You are on page 1of 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG Untuk mengukur besarnya kuat arus yang mengalir dalam suatu rangkaian, kita dapat menggunakan suatu alat yang disebut amperemeter. Dengan melihat penunjukan jarum amperemeter, kita bisa mengetahui besarnya kuat arus. Namun nilai yang ditunjuk oleh jarum penunjuknya sebenarnya bukan nilai kuat arus yang sebenarnya, karena amperemeter merupakan salah satu contoh dari secondary instrument, yang artinya bahwa harga yang ditunjukkan tidak mutlak tepat sehingga nilai tersebut masih perlu disesuaikan. Untuk mengetahui keseksamaan dari jarum ampermeter, maka dilakukan percobaan dengan menggunakan voltameter. Dengan voltameter kita dapat mengetahui besarnya arus yang mengalir dalam rangkaian melalui suatu perhitungan dari pertambahan massa katodanya, sebagai akibat adanya endapan. Kita sering melihat orang menyepuh logam dengan logam lain. Proses penyepuhan logam yang terjadi dengan perantara suatu larutan (media) tersebut terjadi karena adanya arus listrik (beda potensial listrik). Dari proses penyepuhan itu sendiri kita dapat mengetahui berapa endapan logam dengan menggunakan sebuah alat yaitu voltameter.Voltameter ini diberi nama sesuai dengan nama endapan yang terjadi pada katodanya (sebagai indikator). Karena dalam percobaan terjadi endapan tembaga (Cu), maka disebut voltameter tembaga.

1.2. TUJUAN PERCOBAAN Percobaan ini bertujuan untuk menentukan tingkat keseksamaan dari penunjukan jarum amperemeter dengan menggunakan voltameter tembaga bila dibandingkan dengan perhitungan dari hasil percobaan dengan menggunakan persamaan/rumus yang berlaku.

1.3. PERMASALAHAN Permasalahan yang timbul dalam percobaan ini adalah berapa besar kuat arus sesungguhnya, berdasarkan perhitungan dengan menggunakan rumus yang ada.
1

ketidaktepatan cara mengukur. Bab II Dasar Teori merupakan penjelasan dan ulasan singkat tentang teori dasar yang mendasari kegiatan percobaan yang dilakukan. 2 . Grafik yang menggambarkan kuat arus yang sesungguhnya dengan kuat arus yang terbaca pada amperemeter. tidak sempurnanya alat indera dan lain-lain. Dengan memperhitungkan ralat-ralat dari data yang diperoleh dalam melakukan praktikum agar mendapatkan data yang mempunyai ketelitian yang sesuai. SISTEMATIKA LAPORAN Laporan ini terdiri dari lima bab secara garis besar dan. Bab III Cara Kerja dan Peralatan. permasalahan. memberikan kesimpulan dari kegiatan praktikum yang dilakukan. Bab V Kesimpulan. akan dibahas kesimpulan dari percobaan ini dan apakah telah sesuai dengan teori dasar atau tidak. dalam bab ini menerangkan tentang tata urutan kerja yang dilakukan dalam melaksanakan kegiatan praktikum serta pengenalan peralatan yang diperlukan dalam melakukan praktikum.4. Bab I Pendahuluan yang di dalamnya berisi tentang latar belakang. tujuan percobaan. untuk lebih jelasnya maka susunan laporan adalah sebagai berikut. dalam praktikum tentunya kita akan memperoleh data-data sehingga perlu adanya penganalisaan lebih lanjut karena tidak sempurnanya alat ukur. 1. sistematika laporan praktikum. Bab IV Analisa Data dan Pembahasan. Selanjutnya.Hasilnya akan dibandingkan dengan angka yang ditunjukkan oleh jarum amperemeter. akan digambarkan pula. sehingga diketahui keseksamaannya.

