You are on page 1of 28

1

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Di alam ini, asam amino dibedakan menjadi 2 kelompok besar yaitu diantaranya asam amino protein dan asam amino non protein. Asam amino protein terdiri atas dua puluh asam amino, yang kemudian digolongkan lagi atas dua golongan yaitu asam amino baku adalah asam amino pembentuk protein yang jumlahnya dua puluh dan asam amino khusus adalah asam amino yang

diturunkan dari asam amino baku. Asam amino non protein merupakan asam amino yang di produksi secara biologis oleh organisme. (Sediaoetama, 2004).

Diantara banyak fungsi yang harus dipenuhi oleh asam amino dalam sel hidup, terdapat fungsi sebagai unit monomer untuk membangun rantai polipeptida protein. Sebagian besar protein mengandung 20 buah asam amino L--amino yang sama dalam proporsi yang beragam. Di samping itu, banyak protein khusus yang juga mengandung asam L--amino yang diturunkan dari sebagian di antara ke-20 asam amino tersebut. (Sediaoetama, 2004). Asam amino ialah asam karboksilat yang mempunyai gugus amino. Asam amino yang terdapat sebagai komponen protein

mempunyai gugus NH2 pada atom karbon dari posisi gugus COOH. Jenis-jenis asam amino, urutan cara asam amino tersebut terangkai, serta hubungan spasial asam-asam amino tersebut asan menentukan struktur 3 dimensi dan sifat-sifat biologis protein sederhana. (Murray, 2003). B. Maksud Percobaan Untuk mengetahui dan memahami analisa kualitatif asam amino dalam larutan protein. C. Tujuan Percobaan Untuk mengamati cara test millon, test ninhydrin, test cysteina, dan test cystine dalam analisa kualitatif asam amino. D. Prinsip Percobaan Berdasarkan pada penentuan asam amino dari hasil test millon, test ninhydrin, test cysteina, dan test cystine berdasarkan perubahan warna yang terjadi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Teori Ringkas Asam amino adalah senyawa organik yang memiliki gugus fungsional karboksil (-COOH) dan amina (biasanya NH2). Gugus karboksil ini memberikan sifat asam dan gugus amina memberikan sifat basa. Asam amino pembentuk protein akan saling berikatan dengan ikatan peptida, sehingga dalam satu molekul dipeptida mengandung satu ikatan peptida. (Murray, 2003). Rumus umum asam amino :

Secara umum, pada asam amino sebuah atom C mengikat empat gugus yaitu : gugus karboksil, gugus amina, satu buah atom hydrogen dan satu gugus sisa (rantai samping, gugus R). Rantai samping pada asam amino (gugus R) yang berbeda-beda pada asam amino menentukan struktur, ukuran, muatan elektrik dan sifat kelarutan dalam air. (Sediaoetama, 2004).

Asam amino mempunyai sifat sifat tertentu, antara lain : 1. Pada umumnya, asam amino larut dalam air dan tidak larut dalam pelarut organik non polar seperti eter, aseton dan kloroform. Sifat asam amino ini berbeda dengan asam karboksilat maupun dengan sifat amina. Asam karboksilat alifatik maupun aromatik yang terdiri dari beberapa atom karbon, umumnya kurang larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik. Demikian pula amina, pada umumnya tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik. 2. Asam amino mempunyai titik lebur yang lebih tinggi

dibandingkan dengan asam karboksilat atau amina (lebih besar dari 200C). 3. Bersifat sebagai elektrolit. Dalam larutan kondisi netral (pH isoelektrik), asam amino dapat membentuk ion yang bermuatan positif dan juga bermuatan negative (zwitterion) atau ion amfoter. Keadaan ion ini sangat tergantung pada pH larutan. Bila ditambahkan dengan basa, maka asam amino akan terdapat dalam bentuk : H2N CH COO- R Dan bila ditambahkan asam ke dalam larutan asam amino, maka asam amino yang terbentuk : (Sediaoetama, 2004).
+

H3N CH COOHR.

