You are on page 1of 19

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Istilah vitamin pertama kali digunakan Cashimir Funk (Polandia) tahun 1912. Penemuan zat dalam dedak beras dapat menyembuhkan penyakit beri-beri, zat tersebut dibutuhkan oleh tubuh untuk hidup Vita dan mengandung unsur N (amine) sehingga diberi istilah vitamin. Pemberian nama vitamin dilakukan menurut abjad yaitu vitamin A,B,C,D,E dan K . (Suhardjo dan Clara M. Kusharto, 1992) Sejarah penemuan vitamin dimulai oleh Eijkman yang pertama kali mengemukakan adanya zat yang bertindak sebagai faktor diet esensial dalam kasus penyakit beri-beri. Pada tahun 1897 ia memberikan gambaran adanya suatu penyakit yang diderita oleh anak ayam yang serupa dengan beri-beri pada manusia. Ternyata penyakit ini dapat disembuhkan dengan memberi makanan sisa gilingan beras yang berupa serbuk. Hasil penemuan yang menyatakan bahwa dalam makanan ada faktor lain selain karbohidrat, lemak, dan protein sebagai energi mendorong para ahli untuk meneliti lebih lanjut tentang vitamin, sehingga diperoleh konsep tentang vitamin yang kita kenal sekarang. (Ari Yuniastuti, 2008)

Vitamin adalah bahan organik kompleks yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit pada makanan yang umumnya tidak dapat disintesis oleh jaringan tubuh. Kebanyakan vitamin-vitamin ini tidak dapat disentesis oleh tubuh, beberapa di antaranya masih dapat dibentuk oleh tubuh namun kecepatan pembentuknya sangat kecil sehingga jumlah yang terbentuk tidak dapat memenuhi kebutuhan tubuh. Oleh karenanya tubuh terus memperoleh vitamin dari makanan sehari-hari. (Ari Yuniastuti, 2008) Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan memahami bahwa dalam suatu bahan mengandung adanya vitamin. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk membuktikan adanya vitamin A, C, dan D dalam suatu bahan secara kualitatif. Prinsip dari percobaan ini adalah Berdasarkan pengujian vitamin A, C, dan D secara kualitatif, Vitamin A dan C menggunakan 2 tahap sedangkan vitamin D menggunakan 1 tahap dengan menggunakan

sampel minyak ikan dan asam askorbat 1%.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Teori umum Vitamin adalah golongan senyawa organik sebagai pelengkap makanan yang sangat diperlukan oleh tubuh. Vitamin memiliki peran sangat penting bagi pertumbuhan, pemeliharaan kesehatan, dan fungsi fungsi tubuh lainnya agar metabolisme berjalan normal. Pada umumnya, vitamin tidak dapat disintesis dalam tubuh dalam jumlah yang mencukupi, sehingga harus diperoleh dari bahan pangan yang dikonsumsi. Sebagai perkecualian adalah vitamin D yang dapat dibuat dalam kulit, asalkan kulit cukup mendapatkan sinar matahari. Vitamin lain yang dapat disintesis dalam tubuh adalah vitamin K dan vitamin B12. Kedua jenis vitamin disentisis di dalam usus oleh bakteri. Vitamin terdapat dalam bahan makanan hanya dalam jumlah relativ kecil. Bentuk vitamin berbeda-beda, diantaranya ada yang berbentuk provitamin atau calon vitamin (precursor). Setelah diserap oleh tubuh, provitamin dapat diubah menjadi vitamin yang aktif. Berdasarkan kelarutannya, vitamin dibagi menjadi dua golongan utama yaitu: 1. Vitamin yang larut dalam air ( vitamin B dan C ) 2. Vitamin yang larut dalam lemak ( vitamin A, D, E, dan K )

