahlan (2001): a. Berdasarkan ciri radiologis dan gejala klinis, dibagi atas: • • Pneumonia tipikal, bercirikan tanda-tanda pneumonia lobaris dengan Pneumonia atipikal, ditandai gangguan respirasi yang meningkat lambat opasitas lobus atau lobularis. dengan gambaran infiltrate paru bilateral yang difus. b. Berdasarkan faktor lingkungan

Lobar dan bronkopneumonia dikategorikan berdasarkan lokasi anatomi infeksi. c. • Pneumonia non bakterial. bakterial dan fungi dikategorikan berdasarkan pada agen penyebabnya. Klebsiella atau aureus stapilococcus. b. clamydia pneumoniae atau legionella. Pneumonia streptococcal merupakan organisme penyebab umum. Organisme seperti ini aeruginisa pseudomonas. dikenal pneumonia atipikal yang disebabkan mycoplasma. kultur sensifitas dilakukan untuk mengidentifikasikan organisme perusak. bukan hanya menurut lokasi anatominya saja. Klasifikasi berdasarkan Reeves (2001): a. Berdasarkan sindrom klinis • Pneumonia bakterial berupa: pneumonia bakterial tipe tipikal yang terutama mengenai parenkim paru dalam bentuk bronkopneumonia dan pneumonia lobar serta pneumonia bakterial tipe campuran atipikal yaitu perjalanan penyakit ringan dan jarang disertai konsolidasi paru. Hospital Acquired pneumonia dikenal sebagai pneumonia nosokomial. merupakan bakteri umum penyebab Hospital Acquired pneumonia c. C. Etiologi . d. Pneumonia viral.• • • • • • Pneumonia komunitas pneumonia nosokomial pneumonia rekurens pneumonia aspirasi pneumonia pada gangguan imun pneumonia hipostatik. Community Acquired Pneumonia dimulai sebagai penyakit pernafasan umum dan bisa berkembang menjadi pneumonia. Tipe pneumonia ini biasanya menimpa kalangan anak-anak atau kalangan orang tua. Sekarang ini pneumonia diklasifikasikan menurut organisme.

D. takipnea. nafas dangkal dan mendengkur.Aeruginosa.1o C. Bakteri gram negative seperti Haemophilus influenza. Mengecil. Protozoa Menimbulkan terjadinya pneumocystis carinii pneumonia (CPC). dasar kuku kebiruan.2001). (Reeves. c.80 C sampai 41. s. klebsiella pneumonia dan P. tanah serta kompos d. Virus Disebabkan oleh virus influenza yang menyebar melalui transmisi droplet. pyogenesis. E. aureus dan s. egofoni. Nyeri pleuritik. . Organsime gram positif seperti: streptococcus pneumonia. b. Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyabab utama pneumonia virus. delirium Diaforesis Anoreksia Malaise Batuk kental. Biasanya menjangkiti pasien yang mengalami imunosupresi. kemudian menjadi hilang. Bakteri Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. produktif Sputum kuning kehijauan kemudian berubah menjadi kemerahan atau berkarat. ronki. Gelisah Sianosis Area sirkumoral. Jamur Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran burung. Gerakan dada tidak simetris Menggigil dan demam 38. • • • • • • • • • • Pathways TERLAMPIR Manifestasi klinis Kesulitan dan sakit pada saat pernapasan.a. krekels. Bunyi nafas di atas area yang mengalami konsolidasi.