Terdapat 2 jenis asam amino berdasarkan kemampuan tubuh dalam sintesisnya, yaitu asam amino esensial dan asam amino non esensial. Asam amino esensial adalah asam amino yang tidak dapat disintesis didalam tubuh, tetapi diperoleh dari luar misalnya melalui makanan( lisin, leusin, isoleusin, treonin, metionin, valin, fenilalanin, histidin, dan arginin). Asam amino non esensial adalah asam amino yang dapat disintesis didalam tubuh melalui perombakan senyawa lain. (Murray, 2003). Klasifikasi asam amino dapat dilakukan berdasarkan rantai samping (gugus R) dan sifat kelarutannya didalam air. Berdasarkan kelarutan didalam air dibagi atas asam amino hidrofobik dan hidroDepkeslik (klasiDepkeskasi dapat dilihat pada bagian struktur asam amino). (Murray, 2003).

B. Uraian Bahan 1. Aquadest ( Depkes RI Edisi III, hal. 96 ) Nama resmi Nama lain Rumus molekul Berat molekul Pemerian : AQUADESTILLATA : Air suling : H2O : 18,02 : Cairan putih tidak berwarna dan tidak berbau, tidak berasa. Penyimpanan Kegunaan : Dalam wadah tertutup baik : Sebagai pelarut

2. Albumin ( Depkes RI Edisi III, hal. 139 ) Nama resmi Nama lain Pemerian : ALBUMINUM : Albumin : Cairan jernih agak kental, tidak berwarna hingga berwarna kekuningan tergantung kadar protein. Kelarutan : Larut dalam 3 bagian air dan dalam 3 bagian gliseral, sangat sukar larut dalam air, setara 95 % P. Penyimpanan : Simpan pada suhu 2o 25o terlindung dari cahaya Kegunaan : Sebagai sampel

3. Ammonia ( Depkes RI Edisi, hal. 94 ) Nama resmi Nama lain Rumus molekul Berat molekul Pemerian : AMMONIA : Amonia : NH4OH : 35,45 : Cairan jernih, tidak berwarna, bau khas, menusuk kuat Kelarutan Penyimpanan Kegunaan : Mudah larut dalam air : Dalam wadah tertutup baik : Zat tambahan

4. Cystine ( Depkes RI Edisi IV, hal 1197 ) Nama resmi Nama lain Rumus molekul : SISTIN : Sistine : HOOC ( NH2 CH CH2 5-5CH2 CH (NH2) ) COOH Pemerian Kelarutan : Serbuk hablur putih : Sangat sukar larut dalam air, larut dalam asam mineral encer dan larutan alkali, hidroksida, tidak larut dalam etanol Penyimpanan Kegunaan : Dalam wadah tertutup rapat : Zat tambahan

5. Kristal Cysteina (Depkes RI Edisi III, hal 720 ) Nama resmi Nama lain Pemerian Kelarutan : CYSTEINA : Sistina : Serbuk hablur putih : Sangat mudah larut dalam air, praktis tidak larut di dalam etanol (95%) P, dan dalam pelarut organik, larut dalam asam mineral encer dan larutan alkali hidroksida Penyimpanan Kegunaan : Dalam wadah tertutup rapat : Zat tambahan

6. Millon ( Depkes RI Edisi III, hal 725) Nama resmi Nama lain Pemerian : RAKSA (II) NITRAT : Pereaksi Millon : Hablur lembab, tidak berwarna atau berwarna putih Pembuatan : Larutan 8ml raksa P dan 27ml HNO3 beruap P diencerkan dengan volume air yang sama.

7. NaOH ( Depkes RI Edisi III, hal 412 ) Nama resmi Nama lain Rumus molekul Berat molekul Pemerian : NATRII HYDROXYDUM : Natrium hidroksida : NaOH : 40,00 : Bentuk batang, butiran, massa hablur atau keping keras dan rapuh, menunjukkan susunan hablur, mudah meleleh, basah,sangat alkalis, korosif, segera menguap bersama karbondioksida. Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dan dalam etanol ( 95 % ) P Penyimpanan Kegunaan : Dalam wadah tertutup baik : Sebagai pereaksi

8. Natrium Nitroprosida ( Depkes RI Edisi III, hal 714 ) Nama resmi Nama lain Pemerian Kelarutan : NATRII NITROPROSIDA : Natrium Nitroprosida : Serbuk hablur putih : Larut dalam air