akibat dari desakan atau aktivitas elektron-elektron. Pada setiap sumber listrik terdapat dua kutub. Selanjutnya ion-ion pada larutan akan 3 . yaitu kutub positif dan negatif. penampang penghantar dan panjang penghantar. Tahanan ini tergantung pada jenis penghantar. akibat adanya pergerakan bebas dari elektron-elektron pada strukturnya. temperatur. yang tiap detik dapat mengendapkan 0.Larutan elektrolit memiliki kecenderungan sebagai konduksi listrik. Secara sederhana konduksinya disebut konduksi metalik. baterai. elektroda yang dihubungkan dengan kutub negatif disebut katoda sedangkan yang dihubungkan dengan kutub positif disebut sebagai anoda. Aliran listrik berasal dari sumber listrik seperti sel. yaitu jumlah elektron yang mengalir per satuan waktu. dan peristiwanya dapat digambarkan sebagai berikut : Gambar II. aliran listrik berupa aliran elektron. yang mempunyai arti penting adalah harga kebalikan dari tahanan.BAB II DASAR TEORI Metal/logam dapat bertindak sebagai konduktor listrik.001118 gram perak (Ag) dari larutan perak nitrat (AgNO3). adaptor maupun generator.1 Daya hantar larutan elektrolit Kedua elektroda dihubungkan dengan sumber listrik searah (DC). Di dalam konduktor logam seperti kawat tembaga atau perak. terjadi aliran listrik dari kutub negatif ke kutub positif melalui hubungan luar. kecuali tergantung beda potensial dan juga tahanan penghantarnya. Besarnya arus listrik. Satu ampere adalah arus listrik. hingga dibuat pengertian kuat arus yang lain yang disebut ampere (i). Dan bila kedua kutub dihubungkan. Besarnya arus listrik yang mengalir tiap satuan waktu sangatlah kecil. yang disebut daya hantar listrik (konduktans). Antara kedua kutub ini terdapat beda potensial. Untuk larutan elektrolit.

sebaliknya ion-ion negatif akan bergerak ke arah elektrode positif (anoda).Sehingga anoda kehilangan Cu2+ yang dipakai untuk menetralkan SO42. dapat dilihat bahwa Cu2+ dari larutan garam bergerak menuju katoda. Sesuai dengan tujuan percobaan ini. yang disebut sebagai peristiwa elektrolisis. Pergerakan-pergerakan muatan ion dalam larutan akan membawa energi listrik. ion-ion positif akan bergerak ke elektrode negatif (katoda). sehingga sesuai pula dengan satuan standar kelistrikan yang menyatakan banyaknya elektron yang melewati elektrolit adalah Coloumb maka : 4 .” Kemudian dari pernyataan tersebut dapat dibuat suatu persamaan rumus seperti di bawah ini : G ~ q G = a x (i x t) i = G a. Larutan yang dipakai dalam percobaan adalah CuSO4. Sesuai dengan hukum Faraday I yang menyatakan : “Massa zat yang timbul pada elektroda karena proses elektrolisis berbanding lurus dengan jumlah muatan listrik yang mengalir melalui larutan. secara kuantitatif dinyatakan sebagai 1 Faraday.t G = Massa endapan logam (gr) a = Ekivalen elektrokimia (gr/coloumb) i = Arus (Ampere) t = Waktu (detik) Jumlah arus yang akan dialirkan. Kemudian bila ion-ion dalam larutan mengalami kontak dengan elektroda maka reaksi kimia akan terjadi. maka reaksi kimia yang terjadi bila terjadi arus listrik adalah : CuSO4 Anoda : Katoda : H2O Cu2+ Cu2+ + SO422H+ + O2Cu + 2 e- Dari reaksi kimia di atas. Artinya. Pada katoda akan mengalami reduksi dan pada anoda akan mengalami oksidasi. maka untuk menghitung besarnya kuat arus diperlukan massa endapan logam di katoda. Hasil elektrolisis tergantung dari jenis elektrolit dan juga elektroda yang digunakan.bergerak berlawanan arah.