G.atau • • mikoplasma sinar X dada mungkin bersih. titer virus atau legionella. bronkoskopi fiberotik atau biopsy pembukaan paru untuk mengatasi organisme penyebab. 1999). Penatalaksanaan a. • JDL: leukositosis biasanya ada. aspirasi transtrakeal.elektrolit natrium dan klorida mungkin rendah. sedangkan bila berat diberikan secara parenteral. maka harus diingat kemungkinan penggunaan antibiotik tertentu perlu penyesuaian dosis (Harasawa. ansietas. Apabila terdapat penurunan fungsi ginjal akibat proses penuaan. terlibat dan penyakit paru yang ada. empiema (stapilococcus). tergantung pada luas paru yang Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah: diambil dengan biopsi jarum. Aspirasi perkutan/biopsi jaringan paru terbuka menyatakan intranuklear tipikal dan keterlibatan sitoplasmik (CMV) (Doenges. GDA: tidak normal mungkin terjadi. Pneumonia abses luas/infilrat. hipoksemia. LED: meningkat Pemeriksaan fungsi paru: volume mungkin menurun (kongesti dan kolaps). aglutinin dingin. Masalah-masalah psikososial: disorientasi. Kemoterapi Pemberian kemoterapi harus berdasarkan petunjuk penemuan kuman penyebab infeksi (hasik kultur sputum dan tes sensitivitas kuman teradap antibodi). • • • Pemeriksan serologi. meski sel darah putih rendah terjadi pada infekksi virus. Bila penyakitnya ringan antibiotik diberikan secara oral. tekanan jalan napas mungkin meningkat dan komplain menurun.• F. takut mati. • • Bilirubin mungkin meningkat. dapat juga menyatakan penyebaran/perluasan infiltrate nodul (virus).1989) . Pemeriksaan penunjang • Sinar X: mengidentifikasi distribusi struktural. kondisi tekanan imun memungkinkan berkembangnya pneumonia bakterial.infiltrate menyebar atau terlokalisasi (bacterial).

Bunyi nafas: menurun atau tidak ada di atas area yang terlibat atau nafas bronchial. takikardia. Pernafasan Riwayat PPOM. takipnea. perubahan mental. hiperaktif bunyi usus. masalah finansial. penampilan malnutrisi. kulit kering dengan turgor buruk. Letargi. Perkusi: pekak di atas area yang konsolidasi. atau sianosis pada bibir/kuku. kemerahan mungkin pada kasus rubella/varisela. d. Sputum berwana merah muda. Sirkulasi Riwayat gagal jantung kronis. kelemahan dan dekubitus. Distensi abdomen. menggigil berulang. Integritas ego Banyak stressor. kelelahan. f. H. bila ringan hidrasi oral. penurunan toleransi terhadap aktivitas. riwayat DM. nyeri dada meningkat dan batuk myalgia. h. Aktivitas/istirahat Kelemahan. merokok sigaret. demam. e. pelebaran nasal. tetapi jika berat dehidrasi dilakukan Fisioterapi. berkarat atau purulen. Nyeri/kenyamanan Sakit kepala . g. gemetar.. Pengobatan umum • • • Terapi oksigen Hidrasi. penampilan terlihat pucat. gesekan friksi pleural. mual/muntah. Fremitus: taktil dan vocal meningkat dengan konsolidasi. Pengkajian a. Keamanan Riwayat gangguan sistem imun. penderita perlu tirah baring dan posisi penderita perlu diubah- secara parenteral. Makanan/cairan Kehilangan nafsu makan. c. Neurosensori Sakit kepala. Warna: pucat. Berkeringat. penggunaan otot aksesori. ubah untuk menghindari pneumonia hipografik. . b. pernafasan dangkal.b. dispnea. insomnia.

5. analgesik. 3. penggunaan alkohol kronis. sianosis. penurunan energi. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan inflamasi trakeobronkial. kelemahan. bunyi nafas tidak normal. 4. 2. dispnea. • • • Berikan cairan tambahan Awasi seri sinar X dada. pembentukan oedema. . sianosis. taikardia. tidak ada dispnea atau sianosis. 2. hipoksia. • Kriteria hasil: menunjukkan perilaku mencapai kebersihan jalan nafas. Penyuluhan Riwayat mengalami pembedahan. • Intervensi keperawatan: 1. bronkodilator. Diagnosa keperawatan 1. gelisah.i. Kolaborasi: bunyi nafas tambahan (krakles./perubahan mental. GDA. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolarkapiler (efek inflamasi) dan gangguan kapasitas oksigen darah ditandai dengan dispnea. penggunaan otot aksesori. nyeri pleuritik. ekspektoran. catat area penurunan/tidak ada aliran udara dan Bantu pasien untuk batuk efektif dan nafas dalam Berikan cairan sedikitnya 2500ml/hari. • Berikan obat sesuai indikasi: mukolitik. Auskultasi paru. Nadi oksimetri.ditandai dengan perubahan frekuensi kedalaman pernafasan. I. menunjukkan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih. Bantu bronkoskopi/torakosintesis bila diidikasikan. peningkatanan produksi sputum. • Kaji frekuensi/ kedalaman pernafasan dan gerakan dada. batuk efektif/tidak efektif dengan atau tanpa produksi sputum. mengi) Bantu mengawasi efek pengobatan nebulizer dan fisioterapi lain.