10

9. Ninhydrin ( Depkes RI Edisi III, hal 717 ) Nama resmi Nama lain Pemerian : NINHYDRINA : Ninhydrin : Serbuk hablur putih atau kuning sangat pucat. Kelarutan : Larut pada suhu 60o dalam 20 bagian air. Penyimpanan Kegunaan : Dalam wadah tertutup rapat : Sebagai pereaksi

10. Timbal Acetat ( Depkes RI Edisi, hal 503 ) Nama resmi Nama lain Rumus molekul Berat molekul Pemerian : PLUMBI ACETAS : Timbal Asetat : C4H6O4Pb.3H2O : 379,33 : Hablur prisma monoklin, kecil, putih, transparan, atau massa hablur berat, bau cuka Kelarutan : Larut dalam 2 bagian air, umumnya beropalesensi dalam 63 bagian etanol (95%) P dan dalam 2 bagian gliserol P Penyimpanan Kegunaan : Dalam wadah tertutup baik : Adstrigen

11

BAB III METODE KERJA


A. Alat dan bahan yang digunakan 1. Alat-alat yang di gunakan: a. Batang pengaduk b. Bunzen c. Erlenmeyer d. Gegep e. Gelas kimia f. Gelas ukur g. Lap halus h. Lap kasar i. Pipet tetes j. Rak tabung

k. Sendok tanduk l. Tabung reaksi m. Timbangan analitik 2. Bahan-bahan yang di gunakan: a. Albumin / Putih telur b. Amoniak c. Aquadest d. Crystine e. Etanol

12

f. Kristal Cysteina Hidroksida g. Larutan Natrium Nitroprosida h. Larutan Ninhydrin i. Natrium Hidroksida j. Pb-Asetat

k. Pereaksi Millon

B. Cara Kerja 1. Test Millon a. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan b. Dimasukkan 3 ml larutan protein kedalam tabung reaksi tersebut kemudian ditambahkan 5 tetes pereaksi Millon. Diamati warna yang terjadi. c. Dipanaskan campuran tersebut dengan baik, kemudian lihat kembali perubahan warna yang terjadi. d. Setelah itu, campuran yang telah dipanaskan ditambahkan secara berlebihan, kemudian dipanaskan kembali, lihat perubahan yang terjadi. ( warna akan hilang pada saat pemanasan kembali ).

13

2. Test Ninhydrin a. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan b. Diambil 3 ml larutan protein kemudian dimasukan kedalam tabung reaksi dan ditambahkan larutan ninhydrin 0,1% ( lihat perubahan yang terjadi ) c. Kemudian dipanaskan diatas penangas air hingga mendidih selama 5 menit d. Amati perubahan warna yang terjadi e. Ulangi percobaan diatas dengan menggunakan Larutan asam amino. 3. Test Cysteina a. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan b. Diambil beberapa kristal cysteina hidroksida lalu dilarutkan dalam 5 ml aquadest c. Tambahkan 0,5 ml larutan Natrium Nitroprussida 1% ( lihat perubahan warna yang terjadi ) d. Tambahkan 0,5 ml NH3 ( Dilihat perubahan warna yang terjadi) jika terjadi warna merah berarti sampel tersebut positif ( + ) mengandung asam amino.

14

4. Test Cystine a. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan b. Diambil sedikit cystine dilarutkan dalam 5 ml NaOH 1%, ditambahkan beberapa kristal Pb.Asetat ( lihat perubahan warna yang terjadi ) c. Kemudian dipanaskan hingga mendidih ( lihat perubahan warna yang terjadi ).

15

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A. Tabel Pengamatan 1. Test Millon Larutan Protein dan Larutan Asam Amino Larutan protein Warna Pereaksi Millon Endapan putih susu Dengan Pemanasan Merah Bahan berlebihan dipanaskan Merah kehitaman

2. Test Ninhydrin Larutan Protein dan Larutan Asam Amino Larutan protein Warna Pereaksi Ninhydrin Jernih

Setelah Pemanasan Ungu

3. Test Cysteina Warna Zat Uji Beberapa Kristal Cysteina dilarutkan dengan 5 ml air Merah Endapan coklat Larutan Na. Nitroprussida 1% NH3

16

4. Test Cysteina + Kristal PbLarutan protein Asetat Cystine dilarutkan Putih susu dengan 5 ml NaOH 1% Putih Endapan Pemanasan Setelah