t) i = G / (0. Dengan demikian.1 Faraday = 1 mol elektron = 96500 Coloumb Sesuai dengan reaksi dan definisi ekivalensi elektrokimia. maka harga elektrovalensi kimia untuk Cu dapat ditentukan sebagai berikut: Dari hukum Faraday. yaitu meruipakan berat zat yang diperlukan untuk memperoleh atau melepaskan 1 mol elektron. Sehingga harga ekivalensi elektrokimia (a) untuk Cu dapat ditentukan sebagai berikut : a = (½ ) G 96500 C Setelah ekivalensi elektrokimia diketahui maka harga i dapat ditentukan melalui persamaan : i = G / (a .5) gr menghasilkan 2 mol e-. besarnya keseksamaan dari penunjukan jarum amperemeter dengan voltameter tembaga dapat diperhitungkan dengan ralat perhitungan. t) = 1 Faraday G = 96500 G Karena 1 mol Cu (63. Dan nantinya akan dibandingkan dengan harga I yang ditunjukkan jarum amperemeter.3293 mg / C 5 . rumus untuk mencari ekivalensi elektrokimia (a) adalah : G a = (i . t) Kemudian kuat arus sesungguhnya (Is) dapat dihitung dengan memasukkan jumlah endapan pada katoda. gr = 0.3293 . maka diperlukan ½ mol Cu untuk menghasilkan 1 mol elektron.

Amperemeter 3. Timbangan analisa 4.BAB III METODOLOGI PERCOBAAN 3. kita gunakan nilai i tertentu dengan mengatur Rv (tahanan variabel).01 . 3. ALAT DAN BAHAN Peralatan yang digunakan dalam percobaan ini adalah : 1.0. Tahanan variabel 10x10 Ω (Rv) 6. Sumber tegangan DC (adaptor) 7. Tahanan geser (Rg) 5. Voltameter tembaga dengan perlengkapannya 2. Menghitung arus maksimum. CARA KERJA. 2.02 A/cm2 . Membuat rangkaian seperti gambar di bawah.1 Rangkaian Percobaan Voltameter 6 .1.2. Stopwatch 3. Membersihkan elektroda dengan kertas gosok kemudian mengukur massa elektroda dengan neraca analitis. Catat harga yang ditunjukkan amperemeter dan mengusahakan harga i tetap dengan mengatur Rg (tahanan geser). dengan mengukur luas permukaan katoda bila kepadatan arus 0. = = = = = = = 1 set 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah Gambar III. Cara kerja dalam melakukan percobaan : 1.

aliran listrik diputus lalu elektroda dikeringkan. dan selisih berat antara berat setelah dikeringkan dengan berat awal merupakan berat endapan. 5.5 untuk nilai kuat arus yang lain. 6.4.4 sebanyak 5 kali dengan selang waktu yang sama. Kemudian elektroda tersebut ditimbang. Setelah ± 10 menit. 7 . Ulangi langkah 2 . Ulangi langkah 2 .

6 m (gram) 0.1.6 0. i (amper) 0.03 ( X – X )2 0 0.15 ∆ = 8 .17 X = 3 Ralat Mutlak : Dimana : n ( n – 1 ) = 3 .17 0. 2 = 6 Σ ( X – X )2 n(n–1) 1/2 0.6 0. 2.0013 0.15 0.17 0.1.0009 Σ ( X – X )2 = 0.44 = 3 = 0.1.15 0.0.12 t (detik) 600 600 600 Tabel 4. ANALISA DATA Dari data-data hasil percobaan maka dibuatlah analisa data sebagai berikut : Tabel 4.12 + 0. 1.02 .15 + 0.12 (X–X) 0 0.BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN 4.b X 0.a No. 3.0004 0.