Tinggikan kepala dan bahu. Intervensi keperawatan: Mandiri: • • • • Kaji frekuensi. kedalaman dan kemudahan bernafas. penurunan kompliance paru. Kriteria hasil: Menunjukkan pola pernafasan normal/efektif dengan GDA dalam rentang normal. nafas dalam dan batuk efektif. nyeri ditandai dengan dispnea. . Kaji tingkat ansietas. kedalaman pernafasan dan ekspansi dada.Kriteria hasil: Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang normal dan tidak ada gejala distress pernapasan Berpastisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigen. Intervensi keperawatan: Mandiri: • • • • • • • • • • • Kaji frekuensi. GDA abnormal. Awasi GDA Kolaborasi 3. Bantu tindakan kenyamanan untuk menurunkan demam dan menggigil. Dorong menyatakan masalah/perasaan. penggunaan otot aksesori. Observasi warna kulit. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan proses inflamasi. Auskultasi bunyi nafas. takipnea. Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi. Obsrvasi pola batuk dan karakter sekret. Berikan terapi oksigen dengan benar. perubahan kedalaman nafas. Kaji status mental. membran mukosa dan kuku. Pertahankan istirahat tidur. Awasi status jantung/irama Awasi suhu tubuh. sesuai indikasi.

4. 6. Pantau warna kulit. 2. Batasi pengunjung sesuai indikasi Lakukan isolasi pencegahan sesuai indikasi. Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/ menurunkan resiko infeksi. Ubah posisi dengan sering. 5. Berikan oksigen tambahan. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan adanya proses infeksi. Intervensi keperawatan: Mandiri: • • • • • Obsevasi suhu tubuh (4 jam). Kolaborasi 4. Kriteria hasil: pasien tidak memperlihatkan tanda peningkatan suhu tubuh. Awasi DGA. Berikan obat sesuai indikasi:antiseptik Awasi kultur darah dan kultur sputum. . 1. Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan utama dan tidak adekuat pertahanan sekunder (adanya infeksi. 3. Pantau TTV. Anjurkan klien memperhatikan pengeluaran sekret Dorong teknik mencuci tangan dengan baik. Intervensi keperawatan: dan melaporkan perubahan warna jumlah dan bau sekret. tidak menggigil. penekanan imun). Kriteria hasil: Mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tanpa komplikasi. 2.• • • Dorong/bantu pasien dalam nafas dalam dan latihan batuk efektif. Kolaborasi: 5. Lakukan tindakan pendinginan sesuai kebutuhan. pantau hasilnya setiap hari. • 1. nadi normal.

Pantau TTV. 2. Identifikasi faktor yang menimbulkan mual atau muntah. 2. 8. kesalahan intrpretasi . anoreksia. Ajarkan teknik relaksasi. 3. Nyeri berhubungan dengan inflamasi parenkim paru. hilang/terkontrol. 8. batuk menetap ditandai dengan nyeri dada. Berikan wadah tertutup untuk sputum dan buang sesering mungkin. Resiko tinggi nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi. 2. Intervensi keperawatan: 1. Intervensi keperawatan: 1.7. gelisah. 4. 3. kurang mengingat. • Kriteria hasil: 1. reaksi seluler terhadap sirkulasi toksin. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan tindakan berhubungan dengan kurang terpajan informasi. distensi abdomen. Anjurkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama Menunjukkan rileks. melindungi area yang sakit. sakit kepala. 5. 6. isirahat/tidur dan peningkatan aktivitas dengan cepat. 7. Berat badan stabil atau meningkat. Evaluasi status nutrisi. Auskultasi bunyi usus. Tentukan karakteristik nyeri. • 1. Menyebabkan nyeri episode batuk. 2. Dorong keseimbangan istirahat adekuat dengan Kolaborasi: Berikan antimikrobal sesuai indikasi. Berikan makan porsi kecil dan sering. aktivitas sedang.nyeri sendi. 4. Kriteria hasil: Menunjukkan peningkatan nafsu makan. perilaku distraksi.