Menurut Kodicek (1971) vitamin yang larut dalam air disebut prokoenzim. Vitamin-vitamin ini, dapat bergerak bebas dalam badan, darah, dan limfa. Karena sifat kelarutannya, vitamin yang larut dalam air mudah rusak dalam pengolahan dan mudah hilang atau terlarut bersama air selama pencucian bahan. Didalam tubuh, vitamin ini disimpan dalam jumlah terbatas dan kelebihan vitamin akan diekskresikan melalui urin. Oleh karena itu, untuk mempertahankan saturasi jaringan vitamin ini sering dikonsumsi.(Penuntun Praktikum Biokimia, 2011)

B. Uraian bahan 1. Kloroform ( Depkes RI, 151-152 ) Nama resmi Nama lain Rumus kimia Berat molekul Pemerian : CHLOROFORMUM : Kloroform : CHCl3 : 119,38 : Cairan, mudah menguap, tidak berwarna, bau khas, rasa manis dan membakar Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 200 bagian air, mudah larut dalam etanol P. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baikbersumbat kaca,

terlindung dari cahaya K/P : Anastetikum umum, pengawet dan zat tambahan

2. Asam Trikloroasetat ( Depkes RI, 1136 ) Nama resmi Nama lain Rumus kimia Pemerian Kelarutan : ACIDUM TRICHLOASETIT : Asam trikloroasetat : CCl3 . CO2H : Hablur atau masa hablur : Sangat mudah larut dalam air, dalam etanol (95%)P, dan dala eter P Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

3. Asam asetat anhidrad ( Depkes RI, 647 ) Nama resmi Nama lain Rumus kimia Pemerian : ANIHIDRIDA ASETAT P : Asam asetat anihidrad : (CH3.CO)2 O : Cairan Jernih tidak berwarna, berbau tajam, mengandung tidak kurang dari 95% C4H6O Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

4. Minyak ikan ( Depkes RI, 457 ) Nama resmi Nama lain Pemerian : OLEUM IECORIS : Minyak ikan : Cairan kuning pucat, bau khas, agak manis, tidak tengik rasa khas Kealrutan : Sukar larut dalam etanol (95%)P, mudah larut dalam kloroform P. Penyimpanan : Dalam wadahtertutup baik, terisi penuh, terlindung dari cahaya K/P : Sumber vitamin A dan Vitamin D

5. Hidrogen peroksida ( Depkes RI, 296 ) Nama resmi Nama lain Rumus kimia Berat molekul : HYDROGENPEROXYDUM : Hidrogen peroksida : H2O2 : 34,02

Pemerian

: Cairan tidak berwarna, hamper tidak berbau, mudah terurai jika berhubungan dengan zat organik yang dapat teroksidasi dengan logam tertentudan senyawa alkali.

Penyimpanan

: Dalam botol tersumbat kaca atau tersumbat plastic yang cocok

K/P

: Antiseptikum ekstern

6. Natrium bikarbonat ( Depkes RI, 424-425 ) Nama resmi Nama lain Rumus kimia Berat molekul Pemerian : NATRII SUBCARBONAS : Natirium subkarbonat, Na. Bikarbonat : NaHCO3 : 84,01 : Serbuk putih atau hablur monoklin kecil, buram, tidak berbau, rasa asin Kelarutan : Larut dalam 11 bagian air, praktis tidak larut dalam etanol (95%)P Penyimpanan K/P : Dalam wadah tertutup baik : Antisidum

7. Asam askorbat ( Depkes RI, 47 ) Nama resmi Nam lain Rumus kimia : ACIDUM ASCORBICUM : Asam askorbat, Vitamin C : C6H8O6

Berat molekul Pemerian

: 176,13 : Serbuk atau hablur, putih agak kuning, tidak berbau, rasa asam

Kelarutan

: Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol (95%)P, praktis tidak larut dalam kloroform P, dalam eter P, dalam benzene P.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat

BAB III METODE KERJA


A. Alat Alat-alat yang digunakan: 1. Gelas kimia 2. Gelas ukur 3. Lampu spritus 4. Lap Kasar 5. Pipet tetes 6. Rak tabung 7. Sendok tanduk 8. Tabung reaksi B. Bahan Bahan-bahan yang digunakan: 1. Asam asetat anhidrid 2. Asam trikloroasetat (TCA) 3. Kertas lakmus 4. Kloroform 5. Kristal SbCl3 5% 6. Larutan asam askorbat 1% 7. Larutan FeCl3 1%

8. Larutan H2O2 5% 9. Larutan NaHCO3 5% 10. Minyak ikan 11. Peraksi benedict C. Cara kerja 1. Vitamin A Bagian A a. Kedalam tabung reaksi, masukkan 5 tetes minyak ikan b. Ditambahkan 10 tetes kloroform, kemudian campurlah dengan baik c. Ditambahkan 2 tetes asam asetat anhidrid d. Selanjutnya, kedalamnya e. Diperhatikan perubahan warna dari warna biru menjadi warna merah coklat berarti positif vitamin A Bagian B a. Kedalam tabung reaksi masukkan 5 tetes minyak ikan b. Ditambahkan 1 ml pereaksi asam trikloroasetat dalam kloroform c. Dicampur dengan baik d. Diperhatikan timbulnya warna biru kehijauan menandakan positif vitamin A. dibubuhkan sepucuk sendok Kristal SbCl3

2. Vitamin D a. Kedalam 2 tabung reaksi masukkan masing-masing 10 tetes minyak ikan b. Ditambahkan 10 tetes larutan H2O2 5% c. Dikocokkan campuran kira-kira 1 menit d. Dipanaskan diatas api kecil perlahan-lahan sampai tidak ada gelembung-gelembung gas yang keluar. Usahakan jangan sampai mendidih e. Didinginkan tabung dibawah air kran f. Dilakukan uji dengan pereaksi Carr-Price seperti penentuan adanya vitamin A g. Diamati perubahan warna yang terjadi. Adanya warna jingga kuning berarti positif vitamin D

3. Viatmin C Bagian A a. Dimasukkan kedalam tabung reaksi 5 tetes asam askorbat 1% b. Ditambahkan 15 tetes pereaksi Benedict c. Dipanaskan diatas api kecil sampai mendidih selam 2 menit d. Diperhatikan adanya endapan yang terbentuk. Warna hijau kekuningan sampai merah bata menendakan vitamin C positif.

Bagian B a. Diamasukkan 10 tetes larutan asam askorbat 1% kedalam tabung reaksi b. Kemudian, dintralkan larutan (pH = 8) menggunakan NaHCO3 5% c. Ditambahkan 2 tetes larutan FeCl3 d. Diamati warna yang terjadi. Adanya warna merah-ungu berarti positif vitamin C.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil pengamatan 1. Uji Penentuan Adanya Vitamin A Bahan Minyak ikan Kloroform Asam asetat andrhid SbCl3 TCA dalam kloroform Campurlah dengan baik Hasil : Perhatikan warna yang terbentuk + Prosedur A 5 tetes 10 tetes 2 tetes Sepucuk sendok Prosedur B 5 tetes -

2. Uji Penentuan Adanya Vitamin D Bahan Minyak ikan Kloroform Prosedur A 10 tetes 10 tetes Prosedur B 10 tetes 10 tetes

Panaskan tidak sampai mendidih, lalu uji dengan pereaksi Car-Price Hasil : Warna jingga-Kuning (+/-) -

3. Uji Penentuan Adanya Vitamin C Bahan Larutan Asam Askorbat 1 % Pereaksi Benedict pH Larutan Larutan FeCl3 1 % Prosedur A 5 tetes 15 tetes Prosedur B 5 tetes 8 tetes 2-3 tetes

Didihkan diatas api kecil selama 2 menit untuk prosedur A Hasil : Perhatikan warna endapan atau larutan -