17

B. Reaksi-reaksi 1. Reaksi Millon O O O O H2N-CH-C-

2H2O-CH-C-NH-C-NH-C-OH + Hg (NO3)

R1 O

R2

R3 O O O O

NH-CH-C-NH2-CN-C-O-Hg-O-O-OH-NH-C-CH-NH-N=C-CH-

R3 NH + 2 HNO3

R6

Putih

2. Reaksi Ninhidrin COOH R-C-H + NH2 C C C OH C OH C

C=

Biru C N-C C O + H++3H2O+CO2+R-C-H

18

3. Reaksi Cystine O CH-CH2-CH2-C-OH+NH4OH+Fe9+(CH3)


Ungu kehitaman

O NH4Fe.22+(CN)NO-2-5-CH2-CH-C-CH-NH4OH NH2

4. Reaksi Cysteina

Fe3+(CN)5NO-2+NH3+RSH

NH4+Fe2+(CN)5NO-2SR
Warna merah

19

C. Pembahasan Struktur umum asam amino terdiri atas beberapa bagian: 1) gugusan amino, 2) gugusan karboksil, dan 3) gugusan sisa molekul. Rumus umum untuk asam amino ialah R-CH-COOH. NH2 Asam amino merupakan salah satu senyawa yang dapat membentuk protein dimana protein itu sendiri merupakan

makromolekul yang tersusun dari 20 jenis asam amino yang membentuk ikatan peptida antara asam amino yang satu dengan asam amino yang lainnya Pada percobaan reaksi uji terhadap asam amino ini dilakukan analisa kualitatif dengan 3 test meliputi test cyisteine,test millon, dan test ninhydrin. Pada test millon dilakukan dengan menggunakan sampel putih telur yang terlebih dahulu di encerkan dengan aquadest, kemudian ditambahkan dengan pereaksi millon ( bahan yang digunakan dalam asam amino adalah larutan merkuri dan larutan merkuranon dalam asam sitrat dan asam nitrat) sebanyak 5 ml ke dalam 3 ml larutan perotein akan membentuk endapan berwarna putih, selanjutnya di panaskan sehingga menghasilkan warna keruh, pada tahap selanjutnya di lakukan penambahan berlebihan dan dipanaskan warana akan tetap. Sedangkan berdasarkan literatur setelah penambahan berlebihan dan pemanasan warna akan hilang.

20

Sedangkan pada test ninhidrin, diperoleh bahwa larutan protein tidak mengandung asam amino bebas. Hal ini dapat di lihat dengan perubahan warna yang terjadi ketika larutan protein 3 ml di reaksikan dengan larutan ninhidrin. Jika larutan protein tersebut menghasilkan warna biru maka positif mengandung asam amino bebas tetap hasil yang di dapat berwarna jernih begitu jika ketika di panaskan. Untuk test cystine,diperoleh dengan menambahkan 0,5 ml larutan natrium nitropussida 1%. Terhadap Kristal cystina

hidroklorida yang dilarutkan pada 5 ml natrium nitropussida akan menghasilkan larutan berwarna jingga. Pada larutan tersebut di tambahkan dengan NH3 0,5 ml akan terjadi warna ungu kemudian membentuk endapan berwarna coklat. Hal ini membuktikan bahwa larutan protein tersebut mengandung asam amino. Dan untuk test cysteina, di lakukan dengan melarutkan cysteina dalam 5 ml larutan NaOH 1% yang kemudian di tambahkan dengan Kristal Pb asetat akan bereaksi mengahasilkan warna putih susu. Selanjutnya jika di panaskan maka akan membentuk endapan warna coklat. Hal ini disebabkan karena molekul cysteina berikatan kovalen sebagai jembatan disulfide atau ikatan disulfida. Yang berperan pada struktur beberapa protein fungsional seperti pada hormon insulin, imunoglobin, dan antibody.

21

Adapun

faktor-faktor

yang

sering

menyebabkan

ketidaksesuaian hasil percobaan dengan literatur yakni antara lain : 1. Kurang sterilnya alat-alat yang digunakan 2. Perekasi atau bahan kimia yang digunakan telah kadaluarsa. 3. Kesalahan atau ketidaktelitian pada saat perlakuan pada saat peraktikum.