penyataan kesalahan konsep. 2. . 2. 5. Diskusikan aspek ketidakmampuan dari penyakit. • 1. selama periode yang dianjurkan. 3. Tekankan pentingnya melanjutkan batuk efektif. 4. 1. kesalahan mengulang. Berikan dalam bentuk tertulis dan verbal. Melakukan perubahan pola hidup. pengobatan.ditandai dengan permintaan informasi. Tekankan perlunya melanjutrkan terapi antibiotik Kriteria hasil: Menyatakan pemahaman kondisi proses penyakit dan lamanya penyembuhan dan harapan kesembuhan. Intervensi keperawatan: Kaji fungsi normal paru.

protozoa Masuk alveoli Kongestif (4-12 jam)eksudat dan serous masuk alveoli Hepatisasi merah (48jam) paru-paru tampak merah dan bergranula karena SDM dan leukosit PMN mengisi alveoli Hepatisasi kelabu(3-8hari) paru-paru tampak kelabu karena leukosit dan fibrin mengalami konsolidasi di dalam alveoli PMN Berkeringat Metabolisme Resti nutrisi Resti nutrisi kurang kurang dari dari kebutuhan tubuh kebutuhan tubuh Konsolidasi jaringan paru Compliance paru menurun Nyeri pleuritik Resti terhadap Resti terhadap penyebaran infeksi penyebaran infeksi Peningkatan suhu tubuh Peningkatan suhu tubuh Penumpukan cairan dalam alveoli Resolusi 7-11 hr Ggn pertukaran Ggn.Pathways BRPN Jamur.muntah Sputum kental I Intoleran aktivitas Resti .pertukaran gas gas Ggn pola napas Suplai O2 Menurun Mual. bakteri.

Hudak. Bare B. Jakarta: Salemba medica. Jakarta: balai penerbit FKUI. Price sylvia Anderson (1994). Volume 1.EGC. EGC. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Reevers. Pasiyan rahmatullah (1999).boedhi Darmoso dan Hadi Martono.kekurangan volume cairan Ggn. Lackman’s (1996). Keperawatan Kritis :Pendekatan Holistik. Jilid II Edisi III. Philadelpia:WB Saunders Company. Smeltzer SC.Geriatrik: Ilmu Kesehatan Usia Lanjut. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta. Marylyn (2001). Balai Penerbit FKUI. Jakarta. Alih bahasa: Peter anugerah. Jakarta:EGC. .(2001). Rencana Asuhan Keperawatan. Care Principle and Practice of Medical Surgical Nursing. Daftar pustaka • • • • • • • • Doenges. edisi 3.Carolyn M (1997).G (2000). et all (2000). Charlene J. Suyono.bersihan jalan napas J. editor:R.Jakarta. Alih bahasa: Allenidekania dkk. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: EGC.

Identitas klien a. Tanggal Pengkajian : 19 – 11 .2011 g. Hub. Alamat d. Keluhan Utama Klien mengeluh batuk dan sedikit sesak nafas C. S : 68 thn : Tasikmadu Karanganyar : 01096825 : Bronkopneumonia : 16 – 11 .ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. dahak berwarna kuning kental. Alamat d. Identitas penanggung jawab a. Pekerjaan e. Nama b. Tanggal Masuk : Ny. Usia c. MOEWARDI SURAKARTA Nama : Hazil Maryadi Nim : 070110b014 A. No RM e.batuk sejak 1 minggu SMRS. darah (-). Nama b. S DENGAN BRONKOPNEUMONIA DIRUANG ANGGREK 1 RSUD Dr. SS : 26 tahun : Tasikmadu Karanganyar : Swasta : Anak kandung . Dx Medis f. Usia c. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien mengeluh batuk.2011 2. Pengkajian 1. sebelumnya sudah 2 bulan ini pasien mengeluhkan batuk berdahak warna : Ny. dg Klien B.