B. Pembahasan Vitamin adalah golongan senyawa organik sebagai pelengkap makanan yang sangat diperlukan oleh tubuh. Vitamin memiliki peran sangat penting bagi pertumbuhan, pemeliharaan kesehatan, dan fungsifungsi tubuh lainnya agar metabolisme berjalan normal. Berdasarkan kelarutannya, vitamin dibagi menjadi 2 golongan utama yaitu vitamin yang larut dalam air, misalnya vitamin B dan C, sadeangkan vitamin yang larut dalam lemak yaitu vitamin A,D,E,dan K. Dalam percobaan ini dilakukan pengujian beberapa vitamin yaitu vitamin A, D, dan C. Dalam percobaan vitamin A dengan menggunakan sampel minyak ikan dengan ditetesi kloroform asam asetat sampel minyak hidrat dan sepucuk kristal SbCl3 menghasilkan kuning kemerahan coklat hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa dalam sampel minyak ikan terbentuk warna biru yang berubah menjadi merah coklat berarti vitamin A sedangkan dengan penambahan pereaksi asam trikloroasetat dalam kloroform menghasilkan warna kuning coklat berarti mengandung vitamin A. Dalam percobaan vitamin D dengan menggunakan sampel minyak ikan ditetesi dengan H2O2 5 % dikocok kemudian dipanaskan lalu didinginkan dibawah air kran setelah itu ditambahkan dengan pereaksi carr-price untuk menentukan vitamin D warna yang dihasilkan adalah warna kuning , hal ini berarti tidak sesuai dengan literatur yang

menyatakan bahwa jika mengandung vitamin D maka warna yang dihasilkan adalah jingga kuning. Begitupun dengan cara ke-2 yang mengandung vitamin D. Dalam percobaan vitamin C dengan menggunkan sampel asam askorbat ditetesi dengan pereaksi benedict, lalu dipanaskan selama 2 menit sampai mendidih warna yang dihasilkan adalah warna kuning, hal ini tidak sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa jika

mengandung vitamin C, maka warna yang dihasilkan adalah warna hijau kekuningan sampai mera bata, sedangkan pada cara kerja yang kedua dengan menggunakan sampel asam askorbat 1 % dinetralkan larutan (pH=8) menggunakan NaHCO3 5 %, ditambahkan larutan FeCl membentuk warna biru, hal ini tidak sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa adanya warna merah ungu berarti mengandung vitamin C. Adapun masalah masalah yang terjadi dikarenakan oleh : 1. Alat yang digunakan kurang steril 2. Kesalahan pada saat pembuatan reaksi 3. Bahan bahan yang digunakan sudah terkontaminasi dengan bahan lain.

C. Reaksi reaksi

O II C HO - C II HO C C H HO C H I CH2 OH Asam askorbat O

2H+
+

O II C O=C I O=C O

2H

C I H HO C H I CH2 OH asam dehidroaskorbat

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan Berdasarkan percobaan yang dilakukan di laboratorium, dapat disimpulkan bahwa : 1. Pada sampel minyak ikan positif mengandung adanya vitamin A dan vitamin D. 2. Pada sampel asam askorbat 1% positif mengandung adanya vitamin C.

B. Saran 1. Asisten Kami sebagai praktikan sangat mengharapkan bimbingan dari para asisten baik dalam pembuatan laporan, maupun dalam pelaksanaan praktikum. 2. Laboratorium Kami sebagai praktikan berharap agar alat-alat dalam laboratorium dilengkapi dan bahan-bahan yang digunakan diganti dengan bahan yang masih layak pakai, demi kelancaran berlangsungnya praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Suhardjo dan Clara M. Kusharto, 1992, Prinsip-prinsip Ilmu Gizi, Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Kartasapoetra. 2010. Ilmu Gizi, Korelasi Gizi. PT. Rineka Cipta, Jakarta. Ari Yuniastuti. 2008, Gizi dan Kesehatan, Graha Ilmu, Yogyakarta. Tim Dosen Fakultas Farmasi UIT. 2010, Penuntun Praktikum Biokimia, UIT. Makassar.