22

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan Dari hasil percobaan yang dilakukan maka dapat

disimpulkan bahwa: 1. Pada uji millon larutan protein mengandung asam amino, hal ini dapat dilihat dengan terbentuknya endapan putih. Setelah di panaskan terjadi perubahan warna menjadi merah. Begitupun ketika dipanaskan dan penambahan berlebihan. 2. Pada uji ninhidrin larutan protein tidak mengandung asam amino bebas. Sebab jika bereaksi dengan ninhidrin akan membentuk pemanasan. 3. Pada uji cystine, Kristal cysteina mengandung asam amino dengan perubahan warna menjadi jingga setelah ditambah Na. Nitropussida 1% kemudian berubah menjadi warna ungu kemudian membentuk endapan coklat setelah penambahan NH3. 4. Pada uji cysteina, kristal cysteina dilarutkan dengan NaOH 1% ditambah Kristal Pb asetat menghasilkan warna putih susu dan setelah pemanasan membentuk endapan putih. senyawa berwarna biru begitupun setelah

23

B. Saran Kami sebagai peraktikan sangat mengharapkan bimbingan dan arahan dari asisten peraktikum,baik pada saat peraktikum maupun pada saat penyusunan laporan.

24

DAFTAR PUSTAKA
Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan RI. Jakarta. Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan RI. Jakarta. Sediaoetama, A.D. 2004. Ilmu Gizi. Dian Rakyat. Jakarta. Murray.R.K. 2003. Biokimia Haper. EGC. Jakarta.

25

LAMPIRAN
A. Skema Kerja 1. Test Millon 3 ml larutan protein (albumin)

+ 5 tetes pereaksi millon Di panaskan di atas Bunsen Lihat perubahan warna yang terjadi Di tambahkan secara berelebih Di panaskan kembali dan lihat perubahan yang terjadi (warna akan hilang pada saat pemanasan kembali) 2. Test Ninhidrin 3 ml larutan protein (albumin) dan asam amino (gliserida)

+ larutan ninhidrin 0.1 ml (di lihat perubahan yang terjadi)

Di panaskan di atas penangas air selama 5 menit

Di amati perubahan yang terjadi

26

3. Test Cysteina 5 ml Kristal cysteina hydroklorida Dilarutkan + 0,5 larutan Na.NItroprussida 1% Aquadest

Di lihat perubahan yang terjadi

+ 0,5 larutan NH3

Di lihat perubahan yang terjadi

4. Test Cystine 5 ml Cystine dilarutkan NaOH 1%

+ beberapa Pb asetat Di lihat perubahan yang terjadi Di panaskan hingga mendidih Di lihat perubahan yang terjadi.

27

B. Perhitungan 1. NaOH 1% Dilarutkan 1 gram natrium hidroksida dalam aquadest sampai 100 ml. 2. Na. Nitropussida 1% Di larutkan 1 gram natrium nitoprusida dalam aquadest sampai 100 ml. 3. Ninhidrin 0,1% Dilarutkan 0,1 gram ninhidrin dalam aquadest sampai 100 ml. 4. Millon Di larutkan 10 gram raksa ke dalam 20 ml HNO3 pekat. Setelah melarut, di tambahkan aquadest sebanyak 2x volume larutan yang di peroleh. Di diamkan selama 12 jam kemudian di saring C. Pembutan Pereaksi a. Pereaksi Millon 1. Di siapkan alat dan bahan 2. Di larutkan 10 gram raksa ke dalam 20 ml HNO3 pekat 3. Setelah melarut, di tambahkan aquadest sebanyak 2x volume larutan yang di peroleh 4. Di diamkan selama 12 jam kemudian di saring 5. Di berikan label dan etiket. b. Pereaksi Ninhidrin 0,1% 1. Di siapkan alat dan bahan

28

2. Di larutkan 0,1 gram ninhidrin dalam aquadest sampai 100 ml 3. Di berikan label dan etiket. c. Larutan Natrium Nitroprussida 1% 1. Di siapkan alat dan bahan 2. Di larutkan 1 gram natrium nitoprusida dalam aquadest sampai 100 ml 3. Di berikan label dan etiket. d. Larutan NaOH 1% 1. Di siapkan alat dan bahan 2. Di larutkan 1 gram natrium hidroksida dalam aquadest sampai 100 ml 3. Di berikan label dan etiket.