Tinjauan Sistem Keadaan Umum Kesadaran GCS TTV N S : 80 x/menit : 36. Data genogram: Ket : : laki. Sistem Pernafasan . Riwayat Penyakit Keluarga Keluarga mengatakan tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti yang dialamai klien saat ini dan tidak ada yang menderita penyakit seperti DM.muntah (-). Riwayat Penyakit dahulu Riwayat hipertensi sejak 20 tahun seja 1 tahun ini tidak control. mual . BB ↓. batu disertai sesak nafas. sesak sudah dirasakan sejak 1 tahun ini dan mengganggu aktifitas. hipertensi maupun penyakit jantung lainnya. sesak bertambah bila batuk. demam (-). nafsu makan menurun.8 0C : Sedang : Composmentis : ( 15 ) E4V5M6 : - TD : 140/100 mmHg RR : 28 x/menit 1. asma (-) dan riwayat stroke ± 7 tahun yang lalu. E.putih darah (-). riwayat DM (-). asma. D.laki : perempuan : klien : tinggal serumah F.

Sistem kardiovaskuler Data subyektif a. Tidak ada riwayat penggunaan obat deuritik . Klien mengeluh sesak nafas b. akral hangat. turgor kulit < 2 detik. Sistem perkemihan Data subjektif a. Prekuensi pernafasan 28 x/menit. Klien sering memasak dengan kayu bakar Data objektif a. Batuk (+). tidak ada penyakit jantung. Klien menderita penyakit bronkopneumonia c. tidak terdapat pernafasan cuping hidung d. Klien tidak merokok d. Sistem integrumen Tidak ada gangguan kulit. simetris kiri kanan b. edema tidak ada. warna spuntum putih kental e. Ada riwayat hipertensi. Bunyi nafas ronkhi f. Terdapat alat bantu pernafasan. berdahak (+). Klien terpasang oksigen 3 liter/menit c. Gelisah 2. Tidak ada riwayat penyakit ginjal dan kandung kemih b.Data subyektif a. Berdarah (-). tidak ada edema b.8 0C RR : 28 x/menit 3. 4. Nyeri dada tidak ada Data objektif Inspeksi : IC tidak tampak Palpasi : IC tidak teraba Perkusi : Ada pembesaran jantung Aukultasi : S1 dan S2 reguler TD : 140/100 mmHg N : 80x/menit Suhu : 36. tidak ada riwayat alergi.

Klien terpasang kateter b. tidak ada kesulitan BAB Data objektif Tidak ada hemoroid. System persyarafan Tidak ada gangguan E4V5 M6 Nervus cranial . tidak mengalami gangguan mengunyah ataupun menelan. Sistem gastrointestinal Data subjektif Klien mengatakan tidak nafsu makan. 6. klien terpasang infuse RL 16 tpm ditangan kiri. Sistem endokrin Data subjektif Klien mengatakan tidak ada riwayat diabetes militus 8. Sistem reproduksi Tidak ada gangguan reproduksi 10.c. Bak lancar tidak ada keluhan Data ojektif a. 7. Warna urin kuning jernih tidak ada darah 5. mual muntah tidak ada Data objektif Bising usus ± 12 x/menit. nyeri saat BAB tidak ada. System muskuloskeletal Data subjektif Klien mengeluh lemas Data objektif Tidak ada deformitas. Sistem Eliminasi Data subjektif : Klien mengatakan tadi pagi BAB 1 kali dengan konsistensi karakteristik keras. tidak ada darah. kekuatan otot 5 5 5 5 9.