24 + 0.2.25 0.9 m (gram) 0.0013 6 1/2 = 0.27 0. 1.24 (X–X) 0 0. i (amper) 0.015 Ralat Nisbi : I = ∆ X = Keseksamaan : K = 100 % .27 0.25 0. 3.9 0.25 + 0.25 .I = 100 % .2. 2.0004 0.= 0.015 0.76 = 3 = 0.a No.0005 0.0001 Σ ( X – X )2 = 0.02 .b X 0.10 % = 90 % x 100 % = 0.27 X = 3 9 0.01 ( X – X )2 0 0.15 10 % x 100 % Tabel 4.9 0.0.24 t (detik) 600 600 600 Tabel 4.

2 = 6 Σ ( X – X )2 n(n–1) 1/2 ∆ = = 0.I = 100 % .4 % x 100 % = 0. i (amper) 1 1 1 m (gram) 0.0005 6 1/2 = 0.35 0.6 % = 96.Ralat Mutlak : Dimana : n ( n – 1 ) = 3 . 3. 2.35 t (detik) 600 600 600 10 .6 % x 100 % Tabel 4.3. 1.a No.009 Ralat Nisbi : I = ∆ X = Keseksamaan : K = 100 % .33 0.25 3.009 0.3.

I = 100 % .34 ∆ = = 0.0001 Σ ( X – X )2 = 0.35 0.0003 6 1/2 = 0.01 ( X – X )2 0.0003 0.03 = 3 = 0.3.Tabel 4.007 Ralat Nisbi : I = ∆ X = Keseksamaan : K = 100 % .35 (X–X) 0.b X 0.35 + 0. 2 = 6 Σ ( X – X )2 n(n–1) 1/2 1.2 % = 98 % x 100 % = 0.01 0.35 X = 3 Ralat Mutlak : Dimana : n ( n – 1 ) = 3 .01 0.0001 0.33 + 0.0001 0.33 0.007 0.34 2% x 100 % 11 .

0009 ) .4.76 A = ( 0. Menghitung arus yang sebenarnya ( Is ) berdasarkan data pada :  Tabel 4.t = = ( 0. 600 1.329 .15 + 0. 103 0.t = Tabel 4. 103 0.15 + 0.2.t = Tabel 4. 600 0.3 I = G a.3 A = ( 0.2 + 1.0015 ) .329 . 103 0.0015 ) . PEMBAHASAN 1).69 + 1. 600 1.2 I = G a.329 . Membuat grafik hubungan antara Ia (absis) dengan Is (ordinat) dg regresi linier 12 .84 A   2).25 + 0.684 + 0.1 I = G a.

13 .BAB V KESIMPULAN Dengan memperhatikan percobaan dan perhitungan yang telah dilakukan.  Nilai ekivalensi elektrokimia suatu atom dapat ditentukan dengan melihat reaksi kimia yang terjadi. • Waktu penekanan tombol stopwatch dan pemberian arus tidak bersamaan begitu pula saat pengamatan dihentikan. Larutan elektrolit dan elektroda yang dipakai tidak diperhitungkan sebagai suatu hambatan. • Ketidakstabilan arus listrik.  Hubungan antara kuat arus (i) dengan tahanan variabel (Rv) adalah berbanding terbalik. yaitu dengan timbulnya endapan pada katodanya. • Keakuratan alat ukur (terutama neraca analitis) dan ketelitian pengukuran oleh praktikan. yaitu :  Larutan elektrolit dapat bersifat sebagai konduktor dengan disertai perubahan kimia. yaitu : • Kurang bersihnya dalam melakukan penggosokan/pencucian katoda setelah terjadi endapan. maka dapat diambil beberapa kesimpulan. Dan menyangkut dengan berat atom (Ar) maupun valensinya. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Melihat analisa diatas. sehingga tahanan geser harus selalu diatur agar besarnya arus tetap konstan.  Penunjukan besarnya arus listrik oleh jarum amperemeter selalu lebih kecil daripada kuat arus sebenarnya. dapat diketahui bahwa besarnya arus yang terbaca pada amperemeter jauh lebih kecil daripada besar arus sesungguhnya.