menggunakan kayu bakar untuk memasak dan tidak ada gangguan dalam melakukan aktifitas . Fungsi pengelihatan : mampu membedakan aroma : pandangan sedikit kabur : terdapat pantulan cahaya pada pupil : terdapat gerakan bola mata ke atas ke bawah : terdapat reflek pada kornea : gerakan bola mata kesamping : mampu tersenyum : pendengaran baik : reflek menelan Baik : ada getaran pita suara : bisa menggerakkan kepala dan bahu : mampu menjulurkan lidah Klien mengatakan pengelihatan sedikit kabur 12. Sistem penciuman Klien mengatakan tidak mengalami gangguan penciuman G.Nervus 1 (olfaktorius) Nervus 2 (optikus) Nervus 3 (okulomotorius) Nervus 4 (troklearis) Nervus 5 (trigeminus) Nervus 6 (abducent) Nervus 7 (facialis) Nervus 8 (auditorius) Nervus 9 (glosofaringeus) Nervus 10 (vagus) Nervus 11 (accessories) Nervus 12 (hipoglosus) 11. mampu membedakan rasa pahit dan manis 14. Pola tidur dan istirahat Sebelum masuk RS : klien biasanya tidur malam ± 8 jam dan siang ± 2 jam. Fungsi pendengaran Klien mengatakan tidak mengalami gangguan pendengaran 13. tidak ada gangguan saat memulai tidur dan tidak terbangun pada malam hari Setelah masuk RS : keluarga klien mengatakan tidur ± 6 jam mudah terbangun karena suara yang berisik di rumah sakit 2. Pengkajian fungsional 1. Fungsi pengecap Klien mengatakan tidak mengalami gangguan pengecapan. Pola aktifitas sehari-hari Sebelum masuk RS : klien tinggal dengan anakanya dan sering membantu anaknya untuk mengurus cucunya juga terkadang membantu membersihkan rumah.

Pola koping individu Klien mengeluh nyeri dengan wajar pada saat merasakan sakit 6. 4. klien dapat RL 16 tpm. ± 1600-1800cc Saat masuk RS : klien mengatakan kurang nafsu makan. klien BAK ± 5 x/hari dengan warna kuning tidak ada darah Setelah masuk RS : klien BAB ± 1 x/hari dengan karakteristik keras dan tidak ada darah.3 13. Laboratorium tanggal 21/11/2011 Pemeriksaan Hemoglobin Ht Leukosit Trombosit Eritrosit MCV MCH MCHC RDW HDW MPV PDW Hasil 12. minum ±8 gelas/hari.9 29. Pola eliminasi Sebelum masuk RS : klien mengatakan BAB ± 2x/hari dengan karakteristik keras dan tidak ada darah. dan klien minum ± 8 gelas belimbing/hari. 5. sayur.8 2. klien terpasang DC urine warna kuning. hanya mampu menghabiskan ½ porsi diit dari RS.2 36 7. Pemeriksaan penunjang 1. Pola keyakinan dan kepercayaan Klien percaya bahwa semua yang terjadi dan menimpa dirinya adalah cobaan yang diberikan tuhan kepadanya.Setelah masuk RS : keluarga klien mengatakan semua aktifitas klein dibantu oleh keluarganya 3. lauk. Pola nutrisi dan metabolik Sebelum masuk RS : klien mengatakan makan ± 3 x/hari dengan komposisi nasi.9 277 4.2 34.19 84. H.1 41 Satuan g/dl % ribu/µl ribu/µl juta/µl µm Pg g/dl % g/dl fl % . Klien berharap cepat sembuh.8 6.

6 % mg/dl mg/dl µ/l g/dl Hasil BGA tanggal 21/11/2011 Alkhalosis respiratorik tidak terkompensasi PH BI : 7.0 mmol/l PCO2 : 30. Ceftriaxon 2 gr Inj.Caftrofil 3x12.5mg : 72.Antasyd syr 3x CI .6 100 104 19 3.2 mmol/l : 20.2011 Kesan : Corak bronkovaskuler meningkat. Cardiomegali 3.9 mmHg : 36% : 25. Terapi Oksigen 1-3 lpm Infs RL 16 tpm Inj.502 : 1.6% .Ambroxsol 3x30 mg .HbAIC Glukosa puasa Glukosa 2 jam puasa SGOT Albumin 5. Ranitidin 1 ampul Inj. Furosemid 1 ampul .6 mmHg PO2 Ht HCO Total CO2 O2 Sturasi 2. Radiologi Hasil Ro thorax tanggal 21/11.Curcuma 3x1 .OBH syr 3xCI .8 : 95.

Intervensi . bibir kering albumin : 3. Etiologi peningkatan produksi sputum Masalah bersihan jalan nafas tidak efektif K. Pola nafas tidak efektif b/d penurunan compliance paru c.6 g/dl J. warna putih darah (-). warna putih kental dan sesak nafas DO : klien tampak batuk. Nutrisi kurang dari kebutuhan b/d anoreksia nutrisi kurang dari kebutuhan penurunan karakteristik miokard Resiko penurunan curah jantung.I. berdahak. tampak kurus. keluarga juga tidak memberikan makanan tambahan apapun diluar diit RS DO: klien tampak lemas hanya mampu menghabiskan ½ porsi diit RS. Diagnosa keperawatan a. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d peningkatan produksi sputum b. Analisa Data No 1 Data fokus DS : klien mengatakan batuk berdahak. RR 28 2 x/menit DS: klien mengeluh menderita hipertensi sejak 20 tahun lalu DO: TD: 140/100 mmHg hasil Ro Thorak adanya 3 Cardiomegali DS : klien mengatakan bahwa klien anoreksia tidak nafsu makan. habis ½ porsi yang disediakan RS.

ekspektoran.Mengencerkan dahak . GDA 1. Identifikasi Rasionalisasi . TD 3. TTV dalam batas normal . nebulizer. jalan nafas paten Intervensi 2.Untuk melihat obstruksi penyebab gangguan nafas .Membantu mengeluarkan secret . kolaborasi pemberian furosemid 1. Bantu pasien untuk batuk efektif dan nafas dalam 4. analgesic. RR normal.mengurangi kerja jantung .untuk mengethui jumlah urine keluar . · Monitor haluaran urin 4. Tidak ada disritmia. Anjurkan banyak minum air putih ± 2500 ml/hari 5. · Kaji adanya tanda – tanda penurunan COP.Haluaran urin normal. Kolaborasi : berikan obat mukolitik. Pertahankan tirah baring selama fase akut 2. Berikan oksigen sesuai kebutuhan 5. Kaji frekuensi pernafasan 3.Hari/tgl sabtu 19/11/ 2011 No.Untuk intervensi lanjutan sabtu 19/11/ 2011 2 setelah dilakukan askep selama 3x24 jam diharapkan Curah jantung membaik / stabil dengan KH hasil: Tidak ada edema. tidak ada sianosis.Mengetahu adanya perubahan kondisi .Mengetahu .Dx Tujuan & KH 1 setelah dilakukan askep selama 3x24jam diharapkan jalan nafas klien efektik dengan KH: jalan nafas efektif.Memberi kebutuhan oksigen sabtu 3 setelah dilakukan .

Implementasi dan Evaluasi Hari/Tgl No. Berikan makanan sedikit tapi sering 3.Menentukan diit klien L.Dx Implementasi sabtu 1 1. TD 3. ranitidine 1 ampul. Memonitor haluaran urin 4.Untuk menghidari mual muntah . TD 130/90. Mengkaji frekuensi pernafasan 19/11/ 2011 2. sabtu 19/11/ 2011 2 1. RR 26 x/menit suhu 36. Menganjurkan banyak minum air putih ± 2500cc/hari 4. Membantu pasien untuk batuk efektif 3.Untuk menambah nafsu makan .Untuk menambah nafsu makan . warna putih. berdahak. Memberikan obat ambroksol 30 mg. Berikan makanan selagi hangat 4.19/11/ 2011 askep 3x24 jam diharapkan nutrisi klien terpenuhi dengan KH : nafsu makan meningkat. Mempertahankan tirah baring selama fase akut 2. albumin normal penyebab penurunan nafsu makan 2. Ceftriaxon 2 gr. Memberian furosemid`1 ampul` Evaluasi S : klien mengatakan masih batuk tapi tidak separah kemarin. Berikan makanan kesukaan klien 5. RR 28 x/menit A : masalah teratasi sebagian P : lanjutkan intervensi S : klien mengatakan hanya duduk dan tiduran ditempat tidur saja O : haluran urine klien ± 1800cc/hari. OBH syr 3xCI. N 86 x/menit. batuk berdahak dengan sputum warna putih kental O : klien tampak batuk . Mengkaji adanya tanda – tanda penurunan COP. memberikan oksigen 3lpm 5. BB stabil.6 0 C A : masalah teratasi sebagian P : lanjutkan intervensi . Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan diit penyebab nafsu makan .