1966. Potter. Jakarta.Dr. W. 1986. “Fisika Untuk Universitas 2”.. McGill Unirversity. E. St. B.C. Bandung. “Theory of Physics”.. “Kimia Anorganik”.Sukardjo.Martin Press. Saunders Company. 14 . 1967. Sears and Zemansky. New York. Stevenson – Moore. Principles and Applications”. 2.”Electro Chemistry . Rineka Cipta. 1985. Binacipta. Philadelphia and London. 4. 3.DAFTAR PUSTAKA 1. Departemen of Physics. Prof.

Terangkan bagaimana terbentuknya endapan dalam lempengan ? Pembahasan : 1. Pada air raksa tidak akan terjadi perubahan kimia bila dialiri arus listrik. Bagaimana hubungan antara i dengan Rv dari persamaan yang ada ? 2. Mengapa pada air raksa tidak terjadi perubahan kimia bila dialiri arus listrik ? 4. kedua elektroda dihubungkan dengan sumber listrik searah (DC). Perubahan fisika yang terjadi adalah dengan adanya pertambahan massa pada lempengan katoda akibat terjadi endapan tembaga (Cu) yang menempel pada katoda. hjghrsghsdjfghjkfsdghsdfg 2. Hal ini dikarenakan air raksa sebenarnya bukan merupakan larutan melainkan merupakan logam yang secara fisik dapat kita lihat dia sebagai zat cair. 4. 15 . perubahan fisika dan kimia seperti apa yang terjadi ? 3. Pada hasil percobaan terjadi perubahan kimia dan fisika. Selanjutnya ion-ion pada larutan akan bergerak berlawanan arah. sebaliknya ion-ion negatif akan bergerak ke arah elektrode positif (anoda). Maka bila dialiri arus air raksa akan menjadi konduktor seperti halnya logam-logam yang lain. Artinya. ion-ion positif akan bergerak ke elektrode negatif (katoda). Kemudian bila ion-ion dalam larutan mengalami kontak dengan elektroda maka reaksi kimia akan terjadi. jadi bisa disebut sebagai logam cair. Pergerakan-pergerakan muatan ion dalam larutan akan membawa energi listrik. Setelah rangkaian percobaan terpasang semuanya. yang disebut sebagai peristiwa elektrolisis. Pada katoda akan mengalami reduksi dan pada anoda akan mengalami oksidasi. Sedangkan perubahan kimia yang terjadi adalah adanya perubahan ion-ion Cu dari larutan elektrolit yang digunakan menjadi unsur Cu yang secara fisik ditandai terjadi adanya endapan pada katoda yang digunakan. Hasil elektrolisis tergantung dari jenis elektrolit dan juga elektroda yang digunakan. 3.TUGAS TAMBAHAN Pertanyaan : 1. Penjelasan terjadinya endapan pada katoda adalah sebagai berikut. elektroda yang dihubungkan dengan kutub negatif disebut katoda sedangkan yang dihubungkan dengan kutub positif disebut sebagai anoda. Pada hasil percobaan yang terjadi.

Sehingga dapt kita lihat pada katoda akan terjadi endapan Cu.Sehingga anoda kehilangan Cu2+ yang dipakai untuk menetralkan SO42-. dapat dilihat bahwa Cu2+ dari larutan garam bergerak menuju katoda.Karena pada percobaan ini larutan yang dipakai dalam percobaan adalah CuSO4. hal ini pun dikuatkan dengan adanya hukum Faraday yang menyatakan bahwa “ Apabila arus i mengalir dalam t detik maka pada kutub negatif (katoda) terjadi endapan sebesar G gram. maka reaksi kimia yang terjadi bila terjadi arus listrik adalah : CuSO4 Anoda Katoda : : H2O Cu2+ Cu2+ + SO422H+ + O2Cu + 2 e- Dari reaksi kimia di atas. 16 .