Kolaborasi untuk menentukan diit dan pemberian curcuma 3x1 S : klien mengatakan nafsu makan masih kurang. TD 8. Menganjurkan kepada keluarga untuk memberikan makan sedikit tapi sering 3. Menganjurkan kepada keluarga memberikan makanan selagi hangat 4. makan masih habis ½ porsi O : klien makan masih ½ porsi tidak habis makanan yang disediakan rumah sakit A : masalah belum teratasi P : lanjutkan intervensi minggu 20/11/ 2011 1 1. Mengkaji adanya tanda – tanda penurunan COP. Menganjurkan kepada keluarga untuk memberikan makan sedikit tapi sering . Mengkaji frekuensi pernafasan 2.80C A : masalah teratasi sebagian P : lanjutkan intervensi S : klien mengatakan nafsu makan baik. 6. TD 120/80. Ceftriaxon 2 gr. OBH syr 3x CI. Memonitor haluaran urin 9. Membantu pasien untuk batuk efektif 3. batuk berdahak dengan sputum warna putih encer O : klien tampak batuk .sabtu 19/11/ 2011 3 1. Menganjurkan banyak minum air putih ± 2500cc/hari 4. RR 24 x/menit suhu 36. Mempertahankan tirah baring selama fase akut 7. ranitidine 1 ampul. Mengidentifikasi penyebab penurunan nafsu makan 2. warna putih. memberikan oksigen 3lpm 10. makan habis O : makanan yang disediakan rumah sakit habis A : masalah teratasi minggu 20/11/ 2011 2 minggu 20/11/ 2011 3 1. N 86 x/menit. berdahak. Memberian furosemid`1 ampul S : klien mengatakan batuk sudah berkurang. RR 24 x/menit A : masalah teratasi sebagian P : lanjutkan intervensi S : klien mengatakan hanya duduk dan tiduran ditempat tidur saja O : haluran urine klien ± 1600cc/hari. Mengidentifikasi penyebab penurunan nafsu makan 2. Memberikan obat ambroxsol 30 mg.

TD 3. Membantu pasien untuk batuk efektif 3. Ceftriaxon senin 21/11/ 2011 2 2 gr. Kolaborasi untuk menentukan diit dan memberikan curcuma senin 21/11/ 2011 1 3x1 1. RR 24 x/menit suhu 36. Menganjurkan kepada keluarga untuk memberikan makan sedikit tapi sering 2.3. Memberikan obat ambroxsol 30 mg dan OBH 3x CI. Memberian furosemid`1 ampul P : pertahankan intervensi S : klien mengatakan sudah tidak btuk. N 80 x/menit. Mengkaji adanya tanda – tanda penurunan COP. tapi sputum masih ada warna putih encer O : dahak warna putih. Menganjurkan banyak minum air putih ± 2500cc/hari 4. ranitidine 1 ampul 1. Menganjurkan kepada keluarga memberikan makanan selagi hangat 4. Kolaborasi untuk menentukan diit dan memberikan curcuma 3x1 P : lanjutkan intervensi S : klien mengatakan nafsu makan baik. Mengkaji frekuensi pernafasan 2. Mempertahankan tirah baring selama fase akut 2. Memonitor haluaran urin 4. TD 120/80. RR 24 x/menit A : masalah teratasi sebagian P : lanjutkan intervensi S : klien mengatakan hanya duduk dan tiduran ditempat tidur saja O : haluran urine klien ± 1500cc/hari. Menganjurkan kepada keluarga memberikan makanan selagi hangat 3. memberikan oksigen 3lpm 5.6 0 C A : masalah teratasi sebagian senin 21/11/ 2011 3 1. makan habis O : makanan yang disediakan rumah sakit habis A : masalah teratasi P : pertahankan intervensi .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful